Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA KULIAH BAKTERIOLOGI

“MARGA BACILLUS”

Oleh:

Nama : Wida Catur Utami


NIM : 165040201111002
Kelas :A
Dosen : Prof. Dr. Ir. Abdul Latief Abadi, MS.

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
1. MARGA BACILLUS
Marga Bacillus sangat potensial untuk dikembangkan dalam industri
bioteknologi karena memiliki kisaran suhu pertumbuhan yang luas, pembentuk
spora, tahan terhadap senyawa-senyawa antiseptik, bersifat aerob atau fakultatif
anaerob, memiliki kemampuan enzimatik yang beragam, dan beberapa
diantaranya mampu melakukan biodegradasi terhadap banyak senyawa rekalsitran
dan xenobiotic (Hatmanti, 2000). Klasifikasinya sebagai berikut:
Kingdom : Procaryotae
Divisi : Bacteria
Kelas : Schizomycetes
Bangsa : Eubacteriales
Suku : Bacillaceae
Marga : Bacillus
Jenis : Bacillus spp.
Jenis Bacillus spp. terdiri dari beberapa jenis dan tersebar pada beberapa
habitat, namun paling banyak terdapat pada habitat tanah. Berikut jenis Bacillus,
habitat isolasi dan karakternya :
No Jenis Bacillus Habitat yang diisolasi Karakter
1 Acidocaldarius Thermal, air, tanah Thermofilik,asidofilik
2 Alcalophilus Tanah pH 10 Alkalofilik
3 Alginolyticus Tanah Pengurai alginat
4 alvei Tanah, lebah sakit Patogen terhadap serangga
5 Amyloliquefasetens Tanah Penghasil amilase
6 Amylolyticus Akar Penghidrolisis amilum
7 Azotofixans Tanah Rhizosfer, pengikat N
8 Azotoformans Tanah Pereduksi nitrat
9 Badius Feses, makanan, laut Vegetatif tumpul
10 Benzoevorans Tanah Pendegradasi asam
11 Brevis Tanah, makanan Penghasil antibiotik
Penghasil antibiotik dan
12 Cereus Tanah, makanan
enzim

No Jenis Bacillus Habitat yang diisolasi Karakter


13 Chondroitinus Tanah Pendegradasi alginate
Penghasil antibiotik dan
14 Circulans Tanah
enzim
15 Coagulans Makanan asam Thermofilik, asidofilik
16 Fastidiosus Tanah, kotoran ternak Tumbuh diasam uric
17 Flexus Tanah, feses Penghasil protease
Membutuhkan biotin dan
18 Firmus Tanah, rawa payau
thiamin
19 Fusiformis Habitat yang diisolasi Patogen pada serangga
20 Globisporus Tanah Psikrofilik
21 Gordonae Tanah, air Thermofilik
22 Insolitus Tanah Patogen terhadap serangga
Posisi spora pada
23 Kaustophilus Tanah
sporangium abnormal
24 Larvae Larva lebah sakit Penghidrolisis amilum
25 Laterosporus Tanah,air Patogen terhadap serangga
26 Lautus Tanah, feses Pengurai urea
Penghasil antibiotik dan
27 Lentimorbus Larva lebah sakit
enzim
28 Lentus Tanah, makanan Pengikat nitrogen
29 Licheniformis Tanah Psikrofilik
Material tanaman,
30 Macerans psikrofilik
makanan
Pengahasil asam 5-inosin,
31 Macquariensis Tanah subantartika
vitamin dan komponen lain
32 Marinus Sedimen laut Penghasil maltose
33 Megaterium Tanah Pengurai amilum
34 Mycoides Tanah Thermofilik
Membutuhkan asam
35 Pabuli Tanah, makanan ternak
pantotenat
Alkalofilik, membutuhkan
36 Pallidus Tanah
NH4Cl

No Jenis Bacillus Habitat yang diisolasi Karakter


Pengikat nitrogen,
37 Panthothenicus Tanah penghasil antibiotik dan
enzim
38 Pasteurii Tanah,air, limbah Patogen terhadap serangga
39 Polymixa Tanah Psikrofilik
40 Psychrophilus Tanah,air Psikrofilik
Psyhrosaccharolytic
41 Tanah,rawa Patogen terhadap serangga
us
42 Pulvifasciens Larva lebah mati Membutuhkan biotin
43 Pumilus Tanah Fakultatif khemolitotrof
Pengahasil asam 5-inosin,
44 Simplex Sedimen danau
vitamin dan komponen lain
45 Smithii Susu, keju Thermofilik
46 Spaericus Tanah, air, makanan Patogen terhadap serangga
47 Stearothermophilus Tanah,air panas, makanan Penghasil glukosidae
48 Subtilis Tanah,air Dengan stabilitas tinggi
49 Thermoglucosidasius Tanah Penggu thermofilik
hidrokarbon
50 Thermoeovorans Tanah, lumpur Thermofilik
51 Thermoruber Tanah Penghasil thiaminase
52 Thiaminolyticus Tanah, feses Patogen terhadap serangga
Thermoasidofilik fakultatif,
53 Thuringiensis Tanah
chemolitotrof
54 Tusciae Tanah Patogen terhadap serangga
55 Validus Tanah Pengurai amilum
(Hatmanti, 2000)

2. Karakteristik Bacillus spp.


Bacillus spp. digolongkan ke dalam kelas bakteri heterotrofik, yaitu
bersifat uniseluler, termasuk dalam golongan dekomposer. Marga Bacillus
merupakan bakteri yang berbentuk batang dapat dijumpai di tanah dan air
termasuk pada air laut. Bacillus spp membentuk endospora, merupakan gram
positif, bergerak dengan flagel peritrikus, dapat bersifat aerobik atau fakultatif
anaerobik serta bersifat katalase positif. Endospora yang dihasilkan tersebut
berbentuk bulat, oval, elips atau silinder, yang terbentuk di dalam sel vegetatif.
Endospora yang dihasilkan oleh Bacillus mempunyai ketahanan yang
tinggi terhadap faktor kimia dan fisika, seperti suhu ekstrim, alkohol, dan
sebagainya. Marga Bacillus mampu tumbuh pada temperatur 10-50°C. Letak
endospora di dalam sel serta ukuran selama pembentukannya tidak sama bagi
setiap jenis Bacillus spp., artinya ada yang terletak di sentral (di tengah sel), di
terminal (di ujung sel) dan adapula yang sub- terminal (di bagian dekat ujung sel).
Bentuk spora yang dihasilkan oleh Bacillus spp. pun bermacam-macam
tergantung jenisnya. Bacillus subtilis dan B. cereus memproduksi spora bentuk
silinder yang tidak membengkak. Bacillus polymixa dan B. spaericus
memproduksi spora yang membengkak (lebih besar dari sel vegetatifnya. Marga
Bacillus mempunyai sifat fisiologis yang menarik karena tiap-tiap jenis
mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, diantaranya :
1. mampu mengdegradasi senyawa organik seperti protein, pati, selulosa,
hidrokarbon dan agar
2. mampu menghasilkan antibiotik
3. berperan dalam nitrifikasi dan dentrifikasi
4. pengikat nitrogen
5. pengoksidasi selenium
6. pengoksidasi dan pereduksi mangan (Mn)
7. bersifat khemolitotrof, aerob atau fakutatif anaerob, asidofilik atau alkalifilik,
psikoprifilik, atau thermofilik khemoautotrof yang dapat tumbuh pada
metanol, metilamine atau format, tetapi tidak dapat tumbuh pada metana.
Salah satu contoh dari jenis Bacillus, yaitu Bacillus thuringiensis (Bt)
yang memiliki peranan penting. Berikut merupakan uraian dari Bacillus
thuringiensis (Bt) :

Gambar. Bacillus thuringiensis


Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan bakteri gram-positif yang
mempunyai sel vegetatif berbentuk batang dengan ukuran panjang 3-5 μm dan
lebar 1,0-1,2 μm serta memiliki flagella. Spora Bt berbentuk oval, letaknya sub
terminal. Spora mengandung asam dipikolinik dan terbentuk dengan cepat pada
suhu 35°-37°C. Suhu optimum untuk pertumbuhan Bt berkisar antara 10°-50°C
(Hatmanti, 2000). Berikut klasifikasi Bacillus thuringiensis (Bt) :
Kerajaan : Prokariota

Filum : Bakteria

Kelas : Bacilli

Bangsa : Bacillales

Keluarga : Bacillaceae

Marga : Bacillus

Jenis : Bacillus thuringiensis

Ciri khas yang terdapat pada Bacillus thuringiensis (Bt) adalah


kemampuannya membentuk kristal (parasporal body) bersamaan dengan
pembentukan spora, yaitu pada waktu sel mengalami sporulasi. Kristal tersebut
merupakan komplek protein yang mengandung toksin (-endotoksin) yang
terbentuk di dalam sel 2-3 jam setelah akhir fase eksponesial dan baru keluar dari
sel pada waktu sel mengalami autolisis setelah sporulasi sempurna (Pigott, et
al.,2008). Toksisitas Bt terhadap serangga dipengaruhi oleh strain bakteri dan
spesies serangga yang terinfeksi. Faktor yang mempengaruhi toksisitas Bt adalah
struktur kristalnya, yang pada salah satu strain mempunyai ikatan yang lebih
mudah dipecah oleh enzim yang dihasilkan serangga dan ukuran molekul protein
yang menyusun kristal, serta susunan molekul asam amino dan kandungan
karbohidrat dalam kristal.
Selama pertumbuhan vegetatif terjadi, berbagai galur Bt menghasilkan
bermacam-macam antibiotik, enzim, metabolit, dan toksin, yang dapat merugikan
organisme lain. Pengembangan bioinsektisida Bt didasarkan pada kemampuan Bt
dalam menghasilkan kristal protein yang toksik terhadap serangga sasaran. Oleh
karena itu, Bt tidak toksik terhadap tumbuhan, manusia ataupun organisme yang
bukan sasarannya. Peran Bacillus thuringiensis (Bt) dalam bidang pertanian
antarai lain:
a) Bacillus thuringiensis (Bt) sebagai mikrobial pestisida
Gen insektisidal Bt dapat diisolasi dan diklon sehingga dapat untuk
diintroduksikan ke dalam tanaman. Tanaman yang mengekspresikan gen Bt ini
dikenal dengan sebutan tanaman transgenik Bt. Kristal protein yang bersifat
insektisidal ini sering disebut dengan δ-endotoksin. Kristal ini sebenarnya hanya
merupakan protoksin yang jika larut dalam usus serangga akan berubah menjadi
polipeptida yang lebih pendek serta mempunyai sifat insektisidal. Pada umumnya
kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena adanya aktivitas proteolisis dalam
sistem pencernaan serangga dapat mengubah Bt protoksin menjadi polipeptida
yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah aktif berinteraksi dengan
sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti telah menunjukkan bahwa
toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang yang sangat kecil) di
sel membran di saluran pencernaan dan mengganggu keseimbangan osmotik dari
sel-sel tersebut. Karena keseimbangan osmotik terganggu, sel menjadi bengkak
dan pecah dan menyebabkan matinya serangga (James, 2000).

b) Alternatif Penggunaan Bacillus Thuringiensis (Bt) sebagai tanaman


transgenik
Berkembangnya teknik rekombinan, beberapa gen yang mengkode Bt
toksin telah berhasil diklon dan di introduksikan ke dalam tanaman. Dengan
terintegrasinya gen Bt di dalam sel tanaman dapat memperpanjang peluang Bt
dalam mengendalikan hama dan meningkatkan efektifitas pengendalian.

c) Potensi Pengaruh Bacillus Thuringiensis Bt terhadap Perkembangan


Parasitoid
Bt protoksin yang digunakan sebagai pestisida mikrobial tidak toksis
terhadap parasitoid. Serangga parasitoid mempunyai karakteristik yang berbeda
antara imago dan larvanya. Tanaman transgenik akan mempengaruhi parasitoid
dalam fase larva secara tidak langsung karena parasitoid ini terekspos lebih
banyak ke jaringan tubuh larva yang dimakan daripada langsung ke tanaman
transgenik. Larva parasitoid akan terekspos ke berbagai protein yang ada di tubuh
serangga yang diparasit secara langsung ketika memakan jaringan tubuh
inangnya. Ada kemungkinan dosis sublethal dari toksin yang ada di tubuh inang
akan meningkatkan daya parasitismenya, yaitu dengan melemahnya sistem imun
dari inangnya. Penelitian mengenai pengaruh Bt toksin pada dosis sublethal
terhadap hama kubis diamond backmoth (Plutella xylos-tella), ternyata ditemukan
bahwa Bt dapat memperpanjang periode pupa dari parasit braconid. Cotesia
plutellae. Namun demikian, tidak dijumpai pengaruhnya terhadap braconid
lainnya, yaitu Diadegma (Bahagiawati,2002).
DAFTAR PUSTAKA

Bahagiawati. 2002. Penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai Bioinsektisida.


Buletin AgroBio 5(1):21-28.

Hatmanti, Ariani. 2000. PENGENALAN BACILLUS SPP. Oseana, Volume XXV,


Nomor 1, hal. 31-41.

Hofte, H. and H.R. Whiteley. 1989. Insecticidal crystal proteins of Bacillus


thuringiensis. Microbiol. Rev. 53: 42-255.

Muharsini,S., Wardhana, A., Rijzaani,H. dan Amirhusein, B. 2003. Karakterisasi


Isolat Bacillus thuringiensis dari Beberapa Daerah di Jawa dan Sulawesi
Selatan untuk Kontrol Biologi Lalat Myasis Chrysomya bezziana. Bogor:
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.

Pigott, C.R., King M.S., and Ellar D.J. 2008. Investigating The Properties Of
Bacillus thuringiensis Cry Proteins With Novel Loop Replacements Created
Using Combinatorial Molecular Biology. Appl Environ Microbiol 74: 3497-
3511.