Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KOASISTENSI PATOLOGI VETERINER

STUDI HISTOPATOLOGI SUSPECT INFEKSI CANINE DISTEMPER VIRUS


PADA ANJING
(HISTOPATHOLOGIC STUDY OF SUSPECT CANINE DISTEMPER VIRUS
INFECTION IN DOG)

OLEH :
I MADE AGUS DARMADITHA
NIM. 1209006058
GELOMBANG 9 KELOMPOK H

LABORATORIUM PATOLOGI VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
GAMBARAN PATOLOGI ANATOMI DAN HISTOPATOLOGI SUSPEK
CANINE DISTEMPER PADA ANJING
(DESCRIPTION OF PATHOLOGY ANATOMY AND HISTOPHATOLOGY
SUSPECTED CANINE DISTEMPER IN DOG)
I Made Agus Darmaditha1
Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
Jl. PB. Sudirman, Denpasar
Email : Darmaditha@live.com

ABSTRAK
Telah dilakukan nekropsi untuk melihat perubahan patologi anatomi dan
histopatologi pada anjing mix pom (nomor protokol 24/N/17). Spesimen organ yang
diambil berupa otak, paru-paru, hati, limpa, ginjal, dan vesica urinaria. Pembuatan
preparat histopatologi menggunakan metode pewarnaan Hematoxilin-Eusine. Anjing
kasus berjenis kelamin jantan menunjukkan gejala klinis berupa anoreksia dan eksudat
pada rongga hidung dan mata, teramati sakit selama 4 hari, belum pernah diobati dan di
vaksinasi. Perubahan patologi anatomi yang teramati berupa otak mengalami perdarahan
ringan, paru-paru anemis pada semua lobus, hati mengalami hepatomegaly, limpa
mengalami splenomegaly, kebengkakan ringan pada ginjal dan penebalan pada vesica
urinaria. Secara mikroskopis teramati otak mengalami peningkatan julah sel glia, paru-
paru mengalami bronkopneumonia dan dijumpai infiltrasi sel radang, kongesti dan
edema. Pada hati dijumpai degenerasi hydrofik, degenerasi melemak, nekrosis dan
infiltrasi sel radang serta kongesti. Limpa mengalami kongesti serta infiltrasi sel radang
dan pada epitel vesica urinaria dijumpai inclusion bodies serta ginjal yang mengalami
atrofi glomerulonefritis. Berdasarkan riwayat kasus, gejala klinis, perubahan patologi
anatomi dan histopatologi mengarah pada penyakit canine distemper.

Kata kunci : suspek canine distemper, patologi anatomi, histopatologi

ABSTRAC
Necropsy has been done to look at changes in anatomical and histopathological
pathology in mix pom dog (protocol number 24 / N / 17). Organ specimens taken in the
form of brain, lungs, liver, spleen, kidney, and vesica urinaria. Preparation of
histopathology using Hematoxilin-Eusine staining method. Male-male case dogs show
clinical symptoms of anorexia and exudate in the nasal cavity and eye, observed pain for
4 days, have not been treated and vaccinated. Changes in anatomical pathology observed
in the form of cerebral hemorrhage, lung anemic in all lobes, hepatomegaly liver,
splenomegaly spleen, mild swelling of the kidney and thickening of urinary vesica.
Microscopically observed the brain has increased julah glia cells, the lungs undergo
bronkopneumonia and infiltration cells found inflammation, congestion and edema. In
the liver is found hydrophic degeneration, degeneration of fat, necrosis and infiltration of
inflammatory cells and congestion. The spleen experiences congestion and infiltration of
inflammatory cells and in vesica urinary epithelium there are inclusion bodies and kidney
with glomerulonephritis atrophy. Based on case history, clinical symptoms, anatomic and
histopathologic pathology changes lead to canine distemper disease.

Key word : local dog, suspect canine distemper, anatomic pathology, histophatoly
PENDAHULUAN

Memelihara anjing merupakan suatu hal yang sering ditemukan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dewasa ini anjing sudah menjadi hewan kesayangan yang
pemeliharaannya sangat diperhatikan akan tetapi walaupun sudah dirawat dengan intensif
tidak jarang anjing juga mengalami sakit bahkan kematian. Menurut Selvaraju, (2012)
ada beberapa penyakit yang sering kali menyerang anjing seperti parvo, distemper, kennel
cough, ring worm, scabies, infectious dhiearel disease, coccidia, dan campylobacteria.
Penyakit distemper adalah salah satu penyakit menular pada anjing yang telah lama
dikenal dan masih banyak ditemukan di dunia (Rikula, 2008). Penyakit distemper sering
menjadi kekhawatiran pemilik anjing, walaupun telah divaksinasi sesuai yang
diprogramkan.
Sempel anjing jenis mix pom diperoleh dari pemilik atas nama Ibu Made Rai banjar
Kaja desa Panjer Denpasar Selatan. Anjing tersebut berjenis kelamin jantan, berumur
sekitar 3 bulan dengan berat badan 1,8 kg. Diberikan makan nasi dengan dog food serta
air minum langsung dari kran. Anjing ini dipelihara bersama dengan 1 temannya yang
sudah mati dengan gejala klinis yang sama, kedua anjing ini dipelihara tanpa
dikandangkan dan disekitar rumah banyak dijumpai anjing yang berkeliaran. Anjing
tersebut dikatakan sakit dari awal ditemukan sekitar 4 hari yang lalu, dengan gejala lemas,
anoreksia, dehidrasi serta pada bagian mata dan hidung mengeluarkan eksudat
mukopurulen berwarna putih keabuan. Anjing ini tidak pernah divaksinasi dan diobati
sejak menunjukkan gejala klinis.

Anjing dibawa ke laboratorium patologi FKH Udayana, kemudian dilakukan


nekropsi pada hari kamis tanggal 17 Maret 2017, dengan didampingi oleh staf dosen
laboratorium patologi. Terlebih dahulu dilakukan eutanasia dengan metode emboli intra
cardiac, nekropsi dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar dan spesimen organ yang
diambil sesuai dengan protokol nomor 24/N/17. Perubahan patologi anatomi berupa
adanya perdarahan ringan pada sulkus otak, trachea hyperemi, hati mengalami
hepatomegaly ringan dan limpa mengalami splenomegaly ringan, penebalan juga
dijumpai pada vesica urinaria, ginjal mengalami kebengkakan ringan, serta paru-paru
anemis.
Berdasarkan riwayat kasus, gejala klinis, dan perubahan patologi anatomi yang
terjadi, diagnosa tentatif untuk kasus ini lebih mengarah ke infeksi cannine distemper
virus. Terlihat pada beberapa organ terutama pada sistem respirasi, urinasi, dan sistem
saraf mengalami perubahan ketika terkena distemper. Menurut Zhao et al., (2009)
distemper merupakan penyakit yang dapat menyebabkan multi infeksi pada tubuh seperti,
otak, sistem respirasi, pencernaan, dan sistem urinasi. Kejadian distemper pada anjing
sering dikelirukan dengan infeksi saluran pernapasan atau cannine infectious respiratory
disease yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Menuerut Vieson et al., (2012)
gejala klinis yang tampak pada kasus cannine infectious respirator disease adalah adanya
leleran pada lubang hidung dan ketika pembukaan daerah thorac paru-paru terlihat
berwarna merah sampai kecokelatan gejala yang hampir sama ditemukan pada canine
distemper. Untuk memperoleh diagnosa yang lebih akurat, sangatlah penting dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut organ yang mengalami perubahan patologi anatomi, dengan
pembuatan preparat histopatologi selanjutnya diamati perubahan secara mikroskopis.

MATERI DAN METODE


Materi
Hewan sampel adalah anjing jenis mix pom dengan gejala klinis lemas, anoreksia,
dehidrasi serta terdapat eksudat mukopurulen pada mata dan hidung. Selanjutanya
dilakukan eutasia dengan metode emboli intra kardiak. Spesimen yang diambil adalah
organ otak, trakea, paru-paru, jantung, hati, limpa, ginjal, vesica urinaria, lambung, dan
usus. Sampel kemudian diambil dengan ukuran 1x1x1 cm selanjutnya dimasukan ke
dalam Neutral Buffer Formalin 10% yang selanjutnya nanti akan dibuat preparat
histopatologi.
Metode
Proses Pembuatan preparat histopatologi sampel jaringan disesuaikan dengan
metode pembuatan preparat menurut Kiernan (2010). Sampel dimasukkan ke dalam
Neutral Buffer Formalin 10%, kemudian diproses di dalam tissue processor untuk dibuat
preparat. Preparat diwarnai dengan pewarnaan Hematoxilin-Eosin (HE). Pengamatan
sediaan dilakukan menggunakan mikroskop cahaya binokuler masing-masing dengan
pembesaran 100X, 200X, dan 1000X.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Nekropsi dilakukan pada tanggal 17 Maret 2017, dapat diamati perubahan yang
terjadi pada organ anjing dengan gejala klinis lemas, anoreksia, eksudat pada lubang
hidung dan mata. Gambaran gejala klinis dan patologi anatomi dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

b c

Gambar 1. a. eksudat mukopurulen pada rongga hidung dan mata,


b. Tampak hewan kasus saat dibuka rongga thorak dan abdomen,
c. Tampak orga hewan kasus setelah dikeluarkan dari rongga
thorak dan abdomen.
a b

c d

e f

Gambar 2. a. hati mengalami hepatomegaly ringan, b. limpa mengalami


splenomegali, c. paru-paru anemis, d. ginjal mengalami kebengkakan
ringan, e. otak mengalami perdarahan ringan, f. vesica urinaria
mengalami penebalan.
a
Gambar 3. a. Tampak saluran pencernaan normal.

Setelah pemerikasan patologi anatomi organ yang mengalami perubahan


kemudanian dilakukan pembuatan preparat histopatologi dengan pemawarna
Hematoxilline Eusine (HE). Berdasarkan pemeriksaan preparat histopatologi diperoleh
hasil sebagai berikut.

3
1 2
4

1
2 a b
Gambar 4. Keterangan :
a. Paru-paru : 1. ditemukan infiltrasi sel radang mulai dari septa alveoli hingga lumen
bronceolus (broncopnemonia) 2. Ditemukan kongesti dan 3. Odema dan 4.
Hemorrhagi pada lumen bronceolus, (100X) HE,
b. Paru-paru : 1. ditemukan infiltrasi sel radang dan makrofag pada lumen bronceolus
(1000X) HE
1
2
1
2

a b
Gambar 5. Keterangan
a. Otak : 1. Ditemukan peningkatan jumlah sel glia, 2. Vakuola dengan nukleus
piknosis (100X) HE,
b. Otak : 1. Vakuola dengan nukleus piknosis, 2. Sel glia (1000X) HE

1
2
1
2

a b
Gambar 6. Keterangan :
a. Vesica Urinaria : 1. Ditemukan infiltrasi sel radang pada submucosa hingga epitel,
2. Ditemukan inclusion body pada epitel (200X) HE
b. Vesica urinaria : 1. Ditemukan inclusion bodies itera sitopasma pada epitel vesica
urinaria, dan 2. Degenerasi epitel (1000X) HE

1
4
1 2
2

a 3 b
Gambar 7. Keterangan :
a. Hati : 1. Ditemukan kongesti pada vena central, 2. Infiltrasi sel radang limfosit
pada interlobular (100X) HE,
b. Hati : 1. Ditemukan degenerasi hidrofik, 2. Nekrosis, 3. Degenerasi melemak, dan
4. Infiltrasi sel radang pada sinosoids hati (1000X) HE
2 2

1
1
3

a b
Gambar 8. Keterangan :
a. Limpa : 1. Ditemukan kongesti pada germinal center splenic nudul dan infiltrasi
sel radang.
b. Ginjal : 1. Ditemukan atrofi glomerulus, 2. infiltrasi sel radang pada glomerulus
dan 3. Tubulus-tubulus ginjal (glomerulonefritis)

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan wawancara terhadap pemilik, gejala klinis yang
dialami anjing kasus dengan nomor protokol 24/N/17 yaitu muntah, anoreksia, lemas, dan
adanya eksudat pada mata dan hidung. Anjing dieutenasi 4 hari setelah munculnya gejala
klinis. Penyakit distemper pada anjing menimbulkan gejala klinis berupa depresi, lemas,
eksudat dari mata dan hidung, batuk, muntah, atau diare, namun pada infeksi yang sudah
parah dapat teramati gangguan saraf seperti kejang atau ataksia (Cote, 2011). Virus
distemper yang bersifat subklinis dan dalam jangka waktu yang lama juga dapat
menginfeksi kulit, sehingga telapak kaki anjing menjadi keras dan menebal. Selain itu,
virus juga menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga merusak kemampuan tubuh untuk
melawan infeksi (Legendre 2005).
Distemper adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus genus
Morbillivirus fmili Paramyxoviridae. Penyebaran penyakit distemper kebanyakan
melalui kontak saluran pernapasan, virus masuk ke dalam saluran respirasi dan
menembus epitel saluran pernapasan kemudian bereplikasi, terjadi viremia, dan
menimbulkan infeksi (Greence, 1984). Berdasarkan keterangan pemilik, anjing ini
berumur sekitar 3 bulan dan belum divaksinasi. Infeksi virus distemper pada anjing juga
dipengaruhi oleh tingkat kekebalan imun meliputi satus vaksinasi dan tingkat
kedewasaan. Penelitian yang dilakukan oleh Erawan, (2009) kejadian penyakit distemper
lebih dominan pada anjing di bawah satu tahun positif distemper sebanyak 4,97%
sementara pada anjing di atas satu tahun 1,05% .
Adanya paparan oleh agen penyakit tertentu akan berakibat terhadap perubahan
patologi anatomi dan histopatologi pada beberapa organ. Pemeriksaan makroskopis
terlihat sedikit perdarahan pada sulkus otak yang merupakan salah satu respons
peradangan alamiah tubuh terhadap agen infeksius yang masuk. Pada pemeriksaan
mikroskopis terlihat otak mengalami peningkatan jumlah sel glia dan vakuola mengalami
piknosis. Menurut Krakowka, (1987) setelah lebih dari 6 hari infeksi virus distemper akan
menuju sistem saraf pusat, ditandai dengan kerusakan pada sel sel otak. Karakteristik
yang khas pada infeksi distemper pada pemeriksaan histopalogi yaitu adanya vaskulitis
dengan infiltrasi sel-sel radang limposit (Headly et al.,2009)
Masuknya virus distemper melalui inhalasi pernapasan selanjutanya akan kontak
dengan epitel saluran pernapasan berpotensi mengakibatkan kerusakan saluran respirasi
seperti trakea sampai paru-paru. Patologi anatomi organ paru-paru yang terlihat pada
kasus ini menunjukkan perubahan warna menjadi lebih pucat, menunjukkan bahwa telah
terjadi infeksi yang kronis sehingga mengakibatkan sel paru-paru mengalami nekrosis.
Menurut Kardena, (2011), perubahan yang umum terjadi pada organ anjing yang
terinfeksi distemper meliputi pada paru-paru terlihat ada zona nekrosis atau infark dengan
warna pucat. Pemeriksaan histopatologi paru-paru mengalami infiltrasi sel radang dan
makrofag dari lumen bronkiolus sampai septa alveoli atau disebut bronkopneumonia dan
juga dijupai adanya kongesti. Penelitan histopatolgi paru-paru anjing terinfeksi penyakit
distemper oleh Kardena et al., (2011) pemeriksaan mikroskopis paru-paru anjing lokal di
Bali yang terinfeksi penyakit distemper, tampak septa alveoli mengalami penebalan dan
terinfiltrasi oleh sel-sel radang.
Organ pertahanan seperti limpa mengalami terlihat mengalami pembesaran atau
splenomegali dan hati juga mengalami hepatomegaly menunjukkan sedang mengalami
respons peradangan. Perubahan morfologi dikuatkan dengan pemeriksaan mikroskopis
limpa ditemukan adanya kongesti dan infiltrasi sel radang. Pada pemeriksaan
mikroskopis hati ditemukan adanya kongesti pada central vein, infiltrasi sel radang pada
interlobular, degenerasi hidrofik, nekrosis, dan degenerasi melemak pada lamina hati.
Pembesaran organ limpoid merupakan suatu tanda aktifnya sel-sel pertahanan tubuh
untuk menekan infeksi agen yang masuk (Liang et al., 2007).
Perubahan patologi anatomi juga ditemukan pada beberapa organ seperti
kebengkakan ringan pada ginjal dan penebalan vesica urinaria. Setelah dilakukan
pemeriksaan mikroskopis pada ginjal ditemukan infiltrasi sel radang pada bagian tubulus
dan glumerulus serta terjadi atropi glumerulus. Vesica urinaria pada bagian epitel
ditemukan inclusion bodies dan juga terjadi kerusakan epitel. Ditemukanmya inclusion
bodies pada epitel vesica urinaria merupakan ciri khas adanya infeksi virus distemper.
Penelitian yang dilakukan oleh Sitepu et al., (2013) tentang perubahan histopatologi ajing
terinfeksi distemper diperoleh perubahan histopatologi yaitu, hepar mengalami kongesti
dan perdarahan pada tubulus ginjal. Penelitian yang sama dilakukan oleh Headly et al.,
(2009) dalam penelitian tersbut, ditemukan perubahan pada organ seperti, otak, paru-
paru, limpa, dan vesica urinaria. Ditemukannya infeksi pada beberapa organ
mempertegas bahwa infeksi virus distemper ditandai dengan multi infeksi pada organ
tubuh.
Kejadian infeksi distemper dilapangan sering kali dikelirukan dengan infeksi oleh
agen penyakit yang lain. Berdasarkan gejala klinis yang terlihat seperti leleran pada
hidung dan mata serta perubahan patologi anatomi yang terjadi kususnya pada organ paru
paru. Hal ini serupa dengan penyakit canine infectious respirator disease (CIRD). CIRD
infeksi saluran respirasi yang disebabkan oleh bakterial, protozoa, dan parasit (Jhoana,
2012). Infeksi canin distemper berpotensi menyebabkan imunosurpresif sehingga
memicu infeksi sekunder bakteri, jamur, protozoa, dan parasit bahkan infeksi virus lain
seperti infeksi parvo virus. Kejadian seperti ini biasanya terjadi pada anjing muda terlebih
dengan kondisi defisiensi nutrisi.
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan data riwayat kasus, gejala klinis, patologi antomi, dan histopatologi
anjing kasus dengan nomor protokol 24/N/17 diduga terinfeksi Canine Distemper Virus.
Saran
Kejadian infeksi virus pada anjing akan berakibat pada susahnya pengobatan dan
bahkan kematian. Sehingga perlu kesadaran untuk vaksinasi hewan peliharaan dengan
teratur. Menjaga kebersihan kandang, lingkungan tempat hewan, tempat makan maupun
pakaian pemilik yang dapat menjadi media kontaminasi penyebaran virus. Perlu
dilakukan pengawasan dan perhatian terhadap anjing peliharaan sehingga anjing akan
sehat dan terbebas dari infeksi virus.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada teman-teman kelompok 9H, Dosen pembimbing Pendidikan
Profesi Dokter Hewan (PPDH), teknisi Laboratorium Patologi Veteriner Kedokteran
Hewan Universitas Udayana yang membantu selama pelaksanaan proses pembuatan
preparat histopatologi.
DAFTAR PUSTAKA

Cote E.. 2011. Clinical Veterinary Advisor: dogs and cats second edition. USA: Mosby
.Inc.
Erawan, IG.M.K.,IN.Suartha.,IW.Batan.2009. Analisis Faktor Risiko Penyakit
Distemper pada Anjing di Denpasar. Jurnal Veteriner Vol. 10 No. 3.
Greene, C.E., M. Appel.1984. Canine distemper.In GreeneCE (ed.) Clinical
microbiology and infectious disease of the dog and cat. W.B Saunders.
Philadelphia: 386–405.
Headley, S.A., A.Sukura.2009. Naturally Occurring Systemic Canine Distemper Virus
Infection in a Pup. Braz J. Vet Pathol. Vol.2 No.2. 95-101.
Jhoana, F and D.P. Burney. 2012. Canine Infectious Respiratory Disease. Cliniciansbrief.
34-38.
Kardena,IM.,IB.O.Wianya.,IK.Berata.2011. Gambaran Patologi Paru-Paru Pada Anjing
Lokal Bali Yang Terinfeksi Penyakit Distemper. Buletin Veteriner Udayana. Vol.
3 No.1. 17-24.
Kiernan, J.A. 2010. General Oversight Stains for Histology and Histopatology,
Education Guide : Special Stains and H&E 2nd. North America. Carpinteria.
California : Dako. Page : 29-36
Krakowka, S., S.S. Ringler, M. Lewis, R.G. Olsen, M.K.Axthelm.1987
Immunosuppression by canine distemper virus: modulation of in vitro
immunoglobulin synthesis, interleukin release and prostaglandin E2 production.
Veterinary Immunology and Immunopathology 15: 181–201.
Legendre AM. 2005. Ettinger and Feldman Textbook of Veterinary Internal Medicine.
London: Elsevier Inc.
Liang, C. T., Chueh, L.L., Pang, V.F., Zhuo, Y.X., Liang, S.C., Yu, C.K.,Chiang, H., Lee,
C.C., Liu, C.H. (2007). A Non-biotin Polymerized Horseradish-peroxidase
Method for the Immuno histochemical Diagnosis of Canine Distemper. Journal
of Comparative Pathology. Vol.136 No.1 57-64.
Selvaraju, S.,2012. Health Management In Dog And Cat Shelters. Faculty of Veterinary
Medicine Bogor Agricultural University. Bogor. 21-22.
Sitepu, Y.V.,IM. Kardena.,IK.Berata.2013.Gambaran Histopatologi Penyakit distemper
pada Anjing Umur 2 sampai 12 Bulan. Indonesia Medicus Veterinus. Vol.2 No.5
528 – 537.
Zhao, J., Y.Yan., X.Chai.,V. Martella., G.Luo., H.Zhang., H.Gao., Y.Liu., X.Bai.,
L.Zhang., T.Chen., L.Xu., C.Zhao., F.Wang., X.Shao., W.Wu., S.Cheng. (2009).
Phylogenetic Analysis of the Haemaglutinin Gene of Canine Distemper Virus
Strains Detected from Breeding Foxes, Racoon, Dogs and Minks in China.
Veterinary Microbiology 40(1-2): 34-42.