Anda di halaman 1dari 13

DESINFEKTAN

Bagus Suciantoro (2017430029); Dwi Prambudi (2017430031); Fahmi Yusuf A.


(2017430033); Firdaus Aditama (2017430035)

Desinfektan adalah substansi kimia yang dipakai untuk mencegah pertumbuhan


mikroorganisme dengan menghalangi /merusaknya dan biasa digunakan pada benda-benda
mati (Depkes RI, 1996).

Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk
mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga
untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.
Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau
membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan
hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan,
peralatan dan pakaian.

Desinfeksi adalah suatu cara untuk mematikan bakteri vegetative, virus dan jamur tetapi
tidak mematikan spora. Bahan yang biasa digunakan sebagai desinfektan ada yang
berbentuk padat, cair dan butiran. ( Sanropie, 1989 ).

Proses desinfeksi dimulai dengan mengeluarkan alat/bahan yang tidak dipergunakan di


dalam ruang kemudian dilakukan pembersihan meliputi lantai, dinding dan alat-alat yang
terdapat di ruangan dengan menggunakan detergen / anti septic. Di ruang bedah, setelah
selesai pembersihan ruangan kemudian dilanjut dengan proses fogging yaitu dengan cara
pengabutan atau pengasapan dengan menggunakan resiguard concentration ke seluruh
ruangan. Kemudian ruangan siap untuk disterilisasi dan ruangan ditutup rapat.
(KepMenKes RI, 2004).
Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan
desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya
batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak
merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan
juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan
kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai
bahan dalam proses sterilisasi.

Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan
efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan. Dalam proses
desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia
(penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia,
khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.

Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya
dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia
yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung
gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan
halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi,
golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida.

Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan glutaraldehid)
dan halogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme Staphylococcus aureus dan
Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin dengan tujuan untuk mengetahui
keefektifan dari disinfektan turunan aldehid dan halogen yang dibandingkan dengan fenol
dengan metode uji koefisien fenol . Fenol digunakan sebagai kontrol positif, aquadest
sebagai kontrol negatif dan larutan aldehid dan halogen dalam pengenceran 1 : 100 sampai
1 : 500 dicampur dengan suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi
resisten ampisilin yang telah diinokulum, keburaman pada tabung pengenceran
menandakan bakteri masih dapat tumbuh. Nilai koefisien fenol dihitung dengan cara
membandingkan aktivitas suatu larutan fenol dengan pengenceran tertentu yang sedang
diuji. Hasil dari uji koefisien fenol menunjukan bahwa disinfektan turunan aldehid dan
halogen lebih efektif membunuh bakteri Staphylococcus aureus dengan nilai koefisien fenol
3,57 ; 5,71 ; 2,14 ; 2,14 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit,
begitu juga dengan bakteri Salmonella typhi, disinfektan aldehid dan halogen masih lebih
efektif dengan nilai koefisien fenol 1,81 ; 2,72 ; 2,27 dan 2,27 berturut-turut untuk
formalin, glutaraldehid, iodium dan hipoklorit.

A. Ciri-ciri Desinfektan
Ciri-ciri desinfektan yang ideal yaitu :
a. Aktivitas antimicrobial.
Kemampuan subtansi untuk mematikan berbagai macam mikroorganisme.
b. Kelarutan.
Substansi itu harus dapat larut dalam air atau pelarut-pelarut lain sampai pada
taraf yang diperlukan untuk dapat digunakan secara efektif.
c. Stabilitas.
Perubahan yang terjadi pada substansi itu bila dibiarkan beberapa lama harus
seminimal mungkin dan tidak boleh menghilangkan sifat antimikrobialnya.

d. Tidak bersifat racun bagi makhluk hidup.


Bahwa substansi tersebut harus bersifat letal bagi mikroogranisme dan
tidak berbahaya bagi manusia ataupun hewan lain.
e. Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap.
Sebaiknya desinfektan tersebut tidak berbau atau hendaknya menimbulkan
bau sedap.
f. Berkemampuan sebagai detergen
Suatu desinfektan juga merupakan detergen yang efeknya juga sebagai
pembersih.
g. Ketersediaan dan biaya
Desinfektan harus tersedia dalam jumlah besar dan dengan harga yang
pantas.
h. Keserbasamaan (homogenity)
Dalam penyiapan komposisinya harus seragam.
i. Aktifitas antimikrobial pada suhu kamar atau suhu tubuh.
Aktifitas desinfektan digunakan pada suhu yang biasa dijumpai pada
lingkungan untuk penggunaan senyawa yang bersangkutan.
j. Kemampuan untuk menembus.
Bila substansi dapat menembus permukaan, maka aksi antimikrobialnya
hanya terbatas pada siklus aplikasinya saja.
k. Tidak menimbulkan karat dan warna
Maksudnya suatu desinfektan diupayakan tidak menimbulkan warna atau
merusak kain.
l. Tidak bergabung dengan bahan organikK
Karena apabila bergabung dengan bahan organik, maka sebagian besar
desinfektan tersebut akan menjadi aktif. ( Pelcjar, 1986).

B. Pemilihan Bahan Desinfektan


Untuk mencapai tujuan yang maximal dalam pemilihan bahan desinfektan, faktor–
faktor yang harus diperhatikan adalah:
a. Kosentrasi dan intensitas zat antimikrobial.
Makin tinggi konsentrasi atau makin besar intensitas yang diberikan
maka makin cepat sel – sel atau sasaran akan mati dan terbunuh.
b. Jumlah Mikroorganisme
Diperlukan waktu yang lama untuk membunuh populasi. Bila jumlah
selnya banyak maka perlakuan diberikan lebih lama supaya yakin
bahwa sel tersebut akan mati.
c. Suhu
Kenaikkan suhu dapat mempercepat atau menaikkan keefektifan
suatu desinfektan.
d. Spesies mikroorganisme.
Spesies mikroorganisme menunjukkan kerentanan yang berbeda-
beda terhadap tempat dan bahan kimia.
e. Adanya bahan mikroorganisme lain
Adanya bahan organik asing dapat menurunkan keefektifan zat kimia
dengan cara menginaktifkan bahan – bahan tersebut atau melindungi
mikroorganisme.
f. pH
Mikroorganisme yang terdapat pada bahan dengan pH asam dapat
dibasmi pada suhu yang lebih rendah dan dalam waktu singkat
dibandingkan mikroorganisme yang sama di lingkungan pH basa.
g. Sifat bahan yang akan diberi perlakuan
Desinfektan yang digunakan untuk perabotan yang terkontaminasi ,
maka tidak boleh kontak langsung dengan kulit. ( Pelcjar, 1986 ).

C. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Aktivitas Desinfektan


1. Sifat bahan yang akan didesinfeksi
Permukaan benda yang paling mudah didesinfeksi adalah
permukaan benda yang sifatnya licin tanpa pori-pori dan mudah
dibersihkan. Permukaan yang berpori-pori sulit untuk didesinfeksi
terutama bila mikroorganisme terperangkap di dalam pori-pori tersebut
bersamaan dengan bahan-bahan organik.

2. Jumlah mikroorganisme yang terdapat pada benda yang akan


didesinfeksi.
Makin banyak jumlah mikroorganisme pada permukaan benda
yang akan didesinfeksi, makin panjang waktu pemaparan dengan
desinfektan yang dibutuhkan sebelum seluruh populasi mikroorganisme
dapat dibunuh.

3. Sifat mikroorganisme itu sendiri


Sifat mikroorganisme mempengaruhi daya tahannya terhadap
desinfektan. Yang paling tahan terhadap desinfektan adalah spora
bakteri.

4. Jumlah bahan organik yang mencemari alat yang akan didesinfeksi.


Darah, lender atau feses yang mencemari alat/bahan yang akan
didesinfeksi memegang peranan penting dalam keberhasilan tindakan
desinfeksi, karena dengan adanya bahan organik tersebut,
mikroorganisme terlindung dari aktifitas desinfektan.

5. Jenis dan konsentrasi desinfektan yang digunakan.


Umumnya bila konsentrasi desinfektan dinaikkan, waktu
pemaparan makin pendek.

6. Lama dan suhu pemaparan


Secara umum, makin lama waktu pemaparan terhadap
desinfektan, makin besar daya bunuh kuman terjadi. Tetapi hal ini tidak
berlaku terhadap desinfektan tingkat rendah karena walau berapa lama
pun pemaparan dilakukan, hanya mampu membunuh mikroorganisme
tertentu sesuai dengan kemampuannya. Makin tinggi suhu pemaparan,
makin tinggi daya bunuh kuman dari desinfektan tersebut (Depkes RI,
1996).

2.5 Penggolongan Desinfektan


Desinfektan dapat digolongkan dalam beberapa kelompok, yakni (Harper &
Row, 1984) :
1. Senyawa halogen
Klor dan yodium merupakan dua unsur halogen yang dalam
banyak hal telah digunakan karena sifatnya yang anti mikroorganisme.
a. Yodium
Yodium telah digunakan secara luas untuk desinfeksi kulit dan
bersifat germisida terhadap hampir semua kuman pathogen,
termasuk fungi dan virus. Begitu pula spora, walaupun
diperlukan waktu lebih lama. Yodium mungkin pula digunakan
untuk mendesinfeksi berbagai barang peralatan dan untuk sanitasi
instrumen tertentu.

b. Klor
Elemen berbentuk gas ini berkhasiat bakterisid kuat yang dalam
konsentrasi kecil dapat dengan cepat membunuh kebanyakan
bakteri, spora, fungi, dan virus. Penggunaan utamanya adalah
sebagai desinfeksi lantai, air minum, dan kolam renang
(Dwidjoseputro, 1978).

2. Senyawa Fenol
a. Fenol
Larutan fenol (2-4)% berguna sebagai desinfektan. Karbol
merupakan nama lain untuk fenol. Fenol juga digunakan sebagai
standar untuk pembanding dengan desinfektan lain
(Dwidjoseputro, 1978).

b. Kresol
Merupakan derivate metal dengan minimal 50% metakresol,
khasiatnya 3 kali lebih kuat daripada fenol, sedangkan
toksisitasnya sama. Digunakan sebagai desinfektan rumah tangga
dan peralatan, misalnya lysol dan kreotin.

3. Zat-zat dengan aktifitas permukaan


a. Zat non ionogen
Dalam larutan tidak terurai menjadi ion. Khasiat anti bakterinya
ringan.

b. Zat ionogen
Zat-zat ini dapat dibagi dalam senyawa anionaktif dan kationaktif.
a) Zat anionaktif (sabun, bahan pembersih sintetis, Na
laurilsulfat). Zat-zat ini memiliki khasiat bakteriostatis
terhadap kuman gram positif, sedangkan terhadap kuman
gram negative tidak aktif.
b) Zat kationaktif, kerjanya lebih kuat terhadap kuman gram
positif daripada terhadap kuman gram negative, tidak aktif
terhadap mycobacteriae, virus dan spora.

c. Sabun
Sabun adalah garam natrium atau kalium dari asam lemak dan
memiliki khasiat bakteriostatis terhadap banyak kuman antara
lain Psedomonas, Proteus, dan Salmonella. Sabun sama sekali
tidak aktif terhadap E.coli dan Staphylococcus .

d. Basa ammonium kuarterne : Quats


Senyawa ini berkhasiat bakterisid dan fungisid kuat kecuali
terhadap basil TBC/lepra, terhadap spora dan virus kurang aktif.
Daya kerjanya lebih lambat daripada yodium dan etanol.
Quats sering sekali digunakan sebagai desinfektan kulit.
Penggunaan lainnya adalah sebagai desinfektan instrument
ditambah dengan natriumnitrit guna mencegah timbulnya karat
dan antiseptikum pra bedah.

4. Alkohol, Aldehida, dan Asam


a. Etanol
Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Etanol dan
juga isopropanol pada kadar 60-80% dalam air berkhasiat
bakterisid dan fungisid kuat, yang bekerja cepat. Spectrum
kerjanya meliputi kuman gram negatif dan gram positif, termasuk
basil TBC, tetapi tidak efektif terhadap spora. Terhadap virus
dibutuhkan konsentrasi yang relative lebih tinggi dan dalam
lingkungan basa.

b. Formaldehid
Larutan gas ini dalam air berkhasiat bakterisid, fungisid dan
virusid, termasuk terhadap basail TBC, tetapi kerjanya relatif
lambat (beberapa jam).

c. Asam asetat
Asam cuka berkhasiat bakterisid dan sangat aktif terhadap
Pseudomonas dan Hemofilus.

5. Senyawa logam berat


a. Merkuriklorida, berkhasiat bakteriosatis dan fungistatis.
b. Merbromin peraknitrat, bekerja bakteriostatis lemah terhadap
staphylococci dan streptococci.
c. Peraknitrat, ion perak bersifat bakterisid kuat.
d. Silversulfadiazin, senyawa kompleks dari perak dengan
sulfaidiazin ini memiliki kerja bakterisid kuat terhadap banyak
bakteri.
e. Sengsulfat, berkhasiat bakteriostatis lemah

6. Oksidansia
a. Hydrogenperoksida, merupakan antiseptikum yang relative
lemah dengan kerja singkat.
b. Kaliumpermanganat, daya kerjanya agak lambat.
c. Kaliumklorat, zat ini merupakan suatu oksidator yang berkhasiat
bakteriostatis.
d. Natriumperborat, digunakan sebagai desinfektan dan deodorans
mulut.

7. Lain-lain
a. Belerang, elemen ini memiliki khasiat bakterisid dan fungisid
lemah.
b. Ichtammol, memiliki kerja bakteriostatis lemah, juga anti radang
dan anti gatal.
c. Balsam peru, berkhasiat bakteriostatis lemah.
d. Gentianviolet, berkhasiat bakterisid terhadap kuman gram positif,
dan fungisid terhadap beberapa jamur pathogen.
e. Nitrofural, memiliki sifat bakterisid etilenoksida, bersifat
bakterisid, fungisid, virusid dan juga sporosid.
f. Heksetidin, berkhasiat terhadap kuman gram positif dan gram
negatif, protozoa dan ragi Cadinda albicans.

D. Mekanisme Kerja Desinfektan


Cara kerja desinfektan berdasarkan proses-prosesnya adalah sebagai
berikut (Tan & Kirana, 2002) :
1. Kerusakan pada dinding sel
Struktur dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat
pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai dibentuk.

2. Perubahan permeabilitas sel


Membran sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu di dalam sel
serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain. Kerusakan
pada membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel
atau matinya sel.

3. Perubahan molekul protein dan asam nukleat


Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul
protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya. Suatu kondisi atau
subtansi mengubah keadaan ini, yaitu mendenaturasikan protein dan
asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa diperbaiki kembali.

4. Penghambatan kerja enzim


Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda yang ada di dalam
sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat.
Banyak zat kimia diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia.
Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau
matinya sel.

5. Penghambatan sintetis asam nukleat dan protein


DNA, RNA, dan protein memegang peranan amat penting di dalam
proses kehidupan normal sel. Hal ini berarti bahwa gangguan apapun
yang terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat
mengakibatkan kerusakan total pada sel.

E. Penggunaan Desinfektan
Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. Desinfektan akan
membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan
maupun dari staf medis yang ada di rumah sakit dan juga membantu mencegah
tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Perlu diperhatikan bahwa
desinfektan harus digunakan secara tepat.
a. Desinfektan tingkat rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan :
1. Golongan pertama
a) Desinfektan yang tidak membunuh virus HIV dan Hepatitis B.
1. Klorhexidine (Hibitane, Savlon).
2. Cetrimide (Cetavlon, Savlon).
3. Fenol-fenol (Dettol).
Desinfektan golongan ini tidak aman untuk digunakan :
1. Membersihkan cairan tubuh (darah, feses, urin dan dahak).
2. Membersihkan peralatan yang terkena cairan tubuh misalnya
sarung tangan yang terkena darah.
3. Klorheksidine dan cetrimide dapat digunakan sebagai desinfekan
kulit
4. fenol-fenol dapat digunakan untuk membersihkan lantai dan
perabot seperti meja dan almari namun penggunaan air dan sabun
sudah dianggap memadai.

2. Golongan kedua
b) Desinfektan yang membunuh Virus HIV dan Hepatitis B.

 Desinfektan yang melepaskan klorin.


Contoh : Natrium hipoklorit (pemutih, eau de javel),
Kloramin (Natrium tosilkloramid, Kloramin T) Natrium
Dikloro isosianurat (NaDDC), Kalsium hipoklorit (soda
terklorinasi, bubuk pemutih).

 Desinfektan yang melepaskan Iodine misalnya : Povidone


Iodine (Betadine, Iodine lemah)
1. Alkohol : Isopropil alkohol, spiritus termetilasi, etanol.
2. Aldehid : formaldehid (formalin), glutaraldehid (cidex).
3. Golongan lain misalnya : Virkon dan H2O2.

F. Jenis – Jenis Desinfektan Yang Biasa Dipakai Di Rumah Sakit


a. Lysol mengandung bahan aktif lisol yang merupakan campuran kresol dan
sabun. Menurut Volk dan Wheeler ( 1989 ) lisol sangat efektif sebagai
bakterisid, dan kerjanya tidak banyak dirusak oleh adanya bahan organik.
b. Germisep mengandung Sodium Dikloroisocyanurate (NaDCC)
c. So klin lantai mengandung Benzalkonium Klorida 1,5%,
d. Rinso mengandung Natrium Alkilbenzena Sulfonat 22%, Natrium Fosfat
10% dan Natrium Karbonat 30%
e. Bayclin mengandung NaClO 5,25%
f. Karbol mengandung Pine Oil dan Creasylic Acid
g. Wipol mengandung bahan aktif minyak atsiri yaitu minyak cemara. Menurut
Lutony dan Rahmayati ( 2002 ), salah satu kegunaan minyak atsiri yaitu
pembunuh bakteri, sehingga dapat digunakan dalam membersihkan lantai
rumah sakit sebagai upaya mencegah infeksi nosokomial.