Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN VARISELA

Dosen Pembimbing :
Enung Mardiyana H, S.Kep.Ns.M.Kes

Disusun Oleh :
1. Erwina Nur Arifa (P27820117049)
2. Niswa Aulia Nurbaiti (P27820117058)
3. Firdayanti Nur Aini (P27820117068)
4. Intan Trianggriwarni (P27820117077)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


SURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN SOETOMO
TAHUN AJARAN 2018-2019

i
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan YME,


atas berkat dan rahmat-NYA makalah ini dapat dibuat dan disampaikan tepat pada
waktunya.
Adapun penulisan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas
Keperawatan Anak . Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Kami juga berharap dengan
adanya makalah ini dapat menjadi salah satu sumber literatur atau sumber
informasi pengetahuan bagi pembaca.
Namun kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami memohon maaf jika ada hal-hal yang
kurang berkenan dan kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk menjadikan ini lebih sempurna. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Surabaya, 21 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................1
1.3 Tujuan ........................................................................................................1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Varisela ........................................................................................2
2.2 Etiologi Varisela ........................................................................................2
2.3 Patofisiologi Varisela .................................................................................3
2.4 Tanda dan Gejala Varisela .........................................................................3
2.5 Komplikasi Varisela...................................................................................5
2.6 Pengobatan / Penatalaksanaan Varisela .....................................................6
2.7 Pencegahan Varisela ..................................................................................7
BAB 3 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN VARISELA
BAB 4 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................15
3.2 Saran ...........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Varicella atau yang dikenal juga secara awam sebagai cacar air adalah
penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster. Di Indonesia,
penyakit ini disebut sebagai cacar air karena gelembung atau bisul yang terbentuk
pada kulit apabila pecah mengeluarkan air. Penyakit ini sangat mudah untuk
menyebar kepada orang lain, terutama anak-anak, yang belum pernah terkena
varicella sebelumnya. Penyebaran dari virus Varicella Zoster terjadi melalui udara
dan kontak langsung dengan penderita. Varicella paling sering ditemukan pada
anak-anak berusia 1-9 tahun. Angka kejadian penyakit ini sudah banyak
berkurang terutama di negara-negara maju karena ditemukannya vaksinasi
terhadap virus Varicella Zoster.
Berdasarkan latar belakang diatas dalam makalah ini kami akan membahas
tentang bagaimana penyebab, patofisiologis, tanda gejala, komplikasi, pencegahan
dan penatalaksanaan atau pengobatan terhadap penyakit yang disebabkan oleh
virus tersebut serta bagaimana asuhan keperawatannya, supaya kita dapat
bertindak untuk pencegahan terhadap penyakit varicella.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari varisela?
2. Bagaimanakah etiologi varisela?
3. Bagaimanakah patofisiologis pada varisela?
4. Bagaimanakah tanda dan gejala varisela?
5. Apa saja komplikasi dari varisela?
6. Bagaimanakah pengobatan / penatalaksanaan pada varisela?
7. Bagaimanakah pencegahan pada varisela?
8. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien varisela?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari varisela?
2. Untuk mengetahui etiologi varisela?
3. Untuk mengetahui patofisiologis pada varisela?
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala varisela?
5. Untuk mengetahui komplikasi dari varisela?
6. Untuk mengetahui pengobatan / penatalaksanaan pada varisela?
7. Untuk mengetahui pencegahan pada varisela?
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien varisela?

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Varisela
Varicella adalah suatu penyakit infeksi virus akut dan menular, yang
disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV) dan menyerang kulit serta mukosa,
ditandai oleh adanya vesikel-vesikel. (Rampengan, 2008)
June M. Thomson mendefinisikan varisela sebagai penyakit yang
disebabkan oleh virus varisela-zoster (V-Z virus) yang sangat menular bersifat
akut yang umumnya menganai anak, yang ditandai oleh demam yang mendadak,
malese, dan erupsi kulit berupa makulopapular untuk beberapa jam yang
kemudian berubah menjadi vesikel selama 3-4 hari dan dapat meninggalkan
keropeng (Thomson, 1986, p. 1483).
Sedangkan menurut Adhi Djuanda varisela yang mempunyai sinonim cacar
air atau chickenpox adalah infeksi akut primer oleh virus varisela-zoster yang
menyerang kulit dan mukosa yang secara klinis terdapat gejala konstitusi,
kelainan kulit polimorfi terutama dibagian sentral tubuh (Djuanda, 1993).

2.2 Etiologi
Varicella disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV), termasuk
kelompok Herpes Virus dengan diameter kira-kira 150-200 nm. Inti virus disebut
Capsid, terdiri dari protein dan DNA dengan rantai ganda, yaitu rantai pendek (S)
dan rantai panjang (L) dan membentuk suatu garis dengan berat molekul 100 juta
yang disusun dari 162 capsomir dan sangat infeksius.
Varicella Zoster Virus (VZV) dapat ditemukan dalan cairan vesikel dan
dalam darah penderita Varicella sehingga mudah dibiakkan dalam media yang
terdiri dari Fibroblast paru embrio manusia.
Varicella Zoster Virus (VZV) dapat menyebabkan Varicella dan Herpes
Zoster. Kontak pertama dengan penyakit ini akan menyebabkan Varicella,
sedangkan bila terjadi serangan kembali, yang akan muncul adalah Herpes Zoster,
sehingga Varicella sering disebut sebagai infeksi primer virus ini.

2
2.3 Patofisiologis
Menyebar Hematogen.Virus Varicella Zoster juga menginfeksi sel satelit di
sekitar Neuron pada ganglion akar dorsal Sumsum Tulang Belakang. Dari sini
virus bisa kembali menimbulkan gejala dalam bentuk Herpes Zoster. Sekitar 250
– 500 benjolan akan timbul menyebar diseluruh bagian tubuh, tidak terkecuali
pada muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata , termasuk bagian tubuh yang
paling intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu , lesi teresebut akan
mengering dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1 – 3 minggu
bekas pada kulit yang mengering akan terlepas. Virus Varicella Zoster penyebab
penyakit cacar air ini berpindah dari satu orang ke orang lain melalui percikan
ludah yang berasal dari batuk atau bersin penderita dan diterbangkan melalui
udara atau kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi.
Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui paru-paru dan tersebar kebagian
tubuh melalui kelenjar getah bening. Setelah melewati periode 14 hari virus ini
akan menyebar dengan pesatnya ke jaringan kulit. Memang sebaiknya penyakit
ini dialami pada masa kanak-kanak dan pada kalau sudah dewasa. Sebab
seringkali orang tua membiarkan anak-anaknya terkena cacar air lebih dini.
Varicella pada umumnya menyerang anak-anak ; di negara-negara bermusin
empat, 90% kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak , pada
umumnya penyakit ini tidak begitu berat.
Namun di negara-negara tropis, seperti di Indonesia, lebih banyak remaja
dan orang dewasa yang terserang Varisela. Lima puluh persen kasus varisela
terjadi diatas usia 15 tahun. Dengan demikian semakin bertambahnya usia pada
remaja dan dewasa, gejala varisela semakin bertambah berat.

2.4 Tanda dan Gejala


Masa inkubasi Varicella bervariasi antara 10-21 hari, rata-rata 10-14 hari.
Penyebaran varicella terutama secara langsung melalui udara dengan perantaraan
percikan liur. Pada umumnya tertular dalam keluarga atau sekolah.
(Rampengan,2008 )

Perjalanan penyakit ini dibagi menjadi 2 stadium, yaitu:

3
Stadium Prodromal: 24 jam sebelum kelainan kulit timbul, terdapat gejala
panas yang tidak terlalu tinggi, perasaan lemah (malaise), sakit kepala, anoreksia,
rasa berat pada punggung dan kadang-kadang disertai batuk keringdiikuti eritema
pada kulit dapat berbentuk scarlatinaform atau morbiliform. Panas biasanya
menghilang dalam 4 hari, bilamana panas tubuh menetap perlu dicurigai adanya
komplikasi atau gangguan imunitas.
Stadium erupsi: dimulai saat eritema berkembang dengan cepat (dalam
beberapa jam) berubah menjadi macula kecil, kemudian papula yang kemerahan
lalu menjadi vesikel. Vesikel ini biasannya kecil, berisi cairan jernih, tidak
umbilicated dengan dasar eritematous, mudah pecah serta mongering membentuk
krusta, bentuk ini sangat khas dan lebih dikenal sebagai “tetesan embun”/”air
mata”.
Erupsi kelamaan atau terlambatnya berubah menjadi krusta dan
penyembuhan, biasanya dijumpai pada penderita dengan gangguan imunitas
seluler. Bila terjadi infeksi sekunder, sekitar lesi akan tampak kemerahan dan
bengkak serta cairan vesikel yang jernih berubah menjadi pus disertai
limfadenopati umum. Vesikel tidak hanya terdapat pada kulit, melainkan juga
terdapat pada mukosa mulut, mata, dan faring.
Pada penderita varicella yang disertai dengan difisiensi imunitas (imun
defisiensi) sering menimbulkan gambaran klinik yang khas berupa perdarahan,
bersifat progresif dan menyebar menjadi infeksi sistemik. Demikian pula pada
penderita yang sedang mendapat imunosupresif. Hal ini disebabkan oleh
terjadinya limfopenia.

Symptoms

Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh.

 Pusing.
 Demam dan kadang – kadang diiringi batuk.
 Dalam 24 jam timbul bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi (mirip
kulit yang terangkat karena terbakar).

4
Terakhir menjadi benjolan – benjolan kecil berisi cairan.
Sebelum munculnya erupsi pada kulit, penderita biasanya mengeluhkan adanya
rasa tidak enak badan, lesu, tidak nafsu makan dan sakit kepala. Satu atau dua hari
kemudian, muncul erupsi kulit yang khas.
Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna
kemerahan (makula), yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan kecil
pada kulit), papula kemudian berubah menjadi vesikel (gelembung kecil berisi
cairan jernih) dan akhirnya cairan dalam gelembung tersebut menjadi keruh
(pustula). Bila tidak terjadi infeksi, biasanya pustel akan mengering tanpa
meninggalkan abses.

2.5 Komplikasi
Komplikasi varisela pada anak biasanya jarang dan lebih sering pada orang
dewasa.
1. Infeksi sekunder
Infeksi sekunder disebabkan oleh Stafilokok atau Streptokok dan
menyebabkan selulitis, furunkel. Infeksi sekunder pada kulit kebanyakan pada
kelompok umur di bawah 5 tahun. Dijumpai pada 5-10% anak. Adanya infeksi
sekunder bila manifestasi sistemik tidak menghilang dalam 3-4 hari atau bahkan
memburuk

2. Otak
Komplikasi ini lebih sering karena adanya gangguan imunitas. “Acute
postinfectious cerebellar ataxia” merupakan komplikasi pada otak yang paling
ditemukan (1:4000 kasus varisela). Ataxia timbul tiba-tiba biasanya pada 2-3
minggu setelah varisela dan menetap selama 2 bulan. Klinis mulai dari yang
ringan sampai berat, sedang sensorium tetap normal walaupun ataxia berat.
Prognosis keadaan ini baik, walaupun beberapa anak dapat mengalami
inkoordinasi atau dysarthria.
“Ensefalitis” dijumpai 1 dari 1000 kasus varisela dan memberikan gejala
ataksia serebelar dan biasanya timbul antara hari ke-3 sampai hari ke-8 setelah
timbulnya rash. Biasanya bersifat fatal.

5
3. Pneumonitis
Komplikasi ini lebih sering dijumpai pada penderita keganasan, neonatus,
imunodefisiensi, dan orang dewasa. Pernah dilaporkan seorang bayi 13 hari
dengan komplikasi pneumonitis dan meninggal pada umur 30 hari.
Gambaran klinis pneumonitis adalah panas yang tetap tinggi, batuk, sesak
napas, takipnu dan kadang-kadang sianosis serta hemoptoe. Pada pemeriksaan
radiologi didapatkan gambaran nodular yang radio-opak pada kedua paru.

4. Sindrom Reye
Komplikasi ini lebih jarang dijumpai. Dengan gejala sebagai berikut, yaitu
nausea dan vomitus, hepatomegali dan pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan peningkatan SPGT dan SGOT serta ammonia.

5. Komplikasi lain
Seperti arthritis, trombositopenia purpura, miokarditis, keratitis. Penderita
perlu dikonsulkan ke spesialis bila dijumpai adanya gejala-gejala berikut:
- Varisela yang progesif atau berat
- Komplikasi yang dapat mengancam jiwa seperti pneumonia, ensefalitis
- Infeksi bakteri sekunder yang berat terutama dari golongan grup A
Streptococcus yang dapat memicu terjadinya nekrosis kulit dengan cepat
serta terjadi “Toxic Shock Syndrome”
- Penderita dengan komplikasi berat perlu dirawat di Rumah Sakit atau bila
perlu ICU
- Indikasi rawat di ICU/NICU antara lain:
Penurunan kesadaran, Kejang, Gangguan pernapasan, Sianosis, Saturasi
oksigen menurun
- Semua neonatus lahir dari ibu yang menderita varisela kurang dari 5 hari
sebelum melahirkan atau 2 hari setelah melahirkan.

2.6 Pengobatan / Penatalaksanaan


Kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi khusus selain istirahat dan
pemberian asupan cairan yang cukup. Yang justru sering menjadi masalah

6
adalah rasa gatal yang menyertai erupsi. Bila tidak ditahan-tahan, jari kita tentu
ingin segera menggaruknya. Masalahnya,bila sampai tergaruk hebat, dapat
timbul jaringan parut pada bekas gelembung yang pecah. Biasanya yang
dilakukan adalah :
a. Isolasi untuk mencegah penularan.
b. Diet bergizi tinggi (Tinggi Kalori dan Protein).
c. Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat.
d. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian
antiseptik pada air mandi.
e. Upayakan agar vesikel tidak pecah, dengan cara :
- Jangan menggaruk vesikel.
- Kuku jangan dibiarkan panjang.
- Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pda
kulit, jangan digosok.

Farmakologi

Pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti gatal (antihistamin-


difenhidramin), demam (parasetamol) diperlukan agar mengurangi tingkat berat
penyakit. Pemberian obat antivirus berupa acyclovir per oral direkomendasikan
dalam 48 jam awal pasien mengeluh gejala cacar air. Pemberian acyclovir per
vena di rekomendasikan pada pasien dengan komplikasi berat, gangguan sistem
imunitas dan bayi dan Vidarabin adalah obat antivirus yang diperoleh dari
fosforilase dalam sel dan dalam bentuk trifosfat, menghambat polymerase DNA
virus. Dosis: 10-20 mg/kg BB/hari, diberikan sehari dalam infuse selama 12 jam,
lama pemberian 5-7 hari. Obat topical berupa pengobatan local dapat diberikan
Kalamin lotion atau bedak salisil 1%.

2.7 Pencegahan
Pencegahan terhadap infeksi varisela zoster virus dilakukan dengan cara
imunisasi pasif atau aktif.
a. Imunisasi aktif
Dilakukan dengan memberikan vaksin varisela yang dilemahkan (live
attenuated) yang berasal dari OKA Strain dengan efek imunogenisitas tinggi dan

7
tingkat proteksi cukup tinggi berkisar 71-100% serta mungkin lebih lama. Dapat
diberikan pada anak sehat ataupun penderita leukemia, imunodefisiensi. Untuk
penderita pascakontak dapat diberikan vaksin ini dalam waktu 72 jam dengan
maksud sebagai preventif atau mengurangi gejala penyakit.
Dosis yang dianjurkan ialah 0,5 mL subkutan. Pemberian vaksin ini ternyata
cukup aman. Dapat diberikan bersamaan dengan MMR dengan daya proteksi
yang sama dan efek samping hanya berupa rash yang ringan.

b. Imunisasi pasif
Dilakukan dengan memberikan Zoster Imun Globulin (ZIG) dan Zoster
Imun Plasma (ZIP).
Zoster Imun Globulin (ZIG) adalah suatu globulin-gama dengan titer
antibody yang tinggi dan yang didapatkan dari penderita yang telah sembuh dari
infeksi herpes zoster. Dosis Zoster Imuno Globulin (ZIG): 0,6 mL/kg BB
intramuscular diberikan sebanyak 5mL dalam 72 jam setelah kontak. Indikasi
pemberian Zoster Imunoglobulin ialah :
- Neonatus yang lahir dari ibu menderita varisela 5 hari sebelum partus atau 2
hari setelah melahirkan.
- Penderita leukemia atau limfoma terinfeksi varisela yang sebelumnya belum
divaksinasi.
- Penderita HIV atau gangguan imunitas lainnya.
- Penderita sedang mendapat pengobatan imunosupresan seperti
kortikosteroid.

Tapi pada anak dengan defisiensi imunologis, leukimea atau penyakit


keganasan lainnya, pemberian Zoster Imun Globulin (ZIG) tidak menyebabkan
pencegahan yang sempurna, lagi pula diperlukan Zoster Imun Globulin (ZIG)
dengan titer yang tinggi dan dalan jumlah yang lebih besar.

Zoster Imun Plasma (ZIP) adalah plasma yang berasal dari penderita yang
baru sembuh dari herpes zoster dan diberikan secara intravena sebanyak 3-14,3
mL/kg BB. Pemberian Zoster Imun Plasma (ZIP) dalam 1-7 hari setelah kontak

8
dengan penderita varisela pada anak dengan defisiensi imunologis, leukemia,
atau penyakit keganasan lainnya mengakibatkan menurunnya insiden varisela
dan merubah perjalanan penyakit varisela menjadi ringan dan dapat mencegah
varisela untuk kedua kalinya.

Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya:


1. Kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
2. Menjaga kebersihan tangan
3. Kuku dipotong pendek
4. Pakaian tetap kering dan bersih.

Dan untuk Menghilangkan bekasnya :


Setelah masa penyembuhan varicella, dapat dilanjutkan dengan perawatan
bekas luka yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air mineral untuk
menetralisir ginjal setelah mengkonsumsi obat. Konsumsi vitamin C plasebo
ataupun yang langsung dari buah-buahan segar seperti juice jambu biji, juice
tomat dan anggur. Vitamin E untuk kelembaban kulit bisa didapat dari plasebo,
minuman dari lidah buaya, ataupun rumput laut. Penggunaan lotion yang
mengandung pelembab ekstra saat luka sudah benar- benar sembuh diperlukan
untuk menghindari iritasi lebih lanjut.

9
BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN VARISELA

3.1 Pengkajian
A. Data subjektif : pasien merasa lemas, tidak enak badan, tidak nafsu
makan dan sakit kepala.
B. Data Objektif :
- Integumen : kulit hangat, pucat., adanya bintik-bintik kemerahan pda
kulit yang berisi cairan jernih. Pada kulit dan membran mukosa : Lesi
dalam berbagai tahap perkembangannya : mulai dari makula
eritematosa yang muncul selama 4-5 hari kemudian berkembang
dengan cepat menjadi vesikel dan krusta yang dimulai pada badan dan
menyebar secara sentrifubal ke muka dan ekstremitas. Lesi dapat pula
terjadi pada mukosa, palatum dan konjunctiva.
- Metabolik : peningkatan suhu tubuh
- Psikologis : menarik diri
- GI : anoreksia
- Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan leukosit biasanya mennjukkan hasil yang normal,
rendah, atau meningkat sedikit. Multinucleated giant cells pada
pemeriksaan Tzanck smear dari lepuhan kulit. Hasil positif pada
pemeriksaan kultur jaringan.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Resiko tinggi terjadi infeksi b.d kerusakan jaringan kulit.
2. Gangguan integritas kulit b.d erupsi pada kulit.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurangnya intake
makanan.
4. Gangguan citra tubuh b.d luka pada kulit.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan

10
3.3 Intervensi dan Implementasi Keperawatan
1) Diagnosa 1
Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit
Tujuan :
mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam

Intervensi :
1. Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu
yang dating kontak dengan pasien
R/ Mencegah kontaminasi silang, menurunkan resiko infeksi
2. Gunakan sarung tangan, masker dan teknik aseptic selama perawatan
R/ Mencegah masuknya organism infeksius
3. Awasi atau batasi pengunjung bila perlu
R/ Mencegah kontaminasi silang dari pengunjung
4. Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi
R/ Rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
5. Bersihkan jaringan nekrotik yang lepas
R/ Meningkatkan penyembuhan
6. Awasi tanda-tanda vital
R/ Indikator terjadinya infeksi

2) Diagnosa 2
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit
Tujuan :
mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan

Intervensi :
1. Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka
R/ Mengetahui keadaan integritas kulit
2. Berikan perawatan kulit
R/ Menghindari gangguan integritas kulit

11
3) Diagnosa 3
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan
kurangnya intake makanan
Tujuan :
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan

Intervensi :
1. Berikan makanan sedikit tapi sering
R/ Membantu mencegah ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan
2. Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai. Dorong orang terdekat
untuk membawa makanan dari rumah
R/ Meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki
pemasukan

4) Diagnosa 4
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit
Tujuan :
Pasien dapat menerima keadaan tubuh Tujuan :

Intervensi :
1. Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini
R/ Memanfaatkan kemampuan dan menutupi kekurangan
2. Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan
R/ Memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan

5) Diagnosa 5
Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
Tujuan :
Adanyan pemahaman kondisi dan kebutuhan pengobatan

Intervensi :
1. Diskusikan perawatan erupsi pada kulit
R/ Meningkatkan kemampuan perawatan diri dan meningkatkan
kemandirian.

12
Implementasi

1. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.


 Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua
individu yang datang kontak dengan pasien.
 Menggunakan skort,masker, sarung tangan dan teknik aseptik selama
perawatan luka.
 Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu.
 Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi.
 Membersihkan jaringan mefrotik.yang lepas (termasuk pecahnya lepuh).
 Mengawasi tanda vital.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit.
 Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.
 Memberikan perawatan kulit.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan
kurangnya intake makanan.
 Memberikan makanan sedikit tapi sering.
 Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat
untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit.
 Memberikan makanan sedikit tapi sering.
 Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai , dorong orang terdekat
untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan.
 Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit

3.4 Evaluasi
Masalah gangguan intebritas kulit dikatakan teratasi apabila :
a. Fungsi kulit dan membran mukosa baik dengan parut minimal.
b. Krusta berkurang
c. Suhu kulit, kelembaban dan warna kulit serta membran mukosa normal
alami

13
d. Tidak terjadi komplikasi dan infeksi sekunder
e. Tidak terdapat kelainan neurologic
f. Tidak terjadi kelainan respiratorik.
g. Suhu tubuh normal.

14
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster ini pada
dasarnya menyerang kepada tubuh orang yang belum pernah terserang oleh virus
tersebut, namun apabila tubuh orang tersebut pernah terinfeksi virus varicella
zoster maka tubuh orang tersebut akan membentuk anti body terhadap virus
varicella zoster sehingga dimasa mendatang tidak akan terserang penyakit tersebut
lagi, namun jika kekebalan tubuh orang tersebut sedang tidak baik dan ketika
pengobatan tidak tuntas maka virus tersebut dapat hidup kembali dalam tubuh
penderitanya.
Menjaga kebersihan tubuh juga sangat dianjurkan sebagai pencegahan
terhadap virus tersebut seperti menjaga kebersihan tangan, memotong kuku dan
mandi dan berganti pakain, Pemberian vaksin efektif melindungi 80-85% terhadap
penyakit varicella dan efektif 95% mencegah varicella yang berat.

4.2 Saran
Sebagai perawat kita harus mengerti bagaimana konsep dasar asuhan
keperawatan pada anak dengan varisela dan apa itu penyakit varisela, apa saja
tanda dan gejala yang muncul, apa saja komplikasinya dan cara mencegah
penyakit varisela.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adhi Djuanda (1993). Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Edisi Kedua, FK
Universitas Indonesia, Jakarta, 1993.

Rampengan TH. 2008. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC

Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran,


ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

June M. Thomson, et. al. (1986). Clinical Nursing Practice, The C.V. Mosby
Company, Toronto.

16