Anda di halaman 1dari 24

GAYA KEPEMIMPINAN CAMAT

(Studi Kasus di Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan)

NASKAH PUBLIKASI

OLEH

ADI LESTARI
NIM : 110563201136

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2015

3
GAYA KEPEMIMPINAN CAMAT
(Studi Kasus di Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan)
Adi Lestari

Program Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Adilestari91@gmail.com

Abstrak

Kecamatan sebagai sebuah organisasi memiliki seorang pemimpin yang


disebut dengan camat. Sebagai seorang pemimpin camat diharuskan memiliki
kepemimpinan yang baik. Di dalam kepemimpinan suatu organisasi,
kepemimpinan merupakan suatu gaya yang harus melekat pada pemimpin atau
dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah hal-hal yang menunjukkan
bagaimana seseorang memimpin organisasi tersebut. Keberhasilan suatu
organisasi tidak terlepas dari gaya kepemimpinan. Beranjak dari hal tersebut
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana gaya
kepemimpinan camat di Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan. Yang dilihat dari
enam indicator yang kemudian akan mendapatkan jawaban terkait gaya
kepemipinannya.Kegunaan dari penelitian ini yang pertama yaitu kegunaan
teoritis : Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan di bidang
kepemimpinan,Menambah referensi dan masukan untuk penelitian
berikutnya,secara Praktis : Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan pemikiran kepada camat di Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan.
Informan atau responden dalam penelitian ini adalah berjumlah 10 orang
yang terdiri dari 2 Kepala Bagian ,5 Kepala Seksi dan 2 Kepala desa dan 1 orang
lurah,sedangkan yang menjadi Key Informan adalah Sekertaris Camat.Penelitian
ini bersifat deskriptif Kualitatif, yakni penelitian yang bermaksud mengumpulkan
data dan informasi yang dibutuhkan yang kemudian hasilnya dijelaskan dan
dianalisa secara jelas.
Hasil dari penelitian ini adalah,dari beberapa indicator yang telah disajikan
terkait gaya kepemimpinan Camat Toapaya,menyimpulkan bahwa Camat
Toapaya Kabupaten Bintan menerapkan Gaya Kepemimpinan Partisipatif adalah
dimana dalam kepemimpinan dilakukan dengan cara persuasive, menciptakan
kerjasama yang serasi, menimbulkan loyalitas dan partisipasi bawahan agar
berusaha memiliki organisasi.

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan,Camat.

4
GAYA KEPEMIMPINAN CAMAT
(Studi Kasus di Kecamatan Toapaya Kabupaten Bintan)
Adi Lestari

Program Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Adilestari91@gmail.com

Abtract

Sub-district as an organization has a leader called camat. As a leader


camat required to have good leadership. Leadership within an organization,
leadership is a style that should be attached to the leader or it can be said that
leadership is the stuff that shows how one leads the organization. The success of
an organization can not be separated from the leadership style. Moving on from it
This study was conducted to determine how the leadership style in the
district camat Toapaya Bintan regency. The views of six indicators that will then
get an answer related to kepemipinannya.Kegunaan style of this first study of the
usefulness of the theoretical: To broaden knowledge in the areas of leadership,
Adding reference and input to subsequent research, in Practical: This research is
expected to contribute thought to camat in District Toapaya Bintan regency.
Informants or respondents in this study is of 10 people consisting of 2
Head of Section, Head of Section 5 and the second head of the village headman
and 1, while the Key Informants are Camat.Penelitian secretary is descriptive
qualitative, ie, studies that intend to collect data and information needed which
then results clearly described and analyzed.
Results from this study are, on some indicators that have been presented
related to leadership styles Head Toapaya, concluded that the Head Toapaya
Bintan regency apply force Participative Leadership is where the leadership is
done by persuasive, creating cooperation harmoniously, creating loyalty and
participation of subordinates in order to try to have organization.

Keywords: Leadership Style, Head.

5
I. PENDAHULUAN merupakan unit terkoordinasi

Kecamatan awalnya sebagai yang mempunyai sasaran

salah satu wilayah administrasi tertentu atau serangkaian

pemerintahaan, selain sasaran. Dikatakan suatu

pemerintahan nasional, provinsi, organisasi karena di dalamnya

kabupaten atau kotamadya, dan terdapat bermacam-macam

kota administrasi menjadi bagian yang memiliki tugas dan

wilayah kerja dari perangkat fungsi masing-masing, namun

daerah. Perubahan ini telah memiliki satu tujuan yang sama.

mengubah kecamatan yang Kecamatan yang berfungsi

awalnya menjadi wilayah sebagai wilayah pelayanan

kekuasaan menjadi wilayah memerlukan seorang pemimpin

pelayanan. Kecamatan dipimpin yang mampu menggerakkan

oleh seorang camat. bawahannya agar dapat

Berdasarkan UU No. melaksanakan tugas dan

32/2004, camat sebagai tanggungjawab, berpartisipasi

perangkat daerah kabupaten dan dalam kegiatan pemerintahan,

kota mempunyai wilayah kerja pembangunan dan

berupa kecamatan. kemasyarakatan secara

Kecamatan sebagai suatu berdayaguna dan berhasilguna.

lembaga negara dapat juga Keberhasilan pembangunan

dikatakan sebagai suatu suatu kecamatan terlihat dari

organisasi. Organisasi tingginya produktivitas,

3
penduduk yang makmur dan kepemimpinannya ditentukan

sejahtera secara merata oleh kemampuan tingkat

(Budiman, 1995). pemahamannya terhadap situasi

dan kondisi serta perilaku para


Kecamatan sebagai sebuah
bawahannya. Seorang pemimpin
organisasi memiliki seorang
dalam menjalankan fungsi
pemimpin yang disebut dengan
kepemimpinannya setiap
camat. Sebagai seorang
pemimpin mempunyai gaya dan
pemimpin camat diharuskan
cara tertentu. Gaya
memiliki kepemimpinan yang
kepemimpinan mencerminkan
baik. Di dalam kepemimpinan
apa yang dilakukan pemimpin
suatu organisasi, kepemimpinan dalam mempengaruhi
merupakan suatu gaya yang pengikutnya guna

harus melekat pada pemimpin merealisasikan tujuan yang telah

atau dapat dikatakan bahwa ditetapkan. Gaya kepemimpinan

kepemimpinan adalah hal-hal mempunyai pengaruh ketika

yang menunjukkan bagaimana dipergunakan oleh pimpinan di

dalam kepemimpinannya
seseorang memimpin organisasi
(Wirawan, 2001).
tersebut. Keberhasilan suatu
Kecamatan Toapaya
organisasi tidak terlepas dari
merupakan kecamatan yang
gaya kepemimpinan.
tergolong kecamatan baru,
Kesuksesan dan keberhasilan
pecahan dari kecamatan gunung
seorang pemimpin dalam
kijang yang terdiri dari satu
menjalankan fungsi
kelurahan dan tiga desa yang

4
saat ini berpusat dikelurahan dianggap masyarakat sangat

Toapaya asri. Pembentukan mempengaruhi pada hal tersebut.

Kecamatan Toapaya ini Berdasarkan uraian fenomena

berdasarkan Perda No.11 Tahun di atas peneliti tertarik untuk

2007 dan Perda No.12 Tahun melakukan penelitian dengan

2007 tentang pembentukan judul “Gaya Kepemimpinan

Kelurahan/Desa dan Kecamatan Camat (Studi Kasus di

Baru.Sebagai Kecamatan yang Kecamatan Toapaya Kabupaten

tergolong muda berbagai macam Bintan)”.

prestasi telah banyak diraihnya II. LANDASAN TEORI


A. Pemerintahan Kecamatan
termasuk salah satunya dalam
Penyelenggaraan
hal pembangunan yang tidak
pemerintahan memerlukan
kalah jauh dengan Kecamatan-
adanya seorang pemimpin yang
kecamatan yang sudah lebih

lama terbentuk,Kemudian ada selalu mampu menggerakkan

dua kelurahan dan desa yang bawahannya agar dapat

masuk nominasi menjadi desa melaksanakan tugas dan

atau kelurahan terbaik di tanggung jawab untuk

Provinsi Kepulauan Riau hal ini berpartisipasi dalam kegiatan

menjadi menarik untuk diteliti pemerintahan, pembangunan dan

karena ada fenomena tersebut kemasyarakatan secara


dan yang tidak kalah penting berdayaguna dan berhasil guna.
adalah factor kepemimpinan
Keberhasilan pembangunan
yang dimiliki oleh Camat yang
dapat dilihat dari tingginya

5
produktivitas, penduduk para anggota untuk mengubah

makmur dan sejahtera secara sikap, sehingga mereka

merata (Budiman, 1995). menyetujui keinginan pemimpin.

Kecamatan merupakan line Lain halnya dengan Robbin

office dari pemerintah daerah (2003) yang mengartikan

kepemimpinan adalah
yang berhadapan langsung
kemampuan mempengaruhi
dengan masyarakat, dan
suatu kelompok ke arah
mempunyai tugas membina
pencapaian tujuan. Berdasarkan
desa/kelurahan.
pengertian tersebut dapat
Kecamatan merupakan
disimpulkan bahwa teori
organisasi yang hidup dan
kepemimpinan adalah pendapat-
melayani kehidupan masyarakat.
pendapat tentang pemimpin dan
Stuktur organisasi terdapat
kepemimpinan yang meliputi
dalam Peraturan Daerah
kekuatan aspirasional, kekuatan
Kabupaten Bintan No. 10/2008
semangat, dan kekuatan moral
tentang Pembentukan Organisasi yang kreatif, yang mampu
Kecamatan dan Kelurahan mempengaruhi dan mengubah
Kabupaten Bintan sikap para anggota atau suatu

B. Kepemimpinan kelompok ke arah pencapaian

Kepemimpinan menurut tujuan yang diperoleh melalui

Kartono (2006) adalah kekuatan penelitian yang didukung oleh

aspirasional, kekuatan semangat, data dan argumentasi.

dan kekuatan moral yang kreatif, Dalam mencapai tujuannya

yang mampu mempengaruhi anggota organisasi dipimpin

6
oleh pemimpin yang disebut didefinisikan: kepemimpinan

pimpinan administratif yaitu manajerial dapat didefinisikan

orang yang secara sah sebagai suatu proses pengarahan

menduduki suatu jabatan dan pemberian pengaruh pada

administrasi dalam organisasi kegiatan-kegiatan dari

yang didirikan secara formal. sekelompok anggota yang saling

Kepemimpinan dalam masing- berhubungan tugasnya”.

masing organisasi mempunyai Kepemimpinan merupakan

ciri-ciri khusus walau masih kemampuan yang dipunyai

dalam satu kerangka umum seseorang untuk mempengaruhi


kepemimpinan. Kekhususan orang-orang lain agar bekerja
tersebut terletak pada perbedaan mencapai tujuan dan sasaran.
tujuan dan anggota
Manajemen mencakup fungsi-
organisasinya.
sungsi lain seperti perencanaan,
Kepemimpinan adalah salah
pengorganisasian dan
satu aspek manajerial terpenting
pengawasan. Aspek pertama
dalam kehidupan organisasi,
pendekatan perilaku
serta merupakan faktor penentu
kepemimpinan menekankan
kunci keberhasilan organisasi
pada fungsi-sungsi yang
dalam mencapai tujuan dan
dilakukan pemimpin dalam
sasaran yang telah ditetapkan.
kelompok. Agar kelompoknya
Menurut Stoner dan Mary Parket
berjalan efektif pemimpin harus
Follet yang dikutip Handoko

(2003), sebagai berikut: melaksanakan dua fungsi utama.

“…bahwa kepemimpinan telah Fungsi pertama berkaitan

7
dengan pemberian saran bersifat holistik, kompleks,

penyelesaian, informasi dan dinamis dan penuh makna.

pendapat. Fungsi kedua, Penelitian Kualitatif pada

mencakup segala sesuatu yang hakikatnya adalah mengamati

dapat membantu kelompok orang dalam lingkungan

berjalan lebih lancar, persetujuan hidupnya, berinteraksi dengan

dengan kelompok lain, penengah mereka, berusaha memahami

pendapat, dan sebagainya. bahasa dan tafsiran mereka

Pemimpin yang mampu tentang dunia sekitarnya

menjalankan kedua fungis (Nasution, 1988). Dalam

tersebut secara berhasil pasti penelitian ini yang akan diamati

akan menjadi seorang pemimpin adalah orang yaitu camat pada

yang efektif. suatu kecamatan, dengan

III. METODE PENELITIAN menggunakan pendekatan


1. Jenis Penelitian
kualitatif maka data yang
Dalam penelitian ini penulis
didapat lebih lengkap, lebih
melakukan penelitian dengan
mendalam, kredibel dan
pendekatan kualitatif, yaitu
bermakna sehingga tujuan
menggambarkan dan
penelitian dapat dicapai. Metode
menginterpretasikan mengenai
kualitatif dapat ditemukan data
gaya kepemimpinan Camat di
yang bersifat proses kerja,
Kecamatan Toapaya Kabupaten
perkembangan suatu kegiatan,
Bintan. Pengunaan pendekatan
deskripsi yang luas dan
kualitatif karena permasalahan

8
mendalam, perasaan, norma, 3. Jenis data

keyakinan, sikap mental, etos 1. Data Primer

kerja dan budaya yang dianut Data Primer yaitu data yang

seseorang maupun sekelompok diperoleh langsung dari

orang dalam lingkungan informan yang menjadi sasaran

kerjanya. penelitian melalui wawancara

Penelitian kualitatif dan observasi tentang beberapa

menawarkan pemahaman yang hal terkait dengan gaya

lebih “mendalam” akan kepemimpinan yang dimiliki

fenomena sosial. camat di Kecamatan Toapaya

2. Lokasi Penelitian Kabupaten Bintan.

Penelitian dilakukan di 2. Data Sekunder

Kecamatan Toapaya Kabupaten Data sekunder yaitu data

Bintan. Lokasi ini dipilih pendukung yang melengkapi

sebagai kajian penelitian karena data primer, yang diperoleh

di lokasi ini belum pernah melaui dokumen-dokumen,

dilakukan penelitian terkait gaya jurnal, laporan penelitian, koran,

kepemimpinan camat sebagai majalah, laporan tertulis dan

seorang pemimpin pada tingkat lain-lain.

kecamatan. 4. Informan.

Informan menurut Arikunto

(2010:188) adalah orang yang

memberikan informasi. Dengan

9
pengertian ini maka informan 3. Sekretaris Kecamatan di

dapat dikatakan sama dengan Kecamatan Toapaya

responden, apabila Kabupaten Bintan sebagai

keterangannya karena di pancing Key Informan.

oleh pihak peneliti. Istilah 5. Teknik Dan Alat

“informan” ini banyak Pengumpulan Data

digunakan dalam penelitian Untuk memperoleh data yang

kualitatif. valid dan reliabel, dipilihlah

Dalam penelitian ini teknik yang tepat dan benar.

penentuan informan dilakukan Adapun langkah-langkah

dengan menggunakan sampling pengumpulan data di lapangan

jenuh karena jumlah informan atau lokasi penelitian

hanya berjumlah 10 yang berada menggunakan teknik observasi,

pada lingkup penelitian yaitu: wawancara, dan dokumentasi.

1. Pegawai di lingkungan 1. Observasi

kecamatan Toapaya Teknik observasi digunakan

Kabupaten Bintan sejumlah 7 untuk menggali data dari sumber

orang pegawai. data yang berupa peristiwa,

2. Satu orang lurah dan dua tempat atau lokasi dan benda

orang Kepala desa di bawah serta rekaman gambar. Salah

naungan Kecamatan Toapaya satu alat pengumpul data adalah

Kabupaten Bintan. check list.

10
2. Wawancara menguji, menafsirkan bahkan

Moleong (2010), untuk meramalkan.

mendefenisikan wawancara 6. Teknik Analisa Data

sebagai percakapan dengan Teknik analisis data yang

maksud tertentu. Wawancara digunakan dalam penelitian ini

dilakukan kepada informan yang adalah analisis model data

memahami permasalahan yang interaktif. Dalam melakukan

diteliti yaitu pihak Camat di analisis data peneliti mengacu

Kecamatan Toapaya Kabupaten kepada tahapan yang

Bintan. Salah satu alat dikembangkan oleh Miles dan

pengumpul data adalah Huberman (1992), yang terdiri

pendoman wawancara. dari empat tahapan yaitu:

3. Dokumentasi pengumpulan data, reduksi data

Dalam penelitian ini peneliti (data reduction), penarikan

menggunakan teknik kesimpulan atau verifikasi

dokumentasi karena dapat (conclusion drawing

digunakan untuk mencari data verivication) dan penyajian data

mengenai hal-hal yang berkaitan (data display). Empat tahapan

dengan permasalahan di lokasi tersebut dapat dijelaskan sebagai

penelitian. Data yang dimaksud berikut:

adalah dokumen dan arsip yang 1. Pengumpulan data

dapat dimanfaatkan untuk Pengumpulan data dilakukan

melalui wawancara, studi

11
pustaka, dokumentasi dan 3. Penyajian Data

observasi. Setelah dilakukan reduksi

2. Reduksi Data data, langkah selanjutnya adalah

Reduksi dalam penelitian ini penyajian data atau display data

dilakukan dengan cara dimaksudkan untuk

merangkum data dari memudahkan peneliti dalam

wawancara, observasi dan melihat gambaran secara

didokumentasi diambil hanya keseluruhan atau bagian-bagian

yang sesuai dengan tujuan dari tertentu dari penelitian. Tujuan

penelitian, yaitu mengetahui display data adalah untuk

lebih dalam proses implementasi memudahkan dan memahami

kebijakan subsidi ongkos angkut apa yang terjadi. Dengan kata

barang-barang kebutuhan pokok lain merupakan

daerah perbatasan. Pada tahap pengorganisasian data kedalam

ini, data yang diperoleh dari bentuk tertentu sehingga

lokasi penelitian (data lapangan) kelihatan dengan sosoknya lebih

dituangkan dalam uraian utuh.

lengkap dan terinci kedalam 4. Penarikan kesimpulan/

bentuk tulisan. Tujuannya agar Verifikasi

data yang sama segera Langkah terakhir dari

terkelompok pada bagian yang analisis data adalah penarikan

relevan dan mudah ditelusuri kesimpulan dan verifikasi adalah

bila diperlukan. proses inferensi atau

12
menyimpulkan dari analisis data. Kecamatan Toapaya Kabupaten

Analisis data diinterprestasikan Bintan”.

dengan mengunakan konsep dan Informan dalam penelitian ini

teori yang dipakai untuk disusun berjumlah 10 orang, yaitu 7

secara sistematis. Teknik data orang pegawai Kecamatan, 1

yang didapat dilapangan yang orang Lurah Toapaya Asri, 2

sudah direduksi dan disajikan orang Kepala Desa dari Toapaya

kemudian ditarik satu Utara dan Toapaya.

kesimpulan untum menjawab Karakteristik responden ini,

rumusan masalah dari hasil yang peneliti jelaskan adalah

penelitian. data tentang Jenis kelamin dan

IV. PEMBAHASAN tingkat Pendidikan.

A. Karakteristik Informan B. Watak Camat dalam

Pada penjelasan bab ini akan menjalankan program kerja

dibahas terlebih dahulu Seseorang biasanya

mengenai karakteristik informan mempunyai watak bawaan sejak

guna mendapatkan informasi lahir. Ketika seseorang terlahir

yang akurat dalam menganalisis dan terpilih menjadi camat,

data, yang pada akhirnya dapat maka seorang camat tersebut

dipertanggungjawabkan telah memiliki satu watak atau

kebenarannya dalam suatu sikap yang mendasar yang

pembahasan dan menganalisis ada pada dirinya. Watak juga

“Gaya Kepemimpinan Camat di dapat berasal dari pengaruh

13
lingkungan, maksudnya watak ke arah yang tidak lebih baik

dapat terbentuk dari pengaruh dari sebelumnya.

faktor lingkungan yang telah C. Visi Camat di Kantor

memberikan perubahan terhadap Kecamatan Toapaya

kehidupannya ataupun gaya Camat Toapaya sebagai

hidup yang seorang camat seorang pemimpin di Kecamatan

jalankan. Camat Toapaya Toapaya Kabupaten Bintan,

mempunyai sifat atau karakter tentunya memiliki gaya

yang telah terbentuk sebelum kepemimpinan baik yang telah

dilantik menjadi seorang Camat. melekat pada dirinya, seperti

Karakter seorang camat gaya kepemimpinan yang Camat

biasanya akan terbawa saat Toapaya terapkan guna

sedang menjalankan tugas mencapai visi dan misi dari

sebagai Camat Toapaya Kecamatan Toapaya Kabupaten

Kabupaten Bintan. Karakter Bintan.

yang baik dari pimpinan akan Gaya kepemimpinan tersebut

membawa perubahan besar tentunya akan berpengaruh besar

dalam sebuah instansi atau terhadap keberhasilan Camat

organisasi. Begitupun Toapaya dalam memimpin

sebaliknya, pemimpin yang organisasi pemerintahannya,

berperangai buruk akan mengingat Camat merupakan

mempengaruhi keberlangsungan sentral dari berbagai macam

instansi atau organisasi tersebut aktifitas yang berlangsung di

14
Kantor Kecamatan Toapaya membangun motivasi dan

Kabupaten Bintan. kepercayaan dalam diri setiap

D. Kemampuan Camat dalam pegawainya. Perhatian Camat

menjalankan program kerja yang besar pada setiap

Kemampuan (ability) adalah kebutuhan pegawai menjadi

kecakapan atau potensi salah satu kekuatan Camat

seseorang individu untuk dalam melakukan pendekatan

menguasai keahlian dalam terhadap pegawainya. Hal ini

melakukan atau mengerrjakan disebabkan Karena camat sangat

beragam tugas dalam suatu baik dalam pendekatannya dan

pekerjaan atau suatu penilaian hal seperti ini sangat dibutuhkan

atas tindakan seseorang. Dalam oleh para pegawai sehingga

hal ini ialah kemampuan camat dapat memotivasi mereka untuk

untuk merangkul seluruh bekerja secara efektif dan

pegawainya di kantor kecamatan efisien.

Toapaya Kabupaten Bintan agar E. Camat Dalam Memberikan

dapat memberikan kontribusinya Motivasi Kepada Aparatur

dalam penyelenggaraan kegiatan di Kantor Kecamatan

pemerintahan di kecamatan Toapaya

masih kurang serta kemampuan Peranan kepemimpinan Camat

Camat dalam melakukan berikutnya adalah sebagai

koordinasi dengan instansi pemberi motivasi. Peran ini

terkait. Camat sudah mampu sangat penting karena biasanya

15
para pegawai lebih tergerak Selain camat memberikan

hatinya atau terdorong untuk tunjangan, insentif, atau bonus

melaksanakan tugas dan kepada pegawai yang dianggap

fungsinya pada kegiatan memiliki ketekunan dan telah

pemerintahan di kantornya jika menyelesaikan tugasnya, juga

pemimpinnya sendiri yang memberikan dorongan secara

langsung memberikan mereka langsung.

motivasi untuk bekerja. Dalam F. Camat Dalam Memberikan

perannya sebagai pemberi Arahan Kepada Aparatur di

motivasi, camat dituntut Kantor Kecamatan Toapaya

memiliki suatu gaya dalam Camat Toapaya Kabupaten

memberi motivasi kepada para Bintan dalam mengarahkan para

pegawainya yang disesuaikan aparaturnya, menyangkut

dengan karakter para koordinasi yang merupakan

pegawainya. bagian dari hubungan kerjasama,

Berdasarkan hasil penelitian sesuai dengan data yang peneliti

yang dilakukan, peran Camat peroleh, telah Camat lakukan

dalam memberikan motivasi dengan baik, hal tersebut dapat

kepada para pegawainya sangat dilihat dari cara yang dilakukan

baik. Camat selalu memberikan oleh Camat yang selalu

perhatian langsung kepada para memberikan arahan kepada

pegawai walaupun sedang sibuk aparturnya. Sehingga aparatur di

dengan tugas-tugasnya sendiri. Kecamatan Toapaya selalu

16
menjalankan tugas dan tanggung menjalankan tugasnya, evaluator

jawabnya sesuai dengan kinerja dapat mengembangkan cara

masing-masing pegawai. mengumpulkan informasi sesuai

G. Camat Dalam Memberikan dengan paradigma dan

Evaluasi Terhadap Program pendekatan yang dianutnya.

Kerja Camat Toapaya dalam

Evaluasi program bertujuan memimpin dengan gaya

untuk melihat apakah program partisipatif yang dirasa berhasil

dirancang, dilaksanakan, dan dalam memajukan dalam

bermanfaat bagi pihak-pihak berbagai hal harus

yang terlibat dalam program. dipertahankan. Jika ini berhasil

Pada pelaksanaannya evaluasi tentu saja kemajuan atau tingkat

program bermaksud mencari perkembangan Kecamatan

informasi sebanyak mungkin Toapaya Kabupaten Bintan akan

untuk mendapatkan gambaran semakin bagus dan selalu

rancangan dan pelaksanaan mengarah kepada kebaikan.

program. Hasil Evaluasi tersebut V. KESIMPULAN DAN SARAN

akan digunakan bagi pihak yang A. Kesimpulan

berkepentingan untuk Berdasarkan hasil penelitian

mengambil keputusan. Setiap dan pembahasan mengenai Gaya

evaluator mempunyai tugas Kepemimpinan Camat di Kantor

mengumpulkan informasi Kecamatan Toapaya Kabupaten

seputar program. Dalam

17
Bintan dapat diambil kesimpulan lebih maju, berwawasan

sebagai berikut : agropolitan tahun 2013”.

1. Watak yang dimiliki oleh Dalam hal ini Camat tidak

Camat Toapaya Kabupaten mengalami Kesulitan untuk

Bintan adalah tegas, disiplin meraih cita-cita tersebut.

serta berkinginan kuat Terlihat dari pengambilan

terhadap apa yang ingin keputusan yang selalu tepat

dicapainya. Selain itu Camat dikarenakan pengumpulan

Toapaya juga sangat informasi yang didapat

menitiberatkan pada tugas sehingga permasalahan yang

atau pekerjaan yang harus dihadapi oleh masyarakat

diselesaikan dengan tetap kecamatan Toapaya dapat

memperhatikan kondisi tertangani dengan efektif.

psikologis dari bawahannya. 3. Kemampuan Camat Toapaya

Sehingga para bawahan dalam menjalankan program

merasa tetap nyaman dengan kerja di kantor Kecamatan

kondisi di lingkungan Toapaya Kabupaten Bintan

kerjanya. salah satunya dapat dilihat

2. Visi Camat Toapaya sejalan dari koordinasi yang

dengan visi yang ingin diraih dilakukan. Proses koordinasi

oleh Kecamatan Toapaya yang dilakukan Camat

yakni, “Terwujudnya Toapaya Kabupaten Bintan

masyarakat Toapaya yang berjalan seimbang antara

18
pemerintah pusat dan arahan dari Camat Toapaya

perangkat desa. Sehingga ini berkaitan dengan proses

melalui koordinasi itu komunikasi yang dilakukan

memungkinkan camat akan oleh Camat. Camat Toapaya

mudah untuk berkomunikasi Kabupaten Bintan selalu

dengan siapapun,hal ini akan membuka diri atas pendapat

berdampak positif juga yang dikeluarkan oleh

terhadap laju pembangunan di aparatur. Komunikasi yang

kecamatan Toapaya. terjadi selalu cair sehingga

4. Motivasi yang diberikan oleh memunculkan keterbukaan.

Camat Toapaya Kabupaten 6. Evaluasi program

Bintan melakukan interaksi dilaksanakan oleh Camat

langsung dengan aparatur Toapaya diadakan setiap tiga

bukan hanya berupa bulan sekali. Hal ini akan

materi,hal ini sangat memudahkan para bawahan

diharapkan oleh para ketika menemui kendala akan

aparaturnya yaitu lebih segera mendapatkan solusi.

mengdepankan interaksi atau Selain itu hal ini menyiratkan

komunikasi yang lebih bahwa kerjasama tim di

hangat. Kantor Kecamatan Toapaya

5. Camat Toapaya selalu Kabupaten Bintan sudah

memberikan arahan kepada berjalan dengan baik.

aparaturnya. Pemberian

19
Dengan mengutip teori Gaya sehingga terjalin hubungan

kepemimpinan Hasibuan timbal balik antara atasan dan

(2012) yang menyebutkan bawahan yang memperkuat

ada tiga tipe yaitu Organisasi atau kantor.

Otoriter,Partisipatif dan B. Saran

Delegasi Serta berdasarkan Berdasarkan kesimpulan dari

Enam Indikator Gaya hasil penelitian diatas, maka

Kepemimpinan dari Rivai peneliti memberikan saran

(2009) maka dari keenam hal sebagai berikut:

yang telah peneliti sebutkan Rata-rata jawaban dari

menunjukan bahwa gaya informan yang meliputi Pegawai

kepemimpinan Camat di di lingkungan kecamatan

Kantor Kecamatan Toapaya Toapaya dari Enam indicator

Kabupaten Bintan adalah yaitu Watak, Visi, Kemapuan,

Partisipatif. Camat memang Memberi motivasi, memberi

menginginkan pekerjaan arahan dan melakukan Evaluasi

selesai sesuai dengan memberikan jawaban yang

target,disiplin dan tegas,akan positif terhadap gaya

tetapi tidak menghilangkan kepemimpinan Camat Toapaya

sifat hangat dan ramah dan karena dengan gaya partisipatif

selalu memusyawarhkan akan memunculkan rasa saling

setiap program yang akan menghargai antara atasan dan

direncanakan dan dikerjakan bawahan,juga keinginan

20
bawahan dan atasan akan sama- VI. DAFTAR PUSTAKA

sama terakomodir.
Referensi Buku :
Akan tetapi dengan gaya
Budiman, Arief, 1995. Teori
partisipatif membutuhkan
Pembangunan Dunia Ketiga,
keseimbangan hubungan,dalam
Penerbit: PT.Gramedia Pustaka
hal ini adalah hubungan
Utama, Jakarta
pimpinan dengan daerah-daerah

yang dipimpinnya.Di Kecamatan Gibson, James L., Ivancevich,

Toapaya masih ada beberapa John M., dan Donnelly, James

tempat yang membutuhkan H. 2000. Organizations:

adanya perbaikan Jalan atau Behavior, Structure, Processes.

jembatan yang kecil sebagai Boston: Irwin McGraw-Hill.

dasar transportasi warga,Peneliti


Handoko, T. Hani, 2003.
memberikan saran ketika
Manajemen. Edisi 2, Penerbit:
musrenbang atau musyawarah
BPFE Yogyakarta.
terkait pembangunan seharusnya

tempat atau daerah yang Hasibuan, Malayu SP. 2012.

dianggap paling parah atau Manajemen Sumber Daya

membutuhkan penanganan cepat Manusia. Edisi Revisi, Jakarta:

untuk diprioriaskan. Bumi Aksara

Hoy, W.K. and Miskel, C.G.,

2008. Educational

Administration: Theory,

21
Research, and Practice. (8th ed.) Sumber Daya Manusia,

New York: McGraw-Hill Penerbit: Grasindo, Jakarta.

Companies, Inc.
Rivai, Veithzal. 2009,

Husein Umar, 1999. Riset Kepemimpinan dan Perilaku

Sumber Daya Manusia, Organisasi (edisi 1). Jakarta:

Penerbit: Gramedia Pustaka Rajawali Press

Utama, Jakarta.
Robbin, Stephen P, 2003.

Kartini, Kartono, 2006. Perilaku Organisasi, Edisi

Pemimpin dan Kepemimpinan, Kesembilan, Jilid 2, Penerbit:

Penerbit: Rajagrafindo Persada, Indeks Kelompok Gramedia,

Jakarta. Jakarta.

Mifta Thoha, 2004. Singarimbun, Masri & Sofian

Kepemimpinan Dalam Efendi, 1995. Metode Penelitian

Manajemen, Penerbit: Raja Survei. PT Pustaka LP3SE Indo,

Grafindo Persada, Jakarta. Jakarta.

Moleong, J Lexy, 2010, Suharnomo, 2004. Trait theory,

Metodologi Penelitian persepsi kesempurnaan manusia

Kualitatif, PT. Remaja dan krisis figur pemimpin:

Rosdakarya, Bandung. model subtitusi kepemimpinan

sebagai alternatif. Jurnal Studi


Rachbini, D.J., 2002.
Manajemen & Organisasi, Vol.
Pengembangan Ekonomi dan
1 No. 1, Januari 2004,

22
Universitas Diponegoro

Semarang.

Udik Budi Wibowo, 2011. Teori

Kepemimpinan. Makalah

disampaikan pada Pembekalan

Ujian Dinas, Badan

Kepegawaian Daerah Kota

Yogyakarta, tanggal 14 Juni

2011. Universitas Negeri

Yogyakarta, Yogyakarta.

Wahjosumidjo.1994.Kepemimpi

nan dan Motivasi. Jakarta:

Ghalia Indonesia

Wirawan, 2001. Kapita Selekta

Teori Kepemimpinan, Jilid I,

Uhamka Press, Jakarta.

Yukl, Gary A., 1989. Leadership

in Organizations. 2nd Ed.New

Jersey: Prentice-Hall

International, Inc.

23