Anda di halaman 1dari 10

HUKUM ACARA PERDATA

DOSEN : TOHA .SH

Hukum Acara Perdata


Peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya
menjamin ditaatinya hukum materiil dengan perantaraan
seorang hakim ( Prof. DR. Wiryono Projo Dikoro ) .

Hukum acara perdata adalah


Rangkaian pertauran – peraturan yang memuat cara
bagaimana orang harus bertindak terhadap dan dimuka
pengadilan itu dan bagaimana cara pengadilan itu harus
bertindak satu samalain untuk melaksanakan berjalannya
perturan – peraturan hukum perdata .

Hukum acara perdata disebut juga sebagai hukum perdata


formil untuk menegakkan hukum perdata materiil .

Misal, Jika kita mempertahankan hak materiil kita


melaporkan langsung ke Pengadilan Negeri / Hakim /
Pengadilan Agama .

Istila ;
Somasi = Peringatan
Fres Ermestion = Kebebarsan untuk bertindak
One prestasi = Ingkar janji

ASAS – ASAS HUKUM ACARA PERDATA

1. Hakim bersifat menunggu ( Pasif ) / diam dengan arti ;


a) . Inisiatif untuk mengajukan tuntutan hak diserahkan
sepenuhnya kepada yang berkepentingan, sedangkan
seorang hakim hanya membantu mencari keadilan dan
berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan demi
tercapainya peradilan yang sederhana cepat dan biaya ringan
.
b). Hakim berkewajiban mengadili seluru tuntutan dan dilarang
menjatuhkan keputusan terhadap sesuatu yang tidak dituntut
atau mengabulkan lebih daripada yang dituntut .
c). Hakim mengejar kebenaran formil yakni kebenaran yang
hanya didasarkan kepada bukti – bukti yang diajukan didepan
pengadilan tanpa harus disertai dengan keyakinan seorang
hakim .
d). Para pihak yang berkara bebas mengajukan atau tidak
mengajukan upaya hukumbahkan untuk mengahiri perkara
dipengadilan dengan cara perdamaian .

asas – asas hukum acara perdata

2. Sidang pengadilan terbuka untuk umum ;


yang berarti bahwa setiap orang boleh menghadiri,
mendengarkan dan menyaksikan jalannya pemeriksaan sidang
perkara . Tujuan dari asas ini adalah untuk menjamin
pelaksanaan peradilan yang tidak memihak, adil dan benar –
benarsesuai dengan hukum yang berlaku .

3. Mendengar kedua belah pihak ,


Dalam hukum acara perdata kedua belah pihak diberlakukan
sama, diberi kesempatan yang sama untuk membela dan
mempertahankan haknya .

4. Putusan hukum harus disertai alasan – alasan ;


Semua putusan pengadilan harus memuat alasan – alasan untuk
mengadili . alasan – alasan tersebut dimaksudkan sebagai
pertanggung jawaban hukum agar jangan sampai terjadi
perbuatan sewenang – wenang dari seorang hakim dan ini
merupakan pertanggung jawaban hakim atas putusannya
terhadap masyarakat, para peradilina yang lebih tinggi dan ilmu
hukum sehingga mempunyai nilai obyektif .

5. Beracara dekenakan biaya ;


• Biaya perkara ini meliputi pembiayaan ,
• Biaya kepanitraan ,
• Biaya pemanggilan,
• Biaya pemberitauan kepada para pihak serta
• Biaya matrerei .

6. Tidak ada keharusan mewakilkan


Hukum acara perdatan tidak mengharuskan kepada para pihak
untuk mewakilkan pengurusan perkara merekan kepada orang
lain , sehingga pemeriksaan dipersidangan secara langsung
dapat berhadapan langsung dengan pihak yang memperkarakan ,
jika ingin bisa newakilkan kepada kuasanya ( Adfokat ) .

Macam – macam pengadilan


- Hukum Peradilan Umum
- Hukum peradilan tata usaha
negara ( TUN )
- Hukum peradilan agama
- Hukum Militer

Untuk komulasi obyektif tidak mensyaratkan hubungan yang dekat


namun dalam komulasi komulasi obyektif tidak diperkenankan ;
1). Penggabungan antara tuntutan yang diperiksa dengan
tuntutan lain yang haris diperiksa dengan cara biasa . Misal
Peceraian (khusus) dengan perkara Perjanjian .

2). Penggabungan dua atau lebih tuntutan dimana sala satu


diantaranya hakim berwenang secara relatif untuk
memeriksanya .

3). Penggabungan mengenahi besit dengan tuntutan mengenahi


gendom.
Besiter = Hak menguasai
Egenar = Hak milik / Hak memiliki .

Cara mengajukan tuntutan ;


a. tertulis dan
b. secara lisan .

Ongkos perkara
Pasal 1 HIR meliputi ;
1. Ongkos panitra pengadilan , biaya materai yang dipelukan dan
2. Ongkos saksi / orang ahli , juru bahasa, ongkos sumpah,
mereka itu pihak yang meminta untuk memeriksa < 5 orang
tentang kejadian itu tidak boleh memintah kelebihannya.
3. Ongkos pemeriksaan setempat atau perbuatan hakim yang
lain
4. Gaji pejabat yang disuruh membuat panggilan
5. Biaya yang harus dibayar kepada pejabat umum oleh pihak itu
6. Panitra pengadilan yang menjalankan putusan hakim
7. Ongkos alat – alat keterangan sebagai bukti .

Alasan – alasan mengajukan gugatan ;


1). Perbuatan yang melanggar hukum pasal 1365 BW
= Aktif : apabila seseorang melakukan perbuatan yang
merugikan bagi orang lain
= Pasif : seseorang tidak berbuat sesuatu tetapi akibatnya
menimbulkan kerugian bagi orang lain, misal
seorang pemborong yang tidak segera
menyelesaikan boronggannya .
2). Melanggar hubungan subyektif orang lain hukum kusus yang
dijaminkan untuk seseorang untuk digunakan bagi
kepentingannya hukum perorangan dan hak – hak atas harta
kekayaan ( kebebasan, kehormatan, nama baik / hak – hak
kebendaan ) .
3). Ada kesalahan ,
Pebuatan yang dilakukan itu menjadi perbuatan salah /
kealpaan / kesengajaan .
4). Ada kerugian , akibat perbuatan tsb menimbulkan kerugian
baik materiil (barang/benda) atau moril ( harga diri ) dll
5). Adanya hubungan kausal, Pejabat menuntut yang ada
hubungannya dengan kausal (sangkut paut dengan kerugian
yang di deritanya) .

Perbuatan yang dilakukan oleh penguasa / alat – alat


pemerintah ;
1). Melanggar hak subyektif orang lain , tidak mengindahkan hak
milik orang lain (penguasa)
2). Melanggar norma kepantasan dalam pemerintahan
( membiarkan penumpukan sampah yang ada ditengah –
tengah kota / perumahan penduduk ).
3). Menyebabkan orang lain mati / cidra dalam menjalankan
tugas, karena kurang hati – hati .
4). Memberikan gantirugi lebih renda dari harga yang sepantasnya
.

Lalai melaksanakn kwajibannya ,


1). Lalai mengerjakan , menyelenggarakan, apa yang menjadi
kwajibannya ( sarana / prasarana ) Pemda tidak
memperhatikan adanya kerusakan jalan .
2). Tidak memberi tanda pengamanan ditempat – tempat umum
( tanda jalan rusan / jalan berlubang dll ).
3). Berbuat bertentangan dengan kwajiban hukumnya .

Bertindak sewenang – wenang


1. Apabila dalam tindakannya itu anasir kepentingan negara tidak
cukup, bertindak melampoi batas kekuasaan ( mengambil ali
hak untuk masyarakat tanpa prosedur hukum .
2. melanggar penguasaan hak orang lain
3. menyerahkan hak orang kepada orang lain tanpa persutujuan
pemiliknya .
4. membuat peraturan yang bukan menjadi wewenangnya .
5. melakukan tindakan – tindakan yang tidak cukup untuk
kepentingan negara
6. melakukan pembongkaran –pembongkaran bangunan tanpa
prosedur hukum .

Melanggar undang – undang hukum prifat pablik

ALAT – ALAT BUKTI


1. Alat bukti tertulis atau bukti ontentik , misal HM / Akta
2. Akta dibawa tangan , surat yang ditanda tangani untuk
pembuktian tetapi tidak dibuat dihadapan pejabat yang
ditentukan oleh undang – undang ( 1874 ) BW segel kepala
Desa hanya mengetahui / saksi, Cap jari tangan yang
dibubuhkan dalam surat perjanjian .
3. surat biasa = surat yang digunakan untuk pembuktian ( surat –
surat cinta , surat keterangan .

Saksi ,
Saksi adalah orang yang memberikan kesaksian didepan
pengadilan apa yang mereka denga, mereka lihat atau
pengalaman sendiri sehingga dalam kesaksian tersebut maka
kasusnya menjadi jelas . dan menurut sifatnya ada 2 (dua).
1. Saksi kebetulan, seseorang menjadi saksi Cuma kebetulan
waktu dia lewat dapat melihat / mendengar peristiwa yang
menjadi perkara apa yang dilakukan atau apa yang
direncanakan oleh si pelaku
2. Saksi sengaja , yaitu saksi yang sengaja menyaksikan
kegiatan tersebut .

Pengakuan,
Mengaku didepan sidang 174 HIL merupakan bukti yang
sempurna bukti siapa yang melakukannya , yang telah
mendapat kuasa khusus dalam hal itu .

Persangkaan ,
Dalam kesimpula – kesimpulan yang oleh undang – undang /
Hakim ditariknya suatu peristiwa yang terkenal ke ara suatu
peristiwa yang sah dan diatur diatur dalam 173 HIR.

Alat bukti pengakuan ,


Dalam keterangannya baik tertulis maupun lisan yang
membenarkan dikemukakan oleh pihak lawan .
a. pengakuan yang dilakukan di depan sidang pengadilan
b. pengakuan yang dilakukan di luar sidang pengadilan .

Sumpah ,
Sumpah pada umumnya adalah suatu persyaratan yang
hikmat yang diucapkan diberikan keterangan dengan
mengingat akan kuasa Allah / tuhan dan percaya, siapa yang
memberikan kesaksiannya makan akan menerima
hukumanNYA, ada 2 (dua) macam sumpah,
1. Sumpah Sopie Toir ( sumpah penambah ). = sumpah sopie toir
( 155/HIR/182 RBG) sumpah karena jabatannya yang
diperintah oleh hakim untuk sala satu pihak .
2. Sumpah Desisoir ( sumpah pemutus ) . sumpah dalam Psl. 156
HIR/183/ RBG , Sumpah yang diperintahkan oleh 1 ( satu )
untuk menggantungkan untuk pemutusan perkara, kepadanya
hanya dikabulkan jika tidak ditemukannya alat bukti .

Konduksi ,
Kesimpulan – kesimpulan terjadinya jawab menjawab dengan
pembuktian sebagai kesimpulan dan tidak merupakan suatu
keharusan .
Tujuannya untuk menyampaikan pendapat dari masing pihak di
depan hakim .

Isi konduksi ,
1. Kesimpulan jawab menjawab
2. kesimpulan dari bukti – bukti tertulis
3. kesimpulan dari saksi
4. lain – lain mengenahi bukti – bukti secara lengkap.

Sifat – sifat putusan hakim


1. Bersifat kontitutif ( pengaturan )
2. Bersifat diklatatoir ( pernyataan )
3. Bersifat Kondentatoir ( menghukum )

Menurut jenisnya ada 2 ;


1. Putusan selah
2. Putusan Akhir

Putusan selah ,
Prefator ; Putusan selah guna menyiapkan putusan akhir,
permohonan pengaduan sidang, menolak atau
menerimah permohonan sidang .
Isidental ; Putusan selah isidental = pihak ke III dalam suatu perkara
.
Putusan ; Secara lesan ( kalau diminta, maka putusan selah
petikannya bisa diminta dan dalam putusan selah ini pada
akhirnya bisa banding .

Putusan Akhir ada 4 macam


1. Putusan tidak bisa diterima :
- Putusan bertentang dengan kesusilaan
- Gugatannya salah
- Gugatan Kabur
- Gugatan tidak memenuhi persyaratan
- Obyek gugatannya tidak jelas
- Subyek tergugatnya tidak jelas

2. Gugatan dinyatakan di tolak / dibatalkan ;


- Jika dalam gugatan tersebut tidak dapat dibenarkan atau
dibuktikan .
3. Pengadilan tidak berwenang mengadili ;
- Apabila perkara yang diajukan pada pengadilan yang
tidak berhak mengadili

4. Gugatan dikabulkan ;
- Terjadi jika gugatan tersebut dapat dibuktikan
kebenarannya .

Isi putusan ada 2 ;


Secara Formal ,
- Diawali dengan katan – kata demi keadilan berdasarkan
ketuhanan Yang Maha Esa .

Secara Substansial / Materiil

Eksepsi ;
1. Eksepsi dilatoir dan
2. Eksepsi peremptoir
Kedua eksepsi tersebut juga disebut eksepsi materiil

1. Eksepsi dilatoir adalah eksepsi yang menyatakan bahwa


gugatan si penggugat belum dapat dikabulkan , misalnya
olehkarena penggugat telah memberikan penundaan
pembayaran.
2. Eksepsi peremptoir adalah eksepsi yang menghalangi
dikabulkannya gugatan , misal oleh karena gugatan telah
diajukan lampau waktu, dengan kata lain kedaluarsa, atau
utang yang menjadi dasar telah dihapuskan .

Upaya Hukum Terhadap Putusan Pengadilan


a. Perlawanan Hukum ( Verzet )
b. Banding
c. Prorogasi
d. Kasasi
e. Peninjauan Kembali ( PK )
f. Perlawanan Pihak ke tiga ( Derdenverzet ).

1. Perlawanan Hukum ( Verzet )


Upaya ini dapat dilakukan terhadap putusan Verstek ( putusan
tidak kehadirannya tergugat) psl. 123 jo 129 HIR / 249 jo. 153
RBG . dalam jangka waktu 14 hari setelah putusan tersebut di
beritahukan kepada tergugat . Jika putusan tersebut Verstek
kembali maka upaya Verzet kembali tidak diperbolekan, tetapi
harus dengan upaya banding ke pengadilan tinggi . ( Verzet
adalah lawan dari putusan hukum Verstek )

2. Banding
Banding adalah pemeriksaan kembali yang diajukan kepada
Pengadilan yang lebih tinggi. Upaya ini dilakukan apabila sala
satu pihak dalam perkara perdata tidak menerima suatu putusan
Pengadilan Negeri karena merasa putusan tersebut kurang benar
/ tepat .

3. Peninjauan kembali ( PK ), ( Request Civil ) ,


Peninjauan kembali diatu dalam UU No. 14 tahun 1985 pasal 66
sampai dengan pasal 77 , upaya ini dapat dilakukan secara
tertulis maupun secara lisan ( psl. 71 ) oleh para pihak sendiri (
psl. 68 ayat 1 ) kepada MA melalui ketua Pengadilan Negeri yang
memutus perkara dalam tingkat pertama ( psl. 70 ) . PK adalah
suatu upaya hukum untuk memeriksakan kembali putusan
pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap
untuk membatalkan, ( PN. Banding dan Kasasi ) upaya PK ini
dapat dilakukan hanya 1 ( satu ) kali saja .

Alasan – alasan mengajukan Peninjauan kembali ( PK ) ,


a. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu
muslihat pihak lawan yang diketahui telah perkaranya diputus
atau didasarka pada bukti – bukti yang kemudian dinyatakan
palsu .
b. Apabila setelah perkara diputus ditemukannya bukti – bukti
baru, yang gak perna diungkap dalam persidangan .
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau
lebih dari pada yang dituntut .
d. Apabila mengenahi suatu bagian dari tuntutan belum diputus
tanpa dipertimbangkan sebab – sebabnya .
e. Apabila antara pihak – pihak yang sama mengenahi suatu soal
yang sama, atas dasar yang sama oleh pengadilan yang sama
bertentangan dengan yang lain ( waktunya 180 HSP ) .
f. Apabila dalam suatu putusan tersebut terdapat suatu
kehilapan / kekeliruan dari seorang hakim .

Derdenverzet,
Upaya ini dilakukan oleh pihak ketiga , dikarenakan putusan
tersebut merugikan pihak ketiga . pihak ketiga yang hendan
melakukan upaya ini harus betul – betul berkepentingan .