Anda di halaman 1dari 3

2.

1 Patofisiologi Luka Bakar

Luka bakar disebabkan oleh peralihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh, panas
dapat dipindahkan melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik, ada beberapa hal yang
meyebabkan luka bakar meliputi: termal, kimia, dan juga radiasi, luka bakar pun menghasilkan
respon bermacam respon meliputi: respon sistemik, kardiovaskular, efek pada cairan elektrolit
dan volume darah, pulmoner, dan respon sistemik lainnya.

2.1.1 Respon Sistemik

Perubahan patofisiologik yang disebabkan oleh luka bakar yang berat selama awal
periode syok luka bakar mencakup hipoperfusi jaringan dan hipofungsi organ yang terjadi
sekunder akibat penurunan curah jantung dengan diikuti oleh fase hiperdinamik serta
hipermetabolik. Insidensi, intensitas dan durasi perubahan patofisiologik pada luka bakar
sebanding dengan luasnya luka bakar yang terlihat pada seberapa luas permukaan tubuh yang
terkena. Kejadian sistemik awal sesudah luka bakar yang berat adalah ketidakstabilan
hemodinamik akibat hilangnya integritas kapiler dan kemudian terjadinya perpindahan cairan,
natrium, serta protein dari ruang intravascular kedalam ruang interstisial.

2.1.2 Respon Kardiovaskular

Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah
terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vascular,
maka curah jantung akan terus menurun dan terjadi perubahan tekanan darah, keadaan ini
merupakan awitan syok luka bakar. Sebagai respon, system saraf simpatik akan melepaskan
katekolamin yang meningkatkan resistensi perifer (vasokonstriksi) dan frekuensi denyut nadi,
selanjutnya vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan penurunan curah jantung.

2.1.3 Efek pada Cairan, Elektrolit dan Volume Darah

Volume darah yang beredar akan menurun secara dramatis pada saat terjadi syok luka
bakar. Disamping itu, kehilangan cairan akibat evaporasi lewat luka bakar dapat mencapai 3
sampai dengan 5L atau lebih selama periode 24 jam sebelum permukaan kulit yang terbakar
ditutup. Selama syok luka bakar, biasanya klien mengalami hiponatrium, hiperkalemia, dan atau
hipokalemia. Pada saat luka bakar, sebagian besar sel darah merah dihancurkan dan sebagian
yang lainnya mengalami kerusakan sehingga terjadi anemia. Walaupun demikian, nilai
hemotokrit klien dapat meninggi akibat kehilangan plasma.

2.1.4 Respon Pulmoner

Pada klien yang mengalami luka bakar biasanya disertai dengan kerusakan pulmoner,
yang ditandai dengan cedera inhalasi, berikut adalah klasifikasinya: cedera saluran napas atas,
cedera inhalasi dibawah glotis, yang mencakup keracunan karbon monoksida dan defek
restriktif. Cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung atau edema, bentuknya
obstruksi-mekanis saluran atas yang menyerang faring dan laring. Cedera inhalasi dibawah glotis
terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas berbahaya, cedera ini
menyebabkan hilangnya fungsi silia, hipersekresi, edema mukosa yang berat, dan kemungkinan
bronkospasme. Keracunan karbon monoksida akan mengakibatkan seseorang tidak mampu
memenuhi kebutuhan oksigen yang adekuat kepada jaringan, hal ini karena afinitas hemoglobin
terhadap karbon monoksida 200 kali lebih besar daripada afinitasnya terhadap oksigen.
Sedangkan defek restriktif terjadi kalau timbul edema dibawah luka bakar full thickness yang
melingkar pada leher dan toraks.

2.1.5 Respon Sistemik Lainnya

Fungsi renal dapat berubah sebagai akibat dari berkurangnya volume darah, destruksi sel-
sel darah merah pada lokasi cedera akan menghasilkan hemoglobin bebas dalam urin. Jika terjadi
kerusakan di otot (akibat luka bakar listrik), mioglobin akan dilepaskan dari sel-sel otot dan
diekskresikan melalui ginjal, bila aliran darah yang melewati tubulus renal tidak cukup maka
hemoglobin dan mioglobin akan menyumbatnya sehingga timbul komplikasi nekrosis akut
tubuler dan gagal ginjal.
Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar, kehilangan integritas
kulit diperparah lagi dengan pelepasan faktor-faktor inflamasi yang abnormal, hal ini membuat
seseorang yang menderita luka bakar berisiko tinggi mengalami sepsis. Selain itu, hilangnya
kulit juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu, sehingga seorang yang
menderita luka bakar dapat memperlihatkan suhu tubuh yang rendah dalam beberapa jam
pertama pasca-luka bakar, namun kemudian akan mengalami hipertermia sekalipun tidak disertai
infeksi karena hipermetabolisme menyetel kembali suhu tubuh inti.
Ada dua komplikasi gastrointestinal yang potensial yaitu: ileus paralitik (tidak adanya
peristalsis usus) dan ulkus curling, berkurangnya peristalsis dan bising usus merupakan
manifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat luka bakar.

Daftar Pustaka :
Brunner dan Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner dan Suddarth
ed.8. vol.3. Jakarta: EGC.