Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PENELITIAN

EVALUASI
PROGRAM KAMPUNG KELUARGA BERENCANA DI KOTA TANJUNGPINANG

Kerjasama antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Perwakilan


Provinsi Kepulauan Riau dengan Pusat Studi Kajian Kependudukan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Raja Haji
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................................1
1. Latar Belakang ............................................................................................................................1
2. Rumusan Masalah ......................................................................................................................4
3. Tujuan Penelitian ........................................................................................................................4
4. Manfaat Penelitian .....................................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................................6
1. Konsep Evaluasi Program ............................................................................................................6
2. Indikator Keberhasilan Program Kampung KB ............................................................................ 10
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................................................................. 112
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ............................................................................. 155
1. Gambaran Umum Kecamatan Bukit Bestari ............................................................................. 155
2. Gambaran Umum Kecamatan Tanjungpinang Timur ................................................................ 177
3. Gambaran Umum Kecamatan Tanjungpinang Kota .................................................................... 18
4. Gambaran Umum Kecamatan Tanjungpinang Barat ................................................................... 19
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................................................... 222
1. Identitas Responden ................................................................................................................. 22
2. Kampung Keluarga Berencana ................................................................................................... 24
3. Keberhasilan Input.................................................................................................................... 30
4. Keberhasilan Proses .................................................................................................................. 36
5. Keberhasilan Output ................................................................................................................. 47
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................................................... 56
1. Kesimpulan............................................................................................................................... 56
2. Saran ........................................................................................................................................ 59
REFERENSI ....................................................................................................................................... 60
RINGKASAN EKSEKUTIF

Kegiatan yang dilakukan oleh Program Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB) tidak hanya
identik dengan penggunaan dan pemasangan alat kontrasepsi, akan tetapi program tersebut
merupakan sebuah program pembangunan terpadu dan terintegrasi dengan berbagai program
pembangunan lainnya. Namun, pengetahuan dan pemahaman masyarakat Kampung KB tentang
Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang, misalnya, adalah beragam namun terbatas.
Program Kampung KB dipersepsikan sebagai program pengendalian jumlah anak serta identik
dengan alat kontrasepsi/alat KB, sedangkan aspek kependudukan, pembangunan keluarga,
maupun aspek lintas sektor Kampung KB diketahui dan dipahami namun dengan terbatas juga.

Masyarakat Kampung KB menerima pelayanan KB dan pelayanan kesehatan disamping mengikuti


kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Kampung KB seperti kegiatan advokasi dan komunikasi,
informasi, dan edukasi (KIE) serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dilaksanakan oleh kelompok-
kelompok kegiatan di Kampung KB. Disamping itu, kegiatan lintas sektor seperti pendataan dan
pembuatan akte kelahiran dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) berkerjasama dengan Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil (DISDUK CAPIL) Kota Tanjungpinang, menunjukkan adanya
kerjasama lintas sektoral yang terbangun walaupun terbatas pada aspek-aspek lintas sektoral
tertentu.

Salah satu tantangan Program Kampung KB adalah minimnya dukungan anggaran. Keengganan
masyarakat untuk menjadi kader Kampung KB dalam PPKBD/Sub-PPKBD atau terlibat dalam
POKJA Kampung KB, dapat diatribusikan pada minimnya insentif atau stimulan finansial yang
tersedia bagi para kader Kampung KB. Disamping itu, tantangan lainnya adalah dalam bentuk
sarana operasional seperti bangunan sekretariat Kampung KB yang walaupun tersedia masing-
masing Kampung KB, namun ketersediaannya terbatas. Terbatasnya sarana operasional terletak
pada bangunan kantor atau sekretariat Kampung KB yang menumpang pada bangunan lainnya
seperti POSYANDU, POLINDES, Balai Penyuluhan, atau bangunan lainnya.

Sebagai rekomendasi, Kampung KB di Kota Tanjungpinang dapat dikembangkan melalui


pendekatan kebudayaan, yaitu dengan mewujudkan Kampung KB Berbudaya dengan
membentuk kelompok-kelompok kegiatan sanggar kesenian seperti rebana, kompang, sanggar
tari, maupun sanggar kesenian lainnya yang memanfaatkan kearifal budaya lokal Kampung KB
setempat.

Disamping itu, pendekatan ekonomi kerakyatan dengan mewujudkan Kampung KB mandiri juga
dapat dilakukan dengan cara membina UPPKS Kampung KB dalam bentuk usaha, seperti: kuliner
khas Melayu, usaha anyaman tikar, kerajinan khas masing-masing Kampung KB atau kerajinan
khas Kota Tanjungpinang yang dapat dipasarkan untuk meningkatkan perekonomian keluarga
Kampung KB.

Saran yang terakhir adalah, Kampung KB diharapkan dapat bersinergi dan menjadi prioritas
Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau, BKKBN Provinsi Kepulauan Riau, BKKBN Perwakilan
Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Daerah Kota Tanjungpinang, serta pemangku kepentingan
lainnya. Dengan sinergitas dan prioritas, Kampung KB dapat aktif dan menjangkau masyarakat
lebih luas dengan dukungan pemerintah daerah dan swadaya masyarakat dalam rangka
pemberdayaan masyarakat.
BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) merupakan salah satu
Kementerian/Lembaga (K/L) yang diberi mandat untuk mewujudkan Agenda Prioritas
Pembangunan (Nawacita), terutama pada Agenda Prioritas nomor 5 (lima) yaitu meningkatkan
kualitas hidup manusia Indonesia melalui pembangunan kependudukan dan keluarga berencana
(RENSTRA BKKBN 2015-2019).

Untuk mendukung Agenda Prioritas Pembangunan tersebut, BKKBN telah menyusun sasaran
strategis yang tertera pada Rencana Strategis BKKBN Tahun 2015-2019. Sasaran strategis
tersebut adalah sebagai berikut: menurunnya Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dari 1.38% pada
tahun 2015 menjadi 1.21% pada tahun 2019; menurunnya Angka Kelahiran Total (TFR) per
Wanita Usia Subur (15-49 tahun) dari 2.37 pada tahun 2015 menjadi 2.28 pada tahun 2019;
meningkatnya pemakaian kontrasepsi (CPR) semua metode dari 65.2% pada tahun 2015 menjadi
66% pada tahun 2019; menurunnya kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) dari
10.60% pada tahun 2015 menjadi 9.91% pada tahun 2019; menurunnya Angka Kelahiran pada
remaja usia 15-19 tahun (ASFR 15-19 tahun) dari 46 per 100 kelahiran pada tahun 2015 menjadi
38 per 1000 kelahiran pada tahun 2019; serta menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan dari
Wanita Usia Subur (15-49 tahun) dari 7.1% pada tahun 2015 menjadi 6.6% pada tahun 2019.

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan


Pembangunan Keluarga kemudian mengamanatkan bahwa pembangunan nasional mencakup
semua dimensi dan aspek kehidupan termasuk perkembangan kependudukan dan Pembangunan
keluarga untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang dilaksanakan berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 19451. Namun, terdapat

1
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga.

1
dua isu utama yang perlu diperhatikan dalam integrasi penduduk dan pembangunan. Isu utama
tersebut adalah: pertama, penduduk tidak hanya diperlakukan sebagai obyek tetapi juga sebagai
subyek pembangunan; dan kedua, ketika penduduk memiliki peran sebagai subyek
pembangunan, maka diperlukan upaya pemberdayaan untuk menyadarkan hak penduduk dan
meningkatkan kapasitas penduduk dalam pembangunan (bkkbn.go.id).

Oleh sebab itu, maka, digagaslah Program Kampung Keluarga Berencana (Kampung KB). Melalui
Kampung KB, diharapkan pelaksanaan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan
Pembangunan Keluarga (KKPBK) dan program-program pembangunan lainnya dapat berjalan
secara terpadu dan bersamaan. Secara umum, tujuan dibentuknya Kampung KB adalah untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung atau yang setara melalui program
KKBPK serta pembangunan sektor terkait lainnya dalam rangka mewujudkan keluarga kecil
berkualitas. Sedangkan secara khusus, Kampung KB dibentuk untuk meningkatkan peran serta
pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan swasta dalam memfasilitasi, mendampingi, dan
membina masyarakat untuk menyelenggarakan program KKBPK dan pembangunan sektor terkait,
serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pembangunan berwawasan
kependudukan (bkkbn.go.id).

Kampung KB juga dirancang sebagai upaya membumikan, mengangkat kembali, serta


merevitalisasi program KKBPK guna mendekatkan akses pelayanan kepada keluarga dan
masyarakat dalam upaya mengaktualisasikan dan mengaplikasikan fungsi-fungsi keluarga secara
utuh dalam masyarakat. Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan di Kampung KB tidak hanya
identik dengan penggunaan dan pemasangan alat kontrasepsi, akan tetapi merupakan sebuah
program pembangunan terpadu dan terintegrasi dengan berbagai program pembangunan
lainnya (bkkbn.go.id).

Disamping itu, Kampung KB juga dapat menjadi wahana pemberdayaan masyarakat melalui
berbagai macam program yang mengarah pada upaya merubah sikap, prilaku, dan cara berpikir
(mindset) masyarakat kearah yang lebih baik, sehingga kampung yang tertinggal dan terbelakang
dapat sejajar dengan kampung-kampung lainnya, masyarakat yang tidak memiliki kegiatan dapat
bergabung dengan Kelompok Kegiatan (POKTAN) Kampung KB, dan keluarga yang tidak memiliki

2
usaha dapat bergabung menjadi anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera
(bkkbn.go.id).

Namun begitu, kajian dan literatur mengenai Kampung KB sebagai wahana pemberdayaan
masyarakat masih minim, begitu juga dengan kajian terhadap evaluasi program Kampung KB
tersebut. Namun, hal itu bukan berarti bahwa kehadiran Kampung KB tidak memiliki dampak
positif. Studi yang dilakukan oleh Mardiyono (2017) misalnya, menyimpulkan bahwa kehadiran
Kampung KB dapat: meningkatkan frekuensi dan kualitas kegiatan advokasi dan kegiatan
komunikasi, informasi, dan edukasi; meningkatkan pembentukan kelompok baru oleh Penyuluh
Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB); serta meningkatkan
peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Kehadiran Kampung KB juga diapresiasi
oleh masyarakat dimana masyarakat merasa bahwa Program Kampung KB memiliki kepentingan
yang besar dan memberikan manfaat kepada masyarakat (Setiawati, 2017).

Hanya saja, disamping dampak dan persepsi positif, Kampung KB juga memiliki kelemahan-
kelemahan dimana Kampung KB belum dapat memenuhi indikator-indikator keberhasilan
Program Kampung KB. Studi yang dilakukan oleh Zuhriah, Indarjo, & Raharjo (2017) misalnya,
mengungkapkan kelemahan Kampung KB, antara lain: jumlah kader belum maksimal karena
merangkap tugas lain; anggaran belum tersedia untuk kegiatan Kampung KB sedangkan anggaran
hanya tersedia untuk persiapan dan pembentukan Kampung KB; kegiatan tidak sesuai rencana
awal; kurangnya sosialisasi kepada kelompok sasaran sehingga tingkat partisipasi rendah; dan
tingkat kemandirian masyarakat rendah. Kelemahan-kelemahan tersebut, tentunya membuka
ruang evaluasi agar Program Kampung KB dapat berjalan dengan lebih baik kedepannya.

Salah satu daerah dimana Program Kampung KB diimplementasikan adalah di Kota


Tanjungpinang. Kampung KB adalah program yang diimplementasikan pada tahun 2016 dan
tahun 2017. Program Kampung KB diimplementasikan pada 5 kelurahan di 4 kecamatan,
tepatnya di: Kampung Dompak lama, Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari; Tanjung
Unggat, Kelurahan Tanjung Unggat, Kecamatan Bukit Bestari; Kampung Bulang Laut, Kelurahan
Kampung Bulang, Kecamatan Tanjungpinang Timur; Kampung Sei Ladi, Kelurahan Kampung Bugis,
Kecamatan Tanjungpinang Kota; dan Kampung Jawa, Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kecamatan

3
Tanjungpinang Barat (dinkes-tanjungpinang.info). Namun, sejauh ini, walaupun Program Kampung
KB sudah berjalan, studi dan literatur mengenai Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang
minim dilakukan sehingga capaian program tersebut belum diketahui. Oleh sebab itu, diperlukan
sebuah studi yang dapat memberikan gambaran serta melakukan evaluasi atas Program
Kampung KB di Kota Tanjungpinang.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka, dapat dirumuskan rumusan masalah penelitian
sebagai berikut:

a. Bagaimana pengetahuan masyarakat Kampung KB mengenai Program Kampung KB di


Kota Tanjungpinang?
b. Bagaimana keberhasilan input; keberhasilan proses; dan keberhasilan output Program
Kampung KB di Kota Tanjungpinang?
c. Apa hambatan Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Kampung KB mengenai Program


Kampung KB di Kota Tanjungpinang.
b. Untuk mengetahui keberhasilan input; keberhasilan proses; dan keberhasilan output
Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang.

c. Untuk mengidentifikasi hambatan Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang.

4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Kampung KB


mengenai Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang. Disamping itu, penelitian ini juga
mengukur keberhasilan input; keberhasilan proses; serta keberhasilan output Program Kampung
KB serta mencoba untuk mengidentifikasi hambatan Program Kampung KB di Kota
Tanjungpinang. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi BKKBN Perwakilan

4
Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Daerah Kota
Tanjungpinang, Kecamatan Bukit Bestari, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kecamatan
Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Barat serta Kelurahan Kampung Bulang,
Kelurahan Dompak, Kelurahan Kampung Bugis, Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kelurahan
Tanjung Unggat, dan stakeholder terkait lainnya dalam mensukseskan Program Kampung KB di
Kota Tanjungpinang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Evaluasi Program

Evaluasi merupakan sebuah tahapan dalam kebijakan. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu
kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan atau program (Subarsono, 2011). Selain
itu, evaluasi juga dapat diartikan sebagai sebuah pengawasan berupa pemantauan dengan

5
penilaian untuk tujuan pengendalian pelaksanaan agar pelaksanaan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan. Pengawasan tersebut sering kali dipahami sebagai on going evalution atau
disebut juga formative evaluation (Nugroho, 2017). Nugroho (2017) kemudian menjelaskan
bahwa evaluasi merupakan penilaian pencapaian kinerja dari implementasi. Evaluasi
dilaksanakan setelah kegiatan selesai dilaksanakan dengan dua pengertian “selesai”, yaitu
pertama: pengertian waktu (mencapai atau melewati “tenggat waktu”, dan kedua, pengertian
kerja (“pekerjaan tuntas”). Evaluasi dilaksanakan untuk melayani upaya pengambilan keputusan.
Tujuan evaluasi yang menyangkut penentuan nilai suatu program atau kegiatan adalah untuk
menyajikan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan agar dapat memilih di antara
berbagai alternatif kebijakan (Mutrofin, 2010). Tujuan evaluasi lainya sebagaimana dijelaskan
oleh Subarsono (2011) yaitu:

a. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan. melalui evaluasi maka dapat diketahui
derajat pencapaian tujuan dan sasaran suatu kebijakan atau program,
b. Mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan atau program. Dengan evaluasi juga dapat
diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu kebijakan atau program,
c. Mengukur tingkat luaran suatu kebijakan atau program. Salah satu tujuan evaluasi adalah
mengukur berapa besar dan kualitas pengeluaran atau output dari suatu kebijakan atau
program,
d. Mengukur dampak suatu kebijakan. pada tahap lebih lanjut, evaluasi ditujukan untuk
melihat dampak dari suatu kebijakan atau program, baik dampak positif maupun negatif,
e. Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan. Evaluasi juga bertujuan untuk mengetahui
adanya penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, dengan cara
membandingkan antara tujuan dan sasaran dengan pencapaian target,
f. Sebagai bahan masukan untuk kebijakan atau program yang akan datang. Tujuan akhir
dari evaluasi adalah untuk memberikan masukan bagi proses kebijakan ke depan agar
dihasilkan kebijakan yang lebih baik.

Menurut Sugiyono (2017) evaluasi terdiri dari dua jenis yaitu Evaluasi Formatif dan Evaluasi
Sumatif. Evaluasi Formatif menurut Sugiyono (2017) lebih menekankan untuk memperbaiki

6
objek yang diteliti, dengan cara menilai kualitas pelaksanaan program dan konteks organisasi
seperti personil, prosedur kerja, input dan sebagainya. Evaluasi formatif digunakan untuk
mendapatkan feedback dari satu aktivitas dalam bentuk proses, sehingga dapat digunakan untuk
meningkatkan kualitas program atau produk yang berupa barang atau jasa. Evaluasi formatif
lebih menekankan pada upaya untuk memperbaiki objek yang dievaluasi. Sementara Evaluasi
Sumatif menurut Sugiyono (2017) adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui hasil atau
outcome dari suatu program. Evaluasi dilakukan dengan cara mendekripsikan apa yang terjadi
sebagai akibat dari pelaksanaan program, mendeskripsikan seluruh dampak baik yang
ditargetkan maupun tidak, dan mengestimasikan biaya yang terkait dengan program yang telah
dilaksanakan.

Dalam penelitian ini, lebih dikedepankan evaluasi yang bersifat formatif, karena penelitian ini
ingin menganalisis kinerja dari sebuah program. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Sugiyono
(2017) bahwa ketika menilai kinerja sebuah program maka evaluasi tersebut dilakukan dalam
konteks process evaluation yaitu mengindentifikasi pencapaian program atau teknologi termasuk
prosedur alternatifnya atau dengan istilah lain Sugiyono (2017) menyebutnya sebagai evaluasi
proses. Konteks evaluasi proses adalah untuk menjawab pertanyaan seperti kapan program
dilaksanakan, bagaimana prosedur melaksanakan program, bagaimana kinerja orang-orang yang
terlibat dalam pelaksanaan program, apakah program yang direncanakan dapat dilaksanakan
sesuai jadwal, apakah semua input yang digunakan mendukung proses pelaksanaan program,
dan apakah ada kelemahan dalam pelaksanaan program.

Senada dengan itu, maka evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada saat program
masih berjalan. Model evaluasi ini dilakukan dengan tujuan agar hasil evaluasi dapat memberikan
perbaikan atau penyempurnaan program, sehingga kinerja program diharapkan akan membawa
perubahan ke arah yang lebih baik di tingkat masyarakat. Evaluasi formatif merupakan evaluasi
proses belajar dari pengalaman-pengalaman para pihak yang terlibat di dalam program (Sardjo,
Darmajanti, dan Boediono, 2017). Secara khusus berdasarkan penjelasan Sardjo, Darmajanti, dan
Boediono (2017), Dale mengatakan bahwa evaluasi formatif seringkali digunakan sebagai sebuah
“review”. Bagaimana proses sebuah program direncanakan dan diimplementasikan pada saat

7
program masih berlangsung, merupakan cakupan dari evaluasi formatif. Hasilnya bermanfaat
terutama bagi pengelola program dan atau pemangku kepentingan untuk memperbaiki proses
dalam menyusun rancangan dan implementasi program yang akhirnya bermuara pada
tercapainya tujuan program bagi kelompok sasaran. Oleh sebab itu, sejak awal persiapan evaluasi
pelibatan dalam proses perumusan permasalahan sampai pada pembuatan instrumen perlu dan
telah mengikutsertakan pengelola program (Sardjo, Darmajanti, dan Boediono, 2017).

Dalam evaluasi formatif, penilaian yang dilakukan adalah pada level program yaitu pada konteks
kinerja program. Maka berdasarkan pada penjelasan Dale (Sardjo, Darmajanti, dan Boediono,
2017), ada enam kategori analitik yang digunakan untuk menilai kinerja program yaitu:

a. Relevance (Keberkaitan)

Dalam konteks relevansi maka relevansi program bertujuan untuk mengevaluasi


kesesuaian program baik dari pengelola program secara internal dan kelompok sasaran
program maupun dari pemangku kepentingan yang secara tidak langsung atau pihak
eksternal terkait pelaksanaan program. Dalam konteks relevansi hal yang menjadi
pertimbangan adalah kesesuaian visi dan misi dari pemangku kepentingan harus
senantiasa sesuai. Sebagai contoh visi misi pengelola program harus memiliki kesamaan
visi dan misi dengan kelompok sasaran dan juga pemangku kepentingan lainnya.
Dampaknya jika semua pihak memiliki satu visi maka menjadi dasar utama terbentuknya
jaringan dan kesepakatan jaringan yang terlibat dalam pengelolaan progam. Bahkan pada
tahapan selanjutnya program ini akan menjadi suatu instrumen pemberdayaan yang
keberlanjutan bagi warga.

b. Effectiveness (Efektivitas)

Dalam dimensi ini yang dilihat adalah seberapa besar manfaat dari program terhadap
kelompok sasaran. Selain itu termasuk pemanfaatan dana yang dikelola untuk kebutuhan
tahapan kegiatan program, mulai dari evaluasi program yang akan berdampak pada
keikutsertaan masyarakat sebagai kelompok sasaran. Kemudian pada konteks sosialisasi
terhadap pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan program.

8
c. Impact (Dampak)

Dalam konteks dimensi ini, akan dilihat bagaimana dampak program terhadap kelompok
sasaran dan warga komunitas di luar kelompok. Dampak program dapat memiliki dampak
yang positif sebagai manfaat dan dapat memberikan dampak yang negatif sebagai akibat
dari pengelolaan program. Umumnya akan memperoleh informasi tentang pelaksanaan
program, sistem komunikasi, sosialisasi program, upaya pemberdayaan usaha ekonomi
sebagai dampak program. Program diharapkan dapat saling berhubungan sehingga
memberi dampak yang signifikan kepada masyarakat lokal di wilayah yang menjadi
sasaran dan juga berdampak untuk meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan
masyarakat yang lebih luas. Bahkan dampak baik secara langsung dan tidak langsung juga
mampu memberikan dampak di tingkat regional bahkan nasional.

d. Efficiency (Efisiensi)

Dimensi ini dalam evaluasi program secara formatif berupaya mengukur seberapa besar
manfaat program dikaitkan dengan sumberdaya yang telah dikeluarkan oleh program itu
sendiri baik sumberdaya keuangan (dana) maupun dukungan manusia dalam pengelolaan
program. Semua yang telah dialokasikan untuk program sebagai input harus sesuai
dengan hasil dari kegiatan program sebagai manfaat bagi kelompok sasaran maupun
warga komunitas lainnya yang lebih luas.

e. Suistainability (Keberlanjutan)

Keberlanjutan program pembangunan dievaluasi setelah tahap implementasi selesai


dilakukan, untuk mengevaluasi seberapa besar program dapat terus berlanjut.
Keberlanjutan program dapat dinilai baik oleh kelompok sasaran pada saat studi evaluasi
formatif dilakukan baik oleh kelompok sasaran, non kelompok sasaran, organisasi
pengelola, stakeholders utama maupu pihak luar selain pengelola. Umumnya
keberlanjutan dikaitan dengan pengelolaan program yang belum maksimal dan belum
mampu melaksanakan program pemberdayaan masyarakat, meskipun proses
pemberdayaan dapat dilakukan sejalan dengan kegiatan program lain.

9
f. Replicability (Replikabilitas)

Dalam dimensi ini akan melihat dalam konteks suatu rumusan generik bagi program yang
mempunyai sasaran dan tujuan yang sama. Sehingga dapat membantu merumuskan isu
replikabilitas dalam pembangunan sosial lainnya. Paling tidak hasil dari evaluasi formatif
terhadap program menghasilkan suatu model evaluasi formatif generik yang dapat
digunakan untuk program pembangunan sosial di seluruh Indonesia, nasional bahkan
internasional.

2. Indikator Keberhasilan Program Kampung KB

Indikator Keberhasilan Program Kampung KB adalah indikator untuk evaluasi Program Kampung
KB yang didasarkan pada Petunjuk Teknis Kampung KB Tahun 2015. Terdapat 3 indikator utama
keberhasilan Program Kampung KB, yaitu: Keberhasilan Input, Keberhasilan Proses, dan
Keberhasilan Output. Keberhasilan Input terdiri dari: jumlah PKB/PLKB proporsional (mencukupi);
tersedianya dukungan operasional (anggaran) untuk Program KKBPK; Tersedianya sarana
operasional (alat kontrasepsi, bangunan kantor, dan pendukung lainnya). Sedangkan
Keberhasilan Proses terdiri dari: frekuensi kegiatan advokasi dan komunikasi, informasi, dan
edukasi; kualitas kegiatan advokasi dan komunikasi, informasi, dan edukasi; kuantitas dan
kualitas pelayanan KB dan KR; Frekuensi pertemuan berkala kelompok kegiatan (BKB, BKL, BKR,
UPPKS, IMP, pertemuan staf, dan lokakarya mini); dan pelayanan Taman POSYANDU (PAUD,
Kesehatan/POSYANDU dan BKB). Sedangkan untuk Keberhasilan Output terdiri dari: RT/RW
memiliki Data dan Peta Keluarga yang bersumber dari Pendataan Keluarga; Peserta KB Aktif
(CU/PUS); Metode Kontrasepsi Jangka Panjang; pria ber-KB dari total peserta KB; unmet need;
partisipasi keluarga yang memiliki balita dalam BKB, remaja dalam BKR, lansia dalam BKL;
partisipasi remaja dalam PIK; rata-rata usia kawin pertama perempuan; serta kegiatan lainnya
yang ditentukan oleh kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota
(Petunjuk Teknis Program Kampung KB Tahun 2015).

10
BAB III

Metodologi

Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan
analisa deskriptif. Pendekatan yang digunakan berupaya menyajikan gambaran yang terperinci
mengenai Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang.

Lokasi penelitian adalah di Kota Tanjungpinang, tepatnya di: Kampung Dompak lama, Kelurahan
Dompak, Kecamatan Bukit Bestari; Tanjung Unggat, Kelurahan Tanjung Unggat, Kecamatan Bukit
Bestari; Kampung Bulang Laut, Kelurahan Kampung Bulang, Kecamatan Tanjungpinang Timur;
Kampung Sei Ladi, Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota; dan Kampung
Jawa, Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kecamatan Tanjungpinang Barat. Alasan pemilihan lokasi

11
tersebut adalah karena Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang terpusat di 5 kelurahan dan
4 kecamatan dimaksud.

Data primer pada penelitian ini bersumber dari pengumpulan data kuantitatif dan data kualitatif.
Data primer diperoleh dari aksi pengumpulan data terhadap Penyuluh Keluarga Berencana (PKB),
Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), tokoh masyarakat, masyarakat peserta KB,
masyarakat bukan peserta KB, pemerintah desa/kelurahan, pemerintah daerah atau pihak-pihak
lainnya yang memiliki informasi atau sebagai sumber rujukan informasi utama penelitian.
Sedangkan data sekunder merupakan data yang didapat dari pihak lainnya atau dari sumber
lainnya yang tersedia sebelum dan selama penelitian dilakukan. Data sekunder dapat berupa
literatur, jurnal, video, dokumen, atau dokumentasi dari sumber lainnya yang relevan dengan
penelitian.

Penelitian ini menggunakan dua metode pengumpulan data, yakni: wawancara dan kuesioner.
Metode wawancara dilakukan terhadap koordinator Penyuluh Keluarga Berencana, koordinator
Petugas Lapangan Keluarga Berencana, tokoh masyarakat, pemangku adat, pejabat pemerintah
desa/kelurahan, pejabat pemerintah daerah serta pihak-pihak terkait lainnya yang menjadi key
informant penelitian. Metode survey dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk menjaring
data dari responden penelitian. Responden penelitian adalah PKB, PLKB, tokoh masyarakat,
masyarakat peserta KB, masyarakat bukan peserta KB, perangkat pemerintah desa/kelurahan,
perangkat pemerintah daerah serta pihak-pihak terkait lainnya yang menjadi responden
penelitian.

Penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling (sampling kluster) yaitu metode penarikan
sampel berkelompok dimana setiap elemen di dalam kelompok dipilih atau ditetapkan sebagai
anggota sampel (Wibisono di dalam Sudaryono, 2017). Pertimbangan pengambilan teknik sampel
ini karena wilayah populasi yang cukup besar dengan berbasis wilayah kecamatan, sehingga
sampel yang dipilih merupakan klaster dalam bentuk kelompok Kampung KB di masing-masing
kecamatan. Pada masing-masing kecamatan, sampel kemudian diambil berdasarkan Kampung
KB yang berdiri di kecamatan tersebut, sehingga terpilih klaster di Kecamatan Bukit Bestari yaitu
Kampung KB Kelurahan Dompak dan Kampung KB Keluruhan Tanjung Unggat, kemudian klaster

12
di Kecamatan Tanjungpinang Barat yaitu pada Kampung KB Kelurahan Tanjungpinang Barat,
klaster Kecamatan Tanjungpinang Timur yaitu Kampung KB Kelurahan Kampung Bulang, klaster
Kecamatan Tanjungpinang Kota yaitu pada Kampung KB Kelurahan Tanjungpinang Kota.
Kampung KB dari klaster Kampung KB tersebut, diambil sampel sebanyak 15 orang anggota
klaster berdasarkan Kampung KB sehingga total anggota klaster di empat kecamatan sebanyak
75 orang. Teknik samping ini juga dapat disebut dengan area sampling yaitu teknik pengambilan
sampling berdasarkan suatu bagian tertentu dari sebuah kota, daerah atau wilayah tertentu dari
sebuah negara (Wibisono di dalam Sudaryono, 2017).

Dalam melakukan evaluasi terhadap Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang, penelitian ini
menggunakan Indikator Keberhasilan Program Kampung KB yang didasarkan pada dokumen
Petunjuk Teknis Kampung KB Tahun 2015. Terdapat 3 indikator utama: Keberhasilan Input,
Keberhasilan Proses, dan Keberhasilan Output. Masing-masing indikator utama akan dijabarkan
dan dioperasionalkan menjadi: 1) Pedoman Wawancara untuk pengumpulan data melalui
wawancara; dan 2) Daftar Pertanyaan Utama untuk pengumpulan data melalui kuesioner.
Pertanyaan pada kuesioner adalah gabungan dari pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.

Tabel 1. Indikator Keberhasilan Program Kampung KB

Indikator Keberhasilan

Indikator Utama Pernyataan

Keberhasilan Input Jumlah PKB/PLKB proporsional (mencukupi)

Tersedianya dukungan operasional (anggaran) untuk Program KKBPK

Tersedianya sarana operasional (alat kontrasepsi, bangunan kantor,


dan pendukung lainnya)

Keberhasilan Proses Frekuensi kegiatan advokasi dan komunikasi, informasi, dan edukasi

Kualitas kegiatan advokasi dan komunikasi, informasi, dan edukasi

Kuantitas pelayanan KB dan KR

13
Kualitas pelayanan KB dan KR

Frekuensi pertemuan berkala kelompok kegiatan (BKB, BKL, BKR, UPPKS,


IMP, pertemuan staf, dan lokakarya mini)

Pelayanan Taman POSYANDU (PAUD, Kesehatan/Posyandu dan BKB)

Keberhasilan Output RT/RW memiliki Data dan Peta Keluarga yang bersumber dari Pendataan
Keluarga

Peserta KB Aktif (CU/PUS)

Metode Kontrasepsi Jangka Panjang

Pria ber-KB dari total peserta KB

Unmet need

Partisipasi keluarga yang memiliki balita dlm BKB

Partisipasi keluarga yang memiliki remaja dlm BKR

Partisipasi keluarga yang memiliki lansia dlm BKL

Partisipasi remaja dalam PIK

(diadopsi dan disesuaikan dari Indikator Keberhasilan Program Kampung KB)

Data yang dijaring melalui metode-metode pengumpulan data kemudian akan dianilisa secara
kualitatif dengan cara: pertama, mereduksi data dimana data yang dikumpulkan dirangkum,
dipilah dan dikelompokkan dengan memfokuskan pada hal-hal penting dan relevan dengan
tujuan penelitian; kedua, penyajian data dimana data yang telah direduksi disajikan secara
kualitatif atau kuantitatif dalam bentuk uraian singkat, bagan hubungan, atau secara naratif; dan
ketiga, pengambilan kesimpulan, dimana data yang telah disajikan ditarik kesimpulannya dan
kemudian diverifikasi.

14
BAB IV
Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Kecamatan Bukit Bestari

Jumlah penduduk Kecamatan Bukit Bestari adalah sebanyak 60.571 jiwa yang terdiri dari 30.480
jiwa penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 30.091 jiwa penduduk berjenis kelamin perempuan.
Rasio jenis kelamin (sex ratio) Kecamatan Bukit Bestari sebesar 101 yang berarti diantara 100
penduduk berjenis kelamin perempuan terdapat 101 penduduk berjenis kelamin laki-laki. Jumlah
penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Sei Jang, yaitu 18.581 jiwa diantaranya penduduk
berjenis kelamin laki-laki adalah 9.517 jiwa dan berjenis kelamin perempuan adalah 9.064 jiwa.

15
Kelurahan dengan jumlah penduduk terbanyak kedua adalah Kelurahan Tanjung Unggat dengan
jumlah penduduk 14.983 jiwa, diikuti oleh Kelurahan Tanjung Ayun Sakti dengan jumlah
penduduk 13.417 jiwa, dan Kelurahan Tanjungpinang Timur dengan jumlah penduduk 11.149
jiwa. Sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit terdapat di Kelurahan Dompak, dengan
jumlah penduduk 2.441 jiwa. Kelurahan yang paling padat jumlah penduduknya terdapat pada
Kelurahan Tanjung Unggat, dengan jumlah penduduk 11.705 jiwa/km². Sedangkan kelurahan
yang paling jarang penduduknya adalah Kelurahan Dompak dengan kepadatan penduduk 65
jiwa/km² (BPS, 2018).

a. Gambaran Umum Kampung KB Kelurahan Dompak

Kelurahan Dompak memiliki luas 37.43 km²dan merupakan kelurahan terluas di Kecamatan Bukit
Bestari. Jumlah penduduk Kelurahan Dompak adalah 2.411 jiwa yang terbagi menjadi 1.279
penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 1.162 penduduk berjenis kelamin perempuan.
Kepadatan penduduk Kelurahan Dompak adalah 65 jiwa/km² dan merupakan kelurahan dengan
kepadatan penduduk yang paling rendah di Kecamatan Bukit Bestari (BPS, 2018).

Kampung KB Kelurahan Dompak terletak di Kampung Dompak Lama, tepatnya di RW III, RT 01,
02, dan 03 dengan luas wilayah 3 km2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) yang termasuk dalam wilayah
Kampung KB berjumlah: 76 KK di RT 01; 135 KK di RT 02; dan 85 KK di RT 03 dengan jumlah total
296 KK. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kampung KB Dompak Lama adalah: laki-
laki 611 jiwa dan perempuan 533 jiwa dengan total jumlah penduduk 1.144 jiwa.

Kampung KB Dompak Lama memiliki Kelompok Kegiatan (POKTAN) Bina Keluarga Balita (BKB)
Merpati Putih dengan 4 orang kader dan 35 orang anggota, serta UPPKS Tiara Indah dengan 11
orang anggota (produksi kue kering, kue basah, dan kerajinan tangan), sementara Rumah Dataku
sedang dibangun, dan Pusat Informasi dan Konseling (PIK)-Remaja jalur masyarakat sedang
dalam tahap perencanaan.

Kampung KB Dompak Lama telah mengadakan berbagai macam kegiatan sejak terbentuk, dan
diantaranya adalah: kegiatan pembinaan oleh PKB kepada anggota BKB dengan memberikan
penyuluhan tentang kekerasan seks pada anak usia dini, kegiatan penyuluhan kepada anggota

16
BKB Merpati Putih oleh PUSKESMAS Sei Jang tentang stunting, kegiatan pembinaan kepada
anggota UPPKS Tiara Indah dengan memberikan pelatihan pembuatan tas dan kerajinan tangan
patung, pelayanan KB gratis, pembentukan kelompok tani, serta kegiatan-kegiatan
pembangunan lainnya.

b. Gambaran Umum Kampung KB Kelurahan Tanjung Unggat

Kelurahan Tanjung Unggat memiliki luas 1.28 km² dan merupakan kelurahan dengan luas paling
kecil di Kecamatan Bukit Bestari. Jumlah penduduk Kelurahan Tanjung Unggat adalah 14.983 jiwa
yang terbagi menjadi 7.477 penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 7.506 penduduk berjenis
kelamin perempuan. Kepadatan penduduk Kelurahan Dompak adalah 11.705 jiwa/ km² dan
merupakan kelurahan dengan kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Bukit Bestari (BPS,
2018).

Kampung KB Kelurahan Tanjung Unggat terletak di Tanjung Unggat, tepatnya di RW VI, RT 01, 02,
03, 04, dan 05. Jumlah KK yang termasuk dalam wilayah Kampung KB berjumlah: 76 KK di RT 01;
230 KK di RT 02; 228 KK di RT 03; 175 KK di RT 04; dan 142 KK di RT 05 dengan jumlah total 851
KK dimana total jumlah penduduk adalah 2.699 jiwa.

Kampung KB Tanjung Unggat memiliki POKTAN BKB Merpati, BKR Generasi Emas, BKL Generasi
Tangguh serta UPPKS Santalia dengan 11 orang anggota. Kampung KB Tanjung Unggat telah
mengadakan berbagai macam kegiatan sejak terbentuk, dan diantaranya adalah: kegiatan
pendataan dan pengurusan akta kelahiran, kegiatan pendataan dan pengurusan anak putus
sekolah, kegiatan sosialisasi oleh BKR Generasi Emas, kegiatan pembinaan UPPKS Santalia dan
produk-produknya, kegiatan pelayanan KB dan pelayanan kesehatan serta kegiatan-kegiatan
lainnya.

2. Gambaran Umum Kecamatan Tanjungpinang Timur

Kecamatan Tanjungpinang Timur adalah kecamatan dengan wilayah seluas 60.04 km². Jumlah
penduduk di Kecamatan Tanjungpinang Timur adalah 82.359 jiwa dengan 41.865 jiwa penduduk
berjenis kelamin laki-laki dan 40.494 jiwa penduduk berjenis kelamin perempuan. Kecamatan

17
Tanjungpinang Timur adalah kecmatan dengan jumlah penduduk terbanyak di Kota
Tanjungpinang atau sekitar 39.78% penduduk Kota Tanjungpinang bermukim di Kecamatan
Tanjungpinang Timur. Kelurahan Pinang Kencana merupakan wilayah yang paling banyak jumlah
penduduknya di Kecamatan Tanjungpinang Timur dengan jumlah penduduk 23.130 jiwa.
Kelurahan Batu Sembilan dan Kelurahan Melayu Kota Piring adalah kelurahan dengan jumlah
penduduk terbanyak kedua dan ketiga dengan jumlah penduduk sebesar 18.796 jiwa dan 18.552
jiwa, sedangkan Kelurahan Air Raja dengan jumlah penduduk 11.774 jiwa berada pada urutan
keempat dan Kelurahan Kampung Bulang pada urutan kelima dengan jumlah penduduk 10.107
jiwa. Kepadatan penduduk setiap kelurahan berbeda-beda sesuai dengan luas wilayah daratan
dan jumlah penduduk. Kelurahan dengan jumlah penduduk terpadat adalah Kelurahan Melayu
Kota Piring dengan 4.861 jiwa/ km², selanjutnya Kelurahan Kampung Bulang dengan 4.767
jiwa/km², Kelurahan Pinang Kencana dengan 1.469 jiwa/km², Kelurahan Batu Sembilan dengan
987 jiwa/km², dan Kelurahan Air Raja yang merupakan kelurahan dengan angka kepadatan
penduduk terendah dengan 609 jiwa/km² (BPS, 2018).

a. Gambaran Umum Kelurahan Kampung Bulang

Kelurahan Kampung Bulang memiliki luas 2.12 jiwa/km² dan merupakan kelurahan dengan luas
paling kecil di Kecamatan Tanjungpinang Timur. Jumlah penduduk Kelurahan Kampung Bulang
adalah 10.107 jiwa yang terbagi menjadi 5.073 penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 5.034
penduduk berjenis kelamin perempuan. Kepadatan penduduk Kelurahan Kampung Bulang
adalah 4.767 jiwa/km² dan merupakan kelurahan dengan jumlah penduduk kedua terpadat di
Kecamatan Tanjungpinang Timur (BPS, 2018).

3. Gambaran Umum Kecamatan Tanjungpinang Kota

Jumlah penduduk di Kecamatan Tanjungpinang Kota tercatat sebanyak 17.723 jiwa yang terdiri
dari 9.067 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 8.656 jiwa berjenis kelamin perempuan. Rasio jenis

18
kelamin (sex ratio) Kecamatan Tanjungpinang Kota adalah sebesar 105 yang berarti diantara 100
penduduk berjenis kelamin perempuan terdapat 105 penduduk berjenis kelamin laki-laki.
Kelurahan Tanjungpinang Kota adalah kelurahan yang memiliki kepadatan penduduk terbesar
sebesar 7.936 jiwa/km². Sedangkan kelurahan yang paling jarang penduduknya adalah Kelurahan
Senggarang dengan 222 jiwa/km². Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Kampung
Bugis dengan 7.175 jiwa, diantaranya penduduk berjenis kelamin laki-laki 3.792 jiwa dan
penduduk berjenis kelamin perempuan 3.383 jiwa. Kelurahan dengan jumlah penduduk
terbanyak kedua dan ketiga adalah Kelurahan Tanjungpinang Kota dengan 5.079 jiwa dan
Kelurahan Senggarang dengan 3.194 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit
terdapat di Kelurahan Penyengat, yaitu sebesar 2.275 jiwa (BPS, 2018). Sedangkan jenis
pekerjaan yang banyak dilakukan masyarakat Kecamatan Tanjungpinang Kota adalah karyawan
swasta sebanyak 38.56%, Aparatur Sipil Negara (4.97%), pedagang (3.85%), nelayan (3.68%) dan
lainnya (48.95%) (BPS, 2018).

a. Gambaran Umum Kampung KB Kelurahan Kampung Bugis

Kelurahan Kampung Bugis memiliki luas 23.56 km² dan merupakan kelurahan terluas di
Kecamatan Tanjungpinang Kota. Jumlah penduduk Kelurahan Kampung Bugis adalah 7.175 jiwa
yang terbagi menjadi 3.792 penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 3.383 penduduk berjenis
kelamin perempuan. Kepadatan penduduk Kelurahan Tanjungpinang Kota adalah 305 jiwa/km²
dan merupakan kelurahan dengan jumlah penduduk terpadat ketiga di Kecamatan
Tanjungpinang Kota (BPS, 2018).

Kampung KB Kelurahan Kampung Bugis terletak di Kampung Sei Ladi, tepatnya di RW III dan RT
01 dan 02. Jumlah KK yang termasuk ke dalam Kampung KB berjumlah: 138 KK di RT 01; dan 120
KK di RT 02 dengan jumlah total 258 KK. Kampung KB Sei Ladi juga memiliki POKTAN Tri Bina dan
PIK-R berbasis masyarakat masyarakat yang aktif. POKTAN serta PIK tersebut adalah: BKB Melati,
BKR Al-Buchori, serta PIK-Remaja Al-Mukmin. Sementara POKTAN lainnya seperti BKL dan UPPKS,
masih dalam tahap sosialisasi dan rapat kepengurusan di Kampung KB.

19
Kampung KB Sei Ladi telah mengadakan berbagai macam kegiatan sejak terbentuk, dan
diantaranya adalah: kerjasama bersama Dinas Pertanian, Pangan, dan Pertanian untuk
pembinaan dan pelatihan kelompok tani Kampung KB, pelatihan membatik bagi ibu-ibu Kampung
KB, kegiatan rutin pelayanan POSYANDU dan BKB Melati, Konseling KB melalui kunjungan ke
rumah-rumah masyarakat yang baru melahirkan bersama PKB Kampung KB Sei Ladi dan bidan
desa Sei Ladi, kegiatan penyuluhan oleh BKR Al-Buchori bagi remaja Kampung KB Sei Ladi,
kegiatan penyuluhan PIK, serta pendataan bagi warga Kampung KB Sei Ladi yang belum memiliki
Akte Lahir dan Surat Nikah.

4. Gambaran Umum Kecamatan Tanjungpinang Barat

Jumlah penduduk Kecamatan Tanjungpinang Barat Tahun 2017 adalah 46.404 jiwa yang terdiri
dari 23.250 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 23.154 jiwa berjenis kelamin perempuan. Rasio
jenis kelamin (sex ratio) Kecamatan Tanjungpinang Barat adalah sebesar 100 yang berarti
diantara 100 penduduk berjenis kelamin perempuan terdapat 100 penduduk berjenis kelamin
laki-laki. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kelurahan Tanjungpinang Barat yaitu sebesar
16.420 jiwa, diantaranya berjenis kelamin laki-laki 8.298 jiwa dan berjenis kelamin perempuan
8.122 jiwa. Terbanyak kedua adalah Kelurahan Kemboja sebesar 11.597 jiwa dan Kelurahan
Kampung Baru sebesar 10.446 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit terdapat di
Kelurahan Bukit Cermin, yaitu sebesar 7.941 jiwa (BPS, 2018).

a. Gambaran Umum Kampung KB Kelurahan Tanjungpinang Barat

Kelurahan Tanjungpinang Barat memiliki luas 1.62 km² dan merupakan kelurahan terluas
Kecamatan Tanjungpinang Barat. Jumlah penduduk Kelurahan Tanjungpinang Barat adalah
16.420 jiwa yang terbagi menjadi 8.298 penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 8.122 penduduk
berjenis kelamin perempuan. Kepadatan penduduk Kelurahan Tanjungpinang Barat adalah
10.136 jiwa/km² dan merupakan kelurahan dengan jumlah penduduk terpadat ke tiga di
Kecamatan Tanjungpinang Barat (BPS, 2018).

Kampung KB Kelurahan Tanjungpinang Barat dicanangkan pada 25 Oktober 2017 berdasarkan


Surat Keputusan (SK) Walikota Nomor 261 Tahun 2017 Tentang Kampung Keluarga Berencana

20
dan berdasarkan SK Lurah Tanjungpinang Barat Nomor 30 Tahun 2017 Tentang Penetapan
Pengurus Kelompok Kerja Kampung KB RW IV Kelurahan Tanjungpinang Barat, Kecamatan
Tanjungpinang Barat. Kampung KB Kelurahan Tanjungpinang Barat terletak di Kampung Jawa,
tepatnya di RW IV dan RT 01, 02, 03, 04, 05, dan 06. Jumlah KK yag termasuk ke dalam Kampung
KB berjumlah: 21 KK di RT 01; 30 KK di RT 02; 35 KK di RT 03; 32 KK di RT 04; 45 KK di RT 05; dan
41 KK di RT 06 dengan jumlah total 204 KK. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di
Kampung KB Kampung Jawa adalah: laki-laki 348 jiwa dan perempuan 336 jiwa dengan total
jumlah penduduk 684 jiwa.

Kampung KB Kampung Jawa memiliki POKTAN Tri Bina BKB Pepaya dengan jumlah kader 4 orang
dan jumlah anggota 20 orang, BKR Mekar Sari dengan jumlah kader 5 orang dan jumlah anggota
23 orang, dan BKL Pepaya dengan jumlah kader 6 orang dan jumlah anggota 40 orang.

Kampung KB Kampung Jawa telah mengadakan berbagai macam kegiatan sejak terbentuk, dan
diantaranya adalah: kegiatan lomba balita sehat tingkat RW yang disejalankan dengan
POSYANDU balita dan BKB Pepaya, kegiatan remaja masjid Kampung KB pada Festival Bedug Kota
Tanjungpinang, kegiatan senam lansia dan pengobatan gratis yang disejalankan dengan kegiatan
BKL Pepaya, kegiatan perbaikan jalan masuk Kampung KB secara swadaya oleh masyarakat, serta
kegiatan lainnya. Disamping melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, beberapa kegiatan juga
direncanakan untuk dijalankan seperti: pembentukan UPPKS Kampung KB Kampung Jawa,
sosialisasi kepada masyarakat mengenai peran dan fungsi Kampung KB, merencanakan
pendataan keluarga mengenai data kependudukan, pendidikan dan kesehatan, serta rencana
kegiatan lainnya.

21
BAB V
Hasil dan Pembahasan

1. Identitas Responden

Bagian ini menjabarkan identitas responden yang dijaring melalui kuesioner penelitian. Jumlah
responden yang dijaring adalah 75 responden yang terdiri dari: 15 responden dari Kampung
Dompak lama; 15 responden dari Tanjung Unggat; 15 responden dari Kampung Bulang Laut; 15
responden dari Kampung Sei Ladi; dan 15 responden dari Kampung Jawa.

a. Jenis Kelamin Responden

22
Berdasarkan jawaban yang diberikan, dapat diketahui bahwa, responden berjenis kelamin laki-
laki berjumlah 13 orang (17% responden) dan responden berjenis kelamin perempuan berjumlah
62 orang (83% responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.1 berikut:

DIAGRAM V.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JENIS KELAMIN

LAKI-LAKI PEREMPUAN

17%

83%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

b. Pekerjaan Responden

Berdasarkan jawaban yang diberikan, pekerjaan responden paling dominan adalah mengurus
rumah tangga (44 responden/58% responden), beragam pekerjaan lainnya (12 responden/16%
responden), pedagang (9 responden/12% responden), tidak bekerja (8 responden/11%
responden) dan nelayan (2 responden/3% responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar
pada Diagram V.2 berikut:

DIAGRAM V.2 KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JENIS PEKERJAAN

23
3%
0%
11%
16% 0% TIDAK BEKERJA
NELAYAN

12% BURUH HARIAN LEPAS


PETANI
0% PEDAGANG
APARATUR SIPIL NEGARA
MENGURUS RUMAH TANGGA
LAINYA
58%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

c. Kampung KB Responden

Penelitian ini dilakukan di 5 kelurahan dan di 4 kecamatan yang terdiri dari: 15 responden dari
Kampung Dompak lama; 15 responden dari Tanjung Unggat; 15 responden dari Kampung Bulang
Laut; 15 responden dari Kampung Sei Ladi; dan 15 responden dari Kampung Jawa, atau dengan
kata lain pada masing-masing kecamatan responden berjumlah 20%. Hal tersebut sebagaimana
tergambar pada Diagram V.3 berikut:

DIAGRAM V.3 KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN WILAYAH

24
KAMPUNG BULANG
LAUT
20% 20%
KAMPUNG SEI LADI

KAMPUNG DOMPAK
LAMA
20% 20%
TANJUNG UNGGAT

KAMPUNG JAWA
20%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

2. Kampung Keluarga Berencana (KB)

Pengetahuan mengenai Program Kampung KB sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan


implementasi program tersebut di Kota Tanjungpinang. Oleh karenanya, bagian ini mencoba
untuk menjabarkan pengetahuan responden mengenai Program Kampung KB dengan
diajukannya beberapa set pertanyaan melalui kuesioner penelitian. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut bermaksud untuk menggambarkan pengetahuan responden akan Program Kampung KB
yang telah diimplementasikan di masing-masing Kampung KB di Kota Tanjungpinang.

Respon jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan menunjukkan pengetahuan yang


bervariasi dari tiap-tiap responden. Dari 75 set kuesioner yang disebar di 5 Kampung KB di 5
kelurahan dan di 4 kecamatan, terdapat 49 responden (65% responden) yang memberikan
respon “memiliki pengetahuan tentang Program Kampung KB” dan 26 responden (35%
responden) yang memberikan respon “tidak memiliki pengetahuan tentang Program Kampung
KB”. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.4 berikut:

25
DIAGRAM V.4 PENGETAHUAN RESPONDEN TERHADAP KAMPUNG KB

TIDAK , 26
(35%)

IYA , 49
(65%)

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
berbeda-beda tentang Program Kampung KB. Hal tersebut tercermin dari respon jawaban yang
bervariasi dimana terdapat 22 responden (45% responden) yang memahami bahwa Program
Kampung KB adalah program pengendalian jumlah anak atau penduduk, terdapat 9 responden
(18% responden) yang memahami bahwa Program Kampung KB adalah penyedia layanan
POSYANDU dan terdapat 5 responden (10% responden) yang memahami bahwa Program
Kampung KB adalah penyedia layanan kependudukan. Lebih lanjut, 4 responden (8% responden)
memiliki pemahaman bahwa Program Kampung KB adalah sebagai penyedia layanan kontrasepsi
dan 3 responden (6% responden) menjawab bahwa Program Kampung KB adalah program bina
keluarga lansia, remaja, dan balita. Disamping itu, terdapat juga pemahaman bahwa Program
Kampung KB adalah sebagai: program pemberdayaan ekonomi keluarga dan pengendalian angka
kemiskinan (2 responden/4% responden); sebagai program pendataan dan pemetaan
kependudukan (2 responden/4% responden); dan sebagai penyedia layanan konseling bagi
remaja (2 responden/4% responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.5
berikut:

26
DIAGRAM V.5 PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG KAMPUNG KB

22

5
4
3
2 2 2

Pengendalian jumlah anak Penyedia layanan Bina keluarga lansia, remaja, Pendataan dan pemetaan
atau penduduk kependudukan dan balita kependudukan

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap
Program Kampung KB sangat terbatas. Masyarakat memahami bahwa Program Kampung KB
identik dengan alat kontrasepsi atau sebagai sebuah program pemerintah untuk
mempromosikan penggunaan alat kontrasepsi bagi pengendalian jumlah anak. Masyarakat
sepertinya tidak memiliki pengetahuan mendalam mengenai ruang lingkup kegiatan di Kampung
KB yang meliputi aspek kependudukan, pembangunan keluarga, maupun kegiatan lintas sektor.
Oleh karenanya, perlu dilakukan usaha-usaha sosialisasi dan promosi terhadap Program
Kampung KB ke tengah-tengah masyarakat secara lebih menyeluruh.

Sumber pengetahuan responden tentang Program Kampung KB juga bervariasi dan berdasarkan
jawaban responden, sumber dominan dimana 47% responden (23 responden) mendapatkan
pengetahuan tentang Program Kampung KB, berasal dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di
Kampung KB itu sendiri. Namun, pengetahuan mengenai Program Kampung KB tidak hanya
bersumber dari kegiatan-kegiatan di Kampung KB saja. Sumber pengetahuan tentang Kampung
KB juga berasal dari sosialisasi pada saat pencanangan (7 responden/14% responden),

27
pemberitaan media masa (7 reponden/14% responden), serta didapat pada saat diadakan
pelayanan-pelayanan di Kampung KB (7 responden/14% responden). Disamping itu, responden
yang mengamati kegiatan Kampung KB diwilayahnya sendiri juga dapat mengambil kesimpulan
mengenai apa itu Program Kampung KB (5 responden/10% responden). Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.6 berikut:

DIAGRAM V.6 SUMBER PENGETAHUAN RESPONDEN TENTANG KAMPUNG KB

23

7 7 7
5

Sosialisasi Pemberitaan Media Kegiatan Kampung KB Pelayanan Kampung Melihat Realita di


Pencanangan Masa KB Lapangan
Kampung KB

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara juga menujukkan bahwa sumber pengetahuan masyarakat tentang Program
Kampung KB adalah dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PKB/PLKB di Kampung KB.
Kegiatan seperti sosialiasi ke tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat mengenai Program
Kampung KB, pertemuan forum-forum di Kampung KB, kegiatan lokakarya dan pelatihan,
kegiatan Tri Bina (BKB, BKR, dan BKL), kegiatan UPPKS, kegiatan gotong royong dan kebersihan
lingkungan, kegiatan PKK, majelis taklim, dan remaja masjid, serta kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh pihak eksternal, menjadi sumber pengetahuan masyarakat mengenai Program
Kampung KB. Oleh karenanya, usaha-usaha sosialisasi dan promosi terhadap Program Kampung
KB ke masyarakat dapat ditingkatkan sejalan dengan kegiatan-kegiatan yang sedang atau akan
berjalan di Kampung KB.

Berdasarkan respon jawaban, 86% responden (42 responden) yang memiliki pengetahuan
tentang Kampung KB bukan merupakan anggota Kelompok Kegiatan (POKTAN) Kampung KB dan

28
hanya 14% responden (7 responden) yang bukan merupakan anggota POKTAN Kampung KB. Hal
tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.7 berikut:

DIAGRAM V.7 KEPESERTAAN/KEANGGOTAAN KELOMPOK KEGIATAN (POKTAN) KAMPUNG KB

IYA , 7 (14%)

TIDAK , 42
(86%)

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Berdasarkan jawaban yang diberikan, 55% responden (27 responden) yang memiliki
pengetahuan tentang Kampung KB tidak menerima pelayanan Kampung KB, sementara
pelayanan yang diterima oleh responden lainnya adalah pelayanan POSYANDU (18 responden/37%
responden) disamping pelayanan kependudukan (1 responden/2% responden), kegiatan bina
keluarga balita, remaja, atau lansia (1 responden/2% responden), kegiatan kemasyarakatan (1
responden/2% responden), dan pelayanan konseling bagi remaja (1 responden/2% responden).
Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.8 berikut:

29
DIAGRAM V.8 PELAYANAN ATAU KEGIATAN YANG PALING SERING RESPONDEN TERIMA
ATAU IKUTI DI KAMPUNG KB

27

18

1 1 1 1

Pelayanan POSYANDU Pelayanan Kegiatan Bina Tidak ada Kegiatan Kegiatan Remaja Pada
Kependudukan Keluarga (Balita, Kemasyarakatan Umumnya
Remaja, dan Lansia)

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara mengungkap bahwa masyarakat menerima pelayanan KB dan pelayanan


kesehatan disamping mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Kampung KB. Pelayanan
pembuatan akte kelahiran dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) berkerjasama dengan Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil (DISDUK CAPIL) Kota Tanjungpinang, seperti yang dilakukan di
Kampung KB Tanjung Unggat dan Kampung Dompak Lama, adalah salah satu contoh bentuk
kerjasama lintas sektor yang merupakan bagian dari Program Kampung KB. Pelayanan
POSYANDU berbarengan dengan kegiatan BKB juga rutin dilakukan dimasing-masing Kampung
KB seperti di Kampung KB Tanjung Unggat, Kampung Dompak Lama, Kampung Jawa, dan
Kampung Sei Ladi. Disamping itu, direncanakan pula oleh masing-masing Kampung KB beberapa
kegiatan seperti: penyuluhan dengan kerjasama bersama Badan Narkotika Nasional (BNN);
pelatihan keterampilan bagi anak putus sekolah; pemberdayaan perempuan melalui UPPKS;
pembentukan POSYANDU remaja; pendataan masyarakat yang belum memiliki kartu BPJS; serta
kegitan-kegiatan lainnya.

Disamping masyarakat yang memiliki pengethuan dan pemahaman akan Program Kampung KB,
terdapat 26 responden yang tidak memiliki pengetahuan tentang Program Kampung KB
dikarenakan oleh tidak adanya sosialisasi yang dilakukan pada saat pencanangan Kampung KB.
Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.9 berikut:

30
DIAGRAM V.9 ALASAN RESPONDEN TIDAK MEMILIKI PENGETAHUAN TENTANG KAMPUNG KB

26

0 0 0 0 0
Tidak ada Sosialisasi Tidak Ada Pemberitaan di Tidak Dilibatkan dalam Tidak Ada Pelayanan Oleh Tidak Ada Kegiatan Lainnya
Pencanangan Kampung KB Media Masa Rapat/Seminar/Lokakarya Kampung KB Kampung KB

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

3. Keberhasilan Input

Keberhasilan Input Kampung KB ditandai dengan jumlah Penyuluh Keluarga Berencana /Petugas
Lapangan Keluarga Berencana (PKB/PLKB) dan Pembantu Pembina Keluarga Berencana
Desa/Sub-Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD/Sub-PPKBD) yang proporsional,
ketersediaan dukungan operasional (anggaran) untuk Program KKBPK di Kampung KB dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD), Anggaran Dana Desa (ADD), Corporate Social Responsibility (CSR), Program Keluarga
Harapan (PKH) maupun sumber dana lainnya, serta ketersediaan sarana operasional maupun
sarana pendukung lainnya.

a. Proporsi PKB/PLKB dan Proporsi PPKBD/Sub-PPKBD

Berdasarkan jawaban yang diberikan, 65 responden atau sebanyak 87% responden menyatakan
bahwa jumlah PKB/PLKB di Kampung KB sudah proporsional, sedangkan 10 responden atau
sebanyak 13% responden merasa bahwa jumlah PKB/PLKB belum proporsional di Kampung KB.
Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.10 berikut:

31
DIAGRAM V.10 JUMLAH PENYULUH KB/PLKB PROPORSIONAL DI KAMPUNG KB

IYA TIDAK TIDAK ADA

0%
13%

87%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Disamping PKB/PLKB, di Kampung KB juga dibentuk PPKBD/Sub-PPKBD untuk membantu tugas


dan kerja PKB/PLKB. Berdasarkan jawaban yang diberikan, 74 responden atau 99% responden
menyatakan bahwa di Kampung KB dibentuk PPKBD/Sub-PPKBD dengan 1 responden atau hanya
1% responden merasa bahwa tidak ada pembentukan PPKBD/Sub-PPKBD. Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.11 berikut:

DIAGRAM V.11 DILAKUKAN PEMBENTUKAN PPKBD/SUB PPKBD DI KAMPUNG KB

IYA TIDAK

1%

99%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

84% responden (63 responden) juga merasa bahwa PPKBD/Sub-PPKBD yang berperan dalam
membantu tugas-tugas PKB/PLKB sudah proporsional. Namun begitu, 12 responden (16%

32
responden) merasa bahwa PPKBD/Sub-PPKBD perlu ditingkatkan jumlahnya agar proporsional.
Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.12 berikut:

DIAGRAM V.12 JUMLAH PPKBD/SUB PKKBD PROPORSIONAL DI KAMPUNG KB

IYA TIDAK

16%

84%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara menegaskan bahwa jumlah PKB/PLKB proporsional bagi tiap-tiap Kampung KB.
Namun, tetap dirasa perlu penambahan jumlah PKB/PLKB dimasing-masing Kampung KB untuk
mempercepat penetrasi Program KKBPK ke masyarakat. Hal ini mengingat bahwa cakupan
wilayah Kampung KB yang cukup luas serta jumlah penduduk yang perlu dibina juga cukup
banyak. Pembentukan PPKBD/Sub-PPKBD di setiap RW di masing-masing Kampung KB juga
membantu tugas dan fungsi PKB/PLKB. Hanya saja, jumlah PPKBD/Sub-PPKBD dirasa masih
kurang karena seharusnya dibentuk di setiap RT di masing-masing Kampung KB. Kesulitan untuk
mencari kader, minimnya anggaran, serta keengganan masyarakat untuk berpartisipasi adalah
tantangan yang dihadapi dilapangan.

b. Dukungan Operasional

Tersedianya dukungan operasional seperti anggaran, adalah salah satu indikator input yang
sangat penting bagi keberhasilan Program Kampung KB. Namun, berdasarkan jawaban yang
diberikan, dukungan operasional anggaran untuk kegiatan Program KKPBK di Kampung KB
tersedia, adalah 18 responden atau 24% responden, sedangkan responden yang menyatakan

33
bahwa dukungan operasional anggaran tersebut tidak tersedia, adalah 57 responden atau 76%
responden. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.13 berikut:

DIAGRAM V.13 KETERSEDIAN DUKUNGAN OPERASIONAL (ANGGARAN) UNTUK KAMPUNG KB

IYA TIDAK

24%

76%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Berdasarkan jawaban yang diberikan, dukungan operasional anggaran yang tersedia untuk
pembiayaan kegiatan Program KKPBK di Kampung KB bersumber dari APBD (12 responden),
anggaran kelurahan (5 responden) dan sumber anggaran lainnya (1 responden). Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.14 berikut:

DIAGRAM V.14 SUMBER ANGGARAN KAMPUNG KB

12

1
0 0 0

Iuran Warga APBD APBN Kemitraan Anggaran Lainnya


Kelurahan

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

34
Berdasarkan jawaban yang diberikan, dukungan operasional anggaran yang tidak tersedia untuk
pembiayaan kegiatan Program KKPBK di Kampung KB, diharapkan dapat bersumber dari APBD
(33 responden), anggaran kelurahan (18 responden), iuran warga (3), APBN (2 responden), dan
sumber anggaran lainnya (1 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram
V.15 berikut:

DIAGRAM V.15 HARAPAN ANGGARAN UNTUK KAMPUNG KB

33

18

3 2 1
0

Iuran Warga APBD APBN Kemitraan Anggaran Lainnya


Kelurahan

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara menegaskan bahwa dukungan anggaran untuk operasional kegiatan-kegiatan


Program Kampung KB adalah minim atau tidak ada sama sekali. Anggaran yang tersedia
umumnya dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan seremonial maupun pertemuan forum dan mini
lokakarya. Minimnya anggaran menyebabkan rencana kegiatan terkadang tidak dapat
diwujudkan, seperti misalnya, wacana pembuatan kampung pelangi dan penyediaan tempat
pembuangan sampah di masing-masing RW di Kampung KB Dompak Lama. Minimnya anggaran
juga menciptakan tantangan tersendiri dimana PKB/PLKB terkadang menggunakan dana milik
pribadi atau berharap dari swadaya masyarakat atau bantuan kelurahan untuk operasional
kegiatan. Keengganan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kampung KB atau
untuk menjadi kader Kampung KB sebagai PPKBD/Sub-PPKB atau terlibat dalam POKJA Kampung
KB, juga dapat diatribusikan pada minimnya insentif atau stimulan finansial yang tersedia bagi
kader Kampung KB. Oleh karenanya, dukungan anggaran diharapkan dapat ditingkatkan serta
dapat bersumber dari Pemerintah Daerah Kota Tanjungpinang melalui ABPD sebagai salah satu
stakeholder Program Kampung KB. Pemerintah daerah perlu menunjukkan peran dan kepedulian
terhadap Kampung KB dengan mengalokasikan sebagian anggaran bagi operasional Kampung KB

35
atau memfasilitasi penyaluran dana CSR dari sumber-sumber pendanaan lainnya untuk Program
Kampung KB di Kota Tanjungpinang.

c. Dukungan Sarana Operasional

Tersedianya sarana operasional seperti bangunan kantor dan sarana pendukung lainnya, adalah
salah satu indikator input yang sangat penting bagi keberhasilan Program KKBPK di Kampung KB.
Berdasarkan jawaban yang diberikan, sarana operasional untuk menunjang Program Kampung
KB tersedia (75 responden/100% responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada
Diagram V.16 berikut:

DIAGRAM V.16 KETERSEDIAAN SARANA OPERASIONAL (ALAT KONTRASEPSI, BANGUNAN


KANTOR, DAN SARANA PENDUKUNG LAINNYA) DI KAMPUNG KB

IYA TIDAK

0%

100%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Berdasarkan jawaban yang diberikan, bentuk sarana operasional dan sarana pendukung lainnya
yang tersedia untuk menunjang Program Kampung KB adalah bangunan kantor (45 resonden/60%
responden) dan obat-obatan serta alat kontrasepsi (30 responden/45% responden). Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.17 berikut:

36
DIAGRAM V.17 SARANA OPERASIONAL YANG TERSEDIA

45

30

Obat-Obatan Dan Alat Bangunan Kantor


Kontrasepsi

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara mengungkapkan bahwa sarana operasional seperti bangunan kantor atau
sekretariat Kampung KB sudah tersedia di masing-masing Kampung KB, namun dengan terbatas.
Terbatasnya sarana operasional terletak pada bangunan kantor atau sekretariat Kampung KB
yang menumpang pada bangunan lainnya seperti POSYANDU, POLINDES, Balai Penyuluhan, atau
bangunan lainnya. Namun begitu, agar fungsi Kampung KB dapat berjalan dengan efektif,
terdapat rencana untuk pemindahan atau penyatuan sekretariat Kampung KB kedepannya.
Kampung KB Kampung Jawa misalnya, berencana untuk menyatukan sekretariat Kampung KB
dengan Balai Penyuluhan Kelurahan Tanjungpinang Barat sedangkan Kampung KB Sei Ladi
berencana untuk difasilitasi dalam bentuk penyediaan lahan dari Kelurahan Kampung Bugis.

4. Keberhasilan Proses

Keberhasilan Proses ditentukan berdasarkan pada peningkatan frekuensi dan kualitas kegiatan
advokasi dan KIE; peningkatan kualitas pelayanan KB dan Kesehatan Remaja (KR); pertemuan
berkala kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Bina
Keluarga Lansia (BKL), Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), Institusi
Masyarakat Pedesaan (IMP) maupun lokakarya mini; pelayanan Taman POSYANDU (PAUD,
Kesehatan/POSYANDU dan BKB); pelayanan Surat Nikah, Akta Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk
(KTP) serta kegiatan-kegiatan lainnya.

37
a. Kegiatan Advokasi

Frekuensi kegiatan advokasi di Kampung KB dapat dilihat dari jawaban responden dimana
kegiatan advokasi sering dilakukan (18 responden/24% responden), kegiatan advokasi cukup
sering dilakukan (10 responden/13%responden), dan kegiatan advokasi tidak terlalu sering
dilakukan (15 responden/20% responden). Disamping frekuensi kegiatan advokasi yang cukup
sering, terdapat 32 responden (43% responden) yang merasa bahwa kegiatan advokasi tidak
pernah berjalan di Kampung KB. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.18 berikut:

DIAGRAM V.18 INTENSITAS KEGIATAN ADVOKASI OLEH PKB/PLKB DI KAMPUNG KB

32

18
15
10

0 0

Sangat Sering Cukup Tidak Sangat Tidak


Sering Sering Sering Tidak Pernah
Sering

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Hasil wawancara menunjukkan bahwa kegiatan advokasi sudah berjalan di Kampung KB dengan
frekuensi yang cukup sering. Kegiatan advokasi umumnya dilakukan ke tokoh-tokoh formal di
kecamatan atau di kelurahan, maupun ke tokoh-tokon informal seperti Ketua RT atau Ketua RW
setempat. Bentuk kegiatan advokasi yang dilakukan di Kampung KB juga beragam dimana
kegiatan yang paling umum adalah berdiskusi atau bermusyawarah antar warga di Kampung KB
untuk membahas isu atau masalah-masalah kependudukan di lingkungan Kampung KB (39
responden). Disamping itu, bentuk kegiatan advokasi lainnya adalah dengan membawa isu atau
masalah-masalah kependudukan ke pemangku kebijakan setempat seperti ke pihak kelurahan

38
atau ke pihak kecamatan (4 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.19
berikut:

DIAGRAM V.19 BENTUK KEGIATAN ADVOKASI YANG PALING SERING DIADAKAN DI


KAMPUNG KB

39

32

4
0

Membawa isu/masalah Diskusi atau musyawarah Penggunaan media masa Tidak Pernah diadakan di
kependudukan ke untuk membahas untuk menarik perhatian Kampungnya
pemangku kebijakan isu/masalah atas isu/masalah
setempat kependudukan

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Kualitas kegiatan juga menjadi tolak ukur keberhasilan kegiatan advokasi di Kampung KB dan
Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden menilai bahwa kegiatan advokasi sudah
berjalan baik (27 responden) dan cukup baik (14 responden). Namun, kegiatan advokasi masih
perlu meningkatkan kualitasnya dimana hal ini tercermin dari respon jawaban yang menilai
bahwa kegiatan advokasi yang dilakukan di Kampung KB belum baik (2 responden). Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.20 berikut:

DIAGRAM V.20 KUALITAS KEGIATAN ADVOKASI DI KAMPUNG KB

39
27

14

2
0 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak


Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

b. Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)

Frekuensi kegiatan KIE di Kampung KB dapat dilihat dari jawaban responden dimana kegiatan KIE
sering dilakukan (41 responden/55% responden), kegiatan KIE cukup sering dilakukan (15
responden/20% responden), dan kegiatan KIE tidak terlalu sering dilakukan (14 responden/19%
responden). Disamping frekuensi kegiatan KIE yang sering dilakukan, terdapat 3 responden atau
4% responden yang merasa bahwa kegiatan KIE tidak pernah berjalan di Kampung KB dan 2
responden atau 3% responden tidak pernah mengikuti kegiatan di Kampung KB. Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.21 berikut:

DIAGRAM V.21 INTENSITAS DIADAKAN KEGIATAN KIE OLEH PKB/PLKB DI KAMPUNG KB

40
41

15 14

5
0 0

Sangat Sering Cukup Tidak Sering Sangat Tidak Tidak


Sering Sering Sering Pernah

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Kegiatan KIE umumnya dilaksanakan setiap bulan dan bervariasi antar Kampung KB. Kampung KB
Sei Ladi, misalnya, melakukan kegiatan KIE yang disejalankan dengan kegiatan BKB yang diselingi
dengan informasi dan edukasi mengenai keikutsertaan ber-KB bagi masyarakat. Namun, kegiatan
KIE tentu memiliki tantangannya sendiri. Tantangan yang umum dihadapi adalah masyarakat
terkadang tidak terlalu peduli dengan pemahaman yang diberikan oleh PKB/PLKB tentang
Program KKBPK hingga pemahaman yang keliru mengenai Program KB dan alat kontrasepsi.
Bentuk kegiatan KIE yang dilakukan di Kampung KB juga beragam dimana kegiatan yang paling
umum adalah sosialisasi di Kampung KB (57 responden), kegiatan penyuluhan (12 responden),
dan kegiatan konseling (1 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.22
berikut:

DIAGRAM V.22 BENTUK KEGIATAN KIE YANG PALING SERING DIADAKAN DI KAMPUNG KB

41
57

12

1 3 2
0 0
Sosialisasi Kegiatan Penyuluhan Pemberian Konseling Tidak Pernah Tidak Pernah
Edukasi Motivasi diadakan di Mengikuti
Kampungnya Kegiatan
yang
diadakan di
Kampungnya

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Bentuk kegiatan KIE di Kampung KB umumnya mencakup masa dengan jumlah yang besar (diatas
15 peserta) di setiap kegiatan. Disamping itu, kegiatan KIE terkadang dilakukan secara
perorangan (5 responden), dan secara berkelompok antara 2-15 peserta (3 responden)
tergantung dari jenis kegiatan. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan pada Diagram V.23 berikut:

DIAGRAM V.23 KEGIATAN YANG SERING DILAKUKAN DALAM KEGIATAN KIE DI KAMPUNG KB

62

5 3

Individu Kelompok (2-15 Peserta) Massa (Jumlah Besar)

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Kualitas kegiatan juga menjadi tolak ukur keberhasilan kegiatan KIE di Kampung KB dan
berdasarkan jawaban yang diberikan, responden menilai bahwa kegiatan KIE sudah berjalan baik
(54 responden) dan cukup baik (16 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada
Diagram V.24 berikut:

42
DIAGRAM V.24 KUALITAS KEGIATAN KIE DI KAMPUNG KB

54

16
0 0 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak


Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

c. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)

Frekuensi pelayanan KB dapat dilihat dari jawaban responden dimana pelayanan KB sering
dilakukan (43 responden/57% responden), pelayanan KB cukup sering dilakukan (14
responden/19% responden), dan pelayanan KB tidak sering dilakukan (11 responden/15%
responden). Disamping frekuensi pelayanan KB yang sering dilakukan, terdapat 7 responden atau
9% responden yang merasa bahwa pelayanan KB tidak pernah dilakukan di Kampung KB. Hal
tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.25 berikut:

DIAGRAM V.25 INTENSITAS DIADAKAN KEGIATAN PELAYANAN KB DI KAMPUNG KB

43

14 11
7
0 0

Sangat Sering Cukup Tidak Sangat Tidak


Sering Sering Sering Tidak Pernah
Sering

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Pelayanan KB umumnya disejalankan dengan kegiatan atau hari-hari besar nasional. Seperti
misalnya, kegiatan pelayanan KB keliling dimana pelayanan KB diberikan disetiap PUSKESMAS di
Kota Tanjungpinang, atau pada saat Hari Kesehatan Nasional (HKN). Hanya saja, terkadang
terdapat kendala-kendala dalam kegiatan pelayanan KB seperti kesulitan untuk meyakinkan

43
masyarakat mengenai manfaat menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi angka kelahiran
terutama untuk jenis kontrasepsi non-hormonal. Hal ini terjadi karena pemahaman yang keliru
mengenai alat-alat kontrasepsi non-hormonal seperti IUD, implan, maupun alat kontrasepsi non-
hormonal lainnya.

Bentuk pelayanan KB yang dilakukan di Kampung KB juga beragam dimana pelayanan yang paling
umum adalah konseling tentang KB dan alat kontrasepsi (42 responden), pemeriksaan ibu hamil,
ibu menyusui, dan imunisasi (18 responden), pemasangan alat kontrasepsi (5 responden),
promosi KB ke Pasangan Usia Subur (1 responden), sedangkan 2 responden tidak pernah
mengikuti pelayanan KB. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.26 berikut:

DIAGRAM V.26 BENTUK PELAYANAN KB YANG PALING SERING DIADAKAN DI KAMPUNG KB

42

18

7
5
1 2
0

Pemasangan Konseling Pembinaan Pemeriksaan Promosi KB ke Tidak Pernah Tidak Pernah


Alat Kontrasepsi Tentang KB Dan Peserta KB Ibu Hamil, Ibu pasangan usia diadakan di Mengikuti
Alat Kontrasepsi Menyusui Dan subur Kampungnya Pelayanan KB
Pemberian
Imunisasi

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Kualitas pelayanan juga menjadi tolak ukur keberhasilan pelayanan KB di Kampung KB dan
berdasarkan jawaban yang diberikan, responden menilai bahwa pelayanan KB sudah berjalan
dengan baik (56 responden) dan cukup baik (10 responden). Namun, pelayanan KB masih perlu
meningkatkan kualitasnya dimana hal ini tercermin dari respon jawaban yang menilai bahwa
pelayanan KB yang dilakukan di Kampung KB belum baik (2 responden). Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.27 berikut:

DIAGRAM V.27 KUALITAS KEGIATAN PELAYANAN KB DI KAMPUNG KB

44
56

10
0 2 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

d. Pelayanan Kesehatan Reproduksi (KR)

Frekuensi pelayanan KR dapat dilihat dari jawaban responden dimana pelayanan KR sering
dilakukan (11 responden/15% responden), pelayanan KR cukup sering dilakukan (7 responden/9%
responden), pelayanan KR tidak sering dilakukan (16 responden/21% responden), dan pelayanan
KR sangat tidak sering (2 responden/3% responden). Disamping frekuensi pelayanan KR yang
tidak sering dilakukan, terdapat 39 responden atau 52% responden yang merasa bahwa
pelayanan KR tidak pernah dilakukan di Kampung KB. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada
Diagram V.28 berikut:

DIAGRAM V.28 INTENSITAS KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI (KR) DI


KAMPUNG KB

45
39

16
11
7
2
0

Sangat Sering Sering Cukup Sering Tidak Sering Sangat Tidak Tidak Pernah
Sering

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Bentuk pelayanan KR di Kampung KB juga beragam dimana pelayanan yang paling umum
dilakukan adalah sosialisasi dan konseling kesehatan reproduksi (35 responden), dan penyuluhan
tentang narkoba (1 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.29 berikut:

DIAGRAM V.29 BENTUK PELAYANAN KR YANG PALING SERING DIADAKAN DI KAMPUNG KB

39
35

0 0 1

Sosialisasi Dan Kampanye Pembinaan Penyuluhan Tidak Pernah


Konseling Pendewasaan Pusat Informasi Anti Narkoba diadakan di
Kesehatan Usia Dan Konseling Kampungnya
Reproduksi Perkawinan Remaja (PIK-R)

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Kualitas pelayanan juga menjadi tolak ukur keberhasilan pelayanan KR di Kampung KB dan
berdasarkan jawaban yang diberikan, responden menilai bahwa pelayanan KR sudah berjalan
dengan baik (26 responden) dan cukup baik (9 responden). Namun, pelayanan KR masih perlu
meningkatkan kualitasnya dimana hal ini tercermin dari respon jawaban yang menilai bahwa
pelayanan KR yang dilakukan di Kampung KB belum baik (1 responden). Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.30 berikut:

46
DIAGRAM V.30 KUALITAS KEGIATAN PELAYANAN KR DI KAMPUNG KB

26

1
0 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

e. Pertemuan Berkala Kelompok Kegiatan

Pertemuan berkala Kelompok Kegiatan adalah pertemuan yang dilakukan oleh Kelompok
Kegiatan (POKTAN) BKB, BKR, BKL, UPPKS, IMP, lokakarya mini dan POKTAN lainnya. Pertemuan
berkala POKTAN tersebut dinilai berdasarkan frekuensi pertemuan dan POKTAN yang paling aktif
melakukan pertemuan-pertemuan berkala. Berdasarkan jawaban yang diberikan, pertemuan
berkala POKTAN sangat sering dilakukan (1 responden), sering dilakukan (67 responden), dan
cukup sering dilakukan (6 responden). Namun, terdapat 1 responden yang merasa bahwa
POKTAN tidak pernah melakukan pertemuan berkala di Kampung KB. Hal tersebut sebagaimana
tergambar pada Diagram V.31 berikut:

DIAGRAM V.31 INTENSITAS KEGIATAN PERTEMUAN BERKALA KELOMPOK KEGIATAN (BKB,


BKL, BKR, UPPKS, IMP, PERTEMUAN STAF, ATAU LOKARKARYA) DI KAMPUNG KB

47
67

6
1 0 0 1

Sangat Sering Sering Cukup Sering Tidak Sering Sangat Tidak Tidak Pernah
Sering

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Berdasarkan jawaban yang diberikan, POKTAN yang paling aktif dengan melakukan pertemuan
berkala di Kampung KB adalah POKTAN BKB (74 responden). Hal tersebut sebagaimana
tergambar pada Diagram V.32 berikut:

DIAGRAM V.32 KELOMPOK KEGIATAN YANG PALING SERING MELAKUKAN PERTEMUAN


BERKALA DI KAMPUNG KB

74

0 0 0 0 0

Bina Keluarga Bina Keluarga Usaha Bina Keluarga Institusi Lainnya


Balita Lansia Peningkatan Remaja Masyarakat
Pendapatan Pedesaan
Keluarga
Sejahtera

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

5. Keberhasilan Output
a. Pendataan Keluarga di Kampung KB
48
Ketua Rukun Tetangga (RT)/Ketua Rukun Warga (RW) diharapkan memiliki data dan peta
keluarga yang bersumber dari pendataan keluarga. Oleh karenanya, RT/RW diharapkan dapat
melakukan pendataan keluarga di Kampung KB. Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden
yang menyatakan bahwa RT/RW melakukan pendataan keluarga adalah 48 responden atau 64%
responden, sedangkan responden yang menyatakan bahwa RT/RW tidak melakukan pendataan
keluarga adalah 27 responden atau 36% responden. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada
Diagram V.33 berikut:

DIAGRAM V.33 RT/RW MELAKUKAN PENDATAAN KELUARGA DI KAMPUNG KB

IYA TIDAK

36%

64%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Bentuk data yang dikumpulkan dengan pendataan keluarga sangat beragam dimana bentuk data
yang paling umum adalah data bantuan sosial yang diterima keluarga (17 responden), total
jumlah penduduk (9 responden), rumah tidak layak huni (7 responden), jumlah balita, remaja,
dan lansia dalam keluarga (5 responden), Jumlah anggota keluarga (5 responden), keikutsertaan
keluarga dalam Program KB (3 responden), pendatang baru (1 responden), dan tingkat
kesejahteraan keluarga (1 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.34
berikut:

DIAGRAM V.34 DATA KELUARGA YANG DIKUMPULKAN OLEH RT/RW DI KAMPUNG KB

49
17

9
7
5 5
3
1 1
0 0
Keikutsertaan Balita, remaja, Rumah tidak Produk Jumlah anak Tingkat Bantuan sosial Jumlah anggota Jumlah anggota Total jumlah
keluarga dalam dan lansia layak huni unggulan usaha usia sekolah kesejahteraan yang diterima keluarga keluarga, penduduk
Program KB dalam keluarga keluarga keluarga keluarga jumlah
penduduk, dan
pendatang
baru

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

b. Peserta KB Aktif

Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden yang menyatakan ikut sebagai peserta KB aktif
adalah 32 responden atau 43% responden, sedangkan responden yang menyatakan tidak ikut
sebagai peserta KB aktif adalah 43 responden atau 57% responden. Hal tersebut sebagaimana
tergambar pada Diagram V.35 berikut:

DIAGRAM V.35 RESPONDEN ATAU PASANGAN RESPONDEN PESERTA KB AKTIF

IYA TIDAK

43%

57%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

50
Metode KB yang digunakan oleh responden peserta aktif KB adalah implan bawah kulit/susuk (13
responden), suntik KB (12 responden), pil KB (5 responden), kondom (1 responden), dan metode
KB lainnya (1 responden). Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.36 berikut:

DIAGRAM V.25 METODE YANG RESPONDEN DAN PASANGAN RESPONDEN GUNAKAN

13
12

1 1
0 0
Alat kontrasepsi dalam Alat kontrasepsi bawah Tubektomi/Vasektomi Pil KB Kondom Suntik KB Lainnya
rahim/IUD kulit/implan/susuk

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

c. Balita dalam Keluarga

Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden yang memiliki balita dalam keluarga adalah 39
responden atau 52% responden, sedangkan responden yang tidak memiliki balita dalam keluarga
adalah 36 responden atau 48% responden. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram
V.37 berikut:

DIAGRAM V.37 RESPONDEN MEMILIKI BALITA DALAM KELUARGA

51
IYA TIDAK

48%
52%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Dari 39 responden yang memiliki balita dalam keluarga, 33 responden atau 85% responden
berpartisipasi dalam Kelompok Kegiatan BKB di Kampung KB, sedangkan 6 responden atau 15%
responden tidak berpartisipasi. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.38 berikut:

DIAGRAM V.38 RESPONDEN BERPARTISIPASI DALAM KELOMPOK BKB

IYA TIDAK

15%

85%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Dari 33 responden yang berpartisipasi dalam Kelompok Kegiatan BKB, 29 responden menilai
bahwa Kelompok Kegiatan BKB di Kampung KB sudah berjalan dengan baik, sedangkan 4
responden menilai bahwa Kelompok Kegiatan BKB di Kampung KB sudah berjalan dengan cukup
baik. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.39 berikut:

DIAGRAM V.39 PENDAPAT RESPONDEN MENGENAI KELOMPOK BKB DI KAMPUNG KB ANDA

52
29

4
0 0 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

d. Remaja dalam Keluarga

Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden yang memiliki remaja dalam keluarga adalah 48
responden atau 64% responden, sedangkan responden yang tidak memiliki remaja dalam
keluarga adalah 27 responden atau 36% responden. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada
Diagram V.40 berikut:

DIAGRAM V.40 RESPONDEN MEMILIKI REMAJA DALAM KELUARGA

IYA TIDAK

36%

64%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Dari 48 responden yang memiliki remaja dalam keluarga, 3 responden atau hanya 6% responden
berpartisipasi dalam Kelompok Kegiatan BKR di Kampung KB, sedangkan 45 responden atau 94%
responden tidak berpartisipasi. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.41 berikut:

53
DIAGRAM V.41 REMAJA DI DALAM KELUARGA RESPONDEN BERPARTISIPASI DALAM
KELOMPOK BKR

IYA TIDAK

6%

94%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Dari 3 responden yang berpartisipasi dalam Kelompok Kegiatan BKR, 3 responden menilai bahwa
Kelompok Kegiatan BKR di Kampung KB sudah berjalan dengan baik. Hal tersebut sebagaimana
tergambar pada Diagram V.42 berikut:

DIAGRAM V.42 PENDAPAT RESPONDEN MENGENAI KELOMPOK BKR DI KAMPUNG KB ANDA

0 0 0 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak


Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Dari 48 responden yang memiliki remaja dalam keluarga, 7 responden atau hanya 15% responden
memiliki remaja yang berpartisipasi dalam kegiatan Pusat Informasi Kegiatan-Remaja (PIK-R)
Kampung KB, sedangkan 41 responden atau 85% responden lainnya, memiliki remaja dalam
keluarga namun tidak berpartisipasi dalam kegiatan PIK-R Kampung KB. Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.43 berikut:

54
DIAGRAM V.43 REMAJA DI DALAM KELUARGA BERPARTISIPASI DI DALAM KELOMPOK PIK-R

IYA TIDAK

15%

85%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

e. Lansia dalam Keluarga

Berdasarkan jawaban yang diberikan, responden yang memiliki lansia dalam keluarga adalah 24
responden atau 32% responden, sedangkan responden yang tidak memiliki lansia dalam keluarga
adalah 51 responden atau 68% responden. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram
V.44 berikut:

DIAGRAM V.44 RESPONDEN MEMILIKI LANSIA DI DALAM KELUARGA

55
IYA
32%

TIDAK
68%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

Dari 24 responden yang memiliki lansia dalam keluarga, 14 responden atau 58% responden
berpartisipasi dalam Kelompok Kegiatan BKL di Kampung KB, sedangkan 9 responden atau 42%
responden lainnya tidak berpartisipasi. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.45
berikut:

DIAGRAM V.45 LANGSIA DI DALAM KELUARGA RESPONDEN BERPARTISIPASI DALAM


KELOMPOK BKL DI KAMPUNG KB

TIDAK
42%

IYA
58%

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

56
Dari 14 responden yang berpartisipasi dalam Kelompok Kegiatan BKL, 14 responden menilai
bahwa Kelompok Kegiatan BKL di Kampung KB sudah berjalan dengan baik. Hal tersebut
sebagaimana tergambar pada Diagram V.46 berikut:

DIAGRAM V.46 PENDAPAT RESPONDEN MENGENAI KELOMPOK BKL DI KAMPUNG KB

14

0 0 0 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak


Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

f. Penilaian Program Kampung KB

Responden yang menilai bahwa Program Kampung KB sudah berjalan dengan baik adalah 41
responden (55% responden), sudah berjalan dengan cukup baik 31 responden, dan tidak berjalan
dengan baik 3 responden. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Diagram V.47 berikut:

DIAGRAM V.47 PENILAIAN SECARA UMUM RESPONDEN TERHADAP KAMPUNG KB DI


KELURAHANNYA

41
31

0 3 0

Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik Sangat Tidak


Baik

Sumber: Olahan Data Primer, 2018

BAB VI

57
Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat Kampung KB tentang Program Kampung


KB beragam namun terbatas. Program Kampung KB dipersepsikan sebagai program
pengendalian jumlah anak serta identik dengan alat kontrasepsi/alat KB, sedangkan
aspek kependudukan, pembangunan keluarga, maupun aspek lintas sektor Kampung
KB diketahui dan dipahami namun dengan terbatas.
b. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat Kampung KB tentang Program Kampung
KB bersumber dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PKB/PLKB di Kampung
KB. Kegiatan seperti sosialiasi mengenai Program Kampung KB, pertemuan forum-
forum di Kampung KB, kegiatan lokakarya dan pelatihan, kegiatan Tri Bina (BKB, BKR,
dan BKL) Kampung KB, kegiatan gotong royong dan kebersihan lingkungan, kegiatan
PKK, majelis taklim dan remaja masjid, serta kegiatan-kegiatan lainnya, menjadi
sumber pengetahuan masyarakat mengenai Program Kampung KB.
c. Masyarakat Kampung KB menerima pelayanan KB dan pelayanan kesehatan
disamping mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Kampung KB. Kegiatan
lintas sektor seperti pendataan dan pembuatan akte kelahiran dan Kartu Tanda
Penduduk (KTP) berkerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
(DISDUK CAPIL) Kota Tanjungpinang, seperti yang dilakukan di Kampung KB Tanjung
Unggat dan Kampung Dompak Lama, adalah salah satu contoh bentuk kerjasama
lintas sektor yang melengkapi pelayanan dan kegiatan Program Kampung KB. Namun,
cakupan kegiatan-kegiatan Kampung KB perlu diintensifkan agar dapat menjangkau
lebih banyak masyarakat di Kampung KB.
d. Jumlah PKB/PLKB dimasing-masing Kampung KB sudah proporsional, namun, perlu
ditambah jumlahnya untuk mempercepat dan memperluas penetrasi Program KKBPK
serta program-program pembangunan lainnya ke tengah-tengah masyarakat. Hal ini

58
mengingat bahwa cakupan wilayah Kampung KB yang luas serta banyaknya jumlah
penduduk yang perlu dibina. Jumlah PPKBD/Sub-PPKBD juga masih kurang karena
seharusnya dibentuk di setiap RT dimasing-masing Kampung KB dan tidak hanya
ditingkat RW semata. Kesulitan untuk merekrut kader, minimnya anggaran, serta
keengganan masyarakat untuk berpartisipasi adalah tantangan yang dihadapi
diseluruh Kampung KB di Kota Tanjungpinang.
e. Minimnya dukungan anggaran adalah salah satu tantangan yang dihadapi oleh
Program Kampung KB. Keengganan masyarakat untuk menjadi kader Kampung KB
dalam PPKBD/Sub-PPKBD atau terlibat dalam POKJA Kampung KB, juga dapat
diatribusikan pada minimnya insentif atau stimulan finansial yang tersedia.
f. Tersedianya sarana operasional seperti bangunan kantor atau sekretariat maupun
sarana pendukung lainnya, adalah salah satu indikator input yang sangat penting bagi
keberhasilan Program KKBPK di Kampung KB. Sarana operasional seperti bangunan
sekretariat Kampung KB sudah tersedia di masing-masing Kampung KB, namun
terbatas. Terbatasnya sarana operasional terletak pada bangunan kantor atau
sekretariat Kampung KB yang menumpang pada bangunan lainnya seperti
POSYANDU, POLINDES, Balai Penyuluhan, atau bangunan lainnya.
g. Kegiatan advokasi cukup sering dijalankan di Kampung KB dengan kualitas kegiatan
yang dipersepsikan sudah berjalan dengan baik. Kegiatan advokasi dilakukan kepada
tokoh-tokoh formal di kecamatan atau di kelurahan, maupun ke tokoh-tokoh
informal seperti Ketua RT atau Ketua RW. Bentuk kegiatan advokasi adalah dengan
berdiskusi atau bermusyawarah antar warga di Kampung KB atau dengan membawa
isu atau masalah-masalah kependudukan ke pemangku kebijakan setempat.
h. Kegiatan KIE sering dijalankan di Kampung KB dengan kualitas kegiatan yang
dipersepsikan sudah berjalan dengan baik. Kegiatan KIE umumnya dilaksanakan
setiap bulan dengan peserta lebih dari 15 orang pada tiap-tiap kegiatan. Kegiatan KIE
bervariasi antar Kampung KB dimana kegiatan yang paling sering dijalankan adalah
kegiatan sosialisasi. Kegiatan KIE memiliki tantangan yang umum dihadapi seperti:
masyarakat Kampung KB yang terkadang tidak acuh dengan pemahaman yang

59
diberikan oleh PKB/PLKB tentang Program KKBPK hingga pemahaman yang keliru
mengenai Program KB dan alat kontrasepsi sehingga pemahaman yang keliru
tersebut perlu diluruskan oleh PKB/PLKB.
i. Kegiatan pelayanan KB sering dijalankan di Kampung KB dengan kualitas kegiatan
yang dipersepsikan sudah berjalan dengan baik. Pelayanan KB umumnya disejalankan
bersamaan dengan kegiatan atau hari besar nasional. Bentuk pelayanan KB yang
paling umum adalah konseling tentang KB dan alat kontrasepsi, pemeriksaan
kesehatan ibu hamil dan menyusui, hingga imunisasi pada anak.
j. Kegiatan pelayanan KR hampir tidak pernah dijalankan di Kampung KB, namun,
kualitas kegiatan dipersepsikan berjalan dengan baik. Kegiatan pelayanan KR
umumnya disejalankan bersama dengan kegiatan pelayanan KB dimana sosialisasi
dan konseling kesehatan reproduksi merupakan kegiatan utama khususnya bagi
Pasangan Usia Subur (PUS) dan remaja.
k. POKTAN Kampung KB sering melakukan pertemuan berkala dan POKTAN yang paling
aktif melakukan pertemuan berkala adalah POKTAN BKB.
l. Ketua Rukun Tetangga (RT)/Ketua Rukun Warga (RW) melakukan pendataan di
Kampung KB. Bentuk pendataan terdiri dari pendataan bantuan sosial yang diterima
keluarga, jumlah anggota keluarga, jumlah penduduk, dan pendatang baru, rumah
tidak layak huni, jumlah balita, remaja, dan lansia dalam keluarga, keikutsertaan
keluarga dalam program KB hingga tingkat kesejahteraan keluarga.
m. Responden yang aktif sebagai peserta KB adalah 32 responden atau 43% responden,
sedangkan responden yang menyatakan tidak ikut sebagai peserta KB aktif adalah 43
responden atau 57% responden.
n. 52% responden memiliki balita dalam keluarga serta aktif berpartisipasi dalam
kegiatan POKTAN BKB di Kampung KB. Kualitas kegiatan POKTAN BKB juga
dipersepsikan sudah berjalan dengan baik.
o. 64% responden memiliki remaja dalam keluarga, namun tingkat partisipasi remaja
dalam kegiatan POKTAN BKR dan PIK-R di Kampung KB sangat rendah. Kualitas
kegiatan POKTAN BKR dan PIK-R juga dipersepsikan sudah berjalan dengan baik.

60
p. 32% responden memiliki lansia dalam keluarga serta aktif berpartisipasi dalam
kegiatan POKTAN BKL di Kampung KB. Kualitas kegiatan POKTAN BKL juga
dipersepsikan sudah berjalan dengan baik.
q. Program Kampung KB di Kota Tanjungpinang dinilai sudah berjalan dengan baik. Hal
ini ditandai dengan jumlah responden yang secara mayoritas menyatakan bahwa
Program Kampung KB sudah berjalan dengan baik.
2. Saran
Saran penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kampung KB di Kota Tanjungpinang dapat dikembangkan melalui pendekatan
kebudayaan, yaitu dengan mewujudkan Kampung KB Berbudaya. Kegiatan yang
dapat dilakukan adalah dengan membentuk kelompok-kelompok kegiatan sanggar
kesenian baik rebana, kompang, sanggar tari, maupun sanggar kesenian lainnya.
b. Kampung KB Kota Tanjungpinang dapat dikembangkan melalui pendekatan ekonomi
kerakyatan dengan mewujudkan Kampung KB mandiri. Kegiatan yang dapat
dilakukan adalah dengan cara membina UPPKS Kampung KB dalam bentuk usaha,
seperti: kuliner khas Melayu, usaha anyaman tikar, kerajinan khas masing-masing
Kampung KB atau kerajinan khas Tanjungpinang.
c. Kampung KB diharapkan dapat bersinergi dan menjadi prioritas Pemerintah Daerah
Provinsi Kepulauan Riau, BKKBN Provinsi Kepulauan Riau, BKKBN Perwakilan Provinsi
Kepulauan Riau, Pemerintah Daerah Kota Tanjungpinang, serta pemangku
kepentingan lainnya. Diharapkan dengan sinergitas dan prioritas, Kampung KB dapat
aktif dan menjangkau masyarakat lebih luas dengan dukungan pemerintah daerah
dan swadaya masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan skema
Kampung KB.

Referensi

61
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2015. Rencana Strategis Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Tahun 2015-2019. Jakarta. Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2017. Review Program Kependudukan,
Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga Tahun 2017: Provinsi Sumatera Barat. Padang:
Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. 2015. Petunjuk Teknis Kampung
Keluarga Berencana. Jakarta: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Badan Pusat Statistik Kota Tanjungpinang. 2018. Kecamatan Bukit Bestari dalam Angka 2018.
Tanjungpinang: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Kota Tanjungpinang. 2018. Kecamatan Tanjungpinang Barat dalam Angka
2018. Tanjungpinang: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Kota Tanjungpinang. 2018. Kecamatan Tanjungpinang Kota dalam Angka
2018. Tanjungpinang: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Kota Tanjungpinang. 2018. Kecamatan Tanjungpinang Timur dalam Angka
2018. Tanjungpinang: Badan Pusat Statistik.

Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kota Tanjungpinang. Kampung KB Kota


Tanjungpinang (diakses pada: 5 November 2018 dilaman http://dinkes-
tanjungpinang.info/index.php/142-berita/843-kampung-kb-kota-tanjungpinang)

Mardiyono. 2017. Kampung KB Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat/Keluarga di Jawa


Timur. Jurnal Cakrawala. Vol. 11, No. 2, Desember 2017, hal. 129-136.

Mutrofin. 2010. Evaluasi Program: Teks Pilihan Untuk Pemula. Yogyakarta: LaksBang PRESSIndo.

62
Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009, Nomor 161. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Sardjo, S., Darmajanti, L., Boediono, K. 2017. Implementasi Model Evaluasi Formatif Program
Pembangunan Sosial. Jakarta: Obor.

Setiawati, E. 2017. Persepsi Masyarakat Terhadap Program Kampung Keluarga Berencana di


Kelurahan Pantoloan Boya Kecamatan Tawaeli. E-Journal Geo-Tadulako UNTAD. Vol. 5,
Nomor. 1 Tahun 2017.

Subarsono, AG. 2011. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sudaryono. 2017. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kebijakan. Bandung: Alfabeta.

Zuhriyah, A., Indarjo, S., Raharjo, B. 2017. Kampung Keluarga Berencana dalam Peningkatan
Efektivitas Program Keluarga Berencana. Higeia Journal of Public Health Research and
Development. Vol. 1, Nomor. 4 Tahun 2017, hal 1-13.

63