Anda di halaman 1dari 77

16

BAB II

KAJIAN TEORETIS DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Pada bab II ini akan dikaji pokok materi yang meliputi penelitian

terdahulu, penjelasan konsep, landasan teori, kerangka pemikiran dan

hipotesis penelitian terdahulu, penjelasan konsep, landasan teori, kerangka

pemikiran dan hipotesis penelitian.

A. Kajian Pustaka

Kajian pustaka tentang penelitian terdahulu penting dilakukan untuk

meneliti hasil penelitian sebelumnya untuk mengetahui hasil penelitian dengan

pokok bahasan yang sama serta untuk menghindari adanya kesamaan yang

berindikasi plagiat.

Tabel di bawah ini memperlihatkan beberapa hasil penelitian yang

telah dilakukan dengan memperlihatkan beberapa persamaan dan perbedaan

dengan konteks penelitian yang tengah dilakukan oleh penulis.

16
17

Tabel 2.1
Penelitian yang Relevan
RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
Pembelajaran Meneliti
1. Kegiatan Lesson 1.Bagaimana Kualitatif Dalam proses 1. Pelaksanaan lesson
dilakukan mengenai
Study Dalam pelaksanaan lesson deskriptif pembelajaran study di SMP Negeri
melalui kegiatan kreativitas
Meningkatkan study yang dilakuan ditemukan adanya 1 Lembang sesuai
lesson study
Kreativitas Peserta guru IPS di SMP perubahan sikap dengan tahapan
Didik Pada Negeri 1 Lembang yang terjadi pada study baku
Metode yang Dalam penelitian
Pelajaran IPS di Kabupaten Bandung peserta didik, 2. Lesson study
digunakan digunakan
SMP Negeri 1 Barat? yaitu asalnya pasif meningkatkan
metode kualitatif metode quasi
Lembang 2.Apakah kreativitas menjadi lebih kreativitas dalam
experimen
Kabupaten peserta didik aktif, mau proses pembelajaran
Bandung meningkat pada bertanya, memberi 3. Masih terdapat
Dilakukan pada Dilakukan pada
pelajaran IPS jawaban, berani faktor yang menjadi
pelajaran IPS pelajaran IPS
dengan kegiatan mengemukakan kendala dalam
Ai Nurhayati tetapi pada mata
lesson study? pendapat. kegaiatan lesson
pelajaran
3.Faktor-faktor apa study.
akuntansi
saja yang menjadi
2013 kendala untuk
meningkatkan
kreativitas peserta
STKIP Pasundan didik dalam kegiatan
Cimahi lesson study pata
pelajaran IPS di
SMP Negeri 1
Lembang Kab
Bandung Barat?
Walaupun sama- Meneliti tentang
2. Peranan 1.Bagaimana strategi Studi kasus Dari hasil 1.Strategi pembelajaran
sama meneliti kecerdasan

17

18
18

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
kecerdasan
Pembelajaran IPS pembelajaran IPS penelitian IPS dengan Meng-
tetapi dalam
dengan dengan diketahui bahwa gunakan Model
penelitian ini
Menggunakan Menggunakan siswa bisa Pembelajaran Koope-
lebih spesifik
Model Model Pembelajaran berinteraksi ratif Group Investiga-
pada kecerdasan
Pembelajaran Kooperatif Group dengan baik dan tion di SMP Negeri 1
sosial.
Kooperatif Group investigation di SMP berempati kepada Sindangkerta Kabu-
Dalam tesisnya
Investigation Dalam Negeri 1 teman mereka paten Bandung Barat
penulis
Upaya Sindangkerta dalam belajar. dilakukan dengan
mengarahkan
Meningkatkan Kabupaten Bandung Aspek kecerdasan baik oleh guru. Guru
pada kecerdasan
Kecerdasan Sosial Barat? yang lain seperti menerapkan model
kognitif
Siswa di SMP 2.Upaya apa yang kasih-sayang, pembelajaran koope-
Neberi 1 dilakukan oleh guru peduli dan ratif group investiga-
Sindangkerta pada mata pelajaran kerjasama tidak tion sesuai dengan
Metode yang Menggunakan
Kabupaten IPS dalam rangka terobservasi kaidah-kaidah yang
digunakan model
Bandung Barat meningkatkan dengan jelas. ditentukan
adalah studi pembelajaran
kecerdasan sosial 2.Guru melakukan
kasus dengan kooperatif group
siswa? upaya dengan
Sri Sunarti instrument investigation
membagi siswa dalam
observasi.
kelompok yang
Penulis
heterogen agar siswa
2012 menggunakan Menggunakan
saling membantu dan
instrument tes instrument
belajar pada pada
awal dan akhir observasi untuk
mata pelajaran IPS
STKIP Pasundan yang disertai mengetahui
dalam rangka
Cimahi dengan peningkatan
meningkatkan
observasi kecerdasan
kecerdasan sosial
Siswa
siswa, tetapi
kecerdasan sosial
belum terobservasi
19

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
secara jelas
Pembelajaran Meneliti
3. Studi Eksperimen Apakah terdapat Quasi Siswa lebih kreatif Terdapat hubungan
dilakukan mengenai
Metode Inkuiri perbedaan kreativitas eksperimen dalam signifikan antara
melalui metode kecerdasan siswa
Menggunakan siswa yang signifikan memecahkan metode inkuiri dengan
Inkuiri
Media Video antara siswa yang berbagai menggunakan media
menggunakan
Compact Disc diberikan perlakuan permasalahan dan VCD dengan kreativitas
media Video Menggunakan
(VCD) Terhadap pengajaran metode persoalan dalam siswa dalam
Compact Disc metode quasi
Kreativitas Siswa inkuiri menggunakan pembelajaran pembelajaran Ekonomi
(VCD) eksperimen
Dalam media Video Compact dengan SMA.
dalam penelitian
Pembelajaran Disc (VCD) dengan menggunakan
Dilakukan pada dengan
Ekonomi SMA di pengajaran media Video
pembelajaran instrument
Kabupaten Muara konvensional dalam Compact Disk
ekonomi berupa tes
Enim Sumatera pembelajaran Ekonomi (VCD). Tetapi
Selatan di SMA? tidak dijelaskan
tentang penerapan
Akmal Ramadhan
metode
2009 konvensional
UPI Bandung dalam proses
pembalajaran
Meneliti Menggunakan
4. Pengaruh Model 1.Apakah ada Quasi Dengan hasil 1. Tidak ada perbedaan
mengenai model
Pembelajaran perbedaan eksperimen pengukuran (tes) kemampuan sosial
kompetensi pembelajaran
Kooperatif kemampuan sosial awal yang tidak siswa antara kelas
sosial kooperatif
Learning Metode siswa antara kelas menunjukan eksperimen dan kelas
learning dengan
Investigasi eksperimen dan perbedaan secara kontrol pada
metode
Kelompok kelas kontrol pada statistik pengukuran awal
investigasi
Terhadap pengukuran awal (pretest)
turut memperkuat kelompok (group
Kompetensi Sosial (pretest)? 2. Terdapat perbedaan
efektivitas investigation

19
20

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
dalam 2.Apakah ada Pembelajaran signifikan
Pembelajaran IPS perbedaan Kooperatif kompentesi sosial
Menggunakan
kemampuan Learning Metode siswa antara kelas
metode quasi
kompetensi sosial Investigasi eksperimen yang
Euis Ani Arlinah eksperimen
siswa antara kelas Kelompok ketika menggunakan metode
eksperimen yang menunjukan investigasi kelompok
menggunakan peningkatan pada dengan kelas kontrol
2011 metode investigasi tes awal setelah yang menggunakan
kelompok dengan dilakukan metode ekpositoris.
kelas kontrol yang pembelajaran 3. Kompetensi sosial
UPI Bandung menggunakan siswa yang
metode ekpositoris pembelajarannya
pada pengukuran menggunakan metode
akhir (posttest)? investigasi kelompok
3.Apakah kompetensi lebih baik dari pada
sosial siswa yang siswa yang tidak
pembelajarannya mendapatkan
menggunakan pembelajaran melalui
metode investigasi metode investigasi
kelompok lebih baik kelompok
dari pada siswa yang
pembelajarannya
menggunakan
metode ekspositoris?
Menggunakan Mengukur
5. Pengaruh Metode 1. Apakah terdapat Metode pre Metode 1. Terdapat perbedaan
metode pre kreativitas dalam
Pembelajaran perbedaan perilaku eksperimen pembelajaran perilaku kreatif
eksperimen bentuk perilaku
Pemecahan kreatif peserta didik problem solving peserta didik antara
sedangkan pada
Masalah Tipe SSCS antara kelompok tipe search, solve, kelompok eksperimen
penelitian ini

20
21

21

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
penulis
Terhadap Perilaku eksperimen yang create and share yang menggunakan
menggunakan
Kreatif Peserta menggunakan (SSCS) mampu metode pembelajaran
metode quasi
Didik metode meningkatkan pemecahan masalah
eksperimen
pembelajaran perilaku kreatif tipe SSCS dengan
pemecahan masalah peserta didik. kelompok control.
Sari Sri Handani tipe SSCS dengan Peserta didik lebih 2. Terdapat perbedaan
kelompok kontrol? terpacu untuk antara hasil pretest
2. Apakah terdapat mengungkapkan dengan posttest
2012 perbedaan antara pendapat walau- perilaku kreatif
hasil pretest dengan pun penuh keragu- peserta didik pada
posttest perilaku an, kererbukaan kelompok kontrol
UPI Bandung kreatif peserta didik terhadap peng- 3. Terdapat perbedaan
pada kelompok alaman baru, antara hasil pretest
kontrol? fleksibilitas dalam dengan posttest
3. Apakah terdapat bersikap, kebebas- perilaku kreatif
perbedaan antara an dalam meng- peserta didik pada
hasil pretest dengan ungkapkan diri, kelompok eksperimen
posttest perilaku menghargai fan- yang menggunakan
kreatif peserta didik tasi, minat terha- metode pembelajaran
pada kelompok dap kegiatan krea- pemecahan masalah
eksperimen yang tif, kepercayaan tipe SSCS l
menggunakan terhadap gagasan- menunjukkan
metode gagasan sendiri, peningkatan yang
pembelajaran kemandirian lebih signifikan dari
pemecahan masalah dalam memberi- kelompok kontrol.
tipe SSCS? kan pertimbangan, Kelompok
hal ini dapat eksperiment?
dilihat dari
pertanyaan yang
22

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
mereka buat dan
perkembangan
perilaku pada fase
search, solve,
create and share.
Meneliti Menggunakan
6. Pengaruh Apakah penggunaan Quasi Penggunaan Penggunaan metode
keterampilan metode
Penggunaan Metode metode investigasi eksperimen metode investigasi investigasi kelompok
sosial siswa investigasi
Investigasi kelompok dapat kelompok dapat meningkatkan
kelompok
Kelompok meningkatkan memberikan keterampilan sosial
Terhadap keterampilan sosial pengaruh siswa
Tidak
Keterampilan Sosial siswa? signifikan
membatasi pada
SIswa terhadap
mata pelajaran
peningkatan
tertentu tetapi
keterampilan
Herimaturida pada aktivitas
sosial siswa.
siswa di luar dan
2009 Siswa
di dalam kelas
menunjukan
UPI Bandung keterampilan
sosial dengan
saling membantu,
berbagi dan
bekerja sama
Dilakukan pada Pembelajaran
7. Pengaruh 1. Apakah terdapat Quasi Kemampuan 1. Tidak terdapat
pelajaran kooperatif tipe
Penggunaan perbedaan eksperimen berpikir kreatif perbedaan
matematika investigasi
Pembelajaran kemampuan berpikir siswa dalam kemampuan berpikir
sedangkan kelompok
Kooperatif Tipe kreatif pada memecahkan soal- kreatif pada
penulis
Investigasi pelajaran soal matematika pelajaran
melakukan Berfokus pada

22
23

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
penelitian pada kemampuan
Kelompok matematika antara secara logis, matematika antara
mata pelajaran berpikir kreatif
Terhadap siswa kelas sistematis dan siswa kelas
akutansi
Kemampuan eksperimen dengan runtut. eksperimen dengan
Berpikir Kreatif kelas kontrol pada kelas kontrol pada
Siswa saling
pada pelajaran pengukuran awal pretest
belajar satu
matematika (pretest)? 2. Terdapat perbedaan
dengan lainnya
2. Apakah terdapat kemampuan berpikir
secara kooperatif.
perbedaan kreatif antara siswa
Dian Eka Amrina kemampuan berpikir kelas eksperimen
kreatif antara siswa dengan kelas kontrol
kelas eksperimen pada posttest pada
2010 dengan kelas kontrol pelajaran
pada pengukuran matematika
akhir (posttest)? 3. Terdapat perbedaan
UPI Bandung pada pelajaran kemampuan berpikir
matematika kreatif pada saat
3. Apakah terdapat pretest dan posttest
perbedaan antara siswa kelas
hasil pretest dengan eksperimen pada
posttest pada siswa pelajaran
kelas eksperimen matematika.
yang menggunakan 4. Tidak terdapat
pembelajaran perbedaan
kooperatif tipe kemampuan berpikir
investigasi kreatif pada saat
kelompok pada pretest dan posttest
pelajaran pada kelas kontrol
matematika? pada pelajaran
4. Apakah terdapat matematika

23
24

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
perbedaan antara 5. Terdapat perbedaan
hasil pretest dengan hasil peningkatan
posttest pada siswa kemampuan berpikir
kelas kontrol tanpa kreatif antara siswa
perlakuan pada kelas eksperimen
pelajaran dan kelas control
matematika? pada pelajaran
5. Apakah terdapat matematika.
perbedaan
kemampuan berpikir
kreatif antara siswa
yang menggunakan
pembelajaran
kooperatif tipe
investigasi
kelompok dengan
yang tanpa
perlakuan pada
pelajaran
matematika?
Menggunakan Melakukan
8. Pembelajaran 1. Bagaimanakah Naturalistic Dengan 1. Upaya guru
metode penelitian pada
PendidikanEkonomi upaya guru Inquiry membahas isu-isu pendidikan IPS-
naturalistic pelajaran
dalam Upaya pendidkan IPS- ekonomi Ekonomi dalam
inquiry pendidikan
Menumbuhkan Ekonomi dalam kontempores menumbuhkan
ekonomi
Kemampuan menumbuhkan siswa dilatih untuk kemampuan berpikir
Selain sedangkan
Berpikir Kreatif kemampuan berpikir berpikir kreatif kreatif dan inovatif
kemampuan penulis
dan Inovatif Melalui kreatif dan inovatif? dan inovatif untuk siswa belum
berpikir kreatif melakukan
Isu-isu Ekonomi 2. Perencanaan memecahkan isu- mengajak siswa aktif
tetapi juga penelitian pada

24
25

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
mengenai mata pelajaran
Kontemporer pembelajaran IPS- isu tersebut. secara keseluruhan.
kemampuan akutansi yang
Ekonomi bagaimana Kemampuan 2. Perencanaan
berpikir inovatif merupakan
yang dapat berpikir kreatif pembelajaran
Rini Ayu Susanti bagian dari
menumbuhkan sejalan dengan pendidikan
pelajaran
kemampuan berpikir kemampuan untuk IPS_Ekonomi belum
ekonomi
kreatif dan inovatif menciptakan menekankan pada
2006 pada siswa? sesuatu sebagai menumbuhkan
Meneliti
3. Bahan pelajaran, salah satu bentuk kemampuan berpikir
mengenai
metode dan media inovasi. kreatif dan inovatif
UPI Bandung kemampuan
bagaimana yang siswa.
Masalah-masah berpikir kreatif
dapat menumbuhkan 3. Materi pembelajaran
kontemporer yang
kemampuan berpikir belum mengangkat
digunakan dalam
kreatif dan inovatif isu-isu ekonomi
pembelajaran
pada siswa? kontemporer
harus
4. Isu-isu ekonomi 4. Metode
disederhanakan
kontemporer pembelajaran lebih
lagi agar lebih
bagaimana yang didominasi metode
mudah dimengerti
terdapat dalam ceramah dan tanya
pembeljaran jawab.
pendidikan IPS- 5. Media pembelajaran
Ekonomi? terbatas pada media
yang ada di sekolah,
yakni papan tulis
6. Evaluasi yang
digunakan
berkelanjutan
Menggunakan Meneliti
9. Model 1. Apakah terdapat Studi Rata-rata hasil 1. Terdapat perbedaan
model kemampuan
Pembelajaran perbedaan yang ekperimen belajar siswa dan yang signifikan hasil
pembelajaran berpikir kreatif

25
26

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
inkuri sosial
Inkuiri Sosial signifikan antara berpikir kreatif belajar siswa dalam
Dalam hasil belajar siswa siswa dengan mengembangkan
Mengembangkan dalam pendekatan berpikir kreatif siswa
Menggunakan
Berpikir Kretif mengembangkan pembelajaran pada pengukuran
metode
Siswa Pada Bidang berpikir kreatif inkuiri sosial awal.
penelitian
Studi IPS Ekonomi siswa pada dengan isu-isu 2. Terdapat perbedaan
eksperimen
Melalui Isue-isue pengukuran awal? ekonomi yang signifikan hasil
Ekonomi 2. Apakah terdapat kontemporer lebih belajar siswa dalam
Kontemporer di perbedaan yang tinggi mengembangkan
SMA signifikan hasil dibandingkan berpikir kreatif siswa
belajar siswa dalam hasil belajar pada pengukuran
mengembangkan ekonomi siswa akhir, dengan
Kardius Richi Yosada berpikir kreatif yang pendekatan inkuiri
siswa pada menggunakan dengan isu-isu
pengukuran akhir, model ekonomi
2009 dengan pendekatan pembelajaran kontemporer.
inkuiri dengan isu- konvensional.
3. Terdapat perbedaan
isu ekonomi
UPI Bandung yang signifikan
kontemporer?
antara hasil pretest
3. Apakah terdapat
dan posttest pada
perbedaan yang
kelompok
signifikan antara
eksperimen dan
hasil pretest dan
kelompok control.
posttest pada
kelompok
eksperimen dan
kelompok kontrol?

26
27

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
Menggunakan Menggunakan
10. Pengaruh Metode 1. Apakah terdapat Quasi Tidak terdapat 1. Sebelum diberi
metode role metode quasi
Role Playing perbedaan eksperimen perbedaan yang perlakuan, ternyata
playing eksperimen
Terhadap kemampuan berpikir signifikan siswa kelas
Kemampuan kreatif siswa antara kemampuan eksperimen dan siswa
Meneliti
Berpikir Kreatif kelas eksperimen berpikir kreatif kelas control tidak
mengenai
Siswa Pada Mata dengan kelas kontrol siswa antara kelas memiliki perbedaan
kemampuan
Pelajaran IPS pada proses awal eksperimen dalam kemampuan
berpikir kretif
Ekonomi pembelajaran dan dengan kelas berpikir kreatif pada
pengukuran awal kontrol pada pengukuran awal
Meneliti pada
(pretest)? pengukuran awal 2. Setelah diberi
Dessy Triana Relita mata pelajaran
2. Apakah terdapat (pretest), terdapat perlakuan penelitian,
ekonomi
perbedaan perbedaan ternyata antara siswa
kemampuan berpikir signifikan kelas eksperimen
2010 kreatif siswa antara kemampuan dengan kelas kontrol,
kelas eksperimen berpikir kreatif siswa memiliki
dengan kelas kontrol siswa antara perbedaan dalam
UPI Bandung pada proses akhir pakelas kemampuan berpikir
pembelajaran dan eksperimen kreatif pada
pengukuran akhir dengan kelas pengukuran akhir
(posttest)? kontrol pada 3. Setelah dilakukan
3. Apakah terdapat pengukuran akhir pembelajaran dengan
perbedaan hasil (posttest), terdapat perlakuan metode
pretest dengan perbedaan role playing, ternyata
posttest pada siswa signifikan antara siswa kelas
kelas eksperimen hasil pretest eksperimen memilki
yang menggunakan dengan posttest perbedaan dalam
metode role playing? pada kelas kemampuan berpikir
eksperimen kreatif pada
4. Apakah terdapat dengan perlakuan pengukuran awal dan

27
28

RUMUSAN
NO JUDUL TESIS METODE HASIL KESIMPULAN PERBEDAAN PERSAMAAN
MASALAH
perbedaan hasil metode role pengukuran akhir
pretest dengan playing, terdapat 4. Setelah dilakukan
posttest pada siswa perbedaan yang pembelajaran pada
kelas kontrol tanpa signifikan hasil kelas control dengan
perlakuan? pretest dengan metode konvensional,
5. Apakah terdapat posttest pada hasilnya
perbedaan hasil siswa kelas menunjukkan
kemampuan berpikir kontrol tanpa perbedaan pada
kreatif antara siswa perlakuan dan pengukuran awal dan
yang menggunakan terdapat pengukuran akhir
metode role playing perbedaan yang siswa dengan
dengan yang tanpa signifikan hasil menggunakan metode
perlakuan? kemampuan konvensional
berpikir kreatif 5. Penggunaan metode
siswa antara yang role playing
mendapat memberikan hasil
perlakuan dengan yang berbeda dari
metode role metode konvensional
playing dengan terhadap kemampuan
menggunakan berpikir kreatif siswa.
metode
konvensional

28
29

Kesepuluh penelitian di atas telah menginspirasi penulis dalam hal-hal

sebagai berikut.

1. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe group investigation pada mata

pelajaran Akuntansi di kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK Hass

Ashabulyamin Cianjur. Di samping itu, penelitian-penelitian yang

dilakukan ini tidak memiliki kesamaan dengan kesepuluh penelitian di

atas.

2. Pengkajian tentang kreativitas belajar siswa yang mengacu kepada proses

dan hasil belajar siswa secara utuh melalui dimensi-dimensi kognitif,

afektif, dan psikomotorik.

3. Penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa penerapan model

cooperative learning tipe group investigation meningkatkan aspek-aspek

dalam kreativitas. Oleh karena itu, untuk memperkaya penelitian yang

telah dilakukan penulis melakukan penelitian mengenai pengaruh

penerapan model cooperative learning tipe group investigation terhadap

kreativitas siswa dalam pelajaran Akuntansi.

B. Penjelasan Konsep

Penjelasan konsep dalam penelitian ini mengenai konsep kreativitas

dan konsep model pembelajaran kooperatif teknik group investigation.

1. Konsep Kreativitas Belajar

Kreativitas merupakan salah satu upaya pengembangan diri dalam

berbagai bidang kehidupan. Untuk menghadapi kehidupan globalisasi saat ini

pikiran-pikiran kreatif sangat diperlukan. Orang-orang yang dapat melahirkan


30

berbagai kegiatan atau pikiran kreatif dapat bertahan menghadapi arus

informasi dan perkembangan teknologi. Misalnya, melalui perkembangan

teknologi dan informasi, yang pada dasarnya digunakan untuk saling berbagi

informasi, sekarang banyak orang yang memanfaatkan internet untuk menjual

atau menawarkan barang.

Kreativitas merupakan suatu bidang kajian yang kompleks, sehingga

menimbulkan perbedaan pandangan. Sebagai kajian yang kompleks,

kreativitas dikaji mulai dari sisi produsen, prosesnya, dan produknya. Kajian

terhadap ketiga sisi ini menghasilkan rumusan konsep kreativitas yang

berbeda-beda. Perbedaan tersebut terutama tampak dalam pemberian

pengertian terhadap istilah kreativitas. Misalnya, Guilford dalam Supriadi

(1997:7) menyatakan creativity refers to the abilities that are charachterictics

of creative people yang artinya kreativitas mengacu pada kemampuan yang

menjadi karakteristik orang kreatif. Pengertian tersebut berdimensi “orang”

karena kreativitas diartikan sebagai kemampuan yang menandai orang kreatif.

Lain halnya dengan Csikszentmihalyi dalam Supriyadi (1997:8) yang

memandang kreativitas dari dimensi “proses”, yakni creativity is a process by

which a symbolic domain in the culture is changed dan amabile yang artinya

kreativitas adalah proses yang dengannya sebuah domain simbolis dalam

masyarakat yang berubah dan berguna. Selanjutnya, dari dimensi “produk”:

creativity can be regarded as the quality of product or respons judged to be

creative by appropriate observes artinya kreativitas bisa dianggap sebagai


31

produk atau respon yang dinilai sebagai kreatif dengan sudut pandang yang

sesuai (Hassoubah, 2004:50).

Harris (1998:56) memandang kreativitas dari dua segi, yakni dari segi

kemampuan (an ability) dan dari segi sikap (an attitude). Menurutnya

kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan gagasan-gagasan

baru, baik melalui penggabungan, perubahan, maupun penerapan kembali

gagasan-gagasan yang ada dan kemampuan menerima perubahan dan

kebaruan, kemauan untuk bermain dengan gagasan yang memungkinkan,

kelenturan dalam berpandangan, kebiasaan menikmati dengan baik selagi

mencari cara-cara untuk memperbaikinya.

2. Konsep Pembelajaran Kooperatif Tipe Group investigation

Menurut Slavin (2005:218-219), model group investigation memiliki

enam langkah pembelajaran, yaitu: (1) grouping, (2) planning, (3)

investigation, (4) organizing, (5) presenting, dan (6) evaluating. Model

pembelajaran group investigation, membuat siswa akan lebih termotivasi

untuk berbuat sesuatu yang baik dan produktif saat siswa dihadapkan pada

masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk memecahkan suatu permasalahan siswa harus mampu

menganalisis dan memahami konsep. Hal ini akan memberi arah kepada siswa

untuk mengidentifikasi apa yang perlu diketahui dan dipelajari untuk dapat

memahami konsep dan memecahkan masalah, serta merancang investigasi dan

mengidentifikasi sumber-sumber belajar yang diperlukan. Saat proses

pemahaman konsep, siswa yang belajar secara aktif, baik aktif dalam berpikir
32

(minds-on) dan aktif dalam berbuat (hands-on), bersama kelompok belajarnya

akan memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat terlibat

dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Model pembelajaran group

investigation memiliki potensi yang sangat besar untuk melatih proses berpikir

siswa yang mengarah pada keterampilan berpikir kreatif siswa.

C. Landasan Teoretis

Penelitian ini dilandasi oleh teori-teori yang berkaitan dengan

kreativitas belajar, pembelajaran kooperatif tipe group investigation, serta

pembelajaran akuntansi. Selain itu, beberapa teori yang berhubungan dengan

ketiga landasan teori di atas mungkin saja dimunculkan untuk memperkuat

teori yang dikemukakan.

1. Kajian tentang Kreativitas Belajar

a. Pengertian Kreativitas

Pada hakikatnya perkataan kreatif adalah penemuan sesuatu yang baru,

dan bukan akumulasi dari keterampilan atau pengetahuan yang diperoleh dari

buku pelajaran. Kreatif diartikan juga sebagai pola berpikir atau ide yang

timbul secara spontan dan imajinatif, yang mencerminkan hasil-hasil ilmiah,

penemuan ilmiah, dan penciptaan-penciptaan secara mekanik.

Menurut Winkel, dalam Ngalim Purwanto (2003:513-514), dalam

kreativitas berpikir atau berpikir kreatif, kreativitas merupakan tindakan

berpikir yang menghasilkan gagasan kreatif atau cara berpikir yang baru, asli,

independen, dan imajinatif. Kreativitas dipandang sebuah proses mental. Daya


33

kreativitas menunjuk pada kemampuan berpikir yang lebih orisinal dibanding

dengan kebanyakan orang lain.

Menurut Elizabeth Hurlock (2002:4), ”kreativitas adalah kemampuan

seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang

pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat

berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan

perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan

informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangcokkan

hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi

baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan, bukan fantasi semata,

walaupun merupakan hasil yang sempurna lengkap. Ia mungkin dapat

berbentuk produk seni, kesusasteraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat

prosedural atau metodologis. Menurut Buchori Alma (2007:70), kreativitas

adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik

berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang

telah dihasilkan maupun telah disampaikan.

Berdasarkan laporan UK National Advisory Committees (DfEE, 1999)

sebagaimana dikutip oleh Wayne (2006: dalam situs http://www.jpb.com/

creative/Creativity_in_Education.pdf), kreativitas didefinisikan sebagai:

“First, they [the characteristics of creativity] always involve thinking


or behaving imaginatively. Second, overall this imaginative activity is
purposeful: that is, it is directed to achieving anobjective. Third, these
processes must generate something original. Fourth, the outcome must
be of value in relation to the objective.”
34

Pertama, karakteristik dari kreativitas ini selalu melibatkan berpikir


atau berperilaku imajinatif. Kedua, secara keseluruhan kegiatan
imajinatif ini adalah tujuan: yaitu, diarahkan untuk mencapai tujuan.
Ketiga, proses kreatif harus menghasilkan sesuatu yang asli. Keempat,
hasilnya harus menjadi nilai dalam kaitannya dengan tujuan.

Menurut Linda Naiman (2006:11), “Creativity is the act of turning new

and imaginative ideas into reality. Creativity involves two processes: thinking,

then producing. Innovation is the production or implementation of an idea. If

you have ideas, but don't act on them, you are imaginative but not creative.”

Naiman menggambarkan kreativitas sebagai tindakan yang memutar gagasan-

gagasan imajinatif dan bersifat baru ke dalam kenyataan. Kreativitas

melibatkan dua proses yaitu pemikiran dan lalu menghasilkan. Inovasi

merupakan hasil atau implementasi dari suatu gagasan. Jika seseorang

mempunyai gagasan-gagasan tetapi tidak melalui proses-proses itu maka

seseorang itu dikatakan orang imajinatif tapi bukan orang kreatif.

Menurut Sternberg dan Lubart dalam Naiman (2006:217), “A product

is creative when it is (a) novel and (b) appropriate. A novel product is original

not predictable. The bigger the concept, and the more the product stimulates

further work and ideas, the more the product is creative”. Pada konteks ini,

Stenberg dan Lubarg mengatakan bahwa sebuah produk dikatakan kreatif jika

merupakan hal baru dan yang sesuai. Produk hal baru adalah asli dan bukan

yang dapat diramalkan. Dikatakan juga bahwa semakin besar konsep dan

semakin banyak rangsangan yang menghasilkan gagasangagasan maka

semakin banyak produk kreatif.


35

Menurut Campbell (2001:17) kreativitas adalah kegiatan yang

mendatangkan hasil yang sifatnya baru, berguna dapat dimengerti. Pengertian

baru, berguna dan dapat dimengerti memiliki interpretasi sebagai berikut.

1) Baru yang diartikan sebagai inovatif, belum ada sebelumnya, segar,

menarik, aneh dan mengejutkan.

2) Berguna yang diartikan sebagai lebih enak, lebih praktis, mem-

permudah, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan

masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatang-kan

hasil yang baik.

3) Dapat dimengerti yang diartikan hasil yang sama dapat dimengeti dan

dapat dibuat di lain waktu, atau sebaliknya peristiwa-peristiwa yang

terjadi begitu saja, tak dapat dimengerti, tak dapat diramalkan dan tak

dapat diulangi.

Dari definisi-definisi di atas disimpulkan bahwa kreativitas adalah

tindakan berpikir yang imajinatif melalui proses mental dari keinginan yang

besar dan disertai komitmen yang menghasilkan gagasan-gagasan baru,

bersifat asli, independen, dan bernilai.

b. Teori Pembentukan Pribadi Kreatif

Colin Martiandale dalam disertasi Mia Damiyanti (2004:33-34),

mengatakan bahwa

Dari berbagai catatan mengenai teori kreativitas yang dikumpulkan


sejak masa Yunani Kuno hingga saat ini menunjukkan terdapat lebih
dari 45 konsep teori. Namun secara garis besar teori tersebut
dikelompokkan menjadi beberapa konsep dasar sebagai penginspirasi
cara meningkatkan berpikir kreatif. Teori yang dimaksud tersebut
36

meliputi: (1) Teori Kreativitas sebagai Kontrol regresi; (2)


Karakteristik kepribadian; (3) Produk Kemampuan Mental; (4) Proses
Mental, dan (5) Fungsi Hemisphere.

1) Teori Kreativitas sebagai Kontrol Regresi

Teori ini dipelopori oleh Sigmund Freud, Carl Jung, Ernest Kris,

dan Lawrence Kubie (1920-1950) yang mengaitkan kreativitas dengan

Teori Psikoanalitik. Psikoanalitik memandang kreativitas sebagai hasil

mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai sejak di masa anak-anak.

Pribadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mempunyai

pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-

gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi

pemecahan inovatif dari trauma (Mia Damiyanti, 2004:144).

a) Sigmund Freud

Ia menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan, yang

merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai

ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima.

Sehingga biasanya mekanisme pertahanan merintangi produktivitas

kreatif. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat

tindakan kreatif, namun justru mekanisme sublimasi justru merupakan

penyebab utama dari kreativitas.

b) Ernest Kris

Ia menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi (beralih ke

perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasaan, jika perilaku


37

sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasaan) juga sering

muncul dalam tindakan kreatif.

c) Carl Jung

Ia juga percaya bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat

penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran yang tidak

disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi. Dengan adanya

ketidaksadaran kolektif, akan timbul penemuan, teori, seni, dan karya-

karya baru lainnya. Proses inilah yang menyebabkan kelanjutan dari

eksistensi manusia.

2) Kreativitas sebagai Karakteristik Kepribadian

Teori kreativitas sebagai karakteristik pribadi diawali oleh Rogers

(1959), dalam Mia Damiyanti (2004:35) yang menganggap manusia

mempunyai potensi kreatif sejak lahir, namun perkembangan selanjutnya

tergantung dari eksistensi dan kondisi yang menunjang. Teori ini percaya

bahwa kreativitas dapat berkembang baik apabila orang tersebut mampu

mengekspresikan ide dan rangsang tanpa rasa takut, terbuka pada sesuatu

yang tidak diketahui dan mudah menerima ketidaknyamanan (self-

accepting).

3) Kreativitas sebagai Produk Kemampuan Mental

Teori Kreativitas sebagai produk mental diawali sejak studi modern

mengenai intelegensi diperkenalkan oleh Sir Fancis Galton (1822-1911)


38

dan Alfred Binet (1857-1911) yang akhirnya memunculkan tes intelegensi.

Selanjutnnya melalui pendekatan psikomotorik J.P. Guilford dan Paul

Torrance (1950) menghasilkan ”Struktur of intellect model.” Guilford,

dalam Strendberg dan Lubart (2002:3), mengidentifikasikan tiga dimensi

utama yang meliputi operations (aktivitas ketika pemroses informasi, baik

secara konvergen dan divergen); content (bentuk informasi yang diproses);

dan product (kemampuan yang dihasilkan). Menurut teori ini, produk

konvergen merupakan penyesuaian dengan informasi yang telah dimiliki

dalam memori agar menjadi logis dan dapat diterima (merupakan

penyempitan jawaban). Sementara itu produk divergen dianggap sebagai

produk yang diperoleh atas dasar pengembangan informasi yang sudah ada

dalam memori.

4) Kreativitas sebagai Proses Mental

Kreativitas diperoleh bukan tanpa sadar ataupun secara kebetulan.

Menurut Crowll dkk. (2003:193), “walaupun nampak tidak sengaja,

namun prestasi yang dialami seseorang hanya mungkin terjadi bila

perasaannya (mind) terlatih dan mampu menghubungkan suatu kejadian

dengan kejadian lain yang tidak berhubungan.” Gardner beranggapan

bahwa perlu waktu puluhan tahun bagi seseorang yang menguasai ranah

tertentu dan meng-hasilkan pekerjaan kreatif di bidangnya.

Conny R. Semiawan (1997:29-31) mengemukakan tentang temuan

Treffinger, yaitu:

Terdapat tiga fase kreativitas dalam tingkat keberbakatan anak,


yaitu secara umum:
39

(1) Kreativitas tingkat I, pada kondisi ini ranah kognitif seorang


meliputi kesadaran mengenai suatu ide atau informasi,
kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas sedangkan ranah
afektif meliputi kepekaan terhadap suatu masalah dan
keterbukaan terhadap pengalaman.
(2) Kreativitas Tingkat Psikodelik II, pada kondisi ini ranah
kognitif seseorang mencakup perluasan berpikir, pengambilan
risiko, dan kesadaran terhadap tantangan, sementara itu ranah
afektif meliputi keterbukaan terhadap makna ganda,
keingintahuan serta kepercayaan pada diri sendiri.
(3) Tingkat Iluminasi III, pada tingkat ini ranah kognitif seseorang
telah mencapai perkembangan dan perwujudan hasil (product
development), sedangkan segi afektif meliputi keberanian
untuk bertanggung jawab mengenai hasil kreativitas,
kepercayaan pada dirinya serta komitme untuk hidup produktif.

Perkembangan kreativitas di atas tidak dilihat secara “linier”,

namun berjenjang sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.1. Model untuk Mendorong Belajar Kreatif menurut Treffinger


(Sumber: Munandar S.C, 2009:29).
40

Menurut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2000:301), proses

kreatif mengalir melalui lima tahap, yaitu:

(1) Persiapan, yaitu mendefinisikan masalah, tujuan, atau


tantangan. Seseorang menjalani proses ilmiah seperti memusatkan
segala perhatiannya kepada masalah, merumuskan masalah,
mengumpulkan dan mengorganisasi data yang relevan dengan
masalah, akhirnya seseorang mampu mengemukakan ide-ide yang
relevan dengan penyelesaian masalah yang dihadapinya.
(2) Inkubasi (masalah “dierami”), yaitu mencerna fakta-fakta dan
mengolahnya dalam pikiran. Seseorang menjalani proses riil yaitu
proses penyusunan dan pengentasan kembali ide-idenya. Pada fase ini,
seseorang benar-benar melibatkan diri dan menghayati masalah-
masalah yang dihadapinya, sehingga masalah-masalah ini ada dalam
penyelesaian yang tidak disadarinya.
(3) Iluminasi, yaitu mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan
bermunculan. Dalam tahap ini ada sesuatu yang lepas dari nalar
manusia, seseorang tiba-tiba memperoleh sesuatu inspirasi sehubungan
dengan masalah yang dihadapinya. Selama masa persiapan hingga
iluminasi, proses yang menonjol adalah proses berpikir divergen.
(4) Verifikasi, yaitu memastikan apakah solusi itu benar-benar
memecahkan masalah. Seseorang mengerahkan segala kemampuannya
untuk memikirkan, mengevaluasi dan menyusun rencana penyelesaian
secara kritis dan analisis. Pada tahap verifikasi terjadi proses berpikir
konvergen sebagai evaluasi secara kritis dalam penyesuaian dengan
realitas.
(5) Aplikasi, yaitu mengambil langkah-langkah untuk
menindaklanjuti solusi tersebut.

Kohler (dalam Mihally Csikszentmihalyi, 2000:55) telah

membuktikan kreativitas merupakan proses mental, dan diperkirakan hal

ini mendasari tahapan memecahkan masalah dalam informationprocessing

theories.

5) Teori Fungsi Hemisphere sebagai Kekhususan Belahan Otak

Secara umum para ahli menyimpulkan bahwa otak kita memiliki

dua sisi/kortikel (cortices) yang berhubungan secara mengagumkan


41

melalui jaringan serabut syaraf (Corpus callosum). Secara khusus

memiliki aktivitas mental/fungsi berbeda (Tabel 2.1).

Tabel 2.2 Fungsi Belahan Otak Kiri dan Belahan Otak Kanan

Belahan Otak Kiri Belahan Otak Kanan


- Mate - Diri
matika, sejarah, bahasa; sendiri, menguraikan dan
- Verb meningkatkan variabel,
al, masukan sensorik terbatas; inventif;
- Seku - Perse
ensial, terukur; psi nonverbal dan ekspresif;
- Anal - Spasi
itik; al;
- Kom - Intuit
paratif; if;
- Rela - Holis
sional; tik;
- Refe - Integ
rensial; ratif;
- Linie - Non
r; referensial;
- Logi - Gest
s; alt;
- Digit - Citra
al; ;
- Ilmia - Lebi
h, teknologi; h baik pada persepsi
kedalaman, pengenalan wajah;
- Hum
anistik Mistikal;
Sumber: Clark, B (1988:24).

Menurut Dedi Supriadi (1997:44) fungsi otak belahan kiri adalah

berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat alamiah, kritis, logis,

linier, teratur, sitematis, terorganisir, beraturan, dan sejenisnya. Adapun

fungsi otak belahan kanan adalah berkenaan dengan kegiatan-kegiatan

yang bersifat nonlinier, nonverbal, holistic, humanistic, kreatif, mencipta,

mendesain, bahkan mistik, dan sejenisnya. Singkatnya, otak belahan kiri


42

mengarah kepada cara berpikir konvergen (convergent thinking),

sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berpikir menyebar

(divergent thinking).

Kemunculan kreativitas dipengaruhi oleh koordinasi kedua

hemisphere. Kekhususan kerja yang terjadi bukan disebabkan jenis

perintah yang berbeda, namun disebabkan karena cara memproses yang

berbeda. Justifikasi fungsi kerjanya juga tidak bersifat mutlak. Dengan

demikian apabila intuisi merupakan hasil kerja belahan otak kanan, maka

proses menganalisis pemahaman dilakukan oleh belahan otak kiri. Mihaly,

dalam Muhammad Ali (2005:40), berpendapat secara kognitif muncul bila

seseorang menggunakan simbol tertentu sesuai dengan ranah yang

dikuasainya (relevan) misalnya musik, teknik, bisnis ataupun matematik.

c. Dimensi-Dimensi Kreativitas

Dimensi-dimensi kreativitas tergolong menjadi 2, yaitu menurut faktor

internal dan faktor eksternal.

1) Faktor Internal

Clark (1988:42-52) mengemukakan untuk memunculkan

kreativitas diperlukan dimensi tertentu. Dimensi penghasil kreativitas

tersebut saling terkait, sehingga apabila salah satu fungsi tersebut

terhambat akan menyebabkan sintesi berbagai fungsi di otak maupun

kreativitas terganggu. Dimensi-dimensi yang dianggap terkait dengan

kreativitas meliputi: (1) Rasio/thinking yang bersifat kognitif dan rasional,

terukur serta dapat dikembangkan melalui latihan secara sadar; (2) Bakat
43

khusus talent cipta/sensing merupakan bentuk nyata keadaan bawaan yang

membuat seseorang mampu mengkreasi sesuatu yang baru hingga dilihat

dan didengar orang lain; (3) Perasaan/feeling sebagai bentuk afektif

kondisi emosional yang berperan kuat sebagai kesadaran diri untuk proses

aktualisasi; dan (4) Intuisi/intuitive atau firasat, mempunyai peran lebih

tinggi dari rasio, digali dari alam bawah sadar atau situasi ketidaksadaran

(bukan rasio sadar) yang dapat ditingkatkan menuju pencerahan.

2) Faktor Eksternal

Di samping faktor internal, banyak ahli menganggap pentingnya

peran faktor eksternal. Dasar pemikirannya adalah sangat sulit

menemukan seorang kreatif yang benar-benar berkontribusi sendiri,

orisinil, dan bermakna baik dibidang seni, keilmuan, kepustakaan, filsafat

ataupun bidang lain. Gardner misalnya, mencontohkan bahwa faktor yang

menunjang munculnya kreativitas meliputi tiga elemen pokok yang saling

terkait. Ketiga elemen tersebut adalah kemampuan tertentu, hubungan

individu tersebut dengan pekerjaannya, serta interaksi antara individu

dengan orang lain baik saudara, maupun kelompoknya.


44

Gambar 2.2. Tiga Elemen Penting dalam Kegiatan Berpikir Kreatif


Sumber: Gardner, Howard (1993:9).

Pada orang kreatif kemampuan berpikir divergen merupakan hal yang

menonjol. Berpikir divergen adalah bentuk pemikiran terbuka, yang menjajaki

bermacam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan atau

masalah. Secara universal, produk divergen yang dikaitkan dengan

kemampuan spesifik dari Guilford (dikutip oleh Dedi Supriyadi, 1997:17)

yang melibatkan lima proses kreatif berikut.

a) Kelancaran (fluency) adalah kemampuan


untuk memproduksi banyak gagasan .
b) Keluwesan (fleksibility) adalah kemampuan
untuk mengajukan bermacam-macam pendekatan dan atau jalan
pemecahan terhadap suatu masalah.
c) Keaslian (originalitas) adalah kemampuan
untuk melahirkan gagasan-gagasan asli sebagai hasil pemikiran sendiri
dan tidak klise.
d) Penguraian (elaboration) adalah
kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci.
e) Perumusan kembali (redefinisi) adalah
kemampuan untuk mengkaji/menilik kembali suatu persoalan melalui
cara dan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah lazim.

Orang kreatif juga memerlukan kemampuan berpikir konvergen, yaitu

kemampuan berpikir yang berfokus pada tercapainya satu jawaban yang

paling tepat terhadap suatu persoalan atau masalah. Hal ini diperlukan untuk

memilih aspek masalah yang relevan dan membuang yang tidak relevan

(selective encoding), mengkreasi sistem koheren dari informasi yang berbeda

serta mengintegrasikan informasi baru dengan yang telah diketahui

sebelumnya. Melalui cara berpikir yang lancar dan fleksibel, orang kreatif

mampu mengadaptasi hampir semua situasi agar tujuannya tercapai.


45

Menurut Utami Munandar (2009:51), ciri-ciri afektif orang yang

kreatif meliputi rasa ingin tahu, merasa tertantang terhadap tugas majemuk.

Orang kreatif juga dianggap berani mengambil risiko dan dikritik, tidak

mudah putus asa, dan menghargai keindahan. Kelebihan lain yang dimiliki

orang kreatif adalah mereka mampu melihat masalah dengan pandangan

berbeda, teguh dengan ide, mampu memilah peluang untuk menfasilisasi

maupun menunda keputusan sulit. Mihally (2000, dalam Muhammad Ali,

2005:55), berpendapat karakteristik ini disebabkan mereka pada dasarnya

memiliki sistem syaraf lebih peka untuk ranah tertentu, sehingga

keingintahuan merupakan salah satu karakteristiknya. Kepekaan ini juga

menyebabkan kemampuan memilah antara imajinasi dan realitas.

d. Kreativitas Siswa

Dari uraian sebelumnya, dapat dikemukan bahwa yang dimaksud

kreativitas adalah suatu ekspresi tertinggi dari keberbakatan yang ditunjukkan

melalui aspek kognitif dengan tindakan dan berpikir divergen maupun

konvergen serta aspek afektif mengenai fungsi perasaan/internalisasi nilai.

Dalam memecahkan masalah, siswa yang kreativitasnya tinggi akan

cenderung menggunakan aspek berpikir divergen maupun konvergen ketika

mencari soluasi baru dan apabila akan mempersempit pilihan ketika mencari

jawaban. Sementara itu, aspek afektif ditunjukkan melalui sifat imajinatif, rasa

ingin tahu, independen, percaya diri, toleran terhadap perbedaan situasi

(mampu beradaptasi), senang pada kompleksitas (antusias), konsisten dari satu


46

situasi ke situasi lain, intuitif, dan mampu menunda keputusan bila terjadi

hambatan.

Secara garis besar, ada dua pendekatan utama untuk mengukur

kreativitas seseorang, diantaranya adalah: (1) Pendekatan kemampuan berpikir

kreatif (kognitif) serta (2) Pendekatan melalui kepribadian. Salah satu tes yang

banyak digunakan diantaranya; tes yang dilakukan Torrance (Test of Creative

Thinking) yang melibatkan kemampuan berpikir; atau Tes sindroma

kepribadian, contohnya Alpha Biological Inventory.

Inventori kepribadian ditujukan untuk mengetahui kecen-derungan

kepribadian seseorang. Kepribadian kreatif yang dimaksud meliputi sikap,

motivasi, minat, gaya berpikir, dan kebiasaan-kebiasaan berperilaku.

Penilaian proses mental yang memunculkan solusi, ide, konsep, bentuk

arstistik, teori atau produk yang unik dan baru/orisinil tes dibuat dalam bentuk

figural/gambar atau verbal/ bahasa.

Contoh lain mengenai tes kreativitas (khusus dikonstruksi di

Indonesia) adalah Skala Sikap Kreatif oleh Utami Munandar (2009:91-99).

Skala ini disusun untuk anak SMP dan SMA Penyusunan instrument

mempertimbangkan perilaku kreatif yang tidak hanya memerlukan

kemampuan berpikir kreatif (kognitif), namun juga sikap kreatif (afektif).

Sementara itu Guildford menyusun kemampuan spesifik produk divergen

dalam empat proses yang terkait dengan kreativitas (fluency, flexibility,

originality, dan elaboration) skoring ditentukan dengan menggunakan Rating

scale. Melalui cara ini keuntungan yang diperoleh adalah mudah dipahami,
47

tidak mahal, dan dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat dan jumlah

yang besar. Apabila konstruk tes baik, reliabilitas tes cukup tinggi.

Mengatasi keterbatasan dari tes kertas dan pensil untuk mengukur

kreativitas, dirancang beberapa pendekatan alternatif:

(i) Daftar periksa (check list) dan kuesioner, alat ini disusun

berdasar-kan penelitian tentang karakteristik khusus yang dimiliki

pribadi kreatif.

(ii) Daftar pengalaman, teknik ini menilai apa yang telah dilakukan

seseorang di masa lalu. Beberapa studi menemukan korelasi yang

tinggi antara “laporan diri” dan prestasi kreatif dimasa depan. Format

yang paling sederhana meminta seseorang menulis autobiografi

singkat, yang kemudian dinilai untuk kuantitas dan kualitas prilaku

kreatif.

Pada penelitian ini objek penelitiannya siswa SMA. Oleh karena itu,

digunakan pendekatan kepribadian berdasarkan karakteristik siswa SMA.

Instrumen berupa daftar periksa (check list) dan kuesioner yang disusun

berdasarkan teori-teori kreativitas dan indikator-indikator tes kreativitas

penelitian para ahli sebelumnya di atas yang disesuaikan dengan karakteristik

khusus yang dimiliki pribadi kreatif siswa SMA.

e. Mengukur Tingkat Kreativitas

Kreativitas merupakan proses merasakan dan mengamati adanya

masalah, membuat dugaan, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis,


48

kemudian menganalisis, dan terakhir menyampaikan laporan hasil (Torrance,

1988). Hasil dari kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil dan bermakna.

Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kreativitas seseorang perlu

dilakukan pengukuran. Menurut Torrance (1988:13) pengukuran kreativitas

seseorang menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu ... the

proccess (1) sensing difficulties, problems, gaps in information, missing

elements, something asked; (2) making formulating hypothesis about these

deficiencies; (3) evaluating and testing these guesses and hypotheses; (4)

possibly analysis; and finally; (5) report. Artinya, prosesnya (1) merasakan

kesulitan, masalah, kesenjangan dalam informasi, elemen yang hilang, sesuatu

yang ditanyakan (2) membuat formulasi hipotesis tentang kekurangan tersebut

(3) mengevaluasi dan mengetes terkaan atau hipotesis tersebut (4) analisa

yang memungkinkan dan akhirnya membuat laporan.

Mendasarkan pada langkah-langkah pengembangan proses kreatif

tersebut, Munandar (2009:27) mengemukakan tahapan yang dilakukan untuk

pengembangan proses kreativitas adalah persiapan, inkubasi, iluminasi dan

verifikasi. Selanjutnya Torrance (1988) dalam Marisi (2007:54),

mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan pengukuran kreativitas

mengembangkan tujuh kegiatan yang dilakukan oleh peserta tes yakni

1) Membuat pertanyaan

2) Menebak sebab akibat

3) Menebak akibat dari peristiwa

4) Mengembangkan manfaat suatu benada


49

5) Menggunakan sesuatu dengan cara luar biasa

6) Mengajukan pertanyaan luar biasa

7) Membuat tebakan

Ketujuh kegiatan tersebut dilakukan dengan mencermati gambar yang

telah disajikan pada saat tes. Hasil jawaban tes tersebut kemudian diskor

dengan mencermati tiga hal yaitu kelancaran dalam menjawab tes (fluency),

fleksibilitas jawaban yang dilihat dari banyaknya kategori jawaban yang

dibuat (flexibility), dan orisinalitas jawaban yang dibuat (originality).

Berkaitan dengan penelitian ini, pengukuran kreativitas siswa

dilakukan melalui pengujian hasil belajar setelah menerima perlakuan

pembelajaran. Pengujian hasil belajar dilakukan melalui tes yang berkaitan

dengan materi pembelajaran dalam bentuk soal-soal uraian.

2. Kajian tentang Pembelajaran Kooperatif Tipe Group

Investigation

a. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

1) Belajar

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui

pengalaman (Learning is defined as the modification or strengthening of

behavior through experience) (Hamalik, 1995:36). Menurut pengertian

tersebut, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu

hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas

daripada itu, yakni mengalami.


50

Menurut Hintzman “Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi

dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman

yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme” (Syah, 2002:90).

Sedangkan menurut Wittig “Belajar adalah perubahan yang relatif menetap

yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu

organisme sebagai hasil pengamatan” (Nasution, 1995:35).

Dari beberapa definisi belajar di atas, maka pengertian belajar yang

dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh

seseorang dengan maksud agar terjadi perubahan tingkah laku pada

dirinya, sehingga ada perbedaan dengan keadaan sebelum belajar. Dalam

proses belajar terdapat proses pengulangan dan latihan, selain itu

keberhasilan seseorang dalam belajar didukung oleh timbul atau tidaknya

perasaan senang atau puas ketika dan setelah belajar. Perasaan tidak

senang bisa ditiadakan, bila ada usaha tertentu untuk menciptakan kondisi

yang membuat seseorang mau belajar. Disinilah peranan para pendidik

diperlukan dalam membantu siswa agar lebih tertarik untuk belajar.

2) Pembelajaran

Hamalik (1995:57) mendefinisikan “Pembelajaran adalah suatu

kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material,

fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai

tujuan pembelajaran. Hamalik (1995:65) juga menyebutkan tiga ciri khas

yang terkandung dalam sistem pembelajaran yaitu sebagai berikut.


51

a) Rencana, ialah penataan ketenangan,

material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem

pembelajaran dalam suatu rencana khusus.

b) Kesalingtergantungan (interdepence), antara

unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan.

Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan

sumbangannya kepada sistem pembelajaran.

c) Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai

tujuan tertentu yang hendak dicapai. Tujuan utama sistem

pembelajaran adalah agar siswa belajar.

Briggs menjelaskan bahwa pembelajaran adalah seperangkat

peristiwa yang mempengaruhi si belajar sedemikian rupa sehingga si

belajar itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan

lingkungan (Sugandi & Haryanto, 2004:9).

Menurut Mendigers dalam Sugandi & Haryanto (2004:9) terdapat

enam prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran agar anak

mudah dan berhasil dalam belajar, enam prinsip tersebut dijelaskan

sebagai berikut.

a) Prinsip aktivitas mental

Belajar adalah aktifitas mental, oleh karena itu pembelajaran

hendaknya dapat menimbulkan aktifitas mental. Tidak hanya

mendengar, mencamkan dan sebagainya tetapi lebih menyeluruh baik

aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.


52

b) Prinsip penyesuaian perkembangan anak

Anak akan lebih tertarik perhatiannya bila bahan pelajaran disesuaikan

dengan perkembangan subyek belajar.

c) Prinsip Appersepsi

Prinsip ini memberikan petunjuk bahwa saat guru mengajar hendaknya

mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan apa yang sudah

diketahui. Dengan cara tersebut subyek belajar akan lebih tertarik

sehingga bahan pelajaran mudah diserap. Pelajaran lebih bermakna

bila guru menghubungkan materi pelajaran dengan penyajian

“advance organizer”, yaitu menghubungkan materi pelajaran pokok

dengan konteks yang lebih luas dan bermakna.

d) Prinsip peragaan

Prinsip peragaan memberikan pedoman bahwa dalam mengajar

hendaknya didunakan alat peraga. Dengan alat peraga proses belajar

mengajar tidak verbalistis.

e) Prinsip aktifitas motoris

Belajar yang dapat menimbulkan aktifitas motorik para subyek belajar

seperti menulis, menggambar, melakukan percobaan, mengerjakan

tugas latihan, akan menimbulkan kesan dan hasil belajar yang lebih

mendalam.

f) Prinsip motivasi
53

Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Makin kuat

motivasi seseorang dalam belajar maka akan makin optimal dalam

melakukan aktivitas belajar. Dengan kata lain intensitas proses

pembelajaran sangat ditentukan oleh motivasi.

b. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar menurut Sudjana (2010:22) adalah kemampuan yang

dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar

yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari

dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa. Oleh karena

itu apabila siswa mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka

kemampuan yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep.

Proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-

perubahan dalam bidang pengetahuan, dalam bidang keterampilan, dalam

bidang nilai dan sikap. Adanya perubahan itu tampak dalam hasil belajar

yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan atau persoalan tugas yang

diberikan oleh guru. Hasil ini berbeda sifatnya, tergantung di dalamnya

siswa memberikan prestasi misalnya dalam bidang pemahaman atau

pengetahuan yang merupakan unsur kognitif. Seperti kita ketahui bersama

bahwa pendidikan mengandung 3 unsur yaitu unsur afektif, kognitif, dan

psikomotorik. Namun tidak semua perubahan merupakan hasil belajar.

Perubahan itu akan merupakan hasil belajar bila memiliki ciri-ciri

berikut.
54

1) Perubahan terjadi secara sadar, artinya seseorang yang belajar akan

menyadari adanya suatu perubahan.

2) Perubahan bersifat berkesinambungan dan fungsional.

3) Perubahan bersifat positif dan aktif.

4) Perubahan yang terjadi bukan bersifat sementara.

5) Perubahan dalam belajar mempunyai tujuan dan arah tertentu.

Pada prinsipnya belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara

sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada

dirinya, baik dalam bentuk sikap dan nilai yang positif maupun

pengetahuan yang baru. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini

adalah hasil belajar Akuntansi di kelas X SMK program keahlian

Akuntansi pada aspek pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi,

serta pemecahan masalah.

c. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar mengajar di

mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan tingkat

kemampuan kognitif yang heterogen. Woolfolk, dalam Budiningarti

(1998:22) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah

satu pembelajaran yang didasarkan pada faham konstruktivisme. Pada

pembelajaran kooperatif siswa percaya bahwa keberhasilan mereka akan

tercapai jika dan hanya jika setiap anggota kelompoknya berhasil. Sistem

pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja

sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut


55

sebagai pengajaran gotong-royong atau cooperative learning. Sistem

pendidikan gotong royong merupakan alternatif menarik yang dapat

mencegah timbulnya keagresifan dalam sistem kompetisi dan keterasingan

dalam sistem individu tanpa mengorban-kan aspek kognitif.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah; (1) belajar ber-

sama dengan teman, (2) selama proses belajar terjadi tatap muka antar

teman, (3) saling mendengarkan pendapat di antara anggota kelompok, (4)

belajar dari teman sendiri dalam kelompok, (5) belajar dalam kelompok

kecil, (6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7)

keputusan tergantung pada siswa sendiri, (8) siswa aktif (Stahl, 1994:244).

Senada dengan ciri-ciri tersebut, Johnson dan Johnson (1987) serta Hilke

(1990) dalam Udin S. Winataputra (2001:56) mengemukakan ciri-ciri

pembelajaran kooperatif adalah; (1) terdapat saling ketergantungan yang

positif di antara anggota kelompok, (2) dapat dipertanggungjawabkan

secara individu, (3) heterogen, (4) berbagi kepemimpinan, (5) berbagi

tanggung jawab, (6) menekankan pada tugas dan kebersamaan, (7)

membentuk keterampilan sosial, (8) peran guru/guru mengamati proses

belajar siswa, (9) efektivitas belajar tergantung pada kelompok. Proses

belajar terjadi dalam kelompok-kelompok kecil (3-4 orang anggota),

bersifat heterogen tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan akademik,

gender, suku, maupun lainnya.

Menurut Winataputra (2001:64), model pembelajaran kooperatif

dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang diasumsikan


56

mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang

dimaksud adalah belajar aktif, konstruktivistik, dan kooperatif. Beberapa

pendekatan tersebut diintegrasikan dimaksudkan untuk menghasilkan

suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat

mengembangkan potensinya secara optimal. Belajar aktif, ditunjukkan

dengan adanya keterlibatan intelektual dan emosional yang tinggi dalam

proses belajar, tidak sekedar aktivitas fisik semata. Siswa diberi

kesempatan untuk ber-diskusi, mengemukakan pendapat dan idenya,

melakukan eksplorasi terhadap materi yang sedang dipelajari serta

menafsirkan hasilnya secara bersama-sama di dalam kelompok. Siswa

dibebaskan untuk mencari berbagai sumber belajar yang relevan. Kegiatan

demikian memungkinkan siswa berinteraksi aktif dengan lingkungan dan

kelompoknya, sebagai media untuk mengembangkan pengetahuannya.

Ibrahim (2000:12) menjelaskan bahwa pendekatan konstruktivistik

dalam model pembelajaran kooperatif dapat mendorong siswa untuk

mampu membangun penge-tahuannya secara bersama-sama di dalam

kelompok. Mereka didorong untuk menemukan dan meng-konstruksi

materi yang sedang dipelajari melalui diskusi, observasi atau percobaan.

Siswa menafsirkan bersama-sama apa yang mereka temukan atau mereka

bahas. Dengan cara demikian, materi pelajaran dapat dibangun bersama

dan bukan sebagai transfer dari guru. Pengetahuan dibentuk bersama

berdasarkan pengalaman serta interaksinya dengan lingkungan di dalam

kelompok belajar, sehingga terjadi saling memperkaya di antara anggota


57

kelompok. Ini berarti, siswa didorong untuk membangun makna dari

pengalamannya, sehingga pemahaman terhadap fenomena yang sedang

dipelajari meningkat. Mereka didorong untuk memunculkan berbagai

sudut pandang terhadap materi atau masalah yang sama, untuk kemudian

membangun sudut pandang atau mengkonstruksi pengetahuannya secara

bersama pula. Hal ini merupakan realisasi dari hakikat konstruktivisme

dalam pembelajaran.

Lebih lanjut Ibrahim (2000:7) menjelaskan bahwa pendekatan

kooperatif mendorong dan memberi kesempatan kepada siswa untuk

trampil berkomunikasi. Artinya, siswa didorong untuk mampu menyatakan

pendapat atau idenya dengan jelas, mendengarkan orang lain dan

menanggapinya dengan tepat, meminta feedback serta mengajukan

pertanyaan-pertanyaan dengan baik. Siswa juga mampu membangun dan

menjaga kepercayaan, terbuka untuk menerima dan memberi pendapat

serta ide-idenya, mau berbagi informasi dan sumber, mau memberi

dukungan pada orang lain dengan tulus. Siswa juga mampu memimpin

dan trampil mengelola kontroversi (managing controvercy) menjadi situasi

problem solving, mengkritik ide dan bukan orangnya.

Berdasar kepada pendapat-pendapat para ahli di atas, model

pembelajaran kooperatif ini akan dapat terlaksana dengan baik jika dapat

ditumbuhkan suasana belajar yang memungkinkan diantara siswa serta

antara siswa dan guru merasa bebas mengeluarkan pendapat dan idenya,

serta bebas dalam mengkaji serta mengeksplorasi topik-topik penting


58

dalam kurikulum. Guru dapat mengajukan berbagai pertanyaan atau

permasalahan yang harus dipecahkan di dalam kelompok. Siswa berupaya

untuk berpikir keras dan saling mendiskusikan di dalam kelompok.

Kemudian guru serta siswa lain dapat mengejar pendapat mereka tentang

ide-idenya dari berbagai perspektif. Guru juga mendorong siswa untuk

mampu mendemonstrasikan pemahamannya tentang pokok-pokok

permasalahan yang dikaji menurut cara kelompok.

Berpijak pada karakteristik pembelajaran di atas, diasumsikan

bahwa model pembelajaran kooperatif mampu memotivasi siswa dalam

melaksanakan berbagai kegiatan, sehingga mereka merasa tertantang

untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama secara kreatif. Model

pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran di berbagai bidang

studi atau matakuliah, baik untuk topik-topik yang bersifat abstrak maupun

yang bersifat konkrit.

Menurut Muslimin Ibrohim (2000:6), unsur-unsur dasar

pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.

1) Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka


“sehidup sepenanggungan bersama”.
2) Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam
kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
3) Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam
kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4) Siswa haruslah membagi tugas dan tanggungjawab yang sama di
antara anggota kelompoknya.
5) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6) Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
59

7) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan


keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

Dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif pada siswa

berarti sekolah (guru dan murid):

1) mengembangkan dan menggunakan keterampilan kooperatif


berpikir kritis dan kerja sama kelompok;
2) menyuburkan hubungan antar pribadi yang positif diantara siswa
yang berasal dari latar belakang yang berbeda;
3) menerapkan bimbingan oleh teman (peer coaching);
4) menciptakan lingkungan yang menghargai, menghormati nilai-nilai
ilmiah;
5) membangun sekolah dalam suasana belajar. (Ibrahim, 2000:6)

Roger dan David Johnson dalam (Anita Lie, 2004:44)

pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok.

Pelaksanaan kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola

kelas agar lebih efektif. Untuk mencapai hasil yang optimal, lima unsur

kooperatif yang harus diterapkan yaitu: a) positive interdependence (saling

ketergantungan positif), b) personal respontibility (tanggung jawab

perseorangan), c) face to face promotive interaction (interaksi promotif),

d) interpersonal skill (komunikasi antar anggota), dan e) group processing

(pemprosesan kelompok).

Adapun lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran

kooperatif menurut Lie (2004:46) adalah: (a) memberikan kesempatan

terjadinya belajar berdemokrasi, (b) meningkatkan penghargaan peserta

didik pada pelajaran akademik dan mengubah norma-norma terkait dengan

prestasi, (c) mempersiapkan peserta didik belajar mengenai kalaborasi dan


60

berbagai ketrampilan sosial melalui peran aktif peserta didik dalam

kelompok-kelompok kecil, (d) memberi peluang terjadinya proses

partisipasi aktif peserta didik dalam belajar dan terjadinya dialog

interaktif, (e) menciptakan iklim sosio emosional to live together, (f)

menumbuhkan produktifitas dalam kelompok, dan (g) mengubah peran

guru dari center stage performance menjadi koreografer kegiatan

kelompok

Dari uraian pembelajaran kooperatif di atas dapat disimpulkan

bahwa penerapan pembelajaraan kooperatif dapat melatih siswa untuk

saling bekerja sama dan saling bertukar pikiran dalam menyelesaikan

masalah. Jadi dengan pembelajaran kooperatif akan menimbulkan dampak

positif di antaranya percaya diri, berpikir kritis dan berani mengungkapkan

pendapat. Kata kunci dari kooperatif adalah purposeful talk yaitu

percakapan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk

menelaah, mengeksplorasi, mengelaborasi dan membangun pengetahu-

annya di dalam konteks sosial.

Ragam model pembelajaran kooperatif antara lain:

1) STAD (Student Teams Achievement Divisions).

2) TGT (Teams Games Tournament).

3) TAI (Teams Assisted Individualization).

4) Jigsaw I.

5) Jigsaw II.

6) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition).


61

7) Group investigation atau Investigasi Kelompok.

(Suyitno, 2004:37).

d. Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation

Salah satu bentuk pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran

kooperatif model group investigation. Model group investigation

merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks karena

memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang

berbasis konstruktivisme dan prinsip pembelajaran demokrasi. Model

Group investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan

berpikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari

tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran akan memberi peluang

kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan

mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat

memperbaiki kesalahannya.

Group investigation dikembangkan pertama kali oleh Thelan (Lie,

2004:47). Dalam perkembangannya model ini diperluas dan diper-tajam

oleh Sharan dari Universitas Tel Aviv, merupakan pengaturan kelas yang

umum di mana para siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan

pertanyaan kooperatif, diskusi kelompok serta perencanaan dan proyek

kooperatif (Slavin, 2005:216). Menurut Trianto (2010:124), group

investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling

kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Pendekatan dengan metode


62

group investigation memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit

dari pada pendekatan yang lebih berpusat pada guru.

Menurut Slavin (2005:218), dalam pembelajaran model group

investigation, interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting bagi

perkembangan skema mental yang baru. Dalam pembelajaran inilah

koperatif memainkan peranannya dalam memberi kebebasan kepada

pembelajar untuk berpikir secara analitis, kritis, kreatif, reflektif dan

produktif. Pola pengajaran ini akan menciptakan pembelajaran yang

diinginkan, karena siswa sebagai obyek pembelajar ikut terlibat dalam

penentuan pembelajaran.

Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode

yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pem-

belajaran kooperatif. Suyitno Amin (2004:39) mengemukakan bahwa

metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan

topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini

menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam

berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group

process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok

umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang

beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen.

Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman

atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih

topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap


63

berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan

menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan.

Menurut Suyitno Amin (2004:40), dalam group investigation kelas

adalah sebuah tempat kreativitas kooperatif di mana guru dan siswa

membangun proses pembelajaran yang didasarkan pada perencanaan

mutual dari berbagai pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan masing-

masing siswa. Pihak yang belajar adalah partisipan yang aktif dalam

segala aspek kehidupan sekolah, membuat keputusan yang menentukan

tujuan terhadap apa yang dikerjakan. Kelompok dijadikan sebagai sarana

sosial dalam proses pembelajaran. Rencana kelompok adalah satu cara

untuk mendorong keterlibatan maksimal para siswa.

Berdasarkan hal di atas bahwa group investigation berpusat pada

siswa dan tugas-tugas yang dikerjakan merupakan pilihan dari siswa itu

sendiri melalui berdasarkan pemilihan berbagai topik mengenai materi

atau pokok bahasan yang akan dipelajari.

e. Langkah-langkah Pembelajaran Model

GroupIinvestigation

Slavin (2005:218-220), membagi langkah-langkah pelaksanaan

model investigasi kelompok meliputi enam tahapan. Masing-masing

tahapan adalah sebagai berikut.

1) Seleksi Topik
64

Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah

masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru.

Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok

yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang

beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen, baik

dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.

Prosedur yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

a) Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah

topik, dan mengkategorikan saran-saran.

b) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari

topik yang telah mereka pilih.

c) Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan

harus bersifat heterogen.

d) Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan mem-

fasilitasi pengaturan.

2) Merencanakan kerjasama

Para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur

belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan

berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah 1) di atas.

Para siswa merencanakan tugas yang akan dipelajari (Apa yang

dipelajari? Bagaimana mempelajarinya? Siapa elakukan apa? Untuk

tujuan atau kepentingan apa menginvestigasi topik tersebut?)

3) Implementasi
65

Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada

langkah 2). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan

ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk

menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di

luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap

kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

Langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

a) Para siswa mengumpulkan

informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.

b) Tiap anggota kelompok

berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.

c) Para siswa saling bertukar,

berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua gagasan.

4) Analisis dan Sintesis

Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi

yang diperoleh pada langkah 3) dan merencanakan agar dapat

diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.

Langkah yang ditempuh adalah:

a) Anggota kelompok

menentukan pesan-pesan esensial dari proyek mereka.

b) Anggota kelompok

merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana

mereka akan membuat presentasi.


66

c) Wakil-wakil kelompok

membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan

rencana-rencana presentasi.

5) Penyajian hasil akhir

Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik

dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas

saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik

tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.

a) Presentasi yang dibuat untuk

seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk.

b) Bagian presentasi tersebut

harus dapat melibatkan pendengar-nya secara aktif.

c) Para pendengar tersebut

mengevaluasi kejelasan dan penampil-an presentasi

berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh

seluruh anggota kelas.

6) Evaluasi

Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontri-busi

tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.

Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok,

atau keduanya.

Pada tahap ini diharapkan:

a) Para siswa saling memberikan umpan balik


67

mengenai topik ter-sebut, mengenai tugas yang telah mereka

kerjakan, mengenai keefektifan pengalaman-pengalaman

mereka.

b) Guru dan murid berkolaborasi dalam

mengevaluasi pembel-ajaran siswa.

c) Penilaian atas pembelajaran harus

mengevaluasi pemikiran paling tinggi.

f. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Model


Group investigation

Johnson dan Johnson (Nurhadi dkk, 2004:62) menunjukkan adanya

berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut.

1) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.

2) Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.

3) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap,

keteram-pilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan.

4) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau

egois dan egosentris.

5) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama

manusia.

6) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain

yang dirasakan lebih baik.

7) Meningkatkan motivasi belajar instrinsik.


68

8) Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan

pengalaman belajar.

Sementara itu, Lie (2002:98) mengemukakan kelebihan group

investigation sebagai berikut.

1) Meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan

keterampilan inkuiri kompleks.

2) Kegiatan belajar berfokus pada siswa sehingga pengetahuannya

benar-benar diserap dengan baik.

3) Meningkatkan keterampilan sosial dimana siswa dilatih untuk

bekerja sama dengan siswa lain.

4) Meningkatkan pengembangan softskills (kritis, komunikasi,

kreatif) dan group process skill (managemen kelompok).

5) Menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam

maupun di luar sekolah.

6) Mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan

7) Mampu menumbuhkan sikap saling menghargai, saling

menguntungkan, memperkuat ikatan sosial, tumbuh sikap untuk

lebih mengenal kemampuan diri sendiri, bertanggung jawab dan

merasa berguna untuk orang lain.

8) Dapat mengembangkan kemampuan professional guru dalam

mengembangkan pikiran kreatif dan inovatif.

Sedangkan kelemahan yang ada pada pembelajaran kooperatif tipe

group investigation menurut Slavin (2005:314) adalah sebagai berikut.


69

1) Memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit.

2) Pendekatan ini mengutamakan keterlibatan pertukaran pemikiran

para siswa kegiatan mengobservasi secara rinci dan menilai secara

sistematis, sehingga tujuan tidak akan tercapai pada siswa yang

tidak turut aktif.

3) Memerlukan waktu belajar relatif lebih lama.

4) Memerlukan waktu untuk penyesuaian sehingga suasana kelas

menjadi mudah ribut.

5) Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini.

6) Menuntut kesiapan guru untuk menyiapkan materi atau topik

investigasi secara keseluruhan. Sehingga akan sulit terlaksana bagi

guru yang kurang kesiapannya.

3. Kajian tentang Pembelajaran Akuntansi

a. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Sampai saat ini, IPS merupakan suatu program pendidikan dan

bukan subdisiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik

dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science),

maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education

Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS),

menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”.

Nama IPS dalam Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia

muncul bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMA

tahun 1975. Dilihat dari sisi ini, maka IPS sebagai bidang studi masih “baru“.
70

Disebut demikian karena cara pandang yang dianutnya memang dianggap

baru, walaupun bahan yang dikaji bukanlah hal yang baru. Dengan kata lain,

IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata

pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah,

antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Perpaduan ini

dimungkinkan karena mata pelajaran tersebut memiliki obyek material kajian

yang sama yaitu manusia.

Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan keberadaannya dalam

kurikulum persekolahan di Indonesia tidak lepas dari per-kembangan dan

keberadaan Social studies (Studi Sosial) di Amerika Serikat. Oleh

karenanya, gerakan dan paham social studies di Amerika banyak

mempengaruhi pemikiran mengenai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di

Indonesia.

IPS dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang

masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian

dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah,

geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik pemerintahan, dan aspek

psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan

pembelajaran.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang IPS, maka

penting untuk dikemukakan beberapa pengertian social studies dan IPS

menurut para ahli.

1) Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah

perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia


71

merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi,

antropologi budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik

dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional

dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.

2) Nu’man Soemantri menyatakan bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu-

ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP,

dan SLTA. Penyederhanaan mengandung arti: a) menurun-kan tingkat

kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas

menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berpikir siswa-siswi

sekolah dasar dan lanjutan, b) mempertautkan dan memadukan bahan

aneka cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga

menjadi pelajaran yang mudah dicerna.

3) S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan

fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa

IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan

peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek

sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi

sosial.

4) Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa IPS merupakan bidang

studi yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-

hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship

hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya.

Penyajiannya harus merupakan bentuk yang terpadu dari berbagai ilmu


72

sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan sesuai dengan

kepentingan sekolah-sekolah.

Studi Sosial bukan merupakan bidang keilmuan atau disiplin

bidang akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian

tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajian studi

sosial menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk bidang-

bidang ilmu sosial.

Tugas studi sosial sebagai suatu bidang studi mulai dari tingkat

sekolah dasar sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dengan

tujuan membina warga masyarakat yang mampu menyelaraskan

kehidupannya berdasarkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial, serta

membantu melahirkan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial

yang dihadapinya.

Tabel 2.3
Perbedaan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-ilmu Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial Ilmu-ilmu Sosial

Mengkaji pada masalah-masalah yang Suatu disiplin ilmu


terjadi di masyarakat

Menggunakan pendekatan Mengguna pendekatan disiplin ilmu


multidisiplin atau interdisiplin atau monodisiplin
73

IPS dirancang untuk kepentingan Ilmu-ilmu sosial keberadaannya bias


kependidikan. Oleh karena itu, di dunia persekolahan, perguruan
keberadaan IPS lebih memfokuskan tinggi atau dipelajari di masyarakat
pada dunia persekolahan umum

Dengan demikian, IPS bukan ilmu sosial dan pembelajaran IPS

yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan

tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek

praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial

masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang

pendidikan masing-masing. Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat

dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar

sekolah atau siswa dan siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu

lingkungan negara lain, baik yang ada di masa sekarang maupun di masa

lampau. Dengan demikian siswa dan siswi yang mempelajari IPS dapat

menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa

lampau umat manusia.

Dengan bertolak dari uraian di atas, kegiatan belajar mengajar IPS

membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial

pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan

yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi.

b. Rasional Pembelajaran IPS

Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan YME yang

menjadi penghuni di permukaan plane tbumi ini,yang senantiasa

berhadapan atau berhubungan dengan dimensi-dimensi ruang, waktu dan


74

berbagai bentuk kebutuhan (Needs) serta berbagai bentuk peristiwa baik

dalam sekala individual maupun dalam skala kelompok (satuan sosial).

Berkenaan dengan sebagian dari hakikat dari makhluk manusia tadi, dan

kemudian dihadapkan pada beberapa disiplin ilmu sosial, maka tentu saja

terdapat relasi, relevansi dan fungsi yang cukup signifikan. Dimensi ruang

(permukaan bumi) dengan segala fenomenannya, sangat relevan menjadi

objek atau kajian geografi. Sedangkan dimensi manusia baik dalam skala

individual maupun dalam skala kelompok (masyarakat dan satuan sosial

lainnya) sangat relevan menjadi bahan kajian atau telaah disiplin sosiologi

dan psikologi sosial. Kemudian dimensi waktu dan peristiwa-peristiwa

yang dialami manusia dari waktu ke waktu sangat relevan menjadi objek/

bahan kajian bagi disiplin ilmu sejarah.sedangkan dimensi kebutuhan

(needs) yang senantiasa memiliki karakteristik atau sifat keterbatasan

(kelangkaan) sangat tepat menjadi objek kajian bagi disiplin ilmu

ekonomi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas di era kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini harus bersamaan dengan

pengembangan nilai-nilai. Dengan pengembangan nilai-nilai tersebut

diharapkan sumber daya manusia Indonesia memiliki pengetahuan,

keterampilan, kpedulian, kesadaran, dan tanggungjawab sosial yang tinggi

terhadap masyarakat, bangsa, dan negaranya bagi pengembangan kini dan


75

mendatang. Nilai-nilai tersebut menurut Nursid Sumaatmadja (1997:34-

38), yaitu sebagai berikut.

1) Nilai Edukatif

Dalam proses peningkatan perilaku sosial melalui pembinaan

nilai edukatif, tidak hanya terbatas pada perilaku kognitif, melainkan

lebih mendalam lagi berkenaan dengan perilaku afektifnya. Melalui

pendidikan IPS perasaan, kesadaran, penghayatan, sikap, kepedulian,

dan tanggung jawab sosial peserta didik ditingkatkan. Kepedulian dan

tanggungjawab sosial secara nyata dikembangkan dalam pendidikan

IPS untuk mengubah perilaku peserta didik bekerja sama, gotong

royong, dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan.

2) Nilai Praktis

Pendidikan dianggap tidak memiliki makna yang baik jika tidak

memiliki nilai yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena

itu, pokok bahasan IPS itu harusnya digali dari krhidupan sehari-hari.

Dalam hal ini, nilai praktis itu disesuaikan dengan tingkat usia dan

kegiatan peserta didik sehari-hari. Pembelajaran pada pendidikan IPS

tersebut diproses secara menarik, tidak terlepas dari kehidupaan sehari-

hari dan secara langsung ataupun tidak langsung memiliki nilai praktis.

3) Nilai Teoretis

Peserta didik dibina dan dikembangkan daya nalarnya ke arah

dorongan mengetahui sendiri kenyataan (sense of reality) dan


76

dorongan menggali sendiri di lapangan (sense of discovery). Dengan

demikian, kemampuan mereka mengajukan “hipotesis” dan dugaan-

dugaan terhadap suatu persoalan juga berkembang. Dengan kata lain,

kemampuan mereka dalam “berteori” dibina dan dikembangkan dalam

pendidikan IPS ini.

4) Nilai Filsafat

Pembahasan ruang lingkup IPS secara bertahap dan keseluruhan sesuai

dengan perkembangan kemampuan peserta didik, dapat mengembang-

kan kesadaran mereka selaku anggota masyarakat atau sebagai

makhluk sosial.

5) Nilai Ketuhanan

Pendidikan IPS dengan ruang lingkup dan aspek kgehidupan sosial

yang luas cakupannya menjadi landasan yang kuat bagi penanaman

dan pengembangan nilai ketuhanan yang menjadi kunci kebahagia-an

kita baik lahir maupun batin.

c. Tujuan Pembelajaran IPS

IPS sebagai suatu progam pendidikan tidak hanya menyajikan

tentang konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus pula mampu

membina peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang

tahu akan hak dan kewajibannya, yang juga memiliki atas kesejahteraan

bersama yang seluas-luasnya. Oleh karena itu, peserta didik yang dibina

melalui IPS tidak hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan berpikir


77

tinggi, namun peserta didik diharapkan pula memiliki kesadaran dan

tanggung jawab yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya.

Pembelajaran IPS berusaha membantu siswa dalam memecah-kan

permasalahan-permasalahan yang dihadapi, sehingga akan menjadikannya

semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya (Cleaf,

1991:145). Ilmu pengetahuan sosial dibelajarkan di sekolah dasar,

dimaksudkan agar siswa menjadi manusia dan warga negara yang baik,

seperti yang diharapkan oleh dirinya, orang tua, masyarakat, dan agama

(Somantri, 2004). Kosasih mengutip pendapat Waterworth (2007:67)

dengan penekanan yang agak berbeda mengatakan bahwa pembelajaran

IPS di sekolah dasar pada dasarnya dimaksudkan untuk pengembangan

pengetahuan, sikap, nilai moral, dan keterampilan siswa agar menjadi

manusia yang mampu memasyarakat (civic community).

Tujuan institusional penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar

menurut kurikulum 2006 (KTSP) adalah: (1) mendidik siswa agar menjadi

manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila yang mampu

membangun dirinya sendiri serta ikut bertanggung jawab terhadap

pembangunan bangsa, (2) memberi bekal kemampuan yang diperlukan

bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, dan

(3) memberi bekal kemampuan dasar untuk hidup di masyarakat dan

mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan

lingkungannya (Depdiknas, 2006:47).


78

Berdasarkan pada beberapa pandangan di atas, dapat

diformulasikan bahwa pada dasarnya tujuan dari pembelajaran IPS pada

jenjang sekolah dasar, adalah untuk mendidik dan memberi bekal

kemampuan dasar kepada siswa untuk untuk mengembangkan diri sesuai

dengan bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya, serta sebagai bekal

bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebagai bidang pengetahuan, ruang lingkup IPS dapat terlihat

nyata dari tujuannnya. Di sepanjang sejarahnya selama ini IPS memiliki 5

tujuan yang penjelasannya sebagai berikut

1) IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut dibidang social

sciences jika ia nantinya masuk ke perguruan tinggi.untuk itu maka

pelajara seperti sejarah, geografi, ekonomi dan antropologi budaya

harusnya diberikan lepas-lepas sebagai vak tersendiri.

2) IPS yang bertujuan mendidik kewarganegaraan yang baik, mata

pelajaran yang disajikan oleh guru sekaligus harus ditempatkan

dalam konteks budaya melalui pengolahan secara ilmiah dan

sikologis yang tepat.

3) IPS yang hakikatnya merupakan kompromi antara satudan dua

tersebut di atas inilah yang kita temukan dalam definisi IPS,

sebagai “suatu penyederhanaan dan penyaringan terhadap ilmu-

ilmu sosial, yang penyajiannya di sekolah disesuaikan dengan

kemampuan guru dan daya tangkap peserta didik


79

4) IPS yang mempelajari closed area atau masalah-masalah sosial

yang pantang untuk dibicarakan di muka umum.bahannya

menyangkut macam-macam pengetahuan dari ekonomi sampai

politik, dari yang sosial sampai cultural. Dengan cara ini, siswa

dilatih berfikir demokratis

5) Menurut pedoman khusus bidang studi IPS, tujuan bidang studi

tersebut yaitu dengan materi yang dipilih disaring dan disinkronkan

kembali maka sasaran seluruh kegiaran belajar dan pembelajaran

IPS mengarah pada 2 hal, yaitu:

a) Pembinaan warga negara Indonesia atas dasar moral

pancasila/UUD 1945, nilai-nilai dan sikap hidup yang dikandung

oleh Pancasila/UUD 1945 secara sadar dan intensif ditanamkan

pada siswa sehingga terpupuk kemauan dan tekad untuk hidup

bertanggung jawab demi keselamatan diri, bangsa, negara dan

tanah air.

b) Sikap sosial yang rasional dalam kehidupan. Untuk dapat

memahami dan selanjutnya mampu memecahkan masalah-masalah

sosial perlu ada pandangan terbuka dan rasional. Dengan berani

dan sanggup melihat kenyataan yang ada, akan terlihat segala

persoalan dan akan dapat ditemukan jalan memecahkannya.

Termasuk pula kenyataan menurut sejarah perjuangan bangsa

bahwa pancasila adalah falsafah hidup yang menyelamatkan

bangsa dan menjamin kesejahteraan hidup kita bersama


80

Berdasarkan pengertian dan tujuan dari IPS pada jenjang sekolah

dasar sebagaimana dideskripsikan di atas, tampaknya dibutuhkan suatu

pola pembelajaran yang mampu menjembatani tercapainya tujuan tersebut.

Sehingga, menurut Lasmawan (2008:145), kemampuan dan keterampilan

guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metoda, dan

strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan agar pembelajaran IPS

di sekolah dasar benar-benar mampu mengkondisikan upaya pembekalan

kemampuan dan keterampilan dasar bagi siswa untuk menjadi manusia

dan warga negara yang baik. Karena pengkondisian iklim belajar

merupakan aspek penting bagi tercapainya tujuan pendidikan.

Pola pembelajaran IPS di SMK hendaknya lebih menekankan pada

unsur pendidikan dan pembekalan pemahaman, nilai-moral, dan

keterampilan-keterampilan sosial pada siswa. Untuk itu, penekanan

pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencekoki atau menjejali

siswa dengan sejumlah konsep yang bersifat hapalan belaka, melain-kan

terletak pada upaya menjadikan siswa memiliki seperangkat pengetahuan,

sikap, nilai, dan keterampilan agar mereka mampu menjadikan apa yang

telah dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam

melakoni kehidupan masyarakat lingkungannya, serta sebagai bekal bagi

dirinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Disinilah sebenarnya penekanan misi dari pembelajaran IPS di sekolah

dasar.
81

Rancangan pembelajaran guru, hendaknya diarahkan dan

difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi siswa agar

pembelajaran yang dilakukannya benar-benar berguna dan bermanfaat

bagi siswa (Kagan, 2004; Hasan, 2007). Dengan demikian pembelajaran

Pendidikan IPS semestinya diarahkan diarahkan pada upaya

pengembangan iklim yang kondusif bagi siswa untuk belajar sekaligus

melatih pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilannya selama

pembelajaran, di samping memungkinkan siswa untuk terlibat secara

langsung dalam proses belajar mengajar. Dalam kedudukannya sebagai

pengembang dan pelaksana proses belajar-mengajar, guru diharapkan

mampu memilih dan merancang program pembelajarannya sebaik

mungkin bagi pengembangan potensi diri siswanya. Pengembangan dan

perancangan program pembelajaran ini harus di sesuaikan dengan tujuan

dan esensi dari mata pelajaran yang akan di ajarkan pada siswanya. IPS

merupakan mata pelajaran yang mempunyai fungsi dan peran yang sangat

strategis dalam usaha pembentukan warga negara yang baik dan handal

sesuai dengan tujuan pembangunan nasional (Waterworth, 2007).

Pembelajaran IPS sebagai salah satu program pendidikan yang

membina dan menyiapkan peserta didik sebagai warga negara yang baik

dan memasyarakat diharapkan mampu mengantisipasi berbagai perubahan

yang terjadi di masyarakat sehingga siswa mempunyai bekal pengetahuan

dan keterampilan dalam melakoni kehidupan di masyarakat. Guru di tuntut

untuk mampu mengikuti dan menganti-sipasi berbagai perubahan


82

masyarakat tersebut, sehingga program pembelajaran yang dilakukannya

dapat membantu siswa dalam mempersiapkan dirinya sebagai warga

masyarakat dan warga negara untuk memecahkan berbagai persoalan yang

dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari.

d. Pembelajaran Akuntansi

Akuntansi merupakan mata pelajaran yang mengkaji tentang suatu

sistem untuk menghasilkan informasi berkenaan dengan transaksi

keuangan. Menurut Depdiknas (2003:6), akuntansi merupakan bahan

kajian mengenai suatu sistem untuk menghasilkan informasi berkenaan

dengan transaksi keuangan. Informasi tersebut dapat digunakan dalam

rangka pengambilan keputusan dan tanggungjawab di bidang keuangan

baik oleh pelaku ekonomi swasta (akuntansi perusahaan), pemerintah

(akuntansi pemerintah), ataupun organisasi masyarakat lainnya (akuntansi

publik).

Menurut Depdiknas (2003:6), fungsi dan tujuan mata pelajaran

akuntansi adalah sebagai berikut :

1) Fungsi
Fungsi mata pelajaran akuntansi yaitu mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, sikap rasional, teliti, jujur, dan
bertanggungjawab melalui prosedur pencatatan, pengelompok-
kan, pengikhtisaran transaksi keuangan, penyusunan laporan
keuangan dan penafsiran perusahaan berdasarkan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK).

2) Tujuan
Tujuan mata pelajaran akuntansi yaitu membekali siswa lulusan
SMA dalam berbagai kompetensi dasar, agar mereka menguasai
83

dan mampu menerapkan konsep-konsep dasar, prinsip dan


prosedur akuntansi yang benar, baik untuk kepentingan
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ataupun untuk
terjun ke masyarakat, sehingga memberikan manfaat bagi
kehidupan siswa

Fungsi mata pelajaran akuntansi di sekolah adalah mengembang-

kan pengetahuan, ketrampilan, sikap rasional, teliti, jujur dan bertanggung

jawab melalui prosedur pencatatan, pengelompokan, pengiktisaran

transaksi keuangan, penyusunan laporan keuangan dan penafsiran

perusahaan berdasarkan standar akuntansi Keuangan ( SAK).

Menurut Depdiknas (2003:6), ruang lingkup akuntansi dimulai dari

dasar-dasar konseptual, struktur, dan siklus akuntansi. Adapun materi

pokok pelajaran Akuntansi di SMK adalah sebagai berikut.

1) Akuntansi dan Sistem Informasi.

2) Dasar Hukum Pelaksanaan Akuntansi.

3) Struktur Dasar Akuntansi.

4) Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa.

5) Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang.

6) Siklus Akuntansi Koperasi.

7) Analisis Laporan Keuangan.

Kurikulum atau pokok bahasan yang diajarkan terangkum dalam

Dasar kompetensi kejuruan. Kuikulumnya menggunakan KTSP yang

setiap tahun ajaran baru diadakan rapat para guru dan mengundana DU/DI

(Dunia Usaha/Dunia Industri) untuk membahas pengembangan kurikulum,

baik menyangkut perubahan ataupun penambahan kurikulum. Karena


84

kurikulum yang dipakai adalah kurikulum terapan yaitu berkaitan dengan

DU/DI maka perlu ada sinkronisasi dengan DU/DI. Sehingga saat rapat

membahas kurikulum selalu mengundang DU/DI.

Berikut adalah standar kompetensi mata pelajaran Akuntansi tahun

2013/2014 untuk kelas X, XI, XII.

1) Menerapkan prinsip profesional bekerja


2) Melaksanakan komunikasi bisnis
3) Menerapkan keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan hidup

(K3LH)
4) Mengelola dokumen transaksi
5) Memproses dokumen dana kas kecil
6) Memproses dokumen dana kas di bank
7) Memproses entri jurnal
8) Memproses buku besar
9) Mengelola kartu piutang
10) Mengelola kartu persediaan
11) Mengelola kartu aktiva tetap
12) Mengelola kartu utang
13) Menyajikan laporan harga pokok produk
14) Menyusun laporan keuangan
15) Menyiapkan surat pemberitahuan pajak
16) Mengoperasikan paket program pengolah angka / spreadsheet
17) Mengoperasikan aplikasi komputer akuntansi

e. Kaitan Pendidikan Akuntansi, Kreativitas dan Model


Pembelajaran Tipe Group investigation

Pembelajaran Akuntansi merupakan salah satu cabang dari

pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Cabang-cabang utama dari ilmu

sosial menurut Caplin (1989:256) adalah: Antropologi, Geografi,

Linguistik, Pendidikan, Politik, Psikologi, Sejarah, Sosiologi, dan

Ekonomi.
85

Pembelajaran Akuntansi merupakan bagian IPS dari cabang

ekonomi. Secara mendasar, pembelajaran IPS berkaitan dengan ke-

hidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuh-annya.

IPS berkaitan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik

kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya,

memamfaatkan sumberdaya yang ada dipermukaan bumi, mengatur

kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam

rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia yang mem-

butuhkan kreativitas dalam pemenuhannya.

Kreativitas pada hakikatnya merupakan berkah dari tuhan yang

telah diberikan oleh tuhan bagi manusia sebagai bekal untuk bertahan

hidup. Pada saat ini hampir setiap benda yang kita gunakan merupakan

hasil kreativitas seperti komputer, sepatu, baju, kursi, meja, bolpoin,

handphone dan masih banyak lagi. Kreativitas terbentuk dari pengalaman

dan pembelajaran. Orang yang banyak bergaul dengan orang kreatif akan

mendapatkan pengaruh sehingga tertular daya kreativitasnya. Orang yang

banyak memiliki keterbatasan dalam hidup akan terpacu untuk lebih

kreatif. Demikian juga orang yang didik untuk menjadi kreatif akan

memiliki kreativitas yang tinggi. Berkaitan kreativitas melalui jalur

pendidikan maka dalam pembelajaran pun bisa digunakan mode

pembelajaran tertentu yang bisa meningkatkan kreativitas yaitu model

pembelajaran teknik group investigation.


86

Pembelajaran dengan teknik group investigation memiliki

karakteristik pembelajaran yang kreatif yaitu :

1) Proses pembelajaran dirancang untuk membangun pengalaman

belajar yang baru bagi siswa.

2) Proses pembelajaran dirancang agar siswa memperoleh informasi

terbaru

3) Proses belajar dirancang sehingga siswa dapat mengembangkan

pikiran atau ide-ide baru.

4) Proses belajar dapat mengasilkan produk belajar yang berbeda dari

produk sebelumnya.

5) Produk belajar diekspersikan dan dikomunikasi melalui media

yang kreatif.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan terdapat

keterkaitan antara penerapan model pembelajaran kooperatif teknik group

investigation dalam meningkatkan Kreativitas belajar siswa.

D. Kerangka Pemikiran

Proses peningkatan pemahaman pada diri siswa terjadi sebagai akibat

adanya pembelajaran. Komunikasi yang dilakukan antara guru dan siswa

dalam pembelajaran, mengilustrasikan bahwa interaksi sosial yang berupa

diskusi ternyata mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk

mengoptimalkan proses belajar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan

kreativitas siswa. Pembelajaran Akuntansi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor


87

siswa tapi oleh faktor guru juga. Di antaranya pendekatan pembelajaran serta

model pembelajaran yang dipilih. Pendekatan yang digunakan hendaklah yang

bisa membuat siswa aktif. Di sini bukan berarti guru bersikap pasif dalam

pembelajaran, tetapi guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator dalam

pembelajaran agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar.

Pembelajaran merupakan suatu upaya guru untuk membantu siswa

mengembangkan potensi intelektualnya agar berkembang secara optimal.

Untuk itu Gagne (1977:67) menyatakan bahwa untuk terjadi belajar pada diri

siswa diperlukan kondisi belajar (situated learning) yakni meningkatkan

(arising) memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu dan adanya rancangan

(penataan) dalam pembelajaran baik dalam segi kognitif, afektif atau psiko-

motor. Sebagai hasil belajar (learning outcomes), Gagne mengelompokkan

menjadi lima yaitu intelectual skill, cognitive strategy, verbal information,

motor skill dan attitude. Salah satu aspek intelectual skill adalah kemampuan

memecahkan masalah secara kreatif sehingga memerlukan kreativitas dalam

berpikir yang dilatih dalam proses pembelajaran. Untuk itu dalam menata

pembelajaran, penting sekali mengaktifkan memori siswa yang sesuai agar

informasi baru dapat dipahaminya salah satunya dengan menggunakan model

pembelajaran koopratif tipe group investigation.

Hasil pengamatan pembelajaran Akuntansi yang dilakukan terhadap

siswa kelas X-Akuntansi di SMK Hass Ashabulyamin Cianjur Semester 2

Tahun Pelajaran 2013-2014 ditemukan beberapa fenomena antara lain, bahwa

dalam pembelajaran Akuntansi hampir tidak pernah diterapkan model


88

pembelajaran kooperatif atau pembelajaran dengan pendekatan

konstruktivsime, termasuk pembelajaran dengan menggunakan model

pembelajaran koopratif tipe group investigation yang menuntut peserta didik

aktif, kreatif, dan kritis, sehingga kemampuan nalar siswa tidak berkembang.

Jika dalam pembelajaran ada diskusi kelompok (meskipun jarang

sekali dilakukan), di mana siswa menunjukkan kompetensinya dengan

berbagai sikap, perilaku, dan keterampilan yang dimiliki, tidak pernah ada

penilaian sebagai sumber informasi yang sangat berharga untuk menentukan

pencapaian kemajuan peserta didik. Sementara kompetensi yang ditunjukkan

siswa sangat bervariasi, seperti dalam menjawab pertanyaan, dalam

mengajukan pertanyaan, dalam menggambar, menulis laporan, dan

sebagainya.

Diperkirakan kondisi tersebut menyebabkan siswa menjadi pasif, hal

ini nampak ketika pembelajaran Akuntansi berlangsung, masih dijumpai

sekitar 70 % dari seluruh siswa yang ada, tidak menjawab pertanyaan yang

diberikan oleh guru, siswa lebih banyak diam saja. Pada saat guru

menyampaikan informasi, sebagian siswa bercanda sendiri dengan temannya,

diduga hal ini terjadi antara lain disebabkan oleh karena kebiasaan

pembelajaran yang dilakukan oleh guru berpusat pada guru, dan pembelajaran

yang monoton, sehingga siswa menjadi jenuh untuk mendengarkan penjelasan

guru saja, siswa menjadi mengantuk, tidak bersemangat dan tidak dengan

cepat mau mengerjakan tugas dari guru.


89

Dampak yang muncul dari kondisi tersebut adalah siswa menjadi

terbiasa untuk tidak aktif, sehingga tidak dapat berpikir kritis dan kreatif,

terbiasa untuk lebih baik diam daripada berbicara yang dapat mendatangkan

resiko, terbiasa untuk membiarkan masalah itu ada dan tidak mau serta tidak

berani mengambil sikap, tidak terbiasa berpendapat apalagi untuk mengajukan

pertanyaan. Hal inilah yang harus disadari oleh guru, karena hal tersebut di

atas menjadi sebuah kebiasaan bagi siswa, yang akan membunuh masa depan

siswa, sehingga upaya untuk mendorong siswa aktif, kritis dan kreatif, berani

berbicara dalam kelompok, berani mengemukakan pendapat dan bertanya,

tidak dapat ditunda lagi dan harus segera diatasi. Penulis mengajukan

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran koopratif tipe group

investigation.

Berdasarkan kajian teori dan kajian penelitian yang relevan di atas,

dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dapat dirancang dan direncanakan

dengan baik melalui penggunaaan model pembelajaran yang baik dan model

pembelajaran tersebut sesuai dengan materi ajar. Proses pembelajaran yang

terlaksana dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe group

investigation lebih berpusat pada siswa sedangkan guru sebagai fasilitator.

Siswa diajak untuk aktif mengerjakan tugas-tugas yang terbagi dalam

kelompok-kelompok heterogen. Setiap kelompok membagi tugas pada

masing-masing anggotanya agar dapat memecahkan masalah atau persoalan.

Tugas-tugas tersebut didiskusikan oleh masing-masing kelompok dan dibuat

dalam bentuk laporan hasil diskusi kelompok kemudian masing-masing


90

kelompok melakukan presentasi di depan kelas. Kesuksesan presentasi yang

dilakukan oleh masing-masing kelompok menentukan ketercapaian hasil

belajar yang baik pula.

Atas dasar pemikiran di atas, disusun kerangka pemikiran penelitian

ini sebagai berikut.

Frekuensi bertanya pada saat


melakukan pembelajaran
Rasa ingin tahu yang
Banyak menjawab ketika berdiskusi tinggi
dengan teman/ kelompok

Lamanya melakukan diskusi dan


pengamatan dalam belajar

Kesediaan mendengarkan pendapat


orang lain
Penerapan Model
Pembelajaran Keterbukaan terhadap
Kesediaan merspon pendapat teman pengalaman dan Kreativitas belajar
Kooperatif Teknik
pengetahuan siswa
Group investigation

Kesediaan menyatakan pendapat

Frekuensi menjawab pertanyaan atas


penjelasannya
Mau menerima resiko

Banyaknya kegagalan yang


diupayakan untuk diatasi

Gambar 2.3
Kerangka Berpikir Penelitian
Rendahnya hasil pembelajaran
Kondisi Awal akuntansi pada kompetensi dasar
Pada bagan di atas tergambar adanya perlakuan atau tindakan yang
”menghitung mutasi dana kas kecil”.
diberikan kepada siswa berupa proses pembelajaran kooperatif tipe group

investigation yang diharapkan akan dapat meningkatkan kreativitas siswa


Pemecahan masalah dengan
dalam belajar pada mata pelajaran Akuntansi.menggunakan
Paradigma penerapan
yang diterapkan
Tindakan pemberlajaran kooperatif tipe Group
investigation
dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut., yaitu siswa berpikir
bersama, siswa menyatukan
pendapatnya dalam melakukan
pemecahan masalah.

Meningkatnya hasil pembelajaran


Kondisi Akhir Akuntansi pada kompetensi dasar
”menghitung mutasi dana kas kecil”.
91

Gambar 2.4 Paradigma Penelitian

E. Hipotesis Penelitian

Sesuai dengan karakteristik penelitian kuasi eksperimen sebagai

bentuk penelitian pengujian dan pembandingan pendekatan dan model

pembelajaran, hipotesis yang dirumuskan di sini adalah hipotesis komparatif

dengan rumusan sebagai berikut.

1. Tidak terdapat perbedaan kemampuan pada siswa kelas eksperimen

dan kelas kontrol pada pengukuran awal (pre test).

2. Terdapat perbedaan kreativitas belajar antara hasil pengukuran

awal (pre test) dan pengukuran akhir (post test) pada siswa kelas

eksperimen yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe group

investigation.
92

3. Terdapat perbedaan hasil belajar antara hasil pengukuran awal (pre

test) dan pengukuran akhir (post test) pada siswa kelas kontrol yang

menerapkan pembelajaran konvensional.

4. Terdapat perbedaan kreativitas belajar antara siswa kelas

eksperimen yang menerapkan pembelajaran kooperatif tipe group

investigation dan kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran

konvensional pada pengukuran akhir (post test).

5. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat

meningkatkan kreativitas belajar Akuntansi pada siswa kelas X-Akuntansi

SMK Hass Ashabulyamin Cianjur.