Anda di halaman 1dari 2

Trauma Kimia Pada Mata 2.2.1.

Trauma kimia mata merupakan trauma pada mata yang disebabkan substansi dengan pH yang tinggi
(basa) atau yang rendah (asam). Trauma kimia biasanya disebabkan bahan-bahan yang tersemprot
atau terpercik pada wajah.Bahan kimia dikatakan bersifat asam bila mempunyai pH < 7 dan
dikatakan bersifat basa bila mempunyai pH > 7. 1,2,6,7

2.2.2. Etiologi

Substansi kimia yang biasanya menyebabkan trauma pada mata digolongkan menjadi 2 kelompok :

1. Alkali/basa

Bahan alkali yang biasanya menyebabkan trauma kimia adalah:

a. Amonia (NH3), zat ini banyak ditemukan pada bahan pembersih rumah tangga, zat pendingin, dan
pupuk.

b. NaOH, sering ditemukan pada pembersih pipa.

c. Potassium hydroxide (KOH), seperti caustic potash

d. Magnesium Hydroxide (Mg(OH)2) seperti pada kembang.

2.2.3. Trauma Asam

A. Definisi Merupakan trauma pada mata yang diakibatkan oleh bahan kimia yang memiliki pH < 7.

2.2.4. Trauma Basa A. Definisi Merupakan trauma pada mata yang diakibatkan oleh bahan kimia
yang memiliki pH >7. 1,2,6,7

2.2.5. Gejala klinis

Beberapa gejala klinis yang dapat terjadi antara lain :

1. Penurunan visus mendadak akibat defek pada kornea berupa defek pada epitel kornea atau defek
pada lapisan kornea yg lebih dalam lagi. Akan tetapi trauma asam akan membentuk sawar presipitat
jaringan nekrotik yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. 2. Edema pada
kelopak mata yang disebabkan adanya peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Kerusakan pada
jaringan palpebra sehingga mata tidak dapat menutup sempurna dan terbentuknya jaringan parut
pada palpebra.

3. Hiperemis konjungtiva hingga dapat terbentuknya kemosis.

4. Kerusakan pada kornea dapat bervariasi dari yang paling ringan, yaitu keratitis pungtata
superfisial hingga defek epitel luas berupa erosi kornea

2.2.8. Penatalaksanaan

Trauma kimia merupakan trauma mata yang membutuhkan tatalaksana sesegera mungkin. Tujuan
utama dari terapi adalah menekan inflamasi, nyeri, dan risiko inflamasi. Tatalaksana emergensi yang
diberikan yaitu:

1. Irigasi mata, sebaiknya menggunakan larutan Salin atau Ringer laktat selama minimal 30 menit.
Jika hanya tersedia air non steril, maka air tersebut dapat digunakan. Larutan asam tidak boleh
digunakan untuk menetralisasi trauma basa. Spekulum kelopak mata dan anestetik topikal

dapat digunakan sebelum dilakukan irigasi. Tarik kelopak mata bawah dan eversi kelopak mata atas
untuk dapat mengirigasi forniks.

2. Lima sampai sepuluh menit setelah irigasi dihentikan, ukurlah pH dengan menggunakan kertas
lakmus. Irigasi diteruskan hingga mencapai pH netral (pH=7.0) 3. Jika pH masih tetap tinggi,
konjungtiva forniks diswab dengan menggunakan moistened cotton-tipped applicator atau glass rod.
Penggunaan Desmarres eyelid retractor dapat membantu dalam pembersihan partikel dari forniks
dalam.