Anda di halaman 1dari 14

TEORI PERMINTAAN

(DEMAND THEORY)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Manajerial

Dosen Pengampu :
Dr. Diana Sulianti K. Tobing, SE., M.Si

Dibuat Oleh :

Fajar Andika Dwi Putra 180820101047

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Magister Manajemen

2018/2019
TEORI PERMINTAAN (DEMAND THEORY )

1. Teori Permintaan Barang


1.1 Pengertian
Dalam ilmu ekonomi, permintaan menunjukkan jumlah barang dan jasa yg
akan dibeli konsumen pada periode waktu dan keadaan tertentu dan keadaan
tertentu (Lincolin, 1998). Periode waktu tersebut bisa dalam satuan tahun, serta
keadaan-keadaan yang harus diperhatikan antara lain harga barang yang akan
dibeli, harga dan keterediaan barang pesaing, harapan akan terjadinya perubahan
harga, pendapatan konsumen, preferensi konsumen, biaya iklan, dan lain-lain.
Atas jumlah barang yang akan dibeli oleh konsumen, sangatlah bergantung
kepada faktor-faktor diatas.
Hukum permintaan adalah makin tinggi harga suatu barang, makin sedikit
jumlah barang yang diminta dan sebaliknya makin rendah harga suatu barang
makin banyak jumlah barang yang diminta. Adanya kenaikan permintaan
menyebabkan kenaikan harga pada harga ekuilibrium maupun kuantitas
ekuilibrium. Penurunan permintaan akan menyebabkan penurunan harga
ekuilibrium maupun kuantitas ekuilibrium.
Dalam suatu keputusan manajerial, titik utama kita adalah pada permintaan
pasar. Permintaan pasar merupakan penjumlahan dari beberapa permintaan
individual. Pada tingkat individual, permintaan ditentukan oleh dua faktor yaitu:
1. Nilai dari cara mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa
2. Kemampuan untuk mendapatkan barang dan jasa.
Model permintaan individual dapat dikelompokkan menjadi dua. Yang
pertama adalah teori perilaku konsumen yang berkaitan dengan barang konsumsi
perorangan. Model ini cocok untuk menganalisis perimntaan individual akan
barang dan jasa yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan konsumen
langsung. Dalam model ini, nilai atau harga suatu barang/jasa merupakan faktor
penentu utama permintaan individual. Setiap individu dianggap akan
menggunakan utilitas total (total utility) dari barang/ jasa yang diperolehnya.
Model kedua adalah teori perusahaan dimana menjelaskan permintaan
barang dan jasa yang tidak digunakan langsung untuk memenuhi kebutuhan
konsumen, namun digunakan sebagai input penting dalam pengolahan dan
pendistribusian produk turunan yang dihasilkan. Contohnya adalah permintaan
akan pekerja, tenaga penjual, manajer, mesin-mesin kantor, peralakatn industry,
dan lain-lain. Teori perusahaan menjelaskan bahwa permintaan akan barang-
barang tersebut didasarkan pada nilai yang diberikan oleh barang tersebut kepada
perusahaan. Pada keputusan manajerial, faktor kunci dalam penentuan permintaan
ini adalah manfaat marginal (marginal benefit) dan biaya marjinal (marginal cost)
yang timbul sebagai akibat dari penggunaan barang dan jasa tersebut.

1.2 Fungsi Permintaan Pasar


Dalam teori permintaan dikelan hukum permintaan yang menjelaskan
bahwa semakin tinggi harga suatu barang, maka semakin sedikit jumlah barang
yang diminta dan sebaliknya semakin rendah harga suatu barang maka semakin
banyak jumlah barang yang diminta dengan asumsi ceteris paribus (semua faktor
yang mempengaruhi permintaan selain harga dianggap konstan). Adanya kenaikan
permintaan menyebabkan kenaikan harga pada harga ekuilibrium maupun
kuantitas ekuilibrium. Penurunan permintaan akan menyebabkan penurunan harga
ekuilibrium maupun kuantitas ekuilibrium
Fungsi permintaan pasar akan sebuah produk menunjukkan hubungan
antara jumlah produk yang diminta dengan semua faktor yang mempengaruhi
permintaan tersebut (Lincolin, 1998). Dari berbagai faktor yang mempengaruhi
tersebut, kita dapat menggolongkan menjadi variable konsumen, variable
strategis, variable pesaing, dan variable lainnya.
- Variabel strategies, adalah harga barang yang bersangkutan, iklan,
kualitas, dan desain barang, serta saluran distribusi barang.
- Variabel konsumen adalah tingkat pendapatan konsumen, selera, dan
harapan konsumen akan harga di masa mendatang.
- Variabel pesaing mencakup harga barang substitusi, harga barang
komplementer, iklan dan promosi barang lain, saluran distribusi brang lain,
serta kualitas dan desain barang lain.
Dalam bentuk fungsional, fungsi permintaan adalah Jumlah produk X yang
diminta:
Qx = F (harga produk X, harga barang pesaing, harapan akan adanya perubahan
harga, pendapatan konsumen, selera dan preferensi konsumen, biaya iklan,
dan lain-lain).
Fungsi secara umum ditulis y = F(x). Secara grafik, digambarkan dengan y
= sumbu vertikal, x = sumbu horizontal dan F menyatakan ketergantungan y
terhadap x. Sedangkan "permintaan" adalah banyaknya barang dan jasa yang
dibutuhkan masyarakat.

Gambar 1. Grafik fungsi permintaan

Fungsi permintaan memiliki beberapa sifat khusus, di antaranya:


a) Fungsi permintaan bersifat negatif. Artinya, jika nilai p bertambah, maka
nilai q akan berkurang, begitu juga sebaliknya. Hingga suatu saat nilai p
akan menyentuh titik tertinggi (harga maksimal), titik q akan menyentuh
titik terendah (barang tidak ada), sebaliknya, q akan menjadi barang
bebas jika titik p mencapai titik terendahnya (harga 0 atau gratis).

Gambar 2. Grafik fungsi linear dan kurva

b) Titik titik pada fungsi permintaan tidak dapat memiliki nilai negatif dan
tidak mungkin bernilai tak terhingga (~), ini berarti fungsi permintaan
selalu terletak di kuadran I.
c) Fungsi permintaan bisa berbentuk linier atau kurva.
d) Fungsi permintaan memiliki fungsi satu-satu, artinya, satu titik p hanya
untuk satu titik q, begitu juga sebaliknya. Misalnya, pada tingkat p Rp.
500,00, jumlah barang q yang diminta adalah 5 buah; pada tingkat harga
Rp. 100,00 jumlah barang yang diminta naik menjadi 10 buah.
Perusahaan harus mempunyai informasi yang baik dan layak tentang
fungsi permintaan produknya agar dapat membuat keputusan operasional yang
efektif, baik untuk jangka panjang ataupun jangka pendek.

2. Elastisitas Harga Permintaan


2.1 Pengertian Elastisitas Harga Permintaan
Perusahaan harus mengetahui derajat kepekaan fungsi permintaan
produknya dari masing-masing variable yang mempengaruhinya. Salah satu
ukuran derajat kepekaan yang paling sering digunakan dalam analisis permintaan
adalah elastisitas, yang didifinisikan sebagai presentase perubahan kuantitas
yang diminta sebagai akibat dari perubahan nilai salah satu variable yang
menentukan permintaan sebesar 1 persen (Lincolin, 1998).
Elastisitas harga permintaan mengukur seberapa besar kepekaan
perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Ketika harga
sebuah barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik
sebaliknya apabila semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli.
Elastisitas permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah
permintaan dan persen perubahan harga (Nicholson, 1995). Ketika elastisitas
permintaan suatu barang menunjukkan nilai lebih dari 1, maka permintaan
terhadap barang tersebut dikatakan elastis di mana besarnya jumlah barang yang
diminta sangat dipengaruhi oleh besar-kecilnya harga. Sementara itu, barang
dengan nilai elastisitas kurang dari 1 disebut barang inelastis, yang berarti
pengaruh besar-kecilnya harga terhadap jumlah-permintaan tidak terlalu besar.
Permintaan terhadap sebuah barang dapat dikatakan inelastis bila jumlah barang
yang diminta tidak dipengaruhi oleh perubahan harga. Barang dan jasa yang tidak
memiliki substitusi biasanya tergolong barang inelastis. Persamaan untuk
menghitung elastisitas harga adalah sebagai berikut:
Atau menggunakan perhitungan presentase perubahan harga barang :

Dimana :

2.2 Jenis-Jenis Elastisitas Harga Permintaan


Terdapat lima jenis elastisitas permintaan, yaitu:
1) Permintaan inelastis sempurna merupakan jenis elastisitas ketika nilai
elastisitas sama dengan nol (0). Pada keadaan ini, perubahan harga tidak
menyebabkan perubahan jumlah barang yang diminta.

Gambar 3. Kurva permintaan inelastis sempurna


Contoh barang yang permintaannya tidak elastis sempurna adalah tanah
(meskipun harganya naik terus, kuantitas yang tersedia tetap terbatas), lukisan
milik pelukis yang telah meninggal (berapapun harga yang ditawar atas lukisan,
pelukis tersebut tidak akan mampu menambah kuantitas lukisannya), dan contoh
lainnya yang sejenis obat-obatan pada waktu sakit

2) Permintaan inelastis merupakan jenis elastisitas ketika nilai absolut


elastisitas kurang dari satu (<1). Pada keadaan ini, perubahan harga
menyebabkan sedikit (lebih kecil) perubahan jumlah barang yang diminta.
Misalnya 50% perubahan harga hanya menyebabkan 25% perubahan
jumlah barang yang diminta. Contohnya adalah permintaan atas kebutuhan
pokok seperti beras, bahan bakar (pertalite/premium), Listrik, dll. Meskipun
bahan tersebut mengalami kenaikan, akan cenderung tetap dikonsumsi meskipun
mungkin dengan melakukan penghematan. Sebaliknya penurunan harganya tidak
akan serta merta membuat tingkat konsumsi naik mengikuti tingkat kenaikan
harga.

Gambar 4. Kurva permintaan inelastis

Sebagai contoh misalkan beras, setiap hari satu keluarga menghabiskan


konsumsi 1 kg beras di harga Rp 10.000/ Kg. Apabila beras naik di harga Rp
11.000/kg, maka keluarga tersebut akan tetap mengkonsumsi beras meskipun
dengan kemungkinan kuantitas dikurangi sedikit untuk melakukan penghematan.
Sebaliknya penurunan harga beras menjadi Rp 9.000/ kg juga tidak akan serta
merta menambah jumlah kapasitas beras yg dikonsumsi menjadi sebanding
dengan harga penurunannya. Hal ini menunjukkan naik turunnya harga, tidak
berpengaruh besar terhadap permintaan, yang disebut permintaan inelastis

3) Permintaan elastis unit merupakan jenis elastisitas ketika nilai absolut


elastisitas sama dengan satu (1). Pada keadaan ini, perubahan harga
menyebabkan perubahan jumlah barang yang diminta dengan rasio 1:1.
Misalnya 10% perubahan harga menyebabkan 10% perubahan jumlah
barang yang diminta.
Contoh produk yang elastisitasnya uniter tidak dapat disebutkan secara
spesifik. Jenis permintaan ini sebenarnya lebih sebagai pembatas antara
permintaan elastis dan tidak elastis, sehingga belum tentu ada produk yang
dapat dikatakan memiliki permintaan uniter elastis. Contoh: barang-barang
elektronik

Gambar 5. Kurva permintaan elastis unit

4) Permintaan elastis merupakan jenis elastisitas ketika nilai absolut


elastisitas lebih besar dari satu (>1). Pada keadaan ini, perubahan harga
menyebabkan banyak (lebih besar) perubahan jumlah barang yang
diminta. Misalnya 10% perubahan harga menyebabkan 20% perubahan
jumlah barang yang diminta. Misalnya saja pakaian, makanan ringan,
barang mewah dan lain sebagainya. Ketika harganya naik, konsumen akan
dengan mudah menemukan barang penggantinya.

Gambar 6. Kurva permintaan elastis

5) Permintaan elastis sempurna merupakan jenis elastisitas ketika nilai


absolut elastisitas sama dengan tak hingga (∞). Pada keadaan ini,
perubahan harga sedikit saja menyebabkan perubahan ekstrim jumlah
barang yang diminta. Misalnya pada harga batas gabah kering sama atau
lebih kecil Rp. 5.000 petani, koperasi dapat menampung berapapun jumlah
gabah. Namun bila terjadi perubahan harga di atas harga batas, koperasi
tidak lagi mau menampung gabah (jumlah permintaan nol).

Gambar 7. Kurva permintaan elastis sempurna

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Harga Permintaan


Terdapat beberapa faktor atau determinan yang mempengaruhi apakah
permintaan bersifat elastis atau tidak, antara lain:
a) Ketersediaan barang substitusi: permintaan suatu barang akan semakin
elastis apabila terdapat lebih banyak barang substitusi (yang dekat).
Sehingga ketika harga barang A naik, maka konsumen akan dengan mudah
beralih ke barang B, C, atau D. Hal ini menyebabkan perubahan harga
barang A akan mempengaruhi jumlah permintaan barang A.
Sebagai contoh pada industi tekstil. Produk yang dihasilkan seandainya
baju wanita, namun berbeda antara merk Nevada, Gucci, Victoria Secret,
dan Luis Vuitton yg awalnya memiliki harga yang sama. Apabila salah
satu merk mengalami kenaikan harga, konsumen akan dengan mudah
beralih pada merk lain yang memproduksi barang dan kualitas yg sama.
b) Porsi penghasilan yang digunakan untuk membeli suatu barang: semakin
besar porsi penghasilan yang dikeluarkan untuk membeli suatu barang,
maka semakin tinggi elastisitas permintaan barang tersebut. Misalnya
siswa yang sebagian besar uang saku digunakan untuk membeli paket data,
perubahan harga paket data akan mempengaruhi jumlah permintaan paket
data tersebut.
c) Tingkat kepentingan barang: semakin penting suatu barang, maka semakin
rendah elastisitas permintaan barang tersebut. Misalnya penderita diabetes
diharuskan menggunakan insulin tiga kali sehari. Perubahan harga insulin
sedikit mempengaruhi jumlah permintaan insulin, karena mau tidak mau
penderita tersebut tetap menggunakan insulin tiga kali sehari untuk bisa
hidup sehat.

Contoh Soal Elastisitas Harga Permintaan


1. Pada saat harga Rp. 5.000,- per unit, jumlah permintaan barang adalah 20
unit. Kemudian harga turun menjadi Rp. 4.500,00 perunit dan jumlah
permintaan barang menjadi 10 unit. berdasarkan data tersebut besarnya
koefisien elastisitas permintaanya adalah:
Jawab :
Dari data diatas diketahui :
P1 = 5.000 Q1 = 20
P2 = 4.500 Q2 = 10
langkah pertama kita menentukan perubahan jumlah penawaran dan harga
∆Q = Q2 -Q1 = 10-20 = -10
∆P = 4.500 – 5.000 = -500
Langkah selanjutnya, kita masukan data-data diatas kedalam rumus elastisitas
P1 ∆Q
Es = —- . ——
Q1 ∆P

5.000 -10
Es = ——- . ——
20 -500
Es = 5
Nilai Es = 5 > 1, menunjukan penawaran elastis.
2. Toko Sepatu Sahabat pada akhir tahun melakukan cuci gudang untuk semua
jenis sepatu, dari sepatu anak-anak sampai dewasa. Harga sepatu anak yang
semula Rp20.000,00 turun menjadi Rp15.000,00. Akibat penurunan harga,
jumlah permintaan sepatu anak-anak meningkat dari 1.000 menjadi 4.000.
Jadi koefisien elastisitasnya bisa dihitung seperti berikut:

3. Elastisitas Pendapatan dari Permintaan (Income Elasticity of Demand)


3.1 Pengertian Elastisitas Pendapatan
Elastisitas pendapatan merupakan suatu ukuran kepekaan dari kuantitas
yang diminta terhadap perubahan pendapatan dalam kondisi ceteris paribus
(Lincoln, 1998). Pengertian elastisitas pendapatan adalah suatu perubahan
(peningkatan/penurunan) pendapatan konsumen yang akan berpengaruh terhadap
permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh perobahan tersebut diukur dengan
apa yang disebut elastisitas pendapatan.
Menurut Nicholson (1995), Elastisitas pendapatan dimanfaatkan untuk
menentukan suatu barang masuk kelompok atau jenis barang seperti apa. Jenis
barang dapat dibedakan menjadi :
1. Barang Superior (Barang Mewah) adalah barang yang perubahan jumlah
barang yang diminta lebih besar dari pada perubahan pendapatan
konsumen. Suatu barang dikatakan barang mewah apabila elastisitas
pendapatannya lebih besar dari 1.
2. Barang Inferior adalah barang yang apabila pendapatan konsumen
bertambah maka jumlah barang yang diminta justru semakin berkurang.
Suatu barang dikatakan barang inferior apabila elastisitas pendapatannya
lebih kecil dari nol (negatif).
3. Barang Normal (Kebutuhan sehari-hari) adalah barang yang perubahan
jumlah barang yang diminta lebih kecil dari perubahan pendapatan
konsumen. Suatu barang dikatakan barang normal apabila elastisitas
pendapatannya positif tapi kurang dari 1 (0<1)>
3.2 Rumusan dan Intepretasi Elastisitas Pendapatan
Rumusan elastisitas pendapatan adalah:

Intepretasi elastisitas pendapatan adalah:


1. Elastisitas pendapatan yang negatif terkait dengan barang inferior;
peningkatan pendapatan akan mengakibatkan penurunan permintaan.
2. Elastisitas pendapatan yang positif terkait dengan barang normal;
peningkatan pendapatan akan mengakibatkan peningkatan permintaan.
Jika elastisitas pendapatan suatu komoditas lebih kecil dari 1, maka
barang itu adalah barang sehari-hari. Jika elastisitas pendapatan lebih
besar dari 1, barang itu adalah barang mewah atau barang superior.
3. Elastisitas pendapatan nol (atau inelastik) berlaku bila peningkatan
pendapatan tidak mengakibatkan perubahan permintaan.

4. Elastisitas Silang dari Permintaan (Cross-Price Elasticity of Demand)


4.1 Pengertian Elastisitas Silang
Dalam dunia ekonomi, permintaan suatu barang seringkali dipengaruhi
oleh harga-harga barang lainnya. Hubungan langsung antara harga suatu barang
dengan kuantitas barang lainnya terjadi untuk semua produk yang bisa saling
mengaitkan (substitutif). Sementara itu hubungan antar barang lainya, dapat
bersifat saling berbeda (komplementer) dimana permintaan suatu barang yg
berbeda tersebut dapat mempengaruhi permintaan barang lain.
Pengertian dari elastisitas silang atau cross elasticity adalah elastisitas
yang mengukur tingkat kepekaan perubahan jumlah barang tertentu yang diminta
(misalnya barang x) akibat perubahan harga barang lainnya (misalnya barang y)
(Nicholson, 1995). Elastisitas silang berlaku baik bagi barang-barang substitusi
maupun barang komplementer. Elastisitas silang dimanfaatkan untuk menentukan
sifat hubungan antar barang. Sifat hubungan antar barang dapat dibedakan
menjadi:
1. Barang Substitusi (Saling menggantikan) merupakan sifat hubungan
antar barang dikatakan substitusi apabila elastisitas silang lebih besar dari
nol (Positif).
2. Barang Komplementer (Saling melengkapi) merupakan sifat hubungan
antar barang dikatakan komplementer apabila elastisitas silang lebih kecil
dari nol (Negatif).
3. Hubungan Netral merupakan sifat hubungan antar barang dikatakan
netral apabila elastisitas silang sama dengan nol.
4.2 Rumusan dan Intepretasi Elastisitas Silang
Rumusan elastisitas silang adalah:

Intepretasi rumusan elastisitas silang:


1. Jika Exy > 0 untuk barang substitusi, misalnya jika harga beras naik,
maka beras yang diminta akan turun sehingga gandum yang diminta akan
naik.
2. Jika Exy < 0 untuk barang komplementer, misalnya jika harga gula naik
sehingga menyebabkan gula yang diminta turun, maka teh yang akan
diminta juga turun.
3. Jika Exy = 0 untuk dua barang yang netral atau tidak memiliki hubungan
sama sekali

5. Elastisitas dalam Pengambilan Keputusan Manajerial (Using Elasticity in


Manajerial Decision)
Salah satu aspek terpenting dari konsep elastisitas dalam permintaan
adalah bahwa konsep tersebut memberikan ukuran yang sangat berguna untuk
mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan faktor-faktor permintaan yang
nantinya menjadi strategi harga produk bagi manajerial dalam pengambilan
keputusan perusahaan.
Sebagai contoh dalam konsep elastisitas harga, seorang manajer harus
mengetahui derajat kepekaan dari perubahan harga produk yang dihasilkan.
Apakah suatu perubahan harga produk tersebut akan menaikkan, menurunkan,
atau tidak mengubah penerimaan total (total revenue/TR) perusahaan. Jika
manajerial memiliki takaran elastisitas yang tepat, maka dapat menyusun strategi
terbaik dari harga produk yang dihasilkan untuk memberikan TR optimal bagi
perusahaan.
Sedangkan pada konsep elastisitas pendapatan, akan memberikan
informasi bagi perusahaan terhadap seberapa besar pengaruh pengaruh tingkat
pendapatan terhadap permintaan produk yg dihasilkan. Hal ini penting sebagai
analisa peramalan (forecasting) terhadap permintaan yang mungkin terjadi, dan
direspon oleh manajer secara cepat untuk menentukan tingkat produksi
barang/jasa perusahaan. Elastisitas pendapatan juga memainkan peranan penting
dalam pemasaran perusahaan, jika pendapatan perkapita atau pendapatan rumah
tangga merupakan satu faktor penentu permintaan suatu produk maka hal tersebut
bisa mempengaruhi konsep promosi, sarana pemasaran, dan jalur distribusi
perusahaan.

Daftar Pustaka

Lincolin, Arsyad. 1998. Ekonomi Manajerial: Ekonomi Mikro Terapan untuk


Manajemen Bisnis, Yogyakarta: BPFE.

Nicholson, Walter. 1995. Teori Mikroekonomi. Jakarta : Binarupa Aksara.