Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perusahaan yang menjalankan aktivitasnya baik perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa
maupun barang mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh keuntungan. Selain itu
perusahaan juga ingin memberikan kepuasan atas produk yang dihasilkannya, karena kepuasan
konsumen menjadi tolak ukur dari keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produk yang
berkualitas, dan yang diinginkan oleh konsumen.
Pemasaran merupakan salah satu ilmu ekonomi yang telah berkembang, dan sampai pada saat
sekarang ini pemasaran sangat mempengaruhi keberhasilan suatu perusahaan untuk bisa bertahan
di dalam pangsa pasar. Oleh karena itu diperlukan strategi pemasaran yang dapat memberikan
pengaruh untuk menentukan berhasil atau tidaknya dalam memasarkan produknya. Apabila strategi
pemasaran yang dilakukan perusahaan tersebut mampu memasarkan produknya dengan baik, hal
ini akan berpengaruh terhadap tujuan perusahaan.

1.2 Tujuan Pembahasan Masalah


a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep pemasaran
b. Untuk mengetahui konsep dalam pemasaran
c. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan konsep pemasaran
d. Untuk mengetahui alasan perusahaan menggunakan konsep pemasaran

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP PEMASARAN SOSIAL


Kotler dan Roberto (1989) mengatakan bahwa pemasaran sosial adalah strategi untuk mengubah
kebiasaan. Pemasaran sosial mengkombinasikan elemen terbaik dari pendekatan tradisional
kedalam perubahan sosial dalam sebuah perencanaan dan aksi pola pikir serta menggunakan
kemampuan komunikasi teknolgi dan skill pemasaran . Pemasaran sosial memiliki tujuan mengubah
kebiasaan dari konsumen. Konsumen yang dimaksudkan adalah masyarakat secara umum.
Pemasaran social mencoba untuk mengubah kebiasaan yang tidak positif menjadi positif. Oleh
karena itu keberhasilan dari sebuah pemasaran sosial terlihat apabila telah berubahnya pola
kebiasaan dari masyarakat yang tidak positif menjadi positif. Menurut Andreasen (2002) pemasaran
sosial menghadapi hambatan yang sangat besar yakni tidak diketahuinya lingkungan dan model
untuk memberikan perubahan sosial. Oleh karena itu dalam pemasaran sosial banyak faktor yang
akan mempengaruhi perubahan perilakunya. Dalam memasarkan ide dan kebiasaan, konsumen
mendapatkan pengetahuan dimana hal tersebut nantinya akan mengubah kebiasaan yang tidak
positif dari konsumen. Pemasar membangun pengetahuan dalam diri konsumen sehingga
konsumen tergerak untuk berubah untuk tidak memiliki kebiasaan yang tidak positif.
Menurut Kotler dan Roberto (1989) pemasaran sosial memiliki tiga unsur yakni ide atau praktek
sosial, satu atau lebih target adopsi dan manajemen teknologi perubahan social.
Kotler dan Roberto (1989) juga mengatakan bahwa ide dan kebiasaan adalah produk yang akan
dipasarkan. Produk didefinisikan sebagai segala sesuatu yang ditawarkan dan dapat memuaskan
kebutuhan atau keinginan. Produk bisa berupa barang, jasa, orang, tempat, organisasi, ide. Adapun
defenisi dari produk-produk sosial adalah produk yang akan dipasarkan kepada masyarakat untuk
mengubah sikap dan perilaku masyarakat tersebut.Membuat sebuah produk di pemasaran sosial
lebih sulit dibandingkan dengan komersial, oleh karena:
a) Inflexibility. Pemasar komersial lebih mudah mendesain ulang produknya dibandingkan
pemasar sosial. Mereka bisa dengan mudah merubah warna, bentuk, desain, atau fitur yang lain.
Pemasar sosial lebih sulit dalam merubah produknya.
b) Intangibility. Produk di pemasaran komersial bentuknya lebih jelas dan mudah diamati. Produk
di pemasaran sosial lebih sulit diamati keluarannya (output) karena sering memberikan pemahaman
di dalam kesadaran manusia.
c) Complexity. Produk sosial lebih kompleks dibandingan produk komersial oleh karena produk
komersial dapat fokus pada satu manfaat. Produk sosial mempunyai manfaat lebih banyak, tetapi
tidak nampak jelas dan harus tetap dijelaskan efek negatifnya pada masyarakat.
d) Controversial. Produk sosial sering kontradiksi dengan nilai atau norma yang ada di
masyarakat.
e) Weak personal benefit. Pada produk sosial, manfaat yang didapatkan seringkali untuk
masyarakat, dan jarang untuk pribadi.
f) Negative frame. Produk sosial, terutama yang merubah perilaku, sering terdengar negatif dan
tidak nyaman dilakukan.
Untuk membedakan sebuah produk dengan produk dari kompetitor lain, dibutuhkan sebuah nama,
simbol, terminologi, desain, atau kombinasi dari itu semua yang disebut brand. Simbol ini haruslah
mudah diingat, mudah dikenali, mudah diucapkan, unik, dan memberikan manfaat. Branding ini tidak
sekedar memberikan nama sebuah produk, tapi juga membangun semua atribut yang melekat di
seluruh elemen bauran pemasaran.
Ide dan perilaku merupakan produk yang jual pada pemasaran sosial. Menurut kotler dan Roberto
(1989) produk sosial marketing terbagi atas 3 yaitu ide, praktek dan objek berwujud.
1. Ide sosial adalah sebuah gagasan yang muncul karena adanya permasalahan sosial yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat. Produk yang berbentuk ide akan membentuk tiga hal yakni
kepercayaan (belief), sikap (attitude) dan nilai (value).
a. Kepercayaan (belief) adalah sebuah persepsi yang diambil sekitar hal-hal faktual, suatu hal
yang tidak membutuhkan evaluasi secara kritis. Bentuk produk yang menghasilkan kepercayaan
adalah kampanye “merokok merusak kesehatan” dimana akan terbentuk kepercayaan masyarakat
tentang kesehatan. Untuk ide yang membentuk sikap dapat berupa kampanye program
perencanaan keluarga, dari hasil kampanye tersebut dapat menghasilkan sebuah sikap dari
keluarga yang merencanakan kehidupan keluargannya. Sedangkan untuk yang membentuk nilai
dapat berupa kampanye hak asasi manusia dimana nilai kemanusiaan diangkat sehingga terbentuk
sebuah opini yang menyatakan tentang kebenaran. Nilai merupakan keseluruhan ide yang
menyatakan benar atau salah.
b. Sikap (attitude) adalah evaluasi positif atau negatif terhadap orang, objek, ide atau peristiwa.
Misalnya, iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh PLN. Dalam iklan tersebut masyarakat
dianjurkan untuk mematikan lampu pada pukul 17.00-22.00. Iklan tersebut menghimbau masyarakat
untuk menentukan sikap dalam rangka penghematan Bahan Bakar Minyak.
c. Nilai (value) adalah keseluruhan ide mengenai suatu hal yang baik atau salah. Masalah nilai
biasanya menyangkut masalah hak asasi manusia. Misalnya, konflik ras yang terjadi di Amerika.
Ras kulit hitam dipandang lebih rendah dari ras kulit putih. Oleh karena itu, dibuatlah kampanye anti
rasialisme dimana semua ras dipandang sama tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Selain itu,
banyak artis-artis mancanegara menuangkan ide anti rasialisme di dalam lirik lagunya untuk
mengubah nilai-nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat.

2. Praktek Sosial atau pelatihan sosial pada dasarnya bukanlah produk sosial, melainkan cara
untuk mempromosikan ide sosial.
a) Act atau aksi adalah tindakan yang dilakukan untuk menyampaikan kampanye sosial tersebut
kepada publik.
b) Single Act atau aksi perorangan adalah tindakan yang dilakukan individu secara
perseorangan. Misalnya, dalam sosialisasi Pemilihan Umum diharapkan keikutsertaan individu untuk
memberikan hak pilihnya kepada salah satu kandidat calon legislatif dan calon presiden. Hal ini
tentu dapat mengajak orang lain untuk ikut memberikan suara pada pemilu.
c) Sustain Act cenderung kepada tindakan tambahan untuk menyokong suatu kampanye sosial
yang dilakukan terus menerus atau berkelanjutan. Misalnya, seminar-seminar atau kampanye
mengenai pelaksanaan Keluarga Berencana terus digalakkan untuk menekan angka kelahiran bayi
di Indonesia.
d) Behavior;behavior mengacu pada perilkau seseorang atau masyarakat terhadap suatu
permasalahan sosial. Misalnya, tindakan orang yang memberhentikan dirinya dari merokok dan
tidak akan mengulangi perilakunya tersebut.

3. Objek berwujud (tangible object) adalah produk fisik yang menyertai kampanye sosial.
Tangible object ini merupakan alat yang dilibatkan untuk mencapai suatu tujuan perubahan sosial.
Jenis ini mengharapkan masyarakat dapat menggunakan produk tersebut sehingga terjadinya
keselamatan atau terhindar dari hal yang dapat merugikan baik langsung maupun tidak langsung
terhadap dirinya. Pada jenis ini dapat dicontohkan untuk penggunaan sabuk pengaman sebuah
produk berwujud yang seharusnya digunakan oleh masyarakat ketika sedang berkendaraan. Produk
publik merupakan produk bersama dimana dalam pemenuhan konsumsinya tidak dapat dilakukan
oleh pribadi masyarakat saja sehingga produk ini dikelola oleh pemerintah.
Dalam pemasaran sosial produk yang dijual (dipasarkan) adalah produk sosial atau produk yang
secara sosial bermanfaat, yakni :’prilaku baru’. Produk sosial berbeda dengan produk komersial
dalam.arti.:
1. produk sosial lebih rumit penggunaannya dibanding dengan produk komersial
2. produk sosial sering lebih kontraversial
3. keuntungan produk sosial tidak cepat dirasakan
4. saluran distribusi produk sosial lebih sukar digunakan dan di kontrol
5. pasar produk sosial sukar dianalisis
6. ukuran keberhasilan “penjualan” atau adopsi produk sosial lebih berat dari produk komersial
Dalam social marketing (pemasaran sosial) yang dimaksud dengan produk adalah sesuatu yang
ditawarkan untuk dibeli, yang berbentuk perilaku yang diharapkan dan manfaat perilaku tersebut.
Hal yang ditawarkan tersebut bisa termasuk juga sebuah barang dan layanan untuk mendukung
perubahan perilaku dari sasaran. Dalam pemasaran komersial hal tersebut sering dikatakan sebagai
paket manfaat yang ditawarkan. Pada pasar untuk.memenuhi.kebutuhan.pasar.
Berikut.adalah.contohnya.adalah.program.Keluarga.Berencana:
Perilaku yang diharapkan : mengatur jarak kelahiran dan membatasi maksimal 2 anak.
Manfaat terkait : memberi waktu yang cukup bagi pasangan usia subur untuk memberikan perhatian
pada anak pertama, meningkatkan kualitas pendidikan dan
kesehatan.bagi.anggota.keluarga.dan.kehidupan.anak.
Barang.:.alat-alat.kontrasepsi
Layanan : bantuan pemasangan alat kontrasepsi di klinik oleh dokter dan tenaga paramedis,
pemeriksaan berkala bagi akseptor KB, layanan informasi oleh Petugas Lapangan.KB.

Dalam teori pemasaran terdiri dari tiga unsur atau terbagi atas 3 tingkatan produk yaitu inti core
product, actual product dan augmented product.
a. Core product adalah inti sebuah produk, yang membuat konsumen membeli produk ini atau
manfaat yang akan mereka dapatkan apabila membeli produk tersebut. Dengan kata lain produk ini
akan menyelesaikan masalah konsumen yang bisa berbentuk kebutuhan (need) atau keinginan
(want).
Core product bukanlah perilaku yang diharapkan atau barang (alat) yang menyertai maupun layanan
yang dipromosikan, tetapi manfaat yang akan dirasakan oleh orang yang mengaplikasikan perilaku
yang diharapkan itu. Sebagai contoh dalam kampanye “Olah Raga 2x Seminggu” yang menjadi core
product bukanlah perilaku berolah raga, atau alat-alat olah raga serta fasilitas olah raga, namun
badan menjadi sehat – nafas menjadi lancar – stamina selalu baik. Sehingga dengan kita
mengetahui core product dari sebuah kampanye sosial, akan mudah bagi kita untuk memberikan
informasi tentang perilaku apa yang diinginkan agar kelompok sasaran menjadi mudah memahami
pesan yang kita sampaikan. Seperti berbagai produk yang ditawarkan dalam pemasaran komersial,
mereka selalu memiliki core product yang jelas.
Sebagai contoh : semua produk kosmetik pada dasarnya adalah menjual harapan untuk tampil lebih
cantik. Produsen kosmetik tidak menjual peralatan tersebut saja namun menjual sesuatu yang lebih
mendasar, yaitu sebuah harapan. Sehingga tentu saja tidak hanya wanita cantik saja yang berhak
berharap untuk tampil lebih cantik. Semua wanita, apakah dia sudah cantik ataupun yang tidak,
selalu memiliki harapan untuk bisa tampil lebih cantik tiap hari. Kalaupun tidak memungkinkan untuk
lebih cantik tiap hari, setidaknya pada suatu acara tertentu.
b. Actual Product berada tepat diseputar core product, yaitu berupa perilaku tertentu yang kita
promosikan (misalnya : berolah raga 2x seminggu, berKB, tidak merokok dll). Perilaku tersebut
diperlukan agar seseorang bisa mendapatkan manfaat yang disebutkan dalam core product. Berikut
ini gambar anatomi produk tersebut.
c. Augmented product berupa barang atau layanan nyata yang dipromosikan bersama dengan
perilaku yang diharapkan. Barang atau layanan tersebut merupakan unsur pendukung bagi
kelompok sasaran agar mudah dalam melakukan perilaku yang diharapkan. Sehingga dengan
dukungan barang atau layanan tersebut sasaran menjadi terbantu untuk mulai melakukan perilaku
yang dipromosikan.
Sebagai contoh : pada program Keluarga Berencana, disediakan berbagai jenis alat kontrasepsi,
konsultasi dengan dokter dan paramedis, pelayanan pemasangan atau pelepasan alat kontrasepsi
jika secara medis diperlukan penggantian alat kontrasepsi apabila terjadi masalah dalam kesehatan
akseptor. Layanan yang disediakan seringkali berupa konsultasi dan pemberian informasi secara
pribadi untuk bisa memberikan peneguhan bagi kelompok sasaran yang sudah tertarik namun
membutuhkan informasi yang lebih detail. Augmented product sangat berguna untuk mengurangi
penolakan atau hambatan-hambatan yang menahan kelompok sasaran untuk mengadopsi perilaku
yang dipromosikan.
Disamping itu, augmented product mampu menjaga agar kelompok sasaran yang baru menerima
actual product untuk terus mempertahankannya untuk jangka waktu yang lama atau yang telah
ditentukan. Karena apabila terjadi pemutusan perilaku oleh kelompok sasaran yang terhitung baru
mengadopsi perilaku, maka ini akan meningkatkan hambatan psikologis pada kelompok sasaran
yang sudah berminat namun belum menerima actual product.
Merumuskan idea/gagasan/pesan/informasi yang akan disampaikan bukan hal yang mudah kalau
kita berorientasi pada kepentingan komunikan (audience oriented), maksud bukan sekedar sudah
disampaikan informasi itu, tetapi dampaknya kepada penerimam bagaimana. Tadi sudah uraikan
bahwa tingkat kecocokan produk dengan kebutuhan pasar sangat harus diperhatikan.
Dalam suatu proses pemasaran social, setelah dirumuskan konsep produk yang akan
disampaikan, tahap yang selanjutnya yang harus dilakukan adalah pengemasan produk (packing).
Ada tiga input aspek pemasaran produk social yang diperlukan.untuk.tujuan.ini,yaitu:
1) Meformulasikan konsep produk yang sesuai dengan pasar (target penerima) yang
dirumuskan dalam posisioning dari idea atau kebiasaan-kebiasaan yang akan ditanamkan.
2) Mengemas konsep produk untuk memperkuat posisioning yang telah dipilih.
3) Mengembangkan upaya untuk meningkatkan citra bahwa permasalahan yang diangkat
(‘dipasarkan’) memang konsisten dengan hakekat permasalahan yang ada.

Setelah membentuk posisioning (mengemas) maka produk siap ‘dipasarkan’ atau disampaikan
kepada audience. Tahap penyampaian ini erat kaitannya dengan fungsi produk yang dihasilkan.
Apakah obyek nyata, atau apakah ‘produk informasi’ itu untuk mengenalkan dan memelihara apa
yang diterima apa yang diterima memerlukan.pelayanan.pribadi.
Ada..4.macam.kemungkinan.situasi.penyampaian.produk.social,yaitu.sebagai.berikut:
1.
Penyampaian.mengenai.obyek.nyata.dan.memerlukan.presentasi.dan.demontrasi.pribadi(pertindakl
anjut.pelayanan.pribadi).
2. Penyampaian obyek nyata yang tidak memerlukan presentasi dan demontrasi pribadi.
3. Penyampaian yang bukan merupakan obyek tetapi dalam penyampaiannya memerlukan
presentasi dan demontrasi secara pribadi ( Misalnya, program kelompok belajar).
4. Penyampaian mengenai produk social yang bukan termasuk obyek nyata dan juga tidak
memerlukan presentasi dan demontrasi secara pribadi ( Misalnya, kmpanye mengenai.hak-
hak.azasi).

Berdasarkan penjelasan di atas produk-produk social marketing biasanya berkaitan dengan


masalah di bidang kesehatan (kekurangan gizi, penerapan keluarga berencana), bidang pendidikan
( pemberantasan buta huruf), bidang lingkungan (pencemaran lingkungan), keselamatan dan lain-
lain. Produk-produk tersebut akan dihadirkan di tengah-tengah masyarakat dengan menggunakan
teknik dan strategi pemasaran yang dapat mendorong terciptanya perubahan sosial. Namun,
mengubah perilaku dan pandangan masyarakat bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu
yang cukup lama. Oleh karena itu, konsep social marketing membutuhkan strategi kompleks dengan
melakukan berbagai penelitian lebih dahulu demi terciptanya perubahan perilaku masyarakat

B. PEMASARAN HIJAU
American Marketing Association (AMA) mendefinisikan pemasaran Hijau yaitu, "green marketing
adalah pemasaran produk yang dianggap menjadi lingkungan aman. Jadi green marketing
menggabungkan berbagai kegiatan, termasuk modifikasi produk, mengubah proses produksi,
kemasan perubahan, serta memodifikasi iklan. "Definisi * Menurut Lampe (2003),"green marketing
didefinisikan sebagai respon pemasaran untuk dampak lingkungan
dari desain, produksi, pengemasan, pelabelan, penggunaan dan pembuangan barang danjasa. Jadi
apa yang disebut pemasaran hijau mencakup banyak aspek sebelum produk itu ditawarkan kepada
konsumen sebagai produk hijau. Istilah lain yang sering dipersamakan dengan green marketing
adalah environmental marketing dan ecological marketing. Pemasaran hijau telah diterima secara
luas diantara beberapa perusahaan sebagai sebuah strategi bersaing yang pantas. Istilah ”green”
atau hijau sering dipertukarkan dengan kata ”pro-environmental” atau pro lingkungan. Banyak
perusahaan berkomitmen untuk melakukan pemasaran hijau dalam komunikasi pemasaran mereka.
Tujuannya adalah untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas pasar yang terus tumbuhdari
konsumen yang peduli lingkungan.
Kata yang sangat penting dari konsep pemasaran hijau adalah kata hijau.Dalam pemahaman
banyak orang sekarang ini kata hijau berarti ”menjaga lingkungan hidup”. Dalam kaitannya dengan
kata hijau maka Grant (2007:12) membuat sebuah kategori mengenai seberapa hijau aktivitas yang
dilakukan oleh perusahaan perusahan yaitu:
1. Hijau - menetapkan standar baru - berkomunikasi : memiliki tujuan komersial saja ( di mana
produk, merek atau perusahaan lebih hijau daripada alternatif , tetapi pemasaran adalah lurus ke
depan tentang bagaimana mengembangkan perbedaan ini .
2. Greener - Tanggung jawab berbagi - berkolaborasi : memiliki tujuan hijau juga sebagai tujuan
komersial ( pemasaran sendiri mencapai tujuan hijau, Misalnya mengubah cara orang
menggunakan produk
3. Inovasi Greeenest -mendukung - budaya membentuk kembali : memiliki tujuan budaya serta (
membuat cara-cara hidup yang baru dan model bisnis baru normal dan diterima ) .
Pemasaran Hijau Dalam, prakteknya mencakup AKTIVITAS Yang Ulasan Sangat Luas sepertin
dikemukakan Oleh Oyewole ( 2001:340 ) , yaitu :
1. menggunakan kemasan dan bahan baku yang dapat didaur ulang , digunakan kembali ,
photodegradable dan / atau biodegradable .
2. proses produksi bebas polusi
3. bahan baku aerosol bebas
4. pertanian bebas pestisida
5. metode anti kimia pengawetan makanan
6. kemasan kurang besar yang menggunakan kurang dari bahan baku
7. alami , seperti terhadap pupuk sintetik

Pujari (2003:1) mengatakan bahwa pemasaran hijau yang dilakukan oleh perusahaan memiliki
dampak positif bagi perusahaan, antara lain : meningkatnya penjualan, memperbaiki umpan balik
dari pelanggan, lebih dekat kepada pelanggan, mempertinggi kemampuan bersaing, memperbaiki
citra perusahaan. Dalam pemasaran hijau meskipun produsen lebih banyak berperan dalam hal
mewujudkan produk hijau namun itu semua dapat sia-sia apabila tidak didukung oleh masyarakat
luas. Seringkali konsekuensi dari produk hijau adalah harga yang relatif lebih mahal sehingga
konsumen enggan membelinya. Misalnya, produsen mobil Toyota dan Honda sudah memproduksi
mobil hibrid yang ramah lingkungan dan sudah dipasarkan kepada konsumen. Biaya riset yang
menghabiskan milyaran dolar mau tidak mau membuat harga jual mobil hibrid menjadi mahal
sehingga mobil hibrid tidak laku di pasaran. Pertanyaan yang sering muncul dari produsen apakah
perusahaan dapat memperoleh untung dari pemasaran hijau? Produsen bola lampu Philips mampu
membuktikan bahwa produk lampu mereka yang hemat energi sukses di pasaran meskipun
harganya cukup mahal. Hal itu bisa terjadi karena konsumen memang mencari lampu yang lebih
hemat utuk mengurangi biaya tagihan listrik dan juga daya listrik yang terbatas di rumah mereka.

C. PEMASARAN
Pemasaran adalah salah satu kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mempertahankan kelangsungan perusahaannya, untuk berkembang, dan untuk mendapatkan laba.
Proses pemasaran itu dimulai jauh sejak sebelum barang-barang diproduksi, dan tidak berakhir
dengan penjualan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus juga memberikan kepuasan kepada
konsumen jika menginginkan usahanya berjalan terus, atau konsumen mempunyai pandangan yang
lebih baik terhadap perusahaan atau dapat di simpulkan bahwa pemasaran adalah adalah proses
penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau
jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
Fungsi-Fungsi Pemasaran
1. Fungsi Pertukaran
Dengan pemasaran pembeli dapat membeli produk dari produsen baik dengan menukar uang
dengan produk maupun pertukaran produk dengan produk (barter) untuk dipakai sendiri atau untuk
dijual kembali.
2. Fungsi Distribusi Fisik
Distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan cara mengangkut serta menyimpan produk. Produk
diangkut dari produsen mendekati kebutuhan konsumen dengan banyak cara baik melalui air, darat,
udara, dsb. Penyimpanan produk mengedepankan menjaga pasokan produk agar tidak kekurangan
saat dibutuhkan.
3. Fungsi Perantara
Untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen dapat dilakukan pelalui
perantara pemasaran yang menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distribusi fisik. Aktivitas
fungsi perantara antara lain seperti pengurangan resiko, pembiayaan, pencarian informasi serta
standarisasi / penggolongan produk.

Implementasi syariah pada bidang ini dapat berupa penetapan segmentasi pasar, targeting dan
positioning, juga termasuk promosi. Dalam dunia pendidikan, mislanya, segmen yang dibidik adalah
SDM muslim. Target yang ingin dicapai adalah output didik (SDM) yang profesional. Sedangkan
posisi yang ditetapkan adalah lembaga yang memiliki unique position sebagai lembaga pendidikan
manajemen syariah. Dalam promosi tidak melakukan kebohongan, penipuan ataupun penggunaan
wanita tanpa menutup aurat sempurna.

D. MANAJEMEN PEMASARAN SYARIAH


Menurut prinsip syariah, kegiatan pemasaran harus dilandasi semangat beribadah kepada
Tuhan Sang Maha Pencipta, berusaha semaksimal mungkin untuk kesejahteraan bersama, bukan
untuk kepentingan golongan apalagi kepentingan sendiri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan pada umatnya untuk berdagang
dengan menjunjung tinggi etika keislaman. Dalam beraktivitas ekonomi, umat Islam dilarang
melakukan tindakan bathil. Namun harus melakukan kegiatan ekonomi yang dilakukan saling ridho,
sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang
berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisaa: 29)
Pemasaran menurut perspektif syari’ah adalah segala aktifitas yang dijalankan dalam kegiatan
bisnis berbentuk kegiatan penciptaan nilai (value creating activities) yang memungkinkan siapapun
yang melakukannya bertumbuh serta mendayagunakan kemanfaatannya yang dilandasi atas
kejujuran, keadilan, keterbukaan, dan keikhlasan sesuai dengan proses yang berprinsip pada akad
bermuamalah islami atau perjanjian transaksi bisnis dalam islam. Pemasaran berhubungan dan
berkaitan dengan suatu proses mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan
masyarakat. Salah satu dari definisi pemasaran yang terpendek ialah “memenuhi kebutuhan secara
menguntungkan”. Asosiasi pemasaran amerika memberikan definisi formal yaitu “pemasaran adalah
satu fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan
menyerahkan nilai kepada pelanggan dan mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang
menguntungkan organisasi dan para pemilik sahamnya”. Kotler memberikan definisi bahwa
“manajemen pemasaran sebagai suatu seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan,
menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menyerahkan dan
mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul”. Pemasaran dalam fiqih islam disebut wakalah
atau perwakilan. Wakalah atau wikalah yang berarti penyerahan, pendelegasian, atau memberikan
mandat. Wakalah dapat juga didefinisikan sebagai penyerahan dari seseorang (pihak
pertama/pemberi perwakilan) apa yang boleh dilakukan sendiri dan dapat diwakilkannya kepada
yang lain (pihak kedua) untuk melakukannya semasa ia (pihak pertama) masih hidup. Sehingga
pemasaran secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses social yang merancang dan
menawarkan sesuatu yang menjadi kebutuhan dan keinginan dari pelanggan dalam rangka
memberikan kepuasan yang optimal kepada pelanggan.

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip. Manajemen pemasaran (terjemahan Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli AK) Edisi
Revisi. Jakarta : PT. Ikrar Mandiriabadi. 1997

Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran. Jakarta : Pt Indeks Kelompok Gramedia. 2005

www.google.com / Stanton, William J, Prinsip Pemasaran. (terjemahan Yohanes Lamarto). Jakarta :


Erlangga. 1997

Dharmmesta, B.S. & Handoko, H.(1982), Manajemen Pemasaran: Analisis Perilaku Konsumen.
Yogyakarta: PBFE Universitas Gadjah Mada.