Anda di halaman 1dari 9

STUDI KASUS ASPEK PEMASARAN PADA TRANSPORTASI GO-JEK ONLINE

PENDAHULUAN
Bisnis aplikasi online sangat marak digunakan saat ini.Begitu banyak perubahan yang
terjadi sekarang yang dapat mendukung kelancaran aktifitas masyarakat.Di jaman era
teknologi ini banyak masyarakat yang beralih kepada transportasi online daripada trnasportasi
konvensional yang lebih membuat jengah dan ribet.Dengan adanya tekonologi masyarkat
tinggal memilih ingin menggunakan aplikasi transportasi online karena transportasi online
memiliki beragam aplikasi seperti grab dan GO-JEK.Perlu diketahui bahwa bisnis tidak lagi
dimonopoli oleh metromini,angkot,kopaja dan bus-bus.
Salah satu transportasi online karya anak bangsa yang tengah naik daun adalah GO-
Jek. Berdasarkan data yang dari KompasTekno, ada 100 juta transaksi yang terjadi di
platform GO-Jek setiap harinya. Tidak hanya layanan transportasi online, Go-Jek juga
membuka layanan Transportasi mobil (Go-Car), Pengiriman barang (Go-Send), Pemesanan
makanan (Go-Food), Berbelanja (Go-Send), Pengiriman barang jumlah besar (Go-Box),
Layanan mobile ticketing (Go-Tix), Pembelian atau penebusan obat (Go-Med), Layanan pijat
(Go- Massage), Layanan kebersihan profesional (Go-Clean), Layanan perawatan, servis
kendaraan (Go-Auto), Layanan kecantikan (Go-Glam) dan Taksi Bluebird (Go-Bluebird).
Banyaknya industri transportasi saat ini mendorong banyaknya persaingan yang cukup
ketat.Dalam hal ini perusahaan harus lebih kompetitf dengan menciptakan stretegi pemasaran
yang bagus dan menarik. strategi adalah suatu seni dan ilmu merumuskan, melaksanakan, dan
mengevaluasi keputusan lintas fungsional sehingga memungkinkan organisasi untuk
mencapai tujuannya. Maka dari itu setiap perusahaan membutuhkan strategi bersaing agar
dapat menemukan peluang yang baru dan berbeda di masa yang mendatang.
Perusahaan transportasi online milik Nadiem Makari ini pun memiliki kompetitor
yaitu Grab. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang sama, Go-Jek dan Grab kerap kali
dibanding-bandingkan, baik dari segi tarif, kualitas pelayanan, hingga berbagai fitur inovasi
yang diluncurkan keduanya. Berdasarkan data dari Google Trend, minat masyarakat untuk
menggunakan Go-Jek mengalami trend yang negatif jika dibandingkan dengan perusahaan
kompetitornya.
Hal yang mendorong sehingga GO-JEK mengalami penurunan minat masyarakat
daripada Grab karena dipengaruhi oleh tarif dan promo yang lebih sedikit dan terkadang tidak
ada sistem promonya tidak seperti dengan Grab yang memiliki banyak promo yang membuat
masyarakat tertarik dan ketika kita perhatikan di sekeliling lingkungan banyak masyarkat
yang terutama laki-laki lebih memilih menjadi supir Grab karena adanya kenaikan jabatan
jika memiliki banyak bintang yang diberikan oleh pelanggan ketika sudah melakukan
transportasi Grab.Sehingga minat masyarakat kepada GO-JEK akibat pelayanan dalam hal
promo dan lainnya lebih rendah yang menyebabkan minat masyarakat terhadap GO-JEK
akan semakin berkurang apabila tidak ada perubahan yang dapat mendorong kemajuan
aplikasi GO-JEK.
GAMBAR FLUKTUASI GRAB DAN GOJEK DIMASYARAKAT
ANALISIS
Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibedakan
menurut kebutuhan, karakteristik atau tingkah laku yang mungkin membutuhkan produk
yang berbeda.
Pada dasarnya ada 2 pendekatan segmentasi yaitu berdasarkan karakteristik konsumen
dan berdasarkan respons konsumen. Berikut ini adalah pendekatan segmentasi yang
dilakukan oleh Go-Jek.
A. Segmentasi Berdasarkan Karakteristik Konsumen
Dalam penetapan segmentasi pasar ada beberapa hal yang menjadi dasarnya yaitu:
1. Variabel Geografi
Segmentasi menurut geografi, gojek beroperasi di lebih dari 10 kota besar yang
tersebar di Indonesia.
2. Variabel Demografi
Segmentasi menurut demografi, segmentasi pasar gojek yaitu konsumen dari usia
produktif, berbagai tingkat pendapatan, dan berbagai latar belakang pendidikan, seperti
Pelajar, Mahasiswa, pekerja kantoran, pengguna transportasi public dan generasi melek
internet.
3. Variabel Psikografs
Segmentasi pasar secara psikologis yaitu gojek di peruntukkan untuk konsumen
yang menginginkan transportasi yang dapat membantu mengatasi kemacetan, kemudian
transportasi gojek di peruntukkan untuk kalangan sosial menengah.
B. Segmentasi Berdasarkan Respons Konsumen
1. Segmentasi Manfaat
Awalnya konsumen berfikir mencari alat transportasi yang memberikan banyak
kemudahan dan manfaat maka dari itu Go-jek datang untuk menjawab itu semua bukan hanya
menyediakan jasa antar jemput tetapi juga personal shopping dan kurir instan. Sehingga
sekarang Go-jek dirasa sangat memiliki manfaat yang tinggi karena sangat membantu
masalah-masalah yang dialami masyarakat yang membutuhkan kepraktisan.
2. Loyalitas
Dalam hal segmentasi ini Go-jek akan membagi konsumen dalam 2 kelompok yaitu
konsumen Loyal dan kurang Loyal. Konsumen loyal yaitu konsumen yang menjadikan Go-
jek adalah transportasi utama bagi mereka, sehingga mereka selalu menggunakan jasa Go-jek
dalam kegiatan sehari-harinya, bahkan hampir tiap hari menggunakan jasa Go-jek. Konsumen
kurang loyal yaitu konsumen yang masih menggunakan alat transportasi lain selain Go-jek.
Targeting
Setelah mengevaluasi berbagai macam segmen pasar yang ada, Go-jek memutuskan
melakukan pasar target dengan melakukan strategi pemasaran tanpa perbedaan yaitu
mengabaikan perbedaan segmen pasar dan menawarkan satu macam produk (Jasa) kepada
seluruh pasar, karena jasa yang ditawarkan oleh Go-jek ini dirasa bisa di nikmati atau dipakai
untuk semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai, karyawan, dan masyarakat
biasa.
Positioning
Menurut kotler sebuah keunggulan yang patut ditampilkan harus memenuhi kriteria: penting,
berbeda, Lebih unggul, dapat dikomunikasikan, tidak mudah ditiru, terjangkau dan
menguntungkan.
Go-jek dalam positioning melakukan diferensiasi sebagai dasar dalam positioning.
Diferensiasi yang dilakukan antara lain :
1. Diferensiasi Produk
Dalam diferensiasi produk, Go-Jek menawarkan beberapa layanan Jasa yang dapat
dinikmati dan digunakan oleh masyarakat. Seperti Go-Jek, Go-Shopping, Go-Food dll,
sehingga dapat memudahkan kegiatan-kegiatan masyarakat. Dengan adanya statement yang
dikeluarkan oleh Go-Jek bahwa “Go-Jek-GO ANYWHERE TANPA NGURAS KOCEK”
tarif Go-Jek inipun tergolong murah agar fasilitas Go-Jek ini dapat dinikmati oleh semua
kalangan.
2. Diferensiasi Jasa
Calon pelanggan dapat menggunakan jasa Go-Jek dengan mudah, karena telah
disediakan aplikasi yang dapat digunakan untuk memesan Go-Jek secara online. Go-Jek juga
memiliki pelayanan yang nyaman bagi penggunanya, contohnya ketika ada penumpang Go-
Jek mereka akan difasilitasi perlengkapan safety seperti helm, masker dan jaket. Kemudian
adanya jasa di jemput di tempat yang dikehendaki oleh konsumen dan akan diantarkan
sampai tujuan yang diinginkan sehingga pelanggan akan merasa nyaman dengan layanan
yang diberikan.
3. Diferensiasi Citra
Perusahaan Go-Jek memiliki tagline yaitu “An ojek for every need”. Tagline ini
dimaksudkan agar masyarakat menggunakan Go-Jek di setiap memenuhi kebutuhan mereka.
Contohnya seperti ketika kita ingin berpergian diharapkan kita menggunakan jasa Go-Jek,
kemudian ketika kita ingin membeli tiket bioskop atau membeli makan diharapkan juga kita
menggunakan jasa Go-Jek. Selain itu, perusahaan Go-Jek juga memiliki tagline “Karya Anak
Bangsa” yang dimaksudkan agar masyarakat Indonesia mendukung produk local dan
meningkatkan rasa kecintaan terhadap tanah air.
4. Diferensiasi Personil
Perusahaan Go-Jek memiliki pegawai/pengendara yang sudah berpengalaman, telah
memiliki SIM C, memiliki kepribadian yang baik serta ramah kepada pelanggan.
 SALURAN DISTRIBUSI Go-JEK INDONESIA
Saluran Distribusi Jasa yang Go-Jek gunakan adalah saluran langsung karena jasa
yang Go-Jek lakukan adalah jasa murni (Pure Service) merupakan jasa yang tergolong High
Contact jadi jasa ini tidak memerlukan saluran distribusi yang sampai memerlukan saluran
satu tingkat ataupun saluran dua tingkat, karena jasa yang kami tawarkan ini sangat
memberikan kemudahan kepada konsumen mulai dari jasa antar jemput, kurir instan, dan
personal shopping, dll. Pelanggan tinggal memesannya lewat handphone maka kami akan
datang menghampiri konsumen/pelanggan tersebut dan langsung dapat menikmati jasa yang
kami tawarkan.
 PENETAPAN HARGA
Tahap bagi sebuah perusahaan dalam menetapkan harga dari produk dan layanannya
Menurut Kottler dan Keller, ada 6 tahap bagi sebuah perusahaan dalam menetapkan
harga dari produk dan layanannya. Tahap pertama adalah apa tujuan yang ingin dicapai oleh
perusahaan. Apakah ingin mengambil market share, memaksimalkan pendapatan, atau
meningkatkan kualitas dari produk atau layanan. Jika kita lihat dari “goncangnya” berbagai
moda transportasi lain seperti taksi ataupun “ojek pangkalan” karena banyaknya warga
Jakarta yang menggunakan Gojek ataupun Grab Bike, maka besar kemungkinan dapat kita
prediksi bahwa tujuan dari penetapan harga yang “kelewat miring” adalah untuk
meningkatkan market share. Gojek dan Grab Bike bisa dikatakan mengorbankan keuntungan
untuk bisa mendapatkan market share. Kehadiran Gojek & Grab Bike yang telah menganggu
penghasilan “Ojek Pangkalan” dan Supir Taksi bisa jadi sebuah justifikasi atas tujuan Gojek
dan Grab Bike.
Tahap kedua adalah menentukan demand dari calon konsumen. Seperti apa
kebutuhannya, seperti apa sensitivitas konsumen dan pasar terhadap harga, dan juga seberapa
tinggi tingkat elistisitas demandnya. Jika kita perhatikan bahwa bermunculannya pesaing
Gojek dan Grab Bike seperti Blue Jek, Ojesy (Ojek Syari), Lady Jek dan kini menyusul Jeger
Taksi merupakan bukti bahwa demand terhadap layanan “ojek digital” masih besar.
Terganggunya penghasilan “Ojek Pangkalan” dan supir taksi menandakan adanya perubahan
prilaku konsumen terhadap moda transportasi apa yang dipergunakan. Hal ini juga
menandakan tingginya sensitivitas harga, dan tingkat demand yang sangat elastic. Persaingan
semakin meningkat, adanya perubahan harga bahkan kekurangan pada satu provider “Ojek
Digital” dapat menyebabkan konsumen berpindah hati.
Tahap ketiga adalah menentukan biaya yang mencakup biaya yang dibebankan
kepada konsumen termasuk biaya apa saja serta apa saja yang dikorbankan untuk bisa
mencapai kepada tingkat harga tertentu. Jika kita lihat dari harga miring yang diterapkan oleh
Gojek dan Grab Bike dengan tarif yang terbilang tidak normal (bahkan cenderung dianggap
tidak etis) bisa dikatakan bahwa Gojek dan Grab Bike mengorbankan tingkat keuntungan
tertentu atau memindahkan biaya pemasaran dalam bentuk potongan harga. Dampak
positifnya adalah Gojek dan Grab Bike menimbulkan “kehebohan” dan menjadi pembicaraan
yang ramai di media mainstream dan social media.
Tahap keempat adalah menganalisa kompetitor dengan mencoba memahami
bagaimana dinamika kompetisinya, mulai dari berapa biaya dari pesaing, berapa harga yang
ditawarkan dan apa saja yangditawarkan oleh para pesaingnya. Ilustrasi dari persaingan harga
dapat dilihat dalam gambar diatas menandakan bahwa dari sisi harga, Gojek dan Grab Bike
memiliki keunggulan dan hanya bisa disaingi oleh kereta api.
Tahap kelima adalah metode penetapan harganya. Ada beberapa metode yang dapat
dipergunakan dalam menetapkan harga yakni, mark up pricing, target-return pricing dan
perceived-value pricing serta value pricing. Gojek & Grab Bike menggunakan metode Value
Pricing – every day low pricing.
Tahap terakhir adalah menetapkan harga akhir dengan senantiasa memperhatikan apa
dampak dari penetapan harga akhir tersebut terhadap pesaing serta konsistensi terhadap
kebijakan perusahaan. Penetapan harga rendah sesuai dengan tujuan penetapan harga yakni
untuk meningkatkan market share. Harga rendah tersebut memiliki risiko terjadinya perang
harga dengan produsen lain, dan menimbulkan isu etika usaha. Harga rendah tersebut tidak
berpengaruh pada tukang ojek sebagai mitra Go-Jek dan Grab Bike, karena biaya yang
seharusnya dibebankan kepada konsumen ditanggung oleh Gojek dan Grab Bike. Bahkan
Gojek dan juga Grab Bike masih memberikan pembagian keuntungan kepada mitra.
 Perang Harga Go-Jek Vs Grab
Ada beberapa elemen yang harus diperhatikan dalam melakukan adaptasi terhadap
perubahan harga. Yang pertama adalah adanya price discount dan allowances yang diberikan
kepada konsumen, promotional pricing, differentiated pricing, dan terjadinya potongan harga.
Yang paling kentara dari persaingan harga antara Gojek dan Grab Bike adalah pada aspek
promotional pricing, differentiated pricing serta, adanya potongan harga.
Jika diperhatikan Gojek dan Grab Bike sama-sama melakukan promotional pricing.
Ada beberapa cara melakukan promotional pricing, yakni loss leader pricing, special event
pricing, special customer pricing, cash rebates, longer payment terms. Gojek dan Grab Bike
melakukan promotional pricing pada special event yakni pada saat hari raya idul fitri
kemarin.
Differentiated pricing merupakan pembedaan harga yang diterapkan oleh sebuah
perusahaan terhadap produk dan layanannya berdasarkan berbagai pengkategorian konsumen.
Aspek-aspek yang dibedakan biasanya meliputi segmentasi kelas dan karakteristik konsumen,
bentuk produk, tempat sebuah produk itu dikonsumsi, berdasarkan lokasi dan waktu. Cara
terakhir inilah yang dipergunakan oleh Gojek dan Grab Bike dimana Gojek dan Grab Bike
sama-sama memberikan batas layanan untuk maksimal 25 km dan menetapkan harga
berdasarkan regular time dan peak hour.
Terkait dengan penetapan potongan harga yang menyebabkan harga atau tarif Go-Jek
dan Grab Bike kelewat rendah bisa jadi menimbulkan sejumlah “jebakan-jebakan” kepada
para pesaing yang ingin masuk. Jebakan yang pertama adalah fragile market share trap
dimana Gojek dan Grab Brike menerapkan harga rendah untuk meningkatkan market share.
Jebakan lainnya adalah shallow pocket trap yakni jebakan yang sepenuhnya menggantungkan
pada kekuatan finansial dari masing-masing perusahaan. Berdasarkan sejumlah isu, Gojek di
biayai oleh Northstar dan NSI Venture dan Sequoia Capital. Rumornya investasi mencapai 20
Juta USD, sedangkan Grab Bike Indonesia merupakan afiliasi dari Grab Bike Malaysia.
Menarik untuk disimak, seperti apa kekuatan pesaingnya seperti Lady Jek, Ojesy, Blue Jek
ataupun Jeger Taxi, apakah bisa menyaingi kekuatan para pemodal Gojek dan Grab Bike.
Jebakan lain yang bisa muncul adalah perang harga. Gojek dan Grab Bike terjebak
dalam perang harga. Ketika awal Gojek menetapkan harga Rp10.000, Grab Bike menetapkan
harga Rp5.000. Untuk hal ini, Nadiem Makarim, CEO dari Gojek Indonesia bahkan sampai
melontarkan pernyataan disalah satu media kepada Grab Bike.
Saya lempar ke mereka (GrabBike) kapan kita mau sama-sama merasionalkan harga
demi kepentingan sosial masyarakat – Nadiem Makarim, CEO Go-Jek Namun kita juga
melihat bahwa disaat Gojek menaikkan tarifnya dari Rp10.000 menjadi 15.000, Grab Bike
juga menaikkan harga promosinya dari Rp5.000 menjadi Rp10.000. Apakah ini pertanda
bahwa Gojek dan Grab Bike akan sama-sama menyeimbangkan harga kepada tarif normal
yang sesungguhnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
. Jadi, jika boleh disimpulkan dalam memandang Gojek dan Grab Bike dari perspektif
harga, Gojek dan Grab Bike bersaing tidak hanya dengan satu sama lain, tetapi juga bersaing
dengan “ojek digital” lainnya, “ojek pangkalan dan sarana transportasi lainnya. Gojek dan
Grab Bike menetapkan harga rendah (every day low pricing) untuk mengambil market share
sebesar-besarnya dan “mencuri” pangsa pasar moda transportasi lainnya. Gojek dan Grab
Bike berada dalam pasar yang sangat sensitif terhadap harga dan sangat elastic. Gojek dan
Grab Bike terjebak dalam “perang harga”. Menarik untuk disimak sejauh mana kekuatan
pemodal “dibelakang” mereka mampu mempertahankan keunggulan harga murah tersebut.
Strategi Go-Jek menghadapi Grab
Dalam menghadapi kompetitornya, Go-Jek perlu memerhatikan hal-hal sebagai
berikut :
 Go-Jek menetapkan harga lebih tinggi untuk Go-Ride dari pada GrabBike. Beberapa
pelanggan ,khususnya mahasiswa, mengunduh kedua aplikasi ini dengan tujuan
mendapatkan tansportasi ojek dengan harga yang murah. Sehingga, GrabBike
biasanya menjadi pilihan para mahasiswa karena harga yang murah dan menawarkan
promo yang lebih banyak dibanding Go-Jek.
 Sebagai startup raksasa milik anak bangsa, Go-Jek perlu lebih menggendor-gendorkan
strategi nasionalisme dengan Tagline “Karya Anak Bangsa” kepada rakyat Indonesia
layaknya perusahaan Maspion. Selain untuk meningkatkan transaksi di Go-Jek, hal ini
juga dapat berdampak pada meningkatnya kesadaran rakyat indonesia khususnya
generasi milenial untuk cinta pada produk dalam negeri dan mendorong pula generasi
milenial untuk berkarya.
Bergaining Power dari Konsumen
 Harga : Konsumen dari Go-Jek adalah untuk segmen menengah ke bawah sehingga
penentuan harga tidak boleh terlalu mahal, karena sangat berpengaruh terhadap daya
tarik konsumen (pricing sensitivity)
 Kualitas : Driver Go-jek dapat menjamin keselamatan penumpang sampai di tujuan
dengan kecepatan tertentu. Begitu pun dengan layanan lainnya, Go-jek dapat
menjamin pelayanan yang diberikan mudah, cepat, nyaman dan aman.
Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan identifikasi berbagai factor secara sistematis yang
bertujuan untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini mengidentifikasikan berbagai
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan sekaligus peluang dan ancaman yang
dihadapinya. Kekuatan merupakan keunggulan yang dimiliki perusahaan yang tidak dimiliki
pesaingnya, sedangkan kelemahan adalah kondisi yang tidak mendukung perusahaan dalam
memenangkan persaingan. Peluang merupakan kondisi di mana perusahaan dapat
memperoleh imbalan potensial dengan tingkat risiko tertentu. Sebaliknya, ancaman
merupakan hal atau peristiwa yang akan menghambat keberlangsungan hidup perusahaan
sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan pesaingnya. Dengan mengkombinasikan
kekuatan, dan kelemahan maka suatu perusahaan dapat menerapkan strategi internal yang
tepat, sedangkan peluang dan ancaman akan menentukan tingkat persaingan yang harus
diantisipasi oleh perusahaan. Analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi jangka
panjang perusahaan.
Berikut adalah hasil analisis SWOT dari transportasi online Go-Jek
Strength ( Kekuatan )
1.Sebagai perusahaan yang pertama mengembangkan transportasi online, gojek sudah lebih
dulu memiliki mitra driver dan pelanggan setia yang lebih banyak dibandingkan dengan
perusahaan lain.
2.Pilihan yang di tawarkan melalui aplikasi kepada konsumen lebih lengkap dibandingkan
perusahaan lain. Gojek menawarkan jenis layanan yang beragam seperti, Go-Ride, Go-Car,
Go-Box, Go-Food, Go-Send, Go-Mart, Go-Shop, Go-Med, dll.
3.Banyaknya pengusaha kuliner yang tertarik bergabung menjadi mitra gojek membuat
layanan Go-Food dari gojek menjadi salah satu daya tarik konsumen untuk menggunakan
aplikasi gojek.
4.Banyaknya bentuk layanan untuk mitra driver gojek membuat loyalitas driver menjadi
meningkat. Seperti layanan asuransi untuk mitra gojek, BPJS, dll.
Weakness ( Kelemahan )
1.Dibandingkan perusahaan laiinya, biaya yang dikeluarkan untuk layanan gojek sedikit
lebih mahal terutama untuk layanan Go-Ride, Go-Car, dan Go-Send.
2.Untuk pelanggan Go-Food harus bersedia menunggu lebih lama untuk memesan makanan
yang disuka. karena beberapa rumah makan yang bekerja sama dengan gojek membutuhkan
waktu yang lama untuk menyiapkan pesanan tersebut.
3.Masih sering adanya order fiktif yang merugikan mitra driver gojek.
Opportunity ( Kesempatan )
1.Memperluas jaringan dan kerja sama dengan lebih banyak rumah makan atau resto lagi
karena masih banyak rumah makan/resto pilihan konsumen yang belum masuk layanan Go-
Food.
2.Apabila selama ini layanan gojek lebih banyak dipergunakan oleh konsumen perorangan.
Maka perlu dipertimbangan untuk meningkatkan layanan konsumen dalam berntuk
perusahaan, khususnya untuk Go-Send, Go-Car, Go-Box. Karena Gojek masih memiliki
peluang besar untuk terjun di bisnis logistik untuk memenuhi pelanggan berbentuk
perusahaan.
Threat ( Ancaman )
1.Ancaman timbul dari pemerintah berupa peraturan dan penertiban tarif online. Meskipun
tidak terlalu mempengaruhi layanan kepada konsumen.
2.Ancaman timbul dari pesaing penyedia layanan online lainnya, hal ini bisa menimbulkan
perang tarif yang tidak sehat.
3.Ancaman untuk mitra driver gojek timbul dari penyedia jasa transportasi konvensional
seperti ankutan kota, taksi, ojek pangkalan yang tidak jarang melakukan penyerangan fisik
atau verbal kepada mitra driver gojek. Meskipun sudah disepakati bersama mengenai wilayah
yang menjadi zona larangan bagi mitra driver gojek.
Analisis terhadap Bauran Pemasaran
Hasil analisis SWOT dapat digunakan untuk menentukan alternative strategi
pemasaran bagi Go-Jek. Berdasarkan analisis maka strategi yang dapat diterapkan Go-Jek
untuk meningkatkan transaksi di platform Go-Jek, khususnya Go-Ride.adalah sebagai
berikut.
1.Produk
Fitur beragam yang ditawarkan Go-Jek merupakan salah satu kelebihan dari Go-Jek.
Oleh karena itu, Go-Jek sebaiknya lebih meningkatkan kualitas pelayanan dari tiap fitur
sehingga dikemudian hari dapat membangun cabang dari tiap fitur yang ditawarkan.
Misalnya ketika Go-Send, Go-Box dan Go-Car dapat dibentuk cabang khusus yang dapat
melayani perorangan maupun perusahaan.
2.Harga
Go-Jek memberikan harga yang terjangkau dengan menyadari bahwa konsumen
Indonesia sangat price sensitive terutama kalangan menengah ke bawah yang menjadi target
marketnya, Selanjutnya, Go-jek juga perlu mempertimbangkan tarif yang ditetapkannya
dengan tarif yang ditetapkan competitor lain. Sehingga, konsumen lebih memilih Go-Jek
dibanding competitor lain,seperti Grab.
3.Distribusi
Jalur distribusi terus dikembangkan dan diperkuat, sehingga semakin menguasai pasar
sasaran dengan terus memfokuskan diri pada meningkatkan persebaran jumlah mitra dan
meningkatkan kualitas pelayanan secara merata di tiap daerah. Strategi yang dapat dilakukan
yaitu dengan push strategy dengan memberikan bonus, jaminan social dan jaminan kesehatan
kepada driver Go-Jek dan menawarkan berbagai keuntungan kepada mitra yang berhubungan
dengan Go-Jek sehingga akan lebih meningkatkan transaksi di platform Go-Jek. Sedangkan
melakukan pull strategy dengan memberikan promo yang gencar pada konsumen/pengguna
Go-Jek sehingga biaya dalam melakukan transaksi di Go-Jek dapat dipangkas.
4.Promosi
Go-Jek dapat mengangkat citranya dengan membuat iklan yang menekankan pada sisi
nasionalisme dengan tagline “Karya Anak Bangsa” dengan tujuan meningkatkan rasa cinta
terhadap tanah air serta memotivasi pula kepada generasi milenial di Indonesia untuk
berkarya. Adapun mengenai iklan promosi, dapat lebih di gencarkan melalui Youtube dan
Instagram sebab aplikasi itulah yang paling sering diakses oleh generasi milenial saat ini.
Selain itu, strategi peningkatan transaksi melalui pemberian kode promo juga perlu di
iklankan melalui media social, spanduk ataupun brosur sehingga masyarakat lebih mudah
tahu mengenai info promo yang ditawarkan Go-Jek, layaknya Grab yang menawarkan
berbagai macam promo untuk para pelanggannya.

Anda mungkin juga menyukai