Anda di halaman 1dari 17

MODUL PERKULIAHAN

Struktur
Beton I
Modul Standar untuk
digunakan dalam Perkuliahan
di Universitas Mercu Buana
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
TEKNIK
PERECANAAN
Teknik Sipil
03 MK Desi Putri, ST, M.Eng

DAN DESAIN

Abstract Kompetensi
Materi Struktur Beton I berisikan konsep Mahasiswa mampu mendesain ukuran
kekuatan komponen beton bertulang penampang optimum balok sederhana
terhadap lentur, perilaku dan disain serta desain tulangannya secara
elemen struktur dari beton bertulang, eksaks
dengan penekanan pada perilaku
elemen terhadap gaya lentur
dan gaya geser

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
1 http://www.mercubuana.ac.id
DESAIN BALOK SEDERHANA (SIMPLE BEAM) BETON BERTULANG
DENGAN TULANGAN TUNGGAL

3.1 Faktor-Faktor Desain


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan perlu menjadi pertimbangan dalam mendisain
balok beton bertulang.
 Lokasi tulangan.
 Tinggi minimum balok.
 Selimut beton (concrete cover) dan jarak tulangan.

3.1.1 Lokasi Tulangan


Tulangan dipasang di bagian struktur yang membutuhkan, yakni pada lokasi dimana beton
tidak sanggup melakukan perlawanan akibat beban, yakni di daerah tarik (ingat beton lemah
menerima tarik).
Sehingga untuk balok sederhana di atas dua tumpuan seperti Gambar 3.1, maka dibutuhkan
tulangan di bagian bawah struktur, atau pada serat yang tertarik.

Gambar 3.1. Balok di atas dua tumpuan

Sedangkan untuk balok kantilever pada Gambar 3.2 dibutuhkan tulangan pada bagian atas,
karena serat yang tertarik ada di bagain atas.

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
2 http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 3.2 Balok kantilever

Untuk balok menerus di atas beberapa tumpuan seperti pada Gambar 3.3, maka di daerah
lapangan dibutuhkan tulangan di bagian bawah, sedangkan di daerah tumpuan dibutuhkan
tulangan utama di bagain atas balok.

Gambar 3.3 Balok menerus

3.1.2 Tinggi Balok


Tabel 9.5, SNI beton 2013 menyajikan tinggi minimum balok sebagai berikut :
 Balok di atas dua tumpuan : hmin = L/16.
 Balok dengan satu ujung menerus : hmin = L/18, 5.
 Balok dengan kedua ujung menerus : hmin = L/21.
 Balok kantilever : hmin = L/8.
‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
3 http://www.mercubuana.ac.id
L = panjang panjang bentang dari tumpuan ke tumpuan.
Jika nilai tinggi minimum ini dipenuhi pengecekan lendutan tidak perlu dilakukan.

3.1.3 Selimut Beton dan Jarak Tulangan


Selimut beton adalah bagian beton terkecil yang melindungi tulangan.
Selimut beton ini diperlukan untuk :
 Memberikan daya lekat tulangan ke beton.
 Melindungi tulangan dari korosi.
 Melindungi tulangan dari panas tinggi jika terjadi kebakaran. (Panas tinggi dapat
menyebabkan menurun/hilangnya kekuatan baja tulangan).

Gambar 3.4 Selimut Beton (Cover)

Tebal minimum selimut beton untuk balok adalah : 40 mm (SNI beton 2013 pasal 7.7.3).
Sedangkan jarak antara tulangan di tetapkan seperti Gambar 3.5.

Gambar 3.5 Jarak antar tulangan

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
4 http://www.mercubuana.ac.id
3.2 Prinsip Analisis dan Desain Penampang
Balok merupakan salah satu komponen struktur yang penting disamping kolom dan fondasi,
yang menyalurkan beban-beban pelat ke kolom dan kemudian ke fondasi. Balok, disamping
memikul beban gravitasi (beban mati dan beban hidup) juga memikul beban lateral. Setiap
komponen struktur umumnya memikul gaya-gaya internal berupa momen, geser, torsi/puntir
dan gaya aksial. Dikatakan komponen balok (beam) apabila nilai gaya-gaya internal berupa
lentur, geser maupun torsi/puntir jauh lebih dominan dibandingkan gaya aksialnya.

Analisis penulangan lentur dan geser balok mengasumsikan dimensi balok dan
penulangannya sudah diketahui. Berdasarkan pada data dimensi dan spesifikasi bahan beton
(fc’) dan baja (fy) yang ada, dihitung kemampuan balok dalam menahan momen dan gaya
geser atau geser-puntir. Dengan demikian analisis balok dimaksudkan untuk mengetahui
perilaku balok apa adanya, mengasumsikan balok sudah dibuat di lapangan dengan segala
keterbatasnnya.

Dalam melihat kemampuan sebuah balok dapat dilakukan dengan dua cara :
1) melalui kinerja elastisnya atau,
2) melalui kinerja plastisnya.
Melalui cara pertama beban yang dikerjakan berupa beban rencana (beban tanpa faktor atau
beban terfaktor yang direduksi misalnya direduksi 85%). Cara kedua beban yang dikerjakan
berupa beban terfaktor disamping itu gaya-gaya internalnya juga memperhitungkan faktor
reduksi kekuatan. Analisis balok dalam bab ini lebih memperhatikan cara kedua, sedang cara
pertama dapat dibaca pada tulisan lain; misal ACI 318-2000 bab 20.

Perancangan umumnya dilakukan dalam situasi balok tidak diketahui dimensi dan
tulangannya, walaupun tidak menutup kemungkinan balok sudah diketahui dimensinya tetapi
belum diketahui luasan tulangannya. Berat sendiri balok bergantung pada dimensi yang
kemudian akan mempengaruhi nilai momen, gaya geser yang terjadi, sedang pada saat yang
sama dimensi itu sedang dalam proses pencarian.
Dengan demikian harus ada yang ditetapkan lebih dahulu atau diabaikan lebih dahulu.
Untuk itu prosedur perancangan dapat dilakukan dengan cara seperti berikut :
1) mengasumsikan lebih dahulu dimensi balok kemudian, setelah itu dimensi dibandingkan
dengan hasil hitungan kebutuhan optimumnya,

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
5 http://www.mercubuana.ac.id
2) mengabaikan pengaruh berat sendiri balok, setelah diketahui kebutuhan dimensi baloknya
kemudian dihitung ulang gaya-gaya internal balok (momen dan gaya geser) dengan
melibatkan pengaruh berat sendiri balok tersebut.

Beton kuat menahan tekan tetapi lemah menahan tarik. Kemampuan tarik beton kira-kira
hanya 10% dari kuat tekannya. Untuk mengetahui kemampuan ultimit komponen struktur,
menggunakan cara kedua di atas, kuat tarik ini layak tidak diperhitungkan dan sebagai
konsekuensinya dipasang baja tulangan pada bagian tarik guna mengatasi kelemahan beton
tersebut. Jumlah tulangan yang dipasang akan mempengaruhi kinerja balok bila beban yang
dikerjakan melebihi beban ultimitnya.

Pertimbangan antara beton sebagai penahan tekan dan baja sebagai penahan tarik
menghasilkan keseimbangan sehingga gaya-gaya eksternal dapat diimbangi gaya-gaya
internal. Ada tiga kemungkinan yang terjadi oleh perimbangan gaya internal antara bahan
beton dan baja tulangan sebagai berikut:
a. Bila kemampuan baja lebih lemah dari betonnya maka oleh beban ultimit baja rusak/leleh
lebih dahulu. Perancangan yang menghasilkan kerusakan pada baja ini dinamakan
perancangan liat/daktail (ductile reinforcement). Oleh karena jumlah tulangan yang
relatif sedikit terhadap kemampuan berimbangnya maka sering disebut pula
underreinforced design. Ciri dari balok dengan tipe ini yaitu ; oleh beban ultimit,
tulangan akan meleleh lebih dahulu dan balok akan berotasi yang ditandai oleh
lenturan/lendutan/putaran yang disertai oleh retak lentur yang besar pada momen
maksimumnya.
b. Kondisi berimbang merupakan kondisi yang ideal, yaitu baja tarik meleleh bersamaan
dengan rusaknya beton. Namun demikian, kondisi ini tidak pernah terjadi karena
kenyataan di lapangan banyak hal yang menyebabkan berubahnya kondisi itu antara lain
kualitas beton yang dirancang tidak mungkin benar-benar secara tepat dipenuhi dan
seragam (umumnya kuat tekan yang didapat lebih tinggi dan memiliki sebaran yang
cukup besar), luasan tulangan yang dirancang tidak dapat secara tepat dipenuhi karena
terbatasnya ukuran (diameter) tulangan di lapangan dan keterbatasan kualitas baja yang
tersedia di lapangan.
SNI 2847-2013 menetapkan batasan bila tulangan yang dipasang tidak lebih dari 75%
dari luasan seimbang/ balansnya maka dapat dijamin bahwa balok itu masih akan
berperilaku daktail/ liat / underreinforced design.
‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
6 http://www.mercubuana.ac.id
c. Pemasangan tulangan berlebihan dapat menjadikan balok berperilaku getas. Karena baja
sangat kuat menahan tarik sehingga beton tekan akan mengalami kerusakan lebih dahulu.
Kerusakan itu bersifat getas, mendadak sehingga tidak memberikan kesempatan
pemakainya untuk menghindar dari bencana tersebut.
Karena tulangan yang ada/ dirancang berlebih maka sering disebut pula perancangan
berlebih /overreinforced design.

3.3 Analisis Balok Tampang Empat Persegi Panjang Tulangan Tunggal


Prosedur analisis penampang dilakukan untuk mengetahui momen nominal (Mn) suatu
penampang beton existing, yang berarti data dimensi, mutu bahan, jumlah atau luas tulangan
sudah diketahui. Hal ini sering dilakukan untuk pengecekan karena pelaksanaan di lapangan
yang tidak sesuai atau menyimpang dari rencana.

Penampang beton bertulang dianggap/didefinisikan telah mencapai kekuatan maksimumnya


(disebut sebagai kekuatan nominal) jika regangan beton di tepi serat terdesak mencapai Ɛcu =
0,003; sedangkan regangan baja (Ɛs) dapat telah atau belum melampaui regangan leleh-nya
(Ɛy). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

Gambar 3.6 Distribusi regangan

Pada daerah beton yang terdesak akan mengalami tegangan desak, yang untuk mempermudah
hitungan, bentuk distribusi tegangan yang parabolik disederhanakan menjadi blok segi empat
dengan nilai tegangan 0,85*fc‘ setinggi a = β1.c. Sedangkan pada bagian yang tertarik, beton
telah retak sehingga dianggap tidak memberikan kontribusi dalam menahan tegangan tarik.
Tegangan tarik sepenuhnya dianggap ditahan oleh tulangan baja tarik, sehingga terjadi
tegangan tarik baja fs dan gaya tarik pada baja Ts = fs*As

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
7 http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 3.7 Distribusi tegangan dan regangan

Resultan tegangan desak beton adalah gaya Cc yang dapat dihitung dari ‘volume’ blok
tegangan desak Cc = 0,85*fc‘*a*b.
Nilai a dan c (letak garis netral dari tepi atas (tepi zona desak) penampang) dihitung dari
prinsip keseimbangan untuk kondisi lentur (murni), yaitu ∑FH = 0.

Gambar 3.8 Distribusi tegangan dan regangan kondisi lentur

Dari persyaratan ∑FH = 0 maka Cc = Ts, dan dengan asumsi tulangan tarik As sudah leleh
atau Ɛs > Ɛy didapat nilai a sbb:
𝐴𝑠 .𝑓 𝑦
𝑎= dan c = a / β1.
0,85 .𝑓𝑐′ .𝑏

Asumsi tulangan tarik As sudah leleh atau Ɛs > Ɛy perlu dicek kebenarannya:

𝑑−𝑐
𝜀𝑠 = 0,003 jika Ɛs > Ɛy asumsi benar
𝑐

jika Ɛs < Ɛy asumsi salah hitung ulang dengan kondisi


baja tulg tarik belum leleh!

Gaya-gaya Cc dan Ts membentuk kopel (sepasang gaya yg sama besar dengan arah
berlawanan, dengan lengan momen d-a/2), sehingga terjadi momen internal yang merupakan

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
8 http://www.mercubuana.ac.id
momen maksimum atau kapasitas momen dari penampang tersebut, atau disebut sebagai
momen nominal penampang (Mn).
Dari momen nominal penampang (Mn) selanjutnya dapat dihitung momen rencana (Mr) atau
momen desain (Md) yang kemudian nilainya dibandingkan dengan nilai momen perlu (Mu)
yang diperoleh dari analisis struktur.

Gambar 3.9 Distribusi tegangan dan regangan

Keadaan regangan seimbang (balance strain condition) adalah : regangan beton mencapai Ɛcu
= 0,003 dan regangan tarik baja tepat mencapai regangan leleh Ɛy.

Jenis kegagalan lentur balok beton bertulang


Suatu penampang balok beton bertulang dengan beban lentur didefinisikan mencapai
kekuatan maksimumnya (nilai Mn tercapai) jika regangan pada sisi terluar beton desak
mencapai nilai Ɛcu = 0,003.

Gambar 3.10 Variasi letak garis netral


‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
9 http://www.mercubuana.ac.id
Jika hal tersebut didahului dengan lelehnya baja tulangan tarik (Ɛs > Ɛy), maka penampang
tersebut dalam kondisi underreinforced.
Jika hal tersebut terjadi tepat bersamaan dengan tercapainya tegangan leleh baja tulangan
tarik (Ɛs = Ɛy), maka penampang tersebut dalam kondisi balance.
Jika hal tersebut terjadi sedangkan baja tulangan tarik masih elastik (Ɛs < Ɛy), maka
penampang tersebut dalam kondisi overreinforced.

Persyaratan Balok Beton Bertulang


Balok beton bertulang harus memenuhi persyaratan-persyaratan antara lain :
1. Kuat menahan momen akibat beban, sehingga Md ≥ Mu
2. Kuat menahan gaya geser akibat beban, sehingga Vd ≥ Vu
3. Kuat menahan momen torsi akibat beban, sehingga Td ≥ Tu
4. Bersifat daktail, memenuhi persyaratan under reinforced:
As < As, max = 0,75 Asb (pada penampang dengan tulangan tunggal)
(As - As´) < As, max = 0,75 Asb (pada penampang dengan tulangan rangkap)
5. Besar lendutan dan lebar retak pada keadaan layan tidak melebihi batas yang diijinkan
6. Jumlah tulangan lentur minimum:

tapi tidak lebih kecil dari

Untuk balok yang dicor monolit dengan pelat lantai balok T:

dan

Tulangan yang dipasang kenyataannya dapat underreinforced atau over reinforced.


Untuk meyakinkan itu maka perlu dilihat apakah nilai kedalaman blok beton a yang didapat
dari keseimbangan tulangan terpasang masih lebih kecil dari ab. Bila a < ab maka tulangan
terpasang akan menghasilkan penulangn liat/ ductile. Tetapi apabila a > ab maka tulangan
terpasang akan menghasilkan penulangan getas/ brittle. Untuk menghindarkan penulangan
getas beberapa peraturan (misal BS 1880) mensyaratkan agar kemampuan balok hanya
dibatasi sampai dengan 75% ab.

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
10 http://www.mercubuana.ac.id
Prosedur analisis :
1. menetapkan nilai β1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa atau β1 = 0,85 – 0,05(fc’ – 30)/ 7
untuk 30 < fc’ < 58 MPa dan β1 = 0,65 untuk fc’ ≥ 58MPa
2. memasukkan d, fy dan β1 ke dalam persamaan ab = β1. 600.d / (600 + fy)
3. melalui persamaan keseimbangan gaya Cc = Ts, dan menganggap bahwa tulangan
tarik sudah leleh, maka didapat a = Ast. fy/ (0,85. fc’.b)
4. a yang didapat dibandingkan dengan ab, bila a < ab maka tulangan terpasang akan
menghasilkan penulangn liat/ ductile tetapi sebaliknya akan menghasilkan tulangan
getas.
5. kemampuan nominal balok dapat dihitung melalui persamaan
Mn = 0,85 . fc’ . b. a. (d – ½.a) Mu = ϕ .Mn
6. bila a > ab maka langkah 3) dan 4) di atas salah dan hitungan a diulang dengan
menganggap tulangan tarik tidak leleh maka regangan baja pada tulangan tarik Ɛs =
0,003.(d – c) / c
7. melalui persamaan keseimbangan gaya Cc = Ts maka a = Ast . fs / (0,85. fc’.b)
8. a = Ast . (Es. Ɛs )/ (0,85. fc’.b) = Ast . 600. β1. (d – a/β1) / (a. 0,85. fc’.b)
= Ast . 600. (β1.d – a) / (a. 0,85. fc’.b)
(0,85. fc’.b).a2 + (Ast .600).a – (Ast .600.b1.d) = 0 a dapat dihitung c = a/β1
9. kontrol regangan baja tarik Ɛs = 0,003.(d – c) / c < Ɛy = fy/Es ???
10. kemampuan nominal balok dapat dihitung melalui persamaan
Mn = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) Mu = ϕ . Mn

Contoh 1
Balok berukuran b = 200mm dan h = 450mm. Bila kuat tekan beton karakteristik fc’ = 40
MPa dan tegangan leleh baja fy = 400 MPa, hitunglah kemampuan balok terfaktor bila luasan
baja tulangan terpasang 2453,12 mm2 ?

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
11 http://www.mercubuana.ac.id
Penyelesaian :
1. β1 = 0,85 – 0,005(fc’ – 30)/ 7 β1 = 0,85 – 0,05(40-30)/7 = 0,78 ≥ 0,65 OK !!
2. ab = β1. 600.d / (600 + fy) = 0,78.600.400/ (600+400) = 187,2 mm
3. menganggap bahwa tulangan tarik sudah leleh,
a = Ast . fy/ (0,85. fc’.b) = 2453,12.400/ (0,85.40.200) = 144,3 mm
4. karena a ≤ ab maka tulangan tarik sudah leleh (penulangn liat/ ductile)
5. Mn = 0,85 . fc’ . b. a. (d – ½.a) = 0,85.40.200.144,3.(400-0,5.144,3) = 321,69 kNm
6. Mu = ϕ.Mn = 0,8 . 321,69 = 257,35 kNm

Contoh 2
Contoh ini serupa dengan contoh 1, perbedaan terletak pada jumlah tulangan terpasang yang
diperbesar lagi menjadi 6000 mm2. Balok berukuran b = 200mm dan h = 450mm.
Bila kuat tekan beton karakteristik fc’ = 40 MPa dan tegangan leleh baja fy = 400 MPa,
hitunglah kemampuan balok terfaktor ?.

Penyelesaian :
1. β1 = 0,85 – 0,005(fc’ – 30)/ 7 β1 = 0,85 – 0,05(40-30)/7 = 0,78 ≥ 0,65 OK !!
2. ab = β1. 600.d / (600 + fy) = 0,78.600.400/ (600+400) = 187,2 mm
3. menganggap bahwa tulangan tarik sudah leleh,
a = Ast. fy/ (0,85. fc’.b) = 6000.400/ (0,85.40.200) = 352,94 mm > ab = 187,2 mm,
tulangan tarik tidak leleh _ anggapan salah !!!
4. hitungan diulang dengan menganggap tulangan tarik tidak leleh
(0,85. fc’.b).a2 + (Ast.600).a – (Ast.600.β1.d) = 0
6800 a2 + 3600000 a – 1123200000 = 0 a2 + 529,41 a - 165176,47 = 0
a = 220,31 mm > ab = 187,2 mm, tulangan tarik tidak leleh anggapan benar !!
5. a > ab maka tulangan terpasang akan menghasilkan penulangan getas/ brittle
6. Mn = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) = 0,85.40.200.220,31.(400-0,5.220,31) = 434,22 kNm
7. Mu = ϕ .Mn = 0,8 . 434,22 = 347,37 kNm > 257,35 kNm

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
12 http://www.mercubuana.ac.id
3.3 Perencanaan Balok Tampang Empat Persegi Panjang Tulangan Tunggal
Dalam keadaan seimbang gaya tekan beton (Cc) akan diimbangi oleh gaya tarik tulangan baja
(Cs). Pada kondisi ini tulangan baja telah mengalami pelelehan (fs = fy), sehingga berlaku
persamaan berikut :

Gambar 3.11 Penampang diagram regangan tegangan tulangan


tunggal
Cc = Ts
Cc = 0,85 . f’c . ab . b
Ts = As . fs = As . fy
Berdasarkan hubungan linier pada diagran regangan
cb = 0,003.d / (0,003 + Ɛs) dengan Ɛs = fy/Es bila Es = 200.000 MPa.
maka cb = 600.d / (600 + fy)
ab = β1 . cb ; β1 dapat bervariasi tergantung fc’ ;
ab = β1.600.d / (600 + fy= As .fy ;
agar penulangan liat maka digunakan
a = 0,75. ab =β1. 450.d / (600 + fy), a merupakan fungsi dari d (β1 dan fy diketahui)
Cc = 0,85 . f’c . b. a dan
Minternal = Mn = Ts (d – ½.a) = Cc (d – ½.a) = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a)
Bila Mn disamakan dengan Meksternal = MR =Mu /ϕ dan memasukkan a = β1. 450.d / (600 +
fy) ke dalam persamaan terakhir maka akan didapatkan fungsi kuadrat dalam d bila b
ditetapkan.

Langkah-langkah perancangan dapat dilakukan dengan cara seperti berikut.


1. menetapkan nilai β1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa atau β1 = 0,85 – 0,05(fc’ – 30)/ 7
untuk fc’ ≥ 30 MPa dan β1 ≥ 0,65
2. memasukkan fy dan β1 ke dalam persamaan cb = 600.d / (600 + fy), ab = β1. cb = β1 .
600.d / (600 + fy), a = 0,75. ab = β1 . 450.d / (600 + fy), a fungsi d
‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
13 http://www.mercubuana.ac.id
3. memasukkan a ke dalam persamaan Mn = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) sehingga Mn
merupakan fungsi b dan d
4. menyamakan Mn dengan MR = Mu /ϕ dan
5. menetapkan nilai lebar balok b dalam persamaan 4) di atas akan didapatkan persamaan
kuadrat dalam d, sehingga d dapat dihitung.
6. menetapkan tinggi total balok h = d + penutup beton (biasanya antara 50 s/d 60 mm) dan
nilai h ini dibulatkan ke atas. Bila berat sendiri balok sudah dimasukkan dalam
perhitungan momen terfaktor (Mn) maka pembulatan tidak perlu terlalu besar (misal
sekitar 5%), bila berat sendiri belum dimasukkan maka pembulatan sekitar 20%
disarankan.
7. bila berat sendiri balok belum termasuk dalam momen terfaktor, hitunglah momen
terfaktor baru dengan memasukkan berat sendiri balok.
8. memasukkan momen terfaktor baru ke dalam langkah 2) untuk mendapatkan nilai a baru
dengan memasukkan nilai d terakhir yg didapat.
9. luas tulangan dihitung berdasarkan atas nilai a terbaru, dan luasan tulangan yg diperlukan
dapat dihitung : Ast= 0,85. f’c . b. a./ fy
10. Kontrol luas tulangan yang didapat terhadap luasan minimum :

atau pilih nilai terbesarnya

Contoh 3
Balok memikul momen positif terfaktor oleh beban gravitasi sebesar 200 kNm. Berat sendiri
balok sudah termasuk di dalam hitungan momen terfaktor itu. Bila kuat tekan beton
karakteristik fc’ = 40 MPa dan tegangan leleh baja fy = 400 MPa, hitunglah dimensi dan
penulangan balok bertulangan tunggal ?.

Penyelesaian :

1) β1 = 0,85 – 0,05.(fc’ – 30)/ 7 β1 = 0,85 – 0,05.(40-30)/7 =


0,78 ≥ 0,65 OK !!
2) ab = β1. cb = 0,78. 600.d / (600 + fy) = 0,78.600.d /(600+400)
= 0,468.d a = 0,75. ab = 0,351.d
3) Mn = 0,85 . f’c . b. a. (d – ½.a) = 0,85. 40.b.0,351.d.(d-
0,5.0,351.d) = 9,84.b.d2

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
14 http://www.mercubuana.ac.id
4) Mu/f = 9,84.b.d2
5) 200.106 / 0,8 = 9,84.b.d2 bila b ditetapkan = ½ d 250.106 = 4,92.d3
3
6) d = 58,27. 106 = 387,68mm >> b = 0,5.d = 193,84 mm
7) digunakan b = 200 mm dan d = 400 mm dan h = d + penutup beton = 450 mm
8) a = 0,351.d = 0,351.400 = 140,4 mm
9) Ast= 0,85. fc’.a.b / fy = 0,85.40.140,4.200/ 400 = 2386,8 mm2

10) misal digunakan Ast= 5D25mm = 2453,12 mm2


11) Kontrol luas tulangan minimum :
1,4 40
𝐴𝑠𝑡𝑚𝑖𝑛 = 400 200.400 = 280 𝑚𝑚2 atau 𝐴𝑠𝑡𝑚𝑖𝑛 = 4.400 200.400 = 316 𝑚𝑚2

Ast = 2453,12 mm2 > As,min = 316 mm2 OK!!!

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
15 http://www.mercubuana.ac.id
TUGAS II

1. Diketahui sebuah penampang balok beton bertulang, dimensi: b = 300 mm, h = 500 mm,
ds = 60 mm. Bahan: beton fc‘ = 37,5 MPa, baja tulangan fy = 390 MPa, Es = 200 GPa .
Tulangan tarik: As = 4D22; Begel (sengkang) : P10-150.
Hitung momen rencana (MR) untuk penampang tersebut!

2. Rencanakan suatu balok persegi beton bertulang yang bertulangan tarik saja yang
terletak pada dukungan sederhana untuk beban mati 13,10 kN/m (tidak termasuk berat
sendiri) dan beban hidup 29,2 kN/m. Panjang bentang balok 6m. Gunakan tulangan
baja D10 untuk sengkangya, fc’ = 20 MPa, fy = 300 MPa.

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
16 http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR PUSTAKA

1. Dept. Kimpraswil, 2002, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang Untuk
Bangunan Gedung, SNI 03-2847-2002 .
1. MacGregor, J. G., dan Wight, J., K., 2005, Reinforced Concrete Structure, Prentice-
Hall,Inc, New Jersey.
2. Vis, W. C., Kusuma, G., 1995, Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang (Berdasarkan
SKSNI T-15-1991-03), Seri Beton 1, Erlangga, Jakarta.
3 . D i p o h u s o d o , I. , 1 9 9 4 , S t r u k t u r B e t o n B e r t u l a n g ( B e r d a s a r k a n S K S N I
T-15-1991-03), Gramedia, Jakarta
4 . Priyosulistyo, Hrc., 2010, Perancangan dan Analisis Struktur Beton Bertulang I,
Biro Penerbit UGM, Yogyakarta

‘13 Desi Putri, ST, M.Eng Pusat Bahan Ajar dan eLearning
17 http://www.mercubuana.ac.id