Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN MANAJEMEN LAKTASI

Untuk memenuhi tugas Profesi Ners Departemen Maternitas


Di Ruang Cempaka RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

Oleh : Kelompok 1 PSIK UB

I Wayan Gede Saraswasta


Desak Made Diah Purnamasari
Elmi Alfia Muqorobin
Khona’ah Toyyibah
Shinta Ardiana Puspitasari
Eka Fitri Cahyani
Meida Untari
Giovanny Sumeinar
Anita Ika Lestari
Dwi Handayani

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Topik : Laktasi
2. Pokok Bahasan : Cara Menyusui yang baik dan benar
3. Sasaran : Pasien dan Keluarga pasien di ruang Cempaka RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi
4. Waktu dan Tempat
 Tempat : Ruang Cempaka RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
 Waktu : Rabu, 10 mei 2016 Pukul 10.00 WIB
5. Alokasi Waktu : 30 menit
6. Pemberi Materi : Mahasiswa
7. Metode : Ceramah dan diskusi
8. Media : Leaflet
9. Latar belakang
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang paling ideal bagi bayi dimana ASI adalah
makanan yang alamiah, praktis, ekonomis serta hygienis. ASI memiliki berbagai kandungan
seperti enzim, hormon, zat antibodi, protein dan zat gizi penting lainnya yang sangat
dibutuhkan oleh bayi terutama dalam bulan-bulan pertama kehidupannya. Kelebihan ASI ini
perlu ditunjang dengan pemberian ASI yang benar yaitu pemberian ASI secara eksklusif.
Pengertian ASI ekslusif ialah pemberian hanya ASI saja tanpa cairan atau makanan padat
apapun kecuali vitamin, mineral atau obat dalam bentuk tetes atau sirup kepada bayi mulai
dari 0 bulan sampai usia 6 bulan (WHO,2005). Berbagai penelitian telah mengkaji manfaat
pemberian ASI eksklusif dalam hal menurunkan mortalitas bayi, menurunkan morbiditas bayi,
mengoptimalkan pertumbuhan bayi, membantu perkembangan kecerdasan anak, dan
membantu memperpanjang jarak kehamilan bagi ibu (Roesli,2002).

Di Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui program perbaikan


gizi masyarakat telah menargetkan cakupan ASI eksklusif 6 bulan sebesar 80%. Namun
demikian angka ini sangat sulit untuk dicapai bahkan tren prevalensi ASI eksklusif dari tahun
ke tahun terus menurun. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, bayi yang
mendapatkan ASI Eksklusif di Indonesia hanya 15,3%. Masalah utama rendahnya pemberian
ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya dan kurangnya pengetahuan ibu hamil, keluarga
dan masyarakat. Data riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 juga menyebutkan
bahwa 67,5% ibu yang gagal memberikan ASI ekslusif kepada bayinya adalah kurangnya
pemahaman ibu tentang teknik menyusui yang benar.

Teknik menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ASI
dimana bila teknik menyusui tidak benar, dapat menyebabkan puting lecet serta produksi dan
transfer ASI yang kurang lancar ke bayinya sehingga bayi enggan untuk menyusu dan
akhirnya ibu lebih memilih untuk memberikan bayinya susu formula.

10. Tujuan instruksional


a. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan selama 30 menit peserta mampu mengetahui dan
memahami tentang cara menyusui (laktasi) yang benar
b. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan,peserta dapat:
(1) Mengetahui dan memahami definisi menyusui yang baik dan benar
(2) Mengetahui dan memahami manfaat dari menyusui
(3) Mengetahui dan memahami posisi dan perlekatan menyusui
(4) Mengetahui dan memahami langkah – langkah menyusui yang benar
(5) Mengetahui dan memahami tanda- tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup
(6) Mengetahui dan memahami waktu dan frekuensi menyusui
(7) Mengetahui dan memahami berbagai hambatan yang dapat muncul saat menyusui
(8) Mengetahui dan memahami cara penyimpanan ASI perah

11. Sub Pokok Bahasan


1) Definisi menyusui
2) Manfaat menyusui
3) Posisi dan perlekatan menyusui
4) Langkah-langkah menyusui
5) Tanda- tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup
6) Waktu dan frekuensi menyusui
7) Hambatan yang dapat muncul saat menyusui
8) Cara penyimpanan ASI perah
12. Kegiatan Penyuluhan

Tahap Waktu Kegiatan Perawat Kegiatan Klien Metode Media


Pendahulu 5 menit 1. Memberi salam 1. Menjawab salam Ceramah -
an 2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan dan
3. Menjelaskan tujuan penyuluhan dan Tanya
dan pokok materi yang akan memperhatikan Jawab
disampaikan 3. Menjawab
4. Menggali pengetahuan pasien pertanyaan
tentang menyusui (laktasi)
Penyajian 15 menit Menjelaskan materi: 1. Mendengarkan Ceramah PPT
1. Definisi menyusui dan dan
2. Manfaat menyusui memperhatikan Tanya
3. Posisi dan perlekatan 2. Menganjukan Jawab
menyusui pertanyaan
4. Langkah-langkah menyusui
5. Tanda- tanda bayi
mendapatkan ASI yang
cukup
6. Waktu dan frekuensi
menyusui
7. Hambatan yang dapat
muncul saat menyusui
8. Cara penyimpanan ASI
perah
Penutup 10 menit 1. Penegasan materi 1. Menjawab Tanya
2. Meminta peserta untuk pertanyaan yang Jawab
menjelaskan kembali materi diberikan oleh
yang telah disampaikan dengan penyuluh
singkat menggunakan bahasa 2. Membalas salam
peserta sendiri
3. Memberikan pertanyaan
kepada peserta tentang materi
yang telah disampaikan
4. Menutup acara dan
mengucapkan salam
13. Evaluasi

a. Evaluasi struktur
o Jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan penyuluhan minimal 5 orang.
o Penyuluhan menggunakan power point
o Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di Ruang Cempaka
o Pengorganisasian dan persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan pada hari
sebelumnya.
b. Evaluasi proses
o Penyaji mampu menguasai materi penyuluhan yang diberikan.
o Penyaji mampu menyampaikan materi dengan baik.
o Peserta mendengarkan ceramah dengan baik dan sangat berkonsentrasi terhadap
materi yang disampaikan oleh pemberi penyuluhan.
o Peserta antusias untuk bertanya dalam kegiatan penyuluhan dan menerima
penjelasan dari penyaji.
o Peserta tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan penyuluhan selesai
dilaksanakan.
o Tidak ada pasien/keluarga pasien yang mondar-mandir selama kegiatan penyuluhan
berlangsung.
c. Evaluasi hasil
o Pre penyuluhan
25% peserta mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh penyaji sebelum
penyaji menyampaikan materi penyuluhan.
o Post penyuluhan
Peserta mampu menjawab pertanyaan dari penyaji yang meliputi:
1. Definisi menyusui
2. Manfaat menyusui
3. Posisi dan perlekatan menyusui
4. Langkah-langkah menyusui
5. Tanda- tanda bayi mendapatkan ASI yang cukup
6. Waktu dan frekuensi menyusui
7. Hambatan yang dapat muncul saat menyusui
8. Cara penyimpanan ASI perah
13. Media
PPT

14 Materi

(terlampir)

15. Daftar Pustaka

Ayudiah. (2004). Panduan untuk Menyusui. Jakarta: Bhuana Ilmu Popular

Bobak, dkk. 2004. Keperawatan Maternitas. Hal 460. Jakarta : EGC

Kepmenkes RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI secara Eksklusif pada


Bayi di Indonesia.

Moody. (2006) Menyusui : Cara Mudah Praktis & Nyaman. Jakarta : Arcan.

Notoatmodjo, S. 2003, Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan . PT. Rineka Cipta,
Jakarta
Nainggolan, Mindo. 2009. Pengetahuan Ibu Primigravida Mengenai Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kualitas dan Kuantitas ASI di Puskesmas Simalingkar Medan. Digitized by
USU FKM digital library

Perinasia. (2004). Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta : Program Manajemen Laktasi
Perkumpulan Peninatologi Indonesia.

Purwanti. (2004). Konsep Penerapan ASI Ekslusif. Jakarta : EGC

Roesli U. 2005. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : Trubus Agriwidya.

Roesli, U. (2008) Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Jakarta : Arcan

Siregar, Arifin. 2004. Pemberian Asi Ekslusif dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya.
Medan: FKM USU
MATERI PENYULUHAN

1. Menyusui ( Laktasi)
1.1 Definisi Laktasi
Menyusui adalah suatu cara pemberian ASI yang dilakukan oleh seorang ibu kepada
bayinya, demi mencukupi kebutuhan nutrisi bayi tersebut (Perinasia, 2004).
Menyusui merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi ibu sekaligus memberikan
manfaat yang tidak terhingga pada anak (Yuliarti, 2010).
Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi dan pengeluaran
(Perinasia, 2004)
1.2 Fisiologi Laktasi
Dua refleks pada ibu yang sangat penting dalam proses laktasi, refleks prolaktin dan
refleks aliran timbul akibat perangsangan puting susu oleh hisapan bayi.
1. Refleks prolaktin
Dalam puting susu terdapat banyak ujung sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang
menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini
mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI di
tingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan
penyusuan makin banyak pula produksi ASI.
2. Refleks aliran (let down reflex)
Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar hipofisis depan, tetapi
juga kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini
berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran,
sehingga ASI dipompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran
makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui
akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya menganggu
penyusunan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, meliputi :


1. Refleks menangkap (rooting reflex)
Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bila
bibirnya dirangsang dengan papilla mammae, maka bayi akan membuka mulut dan
berusaha untuk menangkap puting susu.
2. Refleks menghisap
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya
puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagaian besar areola harus
tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah
areola akan tertekan antara gusi, lidah, dan palatum, sehingga ASI terperas keluar.
3. Refleks menelan
Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya (Perinasia,2004).

2. Manfaat Menyusui
Besarnya manfaat ASI telah dikampanyekan oleh UNICEF (United Nations Children’s
Fund) melalui pekan menyusui sedunia atau World Breastfeeding Week yang diselenggarakan
setiap tanggal 17 Agustus. Kampanye itu antara lain mengajak masyarakat diseluruh dunia,
terutama kaum ibu untuk memberikan manfaat ASI kepada bayi serta mengenal manfaat
pemberian ASI bagi dirinya sendiri (Novianti, 2009).

1. Manfaat pemberian ASI bagi ibu yang menyusui adalah sebagai berikut :

a. Memberikan ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan kontraksi rahim, yang
berarti mengurangi resiko perdarahan.
b. Memberikan ASI juga membantu memperkecil ukuran rahim ke ukuran sebelum hamil.
c. Menyusui (ASI) membakar kalori sehingga mempercepat penurunan berat badan.
d. Menyusui mengurangi resiko terkena kanker rahim dan kanker payudara.
e. ASI lebih praktis karena ibu bisa jalan- jalan keluar rumah tanpa harus membawa
perlengkapan seperti botol, kaleng susu formula dan air panas.
f. ASI tidak basi karena selalu diproduksi oleh payudara.
g. Meningkatkan kasih sayang antara ibu dan anak

2. Manfaat ASI untuk bayi adalah sebagai berikut :

a. Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan


- Kontak kulit bayi dengan ibu menimbulkan rasa kasih sayang, rasa aman, rasa percaya
b. Pertumbuhan bayi baik
- Mengurangi kemungkinan obesitas
- Turunnya BB bayi pada minggu pertama adalah normal dan dengan sering menyusui
bayi yang tidak dibatasi penurunan BB hanya sedikit
c. Mengurangi karies gigi
- ASI tidak mengandung zat gula yang berlebihan
d. Mengurangi kejadian mal oklusi
- Putting susu ibu secara anatomi sesuai dengan rahang bayi, jika dibandingkan dengan
dot bayi, jika menyusu dengan dot lidah bayi akan cenderung mendorong ke depan
menyebabkan maloklusi rahang
e. ASI merupakan sumber gizi sempurna
ASI mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan
perkembangan kecerdasan bayi.faktor pembentukan sel-sel otak terutama DHA dalam
kadar tinggi. ASI juga mengandung whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair)
lebih banyak dari casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan).komposisi ini
menyebabkan ASI mudah diserap oleh bayi (Rulina, 2007).
f. ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Bayi sudah dibekali immunoglobulin (zat kekebalan tubuh) yang didapat dari ibunya melalui
plasenta. Tapi, segera setelah bayi lahir kadar zat ini akan turun cepat sekali. Tubuh bayi
baru memproduksi immunoglobulin dalam jumlah yang cukup pada usia 3 - 4 bulan. Saat
kadar immunoglubolin bawaan menurun, sementara produksi sendiri belum mencukupi,
bisa muncul kesenjangan immunoglobulin pada bayi. Di sinilah ASI berperan bisa
menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesenjangan yang mungkin timbul. ASI
mengandung zat kekebalan tubuh yang mampu melindungi bayi dari berbagai penyakit
infeksi bakteri, virus, dan jamur. Colostrum (cairan pertama yang mendahului ASI)
mengandung zat immunoglobulin 10 - 17 kali lebih banyak dari ASI (Cahyadi, 2007).
g. ASI eklusif meningkatkan kecerdasan dan kemandirian anak
Fakta-fakta ilmiah membuktikan, bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas bila diberi air
susu ibu (ASI) secara eksklusif pada 4 - 6 bulan pertama
h. ASI memperkecil resiko terjadinya SIDS dan Postnatal Death. Sudden Infant Death
Syndrome (SIDS) yaitu kematian bayi secara tiba-tiba.
i. ASI menjaga kesehatan kardiovaskuler bayi hingga masa dewasa, misal : kadar
kolesterolnya. Di samping itu ditemukan juga bahwa ASI bisa menghambat terjadinya
ikatan lemak-protein yang bisa menyebabkan penyakit jantung koroner.

j. ASI dapat mencegah kejadian Obesitas dan Diabetes pada anak dikemudian hari , karena
kandungan gula dalam ASI relative rendah

3. Manfaat ASI bagi keluarga antara lain:


1. Aspek Ekonomi.
ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk susu formula dapat
digunakan untuk keperluan lain. Selain itu, penghematan juga disebabkan karena bayi yang
mendapat ASI lebih jarang sakit sehingga mengurangi biaya berobat.
2. Aspek Psikologis.
Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga suasana
kejiwaan ibu baik dan dapat mendapatkan hubungan kasih bayi dalam keluarga.
3. Aspek kemudahan. Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan di mana saja dan
kapan saja. Keluarga tidak perlu repot menyiapkan air masak, botol dan dot yang harus
dibersihkan. Tidak perlu meminta pertolongan orang lain. (Novianti, 2009)

4. Manfaat ASI bagi Negara dan Rumah Sakit

 Menghemat devisa
 Mengurangi polusi
 Menghemat subsidi kesehatan
 Mengurangi morbiditas & mortalitas anak
 Menghasilkan SDM yang bermutu

3. Posisi dan Perlekatan Menyusui


Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyususi yang tergolong biasa dilakukan
adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring. Jika menyusui dengan duduk,posisi yang tepat
adalah :
1. Duduklah dengan posisi yang enak atau santai, pakailah kursi yang ada sandaran
punggung dan lengan.
2. Gunakan bantal untuk mengganjal bayi agar bayi tidak terlalu jauh dari payudara ibu.
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar,
yaitu bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas. Menyusui bayi
kembar dilakukan dengan cara seperti memegang bola bila disusui bersamaan,
dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas
dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.

 Posisi cradle atau menggendong : bayi berbaring menghadap ibu, leher dan punggung
atas bayi diletakan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu menggunakan tangan
lainnya untuk memegang payudara jika diperlukan
 Posisi football atau mengepit : bayi berbaring atau punggung melingkar antara lengan dan
samping dada ibu. Lengan bawah dan tangan ibu menyangga bayi, dan ia menggunakan
tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan. Posisi ini juga bisa
digunakan saat menyusui bayi kembar
 Posisi berbaring miring : ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Posisi ini
merupakan posisi yang paling aman bagi ibu yang mengalami penyembuhan dari proses
persalinan melalui pembedahan

4. Langkah – Langkah Menyusui yang Benar

1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting,
duduk/berbaring dengan santai.
2. Bila dimulai dengan payudara kiri,letakkan kepala bayi pada siku bagian dalam lengan
kiri,badan bayi menghadap kebadan ibu.
3. Lengan kiri bayi diletakkan diseputar pinggang ibu, tangan kiri ibu memegang pantat/paha
kanan bayi.
4. Sangga payudara kiri ibu dengan empat jari tangan kanan, ibu jari diatasnya tetapi tidak
menutupi bagian yang berwarna hitam (aerola mamae)
5. Berikan rangsangan rooting (sentuhan di area mulut bayi secara reflek bayi akan menangkap
putting ibu)
Cara merangsang mulut bayi (Perinasia, 2004)

6. Saat bayi membuka mulut dekatkan kepala bayi ke payudara, putting dan areola masuk ke
mulut bayi (usahakan semua areola masuk ke mulut bayi, jika areola terlalu besar usahakan
areola yang bawah masuk ke mulut bayi

Gambar Perlekatan benar (Perinasia, 2004) Gambar Perlekatan salah


(Perinasia,2004)

7. Saat bayi mulai menghisap maka payudara tidak perlu dipegang atau disangga
8. Susukan sampai payudara kosong
9. Setelah bayi selesai menyusu tekan sudut mulut bayi dengan satu jari dan bayi akan melepas
puting dengan perlahan
10. Setelahnya oleskan ASI ke putting dan areola biarkan kering
11. Sendawakan bayi

Gambar Posisi menyendawakan bayi


5. Tanda- Tanda Bayi Mendapatkan ASI yang Cukup

Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan putting susu menjadi lecet,
ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan
menyusu. Apabila bayi telah menyusui dengan benar dan mendapatkan ASI yang cukup maka
akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut (Perinasia, 2004) :

1. Tubuh bagian depan bayi menempel pada tubuh ibu


2. Dagu bayi menempel pada payudara ibu
3. Dada bayi menempel pada dada ibu yang berada didasar payudara (payudara bagian
bawah)
4. Telinga bayi berada dalam satu garis dengan leher dan lengan bayi
5. Mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah yang terbuka
6. Hidung bayi mendekati kadang-kadang menyentuh payudara ibu
7. Mulut bayi mencakup sebanyak mungkin areola (tidak hanya puting saja), sehingga
sebagian besar areola tidak tampak
8. Lidah bayi menopang puting susu dan areola bagian bawah
9. Bibir bawah bayi melengkung keluar
10. Bayi menghisap kuat dan dalam secara perlahan dan kadang-kadang disertai berhenti
sesaat
11. Terkadang terdengar suara bayi menelan
12. Bayi puas dan tenang pada akhir menyusu
13. Puting susu tidak terasa sakit atau lecet
14. Bayi BAK setidaknya 6x dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda
15. BAB bayi berwarna kekuningan “berbiji” 2x atau lebih dalam sehari
16. Bayi merasa tenang dan puas setelah minum, terbaik bila bayi melepaskan puting susu
sendiri. Bayi yang selalu tidur bukanlah pertanda baik
17. Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam
18. Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui
19. Berat badan bayi bertambah
(Bobak, 2004)
6. Lama dan Frekuensi Menyusui Bayi
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi
dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya.
Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,
kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui
bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam
lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.

Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan
mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian. Menyusui yang dijadwal akan berakibat
kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya.
Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah
menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering
disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali
menyusui harus dengan kedua payudara. Pesankan kepada ibu agar berusaha menyusui sampai
payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali menyusui, dimulai
dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan
kutang (BH) yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat (Perinasia, 2004).

7. Hambatan Yang Dapat Muncul Saat Menyusui

Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik
masalah pada ibu maupun pada bayi. Masalah dari ibu yang timbul selama menyusui dapat timbul
sejak sebelum persalinan (periode antenatal), pada masa pasca persalinan dini, dan masa pasca
persalinan lanjut. Masalah menyusui dapat pula disebabkan karena kelainan khusus. Masalah
pada bayi umumnya berkaitan dengan mananajemen laktasi, sehingga bayi sering menjadi
“bingung puting” atau sering menangis, yang sering diinterpretasikan oleh ibu dan keluarga
bahwa ASI tidak tepat untuk bayinya (Suradi, 2004).

Masalah menyusui pada masa antenatal yang sering timbul adalah:

 Kurang/salah informasi , Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula sama baiknya
atau malah lebih baik daripada ASI.
 Puting susu datar atau terbenam.
Masalah puting susu datar/ terbenam sebenarnya tidak harus menjadi halangan bagi ibu
untuk menyusui bayinya. Cara yang paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah
isapan langsung bayi yang kuat dan dengan rutin melakukan perawatan payudara mulai
usia kehamilan trimester terakhir. Apabila puting benar-benar tidak muncul, dapat ditarik
dengan pompa puting susu (nipple puller), jika intervensi ini tidak berhasil maka ibu tetap
diberikan motivasi untuk terus menyusui bayinya. Saat menyusui pada payudara yang
terbenam ibu dapat melakukan sedikit penekanan pada areola mammae dengan jari ,bila
terlalu penuh ASI dapat diperas dahulu dan diberikan dengan sendok atau cangkir, atau
teteskan langsung ke mulut bayi. Bila perlu, hal ini dapat dilakukan hingga 1-2 minggu.
Masalah menyusui yang sering timbul pada masa pasca persalinan dini adalah:

 Puting susu lecet


 Payudara bengkak
 Saluran susu tersumbat
 Mastitis atau abses.
Masalah menyusui pada masa pasca persalinan lanjut adalah:

 Sindrom ASI kurang


 Ibu bekerja.
 Selain hal-hal tersebut, ada keadaan-keadaan khusus yang dapat menghambat ibu untuk
menyusui seperti: ibu melahirkan dengan bedah sesar, ibu sakit, ibumenderita hepatitis,
AIDS, TB paru, diabetes, ibu yang memerlukan pengobatan dan ibu hamil.

8. Cara Penyimpanan ASI perah

8.1 cara menyimpan asi di rumah :


 ASI yang disimpan di udara kamar/luar akan tahan 6 – 8 jam pada suhu 26
derajat celcius atau lebih rendah
 ASI yang disimpan di dalam termos berisi es batu tahan 24 jam
 ASI yang disimpan di lemari es ditempat buah dibagian paling dalam
dimana tempat yang terdingin tahan 2 - 3 x 24 jam
 menyimpan perahan ASI yang disimpan di freezer yakni lemari es
dengan satu pintu, tahan 2 minggu.
 ASI yang disimpan di freezer yang mempunyai pintu terpisah sendiri tahan 3
bulan
 ASI yang disimpan di deep freezer akan tahan selama 6 - 12 bulan
8.2 cara menyimpan asi perah di tempat kerja

 Tempat penyimpanan ASI perah disarankan menggunakan botol kaca,karena lemak


-lemak dalam asi tidak akan banyak menempel. selain itu botol kaca juga relative
murah dan bisa digunakan berulang kali.
 Bila asi perah di simpan dalam botol kaca, hendaknya botol jangan diisi terlalu penuh,
hal ini bisa menyebabkan botol pecah saat di simpan di dalam freezer. Maka isikan
asi perah kurang lebih ¾ botol saja.
 Pastikan botol - botol yang akan digunakan untuk menyimpan asi perah sudah di cuci
bersih dengan sabun dan sebelum digunakan bilas dengan air panas.
 simpan asi perah ke dalam botol steril dan tutup rapat – rapat pastikan sekali lagi bahwa
botol telah tertutup rapat jangan ada celah yang terbuka
 botol diberi label berupa jam,tanggal pemerahan dan nama untuk membedakan
dengan asi milik orang lain.
8.3 Cara Memberikan ASI perah
 sebelum diminumkan dengan sendok atau gelas plastk, asi dapat di hangatkan di
dalam mangkok berisi air hangat. jangan dihangatkan diatas api karena beberapa
zat kekebalan dan enzim dapat berkurang
 jangan merebus ASI perah atau menghangatkan ASI menggunakan air
mendidih.
 jangan membekukan kembali asi perah yang sudah mencair