Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN DEMAM TYPOID

1. Definisi
Deman Typhoid adalah penyakit akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan segala
deman, gangguaan pada saluran pencernaan.(Mansjoer, 2002,; 432) Typhoid adalah penyakit infeksi
sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan
minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman
salmonella. ( Bruner and Sudart, 2001 ). Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang
disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang
sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. (www.sehat-
jasmanidanrohani.blogspot.com) Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut,
Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C
yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

2. Etiologi
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier
adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam
tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

3. Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu
a. Food(makanan),
b. Fingers(jari tangan/kuku),
c. Fomitus (muntah), Fly(lalat),
d. melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang
lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan
yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan
kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk
ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian
kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan
mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke
aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian
melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk
limpa, usus halus dan kandung empedu. Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid
disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa
endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada
patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan
karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh
leukosit pada jaringan yang meradang.
4. Manifestasi Klinis

Masa tunas typhoid 10 -14 hari

a) Minggu I Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan
keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi
/ diare, perasaan tidak enak di perut. b.

b.) Minggu II Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas
(putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran

5. Kompikasi

1. Komplikasi intestinal

a. Perdarahan usus

b. Perporasi usus

c. Ilius paralitik

2. Komplikasi extra intestinal

3. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,


tromboplebitis.

4. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.

5. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.

6. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu :

hepatitis, kolesistitis.

7. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.

Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.

8. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma


Guillain bare dan sidroma katatonia
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :

a. Pemeriksaan leukosit Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat
leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai.
Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada
batas- batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau
infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa
demam typhoid.
.

b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat
tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

c. Biakan darah Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan
darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil
biakan darah tergantung dari beberapa faktor

d. Teknik pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan


laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang
digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.

e. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit. Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama
positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu
kambuh biakan darah dapat positif kembali.

f. Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan
darah negatif.

g. Pengobatan dengan obat anti mikroba. Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan
obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin
negatif.

h. Uji Widal Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid
juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal
adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di
7. PENATALAKSANAAN

Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan
diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai
berikut :

1. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta.


2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah,
anoreksia, dan lain-lain.
3. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat
total), kemudian boleh duduk ; jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di
ruangan.
4. Diet. Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan
makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak
menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan
makanan cair, melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik dapat
juga diberikan makanan lunak.
5. Obat pilihan ialah kloramfenikol, kecuali jika pasien tidak cocok dapat diberikan obat
lainnya seperti kortikoksazol. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100
mg/kg BB/hari (maksimum 2 gram per hari), diberikan 4 kali sehari per oral atau
intavena. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi tersebut mempersingkat waktu
perawatan dan mencegah relaps. Efek negatifnya adalah mungkin pembentukan zat anti
kurang karena basil terlalu cepat dimusnahkan.
6. Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitny

8.DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL

1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi).


2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dari intake yang tidak
adekuat.
3. Resiko cedera berhubungan dengan gangguan kesadaran.
4. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E. 2009. Patofisiologi. Jakarta: EGC

Departemen Kesehatan RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008. Depkes RI, Jakarta

Mansjoer, Arif. 2009. Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius.

Nainggolan, R. 2011. Karakteristik Penderita Demam Tifoid. Medan: Fakultas Kesehatan


Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Nanda, 2011, Diagnosis Keperawatan, Jakarta : EGC

Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk paramedic. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Umum

Ramadhan, 2011, Asuhan Keperawatan Demam Thypoid,


http://dhanwaode.wordpress.com/2011/02/01/askep-hemoroid/, di akses pada
tanggal 8 oktober 2012

Ramali, A. 2005. Kamus Kedokteran. Jakarta: Djambatan.

Simanjuntak, C. H, 2009. Demam Tifoid, Epidemiologi dan Perkembangan Penelitian. Cermin


Dunia Kedokteran No. 83.

Smeltzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC

Soegijianto, S. 2002. Ilmu Penyakit Anak. Jakarta: Salemba Medika

Soeparman. (2007). Ilmu Penyakit Dalam Edisi I, Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka FKUI

Sudoyo, A.W., & B. Setiyohadi. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III edisi IV. Jakarta:
Penerbit FK-UI.

Syair, H. 2010. Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia. http://mutiarasyair-


syairklasik.blogspot.com/2010_10_01_archive.html. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2012

WHO. 2009. Thypoid Fever. http://www.WHO.int. diakses pada tanggal 8 Oktober 2012

Widodo, D. 2007. Buku Ajar Keperawatan Dalam. Jakarta: FKUI