Anda di halaman 1dari 73

Remaja, sebagai kelompok umur terbesar struktur

penduduk Indonesia merupakan fokus perhatian dan


titik intervensi yang strategis bagi pembangunan
sumber daya manusia. Langkah paling penting yang
harus diambil adalah makin ditingkatkannya perhatian
kepada remaja putri, karena mereka menghadapi risiko
lebih besar dan mereka lebih rentan menghadapi
lingkungan sosial. Selain menjadi kelompok paling
besar (23% dari seluruh jumlah penduduk), remaja
sebagai suatu kelompok tidak pernah diperhatikan
secara komprehensif dan konsisten. Suatu angka yang
juga memprihatinkan adalah peningkatan partisipasi
tenaga kerja anak perempuan antara usia 15-19 tahun,
ya ng s aa t in i j um l ah ny a ha mp i r 4 0 pe rs en d ar i
angkatan kerja. Banyak di antara mereka telah putus
sekolah sebelum menyelesaikan SD atau tidak
melanjutkan ke SMP
Remaja, sebagai kelompok umur terbesar struktur
penduduk Indonesia merupakan fokus perhatian dan
titik intervensi yang strategis bagi pembangunan
sumber daya manusia. Langkah paling penting yang
harus diambil adalah makin ditingkatkannya perhatian
kepada remaja putri, karena mereka menghadapi risiko
lebih besar dan mereka lebih rentan menghadapi
lingkungan sosial. Selain menjadi kelompok paling
besar (23% dari seluruh jumlah penduduk), remaja
sebagai suatu kelompok tidak pernah diperhatikan
secara komprehensif dan konsisten. Suatu angka yang
juga memprihatinkan adalah peningkatan partisipasi
tenaga kerja anak perempuan antara usia 15-19 tahun,
ya ng s aa t in i j um l ah ny a ha mp i r 4 0 pe rs en d ar i
angkatan kerja. Banyak di antara mereka telah putus
sekolah sebelum menyelesaikan SD atau tidak
melanjutkan ke SMP
Remaja, sebagai kelompok umur terbesar struktur
penduduk Indonesia merupakan fokus perhatian dan
titik intervensi yang strategis bagi pembangunan
sumber daya manusia. Langkah paling penting yang
harus diambil adalah makin ditingkatkannya perhatian
kepada remaja putri, karena mereka menghadapi risiko
lebih besar dan mereka lebih rentan menghadapi
lingkungan sosial. Selain menjadi kelompok paling
besar (23% dari seluruh jumlah penduduk), remaja
sebagai suatu kelompok tidak pernah diperhatikan
secara komprehensif dan konsisten. Suatu angka yang
juga memprihatinkan adalah peningkatan partisipasi
tenaga kerja anak perempuan antara usia 15-19 tahun,
ya ng s aa t in i j um l ah ny a ha mp i r 4 0 pe rs en d ar i
angkatan kerja. Banyak di antara mereka telah putus
sekolah sebelum menyelesaikan SD atau tidak

HUBUNGAN FEV1 PADA MAHASISWA DENGAN LINGKAR


PINGGANG > 90 CM TERHADAP VO2MAX MENGGUNAKAN TES
LARI COOPER 12 MENIT YANG DILAKUKAN PADA MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI ANGKATAN 2018
DAN DI TINJAU DALAM PANDANGAN ISLAM.

SKRIPSI

FARAH ALAMUDI
NPM 1102016065

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
MARET, 2019

2
HALAMAN PENGESAHAN

Proposal ini diajukan oleh:


Nama : Farah Alamudi
NPM : 1102016065
Program Studi : Kedokteran
Judul Skripsi : Hubungan FEV1 pada mahasiswa dengan lingkar
pinggang >90 cm terhadap VO2Max menggunakan tes lari Cooper 12 menit yang
dilakukan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018
dan ditinjau dalam pandangan islam.
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Komisi Penguji seminar proposal pada
25 Maret, 2019 dan diterima sebagai persyaratan yang diperlukan untuk
memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Universitas YARSI.
Mengesahkan:

dr. H.Sonny Pamudji Laksono, M.Kes, A.I.F.M Prof. dr.Qomariyah Sachrowardi, M.S., P.K.K., A.I.F.M
NIK: 531111193060 NIK: 531111179022
Pembimbing Ilmu Penguji

Mengetahui:
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI

3
dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc, Ph.D, Dipl.DK
NIK: 531111100087
Dekan
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan ke


hadirat Allah SWT atas berkah dan karunia-Nya, shalawat dan salam kepada
Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan FEV1 pada
mahasiswa dengan lingkar pinggang >90 cm terhadap VO2Max
menggunakan tes lari Cooper 12 menit yang dilakukan pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018 dan ditinjau dalam
pandangan islam”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan
gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
Terwujudnya skripsi ini adalah berkat bantuan dan dorongan berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc, Ph.D, Dipl.DK selaku

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.


2. dr. Zwasta Pribadi Mahardika, MMedED selaku Ka. Prodi

Akademik Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas

YARSI.
3. dr. H. Lilian Batubara, M. Kes selaku perwakilan komisi skripsi.
4. dr. Sonny Pamudji Laksono, M.Kes, A.I.F.M selaku dosen

pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu,

memberikan bimbingan, pengarahan, dan memberi semangat dalam

penulisan skripsi ini.


5. Prof. dr. Qomariyah Sachrowardi, M.S., P.K.K., A.I.F.M selaku

penguji skripsi.

4
6. Mahasiswa Yarsi angkatan 2018 yang memfasilitasi dan membantu

dalam pengambilan data skripsi ini.


7. Ayahanda tercinta Anis Alamudi dan Ibunda tercinta Hamidah

Ba’abdullah, selaku orang tua yang selalu mendukung, membantu

dalam dalam segala hal, serta memberi semangat, doa dan kasih

sayang berlimpah.
8. Kakak tersayang, Sabira Alamudi yang senantiasa mendampingi,

mendo’akan dan memberi semangat dalam berlangsungnya skripsi

ini.
9. Sepupuku tersayang antara lain Tsara, Rifdah, Nada dan Hana atas

doa dan dukungan yang senantiasa kalian barikan.


10. Teman-teman kelompok skripsi yang sudah saling membantu dan

mendukung dalam pengerjaan skripsi ini.


11. Teman-teman mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

angkatan 2016.
12. Teman-teman terdekat yang sudah membantu dan mendukung dalam

pengerjaan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa kemampuan peneliti


masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik dari segi
penulisan maupun dari segi isi materi. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun untuk perbaikan
pada penulisan dan penyusunan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat
membawa manfaat bagi semua pihak. Semoga Allah SWT senantiasa membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Aamiin ya rabbal’alamin.

Jakarta, Maret 2019

5
Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………. I

LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………….... II

KATA PENGANTAR………………………………………………………. III

6
DAFTAR ISI………………………………………………………………… V1

DAFTAR TABEL…………………………………………………………… X

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………….. X1

DAFTAR BAGAN………………………………………………………...... XII

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………...... XIII

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………… 14

1.1. Latar Belakang………………………………………………........... 14


1.2. Rumusan masalah…………………………………………….......... 19
1.3. Pertanyaan penelitian......................................................................... 19
1.4. Tujuan ...............………………………………………………........

20
1.4.1. Tujuan Umum.................................................................... 20
1.4.2. Tujuan Khusus................................................................... 20
1.5. Manfaat………………………………………………………....... 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………. 21

2.1. Remaja………...………………………………………………...... 21
2.1.1. Definisi …………………………………………………... 21
2.1.2. Karakteristik……………….……………………............... 21
2.1.3. Epidemiologi ………………...…………………...…….... 22
2.1.4. Permasalahan Remaja……... …………………………..... 22

2.2. Obesitas………………………………………………………….... 23

2.2.1. Definisi………………………………………………......... 23
2.2.2. Klasifikasi….……………………………………………... 24
2.2.3. Obesitas sentral………………………………………….... 24
2.2.4. Epidemiologi……………………...……………………..... 25
2.2.5. Lingkar Pinggang………………………………………...... 25

2.3. Paru-paru………………………………………………….….......... 28

2.3.1. Anatomi….....…………………………………………....... 28
2.3.2. Klasifikasi Pernafasan………….………………………...... 29
2.3.3. Proses Pernafasan……………...………………………....... 29
2.3.4. Mekanisme……………………………………………….... 30
2.3.5. Volume dan Kapasitas Paru………………….…………..... 32
2.3.6. Uji Fungsi Paru………………………….……………….... 34

7
2.3.7. Penilaian Uji Fungsi Paru………………………………..... 36
2.3.8. Spirometri……………………………………………......... 37
2.3.9. Indikasi Spirometri…………………………………........... 37
2.3.10. Kontraindikasi Spirometri………………………….......... 38
2.3.11. Interpretasi Hasil Spirometri……………………….......... 38

2.4. Olahraga………………………………………………………….... 42

2.4.1. Definisi..….....…………………………………………...... 42
2.4.2. Aktifitas Fisik……….………….………………………..... 42
2.4.3. Komponen……...……………...………………………...... 42
2.4.4. Daya Tahan Kardiorespirasi………….…..….……............. 44
2.4.6. Faktor-faktor…………………………….……………....... 45

2.5. Hubungan Kebugaran Jasmani dan Daya Tahan Kardiorespirasi… 46

2.5.1. Definisi..….....………………………………….................. 46
2.5.2. Efek Latihan..……….………….……………………......... 46

2.6. VO2 Max…………………………………………………………... 47

2.6.1. Definisi………………..….....………………….................. 47
2.6.2 Faktor-faktor……………………………………………….. 47
2.6.3 Pengukuran VO2Max…………………………………….... 50

2.7. Tes Lari Cooper 12 Menit……………………………….……........ 50

2.7.1. Definisi……………...….....…………………..................... 50
2.7.2. Metode……………………………………………….......... 51
2.7.3. Interpretasi hasil……………………………………........... 52

2.8. Kerangka Teori………………………………………….……........ 53

2.9. Kerangka Konsep………………………………………….………. 54

2.10. Perumusan Hipotesis…………………………………………...... 54

2.11. Definisi Operasional………………………………………….….. 55

BAB III METODE PENELITIAN ………….…………………................. 57

3.1. Jenis Penelitian………………………….…………………............ 57


3.2. Rancangan Penelitian……….……………………………......….... 57
3.3. Populasi……………………………………………………............ 57

8
3.4. Sampel…………………………………………………….............. 57
3.5. Cara Penetapan Sampel…………………………………......…...... 58
3.6. Penetapan Besar Sampel………………………………….............. 58
3.7. Jenis Data………………………………………………...…........... 58
3.8. Cara Pengumpulan Sampel………………………………............... 58
3.8.1. Cara Pengumpulan data……………………………............ 58
3.8.2. Cara Pengukuran data……………………………….......... 58
3.9. Instrumen Pengumpulan Data…………………………................... 58
3.10. Analisis Data……………………………………………............... 59
3.11. Alur Penelitian……………………………………………............ 59
3.12. Jadwal Penelitian…………………………………………............ 61
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………...................... 66
ANGGARAN PENELITIAN…………………………………....................... 69
BIODATA PENELITI………………………………………….................... 70

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Ukuran Lingkar Pinggang untuk Orang Asia…………………….. 26

Tabel 2: Derajat Obstruksi………………………..……………………..... 41

9
Tabel 3: Norma Skor Tes Jalan/Lari 12 Menit pada Laki-laki……………. 52

Tabel 4: Norma Skor Tes Jalan/Lari 12 Menit pada Perempuan…………... 52

Tabel 5: Jadwal Penelitian…………………………………………………. 61

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Aksi dari otot respirasi……………………………………… 31

Gambar 2: Spirogram dari volume dan kapasitas paru………………… 34

Gambar 3: Karakteristik spirometry yang dapat dinilai………………... 39

10
Gambar 4: Normal spirometry…………………………………………. 40

Gambar 5: Spirometri obstruktif……………………………………….. 41

DAFTAR BAGAN

Bagan 1: Kerangka Teori…………………………………………..… 53

Bagan 2: Kerangka Konsep………………………………………….. 54

Bagan 3: Alur Penelitian……………………………………………… 59

11
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Formulir Informed Consent………………………………… 71

Lampiran 2: Kuisioner…………………………………………………… 72

12
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

13
Aspek perkembangan dalam masa remaja secara global berlangsung antara
umur 12-21 tahun, dengan pembagian usia 12-15 tahun adalah masa remaja awal,
15-18 tahun adalah masa remaja pertengahan, 18-21 tahun adalah masa remaja
akhir. Menurut Depkes RI (2009) masa remaja berkisaran sekitar 17 hingga 25
tahun. Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia
dimana terjadi perubahan atau peralihan dari masa kanak kanak ke masa dewasa
yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis dan perubahan sosial.
Masa remaja merupakan masa paling aktif tetapi pada masa ini juga rentan
terhadap masalah kesegaran jasmani (Monks, 2009).

Aktivitas fisik di golongkan dalam kriteria aktif dan kurang aktif. Kriteria
"aktif" adalah individu yang melakukan aktivitas fisik berat atau sedang maupun
keduanya, sedangkan kriteria 'kurang aktif' adalah individu yang tidak melakukan
aktivitas fisik sedang ataupun berat (Riskesdas, 2013)

Di Indonesia, angka tingkat kesegaran jasmani yang kurang masih tinggi


(Riskesdas, 2007). Penelitian sebuah program pengukuran indeks keberhasilan
olahraga nasional, didapatkan hasil tingkat kebugaran jasmani Indonesia
adalah 4,07% untuk kategori baik. Hasil ini menyatakan lebih dari 95% kondisi
kebugaran jasmani masyarakat Indonesia kurang baik, bahkan buruk
(Riskesdas, 2007). Proporsi aktivitas fisik yang terdata sebagai kurang aktif secara
umum adalah 26,1%. Terdapat 22 provinsi dengan penduduk aktivitas fisik
tergolong kurang aktif berada diatas rata-rata Indonesia. Lima tertinggi adalah
provinsi penduduk DKI Jakarta (44,2%), Papua (38,9%), Papua Barat (37,8%),
Sulawesi Tenggara dan Aceh yang masing-masing 37,2% (Riskesdas, 2013).

Hudha (2006) menyatakan dalam penelitiannya bahwa remaja yang kurang


melakukan aktivitas fisik cenderung untuk mengalami kelebihan berat badan.
Perubahan gaya hidup, yakni gaya hidup yang berubah menjadi sedentary life
style yaitu kehidupan dengan aktivitas fisik sangat kurang, dianggap bertanggung
jawab atas kejadian overweight dan peningkatan prevalensi terjadinya obesitas
(Proverawati, 2010). Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa
prevalensi obesitas sentral di Indonesia meningkat dari 18,8% pada tahun 2007

14
menjadi 26,6% pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Proporsi obesitas pada dewasa
diatas 18 tahun dari tahun 2013 yang bermula dari 14,8% telah mengalami
peningkatan pada tahun 2018 menjadi 21,8%.

Obesitas telah menjadi


masalah epidemi global di dunia dan cenderung
meningkat tajam. Obesitas dinyatakan sebagai satu dari sepuluh masalah
kesehatan utama di dunia dan menduduki peringkat kelima teratas penyebab
kematian, kira-kira 2,8 juta dewasa meninggal setiap tahunnya karena obesitas
(WHO, 2011).

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2013 mendefinisikan


obesitas adalah akumulasi abnormal lemak tubuh yang dapat menyebabkan risiko
bagi kesehatan (WHO, 2013). Obesitas berhubungan erat dengan distribusi lemak
tubuh yang dibagi ke menjadi macam tipe yaitu obesitas tubuh bagian atas dan
obesitas tubuh bagian bawah. Obesitas tubuh bagian atas merupakan dominasi
penimbunan lemak tubuh yang terpusat pada daerah perut (intra abdominal fat).
Lemak tersebut tertimbun di setengah bagian atas tubuh yang disebut sebagai
Obesitas sentral (Soegondo, 2010).

Obesitas sentral adalah kondisi kronis kelebihan lemak tubuh yang disertai
dengan penumpukkan lemak viseral di daerah pinggang. Pada data Riskesdas
2018, proporsi penduduk warga Indonesia diatas 18 tahun yang mengalami
obesitas sentral dari 26,6% meningkat mencapai 31,0% (RISKESDAS, 2018).
Obesitas sentral juga didefinisikan sebagai penumpukan lemak dalam tubuh
bagian perut yang diakibatkan oleh jumlah lemak berlebih pada jaringan lemak
subkutan dan lemak viseral perut. Penumpukan lemak pada jaringan lemak
visceral merupakan bentuk dari tidak berfungsinya jaringan lemak subkutan dalam
menghadapi ketidak seimbangan energi pada tubuh (Tchernof, 2013).

Obesitas berhubungan dengan mekanika pernapasan. Adanya jaringan


adiposa di sekitar tulang rusuk, abdomen, dan dinding dada mengakibatkan
tekanan intra-abdominal meningkat. Selain itu, dapat menekan rongga toraks,
diafragma dan paru-paru. Akibatnya terjadi gangguan pada penurunan kontraksi

15
diafragma dan menyebabkan penurunan volume paru dan meningkatnya kerja otot
pernapasan (Satriyani, 2013).

Dari sudut pandang Ilmu Faal Olahraga, olahraga adalah serangkaian gerak
yang teratur dan terencana yang dilakukan orang dengan sadar untuk
meningkatkan kebugaran jasmaninya (Giriwijoyo, 2006). Menurut WHO, aktifitas
fisik diartikan sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan otot rangka yang
memerlukan pengeluaran energi. Latihan olahraga merupakan bagian dari aktifitas
fisik atau dapat dikatakan latihan olahraga adalah aktifitas fisik yang terencana,
terstruktur, berulang, dan bertujuan untuk memelihara kebugaran fisik (Haskell &
Kiernan, 2000).

Kebugaran jasmani merupakan faktor yang sangat erat hubungannya dengan


proses pertumbuhan dan perkembangan pada remaja. Dengan peningkatan
kebugaran jasmani seseorang menentukan kemampuan fisiknya dalam aktivitas
sehari-hari. Selain itu kebugaran jasmani merupakan salah satu faktor penunjang
seseorang dapat melakukan berbagai macam aktifitas fisik, melakukan tugas
sehari-hari secara efektif dan efisien dalam waktu yang lama tanpa mengalami
kelelahan yang berlebih (Sumosardjuno, 1992).

Tingkat kebugaran jasmani utama pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa


komponen, salah satunya adalah kebugaran kardiorespirasi. Daya tahan
kardiorespirasi atau daya tahan paru jantung adalah kapasitas sistem jantung, paru
dan pembuluh darah untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas
sehari-hari dalam jangka waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang
berarti (Wahjoedi, 2000). Daya tahan kardiorespirasi behubungan erat dengan
perubahan fungsi dari ventilasi paru. Selama latihan daya tahan aerobik, ventilasi
semenit akan meningkat dan adanya peningkatan beban ditujukan pada otot-otot
pernafasan. Perubahan fungsi dari pernapasan karena latihan aerobik akan
mempengaruhi nilai fungsi paru khususnya Forced Expiratory Volume (FEV1)
dengan dilakukannya pemeriksaan spirometri (Sylvia, 1995)

16
Volume ekspirasi paksa atau Force Expiratory Volume (FEV1), dikenal
sebagai volume udara yang dapat diekspresikan dalam waktu selama satu detik
pertama dan merupakan sebuah pentunjuk yang sangat signifikan untuk
mengetahui adanya gangguan kapasitas ventilasi (Sylvia, 1995). FEV1 dapat
dihubungkan dengan kapasitas volume paksa/Force Capacity Vital (FVC) maupun
kapasitas vital/Vital Capacity (VC). Individu normal dapat menghembuskan napas
sekitar 80% dari kapasitas vitalnya dalam satu detik. Antara kapasital vital paksa
(FVC) maupun kapasitas vital (VC) yang dipergunakan sebagai rasio, hasilnya
tidak terlalu menunjukan banyaknya perbedaan. Rasio pada FEV 1bermanfaat agar
dapat membedakan antara penyakit-penyakit yang menyebabkan obstruksi saluran
napas dan penyakit-penyakit yang menyebabkan paru-paru tidak dapat
mengembang sepenuhnya (Sylvia, 1995).

Selain adanya daya tahan kardiorespirasi dalam upaya untuk meningkatkan


fungsi paru terutama pada FEV1, faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi
fungsi FEV1 antara lain: (1) Usia, dari anak-anak sampai usia dewasa muda (4-24
tahun) fungsi paru meningkat 20 kali lipat selama 10 tahun pertama kehidupan
manusia dan terus berlanjut pada remaja sampai mulai menurun fungsi paru
tersebut pada usia dewasa lanjut (Anugrah, 2013); (2) Jenis kelamin, menurut
Guyton & Hall (2008) menyebutkan fungsi paru wanita 20%-25% lebih kecil
dibandingkan dengan pria dan perbedaannya bisa disebabkan oleh kekuatan otot
maksimal dan komposisi tubuh (Tambayong, 2001); (3) Riwayat penyakit, pada
pasien yang pernah mempunyai riwayat penyakit paru-paru seperti asma akan
mununjukan penurunan nilai fungsi paru karena adanya penyempitan pada saluran
pernapasannya sehingga udara yang keluar paru-paru menjadi berkurang; (4) Pola
Hidup, gaya hidup sehari hari seperti mengonsumsi makanan sehingga timbulnya
obesitas, kurangnya beraktivitas, minum minuman keras dan perokok (Hidayat &
Aziz, 2006); (5) Aktivitas fisik dan kebiasaan berolahraga. Menurut American
Thoracic Society, nilai fungsi paru relatif lebih besar pada orang yang memiliki
kebiasaan berolahraga karena otot otot pada paru sudah terlatih (Audia, 2012).
Berkaitan dengan itu, olahraga dapat meningkatkan aliran darah melalui paru-paru
sehingga menyebabkan oksigen dapat berdifusi ke dalam kapiler paru dengan

17
volume yang lebih besar dan maksimum (Guytton & Hall, 2008); (6) BMI (Body
Mass Index), kelebihan berat badan dapat menimbulkan sejumlah masalah
kesehatan seperti masalah kardiovaskuler maupun masalah kesehatan yang
berhubungan dengan pernapasan (Kopelman,2000).

Menurut klasifikasi Asia Pasifik, laki-laki mempunyai batas normal lingkar


pinggang tidak lebih dari 90 cm. Metode yang sering digunakan untuk menilai
obesitas sentral yaitu mengukur lingkar pinggang. Lingkar pinggang adalah
ukuran antropometri yang dapat digunakan untuk menentukan obesitas sentral
(IDF, 2006). Cut-off point lingkar pinggang sebagai penentu obesitas sentral,
menurut kriteria International Diabetes Federation (IDF), di Asia yakni > 90 cm
untuk laki-laki. Obesitas dapat mengakibatkan keabnormalitasan dalam tes fungsi
paru. Gangguan fungsi paru dapat dilakukan pengukuran dengan auto spirometry
dan nilai yang signifikan terlihat untuk mendeteksi adanya gangguan tersebut
yaitu ditandai dengan penurunan nilai Forced Expiratory Volume (FEV1) dalam
satu detik (IDF, 2014)

Latihan fisik mangacu pada pengambilan jumlah oksigen yang maksimal


selama latihan. Kapasitas aerobik seseorang yang dilakukan secara maksimal akan
berkaitan dengan kadar peningkatan pada VO2Max. VO2Max dapat diartikan
sebagai kemampuan maksimal seseorang untuk mengkonsumsi oksigen selama
aktivitas fisik (Nurhasan, 2005). VO2Max merefleksikan keadaan paru, dalam
pengantaran oksigen, serta mekanisme dari otot yang melakukan aktivitas. Selama
menit-menit pertama latihan, konsumsi oksigen meningkat hingga akhirnya

tercapai keadaan steady state di mana konsumsi oksigen sesuai dengan kebutuhan

latihan. Bersamaan dengan keadaan steady state ini terjadi pula adaptasi ventilasi


paru. Keadaan di mana konsumsi oksigen telah mencapai nilai maksimal tanpa
bisa naik lagi meski dengan penambahan intensitas latihan. Konsumsi oksigen lalu
turun secara bertahap bersamaan dengan penghentian latihan karena kebutuhan

oksigen pun berkurang (Sukmaningtyas, 2004).

18
Metode latihan yang dapat digunakan sebagai pengukur VO2Max antara
lain dengan menggunakan Test Cooper lari 12 menit. Test Cooper lari 12 menit
merupakan tes lari yang dikembangkan oleh dokter Ken Cooper pada tahun 1968.
Tes tersebut telah diterapkan untuk latihan oleh anggota militer dan berfungsi
untuk menilai VO2Max. Dokter Ken Cooper menyatakan bahwa adanya hubungan
bermakna antara jarak lari yang ditempuh selama 12 menit dengan nilai kerja
fungsi paru (Cooper, 1968).

Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti ingin meneliti mengenai


apakah adanya hubungan FEV1 dengan VO2Max yang diukur menggunakan tes
lari Copper 12 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi angkatan
2018 yang memiliki ukuran lingkar pinggang >90 cm.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang dari hasil data Riskesdas pada tahun 2018,
adanya peningkatan jumlah obesitas sentral pada remaja diatas 18 tahun yang
dapat resiko besar untuk mengalami gangguan dalam pernafasan. Peniliti ingin
melakukan mengenai hubungan FEV1 dengan VO2 max yang akan diukur
dengan metode tes lari Cooper 12 menit pada Mahasiswa Yarsi angkatan 2018
dengan lingkar pinggang diatas 90 cm.

1.3 Pertanyaan Penelitian


 Apakah adanya hubungan yang bermakna antara FEV1 dengan VO2 max
yang di ukur dengan melakukan tes lari Cooper 12 menit pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Angkatan 2018.

1.4 Tujuan
1.4.1 Umum
Untuk mengetahui adakah hubungan antara FEV1 dengan VO2Max
yang diukur dengan tes lari Cooper 12 menit pada Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018 yang mempunya lingkar
pinggang diatas 90 cm.
1.4.2 Khusus

19
Tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah ada
hubungan antara FEV1 dengan VO2Max yang baik, cukup, kurang, dan
sangat kurang yang diukur dengan metode tes lari Cooper 12 menit pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universtias Yarsi angkatan 2018 yang
memiliki lingkar pinggan diatas 90 cm.

1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi Peneliti
Peneliti dapat menambah pengetahuan jika adanya hubungan
bermakna dari FEV1 dan VO2 max yang diukur dengan tes lari Cooper 12
menit pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universtias Yarsi angkatan
2018 yang memiliki lingkar pinggang diatas 90 cm dan merupakan salah
satu syarat untuk memenuhi tugas akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana
Kedokteran.
1.5.2 Bagi Institusi
Manfaat bagi institusi dapat menambah pengetahuan serta informasi
bagi mahasiswa Universitas YARSI dan memajukan Universitas YARSI
dengan mempublikasikan penelitian ini.
1.5.3 Bagi Masyarakat
Diharapkan manfaat untuk remaja diatas 18 tahun yang mengalami
obesitas sentral dan yang mempunyai gangguan fungsi pernafasan untuk
melakukan olahraga yang sesuai dengan prosedur yang tepat dan benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

20
A. Kajian Pustaka
2.1 Remaja
2.1.1 Definisi

Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa
latin adolescere yang artinya “tumbuh untuk mencapai kematangan”. Remaja
merupakan suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat
dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah
tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar
(Asrori, 2008). Masa remaja, menurut Ali dan Asrori (2008) berlangsung antara
umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan
22 tahun bagi laki-laki. Menurut Depkes, remaja dikategorikan dalam rentang usia
12 hingga 25 tahun (Depkes, 2009).

2.1.2 Karateristik

Masa remaja merupakan masa yang memiliki peranan penting terhadap


perkembangan individu, karena pada masa ini merupakan fase peralihan dari
masa kanak-kanak yang masih tergantung pada orang tua menjadi lebih mandiri.
Pada usia remaja ini seorang anak sudah mengalami banyak perubahan baik
secara fisik maupun hormonal. Saat individu mulai menginjak masa remaja,
fisiknya banyak mengalami perubahan dan yang terbesar pengaruhnya pada
perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (Sarwono, 2000).

Perubahan yang paling menyolok pada masa remaja adalah perubahan tinggi
badan dan berat badan. Rata-rata usia peertumbuhan tinggi badan tercepat atau
usia pertumbuhan maksimal adalah 12 tahun untuk anak-anak pertumbuhan, yaitu
adalah kira-kira 2 tahun lebih awal dari pada anak laki-laki. Pertumbuhan ini
paling cepat dialami oleh remaja wanita dan kemudian setelah selisih dua tahun
remaja laki-laki baru mengalami pertumbuhan tinggi dan berat badan (Santoso,
2007)

Menurut Sadoso (1992) keterampilan dasar motorik dan perkembangannya

21
selama remaja perlu dipahami oleh guru olahraga, seperti keseimbangan
(balance), ketepatan (accuracy), ketangkasan (agility), penguasaan (control), dan
kekuatan (strength).

2.1.3 Epidemiologi

Dalam Laporan Riset Kesehatan Dasar (2013) yang diterbitkan Kementerian


Kesehatan, sekitar 3/4 (74%) penduduk Indonesia masih tergolong berkegiatan
aktif. Namun demikian sebanyak 26% atau lebih sedikit dari 1/4 penduduk Tanah
Air kurang aktif secara fisik. Data Riskesdas 2013 juga menunjukkan proporsi
penduduk kelompok diatas 10 tahun keatas dengan perilaku aktivitas sedentari
(tidak aktif) sebesar 33,9 % penduduk.

2.1.4 Permasalahan Remaja

Permasalahan yang sering dialami remaja cukup rumit, mulai dari masalah
mengenai prestasi di sekolah, pergaulan dengan teman, menyukai lawan jenis,
penampilan dan lain-lainnya. Hal hal tersebut dapat membawa suatu pengaruh
terhadap perilaku serta status kesehatan pada remaja sendiri (Depkes, 2018).

Dalam Riskesdas 2013, kriteria aktivitas fisik "aktif" adalah individu yang
melakukan aktivitas fisik berat atau sedang atau keduanya, sedangkan kriteria
'kurang aktif' adalah individu yang tidak melakukan aktivitas fisik sedang ataupun
berat. Perilaku sedentari adalah perilaku duduk atau berbaring dalam sehari-hari
baik di tempat kerja (kerja di depan komputer, membaca, dll), di rumah (nonton
TV, main game, dll), di perjalanan/transportasi (bis, kereta, motor), tetapi tidak
termasuk waktu tidur. Perilaku sedentari merupakan perilaku berisiko terhadap
salah satu terjadinya penyakit penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung dan
bahkan mempengaruhi umur harapan hidup (Riskesdas,2013)

Menurut Riskesdas 2013, Aktivitas fisik berat secara terus menerus minimal
10 menit akan meningkatnya denyut nadi dan napas lebih cepat. Aktivitas fisik
sedang apabila melakukan aktivitas fisik minimal lima hari atau lebih dengan total

22
lamanya beraktivitas 150 menit dalam satu minggu. Selain dari dua kondisi
tersebut termasuk dalam aktivitas fisik ringan (Riskesdas,2013)

Menurut Depdiknas, kesegaran jasmani yang baik akan membuat percaya


diri, menghindari stress, ceria, dan terhindar dari penyakit hingga akan
meningkatkan efektivitas dan prokduktivitas kerja. Kesegaran jasmani adalah
kemampuan tubuh seseorang untuk melakukan tugas pekerjaan sehari-hari tanpa
menimbulkan kelelahan yang berarti (Depdiknas, 1999). Untuk dapat mencapai
kondisi kesegaran jasmani seseorang perlu latihan yang melibatkan komponen
kesegaran jasmani dengan metode yang benar (Depdiknas, 1999)

2.2 Obesitas
2.2.1 Definisi

Obesitas atau kegemukan terjadi pada saat badan menjadi gemuk (obese)
yang disebabkan penumpukan adipose (adipocytes: jaringan lemak khusus yang
disimpan tubuh) secara berlebihan. Obesitas juga dapat diartikan keadaan dimana
seseorang memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan berat idealnya
yang disebabkan terjadinya penumpukan lemak di tubuhnya (Haerens, 2008).

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa obesitas merupakan


salah satu dari 10 kondisi yang berisiko di seluruh dunia (Hill, 2003). Obesitas
disebabkan oleh dua faktor yaitu adanya peningkatan asupan makanan dan
penurunan pengeluaran energi. Untuk menjaga berat badan yang stabil diperlukan
keseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar. Hal yang
menjadi masalah adalah bahwa ternyata sangat sulit bagi seseorang untuk
mengatur asupan dan pengeluaran energinya. Asupan makanan semakin
meningkat karena ketersediaan beragam makanan siap saji yang makin bervariasi,
mudah didapat, nikmat dan murah. Di lain sisi aktivitas fisik masyarakat modern
menjadi semakin berkurang dan kemajuan teknologi menyebabkan pada saat kerja
maupun santai orang semakin mengurangi kegiatan fisik (Sunyer, 2003)

2.2.2 Klasifikasi Obesitas


a. Obesitas Sentral

23
Obesitas sentral adalah timbunan lemak di rongga perut yang meliputi
dinding luar usus dan bukan berupa timbunan lemak di bawah kulit perut. Lemak
rongga perut ini selain jumlahnya paling tebal, juga terjadi paling awal dalam
proses kegemukan. Obesitas meningkat di seluruh dunia sejalan dengan kebiasaan
makan berlebihan tanpa diimbangi dengan pengeluaran kalori/tenaga fisik yang
setara. Akibatnya, kelebihan kalori itu disimpan sebagai timbunan lemak,
khususnya lemak sentral (perut). Hal ini sering terjadi pada masyarakat modern
yang cenderung sangat kurang melakukan kegiatan fisik (Cahyono, 2008).

b. Obesitas Perifer

Pada obesitas perifer terjadi penimbunan lemak yang berlebihan nilai di


daerah gluteo-femoral. Obesitas terutama obesitas tipe sentral jika disertai dengan
kondisi genetik yang mendukung dapat menyebabkan peningkatan penyimpanan
energi yang berakhir pada komplikasi-komplikasi medik yang memprihatinkan.
Salah satu di antaranya adalah keadaan yang disebut resistensi insulin
(Wajchenberg, 2000).

2.2.3 Obesitas Sentral

Penilitian lain menemukan bahwa obesitas sentral meningkatkan resiko


hipertensi, dislipidemia, diabetes, dan sindrom metabolik pada laki-laki dan
perempuan (Wildman et al, 2005).

Obesitas berhubungan erat dengan distribusi lemak tubuh yang dibagi ke


dalam dua tipe yaitu obesitas tubuh bagian atas dan obesitas tubuh bagian bawah.
Obesitas tubuh bagian atas merupakan dominasi penimbunan lemak tubuh yang
terpusat pada daerah perut (intra-abdominal fat), lemak tersebut tertimbun di
setengah bagian atas tubuh (perut, dada punggung dan muka). Obesitas tubuh
bagian atas lebih banyak didapatkan pada pria dengan ciri abdomen (perut) besar,
namun bagian paha dan belakang relatif kecil. Adanya hormon testosteron yang
tinggi pada laki-laki mendorong penumpukan lemak pada bagian atas tubuh
(mulai dari perut ke atas atau daerah pinggul luar), oleh karena itu tipe obesitas ini
lebih dikenal sebagai “android obesity” atau tipe sentral. Tipe obesitas ini

24
meningkatkan risiko penurunan fungsi kerja paru karena keterkaitannya dengan
sindrom metabolik (sindrom resistensi insulin) yang terdiri dari hiper-
insulinemia, intoleransi glukosa, diabetes mellitus dan dislipidemia (Soegondo,
2010)

2.2.4 Epidemiologi

Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan risiko terbesar kelima untuk
kematian global. Ada 2,8 juta orang dewasa meninggal setiap tahun sebagai akibat
dari kelebihan berat badan atau obesitas. Kegemukan dan obesitas terkait dengan
faktor penyebab kematian terbesar yang terjadi diseluruh dunia (WHO,2013).

World Health Organization (WHO) meperkirakan, di dunia ada sekitar 1,6


-105 milyar orang dewasa berumur ≥ 15 tahun kelebihan berat dan setidak-
tidaknya sebanyak 400 juta orang dewasa gemuk (obese) pada tahun 2005, dan
diperkirakan lebih dari 700 juta orang dewasa akan gemuk (obese) pada tahun
2015 (Low, 2009). Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007
menunjukkan bahwa 8,8 % orang dewasa berumur ≥ 15 tahun kelebihan berat dan
10,3 persen gemuk (Riskesdas, 2007). Pada data Riskesdas 2018, penduduk warga
Indonesia > 18 tahun yang mengalami obesitas sentral dari 26,6% meningkat
mencapai 31,0% (RISKESDAS, 2018).

2.2.5 Lingkar Pinggang

Obesitas sentral dikaitkan dengan pemeriksaan antropometri seperti


pemeriksaan lingkar pinggang. Lingkar pinggang adalah ukuran antropometri
yang dapat digunakan untuk menentukan obesitas sentral, dan kriteria untuk Asia
Pasifik yaitu ≥ 90 cm untuk pria dan ≥ 80 cm untuk wanita (WHO, 2011).
Lingkar pinggang berhubungan dengan jaringan lemak intra abdomen dan
subkutan, dan merupakan indikator lemak intra abdominal yang lebih baik
dibandingkan dengan IMT (National Institutes of Health,1998).

Pengukuran lingkar pinggang dilakukan pada titik tengah antara tulang


rusuk terbawah dan tepi atas tulang panggul (crista illiaca). Saat pengukuran,

25
subjek berdiri dengan kaki rapat, lengan pada kedua sisi tubuh, memakai pakaian
yang tipis dan dalam kondisi akhir ekspirasi normal. Pita pengukur yang
digunakan tidak boleh dilingkarkan terlalu kencang hingga menekan kulit subjek
dan pengukuran dilakukan paralel dengan lantai (WHO, 2008).

Lingkar pinggang adalah metode yang berharga, tepat dan mudah guna
mengidentifikasi individu yang memiliki resiko kesehatan yang dapat disebabkan
oleh obesitas sentral (Anuradha, 2012). Penelitian Klein (2007) menyatakan
bahwa lingkar pinggang merupakan metode yang menunjukkan korelasi paling
baik dengan risiko penyakit dan mencerminkan adanya perubahan pada jaringan
adiposa abdominal. Penelitian Sudoyo (2009) menyatakan bahwa obesitas yang
digambarkan dengan indeks massa tubuh tidak begitu sensitif dalam
menggambarkan gangguan metabolik yang terjadi, obesitas sentral yang
digambarkan oleh lingkar pinggang lebih sensitif dalam memprediksi gangguan
metabolik.

Menurut International Diabetes Federation (2006), pada orang Asia


mempunyai perbedaan ukuran lingkar pinggang pada pria dan wanita sebagai
kategori obesitas sentral.

Jenis Kelamin Lingkar Pinggang Kategori

Pria >90 cm Obesitas sentral

Wanita >80 cm Obesitas sentral

Tabel I. Ukuran Lingkar Pinggang untuk Orang Asia


(Sumber: International Diabetes Federation, 2006)

Obesitas akhir-akhir ini dihubungkan dengan kehilangan fungsi paru


(Weihrmeister, 2012). Telah dilakukan penelitian tentang fisiologi obesitas dan
efeknya terhadap fungsi paru menunjukkan bahwa obesitas sentral mempengaruhi
volume paru (Salome, 2010). Meta analisis yang dilakukan Weihrmeister (2012)
menunjukan meningkatnya lingkar pinggang mengakibatkan berkurangnya
parameter fungsi paru, seperti FEV 1 pada orang-orang berusia > 18 tahun,
terutama pada pria (Weihrmeister, 2012). Obesitas abdominal merupakan

26
prediktor utama dalam sindroma metabolik yang mengakibatkan gangguan fungsi
paru yang diukur dengan FEV1 (Leone, 2009).

Penyebab menurunnya berbagai parameter respirasi pada obesitas


abdominal diakibatkan berkurangnya distensibilitas dinding dada yang
menunjukkan kompresi mekanik ekstrinsik pada paru dan thoraks (Chen, 2007).
Mekanisme lain adalah perubahan intrinsik dalam paru terkait obesitas yang
mempengaruhi fungsi otot polos jalan napas karena terjadinya inflamasi sistemik
kronik dan meningkatnya adipocyte derived factors, seperti leptin, adinopektin,
inhibitor aktivator plasminogen dan Tumor necrosis actor-α (TNF-α) (Shore,
2005). Pengurangan berat badan ternyata dapat memperbaiki fungsi pulmoner
yang diakibatkan obesitas (Mahajan, 2012).

Young (2007) melaporkan bahwa ternyata gangguan fungsi paru yang


diukur melalui nilai FEV1 dapat menjadi suatu prediktor kematian (Harahap,
2012).Gangguan fungsi paru yang diukur dengan nilai FEV 1 memiliki hubungan
dengan mortalitas akibat gangguan sistem kardiovaskuler dan beberapa penyebab
mortalitas lainnya (Young, 2007 & Lin, 2006) Seperti yang telah dilaporkan,
terdapat hubungan antara gangguan fungsi paru terhadap faktor resiko utama
gangguan kardiovaskuler, seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, LDL
kolesterol dan fibrilasi atrium (Lin, 2006 & Shibata, 2011). Berbagai mekanisme
banyak diusulkan, seperti melalui mekanisme inflamasi sistemik, disfungsi
otonom, inaktivitas fisik dan faktor lainnya (Stavem, 2005).

2.3 Paru-paru
2.3.1 Anatomi Paru

Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya


berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru
dibagi menjadi dua yaitu, paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai

27
tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut
dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa bagian
yang mempunyai sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut bronchopulmonary
segments. Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut
mediastinum (Sherwood, 2009)

Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi menjadi
pleura viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput yang langsung
membungkus paru, sedangkan pleura parietal merupakan lapisan selaput yang
menempel pada rongga dada. Diantara kedua pleura terdapat rongga yang disebut
kavum pleura (Guyton, 2007).

Secara anatomi, fungsi pernapasan ini dimulai dari hidung sampai ke


parenkim paru. Secara fungsional saluran pernapasan dibagi atas bagian yang
berfungsi sebagai konduksi (pengantar gas) dan bagian yang berfungsi sebagai
respirasi (pertukaran gas). Pernapasan dapat diartikan system yang mempunyai
peranan sebagai pengangkut oksigen (O 2) ke sel dan pengangkutan CO 2 dari sel
kembali ke atmosfer (Sherwood, 2009)

2.3.2 Klasifikasi pernafasan

Sistem pernafasan dapat dibagi ke dalam sitem pernafasan bagian atas dan
pernafasan bagian bawah.

1. Pernafasan bagian atas meliputi, hidung, rongga hidung, sinus


paranasal, dan faring.

2. Pernafasan bagian bawah meliputi, laring, trakea, bronkus,


bronkiolus dan alveolus paru. Pergerakan dari dalam ke luar paru terdiri
dari dua proses, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan
dari atmosfer ke dalam paru, sedangkan ekspirasi adalah pergerakan dari
dalam paru ke atmosfer. Agar proses ventilasi dapat berjalan lancar

28
dibutuhkan fungsi yang baik pada otot pernafasan dan elastisitas jaringan
paru. (Guyton, 2007)

Otot-otot pernafasan dibagi menjadi dua yaitu,

a) Otot inspirasi yang terdiri atas, otot interkostalis eksterna,


sternokleidomastoideus, skalenus dan diafragma.

b) Otot-otot ekspirasi adalah rektus abdominis dan interkostalis internus


(Guyton,2007)

2.3.3 Proses Pernafasan

Proses respirasi atau pernapasan terdiri dari tiga tahap yang berlangsung
secara bersamaan, yaitu ventilasi, difusi dan perfusi (Yunus, 1997)

a. Ventilasi

Ventilasi adalah proses keluar dan masuknya udara ke dalam paru. Pada
proses ini oksigen dari udara luar masuk ke dalam paru melalui saluran napas atas,
trakea, bronkus dan cabang cabangnya saat inspirasi. Selain itu karbondioksida
yang ada di dalam paru dikeluarkan ke udara luar pada saat ekspirasi. Pada orang
dewasa normal setiap menitnya terjadi 12-18 kali inspirasi dan ekspirasi, setiap
kali inspirasi akan masuk udara sebanyak 400-500 ml. Dalam 1 menit besarnya
ventilasi berkisar antara 5-8 liter pada pernapasan atau respirasi normal
(Yunus,1997)

b. Difusi
Pada proses difusi terjadi perpindahan oksigen, terutama dari alveoli ke
dalam pembuluh darah. Proses difusi ini terjadi melewati dinding alveolus,
endotel kapiler, plasma dan dinding eritrosit. Oksigen dari alveoli setelah
melewati jaringan tersebut akan berikatan dengan hemoglobin membentuk HbO2
(Yunus,1997)

c. Perfusi

29
Tahap ketiga pada respirasi adalah perfusi, yaitu distribusi darah dalam
kapiler paru untuk mengikat oksigen dan melepaskan karbondioksida. Gangguan
perfusi terjadi bila ada emboli pada pembuluh darah atau bila aliran darah menjadi
lambat. Gangguan pada tahap-tahap proses pernapasan ini akan menggangu fungsi
paru (Yunus,1989)

2.3.4 Mekanisme Pernafasan

Inspirasi
Sebelum inpsirasi dimulai, otot otot pernapasan berada dalam keadaan
lemas dimana tidak ada udara mengalir dan tekanan intra-alveolus setara dengan
tekanan atmosfer. Saat inspirasi, otot utama inspirasi yaitu diafragma, suatu
lembaran otot rangka yang membentuk lantai rongga toraks, akan berkontraksi.
Ketika berkontraksi, diafragma turun dan memperbesar volume rongga toraks
dengan meningkatkan ukuruan vertical. (Sherwood, 2009)

Dinding abdomen akan melemas, menonjol keluar sewaktu inspirasi karena


diafragma yang turun menenkan isi abdomen ke bawah dan ke depan. Sewaktu
paru serta rongga membesar, tekanan intra-alveolus menurun karena jumlah
molekul udara yang sama kini menempati volume paru yang lebih besar. Tekanan
intra-alveolus sekarang lebih rendah daripada tekanan atmosfer maka udara
mengalir ke dalam paru mengikuti penurunan gradient tekanan tinggi ke rendah
(Sherwood, 2009)

Dua set otot intercostal terletak antara iga-iga. Otot intercostal eksternal
terletak di atas otot intercostal internal, yang serat-seratnya berjalan ke bawah dan
depan antara dua iga yang berdekatan. Ketika berkontraksi, otot intercostal
eksternal mengangkat iga dan selanjutnya sternum terangkat ke atas dan ke depan
(Sherwood, 2009)

30
Gambar 1: Aksi dari otot respirasi: (A) Inhalasi: diafragma
berkontraksi, otot interkostal eksternal menarik tulang rusuk ke
atas, paru-paru mengembang; (B) Ekshalasi: diafragma
relaksasi, tulang rusuk turun ke bawah dan otot interkostal
eksternal relaksasi, paru-paru menyusut (Sumber: Ganong,
2005)

Ekspirasi

Pada akhir inspirasi, otot interkostal tersebut akan melemas dan diafragma
kembali ke posisi aslinya yang seperti kubuh. Sewaktu paru mulai mengecil,
tekanan intra-alveolus meningkat. Ketika ekspirasi, tekanan intra-alveolus harus
lebih ditingkatkan di atas tekanan atmosfer. Otot ekspirasi seperti otot dinding
abdomen akan lebih berkontraksi untuk mengurangi volume rongga thoraks dan
paru. Sewaktu otot abdomen berkontraksi terjadinya peningkatan tekanan intra-
abdomen yang menimbulkan gaya ke atas pada diafragma, mendorongnya
semakin ke atas ke dalam rongga thoraks menjadi semakin kecil (Sherwood,
2009)

Otot ekspirasi lain yaitu otot intercostal internal, yang berkontraksi menarik
iga turun dan masuk, mendatarkan dinding dada dan semakin mengurangi ukuran
rongga thoraks. Jika terjadinya ekspirasi secara paksa atau aktif, perbedaan antara
tekanan intra-alveolus dan atmosfer akan menjadi lebih besar daripada ekspirasi

31
secara pasif sehingga banyak udara yang keluar menuruni tekanan gradient
(Sherwood, 2009)

2.3.5 Volume dan Kapasitas Paru

Menurut Guyton (2007) volume paru terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Volume Tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada
setiap kali pernafasan normal. Besarnya ± 500 ml pada rata-rata orang dewasa.

2. Volume Cadangan Inspirasi adalah volume udara ekstra yang diinspirasi


setelah volume tidal, dan biasanya mencapai ± 3000 ml.

3. Volume Cadangan Eskpirasi adalah jumlah udara yang masih dapat


dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum pada akhir ekspirasi normal, pada
keadaan normal besarnya ± 1100 ml.

4. Volume Residu, yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru-
paru setelah ekspirasi kuat. Besarnya ± 1200 ml.

Kapasitas paru merupakan gabungan dari beberapa volume paru dan dibagi
menjadi beberapa bagian Guyton (2007), yaitu:

1. Kapasitas Inspirasi, sama dengan volume tidal + volume cadangan


inspirasi. Besarnya ± 3500 ml, dan merupakan jumlah udara yang dapat dihirup
seseorang mulai pada tingkat ekspirasi normal dan mengembangkan paru sampai
jumlah maksimum.

2. Kapasitas Residu Fungsional, sama dengan volume cadangan inspirasi +


volume residu. Besarnya ± 2300 ml, dan merupakan besarnya udara yang tersisa
dalam paru pada akhir eskpirasi normal.

3. Kapasitas Vital, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume tidal +


volume cadangan ekspirasi. Besarnya ± 4600 ml, dan merupakan jumlah udara
maksimal yang dapat dikeluarkan dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru

32
secara maksimal dan kemudian mengeluarkannya sebanyak-banyaknya.

4. Kapasitas Vital paksa (KVP) atau Forced Vital Capacity (FVC) adalah
volume total dari udara yg dihembuskan dari paru-paru setelah inspirasi
maksimum yang diikuti oleh ekspirasi paksa minimum. Hasil ini didapat setelah
seseorang menginspirasi dengan usaha maksimal dan mengekspirasi secara kuat
dan cepat (Ganong, 2005).

5. Volume ekspirasi paksa satu detik (VEP1) atau Forced Expiratory


Volume in One Second (FEV1) adalah volume udara yang dapat dikeluarkan
dengan ekspirasi maksimum per satuan detik. Hasil ini didapat setelah seseorang
terlebih dahulu melakukakn pernafasan dalam dan inspirasi maksimal yang
kemudian diekspirasikan secara paksa sekuat-kuatnya dan semaksimal mungkin,
dengan cara ini kapasitas vital seseorang tersebut dapat dihembuskan dalam satu
detik.

6. Kapasitas Paru Total, sama dengan kapasitas vital + volume residu.


Besarnya ± 5800ml, adalah volume maksimal dimana paru dikembangkan sebesar
mungkin dengan inspirasi paksa. Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita
± 20 – 25% lebih kecil daripada pria, dan lebih besar pada atlet dan orang yang
bertubuh besar daripada orang yang bertubuh kecil dan astenis (Guyton, 2007).

Faktor utama yang mempengaruhi kapasitas vital adalah bentuk anatomi


tubuh, posisi selama pengukuran kapasitas vital, kekuatan otot pernafasan dan
pengembangan paru dan rangka dada. Volume udara normal dalam paru
bergantung pada bentuk dan ukuran tubuh. Posisi tubuh juga mempengaruhi
volume dan kapasitas paru, biasanya menurun bila berbaring, dan meningkat bila
berdiri. Perubahan pada posisi ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu
kecenderungan isi abdomen menekan ke atas melawan diafragma pada posisi
berbaring dan peningkatan volume darah paru pada posisi berbaring, yang
berhubungan dengan pengecilan ruang yang tersedia untuk udara dalam paru
(Guyton, 2007).

33
Gambar 2. Spirogram dari volume dan kapasitas paru,
(Sumber: Tortora, 2012).

2.3.6 Uji Fungsi Paru

Uji fungsi faal paru secara umum dilakukan untuk mengetahui apakah
kerja pernapasan seseorang mampu mengatasi kedua resistensi yang dapat
mempengaruhi kerja pernapasan, yaitu resistensi elastik dan resistensi
nonleastik, sehingga dapat menghasilkan fungsi ventilasi yang optimal.
(Uyainah, 2014)
Resistensi elastik dapat dihasilkan oleh sifat elastis paru (tegangan
permukaan cairan yang membatasi alveolus dan serabut elastis yang terdapat di
seluruh paru) dan rongga toraks (kemampuan meregangnya otot).
Resistensi nonelastik dapat dihasilkan oleh tahanan gesekan terhadap
aliran udara dalam saluran napas, dalam jumlah kecil yang disebabkan karena
viskositas jaringan paru. (Uyainah, 2014).
Volume dan kapasitas paru antara lain:
1. Volume Statik
 Volume Tidal (Tidal Volume): Jumlah udara yang
diinspirasi atau diekspirasi pada setiap kali bernapas.
 Volume Cadangan Inspirasi (Inspiratory Residual Volume):
Jumlah udara yang dapat diinspirasi secara paksa sesudah
inhalasi volume tidal normal.
 Volume Cadangan Ekspirasi (Expiratory Residual Volume):
Jumlah udara yang dapat diekspirasi secara paksa sesudah

34
ekspirasi volume tidal yang normal.
 Volume Residu (residu volume): Jumlah udara yang
tertinggal di dalam paru sesudah ekspirasi paksa.
 Kapasitas Paru Total (Total Lung Capacity): Jumlah udara
maksimal yang dapat dimasukkan ke dalam paru setelah
inspirasi maksimal. TLC= TV+IRV+ERV+RV
 Kapasitas Vital (Vital Capacity): Jumlah udara maksimal
yang dapat diekspresikan setelah inspirasi maksimal.
VC=TV+IRV+ERV
 Kapasitas Inspirasi (Inspiration Capacity): Jumlah udara
maksimal yang dapat diinspirasi setelah ekspirasi normal.
IC=TV+IRV
 Kapasitas Residu Fungsional (Functional Residual
Capacity): Volume udara yang ter nggal di dalam paru
setelah ekspirasi volume dal normal. FRC=ERV+RV

2. Volume Dinamis
 Kapasitas Vital Paksa/ Force Vital Capacity (FVC)
 Pengukuran yang diperoleh dari ekspirasi yang dilakukan
secepat dan sekuat mungkin.
 Kapasitas Vital Lambat/ Slow Vital Capacity (SVC)
 Volume gas yang diukur pada ekspirasi lengkap yang
dilakukan secara perlahan setelah atau sebelum inspirasi
maksimal.
 Volume Ekspirasi Paksa pda detik pertama/Force Expiration
Volume (FEV1)
 Jumlah udara yang dikeluarkan sebanyak-banyaknya dalam
1 detik pertama pada waktu ekspirasi maksimal setelah
inspirasi maksimal (volume udara yang dapat diekspirasi
dalam waktu standar selama pengukuran kapasitas vital
paksa).
 Maximal Voluntary Ventilation (MVV).
 Jumlah udara yang bisa dikeluarkan sebanyak-banyaknya
dalam 2 menit dengan bernapas cepat dan dalam secara
maksimal.

Ventilasi paru dipengaruhi oleh saluran pernapas, paru-paru dan dinding

35
dada. Bagian bagian tersebut mengatur besarnya volume dan aliran udara pada
saat istirahat dan ketika beraktivitas, seperti melakuka kegiatan fisik, bersuara,
batuk, tertawa, perubahan posisi tubuh dan lain lain. (Uyainah, 2014)
Fungsi paru dapat diukur dengan menggunakan spirometri. Spirometri
adalah suatu teknik pemeriksaan untuk mengetahui fungsi/faal paru, di mana
pasien diminta untuk meniup sekuat-kuatnya melalui suatu alat yang dihubungkan
dengan mesin spirometer yang secara otomatis akan menghitung kekuatan,
kecepatan dan volume udara yang dikeluarkan, sehingga dengan demikian dapat
diketahui kondisi faal paru seseorang (Sherwood, 2012)

2.3.7 Penilaian Uji Fungsi Paru

Pemeriksaan spirometri merupakan tindakan utama dalam bagian dari


pemeriksaan faal paru. Untuk pemeriksaan ini digunakan alat spirometri yang
mengukur arus udara dalam satuan isi dan waktu. Spirometri dapat mencatat nilai
pada waktu inspirasi dan ekspirasi, yang lebih umum pencatatan pada waktu
ekspirasi. (Imron, 1993)

Pemeriksaan faal paru dengan spirometri dapat menentukan derajat


penyempitan saluran nafas. Pasien harus melakukan maneuver sederhana dengan
menarik napas semaksimal mungkin kemudian mengeluarkan udara ekspirasi
secepat mungkin ke dalam tabung spirometer, sehingga dapat menggambarkan
fungsi saluran napas yang menampilkan FEV1. (Sylvia,1995)

Parameter FEV1 sering dipakai sebagai pengukuran tunggal terbaik untuk

fungsi paru. Kapasitas vital paksa (FVC), merupakan parameter yang sering
dipakai karena dalam keadaan normal nilainya kurang lebih sama dengan
kapasitas vital, tetapi pada orang yang mengalami obstruktif saluran napas akan
mengalami pengurangan yang nyata. Subjek peneliti akan melakukan inspirasi
dalam sampai maksimal dan ekspirasi maksimal dengan kuat (paksa) untuk
memperoleh nilai kapasitas vital paksa (FVC). Dari 1 kali inspirasi dalam yang
diikuti dengan ekspirasi maksimal dan kuat (paksa) diperoleh nilai FVC, FEV dan
rasio FEV/FVC. Untuk FEV nilai yang diambil adalah dua nilai yang terbesar

36
dengan perbedaan tidak lebih dari 5% atau 100 ml. Untuk FVC nilai yang diambil
adalah dua nilai terbesar dengan perbedaannya tidak lebih dari 5% atau 200 ml.
Pengurangan nilai KVP antara lain disebabkan karena adanya penutupan saluran
udara sehingga udara yang butuh di ekspirasikan terperangkap tidak bias
dikeluarkan (Sylvia,1995).

2.3.8 Spirometri

Spirometri merupakan suatu pemeriksaan yang menilai fungsi terintegrasi


mekanik paru, dinding dada dan otot-otot pernapasan dengan mengukur jumlah
volume udara yang dihembuskan dari kapasitas paru total ke volume residu.
Seseorang dianggap mempunyai gangguan fungsi paru obstruktif bila nilai FEV1
kurang dari 75% dan menderita gangguan fungsi paru restriktif bila nilai
kapasitas vital kurang dari 80% dibanding dengan nilai standar (Alsagaf, dkk,
2005)

Volume dan kapasitas pernapasan merupakan gambaran fungsi ventilasi


sistem pernapasan. Dengan mengetahui besarnya volume dan kapasitas
pernapasan, besarnya kapasitas ventilasi dapat diketahui serta ada tidaknya
kelainan fungsi ventilasi (Suryo,2010)

2.3.9 Indikasi Spirometri

1. Diagnostik: dapat mengevaluasi individu yang mempunyai tanda, atau


hasil laboratorium yang abnormal; skrining individu yang mempunyai risiko
penyakit paru; mengukur efek fungsi paru pada individu yang mempunyai
penyakit paru; menilai risiko preoperasi; menentukan prognosis penyakit yang
berkaitan dengan respirasi dan menilai status kesehatan pasien sebelum memulai
program latihan (Uyainah, 2014).
2. Monitoring: untuk menilai intervensi terapeutik, memantau
perkembangan penyakit yang mempengaruhi fungsi paru, monitoring individu
yang beresiko terkena gangguan fungsi paru (Uyainah, 2014).
3. Evaluasi: kecacatan atau kelumpuhan: menentukan pasien yang
membutuhkan program rehabilitasi (Uyainah, 2014).

37
4. Kesehatan masyarakat: survei epidemiologis dengan melakukan
skrining terhadap penyakit obstruktif dan restriktif, serta menetapkan standar
nilai normal dan penelitian klinis (Uyainah, 2014).

2.3.10 Kontraindikasi Spirometri

Kontraindikasi Spirometri terbagi dalam kontra indikasi absolut dan relatif.


Kontraindikasi absolut berkaitan dengan peningkatan tekanan intrakranial, space
occupying lesion (SOL) pada otak, ablasio retina, dan lain-lain. Sedangkan yang
termasuk dalam kontraindikasi relatif merupakan hemoptisis yang tidak
diketahui penyebabnya, pneumotoraks, angina pektoris tidak stabil, hernia
skrotalis, hernia inguinalis, hernia umbilikalis, Hernia Nucleous Pulposus (HNP)
tergantung derajat keparahan, dan lain-lain (Uyainah, 2014).

2.3.11 Interpretasi Hasil Spirometri


Sebelum melakukan interprestasi hasil pemeriksaan terdapat beberapa
standar yang harus dipenuhi. American Thoracic Society (ATS) mendefinisikan
bahwa hasil spirometri yang baik adalah suatu usaha ekspirasi yang menunjukkan:
(1) gangguan minimal pada saat awal ekspirasi paksa
(2) tidak ada batuk pada detik pertama ekshalasi paksa
(3) memenuhi 1 dari 3 kriteria valid end-of-test:
 peningkatan kurva linier yang halus dari volume- time ke fase
plateau dengan durasi sedikitnya 1 detik.
 jika pemeriksaan gagal untuk memperlihatkan gambaran plateau
ekspirasi, waktu ekspirasi paksa/ forced expiratory time (FET) dari
15 detik
 ketika pasien tidak mampu atau sebaiknya tidak melanjutkan
ekshalasi paksa berdasarkan alasan medis.

Setelah standar terpenuhi, tentukan nilai referensi normal FEV 1 dan FVC
pasien berdasarkan jenis kelamin, umur dan tinggi badan. Kemudian pilih 3 hasil
FEV1 dan FVC yang konsisten dari pemeriksaan spirometri yang selanjutnya
dibandingkan dengan nilai normal yang sudah ditentukan sebelumnya untuk
mendapatkan persentase nilai prediksi (Uyainah, 2014).

38
Gambar 3: Karateristik Spirometri yang dapat dinilai
(Sumber: Shifren A. Pulmonary Func on Test in Washington Manual(R)
Pulmonary Subspeciality Consult, The, 1st Edi on. 2006)

a. Fungsi paru normal


Hasil spirometri normal menunjukkan FEV1 >80% dan FVC >80%.

39
Gambar 4. Normal Spirometri

PEF: peak expiratory flow; RV: residual volume; TLC: total lung capacity.

(Sumber: Shifren A. Pulmonary Func on Test in Washington Manual(R)


Pulmonary Subspeciality Consult, The, 1st Edi on. 2006)

b. Obstructive Ventilatory Defects (OVD)


Gangguan obstruktif pada paru, dimana terjadi penyempitan saluran napas
dan gangguan aliran udara di dalamnya yang akan mempengaruhi kerja
pernapasan dalam mengatasi resistensi nonelastik dan akan bermanifestasi pada
penurunan ventilasi paru. Kelainan ini berupa penurunan rasio FEV1/FVC
<70%. FEV1 akan selalu berkurang pada OVD dan dapat dalam jumlah yang
besar, sedangkan FVC tidak selalu mengalami penurunan. Pada orang sehat
dapat ditemukan penurunan rasio FEV1/FVC, namun nilai FEV1 dan FVC tetap
normal. Ketika sudah ditetapkan diagnosis OVD, maka selanjutnya akan
menilai: beratnya obstruksi, kemungkinan reversibelitas dari obstruksi,
menentukan adanya hiperinflasi, dan air trapping (Uyainah, 2014).

Gambar 5. Spirometri Obstruktif

40
PEF: peak expiratory flow; RV: residual volume; TLC: total lung capacity.
(Sumber: Shifren A. Pulmonary Function Test in Washington Manual(R)
PulmonaryWashington Manual(R) Pulmonary Subspeciality Consult, The, 1
Edition. 2006)

Derajat Obstruksi % FEV1

Ringan >70%

Sedang 60%-69%

Sedang-berat 50%-59%

Berat 35%-49%

Sangat berat <35%

Tabel II: Derajat obstruksi


(Sumber: American Thoracic Society, 2011)

2.4. Olahraga
2.4.1 Definisi

Olahraga adalah suatu bentuk kegiatan fisik yang dapat meningkatkan


kebugaran jasmani. Dalam olahraga tidak hanya melibatkan sistem
muskuloskeletal semata, namun juga mengikut sertakan sistem lain seperti sistem
kardiovaskular, sistem respirasi, sistem ekskresi, sistem saraf dan masih banyak
lagi. Olahraga berperan penting dalam memelihara kondisi kesehatan tubuh
sehingga terhindar dari penyakit (Mutohir & Maksum, 2007).

Olahraga merupakan kegiatan jasmani yang dapat dilakukan dengan


bermaksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot – otot tubuh.
Kegiatan ini dalam perkembangannya dapat dilakukan sebagai kegiatan yang
menghibur, menyenangkan atau juga dilakukan dengan tujuan untuk
meningkatkan prestasi (Ramadhani, 2008).

2.4.2 Aktifitas Fisik

41
Aktifitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh akibat aktifitas otot - otot
skelet yang menyebabkan adanya pengeluaran energi. Setiap orang melakukan
aktifitas fisik antara individu satu dengan yang lain dapat dipengaruhi oleh gaya
hidup masing-masing dan faktor lainnya. Aktifitas fisik terdiri dari aktifitas
selama bekerja, tidur, dan pada waktu senggang. Latihan fisik yang terencana,
terstruktur, dilakukan berulang - ulang termasuk olahraga fisik merupakan bagian
dari aktifitas fisik. Olahraga fisik dapat mencegah resiko terjadinya penyakit
seperti penyakit pembuluh darah, diabetes, kanker dan lainnya (Kristanti, 2002).

2.4.3 Komponen

Olahraga dapat dihubungkan dengan kebugaran jasmani seseorang.


Kebugaran jasmani diartikan sebagai suatu rangkaian karakteristik fisik yang
dimiliki atau dicapai seseorang yang berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan aktivitas fisik (Haskell & Kiernan, 2000). Kebugaran jasmani
mempunyai komponen – komponen yang terbagi atas dua bagian yaitu (Mutohir
& Maksum, 2007.):

1. Kebugaran berhubungan dengan kesehatan:

a. Daya tahan jantung dan paru – paru, yaitu merupakan komponen yang
menggambarkan kemampuan dan kesanggupan melakukan kerja dalam
mengambil dan menyediakan oksigen yang dibutuhkan.

b. Kekuatan otot, yaitu kekuatan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari


terutama tungkai yang harus menahan berat badan. Semakin tua umur seseorang
maka akan semakin berkurang pula kekuatan otot-ototnya apabila tidak terlatih
secara teratur.

c. Daya tahan otot, yaitu kemampuan dan kesanggupan otot seseorang dalam
melakukan kerja secara berulang - ulang tanpa mengalami kelelahan.

d. Fleksibilitas otot, yaitu kemampuan otot dalam bergerak maksimal dalam


menggerakan persendian. Hal tersebut dapat mengurangi terjadinya resiko cedera.

e. Komposisi tubuh, yaitu berhubungan dengan pendistribusian otot dan lemak ke

42
seluruh tubuh. Kelebihan lemak dalam tubuh akan beresiko tinggi terhadap
kegemukan dan menderita berbagai penyakit.

2. Kebugaran yang berhubungan dengan keterampilan motorik:

a. Keseimbangan (balance), berhubungan dengan sikap untuk mempertahankan


keseimbangan ketika diam atau bergerak dalam posisi tertentu.

b. Daya ledak (eksplosife power), berhubungan dengan peningkatan kekuatan laju


ketika seseorang melakukan kegiatan. Daya ledak merupakan hasil dari kekuatan
dikalikan dengan kecepatan.

c. Kecepatan (speed), kemampuan seseorang untuk mengerjakan suatu gerakan


yang berlanjut dalam bentuk yang sama dengan waktu yang sesingkat -
singkatnya.

d. Kelincahan (agility), kemampuan seseorang dengan cara mengubah posisi


dengan kecepatan dan ketepatan yang tinggi.

Perubahan faal yang terjadi saat berolahraga antara lain:


 Denyut nadi meningkat.
 Tekanan darah dan kecepatan aliran darah akan menaik.
 Bernapas lebih cepat dan dalam.
 Konsumsi oksigen menigkat.
 Temperatur tubuh meningkat.
 Vasodilatasi pembuluh darah di kulit dan otot(Pollock dan
Wilmore,1990).

Perubahan tersebut bersifat sementara, mendadak dan menghilang setelah


olahraga selesai. Latiha fisik yang cukup untuk memepertahankan kesegaran
jasmani, yang berefek meningkatkan ambilan oksigen akan meninggikan
kapasitas fisik (Pollock dan Wilmore. 1990).

2.4.4 Daya Tahan Kardiorespirasi

Istilah kebugaran kardiorespirasi sama pengertiannya dengan beberapa


istilah seperti daya tahan jantung-paru atau disebut sebagai daya tahan
kardiovaskular (Sukadiyanto, 2005). Menurut Rusli Lutan (2002), secara teknis

43
pengertian daya tahan kardiorespi berkaitan dengan kardio (jantung), vaskuler
(pembuluh darah), respirasi (paru-paru dan ventilasi), aerobik (terjadinya
pengangkutan oksigen).
Latihan fisik yang dilakukan dapat dibagi beberapa macam, salah satu
pembagiannya berdasarkan pemakaian oksigen atau sistem energi yang digunakan
dalam latihan yaitu latihan aerobik dan anaerobik. Latihan aerobik adalah latihan
yang menggunakan energi yang berasal dari pembakaran oksigen seperti lari,
jalan, bersepeda dan renang. Efek olah raga aerobik adalah kebugaran
kardiorespirasi karena olah raga tersebut mampu meningkatkan ambilan oksigen,
meningkatkan kapasitas darah untuk mengangkut oksigen dan denyut nadi
menjadi lebih rendah saat istirahat maupun aktivitas. Dengan latihan teratur
ketahanan kardiorespirasi dapat meningkat (Bingisser, 1997).

2.4.5 Faktor - faktor

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebugaran jasmani (Faizati Karim,


2002), sebagai berikut:

1. Umur
Kebugaran jasmani anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada
usia 25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional
dari seluruh organ tubuh sesuai meningkatnya umur, kira-kira sebesar 0,8 –
1% per-tahun. Pada organ tubuh yang berumur 70 tahun diperoleh daya
tahan 50% dari yang dari yang dimilikinya pada umur 17 tahun
(Depdiknas, 2000)

2. Jenis Kelamin
Sampai pubertas biasanya kebugaran jasmani anak laki-laki hampir sama
dengan anak perempuan, tetapi setelah pubertas anak laki-laki biasanya
memiliki nilai yang jauh lebih besar. Sampai dengan umur pubertas, nilai
wanita lebih rendah 15-25% dari pada pria (Depdiknas, 2000).

44
3. Keturunan/genetik
Berpengaruh terhadap kepasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas,
haemoglobin/sel darah, dan serat otot (Depdiknas, 2000).

4. Istirahat
Beristirahat ditempat tidur selama 3 minggu akan menurunkan daya tahan
jantung paru. Efek latihan aerobik selama 8 minggu setelah istirahat
memperlihatkan peningkatan daya tahan jantung paru. Seseorang yang
melakukan lari jarak jauh memiliki daya tahan jantung paru yang bagus
dibandingkan melakukan aktivitas lain (Depdiknas, 2000).

5. Makanan
Daya tahan yang tinggi bila mengkonsumsi tinggi karbohidrat (60-70%).
Diet tinggi protein terutama untuk memperbesar otot dan untuk olahraga
yang memerlukan kekuatan otot yang besar (Depdiknas, 2000).

6. Rokok
Kadar CO2 yang dihisap akan mengurangi nilai VO2 max yang
berpengaruh terhadap daya tahan. selain itu menurut penelitian Perkins,
nicotine yang ada, dapat memperbesar pengeluaran energi dan mengurangi
nafsu makan (Depdiknas, 2000).

2.5. Hubungan Kebugaran Jasmani dan Daya Tahan Kardiorespirasi


2.5.1 Definisi

Tingkat kebugaran jasmani seseorang dipengaruhi oleh beberapa komponen,


salah satunya adalah kebugaran kardiorespirasi. Daya tahan kardiorespirasi atau
daya tahan paru jantung adalah kapasitas sistem jantung, paru dan pembuluh darah
untuk berfungsi secara optimal saat melakukan aktivitas sehari-hari dalam jangka
waktu yang cukup lama tanpa mengalami kelelahan yang berarti (Wahjoedi,
2000).

45
2.5.2 Efek Latihan

Latihan fisik mempengaruhi berbagai macam sistem tubuh diantaranya


adalah sistem kardiorespirasi dan sistem pernapasan. Pelatihan yang dilakukan
secara berlajut, sintesis dan berulang akan memberikan efek terhadap organ tubuh
yang terkait dengan kebugaran fisik sehingga tubuh mencapai penampilan yang
optimal. Jika kebugaran fisik mengalami peningkatkan dengan sendirinya organ-
organ tubuh yang ada juga mempunyai kebugaran yang maksimal. Organ tubuh
yang dimaksud adalah organ tubuh yang berhubungan langsung aktivitas fisik
yaitu jantung dan pembuluh darah sebagai sistem kardiovaskular, paru-paru
sebagai sistem pernapasan, dan otot-otot sebagai sistem pergerakan (Kenney,
2012)

Saat beraktivitas kenaikan frekuensi denyut jantung lebih lama


dibandingkan dengan tidak beraktivitas. Pada orang yang terlatih setelah
beraktivitas fisik, denyut jantung, pernapasan dan pembuluh darah akan lebih
cepat kembali ke keadaan normal dari pada orang yang tidak terlatih (Kenney,
2012).

2.6. VO2 Max

2.6.1 Definisi

Menurut Sudarno (1992) VO2max atau dapat juga disebut kapasitas aerobik
maksimal merupakan kemampuan atau kapasitas seseorang untuk menggunakan
oksigen sebanyak – banyaknya dan merupakan indikator tingkat kesegaran
jasmani seseorang. Vo2max adalah volume maksimal O2 yang diproses oleh tubuh
manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Semakin banyak oksigen
yang diasup/diserap oleh tubuh menunjukkan semakin baik kinerja otot dalam
bekerja sehingga zat sisa-sisa yang menyebabkan kelelahan jumlahnya akan
semakin sedikit (Sudarno,1992). Kesegaran jasmani mempunyai hubungannya
dengan Vo2max. Fungsi kardiovaskuler menunjukkan besarnya Vo2max yang
akan menentukan kapasitas kerja fisik atau kesegaran. Salah satu cara penting
untuk menentukan kesegaran kardiovaskuler adalah dengan mengukur besarnya

46
Vo2max. Seseorang yang mempunyai Vo2max baik dalam penggunaan oksigen
akan jauh lebih baik. Hal tersebut dapat mempengaruhi kesegaran jasmaninya
(Anwar, 2013).

2.6.2 Faktor - faktor


Menurut Jonathan Kuantaraf dan K.L Kuantaraf (1992) ada faktor yang
dapat menentukan Vo2 Max yaitu:

a) Jenis Kelamin.

Setelah masa pubertas, konsumsi oksigen pria lebih besar dibandingkan


wanita, walaupun usianya sama antara seorang wanita dan pria (Kuantaraf,1992).
Kemampuan aerobik wanita sekitar 20% lebih rendah dari pria pada usia yang
sama. Hal ini dikarenakan perbedaan hormonal yang menyebabkan wanita
memiliki konsentrasi hemoglobin lebih rendah dan lemak tubuh lebih besar.
Wanita juga memiliki massa otot lebih kecil daripada pria. Mulai umur 10 tahun,
VO2 max anak laki-laki menjadi lebih tinggi 12% dari anak perempuan. Pada

umur 12 tahun, perbedaannya menjadi 20%, dan pada umur 16 tahun VO2 max

anak laki-laki 37% lebih tinggi dibanding anak perempuan (Pate, dkk, 1993).

b) Usia.

Usia 20 tahun sampai 55 tahun kemampuan Vo 2 Max dapat


menaggambarkan sepeti parabola yaitu naik kemudian turun setelah mencapai
titik puncak. Untuk orang yang aktif, Vo2max akan menurun lebih lambat
dibandingkan orang biasa.

c) Keturunan

Seseorang mungkin saja mempunyai potensi yang lebih besar dari orang lain
untuk mengkonsumsi oksigen yang lebih tinggi dan mempunyai suplai pembuluh
darah kapiler yang lebih baik terhadap otot-otot, mempunyai kapasitas paru-paru
yang lebih besar sehingga dapat mensuplai hemoglobin dan sel darah merah yang
lebih banyak dan jantung yang lebih kuat. dilaporkan bahwa konsumsi oksigen

47
maksimal untuk mereka yang kembar identik sangat sama.

d) Komposisi tubuh.

Vo2max dinyatakan dalam militer oksigen yang dikonsumsi per berat badan,
perbedaan komposisi tubuh seseorang menyebabkan konsumsi yang berbeda.
misalnya tubuh yang mempunyai lemak dengan presentase yang tinggi maka
mempunayi konsumsi oksigen maksimal yang lebih rendah. Tubuh yang
mempunyai otot yang kuat, VO2 max yang dimilikinya lebih tinggi. Jika lemak

dalam tubuh dikurangi, maka konsumsi oksigen maksimal dapat bertambah tanpa
tambahan latihan.

e) Latihan atau olahraga.

VO2 max yang baik dapat diperoleh dengan latihan atau olahraga yang

siistematis, VO2 max dapat diperbaiki dari 5% sampai 25%.Dengan

memperhatikan komponen kebudayaaan jasmani, maka telah dikembangkan pula


berbagi jenis pengukuran untuk mengetahui daya tahun jantung paru V o2 Max.
Pengukuran Vo2 Max dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa test
diantaranya multistade fitness test, harvard step test, cooper test, dan balke test.

f) Fungsi Paru Jantung

Orang tidak dapat menggunakan oksigen lebih cepat daripada sistem paru
jantung dalam menggerakkan oksigen ke jaringan aktif, jadi kapasitas fungsional
paru jantung adalah kunci penentu Vo2 Max. Kebanyakan ahli fisiologi olahraga
sepakat bahwa kapasitas maksimal memompa jantung (keluaran maksimal jantung
merupakan variabel paru jantungyang sangat penting). Namun fungsi paru jantung
yang lain seperti kapasitas pertukaran udara dan tingkat hemoglobin (Hb) darah
dapat membatasi Vo2 Max pada sebagian orang.

g) Metabolisme Otot Aerobik

Selama laihan oksigen dipakai dalam serabut otot yang berkontraksi. Jadi

48
Vo2 Max adalah gambaran kemampuan otot rangka untuk menyediakan oksigen
dari darah, menggunakannya dalam metabolisme aerobik. Para ahli fisiologi tidak
sependapat tentang pentingnya kapasitas metabolisme otot menentukan Vo2 Max,
tetapi jumlah olahragwan dapat mempunyai nilai Vo2 Max tinggi apabila otot
rangka dapat menggunnakan oksigen secara cepat dalam metabolisme otot.

h) Kegemukan

Jaringan lemak menambah berat badan, tetapi tidak mendukung kemampuan


olahragawan untuk secara langsung menggunakan oksigen selama olahraga berat.

Kegemukkan badan cenderung mengurangi berat relatif Vo2 Max dan kapasitas
fungsional dengan berat badan (Kuantaraf, 1992).

2.6.3 Pengukuran VO2Max


Menurut Depdiknas (2004) macam tes yang digunakan sebagai pengukuran
VO2Max antara lain:

1. Tes lari 12 menit (metode Cooper)


Tujuan tes lari 12 menit adalah untuk mengukur daya tahanj antung dan
paru. Pelaksanaan tes lari 12 menit akan berdiri di garis start. Setelah diberi aba-
aba oleh petugas, peserta tes lari selama 12 menit dan petugas akan mencatat jarak
yang ditempuh oleh peserta tes dalam satuan menit dan detik.

2. Tes lari 15 menit (metode Balke)


Tujuan tes lari 15 menit adalah untuk mengukur kapasitas aerobik atau Vo2
max. Pelaksanaan tes lari 15 menit akan berdiri di garis start. Setelah diberi aba-
aba oleh petugas, peserta lari menempuh jarak selama 15 menit secepat mungkin.
Jarak yang ditempuh selama 15 menit dicatat dalam satuan meter.

3. Tes lari Multi Stage


Tujuan dari tes lari multi stage adalah untuk mengukur tingkat efisiensi
fungsi jantung dan paru-paru, yang ditunjukan melalui pengukuran ambilan
oksigen maksimum (maximum oxygen uptake). Pelaksanaannya pertama-tama

49
ukurlah jarak 20 meter dan beri tanda pada kedua ujungnya dengan kerucut atau
tanda lain sebagai jarak. Peserta tes disarankan untuk melakukan pemansan
terlebih dahulu.

2.7. Tes Lari Cooper 12 Menit


2.7.1 Definisi
Tes lari Cooper 12 menit dikembangkan pertama oleh Dr. Ken Cooper pada
tahun 1968 sebagai cara mudah untuk mengukur kebugaran aerobik. Tes ini
banyak digunakan sebagai latihan dasar oleh militer. Tes ini banyak digunakan
oleh pelatih demi menetukan kebugaran kardiorespirasi dari waktu ke waktu.
Pengambilan data dari tes cooper ini adalah berupa jumlah jarak yang bisa
ditempuh selama 12 menit melakukan lari. Tes ini dapat digunakan untuk
memantau perkembangan atlet daya tahan aerobik dan dapat memperoleh
perkiraan VO2Max (Quinn, 2018).

2.7.2 Metode
Tes lari Cooper 12 menit menggunakan istilah aerobic karena program dan
standar penafsiran hasil tes disusun berdasarkan prediksi langsung terhadap Vo2
Max (Rusli Lutan, 2000).
Persiapan test antara lain:
 Mempersiapkan lapangan.
 Beri penanda jarak yang jelas.
 Stopwatch atau alat pengukur waktu dalam hitungan menit.
 Peluit dan asisten.

Protokol pelaksanaannya sebagai berikut:

 Peserta test melakukan pemanasan selama 10 menit.


 Peserta test akan berdiri di garis start. Asisten memberikan perintah untuk
mulai lari dan memulai stopwatch ketika peserta mulai lari.
 Asisten terus memberi peserta informasi dari waktu yang tersisa pada
akhir setiap putaran.
 Selama waktu 12 menit, asisten memberi aba-aba peluit kedua, di mana
bersamaan dengan itu stopwatch dimatikan dan peserta lari akan berhenti.

50
Asisten akan memberi penanda pada jarak yang telah ditempuh.
 Asisten akan meniup peluit ketika 12 menit telah berlalu dan mencatat
jarak yang di tempuh peserta tes.
 Menghitung VO2 Max dengan perumusan:

2.7.3 Interpretasi Hasil

Usia 13-14 15-16 17-20 20-29 30-39 40-49 >50


Istimew >2700 >2800 >3000 >2800 >2700 >2500 >2400
a
Baik 2400- 2500- 2700- 2400- 2300- 2100- 2000-
2700 2800 3000 2800 2700 2500 2400
Cukup 2200- 2300- 2500- 2200- 1900- 1700- 1600-
2399 2499 2699 2399 2990 2099 1999
Kurang 2100- 2200- 2300- 1600- 1500- 1400- 1300-
2199 2299 2499 2199 1999 1699 1599
Sangat <2100 <2200 <2300 <1600 <1500 <1400 <1300
kurang
Tabel 3. Norma Skor Tes Jalan/Lari 12 Menit pada Laki-laki.
(Sumber: Australian Collage of Sport Fitness, 2013)

Usia 13-14 15-16 17-20 20-29 30-39 40-49 >50


Istimew >2000 >2100 >2300 >2700 >2500 >2300 >2200
a
Baik 1900- 2000- 2100- 2200- 2000- 1900- 1700-
2000 2100 2300 2700 2500 2300 2200
Cukup 1600- 1700- 1800- 1800- 1700- 1500- 1400-
1899 1999 2099 2199 1999 1899 1699
Kurang 1500- 1600- 1700- 1500- 1400- 1200- 1100-
1599 1699 1799 1799 1699 1499 1399
Sangat <1500 <1600 <1700 <1500 <1400 <1200 <1100

51
kurang
Tabel 4. Norma Skor Tes Jalan/Lari 12 Menit pada Perempuan.
(Sumber: Australian Collage of Sport Fitness, 2013)

2.8 Kerangka Teori

Aktivitas fisik menurun

Pusat respirasi di batang otak Peningkatan penimbunan


jaringan adiposit yang
berlebihan di area torak
dan abdominal.

Melalui saraf frenikus, terjadinya inspirasi.

Gangguan dinamik pada


otot pernafasan
Diafragma kontraksi, paru mengembang,
rongga toraks membesar.

Menghambat mobilitas
Ekspirasi, otot inspirasi melemah, diafragma diafragma dan gerakan
melengkung, paru mengempis, rongga toraks pada costae.
menyempit

Peningkatan tekanan intra


Usia FEV1
abdominal

Riwayat merokok Jenis kelamin

Riwayat penyakit

52
Bagan 1. Kerangka Teori

2.9 Kerangka Konsep

FEV1

Tes lari Cooper 12


menit Lingkar Pinggang

Bagan 2: Kerangka Konsep

: VARIABLE DEPENDENT

: VARIABLE INDEPENDENT

2.10 Perumusan Hipotesis

H0: Tidak ada hubungan bermakna antara FEV1 dengan VO2 max yang
menggunakan metode tes lari Cooper 12 menit pada Mahasiswa
Universitas Yarsi angkatan 2018 yang mempunyai lingkar pinggang
>90 cm.

53
H1: Adanya hubungan yang bermakna antara FEV1 dengan lVO2 max yang
menggunakan metode tes lari Cooper 12 menit pada Mahasiswa
Universitas Yarsi angkatan 2018 yang mempunyai lingkar pinggang
>90 cm.

2.11 Definisi Operasional

Variable Independen
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
yang diukur Operasional
FEV1 volume udara Spirometri Subjek Hasil
yang dapat menghembuskan Spirometri
dikeluarkan udara yang kuat
dengan pada pernafasan
ekspirasi penuh dan
maksimum volume udara
per satuan yang keluar
detik. dihitung pada
detik pertama.

Variable Dependen
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
yang diukur Operasional
Lingkar Meteran/waist Menentukan Jika hasil
Pinggang Suatu ukuran ruler titik tengah ukuran
antropometri dari tulang lingkar
yang
rusuk hingga pinggannya
digunakan
untuk tulang atas tepi >90 cm,
menentukan panggul (crista maka
obesitas illiaca). responden
sentral. termasuk
VO2 max
obesitas
sentral.

54
Tes lari Cooper Dilakukannya Hasil
12 menit tes lari Cooper VO2Max
selama 12
Jumlah
menit pada
oksigen
maksimal Mahasiswa
dalam tubuh Universitas
yang bisa Yarsi
digunakan
untuk
aktivitas fisik
per menit,
Tes lari ditunjukan
Cooper 12 dalam
menit. 1/menit atau
ml/kg/menit. Stopwatch Mahasiswa lari Hasilnya
selama 12 dilihat dari
Berupa menit dan akan jarak yang
jumlah jarak dilihat jarak ditempuh
yang bisa tempuhnya. dalam 12
ditempuh menit.
selama 12
menit
melakukan
lari.

55
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian
eksperimen. Rancangan penelitian tersebut digunakan untuk menilai intervensi
terhadap efek yang terjadi penelitian.

3.2 Rancangan Penelitian


Studi ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan penelitian
One-Shot Case Study di mana peneliti akan mengamati akan melakukan
pengamatan dan pengukuran setelah perlakuan dengan tes lari Cooper 12
menit.

3.3 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Laki laki Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018.

3.4 Sampel
Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018 yang memenuhi kriteria sebagai
berikut:

56
a. Kriteria inklusi
1. Mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018
2. Mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi angkatan 2018
berjenis kelamin laki-laki dan berusia 17 sampai 24 tahun
3. Bersedia menjadi responden dan menandatangani formulir informed
consent.
4. Harus berpartisipasi selama kegiatan penelitian berjalan.
5. Lingkar pinggang harus > 90 cm.
b. Kriteria eksklusi
1. Tidak mempunyai riwayat penyakit dahulu
2. Tidak mempunyai riwayat merokok
3. Tidak adanya keluhan seperti nyeri pada dada saat melakukan aktivitas
4. Tidak adanya sesak nafas saat melakukan aktivitas.
5. Tidak memiliki riwayat penyakit sekarang.
6. Tidak mengalami gangguan kesadaran saat melakukan aktivitas
7. Tidak dalam pengobatan.
8. Tidak mengkonsumsi minuman alkohol.

3.5 Cara Penetapan Sampel


Sampel berasal dari Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
angkatan 2018 dan cara penetapan sampel dengan non-random sampling.

3.6 Penetapan Besar Sampel


Untuk menetukan besar sample minimal yang akan digunakan total sampling,

3.7 Jenis Data


Jenis data adalah data primer yakni data kuantitatif yang didapatkan dari
pemeriksaan lingkar pinggang dan Spirometri. Peniliti akan menggunakan
kuisioner untuk menentukan faktor inklusi serta faktor eksklusi.

3.8 Cara Pengumpulan dan Pengukuran Data


3.8.1. Cara Pengumpulan data

57
Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer meliputi
tes lari Cooper 12 menit, lingkar pinggang yang diambil dan nilai
FEV1.
3.8.2. Cara Pengukuran data
Pengukuran data dalam penelitian ini menggunakan
pengukuran dari tes lari Cooper 12 menit, lingkar pinggang dan
spriometri Minato AZ-505

3.9 Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data adalah menggunakan kuisioner untuk
menentukan faktor inklusi dan eksklusi. Alat bantu yang dipilih dan digunakan
oleh seorang peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan tersebut
menjadi sistematis dan lebih mudah. Instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data adalah pengukuran lingkar pinggang dengan meteran dan
spirometri Minato AZ-500.

3.10 Analisa Data


Data yang telah terkumpul melalui pengukuran FEV1 sesudah melakukan
tes lari cooper serta dilihat VO2Max dan di input ke dalam komputer. Penyajian
data dan analisis dilakukan dengan program SPSS dengan analisis data yang
sesuai. Uji hipotesis yang peneliti akan gunakan yaitu Uji-T.

3.11 Alur Penelitian

Mahasiswa memenuhi persyaratan

Pembagian Kelompok dan


Pembimbing oleh Komisi

58
Pengajuan Topik Skripsi oleh
Mahasiswa

Pelaksanaan Bimbingan Proposal

Seminar Proposal

Revisi Proposal

Izin Etik

Pelaksanaan Penelitian dan


Pengolahan Data

Ujian Hasil

Revisi Hasil

59
Penyerahan Laporan Penelitian dan
Bagan 3. Alur Manuskrip Publikasi Penelitian

3.12 Jadwal Penelitian

NO Kegiatan Waktu
1. Bimbingan Proposal November 2018 - Februari
2019
2 Ujian proposal Maret 2019
3 Pelaksanaan izin April 2019
Komisi Etik
4 Pelaksanaan penelitian April – Agustus 2019
5 Pengolahan dan Agustus – Oktober 2019
analisis data
6 Penyusunan Laporan Oktober – November 2019
Hasil Penelitian
7 Ujian Laporan Hasil Desember 2019
8 Penyerahan Laporan Januari 2020
Hasil
Table 5: Jadwal Penelitian

60
DAFTAR PUSTAKA

Afriwardi (2009) Ilmu Kedokteran Olahraga.Penerbit Buku Kedokteran


EGC.Jakarta:27-48

Ali & Asrori. (2008). Psikologi remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT.
Bumi Aksara

Alimul hidayat, A. Aziz. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia : aplikasi


konsep dan proses keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Alsagaff, H dan.Mukty.H.Abdul.(2005), hal.110-121, Dasar-Dasar Ilmu Penyakit


Paru, Airlangga University Press, Surabaya.

Alsagaff, dkk., 2005. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Airlangga University Press,
Surabaya
American lung Association, 2011, Diagnosing Patients With COPD In The
Primary Care Setting, Boehringer Ingelheim Pharmaceuticals, Inc.

Andersen, R. E. (1999). "Exercise, an Active Lifestyle, and Obesity. Making the


Exercise Prescription Work." Physician and Sports medicine.

Anuradha R, Hemachandran S, Dutta R. The Waist Circumference Measurement:


A Simple Method for Assesing the Abdominal Obesity. Journal of Clinical
and Diagnostic Research 2012; 6(9): 1510-1513.

Audia Candra Meita. (2012). : Hubungan Dengan Kapasitas Vital Paru Pada
Pekerja Penyapu Pasar Johar Kota Semarang”.Jurnal Kesehatan
masyarakat. 1 (2), 654-662

Australian College of Sport & Fitness. (2013). Endurance Test-Twelve Minute


Cooper. Retrieved from acsf.edu.au/pdf/Endurance_Test_Cooper_Test.pdf

Bingisser R,Kaplan V, Scneer T et al. Effect of Training on Repeatability of


Cardiopulmonary Exercise Performance in Normal Men.Med Sci Sport
Exerc.1997;29:1499-1504.

Blair, S. N. (1995). "Exercise Prescription for Health." Quest 47(3): 338-53.

Bompa, Tudor.(1994) Theory and Methodology of Training. Kendal. Iowa: Hunt


Publishing Company.

61
Boreham, et al. 2006. The Physiology of Training. UK: Elsevier Limited.

Ch.M.Kristanti. (2002). Kondisi Fisik Kurang Gerak dan Instrumen Pengukuran.


Media Litbang Kesehatan, XII, 1-5.

Chen Y, Rennie D, Cormier YF, Dosman J. Waist circumference is Associated


with Pulmonary Function in Normal-Weight, Overweight, and Obese
Subjects. Am J Clin Nutr 2007; 85:35-39.

Cahyono, Suharjo B., 2008. Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam


Praktik Kedokteran. Yogyakarta : Kanisius

Depdiknas. 1999. Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. Jakarta. Pusat Kesegaran


Jasmani dan Rekreasi

Depdiknas. (2000). Pedoman dan Modul Pelatihan Kesehatan Olahraga bagi


Pelatih Olahragawan Pelajar. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2004). Badan Peneliti dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Jakarta.

Feigenbaum, M. S.danM. L. Pollock (1999). "Prescription of resistance training


for health and disease." Medicine & Science in Sports & Exercise 31(1): 38.

Giriwijoyo Santoso. 2006. Ilmu Faal Olahraga (Fungsi Tubuh Manusia pada
Olahraga). Bandung: Remaja Rosdakarya

Guyton, Arthur C. 2008 . Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta; EGC

Harahap F, Aryastuti E. Uji Fungsi Paru. Cermin Dunia Kedokteran 2012; 39(4):
305-306.

Haskell W.L., & Kiernan M., 2000., Methodologic issues in measuring physical
activity and physical fitness when evaluating the role of dietary supplements
for physically active people, American Society for Clinical Nutri tion, :
541S- 550S.

Hill JO, Wyatt HR, Reed GW, Peter JC. Obesity and the environment: Where do
we go from here? Science 2003; 299: 853-5.

Hoeger, W.K & Hoeger, S.A (1996). Fitness and Wellness, 3 rd ed, Colorado.
Morton Publishing Company. Merki, B.M. & Merki, D. (1987). Health; A
Guide to wellness. California Glencoe Publishing Company.

Imron, A., 1993. Respirasi. Dalam buku Monograf Fisiologi manusia, suwono
(ed). Pusat Antar Universitas UGM. Yogvakarta.

62
International Diabetes cFederation, 2006, The IDF Consensus Worldwide
Definition of the Metabolic Syndrome,
https://www.idf.org/webdata/docs/IDF_Meta_def_final.pdf, diakses pada
tanggal 1 Maret 2019

Irawan, M.A., 2007. Glukosa dan Metabolisme Energi. Sport Science Brief. 1(6):
12-5.

Ismaryati. 2006. Tes dan Pengukuran Olahraga. UNS Press, Surakarta.

Jette, A. M., M. Lachman, M. M. Giorgetti, S. F. Assmann, B. A. Harris, C.


Levenson, M. WernickdanD. Krebs (1999). "Exercise--it's never too late:
the strong- for-life program." American Journal of Public Health 89(1): 66.

Jonathan Kuantaraf dan K Liwijaya Kuantaraf. (1992). Olahraga Sumber


Kesehatan. Bandung: Advent Indonesia.

Karim, Faizati. 2002. Panduan Kesehatan Olahraga Bagi Petugas Kesehatan.


Jakarta: Tim Departemen Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI. (2008). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007.
Jakarta : Depkes.

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.
Jakarta : Depkes.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018.
Jakarta : Depkes.

Kenney W.L., Wilmore JH, Costrill DL. 2012. Phsyiology of sport and exercise
5th ed. USA: Champaign, Human Kinetics.

Kopelman,G.D. (2000). Obesity as a Medical Problem. Nature, pp. 635-43.

Kraemer, W. J.dan N. A. Ratamess (2004). "Fundamentals of resistance training:


progression and exercise prescription." Medicine & Science in Sports &
Exercise 36(4): 674.

L, Haerens, dkk. The contribution of psychosocial and home environmental


factors in explai- ning eating behaviours in adolescents. Interna- tional of
Obesity, 2008

Lutan, Rusli. 2002. Menuju Sehat dan Bugar. Jakarta: Depdiknas.

Leone N, Courbon D, Thomas F, et al. Lung Function Impairment and Metabolic


Syndrome The Critical Role of Abdominal Obesity. Am J Respir Crit Care
Med 2009; 179: 509–516.

63
Lin WY, Yao CA, Wang HC, Huang KC. Impaired lung function is associated with
obesity and metabolic syndrome in adults. Obesity 2006; 14(9): 1654 –1661.

M Anita,Brown R,R Walter et al.Principles of Exercise Physiology:Responses to


Acute Exercise and Long term Adaptions to Training.American Academy of
Physical Medicine and Rehabilitation.2012;4:797-804

Mahajan S, Arora AK, Gupta P. Correlation of Obesity and Pulmonary Functions


in Punjabi Adults. Pak J Physiol 2012; 8(2): 6-8.

Metabolisme Energi Tubuh & Olahraga. Sports Sciene Brief. V ol.1. Jakarta.2007.

Monks, (2009). Tahap Perkembangan Masa Remaja. Medical Journal New Jersey
Muagman, 1980. Defenisi Remaja. Jakarta : Penerbit Grafindo Jakarta

Mutohir dan Maksum (2007) Sport Development Index. (Konsep, Metodologi dan
Aplikasi) Alternatif Baru Mengukur Kemajuan Pembangunan Bidang
Keolahragaan. Penerbit PT. Index. Jakarta

Nurhasan. (2005). Aktivitas Kebugaran. Jakarta. Depdiknas.

Organization WH. A global brief on Hypertension: silent killer, global public


health crises (World Health Day 2013). Geneva: WHO. 2013.

Pate, Russel R dkk. 1993. Dasar-dasar Ilmiah Kepelatihan. IKIP Semarang Press.
Semarang.

Pi-Sunyer X. A clinical view of the obesity problem. Science 2003; 299: 859-60.

Pollock ML, Wilmore JH (1990). Exercise In Health and Disease ED 2, WB


Sounders Co,Philadelpia,p89-160

Price, S.A., Wilson, L.M. 1995. Fisiologi proses-proses penyakit. EGC. Jakarta.

Ramadhani, Y. 2008. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Olahraga


Dalam Perencanaan Sport Center di Semarang. Semarang : Universitas
Diponegoro.

Rusli Lutan. (2002). Pendidikan Kesegaran Jasmani: Orientasi Pembinaan di


Sepanjang Hayat. Jakarta: Dirjen Olahraga Depdiknas.

Rusli Lutan, dkk. (2001). Pendidikan Kebugaran Jasmani. Jakarta: Direktorat


Jendral Olahraga.

64
Sadoso Sumosardjuno. (1992). Pengetahuan Praktis Kesehatan dan Olahraga.
Jakarta: Pustaka kartini

Saiful Anwar. (2013). Daya Perlokusi di Balik Pernyataan-Pernyataan


JokowiSebagai Kepala Pemerintahan DKI Jakarta. UMS

Salome CM, King GG, Berend N. Physiology of Obesity and Effects on Lung
Function. J Appl Physiol 2010; 108: 206-211.

Santosa Giriwojoyo, dkk. (2007). Ilmu Kesehatan Olahraga untuk Kesehatan dan
untuk Olahraga Perestasi. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga dan
Kesehatan UPI Bandung.

Sarwono, S. W. 2000. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Satriyani, Melvha dan Rosdanelli. 2013. Penentuan Kondisi Optimum Temperatur


dan Waktu Karbonisasi pada Pembuatan Arang dari Sekam Padi. Jurnal
Teknik Kimia USU, Vol. 02 (01). Medan.

Sherwood, Lauralee.2001. Fisiologi Manusia. 2nd Edition. Jakarta: Buku


Kedokteran EGC.

Sherwood, L., 2009. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi VI. Jakarta :
EGC

Shifren A. Pulmonary Func on Test in Washington Manual(R) Pulmonary


Subspeciality Consult, The, 1st Edi on. 2006

Shibata Y, Watanabe T, Osaka D, et al. Impairment of Pulmonary Function is an


Independent Risk Factor for Atrial Fibrillation: The Takahata Study. Int J
Med Sci 2011; 8(7): 514-522.

Soegondo, S., 2011. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus Terkini dalam:
Soegondo, S., Soewondo, P., Subekti, I., Editor. Penatalaksanaan Diabetes
Melitus Terpadu bagi dokter maupun edukator diabetes. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Sudarno. (1992). Pendidikan Kesegaran Jasmani. Jakarta : Depdikbud Dirjen


Dikti.

Suharsini Arikunto. (1989). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta. Rineka Cipta.

Sukadiyanto. (2005). Pengantar teori dan metodologi melatih fisik. Yogyakarta:


Penerbit UNY.

65
Sukmaningtyas, H., Pudjonarko, D., & Basjar, E. 2004. Pengaruh Latihan Aerobik
dan Anaerobik terhadap Sistem Kardiovaskuler dan Kecepatan Reaksi;
Medika Media Indonesia, hal 39: 74-9.

Sumintarsih. (2007). Kebugaran Jasmani untuk Lanjut Usia. Olahraga. Vol. 13,
Th. XIII, No. 1. Hlm. 26-40.

Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuh Gangguan Sistem Pernapasan. Bentang


Pustaka. Yogyakarta.

Syamsiah, A dan Yunus F. 1997. Pemekrisaan spirometri Collis. Jurnal Respiratori


Indonesia. 17 (1) : 46-51.

Sylvia & Wilson, 1995. Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi
4. Jakarta : EGC, 645 – 675.

Tambayong, Jan. 2001. Anatomi Fisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Tchernof, A dan Despres J. P. (2013). Pathophysiology of Human Visceral Obesity


: An Update. Physiol Rev 93

Tortora, GJ, Derrickson, B. 2012. Principles of Anatomy & Physiology 13th


Edition. United States of America: John Wiley & Sons, Inc.

Uyainah, A., Amin, Z. dan Thufeilsyah, F., 2014. Spirometri. Indonesian Journal
of CHEST Critical and Emergency Medicine. 1(1): 35-8.

Wahjoedi. (2000). Landasan Pendidikan Jasmani. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Weihrmeister et al. Waist Circumference and Pulmonary Function: A Systematic


Review and Metaanalysis. Systematic Reviews 2012; 1:55.

WHO. (2011) Top 10 Causes of Death.


www.who.int/mediacentre/factsheets/fs310/en/ diakses 1 MARET 2019

Wibowo DS. 2008. Anatomi Tubuh Manusia. Grasindo. Jakarta.

Widianti, Anggriyana Tri dan Atikah Proverawati. 2010. Senam Kesehatan,


Yogyakarta: Nuha Medika.

Young RP, Hopkins R, Eaton TE. Forced Expiratory Volume in One Second: Not
Just A Lung Function Test but A Marker of Premature Death from All
Causes. Eur Respir J 2007; 30: 616–622.

Yunus, F.1997. Faal Paru dan Olahraga. Jurnal Respirologi Indonesia, 17,100-105.

66
Yunus, F.1997. Latihan dan Pernapasan. Jurnal Respirology Indonesia, 17, 68-69.

ANGGARAN PENELITIAN

67
1. Persiapan Proposal
Nama Jumlah Harga Satuan Total

Print proposal 200 lembar Rp 500,00 Rp 100.000,00

Jilid Proposal Awal 4 rangkap Rp 4.000,00 Rp 16.000,00

Jilid Proposal Revisi 4 rangkap Rp 3.000,00 Rp 12.000,00

Total Rp 128.000,00

2. Taksasi Pengumpulan Data

Snack dan air mineral 1x Rp 586.000.00 Rp 586.000,00


untuk responden pertemuan
Souvenir untuk responden 40 orang Rp 62.000,00 Rp 2.480.000,00

Mouth piece spirometri 40 biji Rp Rp

Total Rp 1.632.000,00

3. Taksasi Analisis Data dan Revisi

Print Hasil Penelitian 200 lembar Rp 500,00 Rp 100.000,00

Jilid KTI Softcover 4 rangkap Rp 4.000,00 Rp 16.000,00

Jilid KTI Hardcover 4 rangkap Rp 20.000,00 Rp 80.000,00

Total Rp 196.000,00

Total Biaya Keseluruhan Rp 4.590.000,00

BIODATA PENELITI

A. Identitas Diri

68
Nama Lengkap : Farah Alamudi
Jenis Kelamin : Perempuan
Program Studi : Kedokteran Umum
NPM : 1102016065
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 2 April 1997
Alamat Rumah : Jl. T buntu No 20, Kebon Baru, Tebet.
E-mail : farah.alamudi@gmail.com
Nomor Telepon / Hp : 0812823780034

B. Riwayat Pendidikan

SD SMP SMA
Nama Institusi SD MACKELLAR SUN
MUHAMMADI GIRLS HIGH – HOMESCHOOLING
YAH 55 PAGI – MADINAH
DEE WHY ISLAMIC
PRIMARY SCHOOL
SCHOOL
Jurusan - - IPA
Tahun Masuk - Lulus 2004-2009 2010-2013 2013-2016

LAMPIRAN 1

Formulir Informed Consent


(Formulir kesediaan mengikuti penelitian)

69
Dengan ini Saya,

Nama :
NIM :
Umur :
Tempat, tanggal lahir :
Alamat :
ID Line/No. HP :

Menyatakan bersedia mengikuti kegiatan penelitian yang berjudul:


“Hubungan FEV1 pada Mahasiswa Dengan Lingkar Pinggang >90 cm Terhadap
VO2MAX Menggunakan Tes Lari Cooper 12 Menit yang Dilakukan pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Angkatan 2018 dan Di Tinjau
Dalam Pandangan Islam”

Dengan ketentuan apabila ada hal-hal yang tidak berkenan pada saya, maka saya
berhak mengajukan pengunduran dari kegiatan penelitian ini.

Jakarta, Maret 2019

Peneliti Responden

Farah Alamudi

Lampiran 2

KUISIONER

70
PETUNJUK PENGISIAN
Isilah pertanyaan dibawah ini, berilah tanda silang ( X ) pada salah satu
pilihan berikut ini

Identitas Responden
Nama :
Angkatan :
Umur :
NPM :
Jenis Kelamin :

1. Apakah anda merokok?


a. Ya (lanjut ke pertanyaan no.2)
b. Tidak (lanjut ke pertanyaan no.6)
2. Pada usia berapa kah anda mulai merokok?
a. < 15 tahun
b. 15 – 18 tahun
c. > 18 tahun
d. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
3. Berapa banyak anda merokok selama sehari?
a. Sehari < 5 batang
b. Sehari 5-10 batang
c. Sehari lebih dari 10 batang
d. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
4. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan anda merokok?
a. Atas keinginan sendiri/coba-coba
b. Teman
c. Keluarga
d. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
5. Apakah alasan anda merokok?
a. Menambah kenikmatan
b. Menyenangkan perasaan
c. Mengurangi rasa cemas, marah dan gelisah
d. Sudah ketagihan
e. Kebiasaan
f. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
6. Apakah anda memiliki riwayat penyakit dahulu?

71
a. Asma
b. Diabetes Mellitus
c. Anemia
d. Hipertensi
e. Penyakit jantung bawaan
f. Tidak ada riwayat penyakit
g. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
7. Apakah anda sedang menderita suatu penyakit saat ini?
a. Asma
b. Diabetes Mellitus
c. Anemia
d. Hipertensi
e. Penyakit jantung bawaan
f. Penyakit infeksi paru
g. Tidak sedang menderita penyakit saat ini
h. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
8. Apakah anda pernah mengalami nyeri dada saat melakukan aktivitas?
a. Tidak pernah
b. Jarang
c. Sering
d. Setiap saat
e. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
9. Apakah anda pernah mengalami sesak nafas saat melakukan aktivitas?
a. Tidak pernah
b. Jarang
c. Sering
d. Setiap saat
e. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
10. Apakah anda pernah mengalami kehilangan kesadaran saat melakukan
aktivitas?
a. Tidak pernah
b. Jarang
c. Sering
d. Setiap saat
e. Lainnya (sebutkan) . . . . . .
11. Apakah anda saat ini sedang menggunakan obat rutin atau sedang dalam
pengobatan suatu penyakit?
a. Ya (sebutkan pengobatan apa) . . . . . .
b. Tidak
12. Apakah anda pernah menkonsumsi alkohol?
a. Ya (lanjut ke pertanya 13)
b. Tidak
13. Berapa sering anda mengkonsumsi alkohol?
a. Seminggu sekali
b. Seminggu 2 kali atau lebih
c. Sebulan sekali

72
d. Sebulan 2 kali atau lebih

73