Anda di halaman 1dari 12

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

PEKERJAAN
DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP PELABUHAN PENYEBERANGAN LABUHAN HAJI

Uraian Pendahuluan

1. Latar Belakang : Seiring dengan perkembangan lingkungan strategis, peran laut


menjadi signifikan serta dominan dalam mengantar kemajuan
negara. Indonesia secara geografis sebagai negara kepulauan
dengan dua pertiga luas lautan lebih besar daripada daratan.
Hal ini bisa terlihat dengan adanya garis pantai di hampir setiap
pulau di Indonesia (±81.000 km) yang menjadikan Indonesia
menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang
memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Kekuatan inilah yang
merupakan potensi besar untuk memajukan perekonomian
Indonesia. Sebagai negara maritim peran pelabuhan sangat
vital dalam pengembangan ekonomi.

Sistem pengembangan ekonomi yang didukung dengan sistem


kegiatan yang didukung dengan sistem jaringan transportasi
laut meliputi tatanan kepelabuhan dan alur pelayaran, secara
optimal mampu meningkatkan pendapatan daerah dengan
tetap memperhatikan daya dukung dan daya tampung
lingkungan.

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan


Hidup Nomor 14 Tahun 2010 tentang usaha dan/atau kegiatan
yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum
memiliki dokumen UKL-UPL wajib membuat Dokumen
Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH). Oleh karena itu, setiap
kegiatan pelabuhan laut yang telah melaksanakan kegiatannya
wajib membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup
tersebut karena diperkirakan dapat menimbulkan dampak
lingkungan baik positif maupun negatif. Dampak positif yang
diperkirakan terjadi dari kegiatan diatas antara lain adalah
peningkatan pendapatan serta adanya kesempatan kerja dan
berusaha yang bersumber dari kegiatan bongkar muat
penumpang / barang. Sedangkan dampak negatif dari kegiatan
diatas yang berpotensi timbul antara lain adalah penurunan
kualitas udara dan air, kebisingan, perubahan pola arus dan
garis pantai, gangguan biota perairan, serta keselamatan dan
kesehatan kerja. Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang
diarahkan pada upaya untuk mencegah atau menanggulangi
dampak negatif dan mengembangkan dampak positif agar
manfaat yang diperoleh dari kegiatan pembangunan tersebut
dapat dioptimalkan dan berkelanjutan.
2. Maksud dan : Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Pelabuhan
Tujuan Penyeberangan Labuhan Haji dimaksudkan untuk melakukan
suatu kajian mengenai dampak dan evaluasi potensi dampak
yang akan timbul dari rencana kegiatan Pembangunan
Fasilitas Pelabuhan Penyeberangan di lokasi pembangunan
terhadap lingkungan hidup yang ada di pelabuhan dan areal
sekitar pelabuhan.

Tujuan Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Pelabuhan


Penyeberangan Labuhan Haji adalah tersedianya dokumen
kajian ilmiah lingkungan sebagai acuan dalam melakukan
operasional pembangunan fasilitas palabuhan penyeberangan
sehingga berjalan aman, efektif dan dampak negatif terhadap
lingkungan hidup dapat diminimalisasi. Selain hal tersebut
sebagai kontribusi terhadap pengambil keputusan kelayakan
lingkungan agar sesuai dengan pembangunan berkelanjutan.

3. Sasaran : - Tersedianya dokumen lingkungan hidup yang berisi


kejelasan tentang dampak dan potensi dampak terhadap
lingkungan di pelabuhan terkait kegiatan operasional
pelabuhan serta kendala yang mungkin akan ditemui dan
solusi terhadap kendala tersebut. Dokumen Lingkungan
Hidup dibuat agar dapat bermanfaat untuk pembangunan
pelabuhan penyeberangan, guna memperlancar kegiatan
transportasi air.
- Tersedianya pedoman dan saran tindakan dalam menjaga
dan mempertahankan kelestarian lingkungan di wilayah
pelabuhan dan sekitarnya.
- Menekan dampak negatif dan megembangkan dampak
positif dari kegiatan pelabuhan.
- Terpenuhinya amanat UU No.32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

4. Lokasi : Lokasi kegiatan Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup


Pekerjaan terletak di Pelabuhan Penyeberangan di Kabupaten Aceh
Selatan, Provinsi Aceh.

5. Sumber : Pekerjaan ini dibiayai dari sumber pendanaan : Anggaran


Pendanaan Pendapatan Belanja Aceh (APBA) melalui Daftar Pelaksanaan
Anggaran (DPA) Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) Dinas
Perhubungan Aceh Tahun Anggaran 2019.
6. Nama dan : Kuasa Pengguna Anggaran Bidang Pengembangan Sistem dan
Organisasi Multimoda Dinas Perhubungan Aceh
Kuasa Pengguna
Anggaran

Data Penunjang
7. Data Dasar : - Rencana Induk Pelabuhan Penyeberangan Labuhan Haji

8. Standar Teknis : Standar Nasional Indonesia (SNI);


Standar/Kriteria Perencanaan (KP) yang dikeluarkan oleh
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik
Indonesia dan Standar lainnya yang berlaku.

9. Studi-Studi :  Perencanaan Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan


Terdahulu Labuhan Haji (Otsus Aceh)

10. Referensi : Referensi Hukum yang berlaku untuk pekerjaan Penyusunan


Hukum Dokumen Lingkungan Hidup yang meliputi Dokumen
Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) / Dokumen Evaluasi
Lingkungan Hidup (DELH) yaitu :
 Undang-Undang No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang.
 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 14 Tahun
2010 tentang Dokumen Lingkungan Hidup bagi usaha
dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan/atau
kegiatan tetapi belum memiliki dokumen lingkungan
hidup).
 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 07
Tahun 2010 tentang Sertifikasi Kompetensi Penyusunan
Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
dan Persyaratan Lembaga Pelatihan Kompetensi Penyusun
Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan.
 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun
2012 tentang jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib
memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup.
 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun
2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan
Hidup.
 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun
2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam
Proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup dan Izin
Lingkungan.
 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun
2013 tentang Tata Laksana Penilaian dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin
Lingkungan.
 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.
P.65/Menlhk/Stjen/Kum.1/7/2016 Tentang Standar dan
Sertifikasi Kompetensi Penyusunan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup.
 Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan
Hidup Nomor 3 Tahun 1991 tentang Baku Mutu Limbah
Cair.
 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.48 tahun
1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan.
 Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.08 tahun 2000
tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan
Informasi Dalam Proses Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.

Ruang Lingkup

11. Lingkup : Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Melingkupi


Pekerjaan Penyusunan Pengelolaan Dokumen Lingkungan Hidup (DPLH) /
Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) Pelabuhan
Penyeberangan di Kabupaten Aceh Selatan, dilakukan dengan
memperhatikan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 14 tahun 2010 tentang Dokumen Lingkungan Hidup
Bagi Usaha dan/atau Kegiatan yang Telah Memiliki Izin Usaha
dan/atau Kegiatan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan
Hidup dan Pasal 121 UUPPLH tentang penerapan Audit
Lingkungan dan DPLH serta Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang jenis Usaha dan/atau
Kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak
lingkungan hidup.

1. Tahap Persiapan. Pada tahap persiapan ini dilakukan


kegiatan-kegiatan :
a. Pengumpulan data-data sekunder diantaranya peta
RTRW (Provinsi Aceh), peta Tata Guna Lahan, dan lain-
lain.
b. Survey pendahuluan untuk melihat kondisi eksisting
lokasi rencana kegiatan untuk penentuan lingkup
wilayah studi.
c. Penentuan lingkup komponen studi.
d. Pengecekan mengenai ijin prinsip kegiatan oleh instansi
yang berwenang.
e. Pengecekan (validasi) dan Pengurusan Permohonan
Kesesuaian lokasi rencana kegiatan dengan tata ruang
pada instansi yang berwenang. Bagian ini menjelaskan
mengenai Kesesuaian lokasi rencana usaha dan/atau
kegiatan dengan rencana tata ruang sesuai ketentuan
peraturan perundangan. Informasi kesesuaian lokasi
rencana usaha dan/atau kegiatan dengan rencana tata
ruang seperti tersebut di atas dapat disajikan dalam
bentuk peta tumpang susun (overlay) antara peta batas
tapak proyek rencana usaha dan/atau kegiatan yang
berlaku sudah ditetapkan.

2. Pengambilan Sampel untuk kualitas air data yang


dikumpulkan adalah parameter kualitas air sesuai dengan
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun
2004, sampel untuk kualitas air tanah menerapkan SNI dan
baku mutu mengacu Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990,
sampel untuk kualitas udara dilakukan dengan metode
yang mengacu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 41 Tahun 1999.

3. Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup mencakup


beberapa uraian sebagai berikut :
a. Kajian evaluasi terhadap kegiatan yang sedang berjalan
di lokasi studi.
- Komponen kegiatan yang menimbulkan dampak
atau sebagai sumber dampak.
- Data-data jenis, parameter, sifat dan jumlah bahan
pencemar/buangan/limbah yang dihasilkan.
- Data-data kondisi rona lingkungan atau kondisi
eksisting lingkungan yang berpotensi terkena
dampak.
- Baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan.
- Upaya pengelolaan dan pemantauan yang telah
dilakukan.
b. Dokumen lingkungan dapat diterima setelah diperiksa
oleh tim komisi AMDAL melalui rapat komisi.
Pembiayaan rapat komisi ini berupa biaya makan dan
minum rapat, honorarium tim ahli/pakar, honorarium
pembahas, sewa ruangan dan penggandaan dokumen
yang akan dibahas.
c. Kegiatan penyusunan dokumen lingkungan wajib
dilakukan sosialisasi pada wilayah yang diperkirakan
terkena dampak lingkungan, berupa pertemuan
bersama tokoh dan masyarakat di sekitarnya dan
konsultasi publik untuk memperoleh masukan dan
kesepakatan, serta dipublikasikan pada media cetak
lokal.
d. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) diuraikan dan
dilengkapi matrik yang berisi :
- Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang
mencakup dampak dan sumber dampak;
- Tolok ukur dampak, untuk mengukur komponen
yang terkena dampak berdasarkan baku mutu
standar;
- Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup;
- Upaya pengelolaan lingkungan hidup;
- Lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan (peta,
sketsa, gambar);
- Periode pengelolaan lingkungan yang memuat
kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan
dilaksanakan;
- Institusi pengelolaan lingkungan hidup, yang
memuat: Pelaksana yang bertanggungjawab
melaksanakan pengelolaan lingkungan dan
Pengawas pengelolaan lingkungan.
e. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) diuraikan dan
dilengkapi matrik yang berisi :
- Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang
mencakup dampak dan sumber dampak,
- Parameter lingkungan hidup yang dipantau
- Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup
- Metode pemantauan lingkungan hidup, yang
memuat: 1) Metode pengumpulan dan analisis
data; 2) Lokasi pemantauan lingkungan hidup; 3)
Jangka waktu dan frekuensi pemantauan.
- Institusi pemantauan lingkungan hidup, yang
memuat: 1) Pelaksana yang bertanggungjawab
melaksanakan pemantauan lingkungan; 2)
Pengawas pemantauan lingkungan

12. Keluaran : Keluaran dari kegiatan ini adalah Penyusunan Dokumen


Lingkungan berupa Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
(DPLH) atau Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) dan
dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL).

13. Peralatan, : a. Laporan dan Data


Material, Kumpulan laporan dan data sebagai hasil studi terdahulu
Personil dan yang terkait dengan pekerjaan ini dapat dipakai sebagai
Fasilitas dari referensi oleh penyedia jasa
Kuasa Pengguna b. Staf Pendamping
Anggaran Pengguna jasa akan mengangkat petugas atau wakilnya
yang bertindak sebagai pendamping dalam rangka
pelaksanaan pekerjaan konsultansi
c. Fasilitas yang disediakan oleh Pengguna Jasa yang dapat
digunakan oleh penyedia jasa :
• Dukungan administrasi dan surat menyurat.
• Dalam hal konsultasi rutin dengan pihak-pihak terkait
atau direksi pekerjaan, penyedia jasa dapat
menggunakan ruang rapat yang ada pada Dinas
Perhubungan Aceh.

14. Peralatan dan : Fasilitas berikut harus disediakan oleh penyedia jasa untuk
Material dari kebutuhan pelaksanaan pekerjaan :
Penyedia Jasa  Kantor yang dibuktikan dengan Rekening/ Token Listrik dan
Konsultansi atau Rekening Telefon lengkap dengan peralatan yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan seperti :
komputer beserta printer, kamera digital, peralatan tulis
dan barang - barang yang habis pakai lainnya.
 Peralatan/Instrumen pengukuran yang memenuhi
standard presisi yang diperlukan dan telah direkomendasi
oleh Direksi Pekerjaan.
 Biaya perjalanan dinas untuk tenaga ahli di lapangan.
 Fasilitas transportasi termasuk kendaraan bermotor roda 4
(empat) yang layak untuk inspeksi lapangan beserta
pengemudinya.

15. Lingkup : Batasan Kegiatan Konsultan Perencana adalah :


Kewenangan Penyedia jasa berwenang untuk melaksanakan jasa
Penyedia Jasa konsultansi maupun mengadakan barang yang sesuai dengan
kontrak.
Penyedia jasa berwenang untuk tidak melakukan kegiatan
yang akan menimbulkan pertentangan kepentingan (conflict of
interest) dengan kegiatan yang merupakan tugas penyedia.
Seluruh hasil yang diperoleh dari pekerjaan perencanaan ini
harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan
dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila
terjadi penyimpangan-penyimpangan dari prosedur tersebut
maka Pengguna Jasa/Tim Evaluasi berhak memerintahkan
Penyedia Jasa Konsultasi untuk melakukan pekerjaan ulang
dan hal ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Penyedia
Jasa Konsultasi.
Sebelum melaksanakan kegiatan, konsultan diharuskan
membuat suatu kriteria perencanaan. Kriteria tersebut
dipresentasikan dalam bentuk draft pada pengguna jasa untuk
mendapatkan persetujuan. Persetujuan atas kriteria desain
tersebut tidak serta merta menghilangkan tanggung jawab
konsultan perencana terhadap kecukupan persyaratan teknis
perencanaan.
Kriteria desain memuat hal-hal berikut :
 Rencana kerja dan rencana data survey;
 Metoda survey dan pengumpulan data yang dilakukan;
 Kriteria-kriteria lainnya yang dianggap perlu.

16. Jangka Waktu : Jangka waktu pelaksanaan tugas konsultan perencanaan


Penyelesaian selama 120 (Seratus dua puluh) hari kalender.
Pekerjaan
17. Personil : Penyedia jasa wajib memahami dan menerapkan Permen LH
Nomor 14/2010 tentang Dokumen Lingkungan Hidup Bagi
Usaha dan/atau Kegiatan yang Telah Memiliki Izin Usaha
dan/atau Kegiatan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan
Hidup, terkait dengan persyaratan penyusun DELH/DPLH yang
bersertifikat kompetensi auditor LH/sertifikat penyusun
AMDAL yang mengikuti pelatihan audit LH.

Jumlah
Posisi Kualifikasi
Orang Bulan

Team Penyusun DELH/DPLH :


1. Ketua Tim Minimal S1 1 Orang 4 Bulan
Pengalaman terkait
pengelolaan
lingkungan hidup
minimal 3 Tahun,
memiliki sertifikat
kompetensi auditor
lingkungan hidup,
atau memiliki
Sertifikat Kompetensi
Ketua Penyusun
AMDAL dan tanda
registrasi yang masih
berlaku, minimal 3
tahun sebagai ketua
Tim penyusun
dokumen AMDAL.

Anggota Team : Minimal S1 Teknik 1 Orang 4 Bulan


1. Anggota I Kimia/ Teknik
Lingkungan, memiliki
sertifikat Kompetensi
Penyusun AMDAL dan
tanda registrasi yang
masih berlaku,
minimal 3 tahun
sebagai anggota Tim
penyusun dokumen
Amdal atau 2 tahun
sebagai ketua tim
penyusun dokumen
Amdal.

2. Anggota II Minimal S1 Ilmu 1 Orang 4 Bulan


Ekonomi, memiliki
sertifikat Kompetensi
Penyusun AMDAL dan
tanda registrasi yang
masih berlaku,
minimal 3 tahun
sebagai anggota Tim
penyusun dokumen
Amdal atau 2 tahun
sebagai ketua tim
penyusun dokumen
Amdal

Tenaga Ahli :
1. Ahli Teknik S1 /S2 Teknik 1 Orang 4 Bulan
Dermaga Sipil/Teknik Kelautan.
Memiliki SKA Ahli
Muda Teknik
pengalaman minimal
S1 = 5 Tahun S2 = 3
Tahun dalam
melaksanakan
pekerjaan terkait.

2. Ahli Teknik S1/S2 Teknik 1 Orang 3 Bulan


Lingkungan Lingkungan. Memiliki
SKA Ahli Muda Teknik
Lingkungan
pengalaman minimal
S1 = 5 Tahun S2 = 3
Tahun dalam
melaksanakan
pekerjaan terkait.

3. Ahli Geodesi S1/S2 Geodesi/ 1 Orang 2 Bulan


Geomatika/Oseanogr
afi memiliki SKA Ahli
Muda Geodesi
Pengalaman minimal
S1 = 5 Tahun S2 = 3
Tahun dalam
melaksanakan
pekerjaan terkait.

4. Ahli S1/S2 Kesehatan 1 Orang 3 Bulan


Kesehatan Masyarakat.
Masyarakat Pengalaman minimal
S1 = 5 Tahun S2 = 3
Tahun dalam
melaksanakan
pekerjaan terkait.
Tenaga Pendukung :

1. Asisten Ahli Minimal pendidikan 1 Orang 4 Bulan


Lingkungan S1 Ekonomi/Teknik
Lingkungan dan
memiliki pengalaman
minimal 3 Tahun
dibidangnya.

2. Suveyor Minimal pendidikan 2 Orang 2 Bulan


SMK/Sederajat dan
memiliki pengalaman
minimal 3 Tahun
dibidangnya dan
memahami lokasi
kegiatan.

3. Tenaga Minimal pendidikan 1 Orang 4 Bulan


Administrasi SMU/Sederajat dan
memiliki pengalaman
minimal 3 Tahun
dibidangnya.

Setiap Tenaga Ahli yang ditugaskan dalam pekerjaan ini harus


memenuhi persyaratan/dan memiliki :
a. Lulusan PT Negeri atau Swasta yang telah Lulus Ujian
Negara, atau perguruan tinggi luar negeri yang ijazahnya
telah disahkan/diakui oleh Instansi Pemerintah yang
berwenang di bidang pendidikan tinggi,
b. Pengalaman kerja personil dibuktikan dengan
melampirkan Referensi Kerja yang dikeluarkan oleh
Instansi terkait.

Penyedia diwajibkan mempunyai sertifikat kompetensi


lembaga penyedia jasa penyusunan Dokumen Lingkungan Dari
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) RI yang masih berlaku.

18. SBU (Sub Bidang : RE 101 ( Jasa Nasehat dan konsuntansi Rekayasa Tekhnik )
Usaha)

19. Pelaporan : 1. Laporan Pendahuluan (Inception Report)


berisi : uraian rencana kerja, metode kerja, Organisasi
Team, Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan (Schedule).
Diskusi dari laporan ini dilakukan secara internal
dengan Tim Teknis dari proyek dan diperoleh satu
kesepakatan mengenai sasaran serta pola kerja yang
akan dituju. Hasil diskusi dituangkan dalam bentuk
satu berita acara dan dijadikan pedoman dalam
penyusunan laporan berikutnya.

Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya : pada


akhir bulan pertama sejak SPMK diterbitkan sebanyak
10 (sepuluh) buku laporan.

2. Laporan Draft Dokumen Lingkungan Hidup


berisi : Hasil survey dan analisa.
Diskusi dari laporan ini dilakukan secara internal dengan
Tim Teknis dari proyek dan diperoleh satu kesepakatan
mengenai penyusunan draft final dokumen lingkungan
Hidup. Hasil diskusi dituangkan dalam bentuk satu
berita acara dan dijadikan pedoman dalam penyusunan
draft final dokumen lingkungan Hidup.
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya : pada
awal bulan ketiga sejak SPMK diterbitkan. Laporan ini
diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan.

3. Dokumen Lingkungan Hidup


Draft final dokumen lingkungan hidup harus dibahas
dalam rapat komisi penilai amdal dalam rangka
memperoleh saran dan masukan untuk disusun menjadi
dokumen lingkungan hidup. Dokumen lingkungan hidup
harus diserahkan selambat-lambatnya : pada akhir
bulan keempat sejak SPMK diterbitkan. Dokumen ini
diserahkan sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan.

4. Seluruh dokumen final format PDF dalam harddisk


eksternal kapasitas 500GB sebanyak satu unit

Hal-Hal Lain

20. Produksi dalam : Semua kegiatan jasa konsultansi berdasarkan KAK ini harus
Negeri dilakukan di dalam wilayah Provinsi Aceh kecuali ditetapkan
lain dalam KAK dengan pertimbangan keterbatasan kompetensi
dalam provinsi Aceh.
21. Persyaratan : Jika kerjasama dengan penyedia jasa konsultansi lain
Kerjasama diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan jasa konsultansi ini
maka persyaratan berikut harus dipatuhi :
• Bagian pekerjaan yang dikerjakan oleh sub penyedia harus
diatur dalam kontrak dan disetujui terlebih dahulu oleh
KPA/PPK.
• Ketentuan-ketentuan dalam kerjasama dengan sub
penyedia harus megacu kepada harga yang tercantum
dalam kontrak serta menganut sistem penyetaraan.
• Penyedia tetap bertanggungjawab atas bagian pekerjaan
yang dikerjakan oleh sub penyedia.

22. Pedoman : Pengumpulan data lapangan harus memenuhi persyaratan


Pengumpulan berikut: Mengacu pada SNI dan Peraturan Menteri Lingkungan
Data Lapangan Hidup dan Kehutanan, dan Standar lainnya yang berlaku.

23. Alih : Jika diperlukan, Penyedia Jasa Konsultansi berkewajiban untuk


Pengetahuan menyelenggarakan pertemuan dan pembahasan dalam rangka
alih pengetahuan kepada personil satuan Kuasa Pengguna
Anggaran berikut : penyedia jasa harus mengadakan pelatihan,
kursus singkat, diskusi dan seminar terkait dengan substansi
pelaksanaan pekerjaan yang akan diberikan kepada staf Kuasa
Pengguna Anggaran

24. Kesehatan dan : • Dalam pelaksanaan kegiatan jasa konsultansi, penyedia jasa
Keselamatan wajib menerapkan sistem manajemen K3
Kerja • Keluaran yang dihasilkan dalam kegiatan jasa konsultansi
harus mencakup aspek-aspek K3

25. Penutup : Konsultan Perencana setelah manerima pengarahan penugasan


dan semua bahan masukan, hendaknya memeriksa dan
memproses semua bahan yang ada serta mencari bahan
masukan lain yang dibutuhkan untuk pekerjaan perencanaan
ini.
Untuk kesempurnaan pekerjaan perencanaan tersebut di atas
Konsultan Perencana diminta mempelajari segala informasi dan
ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pekerjaan
perencanaan dimaksud.

Banda Aceh, Februari 2019

KUASA PENGGUNA ANGGARAN


BIDANG PENGEMBANGAN SISTEM DAN
MULTIMODA

Drs.DEDDY LESMANA
Penata TK.I (III/d)
NIP.19751126 200003 1 001