Anda di halaman 1dari 81

SKRIPSI

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA


PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA
(Studi kasus di wilayah hukum Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel)

OLEH
SUANDI KADIR
B11112627

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
HALAMAN JUDUL

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN

PENYALAHGUNAAN NARKOBA

(Studi kasus di Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel)

Oleh

SUANDI KADIR

B11112627

SKRIPSI

Diajukan sebagai tugas akhir dalam rangka penyelesaian program studi

Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018

i
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Diterangkan bahwa skripsi mahasiswa :

Nama : SUANDI KADIR

Nomor Induk : B 1111 2627

Judul Skripsi : Peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan

penyalahgunaan narkoba

(Studi Kasus di Direktorat Reserse Narkoba Polda

Sulsel).

Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi di

Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

Makassar, Desember 2017

PEMBIMBING I PEMBIMBING II

Prof. Dr. MUHADAR, S.H., M.S. Dr. AMIR ILYAS, S.H., M.H.
NIP 195903171987031002 NIP 198007102006041001

iii
iv
ABSTRAK

Suandi Kadir (B11112627). Peran serta masyarakat dalam upaya


pencegahan penyalahgunaan narkoba, (Studi Kasus di Direktorat Reserse
Narkoba Polda Sulsel). Dibimbing oleh Muhadar selaku pembimbing I dan
Amir Ilyas selaku pembimbing II.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya


penyalahgunaan narkoba dikalangan masyarakat serta untuk mengetahui
upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat dan aparat pemerintah
khususnya aparat Kepolisian sebagai garda terdepan untuk mencegah
terjadinya penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini dilaksanakan di
Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel.

Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan studi


kasus dengan teknik wawancara, observasi, studi dokumen dan kuesioner.
Penelitian ini dilakukan terhadap 5 (lima) orang responden, dari berbagai
profesi, masing-masing 2 orang dari aparat Kepolisian, 1 orang tokoh
agama, 1 orang tokoh masyarakat dan 1 orang tokoh pemuda.

Hasil penelitian penulis, terdapat beberapa faktor yang mendorong


terjadinya penyalahgunaan narkoba dikalangan masyarakat diantaranya
pengaruh lingkungan serta pergaulan bebas, ini dikarenakan kurangnya
pemahaman akan bahaya yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan
narkoba.

Dalam mengatasi penyalahgunaan narkoba dikalangan


masyarakat, upaya-upaya yang harus dilakukan adalah upaya Pre-emtif,
yaitu memberikan penyuluhan atau pencerahan akan bahaya narkoba
kepada para orang tua, upaya Preventif juga berupa patroli rutin dan
pengawasan disertai razia oleh pihak Kepolisian, dan terakhir upaya
Represif dengan cara penegakan hukum serta rehabilitasi untuk para
pengguna narkoba, sehingga dari ketiga upaya tersebut diperlukan
peningkatan fungsi dan bantuan serta peran serta masyarakat.

v
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan

rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat

terselesaikan dengan baik sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

studi (S1) pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, syalawat serta

salam juga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai

panutan seluruh muslim di dunia ini.

Sebagai manusia biasa tentunya tidak luput dari kekurangan dan

kesalahan serta keterbatasan akan pengetahuan, sehingga penulis

menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini, baik materi, teknis

maupun penyusunan kata-katanya belum sempurna sebagaimana

diharapkan. Namun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan dan

bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis

menghaturkan banyak terima kasih dan penghargaan yang sebesar-

besarnya kepada :

vi
1. Bapak Prof. Dr. Muhadar, S.H., M.S. Dosen Fakultas Hukum Unhas

selaku pembimbing I dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum Unhas selaku

pembimbing II dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. Bapak Kombes Pol Drs. Aka Yudha Satriawan selaku Direktur

Reserse Narkoba Polda Sulsel yang sudah membantu memberikan

sarana penelitian dalam penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Prof. Dr. H.M. Said Karim, S.H., M.H., M.Si., CLA. Dosen

Fakultas Hukum Unhas selaku dosen penguji I dalam melaksanakan

ujian skripsi.

5. Bapak Dr. Abd. Asis, S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum Unhas selaku

dosen penguji II dalam melaksanakan ujian skripsi.

6. Ibu Audyna Mayasari Muin, S.H., M.H., CLA. Dosen Fakultas Hukum

Unhas selaku dosen penguji III dalam melaksanakan ujian skripsi.

7. Bapak Sarifuddin, S.Sos. selaku Kasubbag Renmin Direktorat

Reserse Narkoba Polda Sulsel yang sudah banyak memberikan

motifasi 5dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Bapak Penata Sukirman, S.E., M.M. selaku Kaur Min Subbag Renmin

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel yang sudah banyak

memberikan bimbingan, petunjuk serta masukan dalam

menyelesaikan skripsi ini.

vii
9. Seluruh dosen serta para karyawan dan petugas akademik Fakultas

Hukum Universitas Hasanuddin yang sudah memberikan masukan,

petunjuk serta bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, kritik dan

saran juga masih diperlukan namun tetap berharap mampu memberikan

manfaat bagi dunia keilmuan dan kepada semua yang sempat membaca

skripsi ini pada umumnya.

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, Januari 2018

Penulis

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii

DAFTAR ISI................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1

A. Latar belakang ...........................................................................1

B. Rumusan masalah .....................................................................5

C. Tujuan Penelitian .......................................................................5

D. Kegunaan Penelitian .................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................7

A. Peran Serta Masyarakat .................….......................................7

1. Pengertian Peran Serta Masyarakat ....................................7

2. Unsur-unsur yang terlibat ...…............................................11

3. Pengaturan peran serta masyarakat menurut UU RI No 35

Tahun 2009 Tentang Narkotika..........................................15

B. Upaya Pencegahan ...............…..............................................22

1. Pengertian Upaya Pencegahan .........................................22

2. Cara-Cara Pencegahan .....................................................25

C. Penyalahgunaan Narkoba .......................................................28

1. Pengertian Penyalahgunaan Narkoba ...............................28

2. Dampak Penyalahgunaan Narkoba ...................................36

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................43

A. Lokasi Penelitian .....................................................................43

ix
B. Jenis dan Sumber Data ...........................................................43

C. Tehnik dan Pengumpulan Data ...............................................45

D. Tehnik Analisa Data ................................................................48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................52

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian........................................52

B. Tugas Pokok dan Fungsi...........................................................53

C. Struktur Organisasi Satker Direktorat Reserse Narkoba Polda

Sulsel.........................................................................................54

D. Strategi Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel...................56

E. Peran Direkrorat Reserse Narkoba Polda Sulsel dalam

penanggulangan tindak pidana narkoba…..............................61

F. Sumber Data yang Diperoleh..................................................64

BAB V PENUTUP ....................................................................................67

A. Kesimpulan .............................................................................67

B. Saran ......................................................................................68

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................69

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai salah satu negara yang memiliki kepadatan penduduk

terbesar di dunia dan letak geografis yang strategis, memungkinkan

Indonesia berpeluang menjadi negara produsen, transit, bahkan menjadi

negara tujuan lalu lintas perdagangan narkotika. Narkotika mempunyai

fungsi yang dapat digunakan sebagai pelayanan kesehatan dan ilmu

pengetahuan. Selain itu, narkotika juga rentang untuk disalahgunakan oleh

orang, baik secara individu maupun kelompok. Ketika narkotika

disalahgunakan oleh pelaku maka perbuatan ini merupakan pelanggaran

terhadap Undang-Undang yang mempunyai sanksi pidana dan pelakunya

dapat dihukum.

Pengaruh era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi

komunikasi, liberalisasi perdagangan serta pesatnya kemajuan industri

pariwisata menjadikan Indonesia semakin rawan peredaran gelap

narkotika. Bahkan dewasa ini peredaran gelap narkotika di Indonesia

semakin meningkat hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus narkotika

yang terjadi di Indonesia. Di media massa, baik media cetak maupun media

elektronik, hampir setiap hari ada saja pemberitaan mengenai narkotika.

Aparat penegak hukum pun tidak segan-segan memburu dan memberantas

peredaran gelap narkotika sampai keakar-akarnya.

1
Peredaran gelap narkotika yang begitu cepat hingga menyentuh

kepada masyarakat lapisan bawah, tidak memandang status sosial

seseorang dan tidak memilih siapa calon korbannya. Narkotika kini telah

mempengaruhi dan merusak sendi kehidupan masyarakat. Tidak sedikit

orang mulai dari lapisan atas, seperti orang kaya, pejabat, elit politik dan

lain sebagainya sampai pada lapisan terbawah sekalipun, yakni rakyat

miskin terkena dampak dari penyalahgunaan narkotika. Para pelaku

dan korbannya tidak terbatas pada usia tertentu saja. Mulai dari yang tua

sampai pada yang muda pun bisa jadi mangsa dari peredaran gelap

narkotika.

Secara medis penyalahgunaan narkotika akan meracuni sitem syaraf

dan daya ingat, menurunkan kualitas berfikir dan daya ingat, merusak

berbagi organ vital seperti ginjal, hati, jantung, paru-paru dan sumsum

tulang, bisa terjangkit hepatitis, HIV/AIDS dan over dosis bisa menimbulkan

kematian. Resiko psikososial penyalahgunaan narkotika akan mengubah

seseorang menjadi pemurung, pemarah, pencemas, depresi, paranoid, dan

mengalami gangguan jiwa, sikap masa bodoh, tidak peduli dengan

penampilan, pemalas, melakukan tindakan kriminal, menjambret, mencopet

dan lain-lain.

Penyalahgunaan narkotika juga berakibat tidak baik kepada individu,

masyarakat, keluarga, maupun bangsa. Bagi individu akibatnya adalah

menimbulkan ketagihan/ketergantungan, mengganggu mental,

mengganggu kesehatan, menjadi pelaku kejahatan, menghancurkan masa

2
depan dan mengakibatkan kematian. Terhadap keluarga akibat yang

menimbulkan dapat mengganggu keharmonisan, membuat aib, dan

menghilangkan harapan. Terhadap masyarakat akibatnya akan

mengganggu ketertiban, menimbulkan rasa takut dilingkungan dan

meresahkan. Terhadap bangsa dan negara akibatnya merugikan harkat

dan martabat bangsa dan negara, merusak generasi muda dan ketahanan

nasional.

Sedemikian parahnya penyalahgunaan narkotika yang beredar

ditengah-tengah masyarakat terhadap kondisi fisik maupun lingkungan

sosial, jika tidak ditangani secara serius semenjak dini, dikhawatirkan akan

merusak masa depan orang-orang serta merusak generasi penerus suatu

bangsa. Jika generasi penerus telah hancur, siapa lagi yang akan

membangun dan memimpin negeri ini ke peradaban yang lebih baik. Oleh

karenanya perlu ada upaya yang dilakukan secara terus-menerus demi

mengontrol dan mencegah peredaran gelap narkotika sehingga Indonesia

bisa terlepas dari bahaya yang mengancam generasi penerus bangsa dari

penyalahgunaan narkotika.

Untuk itu perlu adanya peran serta masyarakat dalam membantu

pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika. Tiga

komponen dasar dalam penanggulangan kejahatan ini yaitu

Masyarakat/sekolah, Peme-rintah dan Polisi atau Penegak Hukum.

Masyarakat berperan sebagai subyek sekaligus obyek dari langkah

penanggulangan narkotika, aparat penegak hukum utamanya polisi

3
menjadi fasilitator dan pemerintah berperan sebagai pendukung terhadap

kegiatan penanggulangan narkotika oleh masyarakat. Penanggulangan

narkotika oleh masyarakat didasarkan pada pendapat bahwa setiap

organisasi atau kelompok dalam suatu daerah memiliki sumber daya yang

unik yang dapat di kontribusikan pada usaha penanggulangan narkotika.

Permasalahan narkoba ini sendiri merupakan masalah masyarakat

yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab penuh dari masyarakat

itu sendiri, masyarakat lebih mengenal lingkungan tempat tinggal mereka

sendiri yang akan memudahkan mereka dalam mencegah penyalahgunaan

narkoba dengan cara mereka sendiri yang sesuai dengan apa yang berada

di lingkungan mereka sendiri.

Masyarakat setempat harus ikut terlibat dalam program-program yang

telah mereka buat dan harus mereka kembangkan sendiri. Dalam upaya

pencegahan penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelap narkoba ini,

diharapkan peran serta masyarakat, terutama para tokoh masyarakat yang

harus tampil sebagai aktor utama dalam menggerakkan masyarakat.

Para tokoh masyarakat ini diharapkan dapat memberikan pengaruh

positif terhadap kelangsungan program pencegahan penyalahgunaan

narkoba ini, mereka juga harus merangkul semua elemen masyarakat

mulai dari orang tua, anak-anak, remaja, sekolah hingga organisasi sosial

masyarakat supaya program tersebut dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh

semua lapisan masyarakat.

4
B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka dapat

dirumuskan pokok permasalahannya sebagai berikut:

1. Bagaimana wujud peran serta masyarakat dalam membantu

pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika

dilihat dari Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang

Narkotika?

2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan

narkoba?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui wujud dari pada peran serta masyarakat dalam

membantu pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan

narkotika dilihat dari Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009

tentang Narkotika?

2. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat

penyalahgunaan narkoba?

D. Kegunaan Penelitian

1. Teoritis

a. Memberikan sumbangan pemikiran tentang cara-cara

pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba.

b. Memberikan suatu gambaran yang lebih nyata mengenai

akibat-akibat yang ditimbulkan terhadap penyalahgunaan

narkoba.

5
2. Praktek

Secara praktek penelitian ini ditujukan kepada semua kalangan

agar dapat lebih memahami dampak yang ditimbulkan akibat

penyalahgunaan narkoba.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Peran Serta Masyarakat

1. Pengertian Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat merupakan keikutsertaan masyarakat

dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, potensi

masyarakat ini sebenarnya memiliki peran dan posisi yang strategis

dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Mengapa demikian? Karena pencegahan penyalahgunaan narkoba

dikalangan masyarakat merupakan upaya untuk memberikan

kekuatan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan

keterampilan mereka dalam mengidentifikasi dan memprioritaskan

kebutuhan masyarakat dan melakukan upaya untuk mencapai

kebutuhan tersebut.

Selain memberikan kewenangan yang besar terhadap penegak

hukum, khususnya BNN dan Polri, Undang-Undang No. 35 Tahun

2009 juga mewajibkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya

pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran

gelap narkotika. Masyarakat dijadikan seperti penyelidik dengan cara

mencari, memperoleh, dan memberikan informasi dan mendapatkan

pelayanan dalam hal-hal tersebut. Dalam undang-undang ini

masyarakat tidak diberikan hak untuk melakukan penyuluhan,

pendampingan dan penguatan terhadap pecandu narkotika.

7
Pendekatan ini dianggap sesuai dan relevan dalam mengatasi

masalah narkoba dikalangan masyarakat karena :

a. Permasalahan narkoba ini sendiri merupakan masalah

masyarakat yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab

penuh dari masyarakat itu sendiri.

b. Masyarakat lebih mengenal lingkungan tempat tinggal mereka

sendiri yang akan memudahkan mereka dalam mencegah

penyalahgunaan narkoba dengan cara mereka sendiri yang

dengan apa yang berada di lingkungan mereka sendiri.

c. Masyarakat setempat harus ikut terlibat dalam program-program

yang telah mereka buat dan harus mereka kembangkan sendiri.

Dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan

peredaran gelap narkoba ini, diharapkan peran serta masyarakat,

terutama para tokoh masyarakat yang harus tampil sebagai

aktor utama dalam menggerakkan masyarakat. Para tokoh

masyarakat ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif

terhadap kelangsungan program pencegahan penyalahgunaan

narkoba ini, mereka juga harus merangkul semua elemen masyarakat

mulai dari orang tua, anak-anak, remaja, sekolah hingga organisasi

sosial masyarakat supaya program tersebut dilaksanakan

sepenuhnya oleh semua anggota masyarakat.

8
Agar para tokoh masyarakat ini tampil sebagai aktor utama

dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, diharapkan

mereka dapat melakukan hal berikut ini:

a. Memahami masalah penyalahgunaan narkoba, upaya

pencegahan dan penanggulangannya di masyarakat.

b. Mengamati bagaimana kondisi dan situasi lingkungan

masayarakat sekitar.

c. Menggalang potensi masyarakat yang nantinya dapat

ikut membantu pelaksanaan pencegahan, pemberantasan

penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, terutama orang

tua, para remaja sekolah, organisasi sosial dan kelompok

kegiatan masyarakatdalam lingkungan sekitar.

d. Memberikan arahan yang benar, menyemangati tanpa lelah dan

mengendalikan gerakan masyarakat tersebut agar tidak keluar

dari batas yang sudah ditetapkan bersama.

Dalam menggalang dan menggerakan masyarakat, dapat

melakukan hal-hal berikut ini:

a. Bertatap muka langsung dan berbicara secara terbuka. Ini

merupakan cara yang paling sederhana namun juga cara yang

paling ampuh dalam upaya menggerakan masyaraka dalam

program ini. Dengan bertemu langsung, masyarakat akan jauh

lebih mengerti tentang apa yang ingin disampaikan oleh para

tokoh masyarakat tersebut; mengenai program atau solusi-

9
solusi apa saja yang bisa dilakukan. Ini lebih efektif ketimbang

hanya melalui selebaran-selebaran atau spanduk yang

terpampang disekitar wilayah masyarakat.

b. Mengadakan rapat untuk menyusun program kerja. Hal ini harus

dilakukan karena tanpa adanya program kerja yang mumpuni

maka semua ide dan solusi yang telah disampaikan tidak akan

bisa berjalan dan hasilnya tidak akan tampak sama sekali.

Pembuatan program kerja ini harus sesuai dengan anggaran

yang tersedia, jangan sampai anggaran yang telah disepakati

membengkak karena hal-hal yang tidak ada hubungannya

dengan program yang ada. Karena itu perlu adanya pengawasan

yang intensif agar tidak terjadi penyimpangan dan

penyalahgunaan didalam penyusunan program kerja ini.

c. Para tokoh masyarakat ini juga harus dilibatkan, baik tokoh

agama, tokoh sosial maupun tokoh pemuda yang ada didalam

masyarakat. ini penting karena keberadaan tokoh masyarakat ini

sendiri telah mempunyai pengaruh yang besar terhadap

kehidupan masyarakat. Bila para tokoh ini yang berbicara, maka

masyarakat akan lebih mudah mempercayai dan

menjalankannya dikarenakan faktor kedekatan antar tokoh dan

masyarakatnya ini sendiri.

d. Harus ada pemberitahuan mengenai bahaya penyalahgunaan

narkoba dan peringatan mengenai hal tersebut karena masalah

10
ini tidak hanya menjadi masalah pemerintah semata tapi juga

masyarakat.

2. Unsur-unsur yang terlibat

Selain dari pada BNN dan Polri dalam melakukan penyuluhan

dan pembinaan terhadap masyarakat khususnya para orang tua, juga

sangat diharapkan keterlibatan tokoh agama dalam upaya

pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini juga

merupakan salah satu kunci terpenting bagi suksesnya program ini.

Hal ini dikarenakan para tokoh agama merupakan pembimbing serta

penuntun masyarakat dalam menjalankan nilai-nilai agama yang

mereka yakini. Pemberian nilai moral agama yang intensif juga akan

menimbulkan kekebalan masyarakat terhadap hal-hal negatif

yg dilarang oleh ajaran agama yang mereka yakini.

Bila sudah seperti itu, otomatis masyarakat akan jadi lebih tahu

dan paham kalau menggunakan narkoba dan mengedarkannya

secara gelap merupakan perbuatan yang dilarang oleh Agama dan

Undang-Undang. Peran masyarakat ini diharapkan tidak hanya

sebagai pembimbing dan penuntun masyarakat saja namun juga

harus mempunyai otoritas dilingkungannya dalam memberikan

bantuan untuk pembinaan kepada generasi muda.

Tokoh agama diharapkan dapat melakukan perannya sebagai

salah satu tokoh masyarakat yang ikut aktif dalam upaya pencegahan

penyalahgunaan narkoba. Pembinaan ini dapat membantu keluarga

11
yang sedang menderita karena masalah penyalahgunaan narkoba ini

dengan cara melakukan bimbingan konseling.

Pengadaan konseling oleh tokoh agama ini merupakan kegiatan

yang sangat membantu keluarga dalam memecahkan masalah,

setidaknya meringankan beban yang ada dalam diri keluarga yang

nantinya mungkin saja dapat membuka jalan bagi keluarga untuk

mengambil tindakan dan keputusan yang tepat. Tokoh agama juga

dapat membantu umat untuk menerima para korban penyalahgunaan

narkoba tersebut. Tokoh agama harus dapat menyakinkan umat dan

masyarakat kalau pecandu narkoba ini bukanlah seorang tertuduh

kriminal, mereka hanyalah korban dan tidak sepantasnya para korban

dikucilkan. Doa dan dukungan untuk korban beserta keluarga sangat

membantu menguatkan keluarga dalam menghadapi kondisi

keputusasaan hingga nanti mereka akan menemukan harapan

kembali.

Program pendidikan untuk pencegahan Tokoh agama dan

umatnya memiliki potensi besar untuk bersama-sama mengadakan

program pencegahan masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap

narkoba ini dengan cara:

a. Program pendidikan yang terfokus pada pengadaan bimbingan,

pelatihan dan penyuluhanuntuk membangun prinsip hidup sehat

dalam diri masyarakat sehingga dapat dicapaisuatu tahapan

ketahanan dibidang fisik yang merupakan pertahanan kuat dari

12
bahaya pengaruh penyalahgunaan dan peredaran gelap

narkoba.

b. Program pendidikan bagi orang tua dalam mengasuh dan

mendidik anak yang baik sebagai strategi pencegahan

penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Membangun

komunikasi yang baik antara orang tua dan anak agar anak

dapat menceritakan segala hal kepada orang tuanya tanpa

menutup-nutupi bila anak sedang memiliki masalah.

Menciptakan disiplin bagi anak dan memperlakukan anak

sebagaimana mestinya tanpa harus ada paksaan.

c. Program pendidikan bagi generasi muda mengenai peningkatan

dan pengamalan kehidupan keagamaan sehingga nantinya

dapat mewujudkan generasi muda yang sehat jasmani dan

rohani, berbudi luhur dan mempunyai ketakwaan kepada Tuhan

YME.

d. Program sosial tokoh agama, organisasi dan umatnya dapat

menjadi aktor utama dan berperan serta dalam upaya

pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini

dengan cara mengadakan program sosial yang meliputi:

1) Mendirikan pusat atau tempat pelayanan untuk konseling

dan konsultasi. Tidak hanya untuk para korban dan

keluarganya saja namun juga masyarakat umum juga

dapat menggunakan fasilitas ini. Tujuannya agar

13
masyarakat mendapatkan informasi terkini mengenai

narkoba dan bagaimana cara mereka untuk

menghindarinya.

2) Pendirian pusat pengobatan, penampungan dan bimbingan

pada anak-anak korban penyalahgunaan narkoba. Fasilitas

ini diperlukan karena anak merupakan elemen yang

sangat rentan terhadap dampak penyalahgunaan narkoba

ini. Mereka akan mendapatkan trauma yang sangat

mendalam bila mengetahui kalau salah satu anggota

keluarganya merupakan korban penyalahgunaan narkoba.

Dibutuhkan waktu dan keahlian khusus agar anak bisa

kembali seperti sediakala lagi.

3) Mengadakan kegiatan positif untuk menghindarkan diri dari

penyalahguna narkoba. Ini diperlukan agar lingkungan

masyarakat senantiasa hidup dan aktif dalam menjalin

kekerabatan dan kebersamaan antar penghuninya

sehingga akan tercipta kerukunan dan kesatuan dalam diri

masyarakat yang berguna dalam menangkal masuknya

bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

4) Penempatan pekerjaan dan program latihan. Membuka

lahan usaha baru agar dapat menampung warga sekitar

yang tidak memiliki pekerjaan, tujuannya agar mereka yang

tadinya menganggur tidak terjerumus dalam usaha praktek

14
jual beli narkoba yang banyak mengincar orang-

orang yang tidak punya pekerjaan seperti mereka. Iming-

iming bayaran yang tinggi dapat dengan mudah mengajak

mereka yang menganggur untuk melakukan bisnis haram

tersebut. Program latihan keterampilan juga diperlukan

agar warga mempunyai kemampuan untuk berkreatifitas

yang bila nantinya dikembangkan akan mampu membuka

lapangan kerja baru untuk diri mereka sendiri.

3. Pengaturan Peran Serta Masyarakat Menurut Undang-undang

No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Selain memberikan kewenangan yang besar terhadap

penegak hukum, khususnya BNN dan Polri, Undang-Undang No. 35

Tahun 2009 juga mewajibkan masyarakat untuk berperan aktif

dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan

peredaran gelap narkotika. Masyarakat dijadikan seperti penyelidik

dengan cara mencari, memperoleh, dan memberikan informasi dan

mendapatkan pelayanan dalam hal-hal tersebut. Dalam undang-

undang ini masyarakat tidak diberikan hak untuk melakukan

penyuluhan, pendampingan dan penguatan terhadap pecandu

narkotika.

Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Pasal

104 menegaskan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang

seluas-luasnya untuk berperan serta membantu pencegahan,

15
pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan

prekursor Narkotika.

Peran serta masyarakat ialah peran aktif masyarakat untuk

mewujudkan upaya pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran

gelap narkotika. Hak masyarakat dalam upaya pencegahan,

pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan

prekursor narkotika diwujudkan dalam bentuk:

a. Mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya

dugaan telah terjadi tindak pidana Narkotika dan Prekursor

Narkotika;

b. Memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh, dan

memberikan informasi tentang adanya dugaan telah terjadi

tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika kepada

penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak

pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika;

c. Menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung

jawab kepada penegak hukum atau BNN yang menangani

perkara tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika;

d. Memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya

yang diberikan kepada penegak hukum atau BNN;

e. Memperoleh perlindungan hukum pada saat yang

bersangkutan melaksanakan haknya atau diminta hadir dalam

proses peradilan.

16
Pemerintah memberikan penghargaan kepada penegak

hukum dan masyarakat yang telah berjasa dalam upaya

pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap

narkotika dan prekursor narkotika.

Pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 109 dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan:

a. Aspek Model Moral Dennis L.Thombs. Aspek lebih kepada

teori yang memandang penyebab terjerumusya seseorang

menjadi pecandu karena terjadi degradasi moral,maka untuk

penyembuhannya harus melalui tempatan yang disertai

dengan penanaman nilai-nilai moral yang berlaku di

masyarakat, antara lain dengan memberikan hukuman

penjara.

b. Aspek pendekatan Disease Model (model Penyakit),

menggap kecanduan sebagai penyakit adksi yang bersifat

kronis, progresif, dan fatal, oleh karenanya penyembuhannya

melalui terapi dan rehabilitasi medis. Menurut Dr. Elfrin

Jellineck melalui penelitiannya telah mengembangkan dasar

medis dari paradigm dan ruang lingkup efek penyakit bukan

sekadar proses biokimia dalam diri pecandu, namun

merambahi ke aspek spiritual sehinga penyembuhannya pun

membutuhkan pendekatan spiritual.

17
c. Pengalaman empiric di berbagai pelososk negeri ini terhadap

stigma pecandu telah mengakar kuat. Bahkan kini telah

tumbuh menjadi gagasan dan keyakinan masyarakat yang

telah menghubungkan pecandu Narkoba dengan perilaku

jahat, telah berkembang lama dan mendunia menjadi

pengalaman masyarakat dalam memperlakukana pecandu.

Stigma ini pula yang membuat banyak pecandu yang menjadi

korban, mengucilkan diri dan takut berobat ke fasilitas

rehabilitasi.

d. Aspek kehidupan sosial. Peran serta masyarakat di bidang

kehidupan sosial dalam mencegah peredaran gelap Narkoba

perlu mencermati hal-hal yang berkaitan dengan gangguan

penggunaan zat narkotika dan psikotropika. Masalah ini dapat

menimbulkan berbagai problem sosial, antara lain; dalam

upaya untuk mendapatkan zat karena dorongan yang begitu

besar mereka akan berbuat “apa saja”, untuk

mendapatkannya seperti; pemaksaan sampai pada tindak

kekerasan atau pembunuhan; pencurian, perampokan;

perampasan; jambret; menjual diri; korupsi; penggelapan

uang perusahaan, dan lain-lain. Akibat perilaku di atas akan

terjadi hubungan dengan anggota keluarga, teman, pasangan

akan terganggu, misalnya: pertengkaran; keretakan dalam

rumah tangga dan perceraian; diberhentikan dari pekerjaan,

18
dikeluarkan dari sekolah, dan lain-lain. Dalam kondisi

intoksikasi, dimana dijumpai tingkah laku yang maladaptif,

kendala emosi terganggu, mudah tersinggung sehingga

menimbulkan tindak kekerasan dan perilaku kriminal, seperti;

pembunuhan, pemerkosaan, dapat juga terjadi kecelakaan

lalu lintas yang tidak hanya membahayakan dirinya, tetepi

juga tehadap lingkungannnya

e. Dari aspek agama. Narkoba merupakan masalah nasional

yang merupakan hal yang terjadi akibat kelakuan remaja yang

ingin merasakan keenakan sesaat. Pada saat ini pemerintah

bersama tokoh-tokoh agama dan kalangan masyarakat masih

berusaha untuk menghilangkan kebiasaan buruk yang sering

dilakukan oleh masyarakat khususnya oleh para remaja.

Dalam masalah ini agama memberikan arahan tentang hal-

hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh masyarakat

karena menggunakan narkotika melawan hidup. Orang-orang

yang menyalahgunakan obat-obatan hamper selalu

diakibatkan oleh pelarian dari tanggungjawab yang

sebenarnya dapat dihindari dan ia tidak memahami atau

kehilangan makna dan nilai hidup.

f. Aspek pengurangan pemasukan BNN sebagai focal point

dalam pemberantasan Narkoba membutuhkan peran serta

aktif masyarakat termasuk dalam aspek pengawasan

19
peredaran Narkoba. Permasalahan yang terus cenderung

terjadi adalah bahwa dengan penutupan salah satu jalur

pemasukan berakibat membuka jalur-jalur pemasukan yang

lain. Demikian juga dengan menyingkirkan satu pemasok

mengakibatkan sejumlah pemasukan lain muncul.

Pengurangan permintaan dapat dilakukan dengan

memberikan pendidikan usia dini tentang bahaya Narkoba,

sehingga tumbuh dan berkembangnya perilaku kebal

terhadap Narkoba akan mengurangi permintaan, sehingga

dari waktu ke waktu akan semakin berkurang terhadap

permintaan Narkoba.

g. Aspek perubahan paradigma penanganan pecandu. Bahwa

pergeseran paradigma masyarakat terhadap pecandu dari

kriminalisasi menjadi humanis dan realistis telah terjadi seiring

lahirnya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 telah

mendorong terjadinya bagi perubahan dalam penanganan

Narkoba terutama aspek pencegahan, pemberantasan dan

penyalahgunaan. Lihat saja ancaman hukuman pelaku

kejahatan narkotika kini jauh lebih keras penanganan korban

lebih humanis, dan dalam aspek pencegahan yang

melibatkan masyarakat. Lebih dari dua dasawarsa paradigm

pecandu dikriminalisasi dan di-stigma negatif oleh

masyarakat. Harapan terhadap paradigma baru adalah

20
lahirnya cara pandang dan perlakuan terhadap pecandu

bukan lagi kriminal, namun korban yang harus ditolong guna

penyembuhannya. Paradigma ini menjadi lebih humanis

dalam memperlakukan penyalahguna Narkoba. Kini pecandu

mulai menghadapi respon dan dukungan kondusif lingkungan

bukan penolakan.

h. Aspek stigma (stempel negative) untuk pecandu ditengah

masyarakat. Kondisi pandangan masyarakat terhadap stigma

pecandu Narkoba. (1). Pandangan masyarakat terhadap

pelaku kejahatan pada umumnya sinis, dan skeptic. Misalnya

saja terhadap residivis, eks tahanan politik, termasuk pecandu

Narkoba. Pengalaman empirik menegaskan bahwa pecandu

Narkoba merupakan korban yang diberikan stigma sebagai

kriminal. Simak saja perundang-undangan yang berlaku

kebanyakan menjatuhkan hukuman didalam penjara kepada

pecandu. (2). Masih rendahnya kepedulian terhadap pecandu.

Pengalaman yang berkembang di masyarakat, pada umunya

menutup diri untuk bergaul dengan pecandu meskipun

mereka telah sembuh dan bertobat. (3). Stigma pecandu

sebagai biang kerok terjadinya kriminalitas. Pecandu selama

ini hanya mendapatkan stigma hingga sebagian menggangap

sebagi samapah masyarakat yang harus disingkirkan,

dipenjara atau bila perlu dihapuskan dari makhluk bumi ini.

21
(4). Pecandu belum sepenuhnya mendapatkan ruang

pemulihan pecandu yang memadai. Kurang lebih 30 s/d 40%

penjara di seluruh Indonesia kebanyakan kasus Narkoba dan

tidak tertutup kemungkinan angka ini akan terus meningkat

jika pemerintah, aparat dan pihak-phak terkait tidak segera

menanggapi, memutuskan dan merealisasikan tindakan

langkah preventif disertai tindakan nyata untuk pemulihan si

pecandu. (5). Perlakuan yang diskriminatif. Sebagai kaum

minoritas (minority society), pecandu sangat rentan akan

pelanggaran hak asasi manusia. (6). Stigma negatif terus

berkembang. Pecandu Narkoba, sekeras apa pun dia

berusaha, tidak bisa sepenuhnya sembuh. Mereka selalu

identik dengan kekerasan, bertingkah seenaknya,

menggangu orang lain, dan merusak. Bahkan dianggap

sebagai sampah masyarakat. Stigma negative itu yang

akhirnya kembali membuat mantan pecandu Narkoba kembali

terpuruk. Mereka kembali terbenam dalam gelimangan

Narkoba.

B. Upaya pencegahan

1. Pengertian upaya pencegahan

Upaya pencegahan adalah merupakan suatu tindakan yang

dilakukan untuk menghindari suatu perbuatan yang melanggar norma

agama, norma hukum, norma sosial dan lain-lain, Berbagai upaya

22
telah diusahakan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk

mencegah penyalahgunaan narkoba. Salah satunya adalah pola

pencegahan, pemberantasan, dan penanggulangan narkoba sama

dengan pemberantasan malaria. Parasit malaria dapat diibaratkan

sebagai narkoba. Nyamuk malaria dapat diibaratkan sebagai

pengedar narkoba dan sarang nyamuk malaria sebagai tempat-

tempat yang rawan, misalnya tempat hiburan malam dan sejenisnya.

Adapun, penderita penyakit malaria (pasien) dapat diibaratkan

sebagai pecandu narkoba, korban, atau penderita (pasien).

Penderita penyakit malaria (pasien) perlu pengobatan dan

perawatan sedangkan penderita (pasien) narkoba perlu juga

perawatan/pengobatan dan pemulihan (rehabilitasi). Oleh karena itu

cara ampuh yang dapat dilakukan untuk pasien korban narkoba

adalah berobat dan bertobat. Mengapa berobat dan bertobat ? ya,

selain berobat juga harus bertobat karena agama mengharamkan

penyalahgunaan narkoba. Selain itu, Undang-Undang di Negara kita

melarang peredaran dan penggunaan narkoba.

Parasit malaria dimusnahkan dengan obat malaria. Narkoba juga

perlu dimusnahkan dengan cara, misalnya dibakar dan dihancurkan

sedemikian rupa sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Nyamuk malaria juga dimusnahkan, misalnya dengan semprotan

insektisida (obat anti nyamuk) sehingga tidak lagi dimungkinkan

23
penularan penyakit malaria tersebut dari satu orang ke orang lain.

Demikian pula halnya dengan para penyelundup dan pengedar

narkoba harus dimusnahkan dengan cara dihukum seberat-beratnya.

Bagi generasi muda atau anak remaja di manapun anda berada,

di bawah ini ada beberapa kiat untuk menjauhkan diri dari narkoba,

yaitu:

a. Belajar untuk mengatakan tidak, baik kepada diri sendiri

ataupun kepada orang lain yang mencoba menawarkan

barang haram itu kepada kita.

b. Tidak usah terpancing,dibilang kuper (kurang pergaulan).

Justru terbalik, pengguna narkobalah yang nantinya akan

jadi kuper dan terkucil.

c. Tidak usah selalu ingin dianggap. Misalnya dianggap hebat,

dianggap berani, dianggap gaul atau dianggap cool, dan

sebagainya.

d. Bergaullah dengan teman yang baik,jauhi teman yang buruk.

(siapa temanmu hari ini akan menentukan siapa kamu

kelak).

e. Jangan pernah coba-coba. Sekali mencoba narkoba maka

seumur hidup akan sengsara.

f. Pikirkanlah bahwa, narkoba akan mengakibatkan

penderitaan. Baik bagi diri kamu maupun bagi orang lain.

24
g. Isilah hari-harimu dengan kegiatan yang positif. Seperti

berolah raga, ikut kegiatan karang taruna, ekstra kokurikuler

dan sebagainya.

h. Ingatlah selalu nasehat dan pesan-pesan orang tua, untuk

mengarahkan kita pada hal-hal yang positif. Nasehat dan

pesan orang tua adalah cahaya yang menerangi kegelapan

jalan kita.

i. Mendekatlah dan selalu berada di jalan Tuhan. Dengan

mempertebal iman dan rajin sembahyang.

2. Cara-cara pencegahan

Jika dilihat dari segi perkembangan zaman ada beberapa

langkah-langkah yang perlu kita ketahui untuk mencegah

penyalahgunaan narkoba, antara lain :

a. Memberikan atau menanamkan sejak dini akan arti makna hidup

sehat.

Bila seseorang telah terjerumus pada penggunaan narkoba

maka akan sulit untuk melepas dari jeratan narkotika ini.

Membutuhkan waktu kesabaran ketekunan dan rehabilitasi yang

baik dan tepat pada korban-korban narkotika.

Contoh perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari

dalam mempraktekkan hidup sehat juga perlu dilakukan. Orang

tua seyogyanya menjadi role-model bagi anak-anak mereka,

25
harus memberikan contoh yang baik bila ingin anaknya

berperilaku baik.

Sering kali kita sebagai orang tua lupa bahwa anak kita

belajar dari tingkah laku dan perilaku kita yang mereka lihat dan

perhatikan setiap harinya dari bayi sampai remaja. Anak-anak

kita belajar, meniru, dari orang yang sehariannya berada paling

dekat dengan mereka. Maka seharusnya kita tidak merokok atau

minum minuman beralkohol bila kita tidak mau anak-anak kita

meniru kita atau bahkan mencoba-coba dan menyalahgunakan

narkoba.

b. Informasi yang benar tentang bahaya narkoba.

Memberikan informasi dan pengetahuan yang benar dan

jelas mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba ini kepada

anak-anak generasi muda kita sebelum anak-anak mengetahui

dari teman-temannya yang bisa jadi memberikan pengertian

yang salah atau malah sebaliknya. Seharusnya pemberian

informasi yang akurat dan jelas harus juga diberikan oleh

sekolah-sekolah sebagai salah satu sub-kurikulum yang wajib

diikuti oleh setiap anak. Informasi mengenai jenis-jenis narkoba.

Dampak bila menggunakannya, dampaknya bagi organ-organ

tubuh kita serta dampak dari segi hukumnya bila tertangkap

memiliki, menggunakan atau mengedarkan narkoba, Penyakit

yang dapat diderita sebagai akibat pemakaian narkoba.

26
c. Peduli pada lingkungan sekitar.

Orang tua selalu tanggap lingkunga di rumah mereka

sendri, di mana anak-anak mereka tumbuh. Orang tua harus

selalu sadar akan perubahan-perubahan kecil dari perilaku sang

anak.

Perubahan-perubahan masa puber dan peralihan anak

menjadi remaja, remaja menjadi dewasa, tidak sama dengan

perubahan perilaku seorang anak yang mulai ter ekspos pada

narkoba, atau yang sudah terpengaruh akibat dampak

kecanduan narkoba.

Orang tua juga perlu waspada dan mengetahui akan ciri

tanda anak mulai menggunakan narkoba sehingga bisa secara

lebih dini diobati dan direhabilitasi secepatnya.

d. Bekerjasama dengan lingkungan rumah

Kita sebaiknya bekerjasama dengan lingkungan rumah kita

seperti dengan ketua RT, RW, dsb. Terutama dengan tetangga

yang mempunyai anak seusia atau yang lebih tua dari anak kita.

Menjalin hubungan yang baik dengan para tetangga selalu

mendatangkan kenyamanan dan keamanan bagi kita.

Kita bisa membuat sistem pemantauan keamanan

bersama tetangga lainnya yang juga melibatkan ketua RT untuk

memantau keamanan umum dan memantau bila ada anak-anak

di RT kita yang disinyalir menggunakan narkoba. Bila sistem

27
yang dibangun bersama para tetangga itu kuat, dijamin gejala-

gejala penyalahgunaan narkoba di pemukiman kita akan

terdeteksi dan dapat tertanggulangi dengan cepat dan baik.

e. Menjalin hubungan interpersonal yang baik.

Hubungan interpersonal yang baik dengan pasangan dan

juga dengan anak-anak kita, akan memungkinkan kita

melihat gejala-gejala awal pemakaian narkoba pada anak-

anak kita. Kedekatan hubungan batin dengan orang tua akan

membuat anak merasa nyaman dan aman, menjadi benteng

bagi keselamatan mereka dalam mengarungi kehidupan mereka

nanti.

Bila orang tua sering ribut, cekcok, maka itu bisa

memengaruhi sang anak secara psikologis. Kegalauan ini bisa

memancingnya untuk mencoba narkoba dengan berbagai

macam alasan yang dicarinya sendiri.

Misalnya supaya diperhatikan, sikap masa bodoh terhadap

hidupnya, untuk mengatasi kemarahan, ketidaksenagan, atau

kesedihan yang timbul dari melihat orang tua mereka yang selalu

bertengkar.

C. Penyalahgunaan narkoba

1. Pengertian penyalahgunaan narkoba

Penyalahgunaan Narkotika merupakan suatu kejahatan yang

mengancam keselamatan, baik fisik maupun jiwa si pemakai dan juga

28
terhadap masyarakat di sekitar secara sosial, maka dengan

pendekatan teoritis, penyebab dari penyalahgunaan narkotika adalah

merupakan delik materil, sedangkan perbuatannya untuk dituntut

pertanggung jawaban pelaku, merupakan delik formil (M. Taufik

Makaro, dkk; 2005:49).

Selain itu penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola

penggunaan yang bersifat patogolik, berlangsung dalam jangka waktu

tertentu dan menimbulkan gangguan fungsi sosial dan okupasional

atau dapat dikatakan sebagai pemakai/pengguna Narkotika

(HuseinAlatas, dkk; 2003:17).

Penyalahgunaan narkotika adalah suatu kondisi yang dapat

dikonseptualisasikan sebagai suatu gangguan jiwa, yaitu gangguan

mental dan perilaku akibat penyalahgunaan narkotika (H. Dadang

Hawari; 2003:12).

Penyalahgunaan narkoba jika dilihat dari pendapat para ahli

terdapat perbedaan-perbedaan antara lain, menurut :

Vronica Colondam (2007).

Menurutnya, penyalahgunaan mengatakan narkoba adalah

penyalahgunaan terhadap berbagai obat-obatan yang masuk dalam

daftar hitam yakni daftar obat yang masuk Undang-Undang Narkotika

dan Psikotropika. Ia pun mengatakan kembali, bahwa

penyalahgunaan narkoba adalah penyalahgunaan yang

berkonsekuensi pada hukum, hal ini lantaran penyalahgunaan akan

29
memberikan dampak pada perubahan mental, kecanduan, dan

prilaku.

Steinberg (2002)

Penyalahgunaan narkoba adalah penyalahgunaan yang

disebabkan adanya pengaruh berbagai faktor. Salah satu faktor

tersebut menurutnya, adalah sebagai berikut;

Faktor protektif, yaitu faktor yang dapat menyebabkan

penurunan terhadap kecenderungan, keterlibatan terhadap

penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan zat adiktif

lainnya).

Martaniah (1991)

Penyalahgunaan NAPZA termasuk narkoba adalah

penyalahgunaan yang disebabkan oleh komponen psikologis, seperti

politik, hukum, dan sosial.

Dari sejumlah pengertian penyalahgunaan narkoba menurut

para ahli diatas, dapat dikatakan jika penyalahgunaan narkoba adalah

penyalahgunaan terhadap zat yang tergolong dalam narkotika,

psikotropika dan zat adiktif lain sehingga dapat merusak mental, sikap,

dan cara berfikir para penggunannya.

Maraknya narkotika dan obat-obatan terlarang telah banyak

mempengaruhi mental dan sekaligus pendidikan bagi para pelajar

30
saat ini. Masa depan bangsa yang besar ini bergantung sepenuhnya

pada upaya pembebasan kaum muda dari bahaya narkoba. Narkoba

telah menyentuh lingkaran yang semakin dekat dengan kita semua.

Teman dan saudara kita mulai terjerat oleh narkoba yang sering kali

dapat mematikan. Sebagai makhluk Tuhan yang kian dewasa,

seharusnya kita senantiasa berfikir jernih untuk menghadapi

globalisasi teknologi dan globalisasi yang berdampak langsung pada

keluarga dan remaja penerus bangsa khususnya. Kita harus

memerangi kesia-siaan yang di akibatkan oleh narkoba.

Penyalahgunaan dalam penggunaan narkoba adalah pemakain

obat-obatan atau zat-zat berbahaya dengan tujuan bukan untuk

pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan

atau dosis yang benar. Dalam kondisi yang cukup wajar/sesuai dosis

yang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja maka penggunaan

narkoba secara terus-menerus akan mengakibatkan ketergantungan,

depedensi, adiksi atau kecanduan.

Penyalahgunaan narkoba juga berpengaruh pada tubuh dan

mental-emosional para pemakaianya. Jika semakin sering

dikonsumsi, apalagi dalam jumlah berlebih maka akan merusak

kesehatan tubuh, kejiwaan dan fungsi sosial di dalam masyarakat.

Pengaruh narkoba pada remaja bahkan dapat berakibat lebih fatal,

karena menghambat perkembangan kepribadianya. Narkoba dapat

31
merusak potensi diri, sebab dianggap sebagai cara yang “wajar” bagi

seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan

hidup sehari-hari.

Penyalahgunaan narkoba merupakan suatu pola penggunaan

yang bersifat patologik dan harus menjadi perhatian segenap pihak.

Meskipun sudah terdapat banyak informasi yang menyatakan dampak

negatif yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan dalam mengkonsumsi

narkoba, tapi hal ini belum memberi angka yang cukup signifikan

dalam mengurangi tingkat penyalahgunaan narkoba.

Terdapat 3 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai

“pemicu” seseorang dalam menyalahgunakan narkoba. Ketiga faktor

tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan, dan faktor ketersediaan

narkoba itu sendiri.

1. Faktor Diri

a. Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar

atau brfikir panjang tentang akibatnya di kemudian hari.

b. Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.

c. Keinginan untuk bersenang-senang.

d. Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok

(komunitas) atau lingkungan tertentu.

32
e. Workaholic agar terus beraktivitas maka menggunakan

stimulant (perangsang).

f. Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.

g. Mengalami kelelahan dan menurunya semangat belajar.

h. Menderita kecemasan dan kegetiran.

i. Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini

merupakan gerbang ke arah penyalahgunaan narkoba.

j. Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-

puasnya.

k. Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan

dengan menggunakan obat penghilang rasa lapar yang

berlebihan.

l. Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak

disayangi, dalam lingkungan keluarga atau lingkungan

pergaulan.

m. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

n. Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya

penyalahgunaan narkoba.

o. Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali

tidak akan menimbulkan masalah.

p. Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari

lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan

narkoba.

33
q. Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada

narkoba.

2. Faktor Lingkungan

a. Keluarga bermasalah atau broken home.

b. Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna

atau penyalahguna atau bahkan pengedar gelap nrkoba.

c. Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau

beberapa atau bahkan semua anggotanya menjadi

penyalahguna atau pengedar gelap narkoba.

d. Sering berkunjung ke tempat hiburan (café, diskotik,

karoeke, dll.).

e. Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau

menganggur.

f. Lingkungan keluarga yang kurang / tidak harmonis.

g. Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang,

komunikasi, keterbukaan, perhatian, dan saling

menghargai di antara anggotanya.

h. Orang tua yang otoriter.

i. Orang tua/keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh,

kurang/tanpa pengawasan.

j. Orang tua/keluarga yang super sibuk mencari uang/di luar

rumah.

34
k. Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan

ketidakpastian.

l. Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal

secara pribadi, tidak ada hubungan primer, ketidakacuan,

hilangnya pengawasan sosial dari masyarakat,kemacetan

lalu lintas, kekumuhan, pelayanan public yang buruk, dan

tingginya tingkat kriminalitas.

m. Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan

keterlantaran.

3. Faktor Ketersediaan Narkoba.

Narkoba itu sendiri menjadi faktor pendorong bagi

seseorang untuk memakai narkoba karena :

a. Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.

b. Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya

beli masyarakat.

c. Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian,

dan bentuk kemasan.

d. Modus Operandi Tindak pidana narkoba makin sulit

diungkap aparat hukum.

e. Masih banyak laboratorium gelap narkoba yang belum

terungkap.

35
f. Sulit terungkapnya kejahatan computer dan pencucian

uang yang bisa membantu bisnis perdagangan gelap

narkoba.

g. Semakin mudahnya akses internet yang memberikan

informasi pembuatan narkoba.

h. Bisnis narkoba menjanjikan keuntugan yang besar.

i. Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yagn kuat

dan professional. Bahan dasar narkoba (prekursor) beredar

bebas di masyarakat.(RQ@DATIN)

2. Dampak penyalahgunaan narkoba

Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi

takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan.

Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan

psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat

(SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan

ginjal.

Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat

tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan

situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan

narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.

a. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap fisik.

36
1) Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti:

kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran,

kerusakan syaraf tepi

2) Gangguan pada jantung dan pembuluh darah

(kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung,

gangguan peredaran darah

3) Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti:

penanahan (abses), alergi, eksim

4) Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti:

penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas,

pengerasan jaringan paru-paru

5) Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-

murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit

tidur

6) Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan

reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti:

penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen,

progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi

seksual

7) Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan

reproduksi pada remaja perempuan antara lain

perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan

menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).

37
8) Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik,

khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian,

risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C,

dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya

9) Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika

terjadi over dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi

kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis

bisa menyebabkan kematian

b. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap psikis.

1) Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah

2) Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh

curiga

3) Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal

4) Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan

5) Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman,

bahkan bunuh diri

c. Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap lingkungan

sosial.

1) Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan

oleh lingkungan

2) Merepotkan dan menjadi beban keluarga

3) Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

38
Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat.

Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa

(sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat

pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat

kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejala fisik dan

psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan

untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dan

lain-lain.

Narkotika dan obat terlarang serta zat adiktif / psikotropika dapat

menyebabkan efek dan dampak negatif bagi pemakainya. Dampak

yang negatif itu sudah pasti merugikan dan sangat buruk efeknya bagi

kesehatan mental dan fisik.

Meskipun demikian terkadang beberapa jenis obat masih dipakai

dalam dunia kedokteran, namun hanya diberikan bagi pasien-pasien

tertentu, bukan untuk dikonsumsi secara umum dan bebas oleh

masyarakat. Oleh karena itu obat dan narkotika yang disalahgunakan

dapat menimbulkan berbagai akibat yang beraneka ragam.

Bisa dibilang, narkoba bersifat merusak apabila disalahgunakan

atau dalam penggunaan yang berlebihan. Bahaya narkoba akan

sangat berdampak untuk tubuh. Berikut bahaya narkoba bagi organ

tubuh pecandunya:

a. Gangguan pada Otak

39
Tidak butuh waktu lama untuk senyawa kimia dibawa

oleh aliran darah menuju otak dan organ lainnya. Jika masuk

dalam otak, THC atau senyawa kimia narkoba ini akan

melepaskan dopamin dalam jumlah yang besar. Ini yang

menyebabkan pengguna merasa lebih tenang, lebih nyaman

atau biasa disebut dengan ‘high’ atau ‘fly’. Pada fase ini,

pengguna tidak bisa berpikir dengan jernih karena

terganggunya proses pencernaan informasi. Selain itu,

pengguna akan sulit juga untuk membentuk atau mengingat

sesuatu ketika sedang ‘high’. Bahaya narkoba pada otak

dapat mengganggu saraf dan dapat menyebabkan pengguna

mengalami kejang, halusinasi hingga hilang kesadaran serta

kerusakan otak secara permanen.

b. Ganguan Pada Kulit

Untuk pengguna narkoba jenis suntik umumnya akan

mengalami gangguan yang berhubungan dengan kulit. Yang

paling sering terjadi adalah gangguan kulit layaknya infeksi

pada kulit. Biasanya gangguan pada kulit terjadi pada mereka

yang menggunakan narkoba dan bisa dilihat dari bekas lebam

di tangan akibat suntikan dari narkoba tersebut. Secara umum

kulit pecandu narkoba akan terlihat kusam, berkeriput dan

tampak lebih tua dari usia sebenarnya.

40
c. Gangguan Pada Fungsi Hati

Menggunakan narkoba jenis ganja juga bisa

menyebabkan perasaan tersengat atau terbakar di mulut dan

tenggorokan. Apalagi jika narkoba dikonsumsi melalui mulut,

hati atau liver akan memprosesnya dengan cepat. Bahaya

narkoba ini akan menyebabkan fungsi hati menjadi rusak jika

narkoba dikonsumsi berlebihan. Risiko seperti disfungsi atau

gagal fungsi hati bisa terjadi pada mereka yang menggunakan

narkoba dalam jangka waktu panjang.

d. Gangguan Pada Jantung

Saat mengonsumsi narkoba jenis kokain, amfetamin,

dan ekstasi dapat menyebabkan peningkatan hormon

katekolamin yang mengakibatkan jantung bekerja lebih keras.

Ini akan memicu peningkatan tekanan darah mendadak,

sehingga kebutuhan oksigen otot jantung akan meningkat.

Saat mengalami kerusakan pada otot jantung, akan

mengganggu fungsi pompa jantung, serta gangguan irama

jantung, baik denyut jantung menjadi sangat cepat hingga

jantung berhenti dan dapat menyebabkan kematian.

e. Gangguan Pada Sistem Pencernaan

Dari efek merugikan yang ditimbulkannya, beberapa

kasus penyalahgunaan narkoba juga diketahui dapat

41
menyebabkan mual dan muntah beberapa saat setelah

dikonsumsi. Penggunaan kokain juga dapat mengakibatkan

nyeri pada lambung.

f. Gangguan Pada Mata

Mata menjadi merah, sukar tidur, gangguan presepsi

penglihatan dan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan

yang berakibat fatal bagi dirinya.

g. Ganguan Pada Mulut

Pengguna narkoba pada umumnya akan mengalami

masalah pada rongga mulut. Mulut akan terasa kering, kaku

dan gangguan bicara. Lidah juga akan mengalami kekakuan

dan gangguan sensitifitas lidah sehingga mengakibatkan sulit

menelan. Sebagian besar pecandu juga akan mengalami

kerusakan pada gigi dan bau mulut.(SenliHR).

Secara keseluruhan obat-obatan ini dapat menimbulkan

gangguan-gangguan pada sistem saraf manusia, juga pada organ-

organ tubuh manusia. Narkoba juga akan mengakibatkan

kecanduan/ketagihan kepada pemakainya dan apabila pemakaian di

hentikan, dapat mengakibatkan kematian. Ciri-ciri kecanduan antara

lain: kejang, sakit perut, badan gemetar, muntah-muntah, mata dan

hidung berair, hilangnya nafsu makan dan hilangnya/berkurangnya

berat badan.

42
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi penelitian

Penulis memilih Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Selatan

sebagai tempat penelitian. Adapun alasan penulis memilih tempat tersebut,

dikarenakan sebagai efesiensi dan kemudahan untuk melakukan penelitian

sebagai institusi penegak hukum yang diberi kewenangan dalam

melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana narkoba.

Penelitian ini dilaksanakan mulai pada bulan Juli sampai dengan bulan

Desember 2017.

B. Jenis dan sumber data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian yaitu: data primer

dan data sekunder. Data primer (primary data) merupakan sumber data

penelitian yang diperoleh secara langsung dan sumber asli (tidak melalui

media perantara), sedangkan data sekunder (secondary data) merupakan

sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung

melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data primer

yang akan peneliti gunakan dalam penelitian yang akan dilaksanakan ialah

data subyek. Data Subyek ialah data yang diperoleh dari melalui lisan,

tertulis, dan ekspresi (Etta M. Sangadji dan Sofiah,2010 :44)

Sumber data subyek sebagai data primer dalam penelitian yang

dilaksanakan berasal dari sumber informasi. Sumber informasi yang

dieksplore dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

43
1. AKBP KAMALUDDIN, S.H., M.Si

Sumber informasi ini dipilih oleh peneliti dalam rangka

menggali informasi peran dan upaya yang sudah dilaksanakan

oleh Direktorat Reserse narkoba Polda Sulsel dalam melakukan

pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Narkoba,

khsusnya terkait dengan keterlibatan masyarakat dalam

memberikan laporan atau informasi manakala menemukan

penyalahgunaan narkoba.

2. AIPTU RAMLI

Sumber informasi ini dipilih oleh Peneliti karena yang

bersangkutan adalah personel Direktorat Reserse narkoba

Polda Sulsel yang melakukan pengumpulan dan pengelolaan

data Tindak Pidana Narkoba yang terjadi di wilayah hukum

Polda Sulsel.

3. USTADZ MUH. NUR, S.Ag (TOKOH AGAMA)

Sumber informasi ini dipilih oleh Peneliti dalam rangka

memperoleh informasi terkait dengan peran para tokoh agama

dalam mencegah dan pemberantasan tindak pidana narkoba.

4. KATENO SASTRO WARDOYO (TOKOH MASYARAKAT)

Sumber informasi ini dipilih oleh peneliti dalam rangka

peneliti memperoleh data dan inforrnasi terkait peran dan

kontribus yang bersangkutan dalam rangka bersinergi dengan

44
aparat penegak hukum untuk melakukan pencegahan dan

pemberantasan tindak pidana narkoba.

5. MUZAKKIR (TOKOH PEMUDA)

Sumber informasi ini dipilih oleh peneliti dalam rangka

peneliti memperoleh data dan informasi terkait peran dan

kontribusi pemuda dalam mencegah dan memberantas

penyalahgunaan narkoba.

Sumber-sumber informasi diatas merupakan penghubung bagi

peneliti untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, baik

menghubungkan dengan sumber informasi lainnya maupun memberikan

masukan tambahan informasi lainnya yang dibutuhkan oleh peneliti.

Data sekunder yang akan digunakan dalam penelitian meliputi: data

internal dan data eksternal. Data internal ialah data-data sekunder yang

dimiliki oleh Kepolisian, sedangkan data eksternal ialah data-data sekunder

yang dimiliki oleh di luar Instansi Kepolisian, seperti tokoh masyarakat serta

yang mungkin diperlukan dalam mendapatkan data dan informasi yang

diperlukan.

C. Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tehnik pengumpulan data

sebagai berikut:

45
1. Wawancara (Interview)

Teknik penelitian ini digunakan dalam rangka memperoeh

data yang tajam dengan cara melakukan wawancara Iangsung

di lapangan kepada sumber informasi, yang sudah peneliti

sampaikan pada sebelumnya. Teknik wawancara dilakukan

melalui wawancara tidak terstruktur mengacu pada pedoman

wawancara yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Wawancara ini dilaksanakan dengan berpedoman pada

pedoman yang telah disediakan / dipersiapkan sebelum

pelaksanaan. Pedoman ini, berisi petunjuk tentang kegiatan

yang harus dilakukan dan daftar pertanyaan - pertanyaan yang

dibuat dengan teratur dan berurutan sesuai dengan data, fakta,

informasi yang diperlukan untuk memecahkan atau menjawab

permasalahan bagaimana peran serta masyarakat dalam

mencegah dan berantas narkoba

2. Observasi

Teknik ini digunakan peneliti dengan langsung

mengadakan pengamatan guna mengetahui dan menangkap

apa - apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakata dalam

situasi atau situasi kondisi kegiatan pencegahan dan

pemberantasan narkoba. Dalam melakukan observasi penulis

berusaha melihat dari dekat kegiatan tersebut guna menguatkan

hasil wawancara dengan informan. Langkah tersebut ditempuh

46
guna menguatkan informasi yang diberikan oleh informan

sehingga validitas dan akurasi data tidak diragukan. Selama

melakukan observasi penulis melengkapi diri dengan kamera,

alat perekam, dan buku catatan untuk membantu dalam

observasi yang penulis lakukan agar gejala yang penulis amati

dapat terekam dalam catatan penulis.

3. Studi dokumen / telaah dokumen

Teknik ini digunakan dengan cara mempelajari dan meneliti

bahan-bahan dari berbagai sumber yang berhubungan dengan

masalah, seperti buku - buku, peraturan perundang-undangan,

artikel-artikel yang berasal dari surat kabar, majalah ataupun

dan media Internet yang terkait dengan permasalahan narkoba.

4. Kuesioner / daftar pertanyaan

Menurut Nazir, kuesioner atau daftar pertanyaan adalah

sebuah set pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan

masalah penelitian, dan tiap pertanyaan merupakan jawaban-

jawaban yang mempunyai makna dalam menguji hipotesis.

Daftar pertanyaan tersebut dibuat cukup terperinci dan lengkap.

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, Kuesioner/angket

adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang

bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan

pengguna. Dengan demikian angket/kuesioner adalah daftar

pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti dimana tiap

47
pertanyaannya berkaitan dengan masalah penelitian. Angket

tersebut pada akhirnya diberikan kepada responden untuk

dimintakan jawaban. Angket merupakan daftar pertanyaan yang

diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang

diberikan tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan

permintaan pengguna. Selanjutnya angket menurut Suharsimi

Arikunto, dapat dibedakan menjadi:

a) Angket terbuka yaitu angket yang disajikan dalam bentuk

sedemikian rupa sehingga responden dapat memberikan

isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Angket

terbuka dipergunakan apabila peneliti belum dapat

memperkirakan atau menduga kemungkinan alternatif

jawaban yang ada pada responden.

b) Angket tertutup yaitu angket yang disajikan dalam bentuk

sedemikian rupa sehingga responden tinggal memberikan

tanda centang (V) pada kolom atau tempat yang sesuai.

c) Angket campuran yaitu gabungan antara angket terbuka

dengan angket tertutup.

D. Teknik analisis data

Teknik analisis data yang akan digunakan adalah teknik analisis

data dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analitis.

Deskriptif analitis bersifat menjabarkan, menerangkan, dan

mendeskripsikan secara terperinci berdasarkan data - data yang telah

48
dikumpulkan mengenai permasalahan bagaimana peran serta

masyarakat dalam mencegah dan berantas narkoba, Data-data

tersebut kemudian dianalisis dan diinterpretasi. Teknik analisis data

yang digunakan adalah analisis data kualitatif yang dapat diartikan

sebagai suatu kegiatan yang mengacu pada penelaahan atau

pengujian yang sistematik mengenai suatu hal dalam rangka

menentukan bagian-bagian, hubungan di antara bagian, dan

hubungan bagian dalam keseluruhan. Dalam setiap kasus, analisa

kualitatif dilaksanakan seperti tanpa henti untuk menguji beberapa

gejala (ruang, waktu, dan perilaku), membaginya ke dalam bagian-

bagian yang ada dalam konteks gejala itu dan mencoba memahami

hubungan bagian dalam keseluruhan dengan melakukan kegiatan

sebagal berikut : mengumpulkan informasi dari lapangan, menyortir

informasi menjadi kelompok - kelompok, memformat informasi

ke dalam sebuah cerita atau gambar dan menulis naskah kualitatif.

Dalam mengolah dan menganalisis data, penulis menggunakan

teknik analisis data kualitatif sebagaimana dikemukakan oleh Huberman

dalam Farouk dan Djaali (2001: 110) sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah bagian dan proses analisis yaitu

bentuk analisis untuk mempertegas, memperpendek, membuat

fokus, membuang hal yang tidak penting, dan mengatur data,

sehingga dapat dibuat kesimpulan. Reduksi data merupakan

49
proses seleksi, membuat fokus, menyederhanakan dan

abstraksi dan data kasar yang ada dalam catatan lapangan.

Proses ini berlangsung terus sepanjang pelaksanaan penel.tian,

berupa singkatan, pembuatan kode, memusatkan tema, dan

membuat batas-batas persoalan.

2. Sajian Data

Sajian data adalah suatu susunan informasi yang

memungkinkan dapat ditariknya suatu kesimputan penelitian.

Dengan melihat sajian data, penulis akan memahami apa yang

terjadi serta memberikan peluang bagi peneliti untuk

mengerjakan sesuatu pada analisis atau tindakan lain

berdasarkan pemahamannya. Penyajian data dalam bentuk

matriks, gambar, skema, jaringan kerja, dan tabel, mungkin akan

banyak membantu menganalisis guna mendapatkan gambaran

yang jelas serta memudahkan dalam menyusun kesimpulan

penelitian. Pada dasamya sajian data dirancang untuk

menggambarkan suatu informasi secara sistematik dan mudah

dilihat serta dipahami dalam bentuk keseluruhan sajiannya.

3. Penarikan Kesimpulan

Sejak awal pengumpulan data, peneliti harus sudah mulai

memahami makna dan hal - hal yang ditemui dengan mencatat

keteraturan, pola-pola pernyataan dari berbagai konfigurasi

yang mungkin, arah hubungan kausal, dan, proposisi. simpulan

50
akhir pada penelitian kualitatif, tidak akan ditarik kecuali setelah

proses pengumpulan data berakhir. Kesimpulan yang dibuat

perlu diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan

kembali, sambil meninjau secara sepintas pada catatan

dilapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih tepat.

51
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Satker Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel merupakan bagian

dari Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan yang keberadaannya

sebagaimana dituangkan dalam pasal 30 ayat 4 Undang Undang Dasar

Republik Indonesia Tahun 1945 Kepolisian Negara Republik Indonesia

sebagai alat Negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat

bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta

menegakkan hukum. Dalam melaksanakan apa yang tertuang dalam pasal

30 ayat 4 Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, satker

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel terus berupaya melakukan sinergi

dengan segenap komponen masyarakat untuk menciptakan kondisi di

jajaran Polda Sulsel yang aman dan kondusif, sehingga masyarakat dapat

melakukan aktivitas tanpa ada diikuti rasa takut dan khawatir yang timbul

dari situasi dan kondisi yang tidak aman.

Dengan era reformasi yang sedang bergulir sampai dengan saat ini,

satker Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel senantiasa terus berupaya

mendukung dan mengawasi agar reformasi dapat berjalan sesuai dengan

harapan masyarakat. Untuk mewujudkan harapan tersebut satker

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel yang juga bagian dari instansi

kepemerintahan telah melaksanakan reformasi di dalam pengelolaan

52
organisasi baik dari aspek akuntabilitas kinerja serta aspek akuntabilitas

penggunaan keuangan Negara, dimana ketentuan tersebut seperti yang

telah tertuang dalam Tap MPR RI No.XI/MPR/1998 dan Undang-Undang

No.28 tahun 1999 tentang peyelenggaraan Negara yang bersih, bebas dari

korupsi, kolusi dan nepotisme, dibutuhkan suatu bentuk pertanggung

jawaban terkait pengembangan dan penerapan sistem yang tepat, jelas dan

nyata secara periodik

B. Tugas Pokok dan Fungsi

Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 22 Tahun 2010 tentang

Susunan Organisasi Dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Daerah, maka

tugas, fungsi, susunan organisasi dan tata kerja satker Direktorat Reserse

Narkoba Polda Sulsel adalah sebagai berikut :

1. Tugas Pokok Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel mengemban

tugas menyelenggarakan penyelidikan dan penyidikan tindak

pidana penyalahgunaan Narkoba, termasuk penyuluhan dan

pembinaan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban

penyalahgunaan Narkoba.

2. Fungsi satker Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel

Dalam mengemban tugas tersebut, satker Direktorat

Reserse Narkoba Polda Sulsel menyelenggarakan fungsi:

53
a. Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan

Narkoba;

b. Penganalisisan kasus Narkoba beserta penanganannya

dan pengkajian efektifitas pelaksanaan tugas Dit Res

Narkoba;

c. Pengawasan penyidikan tindak pidana Narkoba di

lingkungan Polda;

d. Pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan

rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba; pengumpulan

dan pengolahan data serta menyajikan informasi dan

dokumentasi program kegiatan Dit Res Narkoba.

C. Struktur Organisasi satker Direktorat Reserse Narkoba Polda

Sulsel

Untuk mengemban tugas pokok, fungsi, susunan organisasi dan tata

kerja tersebut, sesuai Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik

Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Dan Tata

Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah, satker Dit Reserse Narkoba

dipimpin oleh Direktur Reserse Narkoba Polda sulsel yang bertanggung

jawab kepada Kapolda, dan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dibawah

kendali Wakapolda. Dit Res Narkoba dalam melaksanakan tugasnya

dibantu oleh Wadir Res Narkoba yang bertanggung jawab kepada Dir Res

Narkoba. Direktorat Reserse Narkoba terdiri dari :

54
1. Sub Bagian Perencanaan dan Administrasi (Subbag Renmin);

2. Bagian Pembinaan Operasional (Bag Bin Opsnal);

3. Bagian Pengawasan Penyidikan (Bag Wassidik); dan

4. Sub Direktorat (Subdit).

DSPP Ditresnarkoba Polda Sulawesi Selatan adalah 155 Personil

dengan rincian 136 Personil Polri dan 19 PNS Polri. Riil personil saat ini 93

personil dengan 88 Polri dan 5 PNS Polri sehingga dalam rencana

kebutuhannnya masih memiliki kekurangan 48 personil Polri dan 14 PNS

Polri. Namun bila kita melihat dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia

No. 58 tahun 2010 tentang perubahan atas peraturan pemerintah nomor 27

tahun 1983 tentang pelaksanaan kitab undang-undang hukum acara pidana

yang mana salah satu point didalamnya Pasal 2A, 2B dan 2C serta Pasal 3

dijelaskan bahwa persyaratan untuk menjadi penyidik/penyidik pembantu

serendah-rendahnya harus strata satu harus segera dilaksanakan agar

nantinya tidak menjadi masalah dikemudian hari dalam pelaksanaannya.

SDM yang ada khususnya didalam internal Ditresnarkoba Polda Sulsel

masih memiliki kekurangan karena sebagian besar personil masih berijasah

SMA dan belum memiliki pendidikan pengembangan spesialis Narkoba.

Oleh karenanya Ditresnarkoba Polda Sulsel saat ini sementara

melakukan kompetensi serta analisa evaluasi terhadap kinerja penyidiknya

guna untuk memenuhi persyaratan sebagaimana yang ada didalam PP R.I

nomor 58 tahun 2010. Sehingga diharapkan didalam tahun 2017 ini seluruh

kinerja penyidik/penyidik pembantu dijajaran Ditresnarkoba Polda Sulsel

55
dapat berjalan sesuai dengan kompetensinya dan dapat

dipertanggungjawabkan dengan aturan perundang-undangan yang ada.

D. Strategi Dit Res Narkoba Polda Sulsel

Rencana Strategis (Renstra) satker Direktorat Reserse Narkoba

Polda Sulsel tahun 2015-2019 merupakan perencanaan jangka menengah

yang berisi tentang gambaran sasaran atau kondisi hasil yang akan dicapai

dalam kurun waktu lima tahun beserta strategi yang akan dilakukan untuk

mencapai sasaran sesuai dengan tugas, fungsi dan peran yang

diamanahkan.

Tahun 2016 adalah tahun keempat pelaksanaan Renstra satker

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel Tahun 2015-2019. Secara

substantif Rencana Strategis satker Direktorat Reserse Narkoba Polda

Sulsel memuat visi dan misi, tujuan yang ingin dicapai, sasaran prioritas

dalam pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai berikut:

1. Visi Dit Reserse Narkoba Polda Sulsel

Penyidik / Penyidik pembantu Direktorat Reserse Narkoba

Polda Sulsel mampu bertindak sebagai aparat penegak hukum yang

professional, proporsional, akuntabel, bebas dari KKN dengan

menjunjung tinggi supremasi hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM)

dalam rangka melakukan penanggulangan terhadap

penyalahgunaan tindak pidana Narkoba.

56
2. Misi satker Dit Reserse Narkoba Polda Sulsel

a. Menegakkan hukum secara professional dan proporsional

dengan menjunjung tinggi supremasi Hukum dan Hak Asasi

Manusia;

b. Mengelola SDM, Sarana dan Prasarana dalam rangka

meningkatkan kualitas penyidik / penyidik pembantu guna

menunjang peningkatan pengungkapan dan penyelesaian

perkara tindak pidana Narkoba;

c. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan Narkoba kepada

masyarakat;

d. Melaksanakan penyelidikan dan proses penyidikan yang lebih

mengedepankan pembuktian secara ilmiah dengan

mengoptimalkan peran fungsi bantuan teknis Kepolisian;

e. Melaksanakan supervisi dan bimbingan teknis serta bantuan

teknis penyidikan ke kesatuan res Narkoba yang ada di

Polres/ta/bes;

f. Melaksanakan kerjasama dengan masyarakat, LSM, aparat

pemerintah dan swasta serta aparat penegak hokum (Criminal

Justice System) dalm rangka pencegahan, pemberantasan dan

penanggulangan penyalahgunaan Narkoba;

g. Melaksanakan analisa dan evaluasi hasil pelaksanaan tugas

tersebut yang meliputi huruf “ a “ sampai dengan “ f ” (bidang

pembinaan dan operasional).

57
3. Tujuan

a. Menegakkan hukum dalam bidang Narkoba secara konsisten;

b. Mengungkap jaringan Narkoba;

c. Meningkatkan kredibilitas dan legitimasi penyidik yang lebih

profesional di mata masyarakat;

d. Meningkatkan sumber daya penyidik yang mahir, terpuji dan

patuh hukum;

e. Meningkatkan pengungkapan kasus tindak pidana Narkoba

serta pemberantasan jaringan utama penyuplai Narkoba dan

prekursor;

f. Pengadaan barang berupa alut/alsus utama Dit Res Narkoba

Polda Sulsel untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan

tugas di lapangan (pengungkapan kasus tindak pidana

Narkoba)

4. Sasaran Strategis Dit Res Narkoba Polda Sulsel

a. Meningkatkan kemampuan SDM personil Dit Res Narkoba

Polda sulsel dengan mengoptimalkan pelatihan fungsi dan

pemahamannya secara berkala dan kontinyu;

b. Mengurangi dampak penyalahgunaan Narkoba dengan

mengedepankan penindakan terhadap para pelaku, pengedar

dan bandar narkoba di wilayah hukum Polda sulsel serta

mengoptimalkan kegiatan penyuluhan serta mengoptimalkan

secara terpadu dan bersinergi dengan instansi terkait lainnya;

58
c. Memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada guna

mendukung kegiatan operasional personel Polri dilapangan

dalam hal penegakkan hukum terhadap para pelaku, pengedar

dan Bandar Narkoba;

d. Pengadaan barang berupa alut / alsus utama Dit Res Narkoba

Polda Sulsel untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan

tugas dilapangan (pengungkapan kasus tindak pidana

narkoba). Pengadaan barang berupa alut / alsus tersebut

diharapkan dapat memaksimalkan hasil pengungkapan kasus

tindak pidana Narkoba yang terjadi di wilayah Hukum Polda

sulsel dengan sasaran pelaksanaan tugas meliputi tempat-

tempat hiburan malam, diskotik, bar, bandara, hotel,

pelabuhan, dan lain-lain.

59
TABEL I

DATA PENYULUHAN NARKOBA PADA SATKER

DIT RES NARKOBA POLDA SULSEL

PELAKSANA JUMLAH
NO WAKTU TEMPAT
KEGIATAN PESERTA
1 DIT RES Rabu, 11 Warkop Dg Sija + 20 orang

NARKOBA Januari 2017 Jalan WR.

POLDA SULSEL pukul. 08.00 Supratman

wita s/d selesai Makassar

2 DIT RES Rabu, 13 Balai Diklat + 85 orang

NARKOBA Februari 2017 Keuangan

POLDA SULSEL pukul. 09.00 Makassar Jalan

wita s/d selesai Urip Sumoharjo

KM 4 Makassar

3 DIT RES Rabu, 25 Balroom A 290 orang

NARKOBA Oktober 2017 Gedung Fhinisi

POLDA SULSEL pukul. 14.00 s/d UNM

16.00 wita

4 DIT RES Rabu, 25 Talk Show di

NARKOBA Oktober 2017 TVRI Sulsel

POLDA SULSEL pukul. 17.00 s/d

18.00 wita

60
E. Peran Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel dalam

penanggulangan tindak pidana narkoba.

Peran Direkrorat Reserse Narkoba Polda Sulsel jika dikaitkan dengan

pencegahan tindak pidana narkoba adalah suatu realitas yang tidak

mungkin dilepaskan, sesuai dengan Perkap 22 Tahun 2010 maka Direktorat

Reserse Narkoba Polda Sulsel memiliki tugas yaitu :

1. Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan Narkoba;

2. Penganalisaan kasus Narkoba beserta penanganannya dan

pengkajian efektifitas pelaksanaan tugas Dit Res Narkoba;

3. Pengawasan penyidikan tindak pidana Narkoba di lingkungan Polda;

4. Pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan

rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba; pengumpulan dan

pengolahan data serta menyajikan informasi dan dokumentasi program

kegiatan Dit Res Narkoba.

5. Berkoordinasi dengan Stakeholder terkit dalam pencegahan dan

pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan

prekursor narkotika;

6. Memberdayakan masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan

penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor

narkotika;

61
7. Memantau, mengarahkan dan meningkatkan kegiatan masyarakat

dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan

peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika;

TABEL II

DATA UNGKAP KASUS TINDAK PIDANA NARKOBA PADA SATKER

DIT RES NARKOBA POLDA SULSEL DAN JAJARAN

TAHUN
NO JTP / JPTP
2016 2017
1 KASUS 1.791 1.655
2 SELESAI 1.614 1.441
JUMLAH TERSANGKA BERDASARKAN JENIS KELAMIN
3 LAKI – LAKI 2.530 2.367
4 PEREMPUAN 155 196
JUMLAH 2.685 2.563
JUMLAH TERSANGKA BERDASARKAN USIA
5 <15 10 19
6 16 – 19 264 240
7 20 – 24 577 484
8 25 – 29 715 632
9 >30 1.119 1.188
JUMLAH 2.685 2.563
JUMLAH TERSANGKA BERDASARKAN PENDIDIKAN
10 SD 1.019 1.108
11 SMP 731 639
12 SMA 815 729
13 PT 120 87
JUMLAH 2.685 2.563
JUMLAH TERSANGKA BERDASARKAN PEKERJAAN
14 PLJ 52 47
15 MHS 65 47
16 TNI 3 1
17 PNS 45 17
18 POL 31 19

62
TAHUN
NO JTP / JPTP
2016 2017
19 SWT 551 465
20 WST 553 484
21 BRH 372 315
22 TANI 213 209
23 PNG 800 956
JUMLAH 2.685 2.563
JUMLAH TERSANGKA BERDASARKAN STATUS
24 PRODUSEN - -
25 BANDAR 38 17
PENGEDAR /
26 2.621 2.262
DISTRIBUSI
27 PENGGUNA / KONSUMSI 26 284
JUMLAH 2.685 2.563
JUMLAH DAN JENIS BARANG BUKTI
28 GANJA 947,3686 GRAM 864,2 GRAM
29 PUTAU - -
30 XTC 2.435 BUTIR 1.039
31 SHABU 49 KG 20 KG
943.018
32 DAFTAR G 63.248 BUTIR
BUTIR

Data tersebut diatas menunjukan bahwa tingkat penyalahgunaan

narkoba diwilayah hukum Polda Sulsel masih sangat tinggi, olehnya itu

masih diperlukan peran dan kontribusi aktif dari masyarakat dalam

memberikan informasi terkait dengan adanya kegiatan penyalahgunaan

narkoba yang terjadi dilingkungan masyarakat. Peran serta masyarakat

sangat diperlukan dalam memberikan informasi dalam mengungkap kasus

tindak pidana narkoba. Dalam memotivasi masyarakat agar mau berperan

63
dalam pemberantasan tindak pidana narkoba maka perlu diberikan reward

sebagai wujud rasa terima kasih atas peran serta masyarakat, dan hal ini

diatur dalam UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika.

F. Sumber Data yang Diperoleh

Dari hasil penelitian diatas yang telah diperoleh dari masing-masing

narasumber dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. AKBP KAMALUDDIN, S.H., M.Si

Dari hasil wawancara dengan AKBP KAMALUDDIN, S.H., M.Si,

pada hari Senin tanggal 4 Desember 2017 jam 11.30 wita, telah

diperoleh informasi bahwa Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel

dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana

Narkoba, sudah melaksanakan langkah-langkah sesuai prosedur

yang berlaku dengan melakukan penyuluhan di instansi pemerintah,

sekolah, kampus, serta tempat-tempat yang dianggap memerlukan

penjelasan terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba.

2. AIPTU RAMLI

Dari hasil interviu dengan personel Direktorat Reserse Narkoba

Polda Sulsel atas nama AIPTU RAMLI pada hari Selasa tanggal 5

Desember 2017 jam 10.00 wita, telah diperoleh data pengungkapan

kasus Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel berdasarkan jumlah

tersangka menurut jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status

serta jumlah dan jenis barang bukti sesuai pada TABEL II diatas.

64
3. USTADZ MUH. NUR, S.Ag (TOKOH AGAMA)

Dari hasil wawancara dengan USTADZ MUH. NUR, S.Ag , pada

hari Jumat tanggal 15 Desember 2017 pukul 13.30 wita, seorang

tokoh agama yang tinggal di kompleks perumahan Vila Mutiara Asri 8

No. 31 Kel. Bulurokeng, Kec. Biringkanaya Kota Makassar, dijelaskan

bahwa sangat dibutuhkan kerja sama yang baik antara pihak

Kepolisian dengan masyarakat, khususnya para orang tua dalam

rangka pencegahan dan penyalahgunaan narkoba dikalangan anak-

anak remaja.

4. KATENO SASTRO WARDOYO (TOKOH MASYARAKAT)

Dari hasil wawancara dengan KATENO SASTRO WARDOYO,

pada hari Minggu tanggal 24 Desember 2017 pukul 20.00 wita,

seorang tokoh masyarakat yang tinggal di kompleks perumahan Vila

Mutiara Garden 3 No. 7 Kel. Bulurokeng, Kec. Biringkanaya Kota

Makassar, dijelaskan bahwa, dari hasil pengamatan yang terjadi

setiap hari, perlu adanya pertemuan antara pihak berwajib, pihak

pemerintah dan masyarakat untuk membahas tentang bahaya yang

ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba dikalangan generasi muda.

5. MUZAKKIR (TOKOH PEMUDA)

Dari hasil wawancara dengan MUZAKKIR, pada hari Selasa

tanggal 26 Desember 2017 pukul 15.30 wita, seorang tokoh pemuda

yang tinggal di kompleks perumahan Vila Mutiara Hijau Utama No. 10

Kel. Bulurokeng, Kec. Biringkanaya Kota Makassar, dijelaskan bahwa,

65
penyalahgunaan narkoba yang saat ini sudah menyentuh kapada

generasi muda oleh karena itu sangat dibutuhkan peran serta

masyarakat dalam malakukan pencegahan dan penyalahgunaan

narkoba.

Sumber-sumber diatas adalah merupakan data dan informasi yang

diperoleh peneliti berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh agama,

tokoh masyarakat serta tokoh pemuda untuk mengetahui permasalahan

yang terjadi dikalangan masyarakat terkait penyalahgunaan narkoba, oleh

karena itu, peran masyarakat amat dibutuhkan dalam rangka membantu

aparat penegak hukum untuk mencegah dan memberantas

penyalahgunaan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.

Dengan ikut sertanya masyarakat membantu tugas aparat penegak

hukum tersebut, maka peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika

yang berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat diminimalisir,

yang nantinya diharapkan masyarakat bisa terlepas dari bahaya peredaran

gelap narkotika dan prekursor narkotika.

66
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan apa yang telah penulis paparkan pada bab sebelumnya,

maka dapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai hal tersebut sebagai

berikut :

1. Peran masyarakat amat dibutuhkan dalam rangka membantu aparat

penegak hukum untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan

peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika. Dengan ikut

sertanya masyarakat membantu tugas aparat penegak hukum

tersebut, maka peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika

yang berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat dapat

diminimalisir, yang nantinya diharapkan masyarakat bisa terlepas dari

bahaya peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.

2. Dalam rangka pencegahan dan memberantas peredaran gelap

narkotika hubungan antara masyarakat dengan aparat penegak

hukum harus terus menerus ditingkatkan, baik dalam rangka

memberikan sosialisasi kepada masyarakat, melakukan seminar-

seminar tentang bahaya penyalahgunaan narkotika, himbauan

melalui iklan layanan masyarakat dan lain sebagainya sehingga

masyarakat sadar betul akan peredaran gelap narkotika merupakan

bahaya yang mengancam kehidupan masyarakat, bangsa, dan

negara baik untuk saat ini maupun masa yang akan datang.

67
B. Saran

Dari kesimpulan diatas, penulis dapat memberikan saran sebagai

berikut:

1. Peran masyarakat dalam membantu aparat penegak hukum untuk

mencegah dan memberantas penyalahgunaan peredaran gelap

narkotika dan prekursor narkotika harus diimbangi dengan dengan

perlindungan hukum yang optimal kepada masyarakat yang melapor

sehingga masyarakat yang melapor merasa aman dan terjamin dari

bahaya baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya dari tindakan

orang yang dilaporkannya tersebut, yang diduga telah melakukan

penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika. Serta aparat

penegak hukum harus memperhatikan psikologi masyarakat, jangan

sampai peran masyarakat justru merugikan masyarakat itu sendiri

secara psikis.

2. Untuk menjalin kerjasama yang erat itu dibutuhkan kepercayaan dari

masing-masing komponen, yakni masyarakat dan aparat penegak

hukum dalam rangka pencegahan dan pemberantasan

penyalahgunaan narkotika. Kepercayaan tersebut dengan cara

pembuktian dari aparat penegak hukum yang berupa keseriusannya

dalam memberantas peredaran gelap narkotika dan terlepasnya aparat

penegak hukum dari keterlibatan sindikat peredaran gelap narkotika.

68
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana.

Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri.

Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

A. Hamzah dan RM. Surachman, 1994, Kejahatan Narkotika dan

Psikotropika. Jakarta, Sinar Grafika.

Mulyono dan Eugenia Liliawati, 1998, Peraturan Perundang-undangan

Narkotika dan Psikotropika. Jakarta, Harvarindo.

Romli Atmasasmita, 1997, Tindak Pidana Narkotika Transnasional dalam

Sistem Hukum Pidana Indonesia. Bandung, Citra Aditya Bakti

Siswantoro, 2004, Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian

Sosiologi Hukum, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada.

Soedjono D., 1976, Segi Hukum Tentang Narkotika di Indonesia,

Bandung, PT. Karya Nusantara.

Taufik Makarao, 2003, Tindak Pidana Narkotika, Jakarta, PT. Ghalia

Indonesia.

69
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DAERAH SULAWESI SELATAN
DIREKTORAT RESERSE NARKOBA

SURAT KETERANGAN
Nomor : B / / XII / 2017 / Ditresnarkoba

Berdasarkan surat Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Fakultas


Hukum Universitas Hasanuddin Nomor : 11675/UN4.5.3/PL.02/2017, tanggal 24
November 2017 perihal Penelitian, bahwa dalam rangka penyusunan skripsi, maka
Direktur Reserse Narkoba Polda Sulsel, dengan ini menyatakan bahwa :

Nama : SUANDI KADIR


No. Pokok : B11112627
Program Studi : ILMU HUKUM
Bagian : HUKUM PIDANA
Alamat : VILA MUTIARA HIJAU XIX NO. 36 MAKASSAR

Telah selesai melaksanakan penelitian di Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel


terhitung mulai tanggal 29 November s/d 19 Desember 2017, untuk keperluan
penyusunan Skripsi dengan judul “PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM
UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA (STUDI KASUS DI
WILAYAH HUKUM DIREKTORAT RESERSE NARKOBA POLDA SULSEL)”

Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana


mestinya.

Makassar, Desember 2017


DIREKTUR RESERSE NARKOBA POLDA SULSEL

EKA YUDHA SATRIAWAN


KOMISARIS BESAR POLISI NRP 64110588