Anda di halaman 1dari 9

Peternak sapi di Pasar Hewan Legi, Ngawi, Jawa Timur mengeluhkan kurangnya

persediaan sapi siap potong di pasaran pasca Hari Raya Iduladha sehingga mereka harus
mendatangkan sapi dari luar daerah untuk memenuhi permintaan. Foto oleh Ari Bowo
Sucipto/Antara. Pada saat bersamaan, ada tantangan lain, yaitu perubahan iklim yang membuat
kian sulit untuk mengembangkan tanaman, termasuk pangan di berbagai belahan dunia.
Indonesia juga mengalami kekeringan yang panjang, pun banjir yang kini terjadi hampir
sepanjang tahun.

Akhir bulan lalu, pada 29 September 2016, Rappler Indonesia menggelar Social Good
Summit 2016 bekerjasama dengan Kantor PBB Urusan Pembangunan (UNDP). Tema tahun ini
adalah, “Connecting Today, Creating Tomorrow”, untuk mencapat 17 Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) pada 2030. Rekaman video lengkap
Social Good Summit 2016 dapat disaksikan di laman Rappler Indonesia.

Dari 17 SDGs, sedikitnya 13 tujuan terkait dengan tema tersebut, dan menjadi domain
bagi sivitas akademika di lingkungan IPB, khususnya Sekolah Bisnis, untuk bersama-sama
mengidentifikasi tantangan, dan mencari solusi. Apalagi menyangkut tema besar Hari Pangan
Sedunia. Tujuan pertama, “tanpa kemiskinan”. Tujuan kedua,”tanpa kelaparan”. Langsung
menohok ke jantung komunitas di sektor pertanian pangan, termasuk IPB sebagai lembaga
pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Rappler didirikan di Manila, Filipina, sekitar
empat tahun lalu oleh sekelompok jurnalis independen. Di Indonesia, Rappler mengembangkan
kegiatannya secara serius sejak setahun lalu. Sejak awal, Rappler mempromosikan pentingnya
penggunaan media sosial untuk tujuan baik (social media for social good).

Sejumlah petani di Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, akan mengalami perubahan
jadwal tanam pascapanen yang diperkirakan pada Desember mendatang. Foto oleh /Basri
Marzuki/Antara

Berikut adalah data di Indonesia menurut International Telecomunication Union pada 2015:

 257,5 juta populasi

 56,6 juta pengguna internet

 22 persen penetrasi internet

 85 persen mengakses internet melalui telepon seluler


Data Susenas 2014 menunjukkan bahwa 82% dari 50 juta penduduk Indonesia yang mengakses
internet menjadikan media sosial sebagai tujuan utama menggunakan internet.

Kegiatan ini bertujuan mengajak kaum muda, mereka yang menjadi pengguna aktif
teknologi komunikasi, menjadi pengguna media sosial, untuk menginisiasi dan berbagi ide
inovasi, ide solusi masalah global dan nasional, terutama terkait dengan SGDs, yang
memberikan manfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Menggelar Social Good Summit adalah
bagian dari kegiatan Ayo Indonesia pada September 2016. Semangat Ayo Indonesia itu kami
bawa ke Kampus Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor, pada Sabtu, 22 Oktober 2016.

Ekonomi digital, bagaimana dengan pangan

Menurut Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) kebutuhan jagung untuk pakan
ternak pada 2017 diprediksi naik sekitar 8,5 juta ton, lebih tinggi dibandingkan tahun ini yang
sebesar 8 juta ton. Foto oleh Harviyan Perdana Putra/Antara Awal minggu ini saya mengikuti
sebuah seminar mengenai ekonomi digital di Indonesia. Ada data menarik dari Oxford
Economics, berdasarkan riset pada Mei 2016 mengenai dampak mobile internet di Indonesia
terhadap produk domestik bruto (GDP). Dari setiap poin kenaikan persentase penetrasi mobile
internet, akan menambah US$640 juta dolar ke GDP pada 2020. Dampaknya terhadap
penciptaan lapangan pekerjaan? Dari setiap poin kenaikan penetrasi mobile internet, ada
penambahan 10.700 lapangan pekerjaan formal. Pertanian dan pangan adalah bagian dari
ekonomi. Tak bisa dipungkiri lagi, kita sudah memasuki era ekonomi digital. Sebuah studi yang
dilakukan Biro Pertanian AS pada 2011 mencatat bahwa 98% petani dan
pemilik/pengelola ranch dalam rentang usia 18-25 tahun memiliki akses ke internet. Sebanyak
76% di antara mereka menggunakannya untuk media sosial. Media sosial terbukti berperan
penting di industri pertanian, baik secara business-to-business (B2B) dan business-to-
consumer (B2C). Sebuah revolusi digital di agribisnis.

Petani mengolah tanah menggunakan traktor di persawahan Desa Undaan, Kudus, Jawa Tengah,
pada 18 Oktober 2016. Foto oleh Yusuf Nugroho/Antara Presiden Joko “Jokowi” Widodo
memiliki harapan serupa ketika meluncurkan sejumlah aplikasi berbasis teknologi selular untuk
meningkatkan kesejahteraan petani.

 Aplikasi TaniHub berisikan layanan mengenai distribusi hasil pertanian dan perkebunan
dari daerah ke kota.

 Aplikasi LimaKilo memungkinkan petani untuk langsung menjual hasil panennya ke


konsumen dengan harga kompetitif.
 Aplikasi Pantau Harga merupakan tempat untuk tawar menawar, dan melakukan jual beli
antara penyedia bahan baku dengan petani. Hal ini memudahkan dalam melakukan
interaksi dikarenakan ada basis data harga yang menjadi acuan.

 Aplikasi Nurbaya Initiatives adalah layanan yang disediakan bagi pelaku ekonomi rakyat
baik petani maupun UKM untuk dapat membuat platform penjualan hasil-hasilnya.

Menteri Informasi dan Komunikasi Rudiantara berharap keberadaan aplikasi tersebut mampu
membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan memangkas rantai distribusi hasil produksi
dari petani ke konsumen."Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat dan
pemerintah juga mendorong UMKM Indonesia untuk Go Digital," kata Rudiantara.

Menurut Bayu, ada 3 aplikasi teknologi digital yang bisa diterapkan untuk membantu petani
pangan di Indonesia:

Digital remote sensing. Pemantauan digital untuk memperkirakan produksi pangan nasional.
Saat ini debat mengenai data produksi yang benar selalu terjadi. Pemanfaatan citra satelit digital
dapat meningkatkan akurasi data sekaligus tingkat kepercayaan terhadap data itu.

Petani dapat memantau tanaman secara digital. Apabila petani melihat tanamannya
bermasalah, terserang hama atau penyakit, petani dapat menggunakan telepon seluler untuk
memotret kondisi tanaman dan mengirimkannya melalui aplikasi WhatsApp atau email ke ahli di
IPB, sehingga ahli di IPB dapat memberikan solusi. Komunikasi dan penyuluhan bagi petani di
era digital seharusnya menjadi lebih intensif. Semua pihak terkait harus mengubah pola pikir
terkait penyuluhan.

Distruptive economy ubah model bisnis. Apa yang dilakukan oleh Uber, Go-Jek, AirBnB, dan
semacamnya bisa diterapkan untuk pertanian dan pangan. Begitu juga penggunaan media sosial
seperti Facebook, Twitter, Instragram, bahkan WhatsApp, dan LINE. Petani dapat memasarkan
produknya secara langsung ke konsumen. Ada yang sudah menerapkan, misalnya penjual beras.
Feeding the Nation, memberi makan warga bangsa dengan lebih dari 250 juta penduduk, pasti
tidak mudah dan memerlukan upaya bersama semua pihak pemangku kepentingan
JARINGAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT DESA

BAGAIMANA PERAN MEDIA SOSIAL DALAM MENDUKUNG PEMENUHAN


PANGAN

OLEH

ARZELI ANDANI

C1B115175
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018