Anda di halaman 1dari 5

JANGAN LAGI MENINABOBOKAN LAHAN TIDUR !

Muhammad Mubarak Chadyka Putra & Dian Eka Putri Ismail


Fakultas Hukum, Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Hasanuddin
(E-mail: mubarakcplaw@gmail.com & dianmanyol@gmail.com)

I. PENDAHULUAN
Pangan merupakan hak asasi manusia dan penentu kualitas sumber daya
manusia. Sebagai kebutuhan dasar, pangan mempunyai peran yang sangat penting
bagi kehidupan suatu bangsa. Dalam tataran empiris, pemenuhan pangan menjadi
domain negara. Negara bertanggung jawab penuh dalam menyediakan dan
memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Di era globalisasi dewasa ini, masalah pangan
di suatu negara dapat memengaruhi setiap sendi-sendi kehidupan. Lantas sejauh
mana kondisi pangan negara kita saat ini? Bagaimanakah efektifitas kebijakan yang
ditempuh pemerintah dalam memenuhi ketersediaan pangan?
Negara kita dikenal sebagai negara agraris. Negara yang sebagian besar
penduduknya menggantungkan hidup pada bertani. Negara yang katanya memiliki
kekayaan alam yang melimpah ruah. Namun ironisnya, Indonesia sebagai negara
agraris paling hobi mengimpor berbagai produk pangan. Badan Pusat Statistik
mencatat Indonesia telah mengimpor beras dari lima negara di sepanjang tahun
2013. Vietnam menjadi pemasok terbesar disusul Thailand, India, Paskistan, dan
Myanmar dengan total impor 472 ribu ton beras. Belum lagi komoditi lain yang
diimpor seperti daging, jagung, bawang, dan lain-lain.
Pertumbuhan laju penduduk yang terus meningkat sayangnya tidak diimbangi
dengan ketersediaan pangan dalam negeri. Pemerintah masih belum berorientasi
pada peningkatan produksi komoditas pangan. Akibatnya kebijakan impor terus
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan menstabilkan harga di pasaran. Kondisi
ini menjadi hal yang aneh untuk negara sebesar dan sekaya Indonesia. Disinilah
menunjukkan negara kita belum menjadi negara yang mandiri. Julukan sebagai
negara agraris mungkin tak berlaku lagi saat ini. Problematika pertanahan pun terus
mencuat dalam dinamika kehidupan bangsa kita. Fenomena yang memprihatinkan
adalah semakin menyempitnya lahan akibat konversi kebutuhan industri dan
pemukiman. Padahal sumber daya lahan merupakan tumpuan kebutuhan pangan
sesuai dengan semangat Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 dalam
wujud landreform.
Untuk mendorong kemandirian pangan yang dapat dilakukan adalah melalui
Insentifikasi dan Ekstensifikasi. Salah satu cara Ekstensifikasi adalah dengan
memanfaatkan lahan tidur tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru. Hal ini
merupakan wujud reformasi agraria yang membawa manfaat bagi rakyat,
khususnya petani yang selama ini kurang diperhatikan. Lahan tidur merupakan
lahan yang memiliki dasar penguasaan, dapat berupa lahan terbangun maupun tidak
terbangun, terapi tidak dimanfaatkan oleh pihak yang menguasai sesuai dengan sifat
dan tujuan penguasaannya atau rencana rata ruang yang berlaku (Ariastika, 2008).
Selama ini, krisis pangan yang mendera Indonesia membuat lahan tidur luput
dari perhatian dan selalu terabaikan. Lahan tidur diibaratkan sebagai lahan tambang
yang belum tersentuh tangan manusia. Sehingga disayangkan apabila lahan yang
dapat menghasilkan produk perhatian itu hanya dibiarkan begitu saja. Bukan tidak
mungkin jika lahan tidur dimanfaatkan secara optimal, Indonesia akan menjadi
pelopor mandiri pangan. Kita tak perlu lagi mengimpor bahan pangan dari luar
negeri dan kesejahteraan petani pun terjamin.
Berdasarkan dari uraian tersebut, maka hal ini membuat penulis merasa
tertarik untuk membahas mengenai pemanfaatan lahan tidur untuk mewujudkan
ketahanan pangan dengan judul "Jangan Lagi Meninabobokan Lahan Tidur".

II. ISI
A. Lahan Tidur Sebagai Objek Land-Reform yang ‘Terninabobokan’
Banyak orang belum mengetahui bahwa lahirnya Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) pada tanggal 24 September 1960 pada saat itu sebenarnya terkait
dengan pengelolaan lahan tanah untuk pertanian yang tidak merata. Maka dari itu
pengaturan mengenai tanah untuk lahan pertanian harus kembali diatur sebagai
bentuk pembaharuan pengaturan tanah pertanian atau kebanyakan para pakar
hukum agraria menyebutnya dengan istilah “land reform”.
Landreform pada prinsipnya diatur dalam UUPA, khususnya pasal 7, 17 dan
53. Dari penjabaran pasal-pasal tersebut diperoleh tiga hal pokok yang diatur dalam
Undang-undang No. 56 Prp Tahun 1960 Tentang penetapan luas tanah pertanian
yang kemudian diubah menjadi UU No. 1 tahun 1961. Tiga hal pokok tersebut
adalah penetapan luas maksimum pemilikan dan penguasaan tanah pertanian,
penetapan luas minimum pemilikan tanah pertanian dan larangan untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang dapat mengakibatkan pemecahan pemilikan tanah
menjadi bagian-bagian yang terlampau kecil, serta pengembalian dan penebusan
tanah pertanian yang sudah digadaikan1. Hal ini terkait dengan penguasaan lahan
yang ideal oleh petani merupakan suatu hal yang mungkin untuk dilakukan. Hal ini
disebabkan banyaknya lahan tidur yang penguasaan tanahnya melampaui batas oleh
pihak tertentu.
Sampai hari ini, permasalahan pertanian bagi Indonesia masih belum
mencapai pencapaian maksimalnya, terutama dalam hal kesejahteraan petani
menggarap lahan pertanian yang ‘terninabobokan’. Dimana segala sesuatu yang
ditanam di tanah bumi pertiwi ini pasti akan tumbuh, orang menyebutnya
“sebongkah tanah dari syurga”. Akan tetapi, tidak banyak petani yang menggarap
lahan pertaniannya dengan sempurna dikarenakan kebijakan yang digulirkan oleh
Pemerintah terkadang tidak berpihak.
Sedikit ironis memang, Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah
seharusnya bisa menjadi alat yang produktif di bidang pertanian, yaitu bisa
menghasilkan keuntungan yang besar bagi Indonesia bahkan jika pemerintah
dengan serius mengelolah sumber daya alam untuk pemanfaatan lahan pertanian
yang masih banyak ‘terninabobokan’. Bukan hanya kelapa sawit saja, akan tetapi
bisa saja Indonesia menjadi Negara pengekspor beras, gula, dan sayuran terbesar di
tingkat ASEAN.
Kenyataannya, Indonesia masih memiliki lahan luas yang menganggur.
Lahan itu belum diolah untuk kegiatan produktif. Padahal, jika dikelola dengan baik
dapat memberi nilai tambah bagi perekonomian bangsa. Kepala Staf Kepresidenan

1
Aminuddin Salle. 2010. Hukum Agraria. Makassar : AS Publisihing Hlm 225
Luhut Pandjaitan mencatat terdapat 72 juta hektar lahan tidur yang tersebar di
Indonesia. Lahan tersebut sudah tak lagi terpakai dan akan dijajakan kepada
investor untuk dikembangkan.2
Kebijakan pemerintah tersebut sangatlah kontradiktif apabila menelisik
fenomena pertambahan penduduk yang membawa konsekuensi peningkatan
kebutuhan pangan di Indonesia. Oleh sebab itu, hal tersebut harus mampu dipenuhi
oleh pemerintah dengan cara memanfaatkan dan meningkatkan potensi sumber
daya yang ada terutama lahan tidur untuk menjadi lahan pertanian. Bukan sekadar
untuk dijajakan kepada investor untuk dikembangkan. Apabila keadaan ini
dibiarkan berlangsung terus-menerus maka bukan tidak mungkin produksi sudah
tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk yang ada. Hal itu berarti bahwa daya
dukung lahan pertanian akan semakin kecil.
Semakin berkurangnya lahan pertanian ini ditunjukan pula oleh data yang
dirilis Badan Pertanahan Nasional (BPN). BPN menyatakan bahwa sejak tahun
1992-2002 laju konversi lahan pertanian pertahun adalah 110 ribu hektar dan
meningkat menjadi 145 ribu hektar selama empat tahun terakhir3.
Meningkatnya tata guna lahan tidur menjadi kawasan industri maupun
perumahan dewasa ini memang menarik perhatian pemerintah. Hal ini disebabkan
munculnya lahan yang diterlantarkan dan lahan negara yang tidak dimanfaatkan
lagi (lahan tidur) setelah penggunaan perindustrian tersebur. Lahan tidur tersebut
harusnya diambil alih oleh negara dan didistribusikan kepada petani.
Pengambilalihan dan distribusi lahan tidur tersebut didasarkan pada prinsip
landreform yang dituangkan dalam berbagai bentuk peraturan perundang-
undangan. Sehingga, dari uraian tersebut jelaslah perlu ada terobosan agar
pemanfaatan lahan tidur ini menjadi promotor ketahanan pangan Indonesia.

2
http://www.varia.id/2015/04/03/pemerintah-akan-olah-lahan-tidur-jadi-produktif/

3
Sri Susyanti Nur. 2009. Bank tanah: Alternatif Penyelesaian Masalah Penyediaan Tanah Untuk
Pembangunan Kota Berkelanjutan. Makassar: (Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.) Hlm.
308
B. Terobosan Baru Tata Guna Lahan Tidur yang Diperlukan Untuk
Ketahanan Pangan Indonesia

III. PENUTUP

IV. DAFTAR PUSTAKA


A. Buku
Salle, Aminuddin. 2010. Hukum Agraria. Makassar : AS Publishing :
Susyanti Nur, Sri. 2009. Bank tanah: Alternatif Penyelesaian Masalah
Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan Kota Berkelanjutan. Makassar:
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar


Pokok-Pokok Agraria.

Undang-Undang No. 56 Prp tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah


Pertanian Yang kemudian diubah Menjadi Undang-Undang No.1 Tahun
1991.

Situs Internet
http://www.varia.id/2015/04/03/pemerintah-akan-olah-lahan-tidur-jadi-
produktif/

Anda mungkin juga menyukai