Anda di halaman 1dari 11

TUGAS BIOTEKNOLOGI

“STRUKTUR DETAIL DAN FUNGSI PROTEIN”

KELOMPOK 6 KELAS E

1. AYU LESTARI (1610211042)

2. RIFA WAHYUNI (1610213032)

3. KHAIRUNNISAK (1610212045)

4. OKTAVIANI LESTARI (1610211081)

5. NUREFNI AZIZAH (1610213024)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018
STRUKTUR DETAIL DAN FUNGSI PROTEIN

Protein adalah zat makanan berupa asam-asam amino yang berfungsi


sebagai pembangun dan pengatur bagi tubuh. Protein mengandung unsur karbon,
hidrogen, oksigen dan nitrogen yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat.
Protein terdiri atas rantai-rantai asam amino (20 jenis asam amino) yang terikat
satu sama lain dalam ikatan peptida. Dari dua puluh macam asam amino, tubuh
orang dewasa membutuhkan delapan jenis asam amino esensial yaitu lisin, leusin,
isoleusin, valin, triptofan, fenilalanin, metionin, treonin, sedangkan untuk anak-
anak yang sedang tumbuh, ditambahkan dua jenis lagi yaitu histidin dan arginin.
Adapun contoh asam amino non esensial yaitu prolin, serin, tirosin, sistein, glisin,
asam glutamat, alanin, asam aspartat, aspargin, ornitin (Irianto dan Waluyo,
2004).
Komposisi rata-rata unsur kimia yang terdapat dalam protein adalah
karbon 55%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%, sulfur 1% dan kurang dari
1% fosfor. Unsur nitrogen adalah unsur utama protein, karena terdapat di dalam
semua protein akan tetapi tidak terdapat pada karbohidrat dan lemak. Molekul
protein lebih kompleks daripada karbohidrat dan lemak dalam hal berat molekul
dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya (Almatsier,
1989).

FUNGSI PROTEIN

Protein memegang peranan penting dalam hampir semua proses biologi.


Peran dan aktivitas protein diantaranya adalah sebagai katalisis enzimatik,
transpor dan penyimpanan, koordinasi gerak, penunjang mekanis, proteksi imun,
membang-kitkan dan menghantar impuls saraf, serta pengaturan pertumbuhan dan
diferensiasi (Sumardi, 2008).

1. Katalisis Enzimatik
Semua reaksi dalam sistem biologis dikatalisis oleh protein yang
disebut enzim. Dengan demikian dapat disadari bahwa protein
memegang peranan yang unik dalam menentukan pola transformasi
kimia. Kemampuan katalitik protein disebabkan oleh kapasitasnya untuk
mengikat molekul substrat dengan orientasi yang tepat serta
memantapkan status transisi dalam pembentukan dan pemutusan ikatan
kimia. Enzim meningkatkan laju reaksi dengan cara yang selektif dan
efisien (Sumardi, 2008).

2. Transport dan Penyimpanan


Berbagai molekul kecil dan ion ditranspor oleh protein spesifik.
Misalnya transpor oksigen dalam eritrosit oleh hemoglobin; dan
mioglobin suatu protein sejenis mentransport oksigen dalam otot. Besi
dalam plasma darah terikat pada transferin dan disimpan dalam hati
dalam bentuk kompleks dengan feritin, protein yang lain lagi (Sumardi,
2008).

3. Koordinasi Gerak
Gerakan yang terkoordinasi sangat penting dalam kehidupan tiga
sistem motilitas eukariotik yang digerakkan oleh ATP. Pada eukariot
yang lebih tinggi, konraksi otot terjadi melalui pergeseran filamen miosin
dan aktin yang saling menyela. Memang sebagian besar sel eukariot,
mulai dari ragi sampai manusia, mampu bergerak aktif karena interaksi
aktin-miosin ini. Sentakan silia dan flagella tergantung pada kerja sama
sepasang protein lain - dinein dan tubulin. Mikrotubulus yang terbuat dari
sejumlah tubulin, membentuk kumparan mitosis, yang mengorganisasi
gerakan kromosom dalam pembelahan sel. Terlebih lagi, mikrotubulus
berperan sebagai jalur pergerakan vesikel dan organel di dalam sel,
seperti yang tampak pada transpor vesikel sekresi disepanjang ekson
neuron. Kinesin adalah salah satu dari beberapa protein yang
menggerakkan vesikel pada mikrotubulus. Pengikatan ATP ke miosin,
dinein dan kinesin membangkitkan perubahan konformasi ketiga protein
motor ini. Perubahan struktur ini dibalikkan oleh hidrolisis ATP yang
terikat dan pembebasan ADP dan Pi yang memajukan protein motor
tersebut pada jalur aktin dan tubulin (Sumardi, 2008).
4. Penunjang Mekanis
Ketegangan kulit dan tulang disebabkan oleh adanya kolagen yang
merupakan protein fibrosa (Sumardi, 2008).

5. Protein Imun
Antibodi merupakan protein yang sangat spesifik dan dapat
mengenal serta berkombinasi dengan benda asing seperti virus, bakteri
dan sel yang berasal dari organisme lain. Protein berperan penting untuk
membedakan “aku" dan “bukan aku" (Sumardi, 2008).

6. Membangkitkan dan Menghantar Implus Saraf


Respon sel saraf terhadap rangsang spesifik diperantarai oleh
protein reseptor. Misalnya rodopsin suatu protein yang sensitif terhadap
cahaya ditemukan pada sel batang retina. Protein reseptor yang dapat
dipicu oleh molekul kecil spesifik seperti asetilkolin, berperan dalam
transmisi impuls saraf pada sinap menghubungkan sel-sel saraf (Sumardi,
2008).

7. Pengaturan Pertumbuhan dan Diferensiasi


Pengaturan urutan ekspresi informasi genetik sangat penting bagi
pertumbuhan yang beraturan serta diferensiasi sel. Hanya bagian kecil
genom dalam sel yang akan diekspresikan pada suatu saat. Pada bakteri,
protein represor merupakan elemen pengatur yang penting untuk
meredam segmen spesifik suatu DNA dalam suatu sel. Pada organisme
tingkat tinggi, pertumbuhan dan diferensiasi diatur oleh protein faktor
pertumbuhan. Misalnya faktor pertumbuhan saraf mengendalikan
pertumbuhan jaringan saraf. Aktivitas sel-sel yang berbeda pada
organisme multisel dikoordinasi oleh hormon. Banyak hormon seperti
insulin dan TSh (Thyroid-stimulating-hormone) merupakan protein.
Protein dalam sel berperan dalam pengaturan arus energi dan unsur-unsur
(Sumardi, 2008).
Menurut Almatsier (2009:96-97) fungsi protein adalah sebagai berikut:

1. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan dan sel-sel tubuh.


2. Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh, hormon-hormon seperti tiroid,
insulin, dan epinerfin adalah protein, demikian pula berbagai enzim.
3. Mengatur keseimbangan air, cairan-cairan tubuh terdapat dalam tiga
kompartemen: intraseluler (di dalam sel), ekstraseluler/ interselular (di luar
sel), intravaskular (di dalam pembuluh darah).
4. Memelihara netralitas tubuh, protein tubuh bertindak sebagai buffer, yaitu
bereaksi dengan asam basa untuk pH pada taraf konstan.
5. Pembentukan anti bodi, kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi
bergantung pada kemampuan tubuh memproduksi anti bodi.
6. Mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke
jaringan-jaringan, dan melalui membran sel ke dalam sel-sel.
7. Sebagai sumber energi, protein ekivalen dengan karbohidrat karena
menghasilkan 4 kalori/g protein.

STRUKTUR PROTEIN
Protein yang tersusun dari rantai asam amino akan memiliki berbagai
macam struktur yang khas pada masing-masing protein. Karena protein disusun
oleh asam amino yang berbeda secara kimiawinya, maka suatu protein akan
terangkai melalui ikatan peptida dan bahkan terkadang dihubungkan oleh ikatan
sulfida. Selanjutnya protein bisa mengalami pelipatan-pelipatan membentuk
struktur yang bermacam-macam. Adapun struktur protein meliputi struktur
primer, struktur sekunder, struktur tersier, dan struktur kuartener (Gambar 2).

Gambar 3. Reaksi pembentukan peptida melalui reaksi dehidrasi (Voet & Judith,
2009).
Gambar 4. Struktur primer dari protein (Campbellet al., 2009).

Struktur primer merupakan struktur yang sederhana dengan urutan-urutan asam


amino yang tersusun secara linear yang mirip seperti tatanan huruf dalam sebuah
kata dan tidak terjadi percabangan rantai (Gambar 4). Struktur primer terbentuk
melalui ikatan antara gugus α–amino dengan gugus α–karboksil (Gambar 3).
Ikatan tersebut dinamakan ikatan peptida atau ikatan amida (Berget al., 2006;
Lodishet al.,2003). Struktur ini dapat menentukan urutan suatu asam amino dari
suatu polipeptida (Voet & Judith, 2009).

Struktur sekunder merupakan kombinasi antara struktur primer yang linear


distabilkan oleh ikatan hidrogen antara gugus =CO dan =NH di sepanjang tulang
belakang polipeptida. Salah satu contoh struktur sekunder adalah α-heliks dan β-
pleated (Gambar 5 dan 6). Struktur ini memiliki segmen-segmen dalam
polipeptida yang terlilit atau terlipat secara berulang. (Campbellet al., 2009; Conn,
2008).
Gambar 5. Struktur sekunder α-heliks (Murrayet al, 2009).

Gambar 6. Struktur sekunder β-pleated (Campbellet al., 2009).

Struktur tersier dari suatu protein adalah lapisan yang tumpang tindih di atas
pola struktur sekunder yang terdiri atas pemutarbalikan tak beraturan dari ikatan
antara rantai samping (gugus R) berbagai asam amino (Gambar 10). Struktur ini
merupakan konformasi tiga dimensi yang mengacu pada hubungan spasial antar
struktur sekunder. Struktur ini distabilkan oleh empat macam ikatan, yakni ikatan
hidrogen, ikatan ionik, ikatan kovalen, dan ikatan hidrofobik. Dalam struktur ini,
ikatan hidrofobik sangat penting bagi protein. Asam amino yang memiliki sifat
hidrofobik akan berikatan di bagian dalam protein globuler yang tidak berikatan
dengan air, sementara asam amino yang bersifat hodrofilik secara umum akan
berada di sisi permukaan luar yang berikatan dengan air di sekelilingnya
(Murrayet al, 2009; Lehningeret al, 2004).

Gambar 10. Bentuk struktur tersier dari protein denitrificans cytochrome C550
pada bakteriParacoccus denitrificans(Timkovich and Dickerson, 1976).

Struktur kuarterner adalah gambaran dari pengaturan sub-unit atau promoter


protein dalam ruang. Struktur ini memiliki dua atau lebih dari sub-unit protein
dengan struktur tersier yang akan membentuk protein kompleks yang fungsional.
ikatan yang berperan dalam struktur ini adalah ikatan nonkovalen, yakni interaksi
elektrostatis, hidrogen, dan hidrofobik. Protein dengan struktur kuarterner sering
disebut juga dengan protein multimerik. Jika protein yang tersusun dari dua sub-
unit disebut dengan protein dimerik dan jika tersusun dari empat sub-unit disebut
dengan protein tetramerik (Gambar 11) (Lodishet al., 2003; Murrayet al, 2009).
Gambar 11. Beberapa contoh bentuk struktur kuartener.

PENYUSUN PROTEIN
Protein tersusun dari peptida-peptida sehingga membentuk suatu polimer yang
disebut polipeptida. Setiap monomernya tersusun atas suatu asam amino. Asam
amino adalah molekul organik yang memiliki gugus karboksil dan gugus amino
yang mana pada bagian pusat asam amino terdapat suatu atom karbon asimetrik
(Gambar 1). Pada keempat pasangannya yang berbeda itu adalah gugus amino,
gugus karboksil, atom hidrogen, dan berbagai gugus yang disimbolkan dengan
huruf R. Gugus R disebut juga sebagai Rantai samping yang berbeda dengan
gugus amino. (Campbellet al., 2009).
Gambar 1. Struktur umum asam amino (Lehningeret al., 2004).

Gambar 2. Level dari struktur protein (Berg et


al., 2006).

Asam amino dalam suatu protein memiliki bentuk L, terionisir dalam larutan, dan
memiliki bentuk C asimetris kecuali asam amino jenis glisin. Asam amino standar
memiliki jumlah sebanyak 20 macam. Dari 20 macam asam amino tersebut
terbentuklah suatu rantai polipeptida. Rantai asam amino akan dilipat menjadi
bentuk 3 dimensi dan menjadi bentuk protein spesifik yang diperlukan oleh
berbagai aktivitas metabolisme atau menjadi komponen suatu sel (Lehningeret al.,
2004; Vo-Dinh, 2005). Di dalam protein tersusun 20 macam asam amino yang
memiliki karakteristik yang bebeda-beda sehingga dapat dikelompokkan
berdasarkan sifat dan ciri rantai sampingnya (gugus R). Pengelompokan tersebut
antara lain asam amino bersifat polar (serin, treonin, sistein, asparagin, dan
glutamin); non-polar (glisin, alanin, prolin, valin, leusin, isoleusin, dan metionin);
gugus aromatik (fenilalanin, tirosin, triptofan); bermuatan positif (lisin, histidin,
arginin); dan bermuatan negatif (aspartat dan glutamat). Pengelompokan tersebut
didasarkan pada polaritas, ukuran, dan bentuk dari suatu asam amino (Lehningeret
al., 2004; Murrayet al., 2009).

PEMBAGIAN PROTEIN
Berdasarkan macam asam amino yang menyusun polipeptid,Protein dapat
digolongkan menjadi3,Yaitu:
1.Protein Sempurna
Protein sempurna adalah protein yang mengandung asam-asam amino
lengkap,baik macam maupun jumlahnya.Contohnya kasein pada susu dan albumin
pada putih telur.Pada umumnya protein hewan adalah Protein Sempurna

2.Protein Kurang Sempurna


Protein kurang sempurna adalah protein yang mengandung asam amino
lengkap,tetapi .beberapa diantaranya jumlahnya sedikit.Protein ini tidak dapat
mencukupi kebutuhan pertumbuhan,Namun hanya dapat mempertahankan
kebutuhan jaringan yang sudah ada.Contohnya Protein lagumin pada kacang-
kacangan dan Gliadin pada gandum.

3.Protein Tidak Sempurna


Protein tidak sempurna adalah protein yang tidak mengandung atau sangat sedikit
mengandung asam amino esensial.Protein ini tidak dapat mencukupi untuk
pertumbuhan dan mempertahankan kehidupan yang telah ada.Contohnya Zein
pada jagung dan beberapa protein yang berasal dari tumbuhan.