Anda di halaman 1dari 57

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN AR 4118

DISUSUN OLEH :

Kevin Johan / 22416066


Leonardo Calvin / 22416087
Billy Kianda / 22416139
Jefferson / 22416077
Daniel Susanto / 22416098
Kevin Ardisa / 22416171
Giovanno J / 22416172

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan


TAHUN AJARAN
2018/2019
DAFTAR ISI

Halaman Sampul
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
Bab 1 Pendahuluan
1.1. Kata Pengantar
1.2. Latar Belakang
1.3. Rumusan Masalah
1.4. Tujuan Penelitian
1.5. Manfaat Penelitian
1.6. Metode Penelitian
Bab 2 Landasan Teori
2.1. Green Building Council Indonesia
2.2. Greenship
2.3. Tolak Ukur Bangunan Hijau Di Indonesia
2.3.1. Appropriate Site Development (ASD)
2.3.2. Energy Efficiency and Conservation (EEC)
2.3.3. Water Conservation (WC)
2.3.4. Material Resources and Cycle (MRC)
2.3.5. Indoor Health and Comfort (IHC)
2.3.6. Building Environtment Management (BEM)
2.4. Kinerja Bangunan
2.4.1. Spatial Performance
2.4.2. Thermal Performance
2.4.3. Air Quality
2.4.4. Acoustic Performance
2.4.5. Visual Performance
2.4.6. Building Integrity
2.5. Material Bangunan
2.5.1. Material Berdasarkan Konsep Awal Desain
2.5.1.1. Material Bangunan
2.5.2. Material Berdasarkan Standar Sustainable Material
2.5.2.1. Material Bangunan
Bab 3 Pembahasan
3.1. Profile Bangunan
3.2 Material Bangunan
3.2.1. Konstruksi
3.2.1.1. Beton Dengan Semen Tiga Roda
3.2.1.2. Rangka atap dengan Baja Krakatau Steel
3.2.1.3. Penutup Atap dengan Bitumen Onduline
3.2.2. Building Envelope
3.2.2.1. Dinding dengan Batu Bata Merah MRH
3.2.2.2. Finishing Dinding dengan Cat Paragon
3.2.2.3. Fasad Kisi dengan Kayu Ulin
3.2.3. Interior.
3.2.3.1. Plafond dengan GRC Board Versacboard
3.2.3.2. Lantai dengan Granit Roman
3.2.3.3. Perabot dengan Kayu Meranti
3.2.3.4. Kaca dengan Tempered Glass
3.3. Analisis Kinerja Material Awal
3.3.1. Kinerja Spasial
3.3.2. Kinerja Thermal
3.3.3. Kinerja Visual
3.3.4. Kinerja Akustik
3.3.5. Kinerja Air Quality
3.4. Nilai GBCI Material Awal
3.4.1. Nilai MRC Material Awal
3.4.2. Nilai IHC Material Awal
3.5. Material Rekomendasi Bangunan
3.5.1. Konstruksi
3.5.1.1. Beton dengan Green Concrete
3.5.1.2. Rangka Atap dengan Baja Krakatau Steel
3.5.1.3. Penutup Atap dengan Bambu Sheet
3.5.2. Building Envelope
3.5.2.1. Dinding dengan bata ringan blesscon
3.5.2.2. Finishing dinding dengan propan green coating
3.5.2.3. Fasad dengan laminated bamboo
3.5.3. Interior
3.5.3.1. Plafond dengan gypsum jayaboard
3.5.3.2. Lantai dengan kayu parket laminasi
3.5.3.3. Perabot dengan kayu senggon
3.5.3.4. Kaca tempered mulia dengan laminasi Low-E
3.6. Analisis Kinerja Material Rekomendasi
3.6.1. Kerja Spasial
3.6.2. Kinerja Thermal
3.6.3. Kinerja Visual
3.6.4. Kinerja Akustik
3.6.5. Kinerja Air Quality
3.7. Nilai GBCI Material Rekomendasi
3.4.1. Nilai MRC Material Rekomendasi
3.4.2. Nilai IHC Material Rekomendasi
Bab 4 Penutup
4.1. Kesimpulan
4.2. Saran
Bab 5 Daftar Pustaka
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Skema Material Awal Bangunan


Gambar 3.2. Produk Semen Tiga Roda
Gambar 3.3. Baja sebagai Material Rangka Atap
Gambar 3.4. Brosur Material Bitumen Onduline
Gambar 3.5. Spesifikasi Atap Onduline
Gambar 3.6. Batu Bata MRH
Gambar 3.7. Cat Paragon
Gambar 3.8. Kayu Ulin
Gambar 3.9. Ilustrasi Jarak antara lokasi Kayu Ulin ke Site
Gambar 3.10. GRC Board Versaboard
Gambar 3.11. Tekstur Lantai Granit
Gambar 3.12. Tumpukan Kayu Ulin
Gambar 3.13. Ilustrasi jarak antara lokasi Kayu Meranti ke Site
Gambar 3.14. Tempered Glass
Gambar 3.15. Skema Material Rekomendasi Bangunan
Gambar 3.16. Fly Ash
Gambar 3.17. Bamboo Sheet
Gambar 3.18. Brosur Bata Ringan Blesscon
Gambar 3.19. Data Bata Ringan Blesscon
Gambar 3.20. Cat Propan Doorshield
Gambar 3.21. Material laminated bamboo
Gambar 3.22. Gypsum Jayaboard
Gambar 3.23. Tekstur Kayu Parket Laminasi
Gambar 3.24. Tumpukan Kayu Sengon
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Tabel Aspek Material Semen Tiga Roda


Tabel 3.2. Spesifikasi Baja Krakatau Steel
Tabel 3.3. Tabel Aspek Material Baja Krakatau Steel
Tabel 3.4. Tabel Aspek Material Bitumen Onduline
Tabel 3.5. Modul Batu Bata yang Digunakan
Tabel 3.6. Tabel Aspek Material Batu Bata MRH
Tabel 3.7. Tabel Aspek Material Cat Paragon
Tabel 3.8. Tabel Aspek Material Kayu Ulin
Tabel 3.9. Tabel Aspek Material GRC Board Versaboard
Tabel 3.10. Tabel Aspek Material Granit Roman
Tabel 3.11. Tabel Aspek Material Kayu Meranti
Tabel 3.12. Tabel Aspek Material Kaca Tempered Glass
Tabel 3.13. Tabel Nilai MRC Material Awal
Tabel 3.14. Tabel Nilai IHC Material Awal
Tabel 3.15. Tabel Aspek Material Beton Green Concrete
Tabel 3.16. Tabel Aspek Material Baja Krakatau Steel
Tabel 3.17. Tabel Aspek Material Bambu Sheet
Tabel 3.18. Tabel Aspek Material Bata Ringan
Tabel 3.19. Tabel Aspek Material propan Green Coating
Tabel 3.20. Tabel Aspek Material Laminated Bamboo
Tabel 3.21. Tabel Aspek Material Gypsum Board
Tabel 3.22. Tabel Aspek Material Lantai Kayu Parket
Tabel 3.23. Tabel Aspek Material Kayu Sengon
Tabel 3.24. Tabel Aspek Material Kaca Tempered Mulia
Tabel 3.25. Tabel nilai MRC Material Rekomendasi
Tabel 3.26. Tabel nilai IHC Material Rekomendasi
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan
penyertaannya, makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tak lupa juga kami ucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing kami, Ibu Feny Elsiana, S.T., M.T. yang telah
membimbing kami dalam memberikan informasi dan pengetahuan sehingga dapat terciptanya
makalah ini.
Kami berharap selanjutnya makalah kami dapat berguna bagi kelanjutan arsitektur di
Indonesia dan dapat menambah wawasan, serta pengetahuan bagi mahasiswa arsitektur yang
sedang melanjutkan studinya.
Kami juga sadar karena keterbatasan informasi dan pengetahuan kami, menjadikan
makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan penelitian ini.

1.2 Latar Belakang

Pada dasarnya, bangunan merupakan suatu hasil interpretasi dari pikiran manusia yang
diwujudkan dalam bentuk sebuah tempat berlindung atau shelter. Tempat berlindung tersebut
kemudian memiliki fungsi menjadi sebuah rumah, sekolah, panti asuhan dan sebagainya. Selain
fungsi tersebut, bangunan juga harus dapat menjadi bangunan yang berkelanjutan baik bagi
penghuni dan lingkungan dimana bangunan tersebut dibangun. Pada perkembangan arsitektur
saat ini, terkadang para pendesain terlalu terfokus hanya pada estetika dan fungsi terhadap
penggunanya saja. Sehingga, hal – hal seperti bagaimana dampak terhadap lingkungan maupun
ekosistem disekitar bangunan yang akan didirikan tersebut kurang diperhatikan oleh pendesain.
Hal ini juga mungkin dikarenakan dampak terhadap lingkungan bukan merupakan hal yang
krusial bagi Client.
Pada Arsitektur pengaruh bangunan yang dibangun terhadap lingkungan disekitarnya
sangatlah penting. Dengan bangunan tersebut memberikan dampak yang baik pada lingkungan
maupun ekosistem sekitarnya, maka dapat memberikan nilai lebih pada bangunan tersebut.
Dalam hal ini nilai lebih yang diperhatikan antara lain penggunaan bahan lokal, bahan yang
ramah dan cepat produksi, bahan yang aman bagi pengguna atau pembangun, dan juga
pemakaian bahan yang efisien. Bangunan yang memenuhi hal tersebut adalah bangunan yang
ramah lingkungan dan dapat mendapatkan sertifikat dari Green Building Council Indonesia atau
GBIC.

Pada karya ilmiah kali ini kami akan membahas material yang ramah lingkungan agar
dapat memenuhi sebagian syarat yang diberikan oleh Green Building Council Indonesia. Kami
menggunakan salah satu bangunan merancang 4 dari anggota kelompok kami yang merupakan
bangunan panti asuhan. Desain akan kami bedah untuk mengetahui bagaimana nilai GBCI pada
bangunan tersebut sebelum, dan sesudah melakukan pergantian material yang dapat memenuhi
kriteria atau syarat dari GBCI tersebut. Pergantian material tentunya tetap memperhatikan
bagaimana konsep dari desain teman kami ini, sehingga setelah dilakukan penggantian material
konsep dan tujuan awal dari desain tetap terpenuhi.

1.3 Rumusan Masalah

● Apakah material ramah itu?


● Apa pengaruh material ramah terhadap kinerja bangunan dan lingkungan sekitarnya?
● Bagaimana mengubah material yang awal menjadi material ramah pada suatu proyek
desain?
● Mengapa perlu menggunakan material ramah pada suatu proyek arsitektur?

1.4 Tujuan Penelitian


● Untuk mengetahui jenis-jenis material ramah.
● Untuk mengetahui pengaruh material ramah terhadap kinerja bangunan dan lingkungan
sekitarnya.
● Untuk mengetahui cara mengubah material yang awal menjadi material yang ramah.
● Untuk mengetahui pentingnya penggunaan material ramah pada suatu proyek arsitektur.

1.5 Manfaat Penelitian

Supaya mahasiswa yang sedang belajar arsitektur, maupun arsitek profesional di


Indonesia dapat sadar dan mengerti betapa pentingnya menggunakan material yang ramah pada
desain arsitekturnya. Agar supaya perancang di Indonesia juga mengerti perbedaan material yang
ramah, maupun tidak ramah ditinjau dari aspek lingkungan, ketahanan, lokalitas, maupun
pengaplikasiannya.

1.6 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian komparatif. Penelitian


komparatif merupakan sebuah penelitian yang membandingkan keadaan suatu variabel atau lebih
pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau dua waktu yang berbeda. Penelitian ini lebih
terpusat pada analisa perbandingan material yang digunakan pada proyek Panti Asuhan di Batu.
Material pada proses perancangan yang lama akan diteliti lebih lanjut, dan dibandingkan dengan
material baru yang lebih ramah lingkungan. Tetapi, perbandingan material ramah tersebut tidak
lepas dari standar yang diberikan oleh GBCI.
BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Green Building Council Indonesia

Lembaga Konsil bangunan hijau Indonesia atau Green building council Indonesia
(GBC Indonesia) adalah lembaga mandiri (non government) yang berkomitmen penuh
terhadap pendidikan masyarakat dalam mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan
dan memfasilitasi transformasi industri bangunan global yang berkelanjutan.

Didirikan pada tahun 2009 oleh para profesional di sektor perancangan dan
konstruksi bangunan gedung yang memiliki kepedulian kepada penerapan konsep bangunan
hijau, GBC Indonesia bertujuan untuk melakukan transformasi pasar serta diseminasi kepada
masyarakat dan pelaku bangunan untuk menerapkan prinsip-prinsip bangunan hijau,
khususnya di sektor industri bangunan gedung di Indonesia.(GBCI, 2018).

GBC Indonesia memiliki 4 kegiatan utama, yaitu : Transformasi pasar, Pelatihan,


Sertifikasi Bangunan Hijau berdasarkan perangkat penilaian khas Indonesia yang disebut
GREENSHIP.

2.2 Greenship

Greenship adalah sistem penilaian bangunan yang merupakan bentuk dari salah
satu upaya untuk menjembatani konsep ramah lingkungan dan prinsip keberlanjutan
dengan praktik yang nyata (Laila, 2014). Hadirnya perangkat rating ini diharapkan dapat
mendorong transformasi di industri bangunan, sehingga praktik-praktik ramah lingkungan
dapat diterapkan di Indonesia. Setiap bangunan yang mendeklarasikan diri sebagai
bangunan hijau akan dinilai dan disertifikasi berdasarkan kriteria-kriteria baku yang ada
dalam sistem pemeringkatan greenship. Kriteria penilaian Greenship bukan merupakan
penemuan ​baru, melainkan kumpulan dan pengelompokan dari praktik-praktik terbaik di
industri bangunan yang kemudian diidentifikasi oleh GBCI.

Sistem rating ini juga dapat mengedukasi industri bangunan dan khalayak umum
tentang aspek-aspek yang harus dipenuhi sebuah bangunan hijau. Dokumen sistem
pemeringkatan Greenship dibagi menjadi lima , yaitu Greenship Interior Space (untuk
perencanaan, operasional, dan pemeliharaan ruangan dalam gedung), Greenship Existing
Building (untuk manajemen, operasional dan pemeliharaan bangunan yang sudah
terbangun dan dioperasionalkan), dan Greenship New Building (untuk perencanaan dan
aktivitas konstruksi bangunan baru dalam tahap desain), Greenship Homes ( untuk
perencanaan dan konstruksi perumahan ) dan Greenship neighbourhood (mewujudkan
kawasan yang berkelanjutan dan ramah bagi penggunanya).
(GBCI , 2018).

2.3 Tolak ukur bangunan hijau di Indonesia

Menurut GBC Indonesia (2018), Perangkat tolok ukur dalam kaitannya dengan
gedung ramah lingkungan adalah perangkat penilaian untuk menilai peringkat bangunan
terhadap pencapaian konsep bangunan ramah lingkungan. Untuk perangkat tolok ukur
bangunan hijau di Indonesia, GBC Indonesia mengeluarkan sistem rating yang dinamakan
greenship. Greenship dipersiapkan dan disusun oleh Green Building Council Indonesia
dengan mempertimbangkan kondisi, karakter alam serta peraturan dan standar yang
berlaku di Indonesia. Berikut 6 kategori Greenship:

2.3.1 Appropriate Site Development (ASD)


Kategori ini mencakup akses ke sarana-sarana umum, pengurangan kendaraan
bermotor, penggunaan sepeda, lansekap tumbuhan hijau, heat island effect, pengurangan
beban volume limpasan air hujan, site management, perhatian terhadap bangunan atau
sarana di sekitarnya.
2.3.2 Energy Efficiency and Conservation (EEC)
Kategori ini mencakup optimalisasi efisiensi penggunaan energi pada bangunan,
komisioning ulang pada peralatan pengkondisian udara, penghematan energi pada sistem
pencahayaan dan pengkondisian udara, pencatatan dan pengawasan penggunaan energi,
operasi dan perawatan peralatan AC, penggunaan energi terbarukan dan pengurangan
emisi energi.

2.3.3 Water Conservation (WC)


Kategori Water Conservation meliputi sub metering konsumsi air, pemeliharaan
dan pemeriksaan sistem plambing, efisiensi penggunaan air bersih, pengujian kualitas air,
penggunaan air daur ulang, penggunaan sistem filtrasi untuk menghasilkan air minum,
pengurangan penggunaan air dari sumur dalam dan penggunaan kran auto stop.

2.3.4 Material Resources and Cycle (MRC)


Kategori ini mencakup penggunaan refrigerant, penggunaan materi yang ramah
lingkungan, pengelolaan sampah, pemilahan sampah, pengelolaan limbah B3 dan
penyaluran barang bekas.

2.3.5 Indoor Health and Comfort (IHC)


Kategori ini mencakup kualitas udara ruangan, pengaturan lingkungan asap
rokok, pengawasan gas CO2 dan CO, pengukuran kualitas udara dalam ruang,
pengukuran kenyamanan visual, pengukuran tingkat bunyi dan survei kenyamanan
gedung.
2.3.6 Building Environment Management (BEM)
Kategori ini mencakup inovasi peningkatan kualitas bangunan, tersedianya
dokumen-dokumen tentang bangunan yang lengkap, adanya tim yang menjaga prinsip
green building dan pelatihan dalam pengoperasian dan perawatan aspek-aspek green
building secara lengkap.

Masing-masing kategori terdiri atas beberapa kriteria yang mengandung point


nilai (credit point) dengan muatan tertentu dan akan diolah untuk menentukan penilaian.
(GBCI, 2018).

2.4 Kinerja bangunan

2.4.1 Spatial performance


kinerja dari bangunan yang berhubungan dengan kenyamanan penghuni
dalam menggunakan ruangan yang tersedia untuk melakukan segala aktivitasnya
tanpa mengalami hambatan-hambatan. Spatial performance dipengaruhi oleh
beberapa faktor penentu yaitu , desain tiap ruangan dan perabotnya ,kesatuan dari
tiap ruangan, penyediaan kenyamanan dan servis.desain untuk kenyamanan.H.P.
Chandra, et. al (2001)

2.4.2 Thermal performance


kinerja dari bangunan yang berhubungan dengan kenyamanan suhu dalam
ruangan dimana penghuni dapat merasakan suhu yang sesuai dengan kemampuan
tubuh untuk beradaptasi. Thermal performance dipengaruhi oleh beberapa faktor
penentu yaitu temperatur udara dan pencahayaan , warna kaca dan dinding,
pergerakan udara pada permukaan dinding, porositas material dan keberadaan
material seperti kaca. H.P. Chandra, et. al (2001)
2.4.3 Air Quality
kualitas udara yang terdapat dalam ruangan dimana tersedia cukup
oksigen sehingga terdapat kandungan udara segar yang bisa menciptakan
kenyamanan bagi penghuninya dalam bernafas. Indoor air quality dipengaruhi
oleh beberapa faktor penentu yaitu pergerakan udara segar, Polusi akibat
timbulnya energi dan masa dan keberadaan ventilasi udara.H.P. Chandra, et. al
(2001).

2.4.4 Acoustic Performance


kinerja bangunan untuk menciptakan suasana yang bebas dari kebisingan
sehingga penghuni dapat melakukan percakapan atau mendengarkan sesuatu
dengan jelas tanpa ada distorsi. Acoustical performance dipengaruhi oleh
beberapa faktor penentu yaitu, jarak sumber suara, tipe plafon dan partisi
penghalang, orientasi bangunan, letak bangunan dan dimensi ruang.H.P. Chandra,
et. al (2001).

​ 2.4.5 Visual Performance


kinerja bangunan untuk menciptakan keadaan dimana tersedia cukup
cahaya agar penghuni dapat melihat obyek-obyek di dalam ruangan dengan
nyaman dan tanpa harus menggunakan alat bantu. Visual performance
dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu yaitu , Ambient & task lighting levels
illuminance, contrast & brightness ratio, color rendition ,bentuk dan proporsi
suatu ruangan.H.P. Chandra, et. al (2001).

​ 2.4.6 Building Integrity


kemampuan bangunan untuk menyokong material, komponen, dan
bagian-bagian struktur yang menopang bangunan agar dapat bertahan dari
serangan alam dan buatan manusia baik dari dalam maupun luar selama bangunan
tersebut masih layak digunakan. Building integrity dipengaruhi oleh beberapa
faktor penentu yaitu , mempertahankan gedung dalam aspek sructural properties,
mempertahankan gedung dalam aspek physical properties . mempertahankan
gedung dalam aspek visible properties.H.P. Chandra, et. al (2001).

2.5 Material Bangunan

Dalam penggunaan material yang digunakan harus dapat memenuhi standar


seberapa sustainable atau berkelanjutan material tersebut, untuk mendapatkan hasil yang
paling baik kedalam bangunan tersebut maupun sesudah bangunan tersebut tidak
beroperasi lagi maupun beralih fungsi.

Berikut merupakan material yang diaplikasikan kedalam bangunan yang telah


ditentukan pada awal awal konsep desain, maupun material yang telah diubah untuk
memenuhi kriteria sustainable material :

2.5.1 Material Berdasarkan Konsep Awal Desain

Berikut merupakan material yang diaplikasikan sesuai dengan konsep


bangunan tanpa ditinjau berdasarkan standar material yang sustainable.

2.5.1.1 Konstruksi
Penggunaan material semen bertegangan K225 merupakan
perekat material lain sehingga memiliki ikatan misalnya batu bata
dan lainnya sehingga menjadi suatu kesatuan dan juga sebagai
material dasar pondasi, rangka atap baja IWF adalah baja
berkualitas tinggi ​yang bersifat ringan dan tipis​, penutup atap
menggunakan material bitumen onduline atau atap aspal yang
dipasang menggunakan multipleks dan dapat diaplikasikan dengan
struktur atap baja maupun kayu dan bentuknya pun bisa mengikuti.

2.5.1.2 Building envelope


Batu bata merah MRH merupakan salah satu unsur dalam
bangunan dalam konstruksi bangunan yang terbuat dari tanah liat,
air dan material tambahan lain lalu ​dipress d​ engan tekanan tertentu
sehingga memiliki kekuatan yang lebih, finishing dinding
menggunakan cat tembok paragon yang memiliki ketahanan
terhadap cuaca luar yaitu merupakan ​cairan kental yang digunakan
untuk melindungi permukaan suatu objek dengan cara melapisinya​,
penggunaan kisi kayu ulin yang berasal dari Kalimantan
merupakan kayu yang sangat kuat dan tahan terhadap cuaca.

2.5.1.3 Interior
GRC Board Versaboard merupakan material campuran
semen dengan fibreglass yang dibuat dengan dicetak atau precast
dengan ketebalan yang kecil, lantai granit merupakan ​merupakan
jenis batuan beku yang memiliki sifat asam ​sebagai finishing lantai
bangunan karena memiliki kesan elegan dan memiliki dimensi
yang besar, perabot kayu meranti merupakan hasil alam dari
Kalimantan yang memiliki sifat keras sehingga tahan lama, kaca
tempered glass mulia merupakan kaca clear yang dipanaskan
hingga mencapai titik didih 700 drajad C sehingga setelah diproses
kaca tersebut meiliki ketahanan yang lebih dari kaca biasa.

2.5.2 Material Berdasarkan Standar Sustainable Material


Berikut merupakan material yang dipilih berdasarkan standar sustainable
material yang telah ditentukan berdasarkan analisis.
2.5.2.1 Konstruksi
Material pengganti beton menggunakan green concrete
dimana memiliki grade ramah lingkungan yang menggunakan abu
sisa pembakaran batu bara pada PLTU (​fly ash​), penggunaan
struktur atap tetap sama menggunakan baja krakatau steel sebagai
material utamanya, penutup atap menggunakan bambu sheet atau
bambu lembaran merupakan hasil produksi lokal, penggunaan
bambu sheet juga dikarenakan pertumbuhan bambu yang cepat.

2.5.2.2 Building envelope


Dinding dengan bata ringan blesscon ​merupakan material
berbahan dasar semen dan dalam produksinya menghasilkan
pori-pori atau gelembung udara, sehingga memiliki bobot yang
cenderung ringan tetapi memiliki dimensi yang lebih besar yaitu
600x200x125, finishing dinding menggunakan cat propan green
coating yang memiliki sertifikasi green dan memiliki ketahanan
cuaca yang baik dan berbahan dasar air, fasad juga menggunakan
laminated bamboo a​ tau bambu laminasi yang merupakan bahan
baku terbarukan produksi lokal, yang dalam proses pembuatannya
dilaminasi dengan teknologi cold press.

2.5.2.3 Interior
Penggunaan plafond ​dengan gypsum jayaboard merupakan
material yang terdiri dari gypsum dan kertas sebagai pengikatnya
memiliki ketebalan 9mm dan dapat melendut hingga 2 mm,
penggunaan material kayu parket laminasi sebagai lantai bangunan
material yang berupa potongan-potongan kayu yang dipress
menjadi kesatuan, perabot interior menggunakan kayu sengon
dimana memiliki pertumbuhan yang cenderung lebih cepat dan
merupakan produksi lokal pasuruan, kaca laminasi low-e
merupakan clear glass yang dilaminasi dan memiliki ketebalan 6
mm, pada teorinya kaca tersebut dapat menghambat radiasi panas
matahari yang masuk kedalam bangunan lebih baik.
BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Profile Bangunan

Sebuah panti asuhan yang berlokasi di Batu, Jawa Timur merupakan sebuah
panti asuhan dengan konsep ​Educational Park dimana, setiap tatanan massa dan juga
bangunannya memiliki interaksi yang kuat dengan pengguna khususnya anak-anak.
Konsep dari panti asuhan ini muncul berdasarkan karakteristik penghuni panti
asuhan, yaitu anak remaja laki-laki yang berumur berkisar 12-16 tahun. Karakter
remaja yang suka hal-hal yang menantang, senang untuk saling berinteraksi satu
dengan lainnya, rasa ingin tahu yang tinggi, waktu dimana mencari jati diri.
Kecenderungan ini yang dicoba oleh perancang untuk diakomodasi menjadi sebuah
konsep dari panti asuhan ini. Bangunan yang sangat terbuka, massa panti asuhan
sendiri yang terdiri dari 5 massa menjadi seperti 1 massa, sehingga tidak ada
blok-blok yang membuat mereka menjadi tidak dapat berinteraksi. Untuk
mengakomodasi rasa ingin tahu yang besar juga dapat diarahkan ke pencarian yang
positif, mereka diajak untuk dapat mencari pengetahuan sebanyak mungkin sehingga
terdapat lab komputer dan perpustakaan, juga mereka dilatih untuk berwirausaha
sehingga juga terdapat bisnis kebun yang dapat mereka olah sendiri. Alasan-alasan
inilah yang membuat konsp yang atraktif, dan menjadikan semua yang terdapat di
dalam site menjadi elemen lanskap.
Panti Asuhan ini terdiri dari 5 massa pendukung yang berfungsi sebagai tempat
tinggal panti dan penjaga, 1 massa utama yang berfungsi sebagai ruang makan,ruang
tamu, kantor, perpustakaan, dan ruang serbaguna. Juga terdapat 1 massa yang
berukurn kecil dengan fungsi ruang utilitas ar dan listrik. Dibangun di lahan
berkontur yang cukup dinamis dengan tatanan massa yang mengikuti hirarki dari
kontur, tercipta ruang luar yang cukup luas untuk menampung kegiatan dari
penghuni panti asuhan. Fasilitas dari panti asuhan yang terdapat di ruang luar adalah
amphitheater, lapangan olahraga, ruang-ruang komunal, kebun, ada lapangan parkir
mobil dan sepeda motor. Massa utama sebagai fokus pembahasan, akan dianalisis
dari segi material yang digunakan apakah sudah memenuhi standar-standar dari
GBCI.
3.2 Material Awal Bangunan

​Gambar 3.1 Skema Material Awal Bangunan

Pembedahan material awal bangunan dibagi menjadi 3 tahap yaitu secara konstruksi,
building envelope, dan interior. Material awal dipilih berdasarkan kesesuaian pada
konsep dan tidak terlalu memperhatikan aspek ​green.

3.2.1 Konstruksi

3.2.1.1 Beton dengan Semen Tiga Roda


Beton sebagai material struktural penopang bangunan dan juga pondasi,
menggunakan mutu standar yakni K225. Semen merupakan salah satu penyumbang
polutan karbon yang cukup besar. Menjadikan material ini kurang ramah saat
proses produksi. Sedangkan jika ditinjau dari aspek lainnya, material ini sudah
ramah.
​Gambar 3.2 Produk Semen Tiga Roda

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.1 Aspek Material Beton dengan Semen Tiga Roda

3.2.1.2 Rangka Atap dengan Baja Krakatau Steel

​Gambar 3.3 Baja sebagai Material Rangka Atap

Baja digunakan sebagai rangka atap pada bangunan menggunakan baja IWF dengan
dimensi 500 x 200 mm.
Kelebihan dan kekurangan dari penggunaan baja sebagai material konstruksi atap
adalah dikarena bentang mencapai 20 meter, maka penggunaan baja lebih baik
karena memiliki kemampuan tarik dan tekan yang lebih baik. Baja memiliki massa
jenis lebih kecil dari pada beton sehingga beratnya cukup ringan. Untuk modul baja
yang dipakai adalah 12 meter, maka terdapat sisa baja yang tidak terpakai, sehingga
berujung pada besaran biaya yang harus dikeluarkan.
Berikut spesifikasi dari baja yang digunakan:

​Tabel 3.2 Spesifikasi Baja yang Digunakan Rangka Atap dengan Baja Krakatau Steel

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.3 Aspek Material Baja Krakatau Steel

3.2.1.3 Penutup Atap dengan Bitumen Onduline


​Gambar 3.4 Brosur Material Bitumen Onduline

Bitumen atau genteng aspal sebagai penutup atap dipilih pada bangunan ini
karena alasan tertentu yaitu karena ringan, beban konstruksi atap tidak terlalu
banyak menopang beban dari bitumen karena bobotnya yang hanya 1/6 dari berat
genteng keramik. Karena digunakan untuk ruang serbaguna, maka kekedapan
suara dapat dicapai dengan penggunaan atap bitumen. Warna yang dapat
disesuaikan dengan komposisi warna bangunan. Kekurangan yang utama untuk
mempertimbangkan bitumen adalah harga yang cukup mahal. Hal ini disebabkan
oleh penggunaan multipleks sebagai penguat struktur.

​Gambar 3.5 Spesifikasi Atap Onduline

Aspek Material + -

Proses Produksi v
Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.4 Aspek Material Bitumen Onduline

3.2.2 Building Envelope

3.2.2.1 Dinding dengan Batu Bata Merah MRH

​Gambar 3.6 Produk Bata Merah MRH

Sebenarnya penggunaan batu bata merah ini cukup umum digunakan karena
cukup murah dan sangat menjaga kelokalitasannya dikarenakan masih
menggunakan teknologi yang tradisional. Batu bata yang digunakan berasal dari
trowulan karena terbukti secara kualitas dari tanah liatnya. Beberapa hal yang
dipertimbangkan atas penggunaan batu bata merah adalah dari segi pemasangan,
perekatan batu bata merah ini perlu menggunakan semen sebagai agregat
perekatnya. Permasalahan utamanya adalah semen pada proses pembuatannya
menghasilkan polutan CO2 yang cukup besar ke bumi dikarenakan proses
pemanasan semen dengan suhu yang cukup tinggi, sehingga tidak ramah
lingkungan. Selanjutnya adalah tekstur batu bata yang tidak rata menyebabkan
diperlukan plester dan acian yang sama-sama menggunakan semen sebagai bahan
dasarnya. Batu bata yang digunakan adalah MRH.
Modul batu bata yang digunakan pada bangunan:

​Tabel 3.5 Modul Batu Bata yang digunakan

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.6 Aspek Material Batu Bata Merah MRH

3.2.2.2 Finishing Dinding dengan Cat Paragon


Cat ini memiliki ketahanan terhadap cuaca luar, dan murah. Namun, belum memiliki
sertifikasi low VOC, sedangkan salah satu syarat material sustainable adalah cat
yang sudah memiliki sertifikasi low VOC. Aplikasinya pada keseluruhan

Gambar 3.7 Cat Paragon

Aspek Material + -
Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.7 Aspek Material Cat Paragon

3.2.2.3 Fasad Kisi dengan Kayu Ulin

​Gambar 3.8 Material Kayu Ulin

Kayu Ulin yang dipilih berasal dari Kalimantan tepatnya dari CV. Radja Maiwa
dengan kelebihan dan kekurangan yaitu pertimbangan utama penggunaan kayu
ulin adalah, ketahanannya terhadap perubahan cuaca terutama pada iklim lembab
seperti Indonesia, sehingga aplikasinya cocok digunakan untuk kisi-kisi bangunan
dan juga pada area Batu dengan curah hujan yang tinggi. Sedangkan kekurangan
pertama yang membuat kayu ulin perlu dipertimbangkan kembali adalah harganya
yang cukup mahal dikarenakan populasinya yang semakin menurun. Selanjutnya
adalah diperlukan konstruksi tambahan untuk menopang jenis kayu ini karena
massanya yang cukup besar dan aplikasi kisi-kisi yang cukup panjang pada
bangunan sehingga berakibat pada membengkaknya biaya. Lokasi kayu yang
cukup jauh juga dari lokasi site, diperkirakan jaraknya sekitar 1700 km yang
membuat perlu alat transportasi tambahan yang berujung pada biaya dan
lokalitasnya.

Gambar 3.9 Ilustrasi jarak antara lokasi kayu ulin ke site

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.8 Aspek Material Kayu Ulin

3.2.3 Interior
3.2.3.1 Plafond dengan GRC Board Versaboard
​Gambar 3.10 GRC Board Versaboard

Plafon ini berbahan dasar semen, dipilih pada bangunan pada awalnya karena
beberapa kelebihan yaitu kedap suara. Ukuran yang digunakan adalah 1200 x 2400
mm serta ketebalan 9mm. Kekedapan suara diperlukan untuk area serbaguna
sehingga dengan menggunakan GRC diharapkan mampu meningkatkan kekedapan
suara walaupun tidak signifikan. Kedua adalah tidak mudah bocor akibat rembesan
air dikarenakan curah hujan di kota Batu yang cukup tinggi. Alasan mengapa perlu
mempertimbangkan kembali penggunaan GRC board adalah jika mengacu pada
konsep ramah lingkungan, bahan dasar semen menjadi permasalahan. Kembali lagi
pada permasalahan polutan CO2 yang dihasilkan oleh pembakaran semen.

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.9 Aspek Material GRC Board Versaboard

3.2.3.2 Lantai dengan Granit Roman


Gambar 3.11 Tekstur Lantai Granit dMarmi Travertino

Material granit memberikan kesan elegan. Granit tile yang digunakan


adalah Roman dMarmi Travertino GT942054R. Ukuran modul granit yang
digunakan berukuran 90 x 45 mm dan termasuk ukuran yang besar, mengesankan
ukuran ruang yang lebih besar. Tekstur lantai granit ini adalah ​finishing matte.
Kelemahan yang menjadi ciri khasnya adalah dari segi biaya akan meningkat
serta tidak tahan terhadap panas matahari dan hujan. Pori-pori besar, sehingga
susah untuk dihilangkan jika terkena noda terlalu lama, terlebih banyak terdapat
anak-anak yang menggunakan gedung ini. Perlu perawatan lebih untuk menjaga
tetap baik. Material dasar granit juga didapat dari kawasan sekitar lokasi proyek.

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
​Tabel 3.10 Aspek Material Granit Roman

3.2.3.3 Perabot dengan Kayu Meranti


​Gambar 3.12 Tumpukan Kayu Meranti
Kayu ini memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap cuaca, walaupun
tidak sebaik kayu merbau. Sifatnya yang keras membuatnya tahan lama dan
sangat baik digunakan untuk produk perabot yang akan digunakan di lokasi
seperti untuk meja makan, rak buku dan kursi. Untuk interior, kayu meranti
dinilai cukup baik karena memiliki serat kayu yang menarik. Namun, sumber
material berada pada Kalimantan Timur (1700 km). Jaraknya sangat jauh dari
lokasi proyek.

Gambar 3.13 Ilustrasi jarak antara lokasi kayu meranti ke site

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v
Bersertifikasi v
​Tabel 3.11 Aspek Material Kayu Meranti

3.2.3.4 Kaca dengan Tempered Glass Mulia

​Gambar 3.14 Material Tempered Glass


Kaca float biasa yang telah ditingkatkan kekuatannya dengan cara
dipanaskan sampai titik didih tertentu (sekitar 700’C) kemudian didinginkan
secara mendadak dengan semburan udara dingin pada kedua sisinya, sehingga
akan terjadi perubahan gaya tarik dan tekan dari kaca tersebut. Membuat kaca
tersebut tahan terhadap benturan, dapat diaplikasikan tanpa pada pintu utama,
partisi, maupun jendela tanpa frame. Kaca yang digunakan berasal dari merk
dagang Mulia dengan ketebalan 6mm. Kaca tempered yang dipilih memeiliki
kelemahan yaitu harga yang cukup mahal

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.12 Aspek Material Kaca Tempered glass
3.3 Analisis Kinerja Material Awal

Desain diharapkan bisa sesuai dengan konsep sang arsitek pada proses
perancangan. Hal tersebut dapat tercermin dari materialnya. Setiap pemilihan
material tersebut akan mempengaruhi kinerja bangunan yang akhirnya akan
berpengaruh pada kesesuaian konsep tersebut.

3.3.1 Kinerja Spasial


Sesuai dengan konsep yang bebas, atraktif dan terbuka, maka bentukan
massa utamapun diatur agar mendukung konsep awal. Spasial yang terbentuk di
dalam bangunan sangat menarik karena terasa luas karena dari dalam bangunan
dapat melihat ruang luar dengan menggunakan material dinding yang transparan,
membuat suasana yang terbuka, bebas dan lega. Dari permainan ketinggian lantai
dan penggunaan material kaca mengelilingi setiap sisi pada tiap ruang di setiap
lantai membuat setiap orang yang terdapat di dalam ruang merasakan suasana
luar ruang yang menarik karena didukung oleh view, mendukung suasana yang
lega dan bebas.
Suasana yang elegan ingin banyak ditampilkan oleh perancang, sehingga
di dalam interiorpun, perancang menggunakan material granit. Dengan ukuran
modul yang besar dan motif yang baik akan mendukung kesan mewah. Juga
terdapat beberapa area penutup lantai yang menggunakan kayu, untuk tidak
meninggalkan kesan alami. Banyak sekali material interior yang juga
menggunakan kayu yaitu meranti, karena walaupun material alami, tetapi meranti
dinilai cukup baik dan dapat menimbulkan kesan elegan melalui finishingnya.

3.3.2 Kinerja Thermal


Jika dilihat dari kinerja thermal pada bangunan ini, maka dapat dilihat
memiliki kecenderungan untuk memiliki suhu di dalam ruangan yang tidak
berbeda jauh dengan suhu di luar ruangan. Hal ini karena masih banyak
menggunakan material yang mudah meneruskan radiasi matahari ke dalam
ruangan juga material yang menyerap panas. Sebagai salah satu contoh
penggunaan atap bitumen terlalu menyerap panas, dan bidang kaca yang terlalu
luas sehingga banyak meneruskan radiasi matahari. Tetapi hal ini sudah dikurangi
dengan adanya pemberian shading di setiap bukaan jendela, baik berupa second
skin, kanopi, maupun kantilever lantai di atasnya membuat radiasi yang masuk
dikurangi intensitasnya. Untuk shading sendiri menggunakan bermacam-macam
material, mulai dari kayu pada kisi-kisi yang memiliki timelag tinggi, penggunaan
dak beton yang memiliki timelag rendah dan konsol pada atap bamboo sheet yang
memiliki timelag tinggi.
Untuk mengurangi banyak kecenderungan dari penggunaan material yang
berpengaruh terhadap meningkatnya suhu di dalam ruangan, maka diberi
banyaknya bukaan sehingga terjadi banyak alira udara yang cukup besar,
sehingga dapat mengurangi suhu panas yang terdapat di dalam ruangan keluar.
3.3.3 Kinerja Visual
Secara keseluruhan karakter bangunan akan sangat ditentukan oleh
penggunaan material kisi-kisi dan juga atap. Namun hal pertama yang mencolok
adalah komposisi bangunan yang melingkar mengikuti garis kontur sehingga
terkesan memfokuskan pandangan menuju bangunan, sehingga fasad depan
sangat menentukan ekspresi bangunan. Jika ditelaah lebih lanjut, terlihat pada
tampak depan bangunan, ekspresi bangunan didominasi oleh penggunaan
kisi-kisi. Dalam kasus ini penggunaan kayu ulin sebagai kisi-kisi menguatkan
kesan elegan yang alami dengan penggunaan warna yang cenderung gelap akibat
finishing matte
Dominasi lainnya adalah dari bentukan atap yang cukup curam yaitu
sekitar 45 derajat, sehingga material penutup atap juga ikut berperan dalam
membentuk bangunan. Hal ini bitumen sebagai material penutup atap jelas
menampilkan kesan kontemporer dikarenakan teksturnya yang cenderung
seamless dari kejauhan.
Sedangkan dominasi ketiga adalah penggunaan bukaan-bukaan yang full
dari batas plafon hingga lantai dan penggunaan kusen aluminium yang
membingkai tipis serta material kaca yang memenuhi fasad lantai 2menambah
kesan kontemporer semakin kuat lagi, sehingga secara keseluruhan kean yang
didapat adalah kesan alami yang kontemporer.

3.3.4 Kinerja Akustik


Sistem akustik pada bangunan dapat dilihat dari masing-masing ruangan.
Untuk ruang yang terdapat di ruang makan, karena menggunakan kaca yang
memiliki daya pantul suara yang cukup tinggi, penggunaan granit yang juga
memiliki permukaan material dapat memantulkan, juga ruangan yang sangat
tinggi sehingga dari dindingpun juga mudah untuk memantulkan suara. Dalam hal
ini akan berakibat adanya pemantulan suara yang dapat tercipta gaung di dalam
ruangan.
Untuk penerusan suara yang rendah menggunakan batu bata sebagai
penyekat antar ruangan,. Dari material atap, juga dapat dilihat dari intrinsik
material sendiri yang memiliki density tinggi, sehingga memperkecil penerusan
suara. Tetapi untuk pembatas ruang dalam dan luar banyak menggunakan
material kaca mengakibatkan suara yang ditimbulkan di ruangan tersebut mudah
diteruskan ke luar bangunan. Demikian juga suara yang berasal dari luar akan
mudah untuk diteruskan ke dalam ruangan.
Untuk di ruang perpustakaan akan memiliki akustika yang cukup baik,
karena posisinya yang terdapat di lantai paling bawah, dan di ketiga sisinya
langsung bersentuhan dengan tanah sehingga mempunyai daya serap yang cukup
baik. Suara noise dari luarpun hanya masuk dari area amphitheatre. Dindingnya
banyak menggunakan beton bertulang, dan batu bata sehingga memiliki daya
serap yang cukup tinggi, dan tidak diteruskan dalam intensitas yang besar. Untuk
ketinggihan ruanganpun tidak begitu tinggi sehingga tidak mengakibatkan
pantulan suara yang berlebihan.
Sistem akustika di ruang serbaguna memiliki kinerja yang cukup baik, hal
ini dikarenakan minimnya pemantulan suara yang berlebihan. Walaupun
penggunaan material kaca di sekeliling ruangan, tetapi bagian terbesar dari
ruangan adalah ruang atap yang tidak disekat denganplafon. Sehingga suara tidak
hanya diteruskan ke samping tetapi uga ke agian atas bangunan yang cukup tinggi
dan memiliki material penutup yang mudah meneruskan suara keluar, bukan yang
memantulkan suara dalam jumlah besar. Noise yang akan masuk paling besar dari
kaca-kaca sekeliling bangunan yang dekat dengan jalan raya. Tetapi hal ini dapat
diminimalisir karena letak ruang serbaguna yang terdpat di lantai 2, sehingga oise
yang masuk dari jalan raya tidak terlalu besar.
3.3.5 Kinerja ​Air Quality
Sistem penghawaan dari bangunan ini sangatlah baik, karena sangat
mementingkan airflow/ sirkulasi udara yang sangat baik. Banyaknya bukaan yang
berseberangan (crossventilation) dengan ukuran bukaan yang luas sangatlah
berdampak pada kecepatan sirkulasi udara. Sistem void juga sangat berpengaruh
terhadap aliran udara yang tidak hanya terjadi secara horizontal, tetapi secara
vertikal. Hal ini sangat berdampak juga pada kesejukan dan kelembapan yang
cukup baik di dalam bangunan.
Untuk ruang serbaguna dengan sistem penghawaan menggunakan AC
dinilai dapat mengurangi lapisan ozon dan dapat menyebabkan efek rumah kaca
yang berkelanjutan. Penggunaan Air Conditioner ini diperlukan untuk menjaga
kondisi thermal dan kelembapan di dalam ruangan, karena dipakai untuk acara
dengan orang banyak, dan dengan AC dapat mengondisikan kualitas udara di
dalam ruang, sedangkan jika dengan penghawaan alami sangat terpengaruh
kondisi alam.
3.3.6 Building Integrity
Dari segi kesinambungan antar elemen bangunan, dapat terlihat bahwa bangunan
memiliki kesinambungan antara konsep struktur, visual yang menyatu. Konsep
elegen menjadi pengunci disini, dikarenakan juga site nya yang juga berada di
daerah Batu dan penggunaan elemen elemen arsitektur seperti kisi-kisi,
penggunaan kaca dsb. Mungkin dari segi bentukan yang dibuat sedikit atraktif
yaitu dengan mengikuti garis konturnya, sehingga kombinasi aksen geometris dan
sirkular juga cukup kontras disini. Sehingga dilihat secara keseluruhan, bangunan
ini berhasil menciptakan suatu komposisi yang berani berbeda, namun mungkin
perlu penyempurnaan dalam kesan yang ditunjukan dari materialnya, dikarenakan
penggunaan material modern dan tradisional cukup banyak bercampuran.

3.4 Nilai GBCI Material Awal

3.4.1 Nilai MRC Material Awal

Tabel 3.13 Tabel Nilai MRC material awal


Pada tabel bagian pertama tidak terdapat satu pun penggunaan material bekas pada
material awal bangunan ini. Kemudian, juga tidak terdapat penggunaan material yang ramah
lingkungan, tidak bersertifikat sistem manejemen lingkungan.Bangunan ini juga tidak
menggunakan bahan utama dari sumber terbarukan sehingga mendapat skor 0 pada keduanya.
Kemudian pada tabel bagian kedua dikarenakan AC masih menggunakan freon R22 sehingga
masih terdapat ( ODP = 0.05; GWP = 1810 ). Bahan kayu pada bangunan juga tidak bersertifikat,
tidak menggunakan material prefabrikasi. Namun, pada MRC 6.2 80% material menggunakan
material dari Indonesia, walaupun tidak dalam radius 1000 km. Sehingga dalam tabel 2 scoring
yang didapat hanya 1 point yaitu pada 80% bagian material yang digunakan ada dalam kawasan
Indonesia. Setelah melihat tabel diatas dapat disimpulkan ​penilaian MRC yang didapat : (1
dari 14)

3.4.2 Nilai IHC Material Awal

Tabel 3.14 Tabel Nilai IHC material awal

Semua material pada bangunan baik cat, kayu tidak memiliki label / sertifikat dari GBC
Indonesia. Sudah tidak terdapat material bangunan yang mengandung asbestos, namun belum
memikirkan penggunaan lampu yang sesuai dengan GBC. Setelah melihat tabel diatas dapat
disimpulkan ​penilaian IHC yang didapat : (0 dari 10)

3.5 Material Rekomendasi Bangunan


Gambar 3.15 Skema Material Rekomendasi Bangunan

Material rekomendasi dibedah berdasarkan konstruksi, building envelope, dan


interior. Pembagian kategori ini dibuat sama dengan material awal supaya tidak
membingungkan pembaca.
Setiap penggantian material ini didasarkan pada standar GBCI yang berfokus
pada penggunaan material ramah.

3.5.1 Konstruksi

3.5.1.1 Beton dengan Green Concrete


Mutu beton yang digunakan sama dengan sebelumnya, namun semen sebagai
material utama pembentuk beton diganti sebagian dengan menggunakan fly ash,
dimana fly ash berasal dari hasil pembakaran batu bara pabrik maupun PLTU.
Sedangkan untuk material lain seperti pasir, kerikil tetap sama dengan komposisi
beton konvensional. Beton dicetak langsung di lokasi tanpa melalui proses
precast. Penggunaan fly ash pada beton adalah komposisi fly ash yang digunakan
tidak 100 % dikarenakan masih belum ada standar yang jelas tentang komposisi
untuk kualitas beton tertentu sehingga komposisi 25 % dirasa mencukupi untuk
percobaan awal pengganti bahan baku semen. Dengan penggunaan fly ash,
konsep green dapat tercapai karena mengurangi polutan CO2 yang dihasilkan
dalam produksi semen.

​Gambar 3.16 Fly Ash sebagai Bahan Dasar Green Concrete

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.15 Tabel Aspek Material Beton green concrete

3.5.1.2 Rangka Atap dengan Baja Krakatau Steel


Ukuran baja yang digunakan sama dengan material sebelumya yaitu 500x200 mm
dengan pertimbangan penutup atap yang ringan sehingga tidak diperlukan
dimensi yang terlalu besar. Baja yang digunakan adalah baja BJ41 dikarenakan
bentang nya yang cukup lebar 20 meter. Produsen Krakatau Steel cukup terbukti
dalam hal kualitas, dimana produsen Kraktau Steel merupakan BUMN yang jelas
lebih terjamin standarnya.

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.16 Tabel aspek material baja krakatau steel

3.5.1.3 Penutup Atap dengan ​Bamboo Sheet

​Gambar 3.17 Material Bamboo Sheet

Bambu sheet ini digunakan untuk penutup atap dengan ketebalan yang cukup
tipis, sehingga mempunyai kemampuan untuk dibentuk dengan
bentukan-bentukan organik. Lembaran dari bambu ini memanjang sampai
belakang sehingga saat dipasang pada atap, membentuk shape seperti kipas.
Bambu yang dipakai adalah bambu Petung dari Bali dengan laminasi untuk
ketahanan terhadap cuaca.

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.17 Tabel aspek material bambu sheet

3.5.2 Building Envelope

3.5.2.1 Dinding dengan Bata Ringan Blesscon

​Gambar 3.18 Brosur Bata Ringan Blasscon

Bata ringan pada dasarnya menggunakan semen sebagai bahan bakunya, namun
dengan alasan pertimbangan bobot struktur dan juga kerapian maka bata ringan
lebih menguntungkan. Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam penggunaan
bata ringan adalah dari segi biaya. Penggunaan plester yang lebih sedikit dan juga
karena ukurannya yang lebih besar maka pengerjaan lebih cepat sehingga akan
berdampak pada biaya. Bata ringan yang digunakan adalah dari produsen
Blesscon.
Gambar 3.19 Data bata ringan blesscon

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.18 Tabel aspek material bata ringan blesscon

3.5.2.2 Finishing Dinding dengan Propan Green Coating


Cat yang dipilih adalah cat yang bersertifikasi. Disini digunakan produk cat dari
Propanraya, dimana menggunakan Propan Decorshield. Dipilih karena sifatnya yang
cukup tahan terhadap cuaca dan yang terpenting untuk pemenuhan standar ramah
lingkungan, cat ini menggunakan air sebagai bahan dasarnya. Cat ini menggunakan 100%
acrylic. Selain eksterior, interior juga mengaplikasikan cat yang sama.
​Gambar 3.20 Produk Cat Propan Doorshield

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.19 Tabel aspek material propan green coating

3.5.2.3 Fasad dengan ​Laminated Bamboo

Menggunakan bambu memiliki keuntungan yaitu sebagai material rekomendasi


didasarkan pada keuntungannya sebagai material yang mudah terbaharui.
Penggunaan bambu sebagai fasad memerlukan laminasi berbahan kimia khusus
untuk menambah daya tahannya terhadap perubahan cuaca. Laminasi
menggunakan teknologi Cold Press, dimana perekat ditekan pada suhu yang
cukup rendah hingga melapisi seluruh bagian dari permukaan material. Perekat
yang digunakan adalah perekat khusus untuk laminasi outdoor yaitu ​polymer
​ engawetan bambu menggunakan bahan borac-boric dengan
isosynate. P
perbandingan 1:1.4 karena diperlukan untuk kebutuhan konstruksi dengan
konsentrasi 10 %. Setelah menggunakan teknologi press beserta bahan perekat
polymer isosynate, bambu cukup kuat jika dijadikan bagian dari struktur
bangunan.

​Gambar 3.21 Material Laminated Bamboo

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.20 Tabel aspek material laminated bamboo

3.5.3 Interior

3.5.3.1 Plafond dengan Gypsum Jayaboard


Plafon gypsum yang digunakan berasal dari produsen Jayaboard. Dipilih karena
lokasi pabrik yang cukup dekat yaitu di daerah Gresik dengan lokasi site dan
kualitas dari kertas pelapis gypsum yang cukup baik, dimana kertas berfungsi
untuk elemen struktural dari plafon gypsum. Ketebalan yang digunakan adalah
9mm. Standar yang diterapkan Jayaboard cukup baik dalam hal kelendutan yaitu
sekitar 2mm.

​Gambar 3.22 Gypsum Jayaboard

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.21 Tabel aspek material gypsum jayaboard

3.5.3.2 Lantai dengan Kayu Parket Laminasi


Kayu parket yang dipilih menggunakan produsen Zebrano dimana, motif yang
dipilih adalah cherry rain. Ukuran yang digunakan adalah 197 x 1215 mm. Jenis
kayu parket yang dipakai bukan kayu solid, melainkan kepingan kayu yang di
press menjadi satu kesatuan. Cara pemasangan nya juga cenderung mudah yaitu
dengan klicking tiap kayu parketnya. Hal ini berdampak pada harga yang lebih
murah, namun tidak mengorbankan daya tahannya. Diaplikasikan pada seluruh
lantai bangunan.

Gambar 3.23 Tekstur Kayu Parket Laminasi

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.22 Tabel aspek material lantai kayu parket

3.5.3.3 Perabot dengan Kayu Sengon


Kayu sengon dipilih karena lokasinya yang cukup dekat dengan lokasi proyek
yaitu di daerah Pasuruan. Selain itu, teksturnya yang cukup lunak sehingga mudah
dibentuk menjadi perabotan. Lifecycle nya yang relatif pendek menyebabkan
harganya cukup murah. Umur dari kayu yang digunakan sekitar umur 4 tahun.
​Gambar 3.24 Tumpukan Kayu Sengon

Aspek Material + -

Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.23 Tabel aspek material kayu sengon

3.5.3.4 Kaca Tempered Mulia dengan Laminasi Low-E


Kaca yang digunakan sama dengan sebelumnya, namun kali ini menggunakan
laminasi low-E. Kaca clear glass yang digunakan berwarna silver dengan
ketebalan 6 mm sehingga dihasilkan nilai U sekitar 1.7 W/(m2.k) dan nilai
shading coefficient adalah 0,32, dimana jika dibandingkan dengan kaca tempered
biasa kaca ini memiliki performa dalam menolak panas yang jauh lebih baik
namun mampu memasukan cahaya dengan maksimal. Harga nya yang cukup
mahal menyebabkan penggunaan hanya terbatas pada beberapa area seperti area
barat dan juga bagian timur.

Aspek Material + -
Proses Produksi v

Jarak dengan Lokasi v

Harga v

Aplikasi pada Proyek v

Lokalitas v

Bersertifikasi v
Tabel 3.24 Tabel aspek material kaca tempered mulia

3.6 Analisis Kinerja Material Rekomendasi


Pemilihan material yang yang memiliki nilai keberlanjutan yang lebih tinggi diperlukan
dengan melihat penilaian dari GBCI. Setelah ditinjau, maka banyak mateial bangunan yang dapat
diganti dan direkomendasikan material yang baru. Tentu banyak kinerja dalam bangunan yang
berpengaruh setelah diubahnya material-material tersebut.

3.6.1 Kinerja Spasial


Jika dibandingkan akan material yang lama dengan yang baru setelah
diganti, secara umum tidak mengubah spasial yang signifikan, karena masih
banyak yang menggunakan material yang sama, hanya berbeda jenis atau nuansa.
Secara khusus perbedaannya dapat dilihat dari perubahan material atap. Kondisi
atap yang curam tetapi berada pada ketinggihan yang cukup tinggi membuat
siapapun yang melihat dengan setara mata manusia tidak akan langsung terfokus
pada bagian atap. Untuk material penutup atap yang baru yaitu menggunakan
material alami yang memilikinuansa coklat juga sangat masuk dengan nuansa
pada kisi-kisi kayu di lantai 3 yang sangat mencolok, terutama jika dilihat dari
bagian depan bangunan.
Spasial di dalam ruanganpun menjadi cukup baik karena penggunaan
material penutup lantai kayu parket membuat kesan alami dari bangunan semakin
menonjol sehingga lebih terasa pada bangunan yang berada ditengah alam.
Bukaan-bukaan yang terdapat di sekeliling bangunan tidak diubah sehingga tetap
pada konsep yang ingin membuat orang yang berada di dalambangunan terasa
bebas dan lega.

3.6.2 Kinerja Thermal


Kinerja thermal pada bangunan dengan material yang baru, cukup
membuat perbedaan pada nilai penerusan panas ke dalam ruangan di dalamnya.
Hal ini dikarenakan setiap material memiliki nilai u yang berbeda-beda, dan
timelag yang berbeda-beda. Untuk material atap yang menggunakan bamboo
sheet yang memiliki daya untuk meneruskan panas yang lebih tinggi dari bitumen,
dan timelag yang lebih tinggi membuat ruang di bawahnya semakin panas, tetapi
hal ini dapat diantisipasi dengan adanya ruang yang cukup tinggi dan bukaan yang
banyak sehingga membuat udara panas dapat cepat keluar. Tetapi timelag yang
cukup tinggi dibutuhkan di wilayah tropis.
Untuk dinding batu bata ringan memang memiliki density yang lebih kecil
dibanding batu bata merah. Tetapi perbedaan ini tidak cukup signifikan. Dengan
menggunakan dinding batu bata memiliki timelag lebih tinggi, membuat di siang
hari, tidak langsung meneruskan panas. Permukaan dinding yang memiliki luas
yang cukup besar dalah dinding kaca, tetapi hal ini tidak mengubah konsep awal
yang dapat diantisipasi dengan adanya shading.

3.6.3 Kinerja Visual


Jika dilihat dari luar, maka bangunan akan tetap baik secara visual, karena
perbedaan yang terjadi dari sebelumnya hanya pada bagian atap, yang berubah,
tetapi tetap mempertahankan kesan material alami yang sangat sesuai dengan
adanya kisi-kisi pada lantai 3. Yang juga bewarna coklat. Di bagian interior
material yang berubah adalah penutup lantai yang berarti akan menampilkan
kesan alami yang begitu menonjol, tetapi pengadaan kayu ini dapat tetap
menampilkan kesan elegan, karena bergantung pada finishing dan jenis serat
kayunya. Pada furnitur di dalam ruang tidak berubah secara signifikan.

3.6.4 Kinerja Akustik


Degan digantinya material yang baru memungkinakan adanya penurunan
kinerja akustika. Hal ini dapat dilihat dari bata ringan yang diletakkan sebagai
penyekat antar ruangan yang memiliki daya meneruskan suara yang lebih besar,
dari ataupun bitumen memiliki kinerja akustik yang lebih baik dibanding bamboo
sheet. Tetapi pemilihan material ini dilakukan untuk meningkatkan dari segi nilai
keberlanjutan dan mencapai green building.

3.6.5 Kinerja ​Air Quality


Penghawaan alami dinilai lebih baik karena ramah lingkungan, dan sesuai
dengan konteks di dataran tinggi yang dinilai tidak terlalu panas. Dengan adanya
material yang baru, tidak mengubah secara signifikan kinerja air quality. Yang
membedakan kinerja air quality yang lama dengan yang baru adalah penggunaan
Air Conditioner yang menghasilkan CFC yang lebih rendah

3.6.6 Building Integrity

Integritasnya sebagai bangunan yang elegan semakin terlihat dari


penggantian material yang baru, dominasi penggunaan bambu pada fasad dan atap
menambah aura yang keseluruhan pada bangunan, ditambah lokasi site yang
berkontur menunjukan semakin kuat kesan alaminya, sehingga kombinasi antara
site, bentuk kontur, bentuk bangunan dan juga pemilihan material menguatkan
kesatuan bangunan sebagai bangunan yang memegang prinsip alami dan elegan.
3.7 Nilai GBCI Material Rekomendasi
3.7.1 Nilai MRC Material Rekomendasi

Tabel 3.25 Tabel nilai MRC material rekomendasi

Pada tabel bagian pertama yaitu MRC 1 tetap sama seperti awal desain sehingga tidak
mendapat tambahan poin. Kemudian, untuk MRC 2.3 mendapatkan scoring 1 dikarenakan
menggunakan atap bambu sheet dikarenakan bambu memiliki masa panen yang cepat. Lalu pada
tabel MRC 3.1 menggunakan AC non CFC Mitsubishi yang tidak merusak ozon dikarenakan
menggunakan freon tipe R32 (ODP = 0 ) sehingga mendapatkan scoring 2. Lalu, MRC 4.1
menggunakan kayu parket yang bersertifikat sehingga mendapatkan scoring 1. Kemudian MRC
5.1 menggunakan baja modular dari yang sebelumnya tidak modular sehingga mendapatkan
scoring 3. MRC 6.1 menggunakan kayu sengon yang memiliki jarak dibawah 1000 km sehingga
mendapat scoring 1, pada MRC 6.2 tersebut sama mendapat scoring 1 dikarenakan semua bahan
yang digunakan adalah bahan lokal. Setelah melihat tabel diatas dapat disimpulkan ​penilaian
MRC yang didapat : ​(10 dari 14)
3.7.2 Nilai IHC Material Rekomendasi

Tabel 3.26 Tabel nilai IHC material rekomendasi

Pada IHC 1.1 mendapat scoring 1 karena adanya penggantian material beton menjadi
green concrete, GRC menjadi plafon gypsum, lalu bata merah menjadi bata ringan yang
mengurangi penggunaan semen yang berpengaruh terhadap CO2. Kemudian, pada IHC 3.1
menggunakan cat merk propan decoshield sehingga mendapat skoring 1. Lalu, pada IHC 3.3
dikarenakan menggunakan lampu LED sehingga kandungan merkurinya rendah, sehingga
mendapatkan skoring 1. Setelah melihat tabel diatas dapat disimpulkan ​penilaian IHC yang
didapat : (3 dari 10)
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari building performance yang telah dianalisis sebelumnya menggunakan material


rekomendasi, secara keseluruhan mungkin terjadi beberapa penurunan kinerja. Bisa
disebutkan seperti akustika bangunan yang tidak lebih baik dari penggunaan GRC board dan
atap bitumen, Visual bangunan yang sebelumnya lebih banyak menggunakan material
mewah, diganti dengan material yang lebih sederhana. Namun juga ada beberapa kinerja
bangunan yang lebih baik dibanding sebelumnya yaitu seperti penggunaan kaca low-e untuk
meningkatkan kinerja termalnya, kemudian juga dengan penggunaan CFC untuk AC yang
lebih ramah lingkungan. Memang fokus tujuan penggantian material lebih ditujukan kepada
aspek ramah lingkungan dan kemudahan lainnya. Pengurangan kadar CO2 yang lebih
banyak direduksi karena penggunaan material berbahan semen yang dikurangi, kemudian
juga ditinjau dari aspek lokalitas, jarak material dengan site dan aspek kontinuitas yang
diperhatikan dari tiap material, memberikan value lebih dan keawasan tersendiri terhadap
pemilihan material, sehingga tidak hanya menciptakan kesan bangunan yang lebih
bersahabat, namun juga baik dalam segala aspek.

4.2 Saran

Dalam perancangan bangunan terutama di Indonesia, aspek lingkungan sangat perlu


untuk diperhatikan, mengingat lingkungan di Indonesia sudah terancam karena kepadatan
penduduknya yang terlalu berlebihan. Arsitek sebagai perancang memiliki peran penting
dalam membangun masa depan Indonesia, bahkan dunia.
Sebagai arsitek, karya yang dibangun haruslah merespon lingkungan dan tidak
melupakan nilai lokalitas maupun kontekstualnya. Namun, bukan berarti melupakan material
sebagai salah satu aspek yang akan mempengaruhi lingkungan di sekitar bangunan proyek
sang arsitek.
BAB 5
DAFTAR PUSTAKA
Sekilas tentang baja ringan. (2018). ​Retrieved December 12, 2018, from
https://leibel.co.id/sekilas-tentang-bata-ringan/
Bentuk Flat Kaca Emisivitas Rendah, Tebal 4mm - 12mm Kaca Tinted E Rendah.
(2018). ​Retrieved December 12, 2018, from
http://indonesian.temperedsolarglass.com/sale-10160898-flat-shape-low-emissivity-glass-4
mm-12mm-thickness-low-e-tinted-glass.html
Prasetyo, Ginandjar. (2015). Tinjauan kuat tekan beton Geopolymer dengan Fly Ash
sebagai pengganti sistem. Retrieved December 12, 2018, from
http://eprints.ums.ac.id/36082/24/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
Dekoruma. (2018). Kenali plus minus lantai parket. Retrieved December 12, 2018,
from ​https://www.dekoruma.com/artikel/63145/plus-minus-lantai-parket
Cat tembok eksterior dan primer . (2018). Retrieved December 12, 2018, from
https://www.propanraya.com/id/produk/cat-tembok-eksterior-primer
Hamzah, Zaiful. (2017). Baja struktur bj 34. Retrieved December 12, 2018, from
http://www.rajabesibajakonstruksi.com/tag/baja-struktur-bj-34/
Lamudi. (2014). Pengertian baja ringan dan beberapa alasan memilih baja ringan .
Retrieved December 12, 2018, from
https://www.lamudi.co.id/journal/pengertian-baja-ringan-dan-beberapa-alasan-memilih-baja-
ringan/
Pengertian cat dan jenis cat. (2018). Retrieved December 12, 2018, from
https://www.klinklin.id/pengertian-cat-dan-jenis-jenis-cat/
GREEN BUILDING COUNCIL INDONESIA - Home. (2018). Retrieved from
http://www.gbcindonesia.org/
Jual Lantai Kayu Parket ZEBRANO dengan harga terbaik. (2017). Retrieved
November 12, 2018, from ​http://greenfloor.co.id/parket_laminate/zebrano/
Pintardi Chandra, H. (2001). Retrieved from
https://www.researchgate.net/publication/38101037_ANALISIS_HUBUNGAN_SISTEM_B
ANGUNAN_DENGAN_KINERJA_TOTAL_DAN_INTEGRASI_BANGUNAN_PADA_
BERBAGAI_GEDUNG_BERTINGKAT_DI_SURABAYA
sindriani, l. (2012). GREEN CONCRETE. Retrieved from
https://lilisftunda.wordpress.com/2012/02/08/green-concrete/
BLESSCON bata ringan terbaik untuk properti Anda. (2018). Retrieved from
https://www.blesscon.co.id/
Fikriyadi, Z. (2015, November 1). Pemeringkatan Bangunan Hijau Berdasarkan
Standar Green Building Council Indonesia Kategori Existing Building. Retrieved December
12, 2018, from
http://zakariyaarif.web.ugm.ac.id/2015/11/01/pemeringkatan-bangunan-hijau-berdasarkan-st
andar-green-building-council-indonesia-kategori-existing-building/
Retrieved from ​http://eprints.polsri.ac.id/3153/3/BAB%20II.pdf
Retrieved from ​http://digilib.unila.ac.id/7133/15/BAB%20II.pdf