Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Radiasi matahari sejak dulu sampai sekarang tak habis-habis dibicarakan dan ditulis. Dahulu yang sangat
populer dibahas mengenai iklim dan pengunaan untuk pemanasan/mengeringkan, penguapan dan
pencahayaan alami dalam bangunan di siang hari. Sekarang tidak hanya permasalahan itu saja, tapi
sudah sangat berkembang, seperti berkaitan dengan permasalahan cuaca, atmosfir, pertanian,
kehutanan, perikanan, peternakan, pengairan, lingkungan hidup, kesehatan, bangunan, kesehatan dan
berbagai kegunaan yang sangat praktis. Orang juga mempelajari ketersediaan radiasi matahari dengan
berbagai cara dan pemodelan.

2. Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat :

1. Mengetahui Pengertian Radiasi Matahari

2. Mengetahui Peranan Matahari Terhadap Tumbuhan Berklorofil

3. Mengetahui Peranan Matahari Terhadap Keberlangsungan Ekosistem.

4. Mengetahui Intensitas Cahaya Matahari.

5. Mengetahui Radiasi Matahari Untuk Pengeringan Produk Pertanian

6. Mengetahui Peranan Cahaya Matahari Sebagai Sumber Energi.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Radiasi Matahari

Pengertian. Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi
di matahari. Energi radiasi matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik.

Radiasi elektromagnetik bisa dibedakan,

1. Radiasi yang terlihat oleh mata kita (visible radiation) (cahaya)

2. Radiasi yang dapat kita rasakan (kulit, wajah), namanya radiasi infra merah.

panjang gelombang radiasi inframerah lebih panjang daripada panjang gelombang cahaya (visible
radiation)

Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor.

1.Jarak matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan
energi matahari

2.Intensitas radiasi matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada permukaan bumi.
Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang
yang miring kurang memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar
pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosphir yang
lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus.

3. Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara matahari terbit dan matahari terbenam.

4. Pengaruh atmosfer. Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh gas-gas, debu dan uap
air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi.

Radiasi matahari yang diterima oleh bumi kita (energi matahari) akan diterima dengan cara sebagai
berikut:

1. Diserap oleh aerosol* & awan di atmosfer bumi yang akhirnya menjadi panas. Radiasi yang terserap ini
menyebabkan naiknya temperatur gas-gas dan aerosol-aerosol. aerosol= kumpulan cairan kecil atau
partikel-partikel solid yang menyebar dalam suatu gas, seperti uap air di atmosfir, debu-debu angkasa,
etc.

2. Ditangkis oleh atmosfer (oleh gas2 dan aerosol-aerosol), dalam hal ini radiasi ditangkis dan disebarkan
ke segala penjuru. Sebagian radiasi menuju kembali ke angkasa, sebagian sampai ke permukaan
bumi.Penangkisan dan penyerapan radiasi bisa terjadi di segala lapisan atmosfir, yang paling sering
lapisan bawah di mana massa atmosfir lebih terkonsentrasi.

3. Radiasi yang tidak tertangkis maupun terserap oleh atmosfir, sampai ke permukaan bumi. Karena bumi
sangat padat, maka radiasi ini bukan ditangkis, melainkan dikembalikan satu arah ke atmosfir (proses ini
biasa disebut refleksi - walaupun sebenarnya sama saja dengan tangkisan). Es dan salju merefleksi
hampir kebanyakan dari radiasi solar yang sampai ke permukaan bumi, sedangkan laut, merefleksi sangat
sedikit.

4. Radiasi yang sampai ke permukaan bumi yang tidak direfleksi, akan diserap oleh bumi. Di lautan,
penyerapan ini sampai pada puluhan meter dari permukaan laut, sedangkan di daratan, hanya pada level
yang lebih tipis.

Seperti halnya yang terjadi pada atmosfir, penyerapan radiasi di permukaan bumi menyebabkan naiknya
temperatur permukaan tersebut

Neraca radiasi matahari,radiasi bumi dan atmosfer

Pada suatu sistem iklim, semu proses berawal dari energi radiasi yang datang dari matahari
keatas permukaan atmosfer (udara). Selanjutnya energi ini diteruskan ke permukaan bumi dimana
sepanjang perjalanannya sebagian darinya dipantulkan kembali ke ruang angkasa. Sebagian lagi terserap
oleh udara dan sisanya ditransmisikan ke permukaan bumi. Radiasi yang dapat sampai ke permukaan
bumi ini pada akhirnya dapat memanaskan permukaan bumi, menguapkan air, melelehkan salju dan
memanaskan tanah. Energi yang sudah berubah tersebut juga terkirimkan kembali ke ruang angkasa
dalam bentuk radiasi.

Neraca Radiasi
Variasi dari jumlah radiasi yang diterima oleh permukaan bumi serta variasi dari interaksi
antara bumi dan atmosfer tersebut dapat menyebabkan variasi keruangan dan waktu dari
perubahan energi yang akhirnya menentukan iklim suatu tempat.

Radiasi Matahari
Radiasi adalah suatu bentuk energi yang dipancarkan oleh setiap benda yang mempunyai suhu di
atas nol mutlak, dan merupakan satu-satunya bentuk energi yang dapat menjalar di dalam vakum
angkasa luar.
Energi yang diperlukan untuk berbagai proses di dalam atmosfer berasal dari matahari. Matahari
yang mempunyai suhu permukaan 6000 K memancarkan energi dalam bentuk radiasi ke semua arah
dengan kecepatan rambat 300.000.000 m/s. Energi ini mencapai bumi dalam waktu 9,3 menit.
Matahari dapat dianggap sebagai benda hitam, yaitu benda penyerap dan pemancar sempurna.
Menurut hukum Stefan-Boltzman fluks radiasi yang dipancarkan benda hitam berbanding lurus dengan
pangkat empat dari suhu mutlaknya.
F = aT4
Menurut hukum pergeseran Wien, panjang gelombang dari pemancaran benda hitam dengan
intensitas maksimum berbanding terbalik dengan suhu mutlak benda.

Jenis Gelombang Berdasarkan Panjang


Gelombang
Banyaknya radiasi matahari yang jatuh pada puncak atmosfer bumi tergantung pada tiga faktor,
yaitu waktu tahun, waktu hari, dan derajat lintang.
Radiasi matahari dalam perjalanannya melewati atmosfer menuju permukaan bumi mengalami
penyerapan, pemantulan, hamburan, dan pemancaran kembali.
1. Absorpsi
Radiasi matahari yang jatuh diserap langsung oleh ozon dan uap air sebanyak 18%.
2. Pemantulan
Radiasi matahari yang sampai ke atmosfer dipantulkan oleh tutupan awan dan permukaan bumi. Albedo
radiasi yang dipantulkan berbeda-beda sesuai dengan jenis tanah dan awan yang memantulkan radiasi
tersebut.
3. Hamburan
Radiasi matahari terutama dihamburkan oleh molekul udara, uap air, dan partikel di atmosfer.
Hamburan dapat terjadi ke atas atau ke bawah menuju permukaan bumi.
Ada dua macam hamburan radiasi matahari di dalam atmosfer yang bergantung pada besarnya
ukuran partikel penghambur terhadap panjang gelombang radiasi yang datang. Jika ukuran partikel
penghambur jauh lebih kecil dari panjang gelombang radiasi yang datang, maka hamburannya
dinamakan hamburan Rayleigh. Jika ukuran partikel penghambur lebih besar daripada panjang
gelombang radiasi maka hamburannya dinamakan hamburan Mie yang efektif untuk semua panjang
gelombang.

Radiasi Bumi
Seperti radiasi matahari, radiasi infra merah yang dipancarkan bumi akan mengalami proses
penyerapan, reradiasi, dan penerusan.
1. Penyerapan
Sebagai penyerap utama di dalam atmosfer ialah ozon, karbon dioksida, dan awan.
2. Reradiasi
Pemancaran kembali ini berlangsung ke semua arah, sebagian ke atas menuju angkasa luar dan sebagian
lagi ke bawah (radiasi balik).
3. Penerusan
Banyaknya radiasi bumi yang diserap atmosfer adalah 95%, sedangkan sisanya diteruskan tanpa
dipengaruhi atmosfer meninggalkan bumi menuju angkasa luar.

Jenis Awan dan Albedo


Neraca Radiasi Sistem Bumi-Atmosfer
Berbagai proses yang dialami radiasi matahari dalam perjalanannya memasuki sistem bumi-atmosfer.

Berbagai proses yang dialami radiasi bumi dalam perjalanannya meninggalkan permukaan bumi.

Neraca Radiasi Permukaan


Neraca radiasi permukaan ialah selisih antara radiasi yang diserap dan yang dipancarkan oleh suatu
benda atau permukaan. Mengingat bahwa suhu permukaan bumi tidak bertambah panas dan suhu
atmosfer tidak makin dingin , berarti bahwa kelebihan energy dikembalikan ke atmosfer dalam bentuk
bahang sensibel dan bahang laten. Pengembalian kelebihan energi dari permukaan bumi ke atmosfer
dalam bentuk bahang sensibel dan bahang laten.

Neraca Bahang Permukaan


Parameter total radiasi, atau Q* sangat penting karena besar kecilnya Q* menentukan
ketersediaan energi pada suatu sistem. Ketersediaan energi dapat digunakan untuk pertukaran
energi yang dapat menentukan bagaimana keadaan iklim di suatu tempat. Pertukaran energi ini
dapat berupasensible heat (QH), yaitu energi yang menentukan tinggi rendahnya suhu udara di
suatu tempat; latent heat (QE), yaitu energi yang terlibat dalam proses evaporasi dan storage
heat (QG) yang merupakan energi yang berasal dan atau tersimpan di bawah permukaan
bumi/tanah. Keseimbangan energi di suatu tempat ditunjukkan dengan :
Q* = QH + QE + QG

Pembagian energi tersebut, bisa surplus maupun defisit. Hal ini tergantung dari sifat
alamiah permukaan setempat seperti kemampuan tanah di dalam menyerap energi dan
kemampuan udara setempat di dalam menstransport panas/energi. Pada siang hari, ketersediaan
energi pada umumnya digunakan untuk proses evaporasi dari lengas tanah. Sehingga,
QE mendominasi. Jika ketersediaan air sudah menipis, maka peran Q E berkurang dan digantikan
dengan QH yang besar. Dengan demikian, suhu di tempat tersebut akan meningkat. Pada malam hari,
situasi diatas menjadi terbalik. Dalam hal ini Q* menjadi negatif, karena Q H dan QE berkurang.
Sementara itu energi yang tersimpan sebelumnya, QG, akan terbawa ke permukaan. Namun karena
QG yang relatif kecil dibanding QH dan QE maka Q* menjadi negatif. Akibatnya, pada malam hari suhu
udara menjadi turun.
B. Peranan Matahari Terhadap Tumbuhan Berklorofil

Tidak diragukan bahwa tumbuhan dan organisme memegang peran utama dalam menjadikan bumi
sebagai tempat yang dapat dihuni. Tumbuhan membersihkan udara untuk kita, menjaga suhu bumi tetap
konstan, dan menjaga keseimbangan proporsi gas-gas di atmosfer.

Oksigen yang kita hirup di udara dihasilkan oleh tumbuhan. Bagian penting dari makanan kita juga
disediakan oleh tumbuhan. Setiap tahun, seluruh tumbuhan di muka bumi dapat menghasilkan zat-zat
atau bahan-bahan sebanyak 200 miliar ton.

Berbeda dari sel manusia dan hewan, sel tumbuhan dan organisme berklorofil dapat memanfaatkan
langsung energi matahari. Tumbuhan dan organisme berklorofil mengubah energi matahari menjadi
energi kimia dan menyimpannya sebagai nutrisi dengan cara yang sangat khusus. Proses ini disebut
"fotosintesis".

Fotosintesis merupakan proses biologi yang dilakukan tanaman dan organisme berklorofil untuk
menunjang proses hidupnya yakni dengan memproduksi gula (karbohidrat) pada tumbuhan hijau dengan
bantuan energi sinar matahari, yang melalui sel-sel yang ber-respirasi, energi tersebut akan dikonversi
menjadi energi ATP sehingga dapat digunakan bagi pertumbuhannya. Reaksi umum dari proses
fotosintesis adalah :

6 H2O + 6 CO2 C6H12O6 + 6 O2

Cahaya Proses fotosintesis adalah reaksi yang hanya akan terjadi dengan keberadaan sinar matahari, baik
kualitas maupun kuantitasnya. Hasil dari fotosintesis seperti yang sudah tersebut di atas adalah
C6H12O6 atau dengan sebutan umum yaitu gula (karbohidrat).
C. Peranan Matahari Terhadap Keberlangsungan Ekosistem.

Karbohidrat merupakan jenis molekul yang paling banyak ditemukan di alam. Karbohidrat terbentuk
pada proses fotosintesis sehingga merupakan senyawa perantara awal dalam penyatuan karbon
dioksida, hidrogen, oksigen, dan energi matahari kedalam bentuk hayati. Pengubahan energi matahari
menjadi energi kimia dalam reaksi biomolekul menjadikan karbohidrat sebagai sumber utama energi
metabolit untuk organisme hidup.

Dari karbohidrat hasil fotosintesis dalam tanaman inilah yang merupakan dasar dari perkembangan
kehidupan makhluk hidup dalam suatu ekosistem yang kemudian masuk pada piramida makanan dan
rantai makanan dalam suatu ekosistem yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Komunitas dari suatu ekosistem berinteraksi satu sama lain dan juga berinteraksi dengan lingkungan
abiotik. Interaksi suatu organisme dengan lingkungannya terjadi untuk kelangsungan hidupnya.
Kelangsungan hidup organisme memerlukan energi.

2. Energi untuk kegiatan hidup diperoleh dari bahan organik yang disebut energi kimia. Bahan organik
dalam komponen biotik awalnya terbentuk dengan bantuan energi cahaya matahari dan unsur-unsur
hara, seperti karbon dan nitrogen.

3. Bahan organik yang mengandung energi dan unsur-unsur kimia ditransfer dari suatu organisme ke
organisme lain melalui interaksi makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar organisme
dalam suatu ekosistem membentuk struktur trofik yang terdiri dari tingkat-tingkat trofik dimana setiap
tingkat trofik merupakan kumpulan berbagai organisme dengan sumber makanan tertentu.

4. Tingkat trofik pertama adalah kelompok organisme autotrof yaitu organisme yang dapat membuat
bahan organik sendiri dengan bantuan cahaya matahari yaitu tumbuhan dan fitoplankton. Organisme
autotrof disebut Produsen. Produsen pada ekosistem darat adalah tumbuhan hijau sedangkan pada
ekosistem perairan adalah fitoplankton, ganggang dan tumbuhan air.

5. Tingkat trofik kedua dari struktur trofik suatu ekosistem ditempati oleh berbagai organisme yang tidak
dapat membuat bahan organik sendiri. Organisme tersebut tergolong organisme heterotrof. Bahan
organik diperoleh dengan memakan organisme atau sisa-sisa organisme lain sehingga organisme
heterotrof disebut juga konsumen. Pada tingkat trofik kedua dari struktur trofik suatu ekosestem adalah
Konsumen primer (herbivora).
D. Intensitas Cahaya Matahari.

Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya matahari
kehidupan tidak akan ada lagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh
kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya (Hari Suseno, 1976).

Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Tanaman yang mendapatkan
cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan
pembuluh kayu lebih sempurna, internodianya lebih pendek, daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih
kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung.

Beberapa effek dari cahaya matahari yang penuh (yang melebihi) kebutuhan optimum dapat
menyebabkan layu, fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi cenderung mempertinggi daya
tahan tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak seluruhnya dapat digunakan oleh
tanaman.

Energi cahaya matahari yang digunakan oleh tanaman dalam proses fotosintesis berkisar antar 0,5 – 2,0
% dari jumlah total energi yang tersedia. Sehingga hasil fotosintesis berkurang apabila intensitas cahaya
kurang dari batas optimum yang dibutuhkan oleh tanaman, yang tergantung pada jenis tanaman
(Leopold & Kriedemann, 1975) hal ini juga berlaku terhadap jenis-jenis anggrek. Pemberian naungan
pada tanaman baik secara alami & buatan, akan berarti mengurangi intensitas cahaya yang diterima oleh
tanaman tersebut, hal ini akan mempengruhi pertumbuhan maupun hasil tanaman . Tanaman yang
kurang mendapatkan cahaya matahari akan mempunyai akar yang pendek, cahaya matahari penuh
menghasilkan akar lebih panjang dan lebih bercabang. Begitu juga diperkuat ole menyatakan bahwa
tanaman anggrek yang cukup sinar matahari perakaran akan berkembang lebih baik, jumlah akar akan
banyak, ukurannya besar dan banyak bercabang. Akar keluarnya lebih awal, jadi tidak seberapa jauh dari
puncak tanaman jenis anggrek monopodial seperti Vanda, Bila cahaya matahari kurang, karena tanaman
anggrek berada dalam keadaan terlalu teduh, maka proses assimilasi akan berkurang, sehingga
hidratarang sebagai hasil proses tersebut juga kurang jumlahnya.

E. Radiasi Matahari Untuk Pengeringan Produk Pertanian

Energi surya dapat dimanfaatkan ke dalam dua bentuk yaitu pemanfaatan secara termal dan
pemanfaatan untuk listrik. Pada bidang pertanian pemanfaatan energi surya termal biasa digunakan
pada proses pengeringan bahan pertanian.

Pengeringan bisa dilakukan secara alami (penjemuran) maupun secara buatan Terdapat berbagai tipe
pengering surya yang telah berkembang saat ini, salah satunya adalah pengeringan yang menggunakan
kolektor berbentuk bangunan yang disebut dengan efek rumah kaca ERK) yang telah dikembangkan di
IPB oleh Kamaruddin dan para kolega penelitinya sejak tahun 1993 sampai saat ini secara
(berkesinambungan.

Pada prinsipnya pengeringan efek rumah kaca yaitu sinar matahari yang memiliki radiasi gelombang
panjang masuk untuk kemudian diserap oleh absorber atau komponen lain di dalam bangunan
pengering sehingga suhu absorber dan komponen tersebut akan meningkat. Radiasi yang dipancarkan
oleh absorber/komponen dalam pengering dalam bentuk gelombang panjang sehingg a sulit untuk
menembus dinding transparan. Dengan demikian, terjadi peningkatan suhu udara pengering dan udara
dihembuskan melalui produk yang akan dikeringkan. Udara yang telah lembab kemudian dikeluarkan
dari bangunan pengering.

F. Cahaya Matahari Sebagai Sumber Energi.

Matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan. Energi cahaya matahari masuk ke dalam
komponen biotik melalui produsen. Oleh produsen, energi cahaya matahari diubah menjadi energi kima
Energi kimia mengalir dari produsen ke konsumen dari berbagai tingkat trofik melalui jalur rantai
makanan.

Energi kimia yang diperoleh organisme digunakan untuk kegiatan hidupnya sehingga dapat tumbuh dan
berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan organisme menunjukan energi kimia yang tersimpan
dalam organisme tersebut. Jadi, setiap organisme melakukan pemasukan dan penyimpanan energi.
Pemasukan dan penyimpanan energi dalam suatu ekosistem disebut sebagai Produktifitas ekosistem.
Produktifitas ekosistem terdiri dari produktifitas primer dan produktifitas sekunder.

Semua organisme memerlukan energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan, reproduksi, dan pada
beberapa spesies,pengaturan energi suatu ekosistem bergantung pada produktivitas primer.
Produktifitas primer adalah kecepatan mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia dalam
bentuk bahan organik oleh organisme autotrof. Produktifitas sekunder adalah kecepatan energi kimia
mengubah bahan organik menjadi simpanan energi kimia baru oleh organisme heterotrof. Bahan organik
yang tersimpan pada organisme atotrof dapat digunakan sebagai makanan bagi organisme heterotrof.
Dari makanan tersebut, organisme heterotrof memperoleh energi kimia yang akan digunakan untuk
kegiatan kehidupan dan disimpan. Aliran energi dalam ekosistem tersebut sumber utama dan proses
pertamanya adalah cahaya matahari.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di matahari.
Ada beberapa radiasi solar, yang terpenting: radiasi elektromagnetik (yg berhubungan dengan listrik dan
magnet).

Radiasi elektromagnetik bisa dibedakan,

1. radiasi yang terlihat oleh mata kita (visible radiation) (cahaya).

2. radiasi yang dapat kita rasakan (kulit, wajah), namanya radiasi infra merah.

Fotosintesis merupakan proses biologi yang dilakukan tanaman dan organisme berklorofil untuk
menunjang proses hidupnya yakni dengan memproduksi gula (karbohidrat) pada tumbuhan hijau dengan
bantuan energi sinar matahari, yang melalui sel-sel yang ber-respirasi, energi tersebut akan dikonversi
menjadi energi ATP sehingga dapat digunakan bagi pertumbuhannya.

Radiasi matahari berperan bagi kelangsungan pertanian, yaitu sebagai proses fotosintesa bagi tanaman,
membantu kelangsungan ekosistem, sebagai sumber energi dan digunakan untuk pengeringan produk
pertanian.
DAFTAR PUSTAKA

Brington, Richard Stevens. (1973), “Handbook of Mathematical Tabel and Formulas”. Fifth Edition. Mc
Graw-Hill. New York.

Daniel, Cuthbert., Fred S. Wood dan John W. Gorman (1980). “Fitting Equations For Data”. John Wiley &
Son, New York.

Duffie, John A. and William A. Beckman, (1974). “ Solar Energy Thermal Processes” Wiley-Interscience
Publication. New York.

Exell, RHB. (1981), “A Mathematical Model for solar Radiation in South East Asia (Thailand)”. Solar Energy
26, 161 – 168.

Hoesin, Haslizen. (1983). “Simulasi Matematis Radiasi Matahari di Indonesia”. LFN-LIPI, Bandung.
Agustus.

Hoesin, Haslizen. (2000). “Model Matematis Radiasi Matahari Langit Bening dan Langit Sembarang”.
Teknik Industri – Tak Teknik, Universitas ARS Internasional, Bandung, November.

Korn, Granino A. And Theresa M. Korn (1968). “Mathematical Handbook For Scientist and Engineers”. Mc
Graw-Hill. New York.

Robinson. N (1966). “Solar Radiation”. Elsevier Publ. Company, Amsterdam.

Sharma. M. R. dan R. S. Pal. (1965) “Interrelationships Between Total, Direct and Diffuse Solar Radiation
in Tropics”. Solar Energy. Vol 9, no 4, 183 – 192.