Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH PEMERIKSAAN ASET

TAK BERWUJUD
PEMERIKSAAN KEUANGAN II

Dosen Pengampu : Abdul Hamid, SE., MM.Ak.


Nama Anggota Kelompok :
1. Dinda Deatirta Ferera (16310114)
2. Finda Nur Ardianti (16310517)
3. Firmansyah Baharudin (16310188)
4. Hafiz Fahrudin Karim (16310003)
5. Natalia Puspita Sari (16310050)
6. Rejeki Panjaitan (16310142)
7. Siti Nur Khayati (16310013)

Akuntansi-A Reg. Malam Semester 5


STIE MAHARDHIKA SURABAYA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyusun makalah
ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini penulis membahas
mengenai “Pemeriksaan Aset Tak Berwujud”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulis sadar makalah
ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat


untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Surabaya, 4 September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................................ii

Daftar Isi.......................................................................................................................iii

BAB I : PENDAHULUAN...........................................................................................1

1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................1

1.3 Tujuan dan Manfaat Pembahasan............................................................................2

BAB II : PEMBAHASAN.............................................................................................3

2.1. Pengertian Aktiva Tidak Berwujud.........................................................................3

2.2. Dasar Penggolongan Aktiva Tidak Berwujud.........................................................4

2.3. Pencatatan dan Perolehan Aktiva............................................................................4

2.4. Jenis – Jenis Aktiva Tidak Berwujud......................................................................5

2.5. Dasar – Dasar Pemeriksaan Terhadap Aktiva Tidak Berwujud............................12

2.6. Pokok Pembahasan Pemeriksaan Terhadap Aktiva Tidak Berwujud...................14

BAB III : STUDY KASUS..........................................................................................17

BAB IV : PENUTUP...................................................................................................29

3.1. Kesimpulan dan Saran..........................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................32

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Perusahaan pasti mempunyai aktiva tidak berwujud yang digunakan untuk


kegiatan operasional perusahaan. Aktiva tak berwujud adalah hak, hak istimewa
dan keuntungan kompetitif yang timbul dari pemilikan suatu aktiva yang berumur
panjang, yang tidak memiliki wujud fisik tertentu. Bukti pemilikan aktiva tak
berwujud bisa berupa kontrak, lisensi, atau dokumen lain. Dimana aktiva tidak
berwujud merupakan bagian aset non lancar lainnya yang di neraca
diklasifikasikan dan disajikan sebagai aset lainnya.

Dengan penjelasan yang sangat minim ini tentu saja berpotensi pada
kurang akuratnya pencatatan terhadap transaksi aktiva tidak berujud tersebut.
Sebagai bagian dari neraca, aktiva tidak berujud juga memerlukan standar
akuntansi untuk memberi penjelasan yang terkait dengan pengakuan, pengukuran,
serta pengungkapan dan penyajian dalam laporan keuangan. Selain itu juga
terdapat kemungkinan adanya perlakuan khusus, contohnya yang terkait dengan
amortisasi dan penghentian serta penghapusannya. Berdasarkan latar belakang
tersebut, maka kelompok kami membuat makalah yang berjudul “Aktiva Tidak
Berwujud”.

1.2. Rumusan Masalah

a) Apa pengertian dan karakteristik aktiva tidak berwujud?

b) Apa klasifikasi dan prinsip dasar akuntansi untuk aktiva tidak berwujud?

c) Bagaimana pencatatan dan penilaian aktiva tidak berwujud tersebut?

1
d) Apa yang dimaksud dengan contoh aktiva tidak berwujud yang dapat
dipertukarkan?

e) Bagaimana penyajian aktiva tidak berwujud dalam laporan keuangan?

1.3. Tujuan

a) Menjelaskan pengertian dan karakteristik aktiva tidak berwujud

b) Menjelaskan klasifikasi dan prinsip dasar akuntansi untuk aktiva tidak


berwujud

c) Menjelaskan cara pencatatan dan penilaian aktiva tidak berwujud

d) Menjelaskan yang dimaksud dengan contoh aktiva tidak berwujud yang dapat
dipertukarkan

e) Menjelaskan cara penyajian aktiva tidak berwujud dalam laporan keuangan

2
BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Aktiva Tidak Berwujud

Aktiva tidak berwujud (in tangible asset) adalah aktiva tak lancar
(noncurrent asset) dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan
hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara
terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain.

Perlakuan akuntansi tak berwujud menyangkut masalah yang tidak


berbeda dengan perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap, diantaranya adalah
penentuan nilai perolehan, perlakuan akuntansi selanjutnya terhadap nilai
perolehan tersebut dalam kondisi usaha normal (amostisasi), dan perlakuan
akuntansi atas penurunan nilai aktiva tak berwujud yang material dan permanen.

Kesulitan yang dihadapi dalam pemecahan masalah perlakuan akuntansi


aktiva tak berwujud pada umumnya disebabkan oleh sifat aktiva tersebut, seperti
tidak adanya wujud fisik yang menyebabkan bukti keberadaannya kabur, dan
kesulitan dalam penentuan nilai perolehan serta masa manfaat keekonomannya.

Ciri khas aktiva tak berwujud yang paling utama adalah tingkat
ketidakpastian mengenai nilai dan manfaatnya di kemudian hari. Aktiva tak
berwujud dan mempunyai nilai karena eksistensinya yang berkaitan dengan
aktiva berwujud perusahaan.

3
2.2. Dasar Penggolongan Aktiva Tidak Berwujud

a. Kemampuan untuk diidentifikasikan: dapat atau tidak dapat diidentifikasikan


secara khusus.

b. Cara perolehan: diperoleh secara individual, secara kelompok, melalui


penggabungan badan usaha atau dikembangkan sendiri.

c. Masa manfaat yang diharapkan: tergantung pada pembatasan yang diatur oleh
hukum/perjanjian, pada faktor keekonomian atau manusia, atau pada jangka
waktu yang tidak terbatas atau tidak terbatas atau tidak dapat ditentukan di
masa depan.

d. Kemampuan untuk dipisahkan dari keseluruhan perusahaan: hak yang dapat


dialihkan tanpa bukti pemilikan, dapat dijual atau tidak dapat dipisahkan dari
perusahaan atau dari bagian pokoknya.

2.3. Pencatatan dan Perolehan Aktiva

Aktiva tak berwujud dapat diperoleh dengan cara membeli dari pihak luar
atau dikembangkan sendiri oleh perusahaan. Biaya yang terjadi sehubungan
dengan aktiva tak berwujud yang dikembangkan sendiri dicatat sebagai badan
usaha, kecuali aktiva tak beruwjud tersebut dapat diidentifikasikan secara
spesifik.

Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang


diperoleh dari individu atau badan usaha lain sebagai aktiva. Biaya pemeliharaan
atau penyimpanan aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara
khusus, tidak dapat ditentukan masa manfaatnya/umurnya, atau tidak dapat
dihindarkan dalam suatu kegiatan usaha harus dibebankan dalam laporan laba
rugi periode yang bersangkutan.
4
Aktiva tak berwujud yang diperoleh harus dicatat sebesar harga perolehan
pada tanggal akuisisi. Harga perolehan tersebut dinilai sebesar jumlah yang
dibayar, nilai wajar dari aktiva lain yang diperoleh, nilai tunai dari kewajiban
yang ada atau nilai wajar dari aktiva yang diterima untuk saham yang
dikeluarkan.

Aktiva tak berwujud yang diperoleh secara kelompok atau sebagai bagian
dari perusahaan yang diakuisisi, harus dicatat sebesar harga perolehan pada
tanggal akuisisi. Penilaian harga perolehan ini tergantung pada – apakah aktiva
tak berwujud tersebut dapat diidentifikasikan secara khusus atau tidak. Harga
perolehan aktiva tak berwujud yang dapat diidentifikasikan adalah sebagian dari
harga perolehan sekelompok aktiva atau perusahaan yang diakuisisi yang
biasanya ditentukan dari nilai wajar masing-masing aktiva tersebut.

2.4. Jenis-Jenis Aktiva Tidak Berwujud

a. Hak Sewa (Lease Hold)

Hak Sewa adalah hak yang diperoleh atas suatu sewa aktiva tertentu
(sewa tempat usaha, sewa gedung, sewa mesin) yang biasanya menggunakan
kurun waktu tertentu, disahkan oleh penjabat pembuat akte (notaris). Hak
sewa dinyatakan sebagai aktiva tetap (tak berwujud) karena dua alasan :

1) Hak sewa memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan, atau dengan


kata lain, atas sumber daya (dana) yang dikeluarkan diharapkan hak sewa
akan memberikan manfaat kembali (berpotensi menghasilkan kas atau
manfaat) di masa yang akan datang.

5
2) Manfaat yang diterima oleh perusahaan atas kepemilikan hak sewa, akan
dinikmati oleh perusahaan untuk periode waktu lebih dari satu tahun
buku.

Melihat batasan (bisa dikatakan syarat) di atas, maka kita dapat memilah-
milah atas kejadian sewa, apakah dibukukan sebagai aktiva tetap tak
berwujud atau sebagai biaya sewa.

b. Organization Cost

Organizaton Cost adalah pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang


terjadi sehubungan dengan set-up perusahaan sebelum beroperasi, contohnya
pembayaran kepada notaris. Pengeluaran ini diakui sebagai perolehan aktiva
tak berwujud, karena atas pengeluaran tersebut perusahaan akan memperoleh
manfaat yang lebih dari satu tahun buku juga, yaitu selama perusahaan masih
beroperasi.

c. Perijinan (Permit & License)

Perijinan adalah hak perusahaan yang diperoleh dari pihak pemerintah


baik daerah maupun pusat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu terkait
dengan bidang usahanya. Ijin-ijin perusahaan tentu ada jangka waktunya, dan
jika masa berlakunya telah habis maka ijin tersebut harus diperpanjang atau
diperbaharui. Namun demikian ijin usaha atau aktivitas tertentu atas terkait
dengan usaha biasanya memiliki jangka waktu 3 sampai 30 tahun, yang
artinya lebih dari satu tahun buku. Untuk itu ijin diakui sebagai aktiva tetap
tak berwujud.

d. Hak Paten

Hak Paten adalah hak yang diperoleh atas suatu penemuan tertentu.
Dimana atas penemuan tersebut, penemu akan memperoleh manfaat tertentu

6
untuk kurun waktu tertentu dan dapat diperpanjang. Penemuan tersebut bisa
berupa suatu produk, atau rekayasa, atau sistem, atau cara tertentu.

Contohnya, perusahaan manufaktur dapat memperoleh Hak Istimewa


dalam memproduksi dan menjual barang-barang dengan satu atau beberapa
ciri khusus. Hak tersebut disebut Hak Paten.

Harga perolehan paten harus didebitkan pada rekening aktiva. Harga


perolehan ini harus dihapus atau diamortisasikan selama masa kegunaan
paten. Metode amortisasi yang digunakan biasanya adalah metode garis
lurus.

Hak paten tidak memerlukan rekening kontra khusus untuk mencatat


amorstisasinya. Amortisasinya dicatat langsung dalam rekening paten.
Praktik ini umum dilakukan untuk aktiva tidak berwujud.

Contoh Amortisasi Hak Paten:

PT. Adil mengeluarkan tunai untuk hak paten atas suatu penemuan
baru pembuatan produk handphone sebesar Rp 6 juta. Taksiran umur paten 15
tahun. Paten diperoleh pada tanggal 1 April 2010.

Jawab:

Untuk mencatat perolehan hak paten:

Paten Rp 6.000.000

Kas Rp 6.000.000

Besarnya beban amortisasi paten 2010:

Umur paten 15 th (15 × 12 = 180 bulan)

Selama 1995: 1 April – 31 Desember = 9 bulan

7
( 9/180 ) × Rp 6.000.000 = Rp 300.000

Penyesuaian amortisasi paten 31 Desember 2010 :

Beban Amortisasi Rp 300.000

Paten Rp 300.000

e. Merk Dagang (Trademark)

Merk Dagang (Trade Merk) yang bisa disingkat TM, adalah hak yang
diperoleh atas suatu merk komersial tertentu. Hak ini bisa berupa logo,
tulisan, bentuk, symbol, atau kombinasinya, yang mewakili suatu
organisasi/perusahaan tertentu.

Contoh Merek Dagang:

Tanggal 1 April 2010, Firma Halomoan & Co memperoleh hak merk atas
produk pabriknya dengan biaya Rp 7.800.000. Harga perolehan tersebut
diamortisasi selama 6 tahun.

 Jurnal untuk mencatat perolehannya (1 April 2010)

Merek Dagang Rp 7.800.000

Kas Rp 7.800.000

 Mencatat amortisasi tahunan

(7.800.000:6) × Rp 1 = Rp 1.300.000

 Mencatat beban amortisasi tahun 2010

1 April – 31 Desember 2010 = 9 bulan

(9:12) × 1.300.000 = Rp 975.000

 Jurnal untuk mencatat penyesuaian beban amortisasi 31 Desembetr 2010


8
Amortisasi merek dagang Rp 975.000

Merek dagang Rp 975.000

f. Hak Penggandaan

Copyright adalah hak yang berikan atas suatau penulisan, baik itu
berupa karya ilmiah, puisi, novel, maupun lyric lagu, notasi lagu/irama
tertentu, script atau skenario film tertentu. Copyright meliputi hak untuk
memperbanyak dan mengedarkannya.

g. Franchise

Franchise adalah hak yang diperoleh untuk melakukan suatu usaha


tertentu, atau memasarkan produknya, sekaligus mengikuti pola usaha, cara
pengelolaan, penggunaaan logo maupun penggunaan alat usaha tertentu yang
aslinya dimiliki oleh perusahaan yang memberikan hak franchise.

Contoh:

PT. Mutiara memperoleh hak dari KFC memproduksi suatu produk makanan
& menjual kepada umum.

Biaya yang dikeluarkan atas produk tersebut sebesar Rp 15.000.000 sesuai


dengan perjanjian hak mempergunakan selama 10 tahun.

 Jurnal untuk mencatat hak franchise produk tersebut tanggal 1 Mei 2010

Franchise Rp 15.000.000

Kas Rp 15.000.000

 Mencatat beban amortisasi per tahun

(15.000.000 : 10) × Rp 1 = Rp 1.500.000

9
 Mencatat jurnal penyesuaian 31 Desember jika kontrak disepakati 1 Mei
2010

1 Mei – 31 Desember = 8 bulan

(8 : 10) × 1.500.000 = Rp 1.000.000

Amortisasi franchise Rp 1.000.000

Franchise Rp 1.000.000

h. Goodwill

Goodwill adalah kelebihan-kelebihan, keistimewaan tertentu yang


dimiliki oleh perusahaan, yang oleh karenanya menjadi dinilai lebih oleh
pihak lain. Kelebihan/keistimewaan tersebut bisa karena perusahaan memiliki
reputasi manajemen yang sangat bagus, menghasilkan suatu produk unggul
yang sulit dicari pesaingnya, letaknya strategis, dan lain-lain.

Contoh:

PT. Astina membeli PT Alengka dengan harga Rp 15.000.000.000. Nilai


wajar aktiva PT Alengka pada saat transaksi Rp 24.000.000.000 dan nilai
seluruh utangnya Rp 10.000.000.000, maka nilai goodwill dihitung:

Harga beli PT Alengka Rp 15.000.000.000

Nilai wajar aktiva netto Rp 24.000.000.000

Nilai utang Rp 10.000.000.000

Total modal PT Alengka Rp 14.000.000.000

Nilai Goodwill Rp 1.000.000.000

Transaksi tersebut dicatat dengan jurnal:

10
Macam-macam aktiva Rp 24.000.000.000

Goodwill Rp 1.000.000.000

Macam-macam utang Rp 10.000.000.000

Kas Rp 15.000.000.000

Goodwill diamortisasikan selama umur ekonomisnya. Misalnya


diamortisasikan selama 20 tahun, maka setiap tahun = Rp 1.000.000.000 : 20
= Rp 50.000.000.000.

Jurnal penyesuaian setiap akhir periode akuntansi adalah :

Beban amortisasi goodwill Rp 50.000.000

Goodwill Rp 50.000.000

i. Hak Cipta

Hak Cipta adalah hak istimewa untuk menerbitkan atau


mempublikasikan dan menjual karya seni dan komposisi musik. Seperti
halnya hak paten maka hak cipta dijual atau diberikan pada pihak lain dengan
perjanjian-perjanjian tertentu. Hak cipta yang dibeli dari pihak lain dicatat
sebesar harga yang dibayarkan untuk memperolehnya. Umur manfaat hak
cipta tidak pasti, maka hak diamortisasi dalam periode yang cukup singkat.

Contoh Amortisasi Hak Cipta:

Pada tanggal 1 Januari 2010, Arnold memperoleh hak cipta atas lagu yang
dikarangnya. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk penyusunan karangan,
pendaftaran dan hak memperoleh hak cipta tersebut sebesar Rp 9.000.000.
Menurut taksiran hasil penjualan karangan, taksiran umur hak cipta 9 tahun.

11
Jawab:

Mencatat besarnya amortisasi/tahun:

(Rp 9.000.000/9) = Rp 1.000.000

Jurnal mencatat penyesuaian 31 Desember 2010:

Amostisasi Hak Cipta Rp 1.000.000

Hak Cipta Rp 1.000.000

2.5. Dasar-Dasar Pemeriksaan Terhadap Aktiva Tidak Berwujud

1) Prinsip Akuntansi Aktiva Tidak Berwujud (ATB)

a. ATB harus disajikan terpisah di neraca

b. ATB yang memiliki masa manfaat terbatas disajikan terpisah dari ATB
yang memiliki masa manfaat tidak terbatas.

c. Dasar penilaian dan metode amortisasi ATB harus diungkapkan.

2) Tujuan Pemeriksaan Aktiva Tidak Berwujud

a. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas
aktiva tak berwujud.

b. Untuk memeriksa apakah perolehan, penambahan dan penghapusan


aktiva tak berwujud, didukung oleh bukti-bukti yang sah dan lengkap
serta diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang.

c. Untuk memeriksa apakah aktiva tak berwujud yang dimiliki perusahaan


masih mempunyai kegunaan dimasa yang akan datang (manfaatnya lebih
dari 1 tahun).

12
d. Untuk memeriksa apakah amortisasi aktiva tak berwujud dilakukan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

e. Untuk memeriksa apakah hasil/pendapatan yang diperoleh dari aktiva tak


berwujud sudah dicatat dan diterima oleh perusahaan.

f. Untuk memeriksa apakah penyajian aktiva tak berwujud dalam laporan


keuangan dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia.

3) Asersi Manajemen pada Aktiva Tidak Berwujud

a. Keberadaan ATB

b. Kelengkapan ATB

c. Hak kepemilikan ATB

d. Penilaian dan alokasi ATB

e. Penyajian dan pengungkapan ATB

2.6. Pokok Pembahasan Pemeriksaan Terhadap Aktiva Tidak Berwujud

1. Prosedur Audit Awal Terhadap Aktiva Tidak Berwujud

a) Mengusut saldo ATB yang tercantum di neraca ke saldo akun ATB di


buku besar.

b) Menghitung kembali saldo ATB di buku besar:

 Saldo awal
13
 Ditambah jumlah pendebitan

 Dikurangi jumlah pengkreditan

c) Mereview terhadap mutasi luar biasa pada akun ATB.

d) Mengusut saldo awal ATB (pada buku besar) ke kertas kerja tahun lalu.

e) Mengusut posting pendebitan dan pengkreditan akun ATB ke jurnal ybs.

2. Prosedur Analitik atas Aktiva Tidak Berwujud

a) Perhitungan rasio-rasio keuangan yag berkaitan dengan ATB

b) Rasio-rasio membantu auditor dalam mengungkapkan:

 Transaksi yang tidak biasa

 Perubahan akuntansi

 Perubahan usaha

 Fluktuasi acak

 Salah siji

3. Pengujian terhadap Transaksi Rinci Aktiva Tidak Berwujud

a) Memeriksa dokumen yang mendukung transaksi perolehan ATB

 Bukti pemerolehan ATB

 Bukti kas keluar

 Memeriksa dasar untuk menentukan cost ATB

b) Memeriksa dokumen yang mendukung transaksi amortisasi ATB


14
 ATB diamortisasi secara langsung dengan mengurangkan ke cost
ATB yang bersangkutan.

 Memeriksa konsistensi penggunaan metode amortisasi

 Menilai kewajaran penaksiran manfaat ekonomis ATB tersebut.

4. Penguji Saldo Akun Rinci Aktiva Tidak Berwujud

a) Pengujian keberadaan dan kepemilikan

 Memeriksa dokumen yang berkaitan dengan pemerolehan ATB

 Memeriksa notulen rapat direksi, perjanjian, atau surat ijin dari


pemerintah, dsb.

b) Pengujian penilaian

 Memeriksa manfaat ATB bagi klien di masa yang akan datang

 Memeriksa dasar penilaian ATB dan metode amortisasi yang


digunakan

5. Pemeriksaan Atas Penyajian dan Pengungkapan Aktiva Tidak Berwujud

a) ATB harus disajikan secara terpisah di neraca

b) ATB yang mempunyai masa manfaat terbatas disajikan terpisah dari ATB
yang mempunyai masa manfaat tidak terbatas

c) Dasar penilaian dan metode amortisasi ATB harus diungkapkan

15
BAB III

STUDY KASUS
1. Contoh Kasus I :

Tempat Usaha (Tanah dan Gedung) PT. Royal Bali Cemerlang diperoleh dengan
cara menyewa selama 30 Tahun, dengan membayar sebesar Rp 750,000,000,-.
Dalam perjalanan usahanya PT. Royal Bali Cemerlang juga menyewa sebuah
mobil pick-up disewa Rp 150,000/hari.

16
Mengacu pada batasan aktiva tetap tak berwujud atas Hak Sewa yang telah
disebutkan sebelumnya, maka transaksi sewa yang ada pada PT. Royal Bali
Cemerlang hendaknya diperlakukan sebagai berikut :

Pencatatan :

Atas sewa tanah dan gedung di catat sebagai aktiva tak berwujud: Pada saat
pembayaran sewa dicatat :

[-Debit-]. Lease Hold = Rp 750,000,000,-

[-Credit-]. Kas = Rp 675,000,000.-

[-Credit-]. PPh Pasal 4(2) = Rp 75,000,000,-

Pada saat penyetoran PPh Pasal 4(2) :

[-Debit-]. PPh Pasal 4(2) = Rp 75,000,000,-

[-Credit-]. Kas = Rp 75,000,000,-

Penjelasan :

(-). Transaksi sewa ini diakui sebagai perolehan Aktiva Tetap Tak Berwujud
(intangible asset) yaitu berupa Hak sewa (Lease Hold), karena sewa tersebut
berjangka waktu 30 tahun, yang artinya atas cost sewa yang dikeluarkan
sekarang, perusahaan akan memperoleh manfaat (menjadikannya sebagai tempat
usaha) untuk masa waktu yang lebih dari satu tahun buku, untuk itu transaksi
sewa ini eligable diakui sebagai aktiva tetap tak berwujud..

(-). Persewaan suatu aktiva, merupakan Taxable Object, yaitu PPh Pasal 4 (2),
diakui sekarang atau nanti tetap akan mengakui. Jika tidak di akui sekarang toh
nanti akan dikoreksi oleh pihak kantor pajak. Mengingat Conservatism principle,

17
bukankah setiap potensi pengeluaran maupun kewajiban, hendaknya diakui
sesegera mungkin ?

Atas sewa mesin & mobil dicatat sebagai biaya :

Pada saat pembayaran sewa dicatat :

[-Debit-]. Biaya Sewa = Rp 150,000,-

[-Credit-]. Kas = Rp 135,000,-

[-Credit-]. PPh Pasal 23 = Rp 15,000,-

Pada saat pembayaran PPh Pasal 23 :

[-Debit-]. PPh Pasal 23 = Rp 15,000,-

[-Credit-].Kas=Rp15,000,-

Catatan :

Sewa mobil yang biayar harian langsung diakui sebagai biaya, karena atas
pengeluaran perusahaan sebesar Rp 150,000,- perusahaan hanya akan
memperoleh manfaat selama satu hari (kurang dari 1 tahun buku).

Sewa jenis ini adalah obyek PPh Pasal 23, dimana perusahaan bertindak selaku
pemotong.

2. Contoh Kasus II

ANALISA KASUS : PERLUKAH MEREK DAGANG DITAMPILKAN


DALAM NERACA?

Berbagai nama merek dagang telah banyak beredar. Ratusan bahkan ribuan
merek dagang telah muncul untuk berbagai jenis produk, antara lain Aqua, Coca-

18
Cola, Indomie, Rinso, dan masih banyak lagi. Bahkan terkadang suatu merek
dagang menjadi nama generik dari suatu produk. Sebut saja Aqua, merek dagang
minuman kemasan ini telah menjadi sebutan untuk kategori produk air dalam
kemasan.

Bagi para praktisi pemasaran, merek dagang semakin mutlak diperlukan.


Apalagi bila persaingan semakin ketat, maka pendekatan merek dagang sebagai
bagian dari produk tidak relevan lagi. Pada persaingan yang semakin ketat,
peranan merek dagang menjadi kian penting dimana akan tercipta brand
awareness, brand association, perceived quality, dan pada akhirnya membentuk
brand loyalty yang baik dan lancar.

Dengan begitu, dengan semakin ketatnya persaingan, maka usaha


membangun merek dagang juga harus direncanakan dengan baik. Hal ini tentu
saja akan memerlukan anggaran besar, bahkan mungkin juga jangka waktu yang
lama. Merek dagang seperti Coca-Cola memiliki awareness yang sangat tinggi
pada kategori produknya tetapi juga mempunyai association yang positif dan
saling memperkuat.

Merek dagang yang baik harus dikelola dengan baik. Merek dagang menjadi
aktiva tak berwujud yang nilainya harus dapat dinyatakan dalam satuan moneter.
Dalam Jurnal Financial World disebutkan bahwa pengukuran ekuitas merek
dagang bukan berdasarkan top of mind tetapi berdasarkan kinerja keuangan
produk-produk tersebut.

Jadi apakah merek dagang dapat dimasukkan dalam laporan keuangan —


neraca - dalam suatu perkiraan tersendiri? Hal ini masih menjadi perdebatan.
Memperlakukan ekuitas merek dagang sebagai aset merupakan isu yang
kontroversial saat ini.

19
Beberapa pengukuran dan disclosure harus dipertimbangkan dalam era
pemasaran untuk mengukur nilai merek dagang. Akuntansi untuk merek dagang
telah menjadi bahan studi bagi pasar yang berkembang secara global, seperti
Inggris, Australia, dan Kanada. Oleh karena itu, profesi akuntan harus berani
menerima tantangan baru, yaitu melakukan brainstorm ing mengenai ide-ide
tentang akuntansi merek dagang dalam tahun-tahun mendatang.

Value

Value merupakan pemikiran subjektif yang ditentukan oleh kemampuan


perubahan dari orang-orang yang melakukan evaluasi dan tujuan-tujuan khusus
mereka. Penilaiannya dapat dilakukan dengan mengambil beberapa metode yang
disajikan, yaitu:

1. Penilaian merek dagang dalam hubungannya dengan biaya

2. Penilaian merek dagang dalam hubungannya dengan historical cost

3. Penilaian merek dagang dalam hubungannya dengan replacement cost

4. Penilaian merek dagang dalam hubungannya dengan market value

5. Penilaian merek dagang dalam hubungannya dengan potential earning

Yang menjadi masalah sekarang terletak pada evaluasi kelebihan profit yang
menjadi hak secara langsung terhadap brand’s image. Untuk itu ada beberapa
metode yang dapat digunakan, antara lain the premium pricing method, the
royalties method, the brand sensitivity method, dan the capitalization of the
brand pendapatan (discounted cashflow).

Merek dagang menerima keseluruhan nilai berdasarkan atas penetapan


variabel-variabel strategi dan pemasaran untuk menaksir kekuatannya. Di
Inggris, perusahaan Interbrand menggunakan brand’s strength score untuk
mengevaluasi nilai merek dagang dengan mempertimbangkan keuntungan
20
selama 3 bulan sebelumnya dan mendiskontokannya secara tetap untuk
mengambil perkiraan inflasi.

Discounted Cash Flow (DCF)


Metode DCF digunakan dengan mempertimbangkan pendapatan tahunan
yang dapat dihubungkan dengan merek dagang selama 5, 8, atau 10 tahun.
Tingkat diskonto merupakan bobot rata-rata biaya modal yang meningkat,
sehingga perlu untuk mengambil risiko dari merek dagang yang lemah.
Sedangkan nilai residu diperkirakan berdasarkan pendapatan perpetual. Dimana
diasumsikan bahwa beberapa pendapatan konstan atau meningkat secara
konstan. Hal ini dapat terlihat dari rumus di bawah ini.

Value of the brand = Rt + Residual Value (1+r) t (l+r)N

dimana: Rt = pendapatan yang diantisipasi pada tahun ke-t dalam


hubungannya dengan merek

t = tingkat diskonto, residual value setelah tahun ke-N

Dalam mengevaluasi nilai merek, metode ini memiliki tiga


kelemahan, yaitu:
1. Dalam mengantisipasi cash flow
2. Dalam memilih periode waktu pengakuan pendapatan yang
berkenaan dengan merek
3. Dalam menentukan tingkat diskonto

Kelemahan-kelemahan tersebut menyebabkan evaluasi atas nilai merek


dagang tidak bebas dari kritikan. Sifat subjektivitas seseorang dalam menentukan
berbagai variabel itulah yang menjadi fokus kritikan.

21
Akuntansi Merek Dagang di Negara Lain

Inggris merupakan negara pelopor untuk brainstorming mengenai


akuntansi merek dagang. Terdapat beberapa perusahaan yang telah memasukkan
nilai merek dagang yang dihasilkan sendiri ke dalam neraca. Hal ini dilakukan
untuk meningkatkan harga saham, mengurangi tingkat kelemahan untuk di-
takeover, dan memperbesar borrowing power. Namun muncul pro dan kontra
mengenai pemasukan merek dagang ke dalam neraca. Kontroversi yang timbul
disebabkan oleh 2 keadaan, yaitu:

1. Belum ditentukannya metode penilaian merek dagang yang diterima


umum

2. Banyaknya ketidakpastian mengenai pembiayaan merek dagang sehingga


menimbulkan keragu-raguan atas kegunaannya bagi pengguna laporan
keuangan

Isu akuntansi merek dagang yang berkembang tidak dapat dipisahkan dari
perlakuan akuntansi untuk goodwill, seperti yang terdapat dalam ICAEW’s
Research Board (1989). Untuk membuat laporan keuangan lebih konsisten ASC
mengeluarkan TR 738 (1989), yang isinya menyarankan agar perusahaan dapat
memasukkan merek dagang yang dibeli dalam disclosure sebagai aktiva tetap tak
berwujud dalam neraca. Akan tetapi, merek dagang yang dihasilkan sendiri tidak
dapat diperlakukan sebagai aset.

Sejak saat itu, muncul pemisahan antara merek dagang yang dibeli
dengan merek dagang yang dihasilkan sendiri dalam praktik akuntansi. Pada
tahun 1990, ASC mengambil langkah berani dengan menyatakan bahwa merek
dagang seharusnya dimasukkan dalam goodwill dan diperlakukan sama dengan
goodwill. Bahkan secara jelas dinyatakan bahwa merek dagang yang dimiliki
22
karena adanya penggabungan bisnis (merger) dihitung sebagai goodwill yang
dibeli dan harus diamortisasikan tidak lebih dari 20 tahun. Sedangkan goodwill
yang dihasilkan sendiri harus dikeluarkan dari neraca. Meskipun begitu, AARF
ED-49 tidak menjelaskan secara detail kapan periode amortisasi melebihi 20
tahun.

Sedangkan para CFO dari Amerika dan Kanada menolak untuk


memasukkan merek dagang ke dalam neraca perusahaan apabila merek dagang
itu digunakan untuk keperluan internal perusahaan. Allan Baldinger, Direktur
Riset Pemasaran Advertising Research Foundation (ARF) menyatakan bahwa
pada tahun 1990 keuntungan yang besar datang dari merek dagang yang
dominan. Sehingga pembuatan dan pemeliharaan merek dagang sangat penting.
Dia juga menambahkan bahwa persepsi mengenai kualitas produk yang
ditimbulkan merek dagang lebih berharga daripada harga produk itu sendiri.

Dalam TR 780 diberikan ketentuan mengenai akuntansi untuk aktiva tak


berwujud, sebagai berikut:

1. Sebuah aktiva tak berwujud harus ditampilkan dalam neraca

2. H istorical cost yang diadakan dalam pembuatan aktiva tak berwujud


harus dapat diketahui

3. Karakteristik aktiva tak berwujud harus dibedakan dengan karakteristik


goodwill

4. Biaya-biaya aktiva tak berwujud dapat diukur terlepas dari goodwill aset
lain

Namun di UK, isu merek dagang masih menghadapi banyak perdebatan.


Terutama berkaitan dengan akuntansi untuk merek dagang dan disclosure-nya

23
yang masih berlaku saat ini. Untuk itu sebuah conceptual framework akuntansi
untuk merek dagang sangat diperlukan.

Di Australia, banyak perusahaan yang memisahkan nama merek dagang


dari goodwill dan memasukkannya ke dalam neraca. Berdasarkan survei Ernest
& Young. terdapat 30 dari 150 perusahaan top saat ini memasukkan merek
dagang dan hak milik intelektual dalam perkiraan mereka.

Sedangkan di USA, semua pengeluaran pemasaran dibebankan sebagai


pengeluaran yang terjadi. Tidak ada aktiva yang dibuat untuk keuntungan di
masa depan dari pengeluaran itu. Dan juga tidak ada perhitungan yang dibuat
untuk menaksir nilai merek dagang. Hal ini akan menyesatkan keseluruhan
akuntansi untuk pengem balian investasi dan juga menciptakan masalah bagi
investor.

Samakah merek dagang dengan konsep goodwill? Di sinilah sebenarnya


terletak inti permasalahan antara pandangan akuntan dengan pandangan
marketer. Marketer memberi perhatian yang tinggi pada “branding the product”
agar dapat merebut pangsa pasar pada kekuasaan yang tinggi. Sebaliknya, dalam
menilai nilai keuangan brand equity akuntan harus senantiasa
mempertimbangkan banyak hal seperti konsistensi, dapat diverifikasi,
materialitas, komparabilitas dan tingkat akurasi. Berkaitan dengan tujuan
evaluasi merek dagang ini, m aka dapat dipertanyakan selama periode
pembebanan merek dagang ditandingkan dengan pendapatan yang telah
direalisasikan.

Masalah Pemisahan Merek Dagang

Adapun metode yang digunakan dalam menilai merek dagang, merek dagang
tidak dapat dipisahkan dari pandangan perusahaan dan dari bentuk aktiva tak
berwujud lainnya seperti paten, trademark dan business channel. Suatu merek

24
dagang yan g sudah diperkenalkan dan sudah terkenal memang betul-betul
memiliki nilai ekonomis. Namun hampir tidak mungkin memisahkan nilai
ekonomis yang khusus meskipun menggunakan sense of accounting yang kuat.

Kekuatan merek dagang terdiri dari berbagai faktor. Masalah timbul ketika
menentukan bagian yang overvalue dalam membagikan secara adil untuk merek
dagang. Hal ini tidak jauh berbeda dengan ketidakmungkinan pembagian merek
dagang dari aktiva tak berwujud lainnya. Dalam penilaian untuk tujuan
administrasi internal pun sulit untuk dipisahkan karena nilai merek dagang
merupakan ju m lah total faktor-faktor yang membangunnya. Fakta tersebut
menunjukkan adanya kekurangan alat untuk mengukur nilai merek dagang secara
obyektif yang menjadikan akuntansi merek dagang sebagai sebuah isu yang
kontroversial. Untuk itu dibutuhkan alat evaluasi untuk brand equity.

Merek dagang mempunyai berbagai kekuatan dan nilai yang berbeda dalam
suatu pangsa pasar. Merek dagang yang kuat mempunyai brand equity yang
tinggi. Makin tinggi ekuitas merek dagang maka makin tinggi pula loyalitas
konsumen pada merek dagang tersebut.

Demikian juga dengan brand awareness, persepsi kualitas, asosiasi terhadap


kekuatan merek dagang dan aset lainnya, seperti paten, trademark dan business
channel makin tinggi. Sebuah merek dagang merupakan aset yang dapat diubah
sebagai pengganti harga atau dalam nilai uang dari bentuk aktiva lainnya.
Perusahaan-perusahaan dapat tumbuh atas kepemilikan dan pengembangan
portofolio merek dagang yang kuat.

Sebuah pengukuran nilai ekuitas merek dagang adalah harga premi merek
dagang acuan dikalikan volume tambahan yang bergerak melebihi rata-rata
sebuah merek dagang acuan. Ekuitas sebuah merek dagang seharusnya tidak
hanya mencerminkan nilai kapitalisasi dari keuntungan tambahan dari

25
penggunaan merek dagang pada saat ini tetapi juga nilai potensial pengembangan
ke produk lain.

Ekuitas sebuah merek dagang seharusnya tidak hanya m encerm inkan nilai
kapitalisasi dari keuntungan tambahan dari penggunaan merek dagang pada saat
ini tetapi juga nilai potensial pengembangan ke produk lain.

Sebuah studi menyatakan bahwa brand equity value perusahaan Marlboro


sebesar $31 milyar, Coca Cola $24 milyar dan Kodak $13 milyar. Merek dagang
superpower yang menduduki 10 besar dunia yaitu Coca Cola, Kelloggs,
McDonald’s, Kodak, Marlboro, American Express, Sony, Mercedez Benz, dan
Nescafe. Bahkan perusahaan produk makanan terbesar dunia membayar $4,5
miliar untuk membeli Rowntree atau 5 kali lebih besar dari nilai bukunya.
Namun, perusahaan-perusahaan itu tidak menunjukkan brand equity dalam
neracanya. Hal ini disebabkan oleh estimasi yang terus berubah-ubah.

Adapun alasan-alasan dibelakang penilaian brand equity adalah:

1. B rand equity yang tinggi mengurangi biaya pemasaran karena brand


awareness konsumen menjadi target tinggi dan konsumen mempunyai
loyalitas.

2. Brand equity yang tinggi mempunyai sejumlah keunggulan kompetitif.

3. Brand equity yang kuat menjamin persepsi terhadap kualitas produk yang
dijual.

4. Perusahaan menikmati tingkat penjualan yang lebih tinggi dari kompetitornya.

5. Brand equity yang tinggi mendorong nilai tambah dengan pembebanan harga
yang lebih tinggi dari harga yang diperlihatkan oleh kompetitor dengan
kualitas yang lebih baik.

26
6. Perusahaan dapat meluncurkan merek dagang baru sebagai pengembangan
karena nama merek dagang membawa kepercayaan.

7. Terhadap itu semua, merek dagang menawarkan beberapa pertahanan untuk


melawan perang harga yang dahsyat.
8. Makin tinggi brand equity maka makin besar borrowing power untuk
pembiayaan.

Merek dagang yang diperoleh dari pihak lain maupun yang dihasilkan sendiri
berdasarkan definisi aset dapat dikapitalisasi menjadi aktiva pemasaran. Namun
manajemen harus berhati-hati agar brand equity tidak mengalami penyusutan.
Untuk mengelola secara tepat, butuh investasi riset dan pengembangan yang terus
menerus, kemahiran beriklan, penjualan dan pelayanan yang terbaik kepada
konsumen, serta pengembangan yang konstan dan terus-menerus untuk menjaga
kualitas. Bahkan beberapa perusahaan, seperti Canada Dry dan Coltage Palmolive
siap menunjuk “Brand Equity Manager” untuk mengarahkan image atas kualitas
merek dagang serta membuat strategi jangka pendek untuk melindungi merek
dagang dari kerugian. Perhatian yang tepat terhadap merek dagang akan
menambah nilai manfaat bagi konsumen yang loyal. Dan Brand Equity Manager
dapat digunakan sebagai alat pemasaran yang utama dalam marketing mix.

27
BAB IV

PENUTUP
4.1. Kesimpulan dan Saran

Aktiva tidak berwujud merupakan aktiva tak lancar (noncurrent asset) dan tak
berbentuk (hak sewa, organization cost, permit & license, hak paten, trademark,
copyright, franchise, goodwill, hak cipta, dsb) yang memberikan hak
keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam laporan keuangan tidak
dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain. Oleh karena itu, dalam
melakukan pemeriksaan, diperlukan prosedur-prosedur yang kempleks.

Inti dari pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa apakah penyajian aktiva
tak berwujud dalam laporan keuangan dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia.

Perlakuan akuntansi untuk aktiva tak berwujud seringkali masih menimbulkan


kesulitan dalam teori akuntansi. Kesulitan ini meliputi pemberian definisi aktiva
tak berwujud, dan yang paling utama adalah adanya ketidakpastian mengenai
pengukuran nilai dan masa manfaat dari aset tersebut. Ciri yang melekat pada
aktiva tak berwujud ini justru menyebabkan perdebatan yang tidak kunjung usai

28
tentang bagaimana seharusnya pengakuan, pencatatan, serta pengukuran terhadap
aktiva tak berwujud dilakukan.

Dalam rangka menciptakan suatu standar yang dapat diterima, badan


penetapan standar harus hati-hati menyeimbangkan pertimbangan mengenai
relevance dan reliability, dan juga informativeness of financialstatements. Pada
kenyataannya badan penetapan standar enggan untuk mengakui hal-hal yang
berkaitan dengan aktiva tak berwujud sebagai aktiva, terutama bagi beberapa
aktiva yang ditimbulkan dari aktivitas seperti penelitian dan pengembangan. Hal
ini disebabkan karena pengakuan semacam itu akan mengakibatkan inkonsistensi
dalam kriteria pengakuan aktiva dan memberikan kemungkinan lebih besar
kepada pihak manajemen untuk memberikan informasi yang salah melalui
pengakuan aktiva yang meragukan atau bahkan tidak ada.

Kontroversi yang masih banyak diperdebatkan adalah apakah merek


dagang perlu ditampilkan dalam neraca perusahaan. Bagi para praktisi pemasaran,
merek dagang semakin mutlak diperlukan. Apalagi bila persaingan semakin ketat,
maka pendekatan merek dagang sebagai bagian dari produk tidak relevan lagi.
Tidak dapat dielakkan lagi bahwa beberapa pengukuran dan disclosure harus
dipertimbangkan dalam era global marketing untuk mengukur nilai merek dagang.
Akuntansi untuk merek dagang bahkan telah menjadi bahan studi bagi pasar yang
berkembang secara global, seperti Inggris, Australia, dan Kanada. Oleh karena itu,
profesi akuntan harus berani menerima tantangan baru, yaitu melakukan
brainstorming mengenai ide-ide tentang akuntansi merek dagang dalam tahun-
tahun mendatang.

Jadi, dengan perkembangan pesat yang terjadi yang berhubungan dengan


aktiva tak berwujud, maka standar akuntansi untuk aktiva tak berwujud yang
semakin berkembang dengan segala pro dan kontranya hendaknya dapat menjadi

29
panduan untuk seluruh pihak yang terkait dengan keberadaan aktiva tak berwujud
ini.

Terutama untuk di Indonesia, profesi akuntan harus waspada terhadap


dampak PSAK 19, perkembangan aktiva tak berwujud harus senantiasa
diantisipasi meliputi perlakuan akuntansi atas biaya software (yang kemungkinan
sebagian besar nanti tidak dapat dikapitalisasi), biaya-biaya perintisan (biaya
pendirian, pra-operasi), biaya periklanan, dan biaya pelatihan yang berdasarkan
PSAK ini tidak bisa dikapitalisasi

30
DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/190614977/Pemeriksaan-Aset-Tak-Berwujud

http://biecantik.blogspot.com/2012/06/aktiva-tidak-berwujud.html

http://fe.umy.ac.id/learning/file.php/114/Audit2-08-ATB.pdf 3.

http://b_sundari.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/33683/BAB_13+Pemeriksaan
_AktivaTakBerwujud.ppt

http://ethasyahbania.blogspot.com/2011/11/psak-no19-aset-tidak-berwujud.html

http://www.scribd.com/doc/83772931/Pemeriksaan-Aktiva-Tak-Berwujud

31