Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
1. Definisi
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)
yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan
lain. (Mochtar Rustam, 1998)
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bula (37-47 minggu) lahir spontan dengan prensentasi belakang
kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi pada ibu maupun janin.
(Sarwono Prawirohardjo, 2001:101)

2. Klasifikasi
Persalinan berdasarkan caranya yaitu :
 Persalinan biasa (normal) disebut juga partus spontan adalah proses
lahirnya bayi dengan kekuatan ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta
tidak melukai ibu dan bayi dan umumnya berlangsung <24 jam.
 Partus luar biasa (abnormal) adalan persalinan dengan bantuan alat-alat
atau melalui dinding perut dengan operasi SC.
 Persalinan anjuran adalah bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan
ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan.

3. Etiologi
 Teori Penurunan Hormon
 1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan kadar estrogen dan
progesteron. Fungsi progresteron sebagai penenang otot-otot polos rahim
akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his
(kontraksi) bila kadar progresteron menurun.
 Teori Plasenta Menjadi Tua
 Turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan
kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim.
 Teori Distensi Rahim
 Rahim yang menjadi besar dan menegang menyebabkan iskemik otot-
otot rahim sehingga mengganggu uterus plasenta.
 Teori Iritasi Mekanik
 Di belakang serviks terlihat ganglion servikale. Bila ganglion itu digeser
dan ditekan misalnya oleh kepala janin maka akan menimbulkan
kontraksi pada rahim.

4. Tanda Permulaa Persalinan


 Lightening/setting/dropping yaitu kepala turun memasuki PAP, terutama
pada primigravida.
 Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri menurun.
 Perasaan sering atau susah kencing karena tertekan oleh bagian bawah
janin.
 Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adana kontraksi-kontraksi
yang lemah dari uterus kadang-kadang disebut ‘fase labor pains’.
 Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa
bercampur darah (bloody show).

5. Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan


 Passage (jalan lahir)
 Power (tenaga)
 Passanger (janin)
 Psikis (Psikologis)
 Penolong
6. Tanda – Tanda Inpartu
 Adanya rasa sakit akibat his yang kuat dan teratur.
 Keluar lendir yang bercampur darah lebih banyak karena robekan kecil
pada servik.
 Servik mendatar dan pembukaan sudah ada.
 Kadang-kadang ketuban pecah sendiri.

7. Kala Persalinan
a. Kala I
Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol
sampai pembukaan lengkap. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan untuk multigravida 8 jam. (Manuaba, 2010; hal. 173).
Kala I dibagi menjadi 2 fase yaitu :
a. Fase laten berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat lamban sampai
servik membuka sampai 3 cm
b. Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu :
- Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan cm menjadi 5 cm.
- Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung cepat
dari 5 cm menjadi 9 cm.
- Fase deselerasi, pembukaan menjadi lambat sekali dalam 2 jam pembukaan 9
cm menuju lengkap (10 cm).

b. Kala II
Kala II dimulai ketika pembukaan servik sudah lengkap (10 cm) dan
berakhir sampai bayi lahir. Kala II disebut juga kala pengeluaran bayi. (JNPK-KR
Depkes RI, 2008; hal. 77).
Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada
multigravida (Yeyeh, 2009; hal. 6)
c. Kala III
Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang
berlangsung tidak lebih dari 30 menit. (Saifuddin, 2008; hal. 101)
Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008; hal. 96) tanda- tanda lepasnya
plasenta yaitu adanya perubahan bentuk dan tinggi fundus, tali pusat memanjang,
semburan darah mendadak dan singkat.

d. Kala IV
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post
partum. (Saifuddin, 2008; hal. 101)
Observasi yang harus dilakukan adalah :
 Tingkat kesadaran
 Tanda-tanda vital
 Kontraksi uterus
 Adanya perdarahan
 Kandung kencing

8. Mekanisme Persalian Normal


a) Turunnya kepala
Pada letak kepala bila his sudah cukup kuat kepala akan turun dan mulai
masuk ke dalam rongga panggul. Masuknya kepala melintasi PAP dapat
dalam keadaan sinklitismus ialah bila arah sutura kepala janin tegak lurus
dengan bidang PAP, dapat pula dalam keadaan ansiklitismus apabila arah
sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dengan bidang PAP.
b) Fleksi
Akibat sumbu kepala janin sudah eksentrik dengan sumbu lebih
mendekati sub oksiput, maka tahanan oleh jaringan bawahnya terhadap
kepala yang akan turun menyebabkan fleksi di dalam rongga panggul.
c) Putar paksi dalam
Karena kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intrauterine
disebabkan oleh his yang berulang-ulang, kepala mengadakan rotasi
sehingga pula putar paksi dalam.
d) Defleksi
Dalam keadaan fisiologis sesudah kepala janin sampai di dasar panggul
dan ubun-ubun kecil di bawah simfisis, maka dengan sub oksiput sebagi
hipomochlion kepala mengadakan gerakan defleksi untuk dapat
melahirkan.
e) Putar paksi luar
Dengan kekuatan his, persamaan dengan kekuatan menekan berturut-
turut tampak bregma, dahi, muka dan dagu, sesudah kepala lahir, kepala
segera melakukan rotasi yang disebut putar paksi luar.
f) Ekspulsi
Setelah putar paksi luar, bahu bisa sampai di bawah simfisis dan menjadi
hipochlion guna kelahiran bahu belakang, depan dan seluruh badan lahir.
9. Intervensi
Dx/masalah Intervensi Rasional
Dx: 1. Observasi TTV tiap 4 jam 1. Deteksi dini komplikasi
Ny... Usia... 2. Observasi DJJ tiap 30 menit 2. Deteksi dini komplikasi
G...P... 3. VT tiap 4 jam 3. Observasi kemajuan
UK... persalinan
Dgn inpartu 4. Anjurkan ibu untuk tak 4. Agar tak menggangu
Kala 1 fase menahan BAK / BAB penurunan kepala
aktif 5. Anjurkan ibu makan &minum 5. Menambah power ibu
saat his reda
6. Observasi his tiap 30 menit 6. Mengetahui kemajuan
persalinan
7. Anjurkan ibu tidak mengerang 7. Agar ibu tidak capek
sebelum pembukaan lengkap
8. Anjurkan ibu tarik nafas 8. Mengurangi rasa sakit ibu
panjang saat ada his
9. Anjurkan ibu ambulansi 9. Mempercepat penurunan
kepala
10. Siapkan peralatan 10. Penanganan sesuai
pertolongan persalinan prosedur
DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2. Jakarta: EGC.

Manuaba, IB. 2001. Konsep Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia. Jakarta:
EGC.

Wiknjosostro, Hanita. 2002. Ilmu Kebidanan Edisi III. Jakarta: Yayasan Bima
Pustaka Sarwana Prawirohardjo.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.S P2A0 POST PARTUM SECTIO
CAESAREA A/1 PRA ATERM DENGAN PLR PLASENTA PREVIA USIA
KEHAMILAN 37 MINGGU DI RUANG DAHLIA RS SOREANG
KABUPATEN BANDUNG

I. PENGKAJIAN
A. PENGUMPULAN DATA
I. Identitas Klien
Nama : Ny.S
Umur : 35 Tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia
Status Perkawinan : Menikah
Golongan Darah :-
Alamat : Kp Cilastari
Tanggal masuk RS : 16-Desember-2018 pukul 16.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 17-Desember-2018 pukul 09.30 WIB
No Medrek : 644579
Diagnosa Medis : P2A0 Sectio Caesaria
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn.C
Umur : 35 Tahun
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : Buruh Sewasta
Hub Dengan Klien : Suami
Alamat : Kp cilastari
3. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama: pasien mengatakan nyeri
b. - Riwayat Kesehatan Sekarang: Pasien datang kerumah sakit soreang yang
awalnya pasien dirujuk karena sudah merasakan mules dan mengedan dari
jam 4 subuh, tetapi sampai jam 7 pagi bayi tidak kunjung lahir dan rasa
mules berkurang sebelum datang kerumah sakit pasien kebidan terlebih
dahulu untuk di infus lalu kemudian di rujuk ke RSUD Soreang. P : pasien
mengatakan nyeri bila bergerak miring kanan dan kiri, nyeri berkurang bila
diberi obat Q : nyeri seperti disayat-sayat R: dibagian abdomen bawah S=
skala nyeli 7 T : nyeri secara terus menerus.
- Riwayat Kesehatan Dahulu : pasien mengatakan dahulu perna sakit tetapi
bias di atasi dengan sendirinya, sakit sseperti panas dan demam
- Riwayat Kesehatan Keluarga: pasien mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang pernah mengalami riwayat sc sebelumnya.
c. Riwayat Kesehatan Obsteri dan Ginekologi
1) Riwayat Ginekologi
a) Riwayat Menstruasi
Pasien mengatakan menarche pada usia 12 tahun, menstruasi 1 bulan sekali,
lama menstruasi 6-7 hari siklus teratur, ganti pembalut 2-3 kali/sehari
Haid terakhir : 19 Maret 2018
b) Riwayat Perkawinan
Pasien mengatakan menikah satu kali pada usia 23 tahun dan sudah menikah
13 tahun baru mempunyai dua orang anak
Umur laki-laki : 35 tahun
Umur Perempuan : 35 tahun
c) Riwayat Keluarga Berencana
Pasien mengatakan menggunakan kontrasepsi jenis pil dan sudah
menggunakannya selama 2 tahun
2) Riwayat Obsteri
a) Riwayat Kehamilan Sekarang
Trimester I : pada saat usia kehamilan 1-3 bulan pasien mengatakan selalu
mual
Trimester II : pada saat usia kehamilan 3-6 bulan pasien mengatakan berat
badannya bertamba dan payudaranya semakin mengencang
Trimester III : pada kehamilan 6-8 bulan pasien mengatakan sering
merasakan mulas
b) Riwayat Persalinan Sekarang
Pasien mengatakan persalinan sekarang anak yang ke-2 dikatakan dokter untuk
SC karena tidak ada kontraksi dan tidak ada pembukaan yang tidak
memungkinkan untuk melahirkan secara normal.
c) Riwayat Persalinan dan Nifas yang Lalu
No Tahun Jenis Usia Jenis Penolon Tempat BB Keadaan
Lahir Kelamin kehamilan Persalinan g Persalinan Sekarann
g
1. 2014 Perempuan 37 minggu Sc Dokter RS 2800 Hidup
Soreang gr

4. Pemeriksaan Fisik
A. IBU
a. Keadaan Umum
Penampilan Umum : Baik
Kesadaran (GCS): Compos mentis
Tingkat Kesadaran : GCS V : 5 P : 6 E : 4
b. Tanda-Tanda Vital
TD : 122/83 mmHg
N : 88 x/menit
RR : 22 x/menit
S : 36,3 oc
BB : 49 Kg
TB : 149 Cm
c. Sistem Integumen
Pada saat di kaji warna kulit pasien sawo matang, mukosa bibir lembab,
kuku bersih, tidak ada oedem, terdapat luka insisi SC, luka tampak di perban
15 cm.
d. Sistem Penglihatan
Pada saat dikaji mata tidak ada kelainan, Sklera putih konjungtiva palbebra
merah mudah, tidak ada edema pada kelopak mata, tidak ada nyeri tekan
penglihatan/reflek gerak mata baik dan reflek pupil baik.
e. Sistem pendengaran
Pada saat dikaji telinga tidak menggunakan alat bantu dengar tidak ada
serumen, tampak bersih dan fungsi pendengaran normal
f. Sistem pernafasan
a. Infeksi : dada simetris
b. Palpasi : ketika pasien diintruksikan untuk mengatakkan 77 dan tangan
kita dua-duanya diletakkan didada pasien dengan sejajar getaran terasa
sama antara kanan dan kiri, ketika tangan di silangkan dan diletakkan
didada pasien getaran suara sama antara kanan dan kiri
c. Perkusi : disetiap ICS diperiksa, suara sonor
d. Auskultasi : Vesikuler
g. Sistem pencernaan
a. Insfeksi : abdomen terdapat luka SC
b. Auskultasi : -
c. Palpasi : terdapat nyeri tekan
d. Perkusi : timpani
h. Sistem kardiovaskular
a. Insfeksi : tidak terkaji
b. Auskultasi : tidak terkaji
c. Palpasi : tidak terkaji
d. Perkusi : tidak terkaji
i. Sistem endokrin
a. Insfeksi : tidak ada pembekuan
b. Auskultasi : tidak ada nyeri tekan tidak ada kelenjar tiroid
c. Palpasi : tidak terkaji
d. Perkusi : tidak terkaji
j. Sistem perkemihan
Tidak terdapat adanya distensi kandung kemih, tidak ada nyeri tekan ginjal
dan pasien terpakai kateter 1500/8 jam tidak ada lesi dibagian genetalia
ada lochea rubra bewarna merah segar berbau amis
k. Sistem persyarapan
1. Nervus Olfaktorius : klien/dapat membedakan bau
2. Nervus Optikus : Titik fokus sama
3. Nervus occulomotorius : Klien dapat menggerakan bola mata kekanan
dan kekiri
4. Nervus Trochlearis : Klien dapat memutar bola mata
5. Nervus Trigeminus : ketika pipi pasien diletakkan dengan kapas
alcohol, pasien dapat merasakan sensori dingin dirasakan
6. Nervus Abdusen : ketika pasien diintruksikan untuk memutar bola mata
pasien dapat melakukannya
7. Nervus Fasialis : pasien dapat menggerakkan alis
8. Nervus Vestibulocochlearis : pendengaran pasien baik
9. Nervus Glusofaringeal : pasien dapat membedakan gula dan garam
10. Nervus Vagus : pasien dapat menelan salifa
11. Nervus Asesorius : pasien dapat melakukan tahanan bahu
12. Nervus Hipoglosus : pasien dapat menjulurkan lida
l. Sistem muskuluskletal
Ekstremitas atas : tidak ada edema, kuku pendek bersih, tanpak terpasang
infus RL 20X/Menit pada tangan kiri
Ektremitas bawah : tidak ada oedema dan varises, tonus otot baik, reflek
patela pada lutut baik positif
Kekuatan Otot : tidak ada kelainan pasien tampak mampu menahan
tekanan yang diberikan terhadap ototnya
m. Sistem reproduksi
-payudara : bentuk payudara kiri dan kanan simetris puting menonjol,
terdapat hipigmentasi pada aerola, tidak ada bendungan air susu
-uterus : TFU 2 jari di bawah umbilikus
-perineum : tidak ada luka perineum
-Vulva Vagina : terlihat kotor terdapat lochea lubra (darah segar) dianus
tidak terdapat Hemoroid

5. Pola Aktivitas Sehari-hari


NO Pola Aktivitas Di rumah Di Rumah Sakit
1 Nutrisi
a. Makan Pasien makan 3x /hari Pasien makan 3x/hari
porsi habis dan diselangi porsi selalu habis
dengan cemilan
b. Minum Pasien mengatakan 7-8 Pasien mengatakan 5-
gelas /hari 7 gelas /hari
2 Eliminasi
a. BAB 2x/hari nonsistensi Pasien mengatakan
lembek selama di rawat belum
BAB
b. BAK 4-5x/hari Pasien menggunakan
diapers.
3 Istirahat Tidur
Waktu tidur siang Tidur siang kurang lebis Tidur siang kurang
2 jam dan sering tidur lebih 1 jam
Waktu tidur malam jam 22.00 wib Kurang lebih 5 jam
Kebiasaan sebelum tidur Kurang lebih 8 jam Setelah operasi pasien
Keluhan susah tidur
4 Aktivitas
Aktivitas sehari-hari Bersih-bersih rumah Pasien masih terlihat
Olahraga Jalan-jalan berbaring, kadang
sesekali pasien sering
terlihat berusaha
untuk miring kiri
kanan dan duduk.
5 Kebersihan Diri
a. Mandi, Pasien mandi kurangg Pasien belum pernah
lebih 3x/ hari mandi semenjak di
b. gosok gigi, muncuci Gosok gigi 2x/hari rawat di RS
rambut, memotong Mencuci rambut 1x/hari
kuku, frekuensi.

6. Data Pisikologi
a. Konsep Diri
1) Gambaran Diri
Pasien mengatakan menerima keadaannya yang sekarang, pasien
merasa senang dan bahagia atas kelahiran anak kedua nya. Dan akan
berusaha mejadi orang tua yang lebih baik lagi.
2) Identitas Diri
Pasien menyadari dirinya sebagai seorang istri, selama sakit pasien
tidak memiliki gangguan dan perubahan identitas.
3) Ideal Diri
Pasien mengatakan ingin cepat pulang dan beraktivitas seperti biasa,
dan ingin merawat anak pertamanya yang dititipkan oleh ibu
mertuanya.
4) Harga Diri
Pasien tidak menunjukkan rasa malu dengan keadaannya, pasien
justru bangga bisa menjadi seorang ibu dan mempunyai dua orang
anak.
5) Peran
Peran pasien setelah menjalani operasi tidak berubah, pasien tetap
berperan sebagai ibu rumah tangga.
b. Aspek Sosial
Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga baik begitupun hubungan
sama perawat atau dokter selama di rumah sakit.
c. Data spiritual
Pasien dan keluarganya beragama islam, mereka selalu berdoa untuk
kesembuhan ibunya dan mengerjakan sholat lima waktu

7. Data Penunjang
a. Hasil Laboratorium
Hemoglobin 13,4 g/dL
Hematokrit 37 %\
Leukosit 7.400 /mm3
Trombosit 167.000 /mm3
b. Bayi
Keadaan Umum
Nama By Ny S
Tanggal/hari 17 Desember 2018
Jenis kelamin Laki- laki
BB/PB 2900/48

c. Therapi
Ceftriaxone (Antibiotik) : 2x1 gr
Vatropen (Analgetik) : 2x100 mg
Cefixime () 2x200 gr
RL (Ringer Laktat) : 500 Ml 20 Gtt/m IVFN

II. ANALISA DATA


DATA ETIOLOGI MASALAH
DS: pasien mengatakan nyeri pada Pembedahan Nyeri Akut
luka post SC,nyeri bertambah saat berhubungan
Luka Pasca Oprasi
bergerak,nyeri berkurang saat dengan
Terputusnya kontiunitas
istirahat,nyeri dirasakan seperti pembedahan dan
Jaringan
tersayat-sayat,dibagian perut luka post op SC
Berangsang BPH
bawah,dengan skala nyeri 4, nyeri agen cidera fisik
dirasakan setiap saat S Afferen wajah meringis

Medula Spinalis
DO : - pasien tampak meringis
Thalamus
- Wajah pasien tapak
menahan rasa nyeri Kortek Serebri

S Efferent

Nyeri

DS : - Pasien mengatakan Dilakukan Anastesi Intoleransi


Keadaannya masih lemah dan Aktivitas
Penurunan Syaraf
belum bisa menggerakan tubuhnya ekstremitas bawah Berhubungan
dikarenakan masih sakit Dengan
Kelumpuhan Sementara
DO : - pada luka tampak ada PUS dan kelemahan Fisik Kelumpuhan
- Luka masih tampak basah Sementara Dan
Intoleransi Aktivitas
- Leukosit :11.300/mm₃ Kelemahan Fisik
- Pasien tampak Lemah

DS : pasien mengatakan masih Post pembedahan Resiko Infeksi


belum berani dan belum bisa berhubungan
adanya luka oprasi
mandi karna takut lukanya terkena dengan adanya
kontunuitas jaringan
air terputus luka oprasi
DO : invasi mikroorganisme
- terdapat luka operasi
resiko infeksi
- Post SC

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri Akut berhubungan dengan pembedahan dan luka post op SC agen
cidera fisik wajah meringis
2. Intoleransi aktivitras berhubungan dengan kelumpuhan sementara dan
kelemahan fisik
3. Resiko Infeksi berhubungan dengan adanya luka oprasi
IV. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DX TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
1. 1 Setelah dilakukan asuhan - Karakteristik Nyeri dan
keperwatan diharapkan pasien derajat nyeri
- Mampu mengontrol Nyeri - Berikan lingkungan yang
- Melaporkan bahwa nyeri nyaman dan tenang
berkurang - Ajarkan teknik relaksasi
- Mampu mengenali nyeri nafas dalam
- Menyatakan rasa nyaman - Kolaborasi dalam pemberian
setelah nyeri berkurang Analgetik
2 2 Setelah dilakukan asuhan - Tingkatkan tirah baring atau
keperawatan diharapkan pasien : duduk, berikan lingkungan
- Mampu melakukan aktivitas tenang, batasi pengunjung
sehari-hari secara mandiri sesuai keperluan
- Mampu berpindah dengan atau - Ubah posisi dengan sering
tanpa bantuan alat berikan perawatan kulit yang
- Berpartisipasi dalam aktivitas baik
fisik tanpa disertai peningkatan - Tingkatkan aktivitas sesuai
tekanan darah toleransi, bantu melakukan
latihan tentang jarak sendi
pasif

3 3 Setelah dilakukan tindakan - Memonitor tanda dan gejala


keperawatan selama 2x24 tidak terjadi infeksi
infeksi, dengan kriteris hasil : - Cuci tangan setiap atau
1. Pasien bebas dari gejala infeksi sebelum tindakan
2. Menunjukan kemampuan untuk keperawatan
mencegah timbulnya infeksi - Ganti balutan untuk
3. Pasien menunjukan perilaku mencegah terjadinya infeksi
hidup sehat

V. IMPLEMENTASI
NO DX IMPLEMENTASI EVALUASI PARAF
1. 1 - Mengkaji karakteristik S : pasien mengatakan luka
nyeri dan derajat nyeri bekas SC dibagian
- Memberiikan perutnya masih terasa
lungkungan yang nyeri
nyaman dan tenang O:- Skala nyari 4
- Mengajarkan teknik - Wajah pasien
relaksasi nafas dalam tampak rileks
- Mengkolaborasikan - pasien tidak
pemberian analgetik tampak meringis
- TTV dalam batas
normal
TD: 120/80 mmHg
N : 80x/m
R : 21 x/m
T : 36,2 ºC
A : Masalah nyeri teratasi
P : Intervensi dilanjutkan.
2. 2 - Meningkatkan tirah S: Pasien mengatakan
baring atau duduk, sudah sedikit-sedikit
berikan lingkungan bergerak seperti
tenang, batasi mengambil minum, dan
pengunjung sesuai duduk
keperluan O: - pasien sudah mampu
- mengubah posisi miring kanan miring kiri
dengan sering berikan - Pasien sudah bisa
perawatan kulit yang berjalan sedikit
baik demi sedikit
- Membantu A: Masalah intoleransi
meniingkatkan aktivitas tertasi sebagian
aktivitas sesuai P: Intervensi dilanjutkan
toleransi, bantu
melakukan latihan
tentang jarak sendi
pasif
3. 3 - Monitor tanda dan S : Pasien mengatakan
gejala infeksi (reeda) belum berani untuk mandi
- Mencuci tangan setiap karna lukannya masih
sebelum dan sesudah basah.
tindakan keperawatan O : - selalu melihat tanda-
- Mengganti balutan tanda infeksi ketika
untuk mencegah mengganti balutan dan
terjadinya infeksi menggunakan alat alat
steril saat mengganti
balutan
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan

VI. CATATAN PERKEMBANGAN


NO Hari/ Tanggal Dx Catatan Perkembangan Paraf
1 Minggu 1 S : Pasien mengatakan nyeri berkurang
19. Des. 2018 O : - Skala nyeri 5 (0-10)
- Luka sayatan pasca operasi sedikit kering
A : Masalah Nyeri Teratasi Sebagian
P : - kaji karakteristik dan derajat nyeri
- Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
- Mengkolaborasi pemberian analgetik
I: - mengkaji karakteristik dan jerajat nyeri
- Mengajarkan teknik relaksasi nafas
dalam
- Mengkolaborasikan pemberian
analgetik
E: masalah Nyeri teratasi sebagian
R: kaji kembali skala nyeri

2 Minggu 2 S : Pasien mengatakan sudah mampu


19. Des. 2018 beraktifitas seperti biasa
O : pasien sudah mampu berpindah tanpa
bantuan alat
A : Masalah intoleransi aktivitas sudah teratasi
P : - ajarkan pasien untuk mencoba melakukan
ADL
- Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
I: - mengajarkan pasien untuk mencoba
melakukan aktivitas seperti biasa
- Meningkatkan aktivitas sesuai toleransi
untuk menambah rentang gerak
E: masalah intoleransi aktivitas sudah teratasi
R: intervensi dihentikan

3. Minggu 19 3 S : Pasien mengatakan lukanya sudah perlahan


Des 2018 lahan menutup
O : pasien sudah tampak tidak khawatik dengan
lukanya lagi
A : Masalah resiko infeksi sudah teratasi
P : - monitor kemampuan pasien untuk
perawatan diri yang mandiri
- Monitor kebutuhan pasien seperti alat-
alat untuk membersihkan luka
- Anjurkan pasien untuk tetap menjaga
kebersihan disekitar luka
I : - monitor kemampuan pasien untuk
perawatan diri
- Monitor kebutuhan pasien seperti alat-
alat untuk membersihkan luka
- Menganjurkan pasien untuk tetap
menjaga kebersihan disekitar luka
E : Masalah resiko infeksi sudah teratasi
R : Intervensi Dihentikan