Anda di halaman 1dari 16

KONSEP ASTAGATRA DALAM KONTEKS

KETAHANAN NASIONAL BANGSA INDONESIA


1. Pendahuluan
Istilah ”ketahanan nasional” tentu tidak asing lagi bagi kita saat ini. Memang, sebagai istilah,
ketahanan nasional baru dikenal sejak permulaan tahun enam puluhan. Tidak diketahui secara
pasti kapan mulai dipakai dan instansi (lembaga) mana yang pertama sekali menggunakannya.
Hanya kita tahu secara pasti bahwa sejak Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) didirikan
pada tahun 1965, maka masalah ketahanan nasional selalu memperoleh perhatian yang besar di
negeri kita. Namun, kenyataan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa dalam
mempertahankan eksistensinya sebagai negara merdeka, bersatu dan berdaulat (terutama momen
Proklamasi 17 Agustus 1945), bangsa Indonesia telah memiliki semangat ketahanan nasional
tersebut.
Pada pembahasan kali ini, kami memberi judul makalah ini: ”Konsep Astagatra dalam Konteks
Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia.” Sesudah pendahuluan, di dalamnya akan dibahas
pengertian ketahanan nasional baik secara umum maupun dalam konteks Indonesia. Sesudah itu,
menyusul pembahasan tentang konsep astagatra dalam konteks ketahanan nasional bangsa
Indonesia. Bagian penutup terdiri dari rangkuman umum dan refleksi.

2. Pengertian Ketahanan Nasional

2.1 Pemahaman Ketahanan Nasional secara Umum

Setiap bangsa dan negara mempunyai cita-cita luhur dan indah yang ingin dicapainya. Cita-cita
yang ingin dicapainya itu mempunyai fungsi penentu dari tujuan nasionalnya. Untuk mencapai
tujuan nasional tersebut bangsa yang bersangkutan harus berani menanggung dan menghadapi
segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang senantiasa datang menghadang.
Dengan itu, yang perlu dimiliki adalah kemampuan kekuatan, ketangguhan, dan keuletan dari
suatu bangsa untuk mempertahankan kedaulatannya. Usaha-usaha tersebutlah yang menjadi
ketahanan nasional.
Oleh sebab itu, ketahanan nasional harus senantiasa dibina sepanjang masa agar kelangsungan
hidup suatu bangsa atau negara terjamin. Ketahanan nasional perlu dikembangkan dan
ditingkatkan. Atau dengan kata lain, makin tinggi tingkat ketahanan nasional suatu bangsa,
semakin kuatlah posisi bangsa tersebut baik ke luar maupun ke dalam. Jadi, yang dimaksud
dengan ketahanan nasional adalah perihal tahan (kuat) keteguhan hati, ketabahan dalam rangka
kesadaran dalam mempertahankan kedaulatan, kesatuan dan persatuan suatu bangsa dan negara.

2.2 Pengertian Ketahanan Nasional dalam Konteks Indonesia

Sebagai bangsa yang sudah berdaulat, bangsa Indonesia perlu memiliki ketahanan nasional.
Ketahanan nasional itu perlu supaya tujuan negara yang ingin dicapai terhindar dari gangguan
dan hambatan. Gangguan dan hambatan tersebut bisa dalam bentuk masalah internal dan
eksternal suatu bangsa yang dihadapi.
2.2.1 Arti dan Definisi
Ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk menjamin
kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa yang bernegara. Dalam arti ini ketahanan
nasional meliputi segala aspek dan bidang kehidupan bangsa.
Dari pengertian ini, maka kita dapat mendefinisikan apa itu ketahanan nasional. Ketahanan
nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan, keuletan, dan
kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala ancaman,
tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar, secara
langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam perjuangan dalam mewujudkan tujuan
perjuangan nasional.

2.2.2 Asas-asas Ketahanan Nasional Indonesia

Asas ketahanan nasional Indonesia dapat dipahami sebagai tata laku yang didasari nilai-nilai
yang tersusun berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan wawasan Nusantara, yang terdiri dari:
a. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Asas kesejahteraan dan keamanan merupakan asas dalam sistem kehidupan nasional. Tanpa
kesejahteraan dan keamanan, sistem kehidupan nasional tidak akan dapat berlangsung, sehingga
kesejahteraan dan keamanan yang merupakan nilai instrinsik pada sistem kehidupan nasional itu
sendiri sulit diwujudkan. Dalam realisasinya, kondisi kesejahteraan dan keamanan dapat dicapai
dengan menitikberatkan pada kesejahteraan, tetapi tidak berarti mengabaikan keamanan.
Sebaliknya, memberikan prioritas pada keamanan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan. Baik
kesejahteraan maupun keamanan harus selalu ada, berdampingan pada kondisi apa pun.
b. Asas Komprehensif Integral atau Menyeluruh Terpadu
Sistem kehidupan nasional mencakup segenap aspek kehidupan bangsa secara utuh menyeluruh
dan terpadu dalam bentuk perwujudan persatuan dan perpaduan yang seimbang, serasi, dan
selaras dari seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian
ketahanan nasional mencakup ketahanan segenap aspek kehidupan bangsa dan secara utuh,
menyeluruh dan terpadu (komprehensif integral).
c. Asas Mawas ke Dalam dan ke Luar
Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang saling
berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya. Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul
dampak positif maupun negatif. Dengan itu diperlukan sikap mawas ke dalam maupun mawas ke
luar. Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat dan kondisi kehidupan nasional itu
sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang proporsional untuk meningkatkan kualitas
derajat kemampuan bangsa yang ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa ketahanan
nasional mengandung sikap isolasi atau nasionalisme sempit. Sedangkan, mawas ke luar
bertujuan untuk dapat mengantisipasi, dan ikut berperan serta menghadapi dan mengatasi
dampak lingkungan strategis luar negeri, serta menerima kenyataan adanya saling berinteraksi
dan ketergantungan dengan dunia internasional.
d. Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesetaraan, gotong-royong,
tenggang rasa, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam asa ini diakui adanya perbedaan dan perbedaan tersebut harus dikembangkan secara serasi
dalam hubungan kemitraan, serta dijaga agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat
antagonistik yang saling menghancurkan.
2.2.3 Sifat-sifat Ketahanan Nasional

a. Mandiri
Artinya ketahanan nasional bersifat percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri dengan
keuletan dan ketangguhan yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah serta bertumpu pada
identitas, integritas, dan kepribadian bangsa. Kemandirian ini merupakan prasyarat untuk
menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global.
b. Dinamis
Artinya ketahanan nasional tidaklah tetap, melainkan dapat meningkat ataupun menurun
bergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan negara, serta kondisi lingkungan strategisnya.
Hal ini sesuai dengan hakikat dan pengertian bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa
berubah. Oleh sebab itu, upaya peningkatan ketahanan nasional harus senantiasa diorientasikan
ke masa depan dan dinamikanya di arahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang
lebih baik.

c. Manunggal
Artinya ketahanan nasional memiliki sifat integratif yang diartikan terwujudnya kesatuan dan
perpaduan yang seimbang, serasi, dan selaras di antara seluruh aspek kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
d. Wibawa
Artinya ketahanan nasional sebagai hasil pandangan yang bersifat manunggal dapat mewujudkan
kewibawaan nasional yang akan diperhitungkan oleh pihak lain sehingga dapat menjadi daya
tangkal suatu negara. Semakin tinggi daya tangkal suatu negara, semakin besar pula
kewibawaannya.
e. Konsultasi dan Kerjasama
Artinya ketahanan nasional Indonesia tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan antagonis,
tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih pada sifat konsultatif dan
kerja sama serta saling menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian
bangsa.

3. Konsep Astagatra dalam Konteks Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia

3. 1 Seputar Terminologi Astagatra dan Cakupannya

Secara etimologis, terminologi astagatra terdiri dari dua kata, yakni asta dan gatra. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, asta artinya bentuk terikat delapan dan gatra artinya wujud, sudut
pandangan atau aspek. Maka secara harafiah, astagatra berarti delapan aspek/sudut pandang yang
terikat satu sama lain.
Dalam kehidupan nasional berbangsa dan bernegara, konsep astagatra mencakup dua bagian
besar gatra, yakni trigatra (tiga gatra) dan pancagatra (lima gatra). Trigatra, yang terkait dengan
aspek hidup alamiah, terdiri atas: posisi dan lokasi geografi negara, keadaan dan kekayaan alam,
dan keadaan-kemampuan penduduk. Sementara pancagatra, yang terkait dengan aspek
sosial/kemasyarakatan, terdiri atas: ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-
keamanan (Hankam).
Antara trigatra dan pancagatra serta antargatra itu sendiri terdapat hubungan timbal balik yang
dinamakan keterhubungan (korelasi) dan ketergantungan (interdepensi). Penjelasan mengenai
hubungan timbal balik ini dipaparkan setelah kita memahami secara umum tiap-tiap gatra di
dalam pembahasan berikut.

3.2 Penjelasan secara Umum Tiap-tiap Gatra di dalam Astagatra

a. Posisi dan Lokasi Geografi Negara


Posisi dan lokasi geografi suatu negara dapat memberi petunjuk mengenai tempat negara tertentu
di atas bumi. Negara sebagai wadah suatu bangsa dengan batas nasional tertentu yang
membedakannya dari negara lain, memberikan kemungkinan berlangsungnya perikehidupan
nasional yang sangat dipengaruhi oleh lokasi dan posisi geografi negara tersebut.
Secara umum, berdasarkan lokasinya, dikenal dua jenis negara yaitu negara dikelilingi daratan
dan negara dikelilingi lautan. Negara dikelilingi daratan (misalnya Laos, Swiss, Afghanistan)
memiliki lingkungan yang bersifat serba daratan atau serba benua. Ciri ini mempengaruhi dan
menentukan cara pandang di segala bidang kehidupan nasionalnya. Negara dikelilingi lautan
terbagi dua, yakni negara kepulauan (archipelagic state) dan negara pulau (island state). Yang
dimaksud dengan negara kepulauan adalah negara yang terjadi dari kumpulan pulau-pulau dan
bentuk-bentuk alamiah lain yang mempunyai hubungan erat satu sama lain, sehingga membentuk
satu keutuhan geografis, ekonomis, dan politis. Arti klasik dari archipelago adalah lautan yang
diseraki pulau-pulau. Artinya, unsur laut lebih besar dari unsur daratan. Sementara negara pulau
adalah negara yang mempunyai unsur daratan lebih besar daripada unsur laut.

b. Keadaan dan Kekayaan Alam


Setiap anggota masyarakat hidup berkembang biak dan mempertahankan diri dengan cara
memanfaatkan alam dan kekayaan yang diperoleh di tanah airnya. Hal ini merupakan kodrat dan
fungsi utama semua makhluk Tuhan. Pemanfaatan itu harus berkembang seirama dengan
perkembangan penduduk itu sendiri dalam segala dimensinya.
Kekayaan alam suatu negara ialah segala sumber dan potensi alam yang didapatkan di bumi,
laut, dan di udara yang berada di wilayah kekuasaan suatu negara. Kekayaan alam yang ada di
atmosfer meliputi sinar matahari, oksigen, karbon-dioksida, dan sebagainya. Kekayaan alam
yang ada di permukaan bumi meliputi tanah, perairan laut dan darat (makanan protein-hewani),
gunung, sumber hidrologi, klimatologi, fauna, dan flora. Sementara kekayaan alam yang ada di
dalam bumi mencakup mineral minyak bumi, uranium, bijih besi, batubara, gas alam, air tanah,
dan sebagainya. Salah satu sifat khusus sumber alam ialah distribusinya yang tidak teratur dan
merata di bumi ini, sehingga dilihat dari segi sumber alam dikenal adanya negara yang kaya dan
miskin.

c. Keadaan dan Kemampuan Penduduk


Penduduk adalah manusia yang mendiami suatu tempat atau wilayah tertentu. Yang termasuk
dalam masalah kependudukan adalah soal yang menyangkut jumlah penduduk, komposisi
penduduk, dan distribusi penduduk.
Jumlah penduduk berubah karena kematian, kelahiran, pendatang baru (imigran), dan orang yang
meninggalkan wilayahnya (emigran). Segi positif dari pertambahan penduduk ialah pertambahan
angkatan kerja untuk menambah kapasitas produksi. Segi negatifnya ialah bila pertumbuhan
penduduk tidak seimbang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk
tidak diikuti usaha peningkatan kualitas/keterampilan penduduk.
Komposisi penduduk adalah susunan penduduk menurut umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa dan tingkat pendidikan, dan sebagainya. Komposisi penduduk tersebut juga dipengaruhi
oleh faktor kematian, kelahiran, dan migrasi.
Distribusi penduduk adalah proses penyebaran penduduk. Distribusi penduduk yang ideal adalah
distribusi yang sekaligus dapat memenuhi persyaratan kesejahteraan dan keamanan yaitu
penyebaran merata. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia ingin bertempat tinggal di daerah
yang memungkinkan jaminan kehidupan ekonomi semaksimal mungkin, yakni di daerah
perekonomian strategis.

d. Ideologi
Ideologi berasal dari bahasa Yunani, idein (melihat) dan logos (ilmu). Istilah ideologi pertama
sekali dikemukakan A. Destult de Tracy (1836) untuk menyebut cabang filsafat yang dinamainya
science des idees. Ilmu ini mendasari pedagogi, etika, dan politik. Secara praktis, ideologi berarti
ilmu tentang (terjadinya) cita-cita, gagasan atau buah pikiran. Kalau arti itu diterapkan pada
negara, maka ideologi dapat dirumuskan sebagai berikut: kesatuan gagasan dasar yang disusun
secara sistematis dan dianggap menyeluruh tentang manusia dan kehidupannya baik yang
individu maupun yang sosial, jadi termasuk hidup bernegara. Di dalam ideologi terkandung
konsep dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa. Keampuhan ideologi
tergantung pada rangkaian nilai yang dikandungnya yang dapat memenuhi serta menjamin segala
aspirasi hidup dan kehidupan manusia. Suatu ideologi bersumber dari suatu aliran
pikiran/falsafah dan merupakan pelaksanaan dari sistem falsafah itu sendiri.
Ideologi adalah Suatu sistem nilai yang merupakan kebulatan ajaran yang memberikan motivasi.
Di dalam ideologi terkandung konsep dasar tentang kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa.
Keampuhan ideologi tergantung pada rangkaian nilai yang dikandungnya yang dapat memenuhi
serta menjamin segala aspirasi hidup dan kehidupan manusia. Suatu ideologi bersumber dari
suatu aliran pikiran/falsafah dan merupakan pelaksanaan dari sistem falsafah itu sendiri.
Keampuhan ideologi suatu bangsa bergantung kepada rangkaian nilai yang dikandungnya yang
dapat memenuhi serta menjamin aspirasi hidup dan kehidupan manusia. Tiap-tiap bangsa dapat
mengembangkan falsafah dan ideologinya sendiri sesuai dengan hakikat kepribadian bangsa itu.
Ideologi negara itu merupakan sistem nilai yang mencakup segenap nilai hidup dan kehidupan
bangsa serta negara. Untuk mencapai ketahanan nasional diperlukan penghayatan dan
pengamalan ideologi secara sungguh-sungguh.

e. Politik
Perkataan politik berasal dari bahasa Yunani. Pada zaman klasik Yunani, negara atau lebih tepat
negara-kota disebut polis. Plato (kira-kira tahun 347 sM) menamakan bukunya tentang negara
politeia. Aristoteles, murid Plato, menyebut karangannya tentang soal-soal kenegaraan dengan
politikon. Maka ’politik’ mendapat arti seni mengatur dan mengurus negara dan ilmu
kenegaraan. Politik mencakup semua kebijaksanaan/tindakan yang bermaksud mengambil
bagian dalam urusan kenegaraan/pemerintahan termasuk yang menyangkut penetapan bentuk,
tugas dan lingkup urusan negara.
Pada umumnya suatu sistem politik mampu memenuhi lima fungsi utama, yakni
mempertahankan pola, mengatur dan menyelesaikan ketegangan/konflik, penyesuaian,
penyampaian tujuan dan penyatuan (integrasi). Fungsi ”mempertahankan pola” yang dimaksud
di sini adalah kemampuan mempertahankan tata cara kebiasaan, norma, dan prosedur yang
berlaku. Berhasil tidaknya hal tersebut tergantung kepada penerimaan dan pengakuan
masyarakat. Perselisihan dan konflik yang timbul di dalam masyarakat memerlukan tata cara dan
prosedur penyelesaian entah berupa konsultasi, perundingan, perbincangan, dan sebagainya.
Berkaitan dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat, suatu sistem politik harus mampu
beradaptasi dengan struktur yang serba dinamis baik yang bersifat nasional maupun
internasional. Suatu sistem politik tidak mungkin bersifat statis/kaku. Sistem politik juga harus
mampu mencapai tujuan nasional yang sudah ditentukan dan disepakati oleh masyarakat itu
sendiri. Oleh karena itu, sistem sosial dalam suatu negara harus diintegrasikan oleh sistem
politik. Ancaman, hambatan, dan gangguan terhadap sistem sosial dapat berupa rasa tidak puas,
ketegangan, perpecahan, disintegrasi, dan sebagainya.

f. Ekonomi
Kata ekonomi berasal dari dua kata Yunani, yakni oikos (rumah tangga) dan nomos (aturan,
peraturan). Maka secara harafiah, ekonomi berarti aturan mengenai hidup rumah tangga.
Bilamana orang mendapat hasil sebesar-besarnya dengan pengeluaran, usaha dan alat sesedikit
mungkin, maka ia disebut bertindak ekonomis rasional.
Lebih luas, perekonomian dapat diartikan sebagai:
1. Aspek kehidupan nasional yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat
meliputi: produksi, distribusi, dan konsumsi barang-barang jasa.
2. Usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara individu maupun kelompok,
serta cara-cara yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan.
Sistem perekonomian yang diterapkan oleh suatu negara akan memberi corak terhadap
kehidupan perekonomian negara yang bersangkutan. Sistem perekonomian liberal dengan
orientasi pasar secara murni akan sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar, sebaliknya
sistem perekonomian sosialis dengan sifat perencanaan dan pengendalian oleh pemerintah
kurang peka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar.
Tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan terhadap kelangsungan ekonomi suatu bangsa
pada hakikatnya ditujukan kepada faktor produksi dan pengolahannya. Karena itu, pembinaan
ekonomi pada dasarnya merupakan penentuan kebijaksanaan ekonomi dan pembinaan faktor
produksi serta pengolahannya di dalam produksi.

g. Sosial-Budaya
Kehidupan sosial terkait dengan pergaulan hidup manusia dalam masyarakat di mana nilai-nilai
kebersamaan, perasaan senasib, sepenanggungan, dan solidaritas merupakan unsur-unsur
pemersatu. Sementara budaya adalah sistem nilai yang merupakan hasil hubungan manusia
dengan cipta rasa dan karsa yang menumbuhkan gagasan-gagasan utama serta merupakan
kekuatan pendukung penggerak kehidupan.
Kebudayaan diciptakan oleh faktor organ biologis manusia, lingkungan alam, lingkungan
psikologis, dan lingkungan sejarah. Dalam setiap kebudayaan daerah terdapat nilai budaya yang
tidak dapat dipengaruhi oleh budaya asing (local genuis). Local genuis itulah pangkal segala
kemampuan budaya daerah untuk menetralisir pengaruh negatif budaya asing.
Kebudayaan nasional merupakan hasil interaksi dari budaya-budaya suku bangsa (daerah) atau
budaya asing (luar) yang kemudian diterima sebagai nilai bersama seluruh bangsa. Interaksi
budaya harus berjalan secara wajar dan alamiah tanpa unsur paksaan dan dominasi budaya
terhadap budaya lainnya.
Dalam setiap masyarakat, empat unsur utama berikut ini mendukung eksistensinya, yaitu struktur
sosial, pengawasan sosial, media sosial, dan standar sosial. Struktur sosial merupakan
masyarakat yang terbagi ke dalam kelompok-kelompok tertentu demi memudahkan pelaksanaan
tugas masing-masing di dalam masyarakat. Pengawasan sosial merupakan sistem dan prosedur
yang mengatur kegiatan dan tindakan anggota masyarakat serta ilmu pengetahuan dan ilmu
teknik empiris yang digunakan manusia untuk membina lingkungannya. Media sosial berperan
penting dalam relasi sosial di dalam masyarakat. Landasan material untuk melakukan kegiatan
dengan alat transportasi dan landasan spiritual untuk mengadakan komunikasi dengan bahasa.
Bahasa dan alat transportasi merupakan media sosial yang perlu untuk relasi sosial. Sementara
standar sosial adalah ukuran untuk memiliki, meneliti dan menyeleksi sikap yang sebaik-
baiknya.

h. Pertahanan-Keamanan
Pertahanan diarahkan untuk menghadapi ancaman dari luar negeri. Sementara, keamanan
diarahkan untuk menghadapi ancaman dari dalam negeri. Pertahanan-keamanan adalah daya
upaya rakyat semesta dengan angkatan bersenjata sebagai inti dan merupakan salah satu fungsi
utama pemerintah/negara dalam menegakkan ketahanan nasional dengan tujuan mencapai
keamanan bangsa dan negara, serta keamanan perjuangannya. Hal ini dilaksanakan dengan
menyusun, mengerahkan dan menggerakkan seluruh potensi dan kekuatan masyarakat dalam
seluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi.

3.3 Hubungan Timbal Balik Antargatra serta antara Trigatra dan Pancagatra

3.3.1 Hubungan Antargatra di dalam Trigatra

a. Antara geografi dan kekayaan alam: kekayaan alam baik kualitas maupun kuantítas perlu
sekali diinventarisasi. Juga mengenai lokasinya karena di dalam perencanaan dan penggunaan
sumber alam dan lokasinya terdapat hubungan yang erat. Misalnya, industri baja berdekatan
dengan lokasi bijih besi, batubara, dan minyak bumi.
b. Antara geografi dan penduduk: distribusi penduduk sangat penting dan mempengaruhi secara
langsung ketahanan nasional. Mata pencaharian penduduk juga dipengaruhi oleh keadaan
geografi sekelilingnya. Distribusi penduduk erat hubungannya dengan masalah transmigrasi dan
pusat-pusat pengembangan.
c. Antara kekayaan alam dan penduduk: kekayaan alam mempunyai manfaat nyata, jika telah
diolah oleh penduduk yang memiliki kemampuan dan teknologi untuk itu. Penduduk harus
mempunyai potensi kekayaan alam yang ada di negaranya dan mampu membina serta
melestarikannya untuk dimanfaatkan di kemudian hari.

3.3.2 Hubungan Antargatra di dalam Pancagatra

a. Ideologi sebagai falsafah hidup bangsa dan landasan ideal negara, bernilai penentu dalam
pemeliharaan kelangsungan hidup bangsa dan pencapaian tujuan nasionalnya.
b. Tingkah laku politik seseorang dipengaruhi oleh bermacam hal yang saling berkaitan. Ia
dipengaruhi oleh kecerdasan dan kesadaran berpolitik, tingkat kemakmuran ekonomi, ketaatan
beragama, keakraban sosial, rasa keamanan, dan sebagainya. Situasi politik yang kacau
membahayakan ketahanan nasional, demikian sebaliknya.
c. Ketahanan ekonomi berhubungan erat dengan ketahanan di bidang ideologi, politik, sosial-
budaya, dan pertahanan-keamanan yang berfungsi sebagai penunjang.
d. Keadaan sosial yang serasi, stabil dinamik, berbudaya, dan berkepribadian hanya dapat
berkembang di dalam suasana aman dan damai. Kemegahan sosial budaya suatu bangsa biasanya
mencerminkan tingkat kesejahteraan nasionalnya, baik fisik, materi, maupun mental kejiwaan.
e. Ketahanan di bidang pertahanan keamanan memerlukan juga penunjang gatra lain. Keadaan
stabil, maju, dan berkembang di bidang ideologi, politik, ekonomi, dan sosial-budaya
memperkokoh pertahanan-keamanan nasional. Pertahanan-keamanan yang lemah akan
melemahkan ketahanan nasional suatu bangsa.

3.3.3 Hubungan Antara Trigatra dan Pancagatra

 Ketahanan nasional pada hakikatnya bergantung kepada kemampuan bangsa/negara dalam


mempergunakan aspek alamiahnya sebagai dasar penyelenggaraan kehidupan nasional di segala
bidang.
 Ketahanan nasional mengandung pengertian keutuhan di mana terdapat hubungan erat
antargatra di dalam keseluruhan kehidupan nasional.
 Kelemahan di salah satu bidang dapat mengakibatkan kelemahan di bidang lain dan
mempengaruhi kondisi keseluruhan.
 Ketahanan nasional bukan merupakan suatu penjumlahan ketahanan segenap gatranya,
melainkan ditentukan oleh struktur atau konfigurasi aspeknya secara struktural dan fungsional.

3.4 Perwujudan Ketahanan Nasional Indonesia dalam Trigatra

3.4.1 Aspek Lokasi dan Posisi Geografis Wilayah Indonesia

Jika kita melihat letak geografis wilayah Indonesia dalam peta dunia, maka akan nampak jelas
bahwa wilayah negara Indonesia merupakan suatu kepulauan yang terdiri dari daerah air dengan
ribuan pulau-pulau di dalamnya. Indonesia berada di tengah-tengah lintas silang dunia; benua
Asia di sebelah utara dan Australia di sebelah selatan serta Samudera Indonesia di sebelah barat
dan Samudera Pasifik di sebelah timur.
Menurut catatan yang umum, Indonesia terdiri dari wilayah lautan dengan 13.667 pulau besar
dan kecil. Diperkirakan bahwa 3.000 pulau di antaranya didiami oleh penduduk. Luas pulau-
pulau diperkirakan 735.000 mil persegi, sedangkan luas perairannya ditaksir tiga sampai empat
kali luas tanah/pulau-pulau tersebut. Jarak antara ujung barat sampai ujung timur kira-kira 3.200
mil. Sedangkan jarak antara ujung utara sampai ujung selatan kira-kira 1.100 mil. Secara
geografis kepulauan Indonesia dapat dibagi dalam empat kelompok pulau-pulau:
1. Sunda Besar yang terdiri atas Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
2. Sunda Kecil yang dikenal sebagai Nusa Tenggara, yang terdiri dari pulau Bali, Lombok,
Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor.
3. Maluku yang terdiri atas pulau-pulau di antara Sulawesi dan Irian Jaya, yakni Halmahera,
Buru, Seram, Amboina, dan
4. Irian Jaya.
Pegunungan Indonesia mengenal dua rantai pegunungan. Yang pertama, dimulai dari Burma dan
menyebar ke arah tenggara Sumatera – Jawa – Kepulauan Nusa Tenggara sampai ke Timor, dari
sini belok setengah lingkaran ke Seram – Amboina – Buru sampai Sulawesi. Yang kedua,
dimulai dari Jepang dan menyebar ke arah barat daya sampai ke Filipina terus ke Kepulauan
Indonesia sebelah timur. Kedua rantai pegunungan itu bertemu di pulau-pulau Sulawesi dan
Halmahera di mana terlihat suatu silang dari dua rantai pegunungan, yang satu membujur dari
utara ke selatan, yang lain dari timur ke barat.
Indonesia terletak di daerah katulistiwa, sehingga mempunyai iklim tropis, yang mengenal
musim hujan dan musim kemarau. Letaknya adalah 60 lintang utara dan 110 lintang selatan dan
antara 950 dan 1410 bujur timur. Mengenai posisi perbatasan, di sebelah timur wilayah
Indonesia berbatasan dengan wilayah Papua Nugini dan Australia. Sedangkan di sebelah utara,
Indonesia berbatasan dengan India, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam.

3.4.2 Aspek Keadaan Kekayaan Alam

Sumber-sumber alam terdapat di atmosfir, di permukaan bumi termasuk laut dan perairan dan di
dalam bumi. Oleh karena itu, sumber-sumber alam sesungguhnya mempunyai arti yang sangat
luas. Indonesia sangat beruntung di antara negara-negara berkembang karena kekayaan alamnya.
Bukan hanya tanahnya yang subur, iklimnya bagus dan airnya penuh ikan, dan buminya
mengandung beraneka bahan tambang yang tinggi harganya.
Mengenai kekayaan alam ini, UUD 1945, pasal 33 ayat 3 menetapkan: ”Bumi air dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya
untuk kemakmuran rakyat.” Tambahan penjelasan, kekayaan alam ini adalah ”pokok-pokok
kemakmuran rakyat” dan oleh karena itu harus ”dipergunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat.”
Untuk mengolah hasil tambang dalam negeri diperlukan biaya yang besar, tenaga ahli dan
pembeli yang mengolahnya terus. Sejak 1967 pemerintah mengizinkan dan merangsang
perusahaan-perusahaan asing untuk menambahkan modal dalam pertambangan, khususnya
dalam eksplorasi. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) bab IV tentang ”pertambangan”
mengatur demikian:
Dalam pembangunan pertambangan perlu dilanjutkan dan ditingkatkan inventarisasi dan
pemetaan […] dengan memanfaatkan teknologi yang tepat guna sehingga produksi dan ekspor
pertambangan serta penerimaan negara semakin meningkat. Pembangunan pertambangan juga
diarahkan untuk lebih memperluas kesempatan kerja dan mengembangkan penyediaan
kebutuhan bahan baku untuk industri dalam negeri.

3.4.3 Aspek Penduduk

Menurut pencatatan penduduk pada tahun 1971, jumlah penduduk seluruh Indonesia adalah
115.014.282 orang di mana untuk Jawa-Madura tercatat jumlah kira-kira 75.000.000 jiwa,
sedangkan di luar Jawa-Madura diperkirakan 40.000.000 jiwa. Bangsa Indonesia kini sedang
mempersiapkan sensus penduduk modern yang ke enam yang akan diselenggarakan pada tahun
2010 (Sensus-sensus penduduk sebelumnya diselenggarakan pada tahun-tahun 1961, 1971, 1980,
1990 dan 2000).
Menurut Sensus Penduduk tahun 2000, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 205.1 juta jiwa,
menempatkan Indonesia sebagai negara ke-empat terbesar setelah Cina, India dan Amerika
Serikat. Sekitar 121 juta atau 60.1 persen di antaranya tinggal di pulau Jawa, pulau yang paling
padat penduduknya dengan tingkat kepadatan 103 jiwa per kilometer per segi. Penduduk
Indonesia tahun 2010 diperkirakan sekitar 234.2 juta.
Dalam Sensus Penduduk 2010 (SP2010) yang akan datang diperkirakan akan dicacah penduduk
yang bertempat tinggal di sekitar 65 juta rumahtangga. Untuk keperluan pencacahan ini akan
dipekerjakan sekitar 600 ribu pencacah yang diharapkan berasal dari wilayah setempat sehingga
mengenali wilayah kerjanya secara baik. Pencacah dilatih secara intensif selama tiga hari
sebelum diterjunkan ke lapangan.
Mengenai komposisi penduduk ditinjau dari umur dapat dikemukakan bahwa penduduk
Indonesia termasuk dalam penduduk yang muda, mengingat kurang lebih 40% terdiri atas
golongan yang berusia di bawah 15 tahun (termasuk golongan non-produktif) dan hanya sekitar
8% terdiri dari golongan berusia 55 tahun ke atas.

3.5 Perwujudan Ketahanan Nasional Indonesia dalam Bidang Pancagatra

3.5.1 Ketahanan di Bidang Ideologi

Ketahanan ideologi diartikan sebagai kondisi dinamik kehidupan ideologi bangsa Indonesia yang
berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan kekuatan nasional dalam
menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang dari
luar/dalam, langsung/tidak langsung dalam rangka menjamin kelangsungan kehidupan ideologi
bangsa dan negara Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, ideologi negara, yakni Pancasila,
merupakan tatanan nilai yang digali (kristalisasi) dari nilai-nilai dasar budaya bangsa Indonesia.
Kelima sila merupakan kesatuan yang bulat dan utuh sehingga pemahaman dan pengamalannya
harus mencakup semua nilai yang terkandung di dalamnya.
Keampuhan Pancasila sebagai ideologi negara bergantung kepada nilai yang dikandungnya yang
dapat memenuhi serta menjamin segala aspirasi hidup dan kehidupan manusia, baik secara
pribadi, sebagai makhluk sosial maupun sebagai warga negara sesuai kodrat dan kehendak
Tuhan Yang Maha Esa. Sila pertama dari Pancasila yang merupakan nilai tertinggi ialah nilai
Ketuhanan Yang Maha Esa. Rangkaian nilai tersebut tidak langsung identik dengan agama,
meskipun mempunyai kaitan yang erat. Rangkaian nilai tersebut adalah konkretisasi dari ajaran
semua agama dan berfungsi sebagai pemersatu kehidupan antarumat beragama yang
menciptakan kekuatan keagamaan mental dan spiritual, di dalam ketahanan nasional. Nilai
tertinggi tersebut menjiwai dan meliputi nilai-nilai sila berikutnya dalam Pancasila.
Di dalam nilai kemanusiaan tersimpul cita-cita kemanusiaan yang memandang manusia sebagai
makhluk Tuhan yang harus menjamin adanya toleransi, tolong-menolong, hormat-menghormati,
dan jiwa gotong-royong. Nilai persatuan Indonesia merupakan faktor pengikat yang menjamin
persatuan Indonesia yang terutama bersifat persatuan spiritual dan merupakan paduan hasrat
untuk hidup bersama di dalam kesukaan, penderitaan, dan penanggulangan. Nilai kerakyatan
dijelmakan oleh persatuan yang real dan wajar. Kedaulatan berada di tangan rakyat atas dasar-
dasar musyawarah untuk mufakat. Demokrasi tanpa pimpinan dapat menjelma menjadi anarki.
Oleh karena itu perlu diciptakan keseimbangan antara kepemimpinan dengan kerakyatan yang
sudah dijiwai oleh persatuan spiritual (nasional) berlandaskan pada nilai Ketuhanan yang mutlak.
Inilah yang kita sebut dengan demokrasi Pancasila. Sementara nilai keadilan sosial menjamin
kesejahteraan dan kemakmuran secara menyeluruh dan merata. Jelaslah bahwa Pancasila sebagai
falsafah negara merupakan sistem nilai yang mencakup segenap nilai hidup dan kehidupan
bangsa serta negara.

3.5.2 Ketahanan di Bidang Politik

Sejak Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia telah mengenal dan mempraktikkan beberapa
sistem politik. Mula-mula bangsa Indonesia mempraktikkan sistem Demokrasi Liberal. Sistem
pemerintahan ini dapat dikatakan “stabil” dalam arti bahwa sistem Demokrasi Liberal ini dapat
bertahan bertahun-tahun. Namun, sistem ini tidak dapat menghasilkan pemerintahan yang stabil.
Pada akhirnya, bangsa Indonesia lalu menganut sistem Demokrasi Terpimpin. Walaupun sistem
ini mula-mula dilaksanakan dalam rangka kembali kepada UUD 1945, namun dalam
pelaksanaannya timbul penyelewengan-penyelewengan sehingga kekuasaan terpusat pada
seorang saja tanpa adanya kontrol yang efektif. Sistem ini mendekati sistem diktator. Kemudian
sistem beralih pada Demokrasi Pancasila. Sistem inilah yang sekarang diusahakan untuk
dilaksanakan. Walaupun sistem ini belum terlaksana secara optimal, namun sistem tersebut telah
dapat menghasilkan stabilitas dalam bidang politik.
Demokrasi Pancasila maksudnya demokrasi atau kedaulatan rakyat yang didasari dan dijiwai
oleh segenap sila Pancasila secara integratif. Hal ini berarti bahwa dalam menggunakan hak-hak
demokrasi haruslah selalu disertai dengan rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa
menurut keyakinan agama masing-masing, harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sesuai
martabat dan harkat manusia, harus menjamin dan memperkokoh persatuan bangsa, harus
melaksanakan kerakyatan yang bermusyawarah/perwakilan dan harus memanfaatkannya demi
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan kegotong-royongan yang
ditujukan kepada kesejahteraan, yang mengandung unsur-unsur berkesadaran religius menolak
ateisme, berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia,
berkeseimbangan, dalam arti menuju keseimbangan antara individu dan masyarakat manusia
dengan Tuhannya secara lahir dan batin. Dalam Demokrasi Pancasila sistem pengorganisasian
negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat, dan keluhuran manusia
sebagai makhluk Tuhan dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan keamanan,
diakui, ditata, dan dijamin atas dasar gagasan negara Pancasila.
Hubungan bangsa Indonesia dengan negara-negara lain dilaksanakan dengan memegang prinsip
politik yang bebas aktif. Bebas artinya bahwa Indonesia tidak memihak pada kekuatan-kekuatan
yang pada dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa sebagaimana dicerminkan dalam
Pancasila. Aktif artinya bahwa di dalam menjalankan kebijaksanaan luar negerinya, Indonesia
tidak bersikap pasif-reaktif atas kejadian-kejadian internasionalnya, melainkan bersifat aktif.
Artinya, Indonesia mendudukkan dirinya sebagai subyek dalam hubungan luar negerinya,
sehingga tidak dapat dikendalikan oleh haluan politik negara lain yang berdasarkan pada
kepentingan-kepentingan nasional negara lain itu sendiri. Berkaitan dengan sistem politik luar
negeri bangsa Indonesia ini, Mohammad Hatta pernah mengatakan di hadapan Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1948 demikian:
[…]mestikah kita bangsa Indonesia, yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara kita
hanya harus memilih antara pro-Rusia atau pro-Amerika? Apakah tak ada pendirian yang lain
yang harus kita ambil dalam mengejar cita-cita kita? Pemerintah berpendapat bahwa pendirian
yang harus kita ambil ialah supaya kita jangan menjadi obyek dalam pertarungan politik
internasional, melainkan kita harus tetap menjadi subyek yang berhak menentukan sikap sendiri,
berhak memperjuangkan tujuan kita sendiri, yaitu Indonesia yang merdeka seluruhnya.

Dasar-dasar pokok politik luar negeri Indonesia adalah:


• Politik luar negeri diabdikan untuk kepentingan nasional dan khususnya untuk kepentingan
pembangunan;
• Memurnikan kembali pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif tetapi anti imperialisme
dan kolonialisme dalam segala bentuknya;
• Turut ambil bagian dalam usaha-usaha mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, khususnya stabilitas di wilayah Asia
Tenggara, tanpa mengurangi kemampuan kita untuk melaksanakan pembangunan nasional.

3.5.3 Ketahanan di Bidang Ekonomi

Di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara telah ditegaskan bahwa pembangunan nasional
bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan
spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk
mencapai tujuan itu bangsa Indonesia tidak boleh meninggalkan dua landasan pokoknya, yaitu
Pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini UUD 1945 (pasal 27a dan 33) menetapkan bahwa
perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan, di mana negara
menguasai bidang-bidang kegiatan yang vital, bumi dan air serta kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya. Hal ini ditentukan untuk mengusahakan kemakmuran rakyat yang
sebesar-besarnya. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Pasal-pasal mengenai ekonomi ini disusun oleh Muhammad Hatta, yang mengatakan dengan
kekeluargaan dimaksudkan ‘koperasi’.
Pada tahun 1980, Prof. Dr. Mubyarto, dosen dan ahli ekonomi dari Universitas Gajah Mada,
memperkenalkan sistem perekonomian Pancasila. Secara ringkas lima ciri khas sistem ini
dijabarkan sebagai berikut:
o Koperasi sebagai sokoguru, karena koperasi merupakan bentuk paling konkrit dari usaha
bersama;
o Roda perekonomian digerakkan oleh rangsangan ekonomis, sosial, dan moral;
o Adanya kehendak kuat dari seluruh masyarakat ke arah pemerataan sosial;
o Nasionalisme menjiwai setiap kebijaksanaan ekonomi; dan
o Adanya keseimbangan antara perencanaan di tingkat nasional dan desentralisasi dalam
pelaksanaan kegiatan ekonomi.
Dalam melaksanakan pembangunan di bidang ekonomi banyak tantangan dan kesulitan yang
harus diatasi. Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraan bangsa Indonesia terletak dalam struktur ekonomi Indonesia itu sendiri. Ada
beberapa kelemahan yang melekat pada struktur tersebut. Pada saat ini struktur ekonomi
Indonesia mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Sebagian dari produksi nasional berasal dari sektor pertanian, yang banyak bergantung kepada
alam;
2. Sebagian besar dari rakyat kita hidup dari sektor pertanian, yang baru dalam tingkat
menggunakan teknologi sederhana;
3. Sebagian dari ekspor kita terdiri dari bahan-bahan mentah yang banyak dipengaruhi oleh
perubahan keadaan dunia.
Pembangunan ekonomi bangsa Indonesia didasarkan kepada demokrasi (yang berlandaskan
Pancasila). Yang dimaksud dengan demokrasi ekonomi ini ialah turut sertanya masyarakat secara
aktif dalam kegiatan pembangunan. Dalam hal ini pemerintah berkewajiban memberikan
pengarahan dan bimbingan terhadap pertumbuhan ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat
bagi ekonomi itu.
Di dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi harus diperhatikan bahwa di samping
meningkatkan pendapatan nasional harus dijamin pula pembagian pendapatan yang merata bagi
seluruh rakyat sesuai dengan rasa keadilan. Pertumbuhan serta pemerataan merupakan dua hal
yang cukup penting dalam kerangka membentuk suatu ketahanan nasional. Tanpa ada
pertumbuhan sebagai suatu proses pembangunan dan pemerataan pendapatan sebagai upaya
menyejahterakan penduduk secara adil, maka ketahanan nasional hanya tinggal di awang-awang
saja. Dalam membentuk suatu ketahanan nasional dibutuhkan adanya kondisi dinamis yang
merupakan hasil integritas pertumbuhan ekonomi serta pemerataan oleh pemerintah baik dalam
perekonomian, sosial, politik maupun budaya. Memang, dalam perjalanan bangsa Indonesia,
harus diakui bahwa ketahanan di bidang ekonomi ini merupakan mata rantai yang paling lemah
dalam rangkaian ketahanan nasional. Akibat dari bidang ekonomi yang lemah akan tercermin
pada kualitas manusianya.
Dalam pelaksanaan pertumbuhan ekonomi maupun pemerataan pada daerah yang kurang
berkembang dan daerah yang miskin, adalah hal yang penting untuk mempersiapkan penduduk
yang mampu berpartisipasi aktif dalam ketahanan nasional. Ketahanan nasional yang mapan
akan memacu kembali pertumbuhan maupun pemerataan dalam bidang ekonomi. Di sudut lain,
penduduk yang sehat, harapan hidup yang tinggi, pendapatan yang tinggi akan berarti kualitas
penduduk menjadi tinggi. Hal ini merupakan modal yang besar dalam ketahanan nasional.

3.5.4 Ketahanan di Bidang Sosial-Budaya

Menurut para ahli antropologi, tidak mungkin ada masyarakat (sosial) apabila tidak ada
kebudayaan. Sebaliknya, kebudayaan hanya mungkin ada di dalam masyarakat (sosial). Dengan
demikian, ada hubungan timbal balik di antara masyarakat (sosial) dan kebudayaan.
Menurut definisi yang umum dari para ahli, kebudayaan adalah segala daya upaya manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Hal itu meliputi sistem peralatan dan teknologi, sistem mata
pencaharian hidup, sistem dan organisasi kemasyarakatan, bahasa, sistem religi dan pandangan
hidup, kesenian dan sistem pengetahuan. Masyarakat yang hidup dalam suatu tempat tertentu
hidup berdasarkan unsur-unsur kebudayaan tersebut.
Kebudayaan nasional bangsa Indonesia sendiri merupakan hasil interaksi dari budaya-budaya
suku bangsa (daerah) atau budaya asing (luar) yang kemudian diterima sebagai nilai bersama
seluruh bangsa. Interaksi budaya harus berjalan secara wajar dan alamiah tanpa unsur paksaan
dan dominasi budaya terhadap budaya lainnya.
Kebudayaan nasional merupakan identitas dan menjadi kebanggaan Indonesia. Identitas bangsa
Indonesia adalah manusia dan masyarakat yang memiliki sifat-sifat dasar:
– Religius;
– Kekeluargaan;
– Hidup serba selaras;
– Kerakyatan.
Wujud ketahanan sosial budaya tercermin dalam kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang
dijiwai kepribadian nasional, yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan
kehidupan sosial budaya manusia dan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju, dan sejahtera dalam kehidupan
yang serba selaras, serasi, dan seimbang serta kemampuan menangkal penetrasi budaya asing
yang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional.
Disadari sepenuhnya bahwa tidak semua kebudayaan yang akan datang dari luar adalah jelek.
Tetapi kita harus waspada terhadap pengaruh dari luar yang dapat membahayakan atau merusak
kepribadian bangsa Indonesia. Dalam hal ini tidak dapat dikesampingkan kemungkinan pihak
luar dengan sengaja menyebar pengaruhnya dengan tujuan untuk merusak kehidupan masyarakat
kita. Terhadap serangan-serangan semacam inilah bangsa Indonesia perlu waspada dan harus
memiliki daya tahan untuk menanggulanginya. Untuk itu, bangsa Indonesia harus bersatu padu
menghadapi segala kemungkinan yang buruk. Perihal pentingnya rasa kesatuan ini, Prof. Dr.
Sartono Kartodirdjo mengatakan:
Salah satu prinsip nasionalisme ialah kesatuan (unity). Hal ini jelas menonjol dalam
perkembangan nasionalisme baik di Barat maupun luar Eropa. Kalau perkembangan
nasionalisme itu secara saksama dikaji, jelaslah bahwa yang menjadi tujuan gerakan nasionalis
tidak lain ialah membentuk negara-nasion, bertolak dari aneka ragam komunitas, agama, bahasa,
kultur, dan sebagainya […] Indonesia sebagai kesatuan regional memang mencakup suatu
kompleksitas yang terdiri atas komunitas- komunitas etnik, yang pada gilirannya memuat satuan-
satuan kultural yang kompleks serta komprehensif meliputi unsur linguistik, sistem kekerabatan,
hukum adat, folklore, adat-istiadat, sistem kepercayaan, dan sebagainya. Homogenitas satuan
etnis bertahan sampai jaman modern tidak lain karena kontak satu sama lain.

Fenomena lain yang terdapat dalam negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia
adalah hasrat yang besar untuk mengadakan pembangunan. Bangsa yang adil dan makmur hanya
dapat dicapai dengan jalan pembangunan. Telah dimaklumi oleh para ahli ekonomi bahwa
berhasil tidaknya pembangunan tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor ekonomis saja, tetapi
juga oleh faktor-faktor non-ekonomis seperti: demografis, struktur masyarakat, dan mental.
Dalam pembahasan bidang sosial budaya dalam arti sempit, maka faktor yang paling relevan
adalah struktur masyarakat dan mental. Struktur masyarakat Indonesia dapat dilihat dalam
bingkai diferensiasi sosial (seperti golongan sosial pegawai, guru, dll) dan stratifikasi sosial
(seperti lapisan sosial bawah, menengah, dan atas). Sementara mentalitas terkait dengan ciri atau
sifat yang secara khas melekat dengan orang atau bangsa. Menurut Koentjaraningrat, seorang
ahli antropologi, mentalitas bangsa Indonesia belum cocok dengan semangat pembangunan.
Untuk itu mentalitas bangsa ini harus diubah. Usaha untuk mengubah mentalitas itu, menurut
Koentjaraningrat, adalah melalui prosedur pendidikan baik pendidikan formal maupun informal,
salah satunya agama.
Kita tahu, pendidikan merupakan hal yang strategis dan fundamental bagi perkembangan sejarah
dunia maupun sejarah umat manusia. Melalui pendidikan manusia mempertinggi eksistensinya
sebagai manusia dalam tataran kultural. Pendidikan adalah sarana transformasi yang dalam
sejarah peradaban manusia terbukti dapat mengubah dunia. Pendidikan adalah suatu fungsi
internal dalam proses kebudayaan melalui mana manusia dibentuk dan membentuk dirinya.
Untuk itu, pendidikan adalah juga bagian dari kebudayaan.
Pendidikan itu sendiri harus ditanamkan sejak dini bagi anak-anak bangsa Indonesia. Mereka
adalah masa depan yang akan membangun bangsa ini. Ki Hajar Dewantara menandaskan
demikian:
Kekuatan rakyat itulah jumlah kekuatan tiap-tiap rakyat itu. Segala daya upaya untuk
menjunjung derajat bangsa tak akan berhasil, kalau tidak dimulai dari bawah. Sebaliknya rakyat
yang sudah kuat, akan pandai melakukan segala usaha yang perlu untuk kemakmuran negeri.
Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman
sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih
kanak-kanak. Sebaliknya, anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warga
negara kita.

3.5.5 Ketahanan di Bidang Pertahanan-Keamanan (Hankam)


Pertahanan Keamanan Indonesia artinya Kesemestaan daya upaya seluruh rakyat Indonesia
sebagai satu sistem ketahanan keamanan negara dalam mempertahankan dan mengamankan
negara demi kelangsungan hidup dan kehidupan bangsa dan negara Republik Indonesia. Pasal 30
UUD 1945 berbunyi: Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan
negara. Mengingat bahwa ruang lingkup pertahanan dan keamanan itu meliputi seluruh bidang
kehidupan negara dan rakyat, mengingat pula bahwa setiap warga negara mempunyai hak dan
kewajiban untuk ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan nasional (Hankamnas), maka
sudah sewajarnya jikalau rakyat dan seluruh potensi nasional harus dikerahkan dalam usaha ini.
Artinya, pertahanan dan keamanan negara Republik Indonesia dilaksanakan dengan menyusun,
mengerahkan, menggerakkan seluruh potensi nasional termasuk kekuatan masyarakat di seluruh
bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan terkoordinasi.
Penyelenggaraan ketahanan dan keamanan secara nasional merupakan salah satu fungi utama
dari pemerintahan dan negara Republik Indonesia dengan TNI dan Polri sebagai intinya, guna
menciptakan keamanan bangsa dan negara dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional
Indonesia. Wujud ketahanan keamanan tercermin dalam kondisi daya tangkal bangsa yang
dilandasi kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung kemampuan memelihara
stabilitas pertahanan dan keamanan negara yang dinamis, mengamankan pembangunan dan
hasil-hasilnya serta kemampuan mempertahankan kedaulatan negara dan menangkal segala
bentuk ancaman.
Pertahanan diarahkan untuk menghadapi ancaman dari luar negeri dan hal ini secara khusus
menjadi tanggung jawab Tentara Nasional Indonesia (TNI). Keamanan diarahkan untuk
menghadapi ancaman dari dalam negeri dan hal secara khusus menjadi tanggung jawab Polri.
TNI dapat dilibatkan untuk ikut menangani masalah keamanan apabila diminta Polri, yang sudah
tidak mampu lagi karena eskalasi ancaman yang meningkat ke keadaan darurat.
Secara geografis ancaman dari luar akan menggunakan wilayah laut dan udara untuk memasuki
wilayah Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan postur kekuatan pertahanan keamanan masa
depan perlu diarahkan kepada pembangunan kekuatan pertahanan dan keamanan secara
proporsional dan seimbang antara unsur-unsur utama. Kekuatan Pertahanan adalah Angkatan
Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU). Dan unsur utama Keamanan adalah
Polri.
Menurut ajaran dan paham Pertahanan dan Keamanan Nasional (Hankamnas) kita yaitu Catur
Darma Eka Karma, ancaman-ancaman yang dapat merongrong bangsa Indonesia dapat
berbentuk:
 Dalam negeri: subversi dan pemberontakan dari kekuatan-kekuatan dalam tubuh masyarakat
Indonesia sendiri;
 Luar negeri: Infiltrasi , subversi, dan intervensi dari kekuatan imperialisme dan kolonialisme
dalam segala bentuk dan manifestasinya, invasi oleh kekuatan-kekuatan musuh melalui darat,
laut, dan udara.

4. Penutup

4.1 Rangkuman Umum

Pada hakikatnya, ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk
dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Hal inilah yang
senantiasa diupayakan oleh bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang. Ketahanan nasional
yang tangguh akan lebih mendorong peningkatan pembangunan nasional, yang kita yakini dapat
meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Kesejahteraan yang hendak dicapai untuk mewujudkan ketahanan nasional dapat digambarkan
sebagai kemampuan bangsa Indonesia menumbuhkan dan menyumbangkan nilai-nilai
nasionalnya menjadi kemakmuran sebesar-besarnya yang adil dan merata baik rohaniah maupun
jasmani. Sedangkan keamanan nasional adalah kemampuan bangsa Indonesia melindungi
eksistensinya dan nilai-nilai nasionalnya terhadap ancaman dari dalam maupun luar negeri.
Dalam kenyataan hidup kemudian gambaran-gambaran kesejahteraan nasional dan keamanan
nasional menjadi satu gambaran ketahanan nasional.
Pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan nasional menggunakan tiap-tiap
gatra dalam astagatra (sebagaimana telah diuraikan di atas). Tiap-tiap gatra itu sama penting dan
ambil peranan bagi kesejahteraan dan keamanan nasional.

4.2 Refleksi

Setelah mengikuti pemaparan di atas, kita memahami betapa perlunya bagi kita untuk
memperkokoh ketahanan nasional bangsa ini. Di tengah persaingan di era modern ini, kita
meyakini betapa perlunya negara kita ini dibenahi dalam segala aspeknya. Untuk itu, sebagai
generasi penerus, kita ditantang untuk mengisi kemerdekaan dalam kapasitas kita masing-
masing.
Ketahanan nasional dalam segala aspeknya mencerminkan gambaran siapa dan bagaimana
bangsa kita ini. Artinya, setiap gatra dalam astagatra ketahanan nasional harus dibenahi, tidak
boleh ada yang ditinggalkan sementara yang lain dilupakan karena masing-masing terkait erat.
Ke-lemah-an di salah satu gatra melemahkan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Sebagai bangsa, ketahanan nasional di dalam negeri memang perlu lebih dahulu dibenahi agar
‘misi keluar’ dapat terlaksana. Mengapa? Karena mustahil sebuah bangsa mengurusi sesuatu di
luar dirinya padahal dirinya sendiri belum mapan. Lalu apa itu ‘misi keluar’ bangsa Indonesia?
Misi keluar itu, misalnya, adalah tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam alinea IV
Pembukaan UUD 1945, yakni “…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial….” Maka, bangsa Indonesia tidak mungkin
ikut melaksanakan ketertiban dan perdamaian dunia jika di dalam negeri sendiri sedang terjadi
kekacauan.
Untuk menutup refleksi ini, kelompok menganjurkan satu hal yang sudah biasa didengung-
dengungkan kepada kita, yakni memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada pepatah
mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa.” Pepatah ini sangatlah tepat dengan mendengar
bahasa yang diucapkan oleh seseorang dapatlah kita mengetahui (diperkirakan) apa kebangsaan
orang tersebut. Atau, kita dapat langsung menyebut bangsa yang ditunjuk oleh bahasa itu.
Khusus mengenai bahasa Indonesia, dalam Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 telah
diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Kemudian
dalam pasal 36 UUD 1945 ditegaskan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia; dan dalam
penjelasan pasal ini dikatakan bahwa bahasa-bahasa daerah juga adalah sebagian dari
kebudayaan bangsa Indonesia yang hidup. Dengan kata lain, bahasa daerah tetap perlu
dikembangkan dan dilestarikan, namun bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pemersatu kita
semua di seluruh penjuru Indonesia.