Anda di halaman 1dari 4

SEPULUH POTENSI DIRI (Bagian Satu)

oleh: Fakhri Nurzaman

Tersimpan dalam, jauh didasar keheningan,


tak satupun tahu kecuali yang menyimpan
Amat dicari bila diketahui, sampai menjadi mati pun mereka terus
mencari,
Sungguh amat berharganya ia, tapi tidak begitu bila tidak diselami

1. INISIATIF
Inisiatif, sebuah kata yang tak asing di telinga kita, para
pelajar, terlebih khusus pelajar. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (selanjutnya disebut KBBI), inisiatif berarti usha,
tindakan, yang mula-mula, prakarsa. Seseorang yang memprakarsai
suatu pekerjaan disebut inisiator. Inisiatif itu tentunya sangat
dibutuhkan. Dalam kehidupan pribadi inisiatif dibutuhkan untuk
memenej perencanaan harian. Dilingkungan akademik inisiatif
dibutuhkan tatkala para penggiat ilmu berada dalam keadaan darurat
seperti bila guru tidak masuk karena berhalangan, dsb. Ya
minimalnya seseorang yang berinisiatif akan memanfaatkan peluang
tersebutuntuk dirinya sendiri seperti membaca buku, menulis esai
ataupun artikel. Dan yang terakhir, inisiatif sangat dibutuhkan
dalam lingkungan jam’iyyah/organisasi. Dengan adanya para
inisiator dalam suatu organisasi, walau kuantitas anggot mereka
sedikit tetapi kualitas pengaruh mereka akan jauh lebih besar
dibandingkan dengan jumlah mereka yang sedikit. bila boleh saya
menyebutkan contoh organisasi (bukan ‘ashobiyah) yang dengan
jumlah anggot yang relative sedikit dibandingkan dengan organisasi
lainnya yaitu Persatuan Islam. Organisasi ini lahir dari pemikiran
cemerlang para inisiator -istilah dalam bahasa Arab biasa disebut
mujaddid (pembaharu)- Yang memang pemikiran mereka tidak hanya
sebatas untuk “bekal esok lusa” tetapi untuk “membekali anak
cucu” mereka dimasa yang akan datang.
Kembali kepada pokok permasalahan, bahwa inisiatif itu
sangat dibutuhkan. termasuk didalamnya organisasi intern suatu
lembaga pendidikan. Baik itu RG-UG (Rijalul Ghad-ummahatul Ghad),
OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), HIMA-HIMI (Himpunan
Mahasiswa/i) dan yang lainnya, merupakan wadah yang memerlukan
inisiator dalam pergerakan mereka. peranan inisiator akan menjadi
paling urgen ketika para penggerak roda organisasi terkekang
rantai kejumudan berpikir, ketika “sang nahkoda dan awak kapalnya
terlena dengan keindahan laut lepas” tanp disadari “kapal”
mereka akhirnya menabrak batu karang dan menenggelamkan mereka
dari dunia ‘pelayaran”.
Walau begitu urgennya peran sang inisiator itu, tetap tak
dapat dipungkiri bahwa inisiator dalam lingkup keagamaan (mujaddid)
tidak akan selalu ada setiap saat di setiap generasi. Halnya
Shalahuddin al-Ayyubi yang setelah sekian lama Islam berada dalam
kekalahan Perang Salib, beliau muncul sebagai sosok yang
memperbaharui semangat para syuhada sehingga Islam kebali kepada
kejayaannya. Tapi itu bila kita melihat dari sudut pandang agama
yang memang begitu adanya. Dan yang penulis rasakan sendiri untuk
ruang lingkup yang lebih kecil (disini saya maksudkan organisasi
para peserta didik), inisiator-inisiator tersebut tidak terlihat
begitu sulit untuk dinanti kehadirannya. Walaupun penulis secaa
pribadi merasa memang belum menjadi inisiator, tetapi paling tidak
saya akan terus berjuang mengoptomalkan potensi diri agar menjadi
seorang inisiator, bukan plagiator. Perlu diperhatikan pula bahwa
inisiator bukanlah plagiator. Plagiat itu dalam KBBI diartikan
lebih kurangnya sebagai perbuatan menjiplak pekerjaan (karya)
orang lain dan mengklaim karya tersebut adalah hasilnya sendiri.
Agar menjadi instrospeksi bagi kita disaat kita telah merasa
berbuat sesuatu yang baru padahal hal tersebut sudah lama ada,
hanya kita saja yang banyak tertinggal informasi tentang hal
tersebut. Untuk itu ketelitian dalam hal ini mutlak diperlukan.

2. ADAPTASI
Adaptasi ialah proses penyesuaian makhluk hidup baik itu
hewan, tumbuhan, dan manusia sekalipun telah memiliki insting
naluriah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia
berada. Proses adaptasi ini berbeda pada tiap-tiap individu. Ada
orang yang ketika berada dalam suatu lingkungan baru dia langsung
dapat menyesuaikan dirinya dengan kondisi lingkungan sekitar, baik
itu secara geografis ataupun secara kemasyarakatannya. Adapun
tipikal orang yang ketika dia berada dalam kondisi alam dan
masyarakat yang baru sangat lama atau bahkan sama sekali tak dapat
menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan keadaan lingkungan yang
baru tersebut. teknik beradaptasi ini tentunya harus dilatih
terutama adaptasi dengan sesame manusia. Ketika kita mudah
beradaptasi, mudah pula bertambah relasi. hal ini tentu saja
sangat menguntungkan terutama bagi mereka yang aktif dalam
organisasi.
Bila kita cermati, suatu organisasi itu dalam menjalankan
program kerjanya banyak berhubungan dengan pihak lain, baik itu
perseorangan ataupun suatu lembaga. Berarti kita harus bisa melobi.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut tentunya harus dilatih
agr cakap dalam bertutur kata sehingga pihak yang kita lobi akan
memahami serta mengikuti pola piker sipelobi.