Anda di halaman 1dari 5

Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-April 2016

Pengaruh latihan gerak aktif menggenggam bola pada pasien stroke


diukur dengan handgrip dynamometer

1
Winona Prok
2
Joudy Gessal
3
L.S Angliadi

1
Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
2
Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado
Email: winonaprok@ymail.com

Abstract: Stroke is the clinical signs are growing rapidly as a result of brain dysfunction focal
(or global), with symptoms lasting for 24 hours or more, can cause death, regardless of the
cause other than vascular. Stroke can cause deficit of hand function. Design of study is quasi
experiment with pre and post test design. Study was done at Public Hospital of Prof.R.D.
Kandou Manado on october until november 2015 with 18 samples of stroke patients and was
selected by using purposive sampling method. The ball handgrip active exercise carried out for
a month. Force of handgrip was measured by using handgrip dynamometer. The result of
study showed mean of force of handgrip before exercise 10,56 Kg, after exercise 14,06 Kg.
There was significant different of mean of muscle power before and after exercise (p =
0.000). Conclusion of study there was significant affect of the ball handgrip active exercise
program to muscle power of hand on stroke patients.
Keywords: stroke, ball handgrip active exercise, muscle power

Abstrak: Stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi
otak fokal (atau global), dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih,
dapat menyebabkan kematian, tanpa penyebab lain selain vaskular. Stroke dapat menyebabkan
gangguan pada fungsi tangan. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan
rancangan pre and post test one group design. Penelitian dilaksanakan di Rumah sakit umum
Prof kandou Manado pada bulan oktoberl sampai dengan november 2015. Sampel berjumlah
18 pasien stroke yang diambil dengan purposive sampling. Perlakukan dalam penelitian ini
yaitu latihan gerak aktif menggenggam bola karet selama 1 bulan. Kekuatan otot diukur
dengan handgrip dynamometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kekuatan otot
sebelum latihan sebesar 10,56 Kg dan sesudah latihan 14,06 Kg. Hasil analisis data
menunjukkan ada perbedaan bermakna rata-rata kekuatan otot sebelum dan sesudah latihan
(p= 0,000). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh bermakna latihan gerak
aktif menggenggam bola terhadap kekuatan otot tangan pada pasien stroke .
Kata kunci: stroke, latihan gerak aktif menggenggam bola, kekuatan otot

Stroke adalah tanda-tanda klinis yang setelah penyakit jantung dan kanker dan
berkembang cepat akibat gangguan fungsi penyebab kecacatan nomor 1 bagi
otak fokal (atau global), dengan gejala- penyandangnya.2
gejala yang berlangsung selama 24 jam Pada tahun 2010, Amerika telah
atau lebih, dapat menyebabkan kematian, menghabiskan $ 73,7 juta untuk membiayai
tanpa penyebab lain selain vaskular.1 Stroke tanggungan medis dan rehabilitasi akibat
merupakan penyebab kematian nomor tiga, stroke.3 Hal tersebut menjadi salah satu
71
Prok, Gessal, Angliadi: Pengaruh latihan gerak...

bukti banyaknya angka kejadian stroke mempercepat pemulihan pasien dari cedera
yang terjadi. dan penyakit yang dalam
Prevalensi stroke di Indonesia penatalaksanaannya menggunakan gerakan
berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar aktif maupun pasif. Gerak pasif adalah
(Riskesdas) tahun 2013 sebesar 7 per mil gerak yang digerakkan oleh orang lain dan
(perseribu penduduk) dan yang terdiagnosis gerak aktif adalah gerak yang dihasilkan
tenaga kesehatan sebesar 12,1 per mil.4 Di oleh kontraksi otot sendiri.9
provinsi Sulawesi Utara sendiri, prevalensi Salah satu latihan gerak aktif dapat
stroke sebesar 10,4%. Pada tahun 2010 dilakukan dengan cara latihan
stroke menempati posisi kedua penyakit menggenggam bola. Untuk membantu
terbanyak (kasus baru). Pada tahun 2011 pemulihan bagian lengan atau bagian
stroke kembali menempati posisi pertama ekstremitas atas diperlukan teknik untuk
penyakit terbanyak (kasus baru) dengan merangsang tangan seperti dengan latihan
jumlah kasus sebanyak 228 kasus.5 spherical grip yang merupakan latihan
Kematian jaringan otak akibat stroke fungsional tangan dengan cara
dapat menyebabkan menurunnya bahkan menggenggam sebuah benda berbentuk
hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh bulat seperti bola pada telapak tangan.7
jaringan tersebut. Salah satu gejala yang Yulinda menemukan bahwa ada perbedaan
ditimbulkan adalah kelemahan otot pada yang signifikan antara kemampuan motorik
bagian anggota gerak tubuh yang terkena awal dan setelah empat minggu diterapi
seperti jari-jari tangan.6 Fungsi tangan latihan menggenggam bola.6,9
begitu penting dalam melakukan aktivitas Penelitian Kwakkel memperlihatkan
sehari-hari dan merupakan bagian yang bahwa peningkatan intensitas waktu terapi
paling aktif, maka lesi pada bagian otak latihan, khususnya jika penambahannya
yang mengakibatkan kelemahan pada minimal 16 jam dalam enam bulan pertama
ekstremitas akan sangat menghambat dan memiliki pengaruh yang kecil tapi
mengganggu kemampuan dan aktivitas bermakna pada kemampuan fungsional
sehari-hari seseorang.7 penderita stroke, terutama jika dilakukan
Stroke dapat menimbulkan berbagai lebih intensif dan lebih dini. Handgrip
tingkat gangguan, seperti penurunan tonus dinamometer berguna untuk menguji
otot, hilangnya sensibilitas pada sebagian kekuatan genggaman tangan. Dapat juga
anggota tubuh, menurunnya kemampuan digunakan untuk pelacakan perbaikan
untuk menggerakkan anggota tubuh yang dengan latihan kekuatan dan selama
sakit dan ketidakmampuan dalam hal rehabilitasi.10
melakukan aktivitas tertentu. Pasien stroke
yang mengalami kelemahan pada satu sisi METODE PENELITIAN
anggota tubuh disebabkan oleh karena Penelitian ini dilakukan di bagian
penurunan tonus otot, sehingga tidak okupasi terapi Rehabilitasi Medik RSUP
mampu menggerakkan tubuhnya (imobili- Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Desain
sasi). Immobilisasi yang tidak mendapatkan penelitian menggunakan quasi eksperimen-
penanganan yang tepat, akan menimbulkan tal dengan rancangan pretest-postest.
komplikasi berupa abnormalitas tonus, Terdapat 18 sampel yang memenuhi
orthostatic hypotension, deep vein kriteria inklusi yang dipilih berdasarkan
thrombosis dan kontraktur.8 purposive sampling. Hasil penelitian ini
Cara untuk meminimalkan kecacatan diolah menggunakan SPSS 20.
setelah serangan stroke adalah dengan
rehabilitasi. Rehabilitasi penderita stroke HASIL PENELITIAN
salahsatunya adalah dengan terapi latihan. Tabel 1 menunjukkan Karakteristik
Peningkatan intensitas latihan sebanding berdasarkan umur responden terbanyak
dengan perbaikan kualitas hidup. Terapi adalah umur 50-60 tahun yakni sebanyak
latihan adalah salah satu cara untuk 10 responden (55,6%)
72
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-April 2016

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik bahwa ada perbedaan sangat bermakna


Responden Berdasarkan Umur Pasien Stroke rata-rata kekuatan otot sebelum dengan
sesudah latihan menggenggam bola.
Umur Frequency Percent Interpretasinya menunjukkan bahwa ada
50-60 10 55,6 pengaruh latihan gerak aktif menggenggam
61-70 4 22,2 bola pada pasien stroke diukur dengan
>70 4 22,2 handgrip dinamometer di RSUP. Prof. Dr.
TOTAL 18 100 R.D Kandou Manado.

Tabel 2 menunjukkan karakteristik Tabel 4. Perbedaan Kekuatan Otot Sebelum-


berdasarkan jenis kelamin responden yang Sesudah Latihan Menggenggam Bola Pada
terbanyak adalah laki-laki yakni sebanyak Pasien Stroke
14 responden (77,8%).
VARIABEL n Beda SD P
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Rata-
Responden Berdasarkan Jenis Kelamin rata
Kekuatan otot
Jenis sebelum dan
Kelamin Frequency Percent sesudah latihan 18 -3,500 1,249 0,000
L 14 77,8
P 4 22,2 BAHASAN
Total 18 100,0 Berdasarkan data pada Tabel 1
menunjukkan bahwa lebih dari 50%
Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata responden berusia 50-60 tahun dan masing
kekuatan otot sebelum latihan –masing yakni 22,2% pada usia 61-70
menggenggam bola didapatkan 10,56, tahun dan >70 tahun. Secara konsep, angka
dengan nilai terendah 2, tertinggi 24 kg, kejadian stroke meningkat seiring dengan
dan standar deviasi sebesar 5,963. Rata-rata pertambahan usia. Warlow et al
kekuatan otot sesudah latihan menggeng- mengungkapkan bahwa usia memiliki
gam bola didapatkan 14,06 dengan nilai hubungan yang sangat kuat dengan
terendah 4 kg, tertinggi 29 kg, dan standar kejadian stroke. Stroke jarang terjadi pada
deviasinya sebesar 6,235 kg. usia kurang dari 50 tahun, tetapi resiko
terjadinya stroke meningkat dua kali lipat
Tabel 3. Kekuatan Otot Sebelum dan Sesudah setelah usia 50 tahun.11
Latihan Menggenggam Bola Hasil pada Tabel 1 sejalan dengan
konsep bahwa resiko stroke meningkat dua
Kekuatan n Min- Rata- SD kali lipat setelah usia 50 tahun. Hasil ini
otot maks rata juga sejalan dengan penelitian Aisyah ,dkk
(kg) tentang Hubungan Umur, Jenis Kelamin,
Sebelum 18 2-24 10,56 5,963 dan Hipertensi dengan Kejadian Stroke
Latihan bahwa kejadian stroke ditemukan paling
Sesudah 18 4-29 14,06 6,235
banyak pada golongan umur > 55 tahun.12
Latihan
Berdasarkan data pada Tabel 2
menunjukkan bahwa responden terbanyak
Tabel 4 menunjukkan bahwa
adalah laki-laki yakni sebesar 77,8%.
perbedaan rata-rata kekuatan otot antara
Secara teori serangan stroke lebih banyak
sebelum dengan sesudah latihan
terjadi pada laki-laki dibandingkan wanita.
menggenggam bola didapatkan -3,500
Menurut Petrina insiden stroke lebih tinggi
dengan standar deviasi sebesar 1,249. Hasil
19% pada laki-laki dibandingkan dengan
analisis didapatkan juga nilai p sebesar
wanita pada semua ras. Menurut American
0,000 yang artinya bahwa pada taraf
Heart Association, insiden stroke pada laki-
signifikansi 0,01, H0 ditolak. Artinya
73
Prok, Gessal, Angliadi: Pengaruh latihan gerak...

laki lebih banyak dibandingkan dengan lumbosakral), serta saraf perifer dalam
wanita pada usia muda tapi tidak pada usia perjalanannya ke otot-otot rangka. Impuls
tua. Penelitian lain yang dilakukan oleh dihantarkan ke sel-sel otot melalui motor
Aisya,dkk terhadap 220 sampel, didapatkan end plate taut neuromuscular kemudian
bahwa kejadian stroke lebih banyak pada akan terjadi gerakan otot pada ekstremitas
jenis kelamin laki-laki, yakni 40 pasien atas. Mekanisme ini dinamakan feed-
(52%) dibandingkan dengan jenis kelamin forward control sebagai respon terhadap
perempuan, yakni 37 pasien (48%).12 rangsang tekanan dan sentuhan halus bola
Berdasarkan data pada Tabel 3 karet pada tangan.6
menunjukkan bahwa kekuatan otot sebelum
melakukan latihan menggenggam bola SIMPULAN
adalah 2-24 kg dengan rata-rata 10,56 dan Pada penelitian ini didapatkan bahwa
sesudah dilakukan latihan menggenggam pasien yang mengalami stroke terbanyak
bola menjadi meningkat menjadi 4-29 Kg berada pada usia 50-60 tahun dengan jenis
dengan rata-rata 14.06. Hal ini menguatkan kelamin terbanyak laki-laki. Terdapat
teori bahwa aktivasi jaringan saraf bersifat pengaruh yang sangat bermakna dari
use-dependent, semakin sering digunakan, latihan gerak aktif menggengam bola pada
semakin kuat dan semakin meningkat pasien stroke diukur dengan handgrip
jumlah sinaps yang terbentuk.13 dinamometer.
Berdasarkan data pada tabel 4
menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata SARAN
kekuatan otot antara sebelum dengan Hasil penelitian dari latihan gerak
sesudah latihan menggenggam bola aktif menggenggam bola terbukti
didapatkan -3,500 dengan standar deviasi memberikan peningkatan yang bermakna
sebesar 1,249. Hasil analisis didapatkan terhadap kekuatan otot pasien stroke,
nilai p sebesar 0,000 yang artinya bahwa sehingga latihan gerak aktif menggenggam
pada taraf signifikansi 0,01 H0 ditolak. bola dapat dijadikan sebagai standar
Artinya bahwa ada perbedaan sangat prosedur operasional dan acuan pelayanan
bermakna rata-rata kekuatan otot sebelum di bidang okupasi terapi. Diharapkan pada
dengan sesudah latihan menggenggam bola penelitian selanjutnya bisa ada kelompok
diukur dengan handgrip dinamometer. control dan waktu penelitian yang lebih
Pemberian latihan menggenggam bola lama.
merupakan suatu modalitas rangsang Pengontrolan terhadap variabel
sensorik raba halus dan tekanan pada perancu seperti faktor umur, psikologis,
reseptor ujung organ berkapsul pada serta faktor lingkungan dari responden pun
ekstremitas atas. Respon akan disampaikan belum optimal, sehingga mungkin
ke korteks sensorik di otak jalur sensorik berdampak terhadap hasil penelitian ini.
melalui badan sel pada saraf C7-T1 secara
langsung melaui sistem limbik. Pengolahan DAFTAR PUSTAKA
rangsang yang ada menimbulkan respon 1. Ralph L, Scott EK, Joseph PB, Louis RC,
cepat pada saraf untuk melakukan aksi atas J Connors,Antonio C, et al. An
rangsangan tersebut. Mekanisme ini Updated Definition of Stroke for the
dinamakan feedback.6 21st Century. Stroke. 2013; 44: 2064-
Rangsang sensorik halus dan tekanan 2089.
2. Pinzon Rizaldy. AWAS STROKE. Edisi
akan diolah dalam korteks sensorik yang
ke-1. Yogyakarta: ANDI; 2010. h. 37.
selanjutnya impuls disalurkan dalam 3. Medicastore. Stroke The Silent Killer. 23
korteks motorik. Impuls yang terbentuk di November 2011. [dikutip 16 sep
neuron motorik kedua pada nuclei nervi 2015]. Available from:
kranialis dan kornu anterius medulla http://medicastore.com/stroke.html
spinalis berjalan melewati radiks anterior, 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
pleksus saraf (di region servikal dan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar
74
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-April 2016

Indonesia (Riskesdas) 2013. motorik penderita stroke iskemia di


5. Ramadhini AZ, Angliadi LS, Angliadi E. RSUP H.Adam Malik Medan.
Gambaran Angka Kejadian Stroke [skripsi]. [Medan]: Universitas
Akibat Hipertensi di Instalasi sumatera utara;2009.
Rehabilitasi Medik BLU RSUP Prof. 10. Joshua B. Hand grip strength test. 2015 jan
Dr. R. D. 28 [cited 2015 okt 12]. Available
6. I Gusti. Pengaruh latihan aktif from:
menggenggam bola terhadap http://www.livestrong.com/article/46
kekuatan ekstremitas atas pada pasien 8905-hand-grip-strength-test/
stroke iskemia di BRSU tabanan. 11. Muhamad A. Pengaruh akupresur terhadap
[cited 22 sept 2015]. Available from: kekuatan otot dan rentang gerak
academia.edu ekstremitas atas pada pasien stroke
7. Sukmaningrum, Sri PK, Achmad S. pasca rawat inap di RSUP fatmawati
Efektivitas ROM aktif-asistif: jakarta [tesis]. [Jakarta]: Universitas
spherical grip terhadap pengingkatan Indonesia: 2011.
kekuatan otot ekstreitas atas pada 12. Aisyah, Yusuf. Hubungan Umur, Jenis
pasien stroke di RSUD tugurejo Kelamin, dan Hipertensi dengan
semarang. Ilmu keperawatan dan Kejadian Stroke. 2015 [ cited 8 jan
kebidanan. 2012;1;1. 2016]. Available from :
8. Murtaqib. Pengaruh latihan range of file:///C:/Users/User/Downloads/182-
motion (ROM) aktif terhadap 514-1-PB.pdf
perubahan rentang gerak sendi pada 13. Desi KP, Sukwana IW, Candrawati SA.
penderita stroke di kecamatan tanggul Pengaruh latihan ROM dengan bola
kabupaten jember. IKESMA. karet bergerigi terhadap kekuatan otot
2013;9.107-8. jari jari tangan pasien stroke non
9. Wina Y. Pengaruh latihan empat minggu hemoragik. KMB maternitas anak dan
terapi latihan pada kemampuan kritis. 2014; 1:135.

75