Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi,
memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri
peserta didik. Proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari perencanaan
pembelajaran. Perencanaan pembelajaran harus dengan sengaja
diorganisasikan dengan baik agar dapat menumbuhkan proses belajar yang
baik yang pada gilirannya dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Proses
pembelajaran agar dapat terkonsepsikan dengan baik, maka seorang guru
dituntut untuk mampu menyusun dan merumuskan Perencanaan
pembelajaran secara jelas dan tegas.
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin
mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil
teknologi dalam proses belajar mengajar. Kemajuan di bidang teknologi
pendidikan, maupun teknologi pembelajaran, menuntut digunakannya
berbagai media pembelajaran. Pembelajaran yang dirancang secara baik dan
kreatif dengan memanfaatkan teknologi multimedia, dalam batas-batas
tertentu akan dapat memperbesar kemungkinan siswa untuk belajar lebih
banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan
kualitas pembelajaran. Oleh karena itu para guru dituntut agar mampu
memahami, memanfaatkan alat-alat yang tersedia atau media pembelajaran
dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Untuk memahami hal tersebut, pemakalah menerapkan penggunaan
media sebagai sarana dalam pelaksanaan perencanaan pembelajaran. Media
pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang
mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan
media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru /
fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru /
fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran
agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses

1
belajar mengajar. Dalam makalah ini kami akan mencoba, memberikan
penjelasan secara singkat tentang perencanaan media dalam pembelajaran.
Semoga makalah ini memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti
tengah, perantara atau pengantar. Association for Education and
Comunication Technology (AECT) mendefinisikan media yaitu segala
bentuk yang digunakan untuk suatu proses penyaluran informasi.
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu
proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang
dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung
terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal (Gagne dan
Briggs, 1979: 3). Pembelajaran adalah segala upaya untuk menciptakan
kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah
(facilitated) yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri
peserta didik.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa
perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil
pembelajaran secara efektif dan efisien, serta tujuan pembelajaran dapat
dicapai dengan mudah.
Secara khusus, media pembelajaran pendidikan agama Islam adalah
alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan
komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran
pendidikan agama islam di sekolah.
Kalau kita perhatikan perkembangan media pembelajaran ini pada
mulanya hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar bagi seorang guru. Alat
bantu yang dipakai adalah alat bantu visual yaitu berupa gambar, model,
objek dan media lain yang dapat memberikan pengalaman konkret dan

3
motivasi belajar sehingga dapat mempertinggi daya serap dan hasil belajar
siswa.1

B. Mengidentifikasi Pembagian Media-media Pembelajaran


Media pembelajaran digunakan dalam rangka upaya peningkatan mutu
proses kegiatan belajar mengajar. Dalam perkembangannya media
pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi yang paling tua
yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah percetakan yang bekerja atas
dasar prinsip mekanis. Kemudian lahir teknologi audio visual yang
menggabungkan penemuan mekanis dan elektronis untuk tujuan
pembelajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalah teknologi mikro
prosesor yang melahirkan pemakaian komputer dan kegiatan interaktif.
Pengklasifikasian media pembelajaran berdasarkan rangsangan belajar
menurut Briggs lebih menekankan pada karakteristik menurut stimulus atau
rangsangan yang dapat ditimbulkannya daripada media itu sendiri, yakni
kesesuaian rangsangan tersebut dengan karakteristik siswa, tugas
pembelajaran, bahan dan transmisinya. Di samping itu Briggs
mengidentifikasi macam-macam media yang dipergunakan dalam proses
belajar mengajar, yaitu; objek, model, suara langsung, rekaman audio, media
cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai,
film, televisi dan gambar.
Klasifikasi media pembelajaran berdasarkan fungsi pembelajaran
menurut Gagne ada 7 macam pengelompokan media yaitu; benda untuk
didemonstrasikan, komunikasi lisan, gambar cetak, gambar diam, gambar
gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ke tujuh macam pengelompokan
media tersebut kemudian dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi fungsi
menurut tingkat hierarki belajar yang dikembangkannya, yaitu: pelontar
stimulus dan penarik minat belajar.

1
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),
hlm. 27 – 31.

4
Klasifikasi media pembelajaran berdasarkan hierarki pemanfaatannya
menurut Duncan, semakin rumit jenis perangkat media yang dipakai semakin
mahal biaya investasinya, semakin susah pengadaannya dan semakin luas
lingkup penggunaannya. Sebaliknya semakin rendah perangkat media yang
digunakan biaya akan menjadi murah, pengadaannya lebih mudah, sifat
penggunaannya lebih khusus dan lingkup sasarannya.2

C. Langkah-langkah dalam Perencanaan Media Pengajaran


Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam perencanaan media
pembelajaran. Pendapat Gagne dan Briggs menyarankan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran
2. Mengklasifikasikan tujuan berdasarkan domain atau tipe belajar
3. Memilih peristiwa-peristiwa pengajaran yang akan berlangsung
4. Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa
5. Mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa dalam
pengajaran
6. Mempertimbangkan (berdasarkan nilai kegunaan) media yang dipakai
7. Menentukan media yang terpilihkan digunakan
8. Menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut
9. Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap peristiwa
10. Menuliskan script pembicaraan dalam penggunaan media.
Secara umum dapat diperinci langkah-langkah perencanaan media
sebagai berikut:
1. Identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa.
Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara
apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Dalam proses
belajar, yang dimaksud dengan kebutuhan adalah kesenjangan antara

2
Schramm, Wilbur. Big Media Little Media: Tolls ang verly Hills. Callifornia, 1977.
AECT.”The Definition of Educational Technology “,1977. Edisi Indonesia diterbitkan CV
Rajawali dengan judul Defenisi Teknologi Pendidikan.( SERI PUSTAKA TEKNOLOGI
PENDIDIKAN NO.7

5
kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang kita inginkan dengan
kemampuan, keterampilan dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.
2. Merumuskan tujuan instruksional (Instructional objective) dengan
operasional dan khas.
Untuk dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, tujuan
instruksional harus berorientasi kepada siswa. Tujuan harus dinyatakan
dengan kata kerja yang operasional, artinya kata kerja itu menunjukkan
suatu prilaku/perbuatan yang dapat diamati atau diukur.
3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung
tercapainya tujuan.
Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub
kemampuan atau keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus
pembelajaran, sehingga materi yang disusun adalah dalam rangka
mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan proses belajar mengajar
tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci maka langkah selanjutnya
adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai kepada tingkatan
yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkret kepada yang abstrak.
4. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan.
Alat pengukur keberhasilan ini harus dikembangkan sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang
disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan,
penugasan atau cheklist prilaku. Instrumen tersebut akan digunakan oleh
pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media
yang dikembangkannya.
5. Menulis naskah media.
Naskah media adalah bentuk penyajian materi pembelajaran melalui
media rancangan yang merupakan penjabaran dari pokok-pokok materi
yang telah disusun secara baik seperti yang telah dijelaskan di atas. Supaya
materi pembelajaran itu dapat disampaikan melalui media, maka materi
tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar yang kita sebut
naskah program media.

6
6. Mengadakan tes dan revisi.
Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat
efektivitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang
diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh
pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik,
atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang
ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.3

D. Pengadaannya Media
Dilihat dari pengadaannya media dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
Media jadi dan media rancangan
1. Media jadi ( Media by utilization )
Yaitu, media yang sudah ada di sekolah dan yang tersedia di pasaran,
dalam hal ini media yang dirancang khusus oleh perusahaan tertentu sesuai
dengan kurikulum yang berlaku dan biasanya dibuat secara masal. Disebut
juga media siap pakai.
Kelebihan dari mendia jadi yaitu:
a. Hemat waktu: Guru tidak usah repot-repot mencari media pembelajara
karena mungkin sekolah sekolah sudah mempunyai dan tinggal
menggunakan.
b. Hemat biaya : Jika dibandingkan dengan membuat sendiri harga media
jadi jauh lebih murah.
c. Hemat tenaga: Guru tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga dan
memeras otak untuk merancang media pembelajaran karena memang
sudah tersedia.
d. Dijual bebas
Kekurangan dari media jadi ;
a. Belum tentu sesuai dengan tujuan atau kebutuhan dalam proses
pembelajaran Contoh sederhana : Pada saat kita menyampaikan

3
Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar ,Jakarta: PT Rineka
Cipta

7
pelajaran IPS tentang wilayah Indonesia, peta Indonesia yang tersedia
di sekolah ukurannya kecil , dilihat dari siswa yang duduk dibelakang
tidak jelas. Hal ini akan mengganggu siswa untuk dapat menerima
informasi atau tujuan pembelajaran yang kita sampaikan.
b. Budaya konsumtif : menggantungkan membeli produk yang dibuat
orang lain.
c. Kurang kreatif : Tidak mau berinisiatif untuk mempuat produk media
pembelajaran sendiri dikarnakan terbiasa menggunakan produk orang
lain.4
2. Media rancangan ( media by design )
Yaitu, media yang dirancang sendiri khusus oleh guru sesuai dengan
tujuan kebutuhan pembelajaran tertentu dan biasanya tidak ada di pasaran.
Kelebihan media rancangan :
a. Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, karena dirancang
khusus oleh guru atau dibuat sendiri oleh guru.
Contoh sederhana : Pada saat pelajaran IPA tentang rangkaian listrik
seri dan pararel guru hanya menunjukkan gambar saja dari masing-
masing rangkaian listrik tersebut. Hal ini sangat tidak efisien dan efektif
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kecuali apabila guru bersama-
sama murid merancang membuat rangkaian listrik seri dan pararel
sendiri jauh lebih berhasil tujuan pembelajaran yang di harapkan.
b. Menumbukan kreatifitas : Mampu membuat karya dan mewujudkan
ide-ide dalam menciptakan media pembeajaran.
c. Kebanggan institusi / personil : Karena dengan banyaknya media
pembelajaran yang dirancang sendiri oleh guru di sekolah tersebut akan
dapat membawa nama harum sekolah. Misalnya karya guru tersebut
diikutkan dalam lomba membuat alat pembelajaran.

4
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 3 –
4.

8
Banyaknya media pembelajaran sekarang ini, guru dituntut untuk lebih
selektif dalam memilih media untuk dapat memenuhui kebutuhan
pembelajaran sehingga tujuan yang diharapkan dapat benar-benar tercapai.
Beberapa alasan mengapa pengajar menggunakan / memilih media
pengajaran, diantaranya ;
1. Bermaksud mendemonstrasikan
Dalam hal ini media digunakan sebagai alat untuk
mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek kegunaan, cara
mengoperasikan dan lain-lain. Media berfungsi sebagai alat peraga
pembelajaran.
Contoh:
Ketika seorang guru membelajarkan pelajaran IPA tentang
mengamati “STOMATA” pada daun dengan melihat menggunakan
mikroskop. Sebelum siswa meletakkan objek yang akan diamati pada
mikroskop, terlebih dulu guru menunjukkan cara kerja mikroskop sesuai
dengan prosedur yang benar , cara ini akan memperlancar proses belajar
dan menghindari resiko kerusakan pada alat mikroskop.
Banyak contoh pada pelajaran olah raga .
2. Merasa akrab dengan media tersebut( familiarity )
Guru sudah terbiasa dengan media tersebut dan benar-benar sudah
menguasai penggunaan media tersebut , jika menggunakan media lain
perlu waktu untuk mempelajari, maka secara terus menerus menggunakan
media itu-itu saja tanpa ada inovatif.
Contoh:
Seorang dozen yang sudah terbiasa menggunakan media OHP ( Over
Head Projector ) dan OHT ( Over Head Transparancy ) , kebiasaan
menggunakan media tersebut didasarkan atas alasan karena sudah akrab
dan menguasai secara detil dari media tersebut, meski sebaiknya seorang
guru harus lebih variatif dalam memilih media, dalam konsepnya tidak ada
satu media yang sempurna , dalam arti kata dapat digunakan sesuai dengan

9
semua tujuan pembelajaran, sesuai dengan semua situasi dan sesuai
dengan karakteristik siswa.
Media yang baik adalah media yang bersifat kontekstual (
tergantung pada keadaan ) dan realistis ( kenyataan ) kebutuhan belajar
yang dihadapi siswa. Jika kita lihat contoh di atas , media OHP cocok
untuk mengajarkan hal-hal yang bersifat konsep dan aspek-aspek kognetif,
dapat digunakan dengan jumlah siswa maksimal 50 orang dengan ruangan
yang tidak terlalu besar dan siswa cenderung pasif tidak melibatkan siswa
secara optimal dari segi potensi mental, emosional, dan motor skill, karena
motor pembelajaran ada pada guru. Tentu saja OHP kurang tepat
mengajaran ketrampilan yang membutuhkan demostrasi, praktek langsung
yang membuat siswa lebih aktif secara fisik dan mental. Alasan familiarity
tidak selamanya tepat, jika tidak memperhatikan tujuan . meski demikian
alasan ini cukup banyak terjadi dalam pembelajaran.
3. Untuk memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit
(clarity)
Alasan ketiga mengapa guru menggunakan media adalah untuk
memberikan gambaran dan penjelasan lebih kongkrit. Pada praktek
pembelajaran masih banyak guru tidak menggunakan media tanpa media ,
media yang digunakan dengan ceramah ( ekspositori ), cara seperti ini
memang tidak merepotkan guru untuk menyiapkan media, cukup dengan
menguasai materi , pembelajaran dapat berlangsung, namun apakah
pembelajaran ini akan berhasil ? cara seperti ini akan mengakibatkan
verbalistis ( hanya lisan ) yaitu pesan yang disampaikan guru tidak sama
dengan persepsi siswa, mengapa hal itu bisa terjadi ? karena pesan yang
disampaikan guru kurang kongkrit, jika guru tidak mampu secara detil dan
spesifik menjelaskan pesan pembelajaran , maka verbalistis akan terjadi.
Contoh
Seorang guru SD mengajarkan bidang studi IPA sedang menjelaskan
ciri-ciri makhluk hidup, diantaranya dapat bernafas dengan insang dan
paru-paru. Jika guru tidak cermat mengemas informasi dengan baik hanya

10
ceramah saja maka siswa tidak pernah melihat bentuk insang dan paru-
paru makan akan membayangkan bentu-bentuk lain yang tidak sesuai
dengan kenyataan. Disinilah banyak pengguna media, memiliki alasan
bahwa menggunakan media adalah untuk membuat informasi lebih jelas
dan kongkrit sesuai kenyataan. Alasan ini lebih tepat dipilih guru
disbanding dengan alasan kedua.
4. Menarik minat gairah siswa / belajar aktif ( aktive learning )
Tidak bisa dipungkiri , bahwa media dapat berbuat lebih dari yang
bisa dilakukan oleh guru. Salah satu aspek yang harus diupayakan guru
dalam pembelajaran adalah siswa harus berperan aktif, baik secara fisik,
mental, maupun emosional. Dalam prakteknya guru tidak selamanya dapat
membuat siswa aktif hanya dengan cara ceramah, tanya jawab dan lain-
lain namun diperlukan media yang dapat menarik gairah siswa dalam
belajar.
Contoh :
Pada saat guru akan membelajarkan bahasa Indonesia tentang unsur-
unsur cerita dengan menggunakan audio –visiul dan CD , siswa akan lebih
termotivasi dalam proses pembelajarannya dikarnakan seakan-akan dapat
melihat langsung kejadian dalam cerita tanpa harus membayangkan
bagaimana wajah pelaku, karakter pelaku, tempat peristiwa, tokoh
antagonis, protagonis, sampai pada akhir cerita. Di sini siswa merasa lebih
aktif secara kognitif, afektif, dan psikomotor disbanding dengan cerita
yang dibacakan langsung oleh guru. Anak secara langsung akan lebih
mudah dapat menyebutkan unsur-unsur dalam cerita. Dan disini , jelas
penggunaan media membawa dampak yang positif dalam pembelajaran.
Guru hanya memberikan instruksi-instruksi seperlunya. Siswa diberi
kesempatan seluas-luasnya untuk mengapresiasikan dari cerita yang
ditonton melalui media Audio visual dan CD.
Dengan banyaknya pilihan media pembelajaran , guru perlu selektif
memilih media yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ,
perlu memperimbangkan segi positif dan negative dari media yang

11
digunakan, pada dasarnya tiap-tiap media punya karakteristik ( kelebihan
dan kekurangan ). Jika media yang dipakai dapat digunakan memenuhi
kebutuhan dan mencapai tujuan pembelajaran maka perlu digunakan, jika
sebaliknya tinggalkan. Mc. M.Connel ( 1974 ) menegaskan “ if the
medium fits use it “.
Untuk itu yang perlu dipertimbangkan guru dalam memilih media
pengajaran , antara lain ;
a. Disesuaikan dengan tujuan instruksional
Tujuan pengajaran merupakan langkah awal yang hendaknya
dirumuskan guru bersama siswa untuk menghindari adanya
penyimpangan dari proses pembelajaran. Dengan melihat tujuan , maka
guru dapat menentukan media apa yang sesuai dengan tujuan yang
dirumuskan. Tujuan ini pun akan berhasil jika ditunjang dengan media
yang cukup memeadai.
b. Memperhatikan bidang studi yang akan disampaikan
Bidang studi atau materi ajar adalah sesuatu yang akan
disampaikan pada siswa. Siswa akan lebih cepat memahami materi ajar
dengan baik dan kuat diingat apabila dipersiapkan media yang sesuai
dengan karakter bidang studi tersebut. Pada dasarnya tiap-tiap bidang
studi mempunyai karakteristik sendiri.
c. Mengukur alokasi waktu yang tersedia
Disamping media/alat, waktu bisa menjadi penentu keberhasilan
siswa. Terkadang ada guru yang jika waktu mengajur melantur, sampai
tidak mengingat waktu, ada yang kelebihan waktu ( materi sudah habis,
sementara waktu masih tersisa ), da nada pula yang kekurangan waktu.
Oleh karena itu dengan menggunakan media pengajaran ini diharapkan
guru tepat membagi waktu, yaitu berapa lama pendahuluan, penjelasan,
kegiatan siswa, dan evaluasi.
d. Disesuaikan dengan kemampuan ketrampilan guru
Guru mempunyai kompetensi masing-masing. Dengan demikian
tidak semua guru dapat menguasai dan memakai media pembelajaran

12
yang tidak sesuai dengan kompetensi keilmuan yang diberikan pada
siswa. Hal ini akan menjadi boomerang bagi guru.
e. Memperhatikan kemampuan siswa di kelas
Kelas tentu diisi oleh sejumlah siswa yang kapasitas
intelektualnya berbeda-beda dan tiap anak mempunyai gaya belajar
yang berbeda beda. Oleh karenanya , guru hendaknya dapat memilih
media pengajaran yang sesuai dengan kemajemukan siswa, agar tidak
ada siswa yang diuntungkan dan dirugikan.
Model gaya belajar menurut Bobbi DePorter ( 1999 ; 117 )
terdapat 3 gaya belajar siswa :
1) Tipe visual yaitu ; siswa yang mempunyai tipe visual lebih mudah
cara belajarnya dengan menggunakan media visual misalnya : video,
tv, CD, grafis, dan lain-lain. Jelasnya visualnya lebih kuat
menangkap dan merespons.
2) Tipe auditorial ( pendengaran ) yaitu ; siswa yang mempunyai tipe
auditorial lebih mudah cara belajarnya lebih suka mendengarkan
dibantding menulis dan melihat tayangan.
Kebiasaan anak yang punya tipe auditorial , misalnya ; suka bicara
pada dirinya sendiri pada saat bekerja, mudah terganggu oleh
keributan , senang membaca keras dan mendengarkannya, merasa
kesulitan dalam menulis namun mempunyai kecerdasan dalam
berbicara , belajar dengan cara mendengar dan mendiskusikan .
3) Tipe kinestika ( gerak) yaitu ; tipe siswa yang mempunyai kebiasaan
melakukan dibandingkan membaca dan mendengarkan.
Ciri tipe kinestika
a) Berbicara dengan perlahan
b) Menanggapi perhatian dengan phisik
c) Menyentuh orang untuk memperoleh perhatian dari orang lain
d) Belajar dengan cara berjalan dan melihat
e) Menggunakan jari telunjuk ketika membaca dan lain-lain

13
f. Disesuaikan dengan metode pemebelajaran
Metode pengajaran merupakan salah satu komponen yang tidak
dapat dipisah-pisahkan dari proses pembelajaran. Sebaik apapun
metode yang diterapkan oleh guru jika tidak didukung dengan media ,
maka proses pembelajaran akan mengalami hambatan.
g. Memperhatikan jumlah siswa dalam kelas.
Media pengajaran tetap menjadi perhatian ketika guru
menghadapi siswa di kelas dengan jumlah di atas normal. Dengan
media ini banyaknya siswa akan terbantu dalam memahami pelajaran
secara seimbang dan merata .
h. Memperhatikan kapasitas luas sempitnya kelas.
Selengkap dan secanggih apapun medianya, jika tidak sesuai
dengan kapasitas luas-sempitnya kelas akan menimbulkan suatu
masalah. Karena itu media hendaknya dapat mengatasi masalah itu.5

5
Azhar Arsyad, Media... (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 67.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu
proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang
dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung
terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal (Gagne dan
Briggs, 1979: 3). Pembelajaran adalah segala upaya untuk menciptakan
kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah
(facilitated) yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri
peserta didik.
1. Media jadi ( Media by utilization )
Yaitu, media yang sudah ada di sekolah dan yang tersedia di pasaran,
dalam hal ini media yang dirancang khusus oleh perusahaan tertentu sesuai
dengan kurikulum yang berlaku dan biasanya dibuat secara masal. Disebut
juga media siap pakai.
2. Media rancangan ( media by design )
Yaitu, media yang dirancang sendiri khusus oleh guru sesuai dengan
tujuan kebutuhan pembelajaran tertentu dan biasanya tidak ada di pasaran.

15
DARTAR PUSTAKA

Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers,


2002)

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003)

Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006, Strategi Belajar Mengajar ,Jakarta: PT
Rineka Cipta

Nanna Sudjana dan Ahmad Rivai.2007. Teknologi Pengajaran, Bandung: Sinar


Baru Algensindo

Sadiman, dkk, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan


Pemanfaatannya, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 20.

Schramm, Wilbur. Big Media Little Media: Tolls ang verly Hills. Callifornia,
1977. AECT.”The Definition of Educational Technology “,1977. Edisi
Indonesia diterbitkan CV Rajawali dengan judul Defenisi Teknologi
Pendidikan.( SERI PUSTAKA TEKNOLOGI PENDIDIKAN NO.7

16
MEMILIH MEDIA PENGAJARAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


“Desain Pembelajaran”

AR BIYAH S
UT YE
M
I IL

KH
H TING G

BURH ANUD D
OLA
EK

I
N
S
P AR IAM A N

Disusun oleh kelompok :


PUTRI MARLINA
TRIMIS WELLA

Dosen Pengampu:
MARFIYANTI, M.A

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
(STIT) SYEKH BURHANUDDIN
PARIAMAN 2018 M/ 1440 H

17
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis


ucakan kepada Allah SWT, yang karena bimbingannyalah maka penulis bisa
menyelesaikan sebuah makalah berjudul “Memilih Media Pengajaran”
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu
sehingga menghasilkan karya yang InsyaAllah bisa dipertanggung jawabkan
hasilnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah
membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan
makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar
pada makalah ini. Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih
positif bagi kita semua.

Pariaman, September 2018

Penulis

18
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................ i


Daftar Isi.................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Media Pembelajaran ............................................... 3
B. Mengidentifikasi Pembagian Media-media Pembelajaran ....... 4
C. Langkah-langkah dalam Perencanaan Media Pengajaran......... 5
D. Pengadaannya Media ................................................................ 7

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA

19ii