Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang sangat penting di

Indonesia. Hal ini tercermin dari komposisi penerimaan pajak negara dalam

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Penerimaan pajak negara memiliki

persentase terbesar dari total penerimaan negara secara keseluruhan. Realisasi

penerimaan pajak negara dari tahun 2007 sampai tahun 2011 mengalami

peningkatan secara berkesinambungan. Penerimaan negara tahun 2007 sebesar

69,37% dari total penerimaan negara atau setara dengan Rp 490,988.7 milyar.

Tahun 2008 total penerimaan negara adalah sebesar Rp 981,609 milyar, 67,10%

di antaranya adalah penerimaan pajak. Peningkatan pada tahun 2009 di mana

73,04% penerimaan negara berasal dari penerimaan pajak dari total Rp 848,763.4

milyar penerimaan negara. Demikian juga tahun 2010 dan 2011 di mana

penerimaan pajak sebesar 72,67% dan 72,19% dari total penerimaan negara.

Perusahaan yang merupakan wajib pajak, menganggap bahwa pajak

merupakan beban yang akan mengurangi keuntungan perusahaan. Hal tersebut

mendorong perusahaan untuk mencari cara mengurangi beban pajak. Oleh karena

itu, sangat dimungkinkan perusahaan menjadi agresif dalam perpajakan (Suyanto

et al, 2012). Menurut Frank dalam Suyanto et al (2012), agresivitas pajak

perusahaan adalah suatu tindakan merekayasa pendapatan kena pajak yang

1
2

dilakukan perusahaan baik dengan cara yang legal (tax avoidance) maupun

dengan cara ilegal (tax evasion).

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk meneliti faktor-faktor apa saja

yang mempengaruhi tingkat agresivitas pajak. Di Indonesia, Suyanto dan

Supramono (2012) serta Annisa dan Kurniasih (2012) melakukan penelitian

mengenai tindakan pajak agresif yang dilakukan oleh perusahaan. Lebih banyak

lagi, penelitian di luar negeri mengenai perilaku pajak agresif perusahaan

dilakukan oleh Liu dan Cao (2007), Hsieh (2012), Richardson dan Lanis (2007),

dan lain sebagainya.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian penelitian sebelumnya adalah tingkat

likuiditas perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Bradley (1994) serta

Siahaan (2005), dalam Suyanto dan Supramono (2012), menemukan bahwa

perusahaan dengan tingkat likuiditas yang baik cenderung lebih taat terhadap

kewajiban perpajakannya. Sementara itu temuan Suyanto dan Supramono (2012)

mengungkapkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara likuiditas dan

perilaku pajak agresif perusahaan. Setiawan (2006), dalam Suyanto dan

Supramono (2012), menyebutkan bahwa sejalan dengan peningkatan leverage,

tingkat agresivitas pajak juga ikut dipengaruhi dengan signifikan. Hal yang

berbeda diungkapkan oleh Richardson dan Lanis (2007) yang menyatakan bahwa

leverage perusahaan tidak mempengaruhi agresivitas pajak perusahaan.

Corporate Social Responsibility didefinisikan sebagai “bagaimana perusahaan

memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan dalam cara perusahaan tersebut


3

beroperasi, memaksimalkan manfaat dan meminimalkan kerugian” (Pemerintah

UK dalam KPMG, 2007). Sementara Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor

40 Tahun 2007 pasal 1 ayat 3 menyatakan bahwa tanggung jawab sosial dan

lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan

ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan

yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun

masyarakat pada umumnya. Lanis dan Richardson (2012) menjelaskan bahwa

CSR dianggap sebagai faktor kunci dalam keberhasilan dan kelangsungan hidup

perusahaan. Akan tetapi, tingkat keterlibatan perusahaan dalam mengungkapkan

CSR adalah tidak wajib.

Menurut Susiloadi (2008) terdapat dua aspek penting yang harus diperhatikan

agar tercipta kondisi sinergis antara perusahaan dan masyarakat sehingga

keberadaan perusahaan membawa perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan

taraf hidup masyarakat. Dari aspek ekonomi, perusahaan harus berorientasi

mendapatkan keuntungan dan dari aspek sosial, perusahaan harus memberikan

kontribusi secara langsung kepada masyarakat yaitu meningkatkan kualitas

kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Perusahaan tidak hanya dihadapkan

pada tanggung jawab yang berpijak pada perolehan laba perusahaan semata, tetapi

juga harus memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungannya.

Tingkat kesadaran perusahaan untuk menerapkan CSR dalam operasinya

berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Semakin perusahaan peduli

terhadap pentingnya CSR, maka perusahaan tersebut semakin sadar akan

pentingnya pajak bagi masyarakat pada umumnya. Rusydi (2009) menyatakan


4

bahwa korporasi yang menjalankan kewajiban perpajakannya tidak sesuai dengan

prinsip CSR, justru akan mengganggu sustainability dan image korporasi tersebut.

Kaitan antara CSR dengan agresivitas pajak telah diteliti oleh beberapa peneliti

seperti Watson (2011) serta Lanis dan Richardson (2012). Watson menguji

hubungan antara CSR dengan agresivitas pajak. Di mana pengukuran agresivitas

pajak menggunakan proksi baru yakni UTB (Unrecognized Tax Benefit). Hasil

yang ditemukan adalah CSR mempunyai efek mengurangi tingkat agresivitas

pajak suatu perusahaan. Sementara Lanis dan Richardson (2012) menyusun

sejumlah analisis empirik untuk mengetahui apakah pendekatan perusahaan untuk

CSR berhubungan dengan tingkat agresivitas pajak. Dengan menggunakan ETR

(Effective Tax Rates) sebagai alat pengukur agresivitas pajak, hasil regresi yang

ditemukan menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengungkapan CSR dari

suatu perusahaan, semakin rendah tingkat agresivitas pajak perusahaan tersebut.

Penelitian ini bermaksud mengintegrasikan beberapa penelitian yang telah ada

sebelumnya serta menganalisis kembali pengaruh yang ditimbulkan antara

likuiditas, leverage, dan corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak

perusahaan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu karena sampel

yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia selama periode 2015 hingga 2017.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:


5

1. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap agresivitas pajak perusahaan

manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017?

2. Apakah leverage berpengaruh terhadap agresivitas pajak perusahaan

manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2017?

3. Apakah corporate social responsibility berpengaruh terhadap tingkat

agresivitas pajak yang dilakukan oleh perusahaan tersebut?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh likuiditas terhadap agresivitas

pajak pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2015-

2017.

2. Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh leverage terhadap agresivitas

pajak pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2015-

2017.

3. Memberikan bukti empiris mengenai pengaruh corporate social responsibility

terhadap agresivitas pajak pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek

Indonesia periode 2015-2017.

1.4. Batasan Masalah

Sehubungan dengan keterbatasan waktu dalam menyelesaikan penyusunan

skripsi, maka penulis membatasi masalah penelitian difokuskan pada pengaruh

likuiditas, leverage, dan corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak


6

pada perusahaan manufaktur pada sektor makanan dan minuman yang terdaftar di

BEI pada tahun 2015 - 2017.

1.5. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, adapun manfaat penelitian yang diperoleh

adalah:

a. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya

untuk digunakan sebagai bahan referensi dan dapat memberikan informasi dan

wawasan yang lebih luas mengenai pengaruh likuiditas, leverage, dan

corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak.

b. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

perusahaan, institusi perpajakan dan pemerintah mengenai pengaruh likuiditas,

leverage, dan corporate social responsibility terhadap agresivitas pajak.


1