Anda di halaman 1dari 342

1

Universitas Indonesia
2

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwataalla, dengan


rakhmat dan karunia-Nya penelitian dan penulisan disertasi ini akhirnya dapat
diselesaikan. Akan tetapi, dalam penyelesaian disertasi ini banyak pihak yang
terlibat. Pada kesempatan ini saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
Pertama-tama ucapan terima kasih ini saya sampaikan kepada Rektor Universitas
Indonesia, Bapak. Prof. Dr. Sos. Gumilar S. M.Si, yang telah memberi
kesempatan kepada saya untuk menimba ilmu pada program doktor dalam ilmu
sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Selanjutnya, terima kasih juga saya
sampaikan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Bapak. Dr.
Bambang Wibawarta, yang telah berkenan menerima saya sebagai bagian dari
fakultas ini untuk belajar di program S3.
Kepada ketua Departemen Ilmu Sejarah, sekaligus sebagai Ko-
Promotor Bapak. Dr. Priyanto Wibowo, saya menghaturkan ucapan terima kasih
yang setinggi-tingginya atas kesediaan beliau menerima saya sebagai mahasiswa
bimbingannya. Beliau telah memberikan masukan, arahan dan dukungan yang
sangat besar terhadap saya agar terus menapak dalam usaha menyelesaikan studi
ini. Sungguh semua itu merupakan bantuan yang sangat berarti bagi saya.
Disertasi ini tidak akan mampu saya jalani tanpa bimbingan, arahan dan dorongan
dari promotor dan promotor. Untuk itu, pada kesempatan ini saya menghaturkan
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dr. Magdalia Alfian.
Sebagai ketua PPKB dan dosen inti, beliau memiliki kesibukan yang luar biasa.
Akan tetapi, di tengah kesibukan tersebut, beliau tetap meluangkan waktu untuk
membimbing dan mengarahkan dalam penelitian dan penulisan disertasi ini.
Dukungan besar yang beliau berikan, telah memberikan kekuatan kepada saya
untuk terus berjuang demi mencapai tujuan mengakhiri studi di departemen Ilmu
Sejarah.
Kepada para penguji saya, Dr. Moh. Iskandar saya menyampaikan
ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kesediaan beliau untuk membaca
naskah disertasi saya dengan teliti, sehingga memberikan masukan-masukan yang
sangat berharga bagi perbaikan disertasi ini. Di samping itu, Bp. Iskandar juga

Universitas Indonesia
3

berfungsi sebagai pembimbing akademik yang telah mengarahkan saya dalam


mengikuti perkuliahan, sehingga dapat berjalan lancar.
Kepada Bapak Prof. Dr. Maswadi Rauf, saya juga menghaturkan
terima kasih yang tidak terhingga. Dengan tingkat ketelitian yang tinggi, beliau
telah mengingatkan saya bahwa kehati-hatian itu sangat penting dalam penelitian
dan penulisan ilmiah. Masukan-masukan dari beliau sangat berharga dalam
perbaikan disertasi ini.
Kepada Prof. Dr. susanto Zuhdi, saya juga menyampaikan ucapan
terima kasih atas semua sapaan dan dorongan beliau agar saya terus semangat
melanjutkan penyelesaian disertasi ini. Perhatian-perhatian kecil yang beliau
berikan, sangat besar pengaruhnya pada saya dalam menapak jalan panjang dalam
ilmu sejarah. Begitu pula, kepada almarhum Prof Dr. R.Z. Leirissa, saya haturkan
terima kasih yang sedalam-dalamnya atas ilmu yang telah beliau ajarkan dan
diskusi-diskusi dengan beliau, telah menginspirasi saya terus menimba ilmu. Saya
juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. I Ketut Suradjaja
yang sempat menjadi dosen pembimbing akademik. Di tengah kesibukan beliau,
masih menyempatkan diri untuk membimbing saya walau pun melalui e-mail.
Semua itu memberi saya pelajaran berharga untuk diterapkan dalam membimbing
mahasiswa-mahasiswi saya nantinya.
Kepada Prof. Riris K. Toha-Sarumpaet, Ph.D, yang telah
memberikan penguatan kepada saya dalam usaha untuk terus melanjutkan tahap
akhir dari studi saya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya ini. Semua itu sangat
bermakna dan berharga bagi saya, hanya ucapan terima kasih yang sedalam-
dalamnya yang dapat saya haturkan kepada Ibu. Ucapan terima kasih juga saya
tujukan kepada Prof. Dr. N. Jenny M.T. Hardjatno atas dukungan beliau kepada
saya.
Kepada Prof. Dr. Djoko Marihandono, saya menyampaikan ucapan
terima kasih yang setinggi-tingginya atas semua bimbingan, bantuan, masukan
dan kritikan yang telah beliau berikan kepada saya. Semua itu sangat bermanfaat
bagi perbaikan disertasi ini.
Kepada semua dosen yang telah memberikan kuliah selama saya menimba ilmu
pada program S3 FIB Universitas Indonesia, saya menghaturkan ucapan terima

Universitas Indonesia
4

kasih yang setinggi-tinggi. Kedalaman ilmu yang telah bapak, ibu sampaikan telah
membuat saya ―membuka mata dan hati‖ untuk terus mengasah diri dalam
pengembangan ilmu, khususnya ilmu sejarah.
Kepada Rektor Universitas Sriwijaya, Ibu Prof. Dr. Badia Parizade,
M.B.A, yang memberikan izin dan bantuan kepada saya, sehingga dapat menimba
ilmu sejarah di Universitas Indonesia. Saya haturkan terima kasih yang sebesar-
besarnya. Tanpa bantuan ibu, saya tidak mungkin dapat menjadi bagian dari
keluarga besar universitas terbaik ini. Begitu pula, saya sampaikan ucapan terima
kasih yang setinggi-tingginya atas dukungan beliau dalam penyelesaian studi saya
kepada Pembantu Rektor I Universitas Sriwijaya, Bapak Prof. Dr. Zulkifli Dahlan,
M.Si., DEA.
Kepada Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sriwijaya, Bapak Prof. Drs. Tatang Suhery, M.A.,Ph.D, saya haturkan terima
kasih yang sebesar-besarnya atas izin yang telah diberikan, sehingga saya dapat
dengan tenang mengikuti program S3 ilmu sejarah. Ucapan terima kasih juga saya
sampaikan kepada Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas /Sriwijaya, atas semua dukungan dan dorongan beliau selama saya
menimba ilmu di universitas ini.
Kepada semua rekan sejawat sesama pengajar pada Program Studi
Ilmu Sejarah, khususnya kepada Ibu Dr. Murni, selaku Ketua Jurusan Pendidikan
IPS, Bapak Drs. Supriyanto, M.Hum, selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Sejarah, Ibu Dra. Hj. Yunani, M.Pd, Bapak Syafruddin Yusuf, M.Pd, Ibu Dra.
Isputaminingsih, M.SiI, Ibu Dra. Yetty Rahelly, M.Pd, Ibu Dr. Retno Susanti, Ibu
Dra. Sani Safitri, M.Hum, Bapak Drs. Dedi Irwanto, M.Hum, Ibu Dra. Sri
Kartika, Ibu Hudaidah, S.Pd., M.Pd, dan Bapak Syarifuddin, S.Pd., M.Pd.
Kepada rekan-rekan saya, Dr. Rosmaida Sinaga, Bapak Dr. Harto
Jowono, Abdurakhman, Abdul Syukur, Dr. Muslimin AR. Effendi, Linda Sudarti,
Setia Gumilar, Ari Harapani, Tuti Muas, Erliza, Ahzainul Milal, Dr. Bernarda
Meterai, Said D (alm). Terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan atas
semua bantuan, kebersamaan dengan penuh persahabatan yang telah terjalin
selama ini. Sungguh, semua itu adalah momen-momen yang tak terlupakan.

Universitas Indonesia
5

Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya, juga saya sampaikan


kepada pimpinan dan seluruh staf Arsip Nasional yang telah meminjamkan
khazanah sebagai data sumber bagi penelitian dan penulisan disertasi ini. Kepada
seluruh staf ruang baca, khususnya kepada Ibu Senjakala Yahya dan stafnya.
Kepada semua pimpinan dan staf Perpustakaan Nasional RI, saya haturkan terima
kasih yang tak terhingga, khususnya kepada Bapak M. Rosyid, M.Si, Ibu Atikah,
M.Hum. Begitu pula pada semua pimpinan dan staf yang membidangi surat kabar
lama, saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Dalam usaha menelusuri kembali sebagian dari jejak sejarah
Kesultanan Palembang di ibu kota Palembang ke dusun Bailangu, dan Sungsang,
saya menghaturkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Sultan
Mahmud Badaruddin III Prabu Diradja, Bapak Adenin, dan para sesepuh di dusun
Sunsang Sumatera Selatan.
Kepada staf pegawai FIB, khususnya Ibu Wiwi, Mba Ari, Mas Budi,
Mba Mumun, saya juga menyampaikan ucapan terima kasih atas semua bantuan
yang telah diberikan selama penyelesaikan pendidikan.
Kepada Bapak Suwoto sekeluarga dan Ibu Acih sekeluarga, selaku
―keluarga asuh‖ tempat saya tinggal selama pendidikan, saya haturkan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga amal kebaikan Bapak dan Ibu
mendapat ganjaran yang berlipat ganda dari Allah aamiin.
Kepada seluruh keluarga saya, kakak-kakak, Reni dan keponakan-
keponakan yang telah memberikan doa, dukungan, dan bantuan. Tiada kata yang
terucap selain terima kasih yang tak terhingga, diiringi doa semoga Allah SWT
senantiasa melindungi dan memberkahi kita semua aamiin. Kepada Bapak
almarhum H. Muhammad Yusuf. RWD, dan almarhumah Bunda Hj. Kalsoem,
semoga ananda dengan segala keterbatasan yang ada dapat terus mengemban
amanah yang diberikan untuk terus tawadduk dan istiqomah, aamiin. Begitu pula
hatur terima kasih yang mendalam kepada kedua mertua, almarhum Ayahanda
H.M. Dinah Zainuri dan Ibu Hj. Darma atas semua doa, bimbingan, dukungan
dan kasih sayang kedua beliau khususnya kepada putera-puteri kami salama saya
meninggalkan keluarga. Tak lupa kepada adik-adik kami, terima kasih yang
sebesar-besarnya atas semua doa, bantuan, dukungan khususnya selama saya

Universitas Indonesia
6

meninggalkan keluarga. Kebersamaan adalah momen-momen yang tak terlupakan


dalam kebersamaan kita selama ini. Mohon maaf atas semua kekurangan.
Terakhir kepada suami tercinta, Aryanto Dina, tiada kata terucap
selain betapa lelah dan butuh kesabaran yang tinggi hari-hari yang dilalui dalam
menjaga anak-anak selama kepergian saya. Untuk itu, terimalah permohonan maaf
saya atas semua kekhilafan dan kealfaan selama ini. Semoga Sang Khalik
mengampuni dan memberikan keberkahan pada hari-hari kita mendatang. Kepada
buah hati kami Annada Nasyaya, Rangga Azza Harby, dan Zhafir Naufal Afif.
Kita semua mendapat pelajaran sangat berharga dari ―perpisahan‖ ini, kita
menjadi semakin solid dan kalian makin mandiri. Betapa kebersamaan itu adalah
anugerah terindah dari Allah yang Maha segalanya. Mohon maafkan ibu dan
terimalah rasa syukur serta terima kasih tak terhingga atas doa, pengertian,
dukungan tiada henti yang telah kalian berikan kepada ibumu. Allah pasti
mengijabah doa dan upaya setiap makhluk-Nya, aamiin.

Kober, April 2012


Farida R.Wargadalem.

Universitas Indonesia
7

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini:

Nama : Farida R. Wargadalem


NPM : 0706222006
Program Studi : Ilmu Sejarah
Departemen : Ilmu Sejarah
Fakultas : Ilmu Pengetahuan Budaya
Jenis karya : Disertasi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-ekslusive Royalty-
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Perebutan Kekuasaan di Kesultanan Palembang (1804—1825)

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak Bebas Royalti
Noneksklusif ini Universitas berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan,
mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
memublikasikan tugas akhir saya selama tetap menyantumkan nama saya
sebagai/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demimikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 11 April 2012
Yang menyatakan,

Farida R. Wargadalem

Universitas Indonesia
8

ABSTRAK

Nama : Farida R. Wargadalem


Program Studi : Ilmu Sejarah
Judul : Perebutan kekuasaan di Kesultanan Palembang (1804—1825)

Disertasi ini menguraikan tentang terjadinya perebutan kekuasaan di Kesultanan


Palembang. Dalam perebutan kekuasaan tersebut melibatkan dua saudara kandung
(Sultan Badaruddin II dan Sultan Najamuddin II), juga melibatkan dua negara
asing yaitu Inggris dan Belanda. Penelitian ini menggunakan pendekatan
Narativisme untuk menjelaskan terjadinya konflik (internal dan eksternal) di
Kesultanan tersebut. Kajian ini menemukan bahwa kehadiran Inggris pada April
1812 di Kesultanan Palembang, memunculkan permusuhan antara dua orang
kakak beradik tersebut, sehingga Palembang jatuh ke tangan Inggris. Sejak itu
permusuhan dua bersaudara terus berlangsung sampai keduanya wafat. Sesuai isi
Traktat London (1814), dinyatakan Inggris harus keluar dari Palembang, sehingga
Palembang kembali berada di bawah pengaruh pemerintah kolonial Belanda.
Kehadiran Belanda di Kesultanan Palembang, menyebabkan Belanda membagi
tiga kekuasaan yairu Belanda, Sultan Badaruddin II, dan adiknya Sultan
Najamuddin II. Kembalinya pasukan Inggris dari Bengkulu, menyebabkan konflik
di Palembang menjadi semakin rumit. Konflik yang terjadi tidak saja antara dua
saudara kandung, tetapi juga antara Sultan Najamuddin II dan Belanda, serta
Belanda dan Inggris. Perang, merupakan alternatif penting yang terjadi di
Kesultanan Palembang. Dua kali peperangan (1819) dimenangkan oleh
Palembang, namun pada peperangan ketiga (1821), Palembang harus mengakui
keunggulan kekuatan militer Belanda. Sejak itu Kesultanan Palembang berada di
bawah kendali pemerintah kolonial Belanda. Usaha Sultan Najamuddin III untuk
melakukan perlawanan mengalami kegagalan, sehingga kesultanan itu dihapuskan
(1825).

Kata kunci: konflik, Kekuasaan, perang.

Universitas Indonesia
9

ABSTRACT

Name : Farida R. Wargadalem


Study Program : History
Title : The Seizure of Power in Palembang Sultanate

This dissertation describes about the occurrence of. The seizure involved two
brothers (Sultan Badaruddin II dan Sultan Najamuddin II) and two foreign
countries, those are England and Netherland. This research used Narrativism
approach in order to explain the occurrence of conflict (external and internal) in
that Sultanate. It was found that the attendance of British in
April 1812 in Palembang Sultanate led to a hostility between the two brothers
(Sultan
Badaruddin II dan Sultan Najamuddin II). It made Palembang was under the
power of British. The hostility between the two brothers continued until both of
them passed away. Based on the London Treaty (1814), it was stated that British
had to leave out Palembang so that Palembang was returned back to the power of
Dutch colonial. The Dutch then divided Palembang Sultanate into three powers,
the Dutch, Sultan Badaruddin II, and his brother Sultan Najamuddin II. However,
the return of British from Bengkulu led to a more complicated conflict in
Palembang. The conflict was not only between the two brothers, but also between
Sultan Najamuddin II and the Dutch and between the Dutch and the British.
Finally, the war was the only option for the conflict in Palembang Sultanate. The
war happened three times, the first and second war (1819) were won by
Palembang, however the Dutch military power conquered the power of
Palembang Sultanate in the third war (1821). Since then, the Palembang Sultanate
was under the control of the Dutch colonial government. It was Sultan
Najamuddin III who continued fighting against the Dutch, however the struggle
failed. Finally, Palembang Sultanate was completely removed (1825).

Key words: conflict, power, war.

Universitas Indonesia
10

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ix
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
ABSTRAK x
ABSTRACT xi
DAFTAR ISI xii
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
DAFTAR UKURAN xvii
DAFTAR ISTILAH xviii

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Permasalahan Penelitian 7
1.3 Tujuan Penelitian 8
1.4 Kontribusi Penelitian 8
1.5 Batasan Penelitian 9
1.6 Tinjauan Pustaka 10
1.7 Kerangka Konseptual 15
1.8 Metodologi 21
1.9 Sistematika Penelitian 26

2. KESULTANAN PALEMBANG PADA AKHIR ABAD XVIII


DAN AWAL ABAD XIX

2.1 Pemerintahan 28
2.2 Perekonomian 36
2.3 Hubungan Kesultanan Palembang dengan Belanda dan Inggris 39
2.3.1 Awal Pemerintahan Sultan Badaruddin II 49
2.3.2 Strategi Raffles untuk Menguasai Palembang 54
2.3.3 Pendudukan Loji Belanda (1811) dan Menolak Dominasi Inggris 64
2.3.4 Keterlibatan Raffles dalam Pendudukan Loji Belanda 74
3. SUKSESI DI KESULTANAN PALEMBANG

Universitas Indonesia
11

3.1 Ekspedisi Inggris (1812)dan Pemerintahan Sultan Badaruddin II


di Uluan 80
3.2 Pergantian Kekuasaan 106
3.3 Pemerintahan Inggris (1812-1816) di Palembang 114

4. PEMBAGIAN KEKUASAAN
4.1 Pemeritahan Belanda yang Kedua di Kesultanan Palembang 125
4.2 Pembagian Kekuasaan 137
4.3 Konflik Inggris dan Belanda di Kesultanan Palembang 143
4.4 Rancangan Muntinghe untuk Kesultanan Palembang 161
4.5 Akhir Pemerintahan Sultan Ratu Ahmad Najamuddin II 168
4.6 Konflik Baru di Muara Bliti 171

5. PERANG PALEMBANG
5.1 Menjelang Perang dan Perang Palembang Pertama 190
5.2 Persiapan Ekspedisi Belanda 204
5.3 Perlawanan Bangka 208
5.4 Persiapan Kesultanan Palembang 219
5.5 Perang Palembang Kedua dan Akibatnya 224
5.6 Persiapan Menghadapi Perang Palembang 253
5.7 Perang Palembang (1821) 260

6. KERUNTUHAN KESULTANAN PALEMBANG


6.1 Pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin III 274
6.2 Perlawanan Sultan Ahmad Najamuddin III 290
6.3 Keruntuhan Kesultanan Palembang 297
7. KESIMPULAN
301
DAFTAR PUSTAKA 309
LAMPIRAN 319

Universitas Indonesia
12

DAFTAR TABEL

Tabel
1. Produksi Timah Bangka (1813-1815)
115 2.Total Pengeluaran dan Keuntungan dari
Produksi Timah (1812-1815) 116

Universitas Indonesia
13

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Keraton Kesultanan Palembang

Lampiran 2, Cap Kerajaan Masa Sultan Mahmud Badaruddin II

Lampiran 3. Ekspedisi Belanda Tahun 1821

Lampiran 4. Lokasi Loji Sungai Aur

Lampiran 5. Peta Wilayah Kesultanan Palembang (Palembang-Bangka)

Lampiran 6. Peta wilayah Kesultanan Palembang (Palembang-Bngkulu)

Lampiran 7. Peta wilayah Kesultanan Palembang (Palembang-Lampung)

Lampiran 8. Peta wilayah Kesultanan Palembang (Palembang-Jambi)

Universitas Indonesia
14

DAFTAR UKURAN

A. Ukuran Berat
1 pikul 61,76 kilogram
1 gantang 3,125 kilogram
1 koyang 2.400 kilogram=40 pikul
1 pon 0, 5 kilogram

B. Ukuran Panjang/Luas
1 mil 1609 meter
1 inci 2,54 sentimeter
1 kaki 0,3048 meter
1 vadem 1,88 meter

C.Mata Uang
1 duit = 5/6 sen
4 duit = 1 stuiver
1 Stuiver = 5 sen Real
1 Gulden (atau florin,f) = 100 sen
1 Ringgit = Rijksdaalder = 2,40 Gulden
1 Rupee = 1,20 Gulden
1 Dollar`Spanyol = 2,56 Gulden
320 Picis buntu = 1 dollar Spanyol
4000 Picis teboh = 1 dollar Spanyol

Universitas Indonesia
15

DAFTAR ISTILAH

Alingan : : Para pekerja yang bertugas membantu matagawe atau yang


berada di bawah ―alingan‖ yaitu perlindungan matagawe
Atur-atur (rubo-rubo): Hadiah yang diberikan oleh sultan kepada para penguasa
Sindang yang milir sebo ke ibu kota Palembang
Batanghari Sembilan : Sungai-sungai yang mengalir di Kesultanan Palembang
Batin : Kepala daerah di Pulau Bangka
Buluarti : Empat sudut pagar keraton Kuto Besak tempat meletakkan
meriam
Depati/Pasirah : Kepala marga
Elanong (Lanun) : Bajak laut atau perompak laut
Iliran : Daerah dataran rendah (Banyuasin dan Iliran)
Jenang/Raban : Wakil pemerintah pusat yang bertugas memungut pajak dari
rakyat
Kapanjing : Orang-orang atau kelompok yang membangkang terhadap
kebijakan sultan
Kepungutan : Daerah yang langsung diperintah oleh sultan
Kongsi : Petugas lapangan yang berhadapan langsung dengan para
pekerja tambang timah
Lila : Senapan letup
Marga : Gabungan enam sampai dua belas dusun
Matagawe : Para pekerja yang diwajibkan membayar pajak
Miji : Penduduk yang menyerahkan tenaganya untuk kepentingan
sultan
Milir Seba/sebo : Para penguasa Sindang yang datang ke ibu kota untuk
mempersembahkan upeti kepada sultan
Orang Abdi : Sebutan untuk budak di Kesultanan Palembang, umumnya
orang-orang asing yang diperjualbelikan
Pangeran Adipati : Pejabat pertama kerajaan
Pembarab/Kria : Kepala dusun
Perwatin (Proatin) : Orang-orang yang bertugas membantu pekerjaan
Depati/pasirah
Picis : koin timah yang berfungsi sebagai alat tukar.
Rumah Rakit : Rumah tradisional Palembang yang mengapung di kiri-kanan
Sungai Musi, yang terbuat dari bambu, papan, dan lainnya.
Sikap : Dusun-dusun yang sebagian penduduknya bertugas
membantu keraton.
Sindang : Daerah perbatasan yang diperintah secara tidak langsung oleh
sultan

Susuhunan : sultan yang telah menyerahkan kekuasaannya kepada putera


mahkota.
Teko/Tiko : Petugas yang mengurus pertambangan antas nama sultan

Universitas Indonesia
16

Tibang/Tiban : Pertukaran wajib produk dari pedalaman dengan barang-


barang impor.
Tukong/Tukon : Penukaran wajib barang dari pedalaman dengan uang
UangSemuhan (Saomahan): Sistem pajak yang diterapkan oleh pemerintah
kolonial Belanda
Uluan : Daerah dataran tinggi (bagian barat) yaitu diluar daerah iliran
Undang-Undang simbur Cahaya : Peratuan-peraturan yang dikeluarkan oleh Ratu
Sinuhun
Undang-Undang Sindang Mardika : Peraturan-peraturan yang diberikan sultan
Palembang untuk penduduk Sindang

Universitas Indonesia
17

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesultanan Palembang didirikan oleh Ki Mas Hindi yang bergelar Sultan Abdul
Rahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam (1659--1702). Kesultanan ini
sebelumnya merupakan sebuah kerajaan yang sudah berdiri sejak abad XVI.
Untuk memutus hubungan kevazalan dengan Mataram1, dan sekaligus
menyesuaikan struktur kesultanan dengan ajaran Islam yang dijadikan sebagai
agama kerajaan2, kerajaan Palembang diubah namanya menjadi kesultanan.
Wilayah kesultanan Palembang pada awal abad XIX meliputi: Komering
Ilir, Komering Ulu, Ogan Ilir, Ogan Ulu, Musi Ilir, Musi Ulu, Banyuasin,
Lematang Ilir, Lematang Ulu, Buai Bawan, Blalau, Ranau, Buai Pemaca,
Makakau, Bual Runjung, Kisam Saka I, Kisam Saka II, Semendo Ulu Luas,
Semendo Darat, Enim, Mulak Ulu, Kikim, Ulu Manna, Pasumah Lebar, Pasumah
Ulu Lintah, Pasumah Ulu Ayer Kroe, Ampat Lawang, Rejang Tengah atau Musi,

1
Keterkaitan Palembang dengan Mataram sudah terjalin sejak Majapahit terus pada masa
Demak/Pajang sampai Mataram (Abdullah, 1996:208).
2
Kerajaan Palembang muncul pada abad XVI di bawah pimpinan Ki Gede Ing
Suro. Dari sinilah Palembang berkembang menjadi sebuah kerajaan besar. Naik
tahtanya Sultan Abdul Rahman setelah peristiwa perang antara Palembang melawan
VOC (Verenigde Oost-indische Compgnie) (1659) mengakibatkan Pangeran Sideng Rajak
mundur ke pedalaman (Inderalaya). Bukti terakhir hubungan antara Palembang dan
Mataram yaitu Sultan Abdul Rahman mengirimkan sebanyak sepuluh kapal ke Mataram
untuk membantu Mataram membasmi pemberontakan Trunojoyo (1677), setelah itu,
hubungan terputus. Hal itu disebabkan makin kuatnya posisi Palembang secara politik
dan ekonomi, juga karena makin eratnya hubungan antara Palembang dan VOC,
sedangkan Mataram makin lemah. Sebelumnya, Palembang diperintah oleh raja-raja
dengan gelar Ki Gede, Kemas/Ki Mas dan Pangeran. (Abdullah,1996: 202; Woelders,
1975:74; Stibbe, 1932: 265; Faille, 1971:24).

Universitas Indonesia
18

Musi Ulu, Musi Ilir, Rawas, Lebong, dan Bangka-Belitung.3 Dengan demikian,
batas-batas Kesultanan Palembang adalah sebelah timur dan timur laut dengan
laut, di sebelah utara dan barat laut dengan Kerajaan Jambi, di sebelah barat dan
selatan dengan wilayah Bengkulu dan di sebelah tenggara dengan Lampung
(ANRI, Bundel Palembang No. 62.2). Menurut Veth (1869: 651), Palembang
berbatasan di sebelah utara dengan Jambi, di sebelah barat laut dan barat dengan
Bengkulu, di selatan dengan Lampung dan di tenggara dengan selat Bangka, yang
luasnya mencapai 1340 mil (2.156.060 meter) persegi. Dari kedua pendapat
tersebut tidak satupun yang memasukkan Bangka-Belitung sebagai bagian dari
wilayah Kesultanan Palembang. Hal itu disebabkan kedua pulau tersebut secara
geografis terpisah dari daratan Sumatera bagian selatan, diperkuat pula dengan
adanya potensi tambang timah dan hasil perkebunan lada yang dihasilkannya.
Walaupun demikian, pihak kolonial mengakui keabsahan pemilikan kedua pulau
itu berada di tangan Palembang. Dengan demikian, batas-batas wilayah dari
Kesultanan Palembang terdiri sebelah utara dengan Jambi, di sebelah barat barat
dengan Bengkulu, di selatan dengan Lampung dan di timur dengan Laut Cina
Selatan. Dilihat dari luas wilayah tersebut, dapat ditegaskan bahwa wilayah Comment [DKM1]: Jangan menggunakan kata
kesimpulan di sini, gunakan kata ditegaskan!
Kesultanan Palembang saat itu meliputi Provinsi Sumatera Selatan, sebagian Kesimpulan berada di akhir bab.

Provinsi Bengkulu dan Provinsi Bangka-Belitung sekarang ini (Lihat lampiran


peta 1).
Sejak awal berdirinya, Kerajaan Palembang berpusat di kota Palembang4.
Sebagai pusat kerajaan, jarak Palembang dari pantai timur Sumatra (muara

3
Wilayah inilah yang nantinya menjadi wilayah keresidenan Palembang pada seperempat
pertama abad XIX , sedangkan Bangka sejak tahun 1615 sudah berada di bawah raja-raja
Palembang. Posisi ini diperkokoh dengan terjadinya perkawinan politik antara Sultan Abdul
Rahman dan janda penguasa Bangka (Kielstra, 1892: 129). Sementara itu, Clerq (1846: 130)
memiliki pendapat berbeda, bahwa bukan janda penguasa Bangka yang dinikahi oleh Sultan Abdul
Rahman melainkan puteri Bupati Nusantara (penguasa Bangka). Setelah Bupati Nusantara wafat,
puterinya mewarisi tahta Bangka dan Bangka ditempatkan di bawah Palembang. Untuk Istilah Ilir
(Iliran) dan Ulu (Uluan), istilah ini biasa digunakan oleh masyarakat Palembang untuk
membedakan wilayah berdasarkan aliran sungai yang dikenal dengan nama Batanghari Sembilan,
yang terdiri dari Sungai Musi, Sungai Klingi, Sungai Bliti, Sungai Lakitan, Sungai Rawas, Sungai
Rupit, Sungai Batang Ari Leko, Sungai Ogan dan Sungai Komering. Di samping itu, istilah ini
juga untuk membedakan kawasan dataran tinggi (bagian barat) dan daerah dataran rendah (bagian
timur). Pembagian wilayah ini didasarkan pada aliran sungai sudah terjadi sejak masa Sultan
Abdul Rahman (Falle,1971: 16; Veth,1869: 651-652; Zet,2003: 43; Stibbe,1932: 265-266).
4
Nama ‗Palembang‘ atau aslinya ‘Palimbang‘ berasal dari bahasa Jawa yang berarti
―tanah yang tergenangi air‖, karena tanah di sekitar ibu kota Palembang terdiri atas endapan
lumpur. Pendapat lain mengartikan kata Palembang sebagai ―tempat tanah yang dihanyutkan ke

Universitas Indonesia
19

Sungai Musi) mencapai 52 mil5 (83.668 meter), dan berada pada posisi 2o58‘
Lintang Selatan (ANRI, Bundel Palembang No.62.2), atau pada posisi 2o59‘27‘‘
Lintang Selatan dan 104o43‘52‖ Bujur Timur. Kota ini dilewati oleh dua puluh
sampai tiga puluh anak sungai terutama di aliran kiri yang bermuara ke Sungai
Musi. Itulah sebabnya Palembang disebut juga ―Kota dua puluh Pulau‖ yang
terletak di kedua sisi Sungai Musi yang luasnya mencapai lima mil (8045 meter).
Sungai itu membelah ibu kota dengan lebar 1.012 kaki (3085 meter) dan
kedalaman delapan sampai sembilan vadem (15,04- 16,92 meter). Sungai Musi
pada waktu itu dimanfaatkan untuk perdagangan. Kapal-kapal dagang tidak
hanya dapat berlayar sampai ibu kota tetapi terus masuk jauh ke uluan
(pedalaman). Komunikasi umumnya menggunakan perahu.6 Perahu-perahu lalu
lalang di Sungai Musi tanpa henti dalam jumlah mencapai ratusan. Di sungai itu
terdapat banyak rumah rakit yang diikatkan dengan tali rotan di tonggak-tonggak
kayu bertumpu pada rakit bambu7. Di daratan, rumah-rumah umumnya dibangun

tepi‖. Ada juga yang berpendapat bahwa pengertian lain dari nama Palembang berasal dari kata
―lemba‖ yang berarti tanah tergenang. Secara umum kesemuanya menggambarkan Palembang
sebagai tanah yang berair (lebak) (Sevenhoven,1971: 12; Veth, 1869: 654; Stibbe,1932: 270).
Sumber lain menyebutkan bahwa nama ini diperoleh dari kata kerja Lembang (‗mengalir‘,
‗mencuci‘, ‗tergenang‘) yang artinya mencuci emas, Limbang mas, yang biasanya disebut dengan
istilah Limbang. Dahulu di Bukit Sibutang (Bukit Siguntang) di dekat ibu kota Palembang, di tepi
sebuah sungai ditemukan tambang emas. Di sekitar ibu kota kadang-kadang masih ditemukan jenis
logam ini. Tempat itu mendapatkan prefiks/awalan /pa-/, sehingga menjadi Palimbang (yang
berarti ‗dicuci‘), yang kemudian menjadi Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2). Luas
kota Palembang mencapai sekitar 80 mil (128720 meter) di sepanjang tepian Sungai Musi (Java
Gouvernement Gazette, 2 Mei 1812 No. 10).
5
Menurut Sevenhoven (1971: 11) yang menjadi komisaris pemerintah Belanda tahun 1821-
1823, jarak ibu kota Palembang dengan muara Sungai Musi (yang disebut sebagai Sungai Sunsang
/Sungsang di pantai timur Palembang mencapai sekitar lima belas mil, sedangkan Wolters (1975:
33) berpendapat jarak kedua tempat itu mencapai lima puluh mil. Data dari Java Gouvernement
Gazette (2 Mei 1812 No. 10), jarak Palembang dari laut mencapai enam puluh mil, sedangkan ‗S
Gravesande (1856: 449) menyatakan bahwa jaraknya mencapai 52 mil (83668 meter) dari
Sunsang. Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa jarak antara ibu kota
Palembang dan muara Sungai Musi berkisar antara lima belas mil sampai enam puluh mil.
6
Untuk ibu kota Palembang, sebagian besar tanahnya yang terletak ditepi Sungai
Musi tergenang air (lebak), sehingga sulit untuk melakukan hubungan darat. Selain itu,
untuk wilayah Kesultanan Palembang dihubungkan oleh sungai-sungai yang dikenal
dengan nama Batanghari Sembilan. Lancarnya hubungan melalui jalur sungai,
menyebabkan penduduk Palembang tidak mengembangkan jalur darat yang sebagian
besar masih terdiri dari hutan-hutan yang lebat
7
Rumah tradisional dibuat dengan menggunakan bahan bangunan yang terdiri atas bambu,
papan dan atap. Lantainya terbuat dari papan, begitu pula dindingnya. Atapnya terbuat dari daun
kelapa, membentang menutupi beranda yang dimanfaatkan dapat digunakan untuk berdagang atau
menukang. Rakit umumnya terdiri atas beberapa bagian yaitu rumah, toko dan gudang (ANRI,
Bundel Palembang No. 62.2; Java Guovernement Gazette, tanggal 2 Mei 1812 No.10; Paulus,

Universitas Indonesia
20

di atas tonggak, yang terbuat dari papan kayu atau bambu yang tersusun rapi,
dikelilingi pagar, dihuni oleh penduduk pribumi.8 Semua bangunan terbuat dari
kayu atau bambu kecuali keraton dan masjid yang terbuat dari batu (ANRI, Bundel
Palembang No. 62.2; Java Gouvernement Gazette, tanggal 2 Mei 1812 No.10;
Java Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Paulus, 1918: 182).
Penduduk Kesultanan Palembang secara umum adalah orang Melayu
bercampur dengan orang-orang Jawa. Di daerah uluan mereka selalu
menghubungkan asal usul mereka dengan Majapahit/Jawa. Di sekitar pusat
pemerintahan Palembang banyak penduduk yang berasal dari keturunan Jawa
(pada abad XVI Palembang berhasil dikuasai oleh Mataram). Mereka bercampur
dengan orang-orang Melayu dari Malaka dan orang-orang yang berasal dari
pulau-pulau di sekitarnya, termasuk dengan orang-orang Melayu dari pantai timur
Sumatera. Orang Timur Asing yang tinggal di sekitar ibu kota terdiri dari orang
Cina9, Arab10 dan orang asing lainnya. Di daerah pedalaman terdapat suku
terasing yaitu Kubu dan Gugu. Sebagian besar penduduk yang berada di daerah
uluan umumnya hidup berkelompok di tepi-tepi sungai sehingga pola pemukiman
penduduk di wilayah itu tidak sama. Sementara itu, di daerah iliran, yaitu wilayah

1918: 182). Beberapa rakit diikat satu sama lain dengan tali rotan, yang dihubungkan dengan
papan yang berfungsi seperti jembatan. Rumah rakit berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang
Cina dan orang asing lainnya. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu tembesu yang mahal
harganya dan menggunakan atap genting. Ditempatkannya orang-orang Cina dan orang asing
lainnya di rumah-rumah rakit karena Sultan takut jumlah mereka akan semakin berkembang, yang
dapat membahayakan Palembang. Sementara itu, banyak orang Eropa lebih memilih tinggal di
rakit daripada di daratan, karena kenyamanannya (udaranya sejuk) (Veth, 1869 :656; ‗S
Gravesande, 1856: 454; Paulus, 1918: 182).

8
Tahun 1812 penduduk kota Palembang berjumlah dari 20 ribu sampai 30 ribu jiwa
(Java Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812).

9
Orang-orang Cina di Palembang umumnya berprofesi sebagai pedagang
perantara, yang berkedudukan tetap di ibu kota. Mereka tidak berani masuk ke daerah
uluan karena takut dirampok. Pada 1812 jumlah mereka mencapai 700 jiwa (Java
Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812)
10
Orang-orang Arab yang terdapat di Palembang umumnya berasal dari
Hadramaud, jumlah mereka di kesultanan ini merupakan terbesar kedua setelah Aceh di
Sumatra. Pada masa pemerintahan Sultan Badaruddin II, Sultan memberi kemudahan
bagi kelompok itu untuk menetap di Palembang. Mereka tinggal di rumah-rumah
panggung besar terbuat dari papan di sepanjang Sungai Musi. Pada saat itu jumlah
mereka mencapai 500 jiwa, umumnya berprofesi sebagai pedagang dan pengusaha
(Berg, 2010: 108-109)

Universitas Indonesia
21

timur yang terdiri dari dataran rendah dan pantai (rawa-rawa dan paya-paya
sehingga tidak cocok untuk pertanian). Penduduknya sangat jarang. Mereka
menghuni wilayah yang sangat luas, hampir separuh luas keseluruhan wilayah
Kesultanan Palembang pada awal abad XIX.11
Setelah masa pemerintahan Sultan Abdul Rachman, terjadi pergantian
kekuasaan beberapa kali. Sultan Abdul Rachman digantikan oleh puteranya yaitu
Sultan Muhammad Mansur (1702--1714). Sultan Muhammad Mansur
menyerahkan kekuasaan kepada Sultan Komaruddin (1714--1724). Pengganti
Komaruddin adalah Sultan Mahmud Badaruddin I (1724--1757). Selanjutnya,
Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan Ahmad Najamuddin I (1757--1776),
yang dilanjutkan oleh Sultan Muhammad Bahauddin (1776--1804).
Di penghujung abad XVIII banyak terjadi perdagangan bebas. Maraknya
perdagangan bebas ini disebabkan karena mundurnya VOC12. Dampak positif dari
maraknya perdagangan bebas ini, Palembang semakin kaya sebagai akibat dari
dilakukannya ekspor gelap oleh kerajaan (ekspor gelap kerajaan Palembang ke
Makau Cina mencapai 20.000 pikul lada dan 27.655 pikul timah per tahun,
sedangkan perdagangan dengan pemerintah Belanda pada 1800 hanya
mengekspor sebanyak 5000 pikul untuk masing-masing komoditi lada dan timah.
Kondisi itulah yang dialami oleh putera mahkota yaitu Raden Hasan Pangeran
Ratu yang saat naik tahta bergelar Sultan Ratu Mahmud Badaruddin II (1804--
1821) (Woelders, 1975: 75-85; Veth, 1869: 657).
Pada awal masa pemerintahan Sultan Badaruddin II (1804), di Hindia
Timur sedang terjadi perang antara Belanda dan Inggris. Hal itu tidak bisa

11
Sampai pertengahan abad XIX yang dimaksud dengan daerah iliran adalah daerah
dataran rendah di pantai, meliputi Banyuasin dan Iliran. Sementara itu, di luar wilayah itu
dimasukkan ke dalam daerah uluan (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2).
12
Hubungan resmi pertama antara Palembang dan VOC terjadi pada 1641 yang
menyatakan bahwa VOC diizinkan berdagang di Palembang. Kontrak itu diperbaharui pada 1642
yang menetapkan VOC berhak atas monopoli perdagangan lada di Palembang. Timah ditemukan
di Bangka 1709/1710 (tambang timah tertua terdapat di wilayah Belo). Belanda sangat
berkeinginan menguasai perdagangan komoditi ini. Peluang itu terbuka dengan terjadinya perang
saudara antara Pangeran Anom dengan Pangeran Jayawikrama yang terjadi pada 1719. Peperangan
itu dimenangkan oleh Pangeran Jayawikrama setelah memperoleh bantuan dari VOC. Setelah naik
tahta, Pangeran Jayawikrama bergelar Sultan Mahmud Badaruddin I. Sebagai imbalannya Belanda
memperbaharui kontrak pada 1722 yang memiliki hak untuk memonopoli timah, hak mendirikan
loji di muara Sungai Aur (Ricklefs, 2005: 154, 157; Kielstra, 1892:79; Faille,1971: 28; Bleeker,
1848: 397).

Universitas Indonesia
22

dilepaskan dari situasi di Eropa yang sedang terjadi peperangan antara Prancis
bersama sekutunya (Belanda dan Spanyol) dan negara-negara penganut monarki
seperti Inggris, Austria dan Prusia sebagai akibat dari meletusnya Revolusi
Prancis. Ketika Prancis berperang melawan Inggris, Prancis berhasil menduduki
Belanda, kemudian mendirikan Republik Bataf di Belanda pada 1795--1806.
Pendudukan tersebut menyebabkan penguasa Belanda saat itu melarikan diri ke
Inggris, dan mengeluarkan ketentuan agar koloni-koloni Belanda di Hindia Timur
diserahkan kepada Inggris agar tidak jatuh ke tangan Prancis. (Marihandono,
2005: 9-13).
Akibatnya, Inggris memblokade dan memutuskan untuk menguasai Pulau
Jawa. Dalam rangka merealisasikan maksud tersebut Thomas Stamford Raffles13,
melakukan pendekatan terhadap raja-raja Melayu khususnya penguasa Palembang
yaitu Sultan Ratu Mahmud Badarudddin II. Memanfaatkan situasi pada waktu itu
dan dukungan aktif dari Raffles, Sultan Badaruddin II menyerang, membunuh
sebagian besar penghuni loji Belanda dan menghancurkan bangunan-
bangunannya (ANRI¸Bundel Palembang No. 67; Baud, 1853: 10-12; Bastin, 1953:
306-314; Kielstra, 1892:81).
Konsekuensi dari tindakan tersebut, membawa Kesultanan Palembang
pada kemelut berkepanjangan yang melibatkan dua negara besar yaitu Belanda
dan Inggris. Di samping itu, melibatkan pula dua saudara kandung yaitu
Badaruddin II dan Najamuddin II, serta usaha yang dilakukan oleh Sultan
Najamuddin III untuk mempertahan kekuasaannnya. Akhirnya, berbagai konflik
itu membawa Kesultanan Palembang pada kehancurannya. Perubahan-perubahan
yang terjadi di Kesultanan Palembang selama 21 tahun (1804--1821) merupakan
persoalan yang unik dan menarik untuk diteliti. Dengan penelitian ini, diharapkan
akan mampu mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan konflik di
kerajaan itu ―bersegi banyak‖ dengan melibatkan dua orang bersaudara kandung

13
Raffles, adalah perwira intelijen militer. Sejak 1805 ia sudah menjadi Ajun
Sekretaris di Penang. Dari Juli 1810 Raffles mengusulkan dirinya kepada Lord Minto
(Gubernur Jenderal EIC di Calcutta) agar ditempatkan di daerah Melayu. Ia berjanji akan
melepaskan pengaruh Belanda di kerajaan-kerajaan Melayu, khususnya Palembang
(Woelders, 1975: 5).

Universitas Indonesia
23

dan dua bangsa asing yaitu Inggris dan Belanda. Berbagai konflik itu
menyebabkan Kesultanan Palembang mengakhiri eksistensinya.

1.2 Permasalahan Penelitian.

Perebutan kekuasaan yang terjadi di Kesultanan Palembang, disebabkan oleh


berbagai faktor, baik internal maupun eksternal yang membawa kesultanan ini
pada kehancuran yaitu dihapuskan pada 1825. Faktor internal terjadi karena
keinginan adik Sultan Machmud Badaruddin II yaitu Pangeran Dipati untuk
menjadi sultan dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara melibatkan
Inggris dan Belanda. Sementara itu, faktor eksternal adalah keinginan Belanda
dan Inggris yang tetap ingin berkuasa bahkan terlibat dalam konflik internal,
dalam usaha untuk menguasai Kesultanan Palembang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, sangatlah menarik untuk membahas
keberadaan Kesultanan Palembang tersebut. Ada pun permasalahan penelitiannya
adalah ―Bagaimana proses keruntuhan Kesultanan Palembang (1825)?‖. Untuk
mengkaji lebih dalam tentang permasalahan di atas, permasalahan penelitian ini
dijabarkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan di bawah ini :
1) Apa yang mendasari konflik antara Sultan Mahmud Badaruddin II dan
Sultan Ahmad Najamuddin II, dikaitkan dengan situasi dan kondisi di Kesultanan
Palembang pada akhir abad XVIII hingga awal abad XIX;
2) Mengapa Inggris melakukan ekspedisi terhadap Kesultanan Palembang
pada 1812, dan bagaimana pelaksanaan pelaksanaan pemerintahan mereka di sana
(1812-1816)?;
3) Apa dampak dari pembagian kekuasaan di Kesultanan Palembang, baik
bagi Palembang, Belanda, dan Inggris?;
4) Bagaimanakah pelaksanaan perang antara Kesultanan Palembang dan
Belanda (1819 dan 1821)?;
5) Apa yang menyebabkan penghapusan Kesultanan Palembang oleh
pemerintah kolonial Belanda?
1.3 Tujuan Penelitian

Universitas Indonesia
24

Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk


menjelaskan situasi dan kondisi Kesultanan Palembang pada akhir abad XVIII
dan awal abad XIX. Selanjutnya, diharapkan dapat menjelaskan penyebab Inggris
melakukan ekspedisi terhadap Kesultanan Palembang pada 1812, sekaligus
memaparkan pelaksanaan pemerintahan Inggris dari 1812 sampai 1816 di
kesultanan itu. Kehadiran Inggris di Kesultanan Palembang, juga diharapkan
dapat mengungkapkan penyebab munculnya konflik antara Sultan Mahmud
Badaruddin II dan Sultan Ahmad Najamuddin II.
Setelah berakhirnya pemerintahan Inggris, dilanjutkan oleh pemerintah
kolonial Belanda di Kesultanan Palembang. Penelitian ini diharapkan dapat
mengungkapkan pelaksanaan pemerintahan Belanda di Palembang, dan dampak
dari pembagian kekuasaan yang terjadi di kesultanan itu terhadap Palembang,
sekaligus untuk menjelaskan dampak lainnya yaitu terjadinya konflik antara
Belanda dan Inggris di wilayah Kesultanan Palembang. Selama masa
pemerintahan Belanda yang kedua di Kesultanan Palembang, terjadi tiga kali
peperangan antara pihak Palembang di satu sisi, dan Belanda di sisi lain.
Diharapkan, penelitian ini dapat menjelaskan apa penyebab dan pelaksanaan dari
ketiga peperangan tersebut. Dengan pengungkapan ini, diharapkan pula untuk
memperkaya khazanah penulisan sejarah lokal Palembang khususnya tentang
Kesultanan Palembang, dan sejarah Palembang secara keseluruhan sampai
sekarang dan yang akan datang.
Pada 1825 pemerintah kolonial Belanda menghapuskan Kesultanan
Palembang. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan ―apa yang
menyebabkan dihapuskannya Kesultanan Palembang.

1.4 Kontribusi Penelitiaan

Penelitian ini setidaknya memiliki dua manfaat yakni manfaat praktis dan
akademis. Manfaat praktis penelitian ini adalah menggali peran Kesultanan

Universitas Indonesia
25

Palembang dalam mempertahankan eksistensinya di hadapan bangsa-bangsa


kolonial Inggris dan Belanda. Penelitian ini sekaligus juga mengungkap
permasalahan yang terjadi pada lapisan elite Kesultanan. Hal ini akan
bermanfaat untuk membantu memahami peran Kesultanan Palembang pada
masa perempat pertama abad XIX, sebagai bagian dari perlawanan rakyat di
Nusantara terhadap kolonial. Dengan pemahaman tersebut, bermanfaat bagi
para pengambil keputusan di Provinsi Sumatera Selatan, untuk mengakomodir
dan mendorong semua elemen masyarakat yang berperan dalam melestarikan,
dan membina nilai-nilai sejarah, dan kebudayaan di Provinsi Sumatera Selatan.
Manfaat akademis dari penelitian ini adalah untuk memberikan
kontribusi pada historiografi Indonesia khususnya memperkaya khazanah
penulisan sejarah lokal. Disertasi tentang peran Kesultanan Palembang di awal
abad XIX sampai dihapuskannya pada 1825, dapat dijadikan sebagai titik tolak
pengkajian dan penelitian sejarah Palembang baik sebelum abad XIX, mau pun
setelah penghapusannya. Sebab era pascakeruntuhannya di wilayah bekas
Kesultanan Palembang terjadi pergolakan panjang sampai sebagian besar
wilayah uluan berhasil dikuasai pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1860-
an. Begitu pula untuk era sebelum abad XIX. Berbagai penelitian yang telah
dilakukan oleh para mahasiswa dan penelitian selama ini, umumnya belum
menggunakan arsip sebagai sumber penting dalam mengkaji sejarah Palembang.

1.5 Batasan Penelitian

Penelitian ini mempunyai tiga batasan: tematis, spasial, dan temporal. Batasan
tematis dalam penelitian ini adalah tentang perebutan kekuasaan di Kesultanan
Palembang (1804--1825) yang melibatkan Belanda dan Inggris serta konflik
internal di kesultanan itu. Perebutan tersebut dikarenakan Kesultanan Palembang
memiliki sumber daya alam yang sangat dibutuhkan pada waktu itu yaitu timah,
juga karena ketidaktaatan kongsi dagang Inggris (EIC) terhadap negara induknya.
Mereka merasa dirugikan atas adanya perjanjian sepihak antara Inggris dan

Universitas Indonesia
26

Belanda di Eropa tanpa melibatkan kongsi dagang tersebut, yang selama ini telah
berjuang untuk menguasai sumber daya alam di Pulau Bangka.
Batasan spasial penelitian ini adalah wilayah geografis tempat peristiwa
itu berlangsung yaitu mencakup wilayah Kesultanan Palembang yang terbentang
dari Ampat Lawang dan Rejang14 di sebelah barat, Rawas di sebelah utara, Kisam
dan Makakau di selatan dan pulau Bangka-Belitung di sebelah timur. (Veth, 1869:
651). Penelitian ini diawali pada tahun 1804 yaitu tahun awal masa
pemerintahan Sultan Badaruddin II. Pada masa pemerintahan Sultan Badaruddin
II Kesultanan Palembang menjadi ajang perebutan antara dua kekuatan Eropa
yaitu Inggris dan Belanda. Penghapusan Kesultanan Palembang pada tahun 1825
dijadikan akhir penelitian ini. Masa pemerintahan Sultan Badaruddin II
merupakan awal intervensi pihak asing terhadap Palembang, sehingga terjadi
berbagai konflik sampai akhirnya Sultan Badaruddin II dibuang ke Ternate akibat
kekalahan dalam pertempuran 1821. Selanjutnya penguasa Palembang
memerintah di bawah kendali Belanda, ditandai penyerahan kekuasaan pada 1823.
Usaha Sultan Najamuddin III Prabu Anom melakukan perlawanan tidak
membawa hasil, sehingga Kesultanan Palembang dihapuskan pada 1825. Comment [DKM2]: Kalimat ini ditata kembali
Awal tahun penelitian merupakan awal intervensi
sementara tahun 1825 adalah dihapuskannya
kesultanan Palembang. Dipisah dan jangan dijadik
satu.
1.6 Tinjauan Pustaka

Penelitian ini didasarkan pada penelitian arsip sebagai sumber primer. Arsip yang
digunakan diambil dari lembaga penyimpanan arsip resmi negara, yakni Arsip
Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pusat penyimpanan arsip ini menyimpan
semua arsip keresidenan yang ada di wilayah Indonesia. Penelitian ini
memanfaatkan Bundel Palembang, dan Bundel Bangka. Dalam katalog Bundel
Palembang dan Bangka, arsip-arsip yang diperlukan untuk penulisan ini terdiri
dari koleksi akhir abad XVIII, dari 1800 sampai 1825 bahkan sesudahnya.
Sumber lain yang tidak kalah penting adalah naskah peninggalan
Kesultanan Palembang, seperti Sejarah Nageri Palembang, Silsilah Kesultanan

14
Batas alami antara Bengkulu dan Palembang terletak 4 derajat Lintang Selatan
dengan ketinggian sekitar 2000 kaki. Daerah yang berbatasan langsung adalah Rejang
(Rejang terbagi antara Rejang Bengkulu dan Rejang Palembang (Kemp, 1900: 435-436).

Universitas Indonesia
27

Palembang, Silsilah Keturunan Sultan Badaruddin II, Silsilah Raja-Raja


Palembang, Undang-Undang Simbur Cahaya, dan Syair Perang Menteng. Sebagai
Sultan, Sultan Badaruddin II memiliki sejumlah besar naskah. Badaruddin II juga
dikenal sebagai pengarang sejumlah karya puisi seperti Hikayat Martalaya, Syair
Nuri, Sinyor Kosta dan pantun. Sebagian naskah tersebut tersimpan di
Perpustakaan Nasional Jakarta, sebagian lagi masih disimpan oleh ahli waris
sultan maupun anggota masyarakat Palembang.
Penelitian ini menggunakan pula beberapa sumber sekunder yang terdiri
atas majalah sezaman dan beberapa ensiklopedi Belanda. Dalam majalah-
majalah ini dimuat artikel baik sebagai laporan, kesaksian maupun tinjauan
ilmiah yang antara lain ditulis oleh para peneliti, saksi peristiwa, birokrat,
akademisi sampai dengan para perwira militer. Meskipun sudah diolah menjadi
suatu tulisan ilmiah yang diterbitkan, karya-karya ini sangat bermanfaat dalam
memahami permasalahan penelitian, karena melengkapi informasi yang
diperoleh yang berasal dari sumber primer. Di antara majalah-majalah yang
digunakan adalah Indische Gids, de Gids, Tijdschrift voor Nederlandsch Indie
(TNI), Indisch Militair Tijdschrift (IMT), Bijdrage van Koloniaal Instituut (BKI), dan
Koloniaal Weekblad. Majalah-majalah ini tersimpan di berbagai perpustakaan
seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budya Universitas Indonesia, Perpustakaan Kolese Santo Ignasius
Yogyakarta. Beberapa perpustakaan daerah juga menyimpan naskah-naskah baik
Kerajaan Palembang maupun Kesultanan Palembang. Perpustakaan daerah yang
menyimpan naskah Palembang antara lain Perpustakaan Daerah, Daerah
Istimewa Yogyakarta, dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan di
Palembang. Sementara itu, penggunaan ensiklopedi Belanda bertujuan untuk
memahami peristilahan, konsep atau tokoh yang berkaitan dengan objek
penelitian. Dalam hal ini yang diambil dari ensiklopedia adalah berbagai hal yang
berkaitan dengan Kesultanan Palembang dan Belanda. Ensiklopedia yang
digunakan adalah Encyclopaedie van Nederlandsch Indie (ENI), Aardrijskundige
Woordenboek van Nederlansch Indie. Kedua ensiklopedi ini dapat dilihat di di

Universitas Indonesia
28

Arsip Nasional Republik Indonesia atau di Perpustakaan Nasional Republik


Indonesia. Digunakan pula Ensiklopedi Islam Indonesia untuk merujuk konsep
sultan dalam melihat asal penggunaan gelar tersebut dalam dunia Islam.
Koleksi lain dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang
digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabar sezaman. Di antaranya adalah
Bataviasche Courant (1819,1821,1824) dan Java Gouvernement Gazette (1812).
Meskipun diterbitkan di Batavia, kedua surat kabar ini, menyajikan berita dari
seluruh wilayah di Hindia Timur.
Buku dan artikel majalah yang membahas tentang Kesultanan Palembang
pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX sangat terbatas. Di antaranya adalah
buku karangan J.L. Van Sevenhoven (komisaris pemerintah Belanda di
Palembang 1821), yang berjudul Beschrijving van de Hooodplaats van
Palembangsche. Buku ini diterjemahan oleh Sugarda Purwakawaca dengan
jusul ―Lukisan Tentang Ibukota Palembang‖ (1971). Terjemahan ini diterbitkan
oleh penerbit Bhratara di Jakarta tahun 1971.
Dalam buku ini digambarkan usaha-usaha yang dilakukan oleh
Sevenhoven dalam menerapkan sistem pajak pertama kali di Kesultanan
Palembang. Digambarkan pula tentang kekuasaan sultan, strastifikasi sosial
masyarakat Palembang, kondisi alam, iklim dan perekonomian. Sevenhoven juga
menggambarkan konflik tahun 1819 dan 1821 antara Palembang dan Belanda. Hal
lain yang perlu dicatat adalah bahwa orang Palembang yang mendiami ibu kota
bukan sebagai petani. Mata pencaharian mereka bukan bertani. Mereka
mengembangkan berbagai seni kerajinan tangan, antara lain seni lukis, seni ukir,
tenun dan industri persenjataan. Pekerjaan utama mereka adalah berdagang.
Penduduk Palembang berdagang dengan pedagang lain yang berasal dari Pulau
Jawa, Bangka, Cina, Riau, Pulau Penang, Malaka, Singapura, Lingga dan Siam.
Sebagai penulis dan seorang pelaku sejarah pada waktu itu, buku
Sevenhoven ini sangat penting untuk mengetahui kondisi sosial politik
Palembang. Namun, karena buku ini ditulis oleh petinggi pemerintahan Belanda
di Palembang, penggambarannya hanya selintas. Sebagaimana dinyatakan oleh
Taufik Abdullah dalam pengantarnya, Sevenhoven dengan menggunakan ukuran-
ukurannya sendiri telah menguraikan apa yang dilihat dan dialaminya dalam

Universitas Indonesia
29

kurun waktu singkat keberadaannya di ibu kota Palembang tanpa meneliti lebih
lanjut, apa yang menyebabkan semua peristiwa itu terjadi.
Buku lain adalah karya P. Roo de la Faille. Ia pernah menjadi anggota
Dewan Hindia (Raad Van Indie). Penulis buku ini mencoba membandingkan
kondisi Palembang dengan daerah lain, sehingga lebih informatif. Tulisan Faille
penting paling tidak untuk memahami corak hubungan dan konflik antarkerajaan
di Indonesia, pada saat munculnya kekuatan senjata dan ekonomi yang lebih kuat
yaitu VOC. Contoh konflik Palembang dengan VOC pada 1659 yang
menyebabkan penguasa Palembang Sido Ing Rajek lari ke pedalaman. Dalam
buku ini juga terdapat kontrak-kontrak yang digambarkan secara umum antara
raja kemudian sultan Palembang dengan VOC, pembangkangan Palembang
terhadap VOC, Hindia Belanda maupun Inggris. Hal yang juga penting dalam hal
buku ini adalah pemaparan tentang ciri kerajaan maritim yang berbeda dengan
kerajaan agraris. Salah satunya yang terpenting adalah peranan para syahbandar
dan saudagar serta pola hubungan antara sultan dan saudagar. Letak ibu kota
Palembang sangat strategis sehingga mampu mengendalikan daerah uluan melalui
sungai-sungai yang dikenal dengan nama Batanghari Sembilan. Daerah ini
dikenal sebagai daerah penghasil perkebunan untuk komoditi ekspor. Buku ini
penting pula untuk mengetahui sistem pemerintahan, perekonomian, sosial dan
budaya, dan hubungan Palembang dengan daerah-daerah lain baik dalam bentuk
sekutu (Mataram, Jambi, VOC/Hindia Belanda ) maupun seteru (Banten,
Mataram, VOC/Hindia Belanda). Sebagai salah satu sumber, buku ini cukup
penting untuk melihat kondisi Palembang sebelum abad XIX, namun buku ini
kurang memunculkan kondisi Palembang pada awal abad XIX, dan
penggambarannya dalam buku ini hanya selintas.
Sumber ketiga adalah disertasi bidang sastra karya M.O. Woelders
berjudul ―Het Sultanaat Palembang 1811-1825‖. Disertasi ini membahas naskah-
naskah Melayu yang berasal dari tulisan tangan (manuskrip) yang berkaitan
dengan sejarah Kesultanan Palembang kurun waktu 1811-1825. Sesuai kurun
waktunya, maka disertasi ini membahas konflik yang terjadi di Kesultanan
Palembang. Menurut Woelders Sejarah dinasti ini menunjukkan gambaran
pergantian tahta berulang kali (enam kali) sebagai akibat tindakan para penguasa

Universitas Indonesia
30

asing (Belanda dan Inggris) dan konflik internal yang terjadi di Kesultanan
Palembang. Pelbagai hal di atas membawa Palembang pada kehancurannya pada
1825. Disertasi ini tidak menggunakan arsip sebagai sumber primernya. Woelders
juga hanya menganjurkan bahan bacaan yang terdapat dalam Daftar Pustakanya.
Hal ini dapat dimaklumi karena disertasi ini adalah disertasi di bidang ilmu
kesusastraan. Walaupun demikian, buku ini banyak membantu dalam usaha
memperdalam pemahaman tentang Palembang pada perempat pertama abad XIX.
Sesuai dengan kurun waktunya (1811-1825), otomatis tidak mampu
menggambarkan kondisi sebelum itu yang merupakan salah satu bagian penting
dalam sejarah Kesultanan Palembang. Berbagai konflik yang membawa
kesultanan itu pada kehancuran tidak dapat dilepaskan pada berbagai faktor yang
mendahuluinya yang terjadi pada awal abad XIX.
Kekosongan inilah yang dijadikan titik tolak dari disertasi ini. Di samping
itu, disertasi Woelders yang mengandalkan manuskrip sangat sedikit membahas
masa pemerintahan Inggris di Palembang dan pergolakan di Pulau Bangka
pascaperang Palembang pada 1819. Hal lain yang tidak kalah penting adalah
berbagai peristiwa yang terjadi di Kesultanan Palembang pada masa pemerintahan
Sultan Najamuddin III. Woelders hanya memaparkan kejadian-kejadian penting di
Palembang yang menyebabkan kesultanan itu harus diakhiri keberadaaannya oleh
pemerintah kolonial Belanda. Di dalam disertasinya Woelders tidak banyak
menyentuh berbagai kebijakan yang ditempuh oleh pihak Belanda dalam rangka
memperkokoh kekuasaan di Kesultanan Palembang. Kekurangan itu dilengkapi
dengan berbagai data dan fakta seputar berbagai rancangan dan keputusan yang
dikeluarkan oleh pemerintah kolonial. Dengan demikian, sejarah Kesultanan
Palembang akan tergambar secara utuh.
Buku-buku lain yang membahas seputar Palembang pada masa
Kesultanan, antara lain buku Husni Rahim membahas tentang Sistem Otonomi
dan Adminsitrasi Islam, Studi tentang Pajabat Agama Masa Kesultanan dan
Kolonial di Palembang yang merupakan disertasinya yang telah diterbitkan oleh
PT. Logis Wacan Ilmu tahun 1998. Buku ini lebih banyak memaparkan tentang
peran penghulu sebagai pejabat dalam bidang agama Islam, sebagai konsekuensi
logis dengan diterapkannya hukum Islam di Kesultanan Palembang, dan

Universitas Indonesia
31

perubahannya setelah masa kolonial. Tesis S2 Masyhuri dari Universitas


Indonesia, berjudul Perdagangan Lada dan Perubahan Sosial Ekonomi di
Palembang 1790-1825.Tesis yang ditulis tahun 1983 ini belum diterbitkan.
Artikel yang membahas seputar Palembang awal abad XIX jumlahnya
cukup banyak. Beberapa di antaranya adalah karya P.H. Van der Kemp
―Geschiedenis van Een Engelschen Raid of Hollandsch Grondgebeid‖, dalam de
Gids, jilid I terbitan tahun 1898, dan ―Palembang en Banka in 1816 – 1820‖,
dalam BKI terbitan 1900. E.B. Kielstra dalam de Gids ―De Ondergang Van Het
Palembangsche Rijk‘‘tahun 1892.
Naskah peninggalan Kesultanan Palembang jumlahnya cukup banyak,
seperti naskah yang terhimpun dalam Naskah Palembang BR 157 yang terdapat di
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dalam disertasi ini, naskah yang
digunakan adalah ―Syair Perang Menteng‖, atau ―Syair Perang Palembang‖,
‖Syair Nuri‖, dan ―Undang-Undang Simbur Cahaya‖. Naskah ―Undang-undang
Simbur Cahaya‖ telah diterbitkan beberapa kali, baik masa pemerintahan Hindia
Belanda. Naskah paling muda yang telah diterbitkan, dan digunakan pada
penlitian ini terbitan 1984. Ketiga naskah tersebut berkaitan erat dengan
penelitian ini. Naskah-naskah lokal ini digunakan sebagai data sekaligus
dimaksudkan sebagai pembanding terhadap naskah-naskah kolonial yang banyak
digunakan dalam disertasi ini.

1.7 Kerangka Konseptual

Penelitian ini membahas Kesultanan Palembang pada perempat pertama abad


XIX. Untuk memperjelas penulisan ini, akan digunakan konsep-konsep berikut.
Kesultanan Palembang, sebelum menjadi kesultanan, merupakan sebuah kerajaan.
Kata ―kerajaan‖ dan ―raja‖ berasal dari bahasa Sansekerta yaitu raiya yang berarti
‗kerajaan‘ atau ‗pemerintahan‘. Kata ―raja‖ berasal dari raj yang berarti ‗raja‘.
Dengan demikian, kerajaan adalah suatu wilayah pemerintahan yang dipimpin
oleh raja (Moedjanto, 2001: ix).
Sebagai penguasa tertinggi di seluruh kerajaan, kekuasaan raja tidak
terbatas. Dalam konsep politik Melayu, raja menduduki posisi yang sangat

Universitas Indonesia
32

penting. Hal itu tercermin dalam Sejarah Melayu yang menempatkan raja
setingkat nabi dan pengganti Tuhan di dunia, sebagaimana tergambar dari kutipan
berikut:
―Hendaklah tuluskan hatimu pada berbuat kebaktian kepada Allah
subhanahu taala dan rasulnya, dan jangan kamu sekalian lupa pada
berbuat kebaktian kepada raja kamu. Maka kata hukuma, ‗Adalah
raja yang adil itu dengan nabi salla‘llah u‘alaihi wasallam umpama
dua buah permata pada sebentuk cincin; lagipun raja itu umpama
ganti Allah di dalam dunia, kerana ia zulli ‘llahu fi ‘l-‘alam. Apabila
berbuat kebaktian kepada raja, seperti berbuat kebaktian kepada
Allah subhanahu wataala.Yakni berbuat kebaktian kamu akan Allah
dan rasulnya dan akan raja inilah wasiatku kepada kamu semua.
Hendaklah jangan kamu lupai. Supaya kebesaran dunia akhirat kamu
peroleh‖ (Shellabear, 1989: 141).

Dari kutipan di atas, menempatkan raja ―sejajar‖ dengan nabi bermakna


bahwa seorang raja di samping memegang kekuasaan duniawi, juga kekuasaan
agama. Dua kekuasaan di tangan satu penguasa inilah yang harus dimaknai
sebagai ―sejajar‖ dengan nabi. Hal itu dapat dilihat pula pada kata zulli ‘llahu fi ‘l-
‘alam yang bermakna pengganti Allah atau bayangan Allah di dunia. Dengan
posisi demikian, maka manusia wajib beribadah kepada Allah, taat kepada sunnah
rasul dan mengabdi kepada raja. Begitu pula sebaliknya, yaitu raja harus berbuat
adil kepada rakyatnya. Lebih lanjut dalam Sejarah Melayu disebutkan pula bahwa
―rakyat itu umpama akar, yang seperti raja itu umpama pohon, jikalau tiada akar
nescaya pohon tiada dapat berdiri demikian lagi raja itu dengan segala rakyatnya‖
(Shellabear, 1989). Penggambaran tentang hubungan yang saling berkaitan antara
raja dan rakyatnya. Betapa tidak, sebatang pohon tidak akan mampu berdiri tanpa
akar, begitu pula sebaliknya akar tidak akan hidup tanpa pohon (Hashim, 1990:
160).
Dalam konsep Islam, raja adalah Khalifah15 (pengganti) Tuhan di bumi,
sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur‘an berikut:

15
Kata khalifah berasal dari kata takhallafa yang berarti mengikuti (di belakang
orang lain) dan menggantikan tempatnya. Dengan demikian, Khalifah Allah berarti
“pengganti Allah di muka bumi. (Rahim,1998:19-22). Sebagai penggati Allah di muka
bumi, maka pengertian Khalifah adalah raja yang menguasai urusan politik (dunia) dan
urusan agama (akhirat). Konsep ini sudah berkembang di dunia Islam sejak zaman
Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah.

Universitas Indonesia
33

(Allah berfirman), ―Wahai Dawud. Sesungguhnya engkau Kami


jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berikan keputusan
(perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah Engkau
mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari
jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan
Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan
hari perhitungan.‖ (Qs. 38:26)

Sebagai khalifah, raja harus bertindak adil terhadap rakyatnya.


Konsep ―wakil Tuhan‖ di bumi ini, dalam pelaksanaannya telah
menempatkan raja sebagai penguasa mutlak yang menjadi satu-satunya
penghubung antara manusia dan Tuhan. Hal ini bertujuan agar manusia selamat di
dunia dan di akhirat, melalui satu-satunya jalan, yaitu dengan tunduk kepada
raja. Pemahaman demikian dapat dirujuk pada sejarah Islam klasik. Disebutkan
bahwa para penguasa Abbasyiyah di Irak telah menempatkan dirinya sebagai
―bayangan Tuhan di bumi.‖ Maknanya adalah para penguasa tersebut adalah
wakil Tuhan yang mendapat perlindungan dari-Nya. Hal itu disebabkan
Abbasyiyah mendapat pengaruh budaya Parsi sebelum Islam. (Rahim, 1998:23)
Pada perkembangannya, raja juga disebut sultan. Kata sultan merupakan
derivatif dari kata kerja salata yang berarti menguasai atau memimpin
(Ensiklopedi Islam Indonesia,1992). Penggunaan gelar itu mulai dipakai oleh
para penguasa muslim secara resmi sejak abad ke-5 Hijriyah (abad XI). Dengan
demikian sultan adalah orang yang diamanahi untuk memimpin atau menguasai
sebuah kerajaan Islam. Perubahan tersebut tidak menyebabkan kekuasaan seorang
raja yang berkuasa sebagai sultan berubah. Sultan tetap sebagai khalifah di bumi,
yang menguasai pemerintahan dan agama.
Di Palembang, penggunaan gelar sultan pertama kali digunakan pada masa
pemerintahan Abdul Rahman, yang bergelar Khalifatul Mukminin Sayidul Imam.
Perubahan bentuk tersebut menandai lepasnya Palembang dari pengaruh
Mataram. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa Raden Fatah (Raja
Demak) juga menyebut dirinya dengan nama Senapati Jimbun Ngabdu-Rahman

Universitas Indonesia
34

Panembahan Palembang Sayidin Panatagama16 (Ras,1990:115-116). Ternyata


gelar sayidin sudah digunakan sebelum lahirnya kesultanan Palembang.
Di Kesultanan Palembang sultan juga menggunakan gelar susuhunan.
Susuhunan artinya adalah yang dipuji (ditaruh di atas kepala) (Moedjanto dalam
Antlov& Sven Cederrotl, 2001:x). Dalam kaitannya dengan Kesultanan
Palembang, yang dimaksud dengan susuhunan adalah sultan yang telah
menyerahkan kedudukannya kepada Pangeran Ratu yang telah mencapai usia
dewasa. Susuhunan dapat disamakan fungsinya sebagai orang tua, namun,
walaupun demikian, pengaruhnya masih sangat besar. Pada masalah penting
posisi susuhunan masih kuat dan sultan hanya sebagai pelaksana dari perintah-
perintah susuhunan.17 (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6).
Badaruddin II (1804-1821) merupakan sultan ketujuh dalam sejarah
Kesultanan Palembang. Sebagai penerus, ia juga berfungsi sebagai pemimpin
dunia dan agama. Titah sultan bersifat mutlak baik di daerah kepungutan18
maupun sindang.19 Meskipun demikian, sultan juga melibatkan para tokoh
masyarakat yang terdapat di kedua wilayahnya, apabila tengah dihadapkan pada
masalah besar yang harus melibatkan semua penduduk. Contohnya, Sultan
mengumpulkan semua penguasa/elite di pusat maupun di uluan, bersumpah setia
kepada sultan di Bukit Siguntang dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi
Inggris maupun Belanda.

16
Hubungan Palembang dengan Raden Fatah, disebutkan bahwa Raden Fatah adalah
putera raja Majapahit Prabu Brawijaya dari ibu seorang perempuan Cina (Putri Cempa) yang
diserahkan kepada penguasa Palembang Ario Damar. Raden Fatah lahir dan besar di Palembang
(De Graaf dan TH. Pigeaud,1985:247).
17
Hal itu dapat dibuktikan pada saat Sultan Badaruddin II mengangkat Pangeran
Ratu sebagai sultan pascakemenangan melawan Belanda yang kedua (1819), namun,
dalam kenyataannya semua ketentuan tetap di bawah kendali sultan. Sumber-sumber
luar tidak satupun yang menyebutkan Sultan Badaruddin menyerahkan posisinya kepada
Pangeran Ratu, kecuali Woelders dalam disertasinya “Het Sultanaat Palembang 1811-
1825”. Sementara itu, penyerahan kekuasaan dari Sultan Najamuddin II kepada Prabu
Anom yang berlangsung dalam kesepakatan antara keduanya dan Belanda di Bogor April
1821, ternyata dalam pelaksanaannya semua keputusan setelah kesepakatan itu
ditentukan oleh Najamuddin II, sampai ia dibuang tahun 1824.
18
Kepungutan adalah daerah yang langsung berada di bawah pemerintahan
sultan (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6) .
19
Sindang meliputi daerah perbatasan Palembang sepanjang Jambi, Bengkulu
dan Lampung. (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6)

Universitas Indonesia
35

Sebagai penguasa, sultan didampingi oleh benda-benda pusaka (regalia)


yang berfungsi mendukung kekuasaan raja. Pusaka juga berfungsi sebagai tanda
pemberian mandat kepada pembawa atau penerimanya. Untuk memperkuat
legitimasi kekuasaannya, biasanya seorang raja akan mengumpulkan pusaka di
keraton. Benda-benda pusaka biasanya berupa tombak, keris, atau bendera ini
biasanya dikeramatkan (Selosoemardjan,1962: 17-18; Moedjanto dalam Antlo,
Sven Cederroth, 2001:xxi). Keberadaan benda-benda pusaka ini sangat penting,
sehingga timbul kepercayaan bahwa hilang pusaka berarti hilang pula kekuasaan.
Dalam kaitannya dengan Kesultanan Palembang, pada saat Palembang
diserang Inggris tahun 1812, Sultan Mahmud Badaruddin II mengamankan semua
pusaka kerajaannya ke pedalaman (Blida). Berpindahnya pusaka kerajaan berarti
berpindah pula kekuasaan. Hal ini menunjukkan kesiapan Badaruddin II untuk
melanjutkan perjuangan di daerah uluan. Pusaka Kesultanan Palembang itu
berupa: Keris, Pedang Hulu Kencana, Tombak, Tunggul Tulis Perada, Tunggul
Payung (payung kerajaan), Bedil Seri Padah, Cap Stempel Sultan Machmud
Badaruddin II (Woelders, 1975: 91,130, 184; Syair Perang…).
Dalam menjalankan pemerintahan, Sultan dibantu oleh para priyayi20 yang
membidangi masalah pemerintahan, agama, kehakiman dan syahbandar. Di
daerah uluan terdapat pemerintahan marga21 yang dipimpin oleh pasirah dengan
gelar Depati. Penghubung antara sultan dan penguasa uluan adalah para Jenang
atau Raban. Para Depati membawahi Proatin yang berkedudukan di dusun-dusun.
Kelompok Proatin inilah yang berhubungan langsung dengan rakyat (matagawe).
Golongan terkemuka dalam suatu kelompok disebut elite (Kartodirdjo,
1983:vii). Kelompok ini menurut Pareto (1973: 26-27), terbagi dua yaitu elite
yang memerintah (governing elite) dan elite yang tidak memerintah (non-
governing elite). Tetapi Pareto lebih memusatkan perhatiannya pada elite yang
memerintah. Kelompok ini mencakup individu yang langsung atau tidak langsung

20
Priyayi (golongan ningrat) adalah keturunan raja atau sultan. Golongan ini
dapat disebabkan karena keturunan atau atas restu raja, yang terdiri dari pangeran,
raden, dan masagus (Sevenhoven, 1971: 25).
21
Marga adalah sekumpulan dusun yang agak luas, yang terdiri dari sekitar
enam sampai sebelas dusun dipimpin oleh seorang depati/pasirah. Pada mulanya marga
terbentuk karena faktor genealogis yang berkembang secara geografis (ANRI, Bundel
Palembang No. 62.2).

Universitas Indonesia
36

memainkan peranan penting dalam pemerintahan. Kelompok ini mempunyai


jabatan politik pada tingkat tertentu, umumnya bersifat turun temurun. Sedangkan
Mosca (1973: 210-212) berpendapat bahwa elite adalah klas yang memegang
kekuasaan yang umumnya berjumlah sedikit. Kelompok ini menjalankan semua
fungsi politik dan memonopoli kekuasaan.
Berdasarkan pendapat di atas, yang dimaksud dengan elite di Kesultanan
Palembang adalah kelompok penguasa yang terdiri dari sultan dan golongan
bangsawan yang memerintah baik yang ada di pusat pemerintahan maupun di
uluan. Kelompok ini berhadapan dengan elite yang terdiri dari pemimpin pusat
dan daerah/residen, tokoh militer Belanda dan Inggris. Di dalam kesultanan itu
terjadi konflik, sehingga kaum elite kerajaan ini terbelah, yaitu antara pendukung
Badaruddin II dan Najamuddin II. Akibat dari konflik-konflik tersebut terjadi
pergantian (sirkulasi) elite. Pareto mengembangkan konsep pergantian elite yaitu
selalu ada ―pergerakan‖ yang tidak dapat ditahan dari individu-individu dan elite
kelas atas hingga kelas bawah, begitu pula sebaliknya, sehingga terjadi perubahan
yang menurunkan posisi elite dan memunculkan elite baru. Pergantian ini dapat
terjadi pada kelompok-kelompok elite yang sedang memerintah atau antarelite dan
penduduk, sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam masyarakat. Mosca juga
mengembangkan teori pergantian elite. Lebih lanjut dikatakannya bahwa apabila
elite sudah tidak mampu memberikan pelayanan kepada rakyatnya, misalnya
muncul ―keyakinan/agama‖ baru, atau terjadi perubahan kekuatan-kekuatan sosial
dalam masyarakat, maka telah terjadi pergantian elite penguasa (Varma,2003:
200-203).
Perebutan antarelite di Kesultanan Palembang yang melibatkan elite dalam
(Badaruddin II dan Najamuddin II) dan elite luar (Inggris dan Belanda). Perebutan
dan pergantian elite menjadi bahasan dalam penelitian tentang Kesultanan
Palembang pada kurun waktu 1804--1825.

1.8 Metodologi

Dalam bagian ini akan dibahas tentang metode penelitian dan Narativisme.
Metode penelitian sejarah digunakan untuk membedah sejarah Kesultanan
Palembang mulai dari pengumpulan data sampai dengan rekonstruksi. Sementara

Universitas Indonesia
37

itu, Narativisme dijadikan landasan dalam menafsirkan sejarah kesultanan ini


dengan mengaitkan berbagai fakta dari masa lalu agar menjadi satu kesatuan yang
utuh. Kedua bentuk tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh
tentang gerak sejarah Kesultanan Palembang dalam kurun waktu 1804--1825. Comment [DKM3]: Natarivisme digunakan
untuk menulis dan bukan menafsirkan sejarah!!
Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang mengacu
pada empat tahap, yaitu pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber,
interpretasi sumber dan rekonstruksi (Notosusanto, 1978: 11-12). Tahap
heuristik adalah tahap penelusuran dan pengumpulan data. Data adalah sumber
informasi utama dalam penelitian sejarah. Pada tahap ini dilakukan penelusuran
arsip, naskah, kajian kepustakaan dan penelitian lapangan melalui observasi dan
wawancara. Arsip tersimpan di lembaga penyimpanan arsip resmi Arsip Nasional
Republik Indonesia (ANRI). Di pusat penyimpanan arsip, disimpan arsip
keresidenan yaitu Bundel Palembang, dan Bundel Bangka. Dalam katalog Bundel
Palembang, arsip-arsip yang diperlukan untuk penulisan ini terdiri dari koleksi
akhir abad XVIII, tahun 1800 sampai tahun 1825 bahkan sesudahnya, untuk
melihat kondisi Palembang pascapenghapusan kesultanan.
Di antara arsip yang diperoleh terdapat kumpulan surat, seperti Surat-
Surat Keputusan Gubernur Jenderal VOC dan Hindia Belanda yang berkaitan
dengan Kesultanan Palembang, surat-surat Residen Palembang kepada Gubernur
Jenderal, surat-surat Residen Palembang kepada Komisaris Jenderal, surat-surat
Komandan Militer kepada Residen Palembang, surat-surat Asisten Residen
kepada Komisaris Jenderal, surat-surat wakil Inggris di Malaka kepada Sultan
Palembang, memori jabatan dari para pejabat Belanda baik dalam hubungan
mereka dengan pemerintah pusat di Batavia atau antara pejabat Belanda di
Palembang dan pejabat Inggris di Bengkulu.
Di samping arsip sebagai sumber primer, penelitian ini menggunakan
beberapa sumber sekunder yang terdiri atas majalah-majalah dari masa lalu.
Dalam majalah-majalah ini dimuat artikel-artikel baik sebagai laporan, kesaksian
maupun tinjauan ilmiah yang ditulis oleh para peneliti, saksi peristiwa, perwira
militer atau mereka yang tidak mencantumkan nama (anonim). Meskipun sudah
diolah menjadi suatu tulisan ilmiah yang diterbitkan, karya-karya ini sangat

Universitas Indonesia
38

bermanfaat karena memberikan informasi yang memadai, baik sebagai


pelengkap maupun pembanding dari informasi yang diperoleh dari arsip.
Majalah-majalah ini tersimpan di berbagai perpustakaan seperti koleksi
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budya Universitas Indonesia, Perpustakaan Kolese Santo Ignasius
Yogyakarta, dan Perpustakaan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, serta
Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan
Koleksi lain dari PNRI yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat
kabar yang diterbitkan sezaman dengan peristiwa ini. Di antaranya adalah
Bataviaasch Courant (1819,1821,1824) dan Java Gouvernement Gazette (1812).
Meskipun diterbitkan di Batavia, kedua surat kabar ini menyajikan berita dari
seluruh wilayah Hindia Belanda.
Arsip lainnya adalah Regeeringsalmanak, atau agenda pemerintah. Data
ini terbit dalam dua jilid sejak 1816 sampai dengan 1941. Pada periode 1816
sampai 1876 Regeeringsalmanak hanya terbit satu jilid. Di dalamnya terdapat
informasi tentang rujukan berbagai peraturan dan nama semua orang yang
menduduki jabatan dalam dinas dan instansi pemerintahan kolonial Belanda.
Aturan-aturan ini kemudian dicari dalam berbagai sumber lainnya, sehingga
nama-nama orang tersebut bisa diketahui termasuk tanggal pengangkatan dan
penempatan mereka.
Langkah berikutnya adalah melakukan kritik terhadap data-data yang
ada. Kritik terdiri dari kritik ekstern dan intern. Kritik ekstern meliputi usaha
untuk mengetahui tingkat orisinilitas, otentisitas, kredibilitas dan integritas data.
Orisinilitas yaitu apakah data itu dibuat pada masa yang sama. Otentisitas adalah
menyangkut keaslian data. Sedangkan Kredibilitas adalah apakah data itu layak
dipercaya (tulis tangan/diketik, tinta yang digunakan, kertas dan lain-lain)?
Integritas berkaitan dengan kualitas dan kelengkapan data. Berikutnya yang
dilakukan adalah kritik Intern, tujuannya untuk mengetahui kebenaran data dan
relevansinya dengan penelitian ini. Tahap penting berikutnya dalam penelitian
dan penulisan sejarah adalah Interpretasi. Data-data yang telah dikritik dapat

Universitas Indonesia
39

diinterpretasikan dalam rangka menguak “makna” yang terkandung dari


tumpukan data. Makna inilah yang disebut dengan fakta sejarah (Bunzl, 1997:
39). Fakta-fakta tersebut ditafsirkan dan dianalisis untuk dijadikan dasar bagi
rekonstruksi. Terakhir yang harus dilakukan adalah rekonstruksi, yaitu
penyusunan fakta-fakta dalam usaha menemukan satu kesatuan utuh dari fakta-
fakta yang terpisah, untuk mengetahui keterkaitan antara peristiwa satu dengan
lainnya. Sehingga menjadi suatu karya sejarah ilmiah.
Untuk membedah sejarah Kesultanan Palembang pada kurun waktu 1804- Comment [DKM4]: Untuk menulis, bukan
membedah!! Anda tidak membedah tetapi menelit
-1825, penelitian ini menggunakan Narativisme. Narativisme adalah metodologi dan menulsikannya. Salah persepsi!

dalam filsafat sejarah yang digunakan untuk merekonstruksi masa silam.


Menafsirkan masa lampau, yang dilakukan adalah mengaitkan berbagai fakta dari
masa silam yang semula tidak koheren dan tanpa struktur, menjadi satu kesatuan
yang menyeluruh. (Ankersmit, 1987: 222-226; Lemon, 2003: 300-301). Dalam
menginterpretasikan masa lampau, naratif menggunakan kata-kata yang terpilih
(bahasa yang mudah difahami), sehingga menarik perhatian pembacanya. Jadi,
linguistik mempunyai peran penting dalam narativisme (Ankersmit, 1994: 81-83)
Dalam konteks keterlibatan Inggris dan Belanda di dalam sistem
pemerintahan dan perekonomian Kesultanan Palembang, melalui kajian terhadap
peran Sultan Muhammad Badaruddin II pada dasawarsa kedua abad XIX,
pengaturan konfigurasi merupakan cara yang representatif untuk memunculkan
konsep ―keberkaitan‖ dalam menciptakan detail fakta pada suatu relasi sebagai
gambaran yang komprehensif dari suatu naratif. Dalam mewujudkan pengaturan
konfigurasi dimaksud, fakta-fakta yang digunakan harus memiliki kecocokan
dengan keseluruhan narasi historis untuk menopang keberkaitan konfigurasional.
Menurut Ankersmit, ada dua syarat yang harus dipenuhi dalam
mewujudkan sejarah naratif yaitu: pertama, harus menggambarkan seluruh bidang
kehidupan, yang disusun berdasarkan rangkaian peristiwa sehingga tampak
perubahannya. Kedua, naratif menghubungkan minimal dua peristiwa (situasi)
yang berbeda, sehingga menjadi koheren (saling berhubungan) dan mampu
menjelaskan keseluruhan peristiwa (Ankersmit, 1987: 226; Lemon. 2003: 299-
300).

Universitas Indonesia
40

Narativisme juga berusaha membuktikan adanya pola hubungan kausalitas


antara peristiwa yang satu dan yang lain. Hal ini tidak terlepas dari sifat kedua
dari metodologi ini yaitu bahwa peristiwa yang terjadi merupakan suatu Comment [DKM5]: Naratif itu
metodologi??????????????????
rangkaian, tidak berdiri sendiri. Sebagai konsekuensi dari paradigma tersebut,
metodologi narativisme tidak dapat dilepaskan dari unsur kronologis dalam
peristiwa yang saling berkaitan. Sifat ini membedakan penulisan sejarah
narativisme dengan penulisan suatu kronik yang tidak menunjukkan keterkaitan
antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya.
Lebih lanjut Kuntowijoyo (2003: 149-150) menyebutkan tiga syarat yang
harus dipenuhi dalam menulis sejarah naratif yaitu colligation, plot dan struktur
sejarah. Pada syarat pertama, disebutkan bahwa dalam menulis sejarah harus
menemukan inner conection (hubungan dalam) dari berbagai peristiwa sejarah.
Syarat kedua, yaitu merangkai fakta hingga menjadi satu kesatuan yang utuh
sekaligus melakukan interpretasi dan eksplanasi. Syarat ketiga, perlunya struktur
sejarah sebagai ―rekonstruksi yang akurat‖. Lebih khusus akan dibahas tentang
poin kedua yaitu interpretasi dan eksplanasi. Interpretasi yang dimaksudkan
adalah menafsirkan jiwa dan pengalaman manusia yang tidak tampak, dengan cara
menempatkan diri sendiri pada diri orang lain. Dengan demikian, akan mampu
mengungkapkan apa makna dari simbol-simbol yang tampak. Eksplanasi adalah
keteraturan yang saling berkait. Jadi, kausalitas yang terdapat di dalam teori
Ankersmit merupakan bagian dari eksplanasi. Eksplanasi juga dimaksud untuk
membuat suatu generalisasi. Meskipun pada kenyataannya sejarah itu
mendeskripsikan gejala tunggal, namun sejarah juga mengenal konsep-konsep
umum, contohnya ―peodalisme, pergerakan nasional‖ yang sudah diterima oleh
masyarakat umum.
Hal yang penting dalam narativisme adalah adanya istilah ―ini terjadi‖
(this happened) dan ―kemudian itu terjadi‖ (then that happened) dan seterusnya.
Kekuatan operasional dari istilah ―then‖ dalam narativisme hanya berarti
sepenuhnya apabila hal tersebut berhubungan dengan kejadian-kejadian (actions
or occurences). Narativisme dapat dilakukan, apabila terdapat kejadian-kejadian
yang menjelaskan adanya suatu perubahan. Dalam pemahaman tersebut naratisme
adalah kisah yang memiliki hakekat suatu perubahan sebagai hakekat dari sejarah.

Universitas Indonesia
41

Bentuk ini mampu memberikan eksplanasi yang kuat dan menyeluruh tentang
sesuatu yang ―menyebabkan terjadi, kejadian itu sendiri dan apa yang akan
terjadi‖. Dengan demikian, suatu peristiwa (kejadian, tindakan, peristiwa)
dijelaskan dari peristiwa sebelumnya yang menunjukkan adanya suatu perubahan
yang merupakan hakikat dari sejarah (Lemon, 2003: 299-301).
Menurut Lemon, ada tiga hal pokok yang merupakan komponen
narativisme, sebagai berikut:
1. Narativisme tidak mengisahkan suatu peristiwa tunggal, melainkan
menghubungkan dua atau lebih dari peristiwa-peristiwa dengan rumusan
‗ini terjadi, kemudian itu terjadi‘, yang menyebabkan terjadinya
perubahan.
2. Adanya hubungan kausalitas antarperistiwa, bahwa suatu peristiwa
disebabkan oleh peristiwa sebelumnya dan mengakibatkan peristiwa
berikutnya.
3. Narativisme berbeda dengan kronik yang hanya mendeskripsikan urutan
kronologis sekelompok fenomena dari yang lebih awal ke yang lebih
akhir. Sementara itu narativisme lebih menekankan kronologi dalam arti
pembedaan waktu (periodisasi) yang sangat ketat.
Naratif yang digunakan untuk merangkai berbagai peristiwa harus
kronologis dalam menjelaskan rangkaian yang dipaparkan. Intinya adalah
merangkai berbagai peristiwa untuk menjelaskan pada setiap tahap dengan
mengacu pada fakta yang relevan dan signifikan dari data (Lemon, 2003: 301-
302; 347-349). Cara ini digunakan untuk menjelaskan konflik yang terjadi di
Kesultanan Palembang, baik yang disebabkan oleh faktor ekstenal maupun
internal yang mengakhiri eksistensi Kesultanan Palembang. Dengan demikian,
narativisme sebagai metodologi untuk eksplanasi terhadap permasalahan tersebut
dapat dipandang sebagai suatu upaya rekonstruksi masa silam.

Universitas Indonesia
42

1.9 Sistematika Penulisan

Disertasi ini terdiri atas tujuh bab. Bab pertama merupakan pendahuluan terdiri
dari latar belakang, permasalahan penelitian, tujuan penelitian, kontribusi
penelitian, batasan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka konseptual, metodologi,
dan sistemetika penulisan.
Bab kedua, akan mendiskripkan tentang kondisi Kesultanan Palembang
akhir abad XVIII dan awal pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II. Di
dalamnya tercakup pula tentang sistem pemerintahan, dan ekonomi. Awal
pemerintahn Sultan Mahmud Badaruddin II Kesultanan Palembang berlangsung
dengan baik, kondisi itu mulai mempunyai warna lain sejak kasak kusuk yang
dilakukan oleh Raffles untuk mendapatkan dukungan dari sultan dalam rangka
mengusir Belanda dari kepulauan Nusantara. Pendudukan Inggris atas Batavia
dimanfaatkan oleh sultan untuk mengusir Belanda dari bumi Palembang. Inilah
awal pemicu keterlibatan Inggris secara langsung di Kesultanan Palembang.
Bab ketiga, akan membahas tentang perebutan suksesi di Kesultanan
Palembang antara kedua bersaudara yang disutradarai oleh Inggris. Pada bab ini
juga dibahas masa pendudukan Inggris di Kesultanan Palembang.
Bab keempat, meliputi pembagian kekuasaan antara Sultan Badaruddin II,
Sultan Najamuddin II dan pemerintah kolonial Belanda. Pembagian itu
merupakan skenario Belanda untuk memperkokoh kekuasaan di wilayah ini.
Keberadaan Belanda juga harus berhadapan dengan Inggris sebagai konsekuensi
dari saling dukung antara Inggris yang mendukung Sultan Najamuddin II dan
Belanda yang mendukung Sultan Badaruddin II.
Bab kelima, menguraikan tentang perang Palembang yang terjadi sebanyak
tiga kali antara pihak kesultanan dan Belanda. Dari ketiga peprangan tersebut,
dua kali peperang dimenangkan oleh Kesultanan Palembang, sedangkan pada
peperangan yang ketiga Palembang harus mengakui keunggulan armada dan
pasukan Belanda yang telah disiapkan dengan sangat matang. Apa yang terjadi di

Universitas Indonesia
43

Palembang berimbas secara langsung maupun tidak langsung terhadap Bangka,


sehingga selama kurun waktu itu di Pulau Bangka juga terjadi pergolakan
melawan Belanda.
Bab keenam, menguraikan kondisi pascadibuangnya Sultan Badaruddin II,
yaitu masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin III. Pada masa itu
kedudukan Belanda makin kuat ditandai dengan penyerahan kekuasaan pada 1823
kepada pemerintah Belanda. Perasaan tersingkir dan tidak puas menyebabkan
Sultan Najamuddin III melancarkan perlawanan dan mundur ke uluan. Akan
tetapi, perlawanan itu tidak banyak berarti karena minimnya sarana pendukung,
sementara Belanda makin kokoh. Dengan dibuangnya Sultan ke Banda, jabatan
sultan ditiadakan. Mewakili pemerintahan asli dijalankan oleh Pangeran Perdana
Menteri.
Bab tujuh adalah bab terakhir yang merupakan kesimpulan penelitian ini.

Universitas Indonesia
44

BAB 2

KESULTANAN PALEMBANG
AKHIR ABAD XVIII DAN AWAL ABAD XIX

Kesultanan Palembang pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX, mengalami
kemajuan khususnya di bidang ekonomi. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari
mundur dan hancurnya organisasi dagang kolonial VOC. Di bidang politik
pemerintahan juga mengalami kestabilan. Kondisi demikian diterima oleh
Pangeran Ratu pada saat dirinya ditasbihkan sebagai sultan Palembang dengan
gelar Sultan Ratu Mahmud Badaruddin II. Dalam kondidi demikian, kesultanan
ini dihadapkan pada situasi perang Eropa yang berlanjut di kawasan ini yaitu
keinginan Inggris menduduki Pulau Jawa. Untuk itu, Raffles mengadakan
―pendekatan‖ kepada Sultan Badaruddin II. Keberhasilan Inggris menduduki
Batavia, dimanfaatkan oleh Sultan untuk menduduki dan menghancur Loji Sungai
Aur dan para penghuninya.
Penolakan Sultan Badaruddin II atas keinginan Inggris menggantikan
Belanda, membawa kawasan ini menjadi sasaran ekspedisi Inggris. Ekspedisi
tersebut merupakan awal terjadinya konflik internal di kesultanan tersebut.
Konflik tersebut terus berlangsung dan melibatkan berbagai pihak. Inggris dan
Belanda menjadi bagian penting dalam berbagai konflik tersebut, sampai nantinya
membawa kehancuran bagi Palembang. Dengan pembahasan pada bab ini, akan
tergambar bagaimana kondisi awal Kesultanan Palembang, dan kehadiran Inggris
di kawasan ini, serta akibat yang ditimbulkannya.

2.1 Pemerintahan

Penguasa tertinggi di pusat pemerintahan Kesultanan Palembang adalah sultan.


Kekuasaan sultan tidak dibatasi oleh aturan-aturan hukum. Sultan dibantu oleh
putera mahkota yaitu Pangeran Ratu. Pangeran Ratu berperan sebagai calon raja,

Universitas Indonesia
45

wakil sultan yang berkuasa penuh apabila sultan berhalangan, dan penasehat
sultan. Dalam menjalankan tugasnya, Pangeran Ratu berada di bawah perwalian
Pangeran Adipati (nantinya menjadi Sultan Najamuddin II) (Java Gouvernement
Gazette, 2 Mei 1812 No. 10; Sturler, 1855:71).
Sultan Muhamad Bahauddin memiliki empat orang putera, yaitu Raden
Hasan Pangeran Ratu (putera mahkota), Pangeran Adi Menggala, Pangeran Adi
Kesumo, dan Pangeran Nata Kesumo. Setelah Sultan Muhamad Bahauddin wafat,
digantikan oleh Pangeran Ratu dengan gelar Sultan Ratu Mahmud Badaruddin II.
Selanjutnya, Sultan Badaruddin II mengangkat adik-adiknya sebagai
pembantunya, yaitu adik pertamanya yang bernama Pangeran Adi Menggala Comment [DKM6]: Apakah orang ini yang
nantinya menjadi Sultan Najamuddin II??)
diangkat sebagai Pangeran Adipati. Dua adiknya yang lain yaitu Pangeran Adi
Kesuma diangkat dengan gelar Pangeran Aryo Kesuma, dan Pangeran Nata
Kesuma diangkat dengan gelar Pangeran Suryo Kesuma. Keduanya menduduki
posisi sebagai pejabat kerajaan, sedangkan Pangeran Adipati berkewajiban
membimbing Pangeran Ratu dalam rangka mempersiapkan diri menjadi sultan.
Ketiga adik sultan berkewajiban memberikan nasehat kepada sultan, dan
membantu tugas-tugas sultan. Sebagai pejabat penting kesultanan, mereka Comment [DKM7]: Apakah istilah negara di s
tepat? Ataukah perlu digantikan dengan kesultana
sewaktu-waktu dapat mewakili sultan dalam berbagai pertemuan atau perjanjian.
Sultan juga didampingi oleh para pejabat lain yang mengurusi masalah
pemerintahan dan keamanan, agama, peradilan dan bidang perdagangan. Pertama,
bidang pemerintahan dan keamanan dipegang oleh Pangeran Notodirojo. Ia
bertugas mengurus masalah pemerintahan dan keamanan. Dalam menjalankan Comment [DKM8]: Perdana Menteri sekarang
Ingat istilah Perdana Menteri untuk negara
tugasnya Pangeran Notodirojo dibantu oleh Tumenggung Kerto, tugasnya Anglosakson dan Francofon sangat berbeda
konsepnya.
menangani masalah pemerintahan dan keamanan. Dalam kondisi perang,
Pangeran Notodirojo dan jajarannya bertanggungjawab untuk memobilisasi
penduduk dari ibu kota hingga ke uluan. Tumenggung Kerto membawahi empat
pegawai yang bertanggungjawab di bidangnya masing-masing, yaitu Tumenggung
(urusan administrasi), Ronggo (urusan keluarga istana), Demang (mengangani
masalah keamanan dan pengaduan masyarakat) dan Ngabehi/Ingabehi (bertugas
sebagai mata-mata pemerintah). Kedua, urusan agama dipegang oleh Pangeran
Penghulu Nato Agamo (umumnya berasal dari keluarga sultan). Tugas utamanya
adalah melaksanakan upacara keagamaan di masjid Agung, penasehat sultan dan

Universitas Indonesia
46

mengawasi peradilan agama. Pejabat di bawah Pangeran Penghulu Nato agamo


adalah Penghulu, Penghulu Kecil/Khatib Penghulu, Lebih/Lebai Penghulu dan
Khatib. Tugas mereka menangani masalah warisan, perkawinan, perceraian dan
peribadatan. Ketiga, Urusan peradilan dipegang oleh Pangeran Kerto Negoro.
Peradilan di Kesultanan Palembang didasarkan pada hukum adat yang ditetapkan
oleh sultan. Pangeran Kerto Negoro dalam menjalankan tugas-tugasnya dibantu
oleh pejabat yang bergelar Tanda. Tanda dan aparatnya menangani para pelaku
kejahatan sebelum diajukan ke pengadilan dan melaksanakan hukuman yang
sudah diputuskan oleh pihak pengadilan. Masalah-masalah besar yang tidak dapat
ditangani oleh aparat di uluan dan ibu kota diserahkan kepada sultan melalui
Pangeran Kerto Negoro dan aparatnya. Keempat, bidang perdagangan
dipercayakan kepada syahbandar yang menangani masalah perdagangan dan
pelabuhan. Syahbandar menangani masalah penting di bidang perdagangan, Comment [DKM9]: Apa maksudnya masalah
vital di sini???
menangani perselisihan yang terjadi antarawak kapal atau perahu. Dalam
menjalankan tugasnya syahbandar dibantu oleh tiga sampai empat orang pegawai.
Para pembantu Syahbandar membidangi perdagangan (sistem tiban dan tukon)
dan bea cukai (cukai atas komoditi impor tetap seperti perak, kain, garam, sutra,
benang emas). Selain para pegawai tersebut, masih ada lagi pegawai-pegawai lain
di istana yang bertugas membantu dan memperlancar jalannya pemerintahan
(Java Gouvernement Gazette, 2 Mei 1812 No. 10; Masyhuri, 1983: 42-44;
Peeters, 1997: 11-12; Sevenhoven, 1971: 25-29; Woelders, 1975: 85).
Wakil pemerintah pusat di uluan (pedalaman) antara lain jenang (jeneng)
dan raban. Jenang berasal dari golongan rakyat biasa yang berkedudukan di
uluan, sedangkan raban berkedudukan di ibu kota kerajaan. Kelompok ini
berasal dari golongan bangsawan. Kedua pejabat itu bertugas untuk menarik Comment [DKM10]: Jadi antara Jenag dan
Raban berbeda. Dengan demikian tidak bisa
pajak dari rakyat, dan menjalankan pemerintahan di pedalaman (membawahi para digunakan kata ‗atau‘

depati). Walaupun demikian, para jenang tidak berwenang dalam bidang Comment [DKM11]: Bandingkan tugasnya
dengan Depati. Semua menjalankan pemerintahan
peradilan di uluan. Bidang peradilan di uluan menjadi hak para depati dan proatin di pedalaman. Jadi bedanya apa?

(ANRI, Bundel Palembang No. 15.7; No. 62.2).


Pemerintahan di daerah pedalaman dijalankan oleh Pasirah dengan gelar
Depati. Depati adalah kepala marga. Mereka bebas menjalankan pemerintahan
sendiri di uluan.. Depati dibantu oleh beberapa proatin (anak buah), Beginda, dan

Universitas Indonesia
47

Kria. Tugas mereka adalah menjalankan pemerintahan, peradilan dan menjaga


tradisi. Para Depati yang telah lama memegang jabatannya mendapat gelar
Pangeran, contohnya gelar Pangeran dari daerah Komering. Pertimbangan
pemberian gelar adalah karena orang-orang dari daerah itu dipersiapkan untuk
ikut dalam peperangan (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6; No. 15.7; Sturler,
1855:76).
Kepala dusun disebut Kria, dan Pembarab. Ia disebut pembarab jika
dusun tersebut menjadi pusat pemerintahan Marga. Kria, Beginda, Lurah atau
Ingabehi/Ngabehi secara bersama-sama disebut Proatin atau Anak Beras22 dengan
pakaian kebesaran berupa kopiah dari rotan (resam) yang dijahit dengan benang
emas atau perak. Tugas utama mereka adalah menegakkan keamanan dan hukum
serta mempertahankan adat kebiasaan lama. Beberapa masalah kecil (pencurian,
penipuan, pelanggaran adat) diselesaikan oleh proatin dan para pembantunya di
tingkat dusun. Hukuman itu dalam bentuk denda (uang ringgit, real Spanyol
maksimal dua belas real atau benda/binatang). Denda-denda tersebut menjadi
sumber pendapatan Depati dan proatin (Undang-Undang Simbur Cahaya, 1994).
Untuk masalah yang lebih besar, seperti pemberontakan atau pembunuhan yang
dilakukan terhadap seorang depati, penyelesaiannya dilakukan oleh para depati
bersama-sama dengan proatin di bale-bale marga. Apabila kasus ini tidak dapat
diselesaikan di tingkat marga, permasalahan itu dilimpahkan ke pusat
pemerintahan di Palembang (ANRI, Bundel Palembang No.15.7; No. 62.7).
Di tingkat Marga, kepala urusan agama dipegang oleh Lebai Penghulu,
sedangkan di tingkat dusun dipegang oleh Khatib dan tingkat yang paling bawah
yaitu kampung dipegang Kaum. Para pejabat tersebut mengurus masalah-masalah
yang berkaitan dengan agama Islam, seperti perkawinan, perceraian, talak, rujuk,
zakat, fitrah dan kematian. Mengajar mengaji ditangani oleh Lebai Penghulu.
Kaum bertugas memelihara masjid, langgar, padasan, tempat-tempat keramat,

22
Pada prinsipnya nama-nama tersebut mempunyai kedudukan yang sama yaitu
sebagai kepala dusun. Perbedaan nama lebih disebabkan oleh lokasi atau kebiasaan
masyarakat pendukungnya secara turun temurun. Contohnya, kepala dusun Sunsang
disebut Ingabehi/Ngabehi, karena lokasinya berada di muara Sungai Musi (pintu masuk
ke ibukota Palembang) yang berfungsi sebagai mata-mata dan menjadi dusun sikap
(menjadi pendayung sultan dan penjaga muara sungai).

Universitas Indonesia
48

memandikan mayat, mengajar mengaji dan menulis. Para Kaum menjalankan


tugasnya secara sukarela (Undang-undang Simbur Cahaya, Bab III, 1994).
Di setiap kampung terdapat Panagawe, yaitu para pelaksana tugas harian.
Panagawe, terbagi atas empat bidang yaitu: Natakasuma, Natakarti, Wangsaguna,
dan Martonagoro. Natakasuma mengurusi masalah perkebunan, Natakarti
bertugas menerima dan melayani tamu-tamu dari dusun lain, Wangsaguna
menangani masalah keamanan dan ketertiban, dan Martonagoro membantu
Depati (ANRI, Bundel Palembang No. 15.7). Kedudukan Panagawe sangat
strategis, karena mereka berhubungan langsung dengan rakyat dan merupakan
bagian dari rakyat itu sendiri (lihat diagram Struktur Pemerintahan Kesultanan
Palembang).
Struktur Pemerintahan Kesultanan Palembang

Sultan

P.Ratu
Ratu
P.N.A P.KN P.N D Syb
NNNNa
toAgam
a Phl Tnd T Kr Sdg

P Kc Jng/Rbn

L.Ph Dpt/Psr

Kht Proatin

matagawe

Keterangan
Sultan : Penguasa tertinggi.
P. Ratu : Pangeran Ratu (Putera Mahkota)
P.N.A : Pangeran/ Penghulu Nato Agamo (Keagamaan)
P.K.N : Pangeran Kerto Negoro (Kehakiman) Comment [DKM12]: Mungkin singkatannya
PKN (tiga digit)

Universitas Indonesia
49

P.Nd :Pangeran Notodirojo/ Pangeran Perdana Menteri (Pemerintahan dan


Keamanan)
Syb : Syahbandar (Perdagangan)
Sdg/P : Saudagar/Pegawai
Phl : Penghulu
Tdn : Tanda
T Kr : Tumenggung Kerto
Sdg : Saudagar
P Kc : Penghulu Kecil
L.Ph : Lebih Penghulu/ Lebai Penghulu
Jng/Rbn : Jenang/Raban
Dpt/Psr : Depati
Kh : Khatib
Sumber : Masyhuri, 1983: 47; Undang-Undang Simbur Cahaya, 1994.

Apabila seorang Kria atau Baginda wafat, para Panagawe bersama-sama


Matagawe (rakyat) dusun bersidang, dan mereka memilih orang yang selanjutnya
akan diangkat sebagai kepala dusun (umumnya yang diangkat adalah putera atau
kerabat dekat/saudara kepala dusun yang meninggal). Pemilihan ini akan
dilaporkan kepada Depati, yang kemudian diumumkan kepada seluruh penduduk
(ANRI, Bundel Palembang No.15.7).
Penduduk uluan dibagi dalam dua kelompok yaitu matagawe dan alingan.
Pengelompokan ini sudah ada sejak zaman Sultan Abdul Rahman yang dikenal
juga dengan nama Cinde Balang. Matagawe adalah penduduk yang terdapat di
susun-dusun dan marga yang bekerja dan memiliki kewajiban membayar pajak.
Jumlahnya tidak tetap, tetapi secara umum sekitar sepuluh persen dari jumlah
penduduk. Apabila seorang matagawe meninggal dunia, posisinya digantikan oleh
puteranya. Kecuali bila tidak memiliki keturunan anak laki-laki, akan diangkat
seorang matagawe baru. Alingan adalah para pekerja yang bekerja di bawah
perlindungan (aling). Mereka bertugas membantu menyelesaikan tugas-tugas
matagawe. Jadi, alingan adalah bagian dari matagawe (ANRI, Bundel Palembang
No. 15.7; No. 62.2; Bijdrage tot…, 1877:97; Faille, 1971: 44). Comment [DKM13]: Istilah Anon tidak ada
dalam kamus, yang ada adalah Anonim.
Untuk wilayah Bangka-Belitung yang menjadi bagian dari Kesultanan
Palembang, Sultan mengangkat wakilnya sebagai pemimpin di daerah tersebut
yang bergelar depati atau batin. Mereka umumnya berasal dari penduduk
setempat atau bangsawan dari ibu kota Palembang. Para depati atau batin bertugas
menjalankan pemerintahan lokal atas nama sultan Palembang, sedangkan masalah

Universitas Indonesia
50

penambangan timah diserahkan kepada para teko/tiko. Teko adalah petugas yang
mengurusi masalah pertambangan timah yang berkedudukan di ibu kota
Palembang. Dalam menjalankan tugasnya, teko memberikan wewenang kepada
kongsi. Kongsi bertugas melakukan pembukuan, mengirimkan laporan dan
menetap di Pulau Bangka. Kelompok inilah yang berhubungan langsung dengan
para pekerja tambang timah di Pulau Bangka. Jadi, teko merupakan wakil sultan
yang menangani semua urusan pertambangan timah di ibu kota Palembang.
Hanya pada waktu-waktu tertentu saja teko melakukan kunjungan ke tambang-
tambang timah di Pulau Bangka (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Clercq, 1845:
125; Korten Schets…, 1846: 132-133).
Wilayah kekuasaan sultan dibagi dua, yaitu Kepungutan dan Sindang.
Kepungutan asal katanya pungut, adalah daerah utama yang diperintah langsung
oleh sultan. Di wilayah tersebut, sultan menetapkan (memungut) pajak dan
bantuan tenaga manusia. Sindang adalah daerah perbatasan yang penduduknya
bertugas untuk menjaga perbatasan23. Karena terletak jauh dari ibu kota kerajaan, Comment [DKM14]: Halaman sudah berubah

daerah sindang memiliki kebebasan yang luas. Mereka bebas dari semua beban
dan pajak/setoran kepada pemerintah pusat. Meskipun demikian, mereka
mengakui pertuanan kepada sultan yang diwujudkan dengan cara milir sebo (seba)
yaitu ke ibu kota untuk mempersembahkan upeti berupa makanan kepada sultan.
Sebaliknya, mereka akan memperoleh atur-atur atau rubo-rubo (hadiah) seekor
ayam pupu (sejenis ayam aduan) sebagai bukti perkenan sultan. Milir Sebo adalah
simbol keterikatan dan bukti tunduk serta patuh kepada sultan yang dibalas sultan
dengan penghormatan yang sama kepada rakyatnya. Sultan menganugerahkan
piagam kepada mereka yang dikenal dengan nama Undang-Undang Sindang
Mardika (Peraturan Penjaga Perbatasan yang Bebas). Tugas yang diberikan oleh
raja kepada penduduk tersebut adalah menjaga perbatasan dari serangan musuh,
menangkap pelarian dan mengusir musuh (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6;
No. 62.6; Stibbe, 1932: 353; Brauw, 1855: 187). Sebagai penjaga perbatasan,

23
Wilayah Sindang terdiri dari Kikim, Marga Gumai Ulu, Gumai Talang, Gumai
Lembak d Mulak, Ampat Lawang, Rejang, Kisam, Makakau dan Rawas (Brauw, 1855:
187). Hal ini berarti di luar Sindang , merupakan daerah kepungutan yang diperintah
langsung oleh Sultan. Kedua wilayah itu secara geografis tidak tidak memiliki batas-
batas yang jelas dan tidak ditemukan di dalam peta-peta peninggalan kolonial.

Universitas Indonesia
51

posisi kelompok Sindang sangat strategis. Mereka adalah kelompok terdepan yang
harus mempertahankan kewibawaan sultan dari serangan penduduk dari daerah
lain. Hal itu terbukti pada saat Kesultanan Palembang telah dihapuskan oleh
Belanda, mereka berjuang mempertahankan eksistensinya hingga pertengahan Comment [DKM15]: Maksud Anda???

abad XIX.
Untuk berhubungan dengan rakyatnya di pedalaman, sultan mengangkat
wakilnya yang disebut raban atau jenang (jeneng). Raban adalah pejabat yang
berasal dari golongan bangsawan dan berkedudukan di ibu kota, sedangkan
jenang adalah pejabat yang berasal dari rakyat biasa dan berkedudukan di uluan.
Mereka bertugas mewakili sultan untuk menarik pajak pada rakyat dan
menegakkan pemerintahan sultan di pedalaman. para jenang tidak memiliki
wewenang di bidang peradilan di daerahnya masing-masing. Di uluan bidang Comment [DKM16]: Kalimat ini bisa
menimbulkan mis interpretation!
peradilan menjadi wewenang para depati dan proatin (ANRI, Bundel Palembang
No. 15.7; No. 62.2). Apabila ada beberapa kelompok atau suku menolak
kebijakan pusat dan melakukan pemberontakan, para pemberontak dikenai
hukuman Kapanjing, yaitu dengan cara diasingkan ke daerah lain. Daerah yang
dijadikan tempat Kapanjing adalah Marga Pegagan Ilir (Ogan) dan Sunsang.
Hukuman ini mengakibatkan rakyat tunduk kepada Jenang. Undang-undang yang
mengatur tentang hukuman kepada penduduk yang bersalah, terdapat di dalam
undang-undang yang dikenal dengan nama Undang-undang Ratu Sinuhun24 atau
Oendang-Oendang Simboer Tjahaja (Undang-Undang Susuhunan Cinde Balang)
(ANRI, Bundel Palembang No. 62.2; No. 15.7).
Di wilayah Kepungutan terdapat pula kesatuan wilayah yang disebut Sikap.
Pembentukannya untuk memenuhi kebutuhan istana. Sikap adalah dusun yang
sebagian penduduknya mendapat tugas dari keraton. Pada waktu-waktu tertentu
mereka bekerja untuk kepentingan keraton, misalnya mengangkut hasil bumi,
menyediakan tenaga pendayung perahu keraton, menggarap sawah dan
membangun rumah untuk sultan. Sebagai imbalannya mereka bebas membayar
pajak. Contohnya penduduk Blida (Musi Ilir), mereka bekerja di dalam keraton

24
Undang-Undang Simbur Cahaya dikeluarkan oleh Ratu Sinuhun (abad XVII)
yang mengatur tentang kehidupan penduduk Palembang, terdiri dari “Aturan Bujang
Gadis (39 pasal), Aturan Marga (33 pasal), Aturan Dusun (17 pasal), dan Aturan
Berladang dan Ambil Ikan (13 pasal) (Gersen, 1876: 110-131).

Universitas Indonesia
52

untuk mengambil air. Pada kurun waktu 1818-1819 jumlah mereka berkisar 500-
600 orang. Daerah lain yang juga termasuk ke dalam kelompok sikap adalah
penduduk daerah Sunsang, Sukarami (Musi Ulu) dan daerah-daerah yang terdapat
di aliran sungai-sungai besar. Tugas mereka adalah mendayung perahu sultan. Di
samping itu, terdapat orang miji (orang yang disetorkan) yaitu penduduk yang
menyerahkan tenaganya untuk kepentingan sultan (ANRI, Bundel Palembang No.
62.2; No. 15.7; No. 47.6; Sturler, 1855:243).
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa terdapat beberapa kelompok
masyarakat yang mempunyai kewajiban mengabdikan dirinya kepada sultan dan
keluarganya. Pengabdian tersebut bukan merupakan beban bagi penduduk. Hal
tersebut disebabkan beban yang diberikan hanya pada sebagian kecil penduduk
pada waktu-waktu tertentu, juga pengabdian tersebut dikaitkan dengan bakti
kepada sultan, karena sultan adalah seorang khalifah. Itulah sebabnya bekerja
untuk sultan merupakan ―anugerah‖ bagi mereka karena akan mendapat berkah.

2.2 Perekonomian

Mata pencaharian penduduk Palembang adalah bertani, menangkap ikan,


mengumpulkan hasil hutan, dan tambang serta berdagang. Pada saat itu sistem
pertanian masih sederhana, hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan
sebagian dari hasil pertanian mereka dijual. Untuk mengolah lahan pertaniannya,
mereka menggunakan pawang atau kapak, beliung atau kapak ringan Komoditi
yang berupa hasil pertanian Palembang adalah lada.25 Sementara itu, hasil alam

25
Awal abad XV kebutuhan lada Eropa meningkat tiga kali lipat. Kebutuhan ini
menyebabkan tanaman lada berkembang pesat di Nusantara. Di Pulau Sumatera lada
banyak dihasilkan di wilayah Pidi, Pasai, Indragiri, Kampar, Pariaman, Indrapura, Silebar,
Jambi, Palembang dan Lampung. Abad XVII lada merupakan produk paling laku di pasar
Eropa. Harga lada pada tahun 1662 mencapai empat real per pikul. Tingginya harga lada
di pasaran dan kewajiban menjualnya kepada VOC sesuai dengan kontrak, menyebabkan
raja-raja Palembang mewajibkan rakyatnya menanam lada di daerah uluan, Bangka dan
Belitung (terbesar di daerah Rawas) (lihat Laporan Muntinghe dalam Bundel Palembang
No. 15.7). Akibatnya, Kesultanan Palembang merupakan salah satu penghasil lada
terpenting di Nusantara. Konsekuensinya, Kesultanan Palembang makin menarik
perhatian bangsa Eropa khususnya Belanda dan mengikat kontrak dengan sultan-sultan
di sana. Perjanjian itu dituangkan dalam berbagai kontrak. Hal itu mendorong para
penguasa Palembang melakukan perdagangan illegal dengan pihak asing seperti Inggris,

Universitas Indonesia
53

dari Palembang adalah timah26. selain hasil pertanian lada, masih banyak produk
pertanian lainnya yang dihasilkan oleh Palembang, seperti kapas (ditanam di
lokasi bekas tanaman padi yang telah dipanen), gambir, nila, tembakau (tembakau
Ranauw/Ranau sangat laku baik di Palembang maupun diluar Palembang karena
disukai oleh konsumen sehingga memiliki nilai jual yang tinggi), sirih, buah Comment [DKM17]: Oleh siapa. Siapa yang
menyukai tembakau Ranau ini?
pinang, gambir, rami, dan pisang. Buah-buahan yang terkenal adalah mangga,
durian, cempedak, jeruk nipis, nanas, jambu bol, jambu biji, pepaya, srikaya, buah
nona, langsat, prambeh, duku, rambutan, delima dan bidara. (ANRI, Bundel Comment [DKM18]: Tiba-tiba nyelip di sini??

Palembang No. 62.2; No. 62.7; Java Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812).
Keberadaan komoditi lada dan timah yang sangat dibutuhkan dan laku di
pasaran, telah meningkatkan peran Kesultanan Palembang dalam bidang
perdagangan dan pelayaran. Jika pada zaman Sriwijaya wilayah Palembang
dikenal hanya sebagai kawasan yang strategis dan salah satu pusat perdagangan,
pada abad XVIII wilayah itu berkembang menjadi kawasan yang menghasilkan
timah dan lada. Keduanya mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Kondisi
itu menyebabkan Palembang menjadi salah satu kesultanan yang masyhur.
Keuntungan dari hasil perdagangan itu menyebabkan Kesultanan Palembang
mampu membangun keraton yang besar dan kokoh, masjid yang terindah di
Hindia Timur, benteng-benteng dan kuburan keluarga sultan (Kawah Tengkurep) Comment [DKM19]: Apakah istilah Hindia
Belanda sudah ada pada abad XVIII?
(Faille, 1971: 52).
Sebagai komoditi yang sangat penting pada waktu itu, timah dijadikan
bahan dasar untuk berbagai barang kebutuhan hidup sehari-hari, antara lain kaca,
cangkir teh,tempat lilin, bejana altar leluhur, kertas dupa (Cina memproduksi
kertas timah terbesar dan mengekspornya ke kawasan Asia Tenggara), pematri
kapal-kapal bocor, pelapis peti kayu (canisters) kemasan untuk dibawa ke Eropa.

Amerika, Prancis, Cina dan pedagang pribumi lainnya. Di sisi lain, pihak Belanda terus
berusaha melakukan berbagai macam cara agar lada dari Palembang tetap dimonopoli
oleh Belanda (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2; Leur, 1967:125).
26
Timah ditemukan pada 1709/1710 di Pulau Bangka. Belanda yang sejak 1642
secara resmi menjalin hubungan dengan Palembang, berusaha keras untuk menguasai
penambangan dan perdagangan timah. Untuk mewujudkan maksud tersebut, Belanda
memperbaharui kontrak pada 1722. Dengan dilaksanakannya pembaharuan kontrak
tersebut, Belanda menjadi pemegang monopoli lada dan timah. Penambangan timah di
Pulau Bangka mengalami perkembangan pesat sehingga Bangka menjadi salah satu
penghasil timah terbesar di dunia (Stapel. 1940: 97).

Universitas Indonesia
54

Timah juga digunakan sebagai bahan campuran kuningan dan timbel (lead). Comment [DKM20]: Maksudnya apa???

Timah juga menjadi komoditi eksklusif karena menjadi bahan membuat senjata
dan uang logam.. Di Kesultanan Palembang dan Banten, produk olahan dari timah
27
dijadikan alat tukar (koin) yang disebut picis/pitis (Erman, 2009: 75;
Heidhues,2008:4-5). Begitu banyak yang dapat dibuat dengan menggunakan
bahan dasar timah, sehingga sangat wajar apabila timah menjadi komoditi yang
sangat dicari oleh bangsa-bangsa di dunia pada saat itu.
Sebagai pemilik timah, ditopang oleh lada dan komoditi dagang lainnya,
menjadikan posisi Kesultanan Palembang dilematis, Di satu sisi kekayaan
Kesultanan Palembang telah membawanya pada kemasyhuran. Di sisi lain,
kekayaan itu membawa bencana, karena bangsa-bangsa di dunia khususnya
Belanda dan Inggris bersaing ketat untuk menguasainya. Persaingan itu
menyebabkan konflik baik antara Kesultanan Palembang dan Belanda,
Kesultanan Palembang dan Inggris maupun Belanda dan Inggris (Java Comment [DKM21]: Tidak jelas maksud And

Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Ricklefs, 2005: 154, 157; Woelders, 1975:
75-80; Kielstra, 1892:79; Faille,1971: 28).
Wilayah Palembang terdiri atas kawasan dataran tinggi dan rendah.
Daerah Kesultanan Palembang banyak dialiri oleh sungai-sungai besar dan kecil,
rawa-rawa dan laut/selat. Sungai-sungai besar yang terdapat di wilayah
Palembang dikenal dengan nama Batanghari Sembilan. Kondisi demikian
menyebabkan Kesultanan Palembang sangat kaya akan hasil perikanannya28. Oleh

27
Picis terdiri dari dua macam yaitu uang buntu (tanpa lobang) dan uang teboh
(berlobang di tengah) dengan diameter berkisar 12mm-21mm. Bentuknya dua macam
yaitu bulat dan segi delapan. Uang buntu sudah mulai beredar di kalangan penduduk
sejak awal abad XVII. Nilai mata ini adalah 320 keping uang buntu sama dengan satu
dollar Spanyol, sedangkan uang teboh nilainya lebih rendah dari uang buntu yaitu 4000
keping uang teboh sama nilainya dengan satu dollar Spanyol (Oorspronkelijke…, 1856:
278).
28
Jenis-jenis ikan yang dihasilkan dari sungai-sungai Palembang antara lain tapa, lemak,
lais, tembakang, patin, bandeng, kluyu, pareh, dalum, blidah, sagaret, arok, toman, tongkol, delak,
buju, lele, juara, blutulang, tebangkang dan masih banyak lagi jenis lainnya. Ikan-ikan yang
menjadi primadona adalah lemak, lais, patin, jangutan, delek, dan kali. (ANRI, Bundel Palembang
No. 62.7; No. 62.2). Dari sumber di atas, jelas terlihat bahwa sebagian ikan-ikan yang disebutkan
adalah ikan-ikan sungai. Hal ini disebabkan wilayah Kesultanan Palembang banyak dialiri oleh
sungai-sungai besar yang dikenal dengan nama ―Batanghari Sembilan‖ yang mampu menghasilkan
ikan berlimpah untuk dikonsumsi atau diperdagangkan. Sampai dengan sekarang, penduduk
Sumatera Selatan tetap mengandalkan ikan sungai untuk konsumsi dan diperdagangkan.

Universitas Indonesia
55

karena itu, salah satu sumber mata pencaharian utama penduduk di wilayah itu
adalah menangkap ikan. Sebagai contoh penduduk Sunsang menggantungkan
hidup mereka dari menangkap ikan. Ikan dan udang kering, terasi dijual ke Pulau
Jawa dan pulau-pulau lainnya (ANRI, Bundel Palembang No. 62.7; No. 62.2).
Dari berbagai produk yang dihasilkan Palembang, sebagian dimanfaatkan
untuk ekspor, antara lain rotan, getah, damar, damar wangi, kayu laka, lilin,
gading gajah, tanduk kerbau, emas pasir, kopi, gula aren, gambir, pinang, lilin,
kayu manis, nila, lada, tembakau, rami, tebu, getah naga, sarang burung, katun
mentah, katun murni, kemenyan, tikar rotan, karet, lada, beras, emas, kain, baju,
berbagai kerajinan tangan, tembaga olahan, kuningan dan tembikar. Produk Comment [DKM22]: Maksudnya kotak apa??

tambang selain timah adalah emas (banyak terdapat di Rawas, Pasumah), sulfur,
besi dan baja29. Komoditi di atas dibawa oleh penduduk dari uluan ke ibu kota
dengan perahu atau rakit. Semua produk yang telah terkumpul di ibu kota
Palembang, dijual kepada pedagang perantara yaitu para pedagang Cina dan Arab.
Kedua kelompok etnis tersebut memperdagangkannya kembali kepada para
pedagang asing dan daerah lainnya di Nusantara. Barang-barang tersebut
diperjualbelikan atau ditukar dengan berbagai produk impor, antara lain garam,
kain linen, wol, sutera, tembaga, gula, minyak kelapa, kacang, candu, kertas, Comment [DKM23]: Kain linen maksudnya??

genting, tembikar Cina, alat-alat rumah tangga yang terbuat dari besi, benang
emas, obat-obatan, teh, bahan makanan dan minuman. Selanjutnya, berbagai
produk Palembang diekspor ke berbagai wilayah seperti Tiongkok, Siam, Jawa,
pantai timur Sumatera, Lingga dan pulau-pulau lain di Nusantara. Satu-satunya
barang impor dari Eropa yang sangat diminati di Asia Tenggara selama berabad-
abad adalah senapan. (ANRI, Bundel Palembang No. 62.7; No. 15.7; Java
Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Reid, 2004: 327; Sevenhoven, 1971: 47;
s‘Gravesande, 1856: 459-460).
Banyaknya jenis produk komersial yang dihasilkan oleh Kesultanan
Palembang membuat kesultanan itu menjadi rebutan antara bangsa-bangsa Eropa,

29
Baja dan besi terdapat di Pulau Belitung, keduanya dipakai untuk membuat
senjata dan peralatan lainnya (Java Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Baud, 1853: 42).

Universitas Indonesia
56

khususnya Belanda dan Inggris30. Berdasarkan kontrak-kontrak yang dibuat oleh


Belanda sejak abad XVII dan Inggris abad XIX dengan Kesultanan Palembang
membuktikan bahwa Kesultanan Palembang sangat penting di mata bangsa-
bangsa Eropa. Kesultanan Palembang juga terkenal sebagai penghasil berbagai Comment [DKM24]: Mengapa muncul istilah
Kolonialis??? Anda sedang membahas bangsa-
31 bangsa dan bukan menganalisis apa yang mereka
kerajinan, seperti: ukir gading, ukir kayu, pandai besi, tembaga, emas, tenun , lakukan!!
sulam, , dan kaligrafi. Mereka mengolah emas menjadi sarung keris (pendok), Comment [DKM25]: Apa itu loker?

batang keris (kara) yang indah. Mereka juga mencampur emas dengan tembaga
sehingga menjadi logam yang indah yang disebut swasa. Dari campuran ini dibuat
berbagai barang kebutuhan rumah tanggah (ANRI, Bundel Palembang No, 62.2; Comment [DKM26]: Maksud Anda apa?

Paulus, 1918: 182).


Hasil-hasil kerajinan ini diekspor ke Siam. Nilai jual ekspor itu mencapai
500-1000 ringgit Spanyol atau setara dengan f 3500-f 7000 per tahun. Tembaga
hitam adalah campuran tembaga murni dengan emas. Dari campuran ini
dihasilkan perhiasan yang sangat berkualitas. Penduduk Kesultanan Palembang Comment [DKM27]: Apa itu bunga emas???

telah mengenal teknik perekatan yang baik, sehingga mampu mengolah tembaga
dan timah menjadi kuningan, yang nantinya dioleh kembali untuk dijadikan bahan
dasar pembuatan lila (meriam kecil), kotak sirih, nampan, ketel teh dan berbagai
jenis peralatan rumah tangga. Mereka juga ahli mengolah perak, permata dan
gading. Keahlian lainnya adalah melukis, bertukang, pengrajin sepatu, dan Comment [DKM28]: Apa itu pertukang kayu?

pembuat perahu. Berdasarkan laporan de Kock kepada Gubernur Jenderal pada


1821 (seusai penaklukan Palembang) bahwa orang Palembang ahli membuat
amunisi32, meriam, pengecor kuningan dan pembuat senapan. Pengecor kuningan
dan pembuat senapan umumnya dilakukan oleh orang Cina (ANRI, Bundel
Palembang No. 47.6; No. 62.2; Veth, 1869: 654).

30
Kerajaan Jambi adalah contoh daerah yang ditinggalkan oleh Inggris tahun
1679. Akibatnya, para pedagang maritim nusantara dari Jawa, Makasar, dan Eropa
lainnya tidak lagi berlabuh di pelabuhan Jambi pada awal abad XIX. Sejak pertengahan
Abad XVIII sampai Abad XIX Belanda mengabaikan posnya di Jambi (Ricklefs, 2008: 158;
Locher-Scholten, 2008: 44, 48).
31
Palembang sangat terkenal penghasil kain tenun, baik yang menggunakan
benang katun, sutera maupun emas. Sampai sekarang Palembang dikenal sebagai
penghasil kain songket yang potensial dan diminati baik oleh masyarakat yang berasal
dari dalam maupun dari luar negeri.
31
Bahan utama mesiu adalah campuran saltpeter dan belerang, bahan-bahan ini
banyak ditemukan di daerah Rejang (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2).

Universitas Indonesia
57

Para perempuan umumnya membuat bahan pakaiannya sendiri dengan


membuat sarung, penutup kepala, dan pakaian dengan menggunakan katun yang
berasal dari Eropa yang dihiasi dengan berbagai motif bunga. Produk mereka Comment [DKM29]: Apa itu Katun Eropa??
Apa bedanya dengan kain linen, atau katun biasa?
sangat menonjol karena berkualitas tinggi. Para pengrajin Palembang sangat
terkenal dengan keahlian menenun baju dan kopiah Arab dengan benang emas,
pelet (prada) dan bordir, seperti jenis trawangan dan katun putih sulam kait yang
indah. Bahkan benang yang indah yang terdapat di Padang dan bagian Sumatra
lainnya berasal dari Palembang. Di daerah uluan juga terdapat kerajinan katun
tetapi bahan dan cara pembuatannya masih kasar (ANRI, Bundel Palembang No.
62.2; Veth, 1869: 654).
Sultan Palembang dalam menjalankan perdagangan dengan rakyat
memberlakukan sistem tibang (tiban)33 dan tukong (tukon).34 Sistem itu sekaligus
berfungsi sebagai pajak. Oleh karena itu, harga untuk barang-barang yang akan
diserahkan kembali kepada penduduk yang menyerahkan komoditi dari uluan
dinaikkan harganya sebesar seratus hingga dua ratus persen. Sebaliknya, produk
dari uluan yang dijual kepada sultan harganya diturunkan. Dengan demikian,
penduduk uluan membeli barang dari sultan dengan harga telah dinaikkan dan
menerima uang dari hasil penjualan produk mereka dengan harga yang lebih
rendah. Di luar produk tersebut, sultan tidak memungut tibang-tukong, antara lain Comment [DKM30]: Formulasi kalimat Anda
tidak jelas!
untuk produk lada, kopi, lilin, gading gajah, kapas, tembakau, gambir dan beras.
Kedua sistem perdagangan tersebut, menyebabkan sultan mampu menumpuk
kekayaan. Keuntungan lain yang sangat potensial bagi Kesultanan Palembang
adalah produk timah, yang merupakan komoditi yang paling diminati saat itu. Hal
lain yang dapat dijelaskan bahwa dengan adanya sistem perdagangan tukong,
berarti penggunaan uang sudah merata di Kesultanan Palembang. Uang yang
beredar umumnya dollar Spanyol, dan mata uang lokal yang dikeluarkan oleh
pihak kesultanan. Koin Palembang dikenal dengan nama pitis/picis dan dukaton
(ANRI, Bundel Palembang No. 62.2; No. 15.7; Marsden, 2008: 333).

33
Tibang adalah hak sultan untuk mendapatkan komoditi dari pedalaman, yang
ditukar dengan barang-barang impor. Barang-barang tersebut antara lain baju Jawa,
kain Bengala putih, kapak/parang besi dan garam (ANRI, Bundel Palembang No. 15.7).
34
Tukong adalah hak sultan untuk membeli komoditi dari pedalaman dengan
harga yang telah ditentukan (ANRI, Bundel Palembang No. 15.7).

Universitas Indonesia
58

Pada masa pemerintahan Sultan Najamuddin II, pemungutan tibang-


tukong dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan. Sultan35, menetapkan agar tiap
marga menyetorkan beberapa komoditi yang sebelumnya tidak termasuk ke
dalam tibang dan tukong, antara lain: beras, lada, kopi gambir, lilin, rotan, dan
kerbau. Di samping jumlah komoditinya bertambah, harga barang impor yang
berfungsi sebagai tibang dinaikkan antara 50 dan 100 dollar Spanyol dari harga
sebelumnya. Sebaliknya, dalam bentuk tukong harga komoditi dari pedalaman
diturunkan. Hal lain yang memberatkan adalah frekuensi pelaksanaan tibang-
tukong menjadi dua sampai empat kali setahun dari sebelumnya yang hanya dua
kali setahun. Berbagai ketentuan tersebut, menyebabkan beban rakyat semakin
berat. Pelaksanaan kewajiban tersebut secara hirarki diserahkan oleh Jenang
kepada Depati, selanjutnya Depati mendelegasikannya kepada para proatin, dan
terakhir para proatin membebankannya kepada setiap matagawe dan alingan
(ANRI, Bundel Palembang No. 15.7; No. 47.6). Dengan demikian, yang paling
berat memikul beban tersebut adalah kelompok matagawe dan alingan. Dampak
negatifnya masih mereka rasakan meskipun Sultan Najamuddin II tidak berkuasa
lagi.

2.3 Hubungan Kesultanan Palembang dengan Belanda dan Inggris

Abad XVIII merupakan masa kemunduran VOC sampai akhirnya dilikuidasi pada
31 Desember 1799. Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebabnya antara lain
mundurnya perdagangan, penyelundupan dan korupsi yang dilakukan oleh pejabat
VOC. Begitu parahnya korupsi dan kolusi yang tumbuh di VOC, sehingga VOC
dari Vereenigde Oost Indische Compagnie oleh beberapa orang diplesetkan
singkatannya dari VOC menjadi Vergaan Onder Corruptie (Hancur karena Comment [DKM31]: Singkatannya apa VOC?

korupsi). Padahal pada abad sebelumnya VOC mempunyai kontribusi besar pada

35
Najamuddin II sebagai sultan tidak memiliki kekayaan, sebab dengan
mundurnya Sultan Badaruddin II ke uluan (1812), Sultan Badaruddin II membawa harta
kekayaan ke pedalaman. Najamuddin II juga kehilangan sumber pendapatan utama (lada
dan timah Bangka) dengan diserahkannya Pulau Bangka-Belitung kepada Inggris. Kondisi
itu diperparah dengan adanya blokade dan gangguan keamanan yang dikerahkan oleh
Sultan Badaruddin II dari daerah Rawas (Woelders, 1975: 8; Kielstra, 1892 : 82;
Kemp,1898: 255).

Universitas Indonesia
59

negara induk dengan kekuatan dan kekayaan yang dimilikinya. Saat itu VOC
mengkonsentasikan aktivitasnya hanya di daerah Jawa Barat, pantai utara Pulau
Jawa dan Maluku. VOC hanya bersaing dengan orang-orang Inggris di
Palembang. Pos-pos VOC di Palembang, Timor, Makassar, Padang, dan
Kalimantan Selatan pada dasarnya hanya sekedar lambang, kekuasaannya sudah
sangat lemah, sehingga VOC berusaha menutupinya dengan cara menambah
hutang. Pada tahun 1783 hutang VOC sudah mencapai f 55 juta, dan menjelang
akhir abad XVIII hutang itu membengkak mencapai 12 milyar gulden. Dengan
demikian, akhir abad XVIII VOC sebagai kongsi dagang besar terbelit hutang
yang besar, ketidakefisiensian dan krisis keuangan yang membawanya pada
kebangkrutan. (Furnivall, 2009: 51-52; Ricklefs, 2008: 238; Hoek, 1862: 1; Hall,
1988:294).
Perdagangan dan pelayaran VOC di Kesultanan Palembang juga
mengalami kemunduran pada 1780-an. Menurunnya peran VOC sebagai badan Comment [DKM32]: Maksudnya apa kata
―mundur‖ di sini? Bisa menimbulkan interpretasi
dagang milik Belanda, menyebabkan terjadi pula penurunan penyerahan timah ganda!

oleh pihak Kesultanan Palembang kepada VOC. Hal ini disebabkan VOC tidak
mampu lagi membeli timah, lada dan komoditi ekspor lainnya. Sebagaimana
dilaporkan oleh Residen Palembang pada 5 April 1788, VOC hanya mampu
membeli lada sebesar 2.000 pikul, sedangkan jumlah yang dijual oleh para
pedagang Palembang ke Negeri Cina mencapai 20.000 pikul tiap tahun. Di
samping itu, sejak 1787 produksi timah menurun, disebabkan terjadinya perang
antara VOC dan gabungan kekuatan raja-raja Riau dan Lingga yang didukung
dukungan oleh para bajak laut. Akibatnya, terjadi penjarahan, penghancuran, dan
pembunuhan di Bangka. Pada 1796 VOC hanya mampu membeli timah sebanyak
1.400 pikul setahun. (ANRI, Bundel Palembang No.49; Veth, 1869: 162-163;
Erman, 2009: 77).
Di tengah kemerosotan VOC di berbagai bidang, tambahan pula,
peperangan yang dilakukannya melawan Inggris dalam Perang Inggris IV
(1783—1787), yang tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hal tersebut Comment [DKM33]: Ini perlu catatan kaki! A
maksudnya Perang Inggris IV????
berimbas pula pada Pulau Bangka dalam menyediakan timah dan lada. Dalam
hubungan ini, sejak dahulu ―hubungan‖ antara Riau-Lingga dan Bangka sangat
erat. Bangka-Belitung merupakan kawasan yang tidak terpisahkan dari jaringan

Universitas Indonesia
60

perompakan dan penjarahan para bajak laut. Oleh karena itu, pertempuran yang
berkecamuk di Riau-Lingga berdampak negatif bagi Bangka. Keadaan itu
memperparah kondisi VOC dalam usaha mendapatkan timah dan lada. Kesultanan
Palembang, juga menerima dampaknya dari peristiwa tersebut, karena
keuntungan terbesar Kesultanan Palembang diperoleh dari perdagangan timah.
Dalam kondisi demikian, Belanda harus menjalankan sistem hutang untuk
mendapatkan timah dari Palembang, tetapi permintaan itu ditolak oleh Sultan
Muhammad Bahauddin. Sultan juga menolak memberikan pinjaman kepada pihak Comment [DKM34]: Anda Gunakan Machmu
atau Muhhamad Bahauddin??)
Belanda. Sultan tetap mempertahankan penjualan secara tunai sesuai kontrak-
kontrak dagang antara Palembang dan Kompeni. Penurunan volume dagang VOC,
dapat pula dilihat dari perbandingan antara kapal-kapal berbendera VOC dan
kapal-kapal pribumi atau kapal-kapal asing yang merapat di pelabuhan
Palembang. Tercatat hanya dua puluh kapal milik VOC yang merapat di
Pelabuhan Palembang. Sebaliknya, kapal milik pribumi dan kapal asing lainnya
mencapai 374 buah kapal dalam kurun waktu 1790--1792 (ANRI, Bundel
Palembang No. 24; Masyhuri, 1983: 107).
Dari uraian di atas tampak bahwa perdagangan dan pelayaran Palembang
sangat berkembang dengan masuknya kapal-kapal dan perahu-perahu baik
domestik maupun asing yang mencapai 200-an setiap tahun. Volume perdagangan
yang besar, membawa keuntungan berlipat ganda bagi Palembang, sehingga
Kesultanan Palembang terkenal kaya. Hal itu dapat dilihat dari usaha Raffles yang
menjadikan Palembang sebagai kerajaan pertama yang didekatinya, dalam rangka
mendapatkan dukungan dalam upaya melemahkan posisi Belanda sebelum
penaklukan pulau Jawa. Kekayaan Palembang dapat dibuktikan dari kemampuan
sultan membangun pertahanan dan membiayai pertempurannya selama di uluan
(Bailangu dan Muara Bliti). Dengan kekayaannya pula Sultan Badaruddin II
mampu mempersiapkan pertahanan yang kuat dan memperoleh kemenangan
dalam dua kali pertempuran melawan Belanda (1819).
Maraknya perdagangan gelap disinyalir oleh para pejabat di negeri
Belanda menyebabkan VOC semakin terpuruk. Perdagangan gelap itu dilakukan

Universitas Indonesia
61

oleh pegawai-pegawai VOC, para pedagang Palembang36 (Pedagang-pedagang


Palembang terdiri dari orang-orang Bangka dan para pemasok timah), pedagang-
pedagang dari Lingga Riau, orang-orang Bone37 dan para pedagang kecil pribumi
lainnya. VOC tidak mampu lagi memaksa daerah-daerah yang berada di bawah
pengaruhnya, untuk mematuhi aturan-aturan monopoli sehingga penyelundupan
semakin lama semakin marak. Penyelundupan makin hebat sejak Inggris
menguasai Penang (1786). Inggris menjadi fakor eksternal lemahnya VOC38.
Menurut Marsden (2008: 330), pada 1780-an hanya sepertiga dari seluruh hasil
lada dan timah yang berhasil dibawa ke Batavia, selebihnya dijual ke Cina secara
gelap. Lada dan timah dibawa dari Bangka ke Malaka dan tempat-tempat lain
khususnya ke Cina. Dalam kondisi demikian, VOC juga lebih memperhatikan
kekuatan darat, sehingga armada lautnya39 terbengkalai. Lemahnya VOC

36
Sebagai kerajaan yang mata pencaharian utamanya berdagang, hubungan
antara raja dan pedagang merupakan salah satu aspek penting. Raja sering menjadi
pemodal bagi pedagang bahkan tidak jarang raja hidup dari hutang-hutang yang
diterimanya dari para saudagar. Syahbandar diistilahkan sebagai “kas sultan”.
Perdagangan gelap ini juga dipicu oleh perbedaan harga yang cukup tinggi antara harga
VOC dan Inggris di Palembang (Faille, 1971: 6; Woelders, 1975: 84).
37
Yang dimaksudkan adalah orang-orang Bugis pada umumnya. Mereka tidak
hanya berasal dari Bone, melainkan dari wilayah lain. Hal itu disebabkan sejak Arung
Palakka (1634--1696) berhasil menjadi penguasa di Sulawesi Selatan, ia memerintah
secara otoriter. Akibatnya, banyak orang Makassar dan Bugis meninggalkan daerah
mereka, menyebar ke wilayah-wilayah di Nusantara. Di wilayah barat penyebaran
mereka sampai Sumatera, Semenanjung Malaya dan Thailand. Para petualang itu
dikenal sangat terkenal keberaniannya sehingga membuat takut daerah-daerah di
Nusantara yang didatanginya. (Ricklefs, 2008: 145-146).
38
Sebagai penguasa perdagangan di Asia, Inggris memiliki kekuatan armada
yang kuat untuk menopang keinginannya meluaskan jangkauan ke wilayah timur dari
India sampai Cina. Dalam jalur tersebut Selat Malaka menduduki posisi yang sangat
strategis. Ambisi tersebut memperoleh pijakan kuat dengan ditandatanganinya
perjanjian antara Inggris dan Belanda pada 1784., yang memuat jaminan bagi Inggris
untuk berlayar dan berdagang ke Timur. Jaminan tersebut memberi keluasaan bagi
Inggris, untuk ikut aktif dalam maraknya “perdagangan gelap” khususnya timah Bangka
di kawasan itu (Tarling, 1994: 13-14).
39
Dengan didudukinya Belanda oleh Prancis dan mendirikan Republik Bataf (1795),
Raja Willem V yang melarikan diri ke Inggris mengeluarkan maklumat bahwa koloni-koloni
Belanda di Timur diserahkan kepada Inggris agar tidak jatuh ke tangan Perancis. Oleh sebab itu,
Inggris memblokade laut Jawa, dan menghancurkan armada dan galangan kapal milik Belanda.
Pada awal 1807 Pulau Jawa sudah berhasil dikepung ole Inggris. Di Batavia tidak terdapat satu
pun kapal Belanda berlabuh, sisa-sisa armada Belanda telah dihancurkan oleh armada Inggris.
(Marihandono, 2005:73-77). Kelemahan angkatan laut Belanda sengaja dihancurkan angkatan laut
Inggris sejak perang laut tujuh tahun, akibatnya hingga menyerah kepada kekuasaan Inggris (1811)

Universitas Indonesia
62

menyebabkan Sultan Palembang secara bertahap mengabaikan setoran wajib


kepada pemerintah Belanda. Tahun 1803 setoran dari Palembang terhadap Comment [DKM35]: Ini kapan??? Pemerintah
kolonial bari ada sejak awal abad XIX, sementara
pemerintah Belanda merosot tajam, sampai akhirnya hilang sama sekali (ANRI, zaman VOC disebut zaman kompeni.

Bundel Palembang No.19; No. 24; Faille, 1971: 50; Hoek, 1862: 108; Woelders,
1975: 4).
VOC kuat (sampai pertengahan abad XVIII), serikat dagang itu memiliki Comment [DKM36]: Kapan maksud Anda???

armada laut yang besar, sehingga mampu menghalau para bajak laut dan
mengamankan jalur perdagangan laut antara Palembang-Bangka dan Batavia
bahkan di perairan Nusantara pada umumnya. Dengan demikian, VOC mampu
pula mengamankan monopoli perdagangan timah, lada dan komoditi lainnya di
Palembang. Hal ini berarti Kesultanan Palembang terikat ketat dengan semua
kontrak dengan Belanda, yang intinya sulit bagi Palembang untuk menjual
komoditinya di pasar bebas dengan harga kompetitif. Selanjutnya, ketika
Kompeni dalam keadaan lemah, Kompeni tidak mampu lagi mengontrol jalur
perdagangan laut mereka, sehingga pihak Palembang dapat leluasa menjual
komoditinya di pasar internasional. Dengan demikian ―lemahnya VOC memberi
keuntungan besar bagi Palembang‖.
Kurangnya kontrol yang dilakukan oleh Kompeni di Selat Bangka
menyebabkan perairan itu seolah ―tak bertuan,‖ sehingga terjadi banyak
perompakan yang dilakukan oleh para bajak laut (elanong).40 Kompeni tidak

kekuasaan Belanda tidak pernah sekuat sebelumnya. Kondisi itu mendesak Belanda untuk
mengalihkan perhatiannya pada kekuatan angkatan darat

40
Elanong (Lanun, Ilanun, Iranun) adalah Bajak laut atau perompak laut, berasal dari
bahasa Mangindano ―I-lanao-en‖ yang berarti orang dari danau Lanao yang terletak di tengah
pulau Mangindanao. Orang-orang ini meninggalkan tanah kelahirannya sejak abad XVIII. Daerah
persebarannya adalah Kepulauan Sulu, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan pulau-pulau di
Nusantara untuk mencari nafkah dengan cara merompak khususnya menangkap orang untuk
dijadikan budak. Keberadaan kelompok ini di kawasan pantai timur Sumatra sudah berlangsung
sejak abad XIV atau bahkan jauh sebelum itu. Dalam kaitannya dengan Palembang, dikatakan
bahwa berdasarkan sumber Cina pada Abad XV Palembang terkenal sebagai ―pusat bajak laut‖
(Lapian, 2009:127, 137-138). Tokoh bajak laut awal Abad XIX yang paling terkenal di Kesultanan
Palembang adalah Raden Jafar (bangsawan Palembang). Kekuatan dan kebangsawanannya
menyebabkan sebagian bangsawan segan untuk menangkapnya, bahkan pihak Belanda
mensinyalir diam-diam sultan mempunyai ―hubungan‖ dengan Pangeran ini. Sumber arsip
menyebutkan, dibutuhkan kekuatan besar untuk menaklukkannya (sampai ribuan serdadu).
Kekuasaannya tidak saja di perairan Selat Bangka dan pantai timur Sumatra tetapi sampai pantai
laut Jawa. Pos-posnya terdapat di Bangka dan Belitung. Komoditi yang dirampas tidak saja timah
atau lada tetapi juga beras yang sangat diperlukan oleh para pekerja tambang di Bangka. Tindak
kejahatan yang dilakukan oleh Raden Jafar dan komplotannya telah berulang kali diberantas baik

Universitas Indonesia
63

dapat mengontrol wilayah itu lagi. Residen VOC di Palembang telah berulang kali
mengajukan protes kepada Sultan Muhamad Bahauddin (1776--1804) mengenai
hal tersebut. Sesungguhnya, pihak Sultan telah berulang kali menghalau elanong
dari kawasan perairan Palembang. Agaknya, tindakan itu belum mampu
mengatasi perompakan di laut. Akibatnya, Sultan Palembang hanya mampu
menjual 4.280 pikul timah dan 500 pikul lada ke Cina. Hasil yang diperoleh dari
penjualan timah yang disetorkan kepada Belanda hanya sebesar 16.000 ringgit.
Terbatasnya timah yang diperoleh juga disebabkan oleh kurangnya tenaga kerja
untuk bekerja di tambang-tambang timah (para elanong membawa wabah
penyakit menular ke Pulau Bangka, sehingga banyak penduduk yang meninggal
dunia akibat penyakit menular itu) (ANRI, Bundel Palembang No. 24; Een en
Ander…, 1914: 397-398; Kaiser, 1857: 85).
Kontrol VOC yang lemah, tidak cukup membuat Sultan Bahauddin ingin
melepaskan diri dari Belanda. Dari data yang ada, tampak bahwa Sultan tidak
memiliki cukup kemampuan atau keinginan untuk melepaskan diri. Hal ini tidak
terlepas dari ―hubungan baik‖ yang selama ini terjalin antara Palembang dan
wakil pemerintah Belanda di Palembang. Terbukti dari pengakuan residen
Belanda tentang sultan Palembang yang ―baik hati, tiada yang mampu
menyamainya‖. Bagi Sultan Bahauddin pada waktu itu, hubungan antara dirinya
dan wakil pemerintah Belanda berjalan sebagai ―mitra‖ dalam bidang ekonomi
perdagangan. sehingga seolah-olah terjadi ―perdagangan bebas‖ yang membawa
keuntungan bagi Palembang, akibat lemahnya VOC. Di samping itu, Sultan juga
―sibuk‖ dengan masalah perompakan dan penyakit yang memaksa Palembang
untuk lebih fokus pada urusan di dalam kerajaan. Jadi, jelaslah bahwa sosok
Sultan Bahauddin bukan tipe orang yang ambisius untuk merebut ―kemerdekaan‖
dari Belanda. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah bentuk hubungan
Palembang dan Belanda pada waktu itu adalah hubungan dagang, tidak
melibatkan diri dalam pemerintahan apalagi dominasi teritorial. Kedaulatan sultan

oleh sultan maupun VOC. Kekuatan Raden Jafar mampu mengalahkan armada laut
PanglimaRahman pemimpin bajak laut dari Lingga. Pada 1802 Panglima Rahman berlayar dengan
membawa armada sebanyak 70 perahu menyerang Muntok (pusat kekuasaan Raden Jafar). Tokoh
bajak laut lainnya adalah Panglima Raja yang berasal dari Belitung, wilayah jelajahannya Pulau
Belitung, Pulau Bangka,dan pulau-pulau di sekitarnya, pantai timur Sumatra dan pantai utara
Pulau Jawa (Cirebon dan pantai utara Pulau Jawa) (ANRI. Bundel Palembang No.19; No. 24).

Universitas Indonesia
64

pada waktu itu dapat dilihat dari ―bebasnya‖ hubungan datang antara pedagang-
pedangan Palembang dan para pedagang lainnya, yang membawa keuntungan
(ANRI, Bundel Palembang No. 38.1; Tarling, 1994:13)
Maraknya perdagangan gelap juga dipicu oleh rendahnya harga yang
ditetapkan oleh pihak Belanda41. Akibatnya, sultan melakukan berbagai cara agar Comment [DKM37]: Istilah pemerintah kolon
Belanda digunakan setelah VOC dibubarkan! Pada
tidak dirugikan oleh berbagai kontrak42 antara Kesultanan Palembang dan VOC. masa VOC pemerintahannya disebut Kompeni.
Harap Konsisten!
Salah satunya yang cukup efektif untuk menaikkan pemasukan Kesultanan Comment [DKM38]: VOC atau pemerintah
kolonial???
Palembang adalah melalui perdagangan gelap. Di sisi lain, para petualang Inggris
sejak lama terus berusaha mendekati para sultan untuk menyelundupkan timah.
Kapal-kapal milik Inggris membeli timah dan lada dengan harga yang lebih baik
atas dasar komersil. Di samping itu, Inggris juga memperdagangkan lilin dan kayu
cendana di pelabuhan-pelabuhan Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 19;
Tarling, 1994: 13Ricklefs, 2008: 147).
Pada awal abad XIX Inggris terus gencar memblokade Batavia dan Comment [DKM39]: Kapan?? Blokade
dilakukan pada awal abad XIX dan bukan
pelabuhan-pelabuhan milik Belanda di pantai utara Pulau Jawa. Inggris berusaha sebelumnya!

menghancurkan perdagangan dan wilayah kolonial Belanda, juga menghasut Comment [DKM40]: Kapan ini??

orang-orang pribumi agar bangkit melawan Belanda dan mempengaruhi mereka


agar bersedia berada di bawah pengaruh Inggris. Blokade Inggris itu
menyebabkan barang-barang dari Palembang sulit masuk ke Batavia, sehingga
Belanda sulit mendapatkan timah dan lada untuk memenuhi kebutuhannya (ANRI,
Bundel Palembang No. 19).
Gambaran tentang kondisi perdagangan dan perairan kawasan barat
Nusantara akhir abad XVIII membawa dampak positif bagi perekonomian
Kesultanan Palembang. Hal itu disebabkan kurangnya pengawasan dari pihak
VOC, sehingga Sultan Palembang memanfaatkan kondisi tersebut dengan

41
Harga monopoli VOC untuk timah 6,5 sampai 7 dollar Spanyol perpikul,
sedangkan harga di pasaran bebas mencapai 12 sampai 13 dolar Spanyol setiap pikul.
Komoditi dari Palembang dijual ke Riau (berada di bawah kendali pedagang-pedagang
Bugis), dari Riau dibawa ke Cina (Masyhuri, 1983:104). Woelders menyatakan bahwa
harga yang ditetapkan oleh VOC 8 ringgit per pikul, sedangkan harga Inggris 16 ringgit
per pikul (Woelders, 1975: 84).
42
Kontrak-kontrak yang terjadi antara Palembang dan VOC terjadi pada Tahun
1642, 1662, 1678, 1679, 1681, 1722, 1755, 1763, 1775 dan 1791 (Paulus, 1918: 162).

Universitas Indonesia
65

melakukan perdagangan gelap. Perdagangan gelap itu menyebabkan Kesultanan


Palembang memperoleh keuntungan yang besar (Kielstra, 1892: 80).

2.3.1 Awal Pemerintahan Sultan Ratu Mahmud Badaruddin II

Sultan Badaruddin II mewarisi tahta dari ayahnya Sultan Muhamad Bahauddin


pada 1804. Secara ekonomi dan politik, Kesultanan Palembang pada waktu itu
berada dalam kondisi mapan dan stabil. Di bidang ekonomi, sejak akhir abad
XVIII Palembang mengalami keuntungan besar melalui perdagangan gelap. Hal
itu disebabkan lemah dan kemudian hancurnya armada laut VOC, sehingga tidak
mampu melakukan pengawasan di perairan di Palembang khususnya di Selat
Bangka. Kondisi itu dimanfaatkan secara maksimal oleh sultan untuk mengeruk
keuntungan dengan mengabaikan setoran wajib ke Batavia sesuai kontrak. Situasi
menguntungkan itu terus berlangsung, sehingga pada masa pemerintahan
Daendels (1808-1811) semua peraturan tentang perdagangan yang diterapkan Comment [DKM41]: Daendels memerintah da
1808—1811!!!
semasa VOC dihapuskan. Pada masa ini kondisi Palembang ditinjau dari segi
politik dalam keadaan stabil (ANRI, Bundel Palembang No. 19). Comment [DKM42]: Maksudnya apa bidang
politik??
Pada masa mudanya, Sultan Badaruddin II yang bergeralr Pangeran Ratu
belum menunjukkan sifat-sifat kedewasaannya. Ia memiliki sifat mudah
tersinggung, kurang tertarik pada urusan pemerintahan, dan sering berlindung di
belakang para bangsawan dan para pembantunya. Sewaktu Sultan Bahauddin
wafat, Pangeran Ratu diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Ratu Mahmud
Badaruddin II dan adiknya Pangeran Adi Menggala diangkat menjadi Pangeran
Adipati.43 Pengangkatan itu sesuai dengan ketentuan bahwa yang berhak naik
tahta adalah putera mahkota. Akan tetapi, tampaknya Pangeran Adipati kurang
berkenan atas pengangkatan tersebut. Hal itu mendapat dukungan dari Comment [DKM43]: Kena apa???? Jelaskan??

sekelompok orang, yang kemungkinan adalah golongan bangsawan (ANRI,


Bundel Palembang No. 38.1).

43
Gelar ‗Pangeran Adipati‘ dalam beberapa naskah Melayu berarti ‗Menteri Pertama‘
atau ‗Perdana Menteri‘. Di Kesultanan Palembang, Pangeran Adipati berarti pejabat pertama
kerajaan (Bataviaasch Courant, Sabtu, 4 Agustus 1821).

Universitas Indonesia
66

Tidak dijelaskan lebih lanjut apa yang menyebabkan hal tersebut.


Berdasarkan sumber kolonial disebutkan bahwa setelah Sultan Badaruddin II
dilantik, Pangeran Adipati menunjukkan sikap menolak, dengan cara menutup diri
dan mengumpulkan orang-orang Bugis di kediamannya, seolah menyusun
kekuatan. Perilaku Pangeran Adipati itu mendapat dukungan dari sebagian
bangsawan. Menurut residen Belanda di Palembang Aarquim Palm, sikap diam Comment [DKM44]: Residen di mana??

yang ditunjukkan oleh Pangeran Adipati merupakan indikasi adanya


persekongkolan politik antara Pangeran Adipati, sebagian bangsawan, dan orang- Comment [DKM45]: Maksudnya????

orang Bugis44. Lebih lanjut dikatakan bahwa kehadiran orang-orang Bugis akan
mempengaruhi Pangeran Adipati untuk menentang Sultan. Dalam situasi
demikian, Residen Aarquim Palm menasehati Sultan Badaruddin II untuk lebih
berhati-hati terhadap Pangeran Adipati yang menunjukkan sikap mencurigakan.
Walaupun demikian, ternyata apa yang dikhawatirkan oleh residen Belanda itu
tidak terbukti karena kedatangan orang-orang Bugis hanya merupakan kunjungan
persahabatan biasa. Sejauh tidak ada bukti-bukti yang mengarah kepada
penentangan, Sultan Badaruddin II tidak melakukan tindakan apapun (ANRI,
Bundel Palembang No. 22.1). Walaupun tidak terjadi hal-hal sebagaimana yang
dikhawatirkan oleh pihak Belanda, namun dengan adanya sumber tersebut dapat
diindikasikan bahwa sejak awal Pangeran Adipati telah menunjukkan sikap
menentang Sultan.
Sejak Sultan Badaruddin II naik tahta, pihak Belanda terus berusaha
mendekati Sultan, agar kontrak-kontrak yang telah disetujui sebelumnya dengan
para pendahulu Sultan dapat diamankan. Salah satu langkah yang mereka tempuh
adalah dengan memberikan berbagai informasi kepada Sultan Badaruddin II,

44
Orang-orang Bugis dalam jumlah yang cukup banyak, dengan menggunakan
perahu dari Jawa tiba di ibu kota Palembang. Mereka ditempatkan oleh Pangeran
Adipati di dekat kediamannya (ANRI, Bundel Palembang No. 22.1). Di pesisir utara Pulau
Jawa, migrasi besar-besar orang-orang terjadi pada 1674 pascaperang Bone (1669).
Mereka aktif terlibat dalam perang Trunajaya. Kehadiran orang-orang Bugis yang ahli
dalam pelayaran akan berdampak terganggunya perdagangan VOC khususnya beras dan
kayu di kawasan itu. Untuk itu, pada 1676 VOC memutuskan untuk mengusir
pemukiman Bugis di sana. Jadi, Belanda sudah banyak belajar dari pengalaman bahwa
kehadiran orang-orang Bugis di wilayah-wilayah yang menjadi “garapannya” akan
menjadi batu sandungan bagi kelancaran usahanya (Nagtegaal, 1996: 21). Dengan
demikian, dimana pun kehadiran orang-orang Bugis, merupakan ancaman di mata para
penguasa Belanda.

Universitas Indonesia
67

misalnya tentang adiknya, Pangeran Adipati, yang membangkang dan masalah


lain yang berkaitan dengan perdagangan. Mereka tetap ragu tentang masa depan
hubungan kedua bangsa. Mereka mencurigai sultan sebagai orang yang tidak
patuh terhadap pemerintah kolonial. Berdasarkan surat-surat Residen Belanda di
Palembang kepada Gubernur Jenderal di Batavia, dinyatakan bahwa Sultan Comment [DKM46]: Surat yang mana??

Badaruddin II berupaya untuk melepaskan diri dari pemerintah kolonial.


Dibuktikan dengan hasil pengamatan terhadap dari sikap-sikap sultan, yang
menunjukkan keengganan untuk menjalin hubungan harmonis dengan mereka.
Terlihat pula dari pelanggaran terhadap kontrak yang telah disepakati sebelumnya Comment [DKM47]: Kapan kontrak itu
dibuat????
antara sultan Palembang dan Kompeni. Kontrak terakhir antara Palembang dan
Belanda terjadi pada 179145 dan faktanya Sultan Badaruddin II tetap melakukan Comment [DKM48]: Berikan catatan kaki
tentang perjanjian itu??? Jangan hanya deskriptif
pelanggaran. Tampaknya ada usaha pihak Belanda untuk membenahi berbagai semacam ini!

pelanggaran terhadap isi kontrak yang ada, namun tidak mendapat respon dari
Sultan. Dalam konteks ini, mereka malah membandingkan antara Sultan
Badaruddin II dan ayahnya. Dapat diketahui dari pernyataan Residen Aartquim
Palm yang membandingkan Sultan Badaruddin II dengan ayahnya. Menurutnya,
Sultan Muhamad Bahauddin sangat baik, tidak ada yang mampu menyamainya
(ANRI, Bundel Palembang No. 38.1).
Kebaikan Sultan Bahauddin tentunya tidak terlepas dari hubungan baik
yang terjalin antarkeduanya, namun sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Sultan
Badaruddin II membuat mereka meragukan tetap terbinanya hubungan yang ada.
Sebagai contoh, semasa Sultan Badaruddin II masih sebagai Pangeran Ratu,
terjadi peristiwa penjarahan terhadap kapal Belanda yang mengangkut kebutuhan
bahan oleh penduduk Palembang. Residen melaporkan peristiwa tersebut
kepadanya, akan tetapi laporan itu tidak dihiraukan, sehingga harus diserahkan
kepada Sultan Bahauddin II.
Setelah naik tahta, Sultan Badaruddin II dala usia 38 atau 39 tahun, usia
yang cukup matang untuk memegang tampuk pemerintahan atas Kesultanan
Palembang. Sultan cepat belajar mengenai segala sesuatu tentang pemerintahan di

45
Kontrak 1791 menyebutkan antara lain bahwa VOC adalah pemegang
monopoli timah dan lada di Kesultanan Palembang, larangan keras bagi kapal-kapal
asing untuk berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Palembang, dan perdagangan gelap harus
dicegah (Kaiser, 1857:85).

Universitas Indonesia
68

Kesultanan itu, dan Sultan mampu melaksanakan pemerintahan dengan baik. Dia
dikenal sebagai sultan yang sangat teguh pada pendiriannya. Akan tetapi di sisi
lain, putra mahkota sultan yang bergelar Pangeran Ratu46 melemahkan citra
pemerintahannya karena tingkah lakunya yang buruk seperti hidup bebas dan
tinggi hati. Meskipun demikian, di sisi lain Pangeran Ratu juga mempunyai sikap Comment [DKM49]: Maksudnya apa???

positif yaitu mudah bergaul (ANRI, Bundel Palembang No. 38.1; Java
Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812).
Disebutkan pula bahwa sejak awal pemerintahannya, Sultan Badaruddin II
telah bercita-cita akan masa depan negerinya yang lepas dari cengkeraman
pemerintah kolonial. Oleh karena itu Sultan mempersiapkan diri untuk
melepaskan diri dari pengaruh kolonial Belanda, Daendels hadir sebagai
pemimpin baru di wilayah Hindia Timur. Daendels melakukan berbagai
perubahan yang tentunya berpengaruh terhadap Kesultanan Palembang. Dalam
perdagangan timah, Daendels menetapkan sistem hutang atau dibayar dengan
beras (pemerintah Belanda mengalami krisis keuangan akibat berbagai
pertempuran dan blokade Inggris) dalam pembayarannya. Padahal sebelumnya Comment [DKM50]: Lebih detil!!

pembayaran dilakukan secara tunai. Apabila Sultan menolak kebijakan tersebut,


harga timah akan diturunkan dan diancam dengan ekspedisi militer. Di samping
itu, berbagai tindakan Daendels kepada para penguasa pribumi47 di Pulau Jawa
mengakibatkan citra pemerintah Belanda di Palembang jelek. Akibatnya, ancaman
Daendels tersebut mendorong Sultan Badaruddin II melakukan persiapan dengan
cara mengumpulkan para menteri, depati, penggawa dan rakyat dari uluan
(Batangari Sembilan) dan iliran untuk bergotong-royong membuat benteng
Borang. Benteng Borang merupakan benteng utama di Kesultanan Palembang. Comment [DKM51]: Apa maksud kalimat ini?
Harap dielaborasi lagi.
Sementara itu, di mata pemerintah kolonial Belanda, Sultan Badaruddin II
merupakan sosok raja yang diperhitungkan. Sultan dikenal sebagai penguasa Comment [DKM52]: Maksudnya oleh siapa?
Mengapa, dan bagaimana itu bisa terjadi? Jelaskan

46
Sultan Badaruddin II memiliki tiga putera yang berasal dari permaisuri. Pada
1812, ketiga pangeran itu adalah Pangeran Ratu (21 tahun), Pangeran Nadi (17 tahun),
dan putera bungsu yaitu Pangeran Prabu/Rhabu (10 tahun) (Java Gouvernement
Gazette, 4 Juli 1812; Thorn, 2004:161).
47
Contohnya di Kesultanan Banten. Daendels memaksa sultan mengerahkan
tenaga cuma-cuma sebanyak 1000 orang per hari untuk membangun pangkalan armada
Belanda di Selat Sunda, mengancam akan memindahkan istana “Puri Intan” dan
memaksa sultan Banten memindahkan keratonnya, sampai akhirnya pasukan Belanda
menghancurkan keraton pada bulan November 1808 (Marihandono, 2005: 87-89)

Universitas Indonesia
69

yang kuat, cekatan, cerdik, berani, berwibawa, bersahabat dan ahli perang48. Di
sisi lain, Sultan memiliki sifat negatif yaitu emosional dan keras kepala (menolak
orang lain menentang kemauannya) (ANRI, Bundel Palembang No.38.1; Kemp, Comment [DKM53]: Dari mana Sultan
Palembang bisa tahu kalau tindakan Daendels
1900: 332; Woelders, 1975:15, 85-86; Kaiser, 1857: 86). terhadap pribumi mengakibatkan citra Pemerintah
Belanda menjadi terpuruk!!
Delapan tahun pertama masa pemerintahan Sultan Badaruddin II,
Kesultanan Palembang sangat maju. Palembang merupakan salah satu kerajaan
yang paling kaya di antara raja-raja Melayu lainnya, terutama di Sumatra.
Sebagian besar kekayaannya diperoleh dari timah49. Hal itu dapat diketahui dari
laporan Raffles kepada Gubernur Jenderal Lord Minto yang menyatakan bahwa
Kesultanan Palembang sangat makmur. Berkaitan dengan itu, Raffles Comment [DKM54]: Sumber!

menempatkan Sultan Badaruddin II sebagai raja yang paling awal didekatinya


dalam upaya mendapat dukungan menaklukkan Pulau Jawa. Di samping itu, di Comment [DKM55]: Kalimat ini menggantun

mata Inggris Kesultanan Palembang juga sangat penting karena letaknya yang
strategis antara Jawa dan semenanjung Malaya (ANRI, Bundel Palembang No.
62.2; Kielstra, 1892: 81). Dengan demikian, sangat wajar apabila Raffles
menempatkan Kesultanan Palembang pada urutan pertama kerajaan yang harus
didekati.

2.3.2 Strategi Raffles untuk Menguasai Palembang

Ketika Gubernur Jenderal India Lord Gilbert Elliot Minto memutuskan untuk Comment [DKM56]: Terbalik namanya!

menaklukkan Pulau Jawa, ia mengirim Raffles50 berangkat ke Malaka. Pada

48
Sultan Badaruddin II digelari oleh ahli-ahli sejarah Belanda dengan nama
“macan” dan “srigala”, karena pasukan Palembang berhasil menghancurkan benteng-
benteng dan armada Belanda dalam dua kali peperangan pada 1819 (ANRI, Bundel
Palembang No.38.1; Kemp, 1900: 332; Sevenhoven, 1971:6).
49
Kondisi itu sangat berbeda dengan kerajaan tetangganya yaitu Jambi yang
pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Raja Minangkabau dari Pagaruyung dan
dihadapkan pada perang saudara antara Sultan Mohildin dan kerabatnya (Locher-
Scholten, 2008: 45-46).
50
Sejak Juli 1910 Raffles meminta kepada Lord Minto, agar ditempatkan di
daerah Melayu yang saat itu berkedudukan sebagai Ajun Sekretaris di Penang.
Tujuannya adalah untuk memuluskan ekspedisi Inggris ke Pulau Jawa. Menurutnya yang
harus dilakukan adalah mendekati raja-raja Melayu, untuk melepaskan mereka dari
pengaruh Belanda. Diantara kerajaan Melayu yang terdapat di Sumatra dan Kalimantan,
yang terpenting adalah Kesultanan Palembang, karena Palembang adalah kerajaan yang
sangat kaya. Jika berhasil mendekati Palembang dan membuat kontrak dengan kerajaan

Universitas Indonesia
70

Oktober 1810 Raffles ditugaskan sebagai Agen Politik Gubernur Jenderal Inggris
untuk kerajaan-kerajaan Melayu. Dalam rangka melaksanakan tugas itu, Raffles
berangkat ke Malaka dan tiba di sana pada 3 Oktober 181051. Dalam rangka
mempersiapkan ekspedisi ke Pulau Jawa, pemerintah Inggris membangun markas
besar di Malaka pada 10 Oktober 1810 (ANRI, Bundel Palembang No.67;
Woelders, 1975: 5; Bastin, 1953: 305; Wurtzburg, 1949: 38). Pembangunan
markas besar di Malaka, merupakan awal dijadikannya Malaka sebagai basis
kekuatan militer dalam rangka rencana penyerangan ke Batavia.
Strategi yang ditempuh oleh Raffles adalah menjalin hubungan dengan
raja-raja dan bangsawan Melayu. Hal itu dimaksudkan agar kepercayaan raja-raja
tersebut kepada Inggris meningkat, sehingga memudahkan Inggris menanamkan
pengaruhnya kepada raja-raja tersebut. Raffles mengharapkan agar para raja itu
melakukan perlawanan kepada Belanda, dan minimal bersikap netral pada saat
Inggris menyerang Pulau Jawa. Untuk keperluan itu Raffles berusaha
mengamankan jalur ekspedisi ke Pulau Jawa. Jalur yang harus aman tentunya di
samping Selat Malaka, adalah Selat Bangka, yang merupakan jalur terpendek
menuju Batavia. Untuk itu jalur tersebut harus diamankan dengan menjalin
hubungan baik dengan Sultan Palembang. (ANRI, Bundel Palembang No.67;
Woelders, 1975: 5; Wurtzburg, 1949:39). Comment [DKM57]: Terputus idenya!

Langkah berikutnya yang dilakukan oleh Inggris adalah memasok


kerajaan-kerajaan Melayu dengan ―barang-barang berharga‖ berupa senjata dan
amunisi sebagai bekal mereka menghadapi Belanda. Inggris juga memanfaatkan
permusuhan antara raja-raja Melayu khususnya Palembang dan Belanda, dengan
mendorong Sultan Palembang untuk memutuskan hubungan dengan Belanda.
Menurut Raffles, apabila Sultan Palembang sepakat bersekutu dengan Inggris,
Palembang akan terbebas dari dampak-dampak negatif perang di Eropa. Di

tersebut, maka seluruh produksi timahnya akan jatuh ke tangan Inggris. Untuk itu, yang
harus dijalankan adalah mengirimkan utusan. Utusan tersebut harus melakukan
pendekatan kepada Sultan Palembang. Dalam pendekatan tersebut, strategi yang harus
ditempuh adalah, bahwa kehadiran mereka di sana dalam rangka menyelidiki penyebab
hilangnya kapal Inggris di lepas pantai Muntok (Bastin, 1953: 302-303; Woelders, 1975:
5).
51
Menurut Bastin tanggal 4 Desember 1810, sedangkan Kaiser menyatakan
Raffles tiba di Malaka pada 1809.

Universitas Indonesia
71

samping itu, Inggris juga melakukan pendekatan dengan Belanda, agar Belanda
melepaskan diri dari Perancis yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan
Prancis. Artinya, pendudukan Belanda di Hindia Timur juga merupakan
perpanjangan tangan kekuasaan Prancis. Hal itu terbukti adanya maklumat Raja
Willem agar wilayah Belanda di Hindia Timur ―diselamatkan‖ Inggris (The
Asiatic Journal, 1824, vol 17; Marihandono, 2005:9-13;Baud,1854:9-10;
Bastin,1953:305). Comment [DKM58]: Bagian ini juga tidak per
ada di sini! Idenya loncat!
Di Malaka, Raffles mendapat informasi bahwa sejak September 1810,
Daendels telah mengirimkan kapal perang di bawah pimpinan Letnan Kolonel
Voorman untuk menyerang Palembang atau Lingga. Belanda telah menempatkan
armadanya di lepas pantai muara Sunsang (Bastin, 1953: 306; Kaiser, 1857:86).
Informasi tersebut mendorong Raffles untuk segera menjalin hubungan dengan
Sultan Palembang. Ia mencoba meyakinkan Gubernur Jenderal Lord Minto
tentang rencananya tersebut. Menurutnya membina hubungan dengan Sultan
Palembang merupakan tindakan penting, mengingat kesultanan itu sangat kaya.
Pendekatan itu juga dimaksudkan untuk mendapatkan hak monopoli atas timah.52
Langkah yang ditempuh oleh Raffles terhadap Palembang adalah mengirim surat
kepada Sultan Badaruddin II melalui utusannya yaitu Raden Muhamad (Tuanku
Syarif Muhamad atau Raden Muhamad bin Hussein bin Shehal ed Din53) dan Said
Abubakar Rumi atau Sayed Abubakar bin Husein Roem (orang Arab) yang
bermukim di Penang. Dalam menjalankan tugasnya mereka menyamar sebagai
pedagang (Wolders, 1975: 5; Wurtzburg, 1949: 40-41, Baud, 1853: 10,28).

52
Sejak abad XVIII Inggris sudah menjadi pesaing Belanda di Kesultanan
Palembang. Inggris merupakan salah satu faktor dominan dalam berlangsungnya
perdagangan gelap di kesultanan Palembang. Inggris pula yang menyebabkan
terhalangnya pengiriman timah dari Palembang ke Batavia, akibat diblokadenya laut
Jawa (Kielstra, 1892: 81; Baud, 1853: 17).
53
Raden Muhamad adalah orang Palembang yang masih memiliki hubungan
kerabat dengan Sultan Badaruddin II. Ayahnya orang Arab, sedangkan ibunya berasal
dari kalangan ningrat Palembang. Ia menikah dengan perempuan Muntok dari
keturunan Yang. Pernikahan itu tidak disetujui oleh Sultan Badaruddin II, karena yang
berhak menikahi perempuan dari golongan itu hanya kerabat Sultan Palembang. Raden
Muhamad merasa sakit hati karena perceraiannya dipaksakan. Raden Muhamad
meninggalkan Palembang dan menetap di Kedah. Dari Kedah menuju Penang dan
mengabdikan dirinya pada pemerintah Inggris di sana (Woelders, 1975: 90).

Universitas Indonesia
72

Raden Muhamad bersedia ditugaskan sebagai utusan Raffles, diduga


karena merasa sakit hati kepada Sultan Badaruddin II. Raden Muhamad
memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana untuk membalas dendam
kepada Sultan. Raffles menyerahkan masalah tersebut kepada Raden Muhamad
karena ia orang yang dipercaya oleh Raffles dan masih kerabat sultan Palembang,
sehingga mengetahui tentang seluk beluk kesultanan tersebut. Semua itu akan
memudahkan Raden Muhamad untuk mendekati keraton. Artinya, Raden
Muhamad lebih mampu melakukan pendekatan dengan anggota keluarga
Sultan/bangsawan dibandingkan Said Abubakar Rumi. Dalam perundingan-
perundingan dengan Sultan Badaruddin II, Said Abubakar Rumi hanya sebagai
pendamping Raden Muhamad. Comment [DKM59]: Hasilnya apa, belum
dibahas lagi. Lanjutkan!!
Menurut Wurtzburg (1949: 41), surat pertama Raffles tidak diketahui
kapan dikirimkan kepada Sultan Badaruddin II, sedangkan, surat kedua dibuat
pada 17 Dzulkaidah 1224 Hijriyah (11 Desember 1809). Pendapat Wurtburg itu Comment [DKM60]: Pendapat yang mana???

sejalan dengan Baud, tetapi berbeda dengan pendapat Kaiser. Menurut Kaiser Comment [DKM61]: Pendapat yang mana???

(1857: 86), Raffles berhubungan dengan sultan Palembang setelah tiba di Malaka
pada 1809. Bastin54 (1953: 305-306) menyatakan bahwa surat pertama Raffles
dibuat pada 10 Desember 1810 (isi surat itu sama dengan surat ke dua dari
pendapat Wurtzburg dan Baud). Dalam suratnya Raffles menyatakan bahwa
dirinya adalah utusan Gubernur Jenderal Lord Minto. Lebih lanjut ia menyatakan Comment [DKM62]: Maksudnya agen apa???

bahwa posisi Palembang dalam keadaan terancam, karena Belanda telah


menempatkan armada bersenjatanya di muara Sungai Musi. Oleh sebab itu, sultan
harus mencegah dan mengusir armada Belanda tersebut. Untuk itu Inggris
menawarkan persahabatan dan bantuan militer, sekalipun jumlah pasukan Belanda
mencapai sepuluh ribu orang.55 Sebagai tindak lanjut, Raffles mengharapkan agar

54
Tulisan Bastin berdasarkan pada tiga surat Raffles yang tidak diterbitkan oleh
Baud. Isinya antara lain menyebutkan bahwa Inggris menawarkan persahabatan dan perlindungan karena
adanya ancaman kapal-kapal Belanda di perairan Sungai Musi dan pendirian pos militer Belanda di Tulang
Bawang Lampung. Raffles juga menyesalkan Sultan Badaruddin II tidak mengirimkan wakilnya ke Malaka
untuk berunding dengannya (1953: 301-313)
55
Tampaknya jumlah 10.000 orang serdadu yang dimaksudkan oleh Rafless, adalah
untuk menunjukkan keseriusan Inggris membantu Palembang dalam usaha mengusir Belanda dari
wilayah itu (sesuai pernyataan Raffles dalam suratnya bahwa Inggris adalah sahabat yang paling

Universitas Indonesia
73

sultan mengirimkan utusan resmi untuk berunding langsung dengan Raffles di


Malaka. (Baud, 1853:10).
Setelah Raffles mendapat kabar bahwa kapal-kapal Belanda sudah
menyusuri Sungai Musi, kembali ia mengirimkan surat kepada Sultan Palembang
pada 15 Desember 1810. Dalam suratnya Raffles menuliskan bahwa Belanda
adalah bangsa yang jahat dan akan menyerang Palembang. Untuk itu Sultan perlu
bersahabat dengan Inggris, Raffles juga meminta jawaban atas surat sebelumnya
dan kembali menegaskan agar sultan mengirimkan utusan kepadanya.56 Dalam
waktu yang bersamaan, Raffles juga mengirim surat kepada Lord Minto. Dalam
suratnya itu, ia menggambarkan sultan Palembang sebagai raja Melayu yang
sangat kaya, kekayaan itu jangan sampai dijarah oleh Daendels. Dikatakan bahwa
Daendels tidak main-main dengan ancamannya kepada Sultan Badaruddin II.
Terbukti dengan pengiriman armada bersenjata di dekat perbatasan antara
Lampung dan Palembang (Tulang Bawang). Kondisi itu memaksa Raffles
mendesak Sultan Palembang untuk berlindung kepada Inggris (Bastin, 1953: 306-
307).
Januari 1811 Raffles mengirim Kapten James Bowen ke Palembang
dengan membawa tiga kapal perang. Tujuannya mengusir armada Belanda dari
daerah tersebut. Pada kesempatan itu Bowen juga menyerahkan surat Raffles

dapat diandalkan). Terbukti jumlah penghuni Loji Belanda di Sungai Aur pada saat diduduki (14
September 1814) penghuninya hanya sebanyak 110 orang. Jumlah tersebut sesuai dengan laporan
Daendels kepada Kaisar Napoléon Bonaparte pada 20 april 1811, yang menyebutkan bahwa
jumlah serdadu Belanda yang terkumpul pada bulan Mei 1811 sebanyak 17.774 orang serdadu.,
Semua terkonsentrasi di Jawa, kecuali sebanyak 400 orang yang tersebar di Palembang, Makasar
dan Timor (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Marihandono, 2005:94; Bastin, 1953: 305-306;
Baud, 1854:10; Stapel, 1940: 95; Kielstra, 1892: 81).

56
Isi surat yang ditelaah oleh Bastin dan Kielstra hampir sama, tetapi waktunya
berbeda satu tahun (Bastin menyatakan surat itu merupakan surat kedua tertanggal 15
Desember 1810, sedangkan Baud, Kielstra, Stapel dan Wurtzburg berpendapat surat itu
dibuat pada Desember 1809). Tahun surat menyurat antara Sultan Badaruddin II dan
Raffles dapat dipastikan terjadi tahun 1810-1811, berdasarkan surat jawaban Sultan
Badaruddin II tanggal 10 Januari 1811 dalam versi Bahasa Inggris dibuat pada 3 Maret
1811 atau dalam versi Robison pada 4 Maret 1811 (Bastin, 1954: 81). Dalam hal ini agak
mustahil kalau jarak antara surat pertama tahun 1809, surat-surat berikutnya tahun
1811. Jarak Palembang ke Malaka cukup jauh padahal kondisi saat itu mendesak
sehingga Raffles berkali-kali mengirim surat. Hal itu dikaitkan pula dengan peristiwa
pendudukan Inggris atas Mauritius pada Oktober 1810 (milik Belanda-Prancis) (Furnivall,
2009: 59).

Universitas Indonesia
74

kepada Sultan dan kepala kampung Sunsang pada 13 Januari 1811. Dalam
suratnya kepada penguasa Sunsang, Raffles meminta agar penduduk Sunsang
tidak berhubungan lagi dengan Belanda. Manuver kapal perang Inggris di
Sunsang juga dimaksudkan agar penduduk Sunsang menuruti permintaannya.
Dalam laporannya kepada Raffles, Bowen menginformasikan bahwa armada
Belanda terdiri dari tiga kapal jelajah, empat kapal meriam dan sepuluh kapal
dagang57 telah meninggalkan Palembang pada 10 Januari 1811. Armada-armada
itu tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena Sultan
Palembang menolak menyerahkan timah tanpa uang kontan. Sultan Badaruddin II
juga telah mengetahui bahwa Belanda telah menyelundupkan senjata-senjata ke
Palembang untuk persiapan menduduki Palembang, akibatnya Sultan menolak
armada mereka lebih jauh masuk ke Sungai Musi (uluan) (Bastin, 1953: 308-309;
Wurtzburg, 1949: 41-42).
Sampai awal Februari 1811 Raden Muhamad tetap berada di Palembang
dalam rangka menunggu jawaban dari Sultan Badaruddin II, ia juga belum
mengirimkan kabar lanjutan kepada Raffles. Atas dasar itu, Raffles mengirim
Kapten Mac Donald ke Palembang untuk menemui Raden Muhamad sekaligus
menyelidiki kekuatan pasukan Belanda di Lampung dan Palembang. Dari hasil
pertemuan keduanya diperoleh informasi bahwa misi Raden Muhamad gagal,
sebab Sultan Badaruddin II menolaknya sebagai wakil Raffles karena tidak
mempunyai bukti resmi, ia hanya berbekal surat Raffles yang ditujukan kepada
sultan. Sultan akan menerimanya sebagai wakil Raffles apabila telah memperoleh
surat keterangan resmi tentang penunjukannya. Meskipun demikian, sultan tetap
membalas surat Raffles. Dalam suratnya Sultan Badaruddin II menyatakan bahwa Comment [DKM63]: Surat Sultan yang mana?

hendaknya Raffles tidak mengkhawatirkan keberadaan orang-orang Belanda di


Palembang. Sultan akan segera menyelesaikannya apabila orang-orang Belanda
melakukan kesalahan. Kesalahan itulah yang akan dijadikan alasan untuk
mengenyahkan loji Belanda dari Palembang. Menanggapi surat sultan tersebut,
pada 3 Maret 1811 Raffles membuat surat penunjukan resmi Raden Muhamad
sebagai agen resmi dan rancangan perjanjian yang harus disodorkan Raden

57
Menurut Wurtzburg (1949: 48), armada Belanda terdiri dari tiga kapal jelajah
dengan masing-masing empat meriam, empat perahu meriam dan sepuluh kapal
dagang.

Universitas Indonesia
75

Muhamad kepada Sultan Badaruddin II (Bastin, 1953: 309-310; Wutrzburg, 1949:


50).
Sebelumnya, pada 2 Maret 1811 (8 Sapar 1225), Raffles kembali
mengirimkan surat kepada Sultan. Dalam pernyataannya, Raffles terus mendesak
Sultan Badaruddin II untuk segera bertindak tegas kepada orang-orang Belanda di Comment [DKM64]: Ini sultan yang mana ???

Palembang. Ia juga menekankan adanya ancaman ekspedisi yang tengah disiapkan


oleh Belanda di daerah Tulang Bawang (perbatasan antara Palembang dan
Lampung bagian utara). Oleh sebab itu, Sultan harus memutuskan kontrak dengan
Belanda, dan meminta bantuan kepada Inggris. Tujuannya adalah untuk mengusir
semua orang Belanda.. Dalam versi Bahasa Melayu, di dalam surat tersebut
terdapat kata-kata ―buang dan habiskan sekali-kali‖, yang bermakna semua orang Comment [DKM65]: Berikan naskah aslinya!

Belanda harus dienyahkan dari bumi Palembang. Dalam surat itu pula Raffles
mengemukakan kekecewaannya karena sampai saat itu Sultan Badaruddin II
belum mengirimkan utusan ke Malaka.58 Selain itu, Raffles juga menekankan
bahwa apabila perjanjian antara keduanya terwujud sebelum penaklukan Pulau
Jawa, berarti semua kontrak yang selama ini berlaku antara Palembang dan
Belanda dibatalkan. Sebaliknya, hal itu tidak berlaku apabila kesepakatan
terwujud setelah Inggris menduduki Pulau Jawa. (Baud, 1853: 11-12; Kielstra,
1892: 81; Stapel, 1940:95; Wurtzburg, 1949:42-43; Bastin, 1953: 311-312). Jadi,
jelas bahwa semua tawaran Raffles hanya demi kepentingan memperlancar
pendudukan atas Pulau Jawa. Untuk itu, Sultan Badaruddin II benar-benar dituntut
untuk sesegera mungkin mengusir Belanda dari Palembang.
Pada saat itu waktu semakin mendesak bagi Inggris untuk segera
mewujudkan misinya menyerang Pulau Jawa. Oleh sebab itu, Raffles melalui
utusannya Raden Muhamad menuntut sultan untuk membuat kontrak penting
yang akan mengatur hubungan antara Palembang dan Inggris. Raffles
mengusulkan agar perjanjian itu dibuat di Palembang dan diserahkan kepadanya
untuk disahkan dengan cap kerajaan. Selanjutnya, surat perjanjian itu segera

58
Bastin (1953: 310) menyatakan bahwa Inggris menuntut Sultan untuk
mengalihkan kontrak penjualan timah, lada dari Belanda kepada pemerintah Inggris.
Untuk mengurus segala sesuatunya, sultan sepakat akan mengirimkan seorang wakil ke
Malaka (sebelumnya tidak pernah terwujud walaupun berulang kali Raffles
memintanya).

Universitas Indonesia
76

dibawa kembali kepada Sultan (sebulan sejak tanggal dicap, diperkirakan pada
akhir Maret 1811). Semua yang telah dilakukannya dalam usaha mempengaruhi
sultan, dilaporkannya kepada Gubernur Jenderal Lord Minto di Calcutta. Dalam
laporannya itu, ia meyakini bahwa perundingannya dengan Sultan Palembang
akan menghasilkan hal positif yaitu sultan menyetujui usul-usul yang diajukannya
(Bastin, 1953: 313).
Isi perjanjian itu antara lain menyebutkan bahwa apabila sultan
Badaruddin II mengalami kesulitan untuk mengusir Belanda dari Palembang,
Raffles akan mengusir mereka, dan atas izin sultan, Raffles akan menguasai loji
Belanda. Selanjutnya, ia akan mengamankan muara Sungai Musi. Raffles juga
menawarkan harga baru yang lebih tinggi untuk pembelian timah, dan akan
mengeluarkan peraturan perdagangan Inggris seperti yang berlaku di Riau, Siak,
dan Trengganu. Harga ini fluktuatif sebagaimana terjadi dalam perdagangan
internasional. Kenyataannya, apa yang diharapkan oleh Raffles tidak terwujud,
Sultan Badaruddin II tidak mengesahkan kesepakatan tersebut.59 Raden Muhamad
mengirimkan penolakan tersebut kepada Raffles di Malaka (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; Baud, 1853: 12; Wurtzburg, 1949:43).
Jawaban Sultan Badaruddin II pada 2 Maret 1811 antara lain menyatakan
bahwa mengenai keberadaan orang-orang Belanda di Palembang, akan
ditanganinya dengan baik, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Langkah nyata yang akan diambil adalah mendesak Gubernur Jenderal Belanda
di Batavia agar segera menarik pulang orang-orang mereka dari Palembang.
Sultan juga menjelaskan tentang sejarah panjang hubungan leluhurnya dengan

59
Bastin (1953: 314; 1954: 68) berpendapat lain, ia menyatakan bahwa Sultan
Badaruddin II menerima perjanjian tersebut dan membubuhkan capnya. Pernyataan itu terbukti
pada saat komisi yang diutus oleh Raffles tiba di Palembang pada Nopember 1811. Komisi itu
bertugas mengambil alih Bangka dan memperbaharui perjanjian dengan sultan, pada saat itu
mereka menyerahkan Surat Perjanjian antara Sultan Badaruddin II dan Raffles yang telah dibubuhi
cap, yang membuktikan surat perjanjian itu telah sah, padahal, Raffles belum menerima surat itu
kembali dan isinya berbeda dari rancangan semula. Sehubungan dengan hal tersebut Bastin (1954:
75-78) memberikan argumennya, bahwa telah terjadi konspirasi yang dilakukan oleh utusan
Raffles (Raden Muhamad dan Said Abubakar Rumi), sehingga seolah-olah perjanjian itu telah
diratifikasi oleh sultan. Hal itu dapat dilacak dari pendapat Robison yang menyatakan bahwa
utusan Raffles bukanlah orang-orang yang jujur. Robison menekankan bahwa telah terjadi
rekayasa yang dirancang oleh utusan Raffles demi kepentingan Inggris.

Universitas Indonesia
77

Belanda yang umumnya berlangsung baik. Pengusiran terhadap orang-orang


Belanda dari Palembang tinggal menunggu waktu yang tepat. Apabila orang
Belanda melakukan suatu kesalahan, hal tersebut akan dijadikan alasan untuk
mengusir mereka dengan kekerasan. Dalam bidang perdagangan Sultan tetap
membuka pintu kepada bangsa manapun, seperti halnya selama ini berlangsung
dengan baik. Semua itu ditempuh agar tidak terjadi konflik baik dengan Belanda
maupun Inggris (Bastin, 1953: 313-16; Woelders, 1975: 6).
Langkah-langkah yang diambil segera dilaporkannya kepada Gubernur
Jenderal Lord Minto di Calcutta. Raffles menyampaikan hasil positif dari
perundingannya dengan Sultan pada 7 Maret 1811. Ia meyakini Sultan akan
menyetujui kesepakatan yang mereka buat dan itu artinya akan menguntungkan
Inggris. Sementara itu, selama berlangsungnya surat-menyurat antara Sultan
Badaruddin II dan Raffles (waktu yang dibutuhkan untuk membawa surat dari
Palembang ke Malaka sekitar tiga pekan), agen-agen Raffles yang tetap tinggal di
ibu kota Palembang, sesuai dengan misinya mereka terus mendesak sultan agar
segera mengambil tindakan tegas terhadap loji Belanda. Menghadapi tuntutan itu,
Sultan Badaruddin II menjelaskan sikapnya bahwa ia akan mengusir orang-orang
Belanda dari Palembang dengan cara yang benar agar tidak menimbulkan masalah
dikemudian hari (Bastin, 1953: 313-315). Dari jawaban-jawaban yang diberikan
oleh Sultan, dapat disimpulkan bahwa Sultan bertindak hati-hati dalam menangani
berbagai permasahan yang ada, mengingat selama masa pemerintahannya tidak
pernah terjadi konflik terbuka antara Palembang dan Belanda. Baginya segala
sesuatu membutuhkan alasan yang kuat. Walaupun, Raffles telah memberikan
jaminan akan memberikan apapun bantuan yang dibutuhkan dalam usaha
mengenyahkan Belanda dari Palembang.
Misi Raffles berikutnya adalah mengirim Kapten Teak pada April 1811,
dengan tujuan membeli timah Bangka. Permintaan itu dipenuhi oleh Sultan dan
membalas surat Raffles pada 19 April 1811. Mengingat penaklukkan Pulau Jawa
sudah makin mendesak, sedangkan komitmen dari Sultan Badaruddin II belum
diperoleh, akhirnya Raffles mengambil kebijakan mengirimkan Kapten Mac
Donald ke Palembang untuk kembali menyerahkan surat darinya dan surat dari
Gubernur Jenderal Lord Minto. Dalam suratnya, kembali Raffles memaksa Sultan

Universitas Indonesia
78

Badaruddin II memberikan jawaban pasti. Menurutnya karena kondisinya


mendesak untuk segera menyerang Pulau Jawa. utusannya hanya dapat merapat di
pelabuhan Palembang maksimal 24 jam. Pada kesempatan itu Raffles juga
menyampaikan bahwa ia tidak menerima jawaban dari Sultan dan menyertakan
salinan surat-surat yang telah dikirimkannya selama ini kepada sultan. Ia tidak
yakin surat-surat yang dikirimkannya diterima oleh Sultan. Kembali Raffles
menekankan komitmen Inggris dengan menyatakan bahwa apabila Sultan berhasil
mengusir Belanda sebelum Inggris menaklukkan Jawa, artinya, Sultan akan
dianggap sebagai raja yang merdeka, namun, apabila Jawa telah ditaklukkan,
otomatis seluruh pangkalan Belanda menjadi milik Inggris. Sebagai wujud nyata
dari dukungannya kepada Sultan Badaruddin II, Raffles mengirimkan empat kotak
masing-masing berisi 80 senapan dan 10 keranjang berisi peluru dan mesiu.
Raffles akan mengirimkan apa pun yang dibutuhkan sultan baik berupa kapal,
prajurit atau senjata demi terealisasinya pengusiran terhadap orang-orang Belanda
di Palembang (Baud, 1853: 12-3; Bastin, 1853: 316-318; Wutrzburg, 1949: 43;
Kaiser, 1857: 87; Stapel, 1940: 95; Woelders, 1975: 6).
Surat tersebut dibalas Sultan Badaruddin II pada 23 Mei 181160, Sultan
menyampaikan penghargaan atas hadiah yang diterimanya, yang dianggapnya
sebagai hutang budi. Sultan juga menegaskan bahwa masalah orang-orang
Belanda di Palembang telah diselesaikan dengan baik melalui wakil sah dari
pemerintah masing-masing, yaitu Belanda akan menarik anggota garnizunnya.
Sultan juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin memperpanjang masalah
tersebut (Bastin, 1953: 318).
Dalam posisi dilematis itu, Sultan Badaruddin II terus berusaha mengulur-
ulur waktu dengan perundingan yang panjang, dan tidak mengirimkan wakilnya
kepada Raffles. Sultan tidak tertarik pada konspirasi politik Inggris dengan cara
mengusir Belanda dari Palembang tanpa sebab yang jelas. Sultan Badaruddin II
meyakini bahwa menuruti keinginan Raffles hanya akan menghambat

60
Menurut Baud (1853;13-14), setelah surat Raffles yang terakhir (pengiriman
senapan dan mesiu), tidak ada lagi komunikasi antara Sultan Badaruddin II dan Raffles.
Raffles kecewa pada Sultan Badaruddin II, karena Sultan tidak merespon permintaan
Raffles untuk meresmikan rancangan perjanjian yang disodorkannya. Langkah
selanjutnya yang ditempuh oleh adalah Raffles memerintahkan utusannya untuk
melakukan peneliti kekayaan alam, pemerintahan, dan penduduk.

Universitas Indonesia
79

keberhasilannya merebut kebebasan, lepas dari pengaruh Belanda maupun Inggris


(Kaiser, 1857: 86). Usaha gigih Raffles untuk memanfaatkan Sultan Badaruddin II
agar menuruti keinginannya, dengan mengusir Belanda dari Palembang tidak
berhasil.
Melihat respon dari Sultan Badaruddin II tidak seperti yang diharapkan,
langkah yang diambil oleh Raffles adalah mengirimkan wakil-wakilnya (Raden Comment [DKM66]: Apa yang dimaksudkan
dengan agen2 di sini? Mereka dikirim kembali ole
Muhamad dan Said Abubakar) ke Bangka pada 22 Juli 1811 untuk menyelidiki Raffles??

pulau itu. Mereka bermaksud untuk menetap sementara di Muntok Bangka kalau
diizinkan oleh sultan. Seandainya tidak mendapat izin mereka harus ikut ambil
bagian dalam ekspedisi penaklukan Pulau Jawa. Pada kenyataannya justru Sultan
Badaruddin II mengundang mereka ke ibu kota Palembang. Pada saat mereka
masih berada di ibu kota Palembang, peristiwa pendudukan Loji Belanda di
Sungai Aur 14 September 1811 (Wurtzburg, 1949: 44; Baud, 1853: 14). Dengan Comment [DKM67]: Apa maksudnya??

demikian, keduanya mengetahui peristiwa pembunuhan terhadap para penghuni


dan penghancuran loji Belanda. Berdasarkan kesaksian mereka di depan Komite
Pengadilan Malaka, dinyatakan bahwa setelah mereka mengetahui perahu-perahu
yang membawa penghuni loji Belanda ke muara Sunsang, mereka menemui
Sultan Badaruddin II dan memintanya agar para penghuni loji tidak dibunuh tetapi
mengirimkannya ke Batavia. Mereka juga meminta agar tidak menghancurkan
komplek loji Belanda karena hal itu dianggap sebagai tindakan pelanggaran,
sebab setelah kejatuhan Batavia ke tangan Inggris, semua daerah bekas kedudukan
loji Belanda akan dianggap sebagai milik Inggris (ANKL, House of Lord, vol. 19,
1835).

2.3.3 Pendudukan Loji Belanda (1811) dan Menolak Dominasi Inggris

Kabar tentang pendudukan Inggris atas Batavia pertama kali diketahui oleh Sultan
pada 3 September 1811. Akan tetapi, informasi itu tidak digubris oleh sultan
karena ia tidak yakin akan kebenarannya. Informasi kedua diterima sultan pada 11
September 1811, berasal dari Sayid Sin Bil Pake (Said Zain Bafakih, menantu dari
Pangeran Syarif Umar, tokoh orang Arab di Palembang), yang baru kembali dari Comment [DKM68]: Ini siapa? Tiba-tiba mun
silsilah seperti itu. Perlu keterangan yang relevan!
Semarang dan menyaksikan langsung peristiwa menyerahnya Gubernur Jenderal

Universitas Indonesia
80

Janssens dan pengiringnya di sana. Informasi itu diperolehnya langsung dari


Gubernur Jenderal Janssens. Dengan terjadinya perubahan tersebut, Sultan
Badaruddin II berusaha mewujudkan cita-citanya untuk melepaskan diri dari
belenggu bangsa asing. Keinginan sultan mendapat dukungan penuh dari
Pangeran Ratu dan Demang Usman (seorang Cina yang telah masuk Islam dan
besar pengaruhnya terhadap Sultan Badaruddin II). Langkah berikutnya yang
diambil sultan adalah mengumpulkan kerabat dan rakyat untuk mengusir para
penghuni loji Belanda di pinggir Sungai Aur (ANRI, Bundel Palembang No. 67;
Woelders, 1975: 6, 88; Baud, 1853; 28).
Dalam pemikiran Sultan Badaruddin II saat itu, bahwa dengan kekalahan
Belanda di Pulau Jawa, berarti pemerintahan Belanda di Palembang sudah
kehilangan kekuasaannya. Jika demikian, mereka tidak akan mendapat bantuan
dari Batavia apabila lojinya diduduki. Sultan juga memegang janji Raffles yang
disampaikan melalui surat-suratnya yang mendukung usaha Palembang untuk
bebas dari cengkeraman Belanda. Sudah lama sultan berada dalam tekanan
Raffles untuk bertindak tegas kepada Belanda dan kesempatan itu pun tiba.
Selanjutnya, sultan mengerahkan beberapa bangsawan61 pada 14 September 1811
(27 Sya‘ban), untuk menemui Residen Jacob Groenhof van Woortman. Tujuannya Comment [DKM69]: Tahun berapa??

untuk memberitahukan tentang penyerahan Batavia kepada Inggris dan meminta


mereka meninggalkan loji. Residen Belanda menolak permintaan tersebut dengan
alasan tidak ada instruksi dari Batavia. Residen dan staffnya tengah menunggu
kedatangan Inggris sebagai penguasa baru di Palembang. Untuk itu, mereka Comment [DKM70]: Untuk urusan apa?
Bukankan Belanda dan Inggris bermusuhan. Kena
meminta agar diberi waktu selama tiga hari. Atas permohonan tersebut, para apa mesti menunggu???

bangsawan mempersilahkan mereka memintanya langsung kepada Sultan.


Langkah yang diambil Residen adalah mengirim Hangabehi Reksosadono
(berdasarkan kesaksian Raden Muhamad, bahwa yang diutus residen pada waktu

61
Menurut kesaksian Louisa van de Wateringe Buys (istri Wakil Residen), yang
datang ke loji pada jam 7.00 adalah Raden Ngabehi Carik, Tumenggung Lanang, Raden
Muhamad. Sedangkan berasarkan kesaksian Najamuddin II, mereka adalah Pangeran
Citradireja, Pangeran Natawikrama, Pangeran Suradilaga, Pangeran Syarif Usman, Kyai
Mas Tumenggung Notonegoro dan Kyai Demang Usman. Willem van de Wateringe Buys
bersaksi bahwa yang datang ke loji pada jam 9.00 adalah Tumenggung Suronindito,
empat bangsawan rendahan, dan 160 orang bersenjata Mereka melucuti senjata para
prajurit jaga dan menduduki loji (Baud, 1853: 29-32).

Universitas Indonesia
81

itu sebanyak dua orang tanpa menyebutkan nama) untuk menemui Sultan
Badaruddin II. Sementara itu, para petinggi kerajaan juga mengirim utusan
menghadap sultan untuk memberitahukan maksud kedatangan utusan residen
tersebut. Permohonan itu disambut baik oleh sultan. Sultan segera mengutus dua
orang bangsawan untuk mengawal residen, asisten residen, komandan pasukan
dan sekretaris residen menghadap sultan. Dalam perjalanan menuju keraton,
Residen Jacob Groenhof van Woortman dan rombongan disambut oleh para para
bangsawan dan menanyakan maksud dari keinginan mereka menghadap Sultan62.
Residen menjelaskan bahwa mereka meminta disiapkan perahu yang akan
membawa mereka ke Batavia. Mendengar hal itu, para petinggi kerajaan itu
menawarkan dua perahu dan memaksa para penghuni loji menaikinya.
Selanjutnya semua penghuni loji diperintahkan untuk menaiki perahu pancalang
hingga sore hari63, kecuali perempuan.64 Malam harinya mereka dibawa ke muara
Sunsang dan dibunuh (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 62.2; No. 5.1;
ANKL, House of Lord, vol.109, 1819; Woelders, 1975: 6, 88).
Kejadian itu begitu cepat berlangsung, sehingga tidak ada kesempatan para
penghuni loji mempersiapkan diri. Keinginan residen dan para pengawalnya untuk
menemui sultan gagal, padahal sultan telah mengirimkan kurir untuk menjemput
mereka. Tampaknya pada saat itu sultan hanya mengikuti keinginan para
bangsawan untuk membawa mereka secepatnya keluar dari ibu kota Palembang.
Sultan sendiri melihatnya sebagai saat yang tepat untuk mengenyahkan Belanda

62
Versi lain dapat dilihat dari laporan Gillespie kepada Raffles, disebutkan bahwa Sultan
mengirim pesan melalui Pangeran Ratu kepada residen, komandan dan para perwira garnizun agar
mereka menghadapnya. Dengan alasan menyampaikan pesan inilah Pangeran Ratu bersama
sejumlah besar pasukan memasuki loji, mereka terlebih dahulu meredam semua meriam yang
terdapat di loji itu. Selanjutnya, mereka dibawa para penghuni loji ke Sunsang untuk dibunuh
(Java Gouvernement Gazette, 18 Juni 1812 No.16).
63
Berdasarkan laporan Komandan Malaka kepada Lord Minto, diketahui bahwa para
penghuni loji ditempatkan di atas perahu selama dua hari, sedangkan, kesaksian Loisa van de
Watering Buys dalam Baud (1853:36) menyebutkan bahwa para penghuni loji berada di atas
perahu selama tiga hari.
64
Kesaksian Louisa van de Wateringe Buys dalam lampiran 8 menyebutkan
bahwa perempuan-perempuan yang berhasil meloloskan diri ke kampung Cina dan
rumah orang Arab adalah istri juru tulis Folkers, istri Kopral Reinwits dan istri
Katsenbeitzer. Dari sana mereka dibawa Pangeran Wiradinata menuju Pulau Seribu,
Padang Rura dan Pancalang Lampon. Di sana mereka dibawa ke tempat lain yang tidak
disebutkan namanya dalam pengawasan petugas secara bergantian (Baud, 1853: 36-37).

Universitas Indonesia
82

dari bumi Palembang. Terlalu lama keinginan untuk mengusir mereka, apalagi
sultan selama sekitar Sembilan bulan dalam tekanan Raffles untuk mengusir
Belanda. Comment [DKM71]: Bukankah pada paragraf
sebelumnya mereka sudah dibunuh???
Dari Java Gouvernement Gazette, 18 Juni 1812 No.16 diperoleh data
bahwa terdapat seorang perempuan Eropa yang diikutsertakan dalam salah satu
perahu, ia dibunuh dan dibuang ke sungai bersama korban-korban lainnya. Dari
sumber Thorn (2004: 145; 1816:147) diketahui bahwa ada seorang perempuan
bersama bayinya mengikuti suaminya naik ke atas geladak kapal. Baud (1853:36)
mendukung pendapat di atas dengan mengatakan bahwa perempuan itu adalah
istri Sersan Scheffer. Dari sumber-sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa
terdapat korban perempuan dalam peristiwa pembunuhan di Sunsang. Comment [DKM72]: Apa relevansinya???

Dalam peristiwa itu disebutkan bahwa sebanyak 110 orang diperintahkan


keluar loji dengan alasan akan dibawa ke Jawa. Di muara Sunsang mereka
diserang dan dibunuh, dan yang selamat hanyalah Willem van de Wateringbuis65.
Para bangsawan yang melakukan eksekusi adalah Pangeran Wirakusuma,
Pangeran Wiradiwangsa, Wirasentika, Tumenggung Kertonegoro, Demang
Usman, Tumenggung Suroyudo, Ngabehi Wiroyudo, Ngabehi Kepinding,
Ngabehi Kreto dan Ngabehi Jalil (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 62.2; No.
5.1; Baud, 1853: 39).
Sebelum peristiwa 14 September 1811, Willem van de Weteringuis
(Willem van de Wateringe Buys)66 telah memperingatkan residen Palembang agar
waspada. Kondisi tenang pada waktu itu tidak akan berlangsung lama karena
masyarakat Palembang tidak suka kepada Belanda. Akan tetapi, karena hubungan
65
Selain Willem van de Wateringe Buys, terdapat Antonius dan ibunya (orang
pribumi) yang selamat. Selama Sembilan bulan mereka bersembunyi di hutan dan atas
usaha ibu Antonius mereka berhasil menemui pasukan Inggris yang tiba di Palembang
pada April 1812 (Baud, 1853: 33,35).
66
Sumber arsip ( ANRI, Bundel Palembang No.67) menyebutkan bahwa Willem
van de Weteringuis adalah seorang bujangan. Posisinya pada waktu itu sebagai juru tulis
di loji Belanda. Hubungannya dengan penduduk asli Palembang terdapat dua pendapat
yaitu, menurut Waey (1875: 100), istrinya orang Palembang asli, sedangkan menurut
Woelders (1975:6), ibunya orang Palembang asli. Pendapat ini sama dengan Kemp
(1900:371), bahwa ibunya pribumi, itulah sebabnya wajahnya hitam dan dengan
memakai busana pribumi berhasil menyelamatkan diri. Pada saat tertangkap, ia
menyatakan akan memeluk agama Islam dan ia mengajar di salah satu dusun, sampai
akhirnya berhasil diselamatkan oleh Gillespie.

Universitas Indonesia
83

baik Residen Jacob Groenhof van Woortman dengan Perdana Menteri (Pangeran
Adipati), peringatan itu ditepisnya. Willem van de Weteringe Buys juga
mengetahui akan ada penyerangan terhadap loji, dan ia berhasil meloloskan diri
ke pedalaman. Selain Willem van de Weteringuis terdapat beberapa perempuan
yang berhasil meloloskan diri, termasuk Louise (istri dari wakil residen
Haarvlegter) (Waey, 1875: 100-101; Woelders, 1975: 6). Menurut Wurtzburg
(1949: 44), yang selamat hanya Willem van de Weteringuis dan Louise. Jadi, dari
sumber-sumber di atas dapat disimpulkan bahwa hanya satu orang laki-laki dan
beberapa perempuan yang berhasil meloloskan diri.
Dari berbagai sumber diketahui sebanyak 24 orang Eropa, 63 orang
pribumi penghuni loji yang dibunuh di muara Sunsang. Orang-orang Eropa
dibunuh di atas perahu, sedangkan, orang-orang Jawa dibunuh dengan cara perahu
mereka dilobangi dasarnya dan dihanyutkan. Berdasarkan sumber arsip (ANRI,
Bundel Palembang No. 67) disebutkan bahwa loji Belanda dihuni oleh 110 orang,
sedangkan yang terbunuh 87 orang. Berarti sebanyak 27 orang yang berhasil
meloloskan diri. Menurut sumber-sumber yang dapat dilacak, disebutkan bahwa Comment [DKM73]: Maksudnya apa???

hanya beberapa perempuan dan seorang laki-laki yang lolos (jumlah yang tidak
mewakili untuk 27 orang yang lolos). Langkah selanjutnya yang diambil pihak
Sultan pada 17 September 1811 (16 September 1811 menurut kesaksian Raden
Muhamad dan Said Abubakar bin Husein Roem) adalah membongkar loji dan
meratakannya dengan tanah, serta menanaminya dengan tumbuh-tumbuhan
seolah-olah kondisi tersebut sudah lama terjadi (Baud, 1853: 14; Kielsra, 1892:
81; Kaiser, 1857: 86; Woelders, 1975: 6; Wurtzburg, 1949: 44). Comment [DKM74]: Dari sini mundur sampa
red mark sebelumnya, tidak ada relevansinya deng
Tindakan kejam oleh para bangsawan, kemungkinan disebabkan adanya disertasi. Ada kesan hanya mau memanjang-
manjangkan halaman di bab II.
kesempatan untuk melenyapkan orang-orang Belanda yang terlalu lama bercokol
di Palembang. Faktor lain adalah adanya dukungan yang besar dari Raffles,
melalui agen-agennya (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; Bataviaasch Courant,
Sabtu, 4 Agustus 1821). Hasil penelitian Kolonel Gillespie yang dilaporkan oleh
Lady Raffles (1835: 173), menyebutkan bahwa Pangeran Ratu berperan besar
dalam aksi pembantaian tersebut. Hal senada dikemukakan oleh Baud (1853: 18),
yang menyatakan bahwa pembunuhan itu terjadi karena kebencian Pangeran Ratu

Universitas Indonesia
84

terhadap orang-orang Belanda, tetapi tidak ada saksi-saksi yang membenarkan hal
tersebut.
Sejarah Palembang mencatat bahwa para elite Palembang telah mengambil
keputusan membunuh para penghuni loji dan menghancurkan bangunannya,
seolah-olah di lokasi tersebut tidak pernah ada bangunan sebelumnya. Semua itu
dilakukan untuk mengelabuhi pihak Inggris, apabila mempertanyakan keberadaan
Belanda di Palembang. Dari apa yang dilakukan, tampak bahwa semua dilakukan
demi menutupi peristiwa tersebut dari Inggris. Hal ini karena peran Raffles yang
berusaha dengan berbagai cara agar sultan mengusir Belanda dari Palembang.
Setelah berhasil mengusir Belanda dan sadar akan adanya ancaman dari
Inggris, langkah yang diambil oleh Sultan Badaruddin II adalah mempersiapkan
diri dengan cara memperbaiki dan membangun benteng-benteng pertahanan di
titik-titik strategis di Sungai Musi. Benteng-benteng itu terdapat di Sunsang,
Muntok, Pulau Anyar, Palembang Lamo, Batu Ampar, dan Gunung Meru. Kubu-
kubu pertahanan itu dipersenjatai meriam dan penjagaannya diserahkan kepada
para pangeran, menteri, depati, hulubalang, penggawa, dan rakyat. Palembang
juga menyiapkan meriam-meriam, perahu-perahu bersenjata dan rakit-rakit yang
mudah terbakar. Keraton sebagai pusat pemerintahan dipertahankan dengan
menempatkan sebanyak 242 meriam (Woelders, 1975: 7, 86-91). Comment [DKM75]: Kalimatnya lucu!

Awal Nopember 1811 Raffles mengirim komisi ke Palembang


berdasarkan Surat Perintah No. 1, 3 Nopember 1811. Komisi itu dipimpin oleh
Kapten Richard Phillips dengan anggota Alexander Hare dan Willem
Wardenaar67. Mereka bergerak meninggalkan Batavia pada 6 Nopember 1811,
memasuki muara Sungai Musi pada 14 Nopember 1811. Sebelumnya mereka
singgah di Muntok. Di Muntok komisi yang dikirim oleh Raffles menerima dua Comment [DKM76]: Di sini berarti di atas
kapal??
Comment [DKM77]: Mereka itu siapa???
67
Willem Wardenaar adalah orang Belanda, anggota Dewan Agung Batavia
yang dimanfaatkan oleh Raffles untuk mempermudah pelaksanaan penerimaan berkas-
berkas loji dari Residen Jacob Groenhof van Woortman kepada pihak Inggris. Kehadiran
Wadenaar di Palembang dipertanyakan oleh Tumenggung. Ia menolak kehadiran orang
Belanda dalam komisi yang dikirimkan oleh Raffles. Pada saat utusan Raffles tiba di ibu
kota Palembang, Tumenggung keberatan Wardenaar ikut naik ke darat. Menurut
Tumenggung, Wardenaar tidak berhak sebagai wakil Inggris. Akan tetapi keberatan
tersebut ditolak oleh Phillips dengan menegaskan bahwa kehadiran Wardenaar penting
dalam pertemuan-pertemuan, dan Wardenaar adalah utusan resmi pemerintah Inggris
(ANKL, House of Lord, vol. 109, 1835).

Universitas Indonesia
85

surat yang ditujukan kepada Raffles dari agen-agennya (Raden Muhamad dan
Said Abubakar). Keduanya menyatakan bahwa Belanda telah meninggalkan
Palembang sebelum Batavia jatuh ke tangan Inggris dan loji telah diratakan
dengan tanah68.
Ketika mereka memasuki muara Sungai Musi, kehadiran mereka sempat
ditolak oleh wakil sultan yang menyambut mereka. Setelah dijelaskan maksud
kedatangan mereka untuk menyerahkan surat Raffles kepada Sultan, mereka
diperkenankan mengirimkan kurir ke keraton. Selama dalam pelayaran menelusuri
Sungai Musi menuju ibu kota, mereka menemukan banyak orang yang sedang
membangun kubu pertahanan. Pada hari keempat, masih dalam pelayaran (hari ke
empat), mereka disambut tiga orang utusan Sultan dan pengawal mereka dengan Comment [DKM78]: Ini dimasukkan dalam
kalimat!
membawa hadiah berupa makanan, buah-buahan dan sayuran serta menyampaikan
salam dari Sultan Badaruddin II. Ketiganya adalah Tumenggung, Ronggo dan
Demang. Ketiganya menanyakan maksud kedatangan mereka, yang dijawab
bahwa tujuan mereka adalah untuk mengambil alih loji Belanda sesuai kapitulasi
Gubernur Jenderal Janssens dan membujuk Sultan Badaruddn II mengubah
kontrak. Pada kesempatan itu komisi menyerahkan surat dan hadiah dari Raffles
sebagai lambang persahabatan. Raffles juga menawarkan bantuan kepada Sultan
untuk melumpuhkan para perompak dan melawan musuh-musuh Palembang.
Kepada Sultan Badaruddin II mereka juga menyampaikan tentang perubahan
pemerintahan dari Belanda kepada Inggris, dan menuntut semua dokumen kontrak
untuk diserahkan kepada pejabat residen yang baru yaitu Letnan Thomas C.

68
Dalam laporan Raffles kepada Gubernur Jenderal Lord Minto dinyatakan bahwa
Pangeran Ratu mengatasnamakan Sultan Badaruddin II, yang pada 22 atau 23 September 1811
memaksa Raden Muhamad dan Said Abubakar yang berada di Palembang saat peristiwa
pendudukan loji Belanda, untuk membuat dan menandatangani laporan palsu di atas sumpah
tentang para penghuni loji Belanda yang telah meninggalkan Palembang sebelum Inggris
menduduki Jawa. Apabila mereka melanggar janji, maka mereka akan dibunuh, begitu pula
seluruh keluarga mereka yang ada di Palembang. Setelah itu, mereka diperkenankan tinggal di
Sunsang. Setelah tiga hari di sana, mereka didatangi oleh utusan Sultan (Kyai Mas Hahil dan
Ngabehi Jilal) untuk membawa mereka kembali ke Palembang, namun mereka menolak. Akhirnya
mereka memutuskan untuk berlayar menuju Malaka guna menghindari ancaman Sultan. Di
Malaka mereka membuat kesaksian di depan anggota Pengadilan Tinggi Malaka di bawah
pimpinan Mayor Farquhar. Kesaksian mereka ditandatangani oleh J.H. Stocken, A. Koeck dan C.
Walbechim (anggota Pengadilan Tinggi). Diterjemahkan oleh van Beuchem (Java Gouvernement
Gazette, 2 Mei 1812 No.10; Baud, 1853: 14, 30; Thorn, 2004: 147).

Universitas Indonesia
86

Jackson (ANKL, House of Lord, vol. 109, 1819; Java Gouvernement Gazette, 2
Mei 1812 No.10; Woelders, 1975, 7; Lady Raffles, 1835: 156;).
Di balik dari semua alasan yang telah dikemukakan, intinya adalah
―menempatkan Pulau Bangka di bawah kekuasaan Inggris secara permanen.‖
Dengan menguasai Bangka-Belitung yang kaya timah dan pangkalan-
pangkalannya, berarti Inggris akan mendapat keuntungan besar. Di samping itu,
Inggris juga akan mengamankan perairan Bangka-Palembang yang selama ini
rawan perompakan. Keamanan perairan itu mutlak dipertahankan demi lancarnya
perdagangan dan perairan (ANKL, House of Lord, vol. 109, 1819). Comment [DKM79]: Tidk logis!

Setibanya di kota Palembang, mereka ditemui oleh Tumenggung (pejabat


pemerintah yang bertanggungjawab dalam masalah tersebut). Pada kesempatan itu
Tumenggung menjelaskan proses pengusiran orang-orang Belanda yang ada di
Palembang pada 14 September 1811. Tumenggung juga menyatakan bahwa
Sultan telah melaksanakan kesepakatannya dengan Raffles, yaitu mengusir
orang-orang Belanda sebelum Inggris menduduki Pulau Jawa (18 September
1811). Dengan demikian, sejak saat itu Kesultanan Palembang bebas, lepas dari
ikatan Belanda. Sebagai kerajaan yang merdeka, pihak Palembang menyatakan Comment [DKM80]: Apakah sudah tepat dise
negara??
sepakat hanya akan mengirimkan timah ke Malaka dan Penang sebagai wujud
persahabatan dengan Inggris (ANKL, House of Lord, vol. 19, 1835; Bastin, 1854:
67; Lady Raffles, 1835: 156-157).
Komisi bertemu dengan Sultan Badaruddin II pada 23 Nopember 1811.
Pada kesempatan itu kembali mereka mengemukakan tentang misinya untuk
mengambilalih loji Belanda sebagai konsekuensi berakhirnya kekuasaan Belanda
di Hindia Timur. Mereka juga menawarkan perubahan kontrak, dengan
menawarkan harga timah 12 dollar Spanyol per pikul, dari harga sebelumnya
senilai 10 dollar Spanyol per pikul. Apabila Sultan Badaruddin II menolak usulan
pertama, hendaknya Sultan Badaruddin II menyerahkan pengelolaan tambang
timah Bangka kepada mereka dengan ganti rugi sebesar 20 ribu dollar Spanyol
tiap tahunnya. Menghadapi kondisi tersebut, sultan bertahan dengan pendapat
bahwa kini negerinya telah bebas dan merdeka. Ia telah mengusir Belanda sesuai
permintaan Raffles. Sultan juga mengemukakan mengapa ia tidak melaporkan
perihal telah diusirnya orang-orang Belanda, karena Raffles tidak menuntut hal

Universitas Indonesia
87

tersebut. Di samping itu, Sultan Badaruddin II tidak yakin Inggris akan berhasil
menaklukkan Pulau Jawa. Jadi jelaslah bahwa Sultan Palembang menolak untuk Comment [DKM81]: Jangan menggunakan ka
kesimpulan di sini!!!!
berunding dengan komisi yang dikirimkan oleh Raffles dan mempertahankan
kebebasannya. Bagi Sultan Badaruddin II, mengusir orang-orang Belanda bukan
bertujuan untuk menjadikan Inggris sebagai penggantinya. Sultan juga melarang
mereka berhubungan dengan penduduk dan mengusir mereka dari Palembang.
Karena merasa terancam, ketiga orang anggota komisi Inggris itu secepatnya
meninggalkan Palembang dan kembali ke Batavia (ANRI, Bundel Palembang No.
67; ANKL, House of Lord, 109: 1819; Java Gouvernement Gazette, 2 Mei 1812
No.10; 30 Mei 1812;, vol. 109, 1835; Lady Raffles, 1835:158; Bastin, 1954: 67-
68; Kaiser, 1857: 92; Woelders, 1975:7; Baud, 1853:15).
Ini menjadi awal konflik Palembang dengan Inggris, Sultan Badaruddin II
bertahan dengan keputusannya bahwa Kesultanan Palembang adalah kerajaan
yang bebas menolak intervensi dari mana pun. Hal itu ditopang pula pada
keyakinan bahwa Raffles sebagai penguasa Inggris pada saat itu akan menepati
janjinya untuk membebaskan Palembang dari segala ketentuan kontrak dengan
Belanda. Dengan demikian, Sultan sudah menakar kemampuan kerajaan untuk
menanggung berbagai resiko akibat menolak utusan Inggris dari Batavia, terbukti
dari berbagai persiapan yang dilakukan sebelum kedatangan utusan Inggris.
Setibanya komisi di Batavia pada 13 Desember 1811, mereka menjumpai
beberapa orang Arab utusan Pangeran Adipati untuk menemui para pejabat
Inggris di sana. Dari penjelasan mereka dapat diketahui langkah yang ditempuh
oleh oleh penguasa Palembang untuk ―mengakhiri‖ keberadaan orang-orang
Belanda di sana69. Versi lain menyebutkan bahwa rahasia itu terbongkar pada 12
Desember 1811 dengan adanya laporan dari Raden Muhamad dan Said Abubakar
dari Malaka. Dalam laporannya, agen-agen Raffles itu menyatakan bahwa mereka
tengah berada di Palembang pada saat peristiwa pendudukan loji Belanda (Stapel,
1940: 96; Lady Raffles, 1835: 157).

69
Berdasarkan salinan surat dari komandan Malaka kepada Gubernur Jenderal Lord
Minto di India tanggal 11 Desember 1811, diketahui bahwa informasi pertama tentang peristiwa
pembunuhan di Palembang diterima beberapa hari sebelum salinan surat itu dibuat, pengakuan itu
diterima dari Raden Muhamad. Selanjutnya, pada 12 Desember 1811 Raden Muhammad dan Said
Abubakar membuat pengakuan tentang masalah tersebut di depan Komite Pengadilan (ANKL,
House of Lord, vol. 109, th. 1819).

Universitas Indonesia
88

Dari sumber-sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa, pemerintah


Inggris di Batavia sudah mengetahui tentang pembantaian orang-orang Belanda
sebelum komisi Raffles tiba di sana. Walaupun tidak diketahui kapan persisnya
utusan Pangeran Adipati tiba di Batavia, namun, keberadaan utusannya telah ada
di sana sebelum kedatangan komisi yang dikirim Raffles. Penjelasan utusan
Pangeran Adipati dan surat dari agen-agen Raffles sudah cukup memberikan
informasi tentang peristiwa yang terjadi di Palembang. Kehadiran utusan
Pangeran Adipati menunjukkan bahwa pangeran itu terlibat dalam kemelut yang
baru saja dimulai. Suatu bentuk konspirasi diduga muncul yang berakibat panjang
terhadap hubungan kedua bersaudara dan antara Kesultanan Palembang dan
Inggris.

Tanpa mengetahui apa yang terjadi, Sultan Badaruddin II mengirim


70
utusan ke Batavia. Utusan itu dipimpin Tumenggung Lanang (Towagong
71
Louong) . Mereka tiba di sana pada Januari 1812. Dalam suratnya, Sultan Comment [DKM82]: Ini di catatan kaki saja!

Badaruddin II menyambut baik tawaran kerjasama dari Raffles melalui utusannya


ke Palembang. Sultan juga menjelaskan tentang peristiwa pengusiran terhadap
orang-orang Belanda yang terjadi sebelum ekspedisi penaklukan Jawa. Jadi,
sultan kembali menegaskan tentang status Palembang yang telah mengusir
Belanda sebelum Inggris menduduki Jawa. Hal itu untuk menekankan pada janji
Raffles yang akan membebaskan Palembang apabila berhasil mengenyahkan
Belanda sebelum Jawa diduduki Inggris. Saat itu terjadi upaya sultan untuk
meyakinkan Raffles tentang posisi Kesultanan Palembang. Sementara itu, selagi
utusan Palembang masih di Batavia, Raden Muhamad dan Said Abubakar tiba di
Batavia pada 5 Januari 1812. Di depan utusan Palembang mereka
mengungkapkan semua peristiwa yang terjadi, menyangkut loji dan para

70
Menurut Woelders (1975: 89), yang diutus sultan adalah Tumenggung
Suranandita dan Tumenggung Suradiraja. Pendapat ini agak mirip dengan sumber dari
Bastin (1954: 69) yang menyatakan bahwa yang diutus sultan terdiri dari Tumenggung
Suranandita, Demang Suara Derpa dan Derya Nata. Dari berbagai sumber itu, dapat
dipastikan bahwa jabatan tertinggi yang diutus ke Batavia adalah tumenggung.
71
Tumenggung Lanang adalah penasehat sultan dengan jabatan sebagai
penghulu. Menurut Gillespie, Tumenggung Lanang adalah salah seorang yang berperan
dalam penghancuran loji Belanda (Java Gouvernement Gazette, 18 Juni 1812 No.16).

Universitas Indonesia
89

penghuninya yang telah dibunuh. Keterangan kedua agen Raffles tersebut


memperjelas isi laporan mereka sebelumnya, Perbedaan versi cerita seputar
pendudukan loji Belanda dan penolakan Sultan Badaruddin II terhadap beberapa
opsi yang ditawarkan oleh Raffles, membuatnya memutuskan untuk menghukum
Palembang. Menurut Raffles, penolakan Sultan Badaruddin II terhadap komisi
yang dikirimkannya adalah suatu penghinaan. Pernyataan itu disampaikan Raffles
dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Lord Minto pada 7 Maret 1812 (Java
Gouvernement Gazette, 30 Mei 1812; Lady Raffles, 1835: 157).
Penolakan Sultan Palembang dan berita tentang pendudukan loji Belanda
mendorong Raffles melakukan ekspedisi untuk mencapai ambisinya. Dalih yang
digunakan oleh Raffles adalah menerapkan ―pengadilan moral‖ terhadap
Palembang. Sesungguhnya, Raffles tidak menganggap pembunuhan pada
September 1811 sebagai suatu tindak pidana karena yang menjadi korban adalah
orang-orang Belanda dan pribumi. Motivasi sesungguhnya dari ekspedisi tersebut
adalah mendapatkan Pulau Bangka-Belitung yang kaya timah dan lada. Dalam
pengakuannya kepada Lord Minto (7 Maret 1812), Raffles menyatakan bahwa
dirinya berani mengambil resiko dengan tanpa meminta persetujuan terlebih
dahulu kepada Lord Minto karena yakin tindakannya akan direstui, mengingat
keuntungan yang akan diperoleh dari Pulau Bangka-Belitung. (ANRI, Bundel Comment [DKM83]: Edit kalimat ini!

Palembang No. 5.1; Baud, 1853: 17; Lady Raffles, 1835,158-159).

2.3.4 Keterlibatan Raffles dalam Pendudukan Loji Belanda

Baik secara langsung atau tidak langsung Raffles terlibat dalam peristiwa yang
memakan korban 87 jiwa, yang terdiri dari orang-orang Belanda maupun pribumi
(beberapa sumber menyebutkan 63 orang Jawa tetapi sumber lain menuliskan
kata-kata pribumi). Berdasarkan surat-surat Raffles kepada sultan yang ditemukan
oleh Baud, surat-surat itu dikirimkan oleh Sultan Badaruddin II kepada bekas
sahabatnya di Batavia. Selanjutnya, surat-surat itu diserahkan kepada Komisaris
Jenderal, sedangkan tembusannya disimpan. Tembusan ini diteliti oleh Baud72 dan

72
J.C. Baud adalah sekretaris pemerintah Hindia Belanda (1818). Ia lahir tahun
1789, dididik di Inggris, selanjutnya masuk Angkatan Laut (AL) dan bersama-sama

Universitas Indonesia
90

beberapa dokumen penting lainnya. Baud (1853: 8,15-17) menyimpulkan bahwa


Raffles adalah orang yang harus bertanggung jawab atas pengusiran dan
pembantaian terhadap para penghuni loji Belanda. Berkaitan dengan hal itu,
Bastin (1954: 65) berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh Sultan Badaruddin
II sesuai dengan tuntutan Raffles dan terjadi empat hari sebelum Kapitulasi
Tuntang. Sebaliknya, Wurtzburg (1949: 38, 50-51) menolak kedua pendapat
sebelumnya. Menurutnya, Raffles tidak bisa dikatakan bersalah secara moral
dalam pembantaian tersebut (pendapatnya itu mendapat dukungan dari Veth).
Lebih lanjut, Wurtzburg menuding Baud dengan menyatakan bahwa berbagai
tuduhan Baud dikarenakan perasaan bencinya kepada Raffles, sehingga, setiap
bukti yang terdapat dalam surat-surat Raffles diinterpretasikan negatif oleh Baud.
Hal itu bisa terjadi, mungkin karena adanya masalah pribadi antara Baud dan
Raffles.
Dalam surat-suratnya kata-kata yang digunakan oleh Raffles tidak jelas.
Akibatnya, membingungkan pembacanya. Khususnya kalimat yang mengandung
dorongan kepada Sultan Badaruddin II, tentang apa yang seharusnya
dilakukannya terhadap orang-orang Belanda. Menurut penelitian Bastin (1954:
65), ternyata surat-surat Raffles berbeda maknanya antara bahasa aslinya (Inggris)
dan versi Melayunya. Kalau sebelumnya dalam Bahasa Inggris bermakna halus,
berubah menjadi kasar dalam versi Melayu. Contohnya apa yang digunakan oleh
Baud sebagai dasar menetapkan Raffles sebagai orang yang bertanggungjawab
atas pembantaian orang-orang Belanda. Berdasarkan kalimat (versi Melayu)
―misti sobat beta buang, abiskan sekali kali, segala orang Olanda‖ (ook moet mijn
vriend (de Sultan) alle hollanders geheel en al uitwerpen, en maken dat zij er niet
meer zijn). Intinya ―buang dan hancurkan‖. Menurut W. Ph. Coolhaas dan C. Comment [DKM84]: Tidak cocok artinya!!!

Hooykas, makna kalimat tersebut adalah ―akhiri semuanya, jangan ada yang
tersisa‖. Sedangkan Richard Winstedt memaknainya dengan ―sultan harus
mengusir semua orang Belanda dan Residen untuk menyelesaikan pekerjaannya‖.
Menurut Bastin dalam versi Bahasa Inggrisnya, maknanya adalah ―saya akan Comment [DKM85]: Cantumkan bahasa
Inggrisnya agar seimbang!!!
mengusulkan kepada paduka untuk mengusir mereka (orang-orang Belanda) dari

dengan Janssens tiba di Batavia pada 1810. Setelah Pulau Jawa jatuh ke tangan Inggris,
Baud menjadi asisten sekretaris. Puncak karirnya adalah sebagai Gubernur Jenderal
(1833-1836) (Wurtzburg, 1949:38).

Universitas Indonesia
91

negeri anda sekaligus.‖ Kalimat tersebut setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa


Melayu oleh juru tulis Raffles pada waktu itu menjadi ―karena itu saya
mengusulkan agar anda memukul mereka secara telak‖ (pukul buang sekali-kali).
A.A. Cense, berpendapat bahwa makna kalimat tersebut adalah ―sultan harus
mengusir orang-orang Belanda keluar dengan cara kekerasan‖ (pukul atau hantam
dan buang) (Kaiser, 1857: 87). Surat yang diterima oleh sultan adalah versi
Bahasa Melayu, yang bermakna ―usir Belanda dengan cara kekerasan.‖ Comment [DKM86]: Paragraf ini menjadi tida
jelas karena tidak disertakan bahasa Inggrisnya!!
Apabila dikaitkan dengan surat pertama Raffles tentang keberadaan
armada Belanda di muara sungai Musi, menurut Bastin (1854: 65) kata-kata
―pukul‖ dan ―buang‖ mungkin dimaksudkan untuk mengusir armada dan para
penghuni loji Belanda. Akan tetapi, kata-kata ―usir orang Belanda‖ sering pula Comment [DKM87]: Tidak mungkin mengusi
loji Belanda. Yang bisa diusir kapal atau orang,
disebutkan oleh Raffles dalam surat-suratnya yang lain (sampai surat yang kalau loji kan benda mati, jadi tidak bisa diusir!!

dikirimkan pada Maret 1811), ditambah pula, pengiriman senjata dan amunisi. Ini
berarti Raffles secara nyata terlibat dalam usaha Sultan Palembang mengusir
Belanda dari Palembang. Akan tetapi tentunya tidak dimaksudkan untuk
―membantai‖ para penghuni loji. Mereka seharusnya diperlakukan dengan baik
dan terhormat. Dari berbagai pendapat tersebut, tampak bahwa isi surat Raffles
yang disitir Bastin, W. Ph. Coolhaas-C.Hooykaas dan Richard Winstedt,
menggunakan kata ―usir semua orang Belanda‖, sedangkan, Baud dan Cense
menggunakan ―usir/buang dengan kekerasan.‖ Walaupun demikian, semuanya
sepakat bahwa kedudukan Belanda di Palembang ―harus diakhiri‖. (Baud, 1853:
8,15-17; Bastin, 1954: 65; Kaiser, 1857: 87).
Setelah mengetahui kejatuhan Batavia, Sultan Badaruddin II melakukan
tindakan mengusir orang Belanda sesuai permintaan Raffles dalam berbagai
suratnya, tambahan pula, dengan adanya pengiriman senapan dan amunisi yang Comment [DKM88]: Selesaikan kalimat ini!!!

dapat ditafsirkan sebagai bantuan langsung yang dikirimkan Raffles agar Sulan
Badaruddin II mengusir Belanda dari Palembang. Raffles juga menjanjikan akan
mengakui Sultan Palembang sebagai penguasa merdeka, apabila berhasil
mengusir Belanda sebelum Pulau Jawa jatuh (secara de jure jatuh pada tangal 18
September 1811 dengan ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang). Oleh sebab itu,
Sultan menolak keinginan komisi yang dikirim oleh Raffles (Phillip, Wardenaar
dan Hare) untuk menggantikan posisi Belanda di Palembang. Raffles juga tidak

Universitas Indonesia
92

menuntut agar sultan melaporkan atas apa yang dilakukannya terhadap loji
Belanda.
Perdebatan tentang terlibat tidaknya Raffles dalam pembunuhan penghuni
loji, membawa Kaiser (1857: 87-79) menuliskan pendapatnya, bahwa kata-kata
Raffles sangat luas pengertiannya, sehingga menimbulkan berbagai interpretasi,
Oleh sebab itu, wajar apabila Sultan Badaruddin menafsirkannya dengan boleh
melakukan apa saja, asal orang-orang Belanda berhasil dikeluarkan dari
Palembang berupa pengusiran, penagkapan atau bahkan pembunuhan. Sultan
Badaruddin II menerima dan memanfaatkan bujukan Raffles, terbukti dengan
terjadinya peristiwa pembunuhan itu. Sturler sependapat dengan Kaiser yang
mengatakan bahwa pembantaian itu merupakan bukti keberhasilan Raffles
membujuk sultan. Sultan menerima bujukan Raffles dan memanfaatkan
momentum yang ada secara tepat. Ternyata dengan cara ini Raffles yang cerdik
telah terjebak oleh Sultan yang lebih cerdik lagi. Maksudnya Sultan menafsirkan Comment [DKM89]: Tidak jelas maksud
Anda!!!
semua bantuan Raffles untuk mengusir Belanda dari Palembang dengan cara
apapun termasuk membunuh sebagian besar penghuni loji, yang mungkin tidak
seperti itu yang diharapkan oleh Raffles.
Dalam laporannya Gillespie menyampaikan bahwa Pangeran Ratu adalah
orang yang sangat kejam dan berperan besar dalam pembunuhan terhadap orang-
orang Belanda. Pendapat itu dibantah oleh Baud (1853: 19) dan Bastin (1854: 65).
Menurut keduanya, tudingan tersebut hanya merupakan konspirasi politik dari
musuh-musuh Pangeran Ratu. Walaupun nama Pangeran Ratu disebut-sebut
dalam berbagai laporan, tetapi perannya tidak penting. Dengan demikian, terlalu
berlebihan apabila menerima pendapat Gillespie yang tidak didukung oleh data
yang akurat.
Untuk menentukan besar kecilnya pengaruh Raffles dalam perkara tersebut
bukanlah perkara mudah, sebab tidak ada penjelasan lebih lanjut apa makna dari
kata-katanya dan maksud pengiriman senapan dan amunisi dari Raffles. Sebagai
wakil Lord Minto di bidang politik, Raffles wajib membangun persekongkolan Comment [DKM90]: Kena apa muncul kata ag
lagi???
dengan para penguasa pada waktu itu untuk melemahkan kedudukan Belanda,
sehingga semua kesalahan ditimpakan kepada pemerintah Inggris. Menurut
hukum Inggris penggunaan wakil-wakil dalam bidang politik dalam kondisi Comment [DKM91]: ????

Universitas Indonesia
93

seperti itu dibenarkan, namun, tetap diperlukan batas-batas yang jelas sehingga
tidak menimbulkan masalah (Kaiser, 1857: 88).
Dari uraian di atas, dalam menganalisis keterlibatan Raffles dalam
peristiwa 14 September 1811 seolah-seolah terdapat pendapat yang berbeda atau
bertolak belakang. Untuk itu perlu dilihat hubungan antara Sultan Badaruddin II
dan Raffles. Baik motif, langkah-langkah yang telah dilakukannya dalam
mempengaruhi Sultan sampai terjadinya ekspedisi (1812) menduduki Kesultanan
Palembang. Sejak awal hubungan kedua tokoh tersebut, terlihat usaha keras yang
dilakukan oleh Raffles untuk mempengaruhi Sultan melalui surat-surat dan
utusannya. Raffles mempengaruhi dengan janji-janjinya kepada sultan. Dalam Comment [DKM92]: ???

salah satu suratnya, Raffles berjanji akan memenuhi apapun yang diminta oleh
sultan apabila mengalami kesulitan dalam usaha mengusir Belanda. Raffles juga
memberikan penawaran lebih menguntungkan dalam perdagangan khususnya
timah, berjanji akan mengakui kemerdekaan Palembang apabila berhasil mengusir Comment [DKM93]: ????

Belanda sebelum Inggris menguasai Jawa dan mengirimkan senjata serta amunisi
ke Palembang. Raffles berani mengambil resiko dengan bertindak sendiri dalam
memutuskan menyerang dan menduduki Kesultanan Palembang. Berdasarkan
bukti-bukti tersebut, dapat disimpulkan bahwa Raffles telah melakukan segala
cara agar sultan memenuhi permintaannya untuk mengenyahkan Belanda dari
Palembang.
Meskipun Palembang merupakan kerajaan yang berdaulat, akan tetapi
kehadiran loji Belanda di daerah itu sejak abad XVII telah membuat para
penguasa Palembang tidak bebas bergerak dalam mengelola hasil buminya. Hal
itu disebabkan mereka terikat dengan berbagai kontrak yang mengikat dengan
Kompeni, dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Para raja dan sultan Comment [DKM94]: Kalimat ini tidak fokus!
Jadikan dua kalimat!
Palembang, dengan berbagai cara ―melanggar‖ ketentuan kontrak-kontrak
tersebut. Bukan rahasia lagi kalau dikatakan bahwa Sultan terlibat aktif dalam
berbagai penyelundupan komoditi perdagangan yang dihasilkan oleh Palembang,
khususnya yang menjadi primadona dalam perdagangan internasional yaitu timah
dan lada. Ancaman-ancaman Daendels juga ikut memicu ―buruknya‖ hubungan
Palembang dengan Belanda. Jadi jelas bahwa mustahil Raffles tidak mempunyai
andil besar dalam memicu didudukinya loji Belanda. Tanpa dorongan dan

Universitas Indonesia
94

tindakan nyata dari Raffles, tidak akan ada tindakan ―radikal‖ yang dilakukan oleh
para bangsawan atas perintah Sultan pada tragedi September 1811. Terbukti
Sultan selalu bersifat menunggu dan mengulur-ngulur waktu dan menolak
perjanjian yang disodorkan oleh Raden Muhamad (utusan Raffles). Hal itu Comment [DKM95]: Siapa lagi ini???

disebabkan ketidakyakinan sultan akan keberhasilan Inggris mengalahkan


Belanda yang sudah bercokol di Nusantara sejak awal abad XVII. Sultan juga
telah melakukan langkah-langkah persuasif dengan meminta pemerintah di
Batavia untuk menarik residen dan semua perangkatnya dari Palembang.
Sehubungan dengan peristiwa pembantaian penghuni loji, hal itu disebabkan
―kondisi‖ yang memaksa pada waktu itu. Dari berbagai sumber yang telah
diuraikan, terbukti pembunuhan dan pemusnahan loji Belanda adalah untuk
menghilangkan jejak (seolah-olah peristiwa itu telah lama terjadi). Dapat pula
diasumsikan adanya keinginan dari pihak Kesultanan Palembang untuk
melupakan dan ―menghapus semua ingatan akan keberadaan Belanda di
Palembang‖.

Universitas Indonesia
95

BAB 3
SUKSESI DI KESULTANAN PALEMBANG (1811-1816) Comment [DKM96]: Kapan?

Inggris merupakan aktor penting dalam berbagai konflik yang terjadi di


Kesultanan Palembang. Mulai dari pengiriman ekspedisi pada 1812, yang
menenpatkan Kesultanan Palembang di bawah pengaruh Inggris, khususnya Pulau
Bangka yang telah menjadi miliknya. Inggris juga menurunkan Sultan Badaruddin
II dan menggantikannya dengan Najamuddin II.
Perubahan itu membawa konsekuensi yang sangat besar bagi Kesultanan
Palembang yaitu permusuhan antara dua bersaudara (Badaruddin II dan
Najamuddin II) yang melibatkan pendukung masing-masing. Rakyat Palembang
terbelah dan saling bermusuhan. Kondisi itu diperparah dengan kebijakan Inggris
menaik dan menurunkan sultan Palembang antara Najamuddin II dan Badaruddin
II. Penguasa Palembang pada waktu itu tidak berdaya menghadapi berbagai
ketentuan Inggris atas wilayah mereka. Sementara itu, sesuai dengan tujuan utama
Inggris di Kesultanan Palembang, perhatian mereka lebih tertuju pada Pulau
Bangka yang kaya timah dan lada. Akibatnya, wilayah Palembang daratan kurang
mendapat perhatian. Fokus yang mereka berikan terhadap semua wilayah
Palembang adalah keamanan, sehingga pada masa pemerintahan Inggris di
Kesultanan Palembang kondisi keamanan lebih baik.
Setelah selama sekitar empat tahun, Inggris terpaksa keluar dari
Palembang, sebagai akibat dari Traktat London (1814). Berbagai cara mereka
tempuh untuk menolak isi kesepakatan tersebut, namun Inggris tetap harus tunduk

Universitas Indonesia
96

pada ketentuan tersebut. Akhirnya, pada Nopember 1816 Inggris melepaskan


Kesultanan Palembang kepada Belanda.

3.1 Ekspedisi Inggris (1812) dan Pemerintahan Sultan Badaruddin II di


Uluan

Pemerintah Inggris berketetapan hati untuk menghukum Sultan Badaruddin II atas


pembunuhan yang terjadi pada 14 September 1811, alasan yang digunakan untuk
―menghalalkan‖ tindakan tersebut, adalah karena penguasa Palembang
memerintahkan untuk menduduki loji Sungai Aur dan menghancurkannya setelah
Pulau Jawa dikuasai oleh pasukan Inggris73 (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1). Comment [DKM97]: Catatan kaki!

Menurut Raffles, loji Belanda pada waktu itu sudah berada di bawah
perlindungan pemerintah Inggris, berdasarkan pendudukan Inggris atas Batavia
(Agustus 1811). Sesungguhnya Raffles tidak terlalu mempermasalahkan hal
tersebut, seandainya Sultan Badaruddin II tidak menolak usul-usul Raffles yang
intinya bermaksud mengambil alih Pulau Bangka melalui komisi yang
dikirimkannya ke Palembang pada Nopember 1811. Bagi Raffles, penolakan
tersebut merupakan penghinaan terhadap martabat dan wibawa Inggris.
Sebagai penguasa tertinggi, Gubernur Jenderal Lord Minto merestui
ditegakkannya hak dan kekuasaan Inggris di Palembang. Sesungguhnya Lord
Minto tidak terlalu mempermasalahkan ―pembantaian‖ terhadap para penghuni
loji (isi surat Lord Minto kepada Raffles pada 15 Mei 1812). Lord Minto juga
belum menemukan bentuk hukuman yang paling tepat untuk Palembang. Untuk
itu, Lord Minto menyerahkan sepenuhnya kepada Raffles atas kebijakan yang
akan diambilnya. Atas dasar ini, Raffles memutuskan untuk mengirim ekspedisi
ke Palembang (Bastin, 1954: 72)
Menyadari bahaya akan datangnya serangan Inggris, Sultan Badaruddin II
mengumpulkan para mantri, bangsawan dan depati dari uluan untuk membahas
persiapan menghadapi serangan Inggris. Semuanya dilibatkan untuk menyiapkan

73
Klaim Inggris ini mendapat banyak bantahan, karena kapitulasi Janssens
terjadi empat hari (18 September 1811) setelah peristiwa pendudukan loji. Dengan
tegas Baud dalam Kaiser (1857:93) menyatakan bahwa “anakronisme beberapa hari
diperlukan untuk membenarkan tindakan itu”.

Universitas Indonesia
97

armada berupa kapal, perahu-perahu bersenjata, juga meriam-meriam yang dapat


dipindahkan, rakit-rakit yang mudah dibakar, dan persenjataan, serta keraton
dipersenjatai sebanyak 242 meriam. Di samping itu, Sultan juga memerintahkan
untuk memperbaiki dan membangun benteng-benteng pertahanan seperti benteng
di Muntok, Sunsang, dan lokasi-lokasi strategis (pulau-pulau) di sepanjang Sungai
Musi sampai ibu kota Palembang. Para bangsawan dan penduduk iliran-uluan
diperintahkan untuk mempersenjatai diri masing-masing guna menghadapi
berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Di antara benteng-benteng tersebut,
benteng terpenting adalah yang terdapat di Borang74 (sebelah hilir Pulau
Kembara). Benteng Borang dikendalikan oleh saudara-saudara Sultan (Pangeran
Adipati, Pangeran Arya Kesuma dan Pangeran Surya Kesuma) secara langsung.
Dengan penempatan orang-orang terdekatnya, Sultan Badaruddin II berharap
benteng Borang dapat membendung serangan pasukan Inggris (Woelders, 1975:
7, 90-91; The Asiatic Journal, 1820: 548).
Pada 19 Maret 1812, Raffles mengeluarkan instruksi75 kepada Kolonel
Gillespie yang memimpin ekspedisi, dinyatakan bahwa jika peristiwa
pembunuhan terhadap penghuni loji Belanda tidak diberi sanksi, martabat Inggris
akan jatuh di mata Belanda dan raja-raja di Hindia Timur. Semua itu akan menjadi Comment [DKM98]: Mengapa begitu??

preseden buruk bagi raja-raja lainnya di kawasan itu. Oleh karena itu, ekspedisi
terhadap Palembang menjadi penting yang akan mengakibatkan penguasaan atas
Bangka sebagai penghasil timah dan lada akan terwujud. Dalam instruksi ini Comment [DKM99]: Kalimat ini harap ditata
kembali
terdapat pula lampiran No.4, yang berisi tentang perlunya disampaikan kepada
penduduk Palembang bahwa ekspedisi Inggris bertujuan untuk memberikan
perlindungan, meningkatkan kesejahteraan, dan membebaskan mereka dari
kesewenang-wenangan Sultan Badaruddin II. Ditegaskan pula bahwa tindakan
Inggris semata-mata untuk menghukum Sultan Palembang yang telah membunuh
para penghuni loji dan menghancurkan bangunan-bangunannya. (ANRI, Bundel

74
Benteng Borang sengaja dijadikan benteng terpenting karena berada pada
posisi yang strategis dan lokasinya jauh dari keraton, tetapi telah melewati Sunsang yang
merupakan pintu masuk Sungai Musi. Maksudnya, Borang adalah pertahanan terkuat
setelah musuh berhasil meruntuhkan pertahanan Sunsang.
75
Instruksi No. 3 dan lampirannya dibuat di Dewan Negara Batavia, pada tanggal 19
Maret 1812. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu oleh G. Kool (Java Gouvernement Gazette,
30 Mei 1812).

Universitas Indonesia
98

Palembang No. 62.2; Java Gouvernement Gazette, 2 Mei 1812 No.10; Kaiser,
1857: 93; Bastin, 1954: 70). Pengumuman kepada penduduk Palembang dianggap
penting, agar rakyat tidak melakukan perlawanan pada saat armada Inggris
memasuki wilayah Palembang. Suatu strategi untuk meminimalisir resiko pada
saat menyerang Palembang.
Pada 20 Maret 1812 Gillespie berangkat menuju Palembang dengan tujuan
untuk menyelesaikan masalah dengan Sultan Palembang dan aparatnya. Tugas
tersebut untuk menggulingkan Sultan Badaruddin II dan mengangkat adiknya
Pangeran Adipati sebagai sultan. Ia juga harus menyingkirkan Pangeran Ratu
(putera mahkota Sultan Badaruddin II). Ternyata, dalam penerapannya mandat Comment [DKM100]: Koreksi kalimat ini!

tersebut tidak kaku, Kolonel Gillespie diberi kelonggaran dengan cara melihat
situasi dan kondisi yang ada di lapangan. Jika, kondisi di Palembang tidak
memungkinkan Sultan diturunkan dari tahta,, sebagian kekayaannya harus
diserahkan kepada pemerintah Inggris (Lady Raffles, 1835:157; Bastin, 1954: 72-
73). Hal ini berarti bahwa sampai saat itu belum ada kesepakatan langkah apa Comment [DKM101]: s.d.a

yang terbaik yang akan dilakukan terhadap Kesultanan Palembang.


Armada Inggris berangkat meninggalkan Batavia menuju Palembang,
membawa pasukan, yang terdiri dari tiga kompi dari kesatuan Resimen ke-59 di
bawah komando Kapten Cambell, lima kompi dari Resimen ke-89 dipimpin
Mayor Treuch, kesatuan artileri berkuda dan kesatuan Madras, kesatuan artileri Comment [DKM102]: ini apa???
76
Bengala yaitu kesatuan Sepoy dari batalyon ke-5 dan ke-6 di bawah komando
Kapten Limond. Sisanya adalah pasukan Ambon dan Bali. Beberapa tokoh lain
yang terlibat dalam ekspedisi itu, antara lain Mayor Butler berfungsi sebagai
wakil ajudan jenderal, Mayor Thorn menjadi wakil Markas Besar Umum, dan
Kapten Meares bertugas sebagai ajudan Gillespie sekaligus penerjemah (Lady Comment [DKM103]: Terus bagaimana??

Raffles, 1835:160; Thorn, 2004: 128; Woelders, 1975: 157).


Armada Inggris yang dilibatkan dalam ekspedisi itu antara lain, kapal
perang Proeri77 dipimpin oleh Kapten Freeman, kapal penjelajah Teignmouth di Comment [DKM104]: Catatan kaki

76
Thorn (2004:128) berpendapat sedikit berbeda, yaitu kesatuan artileri
berkuda Madras dan pasukan kaveleri, kesatuan artileri Bengala, perlengkapan dan
kesatuan hussar Sepoy batalyon ke-5 dan ke-6.
77
Kapal perang Proeri mungkin sama dengan kapal Procris dalam sumber
Raffles atau Sloop Procris dari sumber Thorn.

Universitas Indonesia
99

bawah Kapten Howitson, kapal Mercury dipimpin Kapten Conyers (Convers),


kapal Phoenix dipimpin oleh Kapten Bouwen, kapal Cornelia dikendalikan oleh
Kapten Owen, Bucephalus di pimpin Kapten Drury, Barracouta (Young
Barrocouta) dipimpin Kapten Lynch, dan kapal Wellington di bawah Kapten
Cromy, serta kapal-kapal pengangkut seperti Samdany, Minerva, Matilda dan Comment [DKM105]: Maksudnya??

Mary Ann. Keberangkatan pasukan itu sempat tertunda karena musim penghujan,
yang tengah berlangsung pada waktu itu, sehingga menghambat pelayaran (Lady Comment [DKM106]: Lengkapi!

Raffles, 1835:160; Thorn, 2004: 128).


Pasukan ekspedisi Inggris mulai bergerak kembali pada 10 April 1812 dan
tiba di muara Sungai Musi (Sunsang) pada 15 April 1812. Setiba armada tersebut
di sana, Sultan Badaruddin II mengirimkan utusan kepada Gillespie yang berisi
pesan berupa ungkapan rasa hormat dan persahabatan. Tampaknya pada saat itu
Sultan menempatkan armada Inggris tersebut sebagai tamu yang memasuki
wilayah kedaulatannya. Sementara itu, upaya armada Inggris melanjutkan
pelayaran menyusuri Sungai Musi menuju ibu kota mengalami kesulitan. Hal itu
disebabkan arus sungai yang deras dan angin kencang. Dalam kondisi demikian, Comment [DKM107]: Ditata kembali kalimat
Anda!
mereka memanfaatkan waktu dengan membenahi semua perbekalan yang terdapat
di kapal-kapal Procris, Barracoutta, Wellington, Teignmouth dan Mercury.
Setelah semuanya rampung, pada 18 April 1812 petang harinya armada Inggris
melanjutkan perjalanan dengan gerak cepat menuju ibu kota Palembang. Pada 19 Comment [DKM108]: Ke mana lagi??

April 1812, kondisi pelayaran tersebut kembali memburuk, sehingga mereka Comment [DKM109]: Maksudnya apa?

tidak bisa berbuat banyak, selain menyusuri sungai secara perlahan. Dalam
pelayaran tersebut, pada 20 April 1812 pagi Gillespie kembali menerima utusan
Sultan yaitu Pangeran Syarif78 (Pemimpin para sayid di Palembang), untuk
menanyakan maksud dan tujuan armada yang dipimpin Gillespie. Gillespie
menyatakan bahwa dirinya berkeinginan untuk berkenalan langsung dengan
Sultan Palembang dan membawa usulan yang diembankan kepadanya. Keesokan
harinya untuk ketiga kalinya Sultan Badaruddin II mengirimkan utusan lagi yaitu

78
Woelders (1975: 158) menyatakan bahwa utusan sultan adalah Pangeran
Marta, empat orang mentri, danmasing-masing satu orang tumenggung, rangga, dan
demang serta ngabehi. Utusan itu ditolak oleh Gllespie dengan alasan irinya bermaksud
bertemu langsung dengan Sultan, guna menyampaikan misi yang dibawanya sebagai
utusan Raffles.

Universitas Indonesia
100

Pangeran Pranah. Dalam pesannya Sultan menyampaikan ucapan selamat atas


kedatangan panglima ekspedisi dan menyatakan Palembang adalah sahabat
Inggris. Dalam jawabannya, Gillespie menegaskan bahwa kehadiran armadanya
hanya sebentar di Palembang yaitu dua hari, dan bermaksud membicarakan
masalah penting dengan Sultan, serta menjamin keselamatan penduduk
Palembang. Dalam waktu hampir bersamaan Sultan Badaruddin II untuk kesekian
kalinya mengirimkan utusan, dengan meminta ketegasan maksud sesungguhnya
dari kedatangan armada Inggris. (Java Gouvernement Gazette, 30 Mei 1812; Lady
Raffles, 1835: 161-163). Jawaban-jawaban yang diberikan oleh Gillespie,
tampaknya belum memuaskan Sultan. Melihat besarnya armada Inggris yang
semakin mendekati ibu kota kesultanan, membuat Sultan mulai mengkhawatirkan
keselamatan kerajaannya.
Pada fajar 22 April 1812 armada Inggris secara perlahan dan tanpa
perlawanan terus menelusuri Sungai Musi. Armada itu semakin mendekati
benteng Borang yang memiliki pertahanan sangat kuat. Benteng itu dibangun
dengan ketinggian 20-30 kaki dari tanah, dikelilingi pagar bambu yang kokoh.
Benteng itu dipertahankan oleh pasukan yang sangat lengkap dan siap berperang
dengan persenjataan sebanyak 102 meriam (meriam-meriam mengapung dan Comment [DKM110]: Di hal 7 ada 120 meria

meriam-meriam dengan jangkauan jarak jauh). Dilengkapi pula dengan perahu-


perahu, rakit-rakit dan kapal bersenjata. Di sungai Musi dihanyutkan kayu-kayu
yang menyulitkan kapal-kapal Inggris bergerak (Java Gouvernement Gazette, 30
Mei 1812; Lady Raffles, 1835: 162-163; Thorn, 2004: 133).
Pada sore harinya, Sultan Badaruddin II mengirim Pangeran Marto dan Comment [DKM111]: Pilih satu saja!

seorang ajudannya untuk menyerahkan surat kepada Gillespie. Dalam suratnya


Sultan meminta agar armada Inggris tidak memasuki Palembang dengan pasukan
yang besar. Hal itu untuk menghindari timbulnya rasa ketakutan penduduk dan
menuntut agar pasukan Inggris tetap menjaga keamanan. Sementara itu, Panglima
Gillespie mengajukan permintaan agar pelayaran mereka menuju keraton tidak
diganggu, ajudan Pangeran Marto dijadikan sebagai jaminan. Pada kesempatan itu
sudah ada kesepakatan antara Pangeran Adipati dan wakil Gillespie untuk
menyerahkan kapal dan semua meriam pantai kepada Gillespie, namun usaha
Kapten Owen bersama Mayor Thorn untuk menguasai sebuah kapal Arab

Universitas Indonesia
101

mengalami kegagalan, sebagaimana laporan Gillespie. Laporan Gillespie itu


dibantah oleh Thorn79 dengan kesaksian bahwa pelakunya bukan dirinya dengan Comment [DKM112]: Mengapa dibantah??

Kapten Owen, melainkan Kapten Owen dengan Mayor Butler. Mereka dihadang
perahu-perahu bersenjata pada saat akan mendekati kapal milik orang Arab80.
Akibatnya terjadi pertempuran singkat dan perahu-perahu Palembang menarik diri Comment [DKM113]: Bedanya apa peperang
pertempuran dan perang??
(Java Gouvernement Gazette, 30 Mei 1812; Java Gouvernement Gazette, 4 Juli
1812; Lady Raffles, 1835: 163-166).
Malam harinya armada Inggris bergerak mendekati benteng Borang
dengan mengikutsertakan ajudan Pangeran Marto yang disandera. Melalui Kapten
R. Meares selaku penerjemah, Gillespie meminta ketegasan kepada pemimpin
benteng Borang apakah mereka akan menyerahkan kubu-kubu meriam atau tidak.
Sementara itu, kesatuan Resimen ke-59 dan ke-89 terus maju bersama dengan
kapal-kapal pengangkut yang membawa pelempar api dan artileri lapangan serta
perahu-perahu bersenjata. Pagi harinya, pada 24 April 1812, jarak antara benteng
Borang dan armada Gillespie hanya setengah tembakan meriam. Dalam kondisi
demikian, Pangeran Adipati didampingi Meares sebagai penerjemah menyerahkan
benteng kepada pimpinan pasukan ekspedisi. Selanjutnya, pasukan Inggris segera
melakukan pengambilalihan benteng Borang. Peristiwa itu sangat mengejutkan
pasukan penjaga benteng, sehingga mereka meloloskan diri dengan menggunakan
perahu-perahu dari sisi timur benteng dan bagian barat Pulau Binting. Dalam
pelarian tersebut, mereka berhasil menyelamatkan 120 meriam81. Comment [DKM114]: Di halaman 6 ada 102
meriam. Mana
Dilihat dari persiapan mempertahankan benteng Borang, dapat dipastikan
bahwa benteng itu akan sangat sulit ditembus oleh pasukan yang dipimpin oleh
Gillespie. Akan tetapi, kenyataannya benteng diterima Gillespie hampir tanpa
perlawanan sama sekali. Hal itu disebabkan adanya perintah dari Pangeran

79
Mayor Thorn yang berkedudukan sebagai wakil Markas Besar dan pelaku
dalam peristiwa tersebut, memiliki bobot kesaksian lebih besar dibandingkan Gillespie
yang menjadi memimpin umum dalam ekspedisi tersebut (2004: 136).
80
Kelompok etnis Arab berperan penting dalam penyediaan kapal-kapal dalam
perang Palembang. Mereka umumnya pemilik modal besar di Palembang, bahkan
lebih besar dari kelompok etnis Cina. Jumlah mereka pada waktu itu sekitar 500 jiwa
(Berg, 2010: 108,123).
81
Berdasarkan laporan Kolonel Gillespie kepada Raffles bahwa sebanyak 102
meriam berhasil dibawa oleh pasukan Palembang dari benteng Borang (Java
Gouvernement Gazette, 30 Mei 1812 No.10; Lady Raffles, 1835: 166 ).

Universitas Indonesia
102

Adipati agar tidak melakukan penyerangan, sebab akan berunding dengan


pemimpin pasukan Inggris. Tindakan Pangeran Adipati tersebut bertentangan
dengan instruksi Sultan Badaruddin II, untuk mempertahankan benteng dengan
sekuat tenaga. Sultan sengaja menempatkan saudara-saudaranya (Pangeran
Adipati, berfungsi sebagai panglima pasukan, Pangeran Aryo Kesumo dan
Pangeran Suryo Kesumo yang berfungsi sebagai wakil Pangeran Adipati) untuk Comment [DKM115]: Mereka berdua sebaga
apa??
82
menjalankan instruksi tersebut. Berkaitan dengan hal itu, ternyata sebelumnya Comment [DKM116]: Kapan??

telah terjadi perundingan antara Pangeran Adipati dan Meares di benteng Borang.
Hasil perundingan tersebut adalah Pangeran Adipati (Raffles tidak menyebutkan
nama pangeran yang melakukan perundingan, tetapi yang berhak berunding
tentunya Pangeran Adipati karena dialah yang menjadi pemimpin benteng
Borang) menyerahkan benteng tersebut kepada Inggris (Java Gouvernement
Gazette, 30 Mei 1812; Lady Raffles, 1835: 163-166; Woelders, 1975: 7, 91;
Thorn, 2004:137).
Kuatnya pertahanan benteng Borang membuat Gillespie kagum dan
menyatakan bahwa apabila benteng itu dipertahankan oleh prajurit pilihan dengan
sungguh-sungguh, maka kerugian yang akan dialami Inggris jauh lebih besar.
Apalagi kondisi kapal-kapal Inggris pada saat itu sangat lemah. Tambahan pula,
para serdadu khususnya Eropa tidak mampu menghadapi cuaca yang tidak
bersahabat. Hujan deras siang dan malam hari atau cuaca yang sangat terik di
siang hari yang menyebabkan banyak di antara mereka jatuh sakit. Tambahan lagi,
pada periode April sampai Juni angin berhembus sangat kencang ke Timur dan
Tenggara. Dalam kondisi demikian, Gillespie tidak yakin mampu bertahan dan
bila keadaan memaksa, kemungkinan pasukan Inggris akan mundur. Selain itu,
kapal-kapal Proeris, Teignmount dan Mercury yang dikirim dari Batavia untuk
memperkuat pasukan Inggris belum juga tiba di Palembang. Dalam keadaan
demikian, apabila pasukan Palembang melakukan penyerangan dengan kekuatan
besar, dapat dipastikan pasukan Inggris akan kalah. Pada kenyataannnya armada Comment [DKM117]: Sejarah tidak bisa
berandai-andai seperti ini.

82
Tidak diketahui kapan tepatnya perundingan tentang penyerahan benteng
Borang, antara Pangeran Adipati dan Meares dilakukan. Perundingan antara keduanya
mulai dilakukan pada 22 April 1812 malam, sedangkan penyerahan terjadi pada 24 April
1812 pagi hari. Dengan demikian, perundingan tentang penyerahan terjadi pada kisaran
waktu 22-23 April malam hari.

Universitas Indonesia
103

Inggris terus maju mendekati benteng terkuat tersebut (Java Gouvernement


Gazette, 30 Mei 1812; Thorn, 2004:135-137; Sturler, 1843: 57).
Menurut Waey83 (1975:102-103), peristiwa itu terjadi disebabkan pada
saat pasukan ekspedisi Inggris menelusuri Sungai Musi mendekati benteng
Borang, Pihak Inggris mengirim seorang utusan untuk melakukan penawaran
kepada Pangeran Adipati. Penawaran itu berupa jabatan sultan akan dialihkan
kepadanya, jika tidak melakukan perlawanan terhadap pasukan Inggris. Tawaran
itu menyebabkan pasukan Inggris berhasil menduduki benteng tanpa perlawanan
atau kalau berdasarkan laporan Gillespie ―tanpa banyak perlawanan‖ untuk
menggambarkan betapa mudah mereka merebut benteng terkuat itu.
Setelah menyerahkan benteng Borang kepada Inggris, Pangeran Adipati
segera pergi menghadap Sultan Badaruddin II di keraton. Dalam pertemuan
tersebut. Pangeran Adipati menyatakan bahwa kekuatan armada dan pasukan
Inggris sangat besar dan telah berhasil menduduki benteng Borang. Mengetahui
hal itu, Sultan Badaruddin II menyatakan akan melakukan perlawanan bersama-
sama, namun, Pangeran Adipati menolaknya dengan alasan ibu kota telah kosong.
Demi keselamatan, Adipati menyarankan Sultan dan pengiringnya segera
meninggalkan ibu kota. Segala urusan dengan pihak Inggris akan diselesaikannya
(Woelders, 1975: 91-92).
Peristiwa itu terjadi karena Pangeran Adipati sama sekali tidak Comment [DKM118]: Apanya yang tragis???

memanfaatkan kekuatan benteng Borang untuk melakukan perlawanan. Melalui


perundingan-perundingan yang dilakukannya dengan Meares, benteng diserahkan
kepada pasukan Gillespie. Menurut Sevenhoven (1971: 102-103), hal itu dipicu
kurang harmonisnya hubungan antara Sultan Badaruddin II dan Pangeran
Adipati. Ketidak harmonisan itu sudah terjadi sejak orangtua (Sultan Muhamad
Bahauddin) mereka masih hidup. Pangeran Adipati mendapat limpahan kasih
sayang dari ayahnya, sementara kekuasaan jatuh kepada Badaruddin II sebagai
putra mahkota. Di Kesultanan Palembang berlaku suksesi kekuasaan jatuh kepada
Putera Mahkota yang bergelar Pangeran Ratu. Hal itu menimbulkan perasaan
sakit hati pada dirinya (Woelders, 1975: 91-92). Comment [DKM119]: Ini tidak hanya terjadi
Palembang, tetapi di semua kesultanan!

83
Salah seorang perwira Belanda yang terlibat dalam Perang Palembang kedua
(Oktober 1819), dan memimpin pembangunan benteng Belanda di Toboali (1820).

Universitas Indonesia
104

Apa yang dilakukan oleh Pangeran Adipati tersebut, dapat pula dikaitkan
dengan adanya utusan yang dikirimkannya sebelum 13 Desember 1811 (sebelum
komisi yang dikirim Raffles tiba di Batavia) ke Batavia. Berarti, Pangeran Adipati
cepat bertindak, dengan mengirimkan utusan ke Batavia setelah mengetahui
keputusan Sultan Badaruddin II menolak permintaan Inggris. Hal ini dapat pula
dihubungkan dengan ―sikap menolak‖ yang ditunjukkannya pada awal
pemerintahan Sultan Badaruddin II. Jika tidak ada peluang ―gagalnya‖ misi yang
diutus oleh Raffles (Nopember 1811), tentunya Pangeran Adipati tidak
mengirimkan utusan. Terbukti tidak ada pengiriman utusan dari Pangeran Adipati
sebelum Nopember 1811. Utusan itu membawa berita tentang peristiwa Loji
Sungai Aur kepada para pejabat Inggris di sana. Artinya, walaupun keberangkatan
Gillespie memimpin ekspedisi ke Palembang belum memegang mandat pasti
apakah akan menurunkan Sultan Badaruddin atau mengangkat Pangeran Adipati,
tergantung kondisinya. Meskipun demikian, mengangkat Pangeran Adipati sudah
menjadi salah satu alternatif. Artinya, misi yang dikirimkan oleh Pangeran Adipati
ke Batavia pada Desember 1811 berhasil dengan baik.
Lebih lanjut Sevenhoven (1971: 51-52) menyatakan, bahwa ketidakakuran
keduanya dikaitkan dengan adanya tahayul bahwa pada masa keturunan yang
ketujuh, dari keturunan raja-raja yang memerintah di Kesultanan Palembang, yang
akan menjadi sultan bukan putera mahkota tapi anak laki-laki yang lain atau
bahkan putera bungsu. Seberapa jauh pengaruh tahayul tersebut, sulit
diperkirakan, yang jelas dengan adanya sumber tersebut, berarti pada saat itu hal-
hal yang berbau tahayul masih cukup berkembang di Palembang. Selama delapan
tahun masa pemerintahan Sultan Badaruddin II, tidak terdapat celah bagi
Pangeran Adipati untuk mewujudkan keinginannya menjadi sultan. Kesempatan
itu terbuka dengan hadirnya ekspedisi Inggris, ketika posisinya pada waktu itu
sebagai panglima perang yang berhak memutuskan perang atau damai.
Keputusannya untuk melakukan perdamaian terlihat dilakukan secara tergesa-
gesa. Pangeran Adipati tidak sempat memberitahukan kesepakatan tersebut
kepada anggota pasukannya, atau hal tersebut sengaja dilakukan agar pasukan
yang bertugas mempertahankan benteng tidak dalam kondisi ―siaga‖. Hal itu
terbukti mereka terkejut atas kehadiran pasukan Inggris yang menyerang secara

Universitas Indonesia
105

tiba-tiba, sehingga mereka hanya mampu mundur secara sporadis. Peristiwa


tersebut juga bermakna bahwa kekuasaan Sultan Badaruddin II tidak terlalu kuat,
dan tidak mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Keyakinan yang terlalu besar kepada adik-adiknya, membuatnya tidak
memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain diluar kebijakan menempatkan
ketiga orang adik kandungnya. Sesuatu yang menarik, mengapa kedua orang
adiknya (Pangeran Aryo Kesuma dan Suryo Kesuma) ―mengikuti‖ keinginan
Pangeran Adipati untuk menyerah. Apakah adanya berbagai ―konsesi‖ yang
ditawarkan oleh Pangeran Adipati atau ada faktor lain?
Malam harinya sekitar pukul 20.00, di saat armada Inggris terus melaju
mendekati keraton, pasukan Palembang yang tersisa melancarkan tembakan dari
segala arah. Mereka juga menghanyutkan rakit-rakit api yang dapat
menghancurkan kapal-kapal Inggris. Akan tetapi, kondisi kritis ini dapat diatasi
oleh serangan balik dari kapal Cornelia dan kapal yang dikendalikan oleh Kapten
Owen, (Thorn, 2004: 137-138; Lady Raffles, 1835: 166-167). Comment [DKM120]: Bagaimana cara
mengatasinya????
Peristiwa jatuhnya benteng Borang membawa dampak negatif yang sangat
besar bagi Kesultanan Palembang. Artinya, pertahanan terkuat telah lenyap.
Kondisi sulit itu menyadarkan Sultan Badaruddin II untuk berbuat sesuatu yaitu
mundur ke uluan dengan membawa harta berupa uang, emas, permata, senjata
dan pusaka84. Sebelumnya, Sultan telah mengirimkan para perempuan dan anak-
anak ke dusun Muara Blida. Pangeran Adipati menjauhkan keluarganya ke dusun
Tanjung Saga, sedangkan Panggeran Arya dan Pangeran Surya mengirim
keluarganya ke dusun Tempiri (ANRI, Bundel Palembang No.67; No. 62.2; No.
5.1; Lady Raffles, 1835:166-167; Kaiser, 1857: 92-93; Kielstra, 1892: 80,82;
Woelders, 1975: 91-92).
Berita mundurnya Sultan Badaruddin II ke uluan diketahui Gillespie pada
pagi hari 25 April 1812, sedangkan berdasarkan laporan Gillespie kepada Raffles
dinyatakan bahwa berita itu diterimanya pada sore hari pada tanggal yang sama

84
Menurut Gillespie, Sultan Badaruddin II telah memerintahkan tenaga kuli
sebanyak dua ratus orang untuk membawa sebagian besar harta bendanya ke dalam
hutan, di bawah pimpinan Pangeran Ratu. Harta-harta tersebut ditimbun di dalam
tanah, setelah penimbunan selesai, semua tenaga kuli dibunuh agar tidak diketahui oleh
siapapun (Lampiran No.6 dalam Java Gouvernement Gazette, 30 Mei 1812).

Universitas Indonesia
106

dari Pangeran Sjarif. Dengan mundurnya Sultan Badaruddin II ke uluan, ibu kota
Palembang mengalami kekacauan. Pasukan dari uluan dipersiapkan Sultan untuk
menghadapi pasukan Inggris. Setelah menyadari Sultan dan keluarganya telah
mundur ke uluan, pasukan dari uluan berubah menjadi anarkis. dan menimbulkan
kekacauan khususnya di ibu kota Palembang. Sementara itu, Panglima Gillespie
bersama-sama dengan Pangeran Sjarif, Meares, Villneruhy (orang Spanyol yang Comment [DKM121]: Pilih salah satu saja!

juga berfungsi sebagai penerjemah bahasa Melayu), Kapten Bowen (angkatan laut
kerajaan), Mayor Butler (ajudan jenderal), Mayor Thorn, 10 orang serdadu
pelempar granat, Letnan Monday, R.N dan Letnan Forrest dari kapal Phoenix
serta anggota pasukan yang tersisa, di bawah komando Letnan Kolonel McLeod
dari Kesatuan Grenadir ke-59 memasuki kota untuk mengamankan keadaan yang
tengah kacau (Java Gouvernement Gazette, 2 Mei 1812 No.10; Thorn, 2004: 139-
140; Lady Raffles, 1835: 168).
Armada Inggris yang membawa Gillespie dan rombongan merapat di
depan keraton pada sekitar pukul 20.00. Di gerbang besar dan pelataran keraton
mereka menemukan kondisi yang kacau. Kekacauan itu disebabkan, para
pendukung Sultan Badaruddin II yang dipersiapkan untuk menghadapi pasukan
Inggris, melakukan penghancuran terhadap keraton dan tempat-tempat penting
lainnya, setelah Sultan mundur ke uluan. Pada saat Gillespie akan mendekati
keraton, terjadi insiden yang hampir membahayakan dirinya. Pada saat itu
seseorang berhasil menyelinap dan melakukan penyerangan dengan menggunakan
pisau yang telah dilumuri racun, namun disaat kritis itu Gillespie berhasil
menyelamatkan dirinya, sedangkan penyerangnya berhasil meloloskan diri.
Selanjutnya, dalam rangka menguasai keraton, terjadi pertempuran antara pasukan
Gillespie dan para pendukung Sultan. Pertempuran itu terus berlangsung dengan
sengit. Mendekati tengah malam posisi pasukan Belanda semakin kuat dengan
tibanya tambahan pasukan sebanyak 60 orang serdadu dari Resimen ke-89 di
bawah pimpinan Mayor Trench. Akibatnya, mereka berhasil mengendalikan
keadaan di dalam dan luar keraton. Banyak korban jatuh dalam pertempuran itu,
baik dari pihak Palembang maupun Belanda, namun tidak ditemukan data jumlah
korban yang tewas atau luka-luka. Dari berbagai sumber yang ada, hanya
disebutkan bahwa sejak kedatangan pasukan Gillespie mereka menemukan

Universitas Indonesia
107

kondisi yang kacau, tidak hanya di sekitar keraton juga diseluruh ibu kota
Palembang. Orang-orang Cina umumnya menjadi korban, baik harta maupun
nyawa dalam kondisi tersebut. (Thorn, 2004: 139-143; Lady Raffles, 1935: 169-
170)
Keesokan harinya tiba pula Letnan Kolonel McLeod dengan pasukannya,
sehingga kekuatan militer Belanda semakin besar dan mampu menguasai keraton
dan ibu kota Palembang. Dari hasil pengamatan mereka tampak bahwa keraton
dipertahankan dengan 240 pucuk meriam, namun semua itu tidak ada artinya Comment [DKM122]: Dengan

karena telah ditinggalkan oleh pimpinannya, sebagai akibat dari lepasnya benteng
Borang. Setelah itu, Panglima Gillespie membebaskan sisa penghuni loji Belanda Comment [DKM123]: Kalimat Anda!!!

yang dikuasai pasukan Palembang pada September 1811. Mereka terdiri dari
perempuan dan anak-anak. Mereka dijadikan budak atau keluar dari Comment [DKM124]: Loji yang mana lagi
ini???
persembunyian mereka di hutan (Lady Raffles, 1835:171; Thorn, 2004: 142-143).
Dengan demikian, langkah pertama yang diambil oleh Gillespie adalah
menyelamatkan sisa penghuni Loji Belanda yang masih selamat setelah tujuh
bulan berada dalam kondisi serba kekurangan.
Menurut data arsip (Bundel Palembang No. 67) bahwa penghuni loji
sebanyak seratus sepuluh orang, sedangkan yang dibunuh di muara Sunsang Comment [DKM125]: Loji di mana? Sungai
Sungsangkah??
sebanyak 87 orang. Disebutkan pula bahwa yang selamat hanya satu orang yaitu
Willem van de Wateringbuis. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 22 orang
lainnya adalah perempuan dan anak-anak yang berhasil melarikan diri ke hutan
atau dijadikan budak. Meskipun ibu kota telah berhasil dikuasai oleh pasukan
Inggris, pada malam 26 April 1812 kembali pasukan Palembang yang tersisa
melancarkan serangan. Pasukan Palembang berusaha menghancurkan armada
Inggris, namun serangan itu berhasil dipatahkan oleh pasukan Inggris. Selanjutnya
pasukan Inggris berhasil menguasai sepenuhnya ibu kota kesultanan. Pada siang Comment [DKM126]: Siapa mereka itu???

hari, 28 April 1812 bendera Inggris berkibar di keraton Palembang, diiringi


tembakan penghormatan.
Pada hari itu juga Pangeran Adipati keluar dari pengungsiannya atas
undangan Gillespie (Thorn, 2004: 147). Dengan demikian, setelah menghadap
Sultan Badaruddin II di keraton, Pangeran Adipati dan pengikutnya bersembunyi
sampai keadaan memungkinkan untuk kembali ke ibu kota. Dengan kata lain,

Universitas Indonesia
108

janjinya kepada Sultan Badaruddin II bahwa dirinya akan menangani persoalan


dengan Inggris tidak terbukti. Ia justru ikut bersembunyi dan menampakkan diri
kembali setelah adanya jaminan dari Gillespie. Comment [DKM127]: Edit kembali kalimat
Anda!
Kunjungan pertama Pangeran Adipati ke markas Gillespie terjadi pada 30
April 1812 (29 April 1812, menurut kesaksian Thorn). Ia diterima oleh Meares
dan beberapa perwira dari staf umum. Kunjungan ini disambut dengan tembakan
penghormatan sebanyak 19 kali dari kapal Mercury. Pada siang atau sore harinya
Gillespie melakukan kunjungan balasan kepada Pangeran Adipati. Dari
pertemuan-pertemuan yang dilakukan, dicapai kesepakatan antara kedua belah
pihak. Inti dari kesepakatan tersebut menyatakan bahwa Sultan Badaruddin II
diturunkan dari tahta. Kedudukannya digantikan oleh adik kandungnya yaitu
Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Ratu Ahmad Najamuddin II85. Setelah
menjadi sultan, Najamuddin II mengangkat adiknya Pangeran Aryo Kesumo
sebagai Pangeran Adipati, dan Pangeran Suryo Kesumo menempati posisi
kakaknya dengan gelar Pangeran Aryo Kesumo. Di samping itu, Sultan
Najamuddin II juga mengukuhkan putera tertuanya dengan gelar Prabu Anom.
Tiga orang putera lainnya masing-masing bergelar Pangeran Jayaningrat,
Pangeran Jayakrama, dan Pangeran Citradiningrat (Java Gouvernement Gazette,
4 Juli 1812; Thorn, 2004: 148; Woelders, 1975: 97). Dengan pengangkatan
tersebut, jelas terlihat bahwa Sultan Najamuddin II menubuhkan pola baru dengan
mengangkat putera tertuanya sebagai putera mahkota. Dengan sendirinya terjadi
penyimpangan dari pola sebelumnya yaitu Sultan Badaruddin II telah mengangkat
putera tertuanya dengan gelar Pangeran Ratu. Dalam tradisi Kesultanan
Palembang Pangeran Ratu adalah orang yang berhak menggantikan sultan apabila
waktunya telah tiba, baik karena sultan wafat atau sultan bermaksud turun tahta
sebagai susuhunan. Pengangkatan Pangeran Aryo menjadi Pangeran Adipati, dan
Pangeran Suryo Kesumo naik menjadi Pangeran Aryo (posisi kedua setelah

85
Dalam lampiran No. 6 surat Panglima Gillespie yang ditujukan kepada
Sekretaris Pemerintah, disebutkan bahwa ia telah mengangkat Pangeran Adipati
sebagai sultan atas permintaan Pangeran Adipati sendiri. Pengangkatan itu didasarkan
atas jasa-jasanya dan dukungan rakyat, kelompok etnis Arab dan Cina di Palembang.
Terbukti pada saat pelantikan rakyat hadir dipimpin para depati, saat memberikan
penghormatan mereka mencium tangan, lutut atau kaki Sultan. ( Java Gouvernement
Gazette, 30 Mei 1812 ; Java Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812).

Universitas Indonesia
109

Pangeran Adipati), menunjukkan bahwa pengangkatan tersebut merupakan


―konsesi‖ yang dijanjikan oleh Sultan Najamuddin II pada saat ia bersama dengan
adik-adiknya menyerahkan benteng Borang (April 1812).
Upacara itu dihadiri beberapa orang Pangeran termasuk dua saudara
Pangeran Adipati yang baru saja dilantik sebagai sultan dan sejumlah besar rakyat Comment [DKM128]: Dilantik sebagai apa?

Palembang. Pangeran Adipati memasuki Balai Umum pada pukul 09.30, di sana
sudah tersedia tahta yang di dekatnya terdapat payung sutera kuning (warna
khusus untuk Sultan di keraton Palembang). Pangeran Adipati dan Gillespie
duduk di tempat yang ditutupi seprei warna merah tua sebelah kiri tahta. Setelah
itu, pada pukul 10.00 Gillespie membimbing dan mendudukkan Pangeran Adipati
di atas tahta, diiringi tembakan penghormatan sebanyak 21 kali dan pengibaran
panji-panji kesultanan Palembang di dinding keraton menggantikan bendera
Inggris. Pangeran Adipati yang kini telah menjadi Sultan, menerima ucapan
selamat dari para bangsawan, perwira Eropa dan rakyat Palembang (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; Java Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Woelders, 1975: 93;
Kielstra, 1892: 82; Thorn, 2004: 152-155).
Berpindahnya kekuasaan di Kesultanan Palembang dari Sultan Badaruddin
II kepada Sultan Najamuddin II, menandakan bahwa di kesultanan itu kekuasaan
Sultan Badaruddin II cukup rapuh, sehingga dengan mudah berpindah tangan.
Peristiwa itu sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Tarling (1994:131)
bahwa kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara pada awal abad XIX, lembaga
pemerintahannya umumnya bersifat informal, tidak permanen dan pribadi, serta
mudah berubah. Kondisi demikian, mengakibatkan sering terjadi persaingan
antara sesama golongan bangsawan atau elite lokal dalam memperebutkan tampuk
kekuasaan. Dalam kaitannya dengan Kesultanan Palembang, jelas terlihat yaitu
terjadinya persaingan antara dua bersaudara kandung yang berujung pada
perpindahan kekuasaan dengan memanfaatkan bangsa asing yaitu Inggris.
Pada 17 Mei 1812 (5 Jumadilawal 1227), Sultan Najamuddin II memasuki
keraton Kuta Besak, dan pada hari itu juga Sultan Najamuddin II disodori sebuah
kontrak oleh Inggris. Isinya menyatakan bahwa Sultan menyerahkan kepada
pemerintah Inggris dan Kompeni India Timur Inggris, Pulau Bangka dan Belitung
serta pulau-pulau yang tunduk padanya (cede to his Majesty the King of Great

Universitas Indonesia
110

Britain and to the honorable East India Company in full and unlimited
sovereignty, the islands of Banca and Billiton, and the islet thereon depending) Comment [DKM129]: ?

(ANRI, Bundel Palembang No. 5,1; No. 67; ANKL, The Asiatic Journal, 1819, vol
7).
Dalam laporannya kepada Raffles, Gillespie menyatakan bahwa semua
dokumen telah dibuat dan disahkan tentang penyerahan Pulau Bangka dan
Belitung untuk kepentingan Inggris. Dalam kontrak disebutkan pula bahwa Sultan
Najamuddin II akan mengambil alih harta kekayaan Sultan Badaruddin II.
Sebagian hasilnya akan diserahkan kepada Inggris, sebagai ganti rugi ekspedisi
penaklukan Palembang. Sultan juga harus mencari pelaku pembunuhan terhadap
orang-orang Belanda pada 1811. Sesudah itu, Sultan Najamuddin II harus
melakukan pembalasan terhadap para pelaku pembunuhan tersebut. Harta
kekayaan mereka harus menjadi milik para janda dan anak-anak dari korban
pembunuhan tersebut86. Najamuddin II juga wajib memasok kebutuhan makanan
Inggris di Bangka dan agen-agennya di Palembang, juga harus mengirimkan
utusan ke Batavia (Lady Raffles, 1835: 178-179; Kaiser, 1857: 94-95).
Poin-poin yang termaktub di dalam kontrak tersebut, sangat merugikan
Kesultanan Palembang, khususnya penyerahan Pulau Bangka Belitung, sedangkan
pendapatan utama kerajaan itu adalah dari perdagangan timah. Dalam kondisi
demikian, Najamuddin II juga dituntut untuk mengganti rugi biaya ekspedisi yang
jumlahnya tidak sedikit, ditambah kewajibannya memasok kebutuhan makanan
bagi Inggris di dua lokasi (Muntok dan Paembang). Tuntutan agar Sultan
Najamuddin II mengambil harta Sultan Badaruddin II, jelas tidak dapat terlaksana,
karena harta Sultan Badaruddin II telah diangkut ke uluan. Jadi, keinginan Sultan
Najamuddin II untuk berkuasa dengan memanfaatkan Inggris harus dibayar mahal
dengan berbagai ketentuan di atas. Hal tersebut sama dengan apa yang
digambarkan oleh Nategaal dalam karyanya Riding the Dutch Tiger: The Dutch
East Indies Company and The Northeast Coast of Java 1680-1743 (1996), bahwa
keinginan para penguasa Jawa untuk memanfaatkan VOC demi kepentingan

86
Berdasarkan laporan Gillespie kepada Raffles, disebutkan bahwa beberapa poin dari
perjanjian 17 Mei 1812 yaitu tentang ―semua penasihat dan provokator dalam peristiwa
pembantaian 1811 diperlakukan dengan kejam, kekayaan mereka disita dan sebagian akan
digunakan untuk membiayai kebutuhan para janda dan anak-anak yatim korban pembunuhan‖,
berasal dari Sultan Najamuddin II (Java Gouvernement Gazette, 18 Juni 1812 No.16).

Universitas Indonesia
111

mereka, justru yang terjadi adalah mereka dikendalikan oleh VOC dengan
berbagai konsesi yang dituntutnya.
Setelah tujuan ekspedisi tercapai, Kolonel Gillespie meninggalkan
pasukan sebanyak 100 orang87 terdiri dari perwira dan serdadu (orang Sepoy dan
orang Ambon) dan satu buah kapal perang. Tugas pasukan itu adalah mengawasi
pelaksanaan kontrak Palembang-Inggris dan melakukan perlindungan dalam
rangka pemulihan dan kestabilan keamanan di Palembang. Untuk memasok
barang-barang kebutuhan untuk Pulau Bangka, Gillespie mengangkat Villeroube88
sekaligus menjadikannya sebagai mata-mata dengan gaji 350 dolar Spanyol per
bulan. Setelah segala sesuatunya selesai, Gillespie menuju Pulau Bangka dalam
rangka mengambil alih pulau tersebut. Sebelumnya Gillespie telah
89
memerintahkan Mayor Raban untuk menguasai Pulau Bangka . Armada yang
ditumpangi Gillespie merapat di Muntok pada 19 Mei 1812.
Pulau Bangka diterima secara resmi oleh Inggris pada 20 Mei 1812.
Penyerahan ini bersifat mutlak dan tidak terbatas. Dengan demikian, Pulau
Bangka-Belitung sepenuhnya menjadi milik Inggris. Gillespie mengganti nama
Pulau Bangka dengan ―Duke of York‖ sebagai bentuk penghormatan terhadap
Duke of York, paman raja Inggris George III . Sementara itu, nama kota Muntok
digantinya menjadi Minto sesuai dengan nama Gubernur Jenderal Lord Minto
yang berkedudukan di Calcutta India (Lady Raffles, 1835: 179).
Gillespie juga mengangkat Meares sebagai residen Bangka dan
Palembang, dengan pangkat Mayor. Wewenang yang diberikan kepadanya bidang
sipil dan militer. Dengan kekuasaan yang cukup besar itu, Gillespie
mengharapkan R. Meares mampu mengendalikan kedua wilayah tersebut dengan
baik. Untuk kelengkapan urusan pemerintahan, Gillespie mengangkat Perkin

87
Sumber lain menyebutkan bahwa pasukan yang ditinggalkan oleh Gillespie di
Palembang adalah 400 orang serdadu, dua kapal, dua kici, tujuh langbut dan sepuluh
lanca (Woelders, 1975: 159).
88
Seorang bangsawan Spanyol yang ikut dalam ekspedisi, ia berinisiatif agar
dirinya tetap ditempat di Palembang (ANKL, House of Lord, vol.19, 1835).
89
Untuk menguasai Pulau Bangka, langkah yang diambil oleh Mayor Raban adalah
melakukan pendekatan kepada para kepala daerah di pulau itu agar mereka mendukung kekuasaan
Inggris. Usaha itu cukup berhasil, terbukti mereka bersumpah setia kepada Inggris (ANKL, House
of Lord, vol.19, 1835).

Universitas Indonesia
112

sebagai kepala pelabuhan di Port Minto, Range bertugas sebagai asisten


penerjemah, Lavulle menjadi inspektur pertambangan, Oglivile sebagai penjaga
gudang dan kepala pembayaran, serta Letnan Robertson sebagai peneliti kelautan
khususnya menyelidiki pelabuhan Klabat. Di bidang militer, dipercayakan kepada
Kapten McPherson (batalyon sukarelawan Bengala ke-6) menjadi komandan
benteng Fort Nugent, Kapten Evans (batalyon Bengala) sebagai kepala juru bayar,
Letnan Byene (batalyon Bengala) menjadi ajudan komandan benteng, Letnan
Ralph (artileri Bengala) sebagai asisten kepala gudang, Sersan Tower (artileri
Bengala) menjadi asisten pengawas, Letnan Seymor dari sukarelawan Bengala
menjadi asisten departemen komisariat dan Schap menjadi ahli bedah di Fort
Nugent. Sementara itu, untuk mengurusi masalah administrasi wilayah Palembang Comment [DKM130]: Di mana Fort Nugent i
Di Palembang, Bangka atau Bilitung?
daratan, dipercayakan oleh Gillespie kepada Kapten McPherson. Setelah itu, Comment [DKM131]: Sampai sejauh mana
relevansi orang-orang ini dalam subbab ini?
bersama sisa pasukannya Gillespie kembali ke Batavia90 Sekembalinya di Batavia Tujuannya apa??

menyerahkan hasil penelitiannya kepada Raffles, dalam laporan tersebut ia


menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab atas pembunuhan 1811 adalah
Pangeran Ratu. Gillespie menggambarkan Pangeran Ratu sebagai orang yang Comment [DKM132]: Siapa yang menyerahk
hasil penelitian kepada Raffles??
jahat dan licik, sehingga penduduk takut padanya (ANRI, Bundel Palembang No.
67; Java Gouvernement Gazette, 18 Juni 1812 No. 16).
Setelah berada di uluan, Sultan Badaruddin II menyadari situasi telah
berubah dengan diangkatnya Pangeran Adipati sebagai sultan Palembang.
Langkah yang diambil oleh Badaruddin II adalah melakukan konsolidasi dengan
cara menghimpun kekuatan dan mendirikan benteng di Boya Lango atau Buaya
Langu (hilir Sekayu). Untuk mencapai daerah itu dibutuhkan waktu beberapa hari
dari ibu kota Palembang91. Sebagai sultan, Badaruddin II dengan cepat mendapat

90
Letnan Gubernur Jenderal Raffles, di Semarang mengeluarkan Perintah
Umum yang berisi ucapan terimakasih kepada Kolonel Gillespie atas jasa-jasa dan
keberanian yang luar biasa dalam melakukan penaklukan terhadap Palembang (Java
Gouvernement Gazette, 18 Juni 1812 No.16).
91
Berdasarkan informasi lisan diketahui bahwa jarak dari Boya Langu (sekarang
disebut Bailangu,yaitu sebutan sultan Palembang terhadap daerah tersebut karena
disaat sultan tiba di sana, ia melihat ada perempuan yang tengah duduk termangu
(bai=perempuan, langu=termangu) ke ibu kota Palembang selama lima hari lima malam
dengan perahu. Sebaliknya, dari ibu kota ke Boya Lango membutuhkan waktu lebih
lama, yaitu tujuh hari tujuh malam (wawancara dengan Bapak Adenin usia 83 tahun
pada 28 Juni 2011 di desa Bailangu)

Universitas Indonesia
113

dukungan dari penduduk uluan yang terdiri dari dari orang-orang Rawas, Melayu
dan Minangkabau. Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memblokade
daerah uluan khsususnya hulu Sungai Musi tempat pusat kekuasaan Sultan.
Dengan blokade tersebut, ibu kota Palembang akan mengalami kesulitan
mendapatkan bahan makanan. Hal tersebut disebabkan kebutuhan hidup (bahan
baku dan komoditi ekspor) ibu kota sangat tergantung pada suplai dari uluan92
(ANRI, Bundel Palembang No. 67; Stapel,1940: 98; Kielstra, 1892: 82). Besarnya
dukungan yang diberikan oleh penduduk uluan terhadap Sultan Badaruddin II,
menunjukkan bahwa selama pemerintahannya rakyat merasakan kenyamanan dan
ketenangan. Tudingan para tokoh Belanda (antara lain Sevenhoven, dan
Muntinghe) bahwa bentuk pemerintahan tradisional membuat rakyat menderita
tidak terbukti. Menurut Tarling (1994:134), ikatan kesetiaan rakyat terhadap
rajanya tergantung pada kuat atau lemahnya kekuasaan raja. Raja yang kuat akan
mampu mengontrol rakyatnya sedemikian rupa sehingga rakyat patuh padanya,
demikian pula sebaliknya, rakyat akan berpaling jika kekuasaan raja lemah.
Dukungan yang diberikan rakyat uluan kepada Sultan Badaruddin II
menunjukkan besarnya pengaruh Sultan terhadap rakyat, baik melalui kekuasaan
politik, keuangan, maupun kharisma. Imbalan yang diterima rakyat dari kesetiaan
itu adalah keamanan, kemakmuran, dan status93. Hal seperti itu tidak dimiliki oleh
Sultan Najamuddin II yang memperoleh kekuasaan politik melalui campur tangan
asing.
Menyadari apa yang dilakukan oleh Sultan Badaruddin II di pedalaman, dan
adanya desas-desus tentang akan adanya penyerangan terhadap ibu kota dari
daerah Boya Lango, Sultan Najamuddin II memberitahukan masalah tersebut
kepada Kapten R. Meares di Muntok. Berdasarkan laporan tersebu,t Meares

92
Sungai Musi merupakan induk dari sungai-sungai (Batanghari Sembilan) yang
ada di Kesultanan Palembang. Terdapat dua sungai yang bermuara di ibu kota
Palembang, yaitu Sungai Komering dan Sungai Ogan. Walaupun demkian, posisi Sultan
Badaruddin II di hulu Sungai Musi mengakibatkan kebutuhan hidup penduduk di ibu
kota menjadi terganggu. Hal itu tergambar jelas dari sumber-sumber sejarah seputar
masa pendudukan Inggris di Kesultanan Palembang kurun waktu 1812-1813.
93
Sultan Badaruddin II mengangkat orang-orang yang berjasa dengan gelar-gelar
kehormatan, memberi hadiah-hadiah baik berupa uang maupun pesalin atau pakaian
dengan segala atributnya yang merupakan simbol status seseorang atau kelompok.
Periksa Woelders, 1975: 162.

Universitas Indonesia
114

mempersiapkan armada dan pasukan guna menghancurkan pusat pertahanan


Sultan Badaruddin II di Boya Lango (Woelders, 1975, 93; Kielstra, 1892, 83).
Pada 13 Juli 1812 Kapten R. Meares memimpin 150 orang pasukan dari
Bangka berangkat menuju Palembang. Ia tiba di Palembang pada 26 Agustus
1812. Pasukan ekspedisi ini terdiri dari kesatuan orang Ambon dipimpin Letnan
Pearson, kesatuan artileri Bengala di bawah komando Letnan Ralie dan staf
kesatuan dipimpin Letnan Byrne. Dua hari berikutnya, dengan kesatuan sebesar
170 orang, ada tambahan pasukan dari Sultan Najamuddin II, mereka berangkat
menuju Boya Lango. Pasukan mendekati kawasan itu pada 31 Agustus 1812. Pagi
hari 1 September 1812 pasukan Meares bergerak maju menyusuri sungai Musi
untuk mencapai pusat pertahanan Sultan Badaruddin II. Berdasarkan hasil
penyelidikan Kapten M. Pherson, pasukan Meares, tanpa hambatan berarti,
berhasil mendarat di kawasan yang tidak jauh dari pusat pertahanan Sultan
Badaruddin II. Perjalanan diteruskan sampai mereka menemukan kubu pertahanan
Sultan Badaruddin II, yang menyebabkan terjadinya pertempuran. Pasukan
Badaruddin II gigih mempertahankan kubu pertahanannya, baik di sungai maupun
di darat, sehingga Meares mengalami kesulitan untuk merebut benteng pertahanan
Sultan Badaruddin II. Sampai akhirnya kubu pertahanan di Boya Lango berhasil
dikuasai dan dibakar. Akan tetapi, dalam pertempuran tersebut Meares tertembak.
Selain Meares, terdapat dua orang tentara Sepoy yang terluka. Hal itu
mengakibatkan pasukan dari Palembang dan Bangka kembali ke Palembang untuk
selanjutnya menuju Muntok.Mereka tiba di Fort Nugent pada 4 September 1812.
Akibat luka parah yang dideritanya, Meares meninggal dunia pada 16 Oktober
1812 setelah mengalami pendarahan hebat dalam usia 40 tahun94 di Fort Nugent
Tanjung Kelian Muntok. Dengan wafatnya Meares, Kapten M. Pherson diangkat
sebagai residen, merangkap sebagai komandan pasukan sementara Inggris,
sambil menunggu perintah lebih lanjut dari Batavia. Kelak posisi Kapten M.
Pherson digantikan oleh Kolonel Eales (Resimen Eropa EIC). (ANRI, Bundel

94
Pernyataan resmi atas wafatnya Kapten R. Meares dikeluarkan Raffles pada
tanggal 22 Oktober 1812. Dalam laporannya kepada Raffles pada 15 April 1812, Kolonel
Gillespie menggambarkan Kapten R. Meares sebagai orang yang berkualitas, baik
sebagai ajudan maupun sebagai penerjemah (Java Gouvernement Gazette, 30 Mei
1812).

Universitas Indonesia
115

Palembang No. 5.1; No. 67; Java Gouvernement Gazette,30 Mei 1812 Java
Gouvernement Gazette; 4 Juli 1812; Java Gouvernement Gazette 24 Oktober
1812 No. 35).
Dalam pertempuran tersebut pasukan Badaruddin II berhasil merebut
sembilan meriam milik pasukan Meares. Kerugian besar bagi Badaruddin II
adalah tertangkapnya Pangeran Wirodinoto, salah seorang pembantu terdekatnya.
Kepada pimpinan pasukan Inggris, Sultan Badaruddin II meminta agar Pangeran
Wirodinoto tidak dibunuh tetapi diasingkan. Dalam perjalanan menuju Batavia
Pangeran Wirodinoto wafat. Tidak disebutkan penyebab kematiannya. Permintaan
khusus yang disampaikan oleh sultan Badaruddin II mengisyaratkan adanya
kekhawatiran Sultan atas keselamatan Pangeran Wirodinoto (Java Gouvernement
Gazette, 24 Oktober 1812 No. 35; Woelders, 1975: 94).
Setelah kubu pertahanan di Boya Lango mengalami kehancuran, Sultan
Badaruddin II mundur dan mendirikan benteng di Tanjung Rawas Mata daerah
Muara Rawas. Di tempat baru itu, kembali Sultan mendirikan kubu pertahanan
dan menyusun kekuatan. Sultan menghimpun orang-orang Musi, Bliti, Batu
Kuning, Kikim, Melayu Kerinci, Pegagan dan Rawas. Bahkan, Sultan mendapat
bantuan dari Sultan Jambi. Sultan mengangkat empat panglima perang, yaitu
Panglima Perang Besar, Panglima Didalam Raja, Panglima Besar Raja dan
Panglima Muda. Mereka masing-masing diberi lambang kebesaran berupa: kain,
baju, sapu tangan, ikat pinggang, dan pedang. Mereka semuanya bersumpah setia
untuk mendukung sultan dengan upacara penyembelihan kerbau (Woelders, 1975:
162).
Berkaitan dengan hal itu, Sultan Najamuddin II memerintahkan untuk
segera mendirikan benteng di sebelah hilir Muara Rawas. Tujuannya adalah untuk
menahan serangan dari pasukan Sultan Badaruddin II. Sultan Najamuddin II
membuat kebijakan, yaitu tidak memperkenankan orang-orang dari ibu kota
mudik ke Muara Rawas, namun menerima kehadiran orang-orang dari Muara
Rawas ke ibu kota. Semua itu terjadi karena adanya kekhawatiran Sultan
Najamuddin II terhadap orang-orang yang mudik ke Muara Rawas dan tidak
kembali lagi ke ibu kota, yang berarti akan mengurangi jumlah penduduk atau
bahkan pasukan di sana. Sebaliknya, pasukan Sultan Badaruddin II di Muara

Universitas Indonesia
116

Rawas akan menambah kekuatannya. (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Comment [DKM133]: Siapakah –nya di sini?

Woelders, 1975: 94, 161-162, 171, 177).


Kegagalan ekspedisi pertama menyebabkan direncanakan pelaksanaan
ekspedisi kedua. Akan tetapi, ekspedisi dimaksud diperkirakan oleh para
pendukung tidak akan mampu menangkap Badaruddin II. Apalagi, jalur menuju
uluan sangat sulit dilalui, sehingga membuat pasukan yang ditinggalkan Meares
mengalami trauma. Menurut mereka operasi militer sangat tidak menguntungkan.
Sultan Badaruddin II mendapat dukungan yang sangat besar dari rakyat. Di mata
rakyat Sultan Badaruddin II adalah sosok yang kuat dan dihormati oleh rakyat
uluan dibandingkan dengan Sultan Najamuddin II yang diangkat oleh Inggris.
Posisi Sultan Badaruddin II yang diturunkan oleh Inggris, justru memberi nilai
tambah bagi Sultan. Akibatnya, usaha penangkapan terhadapnya sulit dilakukan
oleh pasukan gabungan Inggris dan Sultan Najamuddin II. Ketidakmampuan
pasukan gabungan menangkap Sultan Badaruddin II menyebabkan kedudukan
Sultan Najamuddin II senantiasa berada tidak aman. Kondisi itu diperparah karena
Sultan Najamuddin II tidak memiliki uang dan kekuatan militer (ANRI, Bundel
Palembang No. 67).
Keadaan seperti itu mendorong inisiatif Residen Mayor Wiliam Robison
untuk berunding dengan Sultan Badaruddin II. Sebagai residen, ia ditugaskan
untuk menaklukkan kekuatan Badaruddin II di Muara Rawas. Meskipun
demikian, Mayor Robison yakin bahwa usaha itu akan sia-sia, mengingat Sultan
Najamuddin II hanya mempunyai kekuasaan yang minim, dan tidak mendapat
dukungan dari rakyat. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa rakyat Palembang
lebih mencintai Sultan Badaruddin II. Strategi yang ditempuh oleh Mayor
Robison adalah mengusulkan kepada Najamuddin II untuk melepaskan
kedudukannya kepada Badaruddin II. Sebagai gantinya, Najamuddin II akan
diangkat sebagai Sultan Bangka. Apabila Sultan Badaruddin II meninggal dunia,
Najamuddin II dapat menggantikannya sebagai sultan di Kesultanan Palembang.
Kebijakan Robison itu ditempuh agar suasana damai tercipta di Kesultanan
Palembang. Akan tetapi, usulan itu ditolak oleh Najamuddin II, bahkan ia
mengirimkan ekspedisi militer ke Muara Rawas. Ekspedisi itu mengalami
kegagalan, karena pada saat operasi dimulai pasukan yang dikirim dari ibu kota

Universitas Indonesia
117

tidak menjalankan tugasnya, tetapi malah melarikan diri (Kielstra, 1892: 83;
Sturler, 1843:9).
Disini tampak bahwa para bangsawan dan rakyat lebih mendukung Sultan
Badaruddin II yang berada di uluan daripada Sultan Najamuddin II yang berusaha
menguasai keraton. Peristiwa tersebut membuktikan besarnya dukungan
bangsawan dan rakyat Palembang kepada Sultan Badaruddin II. Penjelasan ini
mematahkan apa yang digambarkan oleh Gillespie tentang Najamuddin II yang
dicintai oleh rakyatnya, Gillespie hanya melhat dari banyaknya penduduk yang
menghadiri upacara pelantikan Najamuddin II. Hal itu pula yang menjadi salah
satu pertimbangan Gillespie mengangkat Najamuddin II. Sebagai penguasa
pendatang di daerah tersebut, Gillespie tidak memahami kondisi kerajaan
Palembang dan rakyatnya serta kapasitas dan kapabilitas Sultan Najamuddin II.
Oleh karena itu, Robison berketetapan hati untuk membuka perundingan dengan
Sultan Badaruddin II.
Pada 18 Juni 1813 Pangeran Adipati (adik kedua Sultan Badaruddin II)
dan Pangeran Aryo Kesumo (adik bungsu Sultan Badaruddin II) menemui Mayor
Robison. Pada kesempatan itu keduanya menjelaskan bahwa rakyat Kesultanan
Palembang tidak mendukung Najamuddin II sebagai sultan. Mempertahankan
Najamuddin II adalah sia-sia. Mengenai peristiwa loji Sungai Aur, kedua
pangeran itu berpendapat bahwa kedua sultan (Badaruddin II dan Najamuddin II)
sama-sama bersalah95. Semua informasi itu diterima dan ditelaah dengan baik
oleh Mayor Robison. Berbekal informasi-informasi yang diterimanya, Mayor
Robison memutuskan untuk melakukan perundingan dengan Badaruddin II. Pada
19 Juni 1812 Mayor Robison dan rombongannya berangkat menuju Muara
Rawas. Setiba mereka di sana disambut oleh Sultan Badaruddin II dengan penuh
rasa persahabatan (Bastin, 1954: 74; Woelders, 1975: 9).
Pertemuan pertama terjadi pada 27 Juni 1813. Mayor Robison meminta
penjelasan kepada Sultan Badaruddin II tentang sikapnya terhadap Inggris pada
ekspedisi 1812. Sultan Badaruddin II menjelaskan latar belakang keputusannya
untuk mundur ke daerah uluan. Hal itu disebabkan utusan yang dikirimkannya

95
Dalam arsip Bundel Palembang No 5.1, disebutkan bahwa di mata pemerintah
Belanda, Najamuddin II tidak melakukan tindakan untuk menentang atau mencegah
terjadinya peristiwa pembunuhan orang-orang Belanda 1811.

Universitas Indonesia
118

menghadap Gillespie ditawan. Pada kesempatan itu Gillespie juga menyatakan


bahwa pasukan Inggris tidak akan memberikan ampunan apabila mereka berhasil
menangkapnya, sedangkan benteng Borang telah diduduki oleh pasukan Inggris.
Di depan Mayor Robison, Sultan Badaruddin II berjanji akan bersikap baik
terhadap Inggris, sebagaimana yang selama ini dilakukannya terhadap Belanda.
Kesaksian lain yang diberikan oleh Sultan, bahwa dirinya tidak pernah
memberikan perintah membunuh orang-orang Belanda pada September 1811.
Sultan baru mengatahui hal tersebut setelah pertistiwa itu lama terjadi. Sultan
menegaskan bahwa ia hanya memerintahkan orang-orang Belanda itu dibawa
pergi sesuai permintaan Raffles. Kesaksian itu diperkuat dengan ditunjukkannya
bukti surat-surat, senapan dan amunisi dari Raffles kepada Sultan. Sultan berjanji
akan melakukan investigasi secara tuntas atas peristiwa tersebut, dan akan
menyerahkan orang-orang yang terlibat untuk dihukum. Karena Pangeran Ratu
dicurigai pihak Inggris terlibat dalam peristiwa tersebut, Badaruddin II pun
bersedia menyerahkannya bersama-sama dengan dua pejabat penting lainnya
dengan catatan keselamatan mereka dijamin Robison (ANRI, Bundel Palembang
No. 67).
Menurut Badaruddin II, dirinya tidak pernah menyerahkan urusan umum
kepada Pangeran Ratu. Sesuai ketentuan di Kesultanan Palembang, Pangeran Ratu
berada di bawah perwalian Pangeran Adipati (Najamuddin II). Apabila Pangeran
Ratu bersalah, berarti Najamuddin II juga ikut bersalah. Tindak lanjut dari
pertemuan itu adalah disepakatinya perjanjian pada tanggal 29 Juni 1813 (Bastin,
1954: 74-75).
Pada perjanjian antara Sultan Badaruddin II dan Robison memuat
beberapa poin antara lain:

a) Sultan Badaruddin II wajib membayar biaya ekspedisi sebesar 400 ribu


dolar Spanyol.

b) Sultan harus menyetorkan 15000 pikul lada setiap tahun dengan harga 3
dolar Spanyol per pikul, lada itu harus diserahkan di gudang Inggris di
Muntok.
c) Sultan Palembang harus membangun loji Belanda yang telah hancur atau
menggantinya dengan uang sebesar 20000 dolar Spanyol kepada Inggris.
d) Sultan akan mengesahkan penyerahan Pulau Bangka-Belitung dan pulau-
pulau disekitarnya kepada Inggris.

Universitas Indonesia
119

e) Sultan juga harus membuka dan menjamin kelancaran hubungan


Palembang dengan Lampung dan Bengkulu (ANRI, Bundel Palembang No.
67).
Di samping itu, Sultan Badaruddin II harus membeli semua candu yang
dibutuhkan dari pemerintah Inggris di Jawa dengan harga minimal 1.100 dolar
Spanyol per pikul. Sebagai imbalannya, Mayor Robison akan memberikan
pengampunan atas semua kesalahan Sultan Badaruddin II. Sultan Badaruddin II
juga akan diangkat kembali sebagai penguasa Palembang dengan persetujuan
Sultan Najamuddin II (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Bastin, 1954: 74-75;
Kielstra, 1892: 84).
Dilihat dari pasal-pasal kesepakatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
Sultan Badaruddin mengubah strateginya ketika berhadapan dengan Inggris yang
pada waktu itu diwakili oleh Mayor Robison. Demi kembalinya kekuasaan ke
tangannya, Sultan Badaruddin II merelakan lepasnya Pulau Bangka-Belitung dan
pulau-pulau lain di sekitarnya kepada Inggris. Sebelumnya, justru pasal tersebut
yang menjadi penyebab Inggris melakukan ekspedisi untuk menaklukkan
Palembang. Apakah hanya semata-mata faktor kekuasaan yang menyebabkan
Sultan berubah atau ada faktor lain? Hal itu dapat ditelusuri pada berbagai
peristiwa yang terjadi di Kesultanan Palembang pascapenaklukan April 1812.
Mulai dari pengkhianatan adiknya Pangeran Adipati yang tidak melakukan
perlawanan terhadap eskpdisi Inggris yang dipimpin oleh Gillespie (1812), diikuti
peristiwa dirinya diturunkan dari tahta secara sepihak oleh Inggris, dan Pangeran
Adipati menggantikannya. Sejak itu Palembang bergolak. Peristiwa itu belum
pernah terjadi dalam sejarah Kesultanan Palembang yang berdampak pada
kerugian bagi Palembang. Berbagai peristiwa itu dapat menjadi alasan Badaruddin
II mengubah strateginya dengan menerima semua persyaratan yang disodorkan
oleh Mayor Robison. Faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah semakin lama
di uluan kemampuan ekonomi Badaruddin II akan semakin melemah. Menurut
Sturler (1855: 14), salah satu faktor rakyat mendukung Badaruddin II karena
kekayaannya96. Apabila kekayaan itu habis, dukungan pun akan berkurang atau

96
Fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang
ini, dalam kaitannya dengan pemilihan secara langsung terhadap kepala-kepala daerah
atau pusat, yang sangat rawan “Politik Uang”. Akibatnya, dana yang besar yang telah
dikeluarkan menuntut pihak yang terpilih untuk “mengembalikan” dana yang sudah

Universitas Indonesia
120

hilang sama sekali. Tambahan pula, kondisi yang terus bergolak antarkedua
pendukung akan membuat rakyat semakin menderita.
Berdasarkan temuannya di uluan tentang peristiwa September 1811,
Residen Robison sampai pada kesimpulan bahwa telah terjadi ―pembunuhan
karakter‖ atas Badaruddin II. Kenyataannya Badaruddin II seorang yang sangat
taat, penuh kasih dan perhatian terhadap anak-anak dan saudaranya serta bersikap
liberal terhadap para bangsawan. Setelah para bangsawan mengetahui adanya
perjanjian antara Sultan Badaruddin II dan Mayor Robison, sebagian besar dari
mereka berangkat ke Muara Rawas, meninggalkan Sultan Najamuddin II untuk
menemui Sultan Badaruddin II dan menyatakan tunduk kepadanya. Setelah
urusannya di Kesultanan Palembang dianggap selesai, Mayor Robison kembali ke
Batavia pada akhir Juli 1813. Sesuai perjanjian, Mayor Robison membawa
Pangeran Ratu, beberapa priyayi dan menteri. Sementara itu, Najamuddin II juga
mengirim Pangeran Wiradiraja sebagai utusan ke Batavia dan uang empat puluh
laksa ringgit untuk diserahkan kepada penguasa Inggris di Batavia. Dalam Comment [DKM134]: Untuk apa???

laporannya kepada Gillespie, Pangeran Wiradiraja menyampaikan proses


penurunan tahta Najamuddin II. (Bastin, 1954:75-78; Woelders, 1975: 96).
Di Batavia, Mayor Robison mendapat kesempatan untuk menjelaskan
kondisi tentang pembantaian orang-orang Belanda kepada Raffles. Dia mengakui
bahwa dirinya menghadapi situasi paling sulit ketika mendapatkan suatu kisah
terpadu dari orang-orang Palembang tentang kekacauan yang terjadi di sana Comment [DKM135]: Maksudnya apa???

akibat diturunkannya Sultan Badaruddin II. Ia juga menjelaskan peristiwa


Pangeran Ratu yang telah menyodorkan surat mengenai kepergian orang-orang
Belanda yang telah ditandatangani oleh agen Raffles (Raden Muhamad). Padahal,
sesuai dengan ketentuannya, putera mahkota tidak boleh terlibat dalam urusan
umum dan segala sesuatu yang dilakukannya harus berada di bawah kendali
walinya yaitu Najamuddin II. Di sini tampak bahwa Raden Muhamad telah jauh
bertindak melebihi wewenangnya. Oleh karena itu, Robison mengatakan bahwa
kedua agen Raffles (Raden Muhamad dan Said Abubakar Rumi) adalah petualang
yang licik (Bastin, 1954:75-78).

dikeluarkan. Keadaan ini membuat makin “suburnya” korupsi di segala lini. “Janji-janji”
yang diumbar kepada rakyat pemilih “hanya tinggal janji”.

Universitas Indonesia
121

Penjelasan rinci yang disampaikan oleh Robison seputar kebijakan yang


telah diambilnya dan alasan-alasan logis yang mendasari kepada Raffles, tidak
mampu merubah keputusan Raffles untuk memecatnya. Raffles lebih memilih
laporan yang disampaikan oleh utusan Sultan Najamuddin II yaitu Pangeran
Wiradiraja. Di mata Raffles laporan Robison tidak berarti apa-apa, karena
Robison telah melakukan kebijakan yang bertentangan dengan keputusannya.
Sesuai kesepakatan antara Najamuddin II dan Inggris bahwa Inggris harus
mempertahankan kedudukannya sebagai konpensasi atas diserahkannya Pulau
Bangka-Belitung dan pulau-pulau di sekitarnya kepada Inggris

3.2 Pergantian Kekuasaan

Setelah menandatangani kontrak tersebut, pada 1 Juli 1813 Robison bersama-


sama dengan rombongan Sultan Badaruddin II dari daerah Muara Rawas kembali
ke Palembang. Kedatangan Sultan Badaruddin II di Palembang untuk menduduki
tahtanya kembali (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1). Sultan Najamuddin II
diturunkan pada 13 Juli 1813. Pada saat itu pula Sultan Badaruddin II dinaikkan
kembali tahtanya sebagai sultan Palembang. Sultan Badaruddin II menempati
kembali Keraton Kuto Besak, sedangkan Najamuddin II ditempatkan di keraton
Kuto Lamo. Kepada Najamuddin II dianugerahi kedudukan sebagai Sultan
Bangka atau Sultan Ogan97 dan akan mendapat gaji tahunan. Apabila Sultan
Badaruddin II wafat, kebijakan selanjutnya diserahkan kepada pemerintah pusat
di Batavia, untuk menentukan siapa yang akan menjadi sultan di Palembang,
Najamuddin II atau tidak (ANRI, Bundel Palembang No. 67). Apakah akan
menjadi Sultan Bangka atau Ogan serta apakah ada kemungkinan menjadi
pengganti Sultan Badaruddin II apabila Sultan Badaruddin II mangkat? Semua itu
menunjukkan bahwa baik gelar maupun kemungkinan menjadi penganti Sultan
Badaruddin II hanyalah ―pemanis‖ agar Najamuddin II tidak terlalu kecewa. Hal

97
Menurut Stapel (1940: 85), Sultan Najamuddin II mendapat gelar Sultan Ogan
sebagai pengganti gelar Sultan Bangka yang sebelumnya telah diberikan kepadanya.
Setelah Sultan Badaruddin II wafat, kemungkinan dirinya diperbolehkan
menggantikannya.

Universitas Indonesia
122

ini juga merupakan bukti bahwa Najamuddin II tidak memiliki pengaruh apapun
di Kesultanan Palembang.
Apa yang dilakukan oleh Mayor Robison terjadi tanpa sepengetahuan
pemerintah Inggris di Batavia98, sehingga ditolak oleh pemerintah Inggris dan
mengambil tindakan untuk memulihkan kedudukan Najamuddin II sebagai satu-
satunya sultan. Pemerintah Batavia mengirimkan dua ratus pasukan darat dan laut
untuk menurunkan Badaruddin II. Colebrooke diangkat sebagai komandan
ekspedisi, agen polisi dan residen untuk Bangka-Palembang. Tugasnya
membentuk komisi untuk memulihkan jabatan Najamuddin II. Pasukan ekspedisi
ini tiba di Palembang pada 13 Agustus 1813. Keesokan harinya (14 Agustus
1813) digelar upacara penurunan Sultan Badaruddin II dan penobatan kembali
Sultan Najamuddin II dengan pembacaan dekrit yang dikeluarkan di Batavia 4
Agustus 1813 (7 Syaban 1228 Hijriah). Pemerintah Inggris mengembalikan semua
uang yang telah diserahkan oleh Badaruddin II kepada Mayor Robison, beserta
bunganya. Selama masa pemerintahan Sultan Badaruddin II yang singkat, ia telah
menunjukkan kesetiaan kepada Inggris. Atas kesetiaan itu, Raffles memberikan
ampunan dan perlindungan kepada Badaruddin II, dengan syarat Badaruddin II
tidak melawan Sultan Najamuddin II, demi terciptanya perdamaian di Palembang
(ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No.67; Bataviaasche Courant, 4 Agustus Comment [DKM136]: Menyebut ANRI nya
sekali saja.
1821; Kaiser, 1857: 95; Stapel, 1940: 98-99; Kielstra, 1892: 85).
Untuk itu, pemerintah Inggris mewajibkan Sultan Najamuddin II untuk
memenuhi kebutuhan makanan Badaruddin II berupa dua koyang beras setiap
bulan dan sewaktu-waktu menyediakan seratus orang pendayung dan dua ratus
orang pekerja (Perjanjian 21 Agustus 1813 pasal 7), serta menyediakan sebidang
tanah untuk berburu. Badaruddin II yang sudah dua kali diturunkan dari tahta,
sangat marah dengan adanya dekrit tersebut. Akan tetapi ia pasrah dengan
nasibnya dan memilih untuk tetap tinggal di ibu kota Palembang sebagai orang
biasa yang menempati keraton Kuto lamo. Dengan tetap tinggalnya Sultan
Badaruddin II di ibu kota Palembang, kondisi di uluan menjadi tenang. Hal ini
tidak terlepas dari usaha pemerintah Inggris menjaga keamanan di Kesultanan

98
Dengan peristiwa tersebut Robison dipecat, posisinya digantikan oleh
Colebrooke (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Kaiser, 1857: 95).

Universitas Indonesia
123

Palembang. Sementara itu, kedua orang puteranya tetap dibawa ke Batavia sesuai
perjanjian antara Sultan Badaruddin II dan Mayor Robison (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; No. 5.1; Kemp, 1900: 336-337; Woelders, 1975: 96). Comment [DKM137]: s.d.a

Setelah penobatan kembali Najamuddin II sebagai sultan, dilakukan


perjanjian antara Sultan Najamuddin II dan pemerintah Inggris yang disepakati
pada 21 Agustus 1813 memuat beberapa pasal yang harus dipenuhi oleh Sultan
Najamuddin II, antara lain :
- Sultan Najamuddin II, para ahli waris dan penggantinya, atas nama semua
pangeran, mantri dan para kepala adat Palembang akan menyerahkan hak
kekuasaan mutlak atas pulau Bangka, pulau Belitung dan pulau-pulau kecil
yang terletak di sekitarnya kepada Raja Inggris dan EIC (Maskapai
Dagang Hindia Timur). Sultan wajib membebaskan setiap orang datang
dan pergi dari dan ke Palemban-Bangka untuk melakukan berbagai
aktivitas di kedua tempat tersebut. Sultan juga wajib melindungi dan
menjamin kebebasan orang-orang Cina dan Arab yang menetap di
Palembang (Pasal 1).
- Sultan Najamuddin II wajib membuka hubungan dengan Bengkulu dan
Lampung (Pasal 2).
- Sultan Najamuddin II wajib untuk menyetorkan semua hasil bumi apabila
diminta oleh Kompeni Inggris dengan ganti rugi yang layak (Pasal 3).
- Kompeni Inggris bersedia melindungi Sultan Mahmud Badaruddin II dan
Sultan Ahmad Najamuddin II wajib untuk membuat keputusan yang
positif bagi Badaruddin II (Pasal 4).
- Sultan Najamuddin II wajib menyerahkan sebidang tanah kepada Kompeni
Inggris untuk mendirikan benteng dan beberapa kantor (Pasal 5).
- Sultan wajib meminta persetujuan dari residen untuk membangun proyek
pertahanan (Pasal 6).
- Sultan wajib memenuhi penyediakan 2 koyang beras kepada Badaruddin
II setiap bulan, seperti yang termaktub dalam pasal 4. Sultan Najamuddin
II harus menyediakan 100 orang tenaga pendayung dan 200 orang tenaga
kerja untuk Badaruddin II apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Sultan juga
wajib menyerahkan sebidang tanah untuk berburu kerbau. Apabila terjadi

Universitas Indonesia
124

perbedaan pendapat antara Sultan Najamuddin II dan Badaruddin II maka


Sultan Najamuddin II wajib tunduk pada keputusan Residen Inggris di
Palembang (Pasal 7) (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Setelah Badaruddin II diturunkan dari tahta, ia melakukan konsolidasi
dengan melakukan pendekatan kepada para bangsawan dalam usaha
memperlemah kekuasaan Sultan Najamuddin II. Akibatnya, residen melarang
setiap orang yang akan mengunjungi mantan Sultan itu. Akan tetapi, Badarudin II
tetap mendapat dukungan dari para depati dari uluan. Pada saat itu Badaruddin II
diminta residen untuk menyerahkan pusaka kerajaan kepada Najamuddin II.
Untuk masalah ini, ia menolaknya, karena dirinyalah yang berhak atas pusaka-
pusaka tersebut sebagai sultan yang sah. Akibatnya, suatu kesatuan pasukan
Inggris disiapkan untuk memaksa Badarudin II mengubah sikapnya. Dengan
terpaksa Badaruddin II menyerahkan pusakanya. Dia dibawa ke tangsi Inggris dan
ditahan di sana selama tiga hari (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Sturler,
1855:14).
Setelah Mayor Robison tiba di Batavia, muncul desas-desus di Batavia
bahwa Robison menerima suap dari Badaruddin II dalam upaya memulihkan
kekuasaannya. Ia dituduh telah memalsukan laporan, khususnya mengenai uang
yang disetorkan oleh Badaruddin II kepadanya. Akan tetapi, pendapat itu ditolak
oleh pemerintah Inggris di Calcutta. Menurut pemimpin di sana, tidak terdapat
bukti telah terjadi pelanggaran oleh Robison99. Bukti-bukti yang diajukan kacau
dan saling bertentangan. Robison sangat yakin kalau Badaruddin II tidak tahu
apalagi memerintahkan untuk melakukan pembantaian terhadap orang-orang di
loji Sungai Aur (1811). Robison menuding Raffles sebagai orang yang harus
bertanggung jawab atas peristiwa tersebut100. Menurut Kampen dalam Bastin

99
Terjadi perbedaan pendapat antara Raffles dan Gubernur Jenderal Lord
Minto tentang uang sogokan yang dipermasalahkan oleh Raffles. Ada dua kemungkinan
hal itu terjadi, pertama, karena Robison tidak terbukti melakukan hal itu, kedua, eratnya
hubungan antara Robison dan Lord Minto, sehingga Minto melindunginya. Akan tetapi,
pembelaan Minto tidak membatalkan pemecatan Robison sebagai residen Inggris di
Palembang. Itu semua membuktikan bahwa otonomi penguasa Inggris di daerah koloni
besar.
100
Pada saat pendudukan Pulau Jawa, Robison bertugas sebagai ajudan Gubernur
Jenderal Lord Minto. Selanjutnya menjadi sekretaris pemerintah Inggris di Batavia. Sejak itulah
telah terjadi pertentangan antara Raffles dan Robison. Dengan tuduhan Robison terlibat dalam

Universitas Indonesia
125

(1954:73), dinyatakan bahwa Robison bersalah karena telah melakukan tindakan


yang menyimpang dari ketentuan pemerintah pusat di Batavia. Pendapat ini
didukung oleh De Haan, juga dalam Bastin, dengan mengatakan Robison orang
yang tidak jujur. Tetapi Kemp, meragukan pendapat tersebut. Baginya Robison
telah melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan kondisi pada waktu itu (Bastin,
1954: 73-76).
Dari berbagai pendapat tersebut tentang bersalah atau tidaknya Robison,
dapat dipastikan bahwa apabila dilihat dari ketidakpatuhan Robison mengemban
misinya, ia dapat dinyatakan sebagai orang yang bersalah. Akan tetapi, kondisi
pada waktu itu dalam keadaan darurat, sehingga dibutuhkan kebijakan lain yang
mampu meredam kekacauan yang ada. Jadi, tergantung dari sudut mana
memandangnya. Jarak yang jauh dan transportasi yang sulit antara Palembang dan
Batavia, menyebabkan pertimbangan-pertimbangan aktual yang terjadi di
lapangan lebih menentukan kebijakan apa yang harus dilakukan. Atas
pertimbangan tersebut, kebijakan Robison dapat dibenarkan. Beberapa peristiwa
dapat dijadikan rujukan tentang perubahan kebijakan sesuai dengan kondisi pada
saat peristiwa tertentu terjadi. Contohnya, Raffles memutuskan untuk menyerang
Palembang (1811) tanpa berkonsultasi terlebih dahulu kepada Lord Minto, karena
ingin menguasai Pulau Bangka, dan keputusan itu diterima Lord Minto. Contoh
lain, dapat dirujuk pada pendapat Day (1972:149), bahwa karena jarak yang
sangat jauh dengan teknologi perkapalan yang masih sederhana, sehingga surat
yang dikirimkan dari negeri Belanda pada Maret 1800, diterima lima bulan
kemudian yaitu Agustus 1800. Akibatnya, gubernur jenderal di Batavia
menggunakan ide-idenya sendiri dalam menjalankan tugas, ia kurang
mengindahkan instruksi dari Negara induk.

beberapa kekacauan, ia dipecat oleh Raffles (laporan kepada Lord Minto pada bulan Januari 1812).
Raffles baru menerima Robison kembali dengan mengangkatnya sebagai Residen Bangka-
Palembang. Peristiwa pengangkatan kembali Badaruddin II sebagai sultan oleh Robison
menyebabkan Raffles berang dan melaporkan hal ini kepada Lord Minto di Calcutta. Akan tetapi
laporan ini tidak mendapat tanggapan, sehingga Raffles membawanya ke London (Kemp, 1900:
75; Kemp, 1898: 335). Sementara itu, Badaruddin II juga melakukan pembelaan diri. Surat-surat
pembelaannya diserahkan oleh Robison pada pemerintah Inggris di Calcutta tahun 1814. Dalam
pembelaannya Badaruddin II mengajukan permintaan agar kedudukannya dipulihkan (Kaiser,
1857: 96; Bastin, 1954: 77).

Universitas Indonesia
126

Selama perintahan Sultan Najamuddin II, ia terkenal sebagai orang yang


mudah terpengaruh oleh nasehat orang-orang di sekitarnya. Ia tidak mempunyai
pendirian yang teguh, apalagi kondisi fisiknya lemah karena sering dilanda sakit.
Pada awal pemerintahannya, Sultan sangat bergantung kepada Pangeran Adipati.
Masa pemerintahan Sultan Najamuddin II tidak berjalan dengan baik. Sultan tidak
memiliki kekayaan untuk menopang kekuasaannya, sedangkan sumber kekayaan
utama yaitu timah dan lada dari Bangka-Belitung, telah diserahkan kepada
Inggris. Sultan Najamuddin II juga tidak memiliki banyak pendukung, baik di
kalangan bangsawan maupun rakyat. Apalagi pada masa pemerintahannya banyak
melakukan pemerasan terhadap rakyat, misalnya memperbanyak komoditi yang
sebelumnya tidak termasuk ke dalam tibang dan tukong (beras, lada, kopi gambir,
lilin, rotan, dan kerbau) dengan harga yang lebih tinggi dan berlangsung minimal
dua kali setahun. Pelanggaran hukum juga meningkat, sehingga tidak ada
ketertiban. Di perbatasan Lampung dan Bengkulu banyak terjadi kekacauan, juga
di daerah uluan dan perairan Palembang-Bangka. Sebaliknya, Badaruddin II
mendapat dukungan besar dari para bangsawan dan ia menggalang kekuatan
mengambil kembali tahtanya. (ANRI, Bundel Palembang No. 70.3; Bataviaache
Courant, 4 Agustus 1821).
Konsekuensi lain dari dilepaskannya Pulau Bangka kepada Inggris, para
pemimpin lokal seperti depati, batin, dan teko101 yang selama berada di bawah
kekuasaan sultan-sultan Palembang mendapat keuntungan dari tambang timah,
kehilangan ―kenikmatan‖ tersebut. Hal ini mengakibatkan mereka memendam
rasa untuk melepaskan diri dari kendali pemerintah Inggris. Para penguasa lokal
itu menggalang dukungan dari rakyat Bangka-Belitung untuk menciptakan
kerusuhan, merompak, dan membunuh di Kepulauan itu dan pulau-pulau di
sekitarnya (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 5.1).

101
Batin adalah gelar kepala wilayah di Johor (sekarang Lingga dan Singapura), posisinya
berada di bawah Orang Kaya dan di atas Pengulu. Kemungkinan hal itu dapat dikaitkan dengan
banyaknya orang Johor di Pulau Bangka. Batin diangkat sultan Palembang yang berfungsi sebagai
pemimpin penduduk pada wilayah tertentu di Pulau Bangka. Penduduk Bangka sangat taat pada
para depati/batin. Mereka menyerahkan persembahan berupa beberapa gantang padi setiap
tahunnya kepada para depati/batin. Di Kesultanan Palembang, kata Batin berkembang menjadi
Perwatin atau Proatin (orang yang memiliki kekayaan lebih dari masyarakat umumnya yang juga
bisa diartikan sebagai ―anak buah‖ Depati) (Clercq, 1845: 125; Korten Schets.., 1846: 132-133).

Universitas Indonesia
127

Residen M.H. Court berhasil mempertahankan ketenangan di Palembang,


namun karena kekuasaan Sultan Najamuddin II hanya disekitar ibu kota
Palembang, ia tidak mampu memperluas pengaruh sampai keseluruh wilayah
Kesultanan Palembang. Dengan berbagai cara Sultan Najamuddin II terus
berusaha untuk memperlemah agar Badaruddin II menyerah. Yang terjadi justru
sebaliknya, Badaruddin II mengobarkan perlawanan, sehingga terjadi saling
serang dari masing-masing pendukung kedua bersaudara itu. Penguasa Inggris di
Palembang harus selalu waspada terhadap kerusuhan dan perpecahan. Sultan
Badaruddin II banyak memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Sultan
Najamuddin II, misalnya tegas dalam bersikap, keahlian dalam berunding dan
ketajaman dalam berpikir. Di mata M.H. Court, Najamuddin II adalah seorang
raja yang patuh tetapi lemah (Kielstra, 1892: 85-87). Pada dasarnya, ketenangan
yang ada hanya semu, karena setiap saat dapat meletus kekacauan antara kedua
kelompok yang bertikai.
Kondisi tersebut semakin hebat sejak Inggris keluar dari Palembang
(1016). Penduduk terbelah dan saling benci. Sehubungan dengan itu, rakyat
Palembang yang paling menderita. Pemerintah Belanda di Batavia tidak tenang Comment [DKM138]: Di mana
menderitanya???
dengan kondisi yang ada, sehingga memandang perlu adanya intervensi dan
memutuskan mengirim orang yang kuat dan mampu mengatasi berbagai
permasalahan. Pilihannya jatuh pada Komisaris Muntinghe (ANRI, Bundel
Palembang No. 70.3). Pilihan pemerintah Belanda yang jatuh ke tangan
Muntinghe. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Belanda
memandang kondisi di Kesultanan Palembang sudah kritis, sehingga
membutuhkan penanganan segera untuk menghindarkan hal-hal yang lebih buruk
di Palembang.
Apa yang terjadi di Kesultanan Palembang setelah Belanda diusir dari
Palembang, adalah sebagai akibat dari penolakan Sultan Badaruddin II atas usul-
usul yang dibawa oleh utusan Inggris (Nopember 1811). Akibatnya, Inggris
melakukan ekspedisi dan menduduki Kesultanan Palembang. Inggris menjalankan
politik devide et impera dengan cara menempatkan Pangeran Adipati yang
merupakan adik Sultan Badaruddin II sebagai Sultan Palembang dengan gelar
Sultan Ahmad Najamuddin II. Kondisi ini memaksa Sultan Badaruddin II yang

Universitas Indonesia
128

telah mundur ke uluan melakukan perlawanan dan memblokade jalur pelayaran


dan perdagangan dari daerah uluan.
Masa pemerintahan Najamuddin II menempatkan Palembang semakin
mundur di segala bidang. Sedangkan Inggris hanya memfokuskan
pemerintahannya di Bangka demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari
timah dan lada. Akibatnya Inggris kurang mempedulikan kondisi Palembang
khususnya di uluan. Banyak terjadi pemerasan terhadap rakyat, makin
merajalelanya perampokan dan perampasan manusia di perbatasan Lampung dan
Bengkulu. Walaupun demikian, masa pemerintahan Inggris secara umum kondisi
keamanan dapat dikendalikan, khususnya yang berkaitan dengan Pulau Bangka.
Inggris juga berhasil meredam pertikaian terbuka antara dua bersaudara yaitu
Najamuddin II dan Badaruddin II.

3.3 Pemerintahan Inggris (1812-1816) di Palembang

Sejak berada di bawah kendali pemerintah kolonial Inggris, Kesultanan


Palembang kehilangan sumber pendapatan utamanya yaitu Pulau Bangka, pulau
penghasil timah dan lada terbesar. Inggris menempatkan pusat kekuasaannya di
Muntok, sebagai pusat pemerintahan Inggris untuk wilayah Palembang dan
Bangka-Belitung. Muntok menjadi tempat kedudukan residen, yang juga
berfungsi sebagai pos komandan pasukan, kepala pengadilan dan kepala
pelabuhan. Di Muntok pula tempat bermukimnya demang, penghulu kepala, dan
Kapten Cina Bangka lainnya. (Veth, 1869: 534).
Di dekat kota Muntok, yang berjarak dua mil (3218 meter) di sebelah barat
laut, pemerintah kolonial Inggris membangun Fort Nugent. Benteng itu diberi
nama Fort Nugent untuk menghormati Jenderal George Nugent (Panglima
Angkatan Darat yang bertugas di India) (Thorn, 2004: 173). Tempat ini dijadikan
pangkalan militer oleh pemerintah Inggris dengan menempatkan 200 orang
serdadu, dipimpin oleh Mayor Raban. yang dibantu oleh Letnan Clode. Letak

Universitas Indonesia
129

benteng itu strategis102, perairannya dalam, dan tanah di sekitar benteng Nugent
kering, sehingga memudahkan kapal-kapal Inggris merapat. Tambahan pula, dan
perahu-perahu dapat merapat ke pantai. Di sisi timur Pulau Bangka juga akan
dibangun Fort Wellington untuk menghormati Jenderal Lord Viscount
Wellington, dari angkatan darat Inggris (ANKL, House of Lord vol.19, 1835; Java
Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Thorn, 2004: 173; Waey, 1875: 102; Veth,
1959: 534).
Sesuai dengan tujuan utama Inggris menduduki Kesultanan Palembang
untuk menguasai Pulau Bangka, sejak diserahkan berdasarkan Perjanjian 17 Mei
1912, Pulau Bangka dikelola dengan baik di bawah pimpinan residen militer
Kapten R. Meares, Mayor W, Robison, Colebrooke dan Mayor M.H. Court.
Inggris membuka lahan-lahan pertambangan timah baru, mendatangkan pekerja
dari Kanton Cina, memberantas penyelundupan. Akibat kebijakan tersebut
produksi timah meningkat empat kali lipat pada kurun waktu 1814-1816 (lihat
tabel 1 dan 2) (Woelders, 1975: 10). Pemerintah Inggris juga menerapkan harga
yang layak untuk timah yaitu delapan dollar Spanyol per pikul, sebagai usaha
menghindari terjadinya perdagangan gelap sebagaimana selama ini terjadi pada
masa pemerintahan Belanda (Inggris terlibat secara aktif di dalamnya). Strategi itu
ternyata tidak menguntungkan pemerintah Inggris, sehingga dibentuk sebuah
komisi yang dipimpin oleh Dr. Horsfield (orang Amerika) guna menyelidiki hal
tersebut. Ia juga melakukan penelitian tentang kekayaan alam Pulau Bangka
sekaligus mengeksploitasi lahannya (Bastin, 1954: 98; Korte Schets…,1846:126).
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian itu adalah bahwa pola
eksploitasi harus diubah yaitu dengan cara sistem pengupahan timah secara
langsung dengan harga enam dollar Spanyol per pikul. Pengawasannya dilakukan
secara langsung oleh para pengawas Eropa yang dipimpin oleh seorang inspektur
pertambangan103. Petugas tersebut juga memberikan insentif kepada para

102
Pelabuhan sebelumnya adalah Muntok yang kurang menguntungkan, karena
pelabuhannya dangkal, dan tanahnya basah sehingga menyulitkan kapal-kapal dan
perahu-perahu merapat. Kondisi itu diperparah dengan adanya celah karang yang
membahayakan kapal-kapal yang mendekati pelabuhan tersebut. Contohnya pada 1820
kapal perang Inggris Galathea tenggelam di perairan tersebut.
103
Pada masa sebelumnya yang bertugas menangani masalah tersebut adalah
teko (orang-orang keturunan Cina yang sudah memeluk Islam dan diangkat oleh Sultan

Universitas Indonesia
130

penambang yang berhasil mengumpulkan timah lebih banyak. Cara-cara di atas


menyebabkan terjadi lonjakan produksi dari tahun ke tahun, yang angkanya dapat
dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Produksi Timah Bangka (1813-1815)

Tahun Total Produksi (pikul) Persentase (%)


1812 10.000 -
1813 7.300 -27%
1814 19.150 162%
1815 25.200 32%
Total 61.650 167%
Sumber : Kaiser, 1857: 99; Hoek, 1862:117.
Dari tabel 1 di atas, tampak bahwa terjadi penurunan produksi timah pada
awal pemerintahan Inggris di sana. Hal itu disebabkan Inggris masih dalam tahap
konsolidasi di semua bidang, dan belum tertibnya pengawasan terhadap
pertambangan timah. Kondisi tersebut memberi peluang penyelundupan yang
sebelumnya banyak terjadi yang terus-menerus berlangsung, apalagi pada awal
pemerintahannya di Bangka, Inggris masih menggunakan sistem lama yaitu
pengelolaan tambang-tambang timah dipegang oleh kongsi yang bertanggung
jawab kepada teko. Setelah masa konsolidasi selesai, terjadi lonjakan produksi
timah pada 1814-1815 rata-rata sebesar 97 persen (kenaikan tertinggi sebesar
162% terjadi pada tahun 1814 yaitu dari 7.300 pikul pada tahun 1813 menjadi
19.150 pikul). Meningkatnya produksi itu disebabkan dilakukannya berbagai
kebijakan, antara lain, memperluas lahan penambangan, yang diikuti dengan
penambahan jumlah kuli dan dilakukan pengawasan langsung oleh pengawas-
pengawas Eropa. Pada masa pemerintahan M.H. Court, kondisi di Kesultanan
Palembang secara umum sudah terkendali. Hal itu menyebabkannya pemerintah
dapat berkonsentrasi untuk mengembangkan pertambangan timah. Demi
mempertahankan kondisi yang telah ada, Residen M.H. Court menindak tegas

Palembang sebagai penguasa tambang timah). Kelompok itu membawahi para


penambang Cina. Urusan pengelolaan ditangani oleh kongsi yang bertugas melakukan
pembukuan, mengirimkan laporan dan timah kepada teko di Palembang (ANRI, Bundel
Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
131

setiap pelanggaran yang terjadi di Kesultanan Palembang (ANRI, Bundel


Palembang No. 22.5).
Dari banyaknya produksi timah, dapat diketahui besarnya pengeluaran dan
keuntungan dari produksi tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2
berikut.

Tabel 2. Total Pengeluaran dan Keuntungan dari Produksi Timah (1812-


1815)

Tahun Pendapatan Pengeluaran Keuntungan Persentase


(ruppe) (ruppe) (ruppe)
(%)/Th
1812-1813 684.966,74 420.809,84 264.156,90 39%
1813-1814 931.113,40 567.967,40 363.146 39%
1814-1815 1.593.929,38 740.558,24 853.371,14 54%
Total 3.209.009.60 1.729.335,48 1.480.674,04 132
Sumber : Kaiser, 1857: 96.
Pada 1812-1813 diperoleh keuntungan sebesar 264.156,90 ruppe (39%),
yang merupakan selisih dari pendapatan sebesar 684.966,74 ruppe dan
pengeluaran sebesar 420.809,84 ruppe. Jumlah keuntungan tersebut, merupakan
jumlah terkecil sepanjang masa pendudukan Inggris di Kesultanan Palembang.
Hal itu tidak bisa dilepaskan dari masa awal pendudukan di daerah tersebut. Pada
masa itu pula, terjadi perang antara pasukan gabungan Bangka-Palembang dan
pasukan Badaruddin II di Boya Lango yang membutuhkan dana yang tidak
sedikit. Meskipun demikian, tampak terjadi surplus dari pendapatan timah. Hanya
dari penjualan timah saja, sudah mampu menutupi seluruh pengeluaran Inggris di
Kesultanan Palembang. Ini semua menunjukkan betapa besar keuntungan yang
dapat mereka peroleh dengan menguasai Pulau Bangka. Tahun-tahun berikutnya,
pendapatan mencapai 1.524.042,78 ruppe dan pengeluaran Inggris sebesar
1.307.525,64 ruppe, serta keuntungan sebesar 1.216.517,14 ruppe. Cukup
tingginya pengeluaran disebabkan terjadi berbagai perlawanan dan blokade dari
uluan. Pemerintah Inggris di Batavia mengirimkan ekspedisi militer ke
Palembang untuk menurunkan Sultan Badaruddin II. Berbagai pergolakan dan
pengiriman ekspedisi membutuhkan biaya besar. Periode itu juga merupakan

Universitas Indonesia
132

awal pemerintahan kolonial Inggris meletakkan kekuasaan di Kesultanan


Palembang, otomatis membutuhkan biaya yang besar. Ditopang pula dengan
usaha pihak Inggris menambah penambangan-penambangan timah baru dan
penambahan tenaga kerja yang diawasi langsung oleh para petugas Eropa.
Meskipun demikian, pemerintah Inggris di Bangka-Palembang masih mampu
membukukan keuntungan yang besar. Bertambahnya keuntungan tidak dapat
dilepaskan dari makin meningkatnya pendapatan dari timah. Jadi, meskipun
pengeluaran bertambah, keuntungan tetap meningkat karena penghasilannya juga
bertambah. Selanjutnya, keuntungan Inggris semakin besar karena kondisi
keamanan yang baik di wilayah itu, sehingga segala bentuk gangguan dapat
diatasi. Inilah era yang telah diperkirakan oleh Raffles sebelumnya, sehingga ia
melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pulau penghasil timah itu sejak
akhir 1810.
Produksi timah sebagian besar dijual ke Cina, sisanya ke Muntok dan
Batavia. Hubungan dagang dengan Cina pada waktu itu sangat menguntungkan.
Terdapat delapan sampai dua belas jung Cina keluar masuk pelabuhan Palembang
dengan membawa berbagai komoditi dagang dari dan ke Palembang. Para penjual
tidak diperkenankan untuk mengekspor timah ke Inggris, karena akan
mengakibatkan produksi tambang timah di Cornwallis di Inggris akan mengalami Comment [DKM139]: Berapa besar hasil tima
di Cornwallis?? Ini Cornwallis di mana? Ada
kerugian (Kaiser, 1857: 99; Waey, 1875: 103). beberapa tempat dan benteng yang bernama
Cornwallis. Pastikan!
Pemerintah Inggris di bawah Residen M.H. Court di Kesultanan
Palembang hanya memfokuskan diri pada produksi dan perdagangan timah.
Pemerintahan dijalankan secara otokratis dalam rangka terjaminnya pasokan
timah. Penguasa umumnya dipegang oleh militer sesuai dengan sistem perintahan
yang dijalankan. Sementara itu, dalam urusan pemerintahan di Kesultanan
Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sultan Najamuddin II, Inggris tidak
ikut campur tangan. Akan tetapi pemerintah kolonial Inggris sangat
memperhatikan keamanan khususnya di jalur Bangka-Palembang dan di Pulau
Bangka. Akibatnya, selama masa pemerintahan Inggris, Kesultanan Palembang Comment [DKM140]: Mengapa?? Adakah
gangguan jalur itu, misalnya perampok???
berjalan damai. Inggris berhasil mengamankan perairan Palembang-Bangka dari
para bajak laut yang sejak lama menjadi ―penyakit kronis‖ di kawasan itu. Karena
kondisi tersebut, Pemerintah Inggris menarik sebagian besar pasukan

Universitas Indonesia
133

keamanannya, dari 200 orang serdadu pribumi menjadi 40 orang serdadu (Java
Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Kemp, 1900: 337; Waey, 1875: 103; Kaiser,
1857: 99; Thorn, 2004: 163).
Kondisi tersebut berubah dengan adanya perubahan konstelasi politik di
Eropa, yang menempatkan Belanda kembali sebagai negara bebas lepas dari
kekuasaan Prancis. Pada 2 Desember 1813 Pangeran Orange menerima kekuasaan
tersebut dengan gelar Raja Willem I. Tindak lanjut dari terbebasnya Belanda dari
pengaruh kekuasaan Prancis, adalah ditandatanganinya Traktat London pada 13
Agustus 1814 (diumumkan di Java Government Gazette pada 13 Juli 1816) antara
pemerintah Inggris dan Belanda. Traktat London pasal 1 menyatakan bahwa
semua loji dan pangkalan yang menjadi milik Belanda sebelum 1 Januari 1803
akan dikembalikan kepada Raja Belanda yang berdaulat, kecuali Tanjung Harapan
dan koloni Demerary, Essequebo dan Berbice di Barat. Berarti Palembang juga Comment [DKM141]: Anda cek, bunyi pasal
dari Traktat London I!
kembali berada di bawah pengaruh Belanda. Dalam pasal 2 dari traktat yang sama
disebutkan bahwa Pulau Bangka diserahkan sepenuhnya kepada Belanda, sebagai
penggantinya Belanda memberikan Cochin dan sekitarnya di pantai Malabar
kepada Inggris (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Bataviaasch Courant, 26 Juni
1819, nomor 26).
Ketentuan tersebut tidak berkaitan dengan posisi Pulau Bangka yang
menjadi milik Kesultanan Palembang, yang telah diserahkan oleh Sultan
Najamuddin II kepada Inggris sejak Mei 1812. Menurut sumber Inggris, wilayah
Belanda yang harus dikembalikan kepada Belanda tidak termasuk Pulau Bangka
di dalamnya. Inggris berpatokan bahwa Pulau Bangka tidak pernah menjadi milik
Belanda. Pasal 2 Traktat London ditolak pelaksanaannya oleh pemerintah Inggris
di Hindia Timur. Langkah yang ditempuh oleh Inggris adalah ―memberikan
perlindungan kepada Sultan Najamuddin II‖, sesuai isi kontrak Mei 1812 antara
wakil pemerintah Inggris di Hindia Timur dan Sultan Najamuddin II. Atas dasar Comment [DKM142]: Berikan catatan kaki,
sekalian pasal berapa yang menyatakan demikian!
ketentuan tersebut, Gubernur Inggris mengajukan protes kepada pemerintah
Belanda atas pelanggaran hak-hak Sultan Palembang yang dijamin oleh
pemerintah Inggris. Lebih lanjut, Inggris menolak pula untuk menyerahkan Pulau
Bangka dengan alasan bahwa pulau tersebut telah diserahkan kepada Inggris yang
pada waktu itu berstatus merdeka. Menurut versi Inggris, dasar yang digunakan Comment [DKM143]: Rujukan Anda!

Universitas Indonesia
134

untuk menuntut dihormatinya perjanjian dengan Kesultanan Palembang, karena


perjanjian itu secara resmi diakui baik oleh raja Inggris maupun raja Belanda.
Kesultanan Palembang dianggap tidak tergantung pada pemerintah Belanda di
Batavia, sehingga penyerahan Bangka tidak akan dilakukan sesuai Traktat London
(1814). Pihak Inggris meminta agar ketentuan tersebut disisipkan dalam traktat Comment [DKM144]: Kesepakatan mana??

dan raja Belanda menerimanya. (ANKL, The Asiatic Journal, 1819 Vol. 7).
Komisaris Belanda menolak klaim Inggris tersebut, karena mengacu pada
Traktat London Pasal 1 dan Pasal 2. Dalam pasal 2 disebutkan bahwa Inggris
harus menyerahkan Pulau Bangka tanpa syarat kepada Belanda. Komisaris
Belanda mempertanyakan, atas dasar apa Sultan Palembang dianggap sebagai
sultan merdeka, sedangkan pada waktu itu Palembang di bawah perlindungan
pemerintah Inggris (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No. 67; Bataviaasch
Courant, 26 Juni 1819, nomor 26; Woelders, 1975: 11). Terjadi penafsiran yang Comment [DKM145]: s.d.a

berbeda antara pemerintah Belanda dan Inggris di Hindia Timur. Pemerintah


Inggris sengaja mengangkat isi perjanjian antara pihaknya dan Sultan Najamuddin
II semata-mata demi mempertahankan Pulau Bangka yang telah memberikan
keuntungan luar biasa bagi mereka.
Inggris juga menolak menyerahkan Pulau Belitung, karena tidak
termaktub dalam pasal 2 Traktat London (yang tertulis hanya nama Pulau
Bangka). Hal itu memperkuat klaim Inggris atas Pulau Belitung. Sebaliknya,
pihak Belanda tetap menuntut wilayah tersebut, karena Bangka dan Belitung
merupakan satu kesatuan. Sebagaimana selama itu terjadi, traktat-traktat antara
Palembang dan kolonial Belanda, nama Pulau Bangka senantiasa digabungkan
dengan nama Pulau Belitung. Akibatnya, permasalahan Pulau Belitung berlarut-
larut, dan berakhir secara resmi dengan ditandatanganinya Traktat London
1824104. Biarpun demikian, faktanya sejak tahun 1817 pulau Belitung sudah Comment [DKM146]: Pada pasal berapa??

diduduki oleh Belanda. Pada 1822 pemerintah Belanda telah pula menempatkan Comment [DKM147]: Dari mana Anda tahu?
Sumber perlu!!
seorang Assisten Residen, dengan kekuatan militer sebanyak delapan sampai

104
Inggris dan Belanda) menyadari bahwa kedua bangsa tersebut harus
menghindari konflik di wilayah Nusantara, sebab hal tersebut akan mengudang hadirnya
pihak ketiga yang mulai meluaskan kekuasaannya di Asia Tenggara yaitu Amerika. Untuk
itu Traktad London 1824 merupakan jalan keluar bagi penyelesaian masalah antara
keduanya. Dengan traktad tersebut, maka terdapat garis pemisah yang tegas dari
kawasan sebelah utara Riau sampai Selat Malaka (Tarling, 1994: 17).

Universitas Indonesia
135

sepuluh orang serdadu, di bawah komando seorang yang berpangkat sersan atau
kopral di Pulau Belitung (Paulus, 1917: 306; Veth, 1917: 506; Baud, 1853: 41-
42).
Tidak adanya nama Pulau Belitung dalam Traktat London (1814),
disebabkan penyusunan traktat tersebut dilakukan secara tergesa-gesa, sehingga
tidak memikirkan akibat yang ditimbulkannya. Khususnya aturan-aturan yang Comment [DKM148]: Apa dasar dari
interpretasi Anda ini??
dimuat dalam pasal 3 dan pasal 5 tentang pelaksanaan traktat tersebut. Disebutkan
pula bahwa koloni akan dikembalikan dalam waktu tiga minggu sampai enam
bulan setelah ratifikasi traktat, tanpa memikirkan kondisi koloni pada waktu itu105.
Protes-protes yang diajukan oleh agen-agen Inggris terhadap pemerintah Belanda,
tidak berpengaruh terhadap Komisaris Belanda. Menurut pihak Belanda, protes-
protes tersebut tidak berdampak luas. Komisaris Jenderal menegaskan bahwa
mereka adalah wakil penguasa di negeri Belanda, fungsi mereka hanya sebagai
pelaksana, dan tidak berhak memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan koloni
Belanda di Hindia Timur (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No. 67; Bataviaasch
Courant, 26 Juni 1819, nomor 26; Woelders, 1975: 11). Comment [DKM149]: s.d.a

Berbagai permasalahan di atas timbul karena Traktad London (1814) tidak


memuat penyelesaian yang menyeluruh atas berbagai problema sebelum perang
khususnya tentang Hindia Timur. Sesungguhnya, menjelang 1814 kebijakan EIC
untuk Hindia Timur sudah berubah, mereka tidak tertarik lagi untuk
memperdagangkan rempah-rempah. Yang mereka pertahanankan adalah
memasarkan tekstil dan membeli produk kopi dari kawasan itu. Meskipun
demikian, Inggris tetap memfokuskan perhatiannya pada timah yang dihasilkan
oleh Kesultanan Palembang (Tarling, 1994: 15; Kaiser, 1857: 96,99)
John Fendall (12 Maret 1816 - 19 Agustus 1816), sebagai petinggi Inggris
yang terakhir di Batavia memutuskan untuk menunda pelaksanaan penyerahan
kekuasaan kepada Komisaris Jenderal. Hal itu disebabkan ia menunggu instruksi
dari pemerintah pusat di Calcutta. Setelah segala sesuatunya dianggap selesai,
pengambilalihan kekuasaan dari Inggris kepada Belanda secara resmi dilakukan

105
Kembali berkuasanya Napoleon pada awal tahun 1815, mengakibatkan
keberangkatan Komisaris Jenderal yang terdiri dari Vn der Capellen, Elout dan Buyskes
ke Batavia tertunda. Keberangkatan mereka baru terlaksana pada 29 Oktober 1815.
Mereka berangkat dari Texel dan tiba di Batavia pada awal Mei 1816.

Universitas Indonesia
136

pada 19 Agustus 1816. Apabila sampai dengan penyerahan kekuasaan, masih


terdapat perbedaan-perbedaan, hal tersebut akan diselesaikan oleh negara induk
masing-masing di Eropa. Meskipun demikian, Inggris dengan sungguh-sungguh
memperhatikan kawasan tersebut khususnya luar Jawa. Mereka tetap
mempertahankan hubungan dan membuat perjanjian-perjanjian dengan kerajaan-
kerajaan Melayu, bahkan melakukan pengawasan agar tidak menjadi objek
monopoli Belanda. Jadi, yang dilakukan oleh Inggris adalah mempertahankan
kepentingan mereka di Hindia Timur. Akan tetapi, gerak langkah Inggris melalui
EIC ditolak oleh pemerintah induk di Eropa. Terbukti dengan adanya laporan
Komite Rahasia Dewan Direktur 1815 yang menyatakan bahwa keterlibatan EIC
dalam masalah-masalah internal kerajaan-kerajaan Melayu adalah suatu perbuatan
yang tidak dapat dibenarkan.(ANRI, Bundel Palembang No. 67; Woelders, 1975:
11-12; Kemp, 1900: 338: Tarling, 1994: 15-16). Pernyataan tersebut menjadi
kendala pihak Inggris yang memiliki kepentingan besar di kawasan Hindia Timur.
Menurut Hoek (1862: 110), dikembalikannya permasalahan Palembang
kepada pemerintah masing-masing (Inggris dan Belanda), merupakan strategi
yang ditempuh pihak Inggris untuk mengulur-ngulur waktu, karena selagi masalah
tersebut belum selesai berarti kondisi di Palembang tetap berada di bawah
kekuasasan Inggris. Walaupun demikian, di tengah suasana saling protes,
perundingan demi perundingan terus berlangsung antara pemerintah Inggris dan
pemerintah Belanda. Akhirnya, mereka sepakat untuk membentuk sebuah komisi,
yang akan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pengalihan
dari pemerintah kolonial Inggris kepada pemerintah kolonial Belanda. Tugas
komisi adalah menghitung besarnya uang muka, yang telah dibayarkan oleh pihak
Inggris kepada para pekerja tambang timah Bangka. Pembayaran uang muka
diberikan melalui para pengawas di setiap distrik. Akibatnya, banyak timah yang
telah diproduksi tetapi belum disetorkan kepada pemerintah Inggris. Menurut
ketentuan yang telah mereka sepakati, disebutkan bahwa timah yang telah
diproduksi akan diserahkan kepada Belanda dengan memperhitungkan uang ganti
rugi senilai delapan real per pikul dari jumlah uang muka. Dalam kesepakatan
disebutkan pula bahwa produksi timah Bangka, terhitung sejak 1 Agustus 1816
sudah menjadi milik Belanda, namun ternyata Inggris tetap mempertahankan

Universitas Indonesia
137

kedudukannya di Bangka, dan terus memproduksi timah dengan cara tetap


memberikan uang muka kepada para penambang timah (Hoek, 1862: 110-16).
Berdasarkan kesepakatan antara Inggris dan Belanda, dilakukan
perhitungan nilai uang muka, antara lain:
- Jumlah uang muka yang dibayarkan pihak Inggris kepada para
pekerja tambang senilai IR 133.587,24 (IR=Indian Rupee yaitu mata uang
untuk transaksi EIC).
- Nilai neraca yang dialihkan kepada pihak Belanda sebesar IR
85.382,3
- Bahan makanan dan barang dagangan senilai IR 158.691,23
- Barang-barang angkatan laut dan kapal senilai IR 10.603,25
- Barang-barang bergerak senilai IR 3.822,5
- Piutang senilai IR 9.181,2
Lain-lain senilai kurang dari IR 3800 (nilainya rendah sehingga ditunda
penyelesaiannnya) (Hoek, 1862: 110-116).
Setelah segala permasalahan dibereskan, pada 22 Oktober 1816 Klaas
Heynis diangkat sebagai Residen Bangka dan Palembang. Ia tiba di Muntok pada
Nopember 1816. Walaupun demikian, Inggris pun tetap melancarkan protes atas
pengembalian Pulau Bangka tersebut, dengan dalih pulau tesebut merupakan
milik sah dari Sultan Najamuddin II sejak 1812. Dalam surat protesnya pada 2
November 1816, Raffles menyatakan ―siap memberikan instruksi untuk bertindak
terhadap Residen Belanda (K. Heynis)‖ yang baru saja diangkat dan akan segera
tiba di Pulau Bangka (Hoek, 1862: 110-116).
Pernyataan itu menunjukkan Raffles akan mengirimkan pasukan ekspedisi
ke Bangka, namun karena keputusan tentang pengambilalihan Pulau Bangka telah
berkekuatan hokum tetap, keinginan untuk menyerang Pulau Bangka tidak pernah
terwujud. Selanjutnya, Inggris harus mengubur hasratnya untuk tetap berkuasa di
Bangka dan menyelesaikan semua sengketa dengan cara damai.

Universitas Indonesia
138

BAB 4
PEMBAGIAN KEKUASAAN

Sesuai ketentuan Traktat London (1814), pemerintah Belanda kembali berkuasa di


Kesultanan Palembang. Akan tetapi, selama sekitar satu setengah tahun
keberadaan mereka di Palembang, kondisi di kesultanan itu tidak kondusif.
Kekacauan terjadi di mana-mana. Para pemimpin yang dikirim oleh pemerintah
pusat di Batavia tidak mampu meredakan berbagai ketegangan di Palembang.
Pertentangan antara dua saudara di Palembang semakin tampak ke
permukaan. Pertentangan itu melibatkan para pendukung masing-masing,
sehingga di Kesultanan Palembang sering terjadi pergolakan. Menghadapi kondisi
demikian, pemerintah pusat Belanda di Batavia, mengirimkan Komisaris
Muntinghe. Setibanya di Palembang, Muntinghe menyodorkan konsep
pembagian kekuasaan antara Sultan Najamuddin II dan Badaruddin II serta
pemerintah Belanda. Keputusan tersebut menyebabkan Najamuddin II meminta
bantuan kepada Inggris di Bengkulu. Memenuhi permintaan tersebut, Raffles
sebagai wakil Ingris di Bengkulu mengirimkan pasukan di bawah pimpinan
Kapten Salmond. Kehadiran pasukan Inggris membuat persoalan melebarkan.
Sejak itu, konflik di Kesultanan Palembang tidak hanya antara dua bersaudara
atau antara Sultan Najamuddin II dan Belanda. Akan tetapi, Belanda dan Inggris
juga terlibat.

Universitas Indonesia
139

Keterlibatan Inggris di Kesultanan Palembang menyebabkan Sultan


Najamuddin II dan para pengikutnya dibuang ke Pulau Jawa. Sementara itu,
kehadiran pasukan Inggris di Palembang membawanya berhadapan dengan
kekuatan Belanda yang merasa lebih berhak atas Palembang sesuai ketentuan
Trkatat London (1814). Konsekuensi dari kehadiran pasukan Inggris, dua
kekuatan Eropa berhadap-hadapan secara langsung baik di ibu kota Kesultanan
Palembang maupun di uluan (Rawas).

4.1 Pemerintahan Belanda yang Kedua di Kesultanan Palembang

Tindak lanjut dari penyerahan kekuasaan pemerintah kolonial Inggris kepada


pemerintah kolonial Belanda pada 19 Agustus 1816, menyebabkan kekuasaan
Ingris di Kesultanan Palembang diserahkan oleh Residen M.H. Court kepada
Klaas Heynis106 di Muntok pada 10 Desember 1816107. Pemilihan Heynis sebagai
Residen Bangka-Palembang dengan pertimbangan dia memiliki kemampuan dan
nama yang baik. Dari Muntok Heynis bergerak menuju ibu kota Palembang.
Rombongan itu mengalami kesulitan pada saat memasuki Sunsang karena dangkal
dan sempit. Akibatnya, mereka terpaksa harus menggunakan perahu-perahu kecil
untuk sampai di ibu kota Palembang pada 16 Desember 1816 (Bataviaasch
Courant, 4 Agustus 1821; Kemp, 1900: 337,340).
Di pusat pemerintahan Kesultanan Palembang, Heynis disambut oleh
Sultan Najamuddin II dan putera mahkota (Prabu Anom) dengan penuh
persahabatan, dan tembakan penghormatan. Pada pertemuan itu Heynis

106
Berdasarkan surat Komisaris Jenderal Elout kepada Direktur Jenderal pada 18
Januari 1817, dinyatakan bahwa penyerahan kepada K. Heynis terjadi pada 26
Nopember 1816 (Hoek, 1862: 111).
107
Pada 12 Maret 1816 Badaruddin II mengirimkan utusan ke Batavia untuk menyerahkan
suratnya dengan melampirkan surat-surat yang pernah diterimanya dari Raffles pada 1810-1811.
Dalam suratnya Badaruddin II menyatakan bahwa Raffles harus ikut ―bertanggungjawab‖ atas
peristiwa Loji Sungai Aur (1811), karena membujuknya dengan berbagai upaya agar mengusir
Belanda dari Palembang. Ia berharap agar diri dan keturunannya segera dibebaskan setelah
Belanda berkuasa kembali di Palembang. Di samping itu, Sultan Najamuddin II juga melakukan
hal yang sama dengan mengirimkan utusan yang tiba di Batavia pada Oktober 1816, namun
utusan itu dicurigai leh pemerintah Belanda membawa misi dari pemerintah Inggris (Kemp, 1900:
338-340; Woelders, 1975: 11; Baud, 1853: 8).

Universitas Indonesia
140

menyerahkan surat dan hadiah-hadiah dari Batavia. Mulai keesokan harinya


selama dua hari berturut-turut dilakukan pertemuan antara Sultan Najamuddin II
dan Heynis. Pada pertemuan hari kedua (18 Desember 1816), Heynis menanyakan
tentang peristiwa tragis September 1811. Ketika ia menanyakan ―apakah
Badaruddin II yang memerintahkan pembunuhan terhadap penghuni Loji
Belanda?‖ Dijawab Sultan ―tidak‖108. Selanjutnya, Heynis menyatakan bahwa
pemerintah Belanda tidak bermaksud mengungkit kembali peristiwa tersebut.
Kasus itu sudah ditutup, pihak Belanda tidak mempunyai alasan kuat untuk
mengusut kembali masalah tersebut, karena Inggris telah menghukum Palembang
dengan ekspedisi pada 1812. Meskipun demikian, Sultan harus mencegah agar
peristiwa serupa tidak terulang lagi, dan Sultan wajib mematuhi semua ketentuan
yang terdapat dalam kontrak antara Belanda dan Palembang. Heynis menegaskan
bahwa misi yang dibawanya adalah meredakan ketegangan antara Sultan
Najamuddin II dan Badaruddin II. Untuk itu, langkah yang akan ditempuh adalah
mendudukkan Sultan Badaruddin II sebagai sultan Lampung, oleh karena itu
Lampung harus diduduki oleh Belanda (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1;
Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; Kemp, 1900: 341-342; Kielstra,
1892:86).
Munculnya ide untuk mendudukkan kembali Badaruddin II sebagai sultan
Lampung karena perebutan kekuasaan antara kedua bersaudara tidak pernah reda.
Sultan Badaruddin II terus berjuang untuk mendapatkan kembali haknya sebagai
sultan Palembang. Menurut pemerintah Belanda pada waktu itu, cara yang efektif
untuk meredakan masalah tersebut dengan cara menguasai Lampung dan
menyerahkannya kepada Badaruddin II. Pendudukan tersebut juga dalam rangka
menyatukan kekuasaan Belanda atas kedua wilayah tersebut, sekaligus untuk
membendung campur tangan Inggris di wilayah itu.

108
Sultan Najamuddin II membuat pernyataan berbeda, bahwa Badaruddin II
adalah satu-satunya otak alam peristiwa tersebut. Pernyataan itu disampaikannya pada
saat ditanya oleh pihak Belanda pada 18 April 1820 di Cianjur (Kemp, 1900: 342). Hal itu
dapat dikarenakan posisinya pada saat itu sebagai tawanan yang membutuhkan
perlindungan dan dukungan pihak Belanda. Dengan pernyataan tersebut, Najamuddin II
berharap akan mendapat pengampunan dan Badaruddin II dihukum dengan
menurunkannya dari tahta.

Universitas Indonesia
141

Dalam kapasitasnya sebagai residen, Heynis menetapkan beberapa syarat


kepada Sultan Najamuddin II. Syarat-syarat itu terdiri dari: Sultan tidak
diperkenankan menerima tamu (khususnya orang Eropa) di keratonnya tanpa
seizin residen, dilarang menerima surat dari pihak mana pun tanpa
sepengetahuannya. Pada kesempatan itu, Sultan Najamuddin II juga
menyampaikan keluhannya seputar tindak tanduk Badaruddin II yang menurutnya
telah menghasut rakyat Palembang agar menentang, dan merebut kekuasaannya
(Kemp, 1900: 341-343). Dengan pernyataan tersebut, Sultan Najamuddin II ingin
menegaskan bahwa keberadaan Badaruddin II di ibu kota Palembang merupakan
ancaman bagi kekuasaannya. Padahal sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
oleh Inggris pada Agustus 1813, bahwa Badaruddin II berhak mendapat
perlindungan dari Inggris dan ia memutuskan tinggal di ibu kota Palembang
dalam rangka terciptanya kedamaian di daerah itu.
Kondisi di Kesultanan Palembang pada waktu itu mengalami kekacauan,
baik di pusat maupun di uluan. Dalam keadaan demikian, Sultan Najamuddin II
tidak mampu berbuat banyak untuk mengatasinya. Di mata pemerintah Belanda
pada waktu itu, Sultan tidak berusaha sungguh-sungguh untuk memenuhi semua
ketentuan dalam kontrak, di antaranya untuk menjaga keamanan. Sultan
Najamuddin II juga menolak menyediakan beras sebanyak dua koyang dan seratus
orang pendayung bagi Badaruddin II (pada masa pemerintahan Inggris di
Palembang, ketentuan tersebut dihapuskan pada Nopember 1816, namun
ketentuan itu tetap diberlakukan setelah pemerintah Belanda menggantikan
Inggris). Penolakan Sultan tersebut menyebabkan pertentangan antara kedua
bersaudara itu semakin dalam, yang berdampak negatif bagi rakyat Palembang.
Kondisi tersebut dilaporkan oleh Heynis ke Batavia pada 4 April 1817. Atas dasar
laporan itu, pemerintah Belanda di Batavia mengeluarkan ketetapan pada 7 April
1817. Dalam keputusan tersebut dinyatakan bahwa ketentuan Sultan Najamuddin
II untuk menyediakan tenaga pendayung dan beras dihapuskan. (ANRI, Bundel
Palembang No 5.1; Bataviaasch Courant, 26 Juni 1819, nomor 26; Kemp, 1900:
342-343). Sesungguhnya, kemelut tersebut hanya pemicu dari akar permasalahan
antara kedua bersaudara yaitu ―perebutan kekuasaan‖ yang didalangi oleh Inggris.

Universitas Indonesia
142

Permusuhan tersebut menyebabkan rakyat menderita. Hal itu tampak jelas di mata
pemerintah kolonial Belanda ketika mereka tiba di Palembang
Apa yang diharapkan oleh pihak Belanda agar permusuhan kedua
bersaudara mereda, dengan ditiadakannya kewajiban Sultan Najamuddin II untuk
menyediakan beras dan tenaga pendayung tidak tercapai. Pemerintah Belanda
memiliki kepentingan dengan redanya permusuhan kedua bersaudara kandung,
karena dengan berakhirnya permusuhan maka kondisi di Kesultanan Palembang
akan damai dan roda pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Akan tetapi,
permusuhan itu sudah begitu dalam, sehingga upaya penghapusan kewajiban
Sultan Najamuddin II justru makin memperlebar ―jurang‖ permusuhan antara
kedua pihak yang bertikai. Rakyat terbelah dua masing-masing mendukung salah
satu dari kedua sultan. Kedua kubu saling berhadapan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Akibatnya, kebutuhan hidup sehari-hari penduduk jadi
terbengkalai. Kondisi itu diperparah dengan tindakan Sultan Najamuddin II yang
membagi tanah-tanah di daerah uluan sebagai apanage (tanah yang diberikan oleh
sultan kepada para bangsawan) kepada keluarganya. Tanah-tanah itu dieksploitasi
oleh para bangsawan109, sehingga perampokan, pembunuhan, penculikan dan
perdagangan budak makin berkembang. Di pihak lain, pelaksanaan pemerintahan
Belanda di Palembang belum berlangsung dengan baik. Mereka dihadapkan pada
keterbatasan dana, sehingga sarana dan prasarana sangat terbatas. Mereka juga
kesulitan mendapatkan pegawai, sedangkan para pejabat yang mereka datangkan
dari negara induk Belanda, tidak banyak berbuat untuk memperbaiki keadaan.
Akibatnya, banyak terjadi pelanggaran hukum. Sebagai residen, Heynis
seharusnya berusaha maksimal untuk mengendalikan keadaan. Akan tetapi, yang
terjadi justru sebaliknya. Ia sibuk memperhatikan kepentingan pribadinya110.
Heynis justru terlibat dalam berbagai kejahatan, sehingga di mata pemerintah
pusat ia orang yang tidak layak dipercaya. Akhirnya, pada 13 Juni 1817

109
Pada masa pemerintahan sultan-sultan sebelumnya, golongan bangsawan
tidak diperkenankan terjun langsung ke uluan, karena untuk urusan tersebut sudah
ditangani oleh Jenang yang berkedudukan di uluan (Kemp, 1900: 343).
110
Kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Belanda di Hindia Belanda
pasca1816 adalah tetap menggunakan sistem VOC yaitu mengeksploitasi, namun yang
terjadi saat itu justru penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh wakil mereka di
Kesultanan Palembang (Day, 1972:128).

Universitas Indonesia
143

pemerintah Belanda di Batavia mengeluarkan keputusan memecat Klaas Heynis


(ANRI, Bundel Palembang No. 67; Kemp, 1900: 345-346; Stapel, 1940:169).
Pada 29 Juni 1817 posisi Heynis digantikan oleh R. Coop a Groen dan J.
du Puy dari Dewan keuangan. Tugas khusus yang diembankan kepada mereka
adalah menyelidiki kondisi di Palembang dan melaporkannya kepada pemerintah
pusat. Semuanya ditujukan untuk membenahi keadaan di Kesultanan Palembang.
Pada kenyataannya, kerja kedua utusan tersebut tidak maksimal, karena J. du Puy
mendapat tugas menyelesaikan masalah di Sumatera Barat. Oleh sebab itu, sejak
16 Desember 1817, usaha penyelidikan hanya dilakukan oleh R. Coop A. Groen.
Salah satu masalah yang mendesak pada waktu itu adalah datangnya orang-orang
yang mewakili para depati dari daerah Komering. Mereka meminta perlindungan
kepada Sultan Najamuddin II di ibu kota, karena di daerah mereka terjadi
penjarahan dan perampasan terhadap penduduk. Selama dua belas bulan mereka
di ibu kota, masih belum mendapat tanggapan dari Sultan, sedangkan semakin
lama mereka di ibu kota berarti pertanian dan perkebunan makin terlantar karena
tidak digarap dengan baik. Untuk itu, mereka mengalihkan permintaan kepada
pemerintah Belanda dengan janji mereka akan menyerahkan upeti setelah kondisi
di daerah mereka aman (Woelders, 1975: 12; Kemp, 1900: 345; Stapel, 1940:
169). Peristiwa itu menunjukkan bahwa hilangnya kepercayaan mereka kepada
Sultan Najamuddin II dan aparatnya, sehingga mereka terpaksa berpaling kepada
pemerintah Belanda untuk mengatasi masalah tersebut. Terjadinya kekacauan di
daerah mereka membuktikan bahwa sistem pengamanan tidak berjalan dengan
baik.
Langkah yang diambil oleh R.Coop A. Groen untuk menangani masalah di
Palembang adalah mengirim Kyai Demang Osman dari Muntok ke Palembang
dari 1 Maret-7April 1818. Demi lancarnya misi tersebut, alasan yang
dikemukakan adalah untuk mempersiapkan semua kebutuhan untuk membangun
berbagai proyek sipil di sana, di bawah pimpinan Kapten Van der Wijck. Misi
sesungguhnya adalah meneliti kondisi paling aktual di Palembang. Berdasarkan
laporan dari hasil penelitian tersebut, R. Coop A. Groen menyampaikan kepada

Universitas Indonesia
144

pemerintah pusat bahwa ―Palembang dalam kondisi kacau‖111. Sementara itu,


Sultan Najamuddin II telah mengirimkan surat untuk memohon bantuan militer ke
Bengkulu dan Calcutta India. Suatu tindakan yang makin memperuncing keadaan.
Tambahan lagi, beredar kabar bahwa pasukan Bengkulu siap memasuki wilayah
Palembang, tepatnya di Rawas. Situasi itu memaksa R. Coop A. Groen
mengirimkan beberapa kapal perang ke Sungai Musi untuk melakukan manuver,
agar Sultan Najamuddin II mengendalikan kondisi di Kesultanan Palembang
(Kemp, 1900: 357).
Masalah lain yang mendesak adalah keluhan dari Siddon (Residen Inggris
di Bengkulu). Sejak 24 Desember 1817 Siddon telah menyampaikan protes
kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda tentang adanya gangguan keamanan
dari orang-orang Palembang terhadap wilayah perbatasan Bengkulu112. Gangguan
keamanan yang terjadi di wilayah perbatasan Bengkulu atau bahkan di wilayah
Bengkulu telah terjadi sejak lama. Contohnya, gangguan keamanan yang

111
Sebagian informasi tentang kondisi di Palembang diperoleh R. Coop A. Groen
dari Badaruddin II (Kemp, 1900: 357-358). Tampaknya, Badaruddin II memanfaatkan
situasi yang ada untuk memperkokoh posisinya, khususnya di mata Groen.
112
Untuk menghadapi gangguan keamanan tersebut, pemerintah Inggris di Bengkulu
telah beberapa kali melakukan penertiban dengan cara menguasai daerah Pasemah Ulu Manna.
Pada 1808 pemerintah Inggris di Bengkulu mengirimkan Kolonel Clayton dengan tiga ratus orang
serdadu Bengala untuk menghukum penduduk Pasumah Ulu Manna. Ketika mereka tiba di daerah
tersebut, ternyata daerah itu telah mereka kosongkan, dengan terlebih dahulu membakar dusun-
dusun dan bersembunyi di dalam hutan. Sejak itu keamanan dapat dipulihkan, tetapi tidak lama
berselang kembali terjadi hal yang sama. Untuk memulihkan keamanan, kembali pemerintah
Inggris di Bengkulu mengirim Raden Mohamad Zaid dan Daeng Indra (tempat peristirahatan
mereka di Pasumah Ulu Manna dikenal penduduk dengan nama ―perhentian Daeng‖) dengan
kekuatan dua ratusan orang serdadu pribumi untuk menaklukkan daerah tersebut dan membakar
beberapa dusun. Pada 1813 kembali terjadi perampokan dari daerah Pasumah, bahkan mereka
berusaha menyerang seorang pejabat Inggris di Padang Guci (Manna) yang pada waktu itu tengah
melakukan transaksi pembelian lada. Usaha tersebut berhasil digagalkan oleh para pengawalnya
dan beberapa perampok berhasil dibunuh. Pada 1815 Residen Manna (residen lokal yang
berkedudukan di ibukota Fort Marlborough) Steele berangkat ke Pasemah Ulu Manna, untuk
membujuk para kepala depati daerah tersebut agar tidak melakukan perampokan lagi di wilayah
Inggris. Untuk itu, dibuat kesepakatan bersama dan pemberian hadiah kain kepada mereka.
Perdamaian itu tidak berlangsung lama, kembali penduduk perbatasan Bengkulu mengeluh kepada
Residen Siddon tentang gangguan keamanan dari orang-orang Pasumah. Kondisi tidak aman itu
terus berlangsung sampai tibanya Raffles di sana (Maret 1818). Pada Mei 1818 Raffles melakukan
perjalanan menuju Pasumah Ulu Manna, dan tiba di sana pada 21 Mei 1818. Pada 22 Mei 1818 di
dusun Tanjung Alam Pasumah diadakan permupakatan dengan melibatkan para depati/kalipa dan
proatin di daerah itu. Hasilnya yaitu penduduk Pasumah Ulu Manna bersedia tunduk kepada
Inggris dengan imbalan 30 dollar Inggris per bulan, uang itu diberikan kepada wakil dari beberapa
Marga (Sumbai Besar dan Ulu Lurah) di Pasemah. Penaklukan daerah itu dilakukan Raffles dalam
rangka membendung kekuasaan Belanda (Visser, 1883: 315-323).

Universitas Indonesia
145

dilakukan oleh penduduk Pasumah Ulu Manna (Palembang) terhadap tetangganya


penduduk di wilayah Bengkulu. Mereka melakukan pembunuhan, penjarahan dan
pencurian hewan ternak sehingga menimbulkan trauma bagi penduduk setempat.
Semua itu terjadi karena tidak adanya tindakan tegas dari pihak Sultan
Najamuddin II untuk mengamankan daerah tersebut. Dalam laporannya, Residen
Siddon menyampaikan bahwa penduduk Bengkulu sering kali menjadi korban
penjarahan, dan dijadikan budak untuk diperjualbelikan113 (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; Bataviaasch Courant, 4 Agusutus 1921).
Melalui pemerintah Belanda, Residen Siddon berharap hal tersebut segera
dihentikan. Tuntutan itu disampaikan oleh pemerintah Belanda kepada Sultan
Najamuddin II, akan tetapi Sultan menolak permintaan tersebut. Sementara itu, di
daerah perbatasan Palembang-Lampung juga terjadi kekacauan. Sebanyak tujuh
ratus orang penduduk diserang dan dijadikan budak untuk diperdagangkan di
bawah pimpinan nahkoda Mohamad. Keadaan itu membuat pemerintah kolonial
Belanda menempatkan satu kapal perang beserta pasukannya di Sungai Mesuji di
Tulang Bawang Lampung, untuk mengamankan daerah tersebut (ANRI, Bundel
Palembang No. 5.1; No. 67; Bataviaasch Courant, 4 Agustus 1821; Visser, 1883:
315; Kemp, 1900: 349; Stapel, 1940:169). Dengan demikian, di daerah-daerah
perbatasan (sindang) kondisinya tidak aman yang mengganggu pihak-pihak lain
di daerah tersebut. Semua itu terjadi karena tidak adanya jaminan keamanan dari
pihak Sultan Najamuddin II.
Berbagai peristiwa yang terjadi di Kesultanan Palembang, menggambarkan
betapa masalah keamanan dan ketertiban menjadi problem mendesak yang harus
segera ditangani. Sultan Najamuddin II sebagai orang yang berwenang untuk
menyelesaikannya, tidak banyak berbuat. Dari berbagai sumber disebutkan bahwa
Sultan Najamuddin II adalah sosok yang kurang bertanggungjawab. Ia dikenal
kejam terhadap rakyat dengan berbagai kebijakannya dalam bidang ekonomi.
Contohnya, memungut tibang-tukong lebih dari satu kali setahun, menambah
komoditi yang dikenai tibang-tukong antara lain, beras, lada, kopi gambir, lilin,

113
Dalam kontrak antara Sultan Najamuddin II dan Inggris pada 1812 dan 1813,
menyebutkan bahwa masalah penghapusan budak dan membuka hubungan serta
menjamin keamanan dengan Bengkulu dan Lampung menjadi poin penting yang harus
dipatuhi oleh Sultan.

Universitas Indonesia
146

rotan, dan kerbau, dan menaikkan harganya. Apabila pada masa sultan-sultan
sebelumnya, ketentuan tibang-tukong hanya berlaku pada kalangan tertentu
(matagawe), tidak demikian halnya pada masa pemerintahan Sultan Najamuddin
II. Disebutkan bahwa, tidak seorangpun bebas dari ketentuan tersebut. Di samping
itu, Sultan juga sering melakukan hukuman fisik berupa pukulan terhadap
penduduk yang dianggap tidak patuh, perompakan dan perdagangan budak di
perairan Palembang juga makin marak.
Melihat kondisi tersebut, Sultan tidak bertindak dan membiarkan masalah
tersebut berlarut-larut, bahkan disinyalir Sultan ikut menikmati keuntungan dari
berbagai ―kegiatan‖ tersebut. Sehubungan dengan itu, pemerintah kolonial
Belanda di Palembang dan Batavia mempertimbangkan untuk segera bertindak
agar ada kepastian hukum di daerah tersebut terjamin. Apabila tidak segera
diambil tindakan, akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah Belanda
khususnya di Kesultanan Palembang, baik terhadap penduduk Palembang,
perbatasan Lampung dan Bengkulu (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No. 15.7;
No. 47.6; No. 67; No. 66.6; Bataviaasche Courant, 26 Juni 1819, nomor 26).
Dalam kondisi yang tidak menentu tersebut, pemerintah Belanda di Batavia
memutuskan untuk mengirimkan Komisaris Muntinghe114. Penunjukkan
Muntinghe sebagai komisaris di Kesultanan Palembang dianggap tepat,
mengingat karir panjang yang telah ditempuhnya baik pada masa pemerintahan
kolonial Inggris (anggota Dewan Hindia) maupun pada masa pemerintah Belanda
(sekretaris, dan ketua Mahkamah Agung). Untuk itu, pada 27 Oktober 1817
Komisaris Jenderal memberhentikan Muntinghe dari jabatannya sebagai ketua
Dewan Keuangan, dan mengangkatnya sebagai Komisaris Palembang-Bangka
(ANRI, Bundel Palembang No.67; Kemp, 1900: 350-353; Woelders, 1975: 13).
Berita tentang rencana kedatangannya di Muntok dibawa oleh Kapten
Scott, seorang nahkoda Inggris pada 3 Januari 1818. Selanjutnya, tiba pula kapal
perang di sana pada 23 Januari 1818 (berangkat dari Batavia sejak 2 Januari 1818)

114
Muntinghe terkenal cerdas dan sangat berbakat, ahli di bidang hukum, pemerintahan
dan keuangan. Ia juga terkenal sebagai orang yang netral, dan cinta pada keadilan, sehingga baik
pemerintah Belanda maupun Inggris tetap memanfaatkan tenaga. Atas jasa-jasanya pemerintah
Belanda menganugerahinya gelar Edelheer atau Edeleer (―Idelir Menteng‖ dalam literatur
Melayu), yang artinya bangsawan tinggi (ANRI, Bundel Palembang No.67; Kemp, 1900: 350-53;
Woelders, 1975: 13).

Universitas Indonesia
147

yang dipimpin Kapten-Letnan Taco Bakker dengan berita yang sama. Kehadiran
armada itu diikuti pula oleh Kapten Zeni Van der Wijck yang akan bertugas
sebagai direktur pembangunan proyek sipil di Muntok. Jadi, sebelum
kedatangannya, kehadiran Muntinghe sudah membuat sebagian orang merasa
khawatir, baik yang ada di Muntok maupun di Palembang (Kemp,1900: 356-357).
Pada 13 April 1818 Muntinghe berangkat dari Batavia, tiba di Muntok
pada 20 April 1818 dengan menggunakan kapal perang Eendracht. Kedatangan
mereka disambut oleh A.P. Smissaert (Inspektur Jenderal pertambangan timah
Bangka), Residen R. Coop A. Groen, para perwira, orang-orang pribumi dan
Cina. Setelah itu, Komisaris Muntinghe mengambil alih kekuasaan atas Bangka.
Di pulau itu Muntinghe menemukan kondisi kritis. Mereka umumnya kekurangan
bahan makanan dan tertekan oleh ancaman dari para perompak (laporan Smissaert
kepada gubernur jenderal pada 11 Juni 1819). Selanjutnya, Komisaris Muntinghe
menyerahkan kekuasaan atas Muntok kepada A.P. Smissaert. Muntinghe
bermaksud memfokuskan perhatiannya pada pelaksanaan pemerintahan di
Palembang (Kemp, 1900: 358-361; Woelders, 1975: 13). Walaupun Pulau Bangka
mengalami krisis, di mata Muntinghe kawasan daratan Kesultanan Palembang
yang tengah bergolak jauh lebih penting untuk ditangani secepatnya. Apalagi
wilayah uluan berbatasan dengan kekuasaan Inggris di Bengkulu.
Muntinghe membawa misi untuk menegakkan pemerintahan Belanda di
Kesultanan Palembang, menyatukan Palembang dengan Lampung dan mengakhiri
pertikaian antara Najamuddin II dan Badaruddin II. Untuk itu, kedua bersaudara
itu harus menyerahkan sebagian dari wilayah Kesultanan Palembang kepada
Belanda, dengan alasan keamanan. Sisanya dibagi dua, masing-masing mendapat
sebagian melalui kontrak. Penduduk Palembang juga harus dibebaskan dari
berbagai tekanan dalam menjalankan perekonomiannya (ANRI, Bundel
Palembang No. 70.3).
Informasi yang diperoleh Muntinghe selama di Muntok, menyebutkan
bahwa rakyat di wilayah Kesultanan Palembang akan melakukan pemberotakan,
khususnya di daerah Blida, Komering dan Rawas. Pemberontakan itu akan
dipimpin para depati masing-masing. Penduduk di sana resah dengan adanya
berbagai pemerasan yang dilakukan Sultan Najamuddin II dan golongan

Universitas Indonesia
148

bangsawan. Mereka siap melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan


tersebut. Untuk mencegah pemberontakan terjadi, Muntinghe memandang perlu
untuk memberitahukan kedatangannya kepada para penguasa dan rakyat
Palembang. Di samping itu, Muntinghe juga menyampaikan ucapan persahabatan
kepada Sultan Najamuddin II dan Badaruddin II serta para depati di uluan melalui
surat. Surat itu dibawa oleh Demang Usman pada 21 April 1818 dari Muntok.
Selanjutnya, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, baik bagi
penduduk Pulau Bangka maupun Palembang, Muntinghe melarang orang-orang
Bangka ke Palembang. Setelah menjalankan tugasnya, Demang Usman kembali
ke Muntok pada 29 April 1818 dengan membawa surat jawaban dari Sultan
Najamuddin II dan Badaruddin II. Keduanya menyambut hangat persahabatan
yang disodorkan oleh Muntinghe. Najamuddin II berjanji akan segera
mengirimkan utusan guna menghadap Muntinghe. Keraguan Muntinghe terhadap
Sultan Najamuddin II hilang, karena sebelumnya berkembang berita bahwa Sultan
Najamuddin II akan melarikan diri ke Bengkulu (Kemp, 1900: 336-366). Kondisi
pada waktu itu penuh ketidakjelasan, sehingga desas-desus gampang berkembang,
namun dengan adanya uluran tangan persahabatan dari kedua bersaudara
Najamuddin II dan Badaruddin II, membuat Muntinghe yakin akan berhasil
mengatasi berbagai permasalahan di Palembang.
Untuk menyambut kehadiran Muntinghe, Badaruddin II mengirim misi
khusus untuk menemui Muntinghe. Utusan itu terdiri dari Pangeran Prabu (putera
bungsu Badaruddin II), dua orang menantunya (diantaranya Pangeran
Kramadiraja) dan rombongan. Melihat sambutan yang diterimanya, Muntinghe
membuang semua prasangka buruk yang selama ini berkembang tentang
hubungan pemerintah kolonial Belanda dengan penguasa Palembang, baik
penguasa resmi (Sultan Najamuddin II) maupun tidak resmi yaitu Badaruddin II.
Walaupun Badaruddin II tidak berkuasa secara resmi sebagai sultan, pengaruhnya
kepada rakyat sangat besar. Muntinghe mengkhawatirkan para pengikut kedua
tokoh itu berbenturan dengan pihak Belanda, yang tentunya akan membahayakan
posisi Belanda di Palembang (Kemp, 1900: 366-367; Woelders, 1975: 98).
Dengan alasan untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang
Palembang, Komisaris Muntinghe menunda keberangkatannya ke Palembang.

Universitas Indonesia
149

Tugas mendapatkan informasi lebih lanjut tentang Kesultanan Palembang


dipercayakan oleh Muntinghe kepada Raja Akil115. Pada 22 Mei 1818 Muntinghe
melaporkan hasil penyelidikan tersebut ke Batavia. Isinya tentang maraknya
perompakan diperairan Palembang-Bangka. Untuk itu, ia mengirimkan kapal
perang Eendracht ke ibu kota Palembang. Keberadaan kapal perang itu membuat
Sultan Najamuddin II merasa ketakutan. Selanjutnya, Sultan menyampaikan
kekhawatirannya kepada Raffles di Bengkulu. Dalam surat yang diterima Raffles
pada 17 Juni 1818, Sultan meminta bantuan kepada Raffles, sekaligus untuk
mencegah orang Belanda bekerjasama dengan orang-orang yang akan
menghancurkan kekuasaannya. Sultan memercayakan semuanya secara penuh
kepada Inggris. Dalam balasan suratnya, Raffles menyatakan agar dirinya
bersabar menghadapi hal tersebut. Selanjutnya, Sultan Najamuddin II membalas
surat tersebut yang isinya menggambarkan kondisi di Palembang berjalan dengan
baik (The Asitic Journal, Pebruari 1819 Vol.7: 208; Kemp,1900: 369-370).
Dengan demikian, sampai memasuki pertengahan Juni 1818 kondisi di Palembang
cukup tenang, sehingga kegiatan pemerintahan berjalan normal. Apa yang
dikhawatirkan oleh Sultan Najamuddin II tidak terbukti.
Sesuai permintaan Sultan Najamuddin II, Raffles langsung bertindak
dengan memerintahkan Kapten Salmond untuk berangkat ke Palembang sebagai
wakil Inggris. Dalam instruksinya Raffles menugaskan Kapten Salmond untuk
melindungi Sultan Najamuddin II dan menempatkannya di bawah perlindungan
Inggris. Dinyatakan pula bahwa pemerintah Belanda tidak berhak ikut campur
dalam usaha Inggris mendukung Sultan Palembang, yang saat itu merasa tertekan
dan butuh pertolongan Inggris. Dari isi surat yang dikirimkan Sultan Najamuddin
II kepadanya, Raffles yakin bahwa belum ada kesepakatan formal antara Sultan

115
Raja Akil adalah Pangeran dari Siak, bersama pengikutnya meninggalkan Kerajaan Siak
karena diusir oleh penguasa Siak Raja Ali (Abdulrahman). Bersama pengikutnya ia berlayar ke
Lingga dan terus ke Bangka-Belitung. Melihat kemampuannya, Residen M.H. Court
memanfaatkan jasanya untuk menangkap Raden Kling (penguasa Pulau Bangka, wakil Sultan
Palembang) yang mundur ke Belitung akibat peristiwa pembunuhan terhadap Inspektur Brown.
Usaha Raja Akil itu tidak berhasil tetapi ia mampu melindungi penarikan pasukan Inggris dalam
ekspedisi tersebut, sehingga ia tetap dianggap berjasa bagi Inggris. Pada masa Residen Klaas
Heynis, ia tetap memanfaatkan Raja Akil karena Raja Akil telah membuktikan kemampuan dan
kesetiaannya kepada Belanda, dengan imbalan 125 pikul beras setiap bulan. Atas rekomendasi dari
K. Heynis, Muntinghe tetap memakai jasa Raja Akil (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Kemp,
1900: 367-368; Kemp, 1898: 260)

Universitas Indonesia
150

dan pemerintah Belanda. Sesampai di ibu kota Palembang, Salmond


diperintahkan untuk membuat kontrak dengan Sultan Najamuddin II, sekaligus
meyakinkannya bahwa Inggris tidak akan meninggalkannya. Salmond juga harus
menuntut Belanda untuk mencabut semua tuntutan mereka terhadap Sultan (The
Asitic Journal, Pebruari 1819 Vol.7).
Muntinghe bergerak dari Muntok116 pada 1 Juni 1818 menuju Palembang,
dengan menggunakan kapal perang, diikuti satu kapal pengangkut, satu kapal
meriam dan sekitar dua puluh perahu. Tiga hari kemudian tiba di ibu kota
Palembang (4 Juni 1818 atau 20 Rajab 1223 H). Dalam rombongan itu Raja Akil,
Pangeran Syarif Muhamad dan lainnya ikut serta. Kehadiran mereka disambut
Sultan Najamuddin II secara terbuka. Setelah itu, Muntinghe menemui para
pejabat sipil117 Belanda yang bertugas di sana, yaitu Valckenaer, De Groot dan
Willem van de Werteringe Buis. Selanjutnya, ia mengambil alih kekuasaan atas
Palembang, Bangka dan Belitung. Keesokan harinya Sultan Najamuddin II
menyambut kedatangan Muntinghe secara resmi di keraton. Pada 6 Juni 1818
Muntinghe menyerahkan surat dari Komisaris Jenderal kepada Sultan, yang
memuat tentang penunjukan dirinya sebagai wakil mereka, dalam rangka
menyelidiki kondisi Palembang dan Bangka (The Asiatic Journal, Pebruari
1819).
Selanjutnya Kesultanan Palembang memasuki babak baru dalam
hubungannya dengan Belanda, yaitu Kesultanan harus menerima kenyataan
wilayahnya dibagi antara Sultan Najamuddin II, Sultan Badaruddin II dan
Belanda. Pembagian itu mendorong masuknya pihak ketiga yaitu Inggris.

116
Kekuasaan Belanda di Muntok dikendalikan oleh Residen Smissaert, dengan
kekuatan militer yang sangat minim. Pulau Bangka- Belitung dan pulau-pulau lainnya di sekitar itu
sejak dahulu terkenal sebagai tempat bersarangnya para bajak laut (abad XV menjadi pusat bajak
laut atau elanong). Akibatnya, pantai-pantai di pesisir pulau itu menjadi daerah rawan dari
serangan dan pendudukan bajak laut. Contohnya pada 28 Mei 1819 para bajak laut menyerang
benteng Belanda di Toboali, sehingga empat puluh serdadu Belanda mundur ke Bayor dan Pangkal
Pinang. Para bajak laut mengusai benteng dan gudang timah Belanda di sana. (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; Lapian, 2009:137-138).

117
Para wakil pemerintah Belanda di ibu kota Palembang menangani perkara sipil dan
memungut bea masuk sebesar 10 sampai 25 dollar Spanyol dari setiap perahu yang berlabuh.
Biaya yang mereka butuhkan dalam menjalankan pemerintahan hanya beberapa ratus gulden per
bulan, karena sedikitnya aparat dan bidang garapan yang mereka lakukan (Kielstra, 1892: 89).

Universitas Indonesia
151

4.2 Pembagian Kekuasaan

Setelah tiga hari berada di Kesultanan Palembang, Komisaris Muntinghe


menyiapkan sesuatu yang penting untuk Sultan Najamuddin II. Pada 7 Juni 1818
Muntinghe menyodorkan konsep pembagian kekuasaan antara Sultan Najamuddin
II dan Sultan Badaruddin II. Sultan Najamuddin II terkejut dengan konsep yang
secara tiba-tiba disodorkan oleh Muntinghe. Dia yang sejaka 1813 berkuasa penuh
atas kerajaan tersebut, dihadapkan pada kenyataan ―pembagian‖ kekuasaan.
Sesuatu yang sulit untuk diterima. Apalagi dalam konsep itu, pembagiannya tidak
adil karena tanah dan penduduk yang masuk ke wilayahnya118 lebih sedikit
dibandingkan untuk Sultan Badaruddin II. Jumlah penduduk menjadi poin penting
bagi Sultan Najamuddin II karena menyangkut tenaga kerja (matagawe) yang
dapat dikerahkan untuk membantu kelangsungan pemerintahannya. Penduduk
juga merupakan masalah vital karena jumlah penduduk Palembang pada waktu
masih sangat sedikit dibanding luas wilayah yang ada. Di sisi lain, wilayah yang
menjadi ―jatah‖nya bukanlah kawasan yang produktif dibandingkan dengan
wilayah yang menjadi milik Sultan Badaruddin II. Pembagian wilayah tersebut,
bertujuan untuk mengurangi kekacauan yang telah dan tengah berlangsung di
Kesultanan Palembang. Menurut pihak Belanda pembagian kekuasaan mutlak
dilakukan, apalagi di mata pemerintah Belanda, Sultan Najamuddin II adalah
―produk‖ Inggris yang harus ―dikendalikan‖ (ANRI, Bundel Palembang No, 5.1;
Kemp, 1900: 381). Dengan usulan tersebut, kedua bersaudara dihadapkan pada
posisi sulit. Kesultanan Palembang untuk pertama kalinya dalam sejarahnya
dibagi-bagi, dan Belanda mendapatkan wilayah yang dapat dikuasainya secara
langsung.
Pertemuan antara Komisaris Muntinghe dan Sultan Najamuddin II
berlangsung selama tiga jam, dihadiri pula oleh Pangeran Adipati, dua orang putra

118
Wilayahnya terdiri dari: Sungai Bawang 5 dusun, Sungai Oling, Sungai Bunging 10
dusun, Sungai Serma, Sungai Lampang 12 dusun, Sungai Lampoing, Sungai Siayu, dan Sungai
Kurou 20 dusun. Di aliran kiri Sungai Plaju 7 dusun, dan di aliran kiri Sungai Kayu Agung 8
dusun. Batas-batas wilayahnya di utara sungai Kombang, di timur sungai Kurou, di selatan sungai
Babatan, dan di sebelah barat sungai Blitan dan perbatasan Lampung, serta sungai Plaju (ANRI,
Bundel Palembang No. 12 D II). Daerah-daerah tersebut pada saat ini meliputi sebagian wilayah
kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin.

Universitas Indonesia
152

Sultan dan seorang bangsawan. Dalam pertemuan itu dibahas tentang penyerahan
sebagian wilayah Palembang yaitu daerah hulu dan hilir termasuk wilayah yang
berbatasan dengan Bengkulu dan Lampung kepada Belanda. Artinya, wilayah
yang menjadi bagian Belanda di Kesultanan itu merupakan wilayah terluas
dibandingkan wilayah untuk kedua sultan. Pendudukan langsung sebagian besar
wilayah Palembang oleh Belanda, dimaksudkan untuk mencegah perampokan,
penculikan dan perdagangan budak yang marak terjadi pada waktu itu.
Selanjutnya, Sultan Najamuddin II akan memperoleh dana tunjangan sebesar
seribu dollar Spanyol per bulan, sepuluh koyang garam dan seratus sampai dua
ratus koyang beras per tahun119, serta bebas dari berbagai bentuk penyetoran
kepada pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda juga akan menghapuskan
perbudakan, dan hukuman mati. Dalam bekerja, penduduk dibebaskan tanpa
paksaan atau tekanan, mereka bebas bekerja sesuai keinginan dan keterampilan
masing-masing, sedangkan hak monopoli candu, garam dan bea masuk akan
dipegang pemerintah Belanda120. Selanjutnya, Sultan Najamuddin II harus segera
meninggalkan keraton, dan diserahkan kepada Sultan Badarudin II. Sultan
Najamuddin II terpaksa menerima ketentuan-ketentuan yang disodorkan, dengan
catatan kedudukannya sebagai sultan tetap terjamin (ANRI, Bundel Palembang
No. 67; No. 5.1; Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; The Asiatic Journal,
Pebruari 1819; Kemp, 1900: 371-374; Kemp, 1898: 260).
Dalam waktu yang sangat singkat, Sultan Najamuddin II dihadapkan pada
berbagai ―ketentuan‖ yang memaksanya untuk menerimanya. Ia harus
menyerahkan sebagian besar wilayah, yang otomatis menyerahkan kekuasaannya.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah bahwa ia harus keluar dari keraton Kuto
Besak yang merupakan simbol kekuasaan sultan, untuk menyerahkannya kepada
―musuh‖nya yaitu Sultan Badaruddin II. Suatu kondisi yang tidak pernah
terbayangkan sebelumnya. Situasi yang sangat menyakitkan itu, membuat
Najamuddin II meminta perlindungan kepada Raffles di Bengkulu. Najamuddin II

119
Dalam The Asiatic Journal (Pebruari 1819) menyatakan bahwa sultan
mendapatkan seribu dollar per bulan, lima koyang beras, seratus gantang garam, dan 25
ribu dollar untuk merenovasi keratonnya.
120
Semua ketentuan itu juga berlaku pada Sultan Tuo.

Universitas Indonesia
153

berharap peristiwa 1813 terulang kembali, yaitu ia dinaikkan kembali setelah


diturunkan oleh Robison.
Berbeda dengan Sultan Najamuddin II yang terpaksa menerima usulan-
usulan Belanda, Badaruddin II menerimanya dengan terbuka. Pada 20 Juni 1818
perjanjian antara Badaruddin II dan Muntinghe disahkan, Badaruddin II mendapat
gelar ―Sultan Tuo‖, sedangkan Sultan Najamuddin II mendapat gelar ―Sultan
Mudo‖. Wilayah yang menjadi bagian Sultan Badaruddin II yakni, sebelah utara
berbatasan dengan Sungai Musi, sebelah timur dengan Sungai Ogan, Trusa Kilip,
Bulu Cawang, dan Bankula. Di selatan berbatasan dengan sungai Kouang,
Lamatang, dan bagian barat berbatasan dengan sungai Musi121 (ANRI, Bundel
Palembang No. 12 D II; Bataviaasch Courant, 26 Juni 1819, nomor 26). Daerah-
daerah tersebut pada saat ini sebagian nama-nama dusun yang tertera dalam
kontrak 20 Jni 1818 tidak dikenal lagi. Diperkirakan wilayah kekuasaan Sultan
Tuo meliputi sebagian daerah Kabupatern Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir dan
Muara Enim.
Dalam kontrak tersebut terdapat pula tambahan pasal (pasal 1) yaitu
pengampunan yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada Sultan Tuo
atas kesalahannya dalam peristiwa pembunuhan 1811, dengan syarat Sultan
Badaruddin II wajib membantu pemerintah Belanda membangun kembali benteng
Belanda yang telah hancur sebesar f 100.000. Sultan Tuo juga diwajibkan
membayar ganti rugi kepada Sultan Mudo sebesar f 500 ribu yang harus segera
diserahkan setelah Najamuddin II keluar dari keraton Kuto Besak. Keraton Kuto
Lamo yang dihuni Sultan Mudo setelah keluar dari keraton Kuto Besak harus
segera diperbaiki oleh Sultan Badaruddin II. Campur tangan Belanda lebih lanjut
dalam sistem pemerintahan di Kesultanan Palembang, terlihat dari adanya
ketentuan bahwa apabila Sultan Badaruddin II akan mengangkat Pangeran

121
Daerahnya terdiri dari Blida, Kramasan, Glakar, Maranjar, Trusa Kilip, Bankula, Batu
Caway, Rambang, Kouang, Neru, Lamatang dan Lobi. Di samping itu, terdapat pula dusun-dusun
yang terletak di pesisir sungai-sungai, yakni Sungai Ogan 12 dusun, Sungai Glakar 12 dusun,
Sungai Maranjang 6 dusun, Sungai Pulau Cawang 6 dusun, Sungai Bengkula 5 dusun, Sungai
Rambang 26 dusun, Sungai Lobi 8 dusun, Sungai Niru satu dusun dan satu distrik, Sungai
Lamatan 6 dusun, Sungai Muda satu dusun, Sungai Blida 6 dusun, Sungai Kramesan satu dusun
dan lahan penggembalaan kerbau. Total mencapai 84 dusun (ANRI, Bundel Palembang No. 12 D
II).

Universitas Indonesia
154

Adipati, Sultan harus terlebih dahulu meminta persetujuan dari pemerintah


Belanda (Stapel, 1940: 170; Kemp, 1900: 374-375). Kontrak-kontrak yang terjadi
antara pemrintah Belanda dan Najamuddin II serta Badaruddin II, membuktikan
bahwa pascamundurnya Inggris di Palembang, penguasa Belanda semakin dalam
menanamkan pengaruhkan atas wilayah tersebut. Hal itu tidak dapat dilepaskan
dari kekacauan di Palembang sebagai akibat perebutan kekuasaan antara dua
bersaudara sejak 1812. Sultan Badaruddin II yang memanfaatkan kehadiran
kembali Belanda di Palembang, memanfaatkannya untuk naik kembali ke tahta
pemerintahan, walaupun harus berbagi dengan adiknya Najamuddin II. Sementara
itu, Belanda sebagai pihak penguasa, juga memanfaatkan situasi yang ada untuk
lebih dalam menanamkan pengaruhnya di sana. Dalam sejarah Kesultanan
Palembang bahkan jauh sebelumnya, inilah kali pertama Belanda memperoleh
wilayah yang boleh diperintah langsung bahkan wilayah yang dimilikinya jauh
lebih luas dibandingkan dengan wilayah untuk dua orang bersaudara. Keuntungan
Belanda juga diperoleh dari ketentuan Sultan Badaruddin II harus membangun
benteng yang telah hancur, serta membayar ganti rugi kepada Najamuddin II.
Gambaran tersebut, sama dengan tesis yang dikemukan oleh Nategaal (1996)
tentang balasan yang lebih hebat yang harus diterima oleh penguasa pribumi
apabila mereka berkeinginan untuk ―mengendarai‖ Belanda. Yang terjadi justru
―mereka‖ ditunggangi oleh mereka.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan pembayaran yang telah disepakati,
pada 21 Juni 1818 Muntinghe mengirim Valckenaer dan De Groot menemui
Sultan Tuo. Berkaitan dengan hal itu, pada malam hari 21-22 Juni 1818 Pangeran
Nadi (putra kedua Sultan Tuo), menantu sultan dan dua orang bangsawan
menyerahkan uang sebanyak sepuluh peti kepada utusan Muntinghe. Untuk
sementara peti-peti itu disimpan di kas daerah, selanjutnya diserahkan kepada
Sultan Mudo. Akan tetapi isu yang berkembang adalah bahwa uang tersebut
diminta oleh Muntinghe (uang sogokan). Muntinghe membantah isu adanya ―uang
sogok‖ dari Sulan Tuo sebesar 500.000 dollar Spanyol122. Menurut Muntinghe,
semua itu merupakan akal bulus Raffles untuk menjatuhkan kredibilitasnya (Java
Gouvernement Gazette, 4 Juli 1812; Kemp, 1898:262; Kemp, 1900: 374, 415).

122
The Asiatic Journal (IX, 1820: 548), jumlah uang 200.000 dollar Spanyol

Universitas Indonesia
155

Terlepas benar tidak maslah ―uang sogokan‖ tersebut, uang tetap menjadi salah
satu faktor penentukan dalam gerak sejarah Kesultanan Palembang awal abad
XIX.
Setelah bersepakat dengan Sultan Tuo, Muntinghe harus membereskan
masalah yang belum rampung dengan Sultan Mudo. Untuk itu, pada 23 Juni 1818
09.00, berkas-berkas yang harus ditandatangani Sultan Najamuddin II diserahkan
kepada juru tulis Sultan yaitu Ingabehi Carik dan Mohamad. Sultan terkejut
dengan rancangan yang harus ditandatanganinya dalam waktu maksimal 24 jam.
Sultan meminta waktu lebih lama, tetapi usul itu ditolak. Muntinghe bahkan telah
menempatkan kapal perang Eendracht dalam posisi siap menembak ke arah
kraton123. Penempatan kapal perang tersebut menunjukkan telah terjadi tekanan
hebat terhadap Sultan, untuk segera menandatangani kontrak yang disodorkan
kepadanya. Dalam kondisi terdesak Sultan menyerahkan penanganan kontrak
tersebut kepada Perdana Menteri, sehingga cap dan nama Sultan dalam lembar
kontrak itu dibuat oleh Perdana Menteri (Pangeran Adipati) atas perintah Sultan
pada sekitar pukul 2.00-3.00124 (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No. 67;

123
Dalam The Asiuatic Journal (Pebruari, 1819) dipaparkan bahwa Sultan Najamuddin II
menolak meninggalkan keraton meskipun ditekan dengan kekerasan. Sultan menyatakan ―semua
disiapkan untuk mengancam dirinya‖.
124
Proposal yang disodorkan Muntinghe pada 7 Juni 1818 membuat Sultan
Najamuddin syok dan terdesak. Untuk itu, langkah yang diambilnya adalah meminta
waktu untuk berpikir. Waktu yang ada dimanfaatkannya untuk meminta bantuan
kepada Raffles di Bengkulu. Hal itu menyebabkan Muntinghe mengirimkan utusan pada
23 Juni 1818, dengan ultimatum kontrak harus segera ditandatangani. Nantinya, hal itu
menjadi masalah yang besar, karena dianggap tidak sah. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Muntinghe kepada para bangsawan, dapat disimpulkan bahwa raja-raja
Palembang umumnya tidak membubuhkan cap dan tandatangannya sendiri. Biasanya
sultan akan memerintahkan orang lain menuliskan nama dan cap. Sesuai kesaksian
Sultan Badaruddin II, yang menyatakan bahwa kontrak dapat dianggap sah apabila telah
dibubuhi cap kerajaan. Dalam kaitannya dengan kasus Sultan Najamuddin II, apakah
kontrak itu ditandatangani dan dicap oleh Sultan Najamuddin II atas keinginan dan
sepengetahuannya? Semua itu harus dilihat dari proses awal terjadinya kontrak
tersebut. Menurut kesaksian para Pangeran, Tumenggung dan Mantri di atas sumpah,
bahwa menurut ketentuan di Kesultanan Palembang, cap kerajaan harus disimpan oleh
sultan. Tidak diperkenankan seorangpun menggunakannya tanpa persetujuan sultan
(tidak terkecuali Pangeran atau Pangeran Adipati). Pada saat ditanyakan oleh sekretaris
Muntinghe setelah kejatuhan Sultan Najamuddin II, Najamuddin II menyatakan bahwa
dirinya tidak pernah mengingkari perjanjiannya dengan Muntinghe dan bersedia diambil
sumpah untuk mengesahkannya (Kemp, 1900: 412). Untuk kesekian kalinya Najamuddin

Universitas Indonesia
156

Bataviaasche Courant, 26 Juni 1819, nomor 26; Kemp, 1898: 260-263; Kemp,
1900: 378-380). Dengan demikian, berakhirlah ―drama‖ penandatanganan kontrak
antara Sultan Najamuddin II dan Muntinghe. Bagaimana sikap Sultan Najamuddin
II selanjutnya akan terlihat pada pembahasan selanjutnya.
Setelah pembagian kekuasaan antara kedua saudara itu selesai, mereka
dihadapkan pada masalah pembagian jabatan pegawai rendahan, antara lain
masalah tenaga kerja, pasukan pengawal, petugas pengawas, dan petugas
pembawa payung. Masalah lain yang menjadi sumber sengketa adalah
sembahyang Jumat. Sultan Tuo menganggap dirinya adalah satu-satunya wakil
kesultanan. Oleh karena itu, ia menetapkan Penghulu harus mendoakannya.
Sebaliknya, Sultan Mudo menolak hal tersebut dengan alasan, selama ini
dirinyalah yang didoakan oleh Penghulu. (Kemp, 1900: 281-282). Berbagai
masalah itu muncul karena keduanya merasa orang yang paling berhak atas posisi
tertinggi di Kesultanan Palembang. Harga diri menjadi ukuran segalanya,
sehingga membawa suasana di kesultanan itu semakin tidak menentu. Rakyat
menjadi korban karena saling mencurigai dari masing-masing pendukung sultan.
Pascapembagian kekuasaan, menunjukkan masih banyak masalah krusial
di kesultanan itu. Hal itu tidak terlepas dari adanya dua kubu yang saling bertikai
sejak 1812. Akibatnya, persoalan tersebut terus menggorogoti persatuan dan
kesatuan di kesultanan itu. Inti dari berbagai permasalahan di Palembang adalah
perebutan kekuasaan antara kedua kakak-adik Badaruddin II dan Najamuddin II,
Inggris dan Sultan Badaruddin II, Belanda dan Sultan Najamuddin II serta antara
Belanda dan Inggris. Berbagai persoalan tersebut selalu melibatkan Muntinghe
dalam penyelesaiannya. Di sini tampak, bahwa sesungguhnya yang mempunyai
kuasa di daerah ini adalah Belanda yang dikendalikan oleh Komisaris Muntinghe.

4.3 Konflik Inggris dan Belanda di Kesultanan Palembang

II mengingkari perbuatan atau pernyataannya. Semua itu menunjukkan bahwa


Najamuddin II tipe orang yang “mencari selamat” demi dirinya sendiri dan keluarganya.

Universitas Indonesia
157

Raffles menggantikan Residen Siddon sebagai wakil Inggris di Bengkulu. Ia tiba


di sana pada 22 Maret 1818. Sebagai pengganti Siddon, seharusnya Raffles juga
menyandang jabatan sebagai residen, namun Raffles menolaknya dan
125
menggunakan gelar Letnan Gubernur . Sebagai wakil pemerintah Inggris di
Bengkulu, Raffles mempunyai pandangan tersendiri mengenai keberadaan Inggris
dan Belanda yang wilayahnya berbatasan langsung. Dalam suratnya yang
dikirimkan dari Fort Marlborough Bengkulu pada 23 Maret 1818 kepada
Gubernur Jenderal Baron van der Capellen di Batavia. Raffles menyampaikan
kabar tentang kedatangannya di Bengkulu dan pengangkatannya sebagai Letnan
Gubernur Inggris di Sumatra dan sekitarnya. Ia juga menyatakan akan tetap
mempertahankan saling pengertian antara kedua bangsa, dan menawarkan
kerjasama. Tawaran itu diterima Gunernur Jenderal van der Capellen, sebagai
bentuk diplomasi politik antara wakil dua negara di tanah koloni (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; ANRI, Besluit van Gobernor General. 23 April 1818 No. 3
Bundel Algemeen Secretarie).
Pada awal pemerintahannya, Raffles melakukan pendekatan dan
perundingan dengan raja-raja dan kepala-kepala suku di kawasan Sumatra. Ia juga
mengadakan perundingan dengan Sultan Najamuddin II (ANRI, Bundel
Palembang No. 67). Tindakan Raffles melakukan pendekatan kepada para
penguasa di Pulau Sumatera, berarti menempatkan dirinya sebagai penguasa
politik yang melebihi wewenangnya. Tindakan itu mengundang permusuhan
dengan pihak Belanda, karena wilayah Inggris yang tersisa pada waktu itu hanya
Bengkulu, yang berbatasan langsung dengan wilayah yang berada di bawah
kekuasaan Belanda.

125
Raffles mengajukan permohonan kepada gubernur jenderal di Calcutta agar
diperkenankan menyandang gelar gubernu jenderal untuk Bengkulu. Alasan yang
dikemukakannya adalah bahwa gelar residen tidak pantas disandang oleh wakil
pemerintah Inggris di wilayah yang seharusnya diperintah oleh seorang gubernur.
Permohonan itu dikabulkan oleh gubernur jenderal Calcutta dengan catatan
kekuasaannya sama dengan seorang residen. Dengan demkian, Raffles tidak memiliki
kekuasaan politik (ANRI, Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
158

Sesuai misinya dan atas permintaan Sultan Najamuddin II, pada 20 Juni
126
1818 Raffles mengirim ekspedisi melalui darat ke Palembang. Ekspedisi itu
merupakan ekspedisi pertama orang Eropa dari Bengkulu sampai Palembang di
bawah pimpinan Kapten Salmond. Pilihan Raffles jatuh kepada Kapten Salmond
karena dia orang yang sangat dipercaya oleh Raffles. Pada kesempatan itu, Raffles
mengeluarkan instruksi yang menyatakan bahwa sesuai dengan kontrak tahun
1812 antara Inggris dan Palembang, Inggris wajib mempertahankan kedudukan
Sultan Najamuddin II yang terancam atas kehadiran Belanda di Palembang.
Selanjutnya, akan dibuat kontrak baru dengan Sultan Najamuddin II yang
menyatakan, bahwa Kesultanan Palembang berada di bawah perlindungan Inggris.
Dengan berbekal kontrak tersebut Raffles bermaksud untuk berkuasa kembali di
Palembang. Lebih lanjut untuk memuluskan langkahnya, Raffles mengirimkan
pengumuman kepada seluruh penduduk agar melepaskan diri dari cengkeraman
kolonial Belanda. Setelah persiapan selesai, ekspedisi Inggris dipimpin Kapten
Salmond didampingi oleh Letnan Haslam (Komandan pasukan Sepoy), Samuel
Garling (penguasa pelabuhan Bengkulu) dan dua orang raja Bengkulu (Raja
Bangsawan dan Raden Arif) serta Raden Karim, seorang bangsawan Madura yang
memihak Inggris (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; The Asiatic Journal,
Pebruari 1819; Kemp, 1898: 265-268; Woelders, 1975: 98; Kemp, 1898: 265).
Setelah beberapa hari berjalan mereka tiba di Muara Bliti127. Kehadiran
mereka di sambut oleh utusan Sultan Najamuddin II. Utusan itu telah menyiapkan
segala kebutuhan untuk melanjutkan perjalanan ke ibu kota Palembang, disertai
tambahan pasukan. Selanjutnya, Salmond memutuskan untuk meninggalkan
sebanyak 150-200128 orang anggota pasukan di Muara Bliti di bawah pimpinan
Letnan Haslam. Keputusan itu diambil Salmond karena adanya surat dari Raffles
tertanggal 24 Juni 1818, yang menyatakan bahwa pihak Belanda telah

126
The Asiatic Journal (Pebruari 1819) menyebutkan bahwa surat yang
dikirimkan oleh Raffles kepada sultan, tertanggal 21 Juni 1818.
127
Muara Bliti adalah tempat yang sangat strategis antara Bengkulu dan
Palembang. Di daerah inilah nantinya pada Nopember 1818 pasukan Inggris dan Belanda
berhadapan langsung. Pertempuran tidak berlanjut karena pasukan Belanda memilih
mundur kembali ke ibu kota Palembang. Lokasi ini sekarang berada di Kabupaten Musi
Rawas.
128
Menurut Kemp (1898: 268), serdadu sepoy yang ditinggalkan di Muara Bliti
sebanyak 70-100 orang serdadu.

Universitas Indonesia
159

menyiapkan pasukan guna menghadang pasukan Inggris. Untuk itu, Raffles


menginstruksikan agar Salmond memutuskan sendiri tindakan apa yang akan
dilakukan selanjutnya. Atas dasar itu, Salmond memutuskan untuk bergerak ke
ibu kota tanpa pengawalan guna menghindari terjadinya pergolakan. Selanjutnya,
Salmond meneruskan perjalanan menelusuri Sungai Musi dengan pancalang
selama delapan belas hari, bersama tiga orang penguasa pribumi, tiga orang
serdadu Bugis dan 25 orang serdadu Sepoy (The Asitic Journal, Pebruari 1819;
Kemp, 1898: 267-268).
Pasukan Inggris tiba di ibu kota Palembang pada 4 Juli 1818. Mereka
disambut langsung oleh Sultan Najamuddin II, tiga orang pangeran, tumenggung,
rangga dan demang di gerbang keraton Kuto Lamo. Pada pertemuan itu Kapten
Salmond menyerahkan surat Raffles dan bendera The Union Jack. Diakhir
suratnya Raffles menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki apapun yang dapat
diberikannya kepada Sultan kecuali bendera Inggris. Suatu simbol bahwa Raffles
akan membela Sultan dari tekanan Belanda. Sesudah itu, bendera Inggris segera
dikibarkan di keraton Sultan Mudo. Pengibaran bendera itu, menunjukkan Sultan
Mudo mengakui persahabatan dan supremasi Inggris atas Palembang. Pada
pertemuan itu, secara lisan Sultan Najamuddin II menyatakan bahwa dirinya tidak
terikat perjanjian dengan pihak Belanda, dan ingin membuat kontrak baru dengan
Inggris. Selanjutnya, disepakati untuk membuat suatu traktat kehormatan yang
terdiri dari dua pasal. Pasal-pasal itu memuat tentang pernyataan bahwa Sultan
Najamuddin II menerima perlindungan Inggris dan Inggris berjanji akan mengusir
semua bangsa Eropa dari wilayah Palembang. Disebutkan pula bahwa Raffles dan
Sultan Mudo sepakat untuk menerima pasukan Inggris dan Sultan Mudo akan
menanggung seluruh biayanya. Pada kesempatan itu dibahas pula tentang kontrak
dengan Belanda yang tidak diakui oleh Sultan Mudo. Sultan Mudo
memperlihatkan kontrak tersebut kepada utusan Raffles. Berdasarkan pengamatan
salah seorang anggota pasukan Salmond yaitu Samuel Garling, dinyatakan bahwa
di dalam kontrak tersebut ditemukan kejanggalan yaitu tanda tangan Sultan Mudo
berbeda dengan yang tertera di kontrak antara Sultan Mudo dan Inggris. Sultan
Mudo menyatakan bahwa kontrak dengan Belanda adalah kontrak yang
dipaksakan (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 5.1; Bataviaasch Courante, 26

Universitas Indonesia
160

Juni 1819, nomor 26; The Asitic Journal, Pebruari 1819; Woelders, 1975: 98;
Kemp, 1898: 265-271).
Ternyata hal itu merupakan ―cara‖ Sultan Mudo untuk mengingkari
kontrak dengan Belanda. Sultan Mudo ingin menegaskan bahwa tanda tangan
yang tertera di dalam kontrak dengan Belanda tidak sah. Hal itu karena tidak
ditandatanganinya sendiri, berbeda dengan kontraknya dengan Inggris.
Beberapa hari setelah keberangkatan pasukan pertama, sekitar 200 orang
serdadu menyusul kesatuan Kapten Salmond129. Kesatuan itu tiba di daerah Muara
Rawas bersamaan waktunya dengan merapatnya Kapten Salmond dan
rombongannya di ibu kota Palembang pada 4 Juli 1818. Selanjutnya, kesatuan itu
terus bergerak mencapai Bayo Lango. Di sana mereka berhenti sambil menunggu
perkembangan selanjutnya dari Kapten Salmond (Stapel 1940: 170).
Dengan adanya pasukan Inggris yang dipimpin oleh Kapten Salmond di
ibu kota Palembang, Sultan Mudo mengirimkan utusan untuk memberitahukan hal
tesebut kepada Muntinghe. Tidak lama berselang, Kapten Salmond juga mengutus
Raden Karim dan Powell untuk menyerahkan surat Raffles kepada Muntinghe dan
Komisaris Jenderal Belanda. Dalam suratnya yang ditulis pada 24 Juni 1818,
Raffles menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Muntinghe terhadap
Kesultanan Palembang tidak sah. Untuk itu, ia tidak akan menyerahkan Padang
kepada Belanda, walaupun telah ditetapkan dalam Traktat London (1814), sampai
masalah Palembang diselesaikan dengan baik130. Lebih lanjut Raffles menyatakan
bahwa apa yang dilakukan oleh Muntinghe terhadap Palembang, menunjukkan
bahwa ia telah mengabaikan isi perjanjian antara Belanda dan Inggris yang
menyatakan bahwa raja Inggris menyerahkan Pulau Bangka kepada raja Belanda,
dengan ketentuan pemerintah Belanda wajib melindungi status dan kedudukan
Sultan Mudo yang berada di bawah perlindungan Inggris. Dengan demikian,
pemerintah Belanda tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan

129
Woelders menyatakan bahwa serdadu yang dikirimkan Raffles ke Palembang
berjumlah 300 orang (1975: 98).
130
Raffles menyerahkan Padang setelah dikeluarkannya surat Gubernur Jenderal Inggris
pada 28 Agustus 1818 dan 6 November 1818 (ANRI, Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
161

Palembang. (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; Asiatic Journal, Pebruari 1819:
210; Kemp, 1898: 265-268). Berbekal hal di atas, Raffles berjuang untuk
melepaskan Palembang dari kekuasaan Belanda.
Menghadapi tekanan Raffles, Muntinghe membalas surat Salmond dengan
tawaran agar Salmond menemuinya di atas kapal Eendrach untuk membahas
berbagai permasalahan. Undangan itu ditolak oleh Salmond dan hanya bersedia
berurusan dengan Sultan Mudo. Pada hari itu telah terjadi kesepakatan antara
Sultan Mudo dan Salmond untuk menaikkan bendera Inggris di keraton Sultan
Mudo. Pengibaran bendera tersebut merupakan masalah serius dan
membahayakan bagi Belanda. Menurut Muntinghe, pengibaran bendera tersebut
menandakan bahwa Inggris tidak mengakui eksistensi Belanda atas Palembang.
Kondisi ini tidak dapat ditolelir. Untuk itu, Muntinghe mengutus Kapten Zeni van
der Wijck menemui Kapten Salmond guna mendapatkan jawaban atas surat
sebelumnya. Menghadapi hal itu Salmond bersikukuh menyatakan bahwa
kehadirannya di Palembang, semata-mata untuk bertemu dengan Sultan Mudo, ia
tidak mendapat mandat untuk melakukan perundingan dengan Belanda. Terdapat
tiga alasan Salmond menolak tawaran tersebut, pertama, tuntutan Muntinghe agar
Salmond dan pasukannya segera meninggalkan Palembang kembali ke Bengkulu.
Kedua, dalam perjalanan kembali ke Bengkulu, mereka harus berada dalam
pengawalan pasukan militer Belanda sampai perbatasan Palembang-Bengkulu,
dan ketiga, bendera Inggris harus segera diturunkan (The Asiatic Journal, Pebruari
1819; The Asiatic Journal, IX, 1820: 451).
Ketiga ketentuan tersebut, membuat Salmond merasa terhina. Pengawalan
pasukan Belanda sampai perbatasan Bengkulu akan membahayakan, karena akan
terjadi ―pertemuan‖ dua kekuatan di uluan antara pasukan Belanda yang
mengawal pasukan Salmond dan pasukan Inggris yang menunggu di sana.
Apabila hal itu terjadi, pertempuran tidak dapat dielakkan yang akan berdampak
negatif bagi kedua bangsa.
Menghadapi sikap Salmond, melalui surat balasannya Muntinghe
menjelaskan secara rinci tentang hak Belanda sesuai isi Traktat London (1814)
atas Kesultanan Palembang. Untuk itu, Inggris tidak berhak ikut campur dalam
urusan Belanda dengan Kesultanan Palembang. Alasan lain adalah bahwa

Universitas Indonesia
162

berdasarkan kontrak antara Sultan Najamuddin II dan Komisaris Muntinghe pada


23 Juni 1818 tentang hak Belanda atas Palembang. Menghadapi berbagai tuntutan
Muntinghe, Salmond berdalih untuk menjawabnya pada keesokan harinya, namun
permintaan itu ditolak oleh Kolonel Baker sebagai wakil Muntinghe. Dalam
kondisi demikian, Salmond tetap bersikukuh pada pendiriannya. Menurutnya,
Sultan Najamuddin II tidak perlu merasa terikat dengan Belanda, karena
perjanjian antara Sultan Najamuddin II dan Komisaris Muntinghe terjadi atas
dasar paksaan. Saat itu Sultan Mudo telah mengikat kontrak dengan Inggris dan
berada di bawah perlindungan Inggris. Oleh karena itu, bendera Inggris tidak
boleh diturunkan kecuali dengan kekerasan (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1;
Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; Stapel, 1940: 171; Kemp, 1898: 272-
273).
Saat itu adalah masa kritis bagi kedua wakil dari bangsanya masing-
masing (Komisaris Muntinghe dan Kapten Salmond), khususnya bagi Muntinghe.
Sebagai orang yang mendapat kuasa penuh dari Batavia, Muntinghe takut terjadi
krisis internasional karena melibatkan bangsa besar (Inggris). Akan tetapi, kondisi
yang ada tidak dapat dibiarkan. Keberadaan pasukan Inggris di wilayah kekuasaan
Belanda akan mengakibatkan kerusuhan dan konflik. Patokan yang dipegang oleh
Muntinghe adalah kontrak yang telah ditandatangani pada 23 Juni 1818. Atas
dasar itu Muntinghe bertindak untuk mengakhiri ketidakpastian dan ketegangan.
Ia memerintahkan Kapten Zeni Van der Wijck untuk memblokade jalan keluar
dari keraton. Seratus orang anggota pasukan Sultan Tuo dan Raja Akil131
menduduki pintu gerbang keraton. Langkah selanjutnya adalah menyiagakan
kapal perang Eendracht di depan keraton. Kondisi itu memaksa Sultan Mudo
menurunkan bendera Inggris pada saat matahari terbenam. Dalam kondisi
terdesak, Salmond menuntut agar pasukan gabungan Belanda dan Sultan Tuo
ditarik mundur, namun tuntutan itu ditolak Muntinghe. Sebaliknya, ia memaksa
agar senjata dan amunisi yang dimiliki pasukan Salmond harus diserahkan.
Selanjutnya, pasukan Inggris harus berada di bawah ―perlindungan pemerintah

131
Sumber The Asiatic Journal (Pebruari 1819) menyebutkan bahwa keraton
Sultan Najamuddin II dikepung oleh banyak serdadu, yang terdiri dari orang-orang
Belanda, orang-orang Sultan Tuo dan orang-orang Siak. Jumlahnya mencapai sekitar
tujuh ratusan orang.

Universitas Indonesia
163

Belanda‖ dengan jaminan akan diperlakukan secara terhormat (ANRI, Bundel


Palembang No. 5.1; Bataviaasche Courant, 26 Juni 1819, nomor 26; Kemp, 1900:
387-388; Kemp, 1898: 269-274; Stapel, 1940: 171).
Pada saat itu Salmond tidak mempunyai pilihan lain, apabila ia menolak,
pihak Belanda akan melakukan tindakan kekerasan. Malam itu itu terjadi saling
protes antara Muntinghe dan Salmond. Di satu sisi, Salmond mempermasalahkan
keabsahan perjanjian antara Muntinghe dan Sultan Mudo yang terjadi pada 23
Juni 1818, sedangkan di sisi lain Muntinghe melancarkan ancaman untuk
menyerang Salmond dan pasukan. Walaupun demikian, Muntinghe tetap
memberikan peluang lain berupa penawaran agar Salmond menyerahkan diri
untuk selanjutnya akan dikembalikan ke Bengkulu. Akan tetapi, tetap belum
menemukan kesepakatan, karena Salmond bersikukuh untuk tidak meninggalkan
Palembang. Akhirnya, Muntinghe memutuskan untuk mengirim Kapten Van der
Wijck ke keraton. Pada pukul 03.00, 5 Juli 1818 kesatuan Belanda memasuki
keraton di saat Salmond sedang tidur. Dalam versi Salmond disebutkan, bahwa
pagi itu (03.30) dirinya kedatangan tiga orang perwira Belanda dan sekelompok
pasukan bersenjata. Mereka menyodorkan surat dari Muntinghe, yang isinya
memuat tentang tawaran darinya agar Salmond bersedia menyerahkan senjata.
Jika, tawaran itu diterima oleh Salmond, Muntinghe akan menyambutnya dengan
tangan terbuka. Semua kebutuhan mereka akan dipenuhi. Muntinghe
menawarkan rumah kediamannya sebagai tempat tinggal Salmond sementara, dan
menyiapkan perahu-perahu untuk mengangkut anggota pasukan Inggris. Akan
tetapi, Salmond menolak tawaran tersebut dan menyatakan akan mengurangi
pasukannya. Melihat kondisi tersebut, Kapten Van der Wijck memutuskan untuk
merampas semua senjata pasukan Inggris. Tindakan tersebut mendapat protes
keras dari Salmond dengan mengatakan bahwa mereka adalah utusan dari bangsa
besar yang terhormat. Akibatnya, senjata-senjata itu segera dikembalikan kepada
pasukan Salmond. Hal itu sesuai dengan laporan Kapten Salmond kepada Raffles
pada 6 Juli 1818. Akhirnya, pasukan Inggris terpaksa meninggalkan keraton
Sultan Mudo dengan pengawalan militer. Dengan demikian, ―fungsi politik‖
Kapten Salmond di wilayah Palembang berakhir (The Asitic Journal, Pebruari
1819; Kemp,1898: 274-276; Kemp, 1900: 390).

Universitas Indonesia
164

Kondisi kritis itu berakhir, karena Salmond tidak mempunyai pilihan lain.
Pasukan yang dibawanya sangat sedikit dibandingkan dengan pasukan gabungan
Belanda dan Sultan Tuo, sedangkan Sultan Mudo tidak memiliki kekuatan yang
kuat. Bertahan berarti akan menerima kekerasan dari pasukan Belanda. Di pihak
Belanda, sebagai pimpinan pada waktu itu Muntinghe harus berhati-hati karena
Salmond dan pasukannya adalah wakil Raffles, yang berarti wakil bangsa Inggris.
Apabila penanganannya dengan kekerasan, akan menimbulkan masalah bagi
kelangsungan hubungan kedua negara induk (Belanda dan Inggris).
Dengan berakhirnya ―drama‖ di keraton Kuto Lamo, para penghuni
keraton lainnya segera meninggalkan keraton. Para tokoh yang terlibat dalam
penyambutan terhadap Salmond dan pasukannya ditangkap. Meskipun demikian,
pasukan Muntinghe tidak melakukan pengepungan terhadap keraton. Apabila itu
dlakukan, akan memancing kemarahan ummat Islam yang keesokan harinya akan
memulai ibadah Puasa Ramadhan. Untuk mengindarkan hal-hal yang tidak
diinginkan, Sultan Mudo dan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang terdapat
di dalam keratonnya dengan pengawasan yang ketat. Sementara itu, Sultan Tuo
memperoleh keuntungan karena tanah-tanah yang menjadi milik Sultan Mudo
sesuai kontrak 23 Juni 1818, dialihkan kepadanya. Dengan demikian, kekuatan
Sultan Tuo semakin besar (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; The Asitic Journal,
Pebruari 1819; Kemp, 1898: 275; Kielstra, 1892: 92).
Sejak itu, Sultan Badaruddin II berkuasa atas wilayah peninggalan Sultan
Najamuddin II. Untuk membantu tugas-tugasnya sultan mengangkat adiknya
Pangeran Arya Kusuma sebagai Adipati, sehingga di Kesultanan Palembang
terdapat dua orang yang menjabat sebagai Adipati yaitu Adipati Tuo dan Adipati
Mudo (Woelders, 1975: 100). Peristiwa tersebut menjadi sejarah bagi Kesultanan
Palembang, karena belum pernah terjadi sebelumnya terdapat dua orang adipati di
kesultanan itu. Hal itu terjadi karena kedua adik Sultan Tuo dan Sultan Mudo itu
tidak memihak kepada Sultan Mudo, padahal Pangeran Adipati Tuo adalah
Adipati Sultan Mudo.
Setelah tiga hari menjadi ―tamu‖ Komisaris Muntinghe, Kapten Salmond
dan pasukannya sepakat meninggalkan Palembang kembali ke Bengkulu melalui
Batavia. Sebelumnya Komisaris Muntinghe menawarkan dua pilihan untuk

Universitas Indonesia
165

kembali ke Bengkulu, jalur darat atau laut. Salmond memilih lewat laut, karena
sulitnya jalur darat, sebagaimana yang mereka tempuh beberapa waktu
sebelumnya dari Bengkulu ke Palembang. Pada Rabu sore, 8 Juli 1818 mereka
menumpang kapal The Sea Horse132, yang disewa dari orang Arab seharga f 1000.
Dalam pelayaran itu mereka berlabuh di Muntok pada 11 Juli 1818, untuk
selanjutnya pada 17 Juli 1818 berlayar menuju Batavia. Tiba di sana pada Sabtu, 1
Agustus 1818 (Kielstra, 1892: 91; Kemp, 1898: 276).
Sesampainya rombongan Kapten Salmond di Batavia, segala kebutuhan
mereka khusus diurus oleh J.C. Baud selaku Sekretaris pemerintah pada waktu itu.
Di sana mereka diperlakukan istimewa dan ditempatkan di penginapan
Weltevreden133. Semua itu dilakukan untuk memberikan kesan yang baik kepada
pasukan Inggris. Baud membebaskan mereka untuk menentukan tanggal
keberangkatan kembali ke Bengkulu, namun yang terjadi justru Slamond
menuntut agar dikembalikan ke Palembang. Alasan yang dikemukakannya adalah
untuk menuntaskan tugasnya di sana. Suatu permintaan yang tidak mungkin
dikabulkan oleh pemerintah Belanda di Batavia. Pilihan yang diberikan adalah ke
Bengkulu. Akhirnya, Kapten Salmond menyerah dan memutuskan untuk kembali
ke Bengkulu melalui jawaban tertulis pada 7 Agustus 1818, setelah selama tiga
pekan di Batavia. Beberapa hari kemudian, Salmond dan pasukannya berangkat
ke Bengkulu134 dengan kapal Junnon, di bawah pimpinan Kapten Nalbrow
(Kemp, 1898: 277-278; The Asiatic Journal, IX, 1820: 451).

132
Menurut Kemp (1900: 421), kapal yang digunakan adalah Zeepaard.
133
Weltevreden adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda yang dibangun oleh
Daendels (1809). Konsep pembangunannya menyerupai kota-kota lama di Hindia
Belanda. Ditandai dengan bangunan dan halaman luas. Bentuk bangunan umumnya
merupakan perpaduan gaya Eropa dan nusantara (Gunawan, 2010: 42-43).
134
Dalam surat terakhirnya yang ditulis di Weltevreden pada 18 Agustus 1818, Salmond
menyampaikan protes keras dari Raffles atas perlakuan Muntinghe terhadap dirinya dan
rombongan yang merupakan wakil resmi pemerintah Inggris di Palembang. Menurutnya, tindakan
itu tidak bertanggungjawab dan tidak dapat dibenarkan karena pemerintah Belanda telah
melanggar hak-hak dan kesepakatan yang dibuat antara pemerintah Inggris dan Sultan Najamuddin
II. Lebih lanjut, dikatakan bahwa sistem politik Belanda hanya mengutamakan kepentingannya
sendiri tidak menghormati kepentingan Inggris. Akan tetapi, Salmond juga mengakui perlakuan
baik yang mereka terima dari pemerintah Belanda, sebagaimana pengakuannya dalam surat yang
ditujukan kepada Raffles, yang dikirimkannya melalui jalur darat dari Palembang. (The Asiatic
Journal, Pebruari 1819)

Universitas Indonesia
166

Dengan demikian, perjalanan panjang pasukan Inggris di bawah komando


Kapten Salmond berakhir dengan kembalinya mereka ke Bengkulu. Sementara
itu, sesuai laporannya ke Batavia pada 10 Juli 1818, Muntinghe mendapat pujian
dari Gubernur Jenderal van der Capellen, atas strategi yang telah diambilnya
dalam menangani masalah ekspedisi Inggris. Capellen juga menyetujui keinginan
Muntinghe untuk memperluas wilayah kekuasaan di Palembang. Yang menarik
dari laporan itu, adalah pernyataan Muntinghe bahwa sesungguhnya dirinya sudah
menyadari sifat ambisius Sultan Tuo. Dinyatakan pula bahwa Sultan Tuo adalah
sultan yang selalu ingin membalas dendam kepada Belanda, dan keinginan itu
mendapat dukungan dari menantunya yaitu Pangeran Kromodirejo. Akan tetapi,
semuanya itu dapat diredam sehingga tidak membahayakan kedudukan Belanda di
Palembang. (Bataviaasche Courant, 26 Juni 1819, nomor 26).
Dengan ditangkap dan dibawanya pasukan Inggris ke Batavia, Raffles
memprotes tindakan tersebut, dengan cara menyebarluaskan peristiwa tersebut
melalui media-media Eropa pada 12 Agustus 1818. Raffles berharap gubernur
jenderal Inggris di Calcutta dan London segera bertindak terhadap Muntinghe
yang menduduki Bangka. Raffles bersikukuh bahwa masalah Bangka belum
selesai, karena keputusan tentang pulau tersebut merugikan Inggris. Ini semua
merupakan wujud nyata atas penolakan Raffles terhadap Traktat London (1814).
Selanjutnya, Raffles juga mengajukan protes kepada Batavia. Menurutnya,
pemerintah Belanda harus secepatnya keluar dari Palembang. Demi mewujudkan
keinginannya, Raffles dukungan dari rakyat Inggris melalui media massa.
Dukungan itu sangat diperlukan, dengan harapan rakyat Inggris akan marah dan
menuntut pengembalian pulau yang sangat berharga itu. Begitu pentingnya
masalah Palembang, sehingga permasalahan itu dibahas di Parlemen Inggris dan
dimuat di surat kabar Inggris. Artikel itu dimuat kembali oleh Javasche Courant
26 Juni 1819 nomor 26. Sengketa antara Inggris dan Belanda mengenai
Palembang menyebabkan hubungan baik antara kedua negara Eropa jadi
terganggu. Sesungguhnya, masalah itu tidak menyangkut prinsip yang mendasari
Traktat London (1814). Akan tetapi pelaksanaannya melibatkan kehormatan
politik dan kehormatan negara bagi kedua bangsa tersebut (ANRI, Bundel
Palembang No. 66.6).

Universitas Indonesia
167

Menghadapi manuver Inggris, pemerintah Belanda sejak awal Agustus


1818 telah berulang kali mengajukan keberatan terhadap Raffles. Dikatakan
bahwa Raffles menyandang gelar yang tidak sesuai dengan jabatannya, karena
faktanya Raffles tidak memiliki kekuasaan politik. Besarnya wewenang Raffles
tidak berbeda dengan Siddon yang sebelumnya telah berkuasa sebagai residen
Inggris di Bengkulu. Raffles juga dituding ikut campur dalam masalah Pulau
Belitung yang bukan haknya, sehingga pihak Belanda tidak lagi menghormatinya.
Menanggapi serangan-serangan gencar dari pihak Belanda, Raffles membalasnya
melalui surat pada 15 Agustus 1818. Raffles berkilah bahwa dirinya mempunyai
kewajiban mengamankan kepentingan Inggris di Hindia Timur. Oleh sebab itu,
dia menuntut pemerintah Belanda bertanggungjawab atas tindakan mereka di
Palembang dan usaha Belanda menduduki Pulau Belitung. Pulau itu tidak
135
termasuk dalam pasal 2 Traktat London (1814) , sehingga Raffles menganggap
Pulau Belitung tetap menjadi milik Inggris (ANRI, Bundel Palembang No. 67;
Javasche Courant 26 Juni 1819 nomor 26; Kemp, 1900: 400-404; Kemp, 1898:
256; Stapel, 1940: 155-156).
Tampaknya berbagai usaha yang ditempuh oleh Raffles tidak berhasil.
Pengakuan jujur Kapten Salmond atas tindakan manusiawi yang mereka terima,
selama berada di bawah perlindungan Belanda di Palembang dan Batavia (Juli-
Agustus 1818), berhasil mematahkan semua tuduhan Raffles. Pengakuan itu
melemahkan provokasi Raffles, sehingga setelah laporan tentang ekspedisi Inggris
ke Palembang tiba di Calcutta, Gubernur Jenderal Lord Moira mencela tindakan
Raffles yang dianggapnya timpang. Akibatnya, Lord Moira mengeluarkan
instruksi pada 10 Oktober 1818 yang memerintahkan Salmond dan pasukannya
segera kembali ke Bengkulu. Walaupun pada kenyataannya Kapten Salmond dan
pasukannya telah kembali ke Bengkulu pada Agustus 1818 (Kemp, 1898: 277-
279). Peristiwa itu menempatkan posisi Belanda makin kuat di Palembang.
Sebaliknya, Raffles harus mengakui bahwa dirinya tidak mendapat dukungan dari
atasannya di India.

135
Nama Pulau Belitung tidak disebutkan dalam pasal 2 tersebut, sehingga
Inggris menganggap pulau itu tidak termasuk dalam Traktat London (1814) (ANRI,
Bundel Palembang No, 67).

Universitas Indonesia
168

Dikirimnya Salmond dan pasukannya menuju Batavia, bukan berarti


masalahnya selesai. Muntinghe menyadari betul bahwa masih banyak pasukan
Inggris yang ditinggalkan di daerah uluan. Membiarkan mereka berarti bagaikan
duri dalam daging, ada kekuatan asing di ―wilayah‖ Belanda. Untuk itu, langkah
yang diambil oleh Muntinghe adalah memperkuat pertahanan ibu kota dari
serangan pasukan susulan pasukan Inggris yang masih berada di uluan.
Kepemimpinan pertahanan diserahkan kepada Letnan laut Fabritius. Selanjutnya,
Fabritius menyiapkan dua kapal meriam, dua perahu dengan sepuluh orang
serdadu Eropa. Sultan Tuo juga menyediakan tiga perahu pancalang (salah
satunya perahu bersenjata), beberapa mentri-mentri dan pangeran. Mereka siaga
dalam jarak setengah mil dari muara Sungai Musi. Di saat yang sama Muntinghe
mengirim Raja Akil dan dua orang mantri Sultan Tuo ke uluan. Tugas mereka
adalah menyampaikan perintah tertulis dari Muntinghe dan Sultan Tuo agar
penduduk di sana tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada
pasukan Inggris (Kemp, 1900: 420-421; Woelders, 1975: 182).
Perintah itu penting dilakukan, karena tanpa bantuan dari penduduk
setempat akan sulit bagi pasukan Inggris untuk bertahan di daerah tersebut.
Pasukan Inggris akan dihadapkan pada masalah kekurangan bahan makanan,
perahu dan kuli yang akan mengangkat dan mendayung barang-barang kebutuhan
mereka. Dengan demikian, dukungan penduduk sangat menentukan kelangsungan
suatu ekspedisi.
Di mata Muntinghe, keberadaan pasukan Inggris di bawah pimpinan
Letnan Haslam yang masih di Muara Bliti membahayakan posisi Belanda di
Palembang. Bertolak dari hal itu, Muntinghe memutuskan untuk mengerahkan
kekuatan senjata. Ekspedisi yang dikirim ke uluan terdiri dari enam puluh orang
serdadu Eropa dari pasukan garnisun, dan awak kapal Eendracht. Sementara itu,
Sultan Tuo juga menyiapkan dua ratus orang pasukan bersenjata, enam puluh
sampai tujuh puluh orang serdadu pribumi di bawah kendali Raja Akil dan dua
pucuk meriam. Selain itu, dari Pulau Bangka juga dikerahkan kapal-kapal136. Pada

136
Dengan pengerahan kapal-kapal tersebut, mengakibatkan pulau itu tidak
memiliki pertahanan laut. Kondisi itu diperparah karena janji-janji pemerintah pusat
di Batavia untuk mengirimkan bala bantuan tidak kunjung tiba di sana (surat Residen
Smissaert pada 30 Juli 1818 kepada Laksamana Wolterbeek, dalam Kemp, 1900: 424).

Universitas Indonesia
169

12 Juli 1818 pasukan bergerak menuju Muara Bliti, selama dua belas hari. Berarti,
pasukan itu tiba di Muara Bliti pada 24 Juli 1818. Pada 23 Juli 1818 Muntinghe
mengutus juru tulis de Groot, untuk menyerahkan suratnya kepada Letnan Haslam
dan Raffles, sekaligus menyelidiki situasi dan kondisi di sana. Setiba de Groot di
Muara Bliti, daerah telah ditinggalkan oleh pasukan Inggris. Agaknya, mereka
tergesa-gesa meninggalkan daerah itu, terbukti dari sisa-sisa makanan yang
mereka tinggalkan. Ditemukan juga empat dayung dan tiga meriam besar dari
tembaga. Beberapa hari kemudian ditemukan pula dua peti amunisi dan peluru
(ANRI, Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1898: 280-281; Kielstra, 1892: 91-
92).
Di ujung Muara Bliti, pasukan Bengkulu juga meninggalkan empat puluh
karung beras. Tindakan tersebut ditempuh guna menghindarkan diri dari pasukan
Belanda. Kondisi itu diperparah karena mereka sulit mendapatkan kuli untuk
mengangkut barang-barang kebutuhan ekspedisi. Akibatnya, mereka memaksa
penduduk dengan cara kekerasan (todongan senjata atau kurungan). Akan tetapi,
cara itu tidak banyak berhasil, sehingga serdadu-serdadu Sepoy terpaksa
merangkap sebagai kuli. Kekerasan yang mereka lakukan terhadap penduduk
menyebabkan munculnya perlawanan, terbukti dengan ditemukannya serdadu
Sepoy di Rejang yang telah dipancung kepalanya (Kemp, 1900: 423).
Sepeninggal Kapten Salmond, pasukan yang ditinggalkannya bergerak
menuju ibu kota Palembang dan berlabuh di Boya Lango. Sebelumnya, pada 4
Juli 1818 (11.00) Kapten Salmond telah mengirimkan surat kepada Letnan
Haslam dan Raffles. Dalam suratnya Salmond meminta agar Haslam tidak
melanjutkan perjalanan ke Palembang. Disarankannya agar mereka segera
kembali ke Muara Bliti sambil menunggu perintah lebih lanjut dari Raffles.
Dalam suratnya, ia menggambarkan kesiapan pasukan Palembang untuk
menyambut kehadiran pasukan Inggris, dengan menempatkan kapal perang di
depan keraton. Sebelum pasukan itu mundur ke Muara Bliti, mereka telah
mendengar bahwa pasukan Kapten Salmond telah tertangkap. Pada 6 Juli 1818
kembali Kapten Salmond mengirim surat kepada Letnan Haslam dan tetap
menuntut mereka secepatnya mundur ke Muara Bliti. Melihat situasi pada waktu
itu, Salmond meragukan surat yang dikirimkannya sampai ke tangan Letnan

Universitas Indonesia
170

Haslam (Kemp, 1900: 420). Itu semua menunjukkan betapa genting situasi pada
waktu itu. Tampaknya Kapten Salmond menyadari kesiapan pasukan Belanda
untuk menghadang pasukan Inggris apabila mendekati ibu kota Palembang.
Menyadari hal itu, Letnan Haslam segera membawa pasukannya mundur
ke Muara Bliti. Pada saat itu mereka juga dihadapkan pada kondisi kekurangan
dana dan bahan makanan. Dalam perjalanan di Sukarame (sebelum Muara Bliti),
pasukan Inggris menghasut penduduk setempat untuk melakukan pemberontakan
terhadap para depati setempat. Tujuannya agar penduduk mendukung keberadaan
mereka. Akibatnya, terjadi pemberontakan yang didukung oleh pasukan Inggris.
Dalam peristiwa itu seorang serdadu Inggris terbunuh dan tiga serdadu lainnya
mengalami luka parah. Insiden tersebut menyebabkan beberapa Pangeran, Mantri
Sultan Mudo dan para yang sudah bergabung dengan pasukan Inggris sejak
pasukan Salmond tiba di Muara Bliti mengundurkan diri. Dengan demikian,
pasukan Inggris mengalami banyak kesulitan, antara lain kekurangan anggota
pasukan dan tenaga pendayung. Dalam kondisi serba kekurangan, Haslam
berhasil membawa pasukan mencapai Muara Bliti (ANRI, Bundel Palembang No.
66.1). Tampaknya pasukan Inggris tidak memperhitungkan adanya hubungan
emosional antara pasukan Sultan Mudo dan para depati dengan penduduk uluan.
Akibatnya, fatal bagi kekuatan pasukan Inggris di sana.
Di Muara Bliti mereka menantikan berita lebih lanjut dari Salmond,
namun apa yang mereka tunggu tidak pernah datang. Mereka tidak mengetahui
bahwa Salmond dan pasukannya telah dikirim ke Batavia (8 Juli 1818). Hal itu
dapat dilihat dari surat yang dikirimkan oleh salah seorang serdadu Inggris yaitu
Robert Bogle pada 12 Juli 1818137. Dalam suratnya Bogle menyampaikan bahwa
mereka telah berada di Bliti selama dua belas hari, dan terus menunggu berita dari
Salmond. Mereka juga menyatakan keinginan untuk sampai di ibu kota
Palembang. Kenginan itu tidak dapat diwujudkan tidak mereka tidak memiliki
perahu atau rakit, bahan makanan dan uang. Dalam keadaan seperti itu memaksa
mereka ―meminta‖ beras, kambing, ayam dan barang kebutuhan lainnya kepada
penduduk setempat. Akibatnya kehadiran mereka membuat penduduk setempat

137
Pasukan Letnan Haslam memaksa Jenang Bliti ke ibu kota Palembang untuk
untuk menyerahkan surat Bogle dan Raffles (tertanggal 24 Juni 1818) kepada Salmond
(Kemp, 1900: 421-422)

Universitas Indonesia
171

merasa terganggu (Kemp, 1900: 421-422). Keberadaan pasukan Inggris di Muara


Bliti, menyebabkan penduduk setempat merasa tidak nyaman. Hal itu akan
merugikan pasukan Inggris, karena mereka tidak akan mendapat dukungan dari
penduduk. Padahal dukungan penduduk setempat sangat mereka butuhkan,
mengingat mereka tidak dapat mempertahankan hidup tanpa bahan makanan yang
hanya dapat diperoleh dari penduduk.
Mengetahui pasukan dari Palembang mendekati lokasi kediaman mereka,
pasukan Inggris secepatnya meninggalkan lokasi tersebut menuju perbatasan
Palembang-Bengkulu. Sementara itu, Muntinghe juga sudah menerima kabar
tentang keberadaan pasukan Inggris yang telah meninggalkan Muara Bliti empat
hari sebelumnya. Sesampainya di Muara Bliti, Muntinghe memutuskan untuk
menghentikan pengejaran terhadap pasukan Inggris. Muntinghe justru mengambil
kebijakan untuk mengirimkan dua peti amunisi milik pasukan Inggris yang
tertinggal. Semua itu dilakukan untuk menunjukkan sikap tidak bermusuhan dari
pasukan yang dipimpinnya (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1).
Muntinghe sangat menyadari dengan siapa ia berhadapan yaitu Inggris,
kerajaan besar Eropa yang sebelumnya menguasai wilayah Palembang. Apabila
Muntinghe terus mendesak pasukan Inggris, dikhawatirkan seluruh Bengkulu
akan bergolak. Muntinghe juga dihadapkan pada lemahnya kekuatan militer dan
kekuasaan Belanda yang baru ditegakkan di wilayah Palembang. Untuk itu,
Muntinghe melakukan pendekatan terhadap penduduk uluan khususnya ulu Musi.
Semua itu dilakukan agar mendapat dukungan dari penduduk. Muntinghe
berharap daerah Musi tetap mendukung mereka sekalipun daerah ini telah
ditinggalkan kembali ke ibu kota Palembang (Kemp,1900: 422).
Langkah yang diambil oleh Muntinghe dalam menghadapi ancaman
serupa dari Inggris, pada 24 Juli 1818 Muntinghe mengirimkan surat peringatan
kepada Haslam dan Raffles. Surat itu juga sebagai balasan atas surat Raffles138. Di
dalam suratnya kepada Raffles, Muntinghe menyatakan bahwa berita tentang
rencana kunjungan Raffles ke Kesultanan Palembang telah menyebabkan

138
Dalam suratnya, Raffles menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan
Muntinghe. Menanggapi permintaan tersebut, Muntinghe memutuskan untuk bertemu Raffles di
Kosambi (dekat perbatasan Palembang-Bengkulu), namun pertemuan itu tidak pernah terwujud
(Kemp, 1900: 396,400).

Universitas Indonesia
172

penduduk merasa ketakutan, sehingga penduduk meninggalkan dusun-dusun


mereka memasuki hutan. Surat kedua yang ditujukan kepada Haslam, Muntinghe
menawarkan bantuan demi kelancaran pasukan Inggris kembali ke Bengkulu.
Semakin cepat pasukan Inggris meninggalkan daerah perbatasan, berarti posisi
Belanda di Palembang semakin terjamin. Akan tetapi, surat balasan dari Raffles
dan Haslam tidak kunjung tiba, walaupun Muntinghe telah menunggu selama lima
belas hari. Menurut Muntinghe, semua itu mengindikasikan bahwa pasukan
Inggris belum keluar dari perbatasan Palembang. Oleh karena itu, Komisaris
Muntinghe menyesali sikapnya yang terlalu lunak terhadap pasukan Inggris.
Seharusnya ia lebih bersikap tegas terhadap pasukan Inggris, demi tercapainya
keamanan di wilayah uluan. Di samping itu, selama di daerah Muara Bliti,
pasukan Belanda dihadapkan pada kondisi berat yaitu cuaca yang panas dan
udara yang sangat lembab. Kondisi itu menjadi masalah berat bagi pasukan
Belanda khususnya serdadu Eropa (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1).
Akhirnya, Muntinghe memutuskan untuk meneruskan perjalanan hingga
perbatasan Bengkulu guna memastikan keberadaan pasukan Inggris. Sebelum
mereka berangkat pada 10 Agustus 1818, empat orang Depati Rejang
menyerahkan dua surat dari Raffles, dan balasan surat dari Haslam kepada
Muntinghe. Dalam jawabannya yang ditulis di Kosambi139, pada 5 Agustus 1818,
Haslam menyampaikan ucapan terimakasih atas kiriman paket yang disertai surat
dari Muntinghe. Pada kesempatan itu, Haslam juga menyampaikan tentang
perlunya membina hubungan damai antara kedua pemerintahan. Akan tidak ada
pernyataan tegas yang menyatakan bahwa mereka segera keluar dari wilayah
Palembang. Hal itu penting bagi Muntinghe, karena pernyataan itu yang ditunggu-
tunggu oleh Muntinghe selama berada di uluan. Kekecewaan Muntinghe sedikit
terobati dengan adanya pernyataan empat Depati Rejang di depan ahli bedah
klas-2 Bastijn dan juru tulis van de Weteringebuis bahwa Haslam, Raja Brahim
dan semua serdadu Inggris siap melewati perbatasan Rejang untuk kembali ke
Bengkulu. Pernyataan itu disambut antusias oleh Muntinghe. Ia merasa lega

139
Kosambi adalah dusun terdekat dengan Pulo Geta, Pulo Geta terletak di
lereng Bukit Barisan, sebagian penduduk menganggapnya masuk wilayah Bengkulu, akan
tetapi sebagian lain menempatkannya berada di wilayah Kesultanan Palembang (ANRI,
Bundel Palembang No. 66.1).

Universitas Indonesia
173

karena ancaman terhadap Belanda dan Palembang akan segera berakhir (ANRI,
Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1898: 281-282; Kielstra, 1892: 92).
Muntinghe penasaran ingin membuktikan sendiri kebenaran berita
tersebut. Ia bermaksud untuk menancapkan bendera Belanda di perbatasan
Palembang-Bengkulu, sebagai bukti bahwa daerah tersebut telah berada di bawah
perlindungan Belanda. Akan tetapi, keinginan itu terpaksa ditunda karena,
pertama, Muntinghe belum meminta izin pada pemerintah pusat di Batavia.
Kedua, jalan-jalan dari Muara Bliti sangat rusak, sehingga menyulitkan mereka
untuk melaluinya dengan peralatan seadanya. Hal lain yang sangat mengganggu
adalah kondisi kesehatan Muntinghe yang tidak memungkinkan mereka
melanjutkan perjalanan. Ketiga, Muntinghe takut penduduk di Muara Klingi dan
Muara Bliti melarikan diri kembali ke hutan, karena adanya ekspedisi yang
mereka lancarkan. Muntinghe menginginkan hubungan baik yang telah terbina
dengan penduduk setempat tetap dipertahankan. Sebelumnya, Muntinghe telah
mengeluarkan kebijakan yang mengharuskan para serdadu dan semua yang
terlibat dalam ekspedisi ke Muara Bliti bersikap bersahabat, tenang dan sabar
terhadap penduduk. Diharapkan agar setelah daerah ini ditinggalkan, tidak terjadi
permusuhan antara penduduk setempat dan serdadu Belanda yang akan
ditinggalkan. Muntinghe menjaga dengan hati-hati hubungan baik yang telah
terjalin. Apabila usaha tersebut gagal, kemungkinan besar penduduk setempat
tidak akan menepati janji mereka untuk menanam tiga sampai empat ribu pohon
lada di tiap dusun (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1898: 284).
Pemerintah Belanda di Batavia telah menyadari pentingnya memperkuat
pertahanan militer di Palembang. Untuk itu, pada 4 Juli 1818 Gubernur Jenderal
mengeluarkan instruksi kepada Wolterbeek untuk memperkuat pasukan di
Palembang, dan memberantas para perompak di Selat Bangka. Sesuai dengan
instruksi yang diterimanya, Wolterbeek bergerak memimpin armada menuju
Palembang. Kesatuan itu tiba di sana pada akhir Juli 1818, namun bantuan yang
ditawarkan oleh Woltebeek ditolak oleh Muntinghe. Selanjutnya, Wolterbeek
segera meninggalkan Palembang. Pada 5 Agustus 1818, ia menerima surat dari
komandan Bakker yang mengabarkan tentang kondisi di ibu kota Palembang yang
aman. Dikatakan bahwa pengawasan keamanan dikendalikan oleh pasukan

Universitas Indonesia
174

gabungan Belanda dan Sultan Tuo. Selanjutnya, setelah meyakini kondisi


keamanan di uluan sudah bagus, Muntinghe memutuskan kembali ke ibu kota
Palembang, dan tiba di sana pada 16 Agustus 1818. Muntinghe membatalkan
rencananya untuk menduduki Muara Bliti secara permanen, yang berarti harus
meninggalkan sebagian serdadunya di sana, sedangkan pada saat itu ibu kota
Palembang membutuhkan bantuan militer mengamankannya. Hal itu tidak dapat
dilepaskan dari berubahnya perimbangan kekuatan pascaturunnya Sultan Mudo.
Sultan Mudo, beberapa pangeran dan bekas mantri yang memihak Sultan Mudo
harus terus diawasi, sehingga perlu penambahan serdadu di garnisun Palembang
(ANRI, Bundel Palembang No. 66.6)
Keberhasilan ekspedisi yang dipimpin oleh Muntinghe menyebabkan
posisi Belanda di Palembang semakin mantap. Pemerintah pusat menyampaikan
penghargaan atas keberhasilan tersebut. Sementara itu, setibanya Wolterbeek di
Batavia, ia menerima surat dari Muntinghe yang memintanya untuk mengirimkan
bantuan militer sebanyak 25-30 orang serdadu. Tampaknya, setelah menolak
tawaran bantuan dari Wolterbeek, Muntinghe menyadari perlunya menambah
kekuatan militer baik di ibu kota Palembang maupun di uluan. Tentunya, hal itu
tidak terlepas dari keinginannya untuk memperkokoh posisi Belanda di
Palembang. Untuk itu, Muntinghe kembali meminta tambahan kekuatan militer
sebanyak 1000-1200 orang. Muntinghe serdadu kepada pemerintah pusat di
Batavia. Pasukan sebesar itu akan ditempatkan di empat lokasi, yaitu: pertama, di
perbatasan Rawas akan ditempatkan sebanyak dua ratus orang serdadu, yang
dipersiapkan untuk menghadapi orang-orang dari Jambi. Kedua, di Lintang atau
Kikim disiagakan sebanyak dua ratus sampai 250 orang untuk menghadang orang-
orang Pasumah. Ketiga, di ibu kota Palembang ditempatkan 450 orang serdadu,
dan keempat, di perbatasan Bengkulu, Rejang, Sungai Ogan dan Sungai Komering
(Kurungan Nyawa), ditempatkan 350 orang serdadu (ANRI, Bundel Palembang
No. 15.7; No. 66.1; Kemp, 1900: 386-87, 424-426).
Dari berbagai persiapan yang dilakukan oleh Muntinghe, menunjukkan
bahwa ia bermaksud memantapkan kekuasaan Belanda di sebagian besar wilayah
Kesultanan Palembang. Muntinghe melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh
daerah pedalaman Palembang. Oleh sebab itu, daerah tersebut harus diamankan.

Universitas Indonesia
175

4.4 Rancangan Muntinghe untuk Kesultanan Palembang

Setelah tiba di ibu kota Palembang, Muntinghe melakukan berbagai konsolidasi


demi kelancaran pemerintahan Belanda di Palembang. Pada 28 Agustus 1818,
Muntinghe mengeluarkan keputusan tentang cukai ekspor-impor dan jabatan
kepala urusan sipil. Empat hari kemudian (1 September 1818), ia mengeluarkan
undang-undang. Undang-undang itu merupakan usaha pertama pemerintah
Belanda untuk mengorganisir seluruh daerah Palembang. Tujuannya adalah untuk
memperkokoh kedudukan Belanda di Kesultanan Palembang. Sebelumnya, fokus
perhatian mereka adalah Pulau Bangka. Akan tetapi, di bawah kepemimpinan
Muntinghe kawasan Palembang lainnya juga diperhatikan sesuai tuntutan kondisi
pada waktu itu. Di dalam undang-undang itu disebutkan bahwa penduduk sindang
yang sebelumnya tidak terkena wajib pajak, kini wajib membayarnya. Ketentuan
lain adalah dibukanya lembaga peradilan yang menerima tuntutan banding atas
keputusan para depati dan proatin yang sebelumnya menjadi otoritas sultan.
Menurut Muntinghe penetapan undang-undang tersebut merupakan peristiwa
penting dan dimuat dalam lampiran laporannya kepada komisaris jenderal (Kemp,
1900: 428).
Semua ketentuan itu, didasarkan pada kesepakatan yang telah diputuskan
pada Juni 1818 bahwa sebagian besar wilayah Palembang berada di bawah
kekuasaan Belanda. Akan tetapi, penetapan itu merupakan pukulan berat bagi
sultan, karena salah satu pilar kekuasaan sultan yaitu sebagai rujukan terakhir
dalam bidang pengadilan, diambil alih oleh Belanda. Begitu pula penetapan pajak
bagi penduduk sindang yang selama ini bebas dari pajak. Seandainya undang-
undang tersebut dilaksanakan akan mengundang reaksi keras dari sultan maupun
penduduk sindang, namun undang-undang tidak sempat diberlakukan karena telah
pecah perang di Palembang pada Juni dan Oktober 1819, sehingga Belanda harus
keluar dari Palembang.
Guna memenuhi permintaan pemerintah pusat di Batavia, Muntinghe juga
melakukan penyelidikan tentang kondisi daerah, penduduk, rumah tangga, mata
pencaharian, adat-istiadat daerah Muara Bliti khususnya atau uluan umumnya.

Universitas Indonesia
176

Pengumpulan data itu terhambat karena kurangnya pemahaman tentang daerah


itu, baik mengenai kondisi alam, maupun adat istiadatnya. Berdasarkan
penelitiannya, Muntinghe memandang perlu agar pemerintah pusat mengirimkan
beberapa orang bangsawan Jawa, mantri atau kalangan priyayi Jawa ke
Palembang. Tugas mereka adalah mengajarkan penduduk setempat tentang cara-
cara bercocoktanam sebagaimana yang biasa mereka lakukan di Pulau Jawa,
misalnya cara menggunakan cangkul dan bajak, membuka kebun-kebun kopi,
lada, sawah dan lainnya. Jadi, pada waktu itu sudah berkembang ide untuk
memindahkan sekelompok penduduk yang memiliki keahlian, khususnya bertani
ke Palembang. Selain itu, potensi ekonomi Kesultanan Palembang juga sangat
besar, diperkirakan pemerintah Belanda akan memperoleh keuntungan yang
berlipatganda. Berbagai keuntungan yang akan diperoleh antara lain,
- penjualan candu f 24.000
- cukai ekspor-impor f 24.000
- penjualan garam f 29.000
140
- uang semuhan f 250.000
Diduga dalam kurun waktu enam sampai tujuh tahun kemudian, total pendapatan
yang akan diperoleh dari Kesultanan Palembang mencapai f 958.000. Begitu pula
penduduk di wilayah itu akan bertambah sehingga mencapai satu juta jiwa,
tersebar di lima sampai enam ribu dusun (ANRI, Bundel Palembang. No. 15.7;
Kemp, 1900: 428).
Dari gambaran di atas terlihat bahwa dalam jangka pendek yang akan
dikembangkan adalah keuntungan dari Semuhan, dan penjualan. Tentunya itu
disebabkan potensi uluan belum dikembang. Oleh sebab itu, menurut persepsi
Muntinghe, bahwa dengan dikembangkannya daerah uluan, maka dalam beberapa
tahun ke depan akan dipetik hasil yang akan menguntungkan Belanda. Sebagai
orang pertama yang meneliti potensi penduduk dan alam daerah uluan, Muntinghe
sadar betul akan berbagai keuntungan yang akan mereka peroleh, jika seluruh

140
Uang Semuhan (Saomahan) adalah pajak rumah tangga. Pajak itu dihitung setengah
rupiah per orang untuk 500 ribu jiwa. Penduduk Sindang juga diwajibkan membayar uang
Semuhan, begitu pula orang-orang Cina dan Arab sebesar f 50 per kepala. Total nilainya
diperkitakan mencapai f 500.000. Ketentuan tersebut diusulkan oleh Komisaris Muntinghe melalui
surat kepada Komisaris Jenderal pada 31 Oktober 1818. Rencananya akan dilaksanakan mulai
Pebruari 1819 untuk lima ribu dusun di wilayah Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 15.7).

Universitas Indonesia
177

wilayah Palembang berada di tangan Belanda. Oleh sebab itu semua bentuk
gangguan khususnya dari Inggris harus dihancurkan. Kebijakan yang
dilaksanakan oleh Muntinghe tersebut, menurut Day (1972: 129), sejalan dengan
kebijakan yang telah digariskan oleh negara induk terhadap semua koloni yaitu
untuk kemakmuran Belanda.
Strategi yang dijalankan oleh Muntinghe dan aparatnya dalam melakukan
pendekatan kepada penduduk, menyebabkan penduduk dukungan usaha-usaha
yang dijalankan oleh pemerintah belanda di Palembang. Semua itu tidak terlepas
dari dukungan penuh dari bawahannya, khususnya Fabritius dan Kapten insinyur
Van der Wijck. Keduanya banyak berjasa dalam pelaksanaan ekspedisi ke uluan.
(ANRI, Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1898: 284). Kepada kedua
pembantunya tersebut, Muntinghe memberikan penghargaan yang besar, baik
berupa pujian maupun dalam memberikan berbagai tugas penting di Palembang.
Sesuai ketentuan undang-undang yang akan diterapkan, Muntinghe
menyiapkan beberapa lokasi di ibu kota yang cocok dijadikan pasar. Pasar yang
dimaksud adalah tempat bertemunya para pedagang dari pedalaman dengan
pedagang di ibu kota serta para pembali. Dengan demikian, arus keluar-masuk
barang akan semakin lancar, yang berarti akan meningkatkan perekonomian
penduduk umumnya. Selain itu, ketentuan larangan perbudakan atas penduduk
asli Palembang dan penduduk dari daerah-daerah lain di Sumatra diperketat.
Walaupun faktanya sebagian besar budak yang ada di Palembang adalah orang-
orang asing yang dijual oleh orang-orang Siam. Budak di Palembang disebut
orang abdi (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6).
Ini berarti budak disamakan dengan penduduk asli. Sesungguhnya,
pelarangan terhadap perbudakan sudah dilakukan jauh sebelumnya, baik pada
masa Inggris (Kontrak Mei 1812 dan Agustus 1813) maupun Belanda (Kontrak
Juni 1818). Akan tetapi, masalah perbudakan belum berhasil dihilangkan, karena
adanya kebutuhan tenaga budak dan banyaknya para pedagang yang
mendatangkan budak ke Palembang. Budak-budak itu berasal dari berbagai
daerah di Nusantara, antara lain orang Bali dan Ambon serta budak-budak hasil
penjarahan di daerah perbatasan Palembang-Bengkulu maupun Palembang-

Universitas Indonesia
178

Lampung. Budak menjadi salah satu komoditi di Kesultanan Palembang pada saat
itu.
Semua tindakan dan rencana yang akan dilaksanakannya di Kesultanan
Palembang, dilaporkan oleh Muntinghe kepada pemerintah pusat pada 31 Oktober
1818. Dalam laporannya ia menjelaskan tentang usahanya membina hubungan
dengan Lampung melalui surat-menyurat secara intensif dengan Asisten Residen
Banten J.A. Du Bois. Muntinghe merencanakan untuk menggabungkan
Palembang dengan Lampung, sehingga J.A. Du Bois berada di bawah
pengawasannya. Penggabungan itu didasari letak kedua daerah ini berdekatan,
yaitu daerah Komering (Palembang) dan Bumi Agung (Lampung). Hanya
dibutuhkan waktu satu hari dari Bumi Agung ke Kujungang Njawa (Sekarang
disebut Kurungan Nyawa di Sungai Komering). Kurungan Nyawa adalah tempat
pengapalan terakhir barang-barang dari ibu kota Palembang menuju daerah
Komering Ulu dan Lampung dengan waktu tempuh lima sampai tujuh hari karena
melawan arus. Sementara itu jarak dari Kurungan Nyawa ke Palembang adalah
tiga sampai empat hari, tergantung arus air waktu itu. Akan tetapi, usahanya
untuk menangani masalah empat puluhan orang laki-laki, perempuan dan anak-
anak di perbatasan Palembang-Lampung tidak mendapat respon yang
menggembirakan dari Asisten Residen J.A. Du Bois. Orang-orang malang itu
dirampok dan diperjualbelikan oleh para penjahat di sana. Penyelesaian yang
ditempuh oleh Muntinghe pada waktu itu adalah menebus orang-orang tersebut
dengan biaya dari Sultan Mudo dan mengembalikan mereka ke daerahnya
masing-masing (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1).
Rencana Muntinghe menggabungkan Palembang-Lampung semata-mata
karena letaknya yang berdekatan. Penggabungan tersebut akan memudahkan
pengawasan, terutama karena adanya ancaman dari Inggris di Bengkulu, karena
wilayah Lampung bagian barat berbatasan langsung dengan Bengkulu. Akan
tetapi, berdasarkan laporan J.A. Du Bois disebutkan bahwa kekhawatiran
Muntinghe tersebut tidak terbukti.
Masalah lain yang dilaporkan Muntinghe kepada Komisaris Jenderal
adalah mengenai Nahkoda Mohamad dan pengikutnya. Kelompok itu terkenal
sebagai pengacau yang selalu mengganggu ketenteraman penduduk dengan cara

Universitas Indonesia
179

merampok dan membunuh di wilayah Lampung dan Palembang. Mereka


membelot dengan menyatakan diri sebagai pengikut Belanda. Sebelumnya,
Nahkoda Mohamad adalah pengikut setia Sultan Mudo. Dalam pernyataannya,
Nahkoda Mohamad menyampaikan bahwa berbagai kejahatan yang mereka
lakukan adalah atas perintah Sultan Najamuddin II. Ia memohon ampunan kepada
Muntinghe dan berjanji akan tunduk sepenuhnya kepada Belanda apabila
diizinkan. Dalam menangani masalah tersebut, antara Muntinghe dan Asisten
Residen Du Bois terjadi perbedaan pendapat. Du Bois memilih untuk menangkap
Nahkoda Mohammad secara paksa agar keamanan di daerahnya cepat pulih.
Sebaliknya, Muntinghe lebih suka memaafkan kelompok tersebut, dan
merangkulnya sebagai bagian dari penduduk yang berada di bawah
pengawasannya. Menurut Muntinghe, apabila rencana Du Bois dilaksanakan,
akan terjadi hal-hal yang jauh lebih membahayakan. Hal itu disebabkan Nahkoda
Mohamad adalah penjahat besar yang memiliki banyak pendukung. Mereka akan
melakukan aksi balas dendam, dengan melakukan keonaran di wilayah Palembang
dan Lampung. Pandangan tersebut didasarkan pengalamannya menangkap
kelompok orang-orang Bugis. Penangkapan tersebut justru pemicu terjadinya
pembunuhan dan perampokan meluas di seluruh wilayah Kesultanan Palembang.
Oleh sebab itu, Muntinghe tidak ingin hal serupa terulang kembali. Dengan
keputusannya tersebut diharapkan ketenangan di Palembang akan semakin
membaik. Setelah itu, Muntinghe memerintahkan Nahkoda Mohamad dan
pengikutnya menetap di ibu kota Palembang, Bangka atau Jawa. Agar Nahkoda
Muhamad menepati janjinya, Muntinghe menahan beberapa kerabatnya sebagai
jaminan (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1).
Kasus Nahkoda Mohamad merupakan salah satu bukti bahwa telah terjadi
pembunuhan, dan penjarahan pada masa pemerintahan Sultan Mudo. Begitu pula
masalah perbudakan, penangkapan dan hukuman fisik lainnya. Hal itu diperparah
dengan adanya ekspedisi dari Bengkulu, sedangkan kondisi pertahanan Belanda di
Kesultanan ini masih lemah baik dari segi jumlah maupun kesehatan para
serdadunya. Kendala lain yang mereka hadapi adalah kesulitan keuangan,
minimnya peralatan dan armada. Untuk itu, langkah yang ditempuh oleh

Universitas Indonesia
180

Muntinghe adalah menyelesaikan masalah tanpa harus menggunakan kekuatan


senjata yang membutuhkan biaya besar.
Muntinghe juga merencanakan untuk memindahkan pusat pemerintahan
dari Muntok Bangka ke ibu kota Palembang. Di mata Muntinghe, Palembang
semakin penting, sedangkan tanah-tanah di Pulau Bangka telah kehilangan
kesuburannya. Hal itu disebabkan oleh eksploitasi penambangan di sana selama
lima puluh tahun terakhir. Muntinghe melihat fungsi tanah semakin penting tidak
hanya sebagai objek penambangan, tetapi bidang-bidang lain sebagaimana yang
terdapat di uluan Palembang. Meskipun demikian, Pulau Bangka tetap merupakan
daerah pertambangan terbaik yang akan terus memberikan keuntungan bagi
Belanda. Di Bangka juga akan dibuka tambang-tambang baru, sehingga
keuntungan yang akan diperoleh dari pulau itu akan semakin meningkat dari
tahun ketahun. Sehubungan dengan Pulau Belitung, Muntinghe menyatakan
ketidakmampuannya untuk melakukan ekspedisi ke pulau itu. Pendapat itu
didukung oleh Kolonel Bakker, mengingat minimnya kekuatan Belanda di
Palembang. Kekuatan militer di sana hanya terdiri dari kapal korvet Eendracht
sebagai kekuatan induk dan dua perahu Schildpad, serta perahu nomor 16 di ibu
kota Palembang. Walaupun demikian, menurutnya Pulau Belitung sangat penting
untuk diduduki, Apalagi Raffles masih menempatkan kapal perang atau kapal lain
di sana, Untuk itu, Muntinghe bermaksud mengutus Raden Badar (saudara
kandung Raden Kling) untuk mengibarkan bendera Belanda di sana. Dipilihnya
Raden Badar didasarkan atas pertimbangan dendam pribadi141 terhadap Inggris,
sekaligus ia adalah kerabat dari Sultan Tuo, sehingga diharapkan akan mendapat
dukungan penuh dari penduduk Belitung (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1;
Kemp, 1900: 431).
Ekspedisi ke uluan dan pembebasan orang-orang di perbatasan
Palembang-Lampung membutuhkan biaya besar. Biaya ini dibebankan kepada
Sultan Mudo, karena dia yang menjadi penyebab dari berbagai peristiwa tersebut.
Dalam status sebagai tahanan, Sutan Mudo terpaksa menyerahkan dana sebesar f

141
Raden Badar membenci Inggris, karena permusuhan antara Raden Kling
dan Inggris. Pada masa pemerintahan Inggris di Bangka, Raden Kling membunuh
inspektur Brown sehingga melarikan diri ke Belitung. Sejak itu permusuhan terus
berlangsung, walaupun Inggris telah meninggalkan Bangka (1816).

Universitas Indonesia
181

500.000 (dalam Kielstra 1892 hal 92, dikatakan bahwa Najamudin II bersedia
membayar sebesar sekitar f 30.000142). Uang itu dibagikan sebagai tambahan yang
diperhitungkan sesuai dengan gaji bulanan kepada orang-orang yang berjasa
dalam ekspedisi ke uluan. Tambahan itu diberikan berbarengan dengan
peringatan Ulang Tahun Raja Willem I yang dihadiri oleh Sultan Tuo pada 24
Agustus 1818. Diharapkan pemberian tunjangan dapat meningkatkan motivasi
para serdadu untuk lebih berprestasi. Pemberian tunjangan tersebut dihentikan
pada 10 Januari 1819, karena berdampak negatif kepada para serdadu yang hanya
memikirkan hadiah, bukan prestasi (Kemp, 1898: 285).
Masih dalam suasana merayakan keberhasilan, mereka dikejutkan oleh
berita tentang orang-orang Bengkulu yang masih berkeliaran di perbatasan
Palembang atau bahkan sedang menyiapkan serangan susulan dari Bengkulu.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sultan Tuo menginstruksikan Tumenggung
untuk mengawasi daerah Rejang, suatu daerah yang berbatasan langsung dengan
Bengkulu. Selama ini daerah tersebut menjadi titik pertemuan pasukan Bengkulu
dan Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1898: 284-285).

4.5 Akhir Pemerintahan Sultan Ratu Ahmad Najamuddin II

Dengan penangkapan Salmond dan pasukannya (Juli 1818), Sultan Mudo sebagai
pihak yang mengundang pasukan Inggris harus menerima konsekuensinya. Sultan
Mudo bersama beberapa Pangeran ditempatkan di keraton dalam pengawasan
ketat. Satu-satunya jalan keluar yang ada, dijaga oleh sembilan sampai dua belas
orang serdadu Eropa dan pasukan dari Sultan Tuo. Begitu pula para bangsawan
yang dianggap memihak Sultan Mudo ikut diamankan. Usaha itu untuk mencegah
terjadinya hubungan dengan pihak Inggris di Bengkulu. Sebelumnya, menyadari
posisinya yang berbahaya pada saat keratonnya dikepung, sedangkan Salmod
sudah ditangkap, Sultan Modo masih sempat mengirimkan kurir untuk menemui
Salmond. Dalam pesannya, Sultan Mudo menyatakan keinginannya untuk
bergabung dengan Salmond dan pasukannya. Ia mengkhawatirkan

142
Florin (f) adalah uang lama Kerajaan Belanda, pada Abad XVII diganti dengan
gulden dengan simbol yang sama yaitu f.

Universitas Indonesia
182

keselamatannya. Sultan Mudo merasa lebih terjamin keamanannya jika bersama-


sama dengan Salmond, namun hal itu tidak mungkin terwujud karena Salmond
sendiri dalam posisi sebagai tawanan. (The Asiatic Journal, IX, 1820: 452; Kemp,
1900: 391).
Setelah usahanya bergabung dengan Salmond tidak berhasil, Sultan Mudo
berusaha mengirimkan tiga orang wakil untuk menemui Raffles. Utusan itu tiba di
Bengkulu pada 15 Agustus 1818 dan menyerahkan surat permohonan bantuan
Sultan Mudo kepada Raffles. Berdasarkan surat itu dapat diketahui kondisi Sultan
Mudo yang ditawan oleh Muntinghe. Disebutkan bahwa Sultan Mudo, bersama
dengan tiga orang pangeran, seorang Tumenggung, seorang Ronggo dan seorang
Demang143 ditempatkan di dalam sebuah ruangan kecil di sisi timur Keraton Kuto
Besak dalam penjagaan yang ketat. Ruangan yang mereka huni, hanya boleh
dibuka tiga kali sehari, untuk mendapatkan jatah makanan. Untuk itu, Sultan
Mudo sangat mengharapkan bantuan dari Raffles (Woelders, 1975: 100). Satu-
satunya yang dapat menyelamatkan diri dan pengikutnya adalah Raffles, sehingga
Sultan Mudo melakukan berbagai cara agar utusannya sampai Bengkulu.
Di dalam tahanan, pihak Belanda menanyakan kepada Sultan Mudo
tentang kontrak yang dibuatnya dengan Kapten Salmond pada 4 Juli 1818. Isinya
memuat pernyataan bahwa Kesultanan Palembang berada di bawah perlindungan
Inggris. Menghadapi pertanyaan tersebut, Sultan Mudo mengingkari isi
144
kontrak tersebut. Menurutnya, pada saat itu (Juli 1818) dia dijebak oleh
Salmond yang menyodorkan surat yang ditulis dalam Bahasa Inggris, yang tidak
dipahami oleh sultan. Dinyatakan bahwa surat itu memuat ketentuan tentang
kewajiban Sultan Mudo untuk memenuhi kebutuhan perbekalan pasukan Inggris.
Sultan mempercayainya dan membubuhkan cap dan tandatangan pada berkas

143
Berdasarkan laporan Komisaris Muntinghe kepada Komisaris Jenderal pada
11 Juli 1818, bahwa pada awal penahanannya, Sultan Mudo bersama dengan Pangeran
Adipati dan Ingebehi Carik (Kemp, 1900: 391). Tentunya pendapat itu kurang tepat
karena kedua adik Sultan Tuo diangkat sebagai Pangeran Adipati (Adipati Tuo dan
Adipati Mudo).
144
Sultan Mudo juga mengingkari kontrak yang telah ditandatangani dengan Komisaris
Muntinghe pada 23 Juni 1818, pada saat ia melakukan perundingan dengan Salmond pada 4 Juli
1818.

Universitas Indonesia
183

tersebut. Selanjutnya, sultan memerintahkan Perdana Menteri untuk melakukan


hal yang sama yaitu turut menandatanganinya. Pernyataan itu didukung oleh
kesaksian Perdana Menteri, yang menyatakan bahwa ia juga tidak mengetahui apa
isi berkas tersebut145. Kesaksian yang sama kembali dilontarkan Najamuddin II
ketika dibawa ke Batavia bersama istri-istri, dua orang putra dan para pengikutnya
pada 30 Oktober 1818. Di pengasingan (Sumedang) Najamuddin II meminta
kepada Mayor Muller yang ditugaskan menjaganya, agar menyampaikan kepada
pemerintah Belanda bahwa dirinya tidak pernah membuat kontrak dengan orang-
orang Inggris (Kemp,1900: 414-415). Sultan Najamuddin II dengan gigih
membela dirinya bahwa dia tidak bersalah dalam kontrak yang dibuat dengan
Salmond. Semua itu dilakukan agar dirinya dan para pengikutnya mendapat
pengampunan dari pemerintah Belanda.
Pada mulanya Komisaris Muntinghe berniat untuk tetap mempertahankan
Sultan Mudo pada posisinya, sebagai imbangan terhadap Sultan Tuo. Akan tetapi,
pada waktu itu berita-berita beredar tentang adanya ancaman serangan kedua dari
Bengkulu. Kabar itu diperoleh dari penduduk dan mata-mata di daerah uluan.
Akibatnya, Muntinghe membatalkan rencananya tersebut. Langkah yang terbaik
adalah mengakhiri kemelut tersebut dengan menyingkirkan Sultan Mudo sesuai
keinginan Komisaris Jenderal. Pada 15 November Muntinghe memerintahkan
Kapten Letnan-laut Schrooijestein untuk membawa Sultan Mudo dan pengikutnya
ke Batavia. Pada 30 Nopember 1818, Sultan Mudo dan pengikutnya berjumlah 63
orang yang terdiri dari para bangsawan, perempuan dan anak-anak meninggalkan
ibu kota Palembang dengan kapal perang dan kapal layar milik orang Arab
bernama Jadul Karim. Selanjutnya, Sultan Mudo dan sebagian pengikutnya
ditempatkan di Cianjur, dan sisanya ke Sumedang (ANRI, Bundel Palembang No.

145
Alasan yang dikemukakan oleh Sultan Mudo sulit diterima, karena suatu
kemustahilan seorang sultan mau manandatangi suatu kontrak tanpa memahami isinya.
Dalam suatu perundingan dan penandatanganan suatu kontrak akan selalu didampingi
oleh seorang penerjemah, apalagi ekspedisi Inggris ke Palembang telah direncanakan
sebelumnya. Hal lain dapat ditelaah dari ikut sertanya beberapa orang raja dan tokoh
masyarakat dari Bengkulu yang dapat dipastikan mampu berbahasa Inggris, mengingat
lama dan eratnya hubungan antarmereka. Adanya penerjemah dalam ekspedisi Inggris
dapat dirujuk pada ekspedisi Inggris ke Palembang pada 1812. Dalam ekspedisi itu
terlibat dua orang penerjemah yaitu Meares dan Villneruhy.

Universitas Indonesia
184

5.1; Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; Kemp, 1900: 432; Woelders,


1975:100).
Berdasarkan sumber The Asiatic Journal (Vol.10 Agustus 1820)
disebutkan bahwa Sultan Mudo diberangkatkan ke Batavia tanpa persiapan. Adik-
adiknya dilarang ikut bersamanya. Setelah rombongan itu berangkat, Muntinghe
menyita seluruh harta kekayaannya dan dijual. Pada kesempatan itu Muntinghe
menyatakan ―tidak ada bekas yang tersisa dari keberadaannya‖. Dari pernyataan
dan berbagai tindakannya harta kekayaan Sultan Mudo, tampak bahwa Muntinghe
berniat menghapus jejak Sultan Najamuddin II di Kesultanan Palembang.

4.6 Konflik Baru di Uluan

Raffles sangat kecewa atas kembalinya pasukan Inggris di bawah komando


Letnan Haslam. Selanjutnya, Raffles mengeluarkan instruksi agar pasukan itu
kembali memasuki wilayah Palembang. Mengetahui adanya ancaman tersebut,
Muntinghe mengutus juru tulis De Groot dan beberapa orang serdadu di bawah
pimpinan Sersan Estema ke Muara Bliti. Dengan pendudukan tersebut diharapkan
akan tumbuh kepercayaan di antara para jenang di sana terhadap Belanda. Di
Muara Bliti De Groot menerima surat dari Raffles (tertanggal 5 Agustus 1818)
yang dikirim dari Pulo Geta146 pada 19 Agustus 1818. Dalam suratnya Raffles
mengungkapkan kemarahannya terhadap Muntinghe, atas penangkapan Kapten
Salmond dan pasukannya. Selain surat itu, terdapat pula tiga surat lainnya yang

146
Batas alami antara Bengkulu dan Palembang terletak pada empat derajat Lintang Selatan
dengan ketinggian sekitar dua ribu kaki. Daerah yang berbatasan langsung adalah Rejang (Rejang
terbagi antara Rejang Bengkulu dan Rejang Palembang. Daerah Rejang Palembang terdiri dari
Rejang lebong, Rejang Tengah dan Rejang Musi) yang menduduki posisi sebagai Sindang
Mardika (Penjaga batas merdeka). Akan tetapi, orang-orang Rejang di daerah itu merasa lebih
terikat pada Rejang Bengkulu, dibandingkan dengan Rejang Palembang. Hal itu disebabkan etnis
dan jarak dengan Bengkulu lebih dekat dibandingkan dengan Palembang. Kedekatan ―emosional‖
itu dimanfaatkan Raffles untuk mendapatkan pijakan yang kuat di Rejang Palembang. Atas dasar
itu, Raffles memerintahkan Hayes dan pasukannya tinggal di dusun Pulo Geta (termasuk dalam
wilayah Rejang Palembang, namun sebagian orang memasukkannya ke dalam wilayah Bengkulu).
Daerah itu sangat strategis untuk menyerang Palembang. Untuk mencapai daerah tersebut, hanya
membutuhkan waktu dua hari dari Bengkulu. Pasukan Hayes harus melakukan pendekatan yang
baik kepada dusun-dusun di Rejang, agar mereka mengobarkan perlawanan terhadap Belanda.
Akan tetapi, usaha Hayes tidak berhasil, karena para depati menyatakan diri netral dalam konflik
antara Inggis dan Belanda di daerah mereka, walaupun mereka telah melakukan perundingan
dengan Hayes (Kemp, 1900: 435-436)

Universitas Indonesia
185

berbahasa Melayu dari Letnan Haslam, Hayes147 dan jenang Zaenal Abidin.
Semuanya berisi hasutan kepada para depati dan penduduk setempat agar bangkit
melawan Belanda. Dinyatakan pula bahwa akan segera tiba di sana dua ratus
serdadu Inggris dari Bengkulu. Menyadari kondisi yang ada, dan semua protes
Muntinghe tidak ditanggapi oleh Raffles dan bawahannya. Hal itu memaksa
Muntinghe mempersiapkan ekspedisi militer yang besar ke wilayah uluan,
khususnya daerah yang berbatasan dengan Bengkulu (Kemp, 1900:423).
Langkah pertama yang diambil oleh Muntinghe dimulai pada 14
September 1818 yaitu Muntinghe memerintahkan Kolonel Bakker (Pimpinan
Angkatan Laut dan Komandan kapal Eendracht), Kapten Nepping (Komandan
pasukan Palembang-Bangka) dan Kapten M. Ege (Komandan pasukan
Palembang) untuk menyiapkan pasukan militer guna menjaga keamanan ibu kota
Palembang. Selanjutnya, mereka harus mengamankan Muara Bliti dari
pendudukan pasukan Inggris. Akan tetapi, permintaan itu kurang mendapat
dukungan dari pihak militer148. Terlihat dari tanggapan Kapten Nepping atas surat
yang dikirimkan oleh Muntinghe pada 14 September 1818. Nepping tidak
membalas surat tersebut, dan hanya mengirimkan 32 orang serdadu Ambon dari
Muntok, di bawah pimpinan seorang serdadu berpangkat sersan pada 19
September 1818. Menurut Nepping, pengiriman para serdadu Ambon merupakan
jawaban atas surat yang dikirimkan oleh Muntinghe kepadanya. Akan tetapi, apa
yang dilakukan oleh Nepping di mata Muntinghe belum memadai. Oleh sebab itu,
pada 21 September 1818 Muntinghe kembali mengirimkan surat kepadanya.

147
Dalam ekspedisi ke wilayah Palembang, Raffles mengangkat Hayes sebagai
komisaris Inggris untuk daerah Musi, Klingi dan Muara Bliti (Kemp, 1900:423).
148
Muntinghe sangat berkeinginan untuk menyatukan komando pasukan militer dengan
kekuasaan sipil di bawah kendalinya, tetapi hal itu tidak terwujud. Ketiga petinggi militer (Kolonel
Bakker, Kapten Nepping dan Kapten M. Ege) khususnya Kapten Nepping, ia secara terang-
terangan menolak perintah Komisaris Muntinghe, sehingga membawa Nepping pada sanksi
dipecat dan dipenjarakan. Sementara itu Kolonel Bakker menolak dengan alasan yang jelas,
sehingga tidak bernasib sama dengan Nepping. Pertentangan Muntinghe dengan pihak militer
kembali terjadi pada perang kedua (Oktober 1819). Berdasarkan laporan Laksamana Wolterbeek
kepada Gubernur Jenderal pada 11 Nopember 1819 disebutkan bahwa, dirinya tidak cocok dengan
Muntinghe, karena Muntinghe adalah orang yang sulit bekerja sama dengan orang lain.
Akibatnya, sering terjadi konflik dengan orang-orang disekitarnya khususnya dari kalangan
militer. Sebagai panglima dalam ekspedisi militer di Palembang, Wolterbeek sering menjadi
mediator antara Muntinghe dan pihak-pihak yang tidak sejalan dengannya. Misalnya konflik
antara Muntinghe dan komandan garnisun Letnan Kolonel Keer dan sekretaris van der Kop
(ANRI, Bundel Palembang No, 67; Kemp, 1900: 441-442).

Universitas Indonesia
186

Dalam suratnya Muntinghe menuntut agar Nepping segera mengirimkan tiga


puluh orang serdadu di bawah pimpinan seorang perwira berpangkat kapten atau
letnan, tetapi permintaan itu tidak dituruti oleh Nepping. Sementara itu,
Muntinghe dihadapkan pada kondisi mendesak dengan tibanya surat dari De
Groot pada 2 Oktober 1818. Dalam suratnya De Groot menyampaikan bahwa
sebanyak tiga ratus orang serdadu Inggris telah menduduki daerah Ujan Panas
(posisinya terletak antara Kosambi dan Muara Bliti) selama empat hari. Keadaan
itu memaksa Muntinghe pada 4 Oktober 1818 kembali memerintahkan Nepping
agar secepatnya mengirimkan pasukan yang dimintanya. Reaksi Nepping dalam
surat balasannya pada 7 Oktober 1818 menunjukkan seolah-olah ia tidak
menerima surat Muntinghe tertanggal 21 September 1818 dan tetap tidak
memenuhi permintaan tersebut. Sikap membangkang Nepping ini memaksa
Muntinghe mengirimkan dua surat peringatan keras (Surat resmi dan pribadi)
kepada Nepping pada 31 Oktober 1818 yang isinya mengancam Nepping dengan
sanksi berat149.
Dalam surat resminya, Komisaris menyatakan bahwa apa yang dilakukan
oleh Nepping adalah pelanggaran berat dan sanksinya akan ditentukan oleh
Mahkamah Militer. Walaupun demikian, Muntinghe tetap menuntut Nepping
mengirimkan tiga puluh orang serdadu terbaik di bawah pimpinan perwira
minimal berpangkat Kapten. Muntinghe meminta pula bantuan Residen Smissaert
untuk membujuk Nepping agar memenuhi tuntutannya. Dalam surat pribadinya,
Muntinghe menumpahkan kekesalan dirinya dengan mengancam akan menembak
Kapten Nepping (Kemp, 1900: 441-442).
Menanggapi permintaan Muntinghe untuk menyiapkan pasukan, Kapten
Ege menanggapinya dengan memberikan alasan bahwa garnisun di ibu kota
Palembang pada saat itu hanya terdiri dari enam puluh orang serdadu. Empat
belas orang diantaranya sakit, enam belas harus menjaga pos di ibu kota. Sisanya
hanya sebanyak tiga puluh orang serdadu yang dapat diberangkatkan ke Muara

149
Penyelesaian kasus Kapten Nepping diambil alih oleh Smissaert selaku
penguasa Pulau Bangka dengan cara menonaktifkannya dan posisinya ditempati oleh
Kapten Snoek yang berkedudukan di Palembang. Selanjutnya, Nepping dikenai tahanan
militer dan berdasarkan keputusan pemerintah pada 23 November 1818 ia dikirim ke
Batavia (Kemp, 1900: 441-444).

Universitas Indonesia
187

Bliti. Sementara itu, Kolonel Bakker juga menolak dengan tegas perintah
Muntinghe, dengan alasan ia harus melindungi wilayah yang berada di bawah
tanggungjawabnya yaitu perairan Bangka-Palembang. Tambahan pula, pada
waktu itu tengah berjangkit wabah penyakit, sedangkan sebagian dari awak
kapalnya harus ditempatkan di keraton untuk menjaga keamanan. Beberapa bulan
sebelumnya, Muntinghe juga kecewa dengan penolakan yang dilakukan oleh
orang yang sangat diharapkannya yaitu Kapten Van der Wijck. Pada 27 Juli 1818
Van der Wijck meninggalkan ibu kota Palembang untuk berkonsentrasi
mengamankan Pulau Bangka. Penolakan-penolakan yang diterimanya membuat
Muntinghe sangat kecewa. Kekecewaan Muntinghe sedikit terobati dengan
tibanya bantuan pada 31 September 1818 sebanyak enam puluh sampai tujuh
puluh orang serdadu di bawah pimpinan Kapten Hartman dengan kapal layar Sea
Horse dari Batavia (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1898: 285;
Kemp, 1900: 438, 440-444).
Berbagai kendala yang harus dihadapi oleh Muntinghe dalam usahanya
mempertahankan daerah uluan Palembang dari serangan pasukan Inggris.
Muntinghe mendapat penentangan dari pihak militer. Para petinggi militer pada
waktu itu menganggap pengerahan militer yang besar sulit dilakukan, mengingat
lemahnya kondisi pasukan dan peralatan yang dimiliki oleh Belanda waktu itu
baik di Palembang maupun di Bangka.
Di pihak lain, pasukan Inggris bergerak kembali memasuki wilayah
Palembang. Pada 1 September 1818 Raffles mengeluarkan pengumuman tentang
kehadiran pasukan Inggris di wilayah Palembang. Pada kesempatan itu untuk
menarik simpati rakyat, diperlihatkan pula berkas-berkas rahasia berupa
tembusan surat menyurat antara Komisaris Muntinghe dan Kapten Salmond (Juli
1818), dokumen kontrak antara Sultan Mudo dan Kapten Salmond (4 Juli 1818)
dan dokumen kontrak yang dianggap ―tidak sah‖ oleh Raffles antara Sultan Mudo
dan Muntinghe (23 Juni 1818). Posisi pasukan Inggris pada waktu itu sudah
berada di Pulo Geta. Dari sana pasukan Inggris bergerak menuju Kosambi, terus
ke daerah Ujan Panas dan akhirnya sampai di Muara Bliti dengan kekuatan 120
orang serdadu Sepoy, 160 orang Melayu, seratus orang kuli dan dua puluh orang
Cina. Mereka juga membawa dua pucuk meriam. Di Muara Bliti mereka menjarah

Universitas Indonesia
188

dua puluhan rumah orang-orang Cina yang terbuat dari bambu. Akibatnya, terjadi
pertempuran dengan penduduk setempat yang menyebabkan tewasnya seorang
penduduk dan tujuh orang serdadu Inggris. Pasukan Inggris bertahan di daerah itu,
namun selama empat hari di sana, mereka tidak bertemu dengan pasukan Belanda
(ANRI, Bundel Palembang No. 66.1; Kemp, 1900: 405-406, 438).
Dengan kehadiran pasukan Inggris di Muara Bliti, berarti di lokasi yang
sama terdapat dua kekuatan yaitu Belanda dan Inggris. Meskipun keduanya belum
berhadapan secara langsung, namun tetap menandakan bahwa dalam waktu dekat
akan terjadi ―pertemuan‖ dua kubu yang saling bermusuhan. Sebagaimana
beberapa peristiwa sebelumnya yang terjadi di daerah uluan, apabila terjadi suatu
ekspedisi baik dari Inggris maupun Belanda di sana, akan menyebabkan penduduk
setempat melarikan diri ke hutan. Dengan demikian, dapat dipastikan dalam
kondisi di atas rumah dan mata pencaharian mereka terbengkalai. Di samping itu,
mereka juga harus terlibat dalam persiapan maupun pelaksanaan ekspedisi, antara
lain sebagai kuli angkut, pendayung maupun sebagai serdadu serta menyiapkan
bahan makanan bagi peserta ekspedisi. Jadi, kehadiran pasukan Belanda dan
Inggris menyebabkan penduduk uluan sengsara.
Setelah pasukan Inggris diberangkatkan menuju perbatasan Bengkulu-
Palembang, pada 2 Oktober 1818 Raffles berangkat ke Calcutta. Tujuannya
adalah untuk melaporkan semua permasalahan yang terjadi antara Inggris dan
Belanda di Palembang kepada Gubernur Jenderal Lord Moira (Marquess of
Hastings) 1813-1823. Raffles juga membujuk Lord Moira agar pemerintah Inggris
mengusir Belanda dari Palembang. Akan tetapi, apa yang diharapkan oleh Raffles
tidak terwujud. Hal itu disebabkan adanya protes yang diajukan oleh Komisaris
Jenderal Elout pada 5 Oktober 1818 kepada Lord Moira dan Raffles. Komisaris
Jenderal memaparkan tentang berbagai hal yang telah dilakukan oleh Raffles di
wilayah Palembang. Akibatnya, Lord Moira memerintahkan agar Kapten
Salmond segera kembali ke Bengkulu, walaupun pada kenyataannya Kapten
Salmond sudah berada di Bengkulu dua bula sebelumnya. Faktor lain adalah
pengakuan Kapten Salmond atas penghormatan yang diterimanya dari pihak
Belanda, baik di Palembang maupun di Batavia. Semua itu mengakibatkan Raffles
dianggap bersalah dan diperingatkan akan diturunkan dari jabatannya (Kemp,

Universitas Indonesia
189

1900: 416; Kemp, 1898: 279). Dengan peringatan tersebut memaksa Raffles harus
mengakhiri usahanya memasuki daerah Palembang.
Realisasi dari rencana Muntinghe melakukan ekspedisi ke uluan, ia
memerintah agar komandan militer untuk wilayah Palembang Kapten Ege
menyiapkan segalanya. Selanjutnya, Ege memerintahkan Letnan Goossens
memimpin tiga puluh orang serdadu menuju Muara Bliti. Tugasnya adalah
mengamankan instruksi Muntinghe yang dikeluarkan pada 17 September 1818.
Dalam instruksinya, Muntinghe memerintahkan agar Letnan Goossens meneliti
kondisi di uluan. Selanjutnya, ia diperbolehkan melancarkan serangan apabila
keadaannya memungkinkan. Akan tetapi, jika kekuatan musuh lebih besar, ia
diperbolehkan mundur. Semua persiapan harus dilakukan secara cepat, sebelum
pasukan dari Inggris meninggalkan Pulo Geta menuju Muara Bliti. Setibanya di
Muara Bliti, Letnan Goossens dan pasukannya membangun kubu pertahanan.
Akan tetapi, karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan, Gossens kembali
ke ibu kota Palembang. Selanjutnya, kekuatan pasukan Palembang sepenuhnya
berada di bawah De Groot dan Sersan Estema. Mereka menyiagakan dua meriam,
160 orang Melayu, beberapa pangeran dan mantri dengan pengikutnya masing-
masing. Kelompok tersebut disiapkan sebagai pasukan terdepan yang akan
menghadapi pasukan musuh dari Bengkulu. Di luar pasukan itu, masih terdapat
pasukan lain yang tengah disiagakan. Dengan semua kekuatan yang ada,
diharapkan pasukan Belanda mampu mempertahankan sepanjang Klingi dan
Rawas150. Posisi pasukan Belanda menjadi semakin kuat, karena adanya
tambahan dukungan dari penduduk Klingi dan Rawas, kecuali orang-orang
Melayu yang sebagian berasal dari Minangkabau. Dalam hitung-hitungan
Muntinghe, pasukan Belanda akan mampu mengimbangi pasukan Inggris (ANRI,
Bundel Palembang No. 66.1). Dukungan itu tidak dapat dilepaskan dari
pendekatan yang dilakukan oleh Muntinghe selama berada di pedalaman.
Setelah beberapa hari pasukan Inggris menyusuri daerah Muara Bliti. Pada
26 Nopember 1818, Letnan Haslam, Raja Brahim (Raja Brain), dua perwira

150
Dari Ujan Panas terdapat dua jalur menuju ibu kota Palembang yaitu melalui
Klingi ke Muara Bliti, selanjutnya menuju Muara Lakitan, Rupit dan Rawas. Melalui
kedua jalur itu pasukan Belanda dapat melakukan pengepungan terhadap pasukan
Bengkulu (ANRI, Bundel Palembang No. 66.1).

Universitas Indonesia
190

Inggris, dan lima puluh orang serdadu di bawah pimpinan Komisaris Hayes
bertemu pasukan Belanda. Dua kekuatan berhadapan langsung. Ketika hal itu
terjadi, De Groot dihadapkan pada situasi sulit. Kondisi pasukannya lemah,
pasukan yang tersisa hanya tinggal empat belas orang151. Kedua belah pihak
sepakat untuk berhenti di posisi masing-masing, untuk selanjutnya melakukan
perundingan. De Groot mewakili Belanda, sedangkan dari pihak Inggris diwakili
Komisaris Hayes. Terjadi perdebatan antara keduanya. De Groot bertahan bahwa
pasukan Inggris harus kembali ke Bengkulu, karena mereka sudah memasuki
wilayah Belanda. Sebaliknya, Komisaris Hayes tetap ngotot akan membawa
pasukannya ke ibu kota Palembang. Perdebatan itu berakhir dengan kesepakatan
akan membicarakan hal itu dengan melibatkan pimpinan masing-masing. Usul itu
diterima De Groot dengan catatan ia akan merundingkannya terlebih dahulu
dengan komandan militer Estema. De Groot kembali ke markas, bukan untuk
berunding tetapi memutuskan mundur kembali ke ibu kota. Mereka tergesa-gesa
meninggalkan Muara Bliti pada saat hujan deras, sehingga bahan makanan berupa
beras dan ikan kering tertinggal. Pasukan Inggris mengejar mereka dengan
melepaskan tembakan-tembakan, tetapi tidak berhasil melumpuhkan pasukan
Belanda. Pasukan Belanda terus menyusuri Sungai Musi dan berhasil mencapai
ibu kota Palembang. Mundurnya pasukan Belanda merupakan kemenangan besar
bagi pihak Inggris (Kemp, 1898: 286-87).
Insiden 26 Nopember 1818 merupakan pukulan berat bagi pasukan
Belanda. Untuk itu, Muntinghe mengajukan protes keras kepada pemerintah
Inggris di Bengkulu. Tiga hari kemudian Muntinghe melaporkan peristiwa di
Muara Bliti kepada pemerintah di Batavia. Berkaitan dengan hal itu, Komisaris
Jenderal Elout kembali melayangkan protes kepada Lord Moira. Akhirnya, pada
31 Desember 1818 terjadi kesepakatan antara dua kubu yang bertikai. Pasukan

151
Menurut Kemp (1900: 437), pasukan Belanda yang tersisa 21 orang serdadu.
Berkurangnya jumlah serdadu Belanda iitu disebabkan terserang penyakit dan kondisi alam yang
ganas (Kielstra, 1892: 93; Kemp, 1898: 285-86). Dari fakta itu, jelaslah bahwa terjadi pengurangan
anggota pasukan yang besar dari sebelumnya mendekati jumlah dua ratusan, hanya dalam kurun
waktu sekitar dua bulan. Tidak ditemui keterangan jenis penyakit yang mewabah pada waktu itu.
Wajarlah apabila dari beberapa sumber disebutkan bahwa wilayah Kesultanan Palembang sangat
luas, sangat tidak seimbang dengan jumlah penduduknya yang sedikit. Kecilnya kekuatan pasukan
Belanda menyebabkan kekuatan kedua kubu tidak seimbang, kekuatan pasukan Inggris lebih besar
dan kuat daripada Belanda.

Universitas Indonesia
191

Inggris hanya diperbolehkan sampai Pulo Geta. Sehubungan dengan insiden di


Muara Bliti, Muntinghe tidak menyalahkan De Groot yang mengambil sikap
mundur, namun ia sangat kecewa pada sikap lemah Estema selaku komandan
pasukan militer yang tidak melakukan perlawanan. Meskipun demikian, dalam
laporannya kepada pemerintah pusat di Batavia, Muntinghe menganggap sikap
mundur itu sebagai suatu strategi untuk mempersiapkan diri lebih baik. Dari
insiden itu pula Muntinghe menyadari besarnya dukungan yang diberikan oleh
penduduk Ampat Lawang152, dan Muara Bliti (ANRI, Bundel Palembang No.
65.19; Kemp, 1900: 444).
Pertikaian antara Belanda dan Inggris berlarut-larut, walaupun sudah ada
ada protes dari Komisaris Jenderal Elout terhadap Gubernur Jenderal Lord Moira
pada awal Oktober 1818. Moira pun telah menindaklanjutinya dengan instruksi
agar pasukan Inggris keluar dari wilayah Palembang. Akan tetapi, instruksi itu
mungkin belum sampai kepada para pemimpin pasukan Inggris, mengingat
sulitnya medan yang harus dilalui dari Bengkulu ke daerah perbatasan Palembang.
Kemungkinan lain mereka tidak mengindahkan instruksi Lord Moira.
Belajar dari kegagalan sebelumnya dalam menghadapi ancaman pasukan
Inggris, Muntinghe berusaha mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Sayangnya keinginan Muntinghe tidak mendapat dukungan dari para pemimpin
militer. Penolakan pihak militer disebabkan lemahnya kekuatan Belanda pada saat
itu. Mereka berpandangan bahwa Muntinghe tidak memahami situasi yang tengah
terjadi. Mereka juga melihat gelagat Sultan Badaruddin II yang mencurigakan
(Kielstra, 1892: 93; Kemp, 1898: 288). Kecurigaan itu muncul dengan besarnya
dukungan yang diberikan oleh Sultan Badaruddin II terhadap usaha Muntinghe
mengejar pasukan Inggris di uluan. Faktor lain adalah ―pengalaman‖ atas
ketidaksetiaan yang selama ini dilakukan oleh Sultan tersebut. Sementara itu,
Muntinghe yang sudah menyadari hal itu tetap mengedepankan ambisinya untuk
mengejar pasukan Inggris sampai keluar dari daerah perbatasan Palembang-
Bengkulu. Kekhawatiran Muntinghe atas kemungkinan masih bercokolnya

152
Daerah Ampat Lawang adalah daerah yang berbatasan langsung dengan daerah
Rejang selatan (Bengkulu) dan dihuni oleh penduduk dengan etnis yang sama dengan Rejang
(Veth, 1869: 22).

Universitas Indonesia
192

kekuatan Inggris yang mendapat dukungan penuh dari Raffles (Raffles adalah
sosok yang paling berambisi untuk tetap ―berkuasa‖ di Palembang), membuatnya
menepis semua kekhawatiran akan ―pengkhianatan‖ Sultan Badaruddin II.
Perbedaan pandangan itu tidak terlepas dari latar belakang yang berbeda.
Muntinghe adalah seorang komisaris sipil yang tidak memiliki kemampuan
militer, namun membawahi pihak militer. Muntinghe berkeinginan agar golongan
militer mendukung ambisinya. Sebaliknya, golongan militer menolak permintaan
tersebut atas dasar pertimbangan rasional atas lemahnya kekuatan militer Belanda
pada waktu itu. Di samping itu, tampaknya golongan militer telah mencium
adanya usaha Sultan Badaruddin II untuk menyusun kekuatan. Situasi itu tidak
terbaca oleh Muntinghe atau ia tidak mau mendengar masukan dari pihak militer.
Muntinghe hanya memfokuskan perhatiannya pada usaha mengeluarkan pasukan
Inggris dari wilayah Palembang. Apa yang dikhawatirkan oleh golongan militer
nantinya terbukti dan Muntinghe menjadi orang yang dipersalahkan.
Dalam kondisi yang kurang kondusif dengan pihak militer, Muntinghe
tetap mempersiapkan diri. Ekspedisi militer di bawah pimpinan Muntinghe
bergerak ke daerah Musi pada Desember 1818, dan berada di sana selama empat
bulan. Di pihak lain, setelah mendengar datangnya pasukan dari Palembang,
pasukan Inggris mundur. Peristiwa itu juga disebabkan adanya perintah dari
Gubernur Jenderal Lord Moira, agar pasukan Inggris tidak ikut campur dalam
permasalahan di pedalaman Palembang. Raffles dipersalahkan dengan berbagai
insiden tersebut, yang berarti Inggris mencampuri urusan pemerintah Belanda.
Akan tetapi, berbagai kesalahan Raffles tersebut dihapuskan oleh pemerintah
Inggris, bahkan dibenarkan oleh rakyat Inggris. Hal tersebut tidak dapat
dilepaskan dari gencarnya usaha Raffles mengekspos berbagai sepak terjangnya di
kawasan Hindia Timur melalui berbagai media massa di Inggris. Dalam surat
yang dikirimkannya kepada Lord Moira pada 31 Desember 1818, Raffles
mengemukakan bahwa apa yang dilakukannya demi menjunjung tinggi martabat
Inggris di dunia (Inggris adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi martabat).
Di samping itu, juga untuk mempertahankan kontrak antara Inggris dan Sultan
Najamuddin II (1812, 1813 dan 1818). Raffles juga menyampaikan bahwa
ketidaktahuan pasukannya atas batas-batas wilayah antara Bengkulu dan

Universitas Indonesia
193

Palembang, menyebabkan terjadinya insiden di uluan. Pemerintah Inggris di


Calcutta mencoba untuk memahami situasi dan kondisi pada waktu itu,
sebagaimana yang dipaparkan oleh Raffles. Untuk menangani masalah tersebut,
pada 15 Januari 1819 Menteri Falk (menteri yang menangani masalah konflik
antara Belanda dan Inggris) mengusulkan kepada Duta Besar Belanda untuk
Inggris Fagel, agar mengajukan protes kepada Kementerian Luar Negeri Inggris.
Dengan terjadinya perundingan tingkat tinggi antarkedua Negara, masalah konflik
antara Belanda dan Inggris di kawasan Muara Bliti berakhir (Kemp, 1900: 398-
399; Kemp, 1898: 289).
Guna memantapkan posisi Belanda di Palembang dan menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan dengan pihak Inggris di Bengkulu, Raja Belanda
memerintahkan (diumumkan pada 31 Januari 1819 di Batavia) agar pemerintah
Belanda dan Inggris membuat garis pemisah yang tegas antara wilayah
Palembang dan Bengkulu. Dinyatakan pula perlunya tindakan tegas apabila
insiden serupa terulang. Bagi pemerintah Belanda, Inggris menjadi penyebab
terhambatnya usaha mereka memulihan kekuasaan di Palembang (Kemp, 1898:
289; Kemp, 1900: 399).
Demi memantapkan kedudukan Belanda di uluan, Muntinghe memutuskan
untuk memfokuskan perhatian terhadap wilayah tersebut. Langkah yang diambil
oleh Muntinghe dimulai pada 15 Pebruari 1819 ia memerintahkan sebanyak 191
serdadunya untuk membuat jalan di Muara Bliti. Empat hari berikutnya mereka
bergerak ke Ujan Panas dan Kosambi, serta mendirikan pos di Pulo Getah.
Selanjutnya membuka jalur dari Pulo Geta ke daerah Minangkabau yang banyak
menghasilkan emas, diteruskan dengan menduduki Rejang. Muntinghe membina
hubungan baik dengan penduduk, ia mengajurkan penduduk menanam kopi dan
lada. Mula-mula penanaman dilaksanakan di Rawas, selanjutnya di daerah
Rejang, Komering dan Banyuasin. Muntinghe juga menghapuskan tiban-tukon,
dan diganti dengan Uang Semuhan (Uang Saomahan). Uang Semuhan adalah
pajak rumah tangga, yang dihitung setengah rupiah per orang untuk 500 ribu jiwa.
Ketentuan itu akan diterapkan mulai Pebruari 1819 untuk lima ribu dusun di
Kesultanan Palembang. Daerah Sindang yang sebelumnya terbebas dari ketentuan
tiban-tukong, diwajibkan pula membayar Uang saomahan. Di samping itu,

Universitas Indonesia
194

Muntinghe juga menghapuskan ketentuan anak semang. Ketentuan itu berlaku


bagi orang atau keluarga/kelompok yang tidak mampu melunasi hutang.
Konsekuensinya mereka dikenakan ketentuan ―wajib bekerja‖ pada tempat
mereka berhutang sampai hutangnya lunas. Muntinghe juga mengidentifikasi
berbagai hal yang dapat dijadikan sumber pendapatan bagi Belanda, antara lain,
penjualan candu, cukai ekspor-impor, kayu manis, pala, cengkih, lilin. emas, besi,
kain dan penjualan garam (ANRI, Bundel Palembang No. 15.7; Kielstra, 1892: 93;
Kemp, 1900: 435).
Muntinghe adalah pemimpin Belanda pertama yang terjun langsung di
daerah uluan untuk meneliti berbagai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Tampaknya, Muntinghe sadar betul akan kekayaan alam yang terpendam di
pedalaman Palembang. Semua itu akan dimanfaatkan secara maksimal untuk
kepentingan pemerintah Belanda.
Semua yang telah dirancang Muntinghe gagal, karena terjadi perubahan
situasi di daerah uluan. Di luar perhitungan Muntinghe, orang-orang Melayu153
yang sebelumnya membelanya berbalik arah menentangnya. Perubahan tersebut
karena hasutan pasukan Inggris. Perlawanan juga dilancarkan oleh orang-orang
yang mendukung Sultan Badaruddin II pada saat mundur ke uluan pada 1812-
1813). Pecah pemberontakan oleh orang-orang Melayu di Tabak Pingin dan
Tabak Jemeke, di bawah pimpinan Panglima Prang. Pemberontakan itu berakhir
dengan disepakatinya perundingan dengan Muntinghe, dan sebagian pasukan
Melayu ditarik mundur. Akan tetapi, sebagian lain menolak mundur dan bertahan
di Muara Bliti sampai 20 Maret 1819. Kelompok yang menolak mundur,
bergabung dengan sisa pasukan Inggris yang masih bertahan di Rejang. Sampai
saat itu pasukan Inggris yang bertahan di sana masih menerima suplai uang dan

153
Orang Melayu adalah orang-orang yang tinggal di sepanjang Musi, Batang Leko dan
kawasan lainnya di uluan. Untuk menghindarkan penduduk dari serangan kelompok tersebut,
Muntinghe memandang perlu untuk menempatkan pasukan militer sebesar 250 orang serdadu di
perbatasan Rawas (ANRI, Bundel Palembang No. 15.7). Dari berbagai sumber, dapat disimpulkan
bahwa ―Orang Melayu‖ adalah penyebutan warga setempat terhadap kelompok pendatang yang
berasal dari Minangkabau dan Kerinci. Walaupun keberadaan mereka di daerah tersebut sudah
berlangsung lama, namun tetap dibedakan berdasarkan bahasa yang mereka gunakan.

Universitas Indonesia
195

candu dari Bengkulu154. Candu-candu, mesiu dan timah dimasukkan ke dalam


peti-peti kecil, untuk selanjutnya dikirim Rejang tempat pasukan Inggris bertahan.
Di daerah Klingi juga terjalin hubungan antara orang-orang Melayu di bawah
Panglima Prang dan pasukan Inggris. Ini berarti kekuatan mereka semakin kuat.
Menghadapi situasi demikian, Muntinghe harus menarik sebagian pasukannya
dari Muara Bliti ke Ujan Panas dan Ayerlan. Di sana Muntinghe memutuskan
untuk membangun pos-pos pertahanan, yang berfungsi untuk memutuskan
hubungan antara orang-orang Melayu dan pasukan Inggris, baik yang berada di
Rejang maupun di Pulo Geta (Woelders, 1975: 101).
Sebelum tiba di Ujan Panas, pasukan yang dipimpin Muntinghe bersama-
sama dengan Kapten Motte dan Letnan Donher harus menghadapi perlawanan
pasukan Melayu. Dalam pertempuran itu, pasukan Melayu tidak mampu melawan
pasukan Belanda, sehingga mundur dan pasukan Belanda melanjutkan perjalanan
ke Ujan Panas. Di Ujan Panas, kembali pasukan Belanda mendapat serangan dari
kelompok Panglima Prang yang sebelumnya telah membangun kubu pertahanan
di daerah Sungai Pisang. Kedua kubu berhadapan langsung di dekat Tabak
Jemeke. Dalam pertempuran itu dua lila (senapan letup) milik pasukan Belanda
berhasil direbut oleh pasukan Melayu. Meskipun demikian, pertempuran terus
berlangsung, dan berakhir setelah kedua belah pihak masing-masing kehabisan
tenaga dan amunisi, sehingga memutuskan untuk mundur. Sampai saat itu
pasukan Belanda kewalahan menghadapi perlawanan militan dari orang-orang
Melayu yang bekerjasama dengan pasukan Inggris. Jadi, keberadaan pasukan
Inggris pada waktu itu berlindung di balik perlawanan orang-orang Melayu.
Dalam kondisi demikian, salah satu pimpinan pasukan yaitu Kapten Motte
menyatakan ketidaksanggupannya berhadapan dengan pasukan Melayu. Kondisi
pasukan Belanda semakin lemah. Untuk itu, strategi yang ditempuh oleh

154
Dengan demikian, kesepakatan Januari 1819 hanya berlaku di atas kertas.
Terbukti serdadu Inggris masih berkeliaran di daerah perbatasan bahkan sampai Muara
Bliti. Adanya suplai uang dan candu dari Bengkulu, membuktikan keberadaan serdadu-
serdadu Inggris di wilayah Palembang atas dukungan pemerintah di sana. Hal ini
memaksa Muntinghe untuk terus “memperhatikan” daerah uluan dan lengah di pusat
yaitu ibu kota Palembang. Padahal Palembang dijadikan sebagai pusat pemerintahan,
setelah Muntinghe memindahkannya dari Muntok. Berarti perangkat pemerintahan
dengan segala daya dukungnya di ibu kota Palembang masih lemah.

Universitas Indonesia
196

Muntinghe adalah mengumpulkan para depati dari Klingi dan Bliti yaitu pasirah
Muara Bliti, Lobo Mumpa, Benu Agung, dan Ujan Panas untuk meminta
kesediaan mereka menyiapkan seratus orang dari daerah masing-masing dan 150
orang dari daerah Rejang. Selanjutnya, terkumpul sebanyak 250 orang.
Menghadapi kekuatan Belanda yang besar, membuat pasukan Melayu mundur
melalui Sungai Lakitan. Akibatnya, hubungan dengan Muara Bliti pulih kembali.
Usaha itu cukup berhasil, sehingga pada 2-3 April 1819 pasukan Belanda dapat
melanjutkan perjalanan meninggalkan Ujan Panas menuju dusun Ulu Lebar
(posisinya di tengah-tengah antara Ujan Panas dan Tabah Jemeke), tanpa
gangguan apapun (ANRI, Bundel Palembang No. 66.7; Woelders, 1975: 101).
Berbagai peristiwa tersebut, menunjukkan bahwa pemerintah Inggris di
Bengkulu tetap berkeinginan untuk menduduki wilayah Palembang. Terbukti
dengan adanya suplai mesiu, dana dan candu terhadap pasukannya yang
bergabung dengan orang-orang Melayu. Bergabungnya pasukan Inggris dengan
orang-orang Melayu, dimungkinkan agar keberadaan mereka tidak terlalu tampak
di mata pemerintah Belanda, sekaligus untuk menambah kekuatan.
Banyaknya perlawanan yang dihadapi oleh pasukan Muntinghe,
membuatnya mengabarkan hal itu kepada Sultan Badaruddin II di ibu kota. Sultan
Badaruddin II menanggapinya dengan mengirimkan Ngambai Balmi (utusan
Sultan untuk mengetahui kondisi yang sesungguhnya di daerah tersebut).
Setibanya di Rantau Menitang, utusan itu mendapat informasi bahwa di Muara
Rawas, orang-orang Melayu telah berhasil membangun benteng dan persenjataan
untuk melawan Belanda. Selanjutnya Ngambai Balmi meneruskan perjalanan
menuju pusat pertahanan Muntinghe di Ujan Panas. Setibanya di sana, ia ditahan
dengan alasan berbagai perlawanan yang terjadi di daerah itu berkaitan dengan
Sultan Badaruddin II. Menurut Muntinghe telah terjadi persekongkolan antara
para pemberontakan dan Sultan Badruddin II (Woelders, 1975: 123-124).
Menyadari kemampuan militer pasukannya lemah, Muntinghe menempuh
jalur damai dalam usaha meredam perlawanan orang-orang Melayu. Melalui
depati Lobo Mumpa dan Pangeran Muara Kati, Muntinghe berhasil mengajak
Panglima Prang untuk berunding. Dari perundingan-perundingan yang mereka
lakukan, terungkap bahwa motif mereka mengobarkan perlawanan terhadap

Universitas Indonesia
197

Belanda disebabkan adanya dorongan dari Sultan Badaruddin II, ditambah


kerjasama yang ditawarkan oleh pihak pasukan Inggris dari Bengkulu. Pernyataan
itu didukung pula oleh Pangeran Semangus155. Menurut Pangeran Semangus,
Sultan Badaruddin II menjanjikan imbalan hadiah dan kedudukan kepada setiap
orang yang mau bekerjasama dengan orang-orang Melayu. Pada kesempatan itu
pula, Pangeran Semangus menyatakan bahwa beberapa orang dari distrik Blida
telah bergabung dengannya untuk menyusun kekuatan melawan pasukan Belanda.
Dengan pengakuan itu, posisi Pangeran itu berubah dari pendukung setia menjadi
musuh Belanda. Selanjutnya, Pangeran itu menuntut agar meriam, dan beberapa
senapan yang ditempatkan di perahu milik Belanda Ganda Pospita diserahkan
kepadanya, dengan dalih untuk melindungi persenjataan tersebut. Menghadapi
ulah Pangeran Semangus, Muntinghe menempuh cara ekstra hati-hati, dengan
pertimbangan Pangeran itu memiliki banyak pengikut. Kondisi semakin tegang
dengan beredarnya kabar, bahwa telah siap melakukan perlawanan sebanyak
empat sampai lima ratus orang Melayu dan Blida di Muara Rawas dan Muara
Klingi. Pusat perlawanan mereka adalah di dusun Semangus (ANRI, Bundel
Palembang No. 66.7; Kielstra, 1892: 93-94). Suatu kondisi kritis terjadi pada
waktu itu. Orang-orang Melayu yang sebelumnya mendukung pasukan Belanda
berubah menjadi musuh. Muntinghe berkeyakinan bahwa semua itu terjadi, akibat
campur tangan Sultan Badaruddin II.
Dalam posisi terdesak, Muntinghe mencoba melakukan pendekatan
dengan mengirimkan utusan depati Lobo Rombi, depati itu membawa undangan
tertulis dari Muntinghe kepada semua depati di sana, khususnya Pangeran
Semangus agar secepatnya menemuinya di Muara Bliti. Undangan itu bertujuan
untuk membahas masalah berkumpulnya orang-orang Melayu dan Blida, dan
mengaitkan masalah tersebut dengan keamanan di daerah mereka masing-masing.
Muntinghe juga memerintahkan depati Lobo Rombi untuk melakukan tugas
rahasia yaitu untuk memastikan posisi depati Muara Rawas, apakah sudah
memihak lawan atau tidak. Hasil dari misi yang diemban oleh Depati Lobo
Rombi, diketahui bahwa para depati di hilir Rawas, tidak bisa memenuhi

155
Pangeran Semangus adalah depati dari dusun Semangus yang sebelumnya
memihak Belanda, berubah arah menjadi mendukung Sultan Palembang (ANRI, Bundel
Palembang No. 66.7)

Universitas Indonesia
198

undangan Muntinghe karena mereka telah terisolir. Gerakan mereka diawasi


secara`ketat oleh orang-orang Melayu. Apabila mereka nekat memenuhi undangan
tersebut, dusun-dusun mereka akan dibakar habis oleh orang-orang Melayu.
Walaupun demikian, para depati di hulu Muara Rawas, antara lain depati Muluk,
Danguan Lakitan, Pangeran Mendanawauwer dan Pangeran Semangus
menyatakan kesediaan mereka untuk hadir. Bagi Pangeran Semangus, kesediaan
hadir pada undangan itu merupakan strateginya untuk menyerang pasukan
Belanda dari belakang. Sebaliknya, pasukan gabungan Melayu dan Blida akan
menyerang dari arah depan (ANRI, Bundel Palembang No. 66.7).
Untuk memperkuat kedudukannya yang lemah, Muntinghe meminta
bantuan ke ibu kota sebanyak empat puluh serdadu di bawah pimpinan Steffens,
dan beberapa perahu milik Pangeran dan para mantri. Dalam rombongan itu,
terdapat pula perahu milik Kimas Tumenggung (kepala para mantri di Kesultanan
Palembang), bahkan Kimas Tumenggung ikut mengiringi pasukan itu sampai
Muara Bliti. Bersama-sama dengan Muntinghe, Kimas Tumenggung membahas
berbagai strategi untuk melumpuhkan perlawanan gabungan orang-orang Melayu,
Blida dan Semangus (ANRI, Bundel Palembang No. 66.7). Sampai saat itu jelas
terlihat bahwa pihak Sultan yang diwakili oleh Kimas Tumenggung tetap berpihak
kepada pasukan Muntinghe.
Pangeran Semangus, yang telah menyatakan kesediaannya hadir dalam
pertemuan yang digagas oleh Muntinghe tiba di sana. Kehadirannya sangat
ditunggu dalam rangka menjelaskan keterlibatannya dalam komplotan menentang
kehadiran pasukan Belanda di uluan. Muntinghe juga bermaksud mendapatkan
tambahan tenaga pendayung dari Pangeran Semangus sebagaimana yang
dijanjikan oleh Pangeran Semangus. Sesuai dengan kesepakatan, Muntinghe
bersedia menerima kehadiran Pangeran Semangus pada siang hari. Waktu siang
hari sengaja dipilih agar pasukan Belanda siaga, seandainya Pangeran Semangus
merencanakan suatu pemberontakan. Kedatangan Pangeran Semangus disambut
oleh Letnan artileri de Sturler. Dalam peristiwa penyambutan itu, Pangeran
Semangus bersikeras untuk tidak menyerahkan tenaga pendayung yang
dibawanya kecuali kepada Muntinghe secara langsung, sedangkan Muntinghe
menolak permintaan tersebut. Akibatnya, terjadi insiden penusukan oleh Pangeran

Universitas Indonesia
199

Semangus terhadap Letnan de Sturler yang menyebabkannya terluka, Dengan


penusukan itu, Pangeran Semangus dibunuh oleh salah seorang serdadu Belanda,
sedangkan salah seorang pembantu Pangeran yang berusaha membantunya juga
ditikam. Peristiwa itu menyulut kemarahan para serdadu Belanda, sehingga
keesokan harinya pasukan Belanda menyusuri sungai yang menuju dusun
Semangus, yang membuat penduduk setempat merasa ketakutan. Akhirnya,
kesepakatan dicapai untuk menempatkan Pangeran Muara Kati (saudara kandung
Pangeran Semangus yang menyandang gelar aria) untuk juga mengemban jabatan
sebagai kepala dusun Semangus (ANRI, Bundel Palembang No. 66.7; Woelders,
1975: 101).
Pertemuan dengan para depati di Muara Bliti yang sudah dirancang
sebelumnya, berjalan lancar. Kesepakatan yang dihasilkan adalah mengusir orang-
orang Melayu keluar wilayah Kesultanan Palembang melalui Lakitan dan Rupit.
Usaha itu bukan hal mudah untuk dilaksanakan karena mendapat perlawanan yang
gigih dari orang-orang Melayu. Akhirnya Muntinghe memutuskan untuk kembali
ke ibu kota Palembang. Dalam perjalanan itu, mereka sering kali mendapat
serangan, sehingga pada 17 Mei 1819 mereka terpaksa melewati Muara Rawas, di
sana pun banyak mendapat gangguan. Dengan susah payah payah pasukan
Belanda berhasil mencapai ibu kota Palembang (ANRI, Bundel Palembang No.
66.7; Kemp, 1898: 288-389; Kielstra, 1892: 93).
Dari uraian sebelumnya, dapat ditegaskan bahwa sejak pemindahan
kekuasaan dari Inggris ke Belanda, kondisi di Palembang terus bergolak.
Beberapa orang wakil pemerintah Belanda di Palembang belum berhasil
mengendalikan situasi di Kesultanan Palembang. Sehubungan dengan itu,
pemerintah pusat Belanda di Batavia mengirimkan Komisaris Muntinghe untuk
menyelesaikan permasahan di sana. Langkah radikal yang ditempuh oleh
Muntinghe adalah membagi kekuasaan antara Belanda, Sultan Najamuddin II dan
Sultan Badaruddin II. Pembagian tersebut menyebabkan Sultan Najmauddin II
merasa tersisih dan bereaksi dengan mengundang pasukan Inggris dari Bengkulu
untuk menyelamatkan diri dan keluarganya sebagaimana pernah terjadi tahun
1813.

Universitas Indonesia
200

Masuknya pasukan Inggris, menempatkan Palembang dan Belanda pada


kondisi konflik dengan Inggris di ibu kota Palembang dan uluan (Muara Bliti).
Mulai dari kehadiran pasukan Kapten Salmond sampai ekspedisi kedua pasukan
Belanda di bawah pimpinan Muntinghe ke Muara Bliti dan Rejang. Konflik yang
terjadi berulang kali disebabkan masuknya pasukan Inggris ke wilayah
Kesultanan Palembang. Sebagai penguasa wakil pemerintah Belanda untuk
Palembang, Muntinghe harus ekstra hati-hati menghadapi pasukan Inggris, agar
tidak menyulut konflik internasional antara kedua negara. Muntinghe juga
dihadapkan dengan penduduk Palembang yang terbelah antara pendukung Sultan
Badaruddin II dan Sultan Najamuddin II. Semua itu membutuhkan kewaspadaan
dan kesabaran serta ketegasan dalam menghadapinya. Dalam rangka mengambil
hati rakyat di uluan,Muntinghe melakukan berbagai terobosan pembangunan dan
rancangan ke depan yang akan memberikan keuntungan khususnya bagi Belanda.
Komisaris Muntinghe sangat berkeinginan untuk mengusir pasukan
Inggris di uluan, dan mengerahkan segala daya upaya untuk mewujudkannya.
Komisaris Muntinghe mengabaikan peringatan dari pihak militer dan gelagat
Sultan Badaruddin II yang mencurigakan. Sesungguhnya, sejak awal Muntinghe
kurang percaya kepada Sultan Badaruddin II. Hal itu terlihat dari sebagian isi
laporannya ke Batavia pada 10 Juli 1818 dan 31 Oktober 1818 serta suratnya
kepada Wolterbeek. Dalam suratnya Muntinghe menyatakan bahwa dirinya akan
berhati-hati dan lebih mencermati sikap Sultan Badaruddin II yang patut dicurigai.
Untuk itu Muntinghe membutuhkan tambahan militer sebesar 1200 orang. Dengan
kekuatan sebanyak itu akan mampu mematahkan setiap perlawanan terhadap
pemerintah Belanda di Palembang (Bataviaasche Courant, 26 Juni 1819; Kemp,
1900: 428). Kecurigaan itu tidak berlangsung lama, hanya dalam waktu enam
bulan Muntinghe sudah mampu mempercayai Sultan Badaruddin II sepenuhnya
dengan berangkat ke uluan. Ekspedisi itu mengerahkan seluruh pasukan Belanda
di Palembang (Laporkan Gubernur Jenderal kepada menteri koloni pada 6
Agustus 1819) (Kemp, 1900: 430). Muntinghe juga dihadapkan pada masalah
sulit dengan munculnya berbagai perlawanan terhadap pasukannya di pedalaman,
sehingga baru berhasil mencapai ibu kota Palembang pada Mei 1819.

Universitas Indonesia
201

BAB 5
PERANG PALEMBANG (1819 dan 1821)

Pada 1819 terjadi dua kali peperangan (Juni dan Oktober 1819) antara pasukan
Palembang dan pasukan Belanda. Terjadinya peperangan pertama disebabkan

Universitas Indonesia
202

Sultan Badaruddin II bermaksud untuk melepaskan diri dari dominasi pemerintah


kolonial Belanda yang diwakili oleh Muntinghe dan aparatnya. Peperangan kedua,
karena pemerintah Belanda ingin membalas atas kekalahan mereka pada
peperangan pertama. Dua kali peperangan itu memberi pelajaran berharga bagi
pasukan ekspedisi Belanda, karena dalam dua peperangan itu mereka dikalahkan.
Sebaliknya, Bagi Kesultanan Palembang, peperangan ini memberikan rasa
percaya diri bahwa mereka mampu melepaskan dari pengaruh Belanda.
Kekalahan itu diperparah dengan kesulitan mengatasi perlawanan rakyat Pulau
Bangka, baik setelah perang pertama maupun perang kedua. Kemenangan
Palembang melawan Belanda memberikan semangat baru kepada mereka untuk
terus melanjutkan peperangan di tengah blokade yang dilancarkan oleh Belanda
terhadap Kesultanan Palembang.
Berbagai cara ditempuh oleh penduduk Palembang untuk meminimalisir
dampak negatif dari blokade yang dilakukan oleh armada dan pasukan Belanda.
Masalah tersebut menjadi penting bagi Kesultanan Palembang, karena untuk
memasuki Kesultanan Palembang selain Bangka-Belitung hanya bisa melalui
muara Sungai Musi yang dikenal dengan nama Sunsang. Dengan demikian,
menutup Sunsang berarti ―membunuh‖ Palembang. Oleh sebab itu, usaha-usaha
yang ditempuh untuk tetap bertahan adalah suatu hal yang penting bagi
Palembang. Selain itu, untuk membalas kekalahan di Palembang, Belanda juga
menempuh berbagai strategi penting, karena kekalahan dalam dua kali peperangan
itu merupakan pukulan berat yang harus ditanggung oleh pihak Belanda.
Berbagai persiapan dilakukan oleh pihak kolonial Belanda untuk
membalas kekalahan terhadap Palembang pada 1819. Kepemimpinan ekspedisi
dipegang langsung oleh Jenderal Mayor H.M, yang sebelumnya hanya bertindak
dibelakang layar. Persiapan militer pada waktu itu terdiri dari armada yang besar
dan kekuatan tempur yang kuat. Sementara itu, pihak Palembang juga melakukan
hal yang sama, sebab cepat atau lambat pasti pihak Belanda akan melancarkan
serangan terhadap kawasan itu. Ternyata persiapan yang telah dilakukan, tidak
mampu menghentikan serangan dahsyat yang dilancarkan oleh pasukan Belanda
di bawah pimpinan H.M. de Kock. Pada peperangan itu (1821), pihak Palembang
harus mengakui keunggulan pasukan tempur Belanda. Sultan Badaruddin II dan

Universitas Indonesia
203

pengikutnya dibuang ke Ternate, dan tetap sebagai ―orang buangan‖ sampai akhir
hayatnya.

5.1 Menjelang Perang dan Perang Palembang Pertama

Dengan dibuangnya Sultan Mudo, Sultan Tuo menjadi satu-satunya sultan yang
berkuasa di Kesultanan Palembang. Akan tetapi, walaupun posisinya telah
dikembalikan sebagai satu-satunya sultan Palembang, ia tidak memiliki banyak
kekuasaan sebagaimana tahun-tahun sebelum 1812 (Bangka tetap di tangan
Belanda). Kini Sultan hanya berkuasa di sebagian wilayah Palembang, selebihnya
berada di bawah kendali pemerintah Hindia Belanda. Untuk itu, Sultan menyusun
rencana untuk mendapatkan kembali kekuasaannya. Beberapa faktor yang
mendukung usahanya itu adalah adanya intervensi Inggris dari Bengkulu. Hal itu
menyebabkan Komisaris Muntinghe memfokuskan perhatiannya pada masalah
itu, sehingga melakukan ekspedisi ke pedalaman dalam jangka waktu lima
bulan156. Faktor lainnya adalah karena dibuangnya Sultan Mudo bersama
pengikutnya ke Pulau Jawa (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1).
Selama Muntinghe tinggal di pedalaman, memberi peluang besar bagi
Sultan Badaruddin II mempersiapkan diri guna merebut kembali kebebasannya.
Orang-orang Belanda yang tinggal di ibu kota mengamati sikap Sultan
Badaruddin II yang mulai mencurigakan, namun mereka tidak mampu berbuat
apa-apa. Kondisi itu tidak mudah untuk disampaikan ke uluan, karena sulitnya
hubungan ke pedalaman melalui jalur sungai yang membutuhkan waktu lama.
Sementara itu, Muntinghe banyak mendapat perlawanan rakyat di pedalaman. Ia
menuduh semua itu berkaitan erat dengan Sultan. Akibatnya, setibanya di
Palembang pada 20 Mei 1819, Muntinghe langsung memanggil Sultan, dan
meminta pertanggungjawaban Sultan atas apa yang menimpa pasukannya di
uluan. Sebaliknya, Sultan Badaruddin II menyatakan bahwa dirinya tidak terlibat

156
Selama di pedalaman Muntinghe dan pasukannya melakukan pendekatan
kepada penduduk setempat yang sempat melarikan diri ke hutan, karena adanya
ekspedisi pasukan Inggris. Muntinghe juga melakukan penelitian tentang keadaan
penduduk dan potensi alam di sana, membuat jalan, menganjurkan penduduk untuk
menanam kopi dan lada.

Universitas Indonesia
204

dalam masalah tersebut. Pada kesempatan itu Muntinghe menuntut agar Sultan
menyerahkan beberapa orang pangeran dan bangsawan sebagai jaminan agar hal
serupa tidak terulang. Sehubungan dengan permintaan tersebut, Sultan
Badaruddin II menjawabnya dengan menyatakan bahwa dirinya berjanji akan
menyerahkan para sandera yang dimaksud157 (ANRI, Bundel Palembang No. 67;
Bataviaasch Courant, 4 Agustus 1821).
Sultan Badaruddin II memiliki pengaruh besar terhadap bangsawan dan
penduduk, sehingga dengan mudah mendapat dukungan besar dari para
bangsawan. Selanjutnya, langkah yang diambil oleh Sultan adalah membenahi
sistem pemerintahan, setelah ditinggalkan oleh Sultan Najamuddin II. Di samping
itu, Sultan juga mengawasi jalannya pemerintahan yang selama pemerintahan
Sultan Najamuddin II cenderung disalahgunakan oleh golongan bangsawan.
Sultan juga mengakhiri berbagai pungutan, penindasan dan menerapkan hukum
yang jelas khususnya di daerah uluan. Sultan juga memperkokoh pertahanan
keraton158, menyiagakan perahu-perahu perang di sebelah hulu dan hilir keraton,
membangun kubu pertahanan di muara Sungai Ogan (ANRI, Bundel Palembang
N0. 5.1; No. 67; Bataviaasch Courant, 4 Agustus 1821).
Di pihak lain, Muntinghe juga memperkokoh kekuatan militernya dengan
cara mengajukan permintaan ke Batavia. Sesuai permintaan tersebut, pada 4 Mei
1819 tiba di ibu kota Palembang sebanyak 209 orang serdadu. Para serdadu itu
diangkut dengan menggunakan kapal Elisabeth di bawah pimpinan Mayor
Tierlam. Mereka ditempatkan di keraton Kuto lamo. Langkah lain yang ditempuh
oleh Muntinghe adalah menuntut Residen Bangka159 Smissaert terlibat aktif untuk

157
Menurut Woelders, bahwa Sultan Badaruddin II menanggapi tuntutan
tersebut dengan jawaban “melawan tiada, dikasihkan tidak” (Woelders, 1975: 125-126).
Dari pernyataan itu tampak bahwa Sultan Badaruddin II sudah siap melawan, dengan
tidak memenuhi permintaan Muntinghe tersebut.
158
Di keraton Kuto Besok ditempatkan meriam di buluarti (empat sudut keraton), sebelah
hulu dikomandoi oleh Pangeran Kramadiraja, sebelah hilir dipimpin Pangeran Kramajaya, sebelah
darat bagian hilir dipimpin Pangeran Citra Saleh dan gerbang keraton dikendalikan oleh empat
orang mentri (Woelders, 1975; 126).

159
Sejak Komisaris Muntinghe mengendalikan kekuasaan Belanda di Kesultanan
Palembang, pusat pemerintahan Belanda dipindahkan ke ibu kota Palembang. Kedudukan Belanda
di Pulau Bangka-Belitung dikendalikan oleh Residen Smissaert. Pertahanan dan keamanan di
kedua pulau itu sangat minim, sedangkan pulau-pulau di daerah itu sejak dahulu terkenal sebagai
tempat bersarangnya para bajak laut (elanong). Kawasan tersebut pada abad XV menjadi pusat

Universitas Indonesia
205

memperkuat Palembang. Untuk itu, hampir semua aparat militer yang terdiri dari
lima puluh orang serdadu, tiga puluh mesiu (separuh dari seluruh mesiu), kapal-
kapal perang dan perahu-perahu di Muntok dikerahkan ke Palembang. Yang
tersisa hanya kapal Zeehond dan beberapa perahu. Meskipun demikian,
tampaknya Muntinghe belum puas, sehingga pada 5 Juni 1819 ia menuntut agar
Smissaert secepatnya bergabung dengannya di Palembang. Akan tetapi, Smissaert
tidak sependapat dengan rencana tersebut. Menurut Smissaert, tidak hanya ibu
kota Palembang yang harus dipertahankan, tetapi juga pangkalan Muntok.
Apalagi pada saat itu para perwira yang tersisa di Muntok adalah orang-orang
yang tidak berguna karena pemabuk dan pemalas160. Akibatnya, pertahanan
Belanda di Muntok jauh lebih lemah dibandingkan daerah lainnya. Keadaan itu
memaksa Smissaert mendesak Gubernur Jenderal untuk segera mengirimkan
tambahan pasukan, kapal, perahu, mesiu, peluru, amunisi, beras, dan minyak serta
uang. Permintaan itu disampaikan melalui suratnya pada Juni 1819.
Sesungguhnya, permintaan itu sudah diajukan Smissaert sejak satu tahun
sebelumnya, namun belum mendapat respon na sehingga Smissaert frustasi. Atas
berbagai pertimbangan tersebut, Smissaert berketetapan hati untuk tidak
meninggalkan Bangka yang sangat rawan. Daerah itu menjadi sasaran empuk
para bajak laut, dan penolakan itu berarti ia harus berhadapan dengan Muntinghe
sebagai seorang pembangkang atasannya (ANRI, Bundel Palembang No.67;
Missive van Smissaert 11 Juni 1819 No. Litt A Algemeneen Secretarie; Besluit
van Gouverneur Generaal 5 Agustus 1819 No. 1, Bundel Algemeen Secretarie).
Dengan tibanya berbagai bala bantuan tersebut, total serdadu Belanda di
Palembang mencapai sekitar 500 orang. Selanjutnya, kepemimpinan pasukan

elanong. Akibatnya, pantai-pantai di pesisir pulau itu menjadi daerah rawan dari serangan dan
pendudukan elanong. Contohnya pada 28 Mei 1819 para elanong menyerang benteng Belanda di
Toboali, sehingga empat puluh serdadu Belanda mundur ke Bayor dan Pangkal Pinang. Para
elanong mengusai benteng dan gudang timah Belanda di sana. Usaha merebut kembali Toboali
berhasil setelah Smissaert dan Kapten Snoeck mengerahkan empat puluh orang serdadu (ANRI,
Bundel Palembang No. 67; ANRI, Besluit van Gouverneur Generaal 5 Agustus 1819 No. 1,
Bundel Algemeen Secretarie; Lapian, 2009:137-138). Kemenangan itu memberi mereka semangat
untuk terus bertahan, walaupun tidak memiliki persenjataan yang cukup.

160
Para perwira tersebut antara lain: Donker, Kansjeboom, letnan Burry dan
Letnan Kaseboom, sedangkan dua lainnya yaitu Letnan Alewijn dan Goozens sedang
sakit (ANRI, Besluit van Gouverneur Generaal 5 Agustus 1819 No. 1, Bundel Algemeen
Secretarie).

Universitas Indonesia
206

diserahkan oleh Muntinghe kepada Mayor Tierlam. Sementara itu, kondisi di ibu
kota Palembang semakin genting, karena di keraton Kuto Besak terjadi kesibukan
luar biasa yang mencurigakan. Kesibukan itu menimbulkan protes dari Muntinghe
yang menuntut agar aktifitas itu dihentikan. Meskipun demikian, pihak Belanda
juga mempersiapkan diri dengan menyiagakan kapal perang Ajax (berkekuatan
enam belas meriam ukuran delapan pon), Eendracht (berkekuatan 32 meriam
ukuran tiga puluh pon) di bawah komando Kapten Letnan Taki Bakker dan
Letnan klas-1 J. van Ginkel (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Kielstra, 1892:
94).
Masing-masing pihak dalam posisi siaga, persiapan Sultan Badaruddin II
sudah matang, ditandai dengan telah siaganya berbagai persenjataan yaitu meriam,
granat, lila, tombak, pedang dan senapan. Untuk memantapkan kesiapan mental,
Sultan mmerintahkan agar dilakukan zikir161, yang pelaksanaannya dilakukan di
luar keraton sehingga suaranya sampai ke keraton Lamo tempat para serdadu
Belanda ditempatkan. Suara zikir itu menyebabkan sebelas serdadu Belanda
memeriksa lokasi tersebut. Kehadiran serdadu-serdadu itu memicu terjadinya
bentrokan senjata. Dalam ―insiden‖ itu Haji Zain memimpin penyerangan
terhadap sebelas serdadu Belanda, dan pertempuran antara kedua belah pihak
tidak terhindarkan. Dalam pertempuran itu Haji Zain, Kemas Said, dan Haji
Lanang terbunuh (Woelders, 1975: 103, 124; Syair Perang Muntinghe).
Dalam kondisi genting itu, para serdadu Palembang juga mengarahkan
meriam-meriam ke kapal-kapal dan garnizun Belanda. Sultan juga mengumpulkan
rakyat Palembang, lengkap dengan persenjataan mereka masing-masing.
Menjelang magrib pada 11 Juni 1819, pihak Belanda menempatkan kapal perang
Ajax di depan keraton Sultan. Dua kompi dari resimen infanteri ke-3 disiagakan di
keraton Kuto Lamo. Pada malam harinya pukul 22.00, dua orang Pangeran
Adipati menghadap Muntinghe untuk menyampaikan jawaban Sultan Badaruddin

161
Dalam “Syair Perang Muntinghe/Perang Menteng atau Perang Palembang”
disebutkan bahwa ajaran tasawuf menjadi aspek penting dalam kehidupan keraton
maupun rakyat. Dengan demikian, peran para “haji” menjadi begitu sentral (bait 7, 8, 9,
10, 11, 12), terbukti dari pembacaan zikir secara bersama-sama dalam rangka persiapan
perang. Syair ini juga menggambarkan perang jihad rakyat Palembang melawan kolonial
Belanda yang kafir (bait 1, 6, 21, 33, 55, 74, 118, 118-122, 144, 146, 162, 173, 191-192,
204, 210, 247).

Universitas Indonesia
207

II. Pada intinya Sultan sepakat untuk menyerahkan Pangeran Ratu dan beberapa
orang pangeran lainnya, sesuai tuntutan Muntinghe dan telah menghentikan
semua aktivitas ―mencurigakan‖ pihak Belanda di dalam keraton (ANRI, Bundel
Palembang No.67; Missive van Banca 14 Juni 1819 Bundel Algemeen Secretarie).
Sampai saat itu kondisinya genting, menunggu terjadinyanya perang antara dua
kubu yang berlawanan.
Perang Palembang dimulai dengan serangan singkat terhadap pasukan
Belanda pada pukul 03.30, 12 Juni 1819. Penyerangan itu merupakan aksi balasan
atas insiden penembakan yang dilakukan oleh serdadu Belanda, yang
menyebabkan seorang penduduk Palembang terbunuh. Melihat situasi yang ada,
Muntinghe mengambil sikap dengan memerintahkan Mayor Tierlam agar segera
membawa pasukannya meninggalkan keraton Kuto Lamo. Mereka diperintahkan
untuk menghuni sebuah bangunan yang tengah dibangun untuk kebutuhan
mereka. Pada saat pasukan Belanda tengah menuju bangunan tersebut, mereka
diserang oleh laskar Palembang sehingga meletus pertempuran (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; ANRI, Missive van Smissaert 11 Juni 1819 No. Litt A
Algemeneen Secretarie).
Dalam pertempuran itu, laskar Palembang di bawah pimpinan putera-putera
Sultan Badaruddin II, antara lain Pangeran Ratu, dan Pangeran Prabu. Terlibat
pula secara langsung adik Sultan yaitu Pangeran Adipati Tuo dan dua orang
menantu Sultan yaitu Pangeran Kramadiraja dan Pangeran Kramajaya. Dari
keraton mereka mengarahkan serangannya kepada kapal-kapal Belanda yang
tengah ditempatkan di depan keraton. Digambarkan dari naskah lokal yang
dikutip oleh Woelder (Woelders, 1975: 126) sebagai berikut:
―…bergeraklah bumi dan berguncanglah air laut. Maka gegak
[gegap] gempitalah negeri Palembang, gemuruh seperti langit
akan runtuh. Dan bunyi meriam seperti bunyi halontar
[halilintar] membelah bumi bunyinya. Tiada nampak sesuatu lagi
oleh asap bedil, hanyalah kilat meriam juga yang nampak
muncar ke langit. Demikianlah halnya perang itu terlalu
besarnya. Dan tiadalah kedengaran suatu lagi apa-apa, hanya
bunyi meriam dan sorak seala ra‘yat laut dan darat. Dan waktu
itu dahsatlah orang yang penakut dan lupalah kepada matinya
orang yang berani‖.

Universitas Indonesia
208

Suatu gambaran yang mungkin berlebihan, akan tetapi penggambaran tersebut


bisa jadi mewakili suasana pada waktu itu, mengingat naskah tersebut dibuat
sezaman. Dengan pecahnya pertempuran tersebut, Kesultanan Palembang untuk
pertama kalinya dihadapkan pada perang besar, yang menempatkan kedua kubu
berhadap-hadapan secara langsung, suatu pengalaman yang luar biasa bagi
penduduk Palembang pada waktu itu.
Berita tentang meletusnya peperangan di perairan Sungai Musi, dan di
depan keraton Sultan cepat menyebar. Mendengar kabar tersebut, Letnan de
Vriesse segera meninggalkan posnya di muara Sungai Musi dan membawa perahu
Kora-kora No. 10 menyusuri Sungai Upang (Opang). Selanjutnya, armada yang
dipimpinnya memperkuat posisi Belanda dalam pertempuran yang tengah
berkecamuk. Pasukan Belanda yang ditempatkan di rumah Demang Osman
bergerak menuju loji Belanda untuk memperkuat kompi dari resimen ke-5, di
tengah tembakan meriam dari pasukan Palembang. Usaha itu berhasil tanpa
mengalami banyak kerugian. Pihak Belanda mengerahkan serangan dari kapal
perang Ajax, Eendracht dan Ebbe, sedangkan laskar Palembang membalasnya
dari keraton (ANRI, Bundel Palembang No. 67; ANRI, Missive van Smissaert 11
Juni 1819 No. Litt A Algemenee Secretarie ; Waey, 1875: 104). Pada pertempuran
itu, seluruh kekuatan Palembang dipusatkan di dalam keraton Kuto Besak yang
merupakan kediaman Sultan Badaruddin II. Dalam pertempuran tersebut, Sultan
secara langsung memberikan komando kepada para putera-putera, menantu dan
adiknya Pangeran Adipati Tuo.
Pertempuran pada hari itu berlangsung hingga senja, dan pada saat
pertempuran mulai reda, pasukan Palembang melepas rakit-rakit yang dibakar162.
Keberadaan rakit-rakit tersebut akan membakar kapal-kapal perang dan perahu-
perahu milik Belanda. Pasukan Palembang juga melepaskan batang-batang pohon
besar yang dapat menghambat gerak laju armada Belanda. Melihat datangnya
serangan tersebut, Letnan Vriesse melakukan manuver untuk melindungi perahu

162
Rakit-rakit yang telah dibakar diluncurkan untuk menghantam kapal-kapal
Belanda, sehingga kapal-kapal itu terbakar dan hancur (The Asiatic Journal, 1820). Rakit-
rakit itu terbuat dari bambu dan papan yang dibangun di atas rakit besar, yang dililitkan
dengan tali rotan. Pembuatan rakit itu dipercayakan sultan kepada Raden Kijing (Waey,
1975: 107; Woelders, 1975: 128).

Universitas Indonesia
209

Kora-kora no.10 dan melepaskan kapal-kapal Belanda dari kepungan rakit-rakit


api tersebut. Para serdadu Belanda yang terluka dalam pertempuran itu segera
dibawa ke atas kapal Elisabeth yang difungsikan sebagai rumah sakit. Pada petang
hari itu juga di atas kapal Eendracht, terjadi kesepakatan antara Komisaris
Muntinghe dan panglima armada laut Taki Bakker. Kesepakatan yang dicapai
adalah bahwa pada keesokan harinya, mereka akan melancarkan serangan
terhadap keraton. Untuk itu, kapal-kapal perang harus ditempatkan pada posisi
sebelumnya yaitu di depan keraton. Selanjutnya, pasukan Palembang mundur dan
mempersiapkan diri di dalam keraton guna mempersiapkan diri menghadapi
berbagai kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya (ANRI, Bundel Palembang
No. 67; ANRI, Missive van Smissaert 11 Juni 1819 No. Litt A Algemeneen
Secretarie; Woelders, 1975: 128).
Pada 13 Juni 1819 laskar Palembang sudah siaga dengan segala persiapan
untuk berjihad melawan pasukan Belanda. Di pihak lain sejak subuh pihak
Belanda telah menempatkan kapal perang Eendracht, di bawah pimpinan Kapten
Letnan Laut Taki Bakker di depan keraton. Di lokasi yang sama disiagakan pula
kapal perang Ajax yang di pimpin Letnan Klas-1 J. van Ginkel. Selain itu, kapal-
kapal Belanda lainnya yang berbendera merah dan perahu Kora-kora no. 10
ditempatkan di lokasi-lokasi strategis menghadap ke gerbang keraton.
Pertempuran pada hari kedua, ditandai dengan diluncurkannya enam rakit dibakar
oleh laskar Palembang. Selanjutnya, terjadi saling tembak dari kapal-kapal
Belanda dengan laskar Palembang. Sambil membordir pasukan Palembang,
pasukan Belanda mencoba mendekati gerbang keraton. Sesampainya mereka di
sana, gerbang itu tidak berhasil mereka buka, meskipun telah mengerahkan
berbagai cara. Akibatnya, posisi pasukan Belanda terjepit. Dari jendela di atas
pintu gerbang keraton dan buluarti, laskar Palembang memberondong mereka
dengan meriam dan lila, diantaranya salah seorang anggota laskar Palembang
yaitu Rangga Satyagati berhasil membunuh salah seorang anggota pasukan
Belanda. Pasukan Belanda terus melakukan perlawanan dengan menembaki
dinding keraton yang tebal. Tampaknya, usaha pasukan Belanda untuk menembus
tembok keraton sia-sia, karena tembakan-tembakan yang dilancarkan tidak banyak
pengaruhnya terhadap tembok-tembok keraton yang tebalnya mencapai 7 kaki

Universitas Indonesia
210

(2,13 meter) dengan tinggi 27-30 kaki (8,23-9,14 meter). Kejadian itu
menimbulkan keheranan pada semua anggota pasukan Belanda. Setelah melihat
ada peluang, langkah yang diambil oleh Mayor Tierlam dan Kapten van der Wijck
adalah menyerbu gerbang keraton. Selanjutnya, kapal perang Ajax mengikutinya
dengan menggunakan meriam-meriam panjang berukuran delapan pon, dan kapal
Eendracht dengan meriam-meriam berukuran 24 pon. Semuanya dikerahkan
untuk menguasai keraton. (ANRI, Bundel Palembang No. 67; ANRI, Bundel
Palembang No. 5.1; ANRI, Missive van Smissaert 11 Juni 1819 No. Litt A
Algemeneen Secretarie; Bataviaasch Courant, 4 Agustus 1821; ―Syair Perang
Muntinghe‖; Woelders, 1975: 127-128).
Melalui lubang yang mereka temukan pada tembok keraton, pasukan
Belanda terus melepaskan tembakan ke arah pasukan Palembang. Sebaliknya, dari
balik dinding keraton laskar Palembang gencar membalas pasukan Belanda
dengan meriam-meriam, sehingga membuat pasukan Belanda sulit melindungi
diri. Dalam posisi terdesak, pasukan Belanda terpaksa menarik diri dan tembakan-
tembakan dari kapal-kapal Belanda mereda pada pukul 21.30. Hal itu disebabkan
kapal-kapal dan perahu-perahu milik Belanda kehabisan amunisi. Perahu kora-
kora nomor 10 ditarik dan ditempatkan di samping kapal Elizabeth. Pada 22.00
seluruh kekuatan yang tersisa diangkut malam itu. Pada peperangan hari kedua
itu, pihak Belanda mengalami kerugian dengan terbunuhnya delapan belas orang
serdadu, dan 142 orang luka-luka (ANRI, Bundel Palembang No. 67; ANRI,
Missive van Smissaert 11 Juni 1819 No. Litt A Algemeneen Secretarie).
Besarnya kerugian yang diderita oleh pihak Belanda, menunjukkan bahwa
pertempuran pada hari itu berlangsung sangat gigih dari kedua belah pihak, di
pihak Palembang diperoleh data dari ―Syair Perang Muntinghe‖ bahwa yang
gugur dalam pertempuran itu adalah Kemas Said, dan Sayyid Zain. Dapat
disimpulkan bahwa mengingat pasukan Belanda ditopang oleh peralatan perang
yang cukup canggih untuk ukuran pada waktu itu, dan habisnya amunisi yang
mereka miliki, tentunya pertempuran itu sangat dahsyat dan menelan korban yang
besar. Di samping itu, timbul pertanyaan mengapa pasukan Belanda kehabisan
amunisi? Apakah disebabkan jumlah amunisi yang mereka siapkan terbatas, atau
amunisi yang mereka muntahkan terlalu banyak dalam menghadapi perlawanan

Universitas Indonesia
211

gigih laskar Palembang. Suatu kondisi diluar perkiraan mereka. Berbagai


kemungkinan dapat terjadi, namun faktanya pasukan Belanda kehabisan amunisi
sehingga memaksa mereka mundur.
Setelah menarik pasukannya, pada tengah malam Muntinghe mengeluarkan
instruksi untuk menyerang kubu-kubu pertahanan Palembang, namun sampai pagi
dini hari pada 14 Juni 1819 tidak terjadi penyerangan terhadap kubu Palembang.
Sebaliknya, yang terjadi adalah Muntinghe mengirim utusan Raja Akil dan
Temenggung Sura163 untuk menawarkan perdamaian kepada Pangeran Adipati
Tuo. Apabila usulan itu ditolak, Muntinghe meminta waktu empat hari untuk
mundur. Pada kenyataannya Sultan Badaruddin II menolak berdamai tetapi
mengabulkan permintaan untuk mundur dalam jangka waktu empat hari
(Woelders,1975: 128),. Setelah dua hari melakukan pertempuran dengan pasukan
Palembang, pihak Belanda sangat menyadari bahwa sesungguhnya kemampuan
pertahanan mereka semakin lemah. Untuk itu, Muntinghe memerintahkan agar
semua serdadu maupun amunisi yang ada di Muntok dikerahkan ke Palembang.
Akan tetapi, hal itu sulit diharapkan karena tidak ada lagi kekuatan militer yang
dapat diandalkan di Muntok. Dalam keadaan terdesak, mereka memutuskan untuk
mengerahkan semua kekuatan yang ada.
Keesokan harinya pertempuran dilanjutkan. laskar Palembang terus
melancarkan serangan terhadap kapal-kapal Belanda, baik menggunakan peluru,
mesiu maupun dengan mengirimkan rakit-rakit dibakar. Akibatnya, kapal-kapal
Belanda sulit bergerak dan mendaratkan pasukan. Pendaratan itu membutuhkan
perahu-perahu, namun perahu yang mereka miliki semuanya sudah hancur dalam
pertempuran sehari sebelumnya. Akibatnya, terpaksa menggunakan rakit-rakit
yang menyebabkan gerak mereka menjadi lambat. Sementara itu, kapal-kapal
yang ada tidak mampu melindungi rakit-rakit mereka. Dalam kondisi dikepung
rakit-rakit yang dibakar dan berondongan serangan dari keraton, memaksa mereka
mengevakuasi para serdadunya yang sakit dan terluka. Sementara itu, laskar
Palembang semakin gencar menyerang kapal-kapal perang Belanda dan
membakar barak pemukiman serdadu Belanda yang terbuat dari kayu dan bambu.

163
Dalam “Syair Perang Menteng” disebutkan bahwa yang diutus oleh
Muntinghe adalah Pangeran Nataagama (bait 48), sedangkan waktu yang diminta untuk
mundur adalah tiga hari (bait 60).

Universitas Indonesia
212

Akhirnya, pasukan Belanda meninggalkan arena pertempuran dan mundur. Dua


pucuk meriam dan sebagian besar perlengkapan yang tertinggal jatuh ke tangan
laskar Palembang. Dalam pertempuran itu tujuh orang serdadu Belanda terluka
(ANRI, Bundel Palembang No. 67; ANRI, Missive van Smissaert 11 Juni 1819 No.
Litt A Algemeneen Secretarie).
Perang Pelembang berakhir dengan mundurnya armada Belanda menuju
Sunsang. Bagi Palembang, kemenangan itu memberi mereka semangat untuk
terus mempertahankan keberhasilan tersebut. Terdapat beberapa tokoh lain yang
berperan dalam perang tersebut, termaktub di dalam ―Syair Perang Muntinghe‖
antara lain Khatib Muhammad Saleh, Pangeran Puspawijaya, Pangeran
Wirasentika, Pangeran Wiradiwangsa, Pangeran Puspadiraja, Haji Abdulrohim,
Citrawijaya, Ranggadarpacita, Temenggung Citradinata, dan Haji Mas‘ud.
Perang itu begitu membekas dalam sanubari masyarakat Palembang,
tergambar dari bait-bait syair ―Perang Muntinghe‖ yang dicuplik di bawah ini.
… Inilah konon mula pertama
Holanda [Belanda] dan Ambon bersama-sama
Indelir Menteng* Holanda nama
Kornel Bakar jadi panglima

… Pengeran membedil tiada terkira


Bahananya sampai ke atas udara
Rakyat kornel sangat sengsara
Rupanya bagai lutung dan kera

… Tersebutlah orang perang di darat


Ada yang menikam ada yang mengerat
Sosoknya bagai gelombang barat
Rakyat baginda habislah larat

… Orang membedil dari buluwarti


Pelurunya datang tiada henti
Pelurunya datang menuju hati
Rakyat Holanda banyaklah mati

… Menteng berkata terlalu gopoh


Hendak disuruh minta tempoh
Tiga hari lagi rakyat menempuh
Serdadu banyak luka dan lumpuh

… Kepada selikur hari selasa


Pukul tujuh ketika masa

Universitas Indonesia
213

Baginda membedil sangat perkasa


Kapal Menteng rusak binasa

… Berkatalah pula Kornel Bakar


Perang kita terlalu sukar
Sultan Ratu sangat pendekar
Akhirnya kita jadi belukar

Dijawab Menteng penghulu Belanda


Perang kita sangatlah beda
Orang Palembang seperti gerda
Katanya di sini rupanya beda

… Kornel menembak tiada henti


Mana yang kena habislah mati
Bangkit gembira Pangeran Bupati
Melawan kornel bersungguh hati

… Ramainya perang bukan kepalang


Gemuruhlah sorak sekalian hulubalang
Memasang meriam berulang-ulang
Rakyat jendral banyaklah hilang

… Undurlah musuh bersama-sama


Kicinya dua kapalnya lima
Diusir sekalian hulubalang panglima
Larilah kapal di Salahnama (naskah ―Syair Perang Menteng‖, 1819).
* Indelir Menteng = Muntinghe.

Demikianlah penggambaran perang Palembang yang terekam dalam memori


penulis syair perang itu. Suatu pertempuran yang berakhir dengan kemenangan di
pihak Palembang. Syair ini tidak diketahui siapa pengarangnya, namun dapat
dipastikan syair ini ditulis oleh golongan bangsawan yang kemungkinan besar ikut
ambil bagian dalam peperangan tersebut. Sebagai sumber yang ditulis oleh orang
Palembang sendiri, dan hidup sezaman dengan peristiwa tersebut, serta ditilik dari
isinya semua menggambarkan perlawanan gigih dari orang-orang Palembang
melawan pasukan kolonial Belanda.
Para serdadu Belanda yang terbunuh (10 orang) dan terluka (70 orang)
dibawa ke Muntok untuk dikubur dan diobati. Sementara itu, Muntinghe bersama-
sama dengan Kapten Insinyur van der Wijck (ahli strategi militer) dan Kapten
Letnan Taki Bakker sepakat untuk bertahan di Plaju tidak meneruskan pelayaran
ke Sunsang. Keputusan itu diambil karena masih berkeinginan melakukan

Universitas Indonesia
214

serangan balik dari Plaju. Pada saat itu kekuatan militer yang tersisa adalah dua
kapal perang yaitu Eendracht dan Ajax, dengan 350 orang serdadu. Para serdadu
yang sakit dan terluka sebanyak 75 orang, dikirim ke Muntok menggunakan kapal
Emma (ANRI, Besluit van Gouverneur Generaal 5 Agustus 1819 No. 1 Bundel
Algemeen Secretarie).
Pertahanan di Plaju tidak dapat dipertahankan, karena mereka mendapat
serangan gencar dari pasukan Palembang. Akibatnya, pasukan Belanda tidak
mampu bertahan dan Muntinghe memutuskan untuk seluruhnya mundur ke
Bangka pada 19 Juni 1819, Tindakan itu menuai kritik dari banyak pihak. Para
petinggi militer Belanda yakin bahwa seandainya pasukan mereka tetap bertahan
di Plaju dan segera mendapat bantuan amunisi dari Batavia, dengan tambahan
bantuan tersebut, mereka dapat segera kembali menyerang keraton Palembang.
Artinya, apabila hal itu terjadi, kegagalan besar pada perang 1819 kemungkinan
tidak terjadi. Kegagalan itu juga disesalkan oleh Waey, salah seorang yang terlibat
dalam peperangan itu dalam memorinya. Ia menyatakan bahwa kegagalan itu
disebabkan terkonsentrasinya semua kekuasaan militer baik darat maupun laut di
tangan satu orang, yaitu Muntinghe yang bukan berasal dari militer, juga karena
kekurangpahamannya tentang kekuatan militer yang dimiliki oleh Kesultanan
Palembang. Akibatnya, sering terjadi kesalahan strategi. Kegagalan strategi
militer Muntinghe dalam ―drama‖ di Kesultanan Palembang disebabkan
ambisinya yang berlebihan dengan mengendalikan seluruh kekuatan militer di
tangannya. Akibatnya, pihak Belanda mengalami kerugian yang besar (ANRI,
Bundel Palembang No. 67; ANRI, No. 5.1; Bataviaasch Courant, 4 Agustus 1821;
The Asiatic Juurnal 1820; Waey, 1875: 107).
Terlepas dari kekecewaan yang dinyatakan oleh berbagai kalangan
khususnya para petinggi di Batavia atas mundurnya pasukan Belanda ke Muntok,
yang pasti, bahwa kondisi pada waktu itu tidak memungkinkan mereka untuk
bertahan. Laskar Palembang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk terus
menggempur pasukan Belanda yang sudah berada pada posisi terdesak. Dari bait
111—117 dari ―Syair Perang Muntinghe‖ jelas terlihat dukungan yang sangat
besar dari para priyayi untuk menghancurkan kekuatan militer Belanda. Melihat

Universitas Indonesia
215

dukungan tersebut, Sultan Badaruddin II memperlihatkan kebanggaan dan


kebahagiaannya.
Mundurnya pasukan Belanda ke Bangka hanya mampu membawa sisa-sisa
peluru yang ada. Di antaranya, kapal perang Ajax membawa enam belas peluru
berukuran delapan pon, dan Cunia membawa empat peluru berukuran dua belas
pon. Peluru-peluru itu hanya layak digunakan untuk tembakan penghormatan,
sedangkan peluru-peluru yang mereka butuhkan berukuran lebih besar yaitu 24
pon. Selama di Muntok tidak banyak yang dapat mereka lakukan di sana. Kapal-
kapal yang mereka miliki umumnya dalam kondisi rusak164 dan mereka tidak
mampu memperbaikinya. Selanjutnya, kapal-kapal itu dikirim ke Jawa, dengan
harapan para penguasa di sana segera menggantinya dengan yang baru. Kapal-
kapal yang sudah diperbaiki segera dikirim kembali ke Muntok, dengan
membawa amunisi dan peluru yang mereka butuhkan (ANRI, Besluit van
Gouverneur Generaal 5 Agustus 1819 No. 1 Bundel Algemeen Secretarie).
Demikian kondisi militer pada saat itu, yang dapat mereka lakukan hanyalah
menunggu tibanya bantuan dari Batavia.
Empat hari kemudian (23 Juni 1819) Muntinghe memerintahkan Kapten
Bakker untuk segera menutup muara Sungai Musi. Blokade itu dilakukan dengan
cara menempatkan dua kapal perang yang tersisa yaitu Eendracht dan Ajax.
Dengan demikian, Muntok tidak dipertahankan oleh satu kapal perang pun. Suatu
keadaan yang sangat beresiko bagi keamanan Belanda di sana (ANRI, Bundel
Palembang No. 66.10).
Dengan memblokade muara Sunsang, pihak Belanda menutup jalur masuk
ke ibu kota Palembang. Berarti impor Palembang terganggu, begitu pula
sebaliknya semua komoditi dagang Palembang tidak dapat dipasarkan ke dunia
luar. Blokade yang dijalankan adalah suatu cara untuk ―membunuh‖ Palembang,
karena Sunsang adalah jalan terbaik dan paling ramai bagi keluar masuknya
barang ke Palembang. Kekalahan dalam pertempuran dibalas dengan cara jitu
yaitu menutup jalur keluar-masuk Palembang. Blokade itu pula diharapkan
mampu mengendalikan jalur pelayaran Sunsang-Muntok, namun apa yang

164
Residen Smissaert juga mengirimkan laporan tentang kondisi kapal-kapal di
Muntok kepada Laksamana Wolterbeek (ANRI, Besluit van Gouverneur Generaal 5
Agustus 1819 No. 1 Bundel Algemeen Secretarie).

Universitas Indonesia
216

diharapkan tidak seperti yang mereka bayangkan. Jalur itu tetap menjadi milik
para bajak laut dan pedagang pribumi, yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan
dari jalur tersebut. Kelompok-kelompok inilah yang nantinya ―bermain‖ untuk
menembus blokade Belanda demi memenuhi kebutuhan penduduk Palembang
berupa garam, bahan pakaian dan lainnya.
Setelah segala sesuatunya dianggap selesai, Muntinghe meninggalkan
Muntok menuju ke Batavia. Setiba di sana, ia mendesak pemerintah pusat untuk
segera mengirimkan bantuan ke Pulau Bangka, mengingat minimnya pertahanan
militer di sana. Di samping itu, hal yang sangat penting adalah menebus
kekalahan terhadap Palembang. Pengiriman ekspdisi militer yang besar
merupakan suatu tindakan yang tepat untuk memberi pelajaran kepada Sultan
Palembang. Pemerintah Belanda meyakini bahwa dengan kekalahan Belanda pada
perang Juni 1819, Sultan Badaruddin II dan penduduk Palembang menganggap
Belanda dalam kondisi lemah. Apalagi Belanda baru saja dihadapkan pada
pemberontakan selama dua tahun (1817) Cirebon dan Maluku. Mereka takut
penarikan pasukan mereka dari Palembang akan menimbulkan kesan mendalam
pada penduduk Palembang bahwa kekuatan militer mereka lemah. Untuk itu,
langkah yang harus diambil adalah secepat mungkin menghilangkan kesan negatif
itu dengan mengirimkan ekspedisi militer (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No.
5.1). Keyakinan yang berkembang pada waktu itu adalah hanya dengan ekspedisi
militer, kekuatan dan prestise Belanda dapat diperoleh kembali.

5.2 Persiapan Ekspedisi Belanda

Dalam rangka mewujudkan keinginan pemerintah Belanda untuk membalas


dendam, atas kekalahan mereka dalam perang dengan Kesultanan Palembang
(Juni 1819). Persiapan untuk melakukan ekspedisi ke Palembang ditandai dengan
adanya permintaan logistik ke Batavia oleh panglima angkatan laut di Hindia
Timur C. Wolterbeek pada 24 Juli 1819. Banyaknya permintaan itu disesuaikan
untuk kebutuhan selama enam bulan bagi seratus orang prajurit. Untuk itu,
Residen Batavia Lamberger menyiapkan tiga kapal yaitu Irene, Iris, dan Tromp,
dengan segala kebutuhan perbekalannya. Tiap kapal mampu memuat tiga ratus

Universitas Indonesia
217

orang serdadu, total keseluruhan serdadu mencapai jumlah 1200-1500 orang


(ANRI, Bundel Palembang No. 66.10). Semua kemampuan dikerahkan demi
keberhasilan ekspedisi ke Palembang.
Pada 27 Juli 1819 Gubernur Jenderal Van der Caplellen mengeluarkan
keputusan nomor 6 tentang peraturan ekspedisi ke Palembang. Pada saat yang
sama, Wolterbeek memerintahkan Kolonel Schutte agar secepatnya mengirimkan
dua perahu dari Surabaya untuk melengkapi armada yang sudah ada (ANRI,
Bundel Palembang No. 66.10). Tampaknya pemerintah Belanda di Batavia serius
mempersiapkan pasukan ke Palembang, sehingga melibatkan pasukan dari
daerah-daerah lain di Pulau Jawa, antara lain dari Semarang, Surabaya dan
Batavia. Daerah-daerah tersebut merupakan kantong-kantong kekuasaan Belanda
yang memiliki armada cukup kuat.
Untuk memimpin ekspedisi ke Palembang, diserahkan oleh Gubernur
Jenderal kepada Laksamana C. Wolterbeek165 pada Sabtu 31 Juli 1819. Pada hari
yang sama Woterbeek menghadiri pertemuan dengan Gubernur Jenderal Van der
Capellen, Mayor Jenderal H.M. De Kock dan Komisaris Muntinghe. Mereka
membahas persiapan dan pelaksanaan ekspedisi ke Palembang. Usai pertemuan
tersebut, Laksamana Woterbeek mengeluarkan perintah rahasia kepada Letnan
laut Florentijn (nahkoda kapal de Emma), agar secepatnya berlayar membawa
kapal meriam nomor 17. Mereka diperintahkan untuk segera berangkat ke Bangka
dan menduduki Bangka Kotta. Keberangkatan mereka akan segera disusul oleh
kapal perang Wilhelmina dan kapal nomor 18, di bawah komando Kolonel
Dibbertz. Keberangkatan itu dipercepat karena Pulau Bangka tengah bergolak,
menolak keberadaan Belanda di sana (ANRI, Bundel Palembang No. 66.10; ANRI,
Besluit van Gouverneur Generaal 30 Juli 1819 No. 1 Bundel Algemeen
Secretarie).
Dalam rangka koordinasi, pada 9 Agustus 1819 Woterbeek mengirimkan
surat kepada Gubernur Jenderal Van der Capellen. Wolterbeek mengusulkan agar
Residen Bangka A.P. Smissaert terlibat aktif dalam penyelesaian persoalan
dengan Kesultanan Palembang. Lebih lanjut, ia juga setuju atas rencana Gubernur

165
Penyandang bintang jasa militer Willems Order (ANRI, Besluit van Gouverneur
Generaal 30 Jili 1819 No. 1 Bundel Algemeen Secretarie).

Universitas Indonesia
218

Jenderal untuk mendatangkan kesatuan orang-orang Lampung166. Kehadiran


mereka akan bermanfaat untuk memperkuat kesatuan yang akan menyerang
Palembang. Dipilihnya Lampung mengingat jaraknya dekat dengan Palembang.
Menurut Wolterbeek, kekalahan Belanda dari Palembang dan kuatnya pertahanan
Palembang, menyebabkan kekuatan militer Belanda harus ditangani dengan
cermat. Menaklukkan Palembang adalah masalah penting bagi Belanda (ANRI,
Bundel Palembang No. 66.10; Bastin, 1953: 309).
Dalam kaitannya dengan usul Wolterbeek agar Smissaert lebih terlibat
dalam ekspedisi ke Palembang, lagi-lagi Smissaert tidak sependapat, sebagaimana
sebelumnya ia menolak permintaan Muntinghe. Menurutnya Pulau Bangka tidak
memiliki kekuatan pertahanan, karena dua kapal perang sudah ditarik ke Batavia,
sedangkan kapal Eendracht dan Ajax ditempatkan di Sunsang. Hanya perahu-
perahu dan peralatan perang serta para serdadu yang tersisa yang dapat dilibatkan
dalam ekspedisi. Bagi Smissaert bukan hanya Palembang yang perlu direbut tetapi
Bangka juga harus dipertahankan dengan kekuatan yang memadai. Apalagi di
Bangka banyak muncul perlawanan dari rakyat dan perompakan yang kian marak
di sana (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Perbedaan sudut pandang antara keduanya disebabkan oleh perbedaan
kebutuhan. Pendapat Smissaert disebabkan pemahamannya tentang kondisi
pertahanan Belanda di Pulau Bangka yang lemah, dan perlawanan agresif dari
rakyat Bangka yang menolak kehadiran Belanda di sana. Sebaliknya, Laksamana
Wolterbeek berpandangan bahwa Bangka adalah bagian dari Kesultanan
Palembang, tanpa ―mengamankan‖ Palembang yang begitu kuat berarti Bangka
juga tidak dapat dikuasai. Perbedaaan dengan Wolterbeek, merupakan kali kedua
bagi Smissaert setelah sebelumnya ia berseberangan pandangan dengan
Muntinghe.
Dalam rangka memperkuat pasukan ekspedisi ke Palembang, Jenderal
Mayor H.M. De Kock, Kolonel Bischof dan Kolonel De Roone menyiapkan
pasukan tambahan yang terdiri dari orang-orang Melayu. Di bidang kesehatan

166
Informasi tentang kekayaan Lampung dan timah Palembang, diperoleh Laksamana
Wolterbeek dari Francis seorang partikelir yang pernah bekerja di Lampung di bawah Dubois
(ANRI, Budel Palembang No. 66.10).

Universitas Indonesia
219

telah disiapkan pula seorang ahli bedah dengan korps daruratnya, sedangkan
Inspektur administrasi Emmet menyiagakan korps perawat. Demi lancarnya
ekspedisi ke Palembang, De Kock dan Residen Batavia mengawasi langsung
persiapan armada ke Palembang dan Lampung. Di Lampung kapal ekspedisi
ditempatkan di muara Sungai Mesuji167, sedangkan tujuh perahu jelajah
disiagakan di pantai Lampung. Semua kekuatan berada di bawah tanggung jawab
Dubois. Melalui Sungai Mesuji yang terhubung dengan Sungai Komering, pihak
Belanda merencanakan penyerangan.
Berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal pada 30 Juli 1819, ekspedisi ke
Palembang akan dilaksanakan pada 15 Agustus 1819168, Armada Belanda
membawa lima ratus orang perwira dan personil Eropa dari resimen infanteri ke-
5, ditambah seratus sampai 150 orang serdadu, meriam, amunisi, beberapa cunia
dan bahan makanan serta barang kebutuhan lainnya (ANRI, Besluit van Governor
Generaal 30 Juli 1819 No. 1 Bundel Algemeen Secretarie). Sumber arsip lain
menyebutkan bahwa ekspedisi bergerak dari Batavia pada 22 Agustus 1819, tiba
di Muntok Bangka pada 30 Agustus 1819. Armada yang terlibat dalam ekspedisi
itu adalah kapal pengangkut Tromp, kapal layar Irene, kapal meriam nomor 17
dan 18 serta kapal-kapal angkut swasta antara lain Arinus, Marinus, Admiraal
Buyskes, de Emma, Waterbik, Blucher, Ajax dan Henriette Betthy. Ekspedisi itu
melibatkan serdadu Eropa, yang terdiri dari delapan ratus orang serdadu infanteri
dan seratus orang serdadu artileri169 (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Mengingat banyak hal yang harus dipersiapkan, maka keberangkatan
armada ekspedisi jadi tertunda. Mengenai jumlah anggota pasukan yang
diterjunkan berbeda dari berbagai sumber, harus dipahami bahwa jumlahnya
mencapai ribuan orang. Hal itu berdasarkan pesiapan yang dilakukan oleh

167
Sungai Mesuji adalah sungai yang mengalir dari barat ke timur melalui daerah
Tulang Bawang Lampung. Sungai itu dapat dilayari oleh kapal-kapal besar. Sungai Mesuji
terhubung dengan Sungai Komering Palembang melalui Sungai Babatan (Sturler,
1843:44-45).
168
Berdasarkan pengamatan De Kock terhadap persiapan untuk melakukan
ekspedisi, ia tidak yakin ekspedisi dapat diberangkatkan dari Batavia pada 15 Agustus
1819 (ANRI, Bundel Palembang No. 66.10).
169
Menurut Stapel (1940: 193), pasukan infantri yang diterjunkan sebanyak
1600 orang.

Universitas Indonesia
220

Residen Batavia Lamberger berkisar 1200-1500 orang serdadu. Pemerintah pusat


di Batavia juga memerintahkan pasukan di Semarang, Lampung dan Surabaya
juga terlibat dalam mempersiapkan ekspedisi tersebut. (ANRI, Bundel Palembang
No. 66.10)
Pada 6 September 1819 Gubernur Jenderal Van der Capellen
memerintahkan Lamberger untuk segera mengirimkan tambahan armada dan
persenjataan untuk memperkuat pasukan ekspedisi yang sudah tiba di Bangka.
Untuk itu Lamberger segera mengirimkan dua belas perahu (masing-masing
perahu dikendalikan oleh enam orang) senilai 1100 gulden tiap perahu.
Pengiriman Perahu-perahu itu mengalami kesulitan, karena pengangkutannya
membutuhkan kapal-kapal besar yang dilengkapi persenjataan lengkap. Kapal de
Tromp dan kapal sewa Arinus Marinus hanya mampu membawa dua perahu untuk
satu kali pelayaran. Berarti, untuk mengangkut perahu-perahu itu dibutuhkan
enam kapal dengan kapasitas yang sama dengan kedua kapal tersebut. Di samping
itu, mereka juga dihadapkan pada angin musim yang sangat kencang pada waktu
itu, sehingga semakin menyulitkan pelayaran menuju Palembang. Akan tetapi,
segala kendala itu berhasil mereka atasi sehingga pengiriman tetap dapat
dilaksanakan (ANRI, Besluit van Gouvernor Generaal 6 September 1819 No. 22
Bundel Algemeen Secretarie; Bataviaasch Courant, 4 Agustus 1821; Stapel, 1940
:193; Kielstra, 1892: 97).

5.3 Perlawanan Bangka

Melihat kondisi yang tidak kondusif di Pulau Bangka, pemerintah kolonial


Belanda segera memperkuat pertahanan pulau itu. Dibutuhkan beberapa kompi
pasukan perintis, meriam berbagai ukuran dan gergaji. Semua itu digunakan untuk
memperkuat pos-pos terpenting di Bangka, misalnya Toboali dan Kwala. Sebagai
residen Bangka, Smissaert merencanakan untuk membangun benteng pertahanan
yang kuat di Toboali, karena sering mendapat serangan dari orang-orang Bangka.
Pembangunannya membutuhkan banyak tenaga kerja, yang sulit diperoleh dari
daerah setempat. Terbukti pada 1819 penambangan timah di Toboali dihentikan
akibat kekurangan tenaga kerja, Sedikitnya jumlah penduduk di daerah itu

Universitas Indonesia
221

disebabkan adanya gangguan keamanan baik dari para pejuang setempat maupun
bajak laut, sehingga mereka meninggalkan Toboali. Penduduk etnis Cina yang
tersisa sebanyak 153 orang di bawah pimpinan Kappo, mereka merasa tidak aman
dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Untuk itu, yang bisa dilakukan adalah
mendatangkan tenaga kerja dari daerah lain (ANRI, Besluit van Gouvernor
Generaal 5 Agustus 1819 No. 1 Bundel Algemeen Secretarie).
Sebagai salah satu daerah penting di Pulau Bangka, Toboali juga menjadi
basis perlawanan rakyat setempat. Perlawanan penting yang terjadi di sana di
bawah pimpinan Batin Pa Amin. Menghadapi perlawanan itu, pemerintah Belanda
kembali mengirimkan kekuatan yang yang terdiri dari 35 orang pasukan infanteri
di bawah pimpinan Sersan Smith, ditambah dua ratusan orang Cina yang
didatangkan dari daerah lain di Bangka di bawah kendali Vernet dan Moritz.
Dalam pertempuran itu Batin Pa Amin terkena tusukan, namun ia berhasil
menyelamatkan diri. Selanjutnya, pasukan Batin Pa Amin mengundurkan diri
memasuki hutan. Banyaknya orang-orang Cina yang memihak Belanda dalam
pertempuran itu, menunjukkan bahwa pihak Belanda berhasil mempengaruhi
orang-orang Cina untuk mendukung kekuasaan mereka di sana. Kegagalan
perlawanan Batin Pa Amin karena adanya dukungan dari pemimpin setempat
seperti Demang Minyak dan pengikutnya yang berpihak kepada pihak Belanda
(ANRI, Bundel Palembang No. 67). Dengan demikian, jelas bahwa perlawanan
penduduk Toboali terpecah antara melawan Belanda dan mendukungnya. Itu
semua menguntungkan pihak Belanda karena mendapat bantuan dari orang-orang
Cina dan sebagian penduduk setempat. Kekalahan perlawanan Batin Pa Amin
juga karena Belanda mengerahkan jumlah pasukan yang lebih besar, dan sebagian
anggota pasukannya mengetahui medan.
Kekacauan juga terjadi di sepanjang pantai Pangkal Pinang, yang
merupakan bentuk perlawanan rakyat Bangka terhadap Belanda. Untuk itu,
pasukan Belanda mengalihkan penyerangan ke pos-pos di Kapo, Berikat, Muson
dan Pangkal Pinang di bawah pimpinan Letnan-2 Infanteri Buzi. Setelah berhasil
mengamankan daerah itu, mereka memperkuat pos-pos pertahanan di sana agar
terhindar dari serangan penduduk Bangka. Walaupun demikian, secara umum
pantai-pantai Bangka dikendalikan oleh penduduk setempat di bawah para

Universitas Indonesia
222

pemimpin mereka yang bekerjasama dengan para bajak laut. Kekuatan para
pejuang Bangka pada waktu itu terbagi dua kelompok besar. Masing-masing
berkekuatan seratus perahu, dengan kekuatan tersebut mereka acap kali
melakukan penyerangan terhadap pos-pos pertahanan Belanda, bahkan mampu
mendekati pusat kekuasaan Belanda di Muntok. Perlawanan mereka juga
mendapat dukungan besar dari Sultan Badaruddin II. Dukungan tersebut membuat
mereka semakin percaya diri untuk terus berjuang. Sebaliknya, pasukan Belanda
yang kalah perang di Palembang, mentalnya jatuh, banyak yang jatuh sakit, luka-
luka dan meninggal dunia. Untuk menghadapi perlawanan rakyat Bangka yang
menjalar ke seluruh pulau itu, Mayor Tierlam170 sepakat dengan Smissaert untuk
mengirimkan lima puluh orang serdadu dengan kapal perang Ajax, 37 orang
serdadu dengan kapal perang Eendracht dan sembilan belas orang dengan perahu
sekoci nomor 10. Masing-masing dipimpin oleh tiga orang perwira. Para serdadu
itu ditugaskan untuk memperkuat pertahanan garnisun di Jebus Bangka yang
merupakan daerah terdekat dengan Muntok (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Berbagai perlawanan penduduk Bangka membuat pemerintah Belanda di
sana kewalahan menghadapinya. Mereka harus mengerahkan tenaga dan
persenjataan serta armada untuk mematahkan perlawanan-perlawanan tersebut.
Dilain pihak, perlawanan rakyat Bangka semakin berkobar dengan kemenangan
Palembang dalam peperangan Juni 1819.
Perlawanan rakyat Bangka memiliki ciri yang unik, yaitu terjalinnya
kerjasama yang erat antara para pejuang rakyat Bangka dan para bajak laut yang
umumnya orang Bugis, Bangka dan Palembang. Dalam sumber-sumber Belanda
dinyatakan bahwa hampir tidak bisa dibedakan antara pejuang lokal dan para
bajak laut. Di mata Belanda semuanya adalah ―musuh dan pemberontak‖.
Contohnya Raden Kling (kerabat Sultan Palembang) yang berdomisili di Toboali.
Raden Kling mempunyai pengaruh besar terhadap penduduk. Ia juga berhubungan
erat dengan Depati Belitung yaitu Kiagus Batam. Raden Kling sudah mulai
melakukan pemberontakan sejak masa pemerintahan Inggris di sana. Ia juga
membunuh inspektur Inggris Brown, dan mundur ke Belitung. Selanjutnya

170
Mayor Tierlam menjadi pemimpin militer di Bangka sejak Juli 1819 (ANRI,
Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
223

meneruskan perlawanan terhadap Inggris bersama-sama Kiagus Batam.


Perlawanannya berlanjut terus ketika Belanda menggantikan Inggris di sana
(ANRI, Bundel Palembang No. 67; ANRI, Bundel Palembang No. 19).
Kehadiran orang-orang Belanda yang mundur setelah kalah perang di
Palembang, membuat rakyat Bangka tidak berkenan. Perlawanan penduduk
Bangka Kotta171 disambut oleh pemerintah Belanda dengan mengirim pasukan di
bawah pimpinan Kapten Ege. Penyerangan itu terjadi pada 17 Agustus 1819
dengan menggunakan kapal de Emma dan sejumlah perahu milik Raja Akil.
Serdadu yang terlibat dalam penyerangan itu sebanyak seratus orang, dengan
rincian delapan puluh orang Eropa dan dua puluh orang pribumi. Penyerangan
umumnya dilakukan melalui jalur sungai. Sementara itu, pasukan Bangka Kotta
juga telah memperkuat pertahanan mereka dengan kubu-kubu pertahanan dan
memasang tonggak-tonggak kayu di Sungai Bangka Kotta. Keberadaan tonggak-
tonggak kayu itu cukup efektif untuk menghambat laju pasukan Belanda, namun
akhirnya pasukan Belanda berhasil mencapai pusat pertahanan Bangka Kotta.
Peperangan antara dua pihak berlangsung sengit. Pasukan Bangka mengerahkan
meriam-meriam, sedangkan Kapten Ege dari arah sungai menyerang juga
menggunakan meriam-meriam dan senapan. Terjadi pertempuran selama sekitar
satu jam, dengan kemenangan di pihak Bangka. Selanjutnya, Kapten Ege harus
meninggalkan lokasi dan membawa pasukannya kembali ke Muntok. Pasukan itu
tiba di Muntok pada 30 Agustus 1819. Dalam peperangan itu, pasukan Belanda
mengalami kerugian sebanyak empat orang terluka dan seorang terbunuh.
Kehadiran mereka di Muntok bersamaan waktunya dengan kedatangan armada

171
Bangka Kotta terletak di Bangka Tengah, sungainya bermuara ke pantai barat Pulau
Bangka. Sejak abad XVII daerah itu telah menjadi pusat pemukiman penduduk. Bangka Kotta
didirikan oleh Syarah, seorang pemimpin Arab yang berhasil mengusir suku Malukut dari Sumatra
yang menduduki wilayah itu. Sejak itu, Syarah bersama-sama penduduk membangun pemukiman
dan kubu-kubu pertahanan. Dengan demikian, Bangka Kotta telah berkembang sebelum
pertambangan timah ditemukan di sana. Bangka Kotta juga berkaitan erat dengan Kesultanan
Palembang, karena putera bungsu Sultan Abdul Rahman pada waktu itu, tidak lama setelah 1671
mendirikan kubu pertahanan muara Sungai Bangka Kotta yang merupakan tempat strategis. Di
samping itu, pihak Kesultanan Palembang juga mengembangkan Permisang dan Balar di Pulau
Bangka, sebagai pusat-pusat pemukiman. Keberadaan kubu-kubu petahanan itu didukung oleh
orang-orang Bugis yang terkenal sebagai elanong. Sejak itu keberadaan Bangka Kotta makin
penting. Kelak perannya agak surut setelah pemerintah Belanda mengembangkan Muntok sebagai
pelabuhan dan pusat pemerintahan (Heidhues. 2008: 3,90; Clercq, 1845: 124; Korten Schets..,
1846: 137).

Universitas Indonesia
224

yang dipimpin oleh Laksamana Wolterbeek dari Batavia (ANRI, Bundel


Palembang No. 67; Waey, 1875: 110).
Setibanya pasukan Belanda di Muntok, tindakan pertama yang mereka
lakukan adalah memperkuat pertahanan Muntok, baik darat maupun laut. Untuk
mempertahankan daerah itu dikerahkan pula satu kompi prajurit perintis yang
dikirim dari Semarang. Pertahanan darat dipimpin Kolonel Bischoff. Pasukan
infanteri di bawah komando Letnan Kolonel Keer, pasukan artileri dipimpin
Letnan Kolonel Riest dan zeni dipegang oleh Kapten van der Wijck. Bidang
kesehatan dipegang oleh ahli bedah Mayor van Roelten. Selain itu, mereka
membangun rumah sakit di Muntok. Pembangunannya dimulai pada 16
September 1819. Sebelumnya, di Muntok sudah berdiri rumah sakit dengan daya
tampung seratus orang penderita. Diperkirakan rumah sakit yang ada tidak akan
mampu menampung korban perang yang akan segera terjadi di ibu kota
Palembang. Oleh karena itu, rumah sakit yang ada harus diperluas. Kelak
kepemimpinnannya akan diserahkan kepada Letnan-2 Bruin dari batalyon
infanteri. Dalam menjalankan tugasnya, ia akan dibantu oleh petugas bagian
penyediaan perbekalan dan pengawasan gudang. Selanjutnya, dipekerjakan pula
dua orang ahli bedah, seorang asisten apoteker, dua orang perawat, empat orang
opas perawat, seorang koki Eropa dan seorang koki pribumi. Jumlah tersebut
sewaktu-waktu dapat ditambah, apabila jumlah pasien lebih dari delapan puluh
orang. Di samping itu, dibangun pula barak-barak penampungan dan dapur umum
dari bambu. Dapur umum itu nantinya akan memenuhi kebutuhan makanan untuk
dua ratus orang. Pemerintah Belanda juga membuat landasan untuk meriam-
meriam howitzer di atas perahu-perahu cunia, membuat rakit dan jembatan yang
dapat diangkat serta memperbaiki rumah-rumah tangsi yang rusak. Semua itu
dilakukan untuk mendukung suksesnya ekspedisi ke Palembang (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; ANRI, Besluit van Gouvernor Generaal 20 Oktober 1819 No.
14 Bundel Algemeneen Secretarie).
Kehadiran mereka di Bangka langsung dihadapkan pada situasi yang
bergolak di Bangka umumnya dan Bangka Kotta khususnya. Situasi itu membuat
Wolterbeek memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap
kantong-kantong perlawanan rakyat Bangka. Serangan dimulai dari Bangka Kotta,

Universitas Indonesia
225

karena kemenangan daerah tersebut melawan pasukan Belanda sehingga Kapten


Ege harus mundur membawa kekalahan. Di sisi lain, kemenangan pihak Bangka
atas pasukan Belanda beberapa waktu sebelumnya memompa semangat juang
rakyat Bangka. Dalam perlawanan terhadap Belanda tersebut, mereka bersatu
dengan melibatkan semua komponen, seperti para pemimpin, rakyat Bangka dan
para bajak laut yang selama ini berkeliaran di Pulau Bangka. Dengan mundurnya
pasukan Belanda, perlawanan di Bangka Kotta untuk sementara reda. Kesempatan
itu dimanfaatkan oleh penduduk Bangka di bawah pimpinan Batin Barin untuk
membenahi daerah mereka. Mereka membangun kembali kubu-kubu pertahanan
yang hancur, Di pihak lain, di berbagai lokasi di pantai timur Pulau Bangka masih
terus terjadi perlawanan-perlawanan. Pihak Belanda mencurigai adanya hubungan
antara serdadu Belanda yang berasal dari penduduk Bangka dengan perlawanan
rakyat di sana. (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Ekspedisi ke Bangka Kotta dimulai setelah dua hari armada dari Batavia
tiba di Muntok, sebuah gerak cepat karena daruratnya keadaan di Bangka Kotta.
Penyerangan dilancarkan di bawah pimpinan Kapten Laemlin172 dengan
menggunakan kapal Admiraal Buyskes, dan membawa 230 orang serdadu Eropa
dari Resimen Infanteri ke-18. Daerah pertama yang dituju adalah Pangkal Pinang
(5 September 1819) yang merupakan pos Belanda di pantai timur Pulau Bangka.
Ekspedisi pertama, segera diikuti oleh armada berikutnya yaitu kapal perang
Eendracht, Wilhelmina, dan kapal pengangkut de Emma, Terlibat pula kapal
meriam nomor 17 dan nomor 18 (berkekuatan meriam ukuran 18 pon) serta
tongkang. Kelompok itu berada di bawah komando Kolonel Dibbetz (nahkoda
kapal perang Wilhelmina) (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 66.10)
Keesokan harinya armada Kapten Laemlin melanjutkan pelayaran menuju
Koba (terletak di sebelah timur gunung Termesang) bersama sepuluh orang
perwira dan 186 orang serdadu. Pada 14 September 1819, penyerangan terhadap
Koba mulai dilakukan melalui jalur darat. Dari sana mereka akan menyerang
Bangka Kotta dari arah belakang. Sementara itu, serangan melalui Sungai
Bangka Kotta dilanjutkan dengan menggunakan kapal meriam nomor 17 dan

172
Dalam sumber lain disebutkan bahwa yang memimpin penyerangan terhadap
Bangka Kotta dari sisi timur adalah Kapten Kaffijn atas perintah Kolonel Bischoff selaku
komandan ekspedisi (ANRI, Bundel Palembang No. 66.10)

Universitas Indonesia
226

perahu tongkang, di bawah pimpinan Kapten Rembardo dan Letnan Alewijn.


Tugas mereka adalah menemukan kubu-kubu pertahanan rakyat Bangka dan
menyerangnya. Penyerangan itu bertujuan untuk memecah perhatian perlawanan
di sana, sehingga tidak memperhitungkan ada serangan lain dari Koba yang segera
tiba. Strategi yang dijalankan oleh para pemimpin pasukan Belanda cukup efektif.
Pada 16 September 1819 para pemimpin pasukan Bangka Kotta dan serdadu-
serdadunya dihadapkan pada serangan gencar dari pasukan Belanda dari dua arah
sekaligus yaitu arah barat (sungai Bangka Kotta) dan arah timur (darat).
Peperangan menjadi tidak seimbang, karena besarnya serangan yang dikerahkan
oleh pasukan Belanda. Pasukan Bangka Kotta terpaksa mundur memasuki hutan-
hutan. Dengan mundurnya mereka, kubu-kubu pertahanan mereka diduduki dan
dihancurkan oleh pasukan Belanda. Walaupun demikian, pasukan Belanda juga
mengalami kerugian dengan terbunuhnya dua orang serdadu dan sepuluh orang
terluka. Para serdadu Belanda yang sakit dan terluka sebagian dibawa ke Batavia
dengan kapal Henriette Betthy (Betsy) dan Kora-Kora nomor 4, di bawah
pimpinan Letnan Rembaldo, selebihnya dibawa ke Muntok dengan kapal
Admiraal Buyskes (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 66.10)
Dalam pertempuran itu, pasukan Belanda juga berhasil menangkap
beberapa anggota pasukan Bangka. Mereka ditawan di atas kapal Wilhelmina
yang berada di muara Sungai Bangka Kotta. Dari para tawanan itu Wolterbeek
berusaha mengumpulkan berbagai informasi tentang Palembang dan pertahanan di
Bangka Kotta, tetapi usaha itu sia-sia karena para anggota pasukan Bangka
menolak memberikan keterangan (ANRI, Bundel Palembang No. 66.10; No. 67).
Setelah berhasil merebut benteng Bangka Kotta, pasukan Belanda
melanjutkan serangan ke kawasan di sekitar kubu-kubu pertahanan Bangka yang
telah dibakar. Ternyata daerah itu juga telah diperkuat pertahanannya. Peperangan
kembali pecah antara penduduk daerah itu dengan pasukan Belanda, yang berhasil
mengejar dan mengenyahkan semua bentuk pertahanan rakyat Bangka. Pada 17
September 1819 sejak pagi hari pasukan Belanda terus mendesak pusat-pusat
pertahanan Bangka. Serangan-serangan itu menyebabkan pasukan Bangka Kotta
mundur menjauhi medan pertempuran. Kubu-kubu pertahanan Bangka yang
ditemukan oleh pasukan Belanda direbut dan dibakar. Tidak terkecuali kubu

Universitas Indonesia
227

pertahanan Bangka yang mereka temukan di tengah hutan rawa. Sebuah kubu
yang dibangun kokoh dan kuat, dilengkapi senapan letup dan senapan kecil.
Membutuhkan usaha ekstra bagi pasukan Belanda untuk berhasil menduduki kubu
pertahanan itu, yang dipertahankan dengan gigih oleh pemiliknya. Akibatnya,
anggota pasukan Belanda banyak yang terluka dalam pertempuran itu. Pasukan
Bangka kembali menarik diri ke pusat pertahanan yang terletak tidak jauh dari
lokasi pertempuran sebelumnya. Pusat pertahanan itu berupa benteng yang sangat
kokoh, dikelilingi dinding yang terbuat dari balok-balok kayu dan dilengkapi
meriam ukuran tiga pon. Pertempuran mempertahankan benteng itu sangat
dahsyat. Pasukan Bangka terpaksa melepaskan benteng itu ke tangan pasukan
Belanda, Pasukan Bangka mundur dengan menggunakan perahu-perahu. Pasukan
yang tersisa mencoba terus bertahan, namun pasukan Belanda membakar
bangunan-bangunan itu. Pihak Belanda berkeyakinan bahwa perlawanan rakyat
Bangka akan berakhir jika semua kubu pertahanan dan pemukiman mereka
dimusnahkan (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Apa yang diharapkan oleh para pemimpin pasukan Belanda tidak terbukti.
Perlawanan penduduk terus berkobar dengan cara gerilya diberbagai tempat di
Pulau Bangka. Dari persembunyian mereka di hutan-hutan, secara tiba-tiba
mereka
menyerang dengan tembakan-tembakan meriam. Pada mulanya pemimpin
pasukan Belanda Kapten Laemlin mengira itu adalah pasukan Belanda dari arah
lain. Dugaannya meleset, karena yang terjadi adalah serangan dari kubu
pertahanan Bangka yang tersembunyi di balik pepohonan. Ternyata pasukan
Bangka membangun kubu pertahanan yang kokoh di dalam hutan. Kubu-kubu
pertahanan itu terletak di lokasi yang strategis yang dikelilingi rawa-rawa.
Serangan pertama yang dikerahkan oleh Kapten Laemlin mendapat perlawanan
sengit, sehingga pasukan Belanda harus mundur. Dalam peperangan itu pihak
Belanda mengalami kerugian empat orang terbunuh dan sembilan belas orang
serdadu terluka. Kapten Laemlin mencoba melakukan serangan kedua, namun
terpaksa diurungkan mengingat banyak anggota pasukan Belanda yang terluka
dan sakit. Mereka juga kekurangan peluru dan perbekalan. Hujan yang lebat juga
menjadi penghalang penyerangan mereka. Akibatnya, yang mampu mereka

Universitas Indonesia
228

lakukan hanya menghancurkan apapun yang ada di dekat mereka, baik berupa
bangunan-bangunan maupun perahu-perahu milik pasukan Bangka. Penghancuran
semua bangunan menyebabkan mereka mengalami kesulitan untuk beristirahat,
padahal banyak anggota pasukan yang sakit, terluka dan meninggal (ANRI,
Bundel Palembang No. 67). Suatu tindakan gegabah di medan yang begitu berat
berupa hutan dan rawa-rawa serta kurangnya perbekalan. Semangat ingin
memusnahkan apa yang menjadi milik pasukan Bangka, menyebabkan mereka
harus berhadapan dengan alam yang ganas tanpa tempat berlindung ditengah
banyak anggota pasukan yang sakit dan terluka.
Langkah Kapten Leamlin selanjutnya adalah mundur dengan segala
resiko yaitu menghadapi medan yang berat, membawa para serdadu yang sakit
dan terluka dengan sarana pengangkutan yang sangat terbatas. Dengan susah
payah akhirnya mereka tiba di Koba pada 25 September 1819. Di sana mereka
harus menunggu lebih dari sepekan lamanya, karena inspektur tambang timah
Rotier dan Vernet menolak mengangkut mereka dengan sewa rendah. Menurut
keduanya, mengangkut timah jauh lebih menguntungkan dan mendesak dari pada
mengangkut korban pertempuran di Bangka Kotta. Akibatnya, jumlah korban
bertambah menjadi 46 orang. Akhirnya, pelayaran mereka kembali ke Muntok
baru terlaksana pada 2 Oktober 1819 menggunakan kapal Admiraal Buyskes, tiba
di sana pada 8 Oktober 1819. Sesampainya di Muntok, jumlah serdadu yang sakit
bertambah menjadi 65 orang. Semua itu menunjukkan bahwa kondisi pasukan
Belanda sudah kritis173. Mundurnya pasukan Belanda membuat Bangka Kotta

173
Pihak Belanda di Bangka telah mereka melakukan berbagai cara untuk memperkuat
kemampuan militer mereka di Bangka. Akan tetapi, sampai September 1819, kondisi pertahanan
mereka di pulau itu masih memprihatinkan khususnya kekurangan amunisi. Berdasarkan laporan
Mayor komandan Phitsinger pada 27 September 1819 kepada Smissaert, disebutkan bahwa di
Bangka mesiu yang tersisa hanya seberat dua ribu pon. Selain itu, terdapat pula dua ribu pon
dengan kualitas rendah, yang hanya cocok untuk tembakan penghormatan. Selain itu, kapal-kapal
milik mereka umumnya dalam kondisi rusak. Kapal Zeehond yang selama itu mangkal di Bangka,
mengalami patah tiang layar, sehingga harus digantikan oleh kapal Zephijn. Begitu pula kapal
Auspicious dan kapal De Generaal Stewart mengalami hal yang sama, Kapal-kapal itu hanya
mampu mengangkut beban seberat tiga koyang tiap kapal. Kondisi itu membuat Smissaert
semakin kecewa terhadap pemerintah pusat di Batavia. Beberapa kali ia sudah mengajukan
permintaan tambahan pasukan, mesiu dan peralatan perang tetapi belum juga berhasil. Akhirnya,
dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Va der Capellen pada 27 September 1819 No. 32,
Smissaert mengemukakan bahwa pihak Batavia tidak mau melakukan sesuatu untuk Pulau
Bangka. Dilain pihak, ternyata keterlambatan pengiriman bantuan dari Batavia, disebabkan para
nahkoda umumnya menolak diberangkatkan ke Bangka dan Palembang. Mereka tidak ingin
peristiwa pada 1812 terulang kembali. Pada waktu itu, Inggris tidak membayar upah para nahkoda

Universitas Indonesia
229

terlepas dari gangguan dan penghancuran lebih lanjut. Keadaan itu, mereka
manfaatkan untuk memperbaiki dan memperkuat pertahanan sekaligus menambah
jumlah pasukan (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Pasukan Belanda tidak mampu berbuat banyak menghadapi perlawanan
penduduk Bangka yang berjumlah lebih banyak dan menguasai medan. Suatu hal
yang jamak di sana, untuk menguasai lokasi tertentu harus dilakukan berulang-
ulang, karena pendudukan Belanda biasanya tidak permanen. Hal itu tidak dapat
dilepaskan karena terbatasnya personil, persenjataan dan bahan makanan yang
mereka miliki. Mundurnya pasukan Belanda memberi peluang bagi pasukan
Bangka untuk merebut daerah itu kembali, menyusun kekuatan untuk bertahan,
atau bahkan melakukan serangan balik. Akibatnya, penaklukan atas Pulau Bangka
menjadi lebih sulit dan lama.
Berbagai usaha telah mereka lakukan untuk memperkuat pertahanan di
Bangka. Akan tetapi, sampai September 1819, kondisi pertahanan Belanda di
pulau itu masih memprihatinkan khususnya kekurangan amunisi. Berdasarkan
laporan Mayor komandan Phitsinger pada 27 September 1819 kepada Smissaert,
diketahui bahwa di Bangka mesiu yang tersisa hanya seberat dua ribu pon. Selain
itu, terdapat pula dua ribu pon dengan kualitas rendah, yang hanya cocok untuk
tembakan penghormatan, sedangkan kapal-kapal yang ada umumnya dalam
kondisi rusak. Kapal Zeehond yang selama itu mangkal di Bangka, mengalami
patah tiang layar, sehingga harus digantikan oleh kapal Zephijn. Begitu pula kapal
Auspicious dan kapal De Generaal Stewart mengalami hal yang sama, Kapal-
kapal itu hanya mampu mengangkut beban seberat tiga koyang tiap kapal. Kondisi

yang membawa kapal-kapal Inggris ke Palembang. Bahkan mereka tidak mendapat ganti rugi atas
kerusakan atau kehilangan kapal-kapal milik mereka. Penolakan tersebut menempatkan
pemerintah Belanda pada posisi sulit. Di satu sisi, mereka dituntut untuk secepatnya mengirimkan
pasukan dari Batavia. Akan tetapi, di sisi lain residen Batavia mengalami kesulitan mendapatkan
nahkoda yang bersedia membawa kapal-kapal ke Palembang. Akibatnya pengiriman perahu-
perahu itu tertunda (ANRI, Missive van Smissaert, 27 September 1819 No. 32 Bundel Algemeneen
Secretarie). Kondisi tersebut tidak diketahui oleh Smissaert. Baginya, sekalipun armada dari
Batavia telah tiba di Muntok, namun itu tidak berpengaruh bagi pertahanan keamanan Pulau
Bangka, karena semua armada yang ada akan dilibatkan dalam eskpedisi ke ibu kota Palembang.
Dengan demikian, kemampuan militer Bangka tetap dalam kondisi kritis, karena hanya
dikendalikan oleh satu kompi flankeur (pasukan pengintai) dari resimen ke-18 yang ditempatkan
di Muntok. Akan tetapi, mereka mampu bertahan, karena para pemimpin Bangka juga tengah
memfokuskan diri menunggu hasil dari perang di Palembang, sehingga tidak banyak melakukan
pemberontakan.

Universitas Indonesia
230

yang ada, membuat Smissaert semakin kecewa terhadap pemerintah pusat di


Batavia. Beberapa kali ia sudah mengajukan permintaan tambahan pasukan,
mesiu dan peralatan perang tetapi belum juga berhasil. Akhirnya, dalam suratnya
kepada Gubernur Jenderal Va der Capellen pada 27 September 1819 No. 32,
Smissaert mengemukakan bahwa pihak Batavia tidak mau melakukan sesuatu
untuk Pulau Bangka. Dilain pihak, ternyata keterlambatan pengiriman bantuan
dari Batavia, disebabkan para nahkoda umumnya menolak diberangkatkan ke
Bangka dan Palembang. Mereka tidak ingin peristiwa pada 1812 terulang
kembali. Pada waktu itu, Inggris tidak membayar upah para nahkoda yang
membawa kapal-kapal Inggris ke Palembang. Bahkan mereka tidak mendapat
ganti rugi atas kerusakan atau kehilangan kapal-kapal milik mereka. Penolakan
tersebut menempatkan pemerintah Belanda pada posisi sulit. Di satu sisi, mereka
dituntut untuk secepatnya mengirimkan pasukan dari Batavia. Akan tetapi, di sisi
lain residen Batavia mengalami kesulitan mendapatkan nahkoda yang bersedia
membawa kapal-kapal ke Palembang. Akibatnya pengiriman perahu-perahu itu
tertunda (ANRI, Missive van Smissaert, 27 September 1819 No. 32 Bundel
Algemeneen Secretarie).
Kondisi tersebut tidak diketahui oleh Smissaert. Baginya, sekalipun
armada dari Batavia telah tiba di Muntok, namun itu tidak berpengaruh pada
pertahanan keamanan Pulau Bangka, karena semua armada yang ada akan
dilibatkan dalam eskpedisi ke ibu kota Palembang. Dengan demikian, kemampuan
militer Bangka tetap dalam kondisi kritis, karena hanya dikendalikan oleh satu
kompi flankeur (pasukan pengintai) dari resimen ke-18 yang ditempatkan di
Muntok. Akan tetapi, mereka mampu bertahan, karena para pemimpin Bangka
juga tengah memfokuskan diri menunggu hasil dari perang di Palembang,
sehingga tidak banyak melakukan pemberontakan. Selama peperangan
berlangsung di Palembang, Mayor Phitsinger menerima kepemimpinan atas
Bangka dari Mayor Tierlam. Selaku pemimpin di Muntok, ia berusaha tidak
memancing reaksi keras dari rakyat Bangka. Hal itu dikarenakan tidak memiliki
kekuatan militer, sekaligus agar tidak menambah masalah karena pasukan
Belanda terkonsentrasi di Palembang. Para pemimpin Bangka dan pengikutnya
melakukan hal yang sama. Mereka menunggu akhir dari perang Palembang.

Universitas Indonesia
231

Peperangan itu berakhir dengan kemenangan Kesultanan Palembang. Armada


Wolterbeek harus mundur ke Sunsang dan Muntok. Setelah itu, pada 11
November 1819 Wolterbeek memerintahkan Letnan Kolonel Keer mengambil alih
komando atas Pulau Bangka dari Mayor Phitsinger (ANRI, Bundel Palembang No.
67)

5.4 Persiapan Kesultanan Palembang

Pascakemenangan pada peperangan Juni 1819, Sultan Badaruddin segera


mempersiapkan diri guna menghadapi berbagai kemungkinan dari pihak Belanda.
Dalam benak Sultan, tentunya pemerintah Belanda di Batavia tidak akan tinggal
diam menerima kekalahan dalam perang di Palembang. Langkah yang diambil
oleh Sultan adalah mengumpulkan semua elemen yang ada di Kesultanan
Palembang, dari pusat hingga uluan. Sultan mengirimkan utusan ke seluruh
penduduk Kesultanan untuk mengumumkan bahwa telah datang bangsa kafir yang
memaksanya untuk berperang. Sultan sama sekali tidak menginginkan perang,
namun Sultan harus melakukan hal itu demi rakyat Palembang, agama Islam dan
kehormatan para leluhurnya. Untuk itu, Sultan membutuhkan peran serta
penduduk, baik tenaga maupun harta mereka. Rakyat Palembang mendukung
penuh imbauan Sultan Badaruddin II untuk mempertahankan kedaulatan
Kesultanan Palembang. Seluruh rakyat bersumpah setia yang diwakili oleh para
pemimpin mereka kepada Sultan. Ritual sumpah dilaksanakan di Bukit Siguntang
yang merupakan tanah paling sakral bagi seluruh penduduk Palembang. Sebagai
bentuk dukungan mereka terhadap rencana sultan, mereka membawa sendiri
seluruh perbekalan selama menjalankan pengabdian di ibu kota Palembang.
Untuk membangkitkan semangat juang rakyat dan kelancaran pembangunan
persiapan perang, Sultan terlibat langsung mengatur pengangkutan penduduk dan
perlengkapannya dari uluan. Sultan juga memantau setiap hari pembangunan
benteng pertahanan di Gombora, Plaju dan keraton agar cepat selesai. Padahal
jarak lokasi-lokasi tersebut cukup jauh dari keraton (ANRI, Bundel Palembang
No. 67; No. 5.1; Sevenhoven, 1971: 50; Woelders, 1975: 104, 130).

Universitas Indonesia
232

Belajar dari pengalaman di masa lalu (1811), Sultan Badaruddin II


menerapkan strategi dengan tidak banyak membangun pos-pos penting. Sultan
juga tidak memberikan kepercayaan besar kepada saudara-saudaranya atau
golongan bangsawan lainnya, karena Sultan Badaruddin II kurang mempercayai
mereka. Tampaknya, Sultan lebih percaya ada orang-orang yang telah teruji
kesetiaannya, seperti Syech Balu (orang Arab yang paling setia kepada sultan),
Said Hamid, Said Achmad, dan Abdullah Sekrang. Mereka adalah orang-orang
yang siap mengabdikan diri mereka kapanpun Sultan membutuhkan. Sultan juga
berpendapat, tidak banyak keuntungan yang akan diperoleh dengan memfokuskan
pertahanan yang kuat di garis terdepan (Sunsang dan Borang), karena kalau
benteng itu jatuh, akan sangat merugikan apabila pasukan ditarik ke ibu kota.
Walaupun demikian, kubu-kubu pertahanan tetap dibangun di Sunsang dan pos-
pos di sepanjang Sungai Musi mulai dari Sunsang. Gudang-gudang amunisi juga
dibangun pada jarak tertentu di atas rawa-rawa di pesisir Sungai Musi (ANRI,
Bundel Palembang No. 67; No. 5.1; Woelders, 1975: 104-105, 131; Waey, 1975:
108-109).
Sultan memutuskan untuk mengonsentrasikan pertahanan di Gombora
(Kembara atau Kemaro) di bawah pimpinan Pangeran Suradilaga. Pertahanan di
Gombora dilengkapi dua belas lubang untuk menembakkan meriam (tiap lubang
dilengkapi dengan penutup yang tebal). Meriam-meriam ditempatkan di ujung
tenggara pulau itu. Di depan Gombora disiagakan rakit-rakit yang siap dibakar.
Kubu pertahanan lain yang penting adalah Tambakbayo. Posisinya terletak di
sebelah kanan muara Sungai Plaju, dipimpin Pangeran Kramadiraja. Di hulu
benteng Tambakbayo didirikan pula benteng Martapura di bawah pimpinan
Pangeran Ratu, sedangkan dua Pangeran Adipati juga mempertahankan kubu-
kubu pertahanan lainnya. Untuk menahan lajunya armada Belanda, Sultan
mengambil langkah dengan memerintahkan menancapkan tonggak-tonggak
(tiang-tiang pancang) kayu dengan garis tengah dua kaki di Sungai Musi.
Tonggak-tonggak itu ditancapkan dari pinggir Pulau Gombora, menutup sungai
hingga muara Sungai Plaju, yang kedalamannya mencapai delapan puluh kaki
(2,44—3.1 meter) dan tinggi empat elo di atas air. Tonggak-tonggak itu
disambungkan satu sama lain dan diikatkan pada kayu besar. Di tengah deretan

Universitas Indonesia
233

tonggak-tonggak tersebut dibuat pulau buatan dari batu, di atasnya didirikan


benteng yang dipersenjatai 26 meriam. Kubu pertahanan itu diberi nama
Manguntama, yang dipimpin Pangeran Wirasentika dan Pangeran Ratu dari
Kesultanan Jambi. Untuk lebih memperkuat pertahanannya, dibangun pula empat
meriam yang mengapung dengan dua lubang tembak di tiap sudutnya. Di samping
itu, disiagakan pula disepanjang jalur dari Gombora sampai Sunsang enam puluh
lubang tembakan, sedangkan di aliran kanan Sunsang dibangun dua kubu
pertahanan berupa bangunan seluas 50--75 kaki (15.24—22.86 meter). Pertahanan
di semua kubu yang disiapkan sulit ditembus, baik dari sisi air (dipenuhi tonggak-
tonggak) maupun sisi darat (pagar yang sangat kokoh dan pohon-pohon yang
besar). (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 5.1; Woelders, 1975: 104-105,131;
Waey, 1975: 108-109). Semua itu menunjukkan bahwa Palembang tengah
sungguh-sungguh mempersiapkan diri guna menyongsong kehadiran armada
Belanda.
Tiap kubu pertahanan dipersenjatai lima puluh pucuk meriam, ukuran
delapan pon sampai 24 pon. Pertahanan juga dilengkapi dengan sebuah kapal
layar tiga tiang dan beberapa perahu bersenjata. Posisi pertahanan Palembang
lebih diuntungkan dengan adanya rawa-rawa yang terdapat di sisi kiri-kanan
Sungai Musi maupun anak-anak sungainya (ibu kota Palembang terkenal sebagai
kota yang dialiri oleh dua puluh sungai). Di samping itu, keraton diperkuat dengan
menempatkan banyak meriam berbagai ukuran. Dari dermaga keraton sampai
daerah Tengkuruk (16 Ilir) disiapkan persenjataan lengkap di bawah komando
mantri-mantri senior. Sampai saat itu, semua kebutuhan untuk perang sudah
disiapkan dengan baik. Tambahan pula, penduduk Palembang terkenal mahir
membuat amunisi dan meriam. Tokoh yang terkenal ahli membuat meriam,
mengecor kuningan dan membuat senapan adalah Pangeran Puspodihargo dan
beberapa orang mantri. Ahli pengecor kuningan dan pembuat senapan, umumnya
orang Cina. Segala persiapan menyambut kedatangan armada Belanda yang ingin
menuntut balas atas kekalahan mereka telah disiapkan (ANRI, Bundel Palembang
No. 67; No. 47.6; Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; The Asiatic Journal,
vol. 10, Agustus 1820).

Universitas Indonesia
234

Menghadapi blokade Belanda atas muara Sungai Musi (Sunsang)174, pihak


Palembang mengantisipasinya dengan mengefektifkan dua jalur lainnya yaitu
Kwala Upang dan Banyuasin yang tidak diblokade. Kedua jalur tersebut
dimanfaatkan pada malam hari. Pada kesempatan itu, perahu-perahu Palembang
menyusuri sungai-sungai untuk berhubungan dengan dunia luar. Kesempatan
terbuka pada saat kapal Ajax dan Eendracht menyeberang ke Muntok untuk
mengambil perbekalan dan air setiap bulannya. Pada saat itu perahu-perahu
Palembang mendekati jung-jung yang berada di perairan muara Sunsang untuk
melakukan transaksi perdagangan. Dengan perginya kapal-kapal kedua kapal
tersebut, menyebabkan kawasan itu terbuka bagi kapal-kapal asing menawarkan
barang dagangan mereka. Dengan demikian, efek buruk dari blokade dapat
diperkecil. Satu-satunya efek negatif yang paling dirasakan akibat blokade
tersebut adalah penduduk Palembang menderita kekurangan garam. Sebagian
kebutuhan garam mereka penuhi dengan cara membuat garam, dengan cara
menuangkan air laut pada pohon dan daun-daun nipah yang banyak tumbuh di
dekat laut. Akan tetapi, bagaimanapun penduduk Palembang merasakan dampak
negatif dari blokade tersebut. Selain itu, mereka juga memanfaatkan jalur darat
yaitu melalui Jambi. (ANRI, Bundel Palembang No. 66.10; Waey, 1875: 107-108).
Beberapa hal yang dapat ditelaah dengan peristiwa blokade tersebut
antara lain, dengan tertutupnya jalur Sunsang menyebabkan penduduk Palembang
khususnya yang berada di pesisir pantai, mengembangkan pembuatan garam
sendiri, yang selama ini harus didatangkan dari daerah lain khususnya Pulau Jawa.
Blokade juga mendorong munculnya jalur lain sebagai alternatif baik sungai
maupun darat. Meskipun demikian, jalur Sunsang tetap merupakan jalur terbaik.
Karena paling ramai, aman dan perairannya cukup dalam untuk dilayari. Akan
tetapi suatu hal yang agak sulit dipahami, mengapa peristiwa mengambil
perbekalan dan air oleh kedua kapal perang ke Muntok dilakukan dalam waktu
bersamaan? Mungkin hal itu harus dipahami bahwa peristiwa ke Muntok yang
mereka lakukan setiap bulan, menyebabkan pengawasan menjadi lengah, sehingga
memberi peluang bagi perahu-perahu Palembang untuk membeli barang

174
Sunsang adalah jalur paling ramai yang digunakan sebagai pintu keluar masuk
pelayaran dan perdagangan dari dan ke ibu kota Palembang.

Universitas Indonesia
235

kebutuhan mereka. Selain itu, blokade hanya dilakukan oleh dua kapal perang,
Ternyata walaupun keluar sebagai pemenang dalam perang melawan Belanda,
armada Palembang tetap tidak mampu menghadapinya. Itu semua
mengindikasikan bahwa sebagai negeri yang dialiri oleh banyak sungai, juga
menyeberangi laut, Palembang hanya mengembangkan armada yang sesuai
dengan kebutuhan saat itu dengan teknologi sederhana. Sebaliknya, Belanda
sudah memiliki armada laut yang besar dan kuat, sehingga mampu melakukan
pelayaran dari Nusantara sampai Eropa. Untuk mengantisivasi masuknya pasukan
Belanda melalui jalur darat, Sultan Badaruddin II memerintahkan pembangunan
kubu pertahanan di daerah Sungai Komering yang disebut Kurungan Nyawa
(perbatasan Palembang-Lampung). Kubu pertahanan itu dipimpin Pangeran
Wiradiwangsa (Woelders, 1975: 105). Apa yang dikhawatirkan oleh Sultan
terbukti, yaitu jalur tersebut sengaja disiapkan oleh pihak Belanda untuk
menyerang Palembang dari Tulang Bawang Lampung. Kawasan itu sejak awal
abad XIX sudah dimanfaatkan oleh Belanda sebagai jalur alternatif memasuki
wilayah Palembang.
Setelah persiapan perang selesai dikerjakan, Sultan mengangkat Pangeran
Ratu sebagai panglima perang dan menempatkan beberapa orang kerabat atau
saudaranya sebagai panglima. Di setiap posisi meriam, Sultan menunjuk seorang
priyayi atau mantri untuk mengawasinya. Pada posisi-posisi strategis Sultan
menempatkan putera-puteranya, untuk membangkitkan semangat juang para
prajurit dan rakyat yang terlibat (ANRI, Bundel Palembang No. 67; Woelders,
1975: 131). Dalam persiapan itu jelas sekali terlihat bahwa Sultan lebih
mengefektifkan pengawasan dengan cara memberi peran lebih besar pada putera-
putera dan orang-orang kepercayaannya.
Pada saat Kesultanan Palembang tengah mempersiapkan diri menghadapi
ekspedisi Belanda, berkembang kabar yang dihembuskan oleh orang-orang
Belanda, bahwa Inggris akan terlibat dalam ekspedisi mereka dengan melakukan
penyerangan dari arah barat (Bengkulu). Penyerangan akan dilaksanakan
bersamaan waktunya dengan serangan Belanda dari timur. Bahkan disebutkan
bahwa kapal-kapal Inggris menjadi bagian dalam blokade Sunsang. Berita itu
menimbulkan kekhawatiran pada diri Sultan Badaruddin II. Untuk

Universitas Indonesia
236

mengantisipasinya, Sultan mengirim dua orang saudaranya ke Bengkulu. Utusan


itu meminta kepada pemerintah Inggris di Bengkulu agar tidak terlibat dalam
usaha Belanda menyerang Palembang. Misi itu berhasil dengan baik, dengan
adanya pernyataan dari pihak Inggris bahwa mereka akan netral dalam masalah
antara Palembang dan Belanda (The Asiatic Journal, vol. 10 Agustus 1820).
Jaminan tersebut membuat Sultan dan para bangsawan lega. Itu berarti
perhatian terfokus pada usaha mempertahankan kedaulatan Kesultanan
Palembang. Sikap netral Inggris, mungkin disebabkan mereka belum mampu
menghapus kekecewaan dari kegagalan mereka mempertahankan kekuasaannya di
Palembang khususnya Pulau Bangka.

5.5 Perang Palembang Kedua dan Akibatnya

Selama Belanda di Muntok Bangka pascamundur dari Palembang, banyak hal


yang mereka dilakukan, antara lain membangun rumah sakit, mengirim ekspedisi
ke Bangka Kotta, dan daerah lainnya di Pulau Bangka, menyiapkan persenjataan,
armada, serdadu dan lainnya. Hal lain yang tidak kalah penting adalah
menyiapkan perahu-perahu cunia. Berdasarkan pengalaman mereka pada perang
pertama, gerak kapal-kapal besar sangat terbatas di perairan Sungai Musi. Untuk
mengantisifasi hal itu, yang harus dilakukan adalah memperbanyak jumlah perahu
cunia. Perahu jenis itu sangat bermanfaat untuk menopang kelancaran
pertempuran di perairan Sungai Musi yang sebagian dangkal. Perahu-perahu itu
berfungsi mengangkut meriam dan mengambil air minum untuk kebutuhan kapal-
kapal. Semua persiapan dilakukan sambil menunggu naiknya air pasang agar
dapat berlayar sampai Sunsang. Selama di Pulau Bangka, pasukan Belanda juga
dihadapkan pada berbagai perlawanan rakyat Bangka. Pergolakan itu tidak bisa
dilepaskan dari kemenangan Palembang atas Belanda pada perang pertama (Juni
1819)175. Kondisi itu diperparah dengan diblokadenya muara Sungai Musi,

175
Perlawanan rakyat Bangka sudah terjadi sejak Inggris mengambil alih Pulau Bangka-
Belitung dan pulau-pulau disekitarnya pada Mei 1812, yang berarti terputus pula hubungan antara
Bangka-Belitung dengan Palembang. Inggris menerapkan kebijakan menempatkan aparatnya
untuk mengawasi langsung tambang-tambang timah, yang sebelumnya berada di tangan penguasa
lokal seperti depati dan batin. Kebijakan itu dilanjutkan oleh pemerintah Belanda karena dianggap

Universitas Indonesia
237

sehingga hubungan antara Pulau Bangka dan Palembang terputus. Akibatnya,


perlawanan meluas ke seluruh Pulau Bangka-Belitung dan pulau-pulau di
sekitarnya. Berbagai bentuk perlawanan itu mengakibatkan pemerintah kolonial
Belanda harus lebih kuat mempertahankan diri. Kebijakan itu diambil, karena
ingin kehilangan keuntungan besar yang selama ini diperoleh dari pulau itu.
(ANRI, Bundel Palembang No. 67)
Pada 17-18 September 1819 kapal-kapal perang dan pengangkut Belanda
bergerak dari Muntok menuju Sunsang. Pada 18 September 1819 kapal layar
Irene dan Henriette Betshy dan beberapa perahu jelajah masih berada di seputar
pantai Muntok, begitu pula kapal perang Ajax pada 19 September 1819 masih
muncul di tepi pantai itu. Artinya, pelayaran ke Palembang dilakukan secara
bertahap. Untuk menjaga keamanan pantai Muntok, pengamanannya diserahkan
kepada awak kapal pengangkut Tromp. Selanjutnya, kapal Wilhelmina,
Eendracht, Arimus dan Marinus terus melaju menuju Sunsang, disusul oleh kapal
Admiraal Buyskes. Adapun pasukan yang terlibat dalam ekspedisi kedua adalah :
- 12 orang perwira staf termasuk 4 orang perwira kesehatan
- 43 orang perwira dan 1087 orang serdadu infanteri
- 7 orang perwira dan 102 orang seradu artileri
- 6 orang perwira perintis. 76 orang serdadu Eropa, dan 167 orang serdadu
pribumi
Jumlah seluruhnya sebanyak 68 orang perwira dan 1432 orang personil. Jumlah
tersebut merupakan jumlah yang sudah dikurangi, sebab sebagian serdadu
ditinggalkan di Muntok untuk mengamankan daerah itu. Persenjataan terdiri dari:
dua buah mortar berukuran 16 pon batu (20‖), enam howitzer berukuran 24 pon
besi (15‖), empat kanon berukuran 12 pon, dan dua kanon berukuran 3 pon yang
berfungsi sebagai meriam lapangan. Total keseluruhan adalah 14 pucuk meriam
(ANRI, Bundel Palembang No. 67). Besarnya jumlah personil, dengan peralatan
(kapal perang, kapal pengangkut, perahu-perahu, meriam, mesiu, kanon dan
howitzer) yang lengkap, merupakan bukti bahwa pihak Belanda mempersiapkan
diri sejak kekalahan dalam perang pertama (Juni 1819),

lebih menguntungkan. Akibatnya, para pemimpin Pulau Bangka (depati dan batin) mengobarkan
perlawanan terhadap Belanda (ANRI, Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
238

Pada 21 September 1819 saat armada Belanda berada di Sunsang, sore


harinya terjadi peristiwa kebakaran di perkampungan penduduk. Penduduk
Sunsang usaha bumi hangus dilakukan oleh penduduk Sunsang agar daerah itu
tidak dimanfaatkan oleh pasukan Belanda. Selanjutnya, mereka bergabung dengan
laskar di ibu kota Palembang. Melihat kondisi itu, armada Belanda bersiaga
dengan membongkar dan memasang meriam di kapal-kapal dan perahu-perahu
besar, mereka juga mengisi tong-tong air tawar yang kosong sebagai persiapan.
Sambil menunggu air pasang (muara sungai Musi dangkal karena penimbunan
lumpur), mereka memutuskan untuk tetap bertahan di muara Sungai Musi sampai
10 Oktober 1819176 (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No. 5.1; No.4: 85;
Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; Woelders, 1975: 105).
Armada perang Belanda pada waktu itu dibagi dalam beberapa divisi.
Divisi pertama, terdiri dari kapal perang Tromp (memuat sebuah perahu dengan
meriam dan kapal tongkang), kapal perang Eendracht, kapal meriam nomor 17
dan 18, kapal Arinus dan Marinus, lima perahu dari Batavia, lima perahu jelajah
dari Raja Akil. Divisi kedua, terdiri dari kapal layar Irene, empat perahu dengan
howitzer (meriam gunung). Divisi ketiga, terdiri dari kapal perang Wilhelmina dan
kapal Emma. Divisi keempat, terdiri dari kapal perang Ajax, kapal pengangkut
Admiraal Buyskes, Waterbik, Henriette Betthy dan Blucher. Divisi terakhir, terdiri
dari kapal perang Tromp dan perahu-perahu jelajah (ANRI, Bundel Palembang
No. 67).
Pada saat mereka meneruskan pelayaran dari Sunsang ke ibu kota
Palembang, terdapat beberapa hambatan, antara lain ketidakmampuan mereka
memahami peta jalur pelayaran Sungai Musi, ukuran kapal-kapal yang terlalu
besar, sehingga mereka terpaksa harus membuat parit-parit agar kapal berhasil
lewat. Sebaliknya, kondisi akan cepat berubah, jika air pasang, arus sungai
menjadi sangat deras yang menyulitkan gerak laju kapal-kapal dan perahu-perahu
Belanda. Di pihak lain, pasukan Palembang juga mengapungkan kayu-kayu besar,
yang akan menyulitkan gerak maju armada Belanda. Kondisi itu diperparah

176
Pada 9 Oktober 1819 kapal Admiraal Buyskes berlayar dari Muntok ke Sunsang untuk
bergabung dengan armada Belanda (ANRI, Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
239

dengan diluncurkannya rakit-rakit yang dibakar yang akan menghantam kapal-


kapal dan perahu-perahu Belanda. Semua yang dilakukan oleh pihak pasukan
Palembang menjadi hambatan serius yang harus dihadapi oleh pasukan Belanda.
Kondisi yang berat menyebabkan Belanda banyak kehilangan anggota
pasukannya. Sampai 11 Oktober 1819 lima orang terbunuh dan 11 orang sakit
(ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Jalur sepanjang hampir seratus kilometer dari Sunsang ke ibu kota
Palembang, bukan jalur pendek yang harus dilalui oleh armada Belanda dengan
berbagai hambatannya. Diantaranya, sering kali terjadi serangan mendadak yaitu
berondongan meriam dari balik hutan-hutan disepanjang jalur dari Sunsang ke ibu
kota Palembang. Semua itu menjadi penghambat laju gerak armada Belanda, dan
menelan banyak korban dari pihak mereka. Jadi, mereka sudah mengalami banyak
kerugian sebelum pertempuran yang sesungguhnya terjadi.
Kedalaman muara sungai Musi (Sunsang) pada saat surut mencapai sebelas
kaki (3,35 meter), sedangkan pada saat pasang naik mencapai dua puluh kaki
(6,10 meter). Akan tetapi, kondisi sungai sulit diprediksi, karena secara tiba-tiba
air mendadak surut sehingga menyulitkan pelayaran armada Belanda yang
terjebak. Selama musim kemarau gelombang pasang sebanyak 24 kali, setiap kali
air pasang berlangsung selama enam sampai sepuluh jam dengan arus deras mulai
dari muara sungai. Di musim hujan sungai-sungai di Kesultanan Palembang
meluap yang lamanya mencapai enam minggu. Di saat itu kapal-kapal besar dapat
mempercepat lajunya, begitu pula dengan rakit-rakit dan perahu-perahu. Ekspedisi
Belanda juga harus memperhitungkan waktu pasang air sungai Musi dengan tepat,
agar mampu melayarinya dengan baik (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Pada 15 Oktober 1819 armada Belanda tiba di benteng Borang yang sudah
tidak difungsikan lagi. Padahal pada saat ekspedisi Inggris ke Palembang (1811),
benteng itu merupakan benteng terpenting. Dari sana, armada Belanda
melanjutkan ekspedisi menelusuri sungai mendekati pusat pemerintahan
Kesultanan Palembang. Setiba mereka di dekat Pulau Keramat, perahu jelajah
Belanda melakukan menyerangan terhadap pertahanan laskar Palembang,
sehingga terjadi pertempuran. Dalam pertempuran itu, pasukan Belanda
mengalami kerugian lima orang terbunuh dan tujuh orang terluka. Dua hari

Universitas Indonesia
240

berikutnya di dekat Pulau Salanama, dalam jarak satu tembakan meriam kembali
terjadi saling serang antara laskar Palembang dan kapal layar Jreno. Dalam
pertempuran itu di pihak Belanda banyak jatuh korban luka. Meskipun demikian,
armada Belanda tetap meneruskan ekspedisi mendekati pusat pertahanan pertama
di Pulau Gombora. Untuk sampai di lokasi itu, membutuhkan waktu tiga pekan.
Pada lokasi yang dianggap cocok, mereka berlabuh untuk menyiapkan
penyerangan. Pada kesempatan itu, mereka manfaatkan waktu yang ada untuk
mengetahui kekuatan pertahanan Palembang. Dari informasi yang mereka
peroleh, dikatakan bahwa Pulau Gombora memiliki pertahanan yang sangat kuat.
Keadaan itu membuat para peserta ekspedisi terkejut. Sesuatu di luar perhitungan
mereka. Hanya dalam waktu empat bulan, Sultan Palembang dan rakyatnya telah
berhasil membangun sistem pertahanan yang sangat kuat. sebagaimana
dinyatakan oleh Kapten Meis dalam memorinya, bahwa ―Badarudin telah
mempersiapkan suatu proyek pertahanan raksasa‖. Di samping itu, Sultan
Badaruddin II juga membangun pertahanan di Plaju dan pulau buatan di tengah
Sungai Musi sekaligus mendirikan benteng Manguntama (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; No. 5.1).
Pada waktu itu, berkembang pula berita bahwa Inggris telah memasok
sebanyak 400 pucuk senapan dan amunisi ke Palembang (The Asiatic Journal,
Desember 1820). Berita itu otomatis membuat pasukan Belanda khawatir akan
kemampuan tempur pasukan Palembang. Selain itu, di kalangan pasukan
Palembang juga berkembang desas-desus yang bertolak belakang yaitu bahwa
telah terjadi kesepakatan antara Belanda dan Inggris untuk menyerang Palembang.
Yang menarik dari semua itu adalah tokohnya sama yaitu Inggris. Jelas, Inggris
merupakan kekuatan yang diperhitungkan baik oleh Palembang maupun Belanda
pada waktu itu. Kedua pihak berharap agar Inggris memihak mereka, namun isu
yang berkembang tidak terbukti kebenarannya.
Melihat kesiapan Kesultanan Palembang menyambut ekspedisi Belanda,
makin berat pula tantangan yang harus mereka hadapi. Hambatan-hambatan itu
hanya mampu diatasi dengan kebijakan panglima perang, dengan tetap menjaga
semangat juang para serdadu dan para awak kapal Belanda. Akibatnya, armada
Belanda baru berhasil mendekati pusat pertahanan Palembang (Plaju dan

Universitas Indonesia
241

Gombora) dalam jarak tembakan meriam Palembang pada 18 Oktober 1819.


Sejak itu armada yang dipimpin oleh Laksamana Wolterbeek berulang kali
mencoba mendekati kubu-kubu pertahanan Palembang, tetapi selalu gagal karena
derasnya arus sungai Musi. Di pihak lain, pasukan Palembang sejak awal telah
melepaskan rakit-rakit dibakar yang sangat menyulitkan gerak maju armada
Belanda (ANRI, Bundel Palembang No.67; No. 5.1; Bataviaasche Courant, 4
Agustus 1821). Berbagai kesulitan yang harus dihadapi oleh armada Belanda,
dalam usaha mendekati pusat pertahanan Kesultanan Palembang. Mereka juga
mengakui bahwa untuk mendekati kubu-kubu pertahanan Palembang bukan
perkara mudah, apalagi untuk terjun dalam kancah pertempuran.
Strategi yang dijalankan oleh Laksamana Wolterbeek dalam melakukan
penyerangan pada 20 Oktober 1819, dimulai dengan mengerahkan kapal
Eendracht, Irene dan Emma. Kapal-kapal itu secara serentak menyerang benteng
Gombora dan pertahanan Palembang lainnya di Sungai Musi. Pada pukul 10.00
pasukan Belanda mencoba mendarat di Pulau Gombora, usaha itu terpaksa harus
dibatalkan karena hembusan angin yang sangat kencang, sehingga kapal-kapal
mereka sulit merapat. Siang harinya kembali kapal perang Wilhelmina
melepaskan tembakan beruntun ke arah kubu pertahanan Palembang. Penyerangan
itu mendapat balasan yang gencar, sehingga terjadi pertempuran yang dahsyat177.
Untuk kedua kalinya kapal perang Wilhelmina mendekati kubu Palembang
dengan gerakan zigzag, tanpa menyadari ternyata kapal telah dipenuhi air
sehingga harus berlabuh untuk mengeluarkannya. Kondisi kritis itu dimanfaatkan
oleh pasukan Palembang dengan melakukan serangan gencar terhadap kapal
Wilhelmina dan armada Belanda lainnya. Hal itu menyebabkan formasi armada
Belanda berubah. Kapal perang Eendracht berada di depan Wilhelmina, kapal
Irene posisinya jadi lebih ke tengah sungai, sedangkan kapal Arinus Marinus di
belakang Wilhelmina dan kapal Ajax di belakang kapal Arinus Marinus. Dua

177
Di pihak Palembang, muncul tokoh-tokoh yang gagah berani melawan Belanda,
antara lain Pangeran Kramadiraja, Pangeran Puspadiraja, Pangeran Puspakrama,
Pangeran Puspadilaga, Pangeran Sutadiwangsa, Pangeran Sumawijaya, Rangga
Satyagati, Pangeran Suradilaga, Pangeran Suta Kesuma, Pangeran Wirasentika, Pangeran
Bupati, Pangeran Dipati, Demang Darpayuda, Pangeran Natadiwangsa, Sayyid
Abdurahman, Sayyid Husin Panglima Dalam, Sayyid Akil bin Muhammad, dan Sayyid
Ahmad bin Ali (“Syair Perang Menteng”).

Universitas Indonesia
242

kapal meriam ditempatkan di belakang Wilhelmina, kapal Emma di belakang


Irene dan beberapa cunia di posisi agak jauh di belakang dari kapal-kapal itu
(ANRI, Bundel Palembang No. 67; No.4, 1971: 86; The Asiatic Journal, vol.10,
Agustus 1820).
Pertempuran terus berlangsung hingga 16.00. Berhentinya peperangan
disebabkan datangnya angin kencang dari arah barat laut yang sangat
membahayakan kapal-kapal Belanda. Hembusan angin akan semakin kencang di
malam hari pada saat musim penghujan seperti saat itu. Otomatis kondisi itu akan
sangat membahayakan kapal-kapal dan perahu-perahu Belanda. Melihat kondisi
yang ada, mereka memutuskan untuk mundur (kapal Eendracht dan Arinus
Marinus tetap di posisinya), dalam kondisi terus dibombardir oleh pasukan
Palembang. Pihak Palembang juga terus peluncuran rakit-rakit dibakar yang
diluncurkan di antara kubu-kubu tonggak yang menutupi Sungai Musi. Pada
pertempuran itu itu pihak Belanda mengalami banyak kerugian, tercatat 24 orang
terbunuh dan 96 orang terluka. Sebaliknya, di pihak Palembang tidak mengalami
kerugian yang berarti, bahkan mereka berhasil menekan armada Belanda dengan
tembakan-tembakan. Kondisi ini sangat disesalkan oleh pihak Belanda. Dalam
laporannya kepada panglima angkatan darat, Kolonel Bisschoff menyatakan
bahwa kerugian yang diderita oleh pasukan Belanda tidak sebanding dengan
kegagalan mereka. Untuk terakhir kalinya kapal perang Wilhelmina berhasil
melepaskan 120 tembakan, tetapi tetap tidak mampu melemahkan kekuatan
pasukan Palembang. Malam harinya lascar Palembang meluncurkan tiga puluh
rakit dibakar untuk menghantam kapal-kapal, dan armada Belanda harus berjuang
keras agar terlepas dari kepungan rakit-rakit api tersebut (ANRI, Bundel
Palembang No. 67; No.4, 1971: 86; The Asiatic Journal, vol.10, Agustus 1820).
Keesokan harinya, sejak fajar pihak Palembang kembali melancarkan
tembakan-tembakan ke arah armada Belanda. Tembakan-tembakan itu dibalas
mereka dari kapal Eendracht dan Arinus Marinus. Dalam pertempuran itu,
kembali kapal Eendracht dan Arinus Marinus terdesak karena diberondong
meriam laskar Palembang dari kedua sisi Sungai Musi. Akibatnya, mereka harus
menanggung banyak kerugian dengan banyak jatuh korban. Menurut Wolterbeek,
sesungguhnya pertahanan Palembang bisa ditembus asalkan pusat pertahanan

Universitas Indonesia
243

mereka berhasil didekati. Untuk mendekati pusat pertahanan, dibutuhkan waktu


dan sarana yang cukup. Armada Belanda kekurangan perahu-perahu kecil untuk
melakukan pendaratan, walaupun sebelumnya mereka sudah mengantisivasinya
dengan memperbanyak cunia. Kondisi itu diperparah karena tengah musim
penghujan dengan curah yang sangat tinggi. Akan tetapi, dengan semangat tinggi
pasukan Belanda mencoba memanjat dan mengepung benteng-benteng pertahanan
Palembang. Kapten van der Wijck dan Kapten Laemlin menyiapkan pasukan
khusus yang akan menaklukkan kubu-kubu pertahanan tersebut, namun keinginan
itu tidak berhasil. Benteng-benteng itu dikelilingi tonggak-tonggak yang sangat
kuat, hutan belukar yang lebat dan rawa-rawa, serta gelombang pasang yang deras
dan tinggi di musim penghujan. Akhirnya, Wolterbeek mengirimkan ultimatum
kepada Sultan Badaruddin II untuk berunding, tetapi tidak mendapat tanggapan
dari Sultan Badaruddin II (ANRI, Bundel Palembang No. 67). Tawaran ini tidak
menarik bagi Sultan dan para pejuang Palembang karena posisi Palembang pada
waktu itu cukup kuat untuk membendung dan menghantam pasukan Belanda.
Pada 21 Oktober 1819 kondisinya sedikit menguntungkan pihak Belanda,
sehingga mereka bisa melakukan penyerangan terhadap kubu-kubu pertahanan
Palembang. Akan tetapi penyerangan itu tidak mampu menggoyahkan kekuatan
pertahanan Palembang. Sebaliknya, posisi pasukan Belanda semakin terdesak.
Akhirnya, pada 27 Oktober 1819 Wolterbeek melakukan pertemuan dengan
semua perwira komandan kapal dan komandan pasukan di atas kapal perang
Wilhelmina. Dalam pertemuan itu mereka membahas kondisi terakhir pasukan,
dan armada Belanda serta rencana melakukan serangan besar-besaran terhadap
posisi pertahanan laskar Palembang. Dari pertemuan tersebut akhirnya terungkap
bahwa apabila dilakukan penyerangan terhadap kubu Palembang dengan
menggunakan kapal-kapal besar di saat air surut, keberhasilan sulit diperoleh.
Apalagi kubu-kubu pertahanan Palembang dikelilingi oleh tonggak-tonggak yang
sangat kokoh. Penyerangan akan lebih efektif jikaa menggunakan perahu-perahu
kecil, bentuk penyerangan itu tidak dapat dilakukan pada saat itu, karena
keterbatasan armada. Pertempuran yang telah berlangsung hampir setengah bulan,
ditambah kondisi alam yang keras (angin kencang, panas terik di siang hari dan
kedinginan di malam hari, di dalam kapal yang terbuka dan sering diguyur hujan

Universitas Indonesia
244

lebat), sehingga awak kapal banyak yang terserang penyakit. Akhirnya, dicapai
kata sepakat bahwa meneruskan peperangan adalah suatu kesia-siaan, bahkan
akan makin melemahkan kekuatan Belanda. Laksamana Wolterbeek memutuskan
untuk menarik diri mundur ke Sunsang dan memblokade daerah itu (ANRI,
Bundel Palembang No. 67; No.4, 1971: 86; Bataviaasch Courant, 4 Agustus 182).
Sebagian pasukan dikirim ke Pulau Jawa yaitu empat kompi pengawal dari
resimen infanteri dikirimkan dengan kapal Arinus Marinus dan kapal Admiraal
Buyskes. Para prajurit dan awak kapal yang terluka dan sakit diangkut dengan
kapal Henrieta Elisabeth ke Batavia. Keputusan lain yang diambil oleh
Laksamana Wolterbeek untuk pasukan darat, adalah sebanyak satu kompi pasukan
infanteri diberangkatkan ke Malaka untuk memperkuat garnisun di sana. Serdadu
yang tersisa dan ditempatkan di atas kapal-kapal yang ada adalah : 150 serdadu
infanteri di kapal Tromp, 80 orang serdadu infanteri dan artileri di kapal
Wilhelmina, 50 orang serdadu infanteri di kapal Eendracht, 50 orang serdadu
infanteri di kapal Ajax, 5 orang serdadu artileri di kapal meriam nomor 17, dan 5
orang serdadu artileri di kapal meriam nomor 18. Untuk memperkuat Pulau
Bangka, Laksamana Wolterbeek memutuskan untuk menempatkan Letnan
Kolonel Riestz bersama empat puluh orang serdadu artileri. Komandan militer
Pulau Bangka dipegang Letnan Kolonel Keer, sedangkan pengawasan terhadap
kapal-kapal dipercayakan kepada Mayor Tierlam. Disamping itu, masih tersisa
dua kompi pasukan perintis di Muntok di bahwa pimpinan Kapten zeni van der
Wijck. Sambil menunggu perintah lebih lanjut dari Gubernur Jenderal Van der
Capellen, pada 30 Oktober 1819 pasukan armada Belanda mundur dari
Palembang, tiba di Sunsang pada 3-4 November 1819 (ANRI, Bundel Palembang
No. 67; No.4,1971: 86; Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; The Asiatic
Journal, vol 10, Agustus 1820).
Pasukan Belanda mendapat pelajaran yang sangat berharga dari
peperangan yang banyak menelan korban. Apa yang mereka ramalkan tentang
ketidakmampuan mereka membobol kekokohan benteng Gombora, benar-benar
terjadi. Pertahanan yang kuat, pasukan yang memiliki semangat juang yang tinggi,
dan kondisi alam yang mendukung, membuat pasukan Belanda harus mengakui
keunggulan Palembang dalam peperangan itu.

Universitas Indonesia
245

Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Van der Capellen pada 8


November 1819 dari atas kapal de Tromp, Wolterbeek menyatakan bahwa dirinya
telah melaksanakan tugas berat yang dipercayakan padanya, namun hasilnya jauh
dari harapan. Ekspedisi yang dipimpinnya harus menerima kekalahan dalam
perang dengan Palembang. Kekalahan yang sangat menyakitkan karena terjadi
dalam tahun yang sama (1819), dan dari peperangan tersebut Belanda mengalami
kekalahan. Untuk itu, Wolterbeek memohon kepada Van der Capellen agar
pertahanan Pulau Bangka ditingkatkan, karena hanya itu yang tersisa dari wilayah
Palembang yang mereka duduki sebagian wilayahnya. Selanjutnya, Wolterbeek
mengutus Kolonel Bischoff ke Batavia untuk memohon bantuan kapal dan
perahu-perahu. Di Muntok sendiri masih tersisa tiga tongkang dan kapal Nassau
yang baru tiba dari Batavia untuk memperkuat pertahanan di sana. Lebih lanjut,
Wolterbeek menyatakan bahwa sesungguhnya tidak hanya Pulau Bangka yang
harus diperkuat, tetapi juga Jambi, Kepulauan Riau dan Lingga. Ia mengusulkan
agar pasukan ekspedisi yang dikirim ke Ambon, dialihkan ke Bangka. Wolterbeek
berjanji akan mempertahankan Pulau Bangka sekuat-kuatnya, sampai kondisinya
memungkinkan dirinya untuk kembali ke Pulau Jawa. Menurut perhitungannya,
pada sekitar bulan Januari 1820 Pulau Bangka dapat ditinggalkannya, setelah
melakukan konsolidasi di sana (ANRI, Bundel Palembang No. 66.10).
Pulau Bangka dan sekitarnya sangat penting, mengingat hanya pulau itu
yang tersisa, dan dijadikan pijakan untuk melakukan konsolidasi guna menyerang
Palembang kembali. Bangka juga merupakan pulau yang sangat penting, karena
memiliki tambang timah dan berada pada posisi strategis yang menghubungkan
Jawa dan Semenanjung Malaya bahkan ke Cina. Untuk itu, apapun harus
dipertaruhkan demi mempertahankan pulau itu. Dengan menguasai Bangka dan
menutup jalur ke ibu kota Palembang, diharapkan akan melemahkan kekuatan
Palembang, sehingga lebih mudah dikuasai.
Dalam kaitannya dengan Palembang, sebagaimana pascaperang pertama,
dilakukan memblokade di Sunsang. Pelaksanaannya diserahkan kepada Kapten
Dibbetz. Dibbertz menempatkan kapal perang Wilhelmina178, Ajax, de Prins

178
Kapal perang Wilhelmina, dan kapal Eendracht pada Nopember 1819 dikirim ke
Batavia karena semakin rusak, sejak terlibat dalam perang Palembang (ANRI, Bundel Palembang
No. 66.10).

Universitas Indonesia
246

Blucher, Leeuwrik, Galathe, kapal meriam nomor 17 dan empat perahu meriam
serta sebuah perahu dengan kanon berkekuatan tiga pon. Di samping itu, kapal
Prins Blucher juga bertugas untuk mengibarkan panji-panji sebagai tanda
kehadiran kapal-kapal perang di sana. Selanjutnya, kekuatan blokade Belanda
bertambah, dengan tibanya kapal layar de Hoop dari Malaka. Kapal itu membawa
seratus orang serdadu di bawah pimpinan Kapten Sneijder. Semua kekuatan itu
bersatu untuk menutup Sunsang, sampai adanya perintah dari Van der Capellen
untuk kembali melaksanakan ekspedisi ke Palembang. Dalam usaha mereka
menutup Sunsang, armada Belanda dihadapkan pada kendala yaitu terjadi
pendangkalan di daerah itu179, sehingga sulit dilayari. Di pihak lain, untuk
mengatisivasi dampak dari Blokade Belanda, pihak Palembang melakukan
berbagai cara sebagaimana telah mereka lakukan pada blokade pertama. Mereka
kembali mengefektifkan jalur Kwala Upang dan Banyuasin serta jalur darat
melalui perbatasan Jambi-Palembang. Akan tetapi, blokade kali itu lebih
menyulitkan mereka untuk menembusnya, karena pihak Belanda lebih
memperketat pengamanannya dengan melibatkan lebih banyak kapal dan perahu
(ANRI, Bundel Palembang No. 66.10; No. 67).
Setelah melakukan pemetaan di sekitar Sunsang, pada 11 Nopember 1819
Pietersen dan H. Jurgens berangkat ke Batavia membawa 250 orang serdadu
dengan kapal Arimus Marinus. Sebelumnya, kapal pengangkut Henderiette Betsy
dan perahu Kora-Kora nomor 4, di bawah pimpinan Letnan Rembaldo melakukan
hal yang sama mengangkut orang-orang sakit dan luka ke Batavia (ANRI, Bundel
Palembang No. 66.10).
Dalam memorinya, Wolterbeek memaparkan berbagai persoalan yang
dihadapinya dalam ekspedisi ke Palembang. Menurutnya, peperangan di
Palembang adalah bencana besar dan sangat mahal bagi Belanda, dengan dampak
yang tidak dapat diperhitungkan. Tidak satu pun di antara mereka yang
mengetahui kondisi dan kekuatan yang sesungguh yang dimiliki oleh Kesultanan

179
Berdasarkan penelitian Letnan-1 Pietersen dan H. Jurgens di daerah Sunsang,
Sungai Sleino dan sekitarnya, diketahui bahwa kawasan itu terjadi pendangkalan
sehingga menyulitkan kapal-kapal untuk menutup perairan itu (ANRI, Bundel Palembang
No. 66.10). Hal itu akan berdampak pada lemahnya pengawasan atas daerah tersebut,
dan itu memberi peluang bagi armada Palembang menembus blokade tersebut.

Universitas Indonesia
247

Palembang, begitu pula dengan kondisi pantai-pantai dan sungai-sungainya.


Pendapat umum yang berkembang pada waktu itu, menyebutkan bahwa ekspedisi
Belanda ke Palembang adalah suatu kesia-siaan dan membuang-buang biaya.
Mengenai kepemimpinannya sendiri sebagai panglima perang, Wolterbeek
menyerahkan penilaiannya kepada para ahli dan petinggi pemerintah Belanda.
Harapannya semua dapat diselesaikan melalui perundingan damai. Akan tetapi,
apabila peperangan menjadi pilihan, harus dilaksanakan secara besar-besaran
dengan mengesampingkan tugas-tugas lainnya. Sementara itu, blokade tetap harus
dilanjutkan dan dirinya tetap memegang komando ekspedisi. Menurut
perhitungannya, Sultan Badaruddin II dalam jangka waktu panjang tidak akan
mampu terus memperkuat posisi pertahanannya. Palembang juga akan dihadapkan
pada kekurangan bahan makanan. (ANRI. Bundel Palembang No. 66.10). Keadaan
yang diprediksikannya itu membuat Laksamana Wolterbeek melihat peluang
untuk menaklukkan Kesultanan Palembang dan mendudukinya.
Lebih lanjut, Wolterbeek mengemukakan konflik yang terjadi di tubuh
pasukan Belanda khsususnya mengenai kepemimpinan Muntinghe. Dalam
laporannya kepada Gubernur Jenderal pada 11 Nopember 1819, secara terang-
terangan Wolterbeek menyatakan bahwa dirinya merasa tidak cocok dengan
Komisaris Muntinghe. Menurutnya, Muntinghe adalah orang yang sulit bekerja
sama dengan orang lain, sehingga sering terjadi konflik dengan orang-orang
disekitarnya khususnya dari kalangan militer. Sebagai panglima dalam ekspedisi
militer di Palembang, Wolterbeek sering menjadi mediator antara Muntinghe dan
pihak-pihak yang tidak sejalan dengannya. Misalnya konflik antara Muntinghe
dan komandan garnisun Letnan Kolonel Keer dan sekretaris van der Kop.
Meskipun sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan kurang harmonis antara
sipil dan militer, namun usaha Wolterbeek tidak berhasil. Di sisi lain, Muntinghe
tidak berusaha untuk memperbaiki konflik yang ada. Mereka juga dihadapkan
pada berbagai kesulitan berat di Palembang dan Bangka sehingga Wolterbeek
memutuskan untuk lebih lama di Bagnka (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Konflik Muntinghe dan orang-orang di sekelilingnya sudah berlangsung
sejak dirinya mempersiapkan ekspedisi militer ke uluan (Juli 1818), untuk
mengejar pasukan Inggris. Pihak militer tidak setuju dengan Muntinghe karena

Universitas Indonesia
248

memikirkan kemampuan militer pada waktu itu yang sangat minim. Apa yang
dikhawatirkan pihak militer benar-benar terbukti, dengan mundurnya pasukan
militer Belanda dari uluan setelah berhadapan langsung dengan pasukan Inggris
(Nopember 1818).
Kemenangan Kesultanan Palembang atas Belanda sangat diharapkan
rakyat Bangka, dengan kemenangan itu akan memudahkan perjuangan mereka
untuk mengusir Belanda. Keyakinan rakyat Bangka tersebut berkaitan dengan
upaya Sultan Badaruddin II untuk mengobarkan pemberontakan terhadap Belanda
di seluruh wilayah Kesultanan Palembang, termasuk Pulau Bangka-Belitung. Bagi
rakyat Bangka, kemenangan Palembang adalah kemenangan mereka, karena
perlawanan mereka bagian dari Kesultanan Palembang dan dipimpin para
bangsawan Palembang. Mereka juga mendapat pasokan senjata dari Palembang
melalui pedagang-pedagang gelap Palembang. Dengan demikian, keberhasilan
Palembang mengusir Palembang dari wilayahnya, membawa pengaruh besar pada
semangat juang rakyat Pulau Bangka. Kekuatan terbesar mereka terkonsentrasi di
Bangka Kotta. Sebanyak delapan ratus orang telah siaga di Nieri. Kekuatan itu
terus bertambah, sehingga pasukannya mencapai 1200 orang. Menghadapi kondisi
demikian, Residen Smissaert mengambil langkah untuk mencari jalan damai. Cara
yang ditempuhnya adalah mengadakan perjalanan mendekati lokasi kekacauan.
Pada 14 November 1819, Smissaert kembali dari perjalanan dinasnya. Di
kampung Dauwet (satu hari perjalanan dari Pangkal Pinang), mereka diserang dan
dibunuh oleh pasukan Bangka di bawah pimpinan Batin Barin. Barin
mengerahkan pasukan berkekuatan sebanyak 150-200 orang, sedangkan Smissaert
hanya dikawal oleh lima sampai enam orang serdadu. Berita kematian Smissaert
sampai di Muntok pada 18 November 1819. Menyadari situasi yang ada,
Muntinghe melanjutkan usaha untuk damai yang telah dirintis oleh Smissaert,
namun hasilnya tidak seperti yang diharapkannya. Bangka terus bergolak (ANRI,
Bundel Palembang No. 67).
Para pemimpin Bangka menolak tawaran damai yang disodorkan oleh
Muntnghe. Bagaimana mungkin mereka mau berdamai, sedangkan Palembang
menang perang melawan Belanda. Kemenangan itu memberi mereka semangat
juang yang lebih besar untuk mengusir Belanda. Apabila mereka berhasil

Universitas Indonesia
249

mengenyahkan Belanda dari wilayah mereka, berarti seluruh Kesultanan


Palembang bebas dari pengaruh bangsa itu.
Pemerintah Belanda memutuskan untuk menjadikan Pulau Bangka
(Muntok) sebagai basis kekuatan untuk menghadapi Palembang, terutama setelah
gagal pada ekspedisi Oktober 1819. Untuk menghadapi perlawanan rakyat
Bangka, Wolterbeek memerintahkan Letnan Kolonel Keer, Letnan Kolonel Rietz
dan Kapten Van der Wijck untuk merancang serangan mendadak terhadap
pertahanan Bangka. Di samping itu, mereka juga melakukan penelitian tentang
kondisi pulau itu. Hasilnya akan dijadikan rujukan untuk menentukan tindakan
terbaik untuk pulau itu. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, ternyata
serangan mendadak yang mereka rencanakan bukan tindakan yang tepat.
Akibatnya, rencana tersebut dibatalkan. Di pihak lain, Residen Smissaert
menempuh jalur damai untuk meredakan ketegangan di Bangka, namun usaha itu
gagal dan Residen Smissaert menemui ajalnya dengan cara dipancung kepalanya
oleh pasukan Bangka (14 November 1819) dan kepalanya dikirim kepada Sultan
Badaruddin II. Situasi menjadi semakin tegang. Komisaris Muntinghe segera
mengambil alih pemerintahan sipil yang kosong akibat wafatnya Residen
Smissaert (Waey, 1875: 110).
Menghadapi situasi yang ada, memaksa Komisaris Muntinghe memilih
jalan damai. Keputusan itu ditempuh Muntinghe karena dia sadar serdadu dan
persenjataan yang dimiliki Belanda sangat terbatas. Strategi itu ditempuh
bertujuan untuk mengulur waktu, sambil mempersiapkan pasukan untuk
melakukan serangan balik terhadap kubu-kubu pertahanan Bangka. Akan tetapi,
usaha itu tidak berjalan sesuai yang mereka harapkan. Berulang kali Belanda
menghadapi berbagai pergolakan, seperti pergolakan yang terjadi di Bangka
Kotta, Marawang, Sungei Liat dan Blinyu. Dalam berbagai pergolakan itu
dikabarkan 36 orang kuli tambang timah Belanda memihak perlawanan rakyat
Bangka, sehingga Keer menambah pasukan keamanan sebanyak 250 orang
serdadu. Penambahan itu membuat pasukan Belanda di Bangka lebih leluasa
bergerak, dan berhasil mengatasi pergolakan di Bangka Kotta. Selanjutnya,
mereka juga mengerahkan kapal de Emma dan kapal meriam serta menempatkan
perahu-perahu jelajah di muara sungai Zoute Bangka (ANRI, Bundel Palembang

Universitas Indonesia
250

No. 67: Korten Schets.., 1846:134-135). Membelotnya para kuli tambang


Belanda, membuktikan bahwa tidak semua kuli tambang mereka mau
dipersenjatai untuk melawan perlawanan rakyat Bangka.
Banyak faktor yang mempersulit penaklukan Pulau Bangka, antara lain
wilayah pulau itu sangat luas, sedangkan personil dan peralatan yang dimiliki oleh
pasukan Belanda terbatas, Mereka harus berhadapan dengan para pejuang Bangka
yang jumlahnya banyak dan sangat mengenal medan serta memiliki sarana
transportasi yang memadai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, para pemimpin
Belanda melakukan berbagai terobosan yaitu menambah jumlah anggota pasukan
dan armada. Penambahan pasukan mustahil dapat diperoleh dari luar daerah
tersebut. Untuk itu, satu-satunya jalan adalah memerintahkan para inspektur
tambang timah untuk menghentikan penambangan timah sementara180, para
pekerja tambang (umumnya orang Cina) diperbantukan untuk menghadapi
perlawanan rakyat Bangka, dengan catatan upah mereka tetap dibayar. Demikian
pula halnya dengan para komandan Belanda yang berada Pangkal Pinang,
Marawang, Blinyu, Jebus, dan Sungai Liat diperintahkan untuk mempertahankan
wilayah mereka masing-masing. Selain itu, kubu pertahanan dibangun pula di
Muntok, yang terletak di depan rumah residen. Pemilihan lokasi tersebut tentunya
berkaitan dengan fungsinya yaitu untuk melindungi rumah residen, kapal-kapal
Belanda yang berlabuh dan serangan dari orang-orang Bangka. Pagar yang kokoh
terbuat dari kayu sepanjang 80 roed persegi dibangun dengan waktu sekitar dua
setengah bulan. Keputusan lain adalah membangun kubu pertahanan serupa di
Tanjung Kalian. Pembangunannya dimaksudkan agar pasukan Belanda mampu
menghadapi serangan musuh baik dari laut maupun darat. Untuk mempercepat
pembangunannya pada 29 November 1819 Wolterbeek mengerahkan para
serdadu, pekerja pribumi, awak kapal dan seratus orang Cina. Pertahanannya
diperkuat dengan membentuk korps militer yang terdiri dari delapan puluh orang
Ambon (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Semua dilakukan untuk memperkokoh pertahanan di pulau Bangka
khususnya Muntok. Apabila daerah itu tidak mampu dipertahankan, keberadaan

180
Penambahan itu berdasarkan hasil pertemuan yang diadakan pada 18
Nopember 1819 antara Komisaris Muntinghe, Letnan Kolonel Keer dan sekretaris
Bangka van der Kop (ANRI, Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
251

Belanda di wilayah Kesultanan Palembang hanya tinggal nama. Atas dasar itu,
Wolterbeek dan aparatnya melakukan berbagai cara untuk meningkatkan
pertahanan.
Di lain pihak, para pejuang Bangka di bawah pimpinan Batin Barin
melakukan berbagai terobosan untuk memperkuat posisi. Cara yang ditempuh
adalah menarik dukungan yang lebih besar dari orang-orang Cina yang menjadi
kuli di tambang-tambang timah Belanda. Kebijakan itu diambil karena peran etnis
Cina cukup menentukan di pulau itu, khususnya di pertambangan. Untuk itu, pada
November 1819 di Pangkal Pinang Batin Barin mengeluarkan maklumat atas
nama Sultan Badaruddin II. Maklumat itu memuat ajakan kepada para kuli
tambang Cina agar bergabung dengan gerakan melawan Belanda. Mereka
diiming-imingi dengan janji timah hasil tambang mereka akan dibeli oleh Sultan
Badaruddin II seharga 10 real Spanyol per pikul. Mengetahui hal itu, Laksamana
Wolterbeek segera bertindak dengan mengirimkan pasukan sebanyak seratus
orang serdadu Eropa dan pribumi menuju Pangkal Pinang, di bawah komando
Kapten Ege. Para petinggi Belanda di Muntok sangat mengkhawatirkan hal itu
terjadi, yang berarti ancaman serius bagi keberadaan Belanda di sana (ANRI,
Bundel Palembang No. 67).
Serangan pertama dilancarkan oleh kapal The Stunter181, segera disusul
serangan kedua di bawah kendali Keer. Serangan susulan itu berkekuatan lebih
besar yaitu tiga ratus orang serdadu Eropa. Pertempuran pecah di daerah
pertambangan sebelah timur Pangkal Pinang. Gabungan dua kekuatan yang
menyerang pusat perlawanan Batin Barin (delapan jam dari Pangkal Pinang dan
Kusi), menyebabkan Batin Barin tidak mampu berbuat banyak dan mundur pada
21 Nopember 1819 (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Mundurnya kelompok Batin Barin, bukan berarti menyurutkan
perlawanan. Mereka menyebar di sepanjang sungai-sungai, rawa-rawa dan hutan.
Posisi itu menyulitkan pasukan Belanda untuk menyerangnya. Untuk
menumpasnya perlawanan Batin Barin, Wolterbeek mengirimkan pasukan di
bawah pimpinan Letnan Kolonel Rietsz pada Desember 1819. Di samping itu,

181
Munculnya kapal nama Inggris, dimungkinkan karena pihak Belanda
menyewa kapal-kapal Inggris guna memenuhi kebutuhan perang pada waktu itu.

Universitas Indonesia
252

pihak Belanda juga menghubungkan kubu-kubu pertahanan di Jebus, Blinyu,


Sungei Liat, Marawang dan Pangkal Pinang, dengan cara membangun dan
memperkuat pos-pos yang ada. Berbagai pertempuran terjadi antara pasukan
Bangka dan Belanda, yang umumnya dimenangkan oleh pihak Belanda. Akan
tetapi, biasanya kemenangan itu tidak permanen. Maksudnya, setelah suatu daerah
dikuasai oleh pasukan Belanda, dengan segera akan direbut kembali oleh pasukan
Bangka, sehingga penaklukan harus dilakukan berulang-ulang oleh pasukan
Belanda. Semua itu membutuhkan tenaga, dana yang tidak sedikit. Untuk
kawasan Muntok dan sekitarnya mereka mengamankannya dengan lebih ketat,
dan mengantisipasi perlawanan sekecil apapun. Mereka mengawasi kegiatan
penduduk kota itu, bahkan kelompok-kelompok pengajian dicurigai sebagai usaha
untuk menggalang kekuatan untuk melawan Belanda. Reaksi Belanda yang
berlebihan menyebabkan penduduk Muntok merasa tidak bebas bergerak,
termasuk dalam menjalankan ibadah keagamaan. Sementara itu, pada Desember
1819 kekuatan militer di Muntok makin berkurang, karena sebagian besar kapal-
kapal Belanda digunakan untuk memblokade muara sungai Musi dan sisanya
dipindahkan ke Malaka. Dalam kondisi demikian, pada 23 Desember 1819
penguasa sipil dan militer di Bangka mengajukan permohonan bantuan ke Batavia
agar mengirimkan lima puluh sampai dua ratus orang serdadu Ambon atau Bugis
untuk dijadikan kesatuan Jayeng Sekar (pasukan pengawal pribumi). Para serdadu
itu akan ditugaskan untuk membuat jalan baru dan memperluas jalan-jalan yang
sudah ada di Pulau Bangka. Kebijakan itu dilaksanakan untuk memudahkan
komunikasi dan koordinasi dengan tujuan mengakhiri perlawanan rakyat Bangka.
Dua hari setelah itu (25 Desember 1819), Muntinghe kembali ke Batavia dengan
menumpang kapal perang Wilhelmina. Dengan demikian, kepemimpinan Belanda
di sana dikendalikan oleh Wolterbeek (ANRI, Bundel Palembang No. 67; No.
66.10).
Pada awal tahun 1820 kondisi keamanan Pulau Bangka tidak banyak
berubah, tetap bergolak. Pulau itu membutuhkan pasokan senjata dan
penambahan kubu-kubu pertahanan untuk memperkokoh pertahanan Belanda.
Sampai saat itu mereka tidak mampu membendung perlawanan rakyat Bangka.
Muntok sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan tidak mampu mengendalikan

Universitas Indonesia
253

wilayah pulau Bangka yang sangat luas (membutuhkan waktu 50 jam untuk
mengelilinginya dan 13-17 jam waktu untuk menyusuri lebarnya). Pulau itu juga
memiliki banyak sungai (antara lain Sungai Hering, Sungai Kota Waringin,
Sungai Mundo, Sungai Selan dan Sungai Bangka Kota182). Untuk menjelajahi
wilayah itu, Belanda membutuhkan perahu-perahu kecil, padahal pada waktu itu
pemerintah Belanda tidak memilikinya. Fasilitas yang dimiliki Belanda
berbanding terbalik dengan penduduk Pulau Bangka. Sebagai penduduk asli,
mereka memiliki banyak perahu dan kecakapan untuk mengendalikannya dalam
kondisi apapun. Di daerah itu pemerintah Belanda juga tidak memiliki serdadu,
persenjataan dan armada yang memadai untuk menunjang kemampuan
tempurnya. Salah satu daerah yang harus terus diperhatikan dan dipertahankan
oleh Belanda adalah Toboali, karena secara berkala daerah itu mendapat serangan
pasukan Bangka. Berbagai serangan itu dilaporkan Keer kepada Departemen
Peperangan di Batavia pada 4 Pebruari 1820. Di samping itu, pihak Belanda juga
harus menjaga keselamatan orang-orang Bangka yang memihak mereka.
Contohnya Batin di daerah Nyatau (pertemuan antara Muntok dan Lebu) yang
terancam keselamatannya karena memihak Belanda, sehingga Keer
memerintahkan Letnan-1 Cavelier memimpin satu kesatuan untuk melindungi
daerah itu. Meskipun demikian, usaha itu tidak berhasil. Semua lapisan
masyarakat dari berbagai etnis di Bangka secara terus menerus memberi
dukungan kepada para pemimpin mereka (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Ketidakmampuan Belanda untuk mengendalikan wilayah Pulau Bangka,
mendorong para pemimpin Belanda di sana untuk membagi pulau itu dalam
beberapa distrik, yaitu Kota Waringin (Mando), Bangka Kotta dan Muara Kwala.
Untuk mengamankan daerah-daerah dikerahkan kapal Eendrach dan kapal dan
kapal meriam nomor17. Untuk kawasan timur Pulau Bangka dikerahkan kapal
meriam nomor 12 dan kapal Hunter. Pembagian itu dimaksudkan untuk
memudahkan pendudukan. Setelah itu, mereka membangun kubu pertahanan di

182
Sungai-sungai tersebut dijadikan sarana untuk memutuskan hubungan
pasukan Belanda dengan distrik timur Pangkal Pinang, Sungai Liat dan Marawang.
Sehingga menyulitkan pihak Belanda untuk menaklukkan daerah-daerah itu secara
permanen (ANRI, Bundel Palembang No. 67). Jadi, sungai penting perannya dalam
usaha penduduk Bangka mempertahankan wilayah mereka dari cengkeraman kolonial
Belanda.

Universitas Indonesia
254

Marawang dan Pangkal Pinang, yang dilengkapi dengan meriam, amunisi. Untuk
menjaganya dikerahkan dua kompi infantri serdadu, yang terdiri dari orang
Madura dan Ambon dari Batavia. Sementara itu, pemerintah Belanda di Batavia
mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan tambahan pasukan dari
Bangka, karena di Batavia khususnya dan Pulau Jawa umumnya juga dihadapkan
pada masalah yang sama. Selain itu, kebijakan pemerintah pusat di Batavia adalah
memfokuskan diri untuk melakukan ekspedisi kembali ke Palembang. Belanda
berpendapat bahwa merebut Palembang adalah hal penting, karena tanpa merebut
Palembang, berarti Bangka juga tidak akan dapat mereka kuasai (ANRI,Bundel
Palembang No. 66.10).
Usaha menundukkan perlawanan rakyat Bangka terus berlangsung. Pada
pertengahan Maret 1820 kekuatan yang dipimpin oleh Keer dan Raja Akil,
bergabung untuk menaklukkan Kota Waringin. Armada yang disiapkan antara
lain, kapal perang Eendracht, Ajax, Tromp, de Emma dan sepuluh perahu cunia,
serta dua howitzer. Kesatuan yang terlibat terdiri dari sepuluh orang perwira, dua
ratus orang serdadu. Kesatuan itu tiba di Kota Waringin pada 20 Maret 1820.
Medan yang harus mereka lalui sangat berat, yaitu sungai-sungai yang sempit
dipenuhi batang dan ranting-ranting pohon. Dibutuhkan waktu lima hari untuk
membersihkannya. Setelah itu, Letnan-1 Gemet memimpin pasukannya
menyerang pertahanan pasukan setempat. Dalam pertempuran itu pasukan
Belanda dengan mudah berhasil meredam perlawanan penduduk setempat, yang
hanya bersenjata tombak dan senapan bermoncong besar. Sebaliknya, pasukan
Belanda sudah menggunakan bayonet. Eskipun demikian, pihak Belanda tetap
mengalami kerugian dengan tewasnya dua orang serdadu, lima orang luka parah
dan delapan orang luka ringan. Di pihak Bangka, kerugian jauh lebih besar,
walaupun tidak ditemukan jumlah orang yang tewas atau sakit. Kerugian secara
fisik dapat dilihat dari semua kubu pertahanan, rumah-rumah penduduk dan harta
benda mereka dirampas oleh pasukan Belanda (ANRI, Bundel Palembang No. 67;
No. 66.10).
Pendudukan Belanda atas Kota Waringin terus berlanjut, sehingga
beberapa kepala distrik di sebelah kanan dan kiri sungai di daerah itu
menyerahkan diri dan bergabung dengan pasukan Belanda. Selanjutnya, untuk

Universitas Indonesia
255

meraih simpati rakyat, Keer memberikan pengampunan kepada semua orang yang
berinisiatif kembali ke rumahnya mereka masing-masing. Selama terjadinya
pertempuran antara pasukan Belanda dan pasukan Kota Waringin, penduduk
meninggalkan rumah dan kampung mereka. Begitu pula anggota pasukan Bangka
yang kalah mundur ke hutan. Akibatnya, kampung-kampung sepi tidak
berpenghuni. Dengan upaya yang dilakukan oleh Keer, penduduk kembali ke
kampung mereka di bawah pengawalan dari serdadu Belanda. Di lain pihak,
bergabungnya sebagian penduduk dengan pasukan Belanda, sangat
membahayakan keselamatan jiwa mereka, karena dianggap berkhianat oleh
kelompok Batin Barin dan Kusi. Akhirnya, untuk menghancurkan perlawanan
Batin barin, pihak Belanda mengambil kebijakan menjanjikan hadiah sebesar
lima ratus dollar Spanyol bagi siapa saja yang berhasil menangkap dan
menyerahkan hidup atau mati Batin Barin dan Kusi (ANRI, Bundel Palembang
No. 67). Pemberian hadiah yang besar membuktikan bahwa rakyat Bangka sangat
gigih melawan Belanda, dan perlawanan yang dikerahkan oleh Batin Barin sangat
merugikan dan membahayakan pemerintah Belanda di sana.
Sebagai pemimpin pasukan Belanda, Keer juga harus menangani daerah
lain yang juga bergolak, sehingga harus meninggalkan Kota Waringin yang sudah
tenang. Akan tetapi, setelah Keer dan pasukannya meninggalkan Kota Waringin,
pasukan Bangka segera mengambilalih daerah itu. Mereka memutuskan jalur yang
menghubungankan Kota Waringin dan pusat kekuasan Belanda di Muntok.
Pasukan Bangka membangun kubu-kubu pertahanan di sepanjang jalan menuju
Kota Waringin (ANRI, Bundel Palembang No. 67). Inilah bukti bahwa
pendudukan Belanda atas daerah-daerah di Pulau Bangka tidak dapat berlangsung
permanen. Keterbatasan personil, persenjataan dan bahan makanan untuk wilayah
seluas pulau itu, memaksa mereka harus meninggalkan daerah-daerah yang telah
berhasil diduduki. Daerah yang telah ditinggalkan tersebut, membuka peluang
untuk diduduki kembali oleh para pejuang Bangka. Hal ini berlangsung terus,
yang berdampak pada lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menguasai Pulau
Bangka.
Daerah-daerah lain di Pulau Bangka juga bergolak, misalnya di
Marawang, Pangkal Baru, Toa Tono, Ayer Dorin, Bangkal, dan Kamboja,

Universitas Indonesia
256

Kampung Sungai Lobang, Kampung Nibong, Sungei Kaliouw, Tampang,


Makubu, Ruma Duwa, dan Zet. Untuk menumpas perlawanan tersebut, pasukan
Belanda dikerahkan di bawah pimpinan Keer, Rietz, dan Ege pada Maret 1820.
Dalam berbagai pertempuran itu, pihak Belanda mengalami kerugian dua orang
serdadunya terbunuh dan lima orang menderita luka-luka, sedangkan di pihak
Bangka tidak diperoleh informasi tentang jumlah korban, namun kerugian dapat
diidentifikasi melalui hancurnya kubu-kubu pertahanan yang mereka miliki.
Pertempuran-pertempuran yang terjadi di berbagai daerah tersebut, tidak jarang
terjadi secara langsung, namun sebagaimana biasanya para pejuang Bangka akan
mundur ke hutan-hutan apabila dalam kondisi terdesak. Dari persembunyiannya
mereka akan melakukan serangan balik. Bentuk-bentuk seperti itu lumrah terjadi
di medan pertempuran yang sebagian kampung-kampung, hutan-hutan, dengan
personil dan persenjataan terbatas. Akan tetapi, pada akhirnya mereka terdesak
dan perlawanan semakin lemah (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Di pantai timur Pulau Bangka, Raden Ali (putra Raden Kling) bersama
lima puluh hingga tujuh puluh perahu milik Orang Kaya Lingga dan Bugis,
bergabung menyerang Koba yang dikuasai pasukan Belanda. Pada 2 Mei 1820
pertempuran pecah antara dua kubu. Pasukan Bangka berjumlah empat ratusan,
ditambah lima puluhan orang Cina. Pasukan Belanda berkekuatan 54 orang
serdadu, ditambah delapan puluhan orang Cina di bawah komando Sersan
Dompot. Suatu jumlah yang tidak seimbang, namun dalam pertempuran itu
Dompok bersama pasukannya berhasil mendesak mundur pasukan Bangka.
Kemenangan itu tidak secara otomatis masalah mereka selesai. Pasukan Belanda
di Koba dihadapkan pada masalah kekurangan bahan makanan. Hal tersebut
disebabkan penduduk tidak bersedia mengangkut bahan makanan untuk mereka
melalui jalur darat, sedangkan jalur laut dikuasai oleh pasukan Bangka. Kondisi
itu membuat pasukan Belanda harus menderita karena mereka harus makan
seadanya. Sementara itu, untuk mengantisipasi serangan balik dari rakyat Bangka,
Pasukan Belanda menjaga dengan ketat semua daerah yang telah dikuasainya.
Untuk itu, Keer menyiapkan pasukan ekspedisi yang kuat yang dibagi dalam dua
kesatuan, yaitu, pertama, terdiri dari kapal sekoci de Emma, Leeuwick dan kapal
meriam nomor 18 serta lima perahu milik Demang Minyak. Mereka berkumpul di

Universitas Indonesia
257

Pangkal Pinang untuk mempertahankan Kwalla. Kedua, pasukan khusus untuk


mempertahankan daerah-daerah yang telah berhasil direbut, antara lain di Pangkal
Pinang dijaga oleh kapal Yohanna, kapal meriam nomor 1 dan delapan perahu
milik Raja Akil serta tujuh puluh orang serdadu Eropa (ANRI, Bundel Palembang
No. 67).
Sampai Mei 1820 pasukan Belanda sudah memperoleh banyak
kemenangan dalam berbagai pertempuran melawan pasukan Bangka. Mereka
umumnya lebih unggul di darat, sedangkan jalur laut umumnya masih dikuasai
oleh orang Bangka yang bekerjasama dengan para bajak laut. Pada akhir Mei
orang-orang Bangka dari Nieri menghancurkan ranjau-ranjau dan menyerang pos-
pos Belanda. Kekalahan itu dibayar oleh Keer dengan mengirimkan pasukan ke
sana, namun usaha itu terpaksa diurungkan karena datangnya berita tentang akan
tibanya ekspedisi dari Batavia untuk menyerang Palembang.
Kuatnya penguasaan jalur laut oleh para pejuang Bangka, membuat pihak
Belanda harus lebih kuat mengamankan armada yang membawa perbekalan bahan
makanan khususnya beras. Untuk itu, mereka mengerahkan kapal layar Pallas di
bawah pimpinan Letnan Guichard untuk mengangkut beras dari Sungai Liat
menuju Koba. Penunjukan Letnan Guichard tidak terlepas dari keberhasilannya
mengusir delapan perahu bajak laut di Pangkal Pinang. Untuk mengawal kapal
Pallas tersebut, kapal layar Zeehond, kapal meriam nomor 1 dan nomor 17
dikerahkan dengan menyertakan 12 pucuk meriam. Besarnya armada yang harus
dikerahkan menunjukkan tingkat kerawanan zona pelayaran di sana. Hal itu juga
membuktikan kuatnya penguasaan orang-orang Bangka atas wilayah laut tersebut.
Di samping itu, pasukan Belanda juga harus secara terus-menerus siaga untuk
menyelamatkan gudang-gudang amunisi mereka yang terdapat di Batu Rusa dan
membangun kubu pertahanan di muara Kwalla (ANRI, Bundel Palembang No.
67).
Salah seorang tokoh terkenal yang senantiasa menjadi momok bagi awak
armada Belanda adalah Raden Kling dan puteranya Raden Ali. Dari pusat
perlawanan di Pulau Lepar183, mereka mengembangkan perdagangan timah dan

183
Pulau ini terletak di ujung timur selatan Pulau Bangka, berdekatan dengan
Toboali (kota terpenting di daerah itu).

Universitas Indonesia
258

memperkuat pertahanan daerahnya. Pada awal Agustus 1820, Raden Ali bersama-
sama dengan Panglima Raja menyerang Batu Rusa (tempat gudang-gudang
amunisi Belanda) dengan mengerahkan 1500 orang. Letnan Guichard dan
pasukannya tidak mampu menghadapinya, sehingga mundur ke muara Kwalla.
Tindakan tersebut sangat disesalkan oleh Keer. Dalam pertempuran itu dua belas
orang pasukan Belanda terluka. Dari Batu Rusa, armada Raden Ali menyusuri
sungai sampai kampung Ayer Dingin. Di sana mereka bergabung dengan pasukan
setempat dan menjarah serta membakar kampung tersebut. Tindakan itu untuk
menghindarkan daerah tersebut dimanfaatkan oleh pasukan Belanda setelah
mereka tinggalkan. Selanjutnya, Raden Ali dan Raden Kling terus mengobarkan
perlawanan terhadap Belanda di berbagai daerah di pulau itu (ANRI, Bundel
Palembang No. 67).
Sementara itu, Nieri kembali bergolak. Untuk menumpas perlawanan
tersebut, Letnan Kolonel Keer bersama-sama dengan Kapten Letnan Dibbetz
(komandan armada perairan Bangka-Palembang) mengerahkan semua armada
untuk mendudukinya. Keer juga tengah merancang penyerangan terhadap Pulau
Lepar yang menjadi pusat kedudukan Raden Kling dan Raden Ali, dan Pulau
Belitung. Akan tetapi, mereka tidak memiliki armada yang memadai. Sehubungan
dengan itu, Keer meminta bantuan kepada pemerintah pusat di Batavia, namun
pemerintah di sanaa tidak dapat memenuhinya, karena tengah memfokuskan diri
untuk ekspedisi ke Palembang. Di pihak lain, distrik Pangkal Pinang kembali
diserang oleh pasukan gabungan Bangka dan bajak laut. Begitu pula daerah
Marawang dan Koba menjadi semakin kuat setelah dimasuki oleh kelompok Batin
Barin dan Tusin. Pasukan Belanda berusaha keras merebut kembali daerah-daerah
itu, namun gagal. Akhirnya, Keer mengubah strategi, yaitu melalui Pulau Lepar
melancarkan serangan besar-besaran ke Toboali terus ke Nieri dan Ketia. Pada 6
September 1820 Keer dan pasukannya sampai di Sungai Liat terus bergerak ke
Marawang. Akan tetapi, setiba mereka di sana ternyata daerah tersebut telah
ditinggalkan oleh pasukan Bangka. Untuk mempertahankan daerah tersebut, Keer
mempersenjatai para kuli tambang Cina, sebagaimana dilakukannya di Pangkal
Pinang. Sementara itu, kelompok Batin Barin yang mundur dari Marawang,

Universitas Indonesia
259

bergerak ke daerah Mendara yang merupakan tempat tinggal Batin Barin184.


Setelah mengetahui posisi Batin Barin, Keer mengirimkan dua pasukan, masing-
masing dipimpin oleh Kapten Le Sean dan Kapten Weinrich berkekuatan
sembilan puluh orang serdadu Eropa, seratus orang Cina dan tiga puluh orang
pribumi185. Kedua kubu berlawanan saling berhadapan di Mendara pada 17
September 1820. Dalam pertempuran itu pasukan Belanda berhasil mendesak
musuhnya, sehingga Batin Barin membawa pasukannya mundur, sambil terus
melakukan perlawanan secara sporadis di jalur antara Manka dan Jemun (ANRI,
Bundel Palembang No. 67).
Sesuai rencana sebelumnya, pada 21 September 1820 Keer mengerahkan
dua kapal meriam, tiga kapal layar, dan sembilan perahu milik Raja Akil untuk
menaklukkan Raden Kling di Toboali dan Pulau Lepar. Selat Lepar yang sempit
ditambah pertahanan Raden Kling yang kuat, menyulitkan armada Belanda untuk
mengejar perahu-perahu Raden Kling yang bekerjasama dengan para bajak laut.
Benteng Raden Kling sendiri tersembunyi di dalam hutan. Untuk menaklukkan
pertahanan tersebut, pasukan Belanda harus menyusuri jalur yang sempit. Di sisi
lain, Raja Akil juga mengerahkan pasukannya menyerang dari arah yang berbeda.
Strategi itu cukup berhasil memaksa pasukan Bangka mundur. Akan tetapi,
Belanda tetap belum berhasil melumpuhkan perlawanan Raden Kling. Pasukan
Belanda hanya berhasil menduduki Toboali. Untuk memperkokoh posisi Belanda
di sana, mereka mendirikan benteng di bawah pengawasan Van Waey.
Pembangunannya melibatkan tiga ratus orang serdadu selama lima belas bulan.
Selama pembangunan tersebut, mereka tiga kali mendapat serangan dari orang-
orang Bangka186. Semua serangan itu berhasil dipatahkan oleh serdadu Belanda.
Perlawanan rakyat Bangka selanjutnya dipusatkan di Sungai Nieri. Terjadi
serangan besar-besaran dari pasukan Bangka terhadap pasukan Belanda. Untuk
menghadapi serangan tersebut, pihak Belanda mengerahkan kapal sekoci, kapal
184
Pusat perlawanan rakyat Bangka dalam sekejap berpindah-pindah dan terus
melanjutkan perjuangan melawan kolonial Belanda (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
185
Dalam pertempuran itu, terdapat dua orang serdadu pribumi yang dianggap
menonjol dalam pasukan Belanda yaitu Letnan Wongso dan serdadu Sidin (ANRI, Bundel
Palembang No. 67).
186
Serangan pertama dari pasukan Bangka berkekuatan 42 orang, serangan berikutnya
sebanyak 56 orang dan yang terakhir 70 orang (Waey, 1875: 111-112).

Universitas Indonesia
260

layar dan kapal meriam nomor 1, serta meriam-meriam di bawah pimpinan Letnan
Laut Tarup. Pada awal Oktober 1820 Keer mulai bergerak memimpin pasukan
menuju Koba dan Selat Lepar. Penyerangan tersebut menyebabkan pasukan
Bangka mundur. Kubu-kubu pertahanan mereka diduduki dan dibakar oleh
pasukan Belanda (Waey, 1875: 112).
Dalam pelayaran di sekitar Pulau Tinggi (pusat pertahanan Raden Kling
setelah mundur dari Toboali), pasukan Belanda dihadang oleh kapal-kapal milik
Raden Kling, sehingga terjadi pertempuran. Dalam pertempuran itu, Pasukan
Belanda memilih untuk mundur, guna menyusun kekuatan yang lebih besar.
Selanjutnya, Keer mengerahkan dua pasukan yang masing-masing dipimpin oleh
Raja Akil dan Kapten Van der Wijck. Tugas mereka adalah menemukan dan
menghancurkan pusat pertahanan Raden Kling di daerah Pulau Tinggi. Pada 10
Oktober 1820 pasukan Belanda menyerbu dari dua sisi, yaitu sisi darat dipimpin
Van der Wijck, sedangkan Raja Akil dari sisi rawa dan sungai. Raden Kling
menyambut serangan itu dengan mengerahkan tiga ratus orang serdadu yang
dilengkapi dengan senjata meriam dan lila. Dalam pertempuran itu pasukan
Raden Kling terdesak dan mundur ke arah sungai. Di sana mereka diserang secara
bersamaan oleh pasukan Kapten Van der Wijck dan Raja Akil. Dalam
pertempuran itu Raden Kling dan pengikutnya terbunuh, sedangkan di pihak
Belanda lima orang yang terbunuh dan sepuluh orang terluka, termasuk Kapten
van der Wijck dan Letnan-1 de Fruy. Setelah itu, pada 11 Oktober 1820 Keer
menduduki Toboali. Agar pendudukan Belanda di sana permanen, Keer
menempatkan kapal Zwalluw, kapal layar Yohanna dan kapal meriam nomor I. Di
samping itu, kekuatan pertahanan Belanda di Toboali diperkuat dengan tambahan
anggota pasukan sebanyak 450 orang serdadu (ANRI, Bundel Palembang No. 67;
Waey, 1875: 112).
Sepeninggal Raden Kling, perlawanan diteruskan di Nieri di bawah
pimpinan Batin Ganing. Sebelumnya Batin Ganing telah mendapat limpahan
wewenang dari Raden Kling. Akan tetapi, setelah wafatnya Raden Kling,
sebagian besar pengikut Batin Ganing meninggalkannya ( Oktober 1820). Dalam
kondisi demikian, Batin Ganing memerintahkan agar semua meriam
ditenggelamkan ke dalam sungai. Selanjutnya, Batin Ganing bersama sisa-sisa

Universitas Indonesia
261

pengikutnya (orang-orang Bangka dan Palembang) melarikan diri ke hutan untuk


menyusun kekuatan. Agaknya, setelah mundurnya kelompok Batin Ganing,
pasukan Belanda tidak menduduki Nieri. Kondisi itu memberi peluang kepada
orang-orang Bangka untuk mendudukinya kembali. Sementara itu, Sultan
Badaruddin II mendukung usaha balas dendam atas kematian Raden Kling di
bawah pimpinan Raden Badar (saudara Raden Kling). Sultan mempersenjatai
Raden Badar dengan lima puluh perahu pada akhir November 1820. Di sana tiga
kekuatan bersatu, yaitu pasukan Raden Badar, Raden Ali, dan Batin Ganing.
Tindakan pertama yang mereka lakukan adalah mempertahankan Nieri dan
Bangka Kotta. Untuk memperbesar kekuatannya, mereka berhasil menggalang
dukungan dari penduduk, sehingga mencapai jumlah empat ratus orang. Selain
itu, mereka juga membangun kubu pertahanan yang dikelilingi pagar setinggi 15-
16 kaki dan jalan-jalan rahasia187. Jalan-jalan rahasia itu berfungsi untuk
memudahkan penyerangan dan jalur mundur apabila dalam keadaan terdesak.
Langkah lain yang diambil adalah, Raden Ali berangkat ke Lingga dan pulau-
pulau sekitarnya untuk meminta dukungan penduduk setempat. Hasilnya, Raden
Ali mendapat bantuan sebanyak tiga puluh perahu. Dengan kekuatan gabungan,
mereka menduduki Koba. Berita tentang pendudukan daerah-daerah tersebut
diterima Keer di Muntok pada 20 Desember 1820. (ANRI, Bundel Palembang No.
67).
Melihat kondisi yang ada, Letnan Kolonel Keer berpendapat bahwa
langkah yang harus segera diambil adalah memperkuat Toboali karena posisinya
sangat strategis. Selain itu, Toboali juga penting dalam rangka mengawasi Pulau
Lepar yang merupakan basis kekuatan Raden Ali. Untuk itu, Keer mengirimkan
satu kapal meriam, dua kapal pengangkut dan delapan perahu ke Toboali.
Sementara itu, pada pagi hari 24 Desember 1820 benteng Belanda di Toboali
diserang oleh sembilan perahu oleh pasukan Bangka. Dalam penyerangan itu
mereka mengobarkan semangat dengan membawa bendera Raden Ali, sambil
diiringi musik tradisional Bangka. Pasukan Bangka itu dihadang oleh pasukan

187
Jalan-jalan rahasia itu ditemukan oleh pasukan Belanda atas petunjuk Batin
Lojo (mata-mata Belanda) pada akhir 1820. Dengan ditemukannya jalan-jalan rahasia
tersebut memudahkan pasukan Belanda menyerang kubu-kubu pertahanan rakyat
Bangka secara tiba-tiba dan menghancurkannya (ANRI, Bundel Palembang No. 67).

Universitas Indonesia
262

Letnan de Vries dengan kekuatan tiga kanon berukuran delapan pon. Dalam
kontak senjata itu pasukan yang dipimpin de Vries lebih unggul, sehingga pasukan
Bangka mundur. Setelah mundur, dengan cepat pasukan Bangka menyerang balik
dari dua sisi yaitu barat dan selatan. Serangan armada Bangka dari arah selatan
berhasil mereka bendung, sedangkan serangan dari barat tidak mampu mereka
patahkan. Akibatnya, untuk kesekian kalinya pasukan Belanda harus mundur.
Selang beberapa saat kembali terjadi pertempuran di Ujung Benteng. Pada
pertempuran itu pihak Belanda memperoleh kemenangan. Dalam pertempuran itu
kedua pihak mengalami banyak kerugian dengan banyaknya korban yang tewas
dan luka-luka (ANRI, Bundel Palembang No. 67).
Menyerang dan mundur, merupakan strategi yang sangat ampuh untuk
menghancurkan lawan dalam medan yang sebagian besar adalah perairan yang
mengandalkan armada. Tanpa semangat juang yang tinggi dan keahlian
mengendalikan perahu-perahu serta kelihaian memainkan senjata, sulit terjadi
pertempuran yang begitu dahsyat. Meskipun demikian, kedua pihak telah
menunjukkan kehebatan masing-masing. Tampaknya, kalah dan menang
merupakan hal biasa dalam peperangan antara kedua kubu. Meskipun akhirnya
perlawanan pihak Bangka harus berakhir.
Keberhasilan menguasai Bangka selatan yang merupakan pusat pertahanan
Raden Kling dan Raden Ali, adalah suatu kemenangan besar bagi pasukan
Belanda. Kemenangan itu memberi mereka motivasi untuk terus mendesak
perlawanan rakyat Bangka. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan segala
kebutuhan untuk menyerang pusat pertahanan Batin Barin188 di Nieri.
Penyerangan mulai dilancarkan pada akhir Desember 1820, di bawah pimpinan
Kapten Le Jean. Penyerangan itu melibatkan 86 orang serdadu. Dalam perjalanan
mendekati Nieri mereka menemukan jalan-jalan rahasia atas petunjuk Batin Lojo
(batin yang memihak Belanda). Ternyata, jalan-jalan rahasia itu membawa
mereka pada kubu-kubu pertahanan rakyat Bangka. Akibatnya, mereka dengan
mudah menaklukkan kubu-kubu pertahanan tersebut, dengan melakukan serangan
secara tiba-tiba. Selanjutnya, pasukan Belanda terus bergerak ke Nieri. Terjadi

188
Raden Badar, Raden Ali, dan Batin Ganing, bersama dengan pasukannya
masing-masing menggabungkan diri dengan pasukan Batin Barin.

Universitas Indonesia
263

pertempuran dahsyat di sana. Dalam pertempuran itu pasukan yang dipimpin oleh
Kapten Le Jean berhasil mendesak pasukan gabungan Bangka, dan mereka
mundur ke hutan-hutan. Agar senjata-senjata yang ditinggalkan oleh pasukan
Bangka tidak dapat mereka gunakan kembali, Le Jean memerintahkan untuk
melemparkan semua senjata ke dalam sungai. Pasukan belanda juga membakar
kubu pertahanan di Nieri dan tiga puluh rumah di komplek itu. Dari Nieri, Kapten
Le Jean bergerak ke Mudon. Di sana ia memerintahkan pasukannya untuk
menebang pohon-pohon buah dan membakar rumah-rumah serta kubu-kubu
pertahanan yang ada di kampung itu. Semua itu dilakukan agar orang-orang
Bangka tidak menguasai lagi daerah itu, karena tidak ada lagi penghidupan di
sana. Dari Mudon pasukan Belanda bergerak ke Koba dan tiba di sana pada 30
Desember 1820. Kembali terjadi pertempuran di Koba, dalam pertempuran
tersebut, pasukan Bangka harus mengakui keunggulan pasukan Belanda (ANRI,
Bundel Palembang No. 67).
Sejak pasukan Bangka dapat dikalahkan pasukan Belanda di bagian timur
pulau itu, tidak ada lagi peristiwa penting yang menyangkut perlawanan rakyat di
sana. Raden Ali dan kelompoknya terpaksa menyerahkan diri kepada pemerintah
Belanda. Ia dan anak buahnya dipekerjakan dalam dinas pemerintahan Belanda
dengan gaji f100, satu koyang beras, dan setengah koyang garam per bulan.
Mereka ditempatkan di Pulau Lepar (pusat pertahanan Raden Ali sebelum
menyerah) dengan pengawasan ketat. Mereka ditugaskan untuk membersihkan
pulau itu dari semak belukar. Meskipun demikian, perlawanan rakyat Bangka
secara sporadis tetap ada. Hal itu terbukti dengan ditemukannya beberapa orang
Eropa yang menjadi korban di pulau itu. Masalah lain yang senantiasa
mengkhawatirkan orang-orang Eropa di Bangka adalah gangguan kesehatan. Dari
tiga ratus orang serdadu Belanda di Toboali di bawah pimpinan Kolonel Du
Perron, hanya delapan orang yang sehat. Dalam kurun waktu tujuh bulan
sebanyak tiga puluh orang dari kesatuan artileri meninggal189. Seiring dengan

189
Kondisi itu terus berlangsung sampai beberapa tahun kemudian, terbukti
hanya dalam waktu empat belas hari 150 orang sakit demam, satu orang meninggal
dunia. Penyakit tersebut menjadi kendala bagi pemerintah Belanda di sana. Untuk itu,
Komisaris Sevenhoven membawa obat-obatan dari Batavia untuk mengobati penyakit
tersebut (The Asiatic Journal Vol.17, 1824: 361).

Universitas Indonesia
264

pulihnya keamanan di Pulau Bangka, jumlah garnizun dikurangi (ANRI, Bundel


Palembang No, 197; The Asiatic Journal Vol.17, 1824: 361).
Setelah Belanda berhasil menguasai Pulau Bangka, Komisaris Jenderal
van den Bosch menyarankan untuk membangun pertahanan di pedalaman pulau
itu. Hal itu dimaksudkan agar dari basis pertahanan itu pasukan Belanda dapat
melakukan penyerangan dan mengusai wilayah itu. Belanda berkepentingan untuk
menguasai Pulau Bangka, karena secara ekonomi (timah dan lada) daerah itu
meguntungkan Belanda. Oleh karena itu, Belanda harus melindungi dan
mengeksploitasi Pulau Bangka dengan sebaik-baiknya (ANRI, Bundel Palembang
No. 4, 1971: 103-104). Selanjutnya, Belanda dapat menegakkan keamanan dan
ketertiban di Pulau Bangka setelah Kesultanan Palembang dapat diamankan
dengan dibuangnya Sultan Badaruddin II dan pengikutnya ke Ternate.

5.6 Persiapan Menghadapi Perang Palembang (1821)

Kemenangan kedua dalam perang melawan Belanda dirayakan besar-besaran di


Palembang. Di ibu kota Palembang, Sultan memerintahkan untuk menyembelih
empat puluh ekor kerbau, ditambah itik dan ayam yang jumlahnya mencapai
ratusan ekor. Semua bergembira, ditandai pertunjukan permainan adat bahari dan
menabuh gamelan selama tujuh hari tujuh malam. Pada kesempatan itu juga
Sultan menyerahkan hadiah berupa uang dan pesalin (pakaian) kepada orang-
orang yang terlibat dalam peperangan melawan Belanda.
Dalam rangka ekspedisi yang kedua menaklukkan Kesultanan Palembang,
pemerintah kolonial Belanda menempuh berbagai cara agar tujuan tersebut
berhasil. Belanda memetik pelajaran dari dua kali kegagalan yang dideritanya
dalam perang 1819 yang diputuskan secara tergesa-gesa. Oleh karena itu, Belanda
dengan cermat mempersiapkan diri dan merancang suatu penyerangan agar
mampu memukul kekuatan pertahanan Palembang. Untuk itu, para pemimpin
Belanda menyiapkan pimpinan pemerintahan yang nantinya siap menggantikan
Sultan Badaruddin II, apabila Kesultanan Palembang berhasil ditaklukkan.
Mereka mempertimbangkan dengan cermat semua kebijakan yang akan
dilaksanakan dalam rangka menghadapi Palembang pascajatuhnya Sultan

Universitas Indonesia
265

Badaruddin II. Belanda mempertimbangkan apakah daerah Kesultanan Palembang


yang ditaklukkan itu akan ditempatkan di bawah pemerintahan Eropa atau apakah
Belanda akan memanfaatkan penguasa tradisional (sultan dan kerabatnya) dalam
rangka memberikan bimbingan dalam menjalankan pemerintahan di kesultanan
itu. Menurut versi Belanda, pemerintahan yang dimaksud adalah suatu
pemerintahan yang mampu menghentikan penindasan dan penyalahgunaan
kekuasaan yang dilakukan oleh sultan Palembang khususnya mengakhiri
perampokan dan perdagangan manusia. Penegakan pemerintahan yang mampu
mengakhiri perampokan dan perdagangan manusia di wilayah itu (ANRI, Bundel
Palembang No. 5.1).
Alasan perampokan dan perdagangan manusia, serta berbagai penindasan
terhadap penduduk merujuk peristiwa yang terjadi pada 1817—1818 di bawah
pemerintahan Sultan Najamuddin II. Otomatis penggambaran itu tidak realistis,
karena selama berada di bawah pemerintahan Sultan Badaruddin II tidak
ditemukan bukti-bukti bahwa telah terjadi berbagai penyimpangan. Alasan
tersebut juga menggambarkan bahwa pemerintah Belanda menyamakan cara
memerintah Sultan Badaruddin II dengan Sultan Najamuddin II yang menindas
rakyat. Ini berarti, argumen yang digunakan semata-mata dari sudut pandang
pemerintah Belanda, demi melegalkan pendudukan yang akan segera mereka
wujudkan atas bumi Palembang.

Pengalaman Komisaris Muntinghe yang pernah bermukim dan bekerja di


uluan (Juli 1818-- Mei 1819) menjadi dasar bagi pemerintah Belanda. Mereka
memutuskan untuk memanfaatkan penguasa tradisional (sultan dan kerabatnya)
untuk menjalankan pemerintahan di Kesultanan Palembang. Hal ini berarti
penduduk Kesultanan Palembang tetap ditempatkan di bawah pimpinannya
sendiri, namun pelaksanaan pemerintahan itu harus dikendalikan oleh pemerintah
Belanda. Pilihan untuk memerintah Palembang jatuh kepada putera mahkota
Sultan Najamuddin II yaitu Prabu Anom. Terpilihnya Prabu Anom dengan
beberapa pertimbangan, antara lain, ia tidak terlibat dalam peristiwa pembunuhan
1811, menunjukkan sikap bersahabat terhadap Belanda, dan posisinya sebagai
putera mahkota yang mendapat dukungan dari Najamuddin II (Najamuddin II
berkeinginan agar keturunannya yang menjadi pewaris tahta di kesultanan itu. Ini

Universitas Indonesia
266

berarti, Sultan Najamuddin II bermaksud membuat dinasti baru dengan dirinya


sebagai penubuhnya). Tidak dipilihnya Najamuddin II untuk kembali memangku
jabatannya190 karena bagi Belanda dirinya lemah, baik secara fisik maupun
mental. Berdasarkan pengalaman para residen Belanda yang berkuasa di
Palembang pada kurun waktu 1816—1818, mereka sampai pada kesimpulan
bahwa Najamuddin II adalah orang tidak mampu memerintah dengan baik (ANRI,
Bundel Palembang No. 5.1; No. 4, 1971: 87; Bataviaasche Courant, 4 Agustus
1821).

Atas dasar berbagai pertimbangan tersebut, pada 28 April 1821 (25 Rajab
1236H) pemerintah Belanda mengadakan pertemuan dengan Sultan Najamuddin
II dan Prabu Anom. Pemerintah Belanda diwakili oleh anggota Dewan Hindia
Ranier Dozy dan Sekretaris Umum Pemerintah Christiaan Baud, sedangkan
Sultan Najamuddin II dan Pangeran Prabu Anom191 yang mengatasnamakan
Kesultanan Palembang. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan antara kedua
belah pihak yang ditetapkan di Buitenzorg. Kesepakatan itu terdiri atas 52 pasal
yang disahkan oleh Gubernur Jenderal pada 28 April 1821. Pada pertemuan itu
Sultan Najamuddin II menyampaikan permintaan maaf atas semua kesalahannya
kepada pemerintah Belanda, dan mereka menerima permintaan maaf tersebut.
Pada hari itu Sultan Najamuddin II dan puteranya Prabu Anom menandatangani
kontrak yang memuat antara lain:

1) Kekuasaan sultan (sesuai Kontrak 23 Juni 1818) dipulihkan dan


kedudukannya akan dilindungi, serta wajib mematuhi semua ketentuan
yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda.

190
Di mata pemerintah Belanda, Sultan Najamuddin II tidak pernah diturunkan
dari tahta, dia hanya tidak difungsikan. Dengan demikian, dikembalikannya Sultan
Najamuddin II ke Palembang adalah pencabutan hukuman atas dirinya, yang berarti
kedudukan itu akan dengan mudah diperolehnya kembali, namun pada kenyataannya
pemerintah Belanda berkehendak lain yaitu menempatkan Najamuddin II sebagai
susuhunan (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1)
191
Prabu Anom adalah Pangeran Ratu (putera tertua) dari Sultan Najamuddin II.
Sultan memberi gelar Prabu Anom pada tertuanya karena pada waktu itu sudah ada
Pangeran Ratu yaitu putera tertua dari Sultan Badaruddin II (The Asiatic Journal Vol.17
1824: 32).

Universitas Indonesia
267

2) Sultan Najamuddin II mendapat gelar susuhunan (Susuhunan Husin


Dhiauddin) dan mendapatkan penghasilan dari beberapa daerah sesuai
dengan permintaannya. Selanjutnya, Sultan hidup terpisah dan tidak
mencampuri urusan pemerintahan karena hanya memusatkan perhatian
pada bidang keagamaan.
3) Prabu Anom diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Ahmad
Najamuddin III, dan Sultan wajib mematuhi kontrak dengan Belanda.
4) Semua penghasilan yang diperoleh dari bumi Palembang tetap menjadi
milik Sultan. Sultan berhak memungut pajak yang besarnya akan
ditentukan kemudian. Rakyat Palembang bebas bekerja dan menikmati
hasil jerih payah mereka.
5) Pemerintah Belanda mengendalikan ekspor-impor, melakukan
pemborongan berbagai komoditi perdagangan dan menarik pajak berlabuh,
pajak lewat, pajak pelabuhan, dan penjualan candu dan garam.
6) Hukum ditegakkan, pemerintah Belanda berhak mengetahui pelaksanaan
pengadilan tradisional di Palembang melalui laporan residen.
7) Melarang perdagangan budak dan perampokan, khususnya di daerah
perbatasan Bengkulu dan Lampung, sedangkan budak yang sudah dimiliki
wajib dipelihara.
8) Tibang-Tukong dihapuskan, sebagai gantinya Sultan diperbolehkan
mendapatkan sebagian (maksimal 2/3 hasil) hasil panen kopi, gambir,
rotan, dan tanaman penduduk lainnya.
9) Sultan dilarang memiliki persenjataan militer, kecuali untuk kepentingan
upacara (tembakan kehormatan). Pusaka keraton diserahkan kepada
Sultan.
10) Akan dibangun benteng pertahanan, rumah residen, rumah pejabat dan
garnizun, yang pelaksanannya akan dilakukan bersama-sama dengan
Sultan.
11) Sultan Najamuddin III wajib membantu pemerintah Belanda, apabila
bermaksud untuk membangun benteng di Komering atau di lokasi-lokasi
lainnya.

Universitas Indonesia
268

12) Semua ketentuan di atas, akan akan menjamin hak-hak Susuhunan dan
Sultan, serta penduduk Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No.
4, 1971: 89-90; Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821; Veth, 1869: 655).
Penyerahan kekuasaan kepada putera mahkota, sebagaimana yang diterapkan pada
waktu itu, bukan hal baru bagi Kesultanan Palembang. Sesuai dengan tradisi yang
berlaku di sana, disebutkan bahwa jika seorang sultan sudah tua atau karena
berbagai alasan lainnya, sultan akan menyerahkan kekuasaan kepada penerusnya
yaitu putera mahkota (Pangeran Ratu) yang sudah dewasa192, sedangkan dirinya
menyandang gelar Susuhunan (yang dipuji atau ditaruh di atas kepala). Jadi,
susuhunan adalah orang yang dijunjung atau dimuliakan. Gelar itu dapat
disamakan dengan ―orang tua‖, namun, pengaruhnya masih sangat besar. Pada
masalah penting posisi susuhunan masih kuat dan sultan hanya sebagai pelaksana
dari perintah-perintah susuhunan.193 (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6;
Moedjanto dalam Antlov& Sven Cederrotl, 2001:x).
Dengan demikian, pengaruh susuhunan atas penduduknya tidak berubah.
Apabila tidak ada perubahan, otomatis tidak ada perubahan dalam pemerintahan.
Dengan adanya jabatan susuhunan, jabatan sultan mirip dengan perdana menteri.
Jadi jabatan susuhunan lebih penting di mata penduduk dari pada sultan. Seorang
raja yang bergelar susuhunan lebih besar kekuasaan dan pengaruhnya
dibandingkan jabatan raja disebut sultan, sedangkan kekuasaannya diserahkan
kepada seorang pangeran. Dalam kaitannya dengan Kesultanan Palembang,
Sultan Najamuddin II menduduki posisi sebagai susuhunan, sedangkan jabatan

192
Pangeran Ratu memiliki simbol-simbol seperti perahu, payung, dayung dan
sebagainya. Setelah menjadi sultan, simbol-simbol itu tetap dimilikinya. Jadi, sesungguhnya sultan
masih memiliki kedudukan seperti putra mahkota. Sebagai orang buangan, simbol-simbol tersebut
tidak dimiliki oleh Pangeran Ratu Perabu Anom, maka yang dipakai adalah makna dari perubahan
gelar tersebut (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6).

193
Hal itu dapat dibuktikan pada saat Sultan Badaruddin II mengangkat
Pangeran Ratu sebagai sultan pascakemenangan melawan Belanda yang kedua (1819).
Akan tetapi, pada kenyataannya semua keputusan tetap berada di bawah kendali sultan.
Sumber-sumber luar tidak satu pun yang menyebutkan Sultan Badaruddin II
menyerahkan posisinya kepada Pangeran Ratu, kecuali Wolters dalam disertasinya.
Penyerahan kekuasaan dari Sultan Najamuddin II kepada Prabu Anom yang termaktub
dalam kontrak yang ditandatangani di Bogor April 1821, dalam pelaksanaannya
kekuasaan tetap berada di bawah kendali Susuhunan Husin Dhiauddin sampai ia dibuang
pada 1824.

Universitas Indonesia
269

sultan harus diberikan kepada Prabu Anom dengan gelar Sultan Ahmad
Najamuddin III Prabu Anom (disingkat Sultan Najamuddin III) sebagai putera
tertua. Jika ada kebijakan lain, maka kebijakan itu dianggap tidak adil dan
menyimpang dari pola umum (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6).
Setelah urusan dengan Sultan Najamuddin II dan Prabu Anom selesai,
fokus perhatian pemerintah Belanda di Batavia tertuju kembali pada usaha
mengakhiri kekuasaan Sultan Badaruddin II. Pemerintah Belanda menyadari
kekuatan dan kebesaran Sultan Badaruddin II. Di mata pemerintah Belanda,
Sultan Badaruddin II merupakan sosok yang tegas dalam menjalankan kekuasaan.
Dalam usaha melakukan ekspedisi kedua, pemerintah pusat di Batavia
memandang perlu adanya sosok lain untuk mengimbangi atau untuk mengalihkan
perhatian rakyat Palembang terhadap Sultan Badaruddin II. Pihak Belanda tidak
memiliki banyak pilihan. Mereka memutuskan untuk melibatkan Sultan
Najamuddin II yang berada dalam pengasingan di daerah Cianjur. Sultan
Najamuddin II dijadikan sebagai imbangan terhadap saudaranya Sultan
Badaruddin II (Kielstra, 1892:98).

Untuk mewujud hal tersebut, Muntinghe melakukan kunjungan ke Cianjur


untuk menemui Pangeran Wiradikrama (kerabat dekat Najamuddin II). Pangeran
itu di mata Muntinghe adalah orang yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung
misi Belanda. Dalam kunjungan itu Muntinghe berhasil mempengaruhi Pangeran
Wiradikrama, dan pangeran itu berkenan terlibat dalam rencana ekspedisi.
Menurutnya, pilihan terhadap Sultan Najamuddin II sangat besar pengaruhnya,
karena seluruh penduduk masih setia kepada Sultan Najamuddin II. Selain itu,
Najamuddin II juga memiliki banyak kerabat yang dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan Belanda dan Najamuddin II sendiri. Lebih lanjut, pangeran itu
menjelaskan bahwa perubahan status Sultan Najamuddin II dari sultan menjadi
susuhunan tidak menjadi masalah bagi Kesultanan Palembang (ANRI, Bundel
Palembang No. 47.6; Woelders, 1975: 131). Nantinya Pangeran Wiradikrama
pada masa peperangan menjadi utusan Belanda, dalam perundingan dengan pihak
Kesultanan Palembang. Ia juga menjadi narasumber bagi kepentingan Belanda
guna mengetahui seluk beluk tentang Kesultanan Palembang. Pemanfaatan
Pangeran Wiradikrama adalah strategi memanfaatkan ―orang dalam‖ keraton

Universitas Indonesia
270

untuk menghancurkan Kesultanan Palembang: suatu satrategi tua yang tetap


relevan untuk dimanfaatkan.

Muntinghe juga mengunjungi Sultan Najamuddin III. Sultan Najamuddin


III ingin terlibat dalam rombongan ekspedisi ke Palembang194. Dia masih
menunjukkan dendamnya terhadap Sultan Badaruddin II. Pada kesempatan itu,
kembali Najamuddin II menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah dalam
perundingan dengan Bengkulu (1818). Sebagai tanda pulihnya kepercayaan
pemerintah Belanda kepada Sultan Najamuddin II, ia diperkenankan untuk
memakai lambang kekuasaannnya yaitu keris. Akan tetapi, izin itu setiap saat
dapat ditarik kembali, apabila kondisinya tidak memungkinkan. Pemerintah
Belanda memberikan dana pensiun kepada Sultan Najamuddin II sebesar lima
puluh real per bulan. Muntinghe juga menyarankan berbagai hal sehubungan
usaha penaklukan Palembang. Muntinghe, Bupati Buitenzorg dan Sukapura,
Residen Pekalongan dan Adipati Tegal mengusulkan agar beberapa ningrat Jawa,
antara lain Raden Aria Cakranegara, kerabat Kyai Adipati Semarang, para priyayi
bawahan bupati Tuban, Bangil, patih Pasuruan, Besuki dan Panarukan untuk
ditempatkan di Palembang pascapendudukannya (ANRI, Bundel Palembang No.
66.7). Begitu banyak rancangan yang disusun oleh pemerintah Belanda, tetapi
apakah semua itu terwujud tidak diperoleh informasi lebih lanjut. Upaya
Muntinghe untuk mengisi birokrasi pemerintahan di Palembang terkait dengan
keinginan pemerintah kolonial Belanda untuk mengubah sistem pemerintahan di
kesultanan itu.

Pihak Belanda juga meningkatkan persiapannya, dengan menambahkan


empat puluh sampai lima puluh perahu pangayap, seratus perahu cunia dan
perahu-perahu mayang. Semua perahu difungsikan untuk mengawal armada
Belanda di sayap kiri dan kanan. Perahu cunia khusus untuk mengangkut para
serdadu. Perahu-perahu itu sangat berperan penting dalam menyukseskan
peperangan di Palembang, karena sebagian perairan Sungai Musi dangkal (ANRI,
Bundel Palembang No. 47.6). Kegigihan Belanda dalam merencanakan dan

194
Dalam rencana ekspedisi akan dilibatkan pula dua Prabu Anom yaitu
Pangeran Jayadiningrat dan Pangeran Jayawikrama (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6).

Universitas Indonesia
271

menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya menaklukkan


Kesultanan Palembang. Hal itu tidak terlepas dari pengalaman mereka dalam dua
kali perang melawan penduduk Palembang. Oleh karena itu, pasukan Belanda
terus memperbaiki diri demi suksesnya peperangan tersebut.
Bagi Kesultanan Palembang kemenangan yang kedua dalam tahun yang
sama (1819), semakin menumbuhkan kebanggaan dan semangat juang yang tinggi
pada seluruh rakyat Palembang. Setelah eforia kemenangan dalam perang
melawan Belanda pada Oktober 1819, Sultan Badaruddin II segera memperkuat
pertahanan wilayahnya. Sultan Badaruddin II menyadari bahwa pemerintah
kolonial Belanda tidak akan pernah tinggal diam ―menikmati kekalahan‖ dari dua
kali kalah dalam perang melawan Kesultanan Palembang. Palembang juga
menghadapi masalah berat yaitu blokade muara Sungai Musi yang telah
berlangsung sejak Juni 1819.
Kesiapan Kesultanan Palembang menghadapi kehadiran armada Belanda
di wilayahnya terbukti dengan tidak terlihat lagi bekas-bekas kehancuran akibat
perang 1819. Keraton sultan telah diperbaiki dan diperluas. Keraton dikelilingi
tembok yang sangat tebal dan kokoh serta dilengkapi dengan sekitar tujuh puluh
meriam berat. Di samping itu, Sultan juga memerintahkan untuk memperkuat
benteng-benteng yang sudah ada dan menyiapkan peralatan perang, memperbaiki
tonggak-tonggak antara Plaju dan Pulau Gombora. Tidak kalah penting adalah
menyediakan dalam jumlah besar mesiu dan peluru (ANRI, Bundel Palembang
No. 4, 1971: 86; Veth, 1869: 655; Woelders, 1975: 134). Berdasarkan pengakuan
serdadu Belanda yang terlibat dalam ekspedisi 1821 dapat diketahui bahwa
mereka tidak menduga bila ekspedisi kedua itu menuntut ketegangan yang lebih
besar dari dua perang sebelumnya. Walaupun Belanda telah menyiapkan kekuatan
yang jauh lebih besar, persiapan dan perlawanan dari rakyat Palembang jauh lebih
dahsyat dibandingkan sebelumnya. Rakyat Kesultanan Palembang membangun
pagar-pagar kayu di sebelah timur Salanama untuk menyulitkan lajunya armada
Belanda.

6.2 Perang Palembang 1821

Universitas Indonesia
272

Pada awal 1821 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk melakukan


ekspedisi yang kedua dari Batavia di bawah pimpinan Jenderal Mayor H.M. De
Kock. Menjelang keberangkatan, mereka melakukan parade siang dan malam di
jalan-jalan Batavia. Semua itu dilakukan sebagai maklumat dimulainya perang
dan memberi semangat kepada semua perwira dan serdadu yang terlibat dalam
ekspedisi. Dalam ekspedisi itu, armada laut ditempatkan guna menaklukkan
Kesultanan Palembang. Selanjutnya pada awal Mei 1821, pemerintah Belanda
menyiapkan kekuatan besar untuk diberangkatkan di bawah pimpinan Kapten
Laut Jhr. Lewe van Eduard, sedangkan pasukan darat di bawah pimpinan Letnan
Kolonel La Fontaine dan Kolonel Bischof (Bataviaasche Courant, 4 Agustus
1821; The Asiatic Journal, vol.10, September 1820; Veth, 1869: 655).
Pada tanggal 17 dan 18 Mei 1921 kapal fregat Van der Werf , kapal
perang Nassau dan beberapa kapal serta perahu lainnya memasuki Sunsang. Pada
20 Mei 1821 pasukan De Kock diperkuat dengan hadirnya kapal pengangkut
Henriette Elisabeth, yang membawa sebagian serdadu dari resimen ke-18 dan
resimen ke-25, Nieuwe Zeelust, Gezusters dan Elisabeth Johanna. Semuanya
berjumlah 6 (enam) kapal perang (Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821;
Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821). Dengan demikian, sejak minggu ketiga Mei
sebagian armada Belanda telah memasuki Sungai Musi.
Urut-urutan armada Belanda, adalah: formasi barisan terdepan terdiri atas
12 perahu ringan, masing-masing dipersenjatai dengan meriam ukuran 18 pon.
Kelompok ini dibagi dalam tiga bagian yang masing-masing dipimpin oleh Letnan
satu den Ende, Letnan satu Halewijn, dan Letnan dua Joly. Semuanya berasal dari
angkatan laut kerajaan. Dalam jarak setengah tembakan meriam dari barisan
pertama, diikuti kapal perang van der Werff, kapal layar Elisabeth Jacoba
(memuat Sultan Najamuddin III dan Susuhunan Husin Dhiauddin), kapal
pengangkut Nassau, korvet Ajax dan Zwaluwe. Selanjutnya, kapal-kapal
pengangkut yang dikawal oleh korvet Venus, Zeepaard dan kapal layar Sirene.
Kapal-kapal lain yang terlibat adalah Race Horse, Mercurij, Graaf Bulow,
Nieuwe Zealust, Admiraal Buijskes, Johanna (kapal pemimpin), Emerentia,
Schipman, Jessi, eendracht, Dageraad dan Koophandel. Kapal Admiraal Buijskes
dan Race Horse difungsikan sebagai rumah sakit, yang dipimpin oleh ahli bedah

Universitas Indonesia
273

kepala dari dinas angkatan laut Cornelissen dan ahli bedah Mayor van Racle. Di
dalam rombongan itu terdapat pula kapal-kapal Inggris yang disewa oleh Belanda
(Bataviaasche Courant, Sabtu, 4 Agustus 1821; Bataviaasche Courant, 11 Juli
1821; The Asiatic Journal, vol.10 September 1820).
Dalam pelayaran di Sungai Musi, pasukan Belanda menghadapi berbagai
kesulitan, antara lain, kondisi sungai yang sangat dangkal karena tengah musim
kemarau, sempit dan berkelok-kelok serta arusnya sangat deras menuju laut.
Kondisi tersebut menyebabkan gerak laju armada ekspedisi lambat. Akibatnya,
pada 26 Mei 1921 mereka baru berhasil mencapai ujung selatan Pulau Panjang.
Setelah itu, terus bergerak menyusuri Sungai Musi. Tiga hari kemudian armada-
armada itu berhasil melewati Pulau Kramat dan Pulau Singgries. Pada saat armada
mereka memasuki Kwala Upang, pasukan ekspedisi menemukan sepucuk meriam
yang digunakan untuk menembaki kapal perang Eendracht pada perang 1819
(ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No. 4, 1971: 86; Bataviaasche Courant, 4
Agustus 1821; Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821).
Dari Kwala Upang pada 1 Juni 1821 armada bergerak menuju Selat Jarang
dan berlabuh di sana. Sepekan kemudian mereka berhasil melampaui Pulau
Borang. Di pulau itu, De Kock melakukan pemantauan menggunakan perahu-
perahu ringan dan kapal rakit bersenjata. Utusan Susuhunan Husin Dhiauddin
juga diikutsertakan dalam pemantauan itu. Mereka adalah orang-orang
kepercayaan Susuhunan dari daerah di sekitar Sunsang. Mereka ditugaskan untuk
mencari informasi tentang ibu kota Palembang. Untuk menarik hati penduduk di
sepanjang aliran Sungai Musi yang mereka lalui, De Kock memberi hadiah
berupa garam dan beras. Pemberian hadiah itu dimaksudkan agar penduduk di
wilayah itu tidak menolak kehadiran pasukan Belanda, dan memberikan informasi
yang mereka butuhkan tentang pertahanan Kesultanan Palembang. Dalam
pemantauan itu De Kock menemukan sisa kubu pertahanan dalam perlawanan
Inggris (1812), ternyata, walaupun tidak digunakan lagi, tetap mampu
penghambat laju armada Belanda. Hal ini membuktikan bahwa benteng Borang
merupakan benteng terbesar dan terkuat pada waktu itu, yang dipersiapkan untuk
membendung ekspedisi Inggris. Selanjutnya, De Kock memerintahkan Letnan-1
Scheidius dan Lans dari angkatan laut untuk melakukan pemantauan pula

Universitas Indonesia
274

terhadap kawasan Pulau Salanama. Di sisi timur daerah itu terdapat tonggak-
tonggak kayu pertahanan yang disiapkan Sultan Badaruddin II untuk menghambat
laju armada Belanda. Pemantauan berhasil dengan baik, sehingga mereka dengan
mudah memasuki Sungai Musi. Pada petang 2 Juni 1921 armada ekspedisi
berhasil mendekati kubu-kubu pertahanan Palembang. Pada saat menjelang
malam kapal perang van der Werf dan beberapa kapal lainnya juga berhasil
berlabuh di depan kubu-kubu pertahanan tersebut. Sementara itu, kapal-kapal
lainnya baru berhasil berkumpul dengan kelompok kapal perang van der Werf
pada keesokan harinya (Bataviaasche Courant,11 Juli 1821).
Setelah sepekan berada di depan kubu-kubu pertahanan Palembang, pada
10 Juni 1821 De Kock berusaha merebut salah satu kubu pertahanan Palembang
dengan cara mengirimkan perahu bersenjata meriam ukuran enam pon.
Penyerangan itu berlangsung di bawah komando Kapten George dan Letnan laut
Michel. Selanjutnya, segera oleh pasukan yang dipimpin Letnan Laut Le Jeune
dan Letnan-1 van Geen mengikuti dengan menggunakan dua meriam berukuran
12 pon. Pendudukan itu berhasil dengan baik. Selanjutnya, Kolonel Bischoff,
Kolonel La Fontaine, Letnan Kolonel Taets van Amerongen, Riesz, Mayor
Cochius, dan Kapten Insinyur van der Wijck (ahli benteng) mengerahkan pasukan
infantri yang kuat menyusuri Sungai Plaju. Pada kesempatan itu mereka mencari
lokasi strategis untuk menempatkan meriam-meriam yang akan dimanfaatkan
untuk menyerang kubu pertahanan Palembang. Akan tetapi, usaha itu belum
berhasil, walaupun sudah berusaha selama tujuh sampai delapan jam. Usaha itu
dilanjutkan pada keesokan harinya, tampaknya penentuan lokasi meriam-meriam
menjadi begitu penting yang akan berpengaruh pada keberhasilan penyerangan.
Dalam upaya pencarian tersebut, tanpa sengaja mereka menemukan jalan berawa-
rawa yang dapat digunakan pasukan infantri untuk melakukan penyerangan.
Medan itu cukup berat, sehingga tidak memungkinkan bagi para serdadu
mengangkut senjata berat seperti meriam, namun jalur tersebut dapat dijadikan
jalur alternatif penyerangan (Bataviaasche Courant,11 Juli 1821; Bataviaasche
Courant, 4 Agustus 1821).
Pada 14 Juni 1821 De Kock memutuskan untuk melakukan serangan
penyerangan besar-besaran sejak malam hari, dengan melibatkan pasukan infantri

Universitas Indonesia
275

artileri dan pionir sebanyak tujuh ratus sampai 800 orang serdadu di bawah
pimpinan Kolonel Bischoff. Penyerangan itu dilancarkan dari belakang benteng
dan depan Tambakbaya melalui Sungai Komering. Di samping itu, penyerangan
dilancarkan dari arah depan. Penyerangan dari depan dipimpin Kapten Letnan
Kolonel Tieman bersama-sama dengan Letnan laut Pieke dan Letnan klas-2
Freudenberg. Mereka menggunakan kapal perang Dageraad. Sementara itu,
Letnan laut Le Jeune dan Willink melakukan pemantauan terhadap kekuatan
meriam-meriam Palembang. ,dengan menggunakan perahu dayung di antara
tonggak-tonggak yang dipasang oleh balatentara Palembang untuk menghambat
satuan musuh. Hasil pemantauan itu memudahkan De Kock untuk menentukan
posisi yang tepat bagi kapal-kapal yang akan melakukan penyerangan. Usaha itu
sangat besar pengaruhnya dalam menentukan langkah penyerangan, mengingat
tonggak-tonggak kayu itu adalah kubu pertahanan yang sangat sulit ditembus
sebagaimana terjadi pada perang 1819 (Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821). Dua
kali peperangan dengan Palembang memberi mereka pelajaran berharga, sehingga
mampu mengantisipasi setiap kemungkinan yang dapat menghambat penyerangan
mereka.
Sebagai pihak yang diserang, pasukan Palembang memperkuat pertahanan
dengan menempatkan perahu-perahu bersenjata di sepanjang Sungai Ogan dan
Sungai Musi. Keberadaan perahu-perahu bersenjata itu cukup efektif untuk
membalas gempuran dari armada Belanda. Kondisi itu memaksa De Kock
mengubah strategi perang dengan memerintahkan mundur sementara. Pada 17
Juni 1821 Kolonel Bischoff merealisasikan perintah itu dengan mundur selama 24
jam, sambil menunggu perintah lebih lanjut. Sehari sebelumnya kapal Emerentia,
kapal Schipman bergabung dengan armada De Kock, disusul kapal Jessi pada 17
Juni 1821. Semuanya mundur untuk memberi kesan kepada pihak Palembang agar
melakukan hal yang sama (Bataviaasche Courant,11 Juli 1821). Melihat armada
Belanda mundur, pasukan Palembang menghormatinya dengan melakukan hal
yang sama, sehingga sejak hari itu pertempuran reda.
Pada 20 Juni 1821 pertempuran meletus kembali. Kapal-kapal milik
Belanda menghantam dan menghancurkan kubu-kubu pertahanan Sultan
Badaruddin II di Gombora. Pada malam sebelumnya, pasukan Belanda sudah

Universitas Indonesia
276

mendekati tonggak-tonggak kayu dan bambu yang terdapat di depan Gombora.


Pagi hari pada 05.30, De Kock dan stafnya mengendalikan peperangan dari atas
kapal kapal Johanna, yang dipimpin oleh Letnan laut Scheidius. Kapal itu
didampingi sepuluh perahu di bawah komando Letnan laut klas-1 Buijs. Apa yang
dilakukan oleh armada dan serdadu Belanda, telah dirancang dengan baik agar
kemenangan segera diraih. Hal itu dapat dilihat dari kesiapan mereka melakukan
penyerangan. Dengan demikian, mundurnya armada Belanda pada 17 Juni 1821,
merupakan taktik untuk menyusun kekuatan yang lebih besar195. Menyadari
serangan gencar tersebut, kubu Palembang membalasnya pada 06.30. Akibatnya,
perang terjadi antara dua kubu yang berlawanan itu. Armada Belanda semakin
mendekati benteng terkuat Palembang yaitu Gombora. Usaha itu berhasil pada
08.00, delapan kapal meriam Belanda dan kapal-kapal lainnya sudah berada di
depan Gombora. Pasukan armada Belanda secara serentak menyerbu kubu
pertahanan tersebut. Penyerbuan itu merupakan pukulan besar bagi pasukan
Palembang. Akan tetapi, pasukan Palembang dengan gigih melakukan
perlawanan, sehingga tetap mampu bertahan. Pertempuran sengit itu tidak
membawa hasil seperti yang diinginkan oleh pemimpin pasukan Belanda. Akibat
gempuran pasukan Palembang, kapal Nassau196, Dageraad, van der Werff, dan
Zeepaard mengalami putus tali jangkar dan hanyut terbawa arus Sungai Musi
yang sangat deras. Hal tersebut mengakibatkan posisi kapal Nasau dan Dageraad
bergeser sehingga tidak mampu melindungi kapal perang van der Werff, sehingga
kapal itu banyak kehilangan serdadunya, begitupula kapal-kapal lainnya
(Bataviaasche Courant,11 Juli 1821).
Meskipun ada beberapa kapal Belanda yang hanyut dalam pertempuran
itu, pasukan Belanda berusaha tetap maju dan kembali pada posisi semula.
Menyadari banyaknya kerugian yang diderita dan menghindari angin yang

195
Pasukan Belanda diperkuat kapal Santa Maria dan tujuh perahu dibawah
pimpinan Raja Akil. Mereka bergabung dengan 300 orang serdadu infanteri, beberapa
orang serdadu artileri dan serdadu perintis yang dipimpin Letnan Kolonel Keer
(Bataviaasch Courant,11 Juli 1821).
196
Kapal Nassau paling parah kondisinya, badan kapal itu penuh lubang “bagai
ayakan” akibat tembakan pasukan Palembang dan sauhnya tenggelam. Nantinya sauh
itu ditempatkan di gudang penyimpanan garam di ibu kota Palembang (Woelders, 1975:
129).

Universitas Indonesia
277

kencang di perairan Sungai Musi, sehingga jangkar dan tali kapal sulit ditarik, De
Kock memutuskan untuk mundur. Keputusan itu dilakukan dalam rangka
mempersiapkan serangan berikutnya. Sore harinya pasukan Sultan Badaruddin II
berhasil menguasai kembali semua kubu pertahanannya. Dalam peperangan itu,
pasukan Belanda menderita banyak kerugian. Selain kerugian materi, pasukan
Belanda juga kehilangan serdadunya dengan terbunuhnya 46 orang, 55 orang luka
berat dan 42 orang luka ringan (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; No. 4, 1971:
86; Bataviaasche Courant,11 Juli 1821; Bataviaasche Courant, 4 Agustus 1821).
Keesokan harinya sejak pukul 03.00, pihak Belanda kembali melancarkan
serangan dengan kekuatan yang sudah jauh berkurang dibanding hari sebelumnya.
Hal yang sama juga dialami oleh laskar Palembang. Tembakan-tembakan meriam
dari benteng Gombora dan Plaju berkurang. Dengan kondisi demikan, kembali De
Kock terpaksa menarik pasukannya. Saat itu salah satu kapal meriam terjebak
pada tonggak-tonggak di Sungai Musi karena air surut. Akibatnya, kapal itu sulit
bergerak dan jatuh ke tangan laskar Palembang. Akan tetapi, kapal itu berhasil
direbut kembali oleh pasukan Belanda. Di sisi lain, laskar Palembang terus
menembaki kapal-kapal meriam milik Belanda. Untuk kesekian kalinya, armada
Belanda memutuskan mundur (Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821).
Pada 24 Juni 1821 kapal-kapal Belanda kembali mempersiapkan segala
keperluan untuk melanjutkan pertempuran. Sejak pukul 03.00 De Kock dengan
kapal Johanna dan armada lainnya bergerak mendekati kubu pertahanan
Palembang. Peperangan terjadi pada pukul 04.00. Setelah pertempuran
berlangsung sengit, pasukan Belanda berhasil merebut posisi dengan cepat.
Pendudukan itu merupakan keberhasilan pertama bagi kubu Belanda. Peperangan
terus berlanjut pada pukul 05.00-06.00. Setelah itu tembakan dari benteng
Gombora melemah. Melihat kondisi itu, De Kock memerintahkan Kolonel
Bischoff dan Letnan Kolonel Riesz (komandan artileri) untuk menggempur pusat
pertahanan itu. Empat puluh lima menit kemudian benteng Gombora berhasil
direbut pasukan Belanda. Letnan laut Le Jeune segera mengibarkan bendera
Belanda di pulau itu sebagai simbol bahwa daerah itu telah mereka kuasai. Dalam
pertempuran sengit hari itu, pihak Belanda mengalami kerugian sebanyak 29

Universitas Indonesia
278

orang serdadu terbunuh, 145 orang luka-luka (ANRI, Bundel Palembang No. 4,
1971: 86; Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821).
Langkah selanjutnya adalah menyerang kubu pertahanan Palembang di
Plaju di bawah komando Kolonel de La Fontaine dan Mayor de Leeuw, diikuti
Bischoff dan de Leeuw mengerahkan 10 kapal meriam di bawah pimpinan Letnan
Kolonel Laut Bakker. Mereka bergerak dari belakang Gombora untuk menyerang
Plaju. Armada Belanda bergerak perlahan melewati tonggak-tonggak pertahanan.
Setelah itu, kapal Venus, Ajax dan perahu-perahu mereka berhadapan langsung
dengan pasukan Palembang yang menembakkan meriam-meriam pantai. Pada
pertempuran itu pasukan Palembang berhasil melumpuhkan kapal perang Venus
dan Ajax. Pasukan Palembang juga mengerahkan rakit-rakit yang dibakar. Akan
tetapi rintangan itu berhasil ditangkis pasukan Belanda dengan perjuangan yang
berat. Sementara itu, pertempuran terus berlangsung (Bataviaasche Courant,11
Juli 1821).
Menjelang 09.00, kedua kubu mulai lemah, tembakan pasukan Palembang
dari benteng Plaju berkurang, begitu pula pasukan Belanda. Kapal van der Werf
dan Dageraad kekurangan amunisi, sehingga penyerangan dari kedua kapal itu
harus dihentikan. Menjelang pukul 10.00 posisi Kapal Dageraad yang strategis
bergeser akibat serangan pasukan Palembang. Perubahan posisi kapal itu
menyebabkan armada lainnya semakin tidak dapat dilindungi. Hal itu
menyebabkan gerakan pasukan Belanda menjadi terhambat. Walaupun demikian,
peperangan terus berlangsung. Tanda-tanda kemenangan pasukan Belanda mulai
tampak pada pukul 11.30 dengan berhasilnya Kolonel Bischoff memimpin
pasukannya menyerang meriam ke-4 (meriam terakhir, setelah sebelumnya
mereka berhasil melumpuhkan tiga meriam Palembang) di Plaju. Pasukan yang
dipimpin letnan-1 Wagener dan van Stijrum mampu memaksa pasukan
Palembang meninggalkan meriam pertama, sehingga dalam waktu hampir satu
jam seluruh kubu pertahanan di Plaju berhasil dikuasai oleh pasukan Belanda.
Setelah itu, pasukan Belanda mulai mencabuti tonggak-tonggak kayu dan bambu
yang terdapat di Sungai Musi. Hal itu dimaksudkan agar kapal-kapal Belanda
lainnya dapat melewati Sungai Musi dan mendekati keraton. Dalam pertempuran
itu di pihak Belanda dua orang serdadu terbunuh, dan enam orang menderita luka,

Universitas Indonesia
279

sedangkan di pihak Palembang tidak ada sumber yang menyatakan jumlah korban
dalam peperangan itu. Akan tetapi dapat dipastikan banyak korban tewas dan
luka-luka. Selama peperangan berlangsung, pasukan Belanda juga mengalami
kekurangan bahan makanan yang parah (Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821;
Veth, 1869: 655).
Setelah berhasil melumpuhkan benteng Gombora dan Plaju, armada
Belanda mendekati keraton. Dua hari kemudian (26 Juni 1821) semua pasukan
Belanda bergerak siaga di depan keraton Sultan Badaruddin II. Keraton yang pada
waktu itu diperkuat dengan tujuh belas meriam197. Keraton yang dikelilingi
tembok yang tebal dan tinggi, (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1; Bataviaasche
Courant, 11 Juli 1821). Kehebatan keraton sudah terbukti dalam perang 1819
mampu menangkis serangan dari pasukan Belanda.
Ketika kapal-kapal perang Belanda tiba di depan keraton (jarak satu
tembak senapan dari tembok kraton), Sultan Badaruddin II memutuskan untuk
menempuh jalur perundingan. Untuk itu, Sultan mengutus Pangeran Adipati Tuo
menemui De Kock di atas kapal Johanna. Dalam pertemuan itu, Pangeran
Adipati Tuo menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan saudaranya Sultan
Badaruddin II kepada pemerintah Belanda, dengan permintaan dirinya diizinkan
untuk tetap tinggal di Palembang. Jenderal Mayor De Kock menolak tawaran
tersebut. Sementara itu, Pangeran Adipati Mudo menyatakan bahwa Sultan
Badaruddin II bersedia menyerah tanpa syarat untuk mencegah terjadinya
pertumpahan darah. Sultan juga meminta penundaan waktu untuk berangkat ke
Batavia, dengan alasan akan menyiapkan para istri, anak-anak dan para pengikut
setianya yang akan ikut menyertainya. De Kock mengabulkan permintaan tersebut
dengan memberi waktu selama dua hari, dengan syarat Sultan harus segera
membongkar semua meriam di keraton. Pada saat yang bersamaan ketika De
Kock berunding dengan wakil Sultan, De Kock memerintahkan semua armada
Belanda menutup jalan masuk ke dan dari Sungai Musi untuk mencegah Sultan
Badaruddin II keluar dari ibu kota Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 5.1;

197
Sumber Bataviaasche Courant (11 Juli 1821), menyebutkan bahwa keraton
dipertahankan dengan tujuh puluh meriam.

Universitas Indonesia
280

N0. 4, 1971:86; Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821; Bataviaasche Courant , 4


Agustus 1821)
Setelah terjadinya penundaan, Sultan kembali mencoba memperpanjang
waktu keberangkatannya, namun permintaan itu ditolak De Kock. Selanjutnya, ia
mengutus Kapten Elout ke keraton untuk mendesak Sultan memenuhi janjinya.
Pada 1 Juli 1821 pasukan Belanda menduduki kraton. Dua hari kemudian Sultan
Badaruddin II dan kerabat dekatnya diberangkatkan ke Batavia. Mereka
diberangkatkan menggunakan kapal perang de Dageraad, dan tiba di sana pada
29 Juli 1821. Pada Maret 1822 Sultan Badaruddin II dan rombongannya
diberangkatkan ke Ternate. Sebelum rombongan itu dibawa ke Ternate, semua
harta benda yang mereka bawa disita pihak Belanda (ANRI, Bundel Palembang
No. 5.1; Bataviaasche Courant, Sabtu, 4 Agustus 1821; Veth, 1869: 655;
Woelders, 1975: 112). Dengan demikian, sesampainya di Ternate mereka sudah
tidak memiliki lagi kekayaan dan hidup mereka sepenuhnya tergantung pada
tunjangan yang diberikan oleh pemerintah Belanda.
Setelah pembuangan Sultan Badaruddin II, pemerintah Belanda di
Palembang menyingkirkan semua orang terdekat Sultan Badaruddin II. Kebijakan
itu ditempuh Belanda karena mereka dianggap membahayakan kedudukan
Belanda di Palembang. Sahabat-sahabat Sultan Badaruddin II yang disingkirkan
Belanda adalah Pangeran Kramadiraja, Pangeran Wirosentiko, Pangeran Yudo,
Pangeran Puspodirejo, Tumenggung Wiroyudo dan Ingabehi Achmat Kretel
(ANRI, Bundel Palembang No. 47.6). Dengan demikian, penyingkiran tersebut
merupakan usaha Belanda untuk menghilangkan pengaruh Sultan Badaruddin II
dan para pengikutnya. Penyingkiran orang-orang yang dianggap membahayakan
kedudukan Belanda di Palembang benar-benar dilaksanakan dengan cara
sistematis. Kebijakan itu ditempuh oleh Belanda tidak terlepas dari rasa takut
yang berlebihan akan bangkitnya perlawanan terhadap Belanda pascadibuangnya
Sultan Badaruddin II.
Kemenangan atas Kesultanan Palembang merupakan berita yang sangat
ditunggu di Batavia (berita diterima 10 Juli 1821). Keberhasilan itu diumumkan
dihadapan pasukan di Batavia dengan diiringi tembakan meriam sebanyak 101

Universitas Indonesia
281

kali198 (Bataviaasche Courant, Rabu 11 Juli 1821). Para perwira dan serdadu yang
berjasa dalam peperangan itu dianugerahi anugerah militer tertinggi ― Militaire
Willemsorde‖ berupa lencana yang disematkan pada upacara penganugerahan dan
digubah syair-syair kemenangan. Berita kemenangan itu sampai di negeri Belanda
pada 6 Nopember 1821, disambut antusias di sana. Kemenangan itu dibahas di
rapat majelis rendah Parlemen Belanda, dan Raja Willem I memberikan ucapan
selamat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda atas nama parlemen. Menurut
mereka keberhasilan gemilang tersebut sangat penting bagi pengukuhan
kekuasaan Belanda di Nusantara (Kielstra, 1892:99; Woeldwes, 1975: 24-25).
Betapa pentingnya kemenangan atas Palembang bagi pemerintah Belanda baik di
Batavia maupun di negeri Belanda. Semua itu untuk menebus dua kali kekalahan
dalam perang 1819.
Sesampainya rombongan Sultan Badaruddin II di Ternate pada tahun 1822,
mereka di tempatkan di Fort Oranje, dengan tunjangan sebesar f 800 per bulan.
Fort Oranje adalah sebuah benteng Belanda di Ternate yang menjadi pusat
pemerintahan Belanda di wilayah Maluku. Setelah beberapa bulan Sultan
Badaruddin II dan keluarganya menghuni benteng itu, Residen setempat
memandang perlu memperbaiki bangunan tersebut mengingat kondisinya yang
memprihatinkan. Sebagai tindak lanjut, Residen Ternate mengusulkan perbaikan
gedung itu kepada pemerintah pusat. Usul itu diajukan melalui surat nomor: 19,
tertanggal 23 September 1822. Gubernur Jenderal menerima usul tersebut dengan
mengeluarkan keputusan pada 13 Nopember 1922 nomor: 11. Berdasarkan surat
keputusan tersebut, Sultan Badaruddin II dan pengikutnya dipindahkan ke lokasi
sebelah selatan Fort Oranje, dan tetap diawasi secara ketat. Fort Oranje
diperuntukkan bagi markas komandan militer setempat. Selanjutnya, lokasi yang
ditempati oleh Sultan Badaruddin II dan pengikutnya dikenal dengan nama
―kampung Palembang‖. Lokasi itu berbatasan sebelah utara dengan Fort Oranje,
sebelah selatan dengan penjara, kantor residen, rumah kediaman residen, hotel,
societiet, sekolah dan rumah para pejabat Belanda. Di sebelah timur berbatasan

198
Jumlah tembakan maksimal dalam suatu upacara penghormatan, tembakan
itu dianugerahkan atas jasa-jasa para perwira dan serdadu Belanda yang telah berhasil
mengalahkan Kesultanan Palembang. Atas jasa-jasa tersebut mereka memperoleh
bintang dan kenaikan pangkat.

Universitas Indonesia
282

dengan pasar, rumah dan pertokoan Cina. Di sebelah barat berbatasan dengan
kampung Sarani, yang dihuni oleh kelompok Belanda dan Portugis Terdapat akses
keluar dari lokasi tersebut, tetapi pihak Belanda telah menyiapkan pos penjagaan
di sana (Woelders, 1975:24; ―Sejarah‖, 1984, 98-99).
Gubernur Jenderal Hindia Belanda Godert Alexander Gerard Phillip Baron
van der Capellen melakukan kunjungan ke Keresidenan Ternate pada 10 Mei
1824. Tiga hari setelah kunjungan resmi Sultan Tidore dan Ternate menemui
Gubernur Jenderal van der Capellen, pada 18 Mei 1824 Sultan Badaruddin II
diperkenankan menghadap van der Capellen di sana. Pada kesempatan itu, Sultan
Badaruddin II mengakui kekalahannya, tetapi tidak sedikitpun mengajukan
keinginan agar pemerintah kolonial Belanda mengizinkannya kembali ke
Palembang. Sesungguhnya, Sultan Badaruddin II memang terkenal sebagai raja
yang memiliki sikap yang tegas dan keras. Di mata pers kolonial pada waktu itu,
Sultan dikenal angkuh dan nekad karena tidak memohon agar dapat dikembalikan
ke Palembang (Bataviasche Courant, 31 Juli 1824 nomor 31). Dari pernyataan
tersebut, tersirat bahwa van der Capellen ingin agar Sultan Badaruddin II
memohon kepadanya agar diampuni dan dipulangkan ke asalnya. Ternyata semua
keinginan itu tidak tercapai, karena Sultan Badaruddin II tidak mau
menghambakan dirinya demi sebuah ―kebebasan di bawah kendali Belanda‖ di
tanah leluhurnya Palembang.
Keteguhan jiwa seorang Sultan Palembang, yang memiliki sejarah panjang
dalam berjuang mempertahankan kedaulatannya. Ia tidak pernah rela hidup dalam
kungkungan penjajahan Belanda. Jeritan batinnya dapat dilihat dari karyanya
dalam bentuk untaian bait-bait syair Nuri.
… Sudahlah nasip (b) untung yang malang
Mengambah lautan berulang-ulang
Mudharatnya bukan lagi kepalang
Senantiasa di dalam nasip dan walang

… Remuk dan rendam rasanya hati


Lenyaplah pikir budi pekerti
Jikalau kiranya hamba turuti
Dari pada hidup sebaiknya mati

… Hidup nin sudah seperti fana


Bagai sesat di laut bena

Universitas Indonesia
283

Ke sana ke mari tiada berguna


Dari pada sangat dhaif dan hina

…Sudah nasip badan yang kurang


Jatuh terselip di negeri orang
Sakitnya bukan sebarang-sebarang
Laksana perahu terhempas di karang

… Susahnya tiada lagi terkira


Tertutuplah akal habis bicara
Jiwa dan badan amatlah sara
Bagai ikan di atas bara

… Nuri nin isteri Bayan Johari


Parasnya laksana mandudari
Putih kuning halus berseri
Seputar alam sukar dicari

…Rindunya tiada lagi henti


Gundah gulana di dalam hati
Lenyaplah pikir budi pekerti
Bagaikan fana rasanya pasti

… Ke Siam pergi membeli kici


Orang bercamat dalam perahu
Dilihat diam dikatakan benci
Dendam golamat siapakan tahu (Yusuf, tanpa tahun: 223-231).
Sultan Badaruddin II menggunakan burung Nuri sebagai simbol kerajaannya yang
telah diambil oleh kolonial Belanda (Bayan Johari). Sepanjang sisa hidupnya, ia
menghabiskan waktu selama 31 tahun sebagai orang buangan di Ternate. Ia wafat
di sana pada 26 Nopember 1852, dan dimakamkan di pemakaman umum kota
Ternate.

Universitas Indonesia
284

BAB 6
KERUNTUHAN KESULTANAN PALEMBANG

Dengan berakhirnya peperangan antara Palembang dan Belanda (Juni 1821), sejak
itu pula Kesultanan Palembang berada di bawah kendali pemerintah kolonial
Belanda. Sesuai isi Kontrak April 1821, Sultan Najamuddin III mengendalikan
pemerintahan atas Kesultanan Palembang didampingi oleh residen Belanda.
Dengan demikian, sebagian kekuasaannya telah diserahkan kepada pemerintah
kolonial Belanda. Kekuasaan yang telah terbagi itu, pada Agustus 1823
sepenuhnya dikendalikan oleh pihak Belanda, kecuali peradilan Agama Islam.
Seiring dengan peralihan kekuasaan dari Sultan Najamuddin III kepada
pemerintah kolonial Belanda, terjadi berbagai kebijakan yang merugikan rakyat.
Akibatnya, terjadi berbagai pergolakan khususnya di daerah uluan. Pergolakan itu
juga dipicu oleh dibuangnya Sultan Badaruddin II dan peralihan kekuasaan
kepada Belanda. Pergolakan yang marak terjadi, menyebabkan pihak kolonial
Belanda mengirimkan pasukan untuk menghancurkan perlawanan-perlawanan
tesebut.
Di ibu kota Palembang juga terjadi berbagai ketegangan antara Sultan
Najamuddin III-Susuhunan Husin Dhaiauddin dan Belanda. Puncaknya terjadi
penyerangan terhadap benteng Belanda. Peristiwa itu mengakibatkan Susuhunan
dibuang ke Batavia, sedangkan Sultan Najamuddin III lari ke uluan menggalang
kekuatan. Tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai, Sultan harus
menghadapi kekuatan Belanda yang besar dan kuat. Akhirnya, Sultan dan
pengikutnya menyerah dan dibuang pada 1825. Dengan dibuangnya Sultan
Najamuddin III, Kesultanan Palembang dihapuskan.

6.1 Pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin III

Universitas Indonesia
285

Sultan Najamuddin III menduduki tahta di Kesultanan Palembang yang baru


selesai perang. Suatu kondisi serba kekurangan di segala bidang. Langkah awal
yang diambil Sultan bersama dengan Susuhunan Husin Dhiauddin dan Jenderal
Mayor De Kock adalah menata kembali pemerintahan di Kesultanan itu. Masalah
yang paling krusial pada waktu itu adalah keamanan. Untuk menangani masalah
tersebut, De Kock menyerahkannya kepada Letnan Kolonel Taets van
Amerongen, Letnan laut klas-1 Koopman, dan perwira pertama kapal perang van
der Werff. Pada 12 Juli 1812, De Kock menetapkan Letnan Kolonel Keer sebagai
residen Palembang sekaligus menangani masalah militer. (Bataviasche Courant,
Rabu, 11 Juli 1821; Woelders, 1975: 24). Kebijakan itu menyebabkan keamanan
secara berangsur-angsur dapat ditegakkan khususnya di ibu kota Palembang.
Keadaan keraton yang ditinggalkan oleh Sultan Badaruddin II sangat
memprihatinkan. Sebelum keraton diserahkan kepada De Kock, Sultan
Badaruddin II memerintahkan untuk menghancurkan benda-benda berharga dalam
keraton, agar tidak jatuh ke tangan pasukan Belanda. Benda-benda yang tersisa
hanya berupa beberapa keping uang, emas, buku-buku dan beberapa barang
lainnya serta 74 pucuk meriam. Meriam-meriam itu digabungkan dengan meriam-
meriam lain dari Gombora dan Plaju berjumlah dua ratus pucuk199 (Bataviasche
Courant, Rabu, 11 Juli 1821).
Sebelumnya, pada 1 Juli 1821 Prabu Anom ditetapkan sebagai Sultan
Ahmad Najamuddin III Prabu Anom. Ayahnya bergelar Susuhunan Ratu Husin
Dhiauddin (sesuai kontrak yang mereka tandatangani di Buitenzorg pada 28 April
1821), Susuhunan dilantik secara resmi pada 16 Juli 1821. Selanjutnya,
Susuhunan mengangkat menantunya yaitu Pangeran Adiwijaya sebagai juru
bicaranya dengan gelar Pangeran Perdana Mentri. Dia juga memberi gelar
Pangeran Adipati Tuo dengan nama Pangeran Bupati Panembahan. Putera
Susuhunan lainnya yaitu Pangeran Jayadiningrat diberi gelar Pangeran Dipati
(sebelumnya Pangeran Jayaningrat), sedangkan adiknya Pangeran Jayakrama

199
Pihak Belanda memperkirakan harta kekayaan yang sangat besar dari Sultan
Badaruddin II, digunakan untuk membiayai proyek pertahanan, membeli amunisi,
meriam juga untuk menggaji dan memberi makan pasukan di kubu-kubu pertahanan
Palembang, serta untuk menambah jumlah pendukungnya (Bataviaasch Courant, Sabtu,
4 Agustus 1821).

Universitas Indonesia
286

diberi gelar Pangeran Aryo Kesumo, serta adiknya yang terkecil naik menjadi
Pangeran Suryo Kesumo (sebelumnya bergelar Pangeran Citradiningrat) (ANRI,
Bundel Palembang No. 5.1; No. 4, 1971: 87; Bataviaasche Courant, 11 Juli 1821;
Woelders, 1975: 24, 112; Veth, 1869: 655).
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa terdapat dualisme pemerintahan.
Hal itu tampak dari diangkatnya Pangeran Adiwijaya sebagai juru bicara dengan
gelar Pangeran Perdana Menteri. Dalam struktur pemerintahan di Kesultanan
Palembang, Perdana Menteri dapat disamakan dengan Pangeran Adipati, namun
tampaknya penamaan gelar Perdana Menteri semata-mata hanya gelar, tidak
terkait dengan jabatan Adipati (orang kedua setelah sultan). Walaupun demikian,
penamaan tersebut merupakan penyimpangan dari pola umum yang berlaku di
Kesultanan Palembang. Dengan diangkatnya Pangeran Jayaningrat sebagai
Pangeran Adipati, maka di Kesultanan Palembang terdapat tiga orang yang
bergelar Pangeran Adipati. Pertama, adalah Pangeran Adipati (adik kandung
pertama Sultan Najamuddin II yang diangkatnya sebagai Pangeran Adipati sejak
dirinya menyandang gelar sultan pada 1812), yang disebut juga dengan nama
Pangeran Adipati Tuo200. Kedua, Pangeran Adipati Mudo (diangakt Sultan
Badaruddin II setelah pembagian kekuasaan), dan ketiga, Pangeran Adipati
Jayaningrat. Setelah Sultan Najamuddin III naik tahta, Susuhunan Husin
Dhiauddin menetapkan Pangeran Adipati Tuo sebagai Pangeran Bupati
Panembahan.
Dalam rangka melaksanakan pendudukan atas Kesultanan Palembang
secara efektif, pada 13 Juli 1821 panglima ekspedisi Palembang Jenderal Mayor
de Kock mengeluarkan instruksi kepada Residen Keer, agar segera mengambil
langkah-langkah nyata. Lebih lanjut disebutkan bahwa hendaknya segera menata
pemerintahan, infrastruktur, gelar dan jabatan di Kesultanan Palembang. Semua

200
Penamaan demikian untuk membedakan antara Pangeran Adipati Mudo,yang
diangkat oleh Sultan Badaruddin II pascapembagian kekuasaan atas Kesultanan
Palembang pada Juni 1818.

Universitas Indonesia
287

itu berpedoman pada nota salinan yang telah diberikan oleh Muntinghe201 (ANRI,
Bundel Palembang no 47.6).
Setelah Sultan Najamudin III berkuasa, ia sulit menjalankan kewajibannya
untuk mengatasi masalah gangguan keamanan baik di ibu kota dan uluan maupun
di perairan antara Pulau Bangka dan Palembang. Menurut pemerintah Belanda di
Palembang pada waktu itu, Sultan terlalu lemah untuk mengendalikan kondisi
yang ada. Pada kenyataannya pemegang kendali pemerintahan adalah Susuhunan.
Oleh karena itu, untuk menegakkan keamanan di ibu kota Palembang, pemerintah
Belanda menambah pasukan keamanan baik dari angkatan laut maupun darat. Di
depan keraton Kuto Besak, mereka menempatkan kapal Zeepaard, Ajax, Venus,
Zeevaluwe, dan Emma serta perahu-perahu, dengan posisi yang telah ditentukan.
Posisi kapal dan perahu itu tidak boleh berubah kecuali atas izin komandan
angkatan laut. Kapal Emma dan beberapa perahu berfungsi untuk melayani
pelayaran antara Palembang dan Muntok. Apabila kondisi di Palembang sudah
aman, akhir Oktober atau awal November 1821 kapal Ajax dan de Zwaluwe akan
ditarik ke Batavia. Meriam-meriam yang tidak digunakan secepatnya dikirim ke
Jawa. Mereka juga membuat peta tentang sungai-sungai di Palembang, yang
jumlahnya banyak. Pemetaan itu penting, mengingat sungai merupakan sarana
transportasi utama di Kesultanan Palembang. Usaha itu juga untuk mengantisipasi
kemungkinan perlawanan dari daerah uluan yang pasti memanfaatkan jalur
sungai. Pelaksanaannya memanfaatkan bantuan Sultan Palembang berupa perahu,
pendayung dan penunjuk jalan dalam. Hal itu disebabkan hanya Sultan yang
memiliki sarana dan prasarana yang dibutuhkan, dan hanya orang Palembang
yang mampu menjadi penunjukkan jalan dalam tugas tersebut (ANRI, Bundel
Palembang No. 47.6; Kielstra, 1892: 100).
Selanjutnya kepemimpinan Belanda atas Kesultanan Palembang
202
diserahkan kepada Komisaris Van Sevenhoven . Ia bertugas di Palembang sejak

201
Muntinghe memperoleh data tersebut diperoleh dari Pangeran Wirawikrama
dan laporan hasil wawancara dengan orang-orang Palembang tentang jabatan-jabatan
di Palembang dari Baud (ANRI, Bundel Palembang no 47.6).
202
Dipilihnya Sevenhoven sebagai residen Palembang, karena dianggap berhasil
menjalankan tugasnya sebagai residen Cirebon. Sosok Sevenhoven dianggap tepat untuk
memerintah Palembang yang baru saja berhasil dikuasai oleh Belanda. Ia berfungsi
sebagai penasehat Sultan Najamuddin III, walaupun pada kenyataannya Sevenhoven

Universitas Indonesia
288

Nopember 1821, melanjutkan pemerintahan sipil dari Letnan Kolonel Keer203.


Sejak awal pemerintahannya, Sevenhoven berhubungan dengan para bangsawan
dan penduduk Palembang. Ia mendukung dipertahankannya kekuasaan Sultan,
namun pada kenyataannya tidak mudah mengembalikan kondisi Palembang
pascaperang. Kekacauan terjadi di pusat maupun di uluan. Selanjutnya,
Sevenhoven menugaskan pejabat sekretaris J.E. Sturler dan Asisten Residen D.
Donker untuk mengemasi barang-barang milik Sultan Badaruddin II. Barang-
barang itu antara lain, emas, naskah-naskah dan barang-barang lainnya (65
manuskrip di perpustakaan Universitas Leiden Belanda) yang berhasil ditemukan
di keraton Palembang. Barang-barang itu dimasukkan ke dalam kotak, dan disegel
dengan cap pemerintah. Setelah itu kotak itu segera dikirimkan ke Batavia dengan
menggunakan kapal perang Zeepaard. Pengemasan dan pengiriman barang-
barang Sultan Badaruddin II itu tercatat dalam berita acara Direktur Kepala
keuangan tanggal 21 Januari 1822 No,1 (ANRI, Bundel Palembang No. 1.8; No. 4,
1971: 90-91; Ikram, 2004: 51).
Hal mendesak lain untuk dilakukan Belanda pada waktu itu adalah
mengembangkan perdagangan. Sebagaimana diketahui perdagangan mengalami
kemunduran sejak pecahnya perang antara Kesultanan Palembang dan kolonial
Belanda. Perdagangan semakin sulit dengan diblokadenya Sunsang. Berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur Jenderal pada 8 Pebruari 1822 nomor 16 tentang
pembangunan dermaga di Sunsang, dermaga itu nantinya akan berfungsi untuk
menampung semua barang kebutuhan (ekspor-impor) pemerintah Belanda di
Palembang. Selama pembangunan dermaga itu belum selesai, Sevenhoven

yang mengendalikan kekuasaan. Tugas utamanya adalah meneliti kondisi sosial, politik,
dan ekonomi di kesultanan itu. Selanjutnya, melaporkan hasil penelitiannya kepada
pemerintah pusat di Batavia. Menurut pengamatannya, dinyatakan bahwa pengeruh
Sultan di uluan sangat kecil. Dengan demikian, Sultan tidak akan mampu memenuhi
ketentuan kontrak (April 1821), antara lain tentang ketentuan mengembangkan
perdagangan dengan membuka pasar-pasar, mencegah perdagangan budak dan lainnya
(Kielstra, 1892:100-101; Woelders, 1975:25).
203
Keer menjabat sebagai Residen Palembang-Bangka sekaligus sebagai
komandan militer, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal tanggal 6 Mei 1821 nomor
3. Dibuatnya keputusan tersebut, mengingat sejak Juni 1819, pemerintahan Belanda di
Palembang tidak ada. Penggabungan pemegang kekuasaan Bangka dan Palembang
untuk memudahkan koordinasi dalam rangka menaklukkan Kesultanan Palembang,
(ANRI, Bundel Palembang No. 47.6).

Universitas Indonesia
289

menyiapkan perahu sebagai pemandu dan pelindung kapal-kapal milik Belanda


yang tengah berlayar dan merapat di Sunsang. Sesungguhnya, kebijakan Belanda
itu sudah berlangsung sejak 1819, karena penyeberangan dari Bangka ke
Palembang melalui Sunsang sangat sulit dilakukan akibat banyaknya gangguan
keamanan. Oleh karena itu, para nahkoda kapal Belanda telah mengajukan
permohonan kepada Residen Palembang agar menyiapkan perahu-perahu untuk
memudahkan pengamanan dalam pelayaran tersebut. Pada waktu itu tidak ada
perahu yang membawa barang-barang milik Belanda ke ibu kota Palembang.
Mereka juga tidak diperkenankan menggunakan jasa perahu swasta (dalam rangka
blokade). Permintaan itu telah disampaikan oleh Residen Palembang kepada
Gubernur Jenderal Van der Capellen di Batavia. Capellen memenuhi permintaan
itu dengan mengeluarkan Surat Keputusan pada 25 Juni 1822 La H yang ditujukan
kepada Departemen Angkatan Laut. Sejak itu masalah pengamanan di jalur Pulau
Bangka sampai ibu kota Palembang dapat dikendalikan. Akan tetapi, secara
umum perairan Bangka-Palembang tetap berada ―ditangan‖ para bajak laut (ANRI,
Bundel Palembang No. 4, 1971: 90-91).
Untuk menunjang lajunya perekonomian pada waktu itu, pemerintah
Belanda mengembangkan kalangan, yaitu pasar-pasar tempat bertemunya
produsen dari uluan dengan konsumen di iliran. Manajemen pasar di ibu kota
Palembang diserahkan oleh Sevenhoven kepada Kapten Cina Lim Bonkwee.
Tugasnya mengutip sejumlah pungutan atas barang-barang yang dijual di pasar.
Lim Bonkwee memegang posisi tersebut sampai akhir Maret 1824 (ANRI, Bundel
Palembang No.3, Nomor 33, 12 April 1823). Kelompok etnis Cina sebagai
pedagang perantara yang menguasai perdagangan di ibu kota Kesultanan
Palembang mendapat kepercayaan untuk mengelola pasar. Konsep tersebut yang
sudah dirancang Muntinghe sejak 1818, baru terlaksana tiga tahun kemudian.
Seharusnya yang mengendalikan perdagangan dengan pasar-pasarnya adalah
Sultan Najmuddin III. Akan tetapi, faktanya semua dikendalikan oleh Sevenhoven
yang menyerahkan pengelolaannya kepada kapten Cina.
Di berbagai daerah Palembang khususnya di uluan gangguan keamanan
terus berlangsung. Oleh karena itu, pemerintah pusat mempertimbangkan untuk
menempatkan daerah uluan di bawah pemerintahan langsung pemerintah Belanda.

Universitas Indonesia
290

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah Belanda harus memiliki pengetahuan


yang lengkap dan menyeluruh tentang sistem pemerintahan, potensi ekonomi,
sumber pendapatan Sultan dan para bangsawan. Dari penelitian yang dibeberkan
pada Oktober 1822 disebutkan bahwa hasil pertanian Kesultanan Palembang pada
waktu itu masih rendah. Atas dasar hal tersebut, Muntinghe204 mengusulkan agar
pemerintah Belanda membimbing para penguasa lokal untuk memerintah
daerahnya masing-masing. Meskipun, dalam pandangan penguasa Belanda,
penduduk uluan adalah penduduk kasar dan tidak beradab, akan tetapi mereka
dapat ―dididik‖ untuk memerintah diri sendiri di bawah pengaruh kekuasaan
Belanda. Muntinghe berharap dengan cara itu pemerintah Belanda akan mendapat
keuntungan berlipat ganda dari daerah-daerah taklukkan di uluan. Ia juga
mengusulkan agar pemerintahan di Kesultanan Palembang diserahkan kepada
keturunan sultan-sultan Palembang205, tetapi di bawah kendali pemerintah
Belanda. Usul itu diterima oleh pemerintah Hindia Belanda (ANRI, Bundel
Palembang No. 4, 1971: 90-91; Kielstra, 1892: 98). Jadi, walaupun Muntinghe
pernah dianggap gagal di Palembang, tetapi usul-usulnya tetap diperhatikan
mengingat pada masa pemerintahannya, pertama kali dilakukan penelitian tentang
potensi daerah uluan yang besar.
Sebagai penguasa baru di wilayah yang sudah lama diidam-idamkan,
pemerintah Belanda memperingati satu tahun kemenangan atas Kesultanan
Palembang pada Senin, 24 Juni 1822. Peringatan pertama itu merupakan
peringatan kemenangan yang mengharumkan bagi kekuatan armada laut Belanda
di bawah pimpinan Jenderal Mayor De Kock. Suatu kemenangan yang sangat
berarti bagi pemerintah Belanda di Palembang khususnya, dan Hindia Belanda
umumnya. Palembang berhasil dikuasai, setelah tiga kali peperangan besar.
Menduduki Palembang berarti menguasai seluruh wilayah kesultanan yang

204
Muntinghe pada saat itu menjabat sebagai anggota Dewan Hindia. Namun,
sebagai orang yang pernah menjabat sebagai komisaris di Palembang (1818-1819) dan
telah melakukan penelitian tentang kehidupan masyarakat Palembang, Ia tetap
memberikan pandangannya tentang cara terbaik memperkokoh kekuasaan Belanda di
Palembang dan mengeksploitasinya.
205
Pada prinsifnya Sevenhoven memiliki pandangan yang sama yaitu
menghapuskan kekuasaan feudal, untuk selanjutnya melakukan pembaharuan
(Woelders, 1975: 25).

Universitas Indonesia
291

meliputi wilayah kepungutan, sindang dan Bangka-Belitung. Peringatan dengan


parade militer besar-besaran yang ditandai dengan tembakan penghormatan dari
kapal perang Arendt dan Parade pasukan Angkatan Darat. Peringatan
kemenangan itu dihadiri para panglima angkatan darat dan angkatan laut. Dalam
peringatan kemenangan itu para perwira militer dan pejabat sipil berbaris di
pelabuhan untuk melakukan penghormatan terhadap kapal-kapal yang lewat.
Mereka mewujudkan kegembiraan itu dengan membagi-bagikan botol anggur
(masing-masing setengah botol anggur) kepada para anggota militer Eropa,
sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka. Untuk seratus orang anggota militer
pribumi, diberikan hadiah seekor kerbau untuk dinikmati bersama dalam pesta
tersebut. Kebijakan tersebut tertuang dalam keputusan Gubernur Jenderal tanggal
14 Juli 1820 nomor 1. Pada upacara sore harinya dan jamuan makan malam yang
diselenggarakan oleh Komisaris Van Sevenhoven, mereka mengundang
Susuhunan Husin Dhiauddin dan Sultan Najamuddin III serta para pangeran dan
para pemimpin orang Arab dan Cina (ANRI, Register van Besluiten, no. 54, 21
Juni 1822). Tidak ditemukan sumber nama dari tokoh Arab dan Cina yang
menghadiri peristiwa tersebut.
Tindak lanjut dari suatu pemerintah yang permanen, pemerintah Belanda
membutuhkan sebuah benteng yang layak. Pemerintah Hindia Belanda
mencanangkan membangun benteng Frederik di Palembang. Pembangunannya
diserahkan kepada Letnan Kolonel Insinyur Cochius (seorang ahli benteng), yang
diperkirakan akan memakan waktu selama empat tahun. Pembangunan benteng
itu membutuhkan dana, material dan tenaga manusia yang sangat besar.
Berdasarkan laporan Sevenhoven nomor: 27 tertanggal 12 Juni 1822 kepada
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, disebutkan bahwa besarnya kebutuhan untuk
membangun benteng itu terdiri dari sembilan sampai 24 juta potong batu laut, 15
juta bata kecil, 68 ribu batu lantai ukuran besar dan kecil, 184 ribu genting, dan
250 ton kapur serta tiga puluh tunggu pencetak batu untuk waktu empat tahun.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu:
pertama, melaksanakan lelang, kedua, menyerahkan pengadaan semua kebutuhan
kayu dan 350 orang kuli (total 600 orang kuli) kepada Sultan Palembang. Sisanya
akan ditangani sendiri oleh pemerintah Belanda. Kendala-kendala yang dihadapi

Universitas Indonesia
292

dalam pembangunan benteng tersebut antara lain, tidak adanya tanah yang cocok
untuk pembuatan batu bata dan genting di sekitar ibu kota Palembang. Selain itu,
di sekitar ibu kota sulit diperoleh kayu bakar, kayu untuk bahan bangunan, dan 25
ribu perahu untuk pembangunan selama empat tahun. Semua kebutuhan tersebut
harus didatangkan dari daerah-daerah lain, sehingga dibutuhkan sarana angkutan
dan tenaga kerja tambahan (kuli angkut, kuli tebang kayu, tukang kayu dan tukang
batu). Total tenaga kerja yang dibutuhkan lebih dari seribu orang per hari,
sedangkan jumlah matagawe di Kesultanan Palembang hanya sekitar delapan ribu
orang. Penduduk Palembang hanya mampu bekerja di proyek umum selama tiga
bulan dalam setahun, karena mereka juga harus melakukan kerja harian di
gudang-gudang milik Belanda, membersihkan jalan dan keraton. Dengan
demikian, pemerintah Belanda akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan
tenaga kuli sebagaimana yang diharapkan (ANRI, Besluit van Govenour Generaal,
tanggal 14 Agustus 1822 Nomor: 11, Bundel Algemeen secretarie).
Atas pertimbangan berbagai kesulitan yang akan dihadapi apabila proyek
pembangunan benteng Frederik diteruskan, Sevenhoven menyatakan
keberatannya kepada Gubernur Jenderal. Menurutnya, apabila pembangunan
benteng itu dipaksakan, akan timbul gejolak di Kesultanan Palembang. Sebagai
gantinya, Sevenhoven menyodorkan keraton Kuto Besak untuk dijadikan benteng.
Pada waktu itu keraton telah dijadikan tempat untuk pasukan Belanda. Lebih
lanjut Sevenhoven menyatakan bahwa keraton Kuto Besak sangat sesuai untuk
dijadikan benteng yang mampu menampung 400 orang serdadu. Bangunan di
bagian tengah keraton cocok dijadikan tempat tinggal Sevenhoven. Di dekat
keraton cocok dibangun tempat beristirahat para perwira dan pejabat tinggi
Belanda di Palembang (ANRI, Besluit van Govenour Generaal, tanggal 14
Agustus 1822 Nomor: 11, Bundel Algemeen secretarie; Bataviaasch Courant,
Sabtu, 4 Agustus 1821). Dilihat dari berbagai segi keraton, sangat memadai untuk
dijadikan benteng. Di samping besar dan kokoh, keraton juga berada pada posisi
yang sangat strategis.
Pada mulanya Jenderal Mayor De Kock menyatakan persetujuannya atas
rencana pembangunan benteng Frederik. Ia tidak memikirkan kesulitan-kesulitan
yang akan timbul dalam pembangunan benteng itu, antara lain kebutuhan tenaga

Universitas Indonesia
293

kerja, material dan dana, sedangkan Keraton lamo (dekat keraton Kuto Besak)
yang pada saat itu dihuni Sevenhoven kondisinya telah rapuh dan gelap. Kondisi
itu juga membutuhkan penanganan segera. Sementara itu, banyak hal yang harus
dilakukan guna membenahi keraton Kuto Besak. Berdasarkan hasil penelitian
Kapten van der Wijck terhadap keraton Koto Besak (termaktub dalam memori
pada 28 Juni 1822), dinyatakan bahwa sarana pertahanan keraton belum memadai
untuk dijadikan benteng sebagai pengganti benteng Frederik. Akan tetapi, jika
pembangunan benteng Frederik dilanjutkan akan terbentur dana yang sangat
besar. Jalan yang terbaik adalah menggunakan salah satu bagian dari keraton
sebagai benteng. Cara itu dinilai lebih hemat tenaga kerja, material dan biaya
(ANRI, Missive van H.M. de Kock, tanggal 18 Juli 1822 nomor 19, Bundel
Algemeen Secretarie).
Berdasarkan paparan Sevenhoven yang menyeluruh tentang berbagai
kemungkinan mewujudkan benteng dengan biaya serendah mungkin, ditopang
pula dengan kondisi keraton Koto Besak sebagai satu-satunya bangunan yang
paling kokoh dan terletak di lokasi yang sangat strategis, Panglima Angkatan
Darat Letnan Jenderal de Kock mengubah pikirannya yang sebelumnya
mendukung pembangunan benteng Frederik, menjadi menyetujui menjadikan
keraton sebagai benteng. Selanjutnya, Gubernur Jenderal mengeluarkan
keputusan tentang penetapan keraton Palembang sebagai benteng pertahanan.
Tujuannya untuk melindungi para pejabat dan garnisun Belanda di Palembang
dari serangan penduduk. Suatu kesalahan besar apabila residen dan para pegawai
sipil tinggal di luar benteng. Untuk itu, Gubernur Jenderal memerintahkan
Komisaris Palembang melaksanakan proyek tersebut bersama-sama dengan
Kapten insinyur van der Wijck206. Dalam mewujudkan rencana tersebut, mereka
juga meminta persetujuan dari Sultan Palembang. Setelah segala persiapan
selesai, pembangunan segera dilaksanakan (ANRI, Besluit van Gouverneur
Generaal, tanggal 21 Agustus 1822 nomor 10, Bundel Algemeen Secretarie).

206
Dipilihnya van der Wijck sebagai patner dalam proyek tersebut, karena di mata
Sevenhoven, Van der Wijck adalah sosok yang berbakat, teliti, dan baik. Ia juga juga seorang
mitra kerja yang menyenangkan dan telah lama tinggal di Palembang sehingga paham betul seluk
beluk daerah tersebut (ANRI, Besluit van Governour Generaal, tanggal 21 Agustus 1822 nomor
10, Bundel Algemeen Secretarie).
.

Universitas Indonesia
294

Sebagai residen Palembang, Sevenhoven tetap memilih untuk tinggal di


luar keraton yaitu di keraton Kuto Lamo (sebelah keraton Kuto Besak), yang
dihuninya sejak ia bertugas di Kesultanan Palembang. Tampaknya Van
Sevenhoven berubah pikiran dari keinginan awal untuk menghuni keraton Kuto
Besak, menjadi tetap mendiami tempat semula yaitu keraton Kuto Lamo. Hal itu
dilakukan karena kondisi keamanan di Palembang saat itu cukup kondusif. Di
samping itu, pengamanan kediamannya menjadi satu kesatuan dengan keraton
Kuto Besak. Hal itu juga merujuk pada kebiasaan para residen Belanda di Pulau
Jawa dan Makassar yang menetap di luar benteng. Menurut Sevenhoven, agar
seorang residen dapat menjalankan tugasnya dengan baik, hendaknya semua
kebutuhan residen dipenuhi dengan baik khususnya tempat tinggal. Sebagai
penguasa atas nama pemerintah Hindia Belanda di daerah, sudah selayaknya
rumah residen berupa bangunan besar dengan pemandangan yang indah dan
berada di lokasi strategis. Tempat yang paling pas untuk itu adalah keraton lamo
yang berlokasi di sebelah keraton Kuto Besak. Pemandangannya sangat indah,
yaitu Sungai Musi yang lebar, mampu dilayari oleh berbagai jenis kapal dan
perahu dengan berbagai ukuran. Dalam pandangan Sevenhoven, kondisi seperti
itu akan membuat seorang residen betah tinggal di tempat tersebut dan akan
menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena setiap pemindahan
seorang residen akan merugikan kepentingan pemerintah Belanda dan residen itu
sendiri. Dibutuhkan waktu lama bagi seorang residen baru untuk mengenal
medan tempatnya bertugas dan itu merupakan suatu pemborosan. Sementara itu,
rumah yang dihuninya saat itu adalah keraton Kuto lamo yang kondisinya sudah
sangat memprihatinkan. Untuk itu, di lokasi yang sama hendaknya dibangun
rumah residen yang layak. Akhirnya, pemerintah Belanda sepakat untuk
menghancurkan bangunan lama dan menggantinya dengan bangunan baru yang
megah. Bangunan itu yang nantinya menjadi kantor dan rumah Residen Van
Sevenhoven dan residen-residen setelahnya (ANRI, Besluit van Governour
Generaal, tanggal 21 Agustus 1822 nomor 10, Bundel Algemeen Secretarie).
Pada perkembangannya pemerintah Belanda semakin banyak campur
tangan dalam berbagai persoalan di Kesultanan Palembang. Hal itu tidak terlepas
dari semakin maraknya pelanggaran dan perlawanan terhadap berbagai ketentuan

Universitas Indonesia
295

pemerintah di sejumlah daerah di Kesultanan Palembang. Menghadapi hal


tersebut, Sultan tidak mampu berbuat banyak, karena tidak memiliki sarana dan
prasarana. Menghadapi hal tersebut, pemerintah Belanda di Palembang
memandang perlu untuk campur tangan langsung dalam pemerintahan khususnya
di uluan207. Usaha tersebut sekaligus untuk meningkatkan pendapatan.
Selanjutnya, Sevenhoven menyampaikan usul kepada pemerintah di Batavia agar
diizinkan untuk terlibat lebih dalam di Palembang. Usul itu diterima di Batavia
pada Juli 1822, atas dasar usul tersebut, pada 9 Oktober 1822 dibuat kontrak
sementara dengan Sultan Najmuddin III, yang intinya memuat tentang
ketidakmampuan Sultan menjalankan kontrak April 1821. Selanjutnya, pada Mei
1823 Sevenhoven menyerahkan laporan yang memuat penilaian tentang
pemerintahan dan pelaksanaan sistem baru di Kesultanan Palembang. Akhirnya,
atas dasar kontrak 9 Oktober 1822, pemerintah Hindia Belanda pada 3 Juli 1823
membuat kesepakatan dengan Sultan. Hasilnya pada 18 Agustus 1823 dibuat
kontrak antara Sultan Najamudin III dan pemerintah kolonial Belanda.
Kesepakatan itu disahkan pemerintah Hindia Belanda pada September 1823208.
Dinyatakan bahwa, kekuasaan Sultan Palembang baik di bidang pemerintahan,
keamanan, peradilan dan pajak dihapuskan. Sultan hanya berkuasa di bidang
peradilan agama, yang menangani masalah perkawinan, perceraian dan waris.
Pelaksanaan tugas tersebut diserahkan kepada seorang pangeran. Apabila suatu
perkara penanganannya tidak dapat diselesaikan oleh pejabat yang bersangkutan,

207
Menurut para pemimpin Belanda di Palembang (Sevenhoven, J.C. Reijns dan
J. Kruseman), Sultan Najamuddin III adalah orang yang lemah, ia banyak dipengaruhi
oleh golongan bangsawan bahkan dalam banyak hal Susuhunan Husin Dhiauddin lebih
“menentukan” dari Sultan. Dalam pandangan para wakil pemrintah Belanda di
Palembang, Sultan Najamuddin III tidak mampu memenuhi ketentuan Kontrak 1821,
antara lain tentang memajukan perdagangan, memberantas perampokan dan
perdaganan manusia, menghapuskan perdagangan budak (Kielstra, 1898: 100-103).
Argumen yang dikemukakan oleh pihak Belanda sumir, karena dalam kondisi habis
berperang dan baru kembali dari pembuangan, serta tidak memiliki kekayaan juga
pengalaman memerintah bahkan di bawah kendali “penguasa” Belanda. Adalah sesuatu
yang mustahil bagi Sultan Najamuddin III bebas bergerak untuk mewujudkan berbagai
ketentuan yang menjeratnya. Dengan demikian, alasan-alasan yang dikemukan terlihat
hanya sebagai “alat” untuk mengesahkan berbagai “kebijakan” yang telah dan akan
dilaksanakan atas kesultanan itu.
208
Menurut Kielstra (1892: 104), kontrak itu disetujui pemerintah pusat pada 7
Oktober 1823.

Universitas Indonesia
296

perkara tersebut diperbolehkan naik banding kepada Sultan. Di samping itu,


Sultan akan memperoleh penghasilan berupa gaji bulanan sebesar 1000 dollar
Spanyol, dengan kenaikan mencapai 500 dollar Spanyol. Para bangsawan juga
akan mendapat tunjangan yang besarnya belum ditetapkan, akan disesuaikan
dengan kemampuan keuangan pemerintah Belanda pada waktu itu. Lebih lanjut
disebutkan, bahwa Sultan diperbolehkan duduk dalam pengadilan sipil di bawah
pejabat pemerintah Belanda (ANRI, Bundel Palembang No.3, No 11B, 23 Januari
1823; No. 15 D VI; No. 4, 1971: 91, Veth, 1869: 655; Kielstra, 1892: 101-104).
Inilah riwayat Kesultanan Palembang setelah perjalanan panjang selama
sebelas tahun, sejak kemelut pertama dengan naiknya Pangeran Adipati
menggantikan kakaknya Sultan Badaruddin II pada 1812. Keinginan untuk
berkuasa kembali di kerajaan itu, membuat Sultan Najamuddin II dan puteranya
memanfaatkan peluang melalui kontrak pertama dengan Belanda (April 1821).
Hanya membutuhkan waktu dua tahun bagi Susuhunan dan Sultan untuk berkuasa
di Kesultanan Palembang, mereka sudah harus kehilangan semua kekuasaan
kecuali yang berkaitan dengan pelaksanaan hukum Islam. Dalam masa
pemerintahan mereka yang singkat, keduanya cenderung hanya berkuasa sebagai
simbol. Dengan demikian, jelaslah bahwa sesungguhnya keduanya tidak berkuasa
sebagaimana penguasa yang memiliki otoritas di sebuah kerajaan setua dan
sebesar Kesultanan Palembang. Dalam analisis ini, kembali dapat disimpulkan
tesis yang dikemukan oleh Nategaal (1996) bahwa keinginan Susuhunan dan
Sultan untuk menunggangi Belanda demi kepentingan mereka untuk berkuasa di
Kesultanan Palembang. Faktanya yang terjadi justru merekalah yang ditunggangi
sehingga semua kekuasaan yang mereka miliki satu persatu dilucuti.
Untuk melaksanakan tugas-tugas harian Kesultanan Palembang,
pemerintah Belanda mengangkat Pangeran Kramajaya (menantu Sultan
Badaruddin II) sebagai perdana menteri. Tugas itu mulai diembannya pada 5
September 1823, setelah disumpah di hadapan Komisaris Sevenhoven di dalam
keraton Palembang. Pelimpahan kekuasaan itu menuntut kemampuan untuk
mengendalikan wilayah Kesultanan Palembang yang sangat luas. Tanpa
pemerintahan yang kuat mustahil kekuasaan Belanda di daerah tersebut dapat
berjalan dengan baik (ANRI, Bundel Palembang No. 15 D VII). Posisi Pangeran

Universitas Indonesia
297

Kramajaya hanyalah pegawai yang digaji. Pengangkatannya semata-mata untuk


memudahkan pihak kolonial Belanda untuk mengendalikan penduduk Palembang
yang masih bersifat primordial.
Pascapenyerahan kekuasaan kepada pemerintah Belanda, berkembang
berbagai wacana tentang masa depan Palembang. Salah satunya yang
dikemukakan oleh Reynst dan Kruseman (pejabat semasa Komisaris van
Sevenhoven). Keduanya berpendapat bahwa (dimuat dalam surat Reynst kepada
Gubernur Jenderal pada 16 Oktober 1823 nomor 46) sebaiknya pemerintah
Belanda tetap menggunakan penguasa pribumi (sultan dan beberapa orang
pangeran) sebagai perantara dalam menjalankan pemerintahan. Untuk itu, perlu
ada kesepakatan dengan Sultan untuk mengatur pemerintahan dan membatasi
kekuasaannya. Strategi pemerintahan seperti itu dapat menekan biaya
pelaksanaaan pemerintahan di daerah itu menjadi sekitar f 200-300 ribu per tahun
dengan keuntungan tahunan mencapai f 4000. Hal itu bisa dicapai dengan catatan
―gaji‖ (uang pengakuan) untuk Sultan dikurangi. Pemerintah Belanda mutlak
merencanakan secara matang, sebelum melakukan perubahan besar atas
Palembang yang terkenal subur dan padat penduduknya. Pemerintah Belanda di
sana harus mendirikan sebuah benteng kecil tanpa armada laut, untuk
memudahkan mengendalikan keamanan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah
menggabungkan daerah Bengkulu yang berbatasan dengan Palembang, guna
memudahkan mengamankan daerah tersebut. Mengingat sejarah panjang kawasan
tersebut sebagai daerah yang senantiasa bergolak, dengan terjadinya perampokan,
penjarahan, dan perdagangan manusia209. Akan tetapi usul-usul itu ditolak
Gubernur Jenderal pada 14 November 1823. Menurut penguasa Belanda itu,
program penghematan yang akan dijalankan di Palembang adalah mengurangi
jumlah pasukan dan pangkalan armada, sedangkan untuk menambah pemasukan,
langkah yang akan diambil adalah memberlakukan pajak atas tanah dan perluasan
pertanian (ANRI, Bundel Palembang No. 70.3).
209
Usul itu belum memungkinkan untuk diwujudkan karena asisten residen yang
berkedudukan di Tebing Tinggi hanya memiliki kekuatan pasukan kecil. Akibatnya, tidak mampu
menegakkan pemerintahan di daerah itu. Para pejabat pemerintah Belanda umumnya belum
mengenal masyarakat yang sejak dahulu lebih berorientasi ke Bengkulu, mengingat jarak yang
jauh lebih dekat ke Bengkulu dari pada ke Palembang (ANRI, Bundel Palembang No. 70.3;
Kemp,1900: 435).

Universitas Indonesia
298

Kebijakan tersebut menjadi acuan dalam melaksanakan pemerintahan


Belanda di Palembang. Dengan mengurangi pasukan, mengingat kondisi sudah
cukup aman, biaya untuk serdadu dapat ditekan. Begitu pula dengan pengurangan
pangkalan armada, berarti biaya pengeluaran dapat diminimalisir. Sesuai saran
Sevenhoven, di Palembang diberlakukan pajak atas tanah yang akan memberikan
keuntungan yang berlipat ganda, mengingat tanah di Kesultanan Palembang
sangat luas dan subur. Hal itu juga sangat menguntung jika pertanian diperluas.
Setelah kekuasaan diserahkan, bagi Susuhunan dan Sultan bukan berarti
masalah selesai. Keduanya berada pada posisi sulit. Di satu sisi mereka harus
mematuhi ketentuan penyerahan kekuasaan kepada Belanda. Akan tetapi, di sisi
lain, mereka tidak mampu menolak tuntutan para bangsawan yang tetap
menginginkan diberlakukannya berbagai ketentuan penyerahan wajib (tenaga
manusia dan bahan makanan) yang selama ini mereka terima dari penduduk.
Selama ini kehidupan golongan bangsawan dipenuhi dengan berbagai kemudahan
dalam hidup. Mereka sulit menerima perubahan-perubahan yang memaksa mereka
untuk hidup seadanya tanpa berbagai ―hak istimewa‖ yang biasa mereka terima.
Keinginan itu tidak mampu mereka wujudkan karena tidak memiliki lagi
kekuasaan. Sultan dan Susuhunan tidak mempunyai kekuasaan lagi, mereka tidak
lebih dari symbol yang menyatakan bahwa di Palembang masih ada sultan dan
susuhunan. Semua kekuasaan sudah dikendalikan oleh pemerintah kolonial
Belanda. Kekecewaan mereka menumpuk dan berujung pada keinginan untuk
melepaskan diri dari kekuasaan kolonial. Wujudnya adalah pada 1823 Sultan
Najamuddin III menyewa dua orang penghulu senilai dua ratus dollar Spanyol
untuk membunuh Komisaris Van Sevenhoven, tetapi usaha itu tidak berhasil. P.P.
Roorda van Eysinga (pejabat keamanan pemerintah Hindia Belanda di
Palembang) berhasil menggagalkannya (Veth, 1869: 655). Usaha pembunuhan itu
membuat hubungan antara Sultan dan residen menjadi terganggu.
Di lain pihak, di berbagai daerah di uluan Palembang terjadi gangguan
keamanan dalam berbagai bentuk, misalnya penyerangan dan perampokan yang
dilakukan oleh orang-orang Pasemah. Pada waktu itu berkembang pula berita

Universitas Indonesia
299

tentang perlawanan yang menolak pungutan pajak tanah210. Penolakan terhadap


pungutan pajak terjadi di daerah Lematang. Akibatnya, depati Muin sebagai
penguasa di daerah itu pada April 1824 diganti dengan Pangeran Suradiwangsa.
Pergantian itu terjadi karena depati Muin dianggap tidak mampu mengurus pajak
di daerahnya. Daerah-daerah lain di uluan juga bergolak, antara lain di Ogan dan
Rawas. Untuk itu, pada 17 Juni 1824 Residen Reyns Palembang mengutus
Asisten Residen untuk uluan H. de Sturler dan Demang Astramenggala ke uluan
(ANRI, Bundel Palembang No. 46.4; The Asiatic Journal, vol. 20, 1825: 96).
Daerah Rawas selama kurun waktu 1823-1824 secara nyata menolak
membayar pajak dengan melakukan berbagai kerusuhan. Pada 29 Juli 1824 Said
(Sayid) Hamzah (orang Arab dari dusun Surolangun) bersama-sama dengan
Abdulmanan dan Khatib Kedin berhasil mengajak penduduk untuk memberontak
terhadap pemerintah kolonial Belanda. Menyikapi masalah tersebut, pemerintah
Belanda sepakat untuk mengirimkan tujuh puluh orang serdadu pribumi di bawah
pimpinan Pangeran Suradilaga dan Karanga (Rangga) Wirasentika ke Rawas pada
4 Agustus 1824. Hal itu ditempuh setelah usaha mereka untuk membawa tokoh-
tokoh pemberontak tersebut untuk diadili di ibu kota mengalami kegagalan, Di
samping itu, dikirim pula pasukan, persenjataan211 dan perbekalan serta sepuluh
perahu di bawah komando Pangeran Puspadiraja dan Keranga Setawijaya (depati
Rawas). Pasukan Pangeran Suradilaga juga membawa hadiah-hadiah berupa
pakaian dan ikat kepala untuk dibagikan kepada para depati di sana. Tujuannya
adalah untuk menarik simpati mereka dan bersedia mendukung pemerintah
kolonial Belanda. Dalam menjalankan misinya, Pangeran Suradilaga juga
menerapkan tradisi yang berlangsung semasa sultan-sultan Palembang melakukan

210
Pemerintah Belanda menerapkan pajak tanah sebesar tiga gulden, pungutan pajak itu
yang menjadi salah satu faktor penting mereka memberontak, sebagaimana dilansir oleh Singapore
Chroniek (6 Januari 1825) (The Asiatic Journal, vol. 20, 1825: 96).

211
Besluit No. 83, 27 Agustus 1824 memuat tentang persenjataan yang dibawa
terdiri dari tiga senapan logam satu pon, tiga senapan moncong letus setengah pon, 150
peluru satu pon, 150 peluru setengah pon, 200 pon mesiu artileri, dua periuk tembaga,
dua lepel dengan penarik, enam tanduk mesiu, 2000 peluru senapan, 91 senapan, 100
pon mesiu infanteri, 150 tumpuk kertas pola, 70 batu api. Residen juga memberikan
pinjaman berupa satu kumparan logam seberat 221 pon, delapan senapan, empat
senapan bermoncong besar. Residen menyewa 41 senapan dan senapan bermoncong
lebar seharga f 2,5 (ANRI, Bundel Palembang No. 5.5).

Universitas Indonesia
300

kunjungan ke daerah uluan. Tradisi itu adalah dusun-dusun yang dilewati oleh
pangeran itu ikut menyertakan penduduknya212 guna memperkuat rombongan
tersebut. Di samping itu, terlibat pula beberapa orang tokoh dari keraton, antara
lain Pangeran Kramayudo, Raden Mohamad Said, Raden Sabudin, Demang
Wiratama, Demang Walo Sentiko Adenan, Kiagus Kling bin Tanjung, Kiagus
Kling, Pangelima Tama, Pangelima Dalam, dan Nahuda Kahar. Pemerintah
Belanda juga meminta tambahan pasukan militer dari Pulau Bangka. (ANRI,
Bundel Palembang No. 5.5; No. 4, 1971: 91-92).
Dilihat dari persiapan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda, baik
personil maupun peralatan persenjatan, dapat disimpulkan bahwa mereka
menanggapi perlawanan dari penduduk uluan dengan serius. Pihak Belanda sudah
banyak belajar dari pengalaman selama ini, bahwa sekecil apapun suatu
pembangkangan harus dihadapi dengan penuh kewaspadaan. Sebab penduduk
Palembang terkenal militan dan dapat melakukan serangan secara tiba-tiba tanpa
mereka mampu mempredikasikannya sebelumnya.
Ekspedisi yang dipimpin Pangeran Suradilaga berhadapan dengan pasukan
Rawas. Pertempuran terjadi di sana, yang sebagian besar melibatkan sesama
penduduk Palembang. Dalam pertempuran itu, jumlah pemberontak Rawas jauh
lebih besar dari yang diperkirakan semula. Akibatnya pasukan yang dipimpin
Pangeran Suradilaga tidak mampu mengatasi keadaan dan terpaksa mundur ke ibu
kota (ANRI, Bundel Palembang No. 5.5; No. 4, 1971: 91-92). Dengan demikian,
penyerahan kekuasaan dari Sultan kepada pemerintah Belanda diikuti berbagai
peraturan yang menekan penduduk, misalnya pajak. Yang menyebabkan
penduduk uluan memberontak.

6.2 Perlawanan Sultan Ahmad Najamuddin III

Berbagai bentuk perlawanan di uluan, tidak dapat dilepaskan dari usaha Sultan
Najamuddin III untuk mengobarkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda
yang didukung oleh para ulama setempat. Sultan dan Susuhunan juga dihadapkan

212
Delapan orang dari Bailangu, empat puluh orang dari Sekayu, delapan orang
dari Sukarami, seratus orang dari Lawang Wetan, dan lima puluh orang dari Suka
Punjung (ANRI, Bundel Palembang No. 5.5).

Universitas Indonesia
301

pada kekecewaan lain yaitu dikeluarkannya keputusan Komisaris Palembang pada


26 Septermber 1824 No. 119. Dalam surat keputusan itu disebutkan bahwa pasal
46 Kontrak 28 April 1821 belum diputuskan secara khusus. Oleh karena itu, jatah
garam untuk sultan dan susuhunan yang seharusnya sebanyak lima belas koyang,
akan diberikan setengahnya (ANRI, Bundel Palembang No. 5.5). Keputusan
tersebut membuat Sultan dan Susuhunan semakin menumpuk rasa kecewa
terhadap pemerintah Belanda. Perasaan sakit hati itu berkembang menjadi
keinginan untuk melepaskan diri.
Rasa tidak puas yang menumpuk baik di ibu kota maupun di uluan,
memberi peluang terwujud dalam bentuk rasa kekecawaan yang memuncak.
Berita tentang kondisi uluan yang bergolak menyebar ke ibu kota Palembang
pada akhir Oktober dan awal Nopember 1824. Menghadapi situasi itu Residen
Reyns meminta klarifikasi kepada Sultan Najamuddin III dan Susuhunan Husin
Dhiauddin. Ia menuntut agar sultan menghukum para penyebar isu yang tidak
bertanggungjawab tersebut. Untuk itu, Sultan menyatakan kesanggupannya dalam
dua kali kunjungannya menemui Residen (ANRI, Bundel Palembang No. 4, 1971:
91-92; Bataviaasche Courant, 18 Desember 1824, No.51).
Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kolonial
Belanda di Palembang memiliki gambaran yang sama sekali berbeda tentang para
pemimpin, rakyat dan alam Palembang. Mereka berpikir bahwa apabila ibukota
Palembang telah berhasil dikuasai, akan dengan mudah menguasai daerah uluan
Palembang. Ternyata perkiraan dalamtu pelaksanaannya jauh berbeda. Terbukti
mereka dihadapkan pada berbagai perlawanan, termasuk perlawanan dari daerah
Rawas dan Ogan. Di Ogan pemberontakan dikobarkan oleh para ulama. Mereka
menolak membayar pajak yang telah ditentukan oleh pemerintah Belanda.
Perlawanan itu dipadamkan dengan pengiriman beberapa pejabat Palembang
untuk berunding dengan para depati di sana. Apabila tidak berhasil, pasukan
penaklukan akan dikirimkan ke sana. Pengiriman eskpedisi militer keberbagai
daerah di uluan, tidak membuat perlawanan itu mereda. Sebaliknya, perlawanan
makin berkembang dan meluas ke daerah-daerah lain di Kesultanan Palembang.
Satu hal yang sangat ditakutkan oleh pemerintah Belanda adalah bersatunya
pasirah Bliti dan Klingi untuk melawan penguasa kolonial. Oleh karena itu,

Universitas Indonesia
302

mereka berusaha sungguh-sungguh agar hal itu tidak terjadi, dengan cara
mencegah terjadinya perpindahan penduduk dari kedua wilayah tersebut. Bliti dan
Klingi memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap Belanda. Penduduk
setempat, sejak mundurnya Sultan Badaruddin II ke sana (1812). meneruskan
perjuangan melawan Inggris dan Sultan Najamuddin II. Begitu pula enam tahun
kemudian, ketika Muntinghe bersama pasukannya tetap di sana setelah menghalau
pasukan Inggris. Kawasan tersebut menjadi pendukung setia Sultan Badaruddin II
dan sangat gigih melawan pendudukan asing (ANRI, Bundel Palembang No. 47.6;
No. 4, 1971: 93-94; Kielstra, 1892: 96).
Situasi di ibu kota Palembang makin tegang. Untuk itu, pemerintah
kolonial Belanda menyiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan. Langkah
yang ditempuh adalah mengerahkan pasukan dari Muntok, dan mendatangkan
kapal perang Dolphijn di bawah komando Kapten-Letnan Bloemendal. Kapal itu
sudah berada di perairan Sungai Musi pada Nopember213, dan tetap di sana hingga
Desember 1824, Akan tetapi, kehadiran kapal perang dan tambahan serdadu tidak
membuat kondisi di ibukota menjadi kondusif, terbukti pada 21 November 1824,
sebanyak 22 orang serdadu Belanda yang terdapat di garnisun diracun, tetapi
berhasil diselamatkan. Residen mencurigai pelakunya adalah salah seorang
pengawal Sultan Najamuddin III (ANRI, Bundel Palembang No. 5.5; No. 50.2;
Bataviaasche Courant, 18 Desember 1824 nomor 51).
Dalam rangka menyelesaikan masalah tersebut, Residen mengirim
beberapa orang utusan untuk menangkap pelaku. Akan tetapi, setibanya petugas-
petugas tersebut di kediaman Sultan, mereka ditangkap dan dipenjarakan atas
perintah Sultan. Sore214 harinya, Susuhunan Husin Dhiauddin mengundang semua
pejabat kesultanan yang ditempatkan di kantor residen. Sebagian besar pejabat
tersebut memenuhi undangan itu, kecuali beberapa orang yang mendapat tugas
dari residen. Setibanya para pejabat itu di rumah Susuhunan, ia memerintahkan

213
Sumber arsip lainnya (ANRI, Bundel Palembang No. 5.5) menyebutkan
bahwa kapal perang Dolphijn sudah ada di pelabuhan Palembang sejak Pebruari 1824.
214
Sumber Bataviaasche Courant (18 Desember 1824, No. 51), menyebutkan
hal itu terjadi pada siang hari.

Universitas Indonesia
303

untuk menangkap para pejabat tersebut215, bahkan salah satu dari pejabat yang
terlibat dalam pertemuan tersebut diciderai karena berusaha melarikan diri.
Menghadapi insiden itu, Residen Palembang menuntut Sultan Najamuddin III
agar segera mengirimkan orang kepercayaannya untuk menghadap dirinya. Sultan
tidak menggubris tuntutan tersebut, bahkan menahan pertugas yang membawa
pesan dari Residen. Sultan memperingatkan Residen bahwa malam itu juga ia
akan menyerang kediaman Residen (keraton Kuto Besak) (ANRI, Bundel
Palembang No. 4, 1971: 92; Bataviaasche Courant, 18 Desember 1824, No.51)
Menghadapi situasi seperti itu, Residen menyiagakan para serdadu
angkatan darat dan laut serta armada. Pada 22 Nopember 1824, pukul 04.00
setelah lonceng benteng berdentang, sebanyak tiga hingga empat ratus orang
keluar dari rumah Sultan mendekati keraton. Dalam kegelapan malam pasukan
Belanda mengenali suara Sultan yang memimpin penyerangan dan suara para
serdadunya. Sambil meneriakkan Sabil Allah (berjuang demi Allah) pasukan
Sultan maju menyerang pertahanan Belanda. Terjadi pertempuran selama hampir
satu jam. Peperangan berakhir setelah pasukan sultan menarik diri. Pasukan
Belanda tidak mengejar pasukan Sultan karena gelap. Pagi harinya ditemukan
tujuh mayat pasukan sultan termasuk Pangeran Citrawijaya di keraton Kuto
Besak. Akan tetapi, berita yang berkembang pada waktu itu adalah jumlah yang
terbunuh mencapai dua puluh hingga tiga puluhan orang dari pihak sultan.
Sedangkan dari pihak Belanda sebanyak dua puluh tiga orang serdadu yang
terluka, termasuk dua orang yang kemudian meninggal216 (ANRI, Bundel
Palembang No. 4, 1971: 92; Bataviaasche Courant, 18 Desember 1824 No. 51).
Dua jam setelah pertempuran berakhir, para pejabat yang ditahan oleh
Susuhunan diizinkan kembali ke keraton. Sebelum mereka kembali ke keraton, ia
meminta kepada mereka untuk menyampaikan permintaan maaf atas nama diri
dan puteranya kepada Residen Palembang. Mereka berjanji akan menyerahkan
215
Sumber Bataviaasche Courant ( 18 Desember 1824, No.51), menyebutkan
bahwa penangkapan itu terjadi bukan atas perintah Susuhunan, tetapi atas perintah
Sultan Najamuddin III. Hal itu diketahui oleh Residen pada 21.00.
216
Serdadu Belanda yang terluka adalah Letnan-1 artileri Bastiaanze, letnan-2 infanteri
Boelhouwer, penjabat wakil inspektur administrasi militer Schultze, letnan-2 angkatan laut W.
Steffens, letnan-2 angkatan laut kolonial J. Steffens, Letnan Schrijner dan Bosman (Bataviaasche
Courant, 18 Desember 1824, No. 51).

Universitas Indonesia
304

senjata yang dimilikinya kepada residen. (ANRI, Bundel Palembang No. 4, 1971:
92-93; Bataviasche Courant, 18 Desember 1824 No, 51).
Dari berbagai tindakan Sultan Najamuddin III, tampak bahwa Sultan telah
melakukan kecerobohan dan kenekadan dalam serangan itu. Pada umumnya
perlawanan yang dilakukan oleh para penguasa Kesultanan Palembang selalu
dipersiapkan dengan matang. Tindakan yang ditempuh oleh Sultan menunjukkan
bahwa ia melakukannya dengan keragu-raguan. Beberapa hari sebelum
penyerangan itu terjadi, sudah menjadi rahasia umum bahwa Sultan akan
melakukan penyerangan. Otomatis berita itu mendorong pihak Belanda
mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan yang direncanakan tersebut,
sedangkan Sultan hanya memiliki senjata berupa meriam-meriam yang hanya
layak untuk tembakan penghormatan. Padahal jarak keraton dengan rumah Sultan
hanya satu tembakan senapan. Artinya, apa yang terjadi di kedua lokasi tersebut
akan dengan cepat diketahui oleh mereka masing-masing. Hanya dengan
tembakan meriam-meriam dari benteng Residen ke rumah Sultan, kediaman
Sultan dapat dengan mudah dihancurkan (Bataviasche Courant, 18 Desember
1824 nomor 51).

Selanjutnya Residen Reynst217 memerintahkan Susuhunan dan Sultan


untuk meninggalkan Palembang menuju Batavia. Keputusan itu disampaikan
Reynst melalui Pangeran Bupati Panembahan, dan Pangeran Depati Muda
Abdulrachman (dua saudara Susuhunan). Susuhunan menerima perintah itu. Ia
dan empat belas orang lainnya (para istri, anak-anak dan pengiringnya) pada`24
Nopember 1824 berlayar ke Batavia menumpang kapal layar Wilhelmina218
dengan pengawalan militer. Mereka tiba di Batavia pada 6 Desember 1824.
Selama di Batavia mereka ditampung di balai kota. Berbeda dengan Susuhunan
yang mematuhi perintah residen, Sultan Najamuddin III menolak keputusan
tersebut. Sultan bersama para pengikutnya meninggalkan ibu kota Palembang

217
Joan Cornelis Reynst sejak 1 Juli 1823 sudah menjabat sebagai ajun komisaris
di Palembang. Selanjutnya ia menjadi residen Palembang sampai dengan 1826
(Encyclopedi Netherlands Indie Jilid IV, 421).
218
The Asiatic Journal (Vol.17, 1824: 361), menyebutkan bahwa Susuhunan
bersama empat belas pengikutnya yang dirantai dibawa ke Batavia dengan kapal The
Dolphin

Universitas Indonesia
305

mundur ke uluan. Pasukan Belanda mengerahkan semua kekuatan di bawah


pimpinan Letnan Kolonel Van Castel guna mencegah Sultan mencapai Rawas.
Pihak Belanda tidak menginginkan bergabungnya kekuatan Sultan dengan
penduduk Rawas. Apabila hal terjadi kedudukan Belanda sangat berbahaya.
Sementara itu, Susuhunan tidak lama hidup sebagai buangan di Batavia; ia jatuh
sakit dan wafat di rumah salah seorang ulama pada 21 Pebruari 1825. Berita itu
diketahui Residen Palembang berdasarkan surat sekretaris umum Bouguez kepada
residen Palembang Nomor: 1, 28 Pebruari 1825219. Seluruh biaya pemakamannya
ditanggung pemerintah Belanda, sedangkan para istri, anak-anak dan para
pengikut almarhum Susuhunan serta semua hartanya yang tersisa dikirim ke
Palembang (ANRI, Bundel Palembang No, 50.2; No. 4, 1971: 93; Bataviasch
Courant, 18 Desember 1824 No. 51; Kielstra, 1892:107-108). Dengan demikian,
sejak susuhunan wafat, tidak ada lagi keluarga dan pengikutnya yang tinggal di
Batavia.

Dari uluan, Sultan Najamuddin III mengobarkan perlawanan terhadap


pemerintah Belanda. Sultan bergabung dengan perlawanan yang sudah
berlangsung sebelumnya di Rawas, yang dipimpin oleh Said Hamzah. Setelah
keberangkatan Sultan ke uluan dan susuhunan ke Batavia, harta kekayaan sultan
dan pengikutnya dihancurkan begitu pula bangunan-bangunannya diratakan
dengan tanah atau dibakar. Untuk meredam kekuatan Sultan, pemerintah Belanda
memerintahkan Assisten Residen H. de Sturler membawa seratus orang serdadu
ke uluan. Dalam menjalankan tugasnya, ia dibantu oleh Letnan Shrijner dan
Kapten Lameer/Lemmers. Berdasarkan laporannya tertanggal 25 Desember 1824
ke Batavia, dapat diketahui bahwa untuk menyukseskan misinya, H. de Sturler

219
Berdasarkan sumber arsip lain dan koran, disebutkan bahwa Susuhunan wafat 25
Pebruari 1825 (ANRI, Bundel Palembang No. 4, 1971: 93; Bataviasche Courant, 18 Desember
1824 No. 51), sedangkan The Asiatic Journal (vol. 20, 1825) dan Kielstra (1892: 108)
menyebutkan bahwa Susuhunan wafat pada 22 Pebruari 1825. Perbedaan tanggal wafatnya
Susuhunan bisa jadi disebabkan berita yang diterima koran menyebutkan tersebut tanggal tersebut,
begitu pula dengan sumber yang diterima oleh arsip Bundel No. 4 atau The Asiatic Journal. Akan
tetapi peneliti berpatokan pada sumber arsip yang memuat hal tersebut berdasarkan surat sekretaris
umum Bouguez kepada Residen Palembang Nomor: 1, 28 Pebruari 1825 (ANRI, Bundel
Palembang No, 50.2)

Universitas Indonesia
306

menempuh berbagai cara, antara lain mengerahkan semua pancalang untuk


memperlancar mobilitas di sungai dengan pasukan yang besar. Sturler juga
memanfaatkan para bangsawan dan para depati di uluan untuk terlibat dalam
ekspedisi itu. Bangsawan yang terlibat dalam ekspedisi adalah Pangeran Adipati
Abdulrahman, Pangeran Suradilaga, Pangeran Purbayo, Demang Buncul,
Tumenggung Kartanegara, Raden Muin dan Kranggaunut. Dari uluan yang
terlibat adalah Pangeran Pulau Panggung. Sturler juga memerintahkan para
pasirah dan proatin di uluan agar membujuk Sultan untuk menyerahkan diri
kepada pemerintah Belanda. Cara lain yang ditempuhnya adalah menggunakan
jasa mata-mata, contohnya memanfaatkan Raden Mohamad (cucu Pangeran
Natadireja) sebagai mata-mata (ANRI, Bundel Palembang No.46.4; The Asiatic
Journal, vol. 17, 1824; 361).

Semuanya dikerahkan untuk menggagalkan perlawanan Sultan. Tampak


bahwa pihak Belanda tidak mau mengambil resiko, jangan sampai perlawanan
Sultan berlarut-larut dan mendapat dukungan besar dari penduduk uluan. Untuk
itu, pihak Belanda menempuh berbagai cara agar secepatnya berhasil
melumpuhkan perlawanan Sultan, termasuk menjalankan politik adu domba
keluarga keraton dengan iming-iming harta dan jabatan jika berhasil menangkap
Sultan.

Pada saat ekspedisi dimulai, pasukan Sultan telah tiba di Pan Rejang
bersama lima puluh orang pengikutnya. Dari sana Sultan bermaksud menuju
Rawas dan Kikim. Sewaktu berada di Rawas, Sultan mendapat serangan dari
pasukan Belanda di bawah pimpinan Pangeran Suradilaga dan Kranggaunut.
Dalam peperangan itu, Sultan berhasil memukul pasukan Palembang. Walaupun
demikian, dengan adanya ekspedisi itu, kekuatan Sultan di Rawas semakin lemah
(ANRI, Bundel Palembang No. 46.4). Selanjutnya, Sultan bergerak ke Kikim. Di
sana ia mendapat banyak bantuan dari Demang Rema Bonjol (Pangeran Bajau).
Di Kikim Sultan mendirikan kubu pertahanan. Setelah itu, ia bersama dengan
Demang Rema Bonjol menghimpun dukungan dari orang-orang Pasemah dan
penduduk setempat. Akan tetapi, selanjutnya orang-orang Pasemah menarik
dukungan mereka terhadap Sultan dan membunuh Demang Rema Bonjol.

Universitas Indonesia
307

Peristiwa itu terjadi karena dihasut anggota pasukan Belanda (ANRI, Bundel
Palembang No. 46.4; Woelders, 1975: 114-115). Betapa rapuh kekuatan yang
dihimpun Sultan, sehingga Sultan sulit mengembangkan diri dan kondisi itu
diperparah dengan tidak adanya dukungan sarana dan prasarana. Sultan cenderung
hanya mengandalkan kesetiaan segelintir orang.
Ekspedisi lain untuk mengejar Sultan adalah pasukan yang dipimpin oleh
Pangeran Purbayou. Ia mendarat di Pelawe bersama 130 orang serdadu. Dari
Pelawe Pangeran Purbayou mengirimkan utusan Si Blewak untuk menemui
sultan. Sesampainya di sana Si Blewak ditahan oleh sultan selama beberapa
waktu, tetapi kemudian dilepaskan. Berdasarkan informasi Si Blewak kepada
Sturler, mereka dapat mengetahui kekuatan persenjataan, serdadu dan gerak
mundur sultan menuju Bengkulu. Sementara itu, komandan militer Belanda di
Palembang memberi instruksi kepada Sturler bahwa tujuan utama ekspedisi
adalah menangkap Sultan dan memulihkan ketenangan di Rawas. Akan tetapi,
Sturler mempunyai pendapat yang berbeda. Menurutnya, hal pertama yang harus
dilakukan adalah menaklukkan Rawas. Setelah misi itu berhasil, langkah
berikutnya adalah mengejar Sultan. Jika mereka lebih mengutamakan mengejar
Sultan dengan meninggalkan musuh di belakang, bukan mustahil Sultan melalui
pengikutnya memperkuat kedudukan di Rawas. Daerah itu akan tetap berada
dalam kondisi darurat yang akan membahayakan kedudukan Belanda. Akan
tetapi, sampai saat itu usaha mereka untuk menaklukkan Rawas belum juga
berhasil (ANRI, Bundel Palembang No. 46.4).
Pada awal Agustus 1825 Residen Reynst kembali mengirimkan pasukan ke
uluan. Pengiriman pasukan kali itu membuat posisi Sultan makin terdesak. Ia
tidak banyak mendapat dukungan dari penduduk uluan, bahkan sebagian besar
meninggalkannya. Akibatnya, Sultan tidak mampu lagi meneruskan perlawanan
dan menyerah220. Setelah Sultan ditangkap, pemerintah Belanda memutuskan
untuk tidak lagi mengirimkan kesatuan militer ke uluan. Bagi mereka langkah
terbaik adalah mendirikan pos-pos penjagaan yang akan memantau kondisi

220
Berdasarkan surat Asisten Residen Donker (7 Oktober 1825 No. 289) kepada
Residen Bengkulu, diketahui bahwa seluruh Palembang sudah tenang karena Sultan
Najamuddin III telah tertangkap. Ia dan dua puluhan pengikutnya dikirim ke Batavia
(ANRI, Bundel Palembang No. 44.4)

Universitas Indonesia
308

keamanan di sana. Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan No. 140, 7 Oktober


1825, Sultan bersama dengan empat belas tawanan lainnya dikirim ke Batavia
menggunakan kapal perang Lijnx. Pengadilan Palembang telah memutuskan
bahwa Sultan dijatuhi hukuman buang dan kerja paksa221. Ia harus diperlakukan
sebagai raja tawanan, tidak boleh melakukan apapun dan berbicara dengan orang
lain. Semua orang buangan dirantai termasuk saudara sultan. Pada November
1825 Sultan Najamuddin III dikirim ke Banda. Di sana ia mendapat tunjangan
sebesar f 30 per bulan. Akan tetapi, di sana ia dianggap membahayakan sehingga
pada 1841 dipindahkan ke Manado sampai akhir hayatnya pada 1844 (ANRI,
Bundel Palembang No.44.4; No. 62.2; No. 4, 1971: 93; Rahim, 1998: 82;
Woelders, 1975:26).

6.3 Keruntuhan Kesultanan Palembang

Sejak Sultan Najamuddin III dibuang ke Banda, kedudukan Sultan berakhir.


Selanjutnya, pemerintahan di Palembang hanya dipegang oleh seorang perdana
menteri yang bertanggungjawab kepada residen. Pemerintah Belanda membuat
kebijakan memberikan uang pensiun kepada sejumlah bangsawan, keturunan
sultan-sultan Palembang. Para anggota kerabat sultan membentuk kelompok
kerabat tersendiri, yang itu berkaitan dengan adat istiadat di Kesultanan
Palembang. Pelan tetapi pasti, para keturunan sultan mengalami kemiskinan
seiring berakhirnya Kesultanan Palembang. Harta kekayaan mereka secara
bertahap semakin menipis, sedangkan uang pensiun yang diterima dari pemerintah
Belanda tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Kondisi itu
menimbulkan perasaan tidak puas di kalangan bangsawan, yang makin lama
semakin meningkat dan berujung pada usaha untuk melepaskan diri dalam bentuk
pemberontakan (Kielstra, 1892:105).
Pemerintah Belanda memperkenalkan sistem pemerintahan bentuk baru
yang membuat rakyat Palembang merasa ―asing‖ dan tidak nyaman. Apalagi
mereka dihadapkan pada berbagai pungutan atas tanah yang telah mereka huni

221
Selain itu, sebanyak lima orang dikenakan hukuman mati, 34 orang dihukum
seumur hidup (Woelders, 1975: 26).

Universitas Indonesia
309

dan garap dari nenek moyang mereka. Menurut mereka, semua tanah adalah milik
sultan yang boleh dikelola sebaik-baiknya demi kepentingan mereka sendiri. Jika
mereka harus menyerahkan sesuatu kepada sultan, itu hanya berupa hasil bumi
dan tenaga. Semua kewajiban rakyat kepada sultan dirasakan rakyat tidak
memberatkan dan dikaitkan sebagai bakti terhadap ―junjungan‖ mereka yang
berkedudukan di ibu kota kesultanan. Di kalangan rakyat Palembang berkembang
rasa ―menolak‖ atas kehadiran ―orang-orang kafir” di wilayah mereka. Penolakan
itu berubah menjadi aksi perlawanan di bawah para pemimpin tradisional (depati
dan ulama) setempat terhadap pemerintah Belanda. Di kota Palembang, kelompok
yang ingin kembali kepada kondisi lama jumlahnya cukup besar yang terdiri dari
keturunan bangsawan. Pada mulanya mereka masih menduduki posisi penting
dalam kehidupan sosial di pusat pemerintahah, namun posisi mereka semakin
turun seiring kemiskinan yang melanda. Di bawah pimpinan Pangeran Bupati
Panembahan dan adik Sultan Najamuddin III, bersama-sama dengan keluarga
bangsawan lainnya menggalang kekuatan menolak pemerintahan Belanda.
Mereka bermaksud mengembalikan kekuasaan lama. Akan tetapi, di mata
pemerintah Belanda penolakan itu tidak akan berkembang, karena penduduk
Palembang tidak memiliki dukungan dana atau kemampuan luar biasa untuk
mewujudkannya (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2). Dengan demikian, usaha
pemiskinan terhadap golongan bangsawan merupakan sarana efektif membuat
mereka ―diam‖, sehingga usaha-usaha mereka untuk menggalang kekuatan tidak
akan banyak membantu mereka untuk kembali kepada masa lalu. Kejayaan masa
lalu hanya layak dikenang tanpa ―kemampuan‖ yang memadai untuk kembali ke
masa itu.
Menghadapi situasi yang ada, memaksa golongan itu untuk bertahan.
Salah satunya dengan cara tetap ―memamerkan‖ sedikit kekayaan masa lalu
dengan tetap mempertahankan budak dan anak semang222. Mereka hidup dalam
sisa-sisa kebesaran masa lampau yang telah redup. Hal itu akan memicu
terjadinya ledakan kekecewaan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bara itu

222
Orang (satu keluarga yang terdiri orang dan anak-anak) yang tidak mampu
membayar hutang. Mereka mengabdi pada orang tempat berhutang sampai lunas.
Apabila ada yang bersedia membayar hutang mereka, berarti mereka berpindah tangan
mengikuti orang yang membayar hutang tersebut (The Asiatic Journal Vol. 17, 1824: 34).

Universitas Indonesia
310

tumbuh mulai dari kalangan bangsawan dan menjalar ke rakyat. Penggabungan


dua kubu itu akan memunculkan kekuatan baru untuk melawan Belanda.
Sementara itu, kondisi di uluan berbeda dengan di ibu kota. Penduduk ibu kota
tidak dapat bertani, sedangkan penduduk uluan sebagian besar hidup dari
pertanian223, perkebunan serta hasil hutan (ANRI, Bundel Palembang No. 62.2).
Akibatnya, kehidupan di uluan tidak merosot sebagaimana terjadi di ibu kota
Palembang.
Pemerintah Belanda selanjutnya menyederhanakan sistem pemerintahan di
Palembang, melalui keputusan Komisaris Jenderal pada 16 Agustus 1826 dalam
Lembaran Negara nomor 37. Pos-pos yang ada disederhanakan dengan cara
mengbungkannya, dan mengurangi gaji pegawai, sehingga mampu melakukan
penghematan sebesar f 26.942. Kebijakan itu diambil karena masih tingginya
biaya dalam menjalankan roda pemerintahan di Palembang. Situasi itu membuat
Muntinghe (Anggota Dewan Hindia) pada 1827 mengusulkan agar pemerintah
Belanda mengangkat kembali sultan, yang akan menjadi perpanjangan tangan
pemerintah Belanda. Sultan tersebut akan diikat dalam suatu kontrak yang
didalamnya menyebutkan bahwa kopi dan lada harus diserahkan kepada
pemerintah Belanda dengan harga yang telah ditentukan. Muntinghe berharap
meniru sebagaimana dahulu diberlakukan oleh VOC. Usul itu ditolak oleh
Sevenhoven dengan mengingatkan pemerintah Belanda akan kelicikan para
bangsawan Palembang yang senantiasa ―berkhianat‖ terhadap Belanda. Ia juga
memaparkan prospek masa depan yang akan diperoleh dari Palembang melalui
pajak tanah dan pemasukan lainnya. Tampaknya pemerintah Belanda di
Palembang cenderung menerima pendapat Sevenhoven daripada Muntinghe.
Terbukti yang berlaku di Palembang adalah diteruskannya sistem pajak dan
pemerintahan penduduk hanya diwakili oleh Perdana Menteri.

223
Wilayah ibu kota Palembang sebagian besar terdiri dari dataran rendah
(rawa) dan sungai-sungai, sehingga tidak cocok untuk pertanian. Apalagi sebagai
keturunan bangsawan mereka tidak mampu bertani.

Universitas Indonesia
311

BAB 7
KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan.


Awal abad XIX Kesultanan Palembang memasuki era baru, yaitu naik tahtanya
Sultan Ratu Mahmud Badaruddin II, dan terjadinya konflik berkepanjangan sejak
1812. Kemelut itu berawal dari ekspedisi Inggris yang dengan mudah dapat
menguasai Kesultanan Palembang. Peristiwa itu terjadi karena adanya
―komitmen‖ antara Pangeran Adipati dan Kolonel Gillespie yang berfungsi
sebagai panglima ekspedisi pada waktu itu. Hal itu dilakukan oleh Pangeran
Adipati dalam rangka mewujudkan cita-citanya menduduki posisi puncak di
kesultanan itu. Tanpa cara tersebut, hampir bisa dipastikan bahwa keinginannya
untuk menduduki tahta di Kesultanan Palembang tidak akan terwujud. Sultan
Badaruddin II yang menjadi penguasa di Palembang pada waktu itu terkenal
sebagai sultan yang mendapatkan dukungan dan legitimasi dari para bangsawan
Palembang. Apalagi sejak masa pemerintahan ayah mereka, berlanjut masa Sultan
Badaruddin II secara politik dan ekonomi Kesultanan Palembang berada dalam
kondisi stabil. Sultan Badarudin II bahkan berhasil menempatkan Palembang
sebagai salah satu kerajaan penting di Nusantara.
Dalam hirarkhi pemerintahan di Kesultanan Palembang, posisi Pangeran
Adipati adalah sebagai penasehat dan pembantu sultan dalam menjalankan tugas-
tugas pemerintahan. Pangeran Adipati juga berfungsi sebagai wali dari putera
mahkota yaitu Pangeran Ratu. Ia bertugas menyiapkan Pangeran Ratu untuk
menggantikan sultan apabila waktunya telah tiba. Dengan demikian, posisi
Pangeran Adipati sangat strategis, ia merupakan orang kedua setelah sultan.
Sebagai orang kedua, pada saat itu keberadaan Pangeran Adipati berada di bawah
bayang-bayang Sultan Badaruddin II yang terkenal sebagai sultan yang
berwibawa tinggi, kuat, dan cerdas. Keinginan itu terwujud dengan datangnya
tawaran menduduki tahta dari Inggris. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya oleh Pangeran Adipati, dengan tidak melakukan perlawanan dan
menyerahkan benteng Borang kepada pasukan ekspedisi Inggris. Keinginan ini

Universitas Indonesia
312

telah lama terpendam, karena pihak Belanda sejak awal pemerintahan Sultan
Badaruddin II telah mencurigai Pangeran Adipati sebagai orang yang
―membahayakan‖ karena gerak-geriknya pada waktu itu. Meskipun demikian, hal
itu tidak muncul ke permukaan. Jadi, berdasarkan fakta yang ada dapat
disimpulkan bahwa keinginan untuk menduduki tampuk pemerintahan di
Kesultanan Palembang, sudah ada sejak Sultan Badaruddin II naik tahta. Silih
gantinya kepemimpinan di suatu kerajaan, merupakan gambaran umum yang
terjadi pada kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara. Hal itu dapat dirujuk pada
pendapat Tarling (1994), bahwa kelembagaan pemerintahan di kerajaan-kerajaan
Asia Tenggara awal abad XIX umumnya bersifat informal, tidak permanen, dan
bersifat pribadi. Kondisi itu memberi peluang kepada golongan bangsawan atau
elite lokal untuk senantiasa menggoyang dan menghancurkannya, baik dengan
kekuatan sendiri atau menggunakan kekuatan pihak lain. Bentuk seperti inilah
yang terjadi di Kesultanan Palembang, dengan menggunakan kekuatan militer
Inggris, Pangeran Adipati menggapai impiannya berada ditampuk pemerintahan
Kesultanan Palembang.
Perubahan pemegang kekuasaan di Palembang, dikaitkan pula dengan
mitos yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Mitos akan munculnya
penguasa, yang bukan putera mahkota dan bukan pula putera bungsu. Pangeran
Adipati memaknai mitos itu dengan adanya ―peluang‖ untuk mewujudkan
impiannya. Sebagai orang kedua, ia merasa berhak menurunkan kakaknya dari
singgasana kerajaan. Padahal, kalau diruntut maka Pangeran Aryo Kesumo juga
mempunyai peluang. Sebab ia bukan anak tertua, dan bukan pula anak bungsu.
Akan tetapi, Pangeran Aryo Kesumo tidak memaknai mitos itu sebagaimana
Pangeran Adipati memaknainya. Dari segi kemampuan kepemimpinan, Pangeran
Aryo Kesumo juga mempunyai kemampuan yang besar, terbukti sepanjang masa
pemerintahan Sultan Najamuddin II, Sultan itu senantiasa ―bergantung‖ pada
kebijakan-kebijakan Pangeran Aryo Kesumo. Dengan demikian, Pangeran Adipati
sejak awal pemerintahan Sultan Badaruddin II atau malah jauh sebelumnya telah
menginginkan jabatan tersebut. Mitos yang tidak jelas asal muasalnya tersebut,
merupakan memori kolektif rakyat Palembang pada waktu itu, yang dapat dipakai

Universitas Indonesia
313

untuk melihat makna yang terkandung dari peristiwa pergantian kekuasaan di


Kesultanan Palembang.
Pergantian penguasa tersebut, menjadi awal konflik terbuka antara kedua
bersaudara, yang terus berlangsung hingga keduanya wafat. Sejak saat itu
Kesultanan Palembang kehilangan Pulau Bangka-Belitung, yang silih berganti
diperebutkan dan diduduki oleh Inggris dan Belanda. Bangka menjadi faktor
penting dalam konflik intern dalam tubuh Kesultanan Palembang, selain juga
menjadi pemicu konflik antara Palembang dan Inggris-Belanda, serta antara
Belanda dan Inggris.
Keberhasilan Inggris memduduki Kesultanan Palembang, membawa
mereka mendapatkan Pulau Bangka-Belitung dan pulau-plau di sekitarnya. Bagi
Inggris (Raffles), sukses itu merupakan keberhasilan setelah berbagai cara untuk
mendapatkan kawasan tersebut belum berhasil. Mulai dari pendekatan kepada
Sultan Badaruddin II agar bersedia mengusir Belanda sebelum mereka menduduki
Pulau Jawa, sampai ekspedisi pada April 1812. Sebab, siapa yang dapat
menguasai Palembang khususnya Bangka, berarti ia menguasai penghasil timah
utama dunia, lada dan komoditi lainnya dari Kesultanan Palembang. Kekayaan
Palembang akan bahan tambang khususnya timah, juga ditopang lokasi yang
sangat strategis yaitu berada pada jalur perdagangan dan pelayaran regional mau
pun internasional. Pendudukan tersebut juga bermakna keuntungan lain bagi
Inggris untuk mengontrol perairan antara daratan Palembang dan Pulau Bangka
yang terkenal sebagai salah satu perairan ―gelap‖ tempat berkembangnya
perdagangan ―liar‖ dan sarang bajak laut.
Khusus penguasaan atas Pulau Bangka, berkaitan pula dengan penempatan
pusat pemerintahan di Muntok Bangka. Pemusatan di Muntok juga berfungsi
untuk pangkalan transit armada Inggris yang bertugas untuk menjamin
pengamanan di kawasan itu. Pulau Bangka juga berhadapan langsung dengan
perairan Laut Cina Selatan sebagai pelayaran internasional India-Cina lewat Selat
Malaka, Tampaknya Inggris bermaksud mengamankan semua jalur pelayaran
global tersebut, sehingga jalur pelayaran dan perdagangan wilayah barat
Nusantara berada di bawah kendali Inggris, mulai dari Selat Malaka, Selat Bangka
sampai Pulau Jawa.

Universitas Indonesia
314

Pendudukan selama empat tahun atas Bangka dirasakan oleh Inggris


sebagai waktu yang sangat singkat. Sebagai konsekuensi dari Traktat London
(1814), Inggris harus keluar dari Bangka. Dalam traktat ini, Bangka ditukar oleh
Belanda dengan wilayah Chochin dan daerah-daerah di pantai Malabar. Raffles
sebagai orang yang berperan besar dalam mendapatkan Bangka, menolak isi
Traktat London yang mengharuskan Inggris mengembalikan Bangka kepada
Belanda. Menurut pertimbangan Raffles, Bangk