Anda di halaman 1dari 23

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan praktikum Imunologi-Serologi Dengan judul Pemeriksaan HBsAg


Metode Rapid Test yang disusun oleh
Nama : Fransiskawati Polangitan
NPM : 85AK17046
Prodi : D-III ANALIS KESEHATAN

Pada hari ………… Tanggal, ….. bulan,………… Tahun,……….telah diperiksa


dan disetujui oleh asisten, maka dengan ini dinyatakan diterima dan dapat
mengikuti percobaan berikutnya.

Gorontalo , 2019
Asisten

Jefri Sangka, Amd. AK

iii
LEMBAR ASISTENSI

Laporan lengkap ini kami susun sebagai salah satu syarat mengikuti
praktikum Imunologi-Serologi selanjutnya T.A 2018 / 2019
Nama : Fransiskawati Polangitan
NPM : 85AK17046
Prodi : D-III ANALIS KESEHATAN

NO Hari / Tanggal Perbaikan Paraf

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kehendak-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul ”Pemeriksaan

Hormon hCG Metode Immunoassay Chromatography” ini dengan baik.

Laporan kegiatan praktikum ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat

yang wajib di lalui seorang mahasiswa setelah menyelesaikan satu praktikum dan

merupakan syarat untuk mengikuti praktikum berikutnya.

Dalam menyelesaikan laporan kegiatan praktikum ini penulis tidak terlepas

dari berbagai kendala, namun atas segala bantuan serta dorongan positif dari

berbagai pihak, penulis akhirnya dapat menyelesaikan laporan kegiatan praktikum

ini pada waktu yang telah di tetapkan. Untuk itu saya sebagai penulis

menyampaikan ucapan terimakasih kepada Dosen Pembimbing/Asisten

Laboratorium yang telah membimbing dalam penyusunan laporan ini. Dan tak

lupa ucapan terimakasih kepada teman-teman yang telah mendukung dalam

penyelesaian laporan ini.

Semoga laporan ini memberikan banyak manfaat kepada para pembacanya.

selanjutnya, demi kesempurnaan laporan ini sangat diharapkan segala masukan

dan saran yang sifatnya membangun.

Gorontalo, April 2019

Penyusun

iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 2
1.3 Tujuan Praktikum ................................................................................ 2
1.4 Manfaat Praktikum .............................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Hepatitis ................................................................................ 3
2.2 Fungsi Hati ......................................................................................... 3
2.3 Macam-Macam Hepatitis .................................................................. 4
2.4 Gejala Umum Hepatitis ...................................................................... 5
2.5 Faktor Resiko Hepatitis ..................................................................... 5
2.6 Virus Hepatitis B ................................................................................ 6
2.7 Patogenensis Virus Hepatitis ............................................................. 6
2.8 Tahap Infeksi Virus Hepatitis B ......................................................... 8
2.9 Pemeriksaan HBV Secara Kualitatif (Rapid Test) ........................... 10
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu Dan Tempat Praktikum ...........................................................`12
3.2 Metode ................................................................................................12
3.3 Prinsip .................................................................................................12
3.4 Pra Analitik ....................................................................................... 12
3.5 Analitik ............................................................................................. 12
3.6 Pasca Analitik ................................................................................... 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ..................................................................................................14
4.2 Pembahasan .......................................................................................14
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .........................................................................................16

iii
5.2 Saran ...................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 15
LAMPIRAN ....................................................................................................... 16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Virus Hepatitis B merupakan penyebab infeksi serius dan umum pada

hati, menginfeksi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia. Virus Hepatitis B

memegang peranan penting sebagai penyebab Hepatitis kronis, Sirosis, dan

Karsinoma hepatoseluler. Menurut laporan World Health Organisation

(WHO) pada tahun 2014 setiap tahun terdapat lebih dari empat juta orang

menderita Hepatitis B akut, sekitar 25% penderita Hepatitis B adalah karier,

dan lebih dari satu juta penderita Hepatitis kronis aktif, Sirosis atau Kanker

primer hati meninggal dunia.

Penderita Hepatitis B yang tidak sembuh, sekitar 5 – 10% menjadi

Hepatitis B kronis karier dengan persistensi Hepatitis B surface antigen

(HBsAg) lebih dari enam bulan. Sekitar 25-40% pasien yang terinfeksi virus

Hepatitis B kronis akan mengalami satu atau lebih komplikasi yang serius.

Pemeriksaan serologi Hepatitis B terdiri atas pemeriksaan untuk

mendeteksi adanya antigen virus Hepatitis B seperti pemeriksaan Hepatitis B

surface antigen (HBsAg), dan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya antibodi

penderita terhadap virus Hepatitis B seperti pemeriksaan Anti HBs, anti HBe

dan anti HBc IgM ataupun IgG.

Pemeriksaan HBsAg dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

Pemerikaan HBsAg kualitatif sangat diperlukan untuk mengevaluasi

serokonversi. Jika pemeriksaan HBsAg kualitatif memberikan hasil yang

berada pada daerah gray zone maka diperlukan pemeriksaan HBsAg

iii
konfirmasi. Pemeriksaan HBsAg kuantitatif berguna untuk pemantauan terapi

dan perkembangan infeksi virus Hepatitis B. Jadi pada praktikum kali ini

dilakukan salah satu pemeriksaan HBsAg secara kualitatif yakni

menggunakan metode rapid test.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada praktikum kali ini ialah bagaimana cara

mengetahui adanya infeksi HBsAg pada serum seseorang menggunakan

metode rapid test?

1.3 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan pada praktikum kali ini ialah untuk mengetahui cara

pemeriksaan infeksi HBsAg pada serum seseorang menggunakan metode

rapid test.

1.4 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat pada praktikum kali ini ialah agar mahasiswa dapat

mengetahui cara pemeriksaan infeksi HBsAg pada serum seseorang

menggunakan metode rapid test.

iii
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hepatitis

Hepatitis adalah istilah umum penyakit yang merujuk pada peradangan

yang terjadi di hati. Hepatitis umumnya disebabkan oleh infeksi virus,

meskipun juga dapat disebabkan oleh kondisi lain. Beberapa penyebab

hepatitis selain infeksi virus adalah kebiasaan minum alkohol, penyakit

autoimun, serta zat racun atau obat-obatan tertentu (Rosalina, 2012).

Hepatitis yang terjadi dapat bersifat akut maupun kronis. Seseorang yang

mengalami hepatitis akut dapat memberikan beragam manifestasi dan

perjalanan penyakit. Mulai dari tidak bergejala, bergejala dan sembuh sendiri,

menjadi kronis, dan yang paling berbahaya adalah berkembang menjadi gagal

hati. Bila berkembang menjadi hepatitis kronis, dapat menyebabkan sirosis

dan kanker hati (hepatocellular carcinoma) dalam kurun waktu

tahunan. Pengobatan hepatitis sendiri bermacam-macam sesuai dengan jenis

hepatitis yang diderita dan gejala yang muncul (Rosalina, 2012).

2.2 Fungsi Hati

Hati memiliki banyak sekali peranan dalam metabolisme tubuh, seperti:

(Rosalina, 2012).

1. Menghasilkan empedu untuk pencernaan lemak.

2. Menguraikan karbohidrat, lemak, dan protein.

3. Menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.

4. Mengaktifkan berbagai enzim.

iii
5. Membuang bilirubin (zat yang dapat membuat tubuh menjadi kuning),

kolesterol, hormon, dan obat-obatan.

6. Membentuk protein seperti albumin dan faktor pembekuan darah.

7. Menyimpan karbohidrat (dalam bentuk glikogen), vitamin, dan mineral.

2.3 Macam - Macam Hepatitis

Berikut macam-macam dari hepatitis: (Amtarina, dkk, 2015)

1. Hepatitis A. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV).

Hepatitis A biasanya ditularkan melalui makanan atau air minum yang

terkontaminasi feses dari penderita hepatitis A yang mengandung virus

hepatitis A.

2. Hepatitis B. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B

(HBV). Hepatitis B dapat ditularkan melalui cairan tubuh yang terinfeksi

virus hepatitis B. Cairan tubuh yang dapat menjadi sarana penularan

hepatitis B adalah darah, cairan vagina, dan air mani. Karena itu, berbagi

pakai jarum suntik serta berhubungan seksual tanpa kondom dengan

penderita hepatitis B dapat menyebabkan seseorang tertular penyakit ini.

3. Hepatitis C. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis C

(HCV). Hepatitis C dapat ditularkan melalui cairan tubuh, terutama

melalui berbagi pakai jarum suntik dan hubungan seksual tanpa kondom.

4. Hepatitis D. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV).

Hepatitis D merupakan penyakit yang jarang terjadi, namun bersifat serius.

Virus hepatitis D tidak bisa berkembang biak di dalam tubuh manusia

tanpa adanya hepatitis B. Hepatitis Dditularkan melalui darah dan cairan

tubuh lainnya.

iii
5. Hepatitis E. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV).

Hepatitis E mudah terjadi pada lingkungan yang tidak memiliki sanitasi

yang baik, akibat kontaminasi virus hepatitis E pada sumber air.

2.4 Gejala Umum Hepatitis

Beberapa gejala yang umumnya muncul pada penderita hepatitis, antara

lain adalah: (Rosalina, 2012).

1. Mengalami gejala seperti flu, misalnya mual, muntah, demam, dan lemas.

2. Feses berwarna pucat.

3. Mata dan kulit berubah menjadi kekuningan (jaundice).

4. Nyeri perut.

5. Berat badan turun.

6. Urine menjadi gelap seperti teh.

7. Kehilangan nafsu makan.

2.5 Faktor Resiko Hepatitis

Faktor risiko yang dapat meningkatkan seseorang untuk lebih mudah

terkena hepatitis tergantung dari penyebab hepatitis itu sendiri. Hepatitis yang

dapat menular lewat makanan atau minuman seperti hepatitis A dan hepatitis

E, lebih berisiko pada pekerja pengolahan air atau pengolahan limbah.

Sementara hepatitis non infeksi, lebih berisiko pada seseorang

yang kecanduan alkohol (Rosalina, 2012).

Untuk hepatitis yang penularannya melalui cairan tubuh seperti hepatitis

B,C, dan D lebih berisiko pada: (Rosalina, 2012).

1. Petugas medis.

2. Pengguna NAPZA dengan jarum suntik.

iii
3. Berganti-ganti pasangan seksual.

4. Orang yang sering menerima transfusi darah.

2.6 Virus Hepatitis B

Virus Hepatitis B adalah virus double-stranded enveloped dan

merupakan famili Hepadnaviridae. Virus Hepatitis B bereplikasi pada

hepatosit manusia dan beberapa jenis primata. Virus Hepatitis B berukuran

diameter 42 nm, bersifat stabil, dapat bertahan dalam eter, pH rendah,

pembekuan dan pemanasan sedang. Karakteristik ini membantu transmisi

virus antar manusia dan menghindari desinfeksi (Hazim, 2010).

Virus Hepatitis B menyebabkan peradangan hati, menyerang semua

golongan umur dan dapat asimptomatis, keadaan ini sangat berbahaya karena

penderita merasa tidak sakit tetapi terus-menerus menularkan virus Hepatitis

B kepada orang lain, yang dapat menyebabkan Hepatitis kronis, Sirosis hati

dan juga dapat berkembang menjadi Karsinoma hepatoseluler.

Gambar 2.6.1 Virus Hepatitis B

2.7 Patogenesis Virus Hepatitis B

Virus Hepatitis B menginfeksi 1-2% orang dewasa dengan imunitas yang

baik, dan persentasenya lebih tinggi pada orang dewasa dan anak-anak dengan

iii
sistem imunitas yang buruk. Penularan virus Hepatitis B antar manusia terjadi

melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain seperti semen dan cairan

vagina dari orang yang terinfeksi virus Hepatitis B. Virus Hepatitis B dapat

bertahan hidup di luar tubuh manusia sampai dengan 7 hari dan masih dapat

menyebabkan infeksi bila masuk ke dalam tubuh. Cara penularan virus

Hepatitis B adalah melalui: (Hazim, 2010).

1. Hubungan seksual.

2. Penetrasi jaringan (perkutan) atau melalui mukosa: penggunaan ulang

peralatan medis yang terkontaminasi, tertusuk jarum, penggunaan bersama

pisau cukur atau silet, tato, akupuntur, tindik, penggunaan sikat gigi

bersama.

3. Melalui darah: transfusi darah, pasien hemodialisa, pekerja kesehatan,

pekerja yang terpapar dengan darah.

4. Perinatal (dari ibu ke bayi pada saat lahir).

Masa inkubasi virus Hepatitis B rata-rata 60-90 hari, atau bervariasi dari

30-180 hari. Virus Hepatitis B dapat dideteksi 30-60 hari setelah infeksi.

Virus Hepatitis B tidak secara langsung bersifat cytopathic, lisisnya sel

hepatosit diduga disebabkan oleh apoptosis dan bergantung kepada respon

imun penderita. Pada respon imun yang buruk, sel hati tidak mengalami

kerusakan atau hanya akan mengalami kerusakan yang minimal. Namun pada

keadaan ini virus akan terus berproliferasi sehingga menyebabkan hepatitis

kronis. Persistensi virus berhubungan dengan kegagalan cytotoxic T-

Lymphocytes (CTL) dalam mengenali antigen virus Hepatitis B.

iii
2.8 Tahap Infeksi Virus Hepatitis B

Berikut tahap-tahap dari infeksi virus hepatitis B: (Budi, 2016).

1. Tahap 1 - Immune tolerance: Pada tahap ini virus dapat bereplikasi secara

bebas sehingga terdapat virus dengan jumlah yang tinggi sebelum respon

imun dimulai dan infeksi dapat dikontrol. Replikasi virus Hepatitis B pada

hepatosit menunjukkan terdapatnya DNA virus dan HBcAg di nukleus

serta HBsAg di sitoplasma dan membran hepatosit. Saat replikasi, HBcAg

dan HBeAg didapatkan juga pada membran sitoplasma. Pada tahap ini

infeksi virus Hepatitis terjadi dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala atau

kerusakan hati. Pada orang dewasa, tahap ini dapat berlangsung selama

beberapa minggu setelah infeksi, sedangkan pada bayi dapat berlangsung

selama beberapa tahun. Hasil darah akan menunjukkan HBsAg dan

HBeAg positif, DNA virus Hepatitis B dan anti-HBc umumnya juga akan

terdeteksi, dan enzim hati (transaminase) biasanya normal.

2. Tahap 2 - Immune response: Pada tahap ini, sistem imun menyerang sel

hati yang terinfeksi virus Hepatitis B dan menghilangkan infeksi dari

tubuh. Pada beberapa orang yang sebelumnya telah terinfeksi virus

Hepatitis B, tahap ini hanya akan berlangsung selama beberapa minggu.

Sedangkan pada orang yang tidak dapat membersihkan infeksi ini, tahap

ini dapat berlangsung sampai beberapa tahun. Karena sistem imun

menyerang sel hati yang terinfeksi virus Hepatitis B, hal ini akan

menyebabkan kerusakan hati dan menimbulkan gejala. Antigen virus

Hepatitis B akan menginduksi respon sel B dan sel T. Kerusakan hepatosit

dapat ditimbulkan oleh antibodi, natural killer (NK), dan aktivitas sel T

iii
sitotoksik. Ekspresi major histocompatibility complex (MHC) kelas I pada

hepatosit buruk namun dapat ditingkatkan dengan produksi interferon

yang dihasilkan dari respon terhadap infeksi sehingga terjadi peningkatan

pengenalan antigen dan lisisnya hepatosit yang terinfeksi. Kerusakan

hepatosit pada tahap ini ditandai oleh peningkatan transaminase serum.

Virus Hepatitis bersifat non-cytocidal tanpa adanya bantuan sistem imun

host, sehingga penyakit biasanya ringan pada pasien immunocompromised.

Respon imun seluler pada tahap 1 dan 2 infeksi virus Hepatitis B dapat

dideteksi melalui temuan penanda serologis dalam serum penderita,

beberapa minggu setelah paparan virus Hepatitis B. Respon imunitas

tubuh terhadap infeksi virus Hepatitis B pada tahap 1 dan tahap 2 dapat

dilihat pada gambar 2.8.1

Gambar 2.8.1 Respon Imun Seluler Terhadap HBV

3. Tahap 3 - Immune clearance: Tahap ini juga disebut sebagai serokonversi

dari e antigen menjadi e antibody dikarenakan tubuh menghasilkan

antibodi sebagai respon terhadap virus Hepatitis B. Pada tahap ini serum

transaminase yang dikeluarkan ketika sel hati rusak atau mati, sering tiba-

iii
tiba meningkat, HBeAg dan DNA virus Hepatitis B tidak terdeteksi dan

anti-HBe muncul. Namun HBsAg masih dapat ditemukan selama beberapa

bulan sampai dengan beberapa tahun. Pada tahap ini lebih banyak terjadi

kerusakan sel hati.

4. Tahap 4 – Kekebalan terhadap virus Hepatitis B: Pada tahap ini sistem

imun telah memproduksi respon antibodi yang lengkap terhadap virus

Hepatitis B, dan membersihkan virus Hepatitis B dari tubuh. Penanda pada

tahap ini adalah hilangnya HBsAg atau masih ada dengan level yang

sangat rendah,dan munculnya anti-HBs. Biasanya materi genetik virus

Hepatitis B (DNA) juga menghilang dari tubuh.

2.9 Pemeriksaan HBV Secara Kualitatif (Rapid Test)

Imunokromatografi dengan prinsip serum yang diteteskan pada bantalan

sampel bereaksi dengan partikel yeng telah dilapisi dengan anti HBs

(antibodi). Campuran ini selanjutnya akan bergerak sepanjang strip membran

untuk berikatan dengan antibody spesifik. Pada daerah tes, sehingga akan

menghasilkan garis warna (Budi, 2016).

Dasar teori : HBsAg merupakan suatu tahap secara kualitatif yang

menggunakan serum atau plasma dimana bertujuan untuk mendeteksi adanya

HBsAg dalam serum atau plasma membrane yang dilapisi dengan anti HBsAg

antibody pada daerah garis test selama proses pemeriksaan, sampel serum atau

plasma bereksi dengan partikel yang ditutupi dengan anti HBsAg antibodi,

campuran tersebut akan meresap sepanjang membrane kromatografi dengan

anti HBsAg, anti pada membrane dan menghasilkan suatu hasil posotif pada

iii
daerah test, jika tidak menghasilkan garis yang berwarna pada daerah test

menunjukan hasil yang negative (Budi, 2016).

iii
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Pelaksanaan praktikum Imunoseroligi dilaksanakan pada hari Jumat,

tanggal 29 maret 2019. Bertempat dilaboratorium Fitokimia STIKES Bina

Mandiri Gorontalo.

3.2 Metode
Adapun metode yang digunakan untuk pemeriksaan HBsAg yakni

metode rapid test.

3.3 Prinsip
Imunokromatografi dengan prinsip serum yang diteteskan pada bantalan

sampel bereaksi dengan partikel yeng telah dilapisi dengan anti HBs

(antibodi). Campuran ini selanjutnya akan bergerak sepanjang strip membran

untuk berikatan dengan antibody spesifik. Pada daerah tes, sehingga akan

menghasilkan garis warna.

3.4 Pra Analitik

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini ialah

tabung vakum, holder, jarum, rak tabung, sentrifuge, kapas, alkohol 70%, dan

strip HBsAg.

3.5 Analitik

1. Siapkan alat dan bahan.

2. Siapkan serum dalam tabung reaksi.

3. Keluarkan strip HBsAg dari kemasan.

4. Celupkan ke dalam serum, biarkan selama 15 menit.

5. Amati hasil test yang terjadi.

iii
3.6 Pra Analitik

1. Positif : Terbentuk 2 garis merah pada control (C) dan test (T),

atau samar-samar.

2. Negatif : Hanya 1 garis merah muncul pada bagian control (C).

3. Invalid : Tidak timbul garis merah sama sekali atau timbul hanya

bagian tes (T).

iii
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum pemeriksaan HBsAg metode rapid test yang telah

dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.1. Pemeriksaan HBsAg metode Rapid Test

Sampel Metode Hasil Keterangan

Tidak terdapat warna


Serum Rapid Test Negatif
garis dua pada strip

4.2 Pembahasan

Virus Hepatitis B adalah virus double-stranded enveloped dan

merupakan famili Hepadnaviridae. Virus Hepatitis B bereplikasi pada

hepatosit manusia dan beberapa jenis primata. Virus Hepatitis B berukuran

diameter 42 nm, bersifat stabil, dapat bertahan dalam eter, pH rendah,

pembekuan dan pemanasan sedang. Karakteristik ini membantu transmisi

virus antar manusia dan menghindari desinfeksi.

Virus Hepatitis B menyebabkan peradangan hati, menyerang semua

golongan umur dan dapat asimptomatis, keadaan ini sangat berbahaya karena

penderita merasa tidak sakit tetapi terus-menerus menularkan virus Hepatitis

B kepada orang lain, yang dapat menyebabkan Hepatitis kronis, Sirosis hati

dan juga dapat berkembang menjadi Karsinoma hepatoseluler.

Untuk pemeriksaan hepatitis B secara kualitatif dapat dilakukan

menggunakan metode rapid test. Prinsip pemeriksaan imunokromatografi

dengan prinsip serum yang diteteskan pada bantalan sampel bereaksi dengan

iii
partikel yeng telah dilapisi dengan anti HBs (antibodi). Campuran ini

selanjutnya akan bergerak sepanjang strip membran untuk berikatan dengan

antibody spesifik. Pada daerah tes, sehingga akan menghasilkan garis warna.

Setelah pengambilan darah vena dilakukan, kemudian darah disentrifuge.

Fungsi darah disentrifuge agar serum, plasma, dan sel darah merah dapat

terpisah pada tabung vakum, dan agar didapatkan serum yang baik pada

pemeriksaan HBsAg. Setelah disentrifuge, darah di pipet pada tabung reaksi

sebanyak 1-2 ml. Setelah itu strip HBsAg dicelupkan pada serum tersebut.

Diamkan selama 15 menit dan amati perubahan yang terjadi. Pada

pemeriksaan jika hasilnya positif maka akan terbentuk warna garis dua, jika

negatif hanya akan muncul warna garis satu pada control, dan jika hasilnya

invalid tidak akan muncul warna garis sama sekali.

Setelah 15 menit, pada strip muncul warna garis satu pada control.

Artinya serum tersebut tidak mengandung hepatitis B atau negatif.

iii
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan

bahwa pemeriksaan hepatitis B dapat dilakukan secara kualitatif atau

menggunakan metode rapid test. Pada pemeriksaan HBsAg menggunakan

sampel serum hasilnya negatif atau pada strip hanya terdapat warna garis satu

pada control.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan untuk praktikum kedepannya agar

praktikan memperhatikan kesterilan alat dan bahan, serta memperhatikan

prosedur kerja pemeriksaan agar hasil yang didapatkan lebih baik dan akurat.

iii
DAFTAR PUSTAKA

Amtarina, Rina, dkk. 2015 . Faktor Resiko Hepatitis B pada Tenaga Kesehatan
Kota Pekanbaru. Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

Budi, Ika. 2016. Efektifitas HBsAg – Rapid Screening Test untuk Deteksi Dini
Hepatitis B. Prodi D-III Kebidanan, STIkes Kusuma Husada Surakarta. Jurnal
Kesmadaska.

Hazim A. 2010. Tingkat Pengetahuan Pasien Hepatitis B terhadap Penyakit


Hepatitis B di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Medan:
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
.
Rosalina I. 2012. Hubungan polimorfisme gen TLR 9 (RS5743836) dan TLR 2
(RS3804099 dan RS3804100) dengan pembentukan anti-HBs pada anak
pascavaksinasi Hepatitis B. IJAS. 2(3):123-7.

iii
LAMPIRAN

Alat dan bahan yang Pengambilan sampel


digunakan darah vena

Proses centrifuge pemisahan Serum yang didapatkan


serum dan plasma setelah di centrifuge

Proses strip HBsAg Hasil negatif pemeriksaan


dimasukkan ke dalam serum HBsAg metode rapid test

iii

Anda mungkin juga menyukai