Anda di halaman 1dari 6

TUGAS ARSITEKTUR NUSANTARA

MAKALAH ARSITEKTUR CANDI

Oleh:
Muhammad Amiruddin Wijaya (1651010034)
Imam Kholid Ubaidillah (1651010036)
Dhimas Bagus Wicaksono (1651010043)
Muhammad Mauluddin Hardianto (1651010052)
Ilham Jamal Luthfi (1651010053)

ARSITEKTUR - FAKULTAS ARSITEKTUR & DESAIN


UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2017
CANDI MUARA TAKUS

Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di desa Muara
Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini berjarak kurang
lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru.

Candi Muara Takus

Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat
dari batu putih dengan tinggi
tembok ± 80 cm, di luar
arealnya terdapat pula
tembok tanah berukuran 1,5
x 1,5 kilometer, mengelilingi
kompleks ini sampal ke
pinggir Sungai Kampar
Kanan. Di dalam kompleks
ini terdapat beberapa
bangunan candi yang disebut
dengan Candi sulung /tua,
Candi Bungsu, Mahligai
Stupa dan Palangka.
Para pakar purbakala
belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan
abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11. Namun candi
ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan
menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.
Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1933.
Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk
menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.
Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di
Sumatera, merupakan satu-satunya situs peninggalan
sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang
bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama
Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan
batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang
dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan.
Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah
liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah
hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa,
Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang
diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut. Bekas lubang
galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam
Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi
ini memang terletak pada tepian sungai.

Denah Kompleks Candi Muara Takus


Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah
stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian
besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu
pasir kuning. Di dalam situs Candi Muara Takus ini
terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi
Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka.
Selain bangunan tersebut di dalam komplek candi ini
ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai
tempat pembakaran tulang manusia. Sementara di
luar situs ini terdapat pula bangunan-bangunan
(bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa, yang
merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini
merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa. Pendapat tersebut didasarkan pada
bentuk bentuk Candi Mahligai, salah satu bangunan di kompleks Candi Muara takus, yang
menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan). Arsitektur candi
ini juga mempunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar. Candi Muara Takus
merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan.
Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tuo. Candi ini berukuran 32,80 m x
21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada. Letaknya di
sebelah utara Candi Bungsu. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut
perkiraan aslinya dihiasi stupa, sedangkan pada bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi
duduk. Bangunan ini mempunyai sisi 36 buah dan terdiri dari bagian kaki I, kaki II, tubuh dan
puncak. Bagian puncaknya telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang.
Candi Tuo dibangun dari campuran batu bata yang dicetak dan batu pasir (tuff).
Pemugaran Candi Tuo dilaksanakan secara bertahap akibat keterbatasan anggaran yang
tersedia. Pada tahun 1990, selesai dikerjakan bagian kaki I di sisi timur. Selama tahun anggaran
1992/1993 pemugaran dilanjutkan dengan bagian sisi sebelah barat (kaki I dan II). Volume
bangunan keseluruhan mencapai 2.235 m3, terdiri dari : kaki: 2.028 m3, tubuh: 150 m3, dan
puncak: 57 m3. Tinggi bangunan mencapai 8,50 m.

Bangunan kedua dinamakan Candi Mahligai.


Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran
10,44 m x 10,60 m. Tingginya sampai ke puncak
14,30 m berdiri diatas pondamen segi delapan
(astakoma) dan bersisikan sebanyak 28 buah. Pada
alasnya terdapat teratai berganda dan di tengahnya
menjulang sebuah menara yang bentuknya mirip
phallus (yoni).

Pada tahun 1860, seorang arkeolog Belanda bernama Cornel de Groot berkunjung ke
Muara Takus. Pada waktu itu di setiap sisi ia masih menemukan patung singa dalam posisi
duduk. Saat ini patung-patung tersebut sudah tidak ada bekasnya. Di sebelah timur, terdapat
teras bujur sangkar dengan ukuran 5,10 x 5,10 m dengan tangga di bagian depannya. Volume
bangunan Candi Mahligai 423,20 m3 yang terdiri dari volume bagian kaki 275,3 m3, tubuh
66,6 m3 dan puncak 81,3 m3. Candi Mahligai mulai dipugar pada tahun 1978 dan selesai pada
tahun 1983.

Bangunan ketiga disebut Candi Palangka, yang terletak 3,85 m sebelah timur Candi
Mahligai. Bangunan ini terdiri dari batu bata merah yang tidak dicetak. Candi Palangka
merupakan candi yang terkecil, relung-relung penyusunan batu tidak sama dengan dinding
Candi Mahligai. Dulu sebelum dipugar bagian kakinya terbenam sekitar satu meter. Candi
Palangka mulai dipugar pada tahun 1987 dan selesai pada tahun 1989. Pemugaran dilaksanakan
hanya pada bagian kaki dan tubuh candi, karena bagian puncaknya yang masih ditemukan pada
tahun 1860 sudah tidak ada lagi. Di bagian sebelah utara terdapat tangga yang telah rusak,
sehingga tidak dapat diketahui bentuk aslinya. Kaki candi berbentuk segi delapan dengan sudut
banyak, berukuran panjang 6,60 m, lebar 5,85 m serta tingginya 1,45 m dari permukaan tanah
dengan volume 52,9 m3.

Bangunan keempat dinamakan Candi Bungsu. Candi Bungsu terletak di sebelah barat
Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir (tuff) terdapat pada
bagian depan, sedangkan batu bata terdapat pada bagian belakang. Pemugaran candi ini dimulai
tahun 1988 dan selesai dikerjakan tahun 1990. Melalu pemugaran tersebut candi ini
dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu empat persegi panjang dengan ukuran 7,50 m x 16,28
m. Bagian puncak tidak dapat dipugar, karena tidak diketahui bentuk sebenarnya. Tinggi
setelah dipugar 6,20 m dari permukaan tanah, dan volume nya 365,8 m3.
Daftar Pustaka:

https://en.wikipedia.org/wiki/Muara_Takus
http://wisatapriangan.co.id/2148-situs-candi-muara-takus-riau.html
https://www.google.co.id/search?q=candi+di+muara+takus&source=lnms&tbm=isch&
sa=X&ved=0ahUKEwiSkOTJ-
avUAhUGkpQKHTdUBVQQ_AUIBigB&biw=1366&bih=662#imgrc=l5wAkKx0V5Zt7M:
http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-sumatra-candi_muara_takus
http://www.yukpiknik.com/riau/candi-muara-takus/