Anda di halaman 1dari 22

NEUROFISIOLOGI :

CAIRAN SEREBROSPINAL

Oleh:

Oleh :
Ni Made Meilani
dr. Pontisomaya Parami,SpAn.MARS

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITRAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN / SMF ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH
2017
DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................................................i
Kata Pengantar ....................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................iii
Cairan Serebrospinal ...........................................................................................1
Penglihatan ..........................................................................................................4
Pendengaran ........................................................................................................11
Rasa ....................................................................................................................14
Bau .....................................................................................................................14
Mual Muntah .......................................................................................................15
Sistem Saraf Perifer.............................................................................................16
Cairan Serebrospinal
Cairan serebrospinal (CSF) terdapat pada (a) ventrikel otak, (b) sisterna di sekitar
otak, dan (c) ruang subaraknoid di sekitar otak dan sumsum tulang belakang
(Gambar 3-23). Cairan serebrospinal memiliki volume sekitar 150 mL dan
memiliki specific gravity 1.002 hingga 1.009. Fungsi utama cairan serebrospinal
adalah untuk melindungi otak di rongga tengkorak. Jika terjadi pukulan di kepala
yang menggerakkan seluruh bagian otak secara simultan, biasanya tidak ada
bagian otak yang terkompresi oleh pukulan secara langsung. Ketika pukulan pada
kepala sangat parah, biasanya tidak akan merusak bagian otak pada sisi ipsilateral,
melainkan pada sisi yang berlawanan. Fenomena ini dikenal dengan contrecoup
dan menggambarkan ruang antara otak dan tengkorak yang berlawanan dari arah
pukulan lalu menyebabkan pergerakan mendadak dari otak. Ketika tengkorak
tidak lagi dipengaruhi oleh pukulan, ruang tersebut akan hancur dan akan terjadi
benturan otak dengan bagian dalam tengkorak.

Pembentukan
Pleksus koroid (pembuluh darah seperti bunga kol yang ditutupi lapisan tipis sel
epitel) pada empat ventrikel serebral merupakan lokasi utama dari pembentukan
cairan serebrospinal yang terus dihasilkan dari pleksus koroid sekitar 30 mL per
jam. Dibandingkan dengan cairan ekstraselular lainnya, konsentrasi sodium dan
klorida pada cairan serebrospinal 7% lebih tinggi dan konsentrasi glukosa dan
potassium 30% lebih rendah. Perbedaan komposisi dari cairan serebrospinal ini
menunjukkan bahwa cairan serebrospinal merupakan hasil sekresi koroid dan
bukan filtrat sederhana dari kapiler. Derajat keasaman (pH) dari cairan
serebrospinal diatur dan dipertahankan pada angka 7,32. Perubahan pada PaCO2
dapat mengakibatkan perubahan pH cairan serebrospinal, yang menggambarkan
kemampuan karbon dioksida untuk melewati sawar darah otak dengan mudah.
Akibatnya, asidosis respirasi akut atau alkalosis menghasilkan perubahan pada pH
cairan serebrospinal. Transport aktif ion bikarbonat akan mengembalikan pH
cairan serebrospinal menjadi 7.32, meskipun terdapat perubahan pada pH arterial.
Gambar 3-23 Proses keluar masuknya cairan serebrospinal menurut siklus
kardiak

Reabsorpsi
Hampir seluruh cairan serebrospinal yang terbentuk setiap hari diserap kembali ke
dalam sirkulasi vena melalui struktur khusus yang dikenal sebagai vili araknoid
atau granulation. Vili ini menonjol dari ruang subaraknoid ke sinus vena otak dan
terkadang masuk ke pembuluh darah sumsum tulang belakang. Vili araknoid
merupakan trabekula yang menonjol melalui dinding vena, menghasilkan area
yang sangat permeabel dan memungkinkan aliran cairan serebrospinal mengalir
bebas ke dalam sirkulasi. Besarnya reabsorbsi tergantung pada gradien tekanan
antara cairan serebrospinal dan sirkulasi vena.

Sirkulasi
Cairan serebrospinal dibentuk di ventrikel serebral lateral dan masuk ke ventrikel
ketiga melalui foramen Monro (Gambar 3-23), dimana cairan serebrospinal ini
kemudian bercampur dengan yang cairan terbentuk disana. Cairan serebrospinal
ini lalu melewati saluran Sylvius menuju serebral ventrikel keempat, dimana
masih ada cairan serebrospinal yang dibentuk. Cairan serebrospinal masuk ke
magna cisterna melalui foramen lateral Luschka dan melalui foramen tengah
Magendie. Dari titik ini, cairan serebrospinal mengalir melalui ruang subaraknoid
ke serebrum, dimana sebagian besar merupakan lokasi vili araknoid.

Hidrosefalus
Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal pada neonatus berdampak pada terjadinya
hidrosefalus. Contohnya, pada blokade saluran Sylvius berefek pada ekspansi
ventrikel lateral dan ventrikel serebral ketiga serta kompresi otak (Gambar 3-23).
Tipe obstruksi ini mengakibatkan terjadinya hidrosefalus nonkomunikan yang
ditangani dengan pembedahan yaitu pembuatan jalur untuk mengalirkan cairan
serebrospinal di antara sistem ventricular serebral dan ruang subaraknoid.

Tekanan Intrakranial
Tekanan intrakranial normal adalah 15 mmHg. Tekanan ini diatur oleh laju
pembentukan dan resistensi serta reabsorpsi cairan serebrospinal melalui vili
araknoid yang ditentukan oleh tekanan vena. Selain itu, peningkatan aliran darah
serebral, seperti saat menghirup anestesi volatile, dapat menyebabkan peningkatan
tekanan intrakranial bersamaan dengan peningkatan aliran darah serebral dan
volume darah serebral. Tekanan darah sistemik tidak mengubah tekanan
intrakranial dalam autoregulasi normal.

Papiledema
Secara anatomi, dura otak meluas sebagai selubung di sekitar saraf optikus dan
terhubung dengan sklera. Peningkatan tekanan intrakranial akan ditransmisikan ke
selubung saraf optik. Tekanan yang meningkat pada selubung optik menghambat
aliran darah di vena retina, mengakibatkan peningkatan tekanan kapiler retina dan
edema retina. Jaringan pada diskus optikus menjadi edema dan bengkak pada
rongga mata. Pembengkakan diskus optik disebut papilledema.
Sawar Darah Otak
Sawar darah otak menggambarkan impermeabilitas dari kapiler pada cairan
serebrospinal, termasuk pleksus koroid, untuk mensirkulasi bahan seperti
elektrolit dan bahan eksogen serta toksin. Akibatnya, sel saraf dan glial pada
sistem saraf pusat, hidup dalam lingkungan yang terkendali. Sawar darah otak
dipertahankan oleh hubungan antara sel endotel dan kapiler otak. Pembentukan
kapiler otak oleh sel glial dapat menurunkan permeabilitas. Sawar darah otak
dibentuk minimal saat neonatus dan cenderung untuk terjadi kerusakan pada area
yang terkena radiasi, infeksi atau terkena neoplasma. Sawar darah otak juga relatif
permeabel pada daerah pituitari posterior dan zona pemicu kemoreseptor. Sawar
darah otak dikarakteristikkan dengan transport aktif yang dimediasi oleh p-
glycoprotein transporter (p-GP). Protein ini merupakan bagian dari ATP binding
cassette (ABC). Transport aktif dari morfin yang keluar dari sistem saraf pusat
difasilitasi oleh p-GP dann bertanggung jawab atas >90 menit penundaan antara
bolus morfin dan efek puncak morfin.

Penglihatan
Mata secara optik setara dengan kamera fotografi yang terdiri atas lensa, sistem
apertur variabel (pupil) dan permukaan yang sensitif cahaya (retina) (Gambar 3-
24).3 Sistem lensa mata memfokuskan gambar pada retina. Relaksasi dan
kontraksi dari otot siliari bertanggung jawab dalam merubah ketegangan ligamen
yang melekat pada lensa. Satu diopter setara dengan kemampuan lensa untuk
mengkonvergensikan cahaya paralel ke titik fokus dengan jarak 1 meter
dibelakang lensa (59 diopter setara dengan total daya bias mata). Stimulasi sistem
saraf parasimpatetis pada otot siliari menyebabkan otot tersebut rileks yang
mengakibatkan ligamen pada lensa rileks dan meningkatkan daya refraksinya.
Peningkatan daya refraksi memungkinkan mata untuk fokus pada objek dekat.
Gangguan pada proses akomodasi dapat dialami oleh pasien pada periode
postoperative yang memperoleh obat antikolinergik. Fungsi utama pupil adalah
untuk meningkatkan dan menurunkan jumlah cahaya yang masuk ke mata.
Sebagai contoh, diameter pupil dapat bervariasi dari 1.5 smpai 8.0 mm,
memungkinkan variasi hingga 30 kali lipat dalam jumlah cahaya yang masuk ke
mata. Lensa kehilangan elastisitasnya oleh penuaan karena denaturasi dari protein
lensa. Hal ini mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk berakomodasi pada
usia 45 sampai 50 tahun. Keadaan ini disebut presbiopia. Denaturasi progresif
pada protein lensa menyebabkan terbentuknya katarak. Pada tahap selanjutnya,
kalsium seringkali didapatkan sehingga meningkatkan kekeruhan. Jika lensa
mengganggu penglihatan, lensa dapat diganti dengan lensa buatan untuk
mengkompensasi kehilangan daya refraksi yang didapatkan.

Gambar 3-24 Skema dari mata. AP, anterior pole; PP, posterior pole; VA, visual
axis.

Cairan Intraokular
Cairan intraokular terdiri dari aqueous humor, yang terletak di depan dan sebelah
lensa, serta vitreous humor yang terletak antara lensa dan retina. Aqueous humor
merupakan cairan bebas yang terus menerus dibentuk (2 sampai 3 mL per menit)
dan diserap. Cairan ini disekresikan oleh proses siliari oleh badan siliari dengan
cara yang mirip dengan pembentukan cairan serebrospinal oleh pleksus koroid.
Setelah mengalir ke bilik mata depan, aqueous humor kemudian memasuki kanal
Schlemm, sebuah pembuluh darah tipis yang melingkar di sekitar mata. Vitreous
humor merupakan massa gelatin dimana bahan tertentu dapat masuk secara
perlahan dalam jumlah sedikit.

Tekanan Intraokular
Tekanan intraokular normal yaitu 15 hingga 25 mmHg. Tekanan ini dapat diukur
dengan tonometri. Diyakini bahwa peningkatan tekanan intraokular secara primer
diregulasi oleh resitensi aliran aqueous humor dari bilik mata depan ke kanal
Schlemm. Glaukoma berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokular yang
dapat menekan arteri retina dan mengakibatkan nyeri iskemik dan berujung
kebutaan. Ketika terapi medis untuk mengontrol glaukoma gagal, maka dilakukan
pembedahan untuk membuat jalur artifisial untuk aqueous humor.

Retina
Retina merupakan bagian mata yang sensitif akan cahaya yang mengandung sel
kerucut, yang bertanggung jawab untuk penglihatan terhadap warna dan sel
batang yang betanggung jawab terhadap penglihatan saat gelap. Ketika sel kerucut
dan sel batang distimulasi, impuls akan ditransmisikan melalui neuron di retina
dan saraf optik sebelum mencapai korteks serebral. Adanya melanin pada lapisan
pigmen retina mencegah pantulan cahaya. Tanpa pigmen ini,cahaya akan
dipantulkan ke seluruh arah, menyebabkan kelainan tajam penglihatan. Pada
albino yang tidak memiliki melanin, memiliki kemungkinan besar penurunan
tajam penglihatan.
Nutrisi pembuluh darah untuk retina diberikan oleh arteri retina sentral. Suplai
oleh pembuluh darah retina mencegah degenerasi dari retina. Pembuluh darah
retina mencegah degenerasi jika terjadi lepasnya pigmen epitel dan
memungkinkan waktu untuk koreksi bedah pada retina yang terlepas. Suplai
pembuluh darah utama pada orbita berasal dari arteri yang merupakan cabang dari
arteri karotis interna.4

Ischemic Optic Neuropathy


Ischemic optic neuropathy (ION) diakibatkan oleh infark saraf optik dan paling
sering menyebabkan hilangnya penglihatan setelah anestesi general.5 ION
diklasifikasikan menjadi ION anterior (non arteri atau arteri) dan ION posterior.
ION anterior non arteri lebih sering pada pasien yang memiliki kelainan diskus
optic kongenital. Diperkirakan bahwa luas penampang melintang dari diskus optik
menghasilkan ruang kecil untuk perluasan serat saraf optik sebagai respon
terhadap edema yang disebabkan oleh iskemia. Ion posterior telah dilaporkan
setelah dilakukan beberapa jenis operasi (operasi fusi spinal dalam waktu lama,
operasi jantung yang memerlukan bypass kardiopulmoner, operasi leher) dan
etiologinya nampaknya multifaktorial, termasuk anemia intraoperatif dan
hipotensi yang dikombinasikan dengan setidaknya satu faktor lain (misalnya,
kelainan kongenital retinal arteri sentral, peningkatan tekanan vena yang
menyebabkan obstruksi vena, administrasi cairan dalam jumlah besar, posisi head-
down yang lama, pemberian vasopressor).5-8 Posisi tengkurap saat anestesi akan
meningkatkan TIO dan dapat berkontribusi dalam menurunkan tekanan perfusi
okular (Gambar 3-25).9 Meskipun penyebab ION multifactorial, beberapa kasus
tidak memiliki faktor terkait (anemia, hippotensi) kecuali pada volume cairan
intravena yang besar.10

Gambar 3-25 Tekanan intraocular pada kesimpulan dari posisi tengkurap


berhubungan dengan waktu yang dihabiskan dalam posisi tersebut (menit).
(Cheng MA, Todorov A, Tempelhoff R, et al. the effect of prone positioning on
intraocular pressure in anesthetized patients. Anesthesiology. 2001;95:1351-
1355)
Penyebab Lain Kebutaan Pasca Operasi
Kebutaan kortikal, oklusi retina, dan obstruksi vena oftalmikus perlu menjadi
perkecualian ketika terjadi kebutaan pasca operasi sedangkan ION adalah sebuah
pertimbangan. Kebutaan kortikal dikarakteristikan sebagai hilangnya sensasi
penglihatan dengan retensi reaksi pupil terhadap cahaya namun hasil funduskopi
normal. Temuan dari CT dan MRI yaitu abnormalitas dari lobus oksipital dan
parietal mengkonfirmasi diagnosis. Penyebab kebutaan kortikal yang jarang
terjadi adalah neurotoksisitas akibat siklosporin yang biasanya reversibel.6 Oklusi
arteri retina sentral bergejala tidak nyeri dan kebutaan monocular. Pemeriksaan
oftalmoskopi menunjukkan oklusi arteri retina yang menunjukkan retina yang
edema dan pucat, bintik merah seperti buah cherry pada fovea dan platelet-fibrin
atau emboli kolesterol pada arteri retina yang menyempit. Obstruksi pada drainase
vena pada mata dapat terjadi intraoperative ketika posisi pasien yang
mempengaruhi tekanan eksternal pada mata.

Fotokimia
Fotokimia yang sensitif cahaya terus disintesis pada sel batang yaitu rhodopsin.
Sel kerucut mengandung fotokimia yang mirip rhodopsin. Vitamin A adalah
prekursor fotokimia yang penting, yang dapat menyebabkan buta saat malam hari
saat terjadi defisiensi. Fotokimia pada sel batang dan kerucut mengurai paparan
cahaya dalam proses menstimulasi serat di saraf optik. Dekomposisi rhodopsin
mengurangi konduktansi dari membran sel batang untuk ion sodium.
Hiperpolarisasi yang terjadi pada sel batang berlawanan dengan efek yang terjadi
pada hampir semua reseptor sensoris. Intensitas sinyal hiperpolarisasi sebanding
dengan logaritma energi cahaya, berbeda dengan respon linier dari sebagian besar
reseptor lainnya. Respon logaritma ini penting untuk penglihatan karena
memungkinkan mata mendeteksi kontras pada gambar meskipun intensitas cahaya
bervariasi beberapa ribu kali lipat. Jika seseorang berada dalam cahaya yang
terang dalam waktu yang lama, proporsi yang besar dari fotokimia pada sel batang
dan kerucut akan habis, sehingga mengurangi sensitivitas mata terhadap cahaya
(adaptasi cahaya). Sebaliknya, selama kegelapan total, sensitivitas retina
meningkat, yang mencermikan konversi fotokimia menjadi rhodopsin (adaptasi
gelap). Mata juga bisa menyesuaikan perubahan pada intensitas cahaya dengan
merubah ukuran pupil hingga 30 kali lipat.

Jalur Visual
Impuls dari retina lewat ke bagian belakang melalui saraf optik (Gambar 3-26).3
Makula adalah daerah kecil di tengah retina yang sebagian besar terdiri dari sel
kerucut untuk memungkinkan penglihatan yang detail. Fovea adalah bagian
sentral makula dan merupakan lokasi penglihatan yang paling jelas. Pada optik
chiasma, semua serabut dari bagian nasal retina melintas ke sisi berlawanan untuk
bergabung dengan serabut retina temporal untuk membentuk saluran optik. Serta
dari saluran optik di lateral geniculate body bersinapsis sebelum masuk ke area
visual (oksipital) dari korteks serebral. Titik spesifik pada retina terhubung dengan
titik spesifik dari korteks visual yang menghasilkan garis deteksi, batas dan warna.

Lapang Pandang
Lapang pandang adalah area yang dilihat oleh mata. Area yang dilihat pada daerah
nasal disebut lapang pandang nasal dan area yang dilihat pada daerah temporal
disebut lapang pandang temporal (Gambar 3-26).3 Fungsi penting dari lapang
pandang adalah melokalisasi lesi yang ada pada jalur neural penglihatan. Sebagai
contoh, tumor pituitari anterior, dapat menekan chiasma optikum, yang kemudian
mengakibatkan kebutaan pada kedua bagian lapang pandang temporal (disebut
bitemporal hemianopsia). Trombosis pada arteri serebral posterior merupakan
penyebab infark korteks visual.
Gambar 3-26 Impuls visual dari retina melewati chiasma optikum, dimana
serabut dari bagian nasal retina melewati sisi berlawanan serabut temporal dan
membentuk jalur optic. Serabut ini bersinapsis pada geniculate body lateral
sebelum melewati area oksipital di serebral korteks. Defek lapang pandang
mencerminkan lesi pada beberapa area pada jalur nervus (A-D).

Otot Pada Pergerakan Mata


Kontrol sistem serebral yang mengarahkan mata untuk melihat suatu objek sama
pentingnya dengan sistem serebral untuk interpretasi sinyal visual. Pergerakan
mata dikontrol oleh tiga pasang otot skeletal, yaitu (a) rectus medial dan lateral,
(b) rectus superior dan inferior, (c) rectus superior dan inferior oblique. Rektus
medial dan lateral saling berkontraksi untuk menggerakkan mata ke arah samping;
rektus superior dan inferior berkontraksi untuk menggerakkan mata ke arah atas
dan bawah. Rotasi bola mata diatur oleh rektus superior dan inferior oblique.
Masing-masing dari ketiga otot mata saling berinervasi pada nervus kranial III, IV
dan VI, sehingga salah satu dari sepasang otot akan berkontraksi ketika yang
lainnya relaksasi. Pergerakan yang sama dari kedua bola mata ke arah yang sama
disebut pergerakan konjugasi pada mata. Terkadang, abnormalitas terjadi pada
sistem kontrol pergerakan mata yang menyebabkan nistagmus. Nistagmus
biasanya terjadi ketika terjadi kerusakan aparatus vestibular atau ketika terjadi
kerusakan nukleus pada serebellum atau sedang dalam pengaruh anestesia
ketamin.

Inervasi Pada Mata


Mata diinervasi oleh sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Serabut preganglion
pada sistem saraf parasimpatis terdapat pada nukleus Edinger-Westphal di nervus
kranial III dan melewati ganglion silier, yang menimbulkan serabut saraf yang
menginervasi otot silier dan sfingter iris. Serabut saraf sistem parasimpatis
menginervasi serabut radial dari iris dan juga struktur ektraokular. Stimulasi dari
serabut sistem saraf parasimpatis merangsang sfingter siliar yang kemudian
menyebabkan miosis. Sebaliknya, stimulasi dari serabut sistem saraf parasimpatis
merangsang serabut radial dari iris dan menyebabkan midriasis. Anestesi volatil
menyebabkan dilatasi pupil, dimana opioid menyebabkan konstriksi pupil.
Memantau diameter pupil terdapat beberapa indikasi yaitu pada aktivitas residual
opioid di anestesi.

Sindrom Horner
Gangguan rantai servikal superior pada inervasi sistem saraf simpatis pada mata
menyebabkan miosis, ptosis dan vasodilatasi disebut dengan sindrom Horner.
Miosis terjadi karena interupsi dari inervasi sistem saraf simpatis ke serabut radial
iris. Ptosis menggambarkan adanya abnormalitas inervasi pada otot palpebra
superior oleh sistem saraf simpatis. Sindrom horner biasanya terjadi diikuti oleh
blok gangguan stellate dan terkadang merupakan sebuah komplikasi blok
interscalene pleksus brakial.

Pendengaran
Reseptor dari pendengaran dan ekuilibrium terletak di telinga bagian dalam
(Gambar 3-27).3 Telinga bagian luar fokus terhadap gelombang suara pada
genderang telinga,yang kontak dengan tulang di bagian telinga tengah. Suara
diperkuat di oval window, dimana getaran ditransmisikan ke sel rambut pada
koklea di telinga dalam. Anatomi sel rambut menyebabkan kemampuan menerima
frekuensi yang berbeda-beda, menunjukkan suatu yang disebut Fourier mekanik.
Arus listrik dihasilkan dari aktivasi sel rambut yang berasal dari nervus auditori ke
kolikulus inferior dan korteks auditori. Tuba eustasius menghubungkan telinga
tengah dan posterior tonsil dan memungkinkan kedua tekanan di membran
timpani menjadi sama saat mengunyah ataupun menelan. Nitrogen oksida dapat
meningkatkan tekanan telinga tengah dan dihubungkan dengan rupturnya
membran timpani saat adanya inflamasi dan jaringan parut pada tuba eustasius,
membuka nasofaring dan mencegah dekompresi ke telinga tengah.11

Tuli
Gangguan pendengaran diakibatkan abnormalitas pada koklear atau nervus
auditori. Beberapa obat seperti gentamisin, streptomisin, kanamisin, dan
kloramfenikol dapat merusak organ Corti menyebabkan tuli neural. Tuli konduksi
dapat diakibatkan oleh cedera pada area yang mengkonduksikan gelombang suara
dari membran timpani ke oval window. Tuli konduksi sering diakibatkan oleh
fibrosis dari struktur telinga tengah setelah infeksi yang berulang, misalnya dari
penyakit herediter yaitu osteosklerosis.

Gangguan Pendengaran Perioperatif


Gangguan pendengaran perioperatif seringkali tidak terdeteksi, kecuali setelah
dilakukan audiometri.12 Kehilangan pendengaran (insiden tertinggi bisa mencapai
50%) setelah pungsi dural pada frekuensi rendah seringkali akibat bocornya cairan
serebrospinal dan harus diatasi dalam hitungan hari. Kehilangan pendengaran
setelah anestesi umum untuk pembedahan yang bukan bypass kardiopulmonari
tampaknya memiliki prognosis yang tidak sama, bisa saja mencerminkan banyak
etiologi (kebocoran cairan serebrospinal pada telinga, hidung, tenggorokan, dan
bedah saraf, barotauma akibat nitrogen oksida, emboli pada operasi jantung, atau
vaskulopati yang sebelumnya sudah ada). Kesembuhan pada gangguan telinga
tergantung pada terapinya. Tuli unilateral setelah operasi bypass kardiopulmonari
tampaknya menjadi permanen yang kemungkinan terjadi akibat emboli dan
iskemia pada area organ corti.

Gambar 3-27 Skema dari telinga luar dan telinga dalam. Lat, lateral; Post,
posterior; Sup, superior.

Keseimbangan

Kanal semisirkular (utricle dan saccule dari telinga bagian dalam) penting untuk
menjaga keseimbangan (Gambar 3-27).3 Bagian utricle dan saccule mengandung
silia yang mengirimkan impuls saraf ke otak. Endolymph terdapat di dalam kanal
yang berbentuk setengah lingkaran mengalir dengan perubahan di posisi kepala,
menyebabkan sinyal ditransmisikan melalui nuclei vestibular dan serebellum.

Rasa
Rasa merupakan fungsi dari indra perasa yang pada prinsipnya berada di papilla
lidah. Manis, asam, asin, dan pahit adalah empat sensasi rasa utama. Rasa masam
disebabkan oleh asam. Intensitas rasa asam kira-kira sebanding dengan logaritma
konsentrasi ion hidrogen (contoh, pH). Pahit umumnya terasa tidak
menyenangkan. Rasa pahit alkaloid menyebabkan individu menolak zat ini. Hal
ini bersifat protektif karena banyak toksin tumbuhan adalah alkaloid.
Adaptasi terhadap sensasi rasa hampir selesai 1 sampai 5 menit setelah stimulasi
terus menerus. Individu dengan infeksi saluran pernapasan mengeluhkan
gangguan sensasi rasa, nyatanya, fungsi indra perasa adalah normal. Preferensi
rasa dianggap sebagai fenomena CNS.

Bau
Reseptor penciuman terletak di rongga hidung. Setiap reseptor penciuman terletak
pada single cilium. Reseptor olfaktori berikatan dengan G protein. Aktivasi G
protein meningkatkan aktivitas adenylyl cyclase dan meningkatkan konsentrasi
cAMP. Sebuah zat harus mudah menguap dan larut lipid untuk merangsang sel
penciuman. Pentingnya pergerakan udara ke atas dalam ketajaman insting
membaui merupakan alasan mengendus dapat meningkatkan indera penciuman,
sedangkan menahan nafas mencegah sensasi terhadap bau yang tidak
menyenangkan. Reseptor penciuman beradaptasi sangat cepat, sensasi bau itu bisa
hilang dalam waktu sekitar 60 detik. Dibandingkan dengan hewan, indera
penciuman pada manusia hampir tidak sempurna. Manusia memiliki lebih dari
1.000 gen untuk reseptor odorant tapi hanya sekitar 40% dari itu yang berfungsi.

Mual dan muntah


Mual adalah eksitasi pada daerah di medula yang berhubungan dengan
pusat muntah (emetik) (Gambar 3-28).13 Impuls ditransmisikan oleh serabut
aferen sistem saraf parasimpatis dan simpatis ke pusat muntah. Impuls motor
ditransmisikan melalui saraf kranial V, VII, IX, X, dan XII ke saluran
gastrointestinal yang melalui saraf tulang belakang ke diafragma dan otot perut
yang diperlukan untuk menyebabkan aksi mekanis muntah.
Pusat muntah medula terletak dekat dengan ventrikel serebral keempat dan
menerima aferen dari (a) zona pemicu kemoreseptor, (b) korteks serebral, (c)
pusat labyrinthovestibular, dan (d) sistem neurovegetatif. Impuls dari aferen ini
menyebabkan mual dan muntah. Zona pemicu kemoreseptor mencakup reseptor
untuk serotonin, dopamin, histamin, dan opioid. Stimulasi zona pemicu
kemoreseptor yang terletak di dasar ventrikel serebral keempat memulai muntah
terlepas dari pusat muntah. Zona pemicu dari kemoreseptor itu tidak terlindungi
oleh sawar darah otak dan zona ini dapat diaktifkan oleh rangsangan kimia yang
diterima melalui peredaran sistemik serta CSF. Korteks serebral merangsang
muntah melalui sebuah respon terhadap bau dan tekanan fisiologis tertentu.
Gerakan yang merangsang reseptor ekuilibrium di telinga bagian dalam, juga
dapat merangsang pusat muntah meduler. Sistem neurovegetatif sangat sensitif
terutama pada stimulasi gastrointestinal. Pemblokiran impuls dari zona pemicu
kemoreseptor tidak mencegah muntah karena rangsangan iritatif (ipecac) yang
timbul di saluran sistem cerna.

Gambar 3-28 Zona trigger kemoreseptor dan respon pusat muntah terhadap
berbagai stimulus menyebabkan nausea dan muntah.
Sistem Saraf Perifer

Sistem saraf perifer terdiri atas saraf motorik dan sensorik yang menghubungkan
sistem saraf pusat dengan jaringan dan organ (Gambar 3-29). Saraf yang
disebutkan tadi menjadi target anestesi regional dan telah direview di banyak atlas
regional anestesi.

Jalur Dari Impuls Sensoris Perifer


Saraf perifer memanjang dari dendrit perifer ke dorsal root ganglion, dimana
badan sel terletak, lalu ke spinal cord melalui dorsal root (Gambar 3-30). Menurut
definisinya, dendrit membawa impuls ke badan sel sedangkan akson membawa
impuls menjauhi badan sel. Bagian serabut saraf dari badan sel ke reseptor perifer
adalah dendrit, sedangkan hubungan yang relatif lebih pendek dari dorsal root
ganglion ke spinal cord adalah akson. Secara struktural, dendrit dan akson tidak
dapat dibedakan, dan pada saraf yang menyerupai akson yang panjang, disebut
pseudounipolar neuron yang terkadang digunakan untuk menjelaskan saraf
perifer.
Setelah memasuki spinal cord, sensoris neuron perifer bersinaps di dorsal dan
membangun jalur serat ascending yang mentransmisikan informasi sensoris ke
otak. Sinyal sensoris ini ditransmisikan ke otak oleh sistem dorsal-lemniscal yang
termasuk jalur bagian dorsal dan melalui spinal cord ke sisi berlawanan sebelum
kemudian ke bagian thalamus. Sinaps di thalamus diterima oleh neuron yang
memproyeksikan ke area somatik sensoris dari korteks serebral. Serabut saraf
pada sistem spinotalamik anterolateral melewati komisura anterior ke sisi
berlawanan spinal cord, dimana kemudian mengarah ke otak sebagai ventral dan
lateral dari jalur spinotalamikus (Gambar 3-31 dan Gambar 3-32).3 Sinyal sensori
dari sistem spinotalamikus anterolateral dilepaskan dari thalamus menuju area
somatic sensoris dari korteks serebral. Segala informasi sensoris yang memasuki
korteks serebral, dengan pengecualian pada sistem olfaktorius, akan melewati
thalamus.
Jalur Pada Respon Motorik Perifer
Informasi sensoris terintegrasi pada semua tingkat sistem saraf yang
menyebabkan respon motorik yang sesuai, dimulai dari spinal cord dengan respon
refleks yang sederhana. Respon motorik yang berawal dari batang otak lebih
kompleks, dimana respon motorik yang paling sulit dan rumit berasal dari korteks
serebral.
Motor neuron anterior pada spinal cord gray matter menyebabkan serat A-
α meninggalkan spinal cord melewati anterior nerve roots dan menginervasi otot
skeletal. Otot skeletal dan tendon mengandung spindle otot dan tendon Golgi yang
beroperasi pada tingkat bawah sadar untuk menyampaikan informasi ke spinal
cord dan otak yang sensitif terhadap perubahan panjang dan ketegangan dari serat
otot skeletal. Scretch reflex adalah kontraksi reflex dari otot skeletal setiap kali
ada peregangan dari otot yang berlawanan lalu mengakibatkan stimulasi spindle
otot. Pengetukan pada tendon patella menyebabkan sentakan pada lutut, dimana
merupakan scretch reflex dari otot quadriceps femoris. Sentakan pada pergelangan
kaki diakibatkan oleh refleks kontraksi dari otot gastrocnemius. Transmisi
sejumlah besar fasilitator impuls dari region atas sistem saraf pusat ke spinal cord
menghasilkan respon scretch reflex yang berlebihan. Sebagai contoh, lesi pada
area motor kontralateral dari korteks serebral, seperti yang disebabkan oleh
kecelakaan pembuluh darah serebral atau tumor otak, dapat menyebabkan scretch
reflex yang sangat meningkat. Klonus terjadi ketika scretch reflex disensitisasi
oleh impuls fasilitatorik dari otak, menyebabkan peningkatan fasilitisasi spinal
cord. Ketika dihubungkan dengan anestesia umum, klonus diprakarsai oleh
dorsofleksi yang mendadak dari kaki dan bisa dieliminasi dengan memfleksikan
lutut.
Transeksi batang otak pada pons (memisahkan spinal cord dari bagian otak
lainnya) menyebabkan spasisitas yang disebut decerebrate rigidity. Decerebrate
rigidity mencerminkan difusi peregangan.
Sistem motorik dibagi menjadi upper motor neuron dan lower motor
neuron. Lesi pada lower motor neuron berasal dari spinal cord dan menginervasi
otot skeletal. Lesi pada lower motor neuron berhubungan dengan paralisis flaksid,
atropi dari otot skeletal dan tidak adanya scretch reflex. Paralisis spastik dengan
scretch reflex yang menonjol diakibatkan oleh destruksi upper motor neuron.
Upper motor neuron berasal dari korteks serebral atau batang otak dan melewati
kortikospinal anterior dan lateral hingga kemudian berhubungan dengan lower
motor neuron pada ventral horn di spinal cord.
Withdrawal flexor reflex merupakan refleks lower motor neuron, biasanya
distimulasi oleh stimulus nyeri. Terkait dengan withdrawal dari anggota gerak
yang distimulasi merupakan perpanjangan dari anggota gerak yang berlawanan
(cross-extensor reflex) yang terjadi 0.2 sampai 0.5 detik dan mengakibatkan tubuh
menjauh akibat stimulus nyeri. Onset delay pada cross-extensor reflex diakibatkan
oleh waktu yang dibutuhkan sinyal untuk melewati neuron adisional menuju sisi
berlawanan dari spinal cord.
Gambar 3-29 Sistem saraf perifer yang menghubungkan jaringan ke spinal cord
dan sistem saraf pusat.