Anda di halaman 1dari 10

Arsitektur Yunani

Masyarakat Yunani cinta pada keindahan (seni) yang tidak mengarah pada hal-hal yang berlebihan (penuh

penahanan diri dan prestasi). Karya seni yang penuh penahanan diri tersebut menghasilkan “keseimbangan” yang

sempurna serta “keutuhan” yang seterusnya disebut sebagai “klasik”. Karya seni diperuntukkan bagi persembahan

pada dewa-dewanya.

Paham tentang seni dan arsitektur adalah :

 Kepolosan

 Keanggunan

 Kegunaan

Karakter Arsitektur

Arsitektur Aegea ( 3000 - 1100 BC)

Arsitektur di pulau Kreta dan Mikena serta pulau lain disekitarnya berbeda dengan karakter arsitektur di daratan Yunani.

Penduduk kepulauan tersebut berasal dari Asia Kecil yang berimigrasi ke pulau Kreta dan sekitarnya serta membawa

budaya asalnya.

Bangunan rumah tinggal menggunakan atap datar yang merupakan typical daerah timur, sedangkan cahaya

dimasukkan melalui celah-celah lubang atap. Ruang menggunakan “Cella”, yaitu ruang yang keempat sisinya tertutup

(massif dengan satu sisi sebagai bukaan (pintu).

“Megaron” adalah unit rumah tinggal dengan fasilitas sebagai berikut :

 Berbentuk cella yang dilengkapi dengan lobby/vestibule.

 Entrance dan serambi depan yang mengarah kedalam.

 Thelamus (ruang tidur) yang diletakkan dibagian paling belakang.

Bahan bangunan :

 Memakai batu pecah ataupun batu gamping/gibs yang dikeraskan untuk lapisan lantai.

 Bata yang dikeringkan untuk dinding

 Atap memakai kayu.


Arsitektur Yunani Daratan (650 – 30 BC)

Ada dua phase peradaban Yunani Daratan, yaitu :

1. Phase Hellenic

2. Phase Hellenistic

Phase Hellenic (650 – 323 BC)

 Karakter masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kepercayaan dan seni, sehingga kuil menjadi bagian yang

terpenting. Pada mulanya kuil mengambil bentuk dasar dari Megaron selanjutnya dikembangkan.

 Konstruksi utama memakai system kolom (tiang) dan balok (gelagar).

 Bentuk-bentuk dari konstruksi kayu ditiru pada bahan yang lain yaitu marmer “Carpentry in marble” mulai tahun

600 BC.

 Dinding memakai bata yang dikeringkan atau dengan terakota.

 Penyelesaian eksterior lebih dipentingkan karena masyarakat Yunani berkosentrasi pada elemen yang cocok

dengan iklim serta masyarakat pemakainya (masyarakat Yunani senang dengan udara terbuka) terutama Kuil

dan Agora.

 Hubungan dengan dewanya terjadi di udara terbuka dengan angin yang berhembus sepoi melalui “Collonade”

yaitu barisan tiang yang menopang atap pada serambi memanjang serta “Portico” yaitu barisan tiang penopang

atap pada serambi depan (memendek), sebagai ucapan selamat datang dengan permainan bayangan gelap

terang oleh tiang (kolom) gaya Doric yang tertimpa sinar matahari.

Phase Hellenistic (323 – 30 BC)

 Pada tahun 480 BC Persia menghancurkan Yunani, Akropolis kota diatas bukit sebagai kompleks bangunan suci

juga ikut hancur. Oleh Perikles pemimpin Yunani, Athena dibangun kembali.

 Pada phase ini banyak dibangun public building (bangunan umum) yang berkembang sangat pesat, bervariasi

dan berkesan megah.

 Banyak dibangun “Stoa” yaitu teras memanjang bertiang banyak yang menghubungkan antara bangunan yang

satu dengan yang lainnya serta berfungsi sebagai tempat untuk diskusi yang beratap agar terhindar dari hujan

dan terik matahari. Stoa merupakan pasangan dari “Agora” yaitu tempat untuk pertemuan umum di luar juga

sekaligus sebagai pasar bagi masyarakat Yunani (terutama di Athena).


Bangunan pada masa Yunani

Propilae di Akropolis Athena

Merupakan gerbang ke tempat-tempat suci di Akropolis dan sekaligus juga sebagai tempat pagelaran seni dan tempat

pertemuan umum. Gayanya mengandung campuran antara tiang corak Doric dan Ionic yang terbuat dari batu pualam

setempat yang diambil dari gunung Pentelikus di dekat Athena. Pualam ini berubah warna menurut perubahan cahaya

matahari dari warna emas dan coklat ke merah jambu kelabu.

Agora

Agora merupakan tempat umum yang dipakai untuk tempat berkumpulnya masyarakat kota, semacam alun-alun yang

berfungsi sebagai pasar.


Stoa

Suatu bangunan memanjang (teras) dengan banyak tiang yang fungsinya untuk tempat masyarakat umum berteduh

dari hujan ataupun panas, merupakan pasangan agora yang terbuka juga untuk menghubungkan antar bangunan.

Akropolis

Komplek bangunan suci yang terletak di puncak/ tempat tertinggi di Athena, paling atas dipakai sebagai kuil/ tempat

tinggal dewa-dewi yunani.


Theater

Merupakan bangunan terbuka setengah lingkaran yang menempel pada lereng-lereng gunung (karena belum ada

teknologi untuk penyelesaian konstruksi yang berdiri sendiri dengan skala besar), dengan batu cadas yang dibuat

berundak-undak sebagai tempat duduk, dan berakhir pada stage yang digunakan sebagai area persembahan yang

berbentuk lingkaran.

Fungsi bangunan tersebut adalah untuk persembahan drama tari dan nyanyi bagi dewa Dionisious (Dewa Seni).

Agar suaranya dapat didengar oleh seluruh warga yang menjalani upacara persembahan tersebut, maka dengan

membentuk area seperti gentong (sistem akustiknya), persoalan suara dapat diatasi.
Order Langgam
Ada beberapa langgam yang dapat dikenali pada arsitektur Yunani (dari masa kebudayaan Aegea sampai dengan

Hellenistik), yaitu:

Langgam Doric

Merupakan langgam yang berasal dari daerah Doria, merupakan kepala tiang tanpa hiasan (polos), lengkung

sederhana dan tanpa alas pada dasar tiangnya, sehingga langsung menempel pada lantai.

Langgam Ionic

Merupakan langgam yang berasal dari pesisir yaitu ionia, kepala tiangnya mengambil bentuk noctilus (kerang besar).
Bentuknya melingkar pada kedua sisinya, sedangkan pada dasar tiang memakai alas.

Langgam Corinthian

Merupakan langgam dari daerah pegunungan mengambil alih bentuk-bentuk alam (flora) daun Achantus. Pada dasar

tiang menggunakan alas, bertumpu pada lantai berundak.