Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM KIMIA KLINIK

Oleh :

FARIDA FRANSISCA SIHOTANG

NIM : 20112033

PROGRAM STUDI D-IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2014
PEMERIKSAAN BATU GINJAL

Laporan Praktikum Ke- IV

Judul : PEMERIKSAAN BATU GINJAL

Tujuan :

 Makroskopis
Untuk mengetahui struktur dari batu ginjal.
 Kimiawi
Untuk mengetahui susunan kimia dari batu ginjal

BAB 1
PENDAHULUAN

Salah satu organ tubuh manusia yang penting adalah ginjal. Organ ini mempunyai fungsi
untuk menyaring pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat-zat
kimia tubuh seperti kalium dan sodium di dalam darah atau memproduksi urine. fungsi dari
ginjal ini bisa mengalami penurunan dan bahkan bisa tidak mampu bekerja sama sekali atau
yang biasa disebut penyakit gagal ginjal. Gagal ginjal adalah kondisi dimana ginjal gagal
berfungsi dan fungsinya hanya 15 % dari yang seharusnya.

Gambar Batu ginjal

Gambar bagian organ ginjal


Batu ginjal terletak didalam saluran kantung kemih sehingga memiliki hubungan langsung
antara saluran kandung kemih dan tempat pembuangan air seni. Batu ginjal yang terletak di
dalam saluran kemih (kalkulus uriner) merupakan massa keras yang berbentuk seperti batu
yang berada di sepanjang saluran kemih dan dapat menyebabkan rasa nyeri, pendarahn,
penyempitan aliran kemih atau infeksi. Batu-batu ginjal ini terbentuk di dalam ginjal maupun
di dalam kanutng kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut
urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Bagian tubuh yang sering mengalami efek dari
penyakit batu ginjal adalah seringkali mengalami rasa nyeri yang berat, rasa tidak nyaman
pada bagian perut, panggul atau selangkangan. Satu dalam setiap 20 orang mengembangkan
batu ginjal pada satu ketika dalam kehidupannya.

“Gagal ginjal merupakan stadium akhir dari penyakit ginjal kronik”. Menurut Prof. Endang
Susalit SpPD-KGH menyebutkan, prevalensi gagal ginjal di Indonesia saat ini sekitar 7%.
Meskipun belum terdapat data akurat mengenai jumlah pasti penderita gagal ginjal jumlahnya
diperkirakan sekitar 10.000 orang, dilihat dari jumlah pasien yang melakukan terapi
pengganti.

Gagal ginjal paling sering disebabkan karena adanya peradangan di ginjal yang disebut
dengan Glomerulonefritis. Glomerulonefritis dapat disebabkan infeksi di bagians tubuh lain,
mislanya di gigi dan kulit. Selain karena infeksi, glumerulonefritis juga dapat disebabkan
penyakit lupus atau penyakit immunologi lainnya. Glumerulonefritis yang menjadi penyebab
utama dari gagal ginjal mulai terdesak oleh penyakit kronis, misalnya diabetes melitus, dan
hipertensi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Merupakan suatu penyakit yang salah satu gejalanya adalah pembentukan batu di dalam
ginjal

a. Batu ginjal adalah bentuk defosit mineral paling umum oksalat Ca 2+ dan fosfat Ca

2+ namun asam urat dan kristal lain juga pembenuk batu. Meskipun kulkulus ginjal

dapat terbentuk dimana saja dari saluran perkemihan, batu ini paling umum

ditemukan pada pelvis dan kolik ginjal (Doengoes, 1999: 686).

b. Batu ginjal adalah gangguan yang terjadi dengan gejala penggumpalan batu ginjal

karena terjadi stagnasi urine. Biasanya terjadi pada orang yang kurang minum

sehingga terjadi penggumpalan serta kristalisasi zat-zat yang seharusnya dibuang

dari ginjal keluar tubuh (Selamiharja, Nanny, 1998).

c. Batu ginjal adalah terdapatnya batu dalam sistem pelvis dan kalises ginjal, biasanya

kalsium, yang dapat pula terjadi dalam jaringan ginjal atau nefrokalsinosis

(Ovedoff, David, 2002: 993).

d. Batu ginjal adalah masa keras seperti batu yang terbentuk pada ginjal dan biasanya

menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih tau infeksi (Maupathi,

David, 2000).

B. Etiologi

Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran
urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain
yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara epidemiologik terdapat beberapa faktor
yang mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor
tersebut adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri
dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya

Faktor intrinsik antara lain :

1. Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.


2. Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun

3. Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan
pasien perempuan

Faktor ekstrinsik diantaranya adalah :

1. Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih
yang lebih tinggi dari pada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt.
2. Iklim dan temperatur

3. Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi.

4. Diet : Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu.

5. Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktifitas atau sedentary life.(3)

C. Patofisiologi

Terbentuknya batu biasanya terjadi air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat
membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang
normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium sisanya mengandung berbagai bahan,
termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.

Terdapat beberapa teori tentang pembentukan batu pada ginjal, yaitu:

a. Teori inti matrik

Terbentuknya batu ginjal, batu seperti pada saluran kemih atau ginjal memerlukan
substansi organik sebagai inti pebentukan. Matrik organik berasal dari serum dan
protein urine yang memberikan kemungkinan pengendapan kristal sehingga akan
menjadi pembentukan inti.

b. Teori saturasi

Teori ini berkaitan dengan terjadinya kejenuhan substansi bembentukan batu di ginjal,
dalam urine seperti sistin, vantin, asam urat, kalsium oksalat akan mengakibatkan
pembentukan batu.

c. Teori presipitasi- kristal

Terjadinya perubahan pH urine mempengaruhi substansi dalam urine. Pada urine yang
bersifatasam akan mengendap asam urat, garam urat, sistin dan santin. Sedangkan
urine yang bersifat basa akan mengendapkan garam-garam fosfat. Pengendapan
ini baik urine yang bersifat asam maupun basa akan menjadi inti pembentukan
batu.

Teori berkurangnya faktor penghambat seperti peptisida fosfat, pirofosfat, sistrat, magnesium
akan mempermudah terbentuknya batu pada ginjal

D. Manifestasi Klinis

Batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya
gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan
pada penderita batu ginjal antara lain :

1. Tidak ada gejala atau tanda

2. Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral

3. Hematuria makroskopik atau mikroskopik

4. Pielonefritis dan/atau sistitis

5. Pernah mengeluarkan baru kecil ketika kencing

6. Nyeri tekan kostovertebral


7. Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan

8. Gangguan faal ginjal.

Efek Batu Pada Saluran Kemih :

Ukuran dan letak batu biasanya menentukan perubahan patologis yang terjadi pada traktus
urinarius :

a. Pada ginjal yang terkena

- Obstruksi

- Infeksi

- Epitel pelvis dan calis ginja menjadi tipis dan rapuh.

- Iskemia parenkim.

- Metaplasia

b. Pada ginjal yang berlawanan

- Compensatory hypertrophy

- Dapat menjadi bilateral

E. Komplikasi

Beberapa komplikasi dari nekrolitiasis (Selamiharja, Nanny, 1998).

a. Retensi urine

b. Hidroureter

c. Hidronefrosis

d. Abses ginjal

e. Pleonefrosis
f. Urosepsis

g. Gagak ginjal

F. Penatalaksanaan

1. Terapi medis dan simtomatik

Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Terapi simtomatik
berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum yang
berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.

2. Litotripsi

Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk
membawa tranduser melalui sonde kebatu yang ada di ginjal. Cara ini disebut
nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adalah
ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan
memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut.

3. Tindakan bedah

Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor, alat gelombang kejut,
atau bila cara non-bedah tidak berhasil.(1)

G. Pencegahan

Cara penanggulangan batu ginjal dan kemih bervariasi. Yang utama dicari
kasusnya, letak dan ukuran batunya. Kemudian baru ditentukan diatasi dengan cara yang
mana yang paling tepat atau kombinasi berbagai cara. Kalau letak batu sulit dijangkau
atau terlalu besar, jalan satu-satunya dengan pembedahan. Kalau ginjal yang ditumbuhi
batu mulai rusak, harus diangkat, agar ginjal yang masih sehat tidak ikut rusak.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya batu ginjal
(Selamiharja, Nanny, 1998) yaitu:
a. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan
batu yang baru.

b. Dianjurkan untuk banyak minum air putih (8-10 gelas per hari)

c. Diet rendah kalsium seperti ikan salam, sarden, keju, sayur kol. Makin tinggi
kalsium, kian tinggi pula eskresinya yang menambah pembentukan kristalisasi
garam-garam kapur.

d. Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentuk batu kalsium) di


dalam air kemih, diberikan kalsium sitrat.

e. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu
kalsium, merupakan akibat mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya
bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh arena itu asupan makanan
tersebut dikurangi.

f. Pengobatan penyakit yang dapat menimbulkan batu ginjal seperti


hyperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis
atau kanker.

g. Dianjurkan mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, jeroan karena makanan
tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.

h. Untuk mengurangi pembentukan asam urat biasa diberikan allopurinol.

i. Kurangi minuman bersoda dan es teh karena mengandung asam osfalat yang akan
meningkatkan pembentukan batu dalam ginjal.

j. Mulailah berolahraga dan kurangi berat badan.


ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Anamnesis

Anamnesa harus dilakukan secara menyeluruh. Keluhan nyeri harus dikejar mengenai
onset kejadian, karakteristik nyeri, penyebaran nyeri, aktivitas yang dapat membuat
bertambahnya nyeri ataupun berkurangnya nyeri, riwayat muntah, gross hematuria,
dan riwayat nyeri yang sama sebelumnya. Penderita dengan riwayat batu sebelumnya
sering mempunyai tipe nyeri yang sama.(5)

b. Pemeriksaan Fisik

- Penderita dengan keluhan nyeri kolik hebat, dapat disertai takikardi, berkeringat,
dan nausea.

- Masa pada abdomen dapat dipalpasi pada penderita dengan obstruksi berat atau
dengan hidronefrosis.

- Bisa didapatkan nyeri ketok pada daerah kostovertebra, tanda gagal ginjal dan
retensi urin.

- Demam, hipertensi, dan vasodilatasi kutaneus dapat ditemukan pada pasien dengan
urosepsis

c. Pemeriksaan penunjang

- Radiologi

Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda
untuk berbagai jenis batu sehingga dari sifat ini dapat diduga batu dari jenis apa
yang ditemukan. Radiolusen umumnya adalah jenis batu asam urat murni.

Pada yang radiopak pemeriksaan dengan foto polos sudah cukup untuk menduga
adanya batu ginjal bila diambil foto dua arah. Pada keadaan tertentu terkadang
batu terletak di depan bayangan tulang, sehingga dapat luput dari penglihatan.
Oleh karena itu foto polos sering perlu ditambah foto pielografi intravena
(PIV/IVP). Pada batu radiolusen, foto dengan bantuan kontras akan menyebabkan
defek pengisian (filling defect) di tempat batu berada. Yang menyulitkan adalah
bila ginjal yang mengandung batu tidak berfungsi lagi sehingga kontras ini tidak
muncul. Dalam hal ini perludilakukan pielografi retrograd

- Ultrasonografi (USG)

Dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada
keadaan-keadaan; alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan
pada wanita yang sedang hamil (3). Pemeriksaan USG dapat untuk melihat semua
jenis batu, selain itu dapat ditentukan ruang/ lumen saluran kemih. Pemeriksaan
ini juga dipakai unutk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk
mencegah tertinggalnya batu

- Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat


menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan
menentukan penyebab batu.

Menurut Nasution , Yusum (2001, 299) pemeriksaan yang diperlukan adalah

a. Pemeriksaan urin

Guna mengetahui komponen-komponen yang ada di dalamnya.

b. Pemeriksaan darah lengkap

Dibutuhkan untuk mengetahui kadar darah terutama kandungan ureum dan kreatinin
darah yang berperan dalam menunjukan adanya gangguan pada ginjal atau tidak.

c. Pemeriksaan BNO- IVP

Untuk mengetahui komponen-komponen didalamnya ginjal dan kandung kemih.

d. Pemeriksaan radiologi (USG, CT-Scan, MRI)


Dengan pemeriksaan radiologi ini, dapat teridentifikasi batu-batu yang kecil yang
sulit ditemukan dengan cara konvensional

Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu
yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal)
maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini
disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).

Gejala
Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa
menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis
maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik
yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah
antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha
sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam,
menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih,
terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu
menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul
diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air
kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan
menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.

Diagnosis
Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada
pemeriksaan analisis air kemih rutin (urinalisis). Batu yang menyebabkan nyeri biasanya
didiagnosis berdasarkan gejala kolik renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung
dan selangkangan atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas. Analisa air
kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil.
Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari
beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti. Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu
menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam dan pengambilan contoh darah
untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan
terjadinya batu. Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit.
Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi
retrograd.

Pengobatan
Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala, penyumbatan atau infeksi biasanya tidak
perlu diobati. Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan
membantu membuang beberapa batu; jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi
dilakukan pengobatan segera. Kolik renalis bisa dikurangi dengan obat pereda nyeri golongan
narkotik. Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1
sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal
shock wave lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air kemih.
Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit (percutaneous
nephrolithotomy, nefrolitotomi perkutaneus), yang diikuti dengan pengobatan ultrasonik.
Batu kecil di dalam ureter bagian bawah bisa diangkat dengan endoskopi yang dimasukkan
melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih. Batu asam urat kadang akan larut secara
bertahap pada suasana air kemih yang basa (misalnya dengan memberikan kalium sitrat),
tetapi batu lainnya tidak dapat diatasi dengan cara ini. Batu asam urat yang lebih besar, yang
menyebabkan penyumbatan, perlu diangkat melalui pembedahan. Adanya batu struvit
menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu diberikan antibiotik.

Pencegahan
Tindakan pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang
ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisis dan dilakukan pengukuran kadar bahan
yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih.

Batu kalsium

Sebagian besar penderita batu kalsium mengalami hiperkalsiuria, dimana kadar kalsium di
dalam air kemih sangat tinggi. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid) akan
mengurangi pembentukan batu yang baru.
1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).
2. Diet rendah kalsium dan mengonsumsi natrium selulosa fosfat.

Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air
kemih, diberikan kalium sitrat. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong
terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengonsumsi makanan yang kaya oksalat
(misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya
asupan makanan tersebut dikurangi. Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain,
seperti hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau
kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut.

Batu asam urat

Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas karena makanan-
makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih. Untuk
mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol. Batu asam urat terbentuk jika
keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan air kemih yang alkalis (basa),
bisa diberikan kalium sitrat. Selain itu juga sangat dianjurkan untuk banyak minum air putih.
BAB III

PROSEDUR KERJA

A. PRA ANALITIK
1. ALAT
 Tabung Serologi >. Batang Pengaduk
 Rak Tabung >. Gelas Ukur
 Beaker glass >. Pipet Ukur 1ml dan 5 ml
 Pipet pasture >. Push ball.
2. REAGEN
 HCl 10% > NH4 Molibdat > Urea 10 %
 NH4 Oksalat jenuh > Cloroform > Reagent Uric Acid
 NaCN 12% > Asam Asetat Anhidrit > NH4OH 10%
 Serbuk MnO2 > H2SO4 Pekat > FINO3 Pekat

3. PROBANDUS
 Nama Pasien : Tn. X
 Jenis Sampel : Sampel B
B. ANALITIK
1. PROSEDUR KERJA
MAKROSKOPIS.
Tujuan Umum : Untuk mengetahui struktur dari batu ginjal.
Prinsip : Hanya menyangkut segi-segi kualitatif mengenai beberapa macam zat yang
Terpenting dalam batu ginjal.
Prosedure :
 Batu ginjal diamati dengan mata Telanjang
 Pemeriksaan batu Ginjal meliputi :
o Warna
o Jumlah
o Kekerasan
o Tampang permukaan
o Besarnya

Pemeriksaan Kimiawi.

Tujuan : Untuk mengetahui susunan kimia dari batu ginjal


Prinsip : Batu ginjal direaksikan dengan reagen tertentu akan timbul reaksi dan
Terbentuk endapan yang dinilai secara kualitatif.
Prosedure :
 Batu ginjal digerus didalam mortil
 Serbuk yang terjadi dimasukkan tiap-tiap tabung
 Kemudian lakukan pemeriksaan sebagai berikut :
1. KARBONAT
Prosedure :
1. Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalam tabung reaksi
2. Ditambah beberapa tetes HCl 10%
3. Positif (+) CO3 : terbentuk gas.

2. CALSIUM
Prosedure :
 Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalm tabung reaksi
 Tambah 3ml HCl 10% campuran ini dipanaskan
 Ditambahkan amonium oxalat jenuh. Melalui dinding tabung (jangan dikocok)
 Positif calsium (+) : adanya endapan putih kabut

3. OXALAT
Prosedure :
 Serbuk batu ginjal dimasukkan dalam tabung reaksi
 Ditambah 1 ml HCl 10% , dididihkan
 Ditambahkan dengan seujung sendok MnO2
 (+) positif oxalat : timbul gas.

4. URIC ACID
Prosedure :
 Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalam tabung reaksi
 Ditambahkan 1 ml NaCn 12 %
 Ditambahkan 1 ml Urea 50 %
 Ditambahkan 1 ml reagen Uric Acid
 (+) uric acid : Timbul Warna biru.
5. AMMONIUM
Prosedure :

 Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalam tabung reaksi


 Ditambahakan 1 tetes NaOH 20 %
 Ditambahkan 2 tetes reagent Nessler.
 Ammonium (+) positif : Endapan kuning - coklat

6. PHOSPAT
Prosedure :
 Serbuk batu ginjal dimasukan dalam tabung reaksi
 Ditambahkan 4-5 tetes MNO3 Pekat, didihkan
 Ditambahkan 1 ml NH4 molibdat, didihkan
 Phospat (+)
7. CHOLESTEROL
Prosedure :

 Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalam tabung reaksi


 Ditambahakan 1 ml cloroform, didihkan
 Ditambahkan 0,5 ml asam asetat Anhidrit
 Ditambah 2-3 tetes H2SO4 pekat
 cholesterol (+) positif : larutan yang berwarna hijau

8. CYSTINE
Prosedure :

 Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalam tabung reaksi


 Ditambahakan 1 ml NH4OH 10 %
 Ditambahkan NaCN 12 %.
 cyistine (+) positif : terjadi warna merah anggur

9. MAGNESIUM
Prosedure :

 Serbuk batu ginjal dimasukkan kedalam tabung reaksi


 Ditambahakan 1 ml NaOH 20 %
 Ditambahkan 1 tetes titran yellow ( NH4CN ).
 Magnesium (+) positif : endapan warna merah lembayung
BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

A. POST ANALITIK
1. HASIL
MAKROSKOPIS :
a. Warna : putih dan kuning
b. Jumlah : 3 buah
c. Kekerasan : sangat keras
d. Tampang Permukaan : kasar
e. Besarnya :
o 7.0 x 11.2 cm
o 9 x 9 cm
o 9.5 x 6 cm

KIMIAWI :

o Karbonat : (-) negatif, tidak terbentuk gas


o Calsium : (+) positif , terbentuk endapan Putih
o Oxalat : (+) positif, terbentuk gas
o Uric Acid : (-) negatif, tidak timbul warna biru
o Amonium : (+) positif, adanya endapan kuning
o Phospat : (-) negatif, adanya kuning muda yang terbentuk
o Cholesterol : (+) positif, berwarna hijau
o Cystine : (+) positif ,terjadi warna merah anggur
o Magnesium : (-) negatif, tidak terbentuk warna merah lembayung
2. Dokumentasi

MAKROSKOPIS Oxalat Phosphat

Urid acid Ammonium Calcium

Cholesterol Cyistine Karbonat


Magnesium

3. Pembahasan

Pengertian

Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman
Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu
saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal,
pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun
ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah
karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu
uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.

Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan
merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69).
Insidens dan Etiologi

Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara
berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak
dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status
gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-
12 % penduduk menderita batu saluran kemih.

Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran
urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang
masih belum terungkap (idiopatik)

Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu


saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.

Faktor intrinsik, meliputi:

1. Herediter; diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.

2. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun

3. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.

Faktor ekstrinsik, meliputi:

1. Geografi; pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi
daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)

2. Iklim dan temperatur

3. Asupan air; kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat
meningkatkan insiden batu saluran kemih.

4. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran
kemih.
5. Pekerjaan; penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk
atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).

Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih

Beberapa teori terbentuknya batu saluran kemih adalah:

1. Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu
(nukleus). Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan mengendap di
dalam nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal
atau benda asing saluran kemih.

2. Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin dan
mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu.

3. Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat


pembentuk kristal yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa
peptida. Jika kadar salah satu atau beberapa zat ini berkurang akan memudahkan
terbentuknya batu dalam saluran kemih.

Komposisi Batu

Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat, kalsium
fosfat, asam urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan sistin. Pengetahuan
tentang komposisi batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan
timbulnya batu residif.

Batu Kalsium

Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan
yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium
adalah:
1. Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena
peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan
kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya
peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme
primer atau tumor paratiroid.

2. Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai


pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti
the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.

3. Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam
urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium
oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau
berasal dari metabolisme endogen.

4. Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat
sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia
dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian
diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama.

5. Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai


penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi
dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium
ddengan oksalat.

Batu Struvit

Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini
dipicu oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan
pemecah urea (uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas dan Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah
urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini
memudahkan garam-garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu
magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit.
Batu Urat

Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami
oleh penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan
urikosurik (sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi
protein mempunyai peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang
mempengaruhi terbentuknya batu asam urat adalah: urine terlalu asam (pH < 6, volume
urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan hiperurikosuria.

Patofisiologi

Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran
kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau
keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan
hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat
menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen
(gagal ginjal)

Keluhan yang disampaikan pasien tergantung pada letak batu, besar batu dan penyulit
yang telah terjadi. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok di daerah kosto-
vertebra, teraba ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, ditemukan tanda-tanda gagal
ginjal, retensi urine dan jika disertai infeksi didaptkan demam/menggigil.

Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya lekosit, hematuria dan dijumpai kristal-
kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukkan adanya adanya
pertumbuhan kuman pemecah urea.

Pemeriksaan faal ginjal bertujuan mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal
dan untuk mempersipkan pasien menjalani pemeriksaan foto PIV. Perlu juga diperiksa kadar
elektrolit yang diduga sebagai penyebab timbulnya batu salran kemih (kadar kalsium, oksalat,
fosfat maupun urat dalam darah dan urine).

Pembuatan foto polos abdomen bertujuan melihat kemungkinan adanya batu radio-opak dan
paling sering dijumpai di atara jenis batu lain. Batu asam urat bersifat non opak (radio-lusen).

Pemeriksaan pieolografi intra vena (PIV) bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi
ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu semi opak atau batu non opak yang tidak
tampak pada foto polos abdomen.
Ultrasongrafi dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV seperti pada
keadaan alergi zat kontras, faal ginjal menurun dan pada pregnansi. Pemeriksaan ini dapat
menilai adanya batu di ginjal atau buli-buli (tampak sebagai echoic shadow), hidronefrosis,
pionefrosis atau pengkerutan ginjal.

Penatalaksanaan

Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera dikeluarkan agar
tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan pada batu
saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi, infeksi atau indikasi sosial. Batu dapat
dikeluarkan melalui prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan
endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.

Pencegahan

Setelah batu dikelurkan, tindak lanjut yang tidak kalah pentingnya adalahupaya mencegah
timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7%/tahun atau
kambuh >50% dalam 10 tahun.

Prinsip pencegahan didasarkan pada kandungan unsur penyusun batu yang telah diangkat.
Secara umum, tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah:

1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup, upayakan produksi urine 2-3 liter per
hari

2. Diet rendah zat/komponen pembentuk batu

3. Aktivitas harian yang cukup

4. Medikamentosa

Beberapa diet yang dianjurkan untuk untuk mengurangi kekambuhan


adalah:
1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urine dan menyebabkan
suasana urine menjadi lebih asam.
2. Rendah oksalat

3. Rendah garam karena natiuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuria

4. Rendah purin

5. Rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada hiperkalsiuria absorbtif type II

FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:


Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu
dikaji adalah:

1. Aktivitas/istirahat:

Gejala:

- Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk

- Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi

- Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera


serebrovaskuler, tirah baring lama)

2. Sirkulasi

Tanda:

- Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)

- Kulit hangat dan kemerahan atau pucat

3. Eliminasi

Gejala:

- Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya

- Penrunan volume urine

- Rasa terbakar, dorongan berkemih


- Diare

Tanda:

- Oliguria, hematuria, piouria

- Perubahan pola berkemih

4. Makanan dan cairan:

Gejala:

- Mual/muntah, nyeri tekan abdomen

- Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat

- Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup

Tanda:

- Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus

- Muntah

5. Nyeri dan kenyamanan:

Gejala:

- Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu
ginjal menimbulkan nyeri dangkal konstan)

Tanda:

- Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi

- Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit

6. Keamanan:

Gejala:

- Penggunaan alkohol
- Demam/menggigil

7. Penyuluhan/pembelajaran:

Gejala:

- Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK
kronis

- Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme

- Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat, tiazid,


pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.

1. Tes Diagnostik

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan,


edema dan iskemia seluler.
2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal
dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
3. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf
abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d
kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif,
kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
INTERVENSI KEPERAWATAN

Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema
dan iskemia seluler.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Catat lokasi, lamanya/intensitas Membantu evaluasi tempat obstruksi dan


nyeri (skala 1-10) dan kemajuan gerakan batu. Nyeri panggul
penyebarannya. Perhatiakn tanda sering menyebar ke punggung, lipat
non verbal seperti: peningkatan TD paha, genitalia sehubungan dengan
dan DN, gelisah, meringis, merintih, proksimitas pleksus saraf dan pembuluh
menggelepar. darah yang menyuplai area lain. Nyeri
tiba-tiba dan hebat dapat menimbulkan
gelisah, takut/cemas.

Melaporkan nyeri secara dini memberikan


kesempatan pemberian analgesi pada
waktu yang tepat dan membantu
2. Jelaskan penyebab nyeri dan
meningkatkan kemampuan koping klien
pentingnya melaporkan kepada staf
dalam menurunkan ansietas.
perawatan setiap perubahan
karakteristik nyeri yang terjadi.

Meningkatkan relaksasi dan menurunkan


ketegangan otot.

3. Lakukan tindakan yang mendukung


kenyamanan (seperti masase
ringan/kompres hangat pada
punggung, lingkungan yang tenang)
Mengalihkan perhatian dan membantu
relaksasi otot.
4. Bantu/dorong pernapasan dalam,
bimbingan imajinasi dan aktivitas
terapeutik.

Aktivitas fisik dan hidrasi yang adekuat


meningkatkan lewatnya batu, mencegah
5. Batu/dorong peningkatan aktivitas
stasis urine dan mencegah pembentukan
(ambulasi aktif) sesuai indikasi
batu selanjutnya.
disertai asupan cairan sedikitnya 3-4
liter perhari dalam batas toleransi
jantung.
Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan
perforasi dan ekstravasasiurine ke dalam
area perrenal, hal ini merupakan
6. Perhatikan peningkatan/menetapnya
kedaruratan bedah akut.
keluhan nyeri abdomen.

Analgetik (gol. narkotik) biasanya diberikan


7. Kolaborasi pemberian obat sesuai
selama episode akut untuk menurunkan
program terapi:
kolik ureter dan meningkatkan relaksasi
- Analgetik otot/mental.

Menurunkan refleks spasme, dapat


menurunkan kolik dan nyeri.

Mungkin digunakan untuk menurunkan


- Antispasmodik
edema jaringan untuk membantu gerakan
batu.

- Kortikosteroid Mencegah stasis/retensi urine, menurunkan


risiko peningkatan tekanan ginjal dan
infeksi.
8. Pertahankan patensi kateter urine
bila diperlukan.
Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan
ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Awasi asupan dan haluaran, Memberikan informasi tentang fungsi ginjal


karakteristik urine, catat adanya dan adanya komplikasi. Penemuan batu
keluaran batu. memungkinkan identifikasi tipe batu dan
mempengaruhi pilihan terapi

Batu saluran kemih dapat menyebabkan


2. Tentukan pola berkemih normal
peningkatan eksitabilitas saraf sehingga
klien dan perhatikan variasi yang
menimbulkan sensasi kebutuhan
terjadi.
berkemih segera. Biasanya frekuensi dan
urgensi meningkat bila batu
mendekati pertemuan uretrovesikal.

Peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri,


darah, debris dan membantu lewatnya
batu.

3. Dorong peningkatan asupan cairan. Akumulasi sisa uremik dan


ketidakseimbangan elektrolit dapat
menjadi toksik pada SSP.

Peninggian BUN, kreatinin dan elektrolit


4. Observasi perubahan status mental, menjukkan disfungsi ginjal
perilaku atau tingkat kesadaran.

Meningkatkan pH urine (alkalinitas) untuk


5. Pantau hasil pemeriksaan menurnkan pembentukan batu asam.
laboratorium (elektrolit, BUN,
kreatinin)
Mencegah stasis urine ddan menurunkan
6. Berikan obat sesuai indikasi: pembentukan batu kalsium.

- Asetazolamid (Diamox),
Alupurinol (Ziloprim)
Menurunkan pembentukan batu fosfat

- Hidroklorotiazid (Esidrix,
Hidroiuril), Klortalidon (Higroton)
Menurnkan produksi asam urat.

- Amonium klorida, kalium atau


natrium fosfat (Sal-Hepatika)

Mungkin diperlukan bila ada ISK

- Agen antigout mis: Alupurinol


(Ziloprim)
Mengganti kehilangan yang tidak dapat
teratasi selama pembuangan bikarbonat
dan atau alkalinisasi urine, dapat
- Antibiotika
mencegah pemebntukan batu.

- Natrium bikarbonat
Mengasamkan urine untuk mencegah
berulangnay pembentukan batu alkalin.

Mungkin diperlukan untuk membantu


kelancaran aliran urine.

Mengubah pH urien dapat membantu


- Asam askorbat
pelarutan batu dan mencegah
pembentukan batu selanjutnya.

7. Pertahankan patensi kateter tak Berbagai prosedur endo-urologi dapat


menetap (uereteral, uretral atau dilakukan untuk mengeluarkan batu.
nefrostomi).
8. Irigasi dengan larutan asam atau
alkali sesuai indikasi.

9. Siapkan klien dan bantu


prosedur endoskopi.

Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal
dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Awasi asupan dan haluaran Mengevaluasi adanya stasis urine/kerusakan


ginjal.

Mual/muntah dan diare secara umum


2. Catat insiden dan karakteristik
berhubungan dengan kolik ginjal karena
muntah, diare.
saraf ganglion seliaka menghubungkan
kedua ginjal dengan lambung.

Mempertahankan keseimbangan cairan


untuk homeostasis, juga dimaksudkan
3. Tingkatkan asupan cairan 3-4
sebagai upaya membilas batu keluar.
liter/hari.

Indikator hiddrasi/volume sirkulasi dan


kebutuhan intervensi.
4. Awasi tanda vital.

Peningkatan BB yang cepat mungkin


berhubungan dengan retensi.

5. Timbang berat badan setiap hari.

Mengkaji hidrasi dan efektiviatas intervensi.

6. Kolaborasi pemeriksaan HB/Ht dan Mempertahankan volume sirkulasi (bila


elektrolit. asupan per oral tidak cukup)

7. Berikan cairan infus sesuai program Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas
terapi. saluran cerna, mengurangi iritasi dan
membantu mempertahankan cairan dan
keseimbangan nutrisi.
8. Kolaborasi pemberian diet sesuai
keadaan klien.
Antiemetik mungkin diperlukan untuk
menurunkan mual/muntah.

9. Berikan obat sesuai program


terapi (antiemetik misalnya
Proklorperasin/ Campazin).
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang
terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang
akurat/lengkapnya informasi yang ada.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Tekankan pentingnya memperta- Pembilasan sistem ginjal menurunkan


hankan asupan hidrasi 3-4 liter/hari. kesemapatan stasis ginjal dan
pembentukan batu.

Jenis diet yang diberikan disesuaikan dengan


2. Kaji ulang program diet sesuai
tipe batu yang ditemukan.
indikasi.

- Diet rendah purin

- Diet rendah kalsium

- Diet rendah oksalat

- Diet rendah kalsium/fosfat

Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk


3. Diskusikan program obat-obatan,
mengoreksi asiditas atau alkalinitas urine
hindari obat yang dijual bebas.
tergantung penyebab dasar pembentukan
batu.

Pengenalan dini tanda/gejala berulangnya


pembentukan batu diperlukan untuk
4. Jelaskan tentang tanda/gejala yang
memerlukan evaluasi medik (nyeri memperoleh intervensi yang cepat
berulang, hematuria, oliguria) sebelum timbul komplikasi serius.

Meningkatakan kemampuan rawat diri dan


kemandirian.
5. Tunjukkan perawatan yang tepat
terhadap luka insisi dan kateter bila
ada.
KESIMPULAN AKHIR.

Jadi dari hasil pemeriksaan batu ginjal diperoleh hasil

makroskopis :

 Warna : Putih Dan Kuning


 Jumlah : 3
 Kekerasan : Sangat keras
 Tampang Permukaan : Kasar
 Besarnya :
o 7.0 x 11.2 cm
o 9 x 9 cm
o 9.5 x 6 cm

Dan dari hasil pemeriksaan kimia, batu ginjal tersusun atas calsium, ammonium, cholesterol
dan cystine.

DAFTAR PUSTAKA
Yeyen emelda. 2012. Laporan Pendahuluan Batu Ginjal.
http://emelda1st.blogspot.com/2012/12/laporan-pendahuluan-batu-ginjal.html. (diakses
tanggal 24 desember 2012).

Widis.2012. Laporan pendahuluan batu ginjal. http://dunia-


ilmukita.blogspot.com/2012/01/laporan-pendahuluan-batu-ginjal-konsep.html. ( diakses
tanggal 08 januari 2012 )

Healty Bangun.2008. Laporan Pendahuluan.


http://bangunderis.blogspot.com/2008/11/laporan-pendahuluan.html. ( Diakses pada
tanggal 28 november 2008 ).