Anda di halaman 1dari 15

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati paling
tinggi di dunia. Keanekaragaman hayati yang terkandung di hutan Indonesia meliputi
12% spesies mamalia, 7,3% spesies reptil dan amfibi, serta 17% spesies burung dan
9 % ikan dari seluruh dunia (Jasin, 1984). Dunia hewan terbagi dalam dua subfilum
yaitu subflumum hewan tidak bertulang belakang (avertebrata) dan subfilum hewan
bertulang belakang (vertebrata). Pada hewan bertulang belakang terbagi lagi kedalam
lima kelas hewan yaitu kelas Aves (Burung), Pisces (ikan), Reptil (melata), Amphibi
(hidup dua alam) dan Mamalia (menyusui). Khususnya pada hewan kelompok reptil
keadaaan lingkungan tempat hewan itu tinggal sangat mempengaruhi hewan tersebut,
kebanyakan hewan kelas ini berdarah dapat ditemui hampir di seluruh daerah kecuali
pada daerah kutub (Villee, 1988).
Reptil merupakan herpetofauna yang paling beragam dan paling moderen.
Hewan ini mendiami hampir keseluruhan permukaaan bumi, mulai dari utara sampai
ke selatan (tidak termasuk daerah kutub). Kemampuan beradaptasi yang tinggi
menyebabkan reptil mudah menyesuaikan hidup pada habitat yang berbeda(Goin,
Goin and Zug.). Reptilia adalah vertebrata dengan kulit kering, tertutup oleh sisik-
sisik atau papan-papan epidermal, mempunyai mata yang berkelenjar yang menjaga
agar mata tetap basah. Otak dengan serebrum yang lebih besar dibandingkan dengan
serebrum pada ikan atau amibia, sebagian besar reptilia mempunyai 12 pasang saraf
karnial. Reptilia bernafas dengan paru-paru yang strukturnya lebih kompleks dari
amfibia (Brotowidjoyo, 1994).
Anatomi berasal dari bahasa yunani yang tersusun dari kata ana yang berarti
susunan dan tome yang berarti memotong, sehingga anatomi merupakan salah satu
cabang ilmu biologi yang mempelajari dan berhubungan dengan struktur dan
organisasi dari makhluk hidup, sedangkan morfologi adalah salah satu cabang ilmu
biologi yang mempelajari susunan, bentuk, struktur eksternal dari makhluk hidup
(Campbell, 2002)
Anatomi dari reptilia terdiri dari beberapa sistem yaitu: sistem integument
pada reptilia umumnya tidak mengandung kelenjar keringat. Sistem respirasi, pada
umumnya reptilia mempunyai trachea yang panjang dimana dindingnya disokong
oleh sejumlah kartilago. Laring terletak diujung anterior trakea. Kearah posterior
trachea membentuk percabangan menjadi bronchus kanan dan bronchus kiri yang
masing-masing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri. Pada beberapa bentuk,
bagian internal pulmo terbagi tidak sempurna menjadi dua bagian yaitu bagian
anterior berdinding saccuter sedangkan bagian posterior berdinding licin, tidak
bervasculer dan berfungsi terutama untuk reservoir. Pada ular, umumnya pulmo
mempunyai lekukan-lekukan yang asimetris (Yatim, 1987).

1
Ular (Ophidia) mempunyai karakteristik morfologi yaitu tidak mempunyai
kaki, hewan ini dapat bergerak maju dengan pertolongan musculus undulans yang
ada disebelah lateral tubuh dan karena pergerakan dari squamae yang terletak
disebelah ventral dan tersusun transversal. Contoh dari sub ordo ini dalah
Dendrolaphis sp. Dengan ciri-ciri mempunyai membrane tympani, palpebrae tidak
ada, mata ditutup oleh membrana nictitans yang tetap dan transparan (Radiopoetoro,
1996).
Kadal (Mobouya multifasciata) masuk dalam karakteristik morfologi dan
anatomi antara lain kuku panjang, tapi kurang dari 30 cm, kaki 4 buah yang kadang-
kadang tereduksi atau hilang sama sekali. Mandibula menyatu di bagian anterior,
tulang kuadrat berkontrak dengan pterigoid, sehingga terbukanya mulut terbatas
(tidak seperti ular). Kelopak mata biasanya dapat digerakan. Kadal (Mabouya
multifasciata) memiliki lidah yang ujungnya bercabang dan mengeluarkan kelenjar
lidah, bagian yang paling spektakuler dari sistem pencernaan reptile adalah lidah
yang ujungnya bercabang (Brotowidjoyo, 1994).
Penelitian ini berfungsi ntuk meningkatkan pengetahuan dibidang anatomi
dan morfologi reptilia khususnya ordo squamata yang mana hal tersebut berguna
untuk mahasiswa biologi menjadi rujukan saat melakukan tugas akhir dan penelitian,
metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah dilakukan dengan beberapa
tahap agar mendapatkan hasil yang relevan.

1.2 Tujuan
1.untuk mengetahui karakter morfologi Dendrelaphis pictus dan Mabouya
multifasciata
2. untuk mengetahui karakteristik dan struktur anatomi tubuh Dendrelaphis pictus
dan Mabouya multifasciata
3. untuk mengetahui sistem tubuh pada Dendrelaphis pictus dan Mabouya
multifasciata

2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menyeseuaikan diri ditempat yang


kering di tanah. Penandukan atau cornificatio kulit dan squama atau carpace
berfungsi untuk menjaga banyak hilangnya cairan dari tubuh pada tempat yang
kering atau panas. Nama kelas ini diambil dari model cara hewan berjalan (Latin :
reptum yang berarti melata atau merayap) dan studi tentang reptilian di sebut
Herpetology (jelata atau merayap) dan (Yunani :creptes = reptil) (Jasin, 1984).
ukuran reptilian itu bervariasi, reptilia terbesar (fosil) adalah dari ordo Dinosaurus.
Contohnya adalah Brontosaurus (25 m), Diplodocus (hampir 30 m) dengan berat
kira-kira 25-35 ton. Reptile yang hidup sekarang juga memiliki variasi ukurannya
kelas reptilia memiliki 4 ordo yaitu Chelonia, Rhychocephalia, Squamata, dan
Crocodilia (Brotowidjoyo, 1994).
Reptilia mempunyai kepala, hidung, badan, ekor, dan 4 kaki. Tiap kaki terdapat
5 jari cakar dan memiliki indera penglihatan dan pendengaran yang baik. Telinga
terdiri dari membran timpani dan pada telinga tengah terdapat tulang kolumela.
Reptil mempunyai 3 kelopak mata yang dapat bergerak dan lidah yang bercabang.
Badan terdiri atas caput, cervix, truncus, dan cauda. Caput berbentuk agak
piramidal, meruncing kearah dorsal dan memipih dalam arah dorsoventral. Caput
terdapat rima oris yang dibatasi oleh labium superius dan inferius. Organum visus
dilindungi oleh palpebra superior dan inferior yang keduanya dapat digerakkan.
Cervix (collum), truncus, dan convex lebih panjang, pada bagian dorsal berwarna
cokelat kekuningan dan pada bagian ventral berwarna putih (Sukiya, 2005).
Reptilia memiliki ciri khusus yaitu tubuhnya dibungkus oleh kulit yang
menanduk (tidak licin) biasanya dengan sisik atau bercarapace; beberapa ada yang
memiliki kelenjar permukaan kulit. Mempunyai dua pasang anggota gerak, yang
masing-masing 5 jari dengan kuku-kuku yang cocok untuk lari, mencengkram dan
naik pohon. Reptil yang masih hidup di air kakinya mempunyai bentuk dayung, dan
pada ular bahkan tidak memiliki kaki. Skeletonnya mengalami penulangan secara
sempurna; tempurung kepala mempunyai satu condylus occipitalis. Jantung tidak
sempurna, terdiri atas 4 ruangan, dua auricular dan sebuah ventericulus (pada
crocodalia titemukan sepasang namun masih berlubang yang disebut foramen
panizzae). Terdapat oval biconvex dan dengan nukleus. Pernapasannya selalu dengan
paru-paru; pada penyu juga bernapas dengan kloaka, memiliki 12 nevri cranialis,
fertilisasi terjadi di dalam tubuh, biasanya mempunyai alat kopulasi ; telur besar
dengan banyak yolk, selaput kulit lunak atau becangkok tipis. Telur biasanya
diletakkan di suatu tempat dibiarkan menetas sendiri, tapi pada beberapa hewan
misalnya kadal dan ular dierami oleh sang betina (Jasin, 1984).
Habitat dari kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan
akuatik seperti penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu ordo Crocodilia dan

3
beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada
kebanyakan sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, beberapa anggota ordo Testudinata,
sub-terran pada sebagian kecil anggota sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada
sebagian kecil sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Zug, 1993).
Kelas reptilia dibagi dalam sub klas berdasarkan atas anatomi tengkoraknya.
Berdasarkan ada tidaknya fosa temporalis dan posisinya di kenal 5 tipe tengkorak
yaitu tipe tengkorak anapsid (ordo chelonian), Euripsida tipe tengkorak euripsid,
lhthyopterigea tipe tengkoraknya parapsid (semua punah), tipe tengkorak diapsid
(ordo crocodila), tipe tengkorak diapsid, tipe tengkorak diapsid (ordo squamata) dan
(Rhyncochepalia). (Kimball, 1999).
Ordo squamata merupakan reptilian yang tubuhnya tertutup oleh sisik-sisik
kecil yang fleksibel. Sub-ordo Squamata sendiri terdiri dari Lecertilia (kadal) dan
Ophidia (ular). Sub-ordo Lecertia memiliki karakteristik reptilian dengan tubuh
panjang, tetapi kurang 30 cm, kaki 4 buah yang kadang-kadang tereduksi atau hilang
sama sekali. Mandibular bersatu di bagian anterior. Tulang kuadrat berkontak
dengan pterigoid, sehingga terbukanya mulut terbatas tidak seperti ular. Kelopak
mata biasanya dapat digerakkan. Sabuk pektoral tumbuh baik atau tinggal sebagai
sisa (vastigum). Contoh bengkarung (Lacerta sp), tokek (Hemidactylus turcicus),
komodo (Varanus komodoensis) (Brotowidjoyo, 1994).
ular memiliki keunikan yaitu seluruh organ tubuhnya termodifikasi
memanjang. Dengan paru-paru yang asimetris, paru-paru kiri umumnya vestigial
atau mereduksi. Memiliki organ perasa sentuhan dan reseptor, ada pula pada
beberapa jenis yang dilengkapi dengan termosensor. Ada sebagian famili yang
memiliki gigi bias yang fungsi utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan
mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa (Zug, 1993).
Sedangkan untuk bisa ular, terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk
melumpuhkan mangsa, perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya,
yaitu Haemotoxin merupakan bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu
dengan cara menyerang sel-sel darah. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini
adalah Colubridae dan Viperidae. Cardiotoxin merupakan bisa yang dapat
menyerang pembuluh darah dan juga jantung dengan cara melemahkan otot-otot
jantung sehingga detaknya melambat dan akhirnya dapat berhenti. Contoh famili
yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik, dalam arti banyak famili yang sebagian
anggotanya memiliki bisa jenis ini. Neurotoxin merupakan bisa yang menyerang
syaraf, menjadikan syaraf mangsanya lemah sehingga tidak dapat bergerak lagi dan
dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh
famili yang memiliki bisa tipe ini (Iskandar, 2000).
Kadal (Mobouya multifasciata) merupakan salah satu hewan Vertebrata yang di
golongkan dalam reptil. Kadal merupakan hewan yang biasa hidup di tempat lembab
dan mempunyai kebiasaan tinggal di daerah persawahan dan dekat dengan perairan.
Kadal biasanya mempunyai dua pasang anggota badan yang bersifat pentadactil.
Secara luas, pengertian kadal juga mencakup kelompok cicak, tokek, bunglon, cicak

4
terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Sedangkan secara sempit, istilah kadal dalam
bahasa Indonesia biasanya merujuk terbatas pada kelompok kadal yang umumnya
bertubuh kecil, bersisik licin berkilau dan hidup di atas tanah (Kent, 1983). Mabouya
multifasciata mempunyai kemampuan bergenerasi pada bagian ujung ekor yang
lepas. Hal ini terjadi jika ekor kadal dipegang, maka vertebrata ini akan melepaskan
ekornya untuk melarikan diri (Manter dan Miller, 1959).

5
BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Anatomi Reptil dilaksanakan pada hari Selasa, 05 September 2017 pukul
13.15 sampai 16.00 WIB di Laboratorium Teaching II jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum Anatomi Reptilia ini adalah Killing bottle,
gunting bedah, pisau cuter, jarum, penjepit mata dan chloroform, sedangkan bahan
yang digunakan adalah sepasang Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata,
tissue, sabun, sarung tangan dan masker.
3.3 Cara Kerja
Langkah pertama adalah menyediakan dua ekor Dendrelaphis pictus dan dua ekor
Mabouya multifasciata yang berbeda jenis kelamin, satu jantan dan satu betina lalu
di masukkan ke dalam botol yang berisi kapas dan chloroform hingga Dendrelaphis
pictus dan Mabouya multifasciata tersebut mati. Satu Dendrelaphis pictus
digunakan untuk mengamati otot dan rangka sedangkan satu ular lagi digunakan
untuk mengamati sistem-sistem organ yang ada pada katak seperti organ pencernaan,
organ sirkulasi dan organ reproduksi. Sedangkan pada Mabouya multifasciata
diamati seluruh karakter. Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata dikuliti
mulai dari bagian cloaca ke seluruh bagian tubuh hingga memperlihatkan semua
bagian otot, lalu bagian perut mulai di bedah mulai dari cloaca lurus ke bagian atas
hingga kebawah mulut. Setelah di bedah uraikan organ-organ yang ada di dalam
tubuh pada selembar kertas. Setelah organ-organ dalam tubuh di uraikan lalu bagian
daging di pisahkan dari tulangnya hingga terihatlah sistem rangka pada , terakhir foto
semua bagian yang dibutuhkan.

6
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4 .1 Morfologi Dendrelaphis pictus


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan didapati hasil karakter morfologi
Dendrelaphis pictus terdiri dari mulut (Cavum oris), leher (Servics), hidung (Nares
eksterna), badan (Trunchus), mata (Vesus), kloaka (Cloaca), selaput tidur (Membran
tymphani) dan ekor (Caudal).

a
b d

Gambar 1. Morfologi Dendrelaphis pictus : a. Vesus, b. Cavum oris, c. Trunchus, d.


Caudal

Menurut Brotowidjoyo (1994), karakter eksternal atau morfologi ular yaitu


tidak mempunyai kaki dan telapak kaki, lubang telinga, tulang dada (sternum) dan
kandung kemih tidak ada. Bola mata tidak dapat digerakan, tertutup oleh sisik
transparan, tidak mempunyai kelopak mata. Lidah panjang, bercabang dua dan dapat
dijulurkan keluar. Gigi panjang dan gilig, terdapat pada rahang atas, langit-langit
mulut juga pada tulang pterigoid.
Dendrelaphis pictus memiliki tipe gigi opistoglypha dengan jenis bisa
hemotoksin. Jika tergigit ular ini, dalam waktu singkat mungkin tidak akan beresiko
terkena racunya, karena ular dengan gigi opistoglypha harus memasukkan lebih
dalam taringnya agar dapat menyuntikkan bisa yang lebih banyak. Ular bergigi
opistoglypha masih tergolong berbisa lemah, dengan efek yang ditimbulkan hanya
pembengkakan sekitar area gigitan (Fry et al., 2009).
4 .2 Anatomi Dendrelaphis pictus
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan didapati hasil karakter anatomi
Dendrelaphis pictus terdiri dari faring (Pharinx), saluran kemih (Ureter),
esophagus (Oesophagus), kloaka (Cloaca), jantung (Cor), testis (Clasper), paru-paru
(Pulmo), usus (Intestinum), empedu (Vesica fellea), hati (Hepar), ginjal (Ren) dan
lambung (Ventriculum). organ dalam atau organ internal kata ini akan membentuk
suatu sistem dalam tubuh ular seperti sistem pernafasan, sistem reproduksi, sistem
rangka, sistem reproduksi dan sebagainya.

7
d
a e
b
c

Gambar 2. Anatomi Dendrelaphis pictus: a. Lidah, b. Jantung, c. Hati, d. Empedu, e.


Usus

Sistem pencernaan atau sistem digestoria nya terdiri dari 2 yaitu tractus
digestivus (saluran pencernaan) dan glandula digestoria (kelenjar pencernaan). Pada
tractus digestivus meliputi organ-organ yang dimulai dari rima oris, cavum oris
kemudian pada belakang faring terdapat oesophagus yang merupakan saluran
silindris menuju ventrikulus yang terdiri atas bagian fundus yang agak bulat dan
bagian kecil yang disebut pylorus. Bagian inilah yang akan bersambung pada
intestenum tenue dan akan berlanjut ke intestenum crassum. Diantara dua intestenum
ini ada saecum yang pendek dan sistem pencernaan ini akan berakhir pada satu
saluran yaitu cloaka (Prawiro, 1999).
Dalam sistem ekskresi ular mempunyai dua ginjal, ginjal ini berwarna merah
kecoklatan dan terletak retroperitoneal (diluar dan dibelakang peritoneum), didaerah
sacrum. Selain ginjal, kandung kemih juga termasuk salah satu alat ekskresi yang
digunakan dalam sistem ekskresi pada ular. Ular memiliki tipe ginjal yang sama
seperti halnya ginjal pada aves dan mamalia, dimana tipe ginjalnya dikenal dengan
tipe metanefros sedangkan pada saat embrio tipe ginjal yang digunakan adalah tipe
pronefros dan mesonefros (Kimball, 1999).
Sistem pernafasan pada ular berupa trachea yang panjang dimana dindingnya
disokon oleh sejumlah cincin cartilago, larynx terletak diujung anterior trachea,
dinding larynx ini disokong oleh cartilao cricoidea dan cartilago arytenoidea.
Kearah posterior trachea membentuk percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus
kanan dan bronchus kiri yang maing-masing menuju pulmo kanan dan pulmo kiri.
Pulmo mempunyai lekukan-lekukan yang yang asimetri, pulmo kanan selalu sangat
panjang (Radiopoetoro, 1996).

4 .4 Sistem Otot dan Rangka Dendrelaphis pictus


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan terlihat bagian tulang yang
memanjang di sisi atas tubuh ular, bagian ini disebut vertebrae sedangkan tulang
yang ada disepanjang vertebrae disebut ribs. Menurut Radiopoetoro (1996), ular
mempunyai centra vertebrae yang bertipe procela, tulang chevron (arcus inferior)

8
terdapat di daerah caudal, elemen-elemen tulang yang menyusun tubuh ular adalah
entoplastron.

a
b

Gambar 4. Sistem Rangka Dendrelaphis pictus: a. Vertebrae, b. Ribs

Ular mempunyai penulangan lebih banyak daripada amphibi dan terdapat


banyak variasi didaerah temporal. Tengkorak reptilia memiliki lubang spesifik
didaerah temporal yang disebut dengan tipe tengkorak anapsid. Sedangkan untuk
sistem sarafnya, otak terdiri dari 2 lobus olfaktori yang panjang, hemisfer, 2 lobus
optikus, cerebellum dan medulla oblongata yang melanjut ke korda saraf (Sukiya,
2005).
Otot pada ular berbeda dengan hewan pada umumnya kerena ular tidak
mempunyai anggota gerak tangan dan kaki, namun otot pada ular terdapat
disepanjang perut. Menurut Brotowidjoyo (1994) otot-otot tubuh ular
menghubungkan vertebrae dengan vertebrae, vertebrae dengan rusuk, rusuk dengan
rusuk, rusuk dengan kulit, dan kulit dengan kulit. Otot-otot itu ada yang panjangnya
melebihi jarak yang ada sehingga memungkinkan ular dapat bergerak melingkar-
lingkar. Ular juga dapat bergerak lurus ke depan , dengan jalan meluncur dengan
bantuan sisik-sisik ventral di tanah, atau melekukan tubuh dengan membuat sudut
tajam.

4 .5 Sistem Reproduksi Dendrelaphis pictus

Gambar 5. Sistem Reproduksi Gambar 6. Sistem Reproduksi


Jantan Dendrelaphis pictus Jantan Dendrelaphis pictus

9
Dari pengamatan yang telah dilakukan perbedaan antara organ reproduksi
jantan dan betina pada Dendrelaphis pictus terlihat sangat menonjol, pada organ
jantan telihat adanya hemipenis, sedangkan pada betina berupa ovum.
Testis ular berbentuk oval, relatif kecil, berwarna keputih-putihan, berjumlah
sepasang, salah satu testis terletak lebih ke depan dari pada yang lain. Testis akan
membesar saat musim kawin. duktus mesonefrus berfungsi sebagai saluran
reproduksi, dan saluran ini akan menuju kloaka. Ovarium berjumlah sepasang,
berbentuk oval, letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis. Saluran
reproduksi berupa oviduk yang panjang dan bergelung. Bagian anterior terbuka ke
rongga selom sebagai ostium, sedang bagian posterior bermuara di kloaka (Mukayat,
1989).
Menurut Radiopoetoro (1996) organ genitalis betina terdiri dari ovarium dan
oviduct. Oviduct terletak lateral dari ovarium, mulai dengan pelebaran sebagai
corong yang disebut infundibulum dengan lubang masuknya disebut Ostium
Abdominale. Oviduc, dilanjutkan dengan uterus yang bermuara dalam cloaca.
Sedangkan organ genitalis pada hewan jantan terdiri dari testis yang berjumlah
sepasang berbentuk agak oval, dan agak keputih-putihan. Dari testis keluar saluran
halus yang berkelok-kelok yang disebut epididimis.

4 .6 Morfologi Mabouya multifasciata


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan didapati hasil karakter morfologi
Mabouya multifasciata terdiri dari mulut (Cavum oris), otot perekat (Scansor),
hidung (Nares eksternal), ekor (Caudal), jari-jari (Digity), paha (Femur), lengan atas
(Antebrachium), perut (Abdomen), lengan bawah (brachium), badan (Trunchus) dan
betis (Crus).

a d
b
e

Gambar 7. Morfologi Mabouya multifasciata: a. Nares Eksternal, b. Digity, c.


Crush, d. Caudal, e. Femur
Ciri-ciri morfologi dari kadal adalah bagian-bagian kadal dibagi menjadi tiga
yaitu kepala, badan dan ekor. Pada bagian kepala terdapat hidung, mata, mulut, pada
mulut terdapat choana priver, dentes, palatum, choana sekunder, ostium tubuli
auditif, faring rima glatis dan lingua titida. Pada kadal alat pendengaranya berupa
membran timfani. Pada alat geraknya kadal mempunyai kaki empat dimana pada

10
bagian depan terdiri dari branchium dibagian paling atas, ante branchium dibawah
branchium terdapat manus, manus adalah telapak tangan dan digiti (jari-jari) terdapat
5 pasang. Pada tiap digiti terdapat cakar-cakar yang berfungsi untuk membunuh
mangsa. Pada kaki bagian belakang terdiri dari femur, crus, pes dan digiti. Digiti
pada bagian kaki depan dan belakang berbeda dimana perbedaanya terdapat pada ibu
jarinya. Ekor pada kadal mempunyai panjang dua kali panjang tubuhnya. Sisik pada
kadal bersifat halus dan mengkilat pada bagian belakang terdapat sisik sosmoid
(Jasin, 1984)

4 .7 Anatomi Mabouya multifasciata


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan didapati hasil karakter anatomi
Mabouya multifasciata terdiri dari jantung (Cor), pankreas (Pancreas), hati (Hepar),
usus (Intestinum), paru-paru (Pulmo), ginjal (Ren), lambung (Ventri-culum), saluran
kemih (Ureter), empedu (Vesica felia), kloaka (Cloaca). organ dalam atau organ
internal kata ini akan membentuk suatu sistem dalam tubuh kadal seperti sistem
pernafasan, sistem reproduksi, sistem rangka, sistem reproduksi dan sebagainya

a d
b
c e

Gambar 8. AnatominMabouya multifasciata : a. Jantung, b. Paru-paru, c. Hati, d.


Usus, e. Kloaka

Sistem sirkulasi dari kadal berupa jantung yang menunjan kemajuan dari
pada amphibi meskipun aliran darah arteri dan vena tidak seluruhnya terpisah.
Jantung terbungkus oleh suatu membran transparan, yaitu perikardium, dan dibatasi
oleh endokardium. Jantung kadal mempunyai empat ruang, dua atrium, dan dua
ventrikel. Akan tetapi, sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum sempurna, sehingga
terlihat jantung hanya terdiri dari tiga ruang (Djuhanda,1982)
Sistem pencernaan pada kadal yaitu mulut yang dapat terbuka lebar memiliki
dentes (gigi-gigi) yang berfungsi untuk keperluan ofensif dan mempertahankan serta
mengunyah. Barisan gigi itu dapat dibedakan atas dua deretan, deretan gigi yang
conisch (bentuk kerucut) menempel pada rahang dan gigi ini sebagai
gigi pleurodont, bengkok ke arah cavum oris. Pada palatum (tulang langit-langit)
terdapat deretan gigi halus yang disebut dentes palatini. Lingua bersifat bipida

11
(bercabang dua) terletak di dasar cavum oris. Dibelakang faring terdapat oesophagus
yang merupakan saluran silindris menuju ventriculus yang terdiri atas bagian vundus
yang agak bulat dan bagian kecil di sebut viloris bagian ini bersambung dengan
intestinum tenue (usus halus) terus di lanjutkan oleh intestinum crasum (usus besar)
yang sering di sebut rektum. Diantara kedua intestinum itu terdapat caecum yang
sangat pendek akhirnya rektum bermuara pada kloaka. Gladulae digestiva berupa
hepar yang terdiri atas lobus dexter dan sinister berwarna coklat. Pada bagian caudal
lobus dexter hepatis terdapat vesica fellea. Glandulae pancreatisa terlatak antara
ventriculum dan bagian craneal intestinum tenue. Kloaka merupakan muara umum
untuk tractus digestiva, excretoria dan reproductiva (Jasin, 1984).
Paru-paru kadal sudah berkembang baik dan ukurannya cukup besar. Bagian
sirkulasi Kadal berupa jantung yang dibungkus membran transparan (pericardium)
dan dibatasi oleh endokardium. Sistem respiratoria terdiri dari struktur yang terletak
diantara nostril dan paru-paru yaitu glottis dan laring (Storer dan Usinger, 1957).
Respirasi dimulai dengan masuknya udara ke nares externa, kemudian
masuk ke nares interna melalui glottis sebagai celah lingua menuju ke laring. Laring
tersusun atas tiga buah tulang rawan dan berisi beberapa pasang pita suara. Udara
kemudian menuju trakhea yang bercabang menjadi dua bronchi yang kemudian
masing-masing menuju paru-paru (Jasin, 1989)

4 .8 Sistem Rangka dan Otot Mabouya multifasciata

a
b

Gambar 9. Sistem Rangka Mabouya multifasciata : a. Tulang Belakang, b. Tulang


Rusuk

Sistem rangka pada mabouya multifasciata terdiri dari tulang belakang dan
tulang rusuk yang berfungsi melindungi organ dalam, tulang belakan ditunjuk
dengan tanda panah a diatas sedangkan tulang rusuk ditunjuk oleh tanda panah b.
bahwa sistem rangka pada kadal (mabouya multifasciata) dapat dibedakan
menjadi dua bagian, yaitu endoskeleton dan enkoskeleton. Eksoskeleton, berasal dari
epidermis, berupa sisik menanduk yang menyelubungi permukaan tubuhnya, posisi
seperti sususnan genting, bentuk sisik berbeda antara bagian kepala, badan, ekor.b)
Endoskeleton, terdiri dari sekeleton aksial dan apendikular. Sekeleton aksial terdiri
tengkorak, kolumna, perebralis, sternum dan rusuk (Kastawi, 2005).

12
Kadal memiliki sistem otot yang lebih kompleks bila di bandingkan dengan
amfibia, karena otot kadal harus mendukung tubuh di daratan yang bersifat lebih
berat dari pada didalam air, selain itu juga untuk gerakan-gerakan yang sifatnya
harus cepat. Otot aksial (otot badan) kadal mulai menunjukkan beberapa speasialisasi
seperti yang dikelompokkan pada mamal. Otot kadal terutama untuk gerakan lateral
tubuh dan menggerakkan ruas-ruas tulang belakang. Dermal atau otot kulit
berkembang baik pada kadal. Jaringan tungkai pada kadalmenunjukkan variasi
bergantung pada tipe gerakannya (Radiopoetro, 1996).

4 .9 Organ Reproduksi Mabouya multifasciata

Gambar 10. Sistem Reproduksi Mabouya multifasciata

Organ reproduksi pada kadal betina berupa ovarium, sedangkan pada kadal
jantan berupa hemipenis yang bercabang.
Sistem Reproduksi pada kadal jantan terdiri dari sepasang testis yang
berbentuk bulat telur dimana kedua letak testis ini berbeda, testis sebelah kanan
letaknya lebih tinggi daripada testis sebelah kiri. Kadal jantan memiliki alat penyalur
sperma yang dikenal dengan nama hemipenis yang berjumlah dua buah hemipenis,
terdapat disisi kiri kanan lubang kloaka agak ke pangkal ekor. Melihat hemipenis
bisa dilakukan dengan cara memijat dan menekan pangkal ekor kadal tersebut.
Sedangkan sistem reproduksi pada kadal betina memiliki sepasang ovarium yang
berwarna kuning, seperti halnya pada testis, letak ovarium sebelah kanan juga lebih
tinggi daripada ovarium sebelah kiri (Radiopoetro, 1996).
sistem reproduksi (genitalia) pada kadal betina terdiri dari sepasang ovarium
yang berwarna kuning. Letak ovarium pada sebelah kanan lebih tinggi dari ovarium
di sebelah kiri. Oviduct bermuara langsung ke dalam coelom melalui ostia oviduct
yang mengalami diferensiasi sehingga membentuk daerah–daerah dengan fungsi
yang berbeda–beda. Kadal jantan meiliki testis berbentuk bulat telur. Sama seperti
ovarium, testis di sebelah kanan lebih linggi dari pada testis di sebelah kiri. Bagian
dari ductus wolffi dekat testis berkelok–kelok untuk membentuk epididymis. Ductus
wolffi ke arah posterior menjadi ductus deferens yang biasanya lurus, tapi ada juga
yang berkelok–kelok. (Jassin,1984).

13
BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Karakter morfologi dari Dendrelaphis pictus adalah mulut (Cavum oris), leher
(Servics), hidung (Nares eksterna), badan (Trunchus), mata (Vesus), kloaka
(Cloaca), selaput tidur (Membran tymphani) dan ekor (Caudal), sedangkan pada
Mabouya multifasciata lebih komplit karena mempunyai anggota gerak berupa
tangan dan kaki, morfologinya terdiri dari mulut (Cavum oris), otot perekat
(Scansor), hidung (Nares eksternal), ekor (Caudal), jari-jari (Digity), paha
(Femur), lengan atas (Antebrachium), perut (Abdomen), lengan bawah
(brachium), badan (Trunchus) dan betis (Crus).
2. Anatomi dari Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata umumnya sama,
namun perbedaannya terletak pada struktur dan posisi organ, struktur anatominya
adalah Mabouya multifasciata terdiri dari jantung (Cor), pankreas (Pancreas),
hati (Hepar), usus (Intestinum), paru-paru (Pulmo), ginjal (Ren), lambung (Ventri-
culum), saluran kemih (Ureter), empedu (Vesica felia), kloaka (Cloaca).
3. Sistem organ dalam dari Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata
membentuk suatu sistem seperti sistem Reproduksi, organ reproduksi terdiri dari
ovarium pada betina dan hemipenis pada jantan serta terdapat pula saluran genital.
Pada sistem respirasi organ-organnya terdiri dari paru-paru.

5.2 Saran
Perlu dipahami mengenai cara membedah ular dan kadal secara baik dan benar tanpa
merusak organ dalam karena organ dalam yang utuh sangat bermanfaat di dalam
penelitian.

14
DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga

Djuhanda, Tatang. 1982. Analisa Struktur Vertebrata Jilid 2. Bandung: Armico

Fry BG, et al. (2006) Early evolution of the venom system in lizards and snakes.
Nature 439:584 –588.

Jasin, M. 1984. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Jaya. : Surabaya

Iskandar, D. T. 2000. Buaya dan Kura-Kura dan reptil indonesia. Puslitbang Biologi-
LIPI. Bogor : Indonesia.

Kastawi, Y. 2005. Zoologi vertebrata. Malang: UNM.

Kimball, J,W. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Erlangga : Jakarta.

Manter & Miller. 1959. Introduction to Zoology. New York: Harper and Row
Publisher

Mukayat, Djarubito. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga : Jakarta

Prawiro, A. 1999. Biologi jilid IV. Semarang: CV Regina

Radiopoetro. 1996. Dasar-Dasar Zoologi. Jakarta: Erlangga

Storer, T. I. dan R. L. Usinger, 1957, General Zoology Third Edition, Mac Graw.
Hills Book Company,

Sukiya. 2005. Biologi vertebrata. Malang: UNM

Villee, C. A., W. F. Walker and R. D. Barries. 1988. General Zoology. W. B.


Sauders Company, Philadelphia.

Yatim, Wildan. 1987. Biologi modern : biologi sel. Bandung : Tarsito

Zug, G.R. 1993. Herpetology: An Introductory Biology of Amphibians and Reptiles.


San Diego, CA: Academic Press Inc

15