Anda di halaman 1dari 15

Dinasti Sui)

(581 - 618) adalah sebuah dinasti yang menjadi peletak dasar bagi kejayaan sesudahnya.
Dinasti ini mempersatukan Cina yang terpecah belah pada Zaman Enam Belas Negara
sebelumnya. Terusan besar dibangun pada masa dinasti ini. Dinasti ini cukup pendek
karena hanya 2 kaisar yang benar-benar memerintah. Kaisar-kaisar berikutnya hanyalah
kaisar boneka yang dipasang oleh para jenderal dan penguasa militer sebelum akhirnya
mereka sendiri mendirikan dinastinya sendiri. Li Yuan, sepupu Yang Guang, kaisar
dinasti Sui yang kedua, merebut kekuasaan dan mendirikan dinasti Tang. Masa transisi
Sui-Tang (Hanzi: 隋末唐初, Sui mo Tang chu) adalah masa peralihan dari Dinasti Sui ke
Dinasti Tang yang penuh konflik dan pertumpahan darah. Pada masa itu, Tiongkok
terpecah-pecah atas beberapa negara independen yang berumur pendek, negara-negara ini
dipimpin oleh para mantan pejabat dan pemimpin militer Sui dan para pemimpin
pemberontakan petani. Salah satu mantan jenderal Sui bernama Li Yuan akhirnya
berhasil mempersatukan kembali Tiongkok dan mendirikan Dinasti Tang, ia menjadi
kaisar pertamanya dengan gelar Kaisar Tang Gaozu. Periode ini berawal dari tahun 613
ketika Kaisar Yang dari Sui melakukan kampanye militer melawan Kerajaan Goguryeo,
Korea. Perang yang gagal ini berujung tragedi bagi Tiongkok, banyak pasukan yang
dikirim ke Korea tidak pernah kembali yang selanjutnya berakibat desersi di tubuh militer
dan pemberontakan dari rakyat yang direkrut paksa untuk dikirim dalam kampanye
berikutnya. Periode ini baru berakhir tahun 628 dengan dikalahkannya Kerajaan Liang,
rezim separatis terakhir pimpinan Liang Shidu oleh Kaisar Tang Taizong (Li Shimin),
putra Li Yuan dan kaisar kedua Tang.

***

Invasi Tiongkok atas Goguryeo dan awal pemberontakan

Hingga tahun 611, Tiongkok di bawah Dinasti Sui telah menikmati masa damai dan
makmur sejak Kaisar Wen dari Sui mengalahkan Dinasti Chen (598) dan mempersatukan
negara. Selama beberapa dekade tidak ada perang besar selain konflik perbatasan dengan
Kerajaan Goguryeo dan suku Tujue Timur (Turki) yang menjadi negara protektorat Sui
sejak kepemimpinan Qimin Khan, Ashina Rangan,
serta sebuah konflik internal antara Yang Guang (yang kelak menjadi Kaisar Yang dari
Sui tahun 604) dengan Yang Liang, Pangeran Han. Pada tahun 610, Raja Yeong-yang
dari Goguryeo (Gao Yuan) menolak memberi penghormatan pada Kaisar Yang, hal ini
membuat Kaisar Yang murka dan menyusun rencana untuk menyerang Goguryeo. Baik
kaisar maupun rakyat Tiongkok yakin kampanye militer ini akan
berjalan mulus.

Namun perang itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sumber daya manusia dan
kebutuhan perang, seperti makanan, bahan-bahan untuk membangun armada dan alat-alat
perang dikirim ke basis operasi di pos militer Zhuo (sekarang Beijing). Hal ini
menyebabkan kekacauan peredaran hasil pertanian karena sebagian besar dipakai untuk
berperang, kelaparan melanda berbagai wilayah terutama di bagian utara Tiongkok.
Mereka yang dipilih untuk mengirim persediaan logistik ke pos militer Zhuo banyak yang
meninggal dalam perjalanan. Pada tahun 611, orang-orang yang direkrut paksa itu mulai
berani memberontak, pemberontakan petani meletus dibawah pimpinan Wang Bo dan
Liu Badao. Saat itu kaisar belum menganggap serius pemberontakan-pemberontakan itu,
ia hanya mengerahkan milisi lokal bentukan pemerintah, namun mereka tidak becus
menangani pemberontakan yang dari hari ke hari semakin bertumbuh.

Tanpa mempedulikan penderitaan rakyat, Kaisar tetap mengirimkan ekspedisi militer


pertamanya ke Goguryeo tahun 612 dengan pasukan berjumlah sekitar satu juta orang.
Pasukan besar itu menyeberangi Sungai Liao dan memasuki perbatasan Goguryeo. Kaisar
sendiri secara pribadi memimpin pasukannya mengepung kota Liaodong (sekarang
Liaoyang, Liaoning), sementara itu ia mengirimkan Jenderal Yuwen Shu dan Yu
Zhongwen memimpin sisa pasukannya memasuki wilayah Goguryeo menuju ke
ibukotanya, Pyongyang. Disana mereka bergabung dengan armada yang dipimpin oleh
Jenderal Lai Hu’er. Namun Kaisar Yang tidak pernah bisa merebut Liaodong, Yuwen dan
Yu sebelum mencapai Pyongyang sudah dihadang oleh Jenderal Eulji Mundeok dari
Goguryeo, mereka kalah dalam Pertempuran Salsu hingga terpaksa harus mundur dengan
meninggalkan banyak korban di pihaknya. Musim gugur tahun itu, kaisar terpaksa
membatalkan kampanye militer itu dan mundur. Dalam perang ini Tiongkok berhasil
memperoleh sedikit daerah namun dengan korban jiwa sebesar kurang lebih 300.000
orang.

Tahun 613, Kaisar Yang kembali mengirimkan kampanye militer kedua ke Korea,
padahal pemberontakan petani di dalam negeri semakin banyak dan serius. Sekali lagi ia
memimpin pasukannya ke Liaodong untuk mengepung kota itu kedua kalinya, sementara
itu Yuwen Shu dan Yang Yichen diperintahkan untuk menyerbu Pyongyang. Namun
ketika kaisar sedang di Liaodong, Jenderal Yang Xuan’gan, yang bertugas mengatur lalu-
lintas perbekalan di dekat ibukota timur, Luoyang, memberontak, ia memimpin
pasukannya menyerbu Luoyang. Mendengar kabar ini, kaisar terpaksa menarik mundur
pasukannya dari Liaodong. Yuwen Shu dan Qutu Tong diperintahkan untuk
menyelamatkan Luoyang. Keduanya bergabung dengan Fan Zigai dan Wei Wensheng
yang masing-masing adalah komandan tertinggi penjaga kota Luoyang dan ibukota barat
Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi). Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil
ditumpas, Yang bunuh diri dalam pelariannya, keluarga dan pengikutnya dihukum mati
dengan kejam, namun pemberontakan demi pemberontakan terus meletus di berbagai
daerah menentang kesewenang-wenangan sang kaisar.

Namun demikian, Kaisar Yang malah kembali mengirim pasukan ke Korea untuk ketiga
kalinya tahun 614. Ketika Jenderal Lai Hu’er tiba di Sungai Liao, Goguryeo menyerah,
sebagai tanda penyerahan itu mereka menyerahkan Husi Zheng, salah seorang pengikut
Yang yang kabur ke Goguryeo. Kaisar pun membatalkan kampanye militernya, namun
ketika ia kembali menuntut penghormatan pada dirinya, Raja Yeong-yang mengabaikan
tuntutan itu sehingga Kaisar Yang berencana untuk mengirim ekspedisi ke-empat, namun
hal ini tidak pernah terlaksana. Pada musim gugur 615, ketika kaisar mengunjungi
Yanmen (sekarang Xinzhou, Shanxi), putra Qimin Khan yang telah menggantikannya,
Shibi Khan, Ashina Duojishi, yang tidak senang dengan tindakan Kaisar Yang yang
melemahkan sukunya dengan taktik adu domba, melakukan serangan dadakan terhadap
Yanmen dan mengepung kota itu. Pasukan Sui yang sebagian besar masih setia pada
kaisar segera menuju ke Yanmen untuk membebaskan kota itu. Kaisar menjanjikan
hadiah besar bagi mereka yang menolongnya. Namun setelah mereka berhasil menghalau
musuh, kaisar malah mengingkari janjinya sehingga menimbulkan kekesalan di kalangan
militer.

***

Pecahnya Kekaisaran Sui

Karena semakin meluasnya pemberontakan petani di wilayah utara Tiongkok, Kaisar


Yang tidak kembali ke Chang’an maupun Luoyang. Bersama keluarganya ia mengungsi
ke Jiangdu (sekarang Yangzhou, Jiangsu) pada musim gugur 616. Dengan mengungsinya
kaisar dari Luoyang ke Jiangdu, kaum pemberontak di sekitarnya berkoalisi di bawah
pimpinan Li Mi, mantan ahli strategi Yang Xuan’gan, yang
dianggap calon kaisar masa depan oleh sebagian besar pemimpin pemberontak utara.
Namun Li, tidak pernah berhasil mencaplok Luoyang ataupun mengklaim gelar
kekaisaran bagi dirinya.

Sementara itu, Jenderal Yang Yichen sedang berjuang mati-matian memadamkan


pemberontakan di utara Sungai Kuning dan ia berhasil meraih banyak kemenangan
gemilang. Namun sayangnya, Kaisar Yang dan perdana menterinya, Yu Shiji malah iri
dengan prestasi dan jasa-jasa Yang. Sehingga Yang dipanggil pulang dengan dalih untuk
menerima promosi, namun yang didapat adalah penonaktifan dirinya. Yang meninggal
tak lama kemudian dalam kesedihan. Dengan tidak adanya jenderal yang mampu,
aktivitas pemberontak di utara Sungai Kuning semakin merajarela dan tak terkendali,
pemimpin terkuat di wilayah itu adalah Dou Jiande.

Hingga tahun 617, sejumlah pemimpin pemberontak baik pemberontak petani maupun
mantan jenderal Sui, telah menguasai wilayah yang cukup signifikan, antara lain:

Dinasti Sui didirikan oleh Yang Jian, yang kemudian disebut sebagai Kaisar Sui Wendi setelah naik takhta
pada tahun 581 Masehi. Namun Dinasti Sui hanya berlangsung selama 37 tahun sebelum diruntuhkan pada
tahun 618 Masehi.

Walaupun Dinasti Sui hanya memelihara kehadiran dalam jangka pendek dalam sejarah, namun Kaisar Sui
Wendi memberikan sumbangan cukup besar. Salah satu sumbangannya ialah mendirikan jajaran jabatan
yang baru dengan mencabut jajaran jabatan lama yang berlaku pada Dinasti Zhou Barat yang berkuasa
antara tahun 1027 Sebelum Masehi dan 256 Sebelum Masehi. Jajaran jabatan yang didirikan Kaisar Sui
Wendi secara singkat disebut sebagai “sistem jabatan tiga propinsi dan enam kementerian”. Selain itu,
Kaisar Sui Wendi juga menyusun hukum pidana baru yang kurang kejam dibanding dengan hukum yang
diberlakukan pada Dinasti Selatan dan Dinasti Utara, dua dinasti yang berkuasa sebelumnya. Yang patut
disebut ialah sistem ujian kenegaraan yang didirikan Kaisar Sui Wendi. Sistem ujian kenegaraan adalah
cara pemilihan pejabat pemerintah yang baru pada zaman kuno. Sumbangan lain lagi Kaisar Sui Wendi
ialah ia memerintahkan pembuatan Terusan Besar dari Hangzhou Tiongkok Selatan ke Beijing Tiongkok
Utara. Biarpun Sui Wendi banyak memberikan sumbangan, namun ia tetap diperingati dalam sejarah
sebagai kaisar lalim dan justru karena kelalimannya yang luar biasa, ia akhirnya menimbulkan kemarahan
sangat besar rakyat. Dan pada akhirnya ia dikenakan hukuman gantung dan berakhir pula Dinasti Sui.

Setelah runtuhnya Dinasti Sui, berdirilah Dinasti Tang yang berkuasa dalam sejarah selama 289 tahun
antara tahun 618 Masehi dan 907 Masehi. Dinasti Tang terbagi menjadi paro pertama dan paro kedua
dengan Insiden Anshi sebagai tanda batasnya. Paro pertama Dinasti Tang adalah masa makmur dan paro
kedua merupakan masa bobroknya Dinasti Tang. Biarpun Dinasti Tang didirikan oleh Kaisar Tang Gaozu,
tapi putranya Li Shimin, yaitu Kaisar Tang Taizong yang berhasil menyatukan Tiongkok dengan memakan
waktu 10 tahun. Setelah Li Shimin naik takhta, Dinasti Tang yang berada di bawah pimpinannya mencapai
perkembangan dan kemakmuran yang tiada taranya dalam sejarah, bahkan muncul “Pemerintahan
Zhenguan Yang Unggul”, di mana Tiongkok berada di urutan depan dunia di bidang politik, ekonomi dan
kebudayaan. Setelah itu muncul pula Pemerintahan Kaiyuan yang makmur pada masa kekuasaan Kaisar
Tang Xuanzong, di mana negara menjadi kuat dan rakyat menjadi kaya. Namun justru pada masa
berkuasanya Kaisar Tang Xuanzong, terjadi Insiden Anzhi yang mengakibatkan Dinasti Tang menempuh
jalan bangkrut dan runtuh.

Pada Zaman Dinasti Sui dan Dinasti Tang, Tiongkok banyak berprestasi dalam pembaruan perundangan-
undangan dan sistem, misalnya pada kedua dinasti itu didirikan sistem jajaran pejabat “tiga propinsi dan
enam kementerian”, sistem ujian kenegaraan dan undang-undang perpajakan baru yang semuanya
menimbulkan pengaruh menjangkau jauh terhadap masa kemudian. Pada Zaman Dinasti Sui dan Dinasti
Tang, dijalankan kebijakan terbuka terhadap dunia luar sehingga pertukaran ekonomi dan kebudayaan
antara Tiongkok dan luar negeri sangat makmur. Pada Dinasti Tang, penciptaan karya sajak sangat
makmur dan muncul banyak penyair yang brilian, antara lain, Li Bai, Du Fu pada masa awal Dinasti Tang,
Bai Juyi pada masa tengah dan Li Shangyin dan Du Mu pada masa akhir. Sedangkan gerakan bahasa kuno
yang diprakarasi oleh Han Yu dan Liu Zongyuan juga berpengaruh besar terhadap masa kemudian. Dinasti
Tang juga adalah suatu masa di mana penciptaan karya kaligrafi dan karya lukisan mengalami
perkembangan sangat besar. Tari-tarian dan kesenian lukisan gua batu di Dinasti Tang juga mencapai taraf
yang sangat tinggi. Di bidang ilmu pengetahuan, teknik cetak dan mesiu, dua penemuan besar dalam
sejarah juga muncul pada kedua dinasti itu.

Pada masa akhir Dinasti Tang, politik dan pemerintahannya sangat kacau dan kerap kali terjadi pertarungan
politik dan kekuasaan. Pemberontakan petani pun sering terjadi, di antaranya diberi nama Pemberontakan
Huang Cao. Salah seorang pemimpinnya, Zhu Wen mula-mula membelot dan menyerah kepada pasukan
Dinasti Tang, tapi kemudian ia menggulingkan Dinasti Tang dan mendirikan Dinasti Hou Liang, dinasti
pertama Lima Zaman yang berkuasa sesudah Dinasti Tang, dengan mengangkat dirinya sebagai kaisar.

Tiga Arca Buddha tertua pada Dinasti Qin.


Shanghai daly com 2010-3-14

Menurut peneliti sejarah, Buddha didirikan di Cina pada awal Dinasti Qin (221-206 SM).
Dengan bisnis makmur dan pengembangan transportasi sepanjang Jalan Sutera,
puncaknya pada dinasti Sui (AD 581-618) dan Tang (AD 618-907.
Sebuah arca tembaga tiga Buddha 隋代 佛 三 尊像 dibuat dalam Dinasti Sui ditampilkan
di Museum Shanghai adalah sebuah karya cemerlang ahli logam yg menampilkan
pengaruh agama pada saat itu. Arca ini dibangun di atas dasar persegi dengan empat kaki.

Titik tertinggi adalah khotbah Buddha saat penentuan tapak pada dasar bunga teratai.
Api dan teratai yang hati-hati diukir sebagai pekerjaan terbuka di bagian belakang Sang
Buddha, menyoroti kurva yang mengalir dari arca.
Ada dua lubang pada dasar logam pada setiap sisi Sang Buddha, yang menunjukkan
bahwa seharusnya ada dua arca tambahan murid.
Dua Bodhisattva berdiri dengan kaki telanjang di setiap sisi sebagai Buddha yg suci
bagaikan mutiara dan bunga.
Mereka berpakaian anggun dengan selendang di bahu mereka dan tubuh setengah
telanjang, mengenakan mahkota dan dengan ekspresi wajah ketenangan dan kedamaian.
Dua yang lain yang lebih kecil di depan arca adalah orang-orang membuat persembahan
kepada Sang Buddha. Wanita memeluknya offeree item di kedua tangannya dan tampak
suram. Pria memegang telapak tangannya bersama-sama di depan dada, memberi hormat
Buddhisme yang khas untuk menunjukkan rasa hormat, dengan sederhana dan saleh
tampak di wajahnya.
Dua singa kecil duduk di depan pasangan sebagai penjaga, mulut mereka terbuka dan
lidah keluar.
Meskipun bagian dasar arca kecil, mereka secara hati-hati diatur untuk memberikan
keseimbangan visual yang baik.
Semua ekspresi wajah pada arca-arca yang hidup dan harmonis, yang mencerminkan
semangat damai Buddhisme. Rumit yang halus dan keahlian membuat bagian ini salah
satu yang paling menonjol arca-arca tembaga dari Dinasti Sui dan sejarah kuno Cina.

SUI WEN TI 541-604


Mempersatukan negeri yang sudah berantakan porak poranda bukan pekerjaan orang
sembarangan. Hanya orang-orang istimewa yang ditakdirkan punya kemampuan begitu.
Dan Kaisar Cina Sui Wen Ti (nama aslinya: Yang Chien) termasuk salah satu. Dialah
orang yang menyatukan Cina yang sudah terpecah belah selama beratus-ratus tahun.
Persatuan politik, yang digarapnya dapat bertahan hampir di seluruh abad-abad
sesudahnya. Sebagai hasilnya, Cina bisa menjadi salah satu negeri yang terkuat di dunia.
Hasil penting lainnya persatuan politik ini adalah penduduk Cina yang terdiri dari hampir
seperlima jumlah keseluruhan penduduk dunia tak begitu sering terguncang malapetaka
perang seperti dialami oleh para penduduk Eropa, Timur Tengah, atau bagian-bagian
dunia yang lain.
Kaisar sebelumnya, Shih Huang Ti, telah menyatukan Cina di abad ke-3 SM. Dinastinya,
dinasti Chin hancur berantakan tak lama sesudah matinya, tetapi segera cepat tergantikan
oleh dinasti Han yang memerintah seluruh Cina dari tahun 206 SM hingga 220 M.
Sesudah jatuhnya dinasti Han, Cina masuk ke dalam rawa-rawa perpecahan dalam jangka
waktu panjang. Buruknya bisalah disamakan dengan Eropa jaman abad gelap sesudah
runtuhnya Kekaisaran Romawi.
Yang Chien dilahirkan tahun 514 dari sebuah famili yang berada, kompak, dan
berwibawa di Cina Utara. Dia pertama kali peroleh posisi karier militer tatkala usianya
baru empat belas tahun. Yang Chien memiliki kemampuan dan naik melesat dengan
cepatnya sebagai "abdi dalem" penguasa, kaisar belahan negeri sebelah utara dinasti
Chou. Bantuannya melakukan pengawasan atas hampir seluruh Cina bagian utara
tidaklah percuma karena tahun 573 puteri Yan Chien diperistri putera mahkota. Lima
tahun kemudian Kaisar meninggal dunia. Tampaknya sang putera mahkota kurang punya
kemantapan mental sehingga tak heran segera timbul kegoncangan perebutan kekuasaan.
Dalam pertarungan itu Yan Chien muncul selaku pemenang, dan tahun 581 tatkala
umurnya empat puluh tahun dia diakui sebagai Kaisar baru. Ternyata dia tidak cukup
puas cuma jadi Kaisar untuk daerah Cina Utara melulu. Sesudah melakukan persiapan
cermat dia melancarkan penyerbuan ke Cina bagian selatan. Ini terjadi tahun 588.
Penyerbuan itu berjalan secara kilat dan berhasil sehingga di tahun 589 dia praktis jadi
penguasa seluruh Cina.
Selama pemerintahannya, Sui Wen Ti membangun ibu kota baru yang cukup luas untuk
pusat kekaisaran pemersatu itu. Dia juga mulai pembangunan kanal raksasa yang
menghubungkan dua sungai terbesar di Cina: Sungai Yangtse di Cina Tengah dengan
Sungai Hwang Ho (atau Sungai Kuning) di bagian utara negeri. Kanal ini yang rampung
selesai di masa pemerintahan puteranya, menolong penyatuan antara Cina bagian utara
dan bagian selatan.

Salah satu perubahan paling penting yang dilakukan oleh Kaisar ini adalah menyangkut
lembaga sistem penyaringan pegawai-pegawai pemerintah melalui ujian-ujian. Selama
berabad-abad, sistem macam itu membuat Cina memiliki pegawai-pegawai pemerintahan
yang bermutu dan berkemampuan tinggi dan tak henti-hentinya mengisi orang-orang
berbakat di kursi-kursi kantor pemerintah di seluruh negeri dan berasal dari segala tingkat
sosial. (Pertama kali sistem ini sudah dirintis dalam masa dinasti Han, tetapi sesudah
jatuhnya dinasti itu terjadi masa kosong yang lama sekali sistem itu tidak dilaksanakan
sehingga pengangkatan pegawai banyak ditentukan oleh faktor-faktor keturunan).
Sui Wen Ti juga mewajibkan berlakunya apa yang disebut "aturan pencegahan":
ketentuan bahwa pegawai pemerintahan propinsi tidak boleh berasal dari propinsi di
mana dia dilahirkan. Ini merupakan suatu usaha pencegahan timbulnya kemungkinan-
kemungkinan "favoritisme" dan usaha pencegahan jangan sampai seseorang pejabat
membangun dan memiliki pengaruh kekuasaan yang terlampau kuat.
Meskipun pada tingkat permulaan aturan ini memerlukan keberanian dan kemampuan
dalam penerapannya, Sui Wen Ti senantiasa punya kewaspadaan dan sikap cermat yang
tinggi. Dia menghindari tindak serampangan dan tampaknya membarenginya dengan
peringanan beban-beban pajak rakyat. Dan secara garis besar politik luar negerinya pun
berhasil baik.
Sui Wen Ti tampaknya kurang punya kepercayaan diri sendiri ketimbang umumnya
penguasa dari penakluk-penakluk yang punya keberhasilan setara. Kendati dia
merupakan seorang penguasa berhasil dan kuat kedudukannya dan daya genggamnya
meyakinkan sekali atas jutaan penduduk, dia tampaknya seperti ogah-ogahan kurang
gairah dan melakukan sesuatunya karena terpaksa. Istrinya, wanita yang berkemampuan,
meski kelihatannya punya potongan menguasai suami seakan suami itu berada di bawah
selangkangannya, dia merupakan pembantu dan pendamping yang baik, begitu tatkala
perjuangan mencapai jenjang kekuasaan maupun pada saat memerintah. Sui Wen Ti
meninggal dunia tahun 604 pada umur tiga puluh tahun. Tersebar dugaan luas dia
menjadi korban pembunuhan oleh putera nomor duanya (biji mata kesayangan sang
permaisuri) yang kemudian menggantikannya.
Kaisar baru ini dibikin berabe dalam bidang politik luar negeri dan pada saat bersamaan
pecah pemberontakan melawannya. Dia terbunuh tahun 618 dan akibat kematiannya ini
berakhirlah masa dinasti Sui. Tetapi, itu bukan berarti berakhir pula persatuan Cina.
Dinasti Sui segera diteruskan oleh dinasti T'ang yang berkuasa antara tahun 618 sampai
tahun 907. Raja-raja dinasti T'ang tetap mempertahankan dan meneruskan struktur
pemerintahan seperti digariskan oleh dinasti Sui, dan di bawah pemerintahan dinasti
T'ang, Cina tetap bersatu. (Masa dinasti T'ang kerap dianggap masa terjaya Cina,
sebagian karena kekuatan angkatan bersenjatanya, tetapi lebih dari itu disebabkan karena
berkembang pesatnya kesenian dan kesusasteraan).
Seberapa pentingkah tokoh Sui Wen Ti? Untuk memberi kepastian terhadap pertanyaan
itu, orang mesti mencoba membandingkannya dengan kerajaan Eropa yang jaya di saat
Charlemagne. Ada persamaan yang nyata antara karier kedua orang itu: sekitar tiga abad
sesudah runtuhnya kekaisaran Romawi, Charlemagne berhasil menyatukan kembali
sebagian terbesar daerah Eropa; hal sama, sekitar tiga setengah abad sesudah runtuhnya
dinasti Han, Sui Wen Ti berhasil menyatukan seluruh Cina. Charlemagne, tentu saja, jauh
lebih kesohor di Eropa; tetapi tampaknya Sui Wen Ti lebih berpengaruh ketimbang
Charlemagne. Pertama, dia berhasil menyatukan seluruh Cina, sedangkan banyak daerah-
daerah penting di Eropa Barat (seperti Inggris, Spanyol dan Itali sebelah selatan tak
pernah berhasil ditaklukkannya). Kedua, penyatuan yang digarap Sui Wen Ti langgeng,
sedangkan kerajaan Charlemagne segera terpecah belah dan tak pernah berhasil menyatu
kembali.
Ketiga, kemajuan kebudayaan dinasti T'ang diakibatkan --sedikitnya sebagian-- dari
kemajuan dan kemakmuran ekonomi yang ditimbulkan berkat penyatuan Cina secara
politik. Sebaliknya, masa cerah yang berjangka pendek segera berakhir dengan matinya
Charlemagne dan keberantakan kerajaannya. Akhirnya, lembaga ujian bagi pegawai-
pegawai negeri yang digerakkan oleh Sui punya akibat jauh, mendalam, dan mendasar.
Atas dasar kesemuanya ini-meskipun secara keseluruhan Eropa memainkan peranan lebih
penting dalam sejarah dunia ketimbang Cina-toh Sui Wen Ti masih punya kelebihan
dalam hal mempengaruhi jalannya sejarah daripada Charlemagne. Sesungguhnya, amat
langka raja-raja, baik di Cina maupun di Eropa, punya pengaruh begitu langgeng seperti
Sui Wen Ti.

Dinasti Sui (581 - 618,)

Tiongkok baru dapat bersatu kembali di bawah pemerintahan Dinasti Sui


(581-618,) yang didirikan oleh Yang Jian dengan gelarnya Sui Wendi (581-
604). Beliau merupakan seorang raja berkemampuan tinggi, yang sanggup
memulihkan perdamaian setelah masa kacau selama ratusan tahun. Untuk
membantunya dalam memerintah ia juga menunjuk menteri-menteri yang
pandai serta berusaha untuk meningkatkan pertanian.

Pengganti Yang Jian, Kaisar Sui Yangdi (604 - 617) sayangnya bukan kaisar
yang cakap dan lebih mementingkan bermewah - mewah ketimbang
mengurus masalah kenegaraan. Dengan mengabaikan protes para
menterinya, Yangdi memerintahkan pembangungan ibu kota kedua,
Luoyang. Dua juta pekerja telah diperintahkan untuk membangun istana
megah serta danau buatan di kota tersebut lengkap dengan tamannya yang
memiliki luas 155 km2. Kala musim dingin tiba, pada pohon-pohon di taman
tersebut digantungkan daun dan bunga-bungaan dari sutra. Kaisar Yangdi
melanjutkan pembangunan terusan yang telah dimulai oleh Kaisar Sui Wendi
yang menghubungkan utara dan selatan, mulai dari lembah Sungai Yangzi
hingga mencapai daerah Beijing sekarang. Terusan sepanjang kurang lebih
2000 km tersebut dapat dikatakan merupakan salah satu mahakarya Bangsa
Tionghoa, karena dibangun sekitar 12 abad lebih dahulu dibandingkan
dengan pembangungan Terusan Suez oleh bangsa Barat. Kejatuhan Yangdi
dipercepat oleh usahanya yang gagal untuk menaklukkan Korea, dimana hal
tersebut sangat menghabiskan sumber daya negara.
Pada masa akhir pemerintahannya Sungai Huanghe meluap yang
mengakibatkan penderitaan di kalangan rakyat. Kerusuhan terjadi di mana-
mana. Li Yuan seorang tokoh militer dari Utara menaklukkan ibu kota
Chang-an dan Yangdipun melarikan diri ke selatan, di mana ia dicekik
sampai mati oleh putera seorang menteri yang pernah dipermalukannya.

Li Yuan kemudian mengangkat cucu Yangdi sebagai Kaisar Gongdi (617-


618,) dan ia sendiri menjadi walinya, tetapi setahun kemudian diturunkannya
dari tahta dan ia sendiri mengangkat dirinya sebagai kaisar dengan gelar
Tang Gaozong (618 - 626). Dengan demikian berakhirlah Dinasti Sui dan
masa kekuasaan Dinasti Tangpun mulailah. Alam Pengaruhi Jatuh Bangun
Dinasti

China

Jatuh bangunnya kerajaan dan dinasti ternyata sangat terkait dengan kondisi alam.
Mengapa bisa begitu?Temuan stalagmit di sebuah gua di China menjadi petunjuk
berakhirnya sejumlah dinasti bersejarah China. Stalagmit tersebut terbentuk dari mineral
tetesan air selama 1.810 tahun. Kandungan kimia di dalam batu itu mewakili kisah siklus
monsoon yang memenuhi kebutuhan air jutaan orang.

Dari temuan ini bisa diprediksikan bahwa peiode kekeringan yang melanda telah
melenyapkan Dinasti Tang, Yuan dan Ming. Demikian seperti yang dipublikasikan di
jurnal Science teranyar.

Tim ilmuwan yang dipimpin Pingzhong Zhang dari Lanzhou University , China, ini
menyebutkan bagwa perubahan siklus di sekitar tahun 1960 mengindikasikan gas rumah
kaca yang dilpicu aktivitas manusia telah mempengaruhi monsoon secara dominan.

Jatuh Bangun

Gua Wanxiang yang ditemukan berada di provinsi Gansu, dimana 80% curah hujannya
terjadi antara Mei dan September. Konsentrasi kimiawi di stalagmitnya mengindikasikan
serangkaian fluktuasi yang terjadi dari satu abad ke abad selanjutnya, mirip dengan
rekaman yang ada di Zaman Es di Eropa.

Ada fluktuasi panjang selama tahun 190 dan 530, saat dinasti Han berakhir. Sedangkan
dari tahun 530 hingga 850 terjadi penurunan monsoon yang diperkirakan adalah
penyebab berakhirnya Era Disunity, Dinasti Sui dan Dinasti Tang. Ilmuwan menemukan
bahwa setelah tahun 1020, monsoon cenderung menguat hingga kembali drop di tahu
1340 dan 1360.

Periode musim kering di abad ke-9 sangat berkotribusi pada melemahkan Dinasti Tang
dan suku bangsa Maya di Mesoamerika. Kondisi yang sama juga dialami lima dinasti lain
dan 10 kerajaan. Kuatnya monsoon juga berkontribusi pada percepatan masa panen padi,
populasi dan stabilitas yang terjadi pada Dinasti Song di bagian utara.
Dinasti Sui dan Dinasti Tang
cri
Dinasti Sui didirikan oleh Yang Jian, yang kemudian disebut sebagai Kaisar Sui Wendi
setelah naik takhta pada tahun 581 Masehi. Namun Dinasti Sui hanya berlangsung
selama 37 tahun sebelum diruntuhkan pada tahun 618 Masehi. Maitreya, Buddha atau
Bodhisattva Part 1

Phin An
10-09-2008, 11:49 PM
Maitreya, Buddha atau Bodhisattva

Bodhisattva Maitreya yang dinamai sebahagian umat Buddha sebagai Buddha Tertawa
ini sebenarnya secara tidak langsung mengambarkan kesalahpahaman umat Buddha
yang mendalam akan sosok Matreya. Ternyata, selain sebutan yang tidak cocok itu
masih ada kesalahan yang lebih serius seperti pemikiran yang sengaja dihembuskan oleh
pihak-pihak yang berkepentingan, dengan menyebutkan bahwa bagi siapapun yang
memuja Maitreya, maka keberuntungan atau rezeki akan dating pada mereka.
Menyadari bahwa umumnya umat Buddha sulit untuk menolak bila ditawari kekayaan
dan kemakmuran, maka pihak-pihak tertentu menggunakan hal ini sebagai kunci utama
dalam menarik umat sehingga muncullah kabar-kabar yang mengatakan bahwa
Bodhisattva Maitreya yang digambarkan menyandang kantong rezeki atau memegang
bongkahan emas dapat memberikan rezeki, kekayaan dan kemakmuran bagi sesiapa
yang memujanya.
Kabarnya, tidak sedikit pula umat Buddha yang berbondong-bondong bergabung
dengan ajaran tsb, padahal itu semua tidaklah demikian mudah. Dalam Dhamma rezeki
atau keberuntungan merupakan hasil perbuatan baik yang kita tanam atau kita perbuat
pada masa lalu maupun masa sekarang ini, yaitu buah dari suka berbagi atau menderma,
yang mana itu semua bersumber dari kita sendiri, bukan berasal dari makhluk luar,
termasuk para rohaniwan, dewa, Bodhisattva, Buddha, atau apapun namanya.

Apakah Benar Maitreya adalah Buddha?

Menurut Tipitaka, Kitab Suci Agama Buddha, Maitreya (Sanskrit) atau Metteya (Pali)
adalah CALON Buddha yang akan datang, tetapi hingga artikel ini ditulis dan sampai
anda baca, Beliau belum hadir di dunia. Saat ini (calon Buddha) yang berdiam di Surga
Tusita dan menunggu waktu yang tepat untuk dilahirkan di dunia untuk
menyempurnakan kebuddhaan-Nya.
Karena masih merupakan calon Buddha, tentu saja Maitreya tidak dapat disebut sebagai
Buddha. Contoh yang gampang adalah seorang mahasiswa yang sedang mengambil
gelar sarjana. Selama belum diwisuda menjadi sarjana, maka mahasiswa yang meskipun
adalah seorang calon sarjana tidak dapat kita sebut sarjana sehingga tidaklah etis bila
mencantumkan gelar kesarjanaannya. Jadi tidaklah benar bila ada yang mengatakan
bahwa Maitreya telah menjadi Buddha.
Setelah dikatakan Maitreya belum lahir, maka ada pula yang karena kepentingan
kelompoknya mengatakan meski belum lahir tetapi Maitreya yang berada di surga telah
membabarkan ajaran kepada mereka melalui mimpi atau meditasi. Mereka mengatakan,
para pemimpin mereka menerima ajaran “Hati nurani” melalui mimpi sewaktu mereka
tidur, atau bertemu dengan Bodhisattva Maitreya ketika mereka bermeditasi.
Mungkinkah? Jawabannya adalah “TIDAK MUNGKIN”, ini karena hingga saat ini
Maitreya belum melepaskan keduniawian dan belum mencapai pencerahan, jadi tidak
ada Dhamma yang bisa diajarkan Terlebih lagi, sebenar-nya Dhamma yang diajarkan
oleh para Buddha SELALU sama (Baca juga : Permata yang Tak Lekang oleh Waktu).
Karena belum melepaskan keduniawaian makanya sering kali Bodhisattva Maitreya
digambarkan masih bertahtakan perhiasan-perhiasan, batu berharga dan lainnya.

Maitreya? Yang mana satu…?!

Mungkin Anda pernah mendengar bahwa Bodhisattva Maitreya pernah lahir sebagai
bhiksu berkantong di China? Yang pasti cerita seperti itu sulit untuk dibuktikan dan
sebenarnya dalam Ajaran Buddha seorang Bodhisattva adalah clon Buddha, dan calon
Buddha hanya akan terlahir sekali lagi untuk menyempurnakan kebuddhaan-Nya. Dari
catatan-catatan yang ada, sebenarnya memang ditemukan banyak “Maitreya” yang
pernah muncul di China dari dinasti ke dinasti, bahkan tidah hanya satu. Tetapi dapat
dipastikan bahwa itu bukanlah Bodhisattva Maitreya, calon Buddha yang kita
maksudkan dengan Kitab Suci Tipitaka. Bila banyak terjadi kesamaan dalam
penggunaan nama, tentunya tidak ada yang dapat disalahkan. Tetapi bila yang
menggunakan nama sudah berpura-pura mengaku sebagai Buddha Maitreya, calon
Buddha yang akan datang, nah ini baru menjadi masalah.

Dari catatan-catatan yang ada, sebenarnya memang ditemukan banyak “Maitreya” yang
pernah muncul di China dari dinasti ke dinasti, bahkan tidak hanya satu

Dalam makalah Ivan Taniputera yang berjudul “APAKAH SANG BUDDHA MASA
MENDATANG TELAH HADIR DI DUNIA INI?” disebutkan bahwa banyak aliran
sesat dan gerakan pemberontakan menggunakan kedok Buddhis dan memperalat
“Maitreya” untuk menarik pengikut dan menutupi wujud asli organisasi mereka agar
tidak mudah tercium oleh penguasa saat itu. Tidak sedikit pula yang mengaku sebagai
jelmaan Maitreya, salah satunya seperti yang terjadi pada masa Dinasti Tang, di mana
Ibu Suri Wu Zetian (Hokkian : Bu Cek Tian) mengaku sebagai penjelmaan Maitreya.
Ibu Suri Wu perlahan-lahan berusaha meraih kekuasaan setelah suaminya Kaisar Gao
Zong Wafat. Setelah menjadi ratu, ia memanfaatkan Agama Buddha dan Tao sebagai
alat propaganda agar rakyat menganggapnya sebagai makhluk suci. Ia mengaku sebagai
jelmaan Maitreya (padahal Ratu Wu sangat kejam karena telah menyiksa sampai mati
para selir suaminya terdahulu).
Kemudian pada bulan Januari tahun 610 Masehi di masa DInasti Sui terdapat sejumlah
orang yang ingin memberontak berpakaian warna putih dengan rambut diikat pita putih
dan tangan memegang kemenyan yang membara serta bunga-bunga. Meraka
mengumumkan datangnya Buddha Maitreya ke dunia dengan mengadakan prosesi
menuju kota Chian Kuok, pengawal di pintu menyambut kedatangan mereka dengan
berlutut dan mempersilakan mereka masuk. Tetapi ketika para pengawal sedang
berlutut, mereka merampok senjata-senjata para pengawal, dan ketika tindakan itu
hampir mengakibatkan kerusuhan, bantuan pun datang untuk menaklukan para
pemberontak.
Tiga tahun kemudian pada bulan Desember 613 M, seseorang yang bernama Siang Hai
Ming manyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Buddha Maitreya. Ia melancarkan
pemberontakan setelah mengumpulkan pengikutnya. Akhirnya, Siang Hai Ming
mengangkat dirinya sebagai raja, dan membangun sebuah kerajaan di Pei Wu. Tetapi
kemudian raja dari Dinasti Sui mengirimkan pasukan untuk menaklukannya.
Begitulah banyak munculnya oknum-oknum yang menggunakan nama calon Buddha
mendatang, sepanjang sejarah perjalanan dinasti-dinasti di China.

Kelahiran Buddha Maitreya

Digembar-gemborkannya kelahiran Maitreya oleh “pengikutnya” telah membuat banyak


umat Buddha awam kebingungan. Tetapi untung saja ajaran yang telah diselewengkan
dari Ajaran Buddha yang penuh kasih sayang ini tindak sampai terjadi tindak kekerasan
seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita dari kepercayaan lain. Kemunculan
Buddha yang akan datang, Maitreya, sebenarnya diketahui dari Buddha Gotama untuk
lebih jelasnya marilah kita melihat sedikit kutipan dari Cakkavatti-Sihanada Sutta (Sutta
ke-26 dari Digha Nikaya) yang mengatakan bahwa Bodhisattva Maitreya baru akan
dilahirkan saat kehidupan manusia mencapai rentang usia rata-rata 84.000 tahun.
Tempat kelahiran-Nya adalah Ketumati di masa pemerintahan Raja Cakkavatti bernama
Sankha, dimana raja pemerintahan tsb nantinya akan menjadi pengikut Buddha dan
melepaskan kehidupan duniawi. Maitreya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar
yang terkenal dan nama-Nya adalah Ajita. Nama suku-Nya adalah Maitreya. Nama
ayah-Nya adalah Subrahma; dan ibu-Nya adalah Brahmavati. Beliau akan menikah
dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra bernama Brahmavaddhana. Beliau
akan hidup di empat istana selam 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana,
Siddhattha, dan Chandaka. Selanjutnya beliau akan melepaskan keduniawian setelah
melihat 4 tanda.
Sedangkan yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudara-Nya
Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya di antara pengikut pria; dan Suddhana,
Sanghaa dan Visakhaa dia antara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid
utama-Nya di antara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva; dan di antara para
bhikhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadi-Nya. Beliau
akan mencapai pencerahan di bawah Pohon Naga.
Sedangkan dalam Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra, salah satu hal yang
dikatakan oleh Buddha Gotama adalah bahwa pada saat Bodhisattva Maitreya akan
dilahirkan di dunia, situasi dan kondisi dunia ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air
laut agak susut dan daratan bertambah. Nah, karena tanda-tanda yang dikatakan masih
jauh dari kondisi sekarang tentu saja bisa dipastikan bahwa kehadiran Buddha yang
akan datang Maitreya masih jauh dari yang telah diungkapkan oleh Buddha Gotama.
Oleh sebab itu, hendaknya kita jangan mudah percaya apa yang dikatakan oleh
seseorang, baik beliau adalah seorang pemuka agama dari kelas tertentu atau
sebagainya.

Bagaimana Agar Terlahir pada Masa Buddha Maitreya

Banyak umat Buddha yang menyadari bahwa kesempatan agar dapat terlahir di masa
kehidupan Buddha adalah sangat Sulit, oleh karena itulah terjadi kesalahan persepsi
yang mengatakan bahwa barang barang siapa yang hendak bertemu dengan Buddha
Maitreya harus mengikuti “ajaran” mereka (yaitu “Agama Buddha Maitreya” yang
notabene merupakan aliran I Kuan Tao di Taiwan/China). Padahal sebenarnya mereka
yang telah merusak citra dan Ajaran Buddha yang akan datang dengan mengatakan
ajarannya yang ini dan itu (padahal semuanya dibuat-buat oleh pihak-pihak yang
mencari keuntungan bagi kepentingan mereka) justru akan semakin kecil
kesempatannya untuk bisa bertemu dengan Buddha Maitreya.
Sebaliknya, mereka yang mempraktekan Dhamma dengan baik dan tekun yang justru
menciptakan kesempatan yang besar bagi dirinya sendiri agar dapat terlahir di masa
kehidupan Buddha Maitreya. Ajaran semua Buddha adalah sama sehingga siapa yang
melaksanakan Dhamma saat ini dengan semakin baik dan tekun justru akan
memperbesar kesempatan mereka bertemu Buddha Maitreya.
Ayo.., berjuang dan jangan lengah!!! Bila saat ini kita telah bertekad untuk bisa bertemu
Buddha Maitreya maka praktekanlah Dhamma Sang Buddha dengan baik dan tekun.
Bila Anda menyadari kesalahan anda dalam “memilh” Ajaran Buddha jangan malu, tapi
saat ini juga beranikan diri Anda untuk memulai sesuatu yang luar biasa, yaitu
“BERANI” untuk menerima Dhamma Sang Buddha yang sesuai dengan Kitab Suci
Tipitaka. NIscaya kebahagiaan dan kemakmuran akan datang kepada mereka yang
melaksanakan Dhamma, sebagaimana yang dikatakan oleh Sang Buddha bahwa
“Dhamma melindungi mereka yang mempraktekkan Dhamma”. (rf)

Sejarah Islam Di China

Sumber kantor berita internasional BBC, menyatakan bahwa mungkin ada sebanyak 20
juta Muslim di Cina, hingga 2% dari 1,3 miliar penduduk negara itu. Sumber-sumber
lain menunjukkan jumlah Muslim di Cina lebih dari 30 juta. Kelompok etnis Muslim
terbesar di Cina adalah Hui, sementara yang lain termasuk Uyghurs dan Kazakhstan.
Konsentrasi terbesar ditemukan di wilayah barat laut Xinjiang Cina otonom. Sebuah
keadaan unik dari beberapa penganut muslim modern di Cina adalah adanya imam
perempuan. Selama Dinasti Tang, Cina sangat toleran terhadap agama-agama baru dan
kontak Cina dengan utusan asing berkembang. Islam masuk ke Cina melalui jalan sutera
oleh orang Arab. Meskipun beberapa percaya bahwa Islam mungkin telah tiba di Cina
masa Dinasti Sui, catatan resmi pertama kedatangan Islam di Cina terjadi selama Dinasti
Tang. Usman bin Affan, khalifah ketiga umat, mengirim utusan resmi Muslim pertama
ke China pada tahun 650. Utusan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Waqqas, tiba di ibukota
Tang, Chang’an, di tahun 651 melalui rute luar negeri. Hui umumnya menganggap
tanggal ini menjadi pendirian resmi Islam di Cina. Catatan Kuno dari Dinasti Tang
mencatat pertemuan bersejarah, di mana utusan Gaozong disambut Kaisar Tang Cina
dan mencoba untuk memperkanalkan Islam. Meskipun utusan gagal meyakinkan Kaisar
untuk memeluk Islam, utusan Kaisar diizinkan untuk menetap di Cina dan
memerintahkan pendirian masjid pertama di ibukota Cina untuk menunjukkan rasa
hormatnya pada agama Islam. orang Arab pertama yang tercatat dalam catatan tertulis
Cina, bernama Shi Da dalam sejarah dinasti Tang (tahun 618-907). Catatan yang berasal
dari tahun 713 berbicara tentang kedatangan seorang duta Da shi. Hal ini dicatat bahwa
di tahun 758, seorang Muslim yang besar menetap di Guangzhou. Masyarakat telah
membangun sebuah masjid besar (Huaisheng Si), yang terbakar pada tahun 1314, dan
dibangun pada lagi sekitar tahun 1349-1351; puing-puing hanya berupa sebuah menara
tetap dari bangunan pertama. Selama Dinasti Tang, aliran pedagang Arab dan Persia tiba
di Cina melalui jalan sutera dan rute luar negeri melalui pelabuhan Quanzhou. Tidak
semua imigran-imigran Muslim, tapi banyak dari mereka yang tinggal membentuk
komunitas penduduk Islam Cina dan kelompok etnis Hui. Para imigran Arab dan Persia
memperkenalkan masakan mereka, alat musik mereka, dan pengetahuan mereka tentang
obat-obatan ke Cina. Selama Dinasti Song, Muslim di China mendominasi perdagangan
luar negeri di selatan dan barat. Dinasti Yuan memeluk agama Islam. Banyak umat
Islam ditempatkan dalam posisi penting, bahkan sarjana Konfusius mengandalkan Umat
Muslim untuk mengatur kekaisaran. Negara mendorong imigrasi Umat Muslim, seperti
bangsa Arab, Persia dan Turki berimigrasi ke Cina dipercepat selama periode ini.
Muslim terus berkembang di Cina selama dinasti Ming. Selama pemerintahan Ming,
ibukota, Nanjing, adalah sebuah pusat belajar Islam. Masjid di Nanjing dicatat dalam
dua prasasti dari abad keenam belas. Perkembangan Islam pada masa ini melambat
drastis, dan Muslim di Cina menjadi semakin terisolasi dari seluruh dunia Islam, secara
bertahap menjadi lebih tertutup. Selama periode ini, umat Islam juga mulai mengadopsi
nama keluarga Cina. Salah satu nama keluarga muslim yang lebih populer adalah Ma
(马), bentuk singkat dari Fatima. Umat Muslim mengalami penurunan status selama
Dinasti Qing. Banyak suku-suku di Cina yang beragama Islam melakukan
pemberontakan akibat tekanan dari kekaisaran. Seperti Pemberontakan Panthay dan
Pemberontakan Suku Hui, pemberontakan-pemberontakan ini bermunculan selama
Dinasti Qing sebagai reaksi terhadap kebijakan repressionist. Pada dekade pertama abad
ke-20, telah memperkirakan bahwa ada populasi sekitar 50 juta dan 3.000.000 Muslim
di Cina (yaitu, Seluruh daratan Cina termasuk daerah Mongolia dan Xinjiang). Dari
jumlah tersebut, hampir separo tinggal di Gansu, lebih dari sepertiga di Shaanxi
(sebagaimana didefinisikan di waktu itu) dan sisanya di Yunnan. Pada dinasti Qing,
Muslim telah banyak dibangun masjid di kota-kota besar, dengan orang yang sangat
penting di Beijing, Xi’an, Hangzhou, Guangzhou, dan tempat-tempat lain (selain orang-
orang dalam agama-agama Islam barat). Arsitektur biasanya digunakan gaya tradisional
Cina, dengan tulisan berbahasa Arab menjadi fitur utama yang membedakan. Pada masa
itu banyak umat Muslim yang memegang jabatan dipemerintahan, termasuk posisi-
posisi penting, terutama dalam militer.

Walaupun Dinasti Sui hanya memelihara kehadiran dalam jangka pendek dalam sejarah,
namun Kaisar Sui Wendi memberikan sumbangan cukup besar. Salah satu
sumbangannya ialah mendirikan jajaran jabatan yang baru dengan mencabut jajaran
jabatan lama yang berlaku pada Dinasti Zhou Barat yang berkuasa antara tahun 1027
Sebelum Masehi dan 256 Sebelum Masehi. Jajaran jabatan yang didirikan Kaisar Sui
Wendi secara singkat disebut sebagai "sistem jabatan tiga propinsi dan enam
kementerian". Selain itu, Kaisar Sui Wendi juga menyusun hukum pidana baru yang
kurang kejam dibanding dengan hukum yang diberlakukan pada Dinasti Selatan dan
Dinasti Utara, dua dinasti yang berkuasa sebelumnya. Yang patut disebut ialah sistem
ujian kenegaraan yang didirikan Kaisar Sui Wendi. Sistem ujian kenegaraan adalah cara
pemilihan pejabat pemerintah yang baru pada zaman kuno. Sumbangan lain lagi Kaisar
Sui Wendi ialah ia memerintahkan pembuatan Terusan Besar dari Hangzhou Tiongkok
Selatan ke Beijing Tiongkok Utara. Biarpun Sui Wendi banyak memberikan
sumbangan, namun ia tetap diperingati dalam sejarah sebagai kaisar lalim dan justru
karena kelalimannya yang luar biasa, ia akhirnya menimbulkan kemarahan sangat besar
rakyat. Dan pada akhirnya ia dikenakan hukuman gantung dan berakhir pula Dinasti
Sui.

Setelah runtuhnya Dinasti Sui, berdirilah Dinasti Tang yang berkuasa dalam sejarah
selama 289 tahun antara tahun 618 Masehi dan 907 Masehi. Dinasti Tang terbagi
menjadi paro pertama dan paro kedua dengan Insiden Anshi sebagai tanda batasnya.
Paro pertama Dinasti Tang adalah masa makmur dan paro kedua merupakan masa
bobroknya Dinasti Tang. Biarpun Dinasti Tang didirikan oleh Kaisar Tang Gaozu, tapi
putranya Li Shimin, yaitu Kaisar Tang Taizong yang berhasil menyatukan Tiongkok
dengan memakan waktu 10 tahun. Setelah Li Shimin naik takhta, Dinasti Tang yang
berada di bawah pimpinannya mencapai perkembangan dan kemakmuran yang tiada
taranya dalam sejarah, bahkan muncul "Pemerintahan Zhenguan Yang Unggul", di
mana Tiongkok berada di urutan depan dunia di bidang politik, ekonomi dan
kebudayaan. Setelah itu muncul pula Pemerintahan Kaiyuan yang makmur pada masa
kekuasaan Kaisar Tang Xuanzong, di mana negara menjadi kuat dan rakyat menjadi
kaya. Namun justru pada masa berkuasanya Kaisar Tang Xuanzong, terjadi Insiden
Anzhi yang mengakibatkan Dinasti Tang menempuh jalan bangkrut dan runtuh.

Pada Zaman Dinasti Sui dan Dinasti Tang, Tiongkok banyak berprestasi dalam
pembaruan perundangan-undangan dan sistem, misalnya pada kedua dinasti itu
didirikan sistem jajaran pejabat "tiga propinsi dan enam kementerian", sistem ujian
kenegaraan dan undang-undang perpajakan baru yang semuanya menimbulkan
pengaruh menjangkau jauh terhadap masa kemudian. Pada Zaman Dinasti Sui dan
Dinasti Tang, dijalankan kebijakan terbuka terhadap dunia luar sehingga pertukaran
ekonomi dan kebudayaan antara Tiongkok dan luar negeri sangat makmur. Pada Dinasti
Tang, penciptaan karya sajak sangat makmur dan muncul banyak penyair yang brilian,
antara lain, Li Bai, Du Fu pada masa awal Dinasti Tang, Bai Juyi pada masa tengah dan
Li Shangyin dan Du Mu pada masa akhir. Sedangkan gerakan bahasa kuno yang
diprakarasi oleh Han Yu dan Liu Zongyuan juga berpengaruh besar terhadap masa
kemudian. Dinasti Tang juga adalah suatu masa di mana penciptaan karya kaligrafi dan
karya lukisan mengalami perkembangan sangat besar. Tari-tarian dan kesenian lukisan
gua batu di Dinasti Tang juga mencapai taraf yang sangat tinggi. Di bidang ilmu
pengetahuan, teknik cetak dan mesiu, dua penemuan besar dalam sejarah juga muncul
pada kedua dinasti itu.

Pada masa akhir Dinasti Tang, politik dan pemerintahannya sangat kacau dan kerap kali
terjadi pertarungan politik dan kekuasaan. Pemberontakan petani pun sering terjadi, di
antaranya diberi nama Pemberontakan Huang Cao. Salah seorang pemimpinnya, Zhu
Wen mula-mula membelot dan menyerah kepada pasukan Dinasti Tang, tapi kemudian
ia menggulingkan Dinasti Tang dan mendirikan Dinasti Hou Liang, dinasti pertama
Lima Zaman yang berkuasa sesudah Dinasti Tang, dengan mengangkat dirinya sebagai
kaisar.