Anda di halaman 1dari 12

RESUME

ANALISA LAPORAN KEUANGAN

BAB 4 ANALISIS RASIO : PENDAHULUAN

Dosen Pengampu:

Maria Yanida, SE., MSA, Ak, CA

Disusun Oleh :

GABRIELA WINONAKIYANI ANGELIKA

BCA 116 286

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKARAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
2019
ANALISIS RASIO: PENDAHULUAN

Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan biasanya terdiri dari tiga
macam, yaitu:
1. Laporan Rugi-Laba
2. Neraca
3. Laporan Aliran Kas
Ketiga laporan tersebut diatas, disertai catatan atas laporan keuangan (accomany notes)
akan memberikan gambaran kondisi keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan menjadi
penting karena memberikan input (informasi) yang bisa dipakai untuk pengambilan
keputusan. Laporan keuangan akan memberikan informasi mengenai profitabilitas, risiko,
timing aliran kas, yang kesemuanya akan mempengaruhi harapan pihak-pihak yang
berkepentingan.

A. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis laporan keuangan yaitu:
1. Dalam analisis, analisis juga harus mengidentifikasi adanya trend-trend tertentu
dalam laporan keuangan. Untuk itu laporan keuangan lima atau enam tahun lagi
barangkali bisa digunakan untuk melihat munculnya trend tertentu.
2. Angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknya. Maka dari itu
diperlukan pembanding yang bisa dipakai untuk melihat baik tidaknya angka yang
dicapai oleh perusahaan. Rata-rata industri bisa dan biasa dipakai sebagai
pembanding.
3. Dalam analisis perusahaan, membaca dan mengnalisis laporan keuangan dengan hati-
hati adalah penting. Diskusi atau pernyataan-pernyataan yang melengkapi laporan
keuangan, seperti diskusi strategi perusahaan, diskusi rencana ekspansi dan
restrukturisasi, merupakan bagian intregal yang harus dimasukkan dalam analisis.
4. Analisis barangkali akan memerlukan informasi lain. Kadang kala semua informasi
yang diperlukan bisa diperoleh melalui analisis mendalami laporan keuangan. Kadang
kala informasi tambahan di luar laporan keuangan diperlukan. Informasi tambahan ini
bisa member analisis yang lebih tajam lagi. Contoh, analisis penurunan penjualan bila
disertai dengan analisis perkembangan market shareakan memberi pandangan baru
kenapa penjualan bisa menurun.

2
B. ANALISIS COMMONSIZE
Analisis common size disusun dengan jalan menghitung tiap-tiap rekening dalam laporan
rugi-laba dan neraca menjadi proporsi dari total penjualan (untuk laporan rugi-laba) atau dari
total aktiva (untuk neraca). Cara semacam ini memudahkan pembacaan data-data keuangan
untuk beberapa periode (untuk mencari trendstren tertentu).

C. ANALISIS RASIO
Rasio-rasio keuangan pada dasarnya disususn dengan menggabungkan angka-angka di
dalam atau antara laporan rugi-laba dan neraca. Dengan cara rasio semacam itu diharapkan
pengaruh perbedaan ukuran akan hilang. Misalkan dua perusahaan mempunyai aktiva lancar
yang berbeda, Rp 10 juta untuk perusahaan A dan Rp 5 juta untuk perusahaan B. Secara
sepintas nampak bahwa perusahaan A lebih likuid karena mempunyai kas yang lebih tinggi.
Tetapi kalau perusahaan tersebut mempunyai hutang semacam ini, perusahaan A Rp 10 juta
dan perusahaan B Rp 2,5 juta likuiditas kedua perusahaan tersebut akan berlainan.
Perusahaan A mempunyai aktiva lancar Rp 10 juta tetapi harus menanggung hutang lancar
Rp 10 juta sedangkan perusahaan B mempunyai aktiva lancar Rp 5 juta tetapi hanya
menanggung hutang setengahnya yaitu Rp 2,5 juta. Rasio-rasio keuangan menghilangkan
pengaruh ukuran dan membuat ukuran bukan dalam angka absolute, tetapi dalm rangka
relative seperti contoh di atas tersebut.
Pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan ke dalam lima macam kategori, yaitu:
1. Rasio Likuiditas
2. Rasio Aktivitas
3. Rasio Solvabilitas
4. Rasio Profitabilitas
5. Rasio Pasar
Kelima rasio tersebut ingin melihat prospek dan risiko perusahaan pada masa mendatang.
Faktor dalam rasio tersebut akan mempengaruhi harapan investor terhadap perusahaan pada
masa-masa mendatang.

1. Rasio Likuiditas
Rasio yang mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat
aktiva lancar perusahaan relative terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan

3
kewajiban perusahaan). Meskipun rasio ini tidak bicara masalah solvabilitas (kewajiban
jangka panjan), dan biasanya relative tedak penting dibandingkan rasio solvabilitas, tetapi
rasio likuiditas yang jelek dalam jangka panjang juga akan mempengaruhi solvabilitas
perusahaan. Dua rasio likuiditas jangka pendek yang sering digunakan adalah rasio lancer
dan rasio quick (sering juga disebut acid test ratio). Rasio solvabilitas pentuing karena
mencakup total hutang (termasuk kewajiban jangka pendek, atau rasio likuiditas).
Rasio lancar mengukur kemampuan perusahaan memenuhi hutang jangka pendeknya dengan
menggunakan aktiva lancarnya (aktiva yang akan berubah menjadi kas dalam waktu satu
tahun atau satu siklus bisnis). Berikut ini perhitungan rasio untuk perusahaan ABC .

Aktiva Lancar 7.539


Rasio Lancar = Hutang Lancar = = 2,2
3.400

Rasio di atas bisa diinterpretasikan sebagai berikut : Setiap Rp 1 hutang dijamin oleh Rp 2,2
aktiva lancer. Rasio lancar untuk perusahaan yang normal berkisar pada angka 2, meskipun
tidak ada standar yang pasti untuk penentuan rasio lancar yang seharusnya. Rasio yang
rendah menunjukkan risiko likuiditas yang tinggi, sedangkan rasio lancar yang tinggi
menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar, yang akan mempunyai pengaruh yang tidak
baik terhadap profitabilitas perusahaan. Aktiva lancar secara umum menghasilkan return
yang lebih rendah dibandingkan dengan aktiva tetap.
Dari ketiga komponen aktiva lancar (kas, piutang dan persediaan), persediaan biasanya
dianggapmerupakan asset yang paling tidak likuid. Hal ini berkaitan dengan semakin
panjangnya tahap yang dilalui untuk sampai menjadi kas, yang berarti waktu yang
diperlukan untuk menjadi kas semakin lama, dan juga ketidakpastian nilai persediaan.
Meskipun persediaan dicantumkan dalam nilai perolehan/cost, sedangkan apabila persediaan
laku, kas yang diperoleh sama dengan nilai jual yang secara umum lebih besar dibandingkan
dengan nilai perolehan. Dengan alas an diatas, persediaan dikeluarkan dari aktiva lancar
untuk perhitunagn rasio quick. Berikut perhitungan rasio Quick. :
Aktiva Lancar−Persediaan 7.539−2.623
Rasio Quick = = = 1,4
Hutang Lancar 3.400
Angka diatas bisa diinterpretasikan sebagai berikut : “setiap Rp 1 hutang dijamin oleh Rp 1,4
aktiva lancar diluar persediaan”.
Sama seperti halnya rasio lancar, angka yang terlalu tinggi untuk persediaan menunjukkan
indikasi kelebihan kas atau piutang, sedangkan angka yang terlalu kecil menunjukkan risiko
likuiditas yang lebih tinggi.
4
2. Rasio Akivitas
Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas
aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat
penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada
aktiva-aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva
lain yang lebih produktif. Empat rasio aktivitas yang akan dibicarakan adalah:
1. Rata-Rata Umur Piutang,
2. Perputaran Persediaan,
3. Perputaran Aktiva Tetap
4. Perputaran Total aktiva
Rata-rata umur piutang melihat berapa lama yang diperlukan untuk melunasi piutang
(merubah piutang menjadi kas). Semakin lama rata-rata piutang berarti semakin besar dana
yang tertanam pada piutang. Rata-rata umur piutang bisa dihitung melalui dua tahap yaitu
dengan menghitung perputaran piutang dan kemudian menghitung rata-rata umur piutang.
Penjualan
Perputaran piutang = Piutang

Rata-rata umur Piutang = 365/ Perputaran


piutang

Alternatif lain adalah rumus yang lebih singkat sebagai berikut :

Piutang Dagang
Rata-rata umur piutang =
Penjualan/365

Rasio aktivitas yang kedua adalah rasio perputaran persediaan. Berikut ini perhitungannya:

Harga pokok penjualan


Perputaran persediaan = Persediaan

Rata-rata umur Persediaan = 365/ Perputaran persediaan

Rata-rata umur persediaan bisa dihitung langsung sebagai berikut :

Persediaan
Rata-rata umur persediaan =
HPP/365

5
Alternatif lain adalah dengan menggunakan rata-rata persediaan untuk persediaan. Rata-rata
persediaan bisa dihitung sebagai berikut :

Persediaan awal+Persediaan Akhir


2

Perputaran persediaan yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan berputar


dalam satu tahun dan ini menandakan efektivitas manajemen persediaan. Sebaliknya,
perputaran persediaan yang rendah menandakan tanda-tanda mis-manajemen seperti
kurangnya pengendalian persediaan yang efektif.
Perputaran aktiva tetap bisa dihitung dengan cara formula di bawah ini:

Penjualan
Perputaran Aktiva Tetap =
Aktiva tetap

Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan


berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana
efektifitas perusahaan menggunakan aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin
efektif penggunaan aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri seperti industri yang
mempunyai proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan.
Sedangkan pada beberapa industry yang lain seperti industri jasa yang mempunyai proporsi
aktiva tetap yang kecil, rasio ini barang kali relatif tidak begitu penting untuk diperhatikan.
Rasio yang terakhir untuk komponen rasio aktivitas adalah rasio perputaran total aktiva.
Rasio menggunakan formula sebagai berikut:

Penjualan
Perputaran Total Aktiva =
Total Aktiva

Sama seperti halnya rasio perputaran aktiva tetap, rasio ini menghitung efektivitas
penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukkan menejemen yang baik,
sebaliknya rasio yang rendah harus membuat menejemen mengevaluasi strategi,
pemasarannya, dan pengeluaran modalnya (investasi).

6
3. Rasio Solvabilitas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka
panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total hutangnya lebih
besar dibandingkan total asetnya. Rasio ini mengukur likuiditas jangka panjang perusahaan
dan dengan demikian memfokuskan pada sisi kanan neraca. Ada beberapa macam rasio yang
bisa dihitung : rasio total hutang terhadap total aset, rasio hutang modal saham rasio Times
Interest Earned, rasio fixed charges coverage.

Total hutang
Rasio total hutang terhadap total aset =
Total Aset

Rasio ini menghitung seberapa jauh dana disediakan oleh kreditur. Rasio yang tinggi
berarti perusahaan menggunakan leverage keuangan (financial leverage) yang tinggi.
Penggunaan financial leverage yang tinggi akan meningkatkan Rentabilitas Modal Saham
(Return On Equity atau ROE) dengan cepat, tetapi sebaliknya apabila penjualan menurun,
rentabilitas modal Saham (ROE) akan menurun cepat pula. Risiko perusahaan dengan
financial leverage yang tinggi akan semakin tinggi pula.

Rasio lainnya adalah Times Interest Earned yang dihitung sebagai berikut ini:

Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT)


TIE =
Bunga

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan membayar hutang dengan laba sebelum
bunga pajak.

Bisa juga dikatakan rasio ini menghitung seberapa besar laba sebelum bunga dan pajak
yang tersedia untuk menutup beban tetap bunga. Rasio yang tinggi menunjukkan situasi yang
"aman", meskipun barangkali juga menunjukkan terlalu rendahnya penggunaan hutang
(penggunaan financial leverage) perusahaan. Sebaliknya, rasio yang rendah memerlukan
perhatian dari pihak manajemen.
Kalau TIE mengukur kemampuan perusahaan membayar beban tetap bunga, rasio lain
akan menghitung kemampuan perusahaan membayar beban tetap total, termasuk biaya sewa.
Rasio ini dinamakan rasio fixed charge coverage. Berikut ini formula perhitungan rasio
tersebut.

7
EBIT+Biaya sewa
Fixed charge Coverage =
Bunga+Biaya Sewa

Rasio di atas memperhitungkan sewa, karena meskipun sewa bukan hutang, tetapi
merupakan beban tetap dan mengurangi kemampuan hutang (debt capacity) perusahaan.
Beban tetap tersebut mempunyai efek yang sama dengan beban bunga.

4. Rasio Profitabilitas
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas)
pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham yang tertentu. Ada tiga rasio yang sering
dibicarakan, yaitu: profit margin, return oil total asset (ROA), dan return on equity (ROE).
Profit margin menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih
pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa dililiat secara langsung pada analisis common
size untuk laporan rugi-laba (baris paling akhir). Rasio ini bisa diinterpretasikan juga sebagai
kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode
tertentu. Rasio profit margin bisa dihitung sebagai berikut:

Laba bersih
Profit margin =
Penjualan

Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba tinggi
pada tingkat penjualan tertentu. Profit margin yang rendah menandakan penjualan yang
terlalu rendah untuk tingkat biaya yang tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi untuk tingkat
penjualan yang tertentu, atau kombinasi dari kedua hal tersebut. Secara umum rasio yang
rendah bisa menunjukkan ketidakefisienan manajemen. Rasio ini cukup bervariasi dari
industri ke industri, sebagai contoh industri retailer cenderung mempunyai profit margin yang
lebih rendah dibandingkan dengan industri manufaktur.
Rasio profitabilitas yang lain adalah Return On Total Asset (ROA). Rasio ini mengukur
kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset yang tertentu.
ROA juga sering disebut juga sebagai ROI (Return On Investment). Rasio ini bisa dihitung
sebagai berikut:

Laba bersih
ROA =
Total aset

8
Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset, yang berarti efisiensi
manajemen.
Rasio profitabilitas yang lain adalah Return On Equity (ROE). Rasio ini mengukur
kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu. Rasio ini
merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham. Rasio ROE bisa
dihitung sebagai berikut:

Laba Bersih
ROE =
Modal saham

Meskipun rasio ini mengukur laba dari sudut pandang pemegang saham, rasio ini tidak
memperhitungkan dividen maupun capital gain untuk pemegang saham. Karena itu rasio ini
bukan pengukur return pemegang saham yang sebenarnya. ROE dipengaruhi oleh ROA dan
tingkat leverage keuangan perusahaan.

5. Rasio Pasar
Rasio yang terakhir adalah rasio pasar yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai
buku. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasar pada sudut investor (atau calon
investor), meskipun pihak manajemen juga berkepentingan terhadap rasio-rasio ini. Ada
beberapa rasio yang bisa dihitung: PER (Price Earning Ratio), dividend yield, dan pembayar
dividend (dividend payout).PER melihat harga saham relatif terhadap earning-nya. PER bisa
dihitung sebagai berikut:

Harga pasar per lembar


PER =
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 per lembar

Perusahaan yang diharapkan akan tumbuh tinggi (mempunyai prospek baik) mempunyai
PER yang tinggi, sebaliknya Perusahaan yang diharapkan mempunyai pertumbuhan rendah
akan mempunyai PER yang rendah. Dari segi investor, PER yang terlalu tinggi barangkali
tidak menarik karena harga saham barangkali tidak akan naik lagi, yang berarti kemungkinan
memperoleh capital gain akan lebih kecil.Rasio yang lain adalah dividend yield yang
dihitung sebagai berikut ini :

Dividen per lembar


Dividend Yield =
Harga pasar saham per lembar

9
Dari segi investor, rasio ini cukup berarti karena dividend yield merupakan sebagian dari
total return yang akan diperoleh investor. Bagian return yang lain adalah capital gain
diperoleh dari selisih positif antara harga jual dengan harga beli. Apabila selisih negatif yang
terjadi, maka terjadi capital loss. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek
pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen
sebagian besar akan diinvestasikan kembali, dan juga karena harga dividen yang tinggi (PER
yang tinggi) yang mengakibatkan dividend yield akan menjadi kecil. Sebaliknya, perusahaan
yang mempunyai prospek pertumbuhan yang rendah akan memberikan dividen yang tinggi
dan dengan demikian mempunyai dividend yield yang tinggi pula.
Rasio yang terakhir adalah rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio). Rasio ini
melihat bagian earning (pendapatan) yang dibayarkan sebagai dividen kepada investor.
Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan. Rasio
pembayaran dividen dihitung sebagai berikut :

Dividen per lembar


Rasio pembayaran dividen =
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 per lembar

Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio
pembayaran dividen yang rendah, sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya
rendah akan mempunyai rasio yang tinggi. Pembayaran dividen merupakan bagian dari
kebijakan dividen perusahaan.

D. ANALISIS DUPONT
Untuk mempertajam analisis, Du Pont mengembangkan analisis yang memisahkan
profitabilitas dengan pemanfaatan aset (asset utilization). Analisis ini menghubungkan tiga,
macam rasio sekaligus yaitu ROA, profit margin, dan perputaran aktiva. ROA bisa dihitung
dengan rumus sebagai berikut:

ROA = Profit margin x Perputaran Aktiva

ROA dipengaruhi oleh profit margin dan perputaran aktiva. Untuk menaikkan ROA
perusahaan bisa memilih dengan menaikkan profit margin dan mempertahankan perputaran
aktiva, dengan menaikkan perputaran aktiva danmempertahankan profit margin, atau cara

10
menaikkan keduanya. Analisis Du Pont bisa dikembangkan lagi dengan memasukkan unsur
penggunaan leverage.

Return On Equity bisa dilihat dari persamaan berikut ini:

Return On Total Aset


ROE = ℎ𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔
(1−𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 )
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

Dari formula di atas, terlihat bahwa untuk menaikkan ROE, suatu perusahaan mempunyai
beberapa alternatif seperti:
1. Menaikkan ROA, yang bisa dilakukan dengan cara menaikkan profit margin atau
menaikkan perputaran aktiva, atau keduanya sambil mempertahankan tingkat hut.
2. Menaikkan financial leverage, yang berarti menaikkan hutang. Dengan naiknya
hutang, pembagi dalam persamaan di atas (denominator) akan menjadi lebih kecil,
dan dengan demikian ROE akan lebih besar sambil mempertahankan tingkat ROA.
3. Menaikkan ROA dan hutang secara bersamaan.

E. BEBERAPA KETERBATASAN
Meskipun analisis laporan keuangan sangat bermanfaat, tetapi ada bebcrapa keterbatasan
yang perlu diperhatikan.
1. Data yang dicatat dan dilaporkan oleh laporan keuangan mendasarkan pada harga
perolehan (historical cost). Metode harga perolehan dipakai oleh akuntansi karena
metode tersebut dinilai paling obyektif dibanding metode lain seperti metode harga
pasar atau harga penggantian scat ini (current replacement cost). Metode akuntansi
juga mendasarkan pada metode akrual yang berusaha mempertemukan pendapatan
dengan biaya-biaya yang berkaitan dengan usaha memperoleh pendapatan tersebut.
Metode semacam ini tidak memperhatikan kapan muncul atau keluarnya kas. Dalam
jangka pendek, antara metode kas dengan metode aktual barangkali tidak
menghasilkan informasi yang sama.
2. Penyusunan laporan keuangan juga didasarkan pada beberapa alternatif metode
akuntansi (misalnya metode FIFO, LIFO, rata-rata persediaan). Dua perusahaan yang
mempunyai kondisi yang sama, barangkali akan memberikan informasi yang berbeda
karena perbedaan metode akuntansi.

11
3. Upaya perbaikan barangkali bisa dilakukan oleh pihak manajemen untuk
memperbaiki laporan keuangan sehingga laporan keuangan nampak bagus. Sebagai
contoh, sebelum tanggal neraca manajemen bisa meminjam hutang jangka panjang
dan menyimpan kas dari pinjaman tersebut. Aktiva lancar akan naik dan rasio lancar
perusahaan akan kelihatan baik tanggal neraca, kas barangkali dipakai untuk melunasi
hutang jangka panjang,dan kondisi likuiditas jangka pendek kembali ke asalnya yang
tidak begitu bagus.
4. Banyak perusahaan yang mempunyai beberapa divisi atau anak perusahaan yang
bergerak pada beberapa bidang usaha (industri). Untuk perusahaan semacam ini,
analis akan memilih perbandingannya karena perusahaan tersebut bergerak pada
beberapa industri data-data divisi untuk mengetahui prestasi divisi biasanya tidak
lengkap dilaporkar analis akan mengalami kesulitan menganalisis prestasi divisi-divisi
dalam perusahaan
5. Inflasi atau deflasi akan mempengaruhi laporan keuangan terutama yang berkait
rekening-rekening jangka panjang seperti investasi jangka panjang. Laporan keuangan
yang menggunakan harga perolehan akan cenderung terlalu rendah melaporkan data-
data laporan keuangan
6. Rata-rata industri merupakan rata-rata perusahaan yang ada dalam industri. Ada
beberapa perusahaan yang tidak bagus yang dipakai juga untuk perhitungan rata-rata
industri. Juga rata-rata industri bukan merupakan standar yang selalu baik, yang
seharusnya diikuti oleh perusahaan karena rata-rata industri hanya rata-rata
perusahaan di industri. Perusahaan yang ingin sukses biasanya harus berada di atas
rata-rata industri, bukannya sama dengan rata-rata industri. Angka yang lebih rendah
dibandingkan rata-rata industri juga tidak selalu berarti jelek. Ada banyak hal yang
harus dipertimbangkan sebelum menentukan baik buruknya suatu angka.

12