Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan kehidupan yang pesat, menjadikan objek kuliner sebagai
sarana usaha yang menjanjikan, seperti restoran seafood. Salah satu limbah yang
dihasilkan oleh pengolahan makanan laut (seafood) yaitu kulit udang. Limbah kulit
udang mempunyai bau yang tidak sedap, sehingga diperlukan tempat yang tertutup
untuk pengolahan limbah ini. Limbah kulit udang tersebut juga akan menjadi sarang
bertumbuhnya suatu mikroba yang dapat membawa penyakit bagi makhluk hidup.
Layaknya limbah biomassa yang mampu dikonversikan menjadi energi,
limbah kulit udang ini juga memiliki kemampuan di bidang lain yang apabila bisa
dimanfaatkan dengan teknologi dan inovasi yang lebih baik. Salah satu aplikasi dari
pemanfaatan limbah kulit udang adalah dengan menggunakannya sebagai adsorben
dalam proses penjernihan air. Hal ini dikarenakan pada kulit udang yang ternyata
ini mengandung suatu senyawa yakni chitosan yang memiliki kemampuan khusus.
Meningkatkan inovasi terhadap pemanfaatan limbah kulit udang, maka diperlukan
suatu pemahaman yang lebih dalam tentang kulit udang dan chitosan tersebut.
Kulit udang mengandung 20-50% chitin dari berat keringnya. Kandungan
chitin yang ada pada kulit udang tersebut dapat diisolasi menjadi chitosan melalui
proses deasetilasi. Chitosan memiliki banyak manfaat di berbagai aspek kehidupan
seperti mengurangi pencemaran lingkungan sebagai adsorben dan juga pengawet
makanan. Proses pembuatan chitosan ini, banyak faktor yang dapat mempengaruhi
produk yang dihasilkan. Kondisi operasi yang tidak sesuai ini dapat mempengaruhi
yield proses deasetilasi. Standar bahan baku yang tidak sesuai dan proses yang tidak
dilakukan dengan hati-hati mungkin dapat mempengaruhi kualitas produk chitosan
yang dihasilkan. Tahap dari deasetilasi merupakan tahap yang memiliki sifat krusial
dalam proses pembuatan chitosan. Mekanisme tahap deasetilasi yang perlu untuk
dipahami dapat mencegah terjadinya konversi dan kualitas produk chitosan yang
bernilai rendah tersebut. Pentingnya untuk melakukan pembelajaran ini mengenai
proses, tahap serta faktor-faktor pada pembuatan chitosan yang secara praktik.
2

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana proses pretreatment yang baik terhadap kulit udang sebelum
dilakukan proses pembuatan chitosan?
2. Bagaimana pengaruh temperatur pemanasan proses pembuatan chitosan?
3. Bagaimana pengaruh nilai pH selama proses pembuatan chitosan terhadap
produk yang dihasilkan?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui proses pretreatment yang baik terhadap kulit udang sebelum
dilakukan proses pembuatan chitosan.
2. Mengetahui pengaruh temperatur pemanasan proses pembuatan chitosan.
3. Mengetahui pengaruh nilai pH selama proses pembuatan chitosan terha-
dap produk yang dihasilkan.

1.4. Manfaat
1. Untuk mengetahui proses pretreatment yang baik terhadap kulit udang
sebelum dilakukan proses pembuatan chitosan.
2. Untuk mengetahui pengaruh temperatur pemanasan proses pembuatan
chitosan.
3. Untuk mengetahui pengaruh nilai pH selama proses pembuatan chitosan
terhadap produk yang dihasilkan.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Chitin
Chitin merupakan polisakarida yang strukturalnya mendapatkan perhatian
karena berlimpah ruah di alam. Chitin ini sama dengan selulosa yang merupakan
polisakarida hewan berkaki banyak. Chitin 109 ton diperkirakan dibiosintesis setiap
tahun. Chitin tidak larut dalam air, asam encer, alkali encer atau pekat dan pelarut
organik lain, tetapi larut dalam larutan asam pekat seperti asam sulfat, asam klorida,
asam fosfat. Chitin juga tahan terhadap hidrolisa menjadi komponen sakaridanya.
Chitin pada umumnya sangat tahan terhadap hidrolisa, walau enzim chitinase dapat
melakukannya dengan mudah. Chitin ini membentuk zat dasar yang tahan lama dari
kulit spora pada lumut, eksokerangka serangga, udang dan kerang tersebut.
Chitin adalah polisakarida linier yang dapat mengandung suatu senyawa
N-Asetil D-Glukosamina terikat β pada hidrolisa, chitin menghasilkan 2-Amino-2-
Deoksin-D-Glukosa. Chitin terikat pada protein.dan lemak, chitin dapat dibentuk
menjadi susu bubuk (powder) apabila sudah dipisahkan dari zat yang tercampur
dengannya, akan tetapi tidak dapat larut dalam air. Reaksi tersebut dalam asam-
asam mineral dan alkali akan menghasilkan suatu zat yang menyerupai selulosa.
Pelarutan chitin tergantung dari konsentrasi asam mineral dan temperatur. Negara
Jepang, chitin sudah lama dikomersialkan dengan cara memintanya menjadi benang
yang berfungsi sebagai penutup luka sehabis operasi, karena didukung oleh sifatnya
yang non alergi dan juga menunjukkan aktifitas penyembuhan luka. Chitin pertama
kali ditemukan oleh Odier pada tahun 1823 dan kemudian dapat dikembangkan oleh
Austin pada tahun 1981. Perkembangan chitin akan bergerak lamban dan kurang
dimanfaatkan. Salah satu turunan chitin yang luas pemakaiannya adalah chitosan.
Senyawa pada pembuatan chitosan yang mudah didapat dari chitin dengan
menambahkan Natrium Hidroksida (NaOH) dan pemanasan sekitar 120°C. Proses
tersebut menyebabkan lepasnya gugus asetil yang melekat pada gugus amino dari
molekul chitin dan selanjutnya akan membentuk suatu chitosan. Kelebihan lain dari
chitosan yaitu padatan yang dikoagulasinya dapat dimanfaatkan. Kekhawatiran
terhadap kemungkinan chitosan juga memiliki efek beracun terhadap manusia telah
4

dibantahkan oleh beberapa peneliti dengan sejumlah bukti ilmiah. Adanya Chitin
dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink. Cara tersebut chitin direaksikan
dengan Kalium Iodida (KI) yang akan memberikan hasil warna coklat, kemudian
jika ditambahkan asam sulfat maka berubah warnanya menjadi violet. Perubahan
warna dari coklat hingga menjadi violet menunjukan reaksi positif adanya chitin.

2.2. Khasiat Chitosan


Chitosan dapat dibuat dari bahan alami. Olahan yang berasal dari limbah
perikanan ini memiliki berbagai macam khasiat untuk kesehatan. Khasiat chitosan
dapat dirasakan dengan memakan makanan yang telah diawetkan ataupun dicampur
langsung menggunakan chitosan. Khasiat chitosan ini pada kesehatan pada tubuh
manusia lebih mengarah pada lemak dan darah yang terdapat di dalam organ tubuh.
2.2.1. Meningkatkan Sensitivitas Sel Terhadap Sinyal Insulin
Chitosan akan mampu membantu memperbaiki kinerja sel-sel pada tubuh
dalam merespon sinyal insulin. Insulin dihasilkan oleh pankreas untuk mendorong
sel dalam tubuh yang menarik glukosa dalam darah. Terdapat 2 peranan yang sangat
penting chitosan yaitu mensuplai cukup energi bagi sel dan mengendalikan kadar
glukosa dalam darah. Pola hidup seseorang ini yang akan mengakibatkan terjadinya
ketidakseimbangan antara kebutuhan energi pada tubuh, produksi insulin, dan kadar
glukosa dalam darah, maka sel-sel tubuh bisa tidak sensitif terhadap insulin.
Chitosan telah terbukti memiliki peran pada sel-sel pankreas sebagai pusat
kelenjar produksi insulin. Chitosan yang mampu membantu lebih mengoptimalkan
produksi insulin dan lebih efisien. Perpaduan dua manfaat chitosan dalam hal ini
adalah dapat meningkatkan sensitivitas sel dan mengoptimalkan produksi insulin
menjadi manfaatan lebih baik terlebih untuk masyarakat yang mengalami diabetes.
2.2.2. Mengatasi Kadar Kolestrol Darah yang Berlebihan
Kolestrol merupakan salah satu sumber dari banyaknya keluhan kesehatan
saat ini mulai dari tekanan darah tinggi, gangguan pada ginjal, stroke, aterosklerosis
(penyempitan pembuluh darah), gangguan hati, hingga penyakit jantung. Chitosan
memiliki prinsip kerja dengan cara yaitu mengikat lemak dan membawanya keluar
dari dalam tubuh. Kolestrol tersebut sebenarnya memiliki beberapa komponen yang
sama dengan lemak. Chitosan oleh karena itu juga dapat dijadikani sebagai media
yang berfungsi untuk mengeluarkan kolestrol dari sistem pencernaan manusia.
5

Secara tidak langsung sebenarnya akan menyerang kolestrol dalam darah,


chitosan yang sangat efektif menarik kolestrol keluar dari sistem pencernaan tanpa
diserap tubuh. Hal ini membuat suplai kolestrol dalam darah tidak akan bertambah.
Kolestrol saat dalam kondisi yang normal atau tidak terlalu tinggi, chitosan mampu
menyerap kadar kolestrol tesebut secara optimal. Chitosan tidak mampu menyerap
kolestrol ysng tinggi sehingga dibutuhkan produk lain yang lebih efektif.
2.2.3. Menstabilkan Tekanan Darah
Chitosan memiliki kemampuan lain dalam membantu menyeimbangkan
tekanan darah. Sebuah riset bahkan dapat disimpulkan bahwa penderita hipertensi
yang mengonsumsi garam Natrium Klorida (NaCl) ini yang akan dicampurkan ke
dalam chitosan sebanyak 3% akan turun tekanan darahnya hingga tingkat moderat.
Chitosan yang dikonsumsi secara rutin atau reguler ini akan membantu meregulasi
sistolis pada sistem tekanan darah. Hal tersebut merupakan kondisi yang saat detak
jantung bekerja dan memompa serta mendorong arterinya. Dorongan dari sistolis
tekanan darah, maka efek pompa jantung akan lebih efektif mengalirkan darah.
Kemampuan chitosan dalam menurunkan kadar kolestrol ditengarai juga
dapat berperan menurunkan intensitas penyempitan pembuluh darah yang secara
langsung juga ikut mengurangi tekanan darah dalam tubuh. Chitosan juga memiliki
fungsi untuk dapat mengencerkan aliran darah. Menurunnya kekentalan pada darah
seseorang, maka orang tersebut juga akan terhindar dari resiko penyakit hipertensi.
2.2.4. Mempercepat Penyembuhan dan Mengatasi Infeksi
Salah satu karakter chitosan adalah bersifat antimikroba yang sangat kuat.
Beberapa negara, pasien yang baru operasi akan mendapatkan suatu terapi oral krim
chitosan. Hal ini dapat dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat penyembuhan.
Seseorang bahkan saat selesai operasi plastik, terapi chitosan pun diberikan untuk
mengurangi guratan pada bekas operasi. Olesan chitosan tersebut lazim diberikan
pada beberapa jenis pengobatan modern ini seperti di Korea Selatan dan Tiongkok
untuk menangani pada penyakit amandel, sariawan, radang gusi, dan penyakit gigi.
Chitosan juga memiliki kemampuan sebagai obat untuk menyembuhkan
luka terbuka dari kulit. Beberapa pakar kesehatan ini menyebutkan bahwa chitosan
bukan hanya dapat digunakan sebagai antibiotik, tetapi ini juga menstimulasi sistem
6

kekebalan tubuh yang berkat kemampuannya dalam meningkatkan kualitas sistem


pencernaan. Pencernaan yang baik dengan biota normal yang sehat akan berdampak
baik terhadap sistem imun atau kekebalan pada tubuh seseorang tersebut.
2.2.5. Menurunkan Berat Badan
Chitosan mampu bekerja dengan menarik dari sejumlah endapan lemak
termasuk kolestrol dalam usus untuk dibawa keluar dari sistem pencernaan tersebut.
Mengonsumsi chitosan dapat mengurangi peluang lemak terserap oleh usus halus
serta dapat disalurkan ke seluruh tubuh. Peristiwa tersebut juga secara langsung ikut
mengurangi kemungkinan terjadinya peningkatan kadar lemak dalam tubuh yang
tentu menyebabkan penurunan berat badan. Karakter chitosan sebagai serat yang
tidak ikut larut akan memberi efek perut yang terasa kenyang lebih lama. Adanya
efek kenyang lebih lama, tentu selera makan akan menurun dan dapat menyebabkan
orang untuk mengurangi nafsu makan tanpa takut akan merasa kelaparan.
Manfaat chitosan ini untuk menurunkan berat badan telah terbukti. Hasil
penurunan berat badan oleh chitosan sebenarnya tidak terlalu signifikan. Hal ini
membuktikan bahwa pengaruh dari chitosan sebagai suplemen penurun berat badan
kembali lagi pada individu penggunanya. Peristiwa ini dikarenakan kemampuan
tubuh dalam penyerapannya chitosan untuk menyerap lemak-lemak berbeda-beda.

2.3. Kerja Chitosan dalam Menghambat dan Membunuh Mikroba


Peran utama chitosan untuk kesehatan salah satunya adalah sebagai zat
penghambat pertumbuhan mikroba dan zat pembunuh khususnya bakteri patogen.
Salah satu dari bakteri patogen yang dapat diatasi pertumbuhannya adalah bakteri
patogen dapat penyebab tifus yang biasanya resisten terhadap antibiotik yang ada.
Penyakit tifus ini disebabkan tumbuhnya bakteri Salmonella paratyphi A, B, dan C.
Berkembangnya hipotesa saat ini yaitu masih mengenai mekanisme kerja
chitosan sebagai bahan anti bakteri. Sifat afinitas yang dimioliki oleh chitosan ini
sangat kuat dengan Deoxyribonucleic Acid (DNA) pada mikroba sehingga mampu
berikatan dengan DNA yang kemudian mampu menggangu Messengerribonucleic
Acid (mRNA) dan sintesis protein. Sifat dari afinitas dan antimikroba dari chitosan
dalam proses ini melawan bakteri bergantung kepada berat molekul chitosan dan
derajat deasetilasi. Berat molekul serta derajat asetilasi yang lebih besar tersebut
akan menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih besar dari sebelumnya.
7

Chitosan yang memiliki gugus fungsional amina yang bermuatan positif.


Gugus tersebut memiliki sifat sangat reaktif ini sehingga mampu berikatan dengan
dinding pada sel bakteri yang bermuatan negatif. Ikatan tersebut terjadi pada situs
elektronegatif di permukaan pada dinding sel bakteri. Gugus amina juga memiliki
pasangan elektron bebas, maka gugus amina juga dapat menarik mineral kalsium
(Ca2+) yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut dengan membentuk ikatan
kovalen koordinasi. Bakteri gram negatif ini dengan lipopolisakarida dalam lapisan
yang luarnya memiliki kutub negatif yang bersifat sangat sensitif terhadap chitosan.
Chitosan juga mampu digunakan sebagai bakan anti bakteri dan pengawet.

2.4. Bahan Baku Chitosan


Udang pada umumnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang
memiliki nilai gizi yang tinggi. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor ke luar
negeri setelah dibuang bagian kepala, ekor, dan kulitnya..Limbah ini dapat bernilai
ekonomis yang tinggi jika dimanfaatkan menjadi senyawa chitosan..Chitosan dari
limbah udang ini dapat dimanfaatkan yaitu sebagai bahan pengawet alami. Chitosan
ini adalah produk turunan dari polimer chitin, yakni produk samping (limbah) dari
hasil pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan juga rajungan.
Limbah kepala udang mencapai 35-50% dari total berat udang. Kadar
chitin dalam berat udang berkisar antara 60-70% dan bila diproses menjadi chitosan
menghasilkan 15-20%. Kulit udang ini mengandung protein (25-40%), chitin (15-
20%) dan kalsium karbonat (45-50%). Kadar chitin dalam berat udang bekisar 60-
70% dan bila diproses menjadi chitosan menghasilkan yield 15-20%. Chitosan ini
mempunyai bentuk yang mirip dengan selulosa dan bedanya terletak pada gugus
rantai C-2. Terhambatnya pertumbuhan dari bakteri di satu sisi bisa berdampak baik
namun disisi lain juga dapat menjadi hal yang merugikan dan membahayakan bagi
mikroorganisme lain. Chitin ini merupakan polisakarida struktural yang berlimpah
ruah di alam yang dapat dimanfaatkan secara baik dalam kehidupan manusia.
Chitin yang sudah lama dikomersialkan dengan cara menjadi benang yang
berfungsi sebagai penutup luka sehabis operasi, karena didukung oleh sifatnya yang
tidak alergi dan juga menunjukkan aktivitas pada penyembuhan luka. Penggunaan
ini sering kali dapat dihubungkan dengan fungsi chitosan sebagai adsorben. Suatu
polisakarida adalah suatu senyawa pada bagian dalam monomolekul-monomolekul
8

yang mengandung banyak satuan monosakarida yang dipersatukan dengan ikatan


glukosakarida. Proses hidrolisis yang lengkap juga berfungsi untuk mengubah dan
memecah susunan polisakarida menjadi monosakarida. Populasi udang galah di
Indonesia mempunyai sifat yang unik. Berdasarkan distribusi geografisnya dapat
diprediksikan bahwa Indonesia menjadi centre of origin dari galah karena terdapat
19 spesies dari marga Macrobrachium (udang galah). Eksistensi udang galah saat
ini merupakan salah satu dari komoditas unggulan yang dapat diandalkan sebagai
sumber penghasilan, yang apabila ditinjau dari segi bidang sosial ekonomi,
Udang galah mempunyai pangsa pasar yang sangat baik..Kecenderungan
masyarakat yang menggemari seafood meningkatkan pangsa pasar udang galah.
Peluang pasar udang galah ini tidak hanya di dalam negeri bahkan di mancanegara
terbuka luas seperti di negara Singapura, Malaysia, dan negara-negara Eropa. Ada
variasi dalam komponen dan sifat-sifat struktural dari polisakarida. Perbedaan sifat
monosakarida akan mempengaruhi sifat pada polisakarida karena bentuk satuan
pengulangan dalam polisakarida dan panjangnya rantai yang terikat mempengaruhi
polisakarida itu secara umum dan akan mengubah sifat keseluruhan molekul.
Bagian terbesar dari molekul karbohidrat dalam alam terdiri dari bentuk
polisakarida memiliki bobot molekul tinggi, yang digunakan baik untuk keperluan
struktural maupun untuk penimbunan energi kimia. Polisakarida ini memenuhi tiga
maksud dalam sistem kehidupan, sebagai bahan bangunan, bahan makanan, dan
sebagai zat spesifik. Polisakarida terdapat pada selulosa yang memberikan kekuatan
pada pohon kayu dan dahan kayunya. Chitin terdapat pada kerangka luar serangga,
udang, kepiting, kerang dan lain-lain. Chitosan adalah produk deasetilasi kitin yang
merupakan polimer rantai panjang yakni glukosamin yang memiliki rumus molekul
(C6H11NO4)n dengan bobot molekul 2,5×10-5 Dalton. Chitosan berbentuk serpihan
berupa putih kekuningan, serta tidak mempunyai aroma yang berbau khas, dan tidak
mempunyai rasa apapun atau terasa hambar jika dilakukan penyicipan.

2.5. Limbah Udang sebagai Material Penyerap Logam Berat


Sebagian besar limbah udang yang berasal dari kulit, kepala, dan ekornya.
Fungsi kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata) yaitu
sebagai pelindung. Kulit udang mengandung protein (25-40%), kalsium karbonat
(45-50%), dan chitin (15-20%), tetapi besarnya dari kandungan komponen tersebut
9

tergantung pada jenis udangnya. Kulit kepiting yang mengandung protein (15,60-
23,90%), kalsium karbonat (53,70–78,40%), dan chitin (18,70-32,20%), hal ini juga
tergantung pada jenis kepiting dan tempat hidupnya. Kandungan chitin dalam kulit
udang lebih sedikit dari kulit kepiting, tetapi kulit udang lebih mudah didapat dan
tersedia dalam jumlah yang banyak sebagai limbahnya. Chitin berasal dari bahasa
Yunani yang berarti baju rantai besi, pertama kali diteliti oleh Bracanot pada tahun
1811 dalam residu ekstrak jamur yang dapat dinamakan fungiue. Tahun 1823 Odins
mengisolasi suatu senyawa kutikula serangga jenis ekstra yang disebut chitin.
Limbah yang dapat dihasilkan dari proses pembekuan udang, pengalengan
udang, dan pengolahan kerupuk udang yang berkisaran antara 30-75% dari berat
udang. Jumlah pada bagian yang terbuang dari usaha pengolahan udang tersebut
cukup tinggi. Limbah kulit udang mengandung konstituen utama yang terdiri dari
protein, kalsium karbonat, chitin, pigmen, abu, dan lain-lain. Meningkatnya jumlah
dari limbah udang tersebut masih merupakan masalah yang perlu dicarikan upaya
pemanfaatannya. Hal tersebut juga bukan saja memberikan nilai tambah pada usaha
pengolahan udang, akan tetapi juga dapat menanggulangi masalah dari pencemaran
lingkungan yang ditimbulkan, terutama masalah bau yang dikeluarkan serta estetika
lingkungan yang kurang bagus. Indonesia saat ini yang sebagian kecil dari limbah
udang sudah termanfaatkan dalam hal pembuatan kerupuk udang, petis, terasi, dan
bahan pencampur pakan ternak. Negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang
dimana limbah udang dapat dimanfaatkan pada dunia perindustrian tersebut.

2.6. Pengolahan Limbah Chitosan di Bidang Perikanan


Ada peluang yang besar dalam inovasi pada pengolahan limbah cangkang
udang yang dapat berbasis bioindustri perikanan dan kelautan. Limbah tersebut
merupakan sumber potensial pembuatan chitin dan chitosan, yakni biopolimer yang
secara komersial dapat berpotensial dalam berbagai bidang perindustrian. Bidang
lingkungan, penggunaan khitosan sebagai bahan pengawet kayu relatif aman karena
sifatnya yang non toxic dan biodegradable. Selama ini bahan pengawet yang sering
digunakan merupakan pengawet yang terbuat dari bahan kimia beracun sehingga
kurang ramah lingkungan dan unbiodegradable. Menggunakan chitosan ini sebagai
bahan pengawet kayu dari limbah cangkang udang ini yang berarti secara tidak
langsung mengurangi penggunaan bahan-bahan yang dapat merusak lingkungan.
10

Chitosan dari limbah pada bidang perikanan yang dapat digunakan adalah
sebagai agensia alternatif dalam penanganan suatu limbah terutama pada limbah
berprotein. Limbah ini juga dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak yang tentu
tidak mengurangi bahan-bahan yang berbahaya bagi tanaman. Pakan ternak yang
dihasilkan dari limbah chitosan ini dapat digunakan sebagai bahan makanan untuk
ternak-ternak (bidang peternakan). Kandungan protein pada limbah chitosan, maka
pakan ternak yang dihasilkan baik untuk diberikan kepada hewan ternak.
Kotoran-kotoran yang akan dihasilkan oleh hewan ternak tersebut dapat
digunakan sebagai pupuk organik yang mengandung protein yang diperlukan oleh
tumbuhan. Pupuk organik yang akan dihasilkan sangat aman bagi tumbuhan, selain
mengandung gizi yang penting serta ramah lingkungan. Kandungan protein ini yang
terkandung dapat memperbaiki atau membuat struktur tanah menjadi lebih subur.
Recycle pada limbah cangkang udang dimulai dengan proses pembuatan chitin yang
dilakukan dengan cara pengeringan, pengecilan ukuran, pencucian, deproteinisasi
dengan NaOH. Hasilya ini dapat secara langsung diolah menjadi chitosan melalui
beberapa proses yaitu deasetilisasi, pencucian, pengeringan dan penepungan hingga
menjadi chitosan bubuk. Chitin dan chitosan ini mempunyai banyak manfaat yaitu
dapat diterapkan pada berbagai bidang industri maupun bidang kesehatan.
Serat tenun dapat dibuat dari chitin dengan cara membuat suspensi chitin
dalam asam format, yang kemudian ditambahkan triklor asam asetat dan segera
dibekukan pada temperatur 20°C dan selama selang waktu 24 jam. Larutan tersebut
dipintal dan dimasukkan ke dalam etil asetat maka akan terbentuk serat tenun yang
berpotensi untuk di industri tekstil. Kerajinan batik, pasta dari chitosan ini dapat
menggantikan wax sebagai media pembatikan. Chitin ini dilarutkan dalam larutan
dimetilasetamida, maka dari larutan ini dapat dibuat film untuk berbagai kegunaan.
Bidang industri film untuk fotografi, dilakukannya penambahan tembaga chitosan
dapat memperbaiki mutu film yaitu untuk meningkatkan fotosensitivitasnya.
Chitin dan turunan (karboksimetil chitin, hidroksietil chitin dan etil chitin)
dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan benang operasi. Benang operasi
ini mempunyai keunggulan yang dapat diurai dan diserap dalam jaringan tubuh,
tidak toksik, dapat disterilisasi dan dapat disimpan lama. Chitin dan chitosan dapat
digunakan sebagai bahan pemercepat penyembuhan luka bakar, lebih baik dari yang
11

terbuat dari tulang rawan. Chitin dan chitosan juga dapat digunakan sebagai bahan
pembuatan garam-garam glukosamin yang mempunyai banyak manfaat di bidang
kedokteran, selain itu juga menyembuhkan influenza, radang usus dan sakit tulang.
Chitosan mempunyai sifat antimikrobia melawan jamur lebih kuat dari
chitin. Chitosan jika ditambahkan pada tanah, maka akan menstimulir pertumbuhan
mikrobia mikrobia yang dapat mengurai jamur. Chitosan juga dapat disemprotkan
secara langsung pada tanaman. Larutan yang mengandung sebesar 0,4% chitosan
jika disemprotkan pada tanaman tomat dapat menghilangkan virus tobacco mozaik.
perkembangan produk baru shampoo yang kering dapat mengandung chitin yang
disuspensi dalam alkohol. Pembuatan lotion dan shampoo cair yang mengandung
0,5-6,0% garam chitosan. Shampoo ini mempunyai kelebihan dapat meningkatkan
kekuatan dan berkilaunya rambut, karena ada interaksi polimer dengan protein.

2.7. Limbah Cangkang Kepiting


Kepiting merupakan salah satu komoditi perikanan di Indonesia yang saat
ini mengalami suatu peningkatan produksi baik kepiting yang berasal dari usaha
penangkapan di alam maupun kepiting dari usaha budidaya. Peningkatan produksi
kepiting pada tahun 1997 telah mencapai 14.338 ton dari hasil penangkapan di alam
dan 2.095 ton dari hasil usaha budidaya. Kepiting di Indonesia selain dikomsumsi
dalam negeri yang selebihnya diekspor dengan negara Amerika Serikat merupakan
negara tujuan ekspor kepiting Indonesia dengan tingkat konsumsi kepiting sebesar
55% dan kenaikan rata-rata ekspor sebesar 10,4% pertahun pada tahun 1990.
Setiap tahun, menurut catatan Departemen Kelautan dan Perikanan tahun
2000, Cold Storage (perusahaan pengolahan ikan) tanah air menghasilkan limbah
kulit, kepala udang, cangkang kepiting dan hewan laut lainnya tidak kurang dari
56.200 metrik ton. Limbah tersebut terbukti kaya akan chitin, yang melalui proses
tertentu akan dapat menghasilkan kitosan. Sebagai salah satu negara pengekspor
kepiting, Indonesia tentu saja berpeluang memproduksi chitin atau chitosan. Ekspor
kepiting pada umumnya berkemasan kaleng ini sekitar 4.000 ton per tahunnya juga
berpotensi menghasilkan kulit sebagai limbah 1.000 ton per tahun. Limbah tersebut
yang berpotensi diolah menjadi kitin, dengan produksi sekitar 1.700 ton per tahun.
Sebaran dari ketersediaan kulit kepiting, mencakup Sumatera Utara, Pantai Timur
Sumatera, Pantura Jawa, Kalimantan dan provinsi Sulawesi Selatan.
12

Jumlah hasil samping produksi yang berupa kepala, kulit, ekor maupun
kaki kepiting yang umumnya 25-50% dari berat, sangat berlimpah. Hasil samping
tersebut, di Indonesia belum banyak digunakannya sehingga hanya menjadi limbah
yang mengganggu lingkungan. Limbah tersbut yang terutama pengaruh pada bau
yang tidak sedap dan pencemaran air yaitu kandungan yang terdiri dari Biochemical
Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Suspended
Solid (TSS) perairan disekitar pabrik chitin cukup tinggi. Kepiting ini mengandung
persentase chitin yang paling tinggi yaitu sebesar 70% diantara krustasea, insekta,
cacing maupun fungi. Chitin yang terkandung di dalam limbah cangkang kepiting
inilah yang nantinya dapat dilakukan proses dideasitilasi sehingga menjdi chitosan.
Limbah dari cangkang kepiting di Indonesia terutama di beberapa tempat
hanya dilakukan pengolahan dengan memanfaatkannya sebagai pupuk atau pakan
ternak dengan nilai yang rendah. Beberapa daerah, cangkang kepiting sudah mulai
diekspor sebagai chitin kotor. Data yang menyebutkan bahwa cangkang kepiting
mempunyai sekitar 14-35% (berat kering) kandungan chitin. Harga dari chitin yang
kering mencapai US$ 10 tiap kilogram. Kandungan organik dari cangkang kepiting
berbentuk kristalin yang terdiri dari chitin, material anorganik dan protein. Secara
umum cangkang dari kepiting memiliki protein (15,60-23,90%), kalsium karbonat
(53,70-78,40%) dan chitin (18,70-32,20%). Kandungan tersebut ditentukan oleh
jenis dari kepiting dan tempat hidup kepiting. Berbeda dengan kelas crustaceae
lainnya, kandungan anorganik dari kepiting laut ini juga tidak mengandung kalsium
karbonat (CaCO3), namun mengandung senyawa kalsium fosfat (Ca3(PO4)2).
Metode tertentu untuk mengekstraksi chitin dari cangkang kepiting yaitu
dengan penghilangan protein, pigmen warna, dan mineral. Meningkatkan kembali
nilai jual dari limbah cangkang kepiting selain bisa dikeringkan dan dijual sebagai
chitin, cangkang kepiting juga bias diolah menjadi chitosan. Chitosan merupakan
rekayasa dari kandungan chitin pada cangkang kepiting. Chitosan yang selama ini
digunakan sebagai bahan utama di dunia farmasi, kosmetik, bahkan penjernih air.
Bidang ekonomi chitosan sangat berharga sekitar US$ 15-700 setiap kilogramnya
tergantung jenis dan kualitas. Chitin merupakan salah satu kandungan organik yang
sangat penting pada binatang yaitu orthopoda, annelida, molusca, corlengterfa, dan
nematode. Chitin juga biasa terdapat pada trakea, insang, dan dinding usus.
13

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
1. Grinding
2. Water bath
3. Neraca analitik
4. Corong dan kertas saring
5. Beker gelas
6. Kertas lakmus universal
7. Pipet tetes
8. Oven
9. Spatula
3.1.2. Bahan
1. Kulit udang
2. HCL
3. NaOH
4. Aquadest

3.2. Prosedur Percobaan


1. Pisahkan udang dan kulitnya kemudian cuci bersih dan keringkan.
2. Gerus sampai halus kulit udang yang telah dikeringkan tadi hingga men-
jadi bubuk atau powder.
3. Timbang bubuk kulit udang sebanyak 5 gram, dicampur dengan 300 mL
aquadest.
4. Kemudian masukkan HCL sebanyak 3 tetes, selanjutnya larutan kulit
udang tadi dipanaskan selama 2 menit, diamkan sebentar.
5. Larutan tadi disaring dengan kertas saring, slurry kulit udang dimasukkan
dalam beker gelas kemudian dicuci serta disaring kembali.
6. Hasil saringan ini dicampur kembali dengan 300 mL aquadest, direbus
selama 2 menit, kemudian saring kembali.
14

7. Hasil saringan ditetesi NaOH sebanyak 3 tetes, selanjutnya diukur pH


dengan menggunakan pH meter.
8. Langkah terakhir larutan disaring kembali dan dikeringkan.
15

DAFTAR PUSTAKA

Aji, A. Dan Meriatna. 2012. Pembuatan Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting.
Jurnal Teknologi Kimia Unimal. 1(1): 79-90.
Hendrawati. 2015. Penggunaan Kitosan Sebagai Koagulan Alami dalam Perbaikan
Kualitas. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Ilmu Kimia. 1(1): 1-11.
Mursida. 2000. Ekstraksi Kitosan dari Limbah Perikanan. Jakarta: Erlangga.
Suyanto, A. 2001. Potensial Limbah Udang. Jakarta: Universitas Indonesia.
Wardaniati. 2010. Pembuatan Chitosan dari Kulit Udang dan Aplikasinya Untuk
Pengawetan Bakso. Jurnal Teknik Kimia. 6(1): 1-5.