Anda di halaman 1dari 26

AKUNTANSI MUDHARABAH

A. Definisi dan Penggunaan


Mudharabah berasal dari kata adh-dharbu fil ardhi, yaitu berjalan di
muka bumi. Dan berjalan di muka bumi ini pada umumnya dilakukan dalam
rangka menjalankan suatu usaha, atau berdagang. Disebut juga qiradh yang
berasal dari kata al-qardhu yang berarti potongan, karena pemilik memotong
sebagain hartanya untuk diperdagangkan dan memperolah sebagian
keuntungan. Kadang-kadang juga dinamakan dengan muqaradhah yang berarti
sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan laba karena si pemilik modal
memberikan modalnya sementara pengusaha meniagakannya dan keduanya
sama-sama berbagi keuntunga.
Sedangkan secara istilah, mudharabah adalah akad penyerahan modal
oleh pemilik modal kepada pengelola untuk diperdagangkan dan keuntungan
dimiliki bersama antara keduanya sesuai dengan persyaratan yang mereka
buat. Adapun sacara teknis, Antonio (2001) mendefinisikan mudharabah
sebagai akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana salah satu pihak
menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi
pengelola.
Kemudian berdasarkan PSAK 105 mudharabah adalah akad kerjasama
usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (pemilik dana) menyediakan
seluruh dana, sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku
pengelola, dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan
sedangkan kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.
Dalam mudharabah unsur terpenting adalah kepercayaan, yaitu
kepercayaan dari pemilik dana kepada pengelola dana. Kepercayaan itu
penting karena dalam akad mudharabah, pemilik dana tidak boleh ikut campur
di dalam manajemen perusahaan atau proyek yang dibiayai dengan dana
pemilik dana tersebut. Kecuali sebatas memberikan saran dan melakukan
pengawasan pada pengelola dana. Sedangkan apabila usaha tersebut
mengalami kerugian yang mengakibatkan sebagian atau mungkin seluruh
modal yang ditanam oleh pemilik dana itu habis maka yang menanggung
kerugian adalah pemilik dana. Namun jika kerugian terjadi karena kelalaian
pengelola, maka pengelola harus menanggung sendiri.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa
mudharabah adalah akad kerja sama antara pemilik dana dan pengelola dana
dalam mendirikan usaha tertentu untuk saling menguntungkan. Di mana
besarnya proporsi bagi hasil berdasarkan kesepakatan bersama.

B. Jenis- Jenis Mudharabah


1. Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah muqayyadah yaitu mudharabah yang pemilik dananya
memberikan batasan kepada pengelola dana mengenai lokasi, cara, dan
atau objek investasi atau sektor usaha. Dalam PSAK 105 par. 7 tantang
mudharabah, batasan tersebut bisa berupa:
a. Tidak mencampurkan dana yang dimiliki oleh pemilik dana dengan
dana lainnya;
b. Tidak menginvestasikan dananya pada teransaksi penjualan cicilan
tanpa penjamin atau jaminan;

Apabila pengelola dana bertindak bertentangan dengan syarat-syarat


yang diberikan oleh pemilik dana, maka pengelola dana harus bertanggung
jawab atas konsekuensi yang ditimbulkannya, termasuk konsekuensi
keuangan.
Dalam praktik perbankan mudharabah Muqqayadah terdiri atas dua
jenis yaitu Mudharabah Muqqayadah Executing dan Mudharabah
Muqqayadah Channeling. Pada Mudharabah Muqqayadah executing, bank
syariah sebagai pengelola menerima dana dan dari pemilik dana dengan
pembatasan dalam hal tempat, cara, dan atau objek investasi. Akan tetapi,
bank syariah memiliki kebebasan dalam melakukan seleksi terhadap calon
mudharib yang layak meneglola dana tersebut. Sementara itu, pada
Mudharabah Muqqayadah Channeling, bank syariah tidak memiliki
kewenangan dalam menyeleksi calon mudharib yang akan mengelola dana
tersebut.

2. Mudharabah Muthlaqah
Mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara pemilik dana
dan pengelola tanpa adanya pembatasan oleh pemilik dana dalam hal
tempat, cara, maupun objek investasi. Dalam hal ini, pemilik dana memberi
kewenangan yang sangat luas kepada mudharib untuk menggunakan dana
yang diinvestasikan. Dalam perbankan syariah kontrak mudharabah
muthlaqah digunakan untuk tabungan maupun pembiayaan. Pada tabungan
mudharabah, penabung berperan sebagai pemilik dana, sedang bank sebagai
pengelola yang mengkontribusikan keahliannya dalam mengelola dana
penabung. Sedangkan pada investasi mudharabah, bank berperan sebagai
pemilik dana yang menginvestasikan dana yang ada padanya kepada pihak
lain yang memerlukan dana untuk keperluan usahanya. Mudharabah
mutlaqah biasa juga disebut dengan mudharabah mutlak atau mudharabah
tidak terikat.

3. Mudharabah Musytarakah
Mudharabah musytarakah adalah bentuk mudharabah di mana
pengelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama
investasi. Di awal kerja sama, akad yang disepakati adalah akad
mudharabah dengan 100% modal dari pemilik dana, setelah berjalannya
operasi usaha dengan pertimbangan tertentu dan kesepakatan dengan
pemilik dana, pengelola ikut menambahkan modalnya dalam usaha tersebut.
Kemudian akadnya disebut mudharabah musytarakah, yaitu perpaduan
antara akad mudharabah dan musyarakah.
Ketentuan bagi hasil untuk akad ini berdasarkan PSAK 105 dapat
dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu:
a. Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai mudharib) dan
pemilik dana sesuai dengan nisbah yang disepakati, selanjutnya bagian
hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana (sebagai
mudharib) tersebut dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik)
dengan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing; atau
b. Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai musytarik) dan
pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-masing, selanjutnya
bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana (sebagai
musytarik) tersebut dibagi antara pengelola dana (sebagai mudharib)
dengan pemilik dana sesuai dengan nisbah yang disepakati.

C. Rukun Mudharabah
Faktor-faktor yang harus ada (rukun) dalam akad mudharabah adalah:
 Transaktor (pemilik modal dan pelaksana usaha.
 Objek mudharabah (modal dan kerja)
 Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul)

Ketentuan dari rukun mudharabah yaitu sebagai berikut:


1. Transaktor
Dalam akad mudharabah, harus ada minimal dua pelaku. Pihak pertama
bertindak sebagai pemilik modal, dan pihak kedua bertindak sebagai
pelaksana usaha. Sedangkan untuk ketentuan syariahnya yaitu:
a. Pelaku harus cakap hukum dan baligh.
b. Dapat dilakukan sesama atau dengan non muslim.
c. Pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan usaha tetapi ia
boleh mengawasi.
2. Objek mudharabah (modal dan kerja)
Objek mudharabah merupakan konsekuensi logis dari tindakan yang
dilakukan oleh pelaku. Pemilik modal menyerahkan modalnya sebagai
objek mudharabah, sedangkan pelaksana usaha menyerahkan kerjanya
sebagai objek mudharabah. Modal yang diserahkan bisa berbentuk uang
atau barang yang dirinci berapa nilai uangnya. Sedangkan kerja yang
diserahkan bisa berbentuk keahlian, keterampilan, management skill, dan
lain-lain. Menurut Fatawan DSN No. 7 Tahun 2000, bahwa kegiatan usaha
harus memperhatikan:
a. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib, tanpa campur tangan
penyedia dana, tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.
b. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola
sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan
mudharabah, yaitu keuntungan.
c. Pengelola tidak boleh menyalahi hukum syariah Islam dalam
tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah dan harus
mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktivitas itu.
3. Ijab kabul
Ijab kabul atau persetujuan kedua belah pihak dalam mudharabah yang
merupakan wujud dari prinsip sama-sama rela (an-taraddim minkum). Di
sini kedua belah pihak harus secara rela bersepakat untuk megikatkan diri
dalam akad mudharabah. Si pemilik dana setuju dengan perannya untuk
mengkontribusikan dana, sementara si pelaksana usaha pun setuju dengan
perannya untuk mengkontribusikan kerja. Adapun hal spesifik dalam akad
mudharabah antara lain kesepakatan tentang dasar bagi hasil (revenue
sharing atau profit sharing), besar nisbah bagi hasil, pernyataan bank
sebagai shahibul mal untuk menanggung kerugian kecuali yang disebabkan
oleh kelalaian mudharib, pernyataan hak bank untuk memasuki tempat
usaha dan tempat lainnya untuk mengadakan pengawasan terhadap
pembukuan, catatan- catatan, transaksi mudharib yang berhubungan dengan
pembiayaan mudharabah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Nisbah ini mencerminkan imbalan yang berhak diterima oleh kedua belah
pihak yang berakad.
4. Pengawasan Syariah Transaksi Mudharabah
Pengawasan tersebut berdasarkan pedoman ditetapkan oleh Bank
Indonesia dilakukan untuk hal-hal sebagai berikut :
a. Meneliti apakah pemberian informasi secara lengkap telah disampaikan
oleh bank kepada nasabah, baik secara tertulis maupun lisan tentang
persyaratan investasi mudharabah telah dilakukan.
b. Menguji apakah perhitungan bagi hasil telah dilakukan sesuai prinsip
syariah.
c. Memastikan adanya persetujuan para pihak dalam perjanjian investasi
mudharabah.
d. Memastikan terpenuhinya rukun dan syarat mudharabah.
e. Memastikan bahwa kegiatan investasi yang dibiayai tidak termasuk
jenis kegiatan usaha yang bertentangan dengan syariah.

D. Alur Transaksi Mudharabah


Pertama, dimulai dari permohonan pembiayaan oleh nasabah dengan
mengisi formulir permohonan pembiayaan.
Kedua, bank mengontribusikan modalnya dan nasabah mulai
mengelola usaha yang disepakati berdasarakan kesepakatan dan kemampuan
terbaik.
Ketiga, hasil usaha dievaluasi pada waktu yang ditentukan berdasarkan
kesepakatan.
Keempat, bank dan nasabah menerima porsi bagi hasil masing-masing
berdasarkan metode perhitungan yang telah disepakati.
Kelima, bank menerima pengembalian modalnya dari nasabah.

E. Karakteristik Akuntansi Mudharabah


Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara Shahibul maal (pemilik
dana) dan Mudharib (pengelolah dana) dengan nisbah bagi hasil menurut
kesepakatan dimuka, jika usaha mengalami kerugian maka seluruh kerugian
ditanggung oleh pemilik dana, kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau
kesalahan oleh pengelola dana, seperti penyelewengan, kecurangan, dan
penyalahgunaan dana.
Dalam pelaksanaanya mudharabah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
mudharabah muthlaqah (investasi tidak terikat) dan mudharabah maqayyadah
(investasi terikat). Mudharabah muthlaqah adalah akad mudharabah dimana
pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan
investasi, sedangkan mudharabah maqayyadah adalah akad mudharabah dimana
pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana mengenai tempat,
cara, dan objek investasi.
Dalam operasional mudharabah, entitas syariah dapat bertindak sebagai
pemilik dana maupun pengelola dana. Apabila bank bertindak sebagai pemilik
dana maka dana yang disalurkan disebut investasi mudharabah. Apabila entitas
syariah sebagai pengelola dana maka :
a. Dalam akad mudharabah maqayyadah, dana yang diterima disajikan dalam
laporan perubahan investasi terikat sebagai investasi terikat dari nasabah.
b.Dalam akad mudharabah muthlaqah, dana yang di terima disajikan dalam
neraca sebagai dana syirka temporer. Menganai pengembalian pembiayaan
mudharabah dapat dilakukan bersamaan dengan distribusi bagi hasil atau pada
saat diakhirinya akad mudharabah.
c. Jika dari pengelolaan dana mudharabah menghasilkan keuntungan, maka porsi
jumlah bagi hasil untuk pemilik dana dan pengelola dana ditentukan
berdasarkan nisbah yang disepakati dari hasil usaha yang diperoleh selama
periode akad. Jika dari pengelolaan dana mudharabah menimbulkan kerugian,
maka kerugian finansial menjadi tanggungan pemilik dana. (Paragraph 5-10,
PSAK 105, 2007)

F. Prinsip Pembagian Hasil Usaha


Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan prinsip
bagi hasil atau bagi laba. Jika berdasarkan prinsip bagi hasil, maka dasar
pembagian hasil usaha adalah laba bruto (gross profit) bukan total pendapatan
usaha (omset). Sedangkan jika berdasarkan prinsip bagi laba, dasar pembagian
adalah laba neto (net profit) yaitu laba bruto dikurangi beban yang berkaitan
dengan pengelolaan dana mudharabah.
Contoh :
Uraian Jumlah Metode Bagi Hasil
Penjualan 100
Harga Pokok 65
Penjualan
Laba Kotor 35 Gross Profit Margin
Beban 25
Laba (Rugi) Bersih 10 Net Profit Sharing
(Paragraph 11, PSAK 105, 2007)
Dalam PSAK ini, Revenue Sharing (Omset penjualan atau pendapatan)
tidak diperkenankan sebagai dasar bagi hasil, dengan alasan bahwa dalam
penjualan mengandung unsur modal pokok atas barang yang dijual oleh entitas.
Dengan demikian, dasar bagi hasil yang diperkenankan adalah laba kotor atau
laba bersih (gross profit atau net profit sharing. Apabila entitas pengelola dana
mudharabah memperoleh keuntungan, maka keuntungan dibagi hasilkan antara
pemilik dana mudharabah dan pengelola dana mudharabah, sedangkan bila
pengelola dana mudharabah menderita rugi normal, bukan kelalaian pengelola,
maka kerugian menjadi tanggungan pemilik dana (shahibul maal). Keuntungan
yang dibagi didasarkan pada nisbah yang telah disepakati pada awal akad
disepakati kedua pihak, misal 40:60, yaitu 40% untuk pengelola dana
mudharabah dan 60% untuk pemilik dana mudharabah.

Berdasarkan contoh diatas, bila kita menggunakan gross profit sharing sebagai
dasar bagi hasil dan nisbah bagi hasil adalah 40:60, yaitu 40% untuk pengelola
dana mudharabah dan 60% untuk pemilik dana mudharabah, maka bagian bagi
hasil untuk :
Pengelola Dana = 40% × Rp. 35,- =Rp. 14,-

Pemilik Dana = 60% × Rp. 35,- =Rp. 21,-


G. Akuntansi untuk Pemilik Dana (Shahibul Maal)
1. Pengakuan dan Pengukuran Investasi Mudharabah
PSAK No. 105 (2007) mengatur pengakuan pembiayaan mudharabah
sebagai berikut:
a. Dana mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana diakui sebagai
investasi mudharabah pada saat pembayaran kas atau penyerahan aset
nonkas kepada pengelola dana.
b. Pengukuran investasi mudharabah diatur sebagai berikut:
1) Investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah
yang dibayarkan;
2) Investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar
nilai wajar aset nonkas pada saat penyerahan:
a) Jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya diakui,
maka selisihnya diakui sebagai keuntungan tangguhan dan
diamortisasi sesuai jangka waktu akad mudharabah;
b) Jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya, maka
selisihnya diakui sebagai kerugian. (Paragraf 12 dan 13,
PSAK 105, 2007).

Atas dasar pengaturan di atas, maka pemilik dana akan membuat jurnal
untuk mencatat transaksi mudharabah sebagai berikut:
 Pembiayaan mudharabah dalam bentuk kas diukur sejumlah uang yang
diberikan. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
Tanggal Investasi mudharabah Rp100.000.000,00 -
Kas - Rp100.000.000,00

Misalnya, tanggal 1 Maret 2011, bank syariah (pemilik dana)


memberikan pembiayaan mudharabah kepada nasabah Tn. Ali dengan
menyerahkan mesin. Nilai buku mesin tersebut adalah Rp.
300.000.000,00 dan menurut penilaian, nialai wajar mesin tersebut
adalah Rp. 280.000.000,00 maka dalam hal ini bank syariah akan
mencatat pada saat akad 1 Maret 2011 sebagai berikut:
1 Maret Investasi mudharabah Rp 280.000.000,00 -
Kerugian penurunan nilai Rp 20.000.000,00 -
Mesin - Rp 300.000.000,00

Bila nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya diakui, maka
selisihnya diakui sebagai keuntungan tangguhan dan diamortisasi
sesuai jangka waktu akad mudharabah. Berdasarkan cintoh di atas,
misalnya, menurut penilaian, nilai wajar mesin tersebut adalah Rp.
320.000.000,00 maka selisih Rp. 20.000.000,00 diakui sebagai
‘keuntungan tangguhan’ yang akan diamortisasi selama masa akad
mudharabah. Untuk contoh ini, pemilik dana akan membuat jurnal
untuk mencatat transaksi tersebut, sebagai berikut:
1 Maret Investasi mudharabah Rp 320.000.000,00 -
Keuntungan tangguhan
mudharabah - Rp 20.000.000,00
Mesin - Rp 300.000.000,00

Apabila akad mudharabah diumpamakan selama 20 bulan, maka


amortisasi ‘keuntungan tangguhan’ per bulan adalah Rp. 1.000.000,-
(Rp. 20.000.000,00 : 20), dan jurnal yang dibuat untuk mengamortisasi
‘keuntungan tangguhan’ per bulan adalah sebagai berikut:
Setiap Keuntungan tangguhan
Bulan mudharabah Rp 1.000.000,00 -
Keuntungan selisih nilai mesin - Rp 1.000.000,00

2. Investasi mudharabah turun nilai atau hilang


a. Jika nilai investasi mudharabah turun sebelum usaha dimulai
disebabkan rusak, hilang atau faktor lain yang bukan kelalaian atau
kesalahan pihak pengelola dana, maka penurunan nilai tersebut diakui
sebagai kerugian dan mengurangi saldo investasi mudharabah.
(Paragraf 14, PSAK 105, 2007).
Untuk kondisi ini, maka pemilik dana harus membuat jurnal untuk
mengakui terjadinya kerugian karena terjadinya penurunan nilai
investasi mudharabah, sebagai berikut:
Tanggal Kerugian Investasi Mudharabah Rp xxx -
Investasi Mudharabah - Rp xxx

b. Jika sebagian investasi mudharabah hilang setelah dimulainya usaha


tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pengelola dana, maka kerugian
tersebut diperhitungkan pada saat bagi hasil. (Paragraf 15, PSAK 105,
2007).
Umpamakan, pada 2011 pemilik dana memperoleh bagi hasil
Rp.30.000.000,- dan pada 2011 terjadi kehilangan modal mudharabah
di pengelola dana sebesar Rp.5.000.000,-, maka modal mudharabah
yang hilang diperhitungkan sebagai pengurang bagi hasil yang akan
diterimanya. Bila tidak ada dana mudharabahyang hilang, pemilik dana
mudharabah akan menerima bagi hasil sebesar Rp.30.000.000,-, karena
pada 2011 terjadi kehilangan dana yang bukan kelalaian pengelola
dana, maka bagi hasil yang akan diterima berkurang dengan
Rp.5.000.000,-. Untuk kasus ini, jurnal yang akan dibuat oleh pemilik
dana adalah sebagai berikut:
Des Piutang Bagi Hasil Investasi
31 Mudharabah Rp 25.000.000,- -
Kerugian Penurunan Nilai
Investasi Mudharabah Rp 5.000.000,- -
Pendapatan Bagi Hasil
Mudharabah - Rp 30.000.000,-

c. Dalam investasi mudharabah yang diberikan dalam aset nonkas dan


aset nonkas tersebut mengalami penurunan nilai pada saat atau setelah
barang dipergunakan secara efektif dalam kegiatan usaha
mudharabah, maka kerugian tersebut tidak langsung mengurangi
jumlah investasi, namun diperhitungkan pada saat pembagian bagi
hasil. (Paragraf 17, PSAK 105, 2007).
Dalam hal ini, jurnal yang dibuat oleh pemilik dana mudharabah akan
seperti pada kasus point 4) di atas, yaitu sebagai berikut: (contoh pada
point 4) dan bila penurunan nilai aset nonkas adalah Rp.5000.000,-)
Des Piutang Bagi Hasil Investasi
31 Mudharabah Rp 25.000.000,- -
Kerugian Penurunan Nilai
Investasi Mudharabah Rp 5.000.000,- -
Pendapatan Bagi Hasil
Mudharabah - Rp 30.000.000,-

Jenis kelalaian apakah yang dimaksud dalam PSAK ini yang akan
dilakukan pengelola dana sehingga akan menentukan siapa yang
bertanggung jawab terhadap hilang atau berkurangnya investasi
mudharabah bagi pemilik dana. Kelalaian atas kesalahan pengelola
dana ada 3 jenis yang dijelaskan dalam PSAK 105 ini, yaitu ditunjukkan
oleh:
1) Persyaratan yang ditentukan di dalam akad tidak terpenuhi;
2) Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang
lazim dan/atau yang telah ditentukan dalam akad, atau
3) Hasil keputusan dari institusi yang berwenang. (Paragraf 18,
PSAK 105, 2007).
3. Investasi mudharabah berakhir
Jika akad mudharabah berakhir sebelum atau saat akad jatuh tempo dan
belum dibayar oleh pengelola dana, maka investasi mudharabah diakui
sebagai piutang. (Paragraf 19, PSAK 105, 2007). Untuk ketentuan ini,
pemilik dana mudharabah akan membuat jurnal untuk mengakui piutang
sebagai pengganti investasi mudharabah sebagai berikut:
Piutang Jatuh Tempo – Pengelola Dana Rp xxx -
Mudharabah - Rp xxx
Investasi Mudharabah
Pada saat pemilik dana mudharabah menerima pembayaran dari pengelola
dana mudharabah, maka jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:
Kas Rp xxx -
Piutang Jatuh Tempo – Pengelola Dana
Mudharabah - Rp xxx

Dengan jurnal pembayaran piutang dari pengelola dana mudharabah, maka


saldo piutang kepada pengelola dana menjadi bersaldo nol atau sudah habis.

4. Penghasilan Usaha Mudharabah


Investasi mudharabah yang dilakukan oleh pemilik dana akan dapat
menghasilkan keuntungan atau bisa juga menanggung kerugian karena
kerugian yang diderita pengelola dana mudharabah tidak melakukan
kelalaian pengelolaan. Atas hasil dan kerugian ini PSAk 105 (2007) telah
mengatur perlakuan akuntansinya berikut ini.
a. Jika investasi mudharabah melebihi satu periode pelaporan,
penghasilan usaha diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil
sesuai nisbah yang disepakati. (Paragraf 20, PSAK 105, 2007).
Atas ketentuan ini, pemilik dana mudharabah akan mengakui bagi hasil
tersebut dengan membuat jurnal sebagai berikut:
Piutang Bagi Hasil Investasi Mudharabah Rp xxx -
Pendapatan Bagi Hasil Investasi Mudharabah - Rp xxx

Kemudian, pada saat menerima pembayaran bagi hasil dari pengelola


dana mudharabah, pemilik dana mudharabah akan membuat jurnal
berikut ini:
Kas Rp xxx -
Piutang Bagi Hasil Investasi Mudharabah - Rp xxx

b. Kerugian yang terjadi dalam suatu periode sebelum akad mudharabah


berakhir diakui sebagai kerugian dan dibentuk penyisihan kerugian
investasi. Pada saat akad mudharabah berakhir, selisih antara:
1) Investasi mudharabah setelah dikurangi penyisihan kerugian
investasi; dan
2) Pengmbalian investasi mudharabah; diakui keuntungan atau
kerugian. (Paragraf 21, PSAK 105, 2007)

Atas ketentuan ini, jurnal yang pemilik dana mudharabah adalah sebagai
berikut:
 Pembentuka penyisihan kerugian investasi:
Kerugian Investasi Mudharabah Rp xxx -
Penyisihan Kerugian Investasi Mudharabah - Rp xxx

Kerugian investasi mudharabah akan dilaporkan di laporan Laba Rugi


sebagai beban usaha, sedangkan Penyisihan Kerugian Investasi
Mudharabah akan dilaporkan di neraca pemilik dana mudharabah
sebagai pengurang Investasi Mudharabah. Berikut contoh penyajian
neraca pemilik dana.
Bank Syariah ABC
Neraca
Per 31 Desember 2011 (misal)
---
Investasi Mudharabah Rp 300 juta,--
Penyisihan Kerugian Investasi Mudharabah Rp 15 juta (-)
Investasi Mudharabah Bersih Rp 285 juta
---

Penyisihan kerugian investasi mudharabah diumpamakan 5% dari


Investasi Mudharabah, sehingga besarnya penyisihan = 5% X Rp 300
juta,- = Rp 15 juta,-
Jurnal penyesuaian yang dibuat adalah:
Des 31 Kerugian Investasi Mudharabah Rp 15 juta,- -
Penyisihan Kerugian Investasi
Mudharabah - Rp 15 juta,-
Contoh lain pembentukan Penyisihan Kerugian Investasi
Mudharabah
Penyisihan kerugian investasi mudharabah dan piutang yang timbul
dari transaksi mudharabah dibentuk sebesar estimasi kerugian investasi
mudharabah dan piutang yang tidak dapat ditagih.
Misal, entitas syariah (bank syariah) mempunyai saldo per 31
Desember 2011sebagai berikut:
 Investasi Mudharabah Rp.100.000.000,-
 Piutang jatuh tempo Rp.50.000.000,-
Bank syariah mengestimasikan kerugian pembiayaan dan piutang yang
tidak tertagih = 5%
Maka, jumlah penyisihan kerugian adalah:
 Pembiayaan mudharabah = 5% x Rp.100.000.000,-
= Rp.5.000.000,-
 Piutang jatuh tempo 5% x Rp.50.000.000,-
= Rp.2.500.000,-
Total = Rp.7.500.000,-

Untuk itu, bank syariah akan membuat ayat jurnal penyesuaian per
31 Desember sebagai berikut:
Des Kerugian Investasi Mudharabah Rp.5.000.000,- -
31 Kerugian piutang jatuh tempo Rp.2.500.000,- -
Penyisihan Kerugian Investasi
Mudharabah - Rp.5.000.000,-
Penyisihan Kerugian Piutang Jatuh
Tempo - Rp.2.500.000,-

Kerugian investasi dan kerugian piutang akan dilaporkan dilaporan


laba/rugi, sedangkan penyisihan kerugian investasi mudharabah dan
penyisihan kerugian piutang jatuh tempo dilaporkan di neraca sebgai
pengurang rekening investasi mudharabah dan piutang jatuh tempo.
5. Pembayaran Kembali Pembiayaan
Seperti dijelaskan pada sub bahasan sebelumnya, bahwa pada saat akad
mudharabah berakhir, selisih antara:
a. Investasi mudharabah setelah dikurangi penyisihan kerugian investasi;
dan
b. Pengembalian investasi mudharabah; diakui sebagai keuntungan atau
kerugian.

Diumpamakan, pengelola dana mengembalikan investasi mudharabah ke


pemilik dana sebesar Rp.290 juta,-, investasi mudharabah Rp.300 juta,- dan
penyisihan kerugian investasi mudharabah Rp.15 juta,-, maka selisih antara
kas yang diterima Rp.290 juta,- dengan investasi mudharabah bersih Rp.285
juta,- = Rp.5 juta,- akan diakui sebagai ‘keuntungan investasi mudharabah’.
Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
Kas Rp.290 juta,- -
Penyisihan Kerugian Investasi
Mudharabah Rp. 15 juta,- -
Investasi Mudharabah - Rp.300 juta,-
Keuntungan Investasi Mudharabah - Rp. 5 juta,-

Dengan pembayaran kembali atas pembiayaan oleh pengelola dana maka


jumlah investasi mudharabah pada pemilik dana akan berkurang dan di
neraca akan dilaporkan sejumlah sisa setelah pembayaran kembali. Dalam
contoh kasus di atas, saldo Investasi Mudharabah menjadi habis atau saldo
nol.
Bila kas yang diterima dari pengelola dana adalah Rp.280 juta,-, maka
selisih antara kas yang diterima dan investasi mudharabah bersih adalah
Rp.5 juta,- diakui sebagai kerugian investasi mudharabah. Berikut ini jurnal
yang dibuat oleh pemilik dana:
Kas Rp.280 juta,- -
Penyisihan Kerugian Investasi
Mudharabah Rp. 15 juta,- -
Kerugian Investasi Mudharabah Rp. 5 juta,- -
Investasi Mudharabah - Rp.300 juta,-

6. Pengakuan Keuntungan atau Kerugian Mudharabah


PSAK No. 105 (2007) telah mengatur pengakuan keuntungan atau kerugian
mudharabah dan metode distribusi bagi hasil. Distribusi bagi hasil
mudharabah dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu gross
profit sharing atau net profit sharing. Dalam gross profit sharing, bagi hasil
dihitung dari pendapatan setelah dikurangi Harga Pokok Penjualan,
sedangkan dalam net profit sharing, bagi hasil dihitung dari gross profit
dikurangi dengan beban yang berkaitan langsung dengan pengelolaan dana
mudharabah.
Apabila pembiayaan melewati satu periode pelaporan
a. Keuntungan investasi mudharabah diakui pada saat terjadinya hak bagi
hasil sesuai dengan nisbah yang disepakati, dan
b. Kerugian yang terjadi diakui pada periode terjadinya kerugian tersebut
dan mengurangi investasi mudharabah.
Contoh berikut ini perhitungan laba/rugi pengelola dana mudharabah tahun
2011:
Penjualan Rp. 1.000.000,00
Harga pokok penjualan Rp. 600.000,00
Laba kotor Rp. 400.000,00
Biaya-biaya Rp. 300.000,00
Laba (rugi) bersih Rp. 100.000,00

Metode bagi hasil


a. Bila gross profit sharing, dengan nisbah bank syariah (pemilik dana) :
pengelola dana = 20 : 80 maka bagi hasil untuk:
Bank syariah : 20% x Rp.400.000,00 = Rp. 80.000,00
Pengelola : 80% x Rp.400.000,00 = Rp.320.000,00
b. Bila metode net profit sharing, nisbah bank syariah : pengelola = 80 :
20 maka bagi hasilnya:
Bank syariah : 80% x Rp.100.000,00 = Rp.80.000,00
Pengelola : 20% x Rp.100.000,00 = Rp.20.000,00

Bagian hasil usaha yang belum dibayar oleh pengelola dana diakui sebagai
piutang. (Paragraf 24, PSAK 105, 2007).
Untuk bagi hasil di atas yang belum dibayar oleh pengelola dana, bank
syariah (pemilik dana) akan membuat pencatatan sebagai berikut:
31 Des Piutang pendapatan bagi hasil Rp.80.000,00 -
2011 Pendapatan bagi hasil mudharabah - Rp.80.000,00

Piutang akan dilaporkan di neraca, sedangkan pendapatan bagi hasil


akan dilaporkan di laporan laba rugi sebagai unsur pendapatan operasional.
Pada saat pengelola dana membayar bagi hasil ke bank syariah maka bank
syariah akan mencatat sebagai berikut:
Tanggal Kas Rp.80.000,00 -
Piutang pendapatan bagi hasil
mudharabah - Rp.80.000,00

Apabila pengelola dana mengalami kerugian, misalkan Rp.10.000,00


maka kerugian ditanggung oleh bank syariah (pemilik dana), yang akan
mengurangi investasi mudharabah. Bank syariah (pemilik dana) akan
mengakui kerugian sebagai berikut:
31 Des Kerugian investasi mudharabah Rp.10.000,00 -
Investasi mudharabah - Rp.10.000,00

Kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pengelola dana dibebankan pada


pengelola dana dan tidak mengurangi investasi mudharabah. (Paragraf 23,
PSAK 105, 2007). Dengan demikian, investasi mudharabah tidak akan
dikurangi kerugian yang disebabkan oleh kelalaian pengelola dana dan yang
menanggung kerugian adalah pengelola dana sendiri.
H. Akuntansi untuk Pengelola Dana (Bank Syariah atau entitas lain Sebagai
Mudharib)

Sebagai mudharib maka entitas menerima dana dari shahibul maal


(pemilik dana) untuk dikelola dalam bentuk investasi terikat atau investasi
tidak terikat.
Dalam hal entitas sebagai mudharib, PSAK No. 105 (2007) mengaturnya
sebagai berikut ini.

1. Perlakuan Akuntansi Dana yang Diterima Pengelola Dana


Mudharabah (Mudharib)
Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad mudharabah diakui
sebagai dana syirkah temporer sebesar jumlah kas atau nilai wajar aset
nonkas yang tercatatnya. (Paragraf 25, PSAK 105, 2007)
Atas ketentuan ini, jurnal yang dibuat oleh pengelola dana pada saat
menerima dana mudharabah adalah sebagai berikut:
Tanggal Kas Rp xxx -
Dana syirkah temporer - Rp xxx

Jika pengelola dana menyalurkan dana syirk temporer yang diterima maka
pengelola dana mengakui sebagai asset sesuai ketentuan pada paragraf 12-
13. (paragraf 25, PSAK 105, 2007). Dalam hal ini berlaku akuntansi untuk
pengelola dana mudharabah sebagai investasi mudharabah.

Berikut ini contoh aplikasi akuntansi untuk pengelola dana


mudharabah pada bank syariah.
Dana mudharabah yang diterima oleh pengelola dana diakui sebagai dana
syirkah temporer pada saat terjadinya sebesar jumlah yang diterima. Pada
akhir periode akuntansi, Dana syirkah temporer diukur sebesar nilai
tercatat.

Misal, bank syariah menerima dana mudharabah sebagai berikut:


10 Juni 2011: nasabah Tuan Ali menyetor dana sebagai tabungan
mudharabah sebesar Rp100.000.000,00
10 Agustus: nasabah mengambil Rp20.000.000 dana yang ditabungan di
bank syariah.
Atas transaksi ini, bank syariah akan mencatat sebagai beikut:
Penerimaan tabungan mudharabah Rp 100 juta, dari tuan Ali:
10 Kas Rp -
juni Dana syirkah 100.000.000,00 Rp
2011 temporer - 100.000.000,00

Pencatatan atas pengambilan Tabungan mudharabah Tn.Ali Rp 20 juta.


10 Dana syirkah Rp -
Agust temporer 20.000.000,00 Rp
2011 Kas - 20.000.000,00

Setelah tanggal 10 Agustus 2011 saldo Dana syirkah temporer adalah


80.000.000,00 Apabila sampai dengan 31 Desember 2011 tidak ada
penambahan atau pengurangan maka di neraca dana syirkah temporer akan
dicatat sebesar nilai tercatat tersebut sebesar Rp80.000.000,00.-
Bagi hasil Dana syirkah temporer dialokasikan kepada bank dan pemilik
dana sesuai dengan nisbah yang disepakati.
Misal, bank syariah mendapatkan perndapatan operasional tahun 2011
Rp100.000.000,00.-
Dana yang dihimpun:
 Dana syirkah temporer, tabungan mudharabah Rp200.000.000,00
 Dana syirkah temporer milik Tn.Ali Rp80.000.000,00
 Deposito mudharabah Rp800.000.000,00
 Nisbah bagi hasil = 40 : 60 (bank syariah: nasabah)

Bagi hasil untuk Tuan Ali dapat dihitung sebagai berikut (pemilik dana):

Bagi hasil untuk porsi tabungan mudharabah = (Rp 200 juta / Rp 1 miliar)
x Rp 100 juta,- = Rp 20 juta,-. Bagian nasabah adalah 60% = x Rp 20 juta,-
= Rp 12 juta,- sedangkan bagian bank syariahn (pengelola dana) = 40% x
Rp 20 juta,- = Rp 8juta,-.

Bagi hasil untuk Tn.Ali adalah =

80.000.000
= 𝑥 𝑅𝑝. 12.000.000
200.000.000

40
= 𝑥 Rp. 12.000.000 = Rp. 4.800.000
100

Bagi hasil Tn.Ali didalam %

Rp. 4.800.000
= 𝑥 100% = 6,00%
Rp. 80.000.000

Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer yang sudah
diperhitungkan tetapi belum dibagikan kepada pemilik dana diakui
sebagai kewajiban sebesar bagi hasil yang menjadi porsi hak pemilik
dana. Kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan atau kelalaian pengelola
dana diakui sebagai beban dana. (Paragraf 29-30, PSAK 105,2007)

Atas bagi hasil ini bank syariah (pengelola dana) akan mencatat bagi hasil
yang akan dibagikan kepada pemilik dana tabungan mudharabah Tn.Ali,
sebagai berikut:

31/12/11 Distribusi bagi hasil


mudharabah Rp.4.800.000,00 -
Kewajiab bagi
hasil Mudharabah - Rp.4.800.000,00

Pada saat bank syariah membayar bagi hasil tersebut, bank syariah
(pengelola dana) akan mencatat:

5/11/12 Kewajiban bagi hasil


mudharabah Rp.4.800.000,00 -
Kas - Rp.4.800.000,00
Distribusi bagi hasil mudharabah akan dilaporkan dalam laporan laba rugi
sebagai pengurang pendapatan usaha pengelola (bank syariah), sedangkan
kewajiban bagi hasil mudharabah akan dilaporkan di neraca.

Kerugian karena kesalahan atau kelalaian bank dibebankan kepada bank


(pengelola dana). Dalam hal ini bank syariah akan mencatat kerugian
sebagai berikut:

Tanggal Kerugian Dana Syirkah Temporer Rp xx -


Kewajiban lain-lain.kas - Rp xx

2. Perlakuan Akuntansi Mudharabah Musytarakah


PSAK 105 (2007) mendifinisikan mudharah musytarakah adalah
bentuk mudharabah dimana pengelola dana menyertakan modal atau
dananya dalam kerjasama investasi. Dimisalkan, bank syatiah menerima
tabungan mudharabah dari deposan dalam bentuk pool of fund (kumpulan
dana tabungan mudarabah) sebesar 1 miliar,-, kemudian bank
menginvestasikan dalam investasi mudharabah dimana mitra pengusaha
juga menyertakan modal sebesar Rp 500 juta,- sehingga total investasi
mudharabah yang dikelola oleh mudharib (pengusaha) adalah Rp 1,5
miliar,-. Jadi dalam ini bank syariah sebagai pemilik dana mudharabah
(shahibul maal) dimana dananya berasal dari tabungan mudharabah dan
dana pengusaha sendiri (bisa dari dana tunai maupun nonkas).
PSAK 105 (2007) telah mengatur perlakuan akuntansi untuk
mudharabah musytarakah seperti berikut ini.
1) Penyertaan dana mudharabah musytarakah
Jika pengelola dana juga menyerkana dana dalam mudharabah
musytarakan, maka penyaluran dana milik pengelola dana tersebut
diakui sebagai investasi mudharabah. Akad mudharabah musytarakan
merupakan perpaduan antara akad mudharabah dan musytarakah.
Dalam mudharabah musytarakah, pengelola dana (berdasar akad
mudharabah) menyertkan juga dananya dalam investasi bersama
(berdasar akad musyarakah). Pemilik dana musyarah memperoleh
bagian hasil usaha sesuai porsi dana yang disetorkan. Pembagian hasil
usaha antara pengelola dana dan pemilik dana dalam mudharabah
adalah sebesar hasil usaha musyarakah setelah dikurangi porsi pemilik
dana sebagai pemilik dana musyarakah. (Paragraf 31-33, PSAK 105,
2007).
2) Pembagian hasil investasi mudharabah musytarakah
Pembagian hasil investasi mudharabah musytarakah dapat
dilakukan sebagai berikut:
a) Hasil investasi dibagi antara pengelola dana (sebagai mudharib)
dan pemilik dana sesuai dengan nisbah yang disepakati,
selanjutnya bagian hasil investigasi setelah dikurangi untuk
pengelola dana (sebagai mudharib) tersebut dibagi antara
pengelola dana (sebagai musytarik) dengan pemilik dana sesui
dengan porsi masing-masing; atau
b) Hasil investigasi dibagi antara pengelola dana (sebagai
musytarik) dan pemilik dana sesuai dengan porsi modal masing-
masing, selanjutnya bagian hasil investasi setelah dikurangi untuk
pengelola dana (sebagai musytarik) tersebut di bagi antara
pengelola dana (sebagai mudharib) dengan pemilik dana sesuai
dengan nisbah yang disepakati.

Jika terjadi kerugian atas investasi, maka kerugian dibagi sesuai


dengan porsi modal para musytarik. (Paragraf 34-35, PSAK 105,
2007)

ILUSTRASI
Bank Syariah Sejahtera menandatangani akad mudharabah
musytarakah dengan PT LANCAR pada 1 mei 2011. Bank Syariah
menyalurkan pembiayaannya dengan kas Rp 400 juta,- dan PT LANCAR
sebesar Rp 100 juta,-, nisbah bagi hasil yang disepakati adalah bank:mitra
= 40:60 dari laba kotor usaha mitra, bila rugi maka pembagian ruginya
berdasarkan porsi modal yang disetorkan masing-masing. Pada tahun 2011
PT LANCAR melaporkan Laba Kotor usahanya sebesar Rp 200 juta,-.
Diminta: hitunglah bagi hasil untuk bank dan mitranya.

JAWAB :
Cara 1:
Hasil usaha dibagi antara bank dan mitra dengan dasar nisbah, sisanya
setalah dikurangi hak pengelola dana akan dibagi sesuai dengan porsi
modal masing-masing.
Bagian pengelola (musytarik) =60/100 x Rp200 juta,- = Rp 120 juta;
sisanya Rp 80 juta,- dibagi berdasarkan porsi modal.

Pengelola = 100/500 x Rp 80 juta,- = Rp 16 juta,-

Bank syariah = 400/500 x Rp 80 juta,- = Rp 64 juta,-

Jadi, bagi hasil pengelola = Rp 120 juta,- + Rp 16 juta,- = Rp 136


juta,-

Bagi hasil bank syariah = Rp 64 juta,-; total hasil yang dibagi = Rp


136,- + Rp 64 juta,- = Rp 200 juta,-

Cara 2

Hasil usaha dibagi antar bank dan mitra berdasarkan porsi modal
masing-masing, sisanya setelah dikurangi hak pengelola dana akan di bagi
sesuai dengan nisbah bagi hasil.
Bagian pengelola (musytarik) = 100/500 x Rp 200 juta,- = Rp 40 juta,-
sisanya Rp 160 juta,- dibagi berdarkan nisbah bagi hasil.

Pengelola = 60/100 x Rp 160 juta,- = Rp 96 juta,-

Bank Syariah = 40/100 x Rp 160 juta,- = Rp 64 juta,-


Jadi, bagi hasil pengelola = Rp 40 juta,- + Rp 96 juta,- = Rp 136 juta,-
Bagi hasil bank syariah = Rp 64 juta,- ; total hasil yang dibagi = Rp
136juta,- + Rp 64 juta,- = Rp 200 juta,-.

Jadi, cara 1 dan cara 2 hasil perhitungan bagi hasil adalah sama.

I. Penyajian
Bagaimanakah pengelola dana dan pemilik dana menyajikan dalam laporan
keuangannya ? Dalam hal ini PSAK 105 (2007) telah mengaturnya berikut ini.

1. Pemilik dana menyajikan investasi mudharabah dalam laporan keuangan


sebesar nilai tercatat.
2. Penelola dana menyajikan transaksi mudharabah dalam laporan
keuangan:
a) Dana syariah temporer dari pemilik dana disajikan sebesar nilai
tercatatnya untuk setiap jenis mudharabah.
b) Bagi hasil dana syariah temporer yang sudah diperhitungkan tetapi
belum diserahkan kepada pemilik dana disajikan sebagai pos bagi
hasil yang belum dibagikan kewajiban. (Paragraph 36-37, PSAK 105,
2007)

J. Pengungkapan
Paragraph 38-39, PSAK 105, (2007), telah mengatur tentang pengungkapan
yang berkatan dengan mudharabah baik bagi pemilik dana maupun pengelola
dana, seperti berikut ini.

1. Pemilik dana mengugkapkan hal-hal yang terkait transaksi mudharabah,


tetapi tidak terbatas, pada :
a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah, seperti porsi dana,
pembagian hasil usaha, aktivitas usaha mudharabah, dan lain-lain.
b. Rincian jumlah investasi mudharabah berdasarkan jenisnya.
c. Penyisihan kerugian investasi mudharabah selaa eriode berjalan,
dan
d. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101 : Penyajian
Laporan Keuangan Syariah.
2. Pengelola dana mengungkapkan hal-hal yang terkait transaksi
mudharabah, tetapi tidak terbatas pada :
a. Isi kesepakatan utama usaha mudharabah, seperti porsi dana,
pembagian hasil usaha, aktivitas usaha mudharabah, dan lain-lain;
b. Rincian dana syariah temporer yang diterima berdasarkan jenisnya.
c. Penyaluran dana yang berasal dari mudharabah muqayyadah, dan
d. Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK 101. Penyajian
Laporan Keuangan Syariah.