Anda di halaman 1dari 4

PERTANYAAN:

1. Melakukan pemilihan metode yang paling hemat, apabila PT Suro Diro berencana untuk
memberikan insentif tunjangan pajak (dalam pengenaan PPh Pasal 21 yang seharusnya
ditanggung oleh karyawan).

JAWABAN :

1. Dalam Kasus PT Suro Diro ingin memberikan insentif tunjangan pajak (dalam jumlah penuh
sebagaimana PPH Pasal 21 yang harus dibayar karyawan) ada 2 metode yang bisa digunakan :

a) Ditanggung pemberi kerja (metode Netto)


Cara menanggung PPh Pasal 21 Metode Netto adalah menanggung PPh tanpa
memberikan tunjangan pajak dalam istilah peraturan pajak disebut dengan PPh
Ditanggung Pemberi Kerja. Dengan cara ini, PPh Pasal 21 yang terutang atas gaji
karyawan dibayar sendiri oleh pemberi kerja dan PPh Pasal 21 yang dibayar
(ditanggung) oleh si pemberi kerja itu tidak dimasukkan sebagai unsur penghasilan
karyawan. Sebagai contoh, misalkan Budi bekerja sebagai pegawai di PT Suro Diro
dengan gaji Rp 5.000.000,-. Seandainya dari gaji tersebut PPh Pasal 21 yang terutang
sebesar Rp 250.000,- dan PPh Pasal 21 tersebut ditanggung oleh PT Suro Diro, maka
gaji yang diterima Budi adalah Rp 5.000.000,-. PPh Pasal 21 sebesar Rp 250.000,-
yang ditanggung oleh PT Suro Diro dalam contoh di atas, tidak dimasukkan sebagai
tunjangan (penghasilan) bagi Budi saat penghitungan PPh Pasal 21 dilakukan. Ini
dikarenakan menurut Pasal 4 ayat (3) huruf d UU PPh, pajak atas gaji Budi yang tidak
dipotong dari gaji melainkan ditanggung sendiri oleh PT Suro Diro tersebut
dikategorikan sebagai imbalan dalam bentuk kenikmatan (fasilitas) atau yang biasa
kita sebut dengan benefit in kind. Sebagai konsekuensinya, PT Suro Diro juga tidak
boleh membiayakan PPh Pasal 21 yang ditanggung tadi dalam SPT Tahunan PPh
Badannya. Sebab biaya-biaya yang berupa imbalan atau penggantian dalam bentuk
kenikmatan (natura) tidak diperkenankan dikurangkan dari penghasilan bruto
pemberi kerja saat menghitung penghasilan kena pajak.

b) Diberikan tunjangan pajak (metode Gross Up)

Cara menanggung PPh Pasal 21 metode gross up adalah dengan seolah-olah


memberikan tunjangan pajak (Tunjangan PPh) kepada karyawan seperti layaknya
memberikan Tunjangan Transport, Tunjangan Makan, Tunjangan Jabatan, dan
tunjangan lainnya. Dengan cara ini, PPh Pasal 21 yang sebenarnya ditanggung oleh
perusahaan pemberi kerja dimasukkan terlebih dahulu ke dalam unsur gaji dan
tunjangan kepada karyawan saat penghitungan PPh Pasal 21 dilakukan (Tunjangan
PPh Pasal 21 ikut dihitung PPh Pasal 21-nya). Jadi seolah-olah karyawan menerima
uang Tunjangan PPh tadi terlebih dahulu dan dihitung pula PPh Pasal 21-nya, baru
kemudian dipotong kembali oleh perusahaan pemberi kerja. Besarnya Tunjangan PPh
dapat disesuaikan dengan kebijakan perusahaan pemberi kerja masing-masing.
Perusahaan atau pemberi kerja bisa saja menerapkan kebijakan untuk memberikan
tunjangan pajak sebesar 100% dari jumlah PPh Pasal 21 yang terutang. Kebijakan ini
lebih dikenal dengan istilah gross-up.

Tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang (salah satunya Tunjangan PPh)
merupakan salah satu biaya atau pengeluaran yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto pemberi kerja [Pasal 6 ayat (1) huruf a angka 2 UU PPh]. Artinya,
perusahaan atau pemberi kerja boleh membiayakannya di SPT Tahunan PPh mereka.

Dari kedua metode tersebut, yang memberikan penghematan pajak dari sisi pajak (tax
saving) adalah metode gross-up, karena biaya pengeluaran untuk tunjangan pajak
dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan (sebagai deductible cost).
Metode netto karena tunjangan dianggap sebagai natura, maka pengeluaran pajak pph
pasal 21 yang ditanggung perusahaan tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto
perusahaan.

Namun, jika dilihat dari sisi governance perusahaan, metode gross up tidak
menguntungkan, karena cost nya yang sangat tinggi. (Perbedaan cost dapat dilihat pada
ilustrasi). Jadi, jika mempertimbangkan cost benefit, metode netto lebih cocok dipilih
oleh PT Suro Diro. Walaupun tunjangan dengan metode gross-up dapat diberlakukan
sebagai deductible cost, tetapi jumlah yang dibayarkan dapat 2x lebih besar dari jumlah
tanggungan pajak PPH pasal 21 yang seharusnya.
2. Merekomendasikan alternatif terbaik yang bersifat tax saving apabila perusahaan
merencanakan untuk mencari dana guna ekspansi bisnis, yaitu antara
 Meminjam uang ke bank selama 10 tahun sebesar Rp 10.000.000.000,-, tingkat
bunga 11%, dengan agunan sertifikat areal pabrik dan barang bergerak.
 Menjual saham sebanyak 20.000 lembar, nilai nominal Rp 1.000.000,-.
 Menjual obligasi bergaransi dengan tingkat bunga 10%, jatuh tempo 10 tahun,
harga nominal Rp 10.000.000,-, sebanyak 200 lembar.
Diketahui pada saat rencana di atas terjadi, tingkat bunga efektif simpanan adalah 9% dan
tingkat bunga kredit 11%.
Alternatif pilihan :
a) Peminjaman Bank.
Dari sisi pajak : Pasal 23 UU No. 36 Tahun 2008 (4) Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak dilakukan atas:

1. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;


2. sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi;
3. dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang diterima oleh orang
pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c);
4. dihapus;
5. bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i;
6. sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;
7. dihapus; dan
8. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai
penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Dengan demikian, bukan objek PPh Pasal 23.


Juga bukan objek PPh Final.
Namun merupakan penghasilan bagi bank yang dikenakan pajak menggunakan mekanisme perhitungan
sendiri yang dilaporkan di dalam SPT Tahunan bank yang bersangkutan.

Bunga pinjaman bank (yang dibayarkan kepada bank) bukan merupakan objek pajak.
Dari sisi biaya untuk mendapatkan modal : pinjaman bank memiliki biaya yang mahal.
Persyaratan untuk mendapatkan pinjaman dari bank sangat banyak, harus disertai agunan,
tingkat suku bunga kredit yang tinggi.
b) Penjualan saham
Dari sisi pajak : Penghasilan dari penjualan saham di bursa merupakan objek PPh yang bersifat final. Tarif pemungutan PPh
yang bersifat final adalah 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham.
Khusus untuk transaksi penjualan saham pendiri berlaku ketentuan sebagai berikut:

1. Transaksi penjualan saham pendiri dikenakan tambahan PPh dengan tarif 0,5% (setengah persen) dari nilai saham
perusahaan pada saat penutupan bursa di akhir tahun 1996;
2. Dalam hal saham perusahaan diperdagangkan di bursa efek setelah 1 Januari 1997, maka nilai saham pendiri ditetapkan
sebesar harga saham pada saat penawaran umum perdana;
3. Penyetoran tambahan PPh atas saham pendiri dilakukan oleh emiten atas nama pemilik saham pendiri:

a. selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997
(tanggal 29 Mei 1997), apabila saham perusahaan telah diperdagangkan di bursa efek sebelum Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 ditetapkan;
b. selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah saham tersebut diperdagangkan di bursa, apabila saham
perusahaan baru diperdagangkan di bursa efek pada saat atau setelah Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun
1997 ditetapkan (tanggal 29 Mei 1997);
4. Wajib Pajak yang memilih untuk memenuhi kewajiban PPhnya tidak berdasarkan angka 3 di atas, atas penghasilan dari
transaksi penjualan saham pendiri dikenakan PPh sesuai dengan tarif umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
Undang-undang PPh.

Dari sisi biaya untuk mendapatkan modal : penerbitan saham merupakan opsi yang paling murah.
Biaya penerbitan saham relatif lebih murah dibandingkan dengan biaya mendapatkan kredit bank
dan obligasi.
c) Penjualan obligasi
Dari sisi pajak : bunga dan diskonto obligasi merupakan objek pajak bagi pemegang obligasi yang
dipotong oleh penerbit obligasi pada saat jatuh tempo. Besarnya 15% dari jumlah bruto bunga. Dalam hal
ini, PT Suro Diro tidak mempunyai kewajiban membayar pajak atas bunga obligasi. Karena yang dikenai
pajak adalah penerima bunga atau pemegang obligasi.
Dari sisi biaya untuk mendapatkan modal : penjualan obligasi merupakan pilihan yang lebih murah
dibandingkan dengan kredit bank. Tingkat bunga obligasi dapat di bawah tingkat bunga kredit bank,
sehingga obligasi memberikan opsi pembiayaan modal yang lebih murah dibandingkan kredit bank.
Dari ketiga pilihan di atas, dari sisi tax saving, yang lebih hemat adalah kredit bank dan penjualan
obligasi, karena penjualan saham dikenai pajak atas nilai penjualan saham. Kemudian, dari sisi
penghematan biaya untuk mendapatkan modal, penjualan obligasi memiliki biaya yang lebih murah
dibandingkan kredit bank. Sehingga, penjualan obligasi dapat dipilih oleh PT Suro Diro sebagai alternatif
mencari tambahan dana.

Anda mungkin juga menyukai