Anda di halaman 1dari 124

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Modul 7 (Modul Cell Growth) adalah modul yang dipelajari pada blok 7
merupakan salah satu blok yang termasuk dalam fase biomedik. Pada blok ini,
mahasiswa akan diberikan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan
dasar-dasar pertumbuhan sel yang dikaji terutama pada 4 disiplin ilmu dasar kedokteran
yaitu anatomi, histologi, patologi-anatomi, dan mikrobiologi.
Modul Cell Growth ini terdiri dari 5 skenario sebagai topik khusus pembelajaran
dan di dalam masing-masing modul tersebut berisi triger (pemicu) yaitu Radang dan
Penyembuhan, Embriogenesis, Organogenesis, Pola Pewarisan Sifat, dan
Neoplasia yang membantu mahasiswa belajar berdasarkan masalah (problem based
learning).
Blok 7 akan ditempuh selama 6 minggu dan pada akhir minggu ke-6 akan
dilakukan ujian blok. Proses pembelajaran meliputi pemberian kuliah, diskusi
kelompok kecil, praktikum konvensional, dan skills lab.
Hasil akhir Modul Cell Growth ini salah satunya adalah tercapai pemahaman
mahasiswa terhadap aspek normal dan dasar patologi pertumbuhan sel. Modul ini
merupakan landasan dalam pembelajaran aspek patologis pada sistem organ yang akan
diberikan pada tahun kedua pendidikan kedokteran. Setelah melalui modul ini,
mahasiswa dianggap telah mencapai kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan
kompetensi inti, konptensi penunjang, learning objective dan learning outcome yang
dijadikan syarat dalam Modul Cell Growth. Selanjutnya mahasiswa dianggap telah siap
untuk mengikuti proses pembelajaran pada modul berikut yang terkait.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 1


B. Prasyarat

1. Mahasiswa yang dapat mengikuti modul ini ialah mahasiswa yang telah melalui
blok 1 -6.
2. Berkemauan keras menjalani proses pendidikan kedokteran dengan tekun dan
bersemangat dengan tetap menjaga nilai-nilai kepantasan yang berlaku di dunia
pendidikan pada umumnya dan di Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman khususnya.
3. Mampu bekerja sendiri maupun dalam kelompok dengan tetap menerapkan
prinsip-prinsip berkomunikasi berdasarkan empati, baik dengan sesama
mahasiswa, fasilitator, narasumber, dan semua karyawan dan sivitas akademi di
lingkungan FK Unmul.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 2


VISI DAN MISI

Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman memiliki visi yang berlandaskan


pada visi Universitas Mulawarman. Visi Universitas Mulawarman adalah sebagai pusat
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertumpu pada hutan tropika basah
(tropical rainforest) beserta lingkungannya, serta melahirkan sumber daya manusia yang
berkualitas, kompetitif, berdedikasi, mandiri, dan professional. Dari visi tersebut
dilahirkan suatu misi Fakultas Kedokteran Unmul untuk menghasilkan lulusan
pendidikan dokter yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak tinggi,
berbudaya Indonesia, bersemangat ilmiah serta memiliki kemampuan akademik yang
profesional dan sanggup untuk berkinerja baik di lingkungan kerjanya.

Tujuan Khusus
Berdasarkan visi dan misi tersebut di atas, kekhususan pendidikan dokter di Universitas
Mulawarman diarahkan pada lulusan seorang dokter yang mampu :
1. Mengatasi masalah-masalah kesehatan keluarga serta mengembangkan sistem
kedokteran keluarga pada pelayanan primer
2. Mengatasi masalah-masalah medik yang timbul akibat dari lingkungan hidup di
daerah hutan hujan basah dan lingkungannya
3. Menggunakan pendekatan bio-sosio-psiko kultural dalam memecahkan masalah
kesehatan
4. Mengatasi masalah-masalah kesehatan industri dan pertambangan
5. Memanfaatkan dan/atau mendayagunakan potensi hutan tropis basah dalam
memecahkan masalah-masalah medik di lingkungannya
6. Melakukan pemahaman upaya pengobatan tradisional dalam konteks upaya
pengobatan modern

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 3


TAHAPAN PENDIDIKAN

Kurikulum Berbasis Kompetensi


Pada tahun 2007 diharapkan FK UNMUL mulai menerapkan kurikulum berbasis
kompetensi dengan pendekatan system SPICES (Student center, Problem Based
Learning, Integrated, Community oriented, Elective, dan Systematic).

A. Tahapan Pendidikan
Masa pendidikan akan ditempuh selama 5 tahun yang terbagi atas 3 fase/ tahapan, yaitu:
a. Fase I General Education
Fase ini berlangsung selama 1 blok (6 minggu). Pada tahapan ini mahasiswa
diajarkan tentang pengenalan pembelajaran di pendidikan kedokteran dan
bagaimana melengkapi mahasiswa untuk siap belajar di PSKU UNMUL. Dalam
tahapan ini juga mahasiswa diperlengkapi dengan wawasan bagaimana dia bisa
mengenali dan menerima dirinya di tengah-tengah lingkungan sosio-psikobudaya
yang beraeka ragam.
Walaupun fase ini difokuskan pada blok 1, hirarki topic-topik yang ada di blok ini
akan juga tersebar pada blok-blok berikutnya.
b. Fase II Biomedik
Fase ini berlangsung dari blok 2 sampai blok 21. Pada fase ini mahasiswa akan
diberikan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan dasar-dasar
fungsi tubuh normal, proses patofisiologi tubuh dan penatalaksanaannya,
kesehatan komunitas, dan bagaimana peran seorang dokter ditengah-tengah
komunitasnya.
c. Fase III Klinik
Fase ini berlangsung selama 3 semester (1,5 tahun). Pada fase ini mahasiswa akan
belajar sekaligus mempraktekkan ilmu dan keterampilan yang telah dimilikinya
kepada pasien di rumah sakit A. W. Sjahranie Samarinda dan beberapa rumah
sakit maupun puskesmas pendukung yang dipersiapkan sebagai sarana
pendidikan.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 4


B. Sistem blok dan thema tahunan
Kurikulum dibagi berdasarkan thema tahunan dan setiap thema berisi blok-blok
yang memiliki judul khusus. Di dalam blok tersebut akan berisi modul-modul sebagai
topic khusus pembelajaran dan di dalam modul tersebut berisi trigger (pemicu) yang
membantu mahasiswa belajar berdasarkan masalah (problem based learning).
Proses belajar 1 semester akan ditempuh selama 18 bulan dan ditambah 1 minggu
remedial. Satu blok akan ditempuh selama 6 minggu dan pada akhir minggu ke 6 akan
dilakukan ujian blok.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 5


Curriculum Mapping
INTERNSHIP

V CLINICAL ROTATION

Year IV Emergency and Management


19 20 21
IV Medical Surgical Health management REM CLINICAL ROTATION
Emergency Emergency
Year III Diseases and Disorders
13 14 15 16 17 18
III Thoracic Abdominal Neuromusculosceletal REM Head & Neck Psyciatric Research REM
Disorder Disorder Disorder Disorder Disorder
Year II Life Cycle
7 8 9 10 11 12
II Cellular New Born Baby Childhood and puberty REM Adult Aging, Systemic, Elective REM
growth and pregnancy & Skin disorder
Year I Normal body function
1 2 3 4 5 6
I Introduction Tractus Tractus Cardiova-cular REM Tractus Tractus Neuromus- REM
medical study Respiratorius Digestivus Urogenitalia culoskeletal
& First Aid
6 Weeks 6 Weeks 6 Weeks 1 Wk 6 Weeks 6 Weeks 6 Weeks 1 Wk
TAHUN SEMESTER GANJIL SEMESTER GENAP

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 6


a. Tema tahun I: Symptoms of diseases
Pada tahun ini berisi dua fase pendidikan yaitu fase general education berupa pengenalan
pembelajaran di kedokteran dan pertolongan pertama (Blok 1) dan fase biomedik,
mahasiswa belajar fungsi normal tubuh berdasarkan gejala yang terbanyak yang terjadi di
masing-masing system organ (Blok 2-6). Disamping itu, mahasiswa juga diajarkan
keterampilan komunikasi, pemeriksaan fisik tubuh dan laboratorium normal, serta
keterampilan procedural.
Thema tahunan ini mencakup blok pengenalan pembelajaran kedokteran dan pertolongan
pertama; blok traktus respiratoriun; traktus kardiovaskular; traktus digestifus; traktus
urogenitalia; dan neuromuskuloskeletal.

b. Tema tahun II: Life cycle


Pada tahun II ini, mahasiswa akan belajar tentang fungsi fisiologois dan patofisiologis
tubuh berdasarkan tahapan hidup manusia (Blok 7-12).
Thema ini berisi blok perkembangan seluler; bayi baru lahir dan kehamilan; masa anak-
anak dan pubertas; masa dewasa; dan masa penuaan. Blok 12 merupakan blok elektif,
yang mana mahasiswa akan diberikan kesempatan belajar lebih mendalam sesuai dengan
pilihan modul yang diberikan. Blok ini berisi 4 modul yaitu modul Malaria, TBC,
Kedokteran Okupasi, dan Fitofarmaka.

c. Tema tahun III: Diseases and disorders


Pada tahun ini, mahasiswa akan belajar tentang patofisologis penyakit dan
penatalaksanaannya berdasarkan regio tubuh.
Thema ini berisi blok kelainan torak; kelainan abdominal; kelainan
neuromuskuloskeletal; kelainan kepala dan leher; dan kelainan psychiatric. Pada akhir
tahun III ini (blok 18), mahasiswa akan belajar tentang research.

d. Tema tahun IV: Emergency & Management dan Rotasi Klinik


Thema emergency dan management hanya mencakup semester ganjil (blok 19-21).Pada
tahapan ini, mahasiswa akan belajar tentang penatalaksanaan kegawatdaruratan medis
dan bedah serta management kesehatan dan bencana alam.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 7


Blok yang termasuk dalam thema ini adalah kegawatdaruratan medis, kegawatdaruratan
bedah; dan management kesehatan dan bencana alam.
Apabila mahasiswa telah memenuhi criteria kelulusan sebagai sarjana kedokteran,
mereka akan melanjutkan pendidikannya ke fase 3 yaitu rotasi klinik.

e. Tahun V: Rotasi klinik


Pada tahun ini mahasiswa masih melanjutkan rotasi klinik. Apabila mahasiswa tersebut
telah mengikuti keseluruhan bagian dan telah memenuhi persyaratan kelulusan,
mahasiswa tersebut akan diwisuda profesi dokter.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 8


KOMPETENSI DAN LEARNING OUTCOME

Pada akhir modul Cell Growth ini, mahasiswa diharapkan mempunyai kompetensi
yang harus dimiliki seorang dokter umum. Kompetensi tersebut adalah:

Area 1: KOMUNIKASI EFEKTIF


Kompetensi Inti
Mampu menggali dan bertukar informasi (verbal dan non verbal ) dengan pasien/
pada semua Usia, anggota keluarga, masyarakat, kolega dan profesi lain

1). Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya


1.1. Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya
1. Memberikan salam
2. Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien
3. Menunjukkan sikap simpati dan dapat dipercaya
4. Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi, dan
kerahasiaan pasien sepanjang waktu.
5. Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam
memutuskan suatu terapi dan tindakan.

1.2. Mengumpulkan informasi


1. Mampu menggunakan open- maupun close-ended question dalam menggali
informasi (move from open to closed question properly
2. Meminta penjelasan pada pasien pada statement yang kurang dimengerti
3. Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien sekarang,
riwayat keluarga, atau riwayat kesehatan masa lalu
4. Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien
5. Tidak memberikan nasihat maupun penjelasan yang prematur saat masih
mengumpulkan data-data

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 9


1.3. Memahami perspektif pasien
1. Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut
penyakitnya
2. Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya, dan
harapannya
3. Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien (marah,
takut, malu, sedih, bingung, eforia, maupun pasien dengan hambatan komunikasi
mis. bisu-tuli, gangguan psikis)
4. Mampu merespon verbal dan non verbal dari pasien secara profesional
5. Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan norma-norma setempat untuk
menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter pasien
yang profesional
6. Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk
bahasa daerah setempat), serta sesuai tingkat pendidikan pasien; ketika
menyampaikan pertanyaan, meringkas informasi, menjelaskan hasil diagnosa,
pilihan penanganan serta prognosis.

1.4. Memberi Penjelasan dan informasi


1. Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres sebelum
melakukan pemeriksaan fisik
2. Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama
pemeriksaan fisik atau tindakannya.

3). Berkomunikasi dengan masyarakat


1. Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat.
2. Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat
3. Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat
menjadikan kesehatan sebagai suatu kebutuhan.
4. Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara efektif ketika melakukan
promosi kesehatan.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 10


Area 2 KETRAMPILAN KLINIS
Kompetensi Inti
Melakukan prosedur klinis sesuai masalah, kebutuhan pasien, dan sesuai kesenangannya

2). Melakukan prosedur klinis dan laboratorium


2. Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien dan
kewenangannya.
3. Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal mungkin menimbulkan
rasa sakit dan ketidaknyamanan bagi pasien
5. Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis dengan jelas dan benar
7. Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar

Area 3 LANDASAN ILMIAH ILMU KEDOKTERAN


Kompetensi Inti
Mengidentifikasi, menjelaskan, dan merancang penyelesaian masalah kesehatan secara
ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang
optimal.

1). Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik, klinik,


perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan
tingkat primer.
1. Menjelaskan (C5) prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan
terjadinya masalah kesehatan, beserta patogenesis dan patofisiologinya.
2. Menjelaskan (C5) masalah kesehatan baik secara molekular maupun selular melalui
pemahaman mekanisme normal dalam tubuh.
Area 5 PENGELOLAAN INFORMASI
Kompetensi Inti
Mengakses, mengelola, menilai secara kritis kesalahan dan kemampu-terapan informasi
untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah, atau mengambil keputusan dalam
kaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 11


1). Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan
diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan,
serta penjagaan, dan pemantauan status kesehatan pasien.
1. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.
2. Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan
validitasnya.
3. Menerapkan metoda riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah.
4. Menerapkan ketrampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data
relevan menjadi arsip pribadi.
5. Menerapkan keterampilan dasar menafsirkan data untuk melakukan validasi
informasi ilmiah secara sistematik.
6. Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan cara
menyimpan status

2). Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi


a.Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
penggunaannya, dengan memperhatikan secara khusus potensinya untuk
berkembang dan keterbatasannya

3). Memanfaatkan informasi kesehatan


1. Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik
kedokteran secara efisien.
2. Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktek kedokteran dengan menganalisis
arsipnya.

Area 6 MAWAS DIRI DAN PENGEMBANGAN DIRI


Kompetensi Inti
A. Melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan
keterbatasannya.
B. Mengatasi masalah emosional, personal, kesehatan, dan kesejahteraan yang dapat
mempengaruhi profesinya

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 12


C. Belajar sepanjang hayat
D. Merencanakan, menerapkan, dan memantau perkembangan profesi secara
berkesinambungan

1). Menerapkan mawas diri


4. Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi
5. Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang membangun
dari pasien, sejawat, instruktur, dan penyelia (supervisor)
6. Mengelola umpan balik hasil kerja sebagai bagian dari pelatihan dan praktik

2). Mempraktekkan belajar sepanjang hayat


3. Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis bukti (Evidence-Based
Medicine).
5. Menanggapi secara kritis literatur kedokteran dan relevansinya terhadap pasiennya.

Area 7 ETIKA, MORAL, PROFESIONALISME, DAN MEDIKOLEGAL


Kompetensi Inti
 Berperilaku profesional dalam praktik kedokteran serta mendukung kebijakan
kesehatan
 Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal
dalam praktik kedokteran
 Menerapkan program keselamatan pasien

1). Memiliki sikap profesional


2. Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien
3. Menunjukkan kepercayaan dan hormat menghormati dalam hubungan dokter dan
pasien
4. Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh
6. Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi.
7. Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etis yang sulit

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 13


8. Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan etik dalam pengobatan
setiap individu pasien

2). Berperilaku profesional dalam bekerja sama


1. Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial
2. Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran
yang berharga, tanpa memandang status sosial
3. Berperan serta bdalam kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan para petugas
kesehatan lainnya.

4). Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia


1. Menghargai perbedaan karakter individu, gaya hidup, dan budaya dari pasien dan
sejawat.
2. Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia, gender, orientasi
sexual, etnis, kecacatan dan status sosial ekonomi

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 14


SASARAN PEMBELAJARAN

SASARAN PEMBELAJARAN UMUM:


Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa harus mampu menjelaskan tentang sel
mulai dari struktur sel, fisiologi sel sampai proses patologi yang terjadi dalam sel dan mampu
melakukan komunikasi, pemeriksaan fisik maupun laboratorium yang berhubungan dengan
pertumbuhan sel, sesuai dengan standar profesionalitas, moral dan etika.

SASARAN PEMBELAJARAN KHUSUS


1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang sel, matriks ekstraseluler, dan komunikasi sel
2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang siklus sel dan kontrolnya
3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang kromosom, kode genetik, dan penurunan
genetik
4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses replikasi DNA, ekspresi DNA, dan DNA
repair
5. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang mutasi dan karsinogenesis
6. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang adaptasi sel
7. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang inflamasi akut dan kronis
8. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses penyembuhan luka
9. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang dasar bioetika
10. Mahasiswa mampu menjelaskan dasar penggolongan obat dan penulisan resep
11. Mahasiswa mampu menjelaskan dasar pemilihan obat dan terapi personal
12. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang dasar kesehatan masyarakat
13. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang kewarganegaraan
14. Mahasiswa mampu melakukan komunikasi yang berhubungan dengan tumbuh kembang
15. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan ginekologi dan antenatal
16. Mahasiswa mampu melakukan prosedur bedah minor

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 15


TOPIC TREE BLOK 7
Degeneratif
Kongenital
Transport
Membran Mutasi
Gen
Neoplasma
Komunikasi intra-
& intersel
Replikasi Sistem-organ
& repair Sintesa embriogenesis
DNA Repair, protein/ekspresi
regenerasi, gen
jaringan,
fibrosis,inflamas
i
Ovulasi –
fertilisasi
Struktur dan fungsi sel
Proliferasi & sampai lahir
kematian sel Materi
Genetik &
Herediter

Siklus
sel Embriogenesis
Dasar
Bioetika

Cell Growth

______________________

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 16


KONTRIBUTOR

Tim Blok:
1. Dr. dr. Endang Sawitri, M.Kes.
2. dr. Marihot P., SpOG., M.Kes.
3. dr. Hary Nugroho, M.Kes.
4. Dr. dr. Swandari, M.Kes.
5. dr. Hadi I., SpPA., M.Kes.

Editor:
Tim Kurikulum

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 17


METODE BELAJAR

Metode belajar yang diimplementasikan pada modul Cell Growth merupakan metode yang berpusat pada
mahasiswa (student centered) dan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem
based)

Meliputi:
1. Proses belajar
a. Kuliah
b. PBL (Problem Based Learning)
c. Kegiatan Laboratorium
2. Evaluasi
a. Ujian model MCQ
b. Responsi ketrampilan medik
c. Penilaian harian
d. Presentasi
3. Umpan balik
a. Forum diskusi
b. Pertanyaan
c. Laporan kegiatan laboratorium

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 18


SARANA DAN PRASARANA

A. Sumber pembelajaran
- Buku teks / Fotokopi dari Panitia
- Nara sumber / fasilitator
- Hand out
- Pedoman Praktikum
- Internet
B. Media instruksional
- Slide projector
- LCD
- White Board
- Flip Chart
- Mikroskop
- Sediaan makroskopik dan mikroskopik serta bahan praktikum lainnya
- Buku gambar, alat tulis, alat gambar, buku catatan
C. Narasumber
D. Sarana fisik
 Ruang Kuliah
 Ruang diskusi
 Ruang Praktikum
 Alat-alat Praktikum
 Kepustakaan
 Media Audiovisual

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 19


PEMICU
Pemicu yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Radang dan Penyembuhan (Skenario 1)
2. Embriogenesis (Skenario 2)
3. Organogenesis (Skenario 3)
4. Pola Pewarisan Sifat (Skenario 4)
5. Neoplasia (Skenario 5)

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 20


MODUL 1
RADANG DAN PENYEMBUHAN
SASARAN PEMBELAJARAN :
1. Mekanisme adaptasi sel : hiperplasia, hipertrofi,atrofi,metaplasia,akumulasi intrasel
(lipid, protein,glikogen, pigmen)
2. Gambaran umum inflamasi akut : perubahan vaskular, berbagai peristiwa yang terjadi pada
sel, defek pada fungsi leukosit,, mediator kimia
inflamasi,jejas jaringan yang diinduksi oleh radang,
gambaran morfologi, akibat dan efek sistemik
3. Penyembuhan luka : regenerasi sel , penyembuhan primer, penyembuhan sekunder, dan
kekuatan luka
4. Gambaran umum inflamasi kronis : sel dan mediator, inflamasi granulomatosa. gambaran
morfologi,pemulihan oleh jaringan ikat dan faktor
pertumbuhan yang mempengaruhi
5. Dasar Bioetika

Kegiatan Pembelajaran
I. PROBLEM BASED LEARNING
Adikku sakit amandel

Adikku , Salsa (10 tahun) tiba-tiba mengeluh nyeri sekali dikerongkongannya sehingga
tidak bisa makan dan minumpun terasa susah. Keluhan ini baru dirasakan 1 hari disertai panas
badan yang tinggi (40º C) dan badan terlihat lemah. Satu hari sebelumnya Salsa mengalami
batuk pilek. Ibu sudah mencoba memberi obat penurun panas tetapi keluhan tidak berkurang.
Kemudian Salsa di periksa ke dokter Anak, dan dilakukan pemeriksaan kerongkongan, ternyata
amandelnya bengkak dan merah. Dokter memberi resep antibiotik dan anti radang dengan
harapan terjadi resolusi dari amandel Salsa.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 21


STEP 1. Deskripsi istilah sulit
1. Nyeri : respon fisiologis akibat reaksi peradangan
2.Tidak bisa makan dan minum : anoreksia, efek sistemik reaksi peradangan
3. Panas : efek sistemik reaksi peradangan
4. Badan lemas : malaese, efek sistemik reaksi peradangan
5. Bengkak dan merah : Tanda- tanda radang akut
6. Resolusi :akibat radang akut berupa perbaikan jaringan baik histologis maupun fungsional

STEP 2. Masalah yang mungkin timbul


1. Mengapa bisa terjadi nyeri ?
2. Mengapa terjadi anoreksia?
3. Mengapa terjadi panas?
4. Mengapa badan menjadi lemah?
5. Apa yang menyebabkan radang akut?
6. Bagaimana mekanisme terjadi bengkak?
7. Bagaimana mekanisme terjadi merah ?
8. Apa saja akibat radang akut?
9. Bagaimana proses penyembuhan terjadi ?

STEP 3. Konsep yang harus dikuasai mahasiswa


RADANG DAN PENYEMBUHAN
RADANG DAN PENYEMBUHAN
Reaksi radang dan penyembuhan sangat besar faedahnya oleh karena kedua reaksi
tersebut mampu untuk menahan trauma lebih lanjut dan memperbaiki defect. Kedua reaksi
tersebut saling berhubungan erat satu sama lain dan merupakan serangkaian kejadian.
Penyembuhan sudah dimulai pada fase aktif dari pada reaksi radang, tetapi baru
lengkap setelah pengaruh trauma dapat dinetralisir. Walaupun sangat besar faedahnya,
tetapi kadang-kadang kedua reaksi tersebut dapat merugikan misalnya : Tumbuhnya
glomerular disease yang fetal, rhematoid arthitis, cicatrix yang membatasi gerak.

1. R A D A N G

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 22


Definisi : Adalah reaksi dari tubuh terhadap trauma pada jaringan, yang meliputi
reaksi neurologis, vaskuler, humoral dan sellular pada tempat terjadi
nya trauma.
Reaksi radang ini merusak, melemahkan atau melokalisir agent penyebab jejas.
Penyebab radang :
- Trauma biologis (merupakan penyebab utama).
- Trauma fisic (mekanis, thermis, elektris).
- Trauma kimia.
Manifestasi Klinik Radang akut :
Organ / jaringan yang terkena radang ditambah dengan akhiran “itis”.
Misal : tonsilitis, appendicitis, hepatitis dan sebagainya.
Tergantung dari beratnya jejas dan kemampuan pertahan tubuh, maka radang
dapat terlokalisir pada tempatnya atau dapat menyebar ke sekitarnya / keseluruh
tubuh.
Gejala lokal radang :
- Calor ( panas )
- Rubor (merah )
- Edema
- Dolor ( nyeri )
- Functio leasa
- Kadang-kadang terbentuk pus.
Calor dan rubor :
Terjadinya karena dilatasi dari pada mikro sirkulasi pada darah jejas.
Edema:
Terjadi karena keluarnya cairan dan beberapa bahan yang dikandungnya
dari dalam sistem sirkulasi ke jaringan peri vaskuler. Proses ini ada 2
macam yakni transudasi dan eksudas.
Dolor:
Diduga dapat disebabkan karena beberapa hal :
1. Penekanan nerce ending oleh cairan extra vasculer.
2. Iritasi saraf oleh chemical mediator.

Functio Leasa :
Diduga karena :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 23


1.Mencegah timbulnya nyeri akibat gerakan (pada organ-organ yang
mempunyai fungsi motoris).
2.Peningkatan temperatur pada radang menimbulkan keadaan yang
optimal untuk reaksi biokimia sehingga menurunkan fungsi.
3.Terbentuk metabolit-metabolit yang merugikan yang
dihasilkan oleh sel-sel yang mengalami trauma.

PUS :
Adalah exudat radang yang kaya protein dan mengandung
- Lekosit hidup
- Sel-sel mati yang berasal dari : - Lekosit
- Jaringan parenchym
Eksudat :
Adalah cairan exstra vasculer yang terjadi akibat radang dengan berat
jenis lebih 1.020, oleh karena daya protein dan cellular debris.
Lekosit dan sekitar debris memberikan gambaran kuning putih pada pus,
sehingga disebut juga sebagai exudat purulent.
Transudat :
Adalah cairan axtra vasculer dengan kadar protein yang rendah dengan berat
jenis kurang 1.020.
Transudat ini pada hakekatnya merupakan ultrafiltrat dari pada plasma
darah, dan dapat pula terjadi pada keadaan yang bukan merupakan
keradangan.

Manifestasi lokal dari pada radang akut :


Ada 3 kejadian :
1. Perubahan hemodinamik.
2. Perubahan permiabilitas
3. White cells events (kejadian-kejadian yang dialami lekosit).

Perubahan Hemodinamik :
Ada beberapa kejadian :
1. Dilatasi arteriole (kadang-kadang didahului oleh vasokonstriksi yang
berlangsung sementara).

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 24


2. Peningkatan kecepatan aliran darah melalui arteriole.
3. Perubahan capiler dan vanule bed yang baru pada daerah tersebut.
4. Peningkatan permiabilitas dari pada microvasculatur sehingga terjadi
pengeluaran cairan dari dalam pembuluh darah ke jaringan exstra
vasculer.
5. Konsentrasi eritrosit didalam kapiler dan venule.
6. Perlambatan atau stasis aliran darah pada pembuluh darah kecil kadang-
kadang terjadi stagnasi komplit.
7. Marginasi dari pada lekosit.
8. White cell event yang lain akan dibicarakan

Perubahan permiabilitas :
Peningkatan permiabilitas dari pada mikrovaskulator menyebabkan keluarnya
cairan ke jaringan perivaskuler dan menimbulkan edema.
Mula-mula akan terbentuk transudat, tetapi dengan makin meningkatnya
permiabilitas maka akan terbentuk exudat oleh karena plasma protein, lekosit dan
kadang-kadang eritrosit dapat ikut keluar ke jaringan perivaskuler.

Mekanisme terjadinya eksudasi :


1. Karena peningkatan tekanan hidrostatik.
2. Karena peningkatan permiabilitas pembuluh darah.
Peningkatan tekanan hidrostatik :
Terjadi karena peningkatan blood flow pada daerah jejas, dimana
peningkatan flow tersebut selain menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik
juga menyebabkan dilatasi pembuluh darah.

Peningkatan permeabilitas pembuluh darah :


Ada 3 fase :
1. Immediate permeability respons.
2. Delayed respons.
3. Immediate sustained reaction.
Add 1. Terjadi peningkatan permeabilitas 1 - 10 menit setelah trauma, dan
menghilang dalam 15 - 30 menit, dan jarang sekali sampai 60 menit. Reaksi
ini terutama mengenai venelu, kapiler jarang.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 25


Add 2. Terjadi pada trauma yang lebih berat.
Setelah immediated respons, maka permiabilitas akan menurun lagi, yang
berlangsung sampai 2-10 jam, tetapi kemudian meningkat lagi dan
berlangsung sampai 4-48 jam. Reaksi ini mengenai venule dan kapiler.
Add 3. Immidiate sustanied respons.
Terjadi pada trauma yang berat, dimana kemudian disertai kematian dari
sel yang terkena. Disini peningkatan permiabilitas berlangsung terus
sampai delayed fase tanpa diselingi dengan penurunan permiabilitas. Reaksi
ini mengenai venule,capiler,dan arteriola.

White Cell Event :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 26


Ada 5 kejadian :
1. Margination dan pavementing.
2. Emigration.
3. Chemotaxis.
4. Aggregation.
5. Phagocytosis

Margination dan pavementing .


Pada aliran darah yang normal, maka sel-sel darah akan terletak pada axical
central column. Apabila terjadi perlambatan atau stagnasi pada aliran darah
maka aliran laminer tersebut akan hilang. Lekosit akan menepi dan
menempel pada dinding pembuluh darah.
Lekosit menepi karena ; terjadi pengelompokan eritrosit dan membentuk rouleaux.
Lekosit menempel pada dinding pembuluh darah karena :
1. Endothel menjadi lengket atau ada bahan dari luar yang berperan sebagai
perekat.
2. Ada bahan diplasma yang diubah sebagai berperan sebagai perekat.
3. Dalam keadaan normal maka lekosit dan endothel akan saling tolak
menolak karena keduanya bermuatan negatif. Mereka akan saling
menempel apabila muatan tersebut dinetralisir (oleh karena terbentuk
pseudopodi pada atau dinetralisir Ca ++).
Emigrasi :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 27


Adalah proses dimana lekosit bergerak keluar dari pembuluh darah untuk
mencapai jaringan perivasculer.
Proses ini ada 2 gelombang :
1. Gelombang yang berlangsung segera.
Mencapai pemecahan dalam 30 - 40 menit.
2. Gelombang yang berlangsung lambat.
Terjadi beberapa jam kemudian. Disini mobilisasi monosit lebih cepat dari
pada neutrofil. Eritrosit dapat meninggalkan pembuluh darah terutama
trauma yang berat, dimana terjadi kerusakan dari dinding pembuluh
darah.
Chemotaxis :
Adalah migrasi lekosit menuju ke atractant plasmin splet fragmen (bahan
yang menarik perhatian lekosit tersebut).
Chemotactik factor tersebut ada yang hanya mempengaruhi PMN sel atas
MN sel, tetapi ada pula yang dapat mempengaruhi keduanya misal :
berbagai-bagai macam bakteri.

Aggregasi :
Adalah skumulasi lekosit pada tempat injury.
Pada stad akut : terutama sel-sel PMN.
Pada stadium kronik : terutama sel-sel MN (monosit dan lymphosit dan
macrofag).
Perkecualian : Pada reaksi immunologis dan infeksi TBC, lymfosit dan
macrofag mendominasi sejak fase akut.
Keadaan diatas disebabkan karena :
1. Motilitas PMN lebih cepat dari pada MN sel sehingga dapat mencapai
tempat jejas lebih cepat dari pada MN. PMN mencapai tempat tujuan
dalam 90 menit. MN memerlukan waktu 5 jam atau lebih.
2. Kecepatan PMN menurun setelah beberapa hari pertama sedangkan
MN tetap tinggal konsistent dalam beberapa minggu.
3. Lifespen PMN pendek ( 3 - 4 hari ).
4. PMN yang mati mengeluarkan enzim yang merupakan chemotactic
faktor bagi MN.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 28


Phagocytosis :
Neutrofil dan monosit mampu untuk memakan kuman maupun sel-sel yang
mati, kemudian dicernakan oleh catalytic enzym lysosom.
Setelah fagositosis, kemudian terjadi :
1. Kuman dicerna
2. Kuman tetap hidup dalam lekosit dalam waktu yang lama sehingga dapat
tersebar ketempat yang lain.
3. Lekosit mati (pada kuman yang virulen).
Apabila lekosit (neutrofil / monosit) mati, maka catalytic enzym dikeluarkan
dalam plasma dan :
a. Mencerna invader yang susceptible.
b. Mencerna sel-sel yang mati.

Hal-hal yang membantu fagositosis :


1. Opsinasi; Adalah peliputan invader oleh opsonin sehingga lebih muda
difagositosis.
2. Benang-benang fibrin dari pada exudat radang menjerat kuman
sehingga kuman tersebut lebih mudah ditangkap.

Chemical Mediator :
Ada 4 group :
1. Amines : - Histamin.
- 5 hydroxy typtamin (serotonin).
- Actrated epinephrin dan nor epinephrin.
2. Kinins : - Brady kinin.
- Lysyl bradykinin.
3. Extract protein dan jaringan.
4. Miscelaneous grup.

- Slow reacting substance


- Lyso lecithin.
- Esterase of camplement.
Histamin :
- Merupakan mediator yang terutama.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 29


- Dikeluarkan pada fase dini pada reaksi radang akut.
- Disimpan didalam granula di mast cell dan platellets.
Khasiat :
- Dilatasi arteriole dan vakuole.
- Konstriksi vena.
- Peningkatan permiabilitas terutama pada venule.
Serotonin : Menyebabkan dilatasi dan peningkatan permiabilitas dari pada
mikrosirkulasi (pada tikus).
Epinephrine dan Nor epinehrin :
- Menyebabkan vasokontriksi.
- Apabila bahan tersebut dirusak oleh enzim (misal monoamine axydase)
yang dikeluarkan pada tempat jejas, maka akan terjadi dilatasi dan
peningkatan permiabilitas dari pada pembuluh darah.
Kinin :
- Dikeluarkan pada fase dini pada reaksi radang akut.
- Khasiat ; Meningkatkan permiabilitas vasodilatasi arteriole.

Sel-sel dalam exudate radang :


1. PMN lekosit / granulosit ( neurotrofil, Eo, Ba )
2. Monosit.
3. Lymfosit
4. Sel plasma.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 30


Neutrofil :
Fungsi : - Fagositosis.
- Mengeluarkan lytic lysosomal enzym.
- Membentuk chemotactic factor.

Eosinofil :- Terutama didapatkan pada penyakit immunologis


- Fungsi ; Fagositosis (masih diperdebatkan).

Basofil & mast cell :


Mempunyai granula-granula yang mengandung :
- Heparin.
- Histamin.
- Berbagai proteolytic enzym.
Basofil : berasal dari sumsum tulang
Mast cell : Merupakan sel-sel jaringan penyangga.

Monosit & Macrofag :


- Fungsi : Fagositosis.
- Giant cell : - Ukuran : sampai 40 - 50 u
- Asal : 1. Penggabungan beberapa macrofag.
2. Sebuah macrofag mengadakan
pembelahan mitosis tanpa diikuti
pembelahan sitoplasma.
Limphosit & sel plasma :
- Terutama berperan pada penyakit immunologik
- Tidak mengadakan phagositosis
- Timbul terutama pada fase kronik dari keradangan dan terutama
prominent pada :
- Penyakit-penyakit granulomatis : tbc luas dsb.
- Infeksi virus dan rickettsia.

Perubahan sistemik pada lekosit :

I. Lekositosis :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 31


1. Neutrofilia : pada kebanyakan radang akut.
2. Lymphositosis : MNI, pertusis, german measles, parotitis epidemica dan
undulant fever.
3. Eosinofilia : Asthma bronchiale, hay fever, infeksi parasit systemic
necrotizing angoitidas.
II. Lekopenia :
Typhoid fever, parathypoid fever, infeksi virus, rickettsia dan protozoa serta
infeksi dari penderita dengan Ca yang sudah disseminated.

Peranan lymphonode, sistem lymphatik & RES :


Merupakan secondary lines of defence ----> berperanan bila promary lines
of defence gagal untuk menahan & menetralisir jejas. Apabila sistem ini juga
gagal akan terjadi bakteriemia.

Faktor-faktor yang mengubah reaksi radang :

I. Faktor agent penyebab :


1. Sifat dan intensitas .
Dipengaruhi :
- Kwalitas
- Kemampuan mengadakan
penetrasi
- Resistensi terhadap netralisasi .> dari pada agen penyebab
- Patogenisity
- Virulensi
- Toxisitas (untuk obat dan kenikel)
- Penetrance (untuk energi radiasi).

2. Resistent dari jejas.


Beberapa agent tahan terhadap pencernaan oleh catalytic enzym/
fagositosis/pengobatan sehingga menyebabkan reaksi radang yang lebih
hebat.
Agent-agent tersebut antara lain :
- Cellulose.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 32


- Kuman
a. Pneumokokus, mycobact tbc, (tahan terhadap fagositosis).
b. Beberapa kuman memproduksi leukocidin yang akan membunuh
lekosit.
c. Yang mudah resisten terhadap pengobatan terlalu sering digunakan
; - stafilo kokus.

II. Faktor Host :


- U s i a.
- Status gizi
- Kelainan hemotologis.
-Immunitas
- Underlying systemic disease misal : Diabetes melitus.
- Adekuasi dari pada blood supply.

2. PENYEMBUHAN
Adalah penggantian sel-sel yang mati / rusak oleh sel- sel sehat yang
mungkin berasal baik dari sel-sel parenchym maupun stroma jaringan ikat dari jaringan
yang mengalami trauma. Regenerasi parenchym jarang terjadi secara lengkap
(sempurna) mengganti seluruh defect, tetapi biasanya disertai dengan pembentukan
scaring jaringan ikat.

Regenerasi Parenchym
Berdasarkan kemampuan untuk mengadakan regenerasi, maka sel-sel tubuh
dapat dibagi menjadi 3 kelompok :
I. Sel Labil.
II. Sel stabil.
III. Sel permanen.
Regenerasi parenchym hanya dapat terjadi sel labil dan stabil, sedangkan
penyembuhan pada sel permanent adalah berupa proliferasi dari jaringan
penyangga.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 33


I. Sel Labil :
Didalam keadaan normal, sel-sel tersebut terus menerus mengadakan polif
sepanjang hidup untuk menggantikan sel-sel yang secara terus menerus
dirusak / dilepaskan.
Yang termasuk sel labil :
1. Sel ephitel.
2. Sel hemotopoeitic, lien dan lymphoid.

II. Sel Stabil :


Dalam keadaan normal sel tersebut tidak mengadakan proliferasi, tetapi apabila
terjadi kerusakan sel tersebut oleh jejas, maka sel tersebut mengadakan proliferasi
untuk menggantikan sel rusak.
Yang termasuk sel stabil :
1. Sel parenchym seluruh organ kelenjar tubuh seperti ;
- Hepar, pancreas kelenjar liur, endocrin, tubulus ginjal, kelenjar-kelenjar
pada kulit.

Syarat regenerasi parenchym yang sempurna :


Harus didapatkan kerangka jaringan ikat pada sel-sel parenchym tersebut.
Apabila kerangka tersebut rusak, akan terjadi regenerasi yang tidak teratur
dsn terbentuk scar. Apabila terjadi destruksi yang lengkap pada kelenjar atau
organ maka regenerasi tidak akan terjadi. Tetapi keadaan ini jarang
bertalian dengan kelenjar-kelenjar yang besar dan penting tubuh (seperti
hepar/pancreas dsb). Oleh karena kerusakan total organ-organ tersebut
tidak memungkinkan manusia untuk hidup.
2. Derivat Mesenchym
Misal: Fibroblast,osteoblast,sel-sel otot.
A. Sel-sel jaringan ikat (fibroblast maupun mesenchymal progenitor) :
- Sangat resisten terhadap trauma.
- Mampu mengadakan proliferasi sepanjang hidup.
Scar jaringan ikat terjadi dari proliferasi fibroblast dan diikuti dengan
penimbunan bahan colagen interselluler. Fibroblast mampu berdifferensiasi
menjadi bentuk lain dari pada sel jaringan penyangga, seperti :
- Menjadi chondroblast --->lalu jadi tulang rawan.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 34


- Menjadi osteoblast ---> lalu menjadi tulang.
- Menjadi sel-sel lemak ---> lalu menjadi jaringan lemak.
B. Sel-sel otot :
a. Otot skelet :
Regenerasi dapat terjadi secara :
- Pertunasan/pertumbuhan dari sabut otot yang tua.
- Fusi myoblast.
- Transformasi dari pada nucleated satelite cell yang didapatkan melekat
pada selubung dari pada multinucleated skeletal-muscle cel.
b. Otot jantung :
Kapasitas regenerasi sangat terbatas, dan
c. Otot polos :
Kemudian disertai dengan terbentuknya scar jaringan ikat.

III. Sel Permanen :


Setelah lahir sel ini tak dapat mengadakan proliferasi yang merupakan sel
permanen adalah sel syaraf.
1. C N S :
- Apabila rusak, maka sel ini akan digantikan oleh proliferasi elemen penunjang
CNS yaitu sel-sel glia.
2. Neuron dari pada syaraf perifer.
a. Apabila sel body rusak, maka seluruh struktur (sel body dan axon) akan
mengalami degenerasi total.
b. Apabila axon perifer yang rusak, maka dapat terjadi regenerasi dari pada
cell body ataupun segmen proximal dari pada axon yang tersisa,
sedangkan segmen distal mengalami degenerasi. Degenerasi segmen
proximal hanya pada node of ranvier yang terdekat.
Apabila segmen proximal (kecepatan tumbuh 3-4 jam/hari) dapat berhubungan
kembali dengan segmen distal, maka akan terjadi kesembuhan. Tetapi biasanya
pertemuan tersebut dihalangi oleh jaringan gumpalan darah dan jaringan fibrous
yang terletak diantaranya.

Penyembuhan Oleh Jaringan Penyangga


Ada dua macam :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 35


I. Primary union / healing.
- Terjadi pada penyembuhan luka incisi operasi
- Luka incisi ini : - Rapat
- Steril.
- Kerusakan jaringannya minimal.

Proses penyembuhan :
1. Dalam 24 jam :
- Terdapat reaksi radang akut dalam jaringan ikat sub epithel pada tepi incisi.
- Epidermis pada tepi incisi menebal oleh karena aktifitas mitosis sel basal.
2. Dalam 24-48 jam :
- Epithel dikedua sisi luka bergabung (migrasi).
3. Pada hari ke 3 :
- Neutrofil sebagian besar menghilang, diganti monosit yang
membersihkan debris nekrotik, eritrosit dan fibris.
- Terjadi hypertrofi dan hyperplasi fibroblast dan pertumbuhan kapiler baru.
Jaringan fibroblast vaskuler ini secara progressif masuk kedalam ruang
incisi dengan kecepatan % 0,2 mm/hari.
- Proliferasi (differensiasi) sel epithel tetap berlangsung sehingga epidermis
bertambah tebal.
4. Pada hari ke 5 :
- Ruang incisi dipenuhi dengan jaringan ikat fibroblastik yang longgar dan
kaya pembuluh darah dan ground substance.
- Kapiler-kapiler muda bergabung dari kedua sisi dan membentuk saluran yang
kontinu.
- Fibril collagen bertambah banyak.
- Epidermis telah mencapai tebal yang normal dengan arsitektur epidermis
yang matur dengan keratinisasi pada permukaan.
5. Dalam minggu ke II :
- Terdapat penimbunan yang terus menerus dari kollagen dan prolif fibroblast
didalam jaringan ikat.
- Infiltrasi lekosit, edema, dan peningkatan vaskularisasi berkurang banyak.
- Jaringan ikat selluler yang mengisiincisi mulai menekan kapiler sehingga mulai
terjadi pemucatan.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 36


6. Pada akhir bulan I :
- Terdapat scarr yang berupa jaringan ikat yang selluler, kaya pembuluh
darah tanpa infiltrasi sel-sel radang yang ditutupi oleh epidermis yang intak.
- Proliferasi fibroblast masih berlangsung walaupun melambat disertai
dengan pertumbuhan yang terus menerus kolagen menekan saluran darah
sehingga vaskularisasi makin berkurang.
- Memerlukan waktu hampir 1 tahun bagi scarr untuk berubah menjadi scar
kolagenous yang aseluler avaskuler dan pucat.
- Adnexa kulit yang rusak akan hilang permanent, tetapi yang mengalami
kerusakan partiel (pada tepi incisi) dapat beregenerasi.
II. Secondary Union :
Berbeda dengan primary union dalam hal :
1. Jumlah jaringan yang hilang lebih banyak.
2. Exudat radang dan nekrotik debris yang perlu disingkirkan lebih banyak.
3. Pembentukan jaringan granulasi lebih banyak.
4. Terdapat kontraksi luka (pada kulit yang mobil)
5. Scarr yang terbentuk lebih banyak.
6. Adnexa kulit yang hilang lebih banyak.
7. Proses penyembuhan lebih lambat.

Penyimpangan pada penyembuhan luka :


1. Oleh karena kesalahan perawatan dan keadaan penyembuhan individu :
- Terbentuk jaringan granulasi yang berlebihan (exuberant granulation) yang
menonjol diatas defect dan menghambat re epithelialisasi.
- Tindakan (untuk mengobati) :
- E x c i s i.
- Chemical cuterisasi.
2. Pada individu normal dengan perawatan optimal
- Terjadi bentukan keloid.
- Dapat terjadi pada primary maupun secondary union.
- Sering pada px kulit hitam.
- Sulit diatasi, oleh karena bila diexcisi akan recurrent.

Intergrasi Regenerasi Parenchym Dengan Scarring :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 37


Penyembuhan berupa regenerasi parenchym disertai scarring yang
banyak / tergantung luasnya defect. Makin besar kerusakan maka struktur
kerangka yang terkena lebih banyak sehingga regenerasi parenchym lebih
berkurang dan cicatrix bertambah.
Kualitas dan adekuasi penyembuhan dipengaruhi :
- Kapasitas regenerasi dari pada sel-sel yang terkena.
- Luasnya kerusakan, terutama bila disertai kerusakan struktur kerangka.
- Aktifitas prolif dari pada stroma jaringan ikat yang mengisi defect yang
tersisa setelah regenerasi parenchym dihentikan.

Kekuatan Luka
Penyelidikan oleh banyak sarjana, ternyata terdapat hasil yang berbeda-
beda yang mungkin oleh karena terdapatnya perbedaan pada :
- Umur binatang.
- D i e t.
- Kedalam / panjang incisi kulit.
- Methode pengukuran.
- Methode penjahitan.
Secara umum kebanyakan luka tidak akan kembali pada kekuatan semula.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 38


Dari berbagai penyelidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Segera setelah trauma, terjadi pemulihan kekuatan yang berjalan perlahan
yang berakhir sampai 10 - 14 hari.
- Setelah itu terjadi peningkatan yang cepat dari pada kekuatan luka dalam
waktu lebih dari 4 minggu.
- Kemudian terjadi perlambatan lagi kurang lebih pada bulan ke 3 setelah
incisi.
- Pada saat tersebut, kekuatan luka mencapai 70 - 80% kekutan
semula, dan ini dapat persisten selama hidup.

Faktor-faktor Yang Merubah Kualitas Reaksi Radang Dan Penyembuhan


I. Pengaruh sistemik :
1. U m u r.
2. N u t r i s i.
3. Gangguan hematologis.
4. I m m u n i t a s.
5. Diabetes Melitus.
6. H o r m o n.

II. Pengaruh Lokal :


1. Cukupnya aliran darah.
2. Adanya benda asing
3. Koaptasi dari pada tepi luka.
4. Jaringan dimana jaringan trauma.

Penyembuhan yang sempurna tergantung :


1. Sifat sel-sel penyusun jaringan (labil / stabil sel).
2. L o k a s i :
Pada jaringan yang berbentuk rongga, maka nekrosis yang terjadi
akibat radang lebih sedikit oleh karena exudat yang terbentuk mengisi
ruang yang ada sehingga destruksi jaringan lebih sedikit.

3. AKIBAT INFLAMASI AKUT

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 39


Walaupun akibat yang ditimbulkan inflamasi akut diubah oleh sifat dan intensitas
jejas, tempat dan jaringan yang terkena, serta kemampuan pejamu untuk meningkatkan
suatu respons, pada umumnya inflamasi akut memiliki 3 akibat yaitu :
1. Resolusi
Jika cedera bersifat terbatas atau berlangsung singkat, tidak terdapat kerusakan
jaringan, dan jaringan mampu mengganti setiap sel yang cedera secara ireversibel,
terjadi perbaikan terhadap normalitas histologis dan fungsional. Proses ini meliputi
netralisasi atau pembuangan berbagai mediator kimiawi, perbaikan vaskular, dan
penghentian emigrasi leukosit diikuti kematian neutrofil yang mengalami ekstravasasi.
Terjadi drainase limfatik dan penelanan makrofag pada debris nekrotik menyebabkan
pembersihan cairan edema, sel radang dan sisa sel yang rusak.
2. Pembentukan jaringan parut (scarring) atau fibrosis
Jika cedera terjadi pada jaringan yang tidak beregenerasi. Selain itu eksudat fibrinosa
meluas akibat peningkatan permeabilitas vaskular tidak bisa diabsorpsi sempurna dan
terjadi organisasi dengan pertumbuhan ke dalam jaringan ikat yang menimbulkan
fibrosis. Pembentukan abses dapat terjadi akibat meluasnya infiltrat neutrofil, infeksi
jamur atau bakteri piogenik. Satu-satunya akibat pembentukan abses adalah adalah
pembentukan jaringan parut (scarring).
3. Kemajuan ke arah inflamasi kronik
Dapat terjadi setelah inflamasi akut, walaupun tanda inflamasi kronik dapat timbul
pada awal jejas (misalnya pada infeksi virus atau respons imun terhadap antigennya
sendiri). Inflamasi kronik dapat diikutioeleh regenerasi pada struktur dan fungsi normal
(regenerasi) atau bisa menimbulkan jaringan parut tergantung pada luasnya jejas
jaringan awal dan jejas yang terus berlangsung, serta kemampuan jaringan yang
terinfeksi untuk tumbuh kembali.

STEP 4. Kerangka konsep

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 40


STEP 5. Sasaran pembelajaran tutorial
1. Gambaran umum inflamasi akut :
a. perubahan vaskular
b.berbagai peristiwa yang terjadi pada sel
c.defek pada fungsi leukosit
d.mediator kimia inflamasi
e.jejas jaringan yang diinduksi oleh radang
f. gambaran morfologi
g.akibat dan efek sistemik
2. Penyembuhan luka :
a.regenerasi sel
b.penyembuhan primer
c.penyembuhan sekunder
d.kekuatan luka

REFERENSI
1. Porth., Carol. 2007. Essentials of Pathophysiology : Concept of altered Health
States / Carol Mattson Porth ; Consultants, Kathryn J.Gaspard, Glenn matfin, 2 nd
ed. Lippincott Williams & Wilkins. 269-281.
2. Robbins dan Kumar. 1995. Buku ajar Patologi I. Alih bahasa : Staf Lab PA UNAIR
Surabaya . EGC. 28-65

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 41


3. Robbins & Kumar. 1987: Basic Pathology, W.B. Saunders Co. Philadelphia,
London, Toronto..
4. Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Volume 1 / JCE Underson
: Editor. Edisi Bahasa Indonesia Sarjadi-edisi 2- Jakarta : EGC. 231-256.
5. Robbins dan Kumar. 2007. Buku ajar Patologi I. Alih bahasa : Prasetyo, dkk. Jakarta
. EGC. 35-84

II.KULIAH
1. Mekanisme Adaptasi Sel (2x 50 menit)
Sasaran Pembelajaran :
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang :
a. Mekanisme adaptasi sel
b. Sebab jejas, kematian dan adaptasi sel
c. Patogenesis
d. Penimbunan intra sel
e. Macam-macam adaptasi sel

REFERENSI

1. Porth., Carol. 2007. Essentials of Pathophysiology : Concept of altered Health States


/ Carol Mattson Porth ; Consultants, Kathryn J.Gaspard, Glenn matfin, 2 nd ed.
Lippincott Williams & Wilkins. 229-241
2. Robbins dan Kumar. 1995. Buku ajar Patologi I. Alih bahasa : Staf Lab PA UNAIR
Surabaya . Edisi 4. EGC. 1-27
3. Robbins & Kumar. 1987: Basic Pathology, W.B. Saunders Co. Philadelphia,
London, Toronto..
4. Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Volume 1 / JCE
Underson : Editor. Edisi Bahasa Indonesia Sarjadi-edisi 2- Jakarta : EGC. 115-142.

2. Inflamasi Kronik (2 x 50 menit)


Sasaran Pembelajaran :
Mahasiswa mampu menjelaskan :
a. Mekanisme inflamasi kronik

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 42


b. Gambaran morfologi radang akut dan kronik
c. Inflamasi granulomatosa
d. Pemulihan oleh jaringan ikat
e. Faktor pertumbuhan yang mempengaruhi

REFERENSI
1. Porth., Carol. 2007. Essentials of Pathophysiology : Concept of altered Health States
/ Carol Mattson Porth ; Consultants, Kathryn J.Gaspard, Glenn matfin, 2 nd ed.
Lippincott Williams & Wilkins. 269-281.
2. Robbins dan Kumar. 1995. Buku ajar Patologi I. Alih bahasa : Staf Lab PA UNAIR
Surabaya . Edisi 4. EGC. 28-65
3. Robbins & Kumar. 1987: Basic Pathology, W.B. Saunders Co. Philadelphia,
London, Toronto..
4. Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Volume 1 / JCE
Underson : Editor. Edisi Bahasa Indonesia Sarjadi-edisi 2- Jakarta : EGC. 231-256.
5. Robbins dan Kumar. 2007. Buku ajar Patologi I. Alih bahasa : Prasetyo, dkk.
Jakarta . EGC. 56-80

3. Kuliah Cell injury


Pemateri : Staf Pengajar Patologi-Anatomi
SASBEL :
a. Menjelaskan cell-injury meliputi mekanisme kerusakan sel yang reversible antara
lain hipoksia dan iskemia
b. Menjelaskan mekanisme kematian sel melalui nekrosis, tipe nekrosis dan
manifestasi klinis nekrosis
c. Menjelaskan kematian sel melalui apoptosis meliputi mekanisme, gen yang terlibat
dan manifestasi klinis.
SUMBER BELAJAR :
 Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease seventh edition. Vinay Kumar, Abul
K Abbas and Nelson Fausto Elsevier Inc. 2005 – halaman 11-44
 Basic Pathology fourth edition, Robbin and Kumar. WB Saunders, hal 3-26

4. Kuliah Dasar-dasar bioetika

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 43


Pemateri : dr. Cort Darby Sp.F.

5. Kuliah Mata Kuliah Dasar Umum Kewarganegaraan (3 x 50 menit)


Pemateri : Tim MKDU Kewarganegaraan

III. PRAKTIKUM
1. Identifikasi Mikroskopik dan makroskopik Adaptasi Sel dan Radang
(3 x 50 menit)
a. Mahasiswa mampu mengidentifikasi tentang mikroskopik dan makroskopik proses
adaptasi sel.
b. Mahasiswa mampu mengidentifikasi tentang mikroskopik dan makroskopik
proses radang.

REFERENSI
1. Sander, M.A. 2003. Atlas Berwarna Patologi Anatomi. Jilid 1. UMM Press.
Malang. 6-14.
2. Damjanov, I. 1996. Histopathology. A color Atlas & Textbook.
Diterjemahkan oleh Brahm U. Pendit, Penerbit Widya medika, Jakarta,
1997. 1-36.

IV. KETERAMPILAN MEDIK


Lihat Buku Panduan Keterampilan medik
1. Komunikasi
2. Pemeriksaan fisik
3. Ketrampilan prosedural

MODUL 2
Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 44
EMBRIOGENESIS

SASARAN PEMBELAJARAN :

1. Mahasiswa mampu menjelaskan embriologi umum (tutorial, kuliah, praktikum)


2. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara sel (kuliah, praktikum)
3. Mahasiswa mampu menjelaskan diferensiasi sel (kuliah)
4. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam bahan teratogenik yang berbahaya bagi
proses embriogenesis (kuliah)

Kegiatan Pembelajaran

I.PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Batal Hamil
Ny. Sakura, 29 tahun, karyawati swasta di lantai 3 “Gedung Biru”, sudah menikah selama lebih
dari 1 tahun. Hari ini adalah hari ke-8 jadwal haidnya mundur, sehingga dia mencoba melakukan
pemeriksaan Plano tes, dan hasilnya ternyata positif. Ny. Sakura memeriksakan diri ke dokter
Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dan dari USG memang tampak sudah adanya implantasi
gestational sac yang berisi: embrio berbentuk seperti huruf C, yolk sac, dan amnion. Dua hari
kemudian dia melihat ada flek kemerahan di celana dalamnya. Karena khawatir, Ny. Sakura
segera datang ke rumah sakit, dan menurut dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dinyatakan
telah terjadi abortus, yang disebabkan implantasi hasil fertilisasi yang terlalu menjorok ke arah
cervix uterus. Hasil USG kandungan juga menyatakan bahwa gestational sac sudah tidak ada.

Tahapan Diskusi
Step 1:
 Haid: siklus hormonal pada wanita yang ditandai dengan keluarnya darah dari vagina
akibat runtuhnya dinding endometrium; seringkali didahului dengan tanda-tanda pre-
menstrual berupa keluhan fisik maupun psikis yang bervariasi.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 45


 Plano test: alat untuk mendeteksi kehamilan dini secara kualitatif melalui pemeriksaan
kadar hCG pada urine; tidak selalu akurat karena hasil positif tidak selalu berarti hamil
yang sebenarnya.
 Obstetri: cabang ilmu kedokteran yang mempelajari struktur panggul dan organ
reproduksi wanita dalam kaitan dengan proses sekitar kehamilan, beserta kelainan yang
mungkin terjadi.
 Ginekologi: cabang ilmu kedokteran yang mempelajari fungsi organ reproduksi wanita
dalam kaitannya dengan proses persalinan, beserta kelainan yang mungkin terjadi.
 Implantasi: proses perlekatan dan terbenamnya ovum yang telah mengalami pembuahan
ke dalam dinding fundus uteri; pada kondisi tertentu, implantasi juga bisa terjadi di
tempat lain yang menjadi jalan ovum saat akan menuju ke uterus.
 Gestational sac: =kantong kehamilan; istilah ini biasa dipergunakan oleh ahli radiologi
untuk menentukan tanda kehamilan pada USG kandungan.
 Yolk sac: kantung yang dibatasi oleh hypoblast dan membrana exocoelomic; berisi
vitelline fluid; disini terjadi pertukaran darah, nutrisi, dan oksigen dari ibu ke janin atau
sebaliknya.
 Amnion: selaput tipis di antara amnioblast dan epiblast (=lazim disebut cavum amnion)
yang berisi cairan amnion atau sering disebut juga air ketuban.
 Abortus: kegagalan proses kehamilan akibat berbagai macam penyebab, baik yang secara
natural ataupun artifisial.
 USG: singkatan dari Ultra Sonografi; instrumen radiologi yang menggunakan gelombang
suara untuk menampilkan gambaran pada suatu daerah atau area yang tidak dilindungi
oleh benda padat dan keras.

Step 2:
 Apa yang dimaksud dengan haid?
Sudah terjawab di step 1
 Apa yang dimaksud dengan Plano test?
Sudah terjawab di step 1
 Mengapa Plano test bisa positif?
Lihat step 3 bab implantasi

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 46


 Mengapa Ny. Sakura tidak haid pada saat Plano test positif?
Lihat step 3 bab implantasi
 Apa yang dimaksud dengan Obstetri dan Ginekologi?
Sudah terjawab di step 1
 Apa yang dimaksud dengan implantasi?
Lihat step 3 bab implantasi
 Mengapa implantasi bisa lepas/terlepas?
Lihat step 3 bab faktor yang mengganggu proses implantasi pada trimester I
 Dimanakah seharusnya tempat terjadinya implantasi yang benar?
Lihat step 3 bab implantasi
 Apa yang dimaksud dengan gestational sac?
Sudah terjawab di step 1
 Apa yang dimaksud dengan yolk sac?
Sudah terjawab di step 1
 Bagaimana proses pembentukan yolk sac?
Lihat step 3 bab Pembentukan Cavum Amnion, Embryonal Disc, dan Yolk Sac
 Apa yang dimaksud dengan amnion?
Sudah terjawab di step 1
 Bagaimana proses pembentukan amnion?
Lihat step 3 bab Pembentukan Cavum Amnion, Embryonal Disc, dan Yolk Sac
 Apa yang dimaksud dengan abortus?
Sudah terjawab di step 1
 Apa saja yang bisa dilihat pada pemeriksaan dengan USG?
USG dalam konotasi ini adalah USG kandungan yang lazim dipergunakan oleh dokter
spesialis obgyn. Alat ini dapat menampilkan image dari dalam uterus yang diproyeksikan
ke layar monitor untuk diprediksikan mulai dari perkiraan usia kehamilan, taksiran berat
badan saat itu, posisi janin dalam rahim, kelengkapan organ yang sudah terbentuk, jenis
kelamin, detak jantung janin, bahkan sampai pada kemungkinan terjadinya gangguan
kongenital.
 Apa saja proses di dalam kandungan yang sudah terjadi sampai detik terjadinya abortus?

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 47


Jawabannya ada di keseluruhan dari step 3
 Apakah pada usia kehamilan tersebut (maksudnya awal minggu ke-4) sudah ada tanda-
tanda kehidupan (otak, jantung, paru, ginjal dan sebagainya)?
Lebih tepatnya, setting skenario modul ini adalah pada hari ke-22 setelah ovulasi. Pada
saat ini sudah terjadi proses awal pembentukan otak dan jantung walaupun fungsinya
belum ada, akan tetapi untuk paru & ginjal memang belum terjadi pembentukan. Adapun
proses organogenesis tersebut akan dijelaskan melalui kuliah embriologi.

Step 3:
1. Fertilisasi
Fertilisasi adalah pertemuan antara spermatozoa dan oosit yang terjadi di dalam organ
genitalia interna wanita, yang berakhir dengan penggabungan kromosom kedua orangtua
pada fase metaphase mitosis I dari zigot, suatu embrio uniseluler. Fertilisasi ini adalah tahap
awal pembentukan embrio yang nantinya menjadi calon bayi manusia.
Fertilisasi ini berjalan melalui beberapa tahap:
 Spermatozoa mendatangi corona radiata yang mengelilingi zona pellucida oosit.
Gerakan spermatozoa ini akibat rangsangan kemostatik oosit dan gerakan otot polos
organ genitalia interna feminina.
 Penetrasi zona pellucida oosit.
Perlu diingat bahwa pada saat mencapai ovum, spermatozoa belum bisa langsung
membuahi, karena untuk menembus zona pellucida oosit dibutuhkan tahap kapasitasi dan
reaksi akrosom. Kapasitasi adalah: suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi
wanita, kira-kira 7 jam. Pada tahap ini, glikoprotein dan protein plasma spermatozoa
dibuang dari selaput plasma yang membungkus akrosom spermatozoa. Setelah selesai
proses ini maka baru bisa terjadi reaksi akrosom, yang berupa: (a) Pelepasan
hialuronidase untuk menembus corona radiata, (b) Pelepasan tripsin like substance untuk
meluluhkan zona pellucida, (c) Pelepasan zona lisin yang melekat pada lapisan dalam
selaput akrosom, untuk melewati zona pelucida
 Penyatuan sperma dengan plasma membran dari oosit.
Setelah spermatozoa memasuki oosit, lalu terjadi respon berupa reaksi kortikal dan zona,
yaitu pelepasan butir-butir kortikal oosit, sehingga: (a) selaput oosit tak dapat ditembus

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 48


oleh spermatozoa lain, dan (b) zona pellucida mengubah bentuk dan komposisinya,
dengan menghilangkan reseptor khusus untuk spermatozoa, sehingga dapat dicegah
terjadinya polispermia. Selanjutnya oosit melakukan meosis II.
 Lengkapnya meiosis II oosit dan pembentukan pronucleus betina.
Meiosis II oosit menyebabkan terbentuknya polar body II dan oosit definitif.
Kromosomnya 22+X tersusun dalam suatu inti vesikuler yang dikenal sebagai
pronukleus betina.
 Pembentukan pronucleus jantan.
Mirip dengan oosit, hanya saja proses ini dilakukan oleh spermatozoa yang berhasil
menembus sel telur. Pronucleus jantan ini membawa faktor pengaktivasi metabolik sel
telur, yang diduga berperan mengulangi peristiwa seluler dan molekuler yang
berhubungan dengan awal embriogenesis.
 Pecahnya membran pronuclei, kondensasi kromosom, dan persiapan mitosis.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 49


Hasil dari fertilisasi:
 Merangsang oosit II untuk segera melakukan meiosis, dan membentuk badan polar II.
 Menyimpan kromosom diploid pada zigot.
 Variasi pada spesies manusia melalui gabungan kromosom kedua orangtuanya.
 Penentuan kromosom sex embrio.
 Menyebabkan aktivasi metabolisme pada oosit yang dimulai dengan fase cleavage.
 Cleavage adalah proses mitosis berulang pada zigot, yang akan menghasilkan
peningkatan jumlah sel. Sel-sel ini disebut blastomer, yang ukurannya akan semakin
kecil setiap kali terjadi pembelahan. Jadi disini terjadi pembelahan sel dari 1 menjadi 2,
lalu 4, kemudian 8, dan seterusnya. Cleavage pada umumnya terjadi pada saat zigot
melewati tuba Falopii menuju uterus, atau 30 jam setelah fertilisasi. Setelah berjumlah 9
sel, blastomer memadatkan diri dengan blastomer lainnya untuk membentuk formasi
bola. Pada saat terdiri dari 12-15 blastomer (setelah pembelahan ke-3 atau ke-4) lazim

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 50


disebut morula (karena bentuknya yang seperti L. Morus atau mulberry). Selanjutnya
morula mengalami pembelahan lebih lanjut untuk membentuk blastula. Bentuk blastula
ditandai dengan mulai adanya perubahan sel yang mengadakan pelekukan secara tidak
beraturan. Di dalam blastula terdapat cairan sel yang disebut dengan blastocoele.
Blastula membelah lagi untuk membentuk gastrula. Gastrula adalah bentukan lanjutan
dari blastula yang pelekukan tubuhnya sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan
dinding tubuh embrio serta rongga tubuh. Pada manusia, lapisan dinding ini berupa
triploblastik, yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi: ektoderm, mesoderm, dan
endoderm. Hasil akhir dari proses gastrulasi ini adalah blastocyst.

Sel interna morula (= inner cell mass) dikelilingi oleh lapisan sel luar yang disebut
trophoblast.

Morul
a
blastul
a

Pembentukan blastocyst
Setelah morula memasuki uterus (kira-kira 4 hari setelah fertilisasi), cairan masuk ke dalam
uterus melalui zona pellucida untuk membentuk blastocoele di dalam morula. Proses ini
disebut blastulasi. Pada saat volume cairan meningkat di dalam cavum blastocyst, maka
blastomer akan terbagi menjadi: trophoblast dan inner cell mast (=embryoblast), sehingga

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 51


mulai saat ini sudah dapat disebut sebagai blastocyst. Embryoblast akan mengisi cavum
blastocyst, sedangkan trophoblast yang akan menjadi dinding blastocyst. Setelah blastocyst
mengapung di sekret uterus selama kira-kira 2 hari, zona pellucida mengalami proses
degenerasi dan menghilang. Kira-kira 6 hari setelah fertilisasi, blastocyst melekatkan diri
pada epitel endometrium, sedangkan trophoblast akan berproliferasi dengan cepat
membentuk 2 lapisan, yaitu: citotrophoblast dan synctitiotrophoblast.

2. Implantasi
Implantasi blastocyst pada dinding endometrium dimulai sejak akhir minggu pertama dan
berakhir pada akhir minggu ke-2. Synctitiotrophoblast memasuki stroma endometrium
memproduksi enzim proteolisis, sehingga blastocyst bisa tertanam di endometrium. Stroma
endometrium di sekitar area implantasi berbentuk menyerupai polihedral yang berisi
glikogen dan lemak. Beberapa sel baru ini (=sel desidua) didegenerasi akibat penetrasi sel
synctitiotrophoblast, dan merubahnya menjadi nutisi embrio. Saat blastocyst tertanam,
semakin banyak trophoblast yang berinteraksi dengan endometrium dan berdiferensiasi
menjadi 2 lapisan:
 Citotrophoblast: selapis sel mononuclear yang aktif bermitosis dan membentuk sel
trophoblast baru yang bermigrasi ke dalam massa syntitiotrophoblast, yang akhirnya akan
terjadi penyatuan kemudian sel membran mereka akan menghilang.
 Synctitiotrophoblast: sel yang berekspansi dengan cepat ke dalam endometrium. Juga
memproduksi human Chorionic Gonadotropin yang akan memasuki darah ibu melalui

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 52


lacunae. Hormon hCG akan mempertahankan aktivitas endokrin corpus luteum pada
ovarium selama kehamilan, dan merupakan tanda pasti tes kehamilan. Hanya dibutuhkan
2 minggu supaya kadar hCG cukup untuk membuat tes menjadi positif, walaupun wanita
yang bersangkutan belum mengalami tanda-tanda awal kehamilan.

Pembentukan Cavum Amnion, Embryonal Disc, dan Yolk Sac


Pada saat tahap implantasi ini terbentuk ruangan kecil di sekitar embryoblast (=cavum
amnion) sehingga dapat disebut sebagai amnioblast. Amnioblast terpisah dari epiblast oleh
suatu membran tipis sekaligus pembungkus cavum amnion yang disebut sebagai amnion.
Selanjutnya terjadi perubahan morfologi pada embryoblast menjadi berbentuk lebih pipih,
agak bundar, dan terdiri dari 2 lapisan, (sehingga disebut juga bilaminer embryonal disc)
yaitu:
 Epiblast: lapisan tipis berupa deretan sel kolumnar tinggi yang berhubungan dengan
cavum amnion.
 Hypoblast: (=entoderm primordial) berupa sel kuboid yang berbatasan dengan cavum
blastocyst.
Epiblast membentuk dasar cavum amnion dan melekat pada amnion. Hypoblast membentuk
atap cavum exocoelomic. Sel yang bermigrasi hypoblast untuk membentuk membran
exocoelomic mengelilingi cavum blastocyst dan menjadi batas internal cytotrophoblast.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 53


Cavum blastocyst sekarang sudah dapat disebut sebagai cavum exocoelomic. Membran
exocoelomic dan cavum exocoelomic nanti akan berubah menjadi yolk sac primer. Berarti
embryonal disc akan berada di antara cavum amnion dan yolk sac primer.

3. Perkembangan embrio minggu ke- 1-4


Walaupun hanya 4 minggu awal kehidupan, ternyata proses yang terjadi sangat rumit untuk
dijabarkan secara detail. Pada intinya 4 minggu pertama ini bisa dibagi menjadi beberapa
tahap:
 Minggu I: Fertilisasi dan awal implantasi.
 Minggu II: Implantasi dan pembentukan bilaminer embryonal disc.
 Minggu III: Pembentukan trilaminer embryonal disc.
 Minggu IV: Awal organogenesis.

Jika dibedakan menjadi tahapan-tahapan perkembangan: (Moore & Persaud, 1998)


Tahap Aktivitas Hari ke
1 Fertilisasi 1
2 Pembelahan zigot 2
Pembentukan morula 3
3 Pembentukan blastocyst (awal) 4

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 54


Pembentukan blastocyst (akhir) 5
4 Implantasi 6
5 Implantasi terbenam lebih dalam 7
Pembentukan bilaminer embryonal disc 8
Pembentukan yolk sac primer 9
Implantasi sempurna 12
Pembentukan coelom 12
6 Pembentukan villi primer 13
Pembentukan connecting stalk & prechordal plate 14
Pembentukan primitif streak 15
7 Migrasi sel mesenkim 16
Pembentukan trilaminer embryonal disc 17
8 Pembenukan neural plate 18
Pembentukan somit & neural groove 19
9 Pembentukan otak & gld. thyroid 20
Pembentukan pasangan somit pertama kali 21
10 Pembentukan bakal jantung, penggabungan neural fold 22
Pembentukan neuropore rostral 23
11 Pembentukan 2 pasang arcus pharyngealis 24
Pembentukan 3 pasang archus pharyngealis 25
12 Pembentukan upper limb bud 26
Pembentukan forebrain, archus branchialis, ear pit 27
13 Panjang mencapai + 4 mm 28

Embriogenesis Minggu I
Pada minggu I, ovum berada di dalam tuba uterina. Setelah mengalami proses fertilisasi,
ovum akan terus menggelinding sambil menjalani proses segmentasi dan akhirnya mencapai
uterus. Proses ini terjadi dalam 3-4 hari. Setelah itu akan tertanam di dalam dinding posterior
uterus dan dilapisi oleh desidua capsularis yang memiliki bagian central berupa selapis sel-
sel fibrin. Ovum terbentuk di dalam suatu kantung, gestational sac, yang memiliki dinding
luar terdiri dari deretan sel trophoblast sedangkan bagian dalamnya deretan sel mesoderm
yang berbentuk lingkaran, oval, dan spiral. Selanjutnya terjadi perlekatan antara permukaan
ovum dengan permukaan sel desidua. Di dalam gestational sac, bagian embrio yang tidak
berkembang akan ditumbuhi oleh sel ektoderm yang akan membentuk penutup kecil yang
akan berkembang menjadi amnion, yang sebagian berada di bagian yang sama dengan yolk
sac dan dikelilingi mesoderm yang masih terhubung dengan deretan trophoblast. Perhatikan
gambar di bawah ini yang merupakan tampilan embrio pada akhir minggu I.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 55


Embriogenesis Minggu II
Pada akhir minggu kedua, ovum sudah harus dapat mencapai ukuran yang optimal dan
mendapatkan vaskularisasi yang bagus. Pada saat implantasi ini dapat terjadi perdarahan.
Embrio telah mendapatkan bentuk yang pasti, dimana bagian cephal dan caudal telah dapat
dibedakan dengan jelas, sedangkan neural folds sebagian saling menyatu. Embrio pada masa
ini mulai lebih terpisah dari yolk sac dan paraxial mesoderm juga sudah mulai terbagi
menjadi beberapa segmen primitif. Villi primer sudah terbentuk, chorionic plate melapisi
mesoderm ekstra embrional, dan connecting stalk menjadi penghubung antara mesoderm
ekstra embrional dengan rongga khorion (selom ekstra embrional) . Berikut ini adalah
gambaran embrio yang tampak pada sekitar hari ke-13.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 56


Embriogenesis Minggu III
Pada akhir minggu ke-3 embrio berbentuk melengkung seperti huruf C dan segmen primitive
sudah terbentuk sekitar 30. Sudah mulai tampak pembagian otak, cikal bakal mata dan
telinga. Empat cabang branchial juga sudah mulai tampak, dimana stomodeum berbatas jelas,
membrane bucco-pharyngea sudah mulai menghilang. Juga sudah mulai tampak tonjolan
ekstremitas dan corpus Wolffian. Coba lihat gambar di bawah ini yang menampilkan gambar
embrio hari ke- 18 sampai 21.

Embriogenesis Minggu IV

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 57


Bentuk embrio semakin melengkung, dan bahkan kalau dilihat lebih detail lagi maka lebih
mirip setengah lingkaran. Pada masa ini hemisphere cerebri tampak sebagai tonjolan
berongga. Juga mulai ada tonjolan calon telinga. Ekstremitas sekarang mulai tampak seperti
tonjolan berbentuk oval dengan dinding rata. Gambar berikut ini adalah profil embrio pada
hari ke- 27 sampai 30.

4. Faktor yang mengganggu proses implantasi pada trimester I


Pada trimester I seringkali didapati gangguan proses implantasi. Hal-hal umum yang
kemungkinan dapat menyebabkan lepasnya implantasi, terutama pada trimester I antara lain:
 Implantasi terjadi tidak di daerah fundus uteri.
 Adanya intervensi dari luar yang sudah cukup adekuat baik disengaja atau tidak pada saat
proses implantasi belum sempurna.
 Gangguan produksi hormon human Chorionic Gonadotropin yang berfungsi
mempertahankan kehamilan.
 Penggunaan obat/jamu yang dapat merangsang kontraksi otot uterus.

Step 4:
Gametogenesis
Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 58
Plano Tes Ovulasi Plano Tes
Negatif Positif

Menstruasi Implantasi

Abnormal Normal

Abortus Embriogenesis

Organogenesis

Step 5:
 Mahasiswa mampu menjelaskan terjadinya proses fertilisasi
 Mahasiswa mampu menjelaskan terjadinya proses implantasi
 Mahasiswa mampu menjelaskan embriogenesis 4 minggu pertama
 Mahasiswa mampu menjelaskan faktor yang mengganggu proses implantasi pada
trimester I

Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 1-68, 97-150
2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 1-112, 157-234
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott Williams &
Wilkins; Baltymore; pp. 1-66, 159-194

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 59


4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3 rd edition; Elsevier
Mosby; 2004; pp. 3-150, 429-476
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B. Sunders
Company; pp.1-100, 329-378
6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h. 1-412

II. KULIAH
1. Embriologi Umum I (2x50 menit)
Sasaran belajar:
 Embryologi mgg ke 5-12
 Embriologi bln ke-4 s/d lahir

Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 81-96
2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 133-156
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott Williams &
Wilkins; Baltymore; pp. 67-110
4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3 rd edition; Elsevier
Mosby; 2004; pp. 65-150
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B. Sunders
Company; pp. 101-152
6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h.1-412

2. Embriologi Umum 2 (3x50 menit)


Sasaran belajar
 Foetal membran
 Amnion
 Placenta
 Bahan Teratogenik

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 60


Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 151-206
2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 235-314
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott Williams &
Wilkins; Baltymore; pp. 195-256
4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3 rd edition; Elsevier
Mosby; 2004; pp. 83-150, 353-506
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B. Sunders
Company; pp. 101-180, 197-328
6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h. 1-412

3. Kuliah Adhesi dan Diferensiasi Sel (2x50 menit)


Pemateri : staf pengajar Histologi
SASBEL :
a. Menjelaskan cell junctions
b. Menjelaskan tentang molekul adesi
c. Menjelaskan interaksi antar sel

SUMBER BELAJAR
 Ross M, Paulina W, Histologi a text and atlas. 4th edition, Lippincott williams &
Wilkins, 2005
 Cormack D. Essential Histology. 2nd edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2005
 Eroschenko V.P. Atlas of Histology with Functional Correlations. 10th edition,
Lippincott williams & Wilkins, 2005
 Young B, Heath JW, Weather’s Functional Histology. 4th Edition, Churchill
Livingstone, 2005
 Medical cell Biology. Steven R Goodman, Lippincot Williams & Wilkins halaman
95-201

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 61


4. Kuliah Mata Kuliah Dasar Umum Kewarganegaraan (3 x 50 menit)
Pemateri : Tim MKDU Kewarganegaraan

III. PRAKTIKUM SEL (3X50 menit)


Sasaran belajar:
 Mahasiswa harus dapat mengidentifikasi bagian-bagian cell
 Mahasiswa harus dapat mengidentifikasi fase-fase pembelahan

IV. KETERAMPILAN MEDIK (3 x 50 menit):


Materi Belajar :
 Keterampilan Komunikasi :
 Keterampilan Pemeriksaan Fisik :
 Keterampilan Prosedural .

Sumber belajar :
 Modul Keterampilan Medik

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 62


MODUL 3
ORGANOGENESIS

SASARAN PEMBELAJARAN :

5. Mahasiswa mampu menjelaskan organogenesis semua sistem pada tubuh manusia pada
masa kehamilan (kuliah, tutorial, praktikum)
6. Mahasiswa mampu memahami dasar-dasar kelainan kongenital (kuliah)

Kegiatan Pembelajaran

I.PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

Satu Sistem Tidak Berada Dalam Satu Lokasi

Tractus digestivus adalah salah satu bagian dari sistem yang ada di tubuh manusia. Keunikan
sistem ini adalah bahwa organ yang terlibat tidak selalu berada di cavum abdomen. Pada masa
organogenesis, diketahui bahwa tractus digestivus berasal dari 3 bagian yaitu: foregut, midgut,
dan hindgut. Organogenesis tractus digestivus meliputi pembentukan organ berongga dan
kelenjar yang membantu fungsi sistem ini. Kelainan kongenital yang dapat terjadi pada sistem ini
salah satunya adalah hernia. Informasi lebih langkap dapat dibaca dalam buku Embriologi
Kedokteran Langman yang sudah tersedia di perpustakaan.

Step 1:
1. Tractus digestivus
2. Cavum abdomen
3. Organogenesis
4. Foregut
5. Midgut

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 63


6. Hindgut
7. Hernia

Step 2:
1. Mengapa tractus digestivus berasal dari 3 bagian yang berbeda?
2. Bagaimana foregut, midgut, hindgut dapat bersatu?
3. Apa saja yang termasuk organ berongga?
4. Apa saja yang dimaksud dengan kelenjar pada tractus digestivus?

Step 3:
TRACTUS DIGESTIF

Lidah
Lidah muncul di embryo kira-kira minggu ke empat dalam bentuk 2 pembengkakan
lateral lidah, dan satu pembengkakan medial, tuberculum impar. 3 pembengkakan ini berasal dari
cabang pertama pharyng. Keunggulan pembengkakan medial kedua, copula, atau hipobranchial
adalah dibentuk oleh mesoderm cabang kedua, ketiga dan keempat. Akhirnya pembengkakan
median ketiga dibentuk oleh bagian posterior dari cabang ke empat, menandai pertumbuhan
epiglottis. Segera dibelakang pembengkakan ada mulut laryng, yang diapit pembengkakan
arytenoids.
Seperti peningkatan pembengkakan lateral lidah dalam kantung, mereka tumbuh melebihi
tuberculum dan penggabungan, membentuk anterior kedua-ketiga atau badan lidah. Sejak
mukosa menutupi badan lidah yang dimulai dari cabang pertama pharyng, persarafan sensori
pada daerah ini oleh cabang mendibular nervous trigeminus. Badan lidah dipisah dari posterior
ketiga oleh bentukan alur V, terminal sulcus.
Bagian posterior, atau ranting lidah bermula dari cabang kedua, ketiga dan keempat
pharyng. Kenyataan inervasi sensori ke daerah lidah ini disuplai nervous glossopharyngeal
menunjukan jaringan cabang ke tiga ini tumbuh lebih besar yang kedua.
Epiglotis dan extremitas posterior lidah diinervasi oleh nervous laryngeal superior,
memantulkan pertumbuhan dari cabang keempat. Beberapa otot lidah mungkin berdiferensiasi in
situ, tapi kebanyakan yang diperoleh dari myobalses memulai di occipital somites. Jadimotot
lidah dipersarafi nervous hypoglossal.
Inervasi umu pada lidah mudah dipahami. Badannya disuplai nervous trigeminus, saraf
dari cabang pertama; ranting disuplai oleh nervous glossopharyngeal dan vagus, nervous dari
cabang ke tig a dan empat berturut-turut. Inervasi sensori khusus ke badan lidah disediakan oleh
cabang korda tympani dari nervous facialis.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 64


Mulut
Pada akhir minggu keempat, facial prominence terdiri atas neural crest primer yang
diperoleh dr mesenchym dan dibentuk terutama oleh pasangan pertama cabang pharyng yg
muncul. Maxillary prominences bisa dibedakan lateral ke stomodeum, dan mandibular
prominences bisa dibedakan caudal ke struktur. Frontonasal prominences, dibentuk oleh
proliferasi mesenchym ventral ke vesicle otak, mendasari batas atas stomodeum. Pada kedua sisi
frontonasal prominence, penebalan lokal pada permukaan ectoderm, nasal placodes, dimulai
dibawah induktif dan pengaruh bagian ventral forebrain.
Selama minggu ke lima nasal placodes invaginasi ke bentuk nasal pits. Selama
pembentukan, mereka membuat bubungan jaringan yang mengelilingi masing-masing pits dan
memebntuk nasal prominence. Prominence yang diluar tepi pits adalah lateral nasal prominence;
yang didalam tepi adalah medial nasal prominence.
Selama sepanjang minggu kedua maxilla prominence berlanjut ke peningkatan bentuk.
Secara serentak, tumbuh ditengah, menekan medial nasala prominence menuju midline. Sesudah
itu celah antara medial nasa prominence dan maxilla prominence hilang, dan menyatu.
Karenanya bibir atas dibentuk oleh dua medial nasal prominence dan dua maxillary prominence.
Lateral nasal prominence tidak kut serta dalam pembentukan bibir atas. Bibir bawah dan dagu
dibentuk dari mandibular prominence yang bergabung menyebrang midline.

Pembagian usus

Sebagai hasil pembagian rongga endoderm-lined yolk sac dari cephalocaudal dan lipatan
lateral tergabung dalam embryo dalam bentuk primitive gut. Dua pembagian lainnya dari rongga
endoderm-lined, yolk sac dan allantois, tetap berada di luar embryo.
Dalam bagian cephalic dan caudal dari embryo, bentuk primitive gut ujungnya tidak
jelas, foregut dan midgut berulang-ulang. Bagian tengah midgut, sementara tetap berhubungan
dengan yolk sac melalui vitelline duct atau yolk stalk.
Perkembangan dari primitive gut dan derivatnya biasanya didiskusikan dalam 4 bagian:
(1) saluran pharyngeal atau pharynx, meluas dari membran buccopharyngeal sampai
tracheobroncial diverticulum. (2) the foregut terletak caudal dari saluran pharyngeal dan meluas
se-caudal perkembangan liver. (3) midgut dimulai dari caudal ke pucuk liver dan meluas ke
simpangan kedua-tiga dan kiri ketiga di colon transversa pada orang dewasa. (4) Hindgut meluas
dari kiri ketiga colon transversa sampai membrane cloacal. Endoderm membentuk lapisan
epithelial dari saluran digestif dan memberikan perkembangan kelenjar parenchym seperti liver
dan pancreas. Otot, jaringan ikat dan komponen dinding peritoneal usus adalah derivate dari
splanchnic mesoderm.

Regulasi molecular dari perkembangan usus

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 65


Perbedaan dari macam-macam daerah pada usus dan derivatnya tergantung oleh interaksi
timbal-balik antara endoderm (epithelium) usus dan splanchnic mesoderm sekitar. Mesoderm
memerintahkan tipe struktur yang akan terbentuk., contohnya paru-paru dalam region thorax dan
colon descendingdari hindgut region, melalui HOX code mirip dengan yang menyusun anterior
posterior axis tubuh. Induksi HOX code menghasilkan sonic hedgehog (SHH) diekspresikan
melalui endoderm usus. Jadi, dalam region mid-dan hindgut ekspresi SHH di endoderm usus
menentukan bersarangnya (berkumpulnya) ekspresi HOX code di mesoderm. Sekali mesoderm
telah di tentukan oleh kode ini, maka akan menginstruksi endoderm untuk membentuk berbagai
komponen dari daerah mid- dan hindgut, termasuk usus halus, caecum, colon, dan cloaca.
Interaksi yang mirip bertanggung jawab atas pembagian foregut.

Mesenteries

Bagian dari saluran usus dan derivatnya ditutup di dorsal dan ventral dinding tubuh oleh
mesentrika, dua lapis peritoneum yang melingkupi organ dan terhubung dengan dinding tubuh.
Organ-organnya itu disebut intraperitoneal, jika organ tersebut berada berlawanan (dibalik)
dinding posterior tubuh dan ditutupi peritoneum dibagian depannya saja (contohnya ginjal)
disebut retroperitoneal. Ligament peritoneal adalah dua lapis peritoneum (mesentries) yang
melalui (melewati) satu organ ke organ lain atau dari organ ke dinidng tubuh. Mesentries dan
ligament memberikan jalur untuk pembuluh darah, nervous, dan pembuluh lymphatic dari dan
menuju abdominal viscera.
Awalnya foregut, midgut dan hindgut berhubungan luas dengan mesenchyme dinding
abdomen belakang. Pada minggu ke lima, jaringan penyambung (jaringan ikat) menyempit, dan
bagian caudal foregut, midgut serta bagian mayor hindgut ditutup dari dinding abdomen oleh
mesentry dorsal, yang memanjang dari ujung bawah oesophagus sampai daerah cloaca dari
hindgut. Di daerah perut membentuk dorsal mesogastricum atau greater omentum; di daerah
duodenum membentuk mesoduodenum; dan didaerah colon membentuk dorsal mesocolon.
Dorsal mesentry dari putaran jejunum dan ileum membentuk mesentery proper.
Ventral mesentry yang hanya ada di area bagian terminal dari esophagus, perut dan
bagian atas duodenum, adalah berasal dari septum transversum. Perkembangan (pertumbuhan)
hati kedalam mesenchyme dari septum transversum membagi ventral mesentry kedalam (a)
lesser omentum, sepanjang dari bagian bawah esophagus, stomach, dan bagian atas duodenum
sampai hati, dan (b) falciform ligament, sepanjang dari hati ke ventral dinding tubuh.

FOREGUT

Esophagus
Saat embryo kirakira berumur 4 minggu, respiratory divericulum (lung bud) terlihat di
dinding ventral foregut di batas dengan pharyngeal gut. Tracheoesophageal septum berangsur-
angsur menyekat divertikulum ini dari bagian dorsal foregut. Dengan cara ini foregut terbagi
menjadi bagian ventral, respiratory primordium dan bagian dorsal esophagus.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 66


Pertama kali (awalnya) esophagus itu pendek tapi dengan turunnya jantung dan paru,
menjadi panjang dengan cepat. Otot pelapis dibentuk dengan mengelilingi splanchnic
mesenchyme, di innervasi oleh nervous vagus. Otot pelapis ini halus di bawah ketiga dan
diinnervasi oleh plexus splanchnicus.

Esophageal abnormalitas
Esophageal atresia dan atau tracheoesophageal fistula keduanya merupakan hasil spontan
deviasi posterior dari tracheoesophageal septum atau dari beberapa factor mekanik yang
mendorong dinding dorsal foregut ke anterior. Dalam hal ini yang banyak terjadi dari bagian
proximal esophagus berakhir buntu, dan bagian distalnya terhubung (bergabung) dengan trachea
melalui saluran sempit diatas burification. Kadang-kadang esophagus gagal memanjang
secukupnya dan perut mendorong naik ke hiatus esophagus melewati diapraghma, sehingga
menjadi congenital hiatal hernia.

Stomach
Lambung muncul sebagai fusiform dilatasi dari foregut pada minggu ke empat
pertumbuhan (perkembangan). Selama beberapa minggu berikutnya, penampakan dan posisinya
sangat berubah sebagai hasil tahap berbeda dari pertumbahan dalam area dinding yang bervariasi
dan perubahan posisi organ sekitar. Perubahan posisi lambung lebih mudah dijelaskan dengan
menganggap rotasinya melalui longitudinal dan anteroposterior axis.
Lambung berputar 90º searah jarum jam sekitar longitudinal axis, menyebabkan sisi kiri
menghadap anterior dan sisi kanan menghadap posterior. Karena itu nervous vagus kiri, yang
awalnya menginnervasi sisi kiri lambung, sekarang innervasi dinding anterior; mirip halnya,
nervous vagus kanan menginnervasi dinding posterior. Selama rotasi, diding posterior yang
sebenarnya tumbuh lebih cepat bagian anterior, membentuk greater dan lesser kurvatura.
Ujung cephalic dan caudal dari lambung semula berada di midline, tapi selama
pertumbuhan lebih lanjut lambung berputar (rotasi) mengelilingi anteroposterior axis, dengan
demikian caudal atau bagian pyloric bergerak ke kanan dan atas, dan cephalic atau cardiac
portion bergerak kekiri dan bawah. Lambung jadi dianggap pada final posisi, axis berpindah dari
kiri atas ke kanan bawah.
Semenjak lambung melekat pada dinding dorsal tubuh melalui dorsal mesogastrium dan
ke dinding ventral tubuh dengan ventral mesogastrium, perputaran dan ketidak seimbangan
pertumbuhan mengubah posisi dari mesentrium ini. Rotasi disekitar longitudinal axis menarik
dorsal mesogastrium ke kiri, membuat ruang dibelakang lambung disebut omental bursa (lesser
peritoneal sac). Rotasi ini juga menarik ventral mesogastrium ke kanan. Selama proses ini
berlanjut pada minggu kelima pertumbuhan (perkembangan), primordium spleen muncul sebagai
proliferasi mesodermal antara dua lembar dorsal mesogastrium. Dengan berotasi terus pada
lambung, dorsal mesogastrium memanjang dan bagian antara spleen dan dorsal midline berayun
ke kiri dan menyatu dengan peritoneum dinding posterior abdomen. Lembar posterior dari dorsal
mesogastrium dan peritoneum merosot sepanjang garis penyatuan. Spleen yang berada
intraperitoneal lalu kemudian terhubung ke dinding tubuh di daerah sebelah kiri ginjal oleh

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 67


lienoreal ligament dan ke lambung dengan gastrolienal ligament. Pemanjangan dan
penggabungan dari dorsal mesogastrium ke posterior dinding tubuh juga menentukan posisi
akhir pancreas. Awalnya organ ini tumbuh ke dalam dorsal mesoduodenum, tapi akhirnya
ujungnya meluas kedalam dorsal mesogastrium. Sejak bagian dari dorsal mesogastrium menyatu
dengan dorsal dinding tubuh, ujung pancreas terdapat berlawanan dari bagian ini. Segera setelah
lembaran posterior dorsal mesogastrium dan peritoneum dari posterior dinding tubuh merosot
sepanjang garis penyatuan, ujung pancreas ditutup oleh peritoneum pada permukaan anterior saja
dan oelh karena itu berada pad aposisi retroperitoneal. Organ seperti pancreas, yang semula
ditutupi peritoneum, tapi nanti bersatu dengan posterior dinding tubuh menjadi retroperitoneal
disebut secondarily retroperitoneal (retroperitoneal skunder).
Sebagai hasil putaran dari lambung disekitar anteroposterior axis, dorsal mesogastrium
menonjol kebawah. Itu terus tumbuh ke bawah dan membentuk 2 lapis kantung sampai melebihi
colon transversa dan putaran usus halus seperti rok. Lembaran double seperti rok ini adalah
greater omentum; nantinya lapisan ini bergabung menjadi satu lembar bergantungan dari greater
curvatura lambung. Lapisan posterior greater omentum juga bergabung dengan mesentrium
colon transversum.
Lesser omentum dan falciform ligament terbentuk dari ventral mesogastrium, yang itu
sendiri derivat (berasal) dari mesoderm pada septum transversum. Saat tali (cords) hati tumbuh
kedalam septum, ini tipis untuk membentuk (a) pritoneum dari hati, (b) falciform ligament,
meluas dari hati ke ventral dinding tubuh, dan (c) lesser omentum, meluas dari lambung dan
duodenum atas ke hati. Batas bebas darinligament falciform berisi vena umbilical, yang lenyap
setelah lahir untuk membentuk ligamentum teres hepatis. Batas bebas lesser omentum
menghubungkan duodenum dan hati (hepatoduodenal ligament) berisi saluran empedu, vena
porta, arteri hepatis (triad portal). Batas bebas ini juga membentuk atap dari ligament epiploic
dari Winslow, yang penghubung pembuka omental bursa dengan seluruh peritoneal cavity.
Duodenum
Bagian terminal dari foregut dan cephalic dari midgut membentuk duodenum. Simpangan
dari dua bagian ini langsung merupakan distal dari asal tunas hati (liver bud). Ketika lambung
berputar, duodenum membentuk huruf C dan berputar ke kanan. Perputaran ini, bersamaan
dengan pertumbuhan cepat dari bagian depan pancreas, mengayunkan duodenum dari posisi awal
garis tengah ke sebelah kiri cavum abdomen. Duodenum dan bagian depan pancreas menekan
dorsal dinding tubuh, dan permukaan kanan dorsal mesoduodenum bersatu dengan peritoneum
yang berdekatan. Sesudah itu kedua lapisan hilang, dan duodenum dan bagian depan pancreas
menjadi pasti dalam posisi retroperitoneal. Denagn begitu seluruh bagian pancreas mendapatkan
posisi retroperitoneal. Dorsal mesoduodenum menghilang seluruhnya kecuali bagian pylorus dari
lambung , dimana sebagian kecil dari duodenum (duodenal cap) mempertahankan mesentry dan
tetap intraperitoneal.
Selama bulan kedua, lumen duodenum dihapuskan oleh proliferasi dari cell di
dindingnya. Bagaimanapun, lumen itu recanalisasi segera sesudahnya. Sejak forgat disuplai arteri
celiac dan midgut disuplai arteri mesentrica superior, duodenum disuplai dari cabang kedua
arteri.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 68


Hati dan kandung empedu
Primordium hati muncul pada minggu ketiga sebagai suatu perkembangan endodermal
epitelium pada ujung distal foregut. Perkembangan ini, hepatic diverculum atau tunas hati, berisi
sel yang cepat berploriferasi menembus septum transversum, yang melapisi mesodermal antara
pericardial cavity dan batang yolk sac. Sementara cell hati terus menembus septum, hubungan
antara hepatic devirculum dan foregut (duodenum) menyempit, membentuk saluran empedu.
Sebuah perkembang kecil ventral dibentuk oleh saluran empedu, dan perkembangan ini
memberikan perkembangan pada kandung empedu dan cystic duct. Selama perkembangan lebih
lanjut, epitelial cord hati bercampur dengan vitelin dan vena umbilikus, yang membentuk sinus
hepatis. Cord hati dibedakan kedlama parenchyma (sel hati) dan bentuk lapisan dari saluran
empedu. Sel hematopoietic, sel kupffer dan sel jaringan yang menghubungkan berasal dari
mesoderm septum transversum.
Saat sel hati menyerang seluruh septum transversum, maka organ itu akan menonjol
kedalam cavum abdomen, mesoderm dari septum transversum berada diantara hati dan foregut
dan hati dan ventral dinding abdomen menjadi membranous, membentuk lesser omentum dan
falciform ligament, berturut-turut. Bersama, membentuk sambungan (hubungan) peritoneal
antara foregut dan ventral dinding abdomen, dikenal sebagai ventral mesogastrium.
Mesoderm pada permukaan hati berdiferensiasi kedalam visceral peritoneum kecuali
permukaan cranialnya. Di area ini, hati tetap terhubung dengan sisa septum transversum semula.
Bagian dari septum ini, yang berisi penuh mesoderm., akan membentuk central tendon dari
diaphragma. Permukaan hati yang berhubungan dengan diaphragma nantinya, tidak pernah
ditutup oleh peritoneum; itu berada pada daerah telanjang (bare area) pada hati.
Dalam minggu kesepuluh dari pertumbuhan berat hati kira-kira 10% total berat tubuh.
Walaupun bisa karenaberhubungan banyaknya jumlah sinusoid, faktor penting lainnya adalah
fungsi hematopoietic. Sarang besar sel proliferasi, yang menghasilkan sel darah merah dan sel
darah putih, berada antara sel hepar dan dinding pembuluh. Aktifitas ini berangsur-angsur hilang
selama 2 bulan terakhir kehidupan intrauterine, hanya pulau hematopoietic kecil tersisa saat lahir.
Berat hati juga hanya 5% dari total berat tubuh.
Fungsi penting lain dari hati mulai kira-kira minggu ke-12, saat empedu dibentuk (dibuat)
oleh sel hati. Sementara, sejak kandung empedu dan cystic duct tumbuh dan cystic duct
bergabung saluran hepar membentuk saluran empedu, empedu bisa masuk jalur pencernaan.
Sebagai hasil, ini mengandung cairan hijau gelap. Karena perubahan posisi duodenum, pintu
masuk saluran empedu berangsur-angsur bergeser dari awal posisi anterior ke posteriornya dan
konsekuensinya, saluran empedu melalui belakang duodenum.

Pancreas
Pancreas dibentuk oleh dua pucuk yang berasal dari lapisan endodermal duodenum.
Sedangkan pucuk dorsal pancreas didalam dorsal mesentrium, pucuk ventral pancreas dekat
dengan saluran empedu. Saat duodenum berputar ke kanan dan menjadi bentuk C, ventral
pancreas bergerak ke dorsal dengan cara mirip pergeseran saluran empedu. Akhirnya pucuk

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 69


ventralnya segera berada di bawah belakang pucuk dorsal. Nanti, parenchym dan sistem saluran
dorsal dan ventral pancreas bersatu. Pucuk ventral membentuk proses uncinate dan bagian
inferior kepala pancreas. Bagian sisa dari kelenjar diperoleh dorsal bud. Saluran páncreas utama
(dari Wirsung) dibentuk oleh bagian distal saluran páncreas dorsaldan semua saluran páncreas
ventral. Bagian proximal saluran páncreas dorsal dihapus atau tetap digunakan sebagi saluran
Cecil, saluran pacreas aksesoris (dari Santorini). Saluran utama páncreas, bersama saluran
empedu, masuk duodenum dari papila major; pintu masuk saluran aksesori páncreas, masuk
keduodenum melalui minor pappila. Dalam sekitar 10% kasus sistem saluran gagal bersatu, dua
sistem jalur tetap berlaku.
Bulan ke tiga dari kehidupan fetus, pulau pancreas (dari Langerhans) tumbuh dari
jeringan parenchymatous páncreas dan menyebar keseluruh páncreas. Sekresi insulin dimulai
kira-kira bulan relima. Glucagon-somatostatisn secreting cell (sel pensekresi glucagon dan
somatostatin) juga tumbuh (muncul) dari sel parenchym. Splanchnic mesoderm dikelilingi pucuk
páncreas membentuk jaringan penghubung páncreas.

Midgut

Pada usia 5 minggu, midgut ditutup dari dorsal dinding abdomen olehmesentry pendek
dan berhubungan dengan yolk sac melalui vitelline duct atau yolk stalk. Pada dewasa midgut
mulai segera distal ke pintu masuk saluran empedu kedalam duodenum dan berakhir pada
simpangan kedua-ketiga proximal dari colon transversa dengan distal ketiga. Melalui sepanjang
ini midgut di suplai oleh arteri mesentrica superior.
Pertumbuhan midgut ditandai oleh elongasi cepat dari usus dan mesentrynya, hasil dari
pembentukan primary intestinal loop. Pada apexnya, sisa putaran dalam hubungan terbuka
dengan yolk sac melalui saluran vitelline yang sempit. Bagian (anggota/ cabang) cephalic dari
pertumbuhan loop masuk ke baian distal duodenum, jejunum, dan ileum. Bagian caudalnya
menjadi bagian bawah ileum, caecum, appendiks, colon ascending, dan proximal kedua-ketiga
colon transversa.

Hernia fisiologis
Pertumbuhan primer dari putaran intestin ditandai dengan elongasi cepat, terutama
sekali cephalic limb. Sebagai hasil pertumbuhan cepat dan perluasan hati, cavum abdomen untuk
sementara menjadi terlalu kecil untuk berisi semua intestine loop, dan mereka masuk
extraembryonic cavity dalam umbilical cord selama minggu ke enam pertumbuhan (hernia
umbilical fisiologis).

Rotasi midgut
Bersamaan dengan pertumbuhan panjang, primary intestinal loop berputar sekitar axis
dibentuk oleh arteri mesentrica superior. Saat dilihat dari depan, rotasi ini berlawanan arah jarum
jam, dan jumlahnya kira-kira 270º saat selesai. Bahkan selama rotasi, elongasi usus halus
berlanjut, dan jejunum serta ileum membentuk sejumlah lengkungan (putaran) bergulung.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 70


Demikian juga usus besar memanjang dengan sangat tapi tidak berpartisipasi dalam peristiwa
bergulung (menggulung). Rotasi terjadi selama herniasi (sekitar 90º) seperti halnya selama
pengembalian usus kedalam cavum abdomen (180º).

Retraksi lengkung hernia


Selam minggu ke-10, herniasi lengkung intestin (usus) mulai kembali ke cavum
abdomen. Walaupun faktor yang bertanggung jawab untuk pengembalian ini tidak diketahui
pasti, menimbulkan pikiran bahwa kemunduran mesonephric ginjal, pengurangan pertumbuhan
hati, dan perluasan cavum abdomen memainkan peranan penting.
Bagian proximal jejunum, bagian pertama yang masuk kembali dalam cavum abdomen,
menjadikan berbaring di kiri. Nanti lengkunagnnya kembali berangsur-angsur makin- dn makin
ke kanan. Caecal bud, yang muncul sekitar minggu ke enam sebagai dilasi berbentuk kerucut
kecil dari caudal limb primary intestinal loop, itu adalah bagian terakhir usus yang kembali
masuk cavum abdomen. Untuk sementara berada dikuadran kanan atas langsung dibawah lobus
kanan hati. Dari sini turun ke fossa iliaca kanan, tempat colon ascenden dan flexure hepatic disisi
kanan cavum abdomen. Selama proses ini ujung distal caecal bud membentuk diverticulum
sempit, appendiks.
Sejak appendiks tumbuh selama penurunan colon, posisi akhir sering pada posterior ke
caecum atau colon. Posisi appendiks disebut retrocaecal atau retrocolic, berturut-turut.

Mesentry Intestinal loop


Mesentry dari lengkung intestin primer, proper mesentry, mengalami perubahan
profundus dengan rotasi dan bergulung pada isi perut. Saat caudal limb dari lengkung bergerak
ke kanan cavum abdomen, dorsal mesentry berputar sekitar sumber arteri mesentry superior.
Kemudian, saat bagian ascending dan descending colon memperoleh posisi pasrti., mesentrynya
menekan peritoneum dinding abdomen posterior. Setelah lapisan ini bersatu, colon ascending
dan descending berlabuh tetap (permanen) di posisi retroperitoneal. Appendiks, ujung bawah
caecum, dan colon sigmoid, bagaimanapun memperthankan mesentri bebasnya.
Takdir mesocolon transversus berbeda. Itu menyatu dengan dinding posterior greater
omentum tapi mempertahankan pergerakannya. Garis penempelan akhirnya meluas dari flexure
hepatis colon ascenden ke splenic flexure colon descending.
Mesentry lengkung jejunoileal pertama dilanjutkan dengan colon ascending. Saat
mesentry ascnding mesocolon bergabung dengan posterior dinding abdomen, mesentry
jejunoileal memperoleh baris baru penempelan yang meluas dari area dimana duodenum menjadi
intraperitoneal ke simpangan ileocecal.

Hindgut

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 71


Hindgut memberi kenaikan pada distal ketiga colon transversa, colon descenden,
sigmoid, rectum, dan bagian atas lubang anal. Endoerdm hindgut juga membentuk garis internal
kandung kencing dan uretra.
Bagian terminal hindgut masuk kedalam area posterior cloaca, canal (saluran) anorectal
primitive; Allantois masuk kedalam bagian anterior sinus urogrnital primitive. Cloaca itu sendiri
adalah cavum barisan endoderm dilapisi pada batas ventral permukaan ektoderm. Batas antara
endoderm dan ectoderm membentuk membran cloacal. Lapisan mesoderm, septum urorectal,
memisahkan bagian antara allantois dan hindgut. Septum ini diperoleh dari menggabungkan
mesoderm yang menutupi yolk sac dan yang mengelilingi allantois. Saat embryo tumbuh dan
caudal folding berlanjut, ujung septum urorectal menjadi muncul untuk berada dekat membran
cloaca, walaupun kedua struktur tidak berhubungan. Akhir minggu ketujuh, membran cloacal
robek, membentuk pembukaan anal untuk hindgut dan pembukaan ventral untuk sinus
urogenital. Antara keduanya, ujung urorectal septum membentuk perineal body. Pada waktu ini,
ploriferasi ektoderm menutup bagian caudal saluran anal. Selama minggu kesembilan, bagian ini
membentuk saluran lagi. Seperti itu, bagian caudal saluran anal bermula dalam ektoderm, dan
disuplai arteri rectal inferior, lanjutan dari arteri pudenda interna. Bagian cranial saluran anal
bermula dalam endoderm dan disuplai arteri rectal superior, lanjutan dari arteri mesentrica
inferior, arterinya hindgut. Simpangan antara bagian endodermal dan ektodermal saluran anal
yang digambarkan oleh garis pectinate (pectinate line), dibawah kolom anal. Pada lapisan ini,
epitel berubah menjadi columnar ke epitel squamous berlapis.
Step 4:

Organogenesis Tractus Digestivus

Pembentukan Organ Berongga Pembentukan Kelenjar Pencernaan

Foregut Midgut Hindgut Hati Kandung Empedu Pankreas

Step 5:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan proses organogenesis pada tractus digestivus.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 72


Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 1-68, 97-150
2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 1-112, 157-234
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott Williams &
Wilkins; Baltymore; pp. 1-66, 159-194
4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3 rd edition; Elsevier
Mosby; 2004; pp. 3-150, 429-476
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B. Sunders
Company; pp.1-100, 329-378
6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h. 1-412

II. Kuliah:
1. Organogenesis 1
Sasaran belajar:
 Tractus cardiovaskular
 Tractus respiratorius

Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 151-206
2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 235-314
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott
Williams & Wilkins; Baltymore; pp. 195-256
4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3rd edition;
Elsevier Mosby; 2004; pp. 83-150, 353-506
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B.
Sunders Company; pp. 101-180, 197-328

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 73


6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h. 1-412

2. Organogenesis 2
Sasaran belajar:
 Tractus uropoetica
 Tractus genetalis
 Sistem integument

Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 151-206
2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 235-314
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott Williams &
Wilkins; Baltymore; pp. 195-256
4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3 rd edition; Elsevier
Mosby; 2004; pp. 83-150, 353-506
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B. Sunders
Company; pp. 101-180, 197-328
6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h. 1-412

3. Organogenesis 3 dan dasar-dasar kelainan kongenital


Sasaran belajar:
 facei & colli
 mata & telinga
 neuro muskulo skeletal & ekstremitas

Referensi:
1. Williams J. Larsen; Essentials of Human Embryology; 1 st edition; 1998; Churchill
Livingstone; Singapore; pp. 69-80, 229-316

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 74


2. William J. Larsen; Human Embryology; 3rd edition; 2001; Churchill Livingstone;
Philadelphia; pp. 113-132, 315-480
3. T.W. Sadler; Langman`s Medical Embryologi; 10th edition; 2006; Lippincott Williams &
Wilkins; Baltymore; pp. 125-158, 257-340
4. Bruce M. Carlson; Human Embryology and Developmental Biology; 3 rd edition; Elsevier
Mosby; 2004; pp. 173-352
5. Moore, Persaud; Before We Are Born; 5th edition; 1998; Philadelphia; W.B. Sunders
Company; pp. 379-496
6. T.W. Sadler; Embriologi Kedokteran Langman; edisi ke-7; 2000; EGC; h.

4. Cloning & inseminasi buatan


Pemateri: dr. C. Darby, Sp.F

III. PRAKTIKUM EMBRIOGENESIS & ORGANOGENESIS (3X50 menit)


Sasaran belajar:
 Embryologi s/d lahir
 Organogenesis

IV. KETERAMPILAN MEDIK (3 x 50 menit):


Materi Belajar :
 Keterampilan Komunikasi :
 Keterampilan Pemeriksaan Fisik :
 Keterampilan Prosedural .
Sumber belajar :
 Modul Keterampilan Medik

MODUL 4

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 75


POLA PEWARISAN SIFAT

SASARAN PEMBELAJARAN :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme pola pewarisan genetik secara normal (pattern
of inheritance) (tutorial)
2. Mahasiswa mampu menjelaskan jumlah dan struktur kromosom baik yang normal maupun
yang mengalami kelainan (tutorial)
3. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme penurunan penyakit genetik (pattern of
inheritance) yang terkait dengan somatic-linked (tutorial)
4. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme penurunan penyakit genetik (pattern of
inheritance) yang terkait dengan sex-linked (tutorial)
5. Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis mutasi kromosom dan implikasinya (kuliah)
6. Mahasiswa mampu menjelaskan kode genetik, proses replikasi DNA dan posisinya dalam
siklus sel
7. Mahasiswa mampu menjelaskan proses DNA repair

I. Skenario

Tema : Pola Pewarisan Sifat

Seluas Cinta Ibunda (Episode 7)

Pada episode yang lalu, Sunny (15 tahun) terpaksa dibawa ke instalasi gawat darurat RS setelah
mengalami perdarahan akibat kecelakaan yang terjadi di depan rumahnya. Ibunda Sunny cemas
karena menurut dokter harus dilakukan tindakan yang memerlukan transfusi darah. Ibunda
Sunny bertambah cemas karena keinginannya untuk mendonorkan darah kepada anaknya
ditolak oleh dokter. Menurut dokter, golongan darah ibunda Sunny adalah AB, sedangkan Sunny
sendiri A. Ibunda Sunny tidak mengerti mengapa karakter anaknya banyak yang berbeda dengan
orang tuanya. Menurut catatan rekam medis sebelumnya, Sunny dinyatakan Down Syndrome
berdasarkan karyotipping, selain itu juga memiliki buta warna. Bagaimanakah nasib Sunny
selanjutnya, tontonlah episode Seluas Cinta Ibunda berikutnya hanya di stasiun televisi
kesayangan anda.

Step 1: Definisi Istilah

1. Karyotipping : metode analisis atau pemetaan susunan kromosom dengan pewarnaan


tertentu dengan tujuan ingin melihat kelainan jumlah kromosom, pertukaran antara dua

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 76


kromosom (translokasi) yang dapat seimbang maupun tidak seimbang, delesi, duplikasi atau
sejumlah kelainan yang melibatkan satu kromosom tunggal serta bagaimana menuliskan
pola kromosom tersebut.

2. Down Syndrom : suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh adanya kelebihan
kromosom ke-21 sebagai akibat dari non-disjuction mitotik (pada tahap pembelahan mitosis
tidak mampu membelah dari satu sel induk dengan 46 kromosom menjadi 2 sel kromosom
yang masing-masing memiliki 46 kromosom).

3. Buta warna : ketidakmampuan seseorang dalam membedakan warna akibat dari gen resesif
buta warna yang terikat pada kromosom X.

Step 2 :

1. Bagaimana pola pewarisan genetik secara normal?


2. Bagaimana pewarisan golongan darah secara normal?
3. Apa peranan karyotipping dalam menganalisis kromosom?
4. Mengapa down syndrome dapat terjadi dan bagaimana mekanismenya?
5. Apakah down syndrome memiliki hubungan dengan proses pembelahan mitosis dan miosis?
6. Mengapa buta warna dapat diwariskan dan bagaimana mekanismenya?
7. Apakah buta warna berhubungan dengan mitosis atau miosis?
8. Apakah buta warna dapat diwariskan melalui gen dominan atau gen resesif?
9. Apakah gen buta warna dapat diwariskan dari ibu normal yang heterozigot buta warna?
10. Apakah gen buta warna dapat diwariskan ke anak laki-laki menderita buta warna dari ayah
yang normal?

Step 3 : Brain Storming

1. Bagaimana pola pewarisan genetik secara normal?

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 77


Gamet dari masing-masing maternal dan paternal menyumbangkan 23 kromosom yang terdiri
dari 22 kromosom autosom dan 1 kromosom kelamin. Spermatozoon mengandung kromosom X
dan Y sedangkan ovum mengandung 2 kromosom X. Bertemunya (fertilisasi) kromosom X dari
maternal dan kromosom X dari paternal untuk membentuk zigot perempuan dan bertemunya
kromosom X dari maternal dan kromosom Y dari paternal persentasenya adalah seimbang
(masing-masing 50%).

2. Bagaimana pewarisan golongan darah secara normal

Lokus yang mengendalikan sistem golongn adarah ABO terletak pada ujung lengan panjang
kromosom nomor 9. Terdapat 3 gen yaitu A, O dan B. Orang dengan 2 gen O akan memiliki
golongan darah O, orang dengan dua gen A atau satu gen A dan satu gen O adalah golongan
darah A, orang dengan 2 gen B atau satu gen B dan satu gen O akan mempunyai golongn adarah
B, dan orang dengan satu gen A dan satu gen B mempunyai golongan darah AB.

Berikut adalah gambaran tentang golongan darah dan penyandi genetik

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 78


Konstitusi Genetik (Genotip) Golongan Darah (Fenotip)

OO O

AA A

AO A

BB B

BO B

AB AB

Bila dua orang mempunyai golongan darah O menikah, maka semua keturunannya akan memiliki
golongan darah O. Golongan darah A kawin dengan O hanya akan memberikan anak-anak
dengan golongan darah A, apabila orang tua yang mempunyai golongan darah tadi bergenotip
AA. Tetapi anak-anak mereka akan bergolongan darah O dan A dengan perbandingan yang sama
apabila orang tua yang bergolongan darah A tadi bergenotip AO.

Perkawinan golongan darah AB dengan O memberikan keturunan dimana separuhnya


bergenotip AO dan separuhnya bergenotip BO. Pada perkawinan ini tidak ada anak yang
mempunyai golongan darah yang sama dengan golongan darah orang tuanya.

Jenis perkawinan istimewa lain untuk alel ganda adalah antara AO dan BO memberikan 4 macam
anak yaitu AB, AO, BO dan OO atau dengan kata lain dapat mempunyai anak dengan keempat
macam golongan darah tadi.

AB OO

AO BO

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 79


Keterangan : diagram kromosom yang memperlihatkan transmisi gen-gen pada perkawinan
antara individu dengan golongan AB dan O

3. Apa peranan karyotipping dalam menganalisis kromosom

Melalui karyotipping, kromosom makhluk hidup dapat ditentukan apakah kromosomnya normal
atau tidak. Yang dapat dinilai ketika melihat kromosom adalah jumlahnya, ukurannya, dan
bentuknya (translokasi, delesi, duplikasi). Numenklatur profil kromosom ditulis berdasarkan apa
yang dilihat melalui karyotipping tersebut. Misalnya dibawah ini diberikan contoh tentang
bagaimana penulisan kromosom yang dilihat melalui karyotipping pria dan wanita

No Profil Kromosom Numenklatur Keterangan

1 Pria normal 46 xy Jumlah kromosom 46

2 Wanita normal 46 xx Jumlah kromosom 46

3 ♀ Down syndrome 47 xx +21 Ada penambahan satu kromosom pada


kromosom 21

4 ♂ Down syndrome 47 xy +21 Ada penambahan satu kromosom pada


kromosom 21

Keterangan : Prinsip penulisan (numenklatur) pada karyotipping tabel diatas adalah menulisakan jumlah
keseluruhan kromosom, diikuti oleh kromosom kelamin dan bila perlu diikuti oleh detail lebih lanjut.

Berikut ini numenklatur pada penambahan dan pengurangan kromosom kelamin akibat dari
non-disjunction.

No Profil kromosom

1 Pria 47 xxy Ada penambahan satu kromosom x pada

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 80


Sindroma Klinefelter kromosom 23

2 Pria infertil 47 xyy Ada penambahan satu kromosom y pada


kromosom 23

3 Wanita X tripel 47 xxx Ada penambahan satu kromosom x pada


kromosom 23

4 Wanita 45 x Ada pengurangan satu kromosom x pada


kromosom 23
Sindroma Turner

Kariotipping pada kelainan struktur, maka perlu untuk menjelaskan apakah lengan pendek atau
lengan panjang yang terkena, dengan demikian p adalah menunjukan lengan pendek dan q
adalah lengan panjang. Sehingga bila numenklatur kariotipping tertulis 46 xy 4p- maka artinya
adalah seorang pria yang mempunyai lengan pendek pada kromosom nomor 4 yang lebih
pendek dari normal. Tanda p+ dan q+ menunjukkan lengan kromosom yang lebih panjang dari
yang normal tetapi tidak menujukkan dari mana materi (kromosom) tersebut berasal.

Berikut ini contoh karyotipping pada manusia :

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 81


A. Karyotip wanita normal (Gambar 1)

B. Karyotip laki-laki normal (Gambar 2)

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 82


B. Kehilangan pasangan kromosomon 23, monosomy 23 (Turner Syndrome).
Karena kehilangan satu kromosom y pada kromosom kelamin, biasa ditulis
dengan X0 (Gambar 3).

C. Trisomy 23 XXY Klinefelter Syndrome, penambahan kromosom X pada


kromosom kelamin (Gambar 4).

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 83


D. Trisomy 23 (XYY) Chromosomal Addition. Trisomy of 23rd Pair (XYY).
Having 1 X & 2 Y chromosomes (Gambar 5).

E. Edward's Syndrome Trisomy of Chromosome 18 (Gambar 6).

F. Trisomy 13 Patau's Syndrome, Chromosomal Addition (Gambar 7).

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 84


G. Karyotype manusia yang memperlihatkan Down Syndrome (kromosom 21 berjumlah
3 yang homolog) (Gambar 8).

4. Mengapa down syndrom dapat terjadi dan bagaimana mekanismenya

Kelebihan kromosom sebagai akibat dari non-disjunction (pasangan kromosom gagal berpisah).
Gamet normal adalah apabila satu kromosom pergi ke masing-masing kutub gelendong. Tetapi
apabila kedua kromosom pergi ke satu kutub, maka mungkin akan ada dua jenis komplementer
dari gamet abnormal dapat dibentuk, yaitu gamet dengan dua kromosom dari sepasang
kromosom dan bukan satu kromosom atau gamet tanpa kromosom tersebut (ini disebut
fenomena non-disjunction).

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 85


5. Apakah down syndrom memiliki hubungan dengan proses pembelahan mitosis dan miosis

Down syndrome merupakan kelainan kromosom pada neonatus yang paling sering terjadi, yaitu
sekitar 30 % dari retardasi mental berat dalam populasi. Dalam teori, gangguannya dapat timbul
sebagai non-disjunction mitosis pada embrio sangat awal. Sekitar 80%, kromosom tambahan 21
adalah berasal dari ibu dan 20% adalah berasal dari ayah dan hanya kurang dari 1 persen adalah
disebabkan oleh gangguan mitosis. Pada non-disjunction maternal dan paternal, gangguannya
adalah kira-kira empat kali kemungkinannya gangguan tadi pada pembelahan miosis pertama
dibanding pada pembelahan miosis kedua. Sehingga hampir duapertiga sindroma down adalah
disebabkan oleh gangguan pembelahan miosis pertama pada ibunya. Hal ini mempunyai arti
penting untuk menemukan apakah gangguan tadi benar-benar adalah karena kegagalan pasangan
kromosom 21 untuk memisah pada anafase I (seperti pada non-disjunction), atau apakah dalam
kenyataannya kedua kromosom 21 gagal untuk mengadakan hubungan dan berpasangan sejak
semula pada stadium yang jauh lebih awal pada kehidupan oosit. Apabila hipotesis yang terakhir
ini benar, maka kesalahannya (gangguannya) telah terjadi pada oosit dari ibu anak penderita
sindroma down saat ibu tadi masih bayi. Apabila gangguan tadi terjadi pada stadium yang lebih
akhir dari profase atau setelah itu, maka faktor-faktor yang timbul tepat saat ovulasi dapat dapat
memainkan peranan. Yang pasti adalah bahwa teori apapun harus memasalahkan adanya
hubungan yang kuat dengan umur maternal (ibu).

Hubungan antara insiden dengan bertambahnya umur ibu, yang paling nyata pada sindroma down,
tetapi terdapat juga dengan trisomi yang lain, telah diketahui jauh sebelum defek kromosom
diperlihatkan. Terdapat kenaikan secara linier yang gradual antara angka insiden dengan kenaikan
umur ibu sampai 30 tahun, dan akan kenaikan jenis logaritma yang cepat setela h kira-kira umur 33

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 86


tahun. Pada ibu umur 20 sampai 30 tahun, risiko meningkat kira-kira 1 dalam 2000 kelahiran
normal menjadi 1 dalam 900 kelahiran normal. Pada umur 33 tahun, insiden meningkat kira -kira 1
dalam 350 kelahiran, dan pada umur 40 tahun menjadi 1 tiap 110 kelahiran. Setelah itu
kenaikannya menanjak secara progresif, risiko pada ibu umur 46 tahun adalah 1 dalam 25
kelahiran. Walaupun demikian, ditaksir bahwa paling tidak seperlima dari semua anak -anak yang
menderita sindroma down dilahirkan tanpa ada hubungan dengan umur ibu.

Angka angka tadi adalah perkiraan untuk kelahiran hidup, dan insiden pada kira-kira 16 minggu
kehamilan, yaitu saat mana dapat dilakukan diagnosis prenatal, adalah agak lebih besar. Tentu saja
perbedaannya adalah karena kenyataan bahwa suatu proporsi yang lebih tinggi pada fetus trisomi
21 akan hilang akibat abortus alamiah pada semua stadium kehamilan dibanding fetus normal.
Secara keseluruhan diperkirakan bahwa dua pertiga dari fetus trisomi 21 pada kehamilan yang
dikenal akan mengalami abortus, dan fakta ini telah menyebabkan beberapa ahli memperkirakan
bahwa hubungannya dengan umur ibu adalah sangat erat dengan ibu-ibu untuk menggugurkan
fetus trisomi saat ibu-ibu tadi menjadi lebih tua.

Hipotesis mengenai penyebab non-disjuction yang mengenai kromosom 21, adalah pengamatan
bahwa suatu pasangan suami istri yang pernah mempunyai satu anak yang menderita trisomi,
akan mempunyai kenaikan risiko untuk terjadinya non disjunction yang kedua. Kejadian ini tidak
perlu melibatkan pasangan kromosom yang sama, karena misalnya seorang anak yang menderita
sindroma down dapat lahir setelah kelahiran trisomi 18, yang menunjukkan bahwa pasangan
suami istri tadi mempunyai predesposisi untuk non disjunction pada umumnya. Predisposisi ini
rupanya lebih nyata pada pasangan yang lebih muda yang setelah mempunyai anak trisomi akan
menghadapi risiko kira-kira 1 dalam 100 pada kelahiran yang kedua.

Kemampuan untuk hidup terus trisomi autosom adalah tidak biasa, sebagai contoh sejauh ini
trisomi yang paling umum pada abortus spontan adalah trisomi 16 yang mana tidak mencapai
kehamilan aterm (cukup bulan). Anak-anak yang menderita sindrom down gangguan
pertumbuhannya dan retardasi mentalnya jauh lebih ringan dibandingkan trisomi jenis lain.

a. Mekanisme penurunan down syndrom trisomi 21 dari maternal yang down syndrom trisomi 21

Wanita-wanita yang menderita sindroma down tidak steril dan tetap dapat memproduksi
ovum, seperti yang telah diperlihatkan oleh sejumlah kecil wanita yang menderita mongolisme
yang melahirkan bayi akan memproduksi ovum abnormal dengan dua kromosom 21, dan

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 87


ovum normal dengan satu kromosom 21. Fertilisasi oleh spermatozoon normal dengan
demikian akan menghasilkan anak-anak yang menderita sindroma down dan anak-anak
normal dengan proporsi yang seimbang (lihat gambar dibawah).

47 XX +21(♀ sindrom down) 46 XY (♂ normal )

X + 21 X X Y

47 XX +21 46 XX

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 88


47 XY +21 46 XY

Gambar 1

b. Mekanisme penurunan down syndrom trisomi 21 dari paternal yang down syndrom trisomi 21

Laki-laki yang menderita sindroma down akan memproduksi spermatozoon abnormal dengan
dua kromosom 21, dan spermatozoon normal dengan satu kromosom 21 (tambahan
kromosom 21 dapat dibawa oleh kromosom X maupun Y). Fertilisasi oleh spermatozoon
normal dengan demikian akan menghasilkan anak-anak yang menderita sindroma down dan
anak-anak normal dengan proporsi yang seimbang (lihat gambar dibawah).

I. Penurunan down syndrom alternatif pertama dari paternal yang down syndrom

46 XX (♀ Normal) 47 XY +21 (♂ down syndrom)

X X X +21 Y

47 XX +21 47 XX +21

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 89


46 XY 46 XY

II. Penurunan down syndrom alternatif kedua dari paternal yang down syndrom

46 XX (♀ Normal) 47 XY +21 (♂ down syndrom)

X X X Y+21

46 XX 46 XX

47 XY +21 47 XY +21

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 90


Kelainan yang disebabkan oleh hanya adanya satu kromosom 21 sangat jarang; dan
zigot seperti ini hampir selalu gagal untuk berkembang. Keadaan demikian
memberikan ilustrasi suatu pokok yang penting, ialah bahwa kehilangan satu
kromosom akan menyebabkan efek yang berat dibandingkan dengan kelebihan satu
kromosom.

kromosom homolog XX

6. Mengapa gen buta warna dapat diwariskan, bagaimana mekanismenya

Bagiamana gen buta warna dapat diwariskan dapat dilihat pada diagram dibawah:

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 91


Wanita heterozygot akan menghasilkan dua macam gamet yaitu gamet-gamet yang
mengandung kromosom x yang membawa gen normal dan gamet-gamet yang
mengandung kromosom x yang membawa gen buta warna. Pria buta warna juga
menghasilkan dua macam gamet yaitu gamet-gamet yang mengandung kromosom x
yang membawa gen buta warna dan gamet-gamet yang berisi kromosom y.

Ada 4 kemungkinan bila terjadi perkawinan antara wanita heterozygot (tidak menderita
buta warna)

a. satu spermatozoon yang mengandung kromosom x yang membawa gen buta warna
akan membuahi satu sel telur yang membawa gen normal, hasilnya adalah anak
perempuan normal heterozygot
b. satu spermatozoon yang mengandung kromosom y akan membuahi satu sel telur
yang mengandung kromosom x yang membawa normal. Hasilnya adalah anak laki-
laki normal
c. satu spermatozoon yang mengandung kromosom x yang membawa gen buta warna
akan membuahi sel telur yang mengandung kromosom x yang membawa gen buta
warna. Hasilnya adalah anak perempuan buta warna
d. satu spermatozoon yang mengandung kromosom y akan membuahi satu sel telur
yang mengandung x yang membawa gen buta warna. Hasilnya adalah anak laki-laki
buta warna.

Jadi perkawinan anatara pria yang sakit dengan wanita heterozygot secara rata-rata akan
menghasilkan anak-anak perempuan normal, anak perempuan sakit, anak laki-laki
normal dan anak laki-laki sakit dengan perbandingan yang seimbang. Semua anak yang
kelihatannya normal tentu saja kenyataannya heterozygot.

7. Apakah buta warna berhubungan dengan mitosis atau miosis?

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 92


Gen buta warna hanya terdapat pada sex-linked sehingga tidak berhubungan dengan
pembelahan mitosis tetapi hanya berhubungnan dengan pembelahan miosis.

8. Apakah buta warna diwariskan melalui gen dominan atau gen resesif?

Penyakit buta warna adalah disebabkan oleh adanya gen resesif buta warna yang
terdapat pada kromosom x (sex–linked) dan bukan gen dominan. Sehingga wanita akan
menderita buta warna bilamana kedua kromosom x yang homolog memiliki gen resesif
tersebut (disebut homozygot), dan wanita yang hanya salah satu alel/salah satu
pasangan kromosom x saja yang mengandung gen resesif buta warna maka wanita
tersebut tidak menderita buta warna tetapi wanita tersebut bersifat karier. Berbeda
dengan pria yang hanya mengenal heterozygot karena hanya memiliki satu kromosom x
sehingga bilamana kromosom x tersebut mengandung gen buta warna maka dipastikan
pria tersebut menderita buta warna.

9. Apakah gen buta warna dapat diwariskan ke anak laki-laki menderita buta warna dari
ayah yang normal?

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 93


Step 4 : Kerangka Konsep

miosis

disjunction normal Non disjunction

fertilisasi Sel somatik Sel kelamin

Gen dominan Gen resesif


1.Trisomi 21 1. Trisomy 23 XXY
2. Trisomy 13 2. Klinefelter yndrome,
3. Patau's Syndrome 3. Trisomy 23 XYY,
Wanita : Wanita : homozygote 4. Edward's Syndrome Trisomy 4.Pria infertil47 xyy
dan heterozygote of chromosome 18 5.Wanita X tripel 47 xxx
homozygote dan 5. Trisomy 13 Patau's 6.Wanita Sindroma 45 x turner
Laki-laki :
heterozygote Tidak ada resesif Syndrome
Laki-laki : homozygote tetapi hanya
Heterozygot heterozygot

♀ normal ♀ heterozygot ♀ homozygot ♀ heterozygot ♀ homozygot


Vs Vs Vs Vs Vs
♂ normal ♂ normal ♂ normal ♂ buta warna ♂ buta warna

Semua ♂ buta warna, Seimbang ♂ ♂ buta warna, ♂ buta warna,


anaknya ♂ normal, ♀ buta warna ♂ normal, ♀ ♀ butawarna
bebas normal , ♀ dengan butawarna, ♀
buuta heterozygot ♀ heterozygote heterozygot
warna (masing-masing
50%)

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 94


Step 5 :

1. Mengetahui jumlah dan struktur kromosom


2. Mengetahui tentang kelainan kromosom (chromosomal disorders)
3. Mengetahui macam-macam kelainan genetik yang terkait kromosom somatik (somatic-
linked)
4. Mengetahui macam-macam kelainan genetik yang terkait kromosom kelamin (sex-linked)

Daftar Pustaka :
1. Roberts, J.A.F and Pembresy, M.E. (1985). Pengantar Genetika kedokteran ( an
introduction to medical genetics). Alih bahasa dr Hartono. Edisi 8. penerbit buku
kedokteran EGC. Hal : 1 – 92; 203 – 252
2. Emery, A. E. H,(1985). Dasar – dasar genetika kedokteran. Alih bahasa dr hartono.
Editor prof dr. Soemiati Ahmad Muhammad. Penerbit Yayasan Essentia Medica. Hal:
1- 102
3. Murray, R.K. 2000. Dasar biokomia dan genetika penyakit. Biokimia Harper. Edisi
25. Penerbit buku kedokteran EGC. Hal : 774 - 789
4. GENETIC DISORDER CHROMOSOME MAPS http://www.google.co.id/search?
hl=id&q=GENETIC+DISORDER+CHROMOSOME+MAPS&btnG=Telusuri+denga
n+Google&meta=
5. William A. Strohl, Harriet Rouse, Bruce D. Fisher, Richard A. Harvey, Pamela C.
Champe. Lipincott’s Illustrated Reviews : Microbiology : 115 - 135

II. KULIAH :

1. Kuliah Kode Genetik dan replikasi DNA


Pemateri : Dr. Abdillah Iskandar, Mkes

Sasaran Belajar :

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang kode genetik


 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses Replikasi DNA
Sumber Belajar :

2. Kuliah Teknologi Gen


Pemateri : Drg. Masyhudi, Msi

Sasaran Belajar :

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang proses ekspresi gen


 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang teknologi gen
Sumber belajar :

III. PRAKTIKUM

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 95


Topik : Pemeriksaan Gender

Sasaran Belajar :

 Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan gender


REFERENSI :
1. Roberts, J.A.F and Pembresy, M.E. (1985). Pengantar Genetika kedokteran ( an introduction
to medical genetics). Alih bahasa dr Hartono. Edisi 8. penerbit buku kedokteran EGC. Hal : 1
– 92; 203 – 252
2. Emery, A. E. H,(1985). Dasar – dasar genetika kedokteran. Alih bahasa dr hartono. Editor
prof dr. Soemiati Ahmad Muhammad. Penerbit Yayasan Essentia Medica. Hal: 1- 102
3. Murray, R.K. 2000. Dasar biokomia dan genetika penyakit. Biokimia Harper. Edisi 25.
Penerbit buku kedokteran EGC. Hal : 774 - 789
4. GENETIC DISORDER CHROMOSOME MAPS http://www.google.co.id/search?
hl=id&q=GENETIC+DISORDER+CHROMOSOME+MAPS&btnG=Telusuri+dengan+Goo
gle&meta=
5. Strohl et al. 2001. Lippincott’s Illustrated Reviews: Microbiology. 1st edition. A Wolters
Kluwer Company. pp. 115-135

IV. KETERAMPILAN MEDIK (3 x 50 menit):


Materi Belajar :
 Keterampilan Komunikasi :
 Keterampilan Pemeriksaan Fisik :
 Keterampilan Prosedural .
Sumber belajar : Modul Keterampilan Medik

MODUL 5
NEOPLASIA

SASARAN PEMBELAJARAN :
1. menjelaskan ekspresi DNA dan komponen sel yang terlibat dalam proses tersebut
2. menjelaskan mutasi genetik, penyebab, dan implikasinya
3. menjelaskan proses karsinogenesis dan peran karsinogen

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 96


4. menjelaskan dasar penggolongan obat
5. menjelaskan prinsip obat yg bekerja pd sistem syaraf otonom
6. menjelaskan dasar-dasar personal treatment dan personal drug
7. menjelaskan dan mengidentifikasi morfologi tumor ganas dan jinak
8. menjelaskan dasar pemilihan obat dan penulisan resep
9. menjelaskan keterkaitan ilmu kesehatan masyarakat dalam memperbaiki derajat
kesehatan masyarakat.

KEGIATAN PEMBELAJARAN

1. TUTORIAL PBL
SKENARIO : Ca. Mammae
Alien (25 tahun) menjadi cemas setelah membaca artikel mengenai kanker payudara di
majalah. Ia mendatangi dr. Comel untuk berkonsultasi.
Alien : Selamat malam dok,,,,,
Dr. Comel : Selamat malam, apa yang bisa saya bantu?..
Alien : Saya ingin berkonsultasi mengenai kanker payudara dok. Saya cemas
karena ibu saya juga menderita kanker payidara, sementara kabarnya
kanker ini menurun ya.
Dr. Comel : Bagus sekali mbak Alien berusaha mencari informasi seperti ini, karena
pencegahan adalah langkah terbaik. Betul memang, wanita yang mempunyai
ibu, nenek, atau saudara penderita kanker payudara mempunyai
kecenderungan lebih besar untuk terkena kanker ini.
Alien : Bagaimana bisa dok?
Dr. Comel : Menurut penelitian, ada hubungannya dengan mutasi DNA yang
diturunkan.
Alien : ooo….DNA ya. Sama dengan gen kan? Lalu mengapa kanker ini bisa
tumbuh dengan cepat ya?
Dr. Comel : Ya memang berbeda dengan sel normal dalam hal kemampuan membelah.
Bentuknya juga berbeda.
Alien : Kalau saya sudah hidup sehat, apa tidak berkurang resikonya? Adakah
makanan yang harus dihindari?
Dr. Comel : Tentu akan berkurang resikonya. Makanan yang dibakar seperti sate
terbukti menjadi sumber zat penyebab kanker yang disebut PAH, sehingga
harus dihindari.
Alien : Mengapa kalau dibakar muncul PAH-nya? Kok bisa menyebabkan kanker?
Ada hubungan dengan DNA tadi? Maaf ya dok, kalau saya banyak bertanya.
Dr. Comel : Tidak apa-apa…. Akan saya jawab agar mbak Alien lebih jelas bagaimana
pencegahannya.

STEP 1 : IDENTIFIKASI KATA SULIT


 Kanker
 DNA

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 97


 Mutasi DNA
 PAH

STEP 2 : PERTANYAAN YANG MUNGKIN TIMBUL


 Apa yang dimaksud kanker payudara?
 Bagaimana hubungan PAH dengan kanker payudara?
 Mengapa muncul PAH pada daging yang dibakar?
 Daging apa saja yang bila dibakar menghasilkan PAH?
 Apa saja penyebab kanker ?
 Apa yang dimaksud mutasi DNA?
 Apa penyebab mutasi DNA?
 Bagaimana hubungan PAH dengan mutasi DNA?
 Apa hubungan mutasi DNA dengan kanker?
 Apa beda kanker dengan jaringan normal?

STEP 3 : PENJELASAN ATAS PERTANYAAN YANG MUNGKIN TIMBUL


Untuk memudahkan pemahaman mahasiswa sebaiknya pembahasan dilakukan dengan
urutan sesuai penjelasan ini. Secara garis besar, konsep yang harus dikuasai oleh
mahasiswa adalah
1. Proses ekspresi DNA, yaitu proses produksi protein yang dikodekan oleh DNA.
Proses ini terdiri dari dua tahap yaitu transkripsi dan translasi. Transkripsi adalah
proses mengkopi segmen DNA menjadi RNA. Translasi adalah proses
menerjemahkan RNA menjadi protein
2. Mutasi DNA yaitu merupakan proses perubahan DNA dari yang normal. Mutasi DNA
dapat terjadi secara spontan atau diinduksi oleh faktor tertentu (kimia, radiasi,
virus). Tidak semua mutasi membawa akibat klinis. Mutasi DNA dapat
mengakibatkan kematian, kecacatan, atau kanker pada manusia, karena adanya
mutasi mempengaruhi fungsi materi genetik yang membawa sifat tertentu melalui
protein yang dihasilkannya (melalui proses ekspresi DNA).
3. Karsinogenesis, yaitu proses perkembangan kanker. Proses ini terjadi secara
bertahap melibatkan fase inisiasi, promosi, dan progresi. Fase inisiasi disebabkan
oleh paparan faktor tertentu ( penginduksi mutasi genetik terutama DNA) misalnya
kimia, radiasi dan virus. Pada fase promosi terjadi aktivasi oncogen, lalu pada fase

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 98


progresi terjadi pertumbuhan tumor malignan yang ditandai karakteristik fisik
massa, jaringan, dan sel malignan. Untuk dapat berkembang menjadi kanker harus
melewati tahapan ini.
4. Oncogenesis, yaitu proses transformasi genetik dari sel normal menjadi sel kanker.
Proses ini merupakan bagian dari fase inisiasi karsinogenesis. Oncogenesis
melibatkan mutasi gen pengatur pertumbuhan (growth-regulating genes).
Normalnya pertumbuhan sel dikontrol oleh gen sehingga sel yang potensial untuk
menjadi ganas dieliminasi oleh gen supresor tumor (tumor-supressing gen)
5. Karsinogen adalah agen yang menginduksi terjadinya kanker. Karsinogen dapat
bertindak sebagai inisiator atau promoter. Secara garis besar ada tiga jenis
karsinogen yaitu kimia, fisik, dan viral. Selain itu juga ada faktor herediter dan defek
imun yang berperan dalam proses karsinogenesis.

Konsep yang sudah dijelaskan tersebut merupakan kerangka berpikir utama, yang
kemudian dapat diperluas menurut penjelasan berikut ini.

PROSES EKSPRESI DNA

Struktur, fungsi, perkembangan, dan reproduksi organisme tergantung pada proteinyang


terdapat pada tiap sel dan jaringan. Tiap protein tesusun oleh satu atau lebih rantai asam
amino yang disebut polipeptida. Susunan asam amino pada polipeptida dikode oleh gen.
Apabila suatu protein dibutuhkan oleh sel maka kode genetik untuk asam amino protein
tersebut harus dibaca dari DNA dan kemudian diproses sampai menjadi protein.
Untuk itu Crick mengemukakan dua tahapan ekspresi gen yang disebut Central Dogma.
Tahapan trsebut terdiri dari Transkripsi dan Translasi

DNA RNA Protein


Transkripsi Translasi
 Transkripsi adalah proses mengkopi segmen DNA ke RNA
 Translasi adalah proses menerjemahkan RNA menjadi protein

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 99


A. TRANSKRIPSI: DNA → RNA

DNA berfungsi sebagai cetakan untuk sintesa RNA.

Tahap-tahap Transkripsi

 Protein yang disebut faktor transkripsi berikatan pada promoter, umumnya pada
sisi 5’ DNA yang akan ditranskripsi.
 Enzim RNA polymerase, berikatan pada kompleks faktor transkripsi, dan bekerja
sama membuka DNA double helix.
 RNA polymerase berjalan sepanjang salah satu rantai DNA, dengan arah dari 5’ ke 3’.
 RNA polymerase merakit nucleotida membentuk mRNA.
 Setiap nukleotida ditambahkan ke mRNA sesuai aturan ‘pasangan basa’, yaitu G
dengan C, dan T dengan A. Tetapi untuk A dari DNA akan dipasangkan dengan U
(ingat!! pada RNA tidak ada T).
 Saat ranskripsi lengkap, mRNA dilepaskan dari RNA polymerase dan kemudian
dilepaskan dari DNA.

B. TRANSLASI: RNA --> Protein

Tahap-tahap Translasi

1. Inisiasi

 Ribosom unit kecil berikatan pada ujung 5’ mRNA, kemudian berjalan dengan arah
5’ ke 3’ sampai berjumpa dengan kodon ‘start’ yaitu AUG’.
 Dari kodon ‘start’ ini, ribosom unit kecil akan bergabung dengan ribosom unit besar
dan tRNA initiator. tRNA initiator membawa asam amino Methionine, dengan
berikatan dengan P site ribosom.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 100


2. Elongasi

 t RNA kedua membawa pasangan


basa untuk kodon selanjutnya,
dengan berikatan pada A site dari
ribosom.
 Asam amino yang pertama yaitu
Methionine berikatan kovalen
dengan asam amino selanjutnya.
 tRNA initiator dilepaskan dari P site
 Ribosom bergerak ke kodon
selanjutnya, sehingga tRNA kedua
bergese rke P site. A site terbuka
untuk ditempati oleh tRNA ketiga
yang membawa asam amino baru.
 Peristiwa ini berlanjut terus
sehingga didaptkan satu rangkaian
asam amino (protein).

3. Terminasi

 Akhir dari translasi terjadi saat ribosom mencapai kodon ‘stop’ (UAA atau UAG atau
UGA).
 Tak ada tRNA yang sesuai dengan kodon ‘stop’, tetapi Protein release factor dapat
berikatan dengan kodon ‘stop’ ini dan melepaskan ribosom dari polipeptida.
 Ribosom akan terpisah kembali menjadi unit besar dan kecil. Dan kemudian dapat
digunakan kembali dalam sintesa protein berikutnya.

MUTASI DNA

Mutasi DNA adalah proses dimana sequence (rantai) pasangan basa pada DNA berubah,
disebabkan oleh kesalahan saat replikasi DNA. Suatu sel yang mengalami mutasi disebut

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 101


sel mutan. Apabila yang mengalami mutasi adalah sel somatik, maka hanya
mempengaruhi individu yang mengalami mutasi tersebut dan tidak diturunkan ke
generasi selanjutnya. Mutasi jenis ini disebut mutasi somatik. Sebaliknya, mutasi pada
sel reproduksi dapat diturunkan pada generasi selanjutnya, menghasilkan individu
dengan mutasi pada sel somatik maupun sel reproduksi. Mutasi ini disebut mutasi
germ-line.

Mutasi DNA dapat terjadi pada satu atau beberapa pasangan basa DNA. Terdapat dua
mekanisme yaitu:

A. Substitusi pasangan basa

Terdapat dua tipe yaitu :

 Transisi : substitusi purin dengan purin atau pirimidin dengan pirimidin.


 Transversi : substitusi purin dengan pirimidin atau pirimidin dengan purin.

B. Delesi atau insersi pasangan basa

1. delesi : penghilangan satu atau beberapa pasangan basa.

2. insersi : penambahan satu atau beberapa pasangan basa

Pengaruh dari mutasi pasangan basa tergantung pada jenis mutasi dan lokasinya.
Terdapat beberapa kemungkinan :

1. Mutasi Missense

Pada mutasi missense, nukleotida baru merubah kodon sehingga menghasilkan jenis
asam amino yang berbeda. Misalnya pada sickle cell anemia, Adenin pada nukleotida ke-
17 dari gen β-hemoglobin digantikan oleh thymin, sehingga kodon GAG (untuk asam
glutamat) berubah menjadi GTG (untuk valin). Dengan demikian asam amino yang
seharusnya asam glutamat digantikan dengan valin.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 102


Contoh : DNA : AGA GTT TTT AAA TGC → AGA GTT CTT AAA TGC

mRNA : UCU CAA AAA UUU ACG→ UCU CAA GAA UUU ACG

As. Amino: Ser - Gln – Lys- Phe – Thr → Ser - Gln – Glu –Phe - Thr

2. Mutasi Nonsense

Pada mutasi nonsense, nukleotida baru merubah kodon yang mengkodekan asam amino
tertentu menjadi salah satu kodon ‘stop’ (UAA, UAG, UGA). Dengan demikian translasi
mRNA akan berhenti secara prematur, sehingga protein yang dihasilkan tidak lengkap
dan tidak dapat berfungsi.

Contoh : DNA : AGA GTT TTT AAA TGC → AGA GTT ATT AAA TGC

mRNA : UCU CAA AAA UUU ACG→ UCU CAA UAA UUU ACG

As. Amino: Ser - Gln – Lys- Phe – Thr → Ser - Gln – Stop

3. Mutasi Silent /Sense

Sebagian besar asam amino dikodekan oleh beberapa kodon yang berbeda. Contohnya,
bila basa ketiga dari kodon UCU (untuk serine) berubah menjadi basa lain jenis apapun,
maka akan tetap menghasilkan serine. Hal ini karena serine dikodekan oleh kodon UCA,
UCU, UCG, ataupun UCC. Mutasi yang seperti ini tidak menghasilkan perubahan produk
(protein) sehingga disebut mutasi silent

Contoh : DNA : AGA GTT TTT AAA TGC → AGA GTT TTC AAA TGC

mRNA : UCU CAA AAA UUU ACG→ UCU CAA AAG UUU ACG

As. Amino: Ser - Gln – Lys- Phe – Thr → Ser - Gln – Lys –Phe - Thr

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 103


4 Mutasi Frameshift

Delesi dan Insersi mengakibatkan perubahan reading frame (bingkai pembacaan) pada
saat translasi.

1. delesi : penghilangan satu atau beberapa pasangan basa.

Contoh : DNA : AGA GTT TTT AAA TGC.. → AGA GTT TTA AAT GC...

mRNA : UCU CAA AAA UUU ACG..→ UCU CAA AAU UUA CG..

As. Amino: Ser - Gln – Lys- Phe – Thr → Ser - Gln – Asn –Leu - ....

2. insersi : penambahan satu atau beberapa pasangan basa

Contoh : DNA : AGA GTT TTT AAA TGC.. → AGA GTT TTT CAA ATG C..

mRNA : UCU CAA AAA UUU ACG..→ UCU CAA AAA GUU UAC G..

As. Amino: Ser - Gln – Lys- Phe – Thr.. → Ser - Gln – Lys –Val - Tyr-...

Mutasi frameshift mengubah semua asam amino di rangkaian selanjutnya, sehingga


menghasilkan protein yang jauh berbeda dengan protein normal dan tidak berfungsi.
Bahkan seringkali mutasi frameshift menghasilkan kodon ‘stop’ yang menghentikan
translasi protein secara prematur.

KARSINOGENESIS
Karsinogenesis, atau perkembangan kanker, merupakan proses bertahap yang melibatkan
aspek molekuler transformasi sel dan keseluruhab proses pertumbuhan dan penyebabsan
massa tumor. Seringkali kanker terjadi karena interaksi antara berbagai faktor resiko atau
paparan berulang satu jenis karsinogen (agen penyebab kanker). Faktor resiko yang
berhubungan dengan kanker adalah hereditas, karsinogen kimia dan lingkungan, virus, dan
defek imun.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 104


A. Proses karsinogenesis
Transformasi sel normal menjadi sel kanker oleh agen karsinogen merupakan proses yang
bertahap, yang dapat dibagi menjadi tiga fase : (1) inisiasi, (2) promosi, dan (3) progresi.
Fase inisiasi melibatkan paparan sejumlah karsinogen terhadap sel yang menyebabkan
perubahan gen irreversible. Sel yang paling rentan mengalami mutasi genetic adalah sel
yang aktif mensintesa DNA. Karsinogen bisa berupa agen kimia, fisik, atau biologi. Pada fase
promosi terjadi induksi pertumbuhan yang lebih cepat dan tak terkontrol pada sel yang
telah mengalami inisiasi. Fase promosi ini bersifat reversible bila promoter-nya
dihilangkan. Sel yang telah diinisiasi mungkin baru mengalami fase promosi setelah
bertahun-tahun (fase laten) Fase laten ini tergantung pada jenis karsinogen, dosis, dan
karakteristik sel target. Banyak jenis karsinogen kimia yang sekaligus menyebabkan inisiasi
dan promosi transformasi sel neoplastik. Fase progresi adalah proses dimana sel tumor
mengalami perubahan fenotip maligna, yang akan menyebabkan kemampuan invasi,
metastase, tumbuh secara otonom, dan ketidak-stabilan karyotip

B. Oncogenesis:
Istilah oncogenesis merujuk pada mekanisme genetic dimana sel normal bertransformasi
menjadi sel kanker.Proses ini melibatkan mutasi gen pengatur pertumbuhan (growth-
regulating genes). Normalnya pertumbuhan sel dikontrol oleh gen sehingga sel yang
potensial untuk menjadi ganas dieliminasi oleh gen supresor tumor (tumor-supressing
gen).Transformasi dari sel normal menjadi sel kanker adalah multifaktorial, melibatkan
pewarisan gen pembawa faktor resiko kanker dan faktor lingkungan seperti kimia, radiasi,
dan virus.

Terdapat empat jenis gen yang mengontrol pertumbuhan dan replikasi sel :
 Protooncogen. Gen ini berperan dalam regulasi pertumbuhan dan proliferasi sel
normal. Protein yang dihasilkannya dapat berperan sebagai faktor pertumbuhan
(growth factor). Keterlibatan gen ini dalam proses kanker berhubungan dangan
mutasi yang mengubah proto-oncogen menjadi oncogen pada jaringan tertentu.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 105


 Anti-oncogen (Cancer suppressor gene) menghambat proliferasi sel pada tumor.
Apabila gen ini diaktifasi, sinyal yang normalnya menghambat proliferasi hilang,
sehingga sel tumbuh tidak terkontrol
 gen yang mengontrol kematian sel terprogram (apoptosis)
 gen yang bertugas mengatus perbaikan DNA yang rusak. (gen DNA repair). Gen ini
mempengaruhi proliferasi dan kelangsungan hidup sel secara tidak langsung
melalui perbaikan kerusakan pada gen lain (termasuk proto-oncogen, anti-
oncogen, dan gen yang mengontrol apoptosis

JENIS KARSINOGEN
Karsinogen adalah agen yang menginduksi terjadinya kanker. Karsinogen termasuk
golongan mutagen, tetapi tidak semua mutagen menyebabkan kanker. Mutagen hanya
menginduksi mutasi yang belum tentu membawa implikasi klinis atau mungkin
menyebabkan implikasi selain kanker.

1. KARSINOGEN KIMIA
Karsinogen kimia dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu bekerja langsung
(direct-acting) yang tidak membutuhkan aktivasi untuk menjadi karsinogen, dan
tidak bekerja langsung (indirect-acting) yang aktif setelah dimetabolisme.
Karsinogen kimia ada yang bertindak sebagai inisiator, promoter, atau keduanya.
Sebagai inisiator, karsinogen dalam bentuk yang sangat reaktif (missal elektrofil dan
radikal bebas) berikatan dengan DNA, RNA, atau protein tertentu. Akibatnya terjadi
mutasi sel atau perubahan sintesa enzim dan protein struktural sel. Bila mutasi ini
terjadi pada DNA yang berfungsi untuk mengontrol pertumbuhan dan perbaikan sel,
maka peluang untuk timbulnya kanker meningkat. Beberapa karsinogen kimia
berperan sebagai promoter, yang bila berdiri sendiri hanya sedikit atau tidak
menginduksi kanker. Promoter ini mungkin berperan melalui perubahan ekspresi
materi genetic, peningkatan sintesa DNA, peningkatan amplifikasi gen (misalnya
jumlah kopi DNA yang dihasilkan), dan mengubah komunikasi intersel. Saat ini

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 106


dipercayai bahwa beberapa bahan kimia dari diet merupakan penyebab kanker.
Contohnya:
Polycyclic Aromatic Hydrocarbon
 Jelaga, aspal, minyak bumi
 Asap rokok
Bahan Industri
 Anilin dan pewarna azo
 Senyawa Arsenik
 Asbestos
 β-Naphthylamine
 Benzene
 Benzo[a]pyrene
 Carbon tetrachlorida
 Insektisida, fungisida
 Senyawa Nikel dan kromium
 Polychlorinated biphenyls
 Vinyl chlorida
Makanan dan obat
 Makanan yang diasap
 Nitrosamin
 Aflatoxin B1
 Diethylstilbestrol
 Obat Antikanker (misal , alkylating agent, cyclophosphamide,
chlorambucil, nitrosourea)

Efek karsinogen biasanya tergantung pada dosis, semakin besar dosis atau semakin
panjang durasi paparan maka semakin tinggi resiko timbulnya kanker. Umumnya
diperlukan waktu 5 – 30 tahun dari masa pajanan karsinogen hingga pertumbuhan
kanker.

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 107


2. INFEKSI VIRUS
Virus,kel kecil berisi materi genetik (DNA atau RNA) memasuki sel dan bergabung
dengan DNA atau mengambil alih control sel untuk menghasilkan protein virus
tersebut. Virus DNA menyandikan protein yang berikatan dan menon-aktifkan
protein regulator tertentu (misalnya gen supresor tumor) yang terlibat dalam
regulasi proliferasi sel dan apoptosis. Jenis kanker yang jelas berhubungan dengan
infeksi virus sangat terbatas. Walaupun demikian, diperkirakan infeksi virus
bertanggung jawab atas 15% kanker pada manusia. Hubungan yang paling kuat
antara keberadaan virus dan perkembangan kanker adalah
 Human T-cell leukemia virus type I (HTLV-I) (RNA retrovirus) dan T-cell
leukemia/ lymphoma
 HPV (DNA) dan carcinoma cervix
 Hepatitis B virus (HBV) (DNA) dan hepatitis C virus (HCV) (RNA) dan primary
hepatocellular carcinoma
 Epstein-Barr virus (EBV) dan lymphoma dan nasopharyngeal carcinoma
 HHV 8 (DNA) dan Kaposi sarcoma.
3. RADIASI
Efek radiasi ionisasi dalan karsinogenesis telah dibuktikan pada korban bom atom,
pekerja industri, ilmuwan, dan dokter yang terpajan. Jenis kanker yang sering
ditemui adalah kanker kulit dan leukemia. Jenis kanker yang muncul tergantung
pada dosis radiasi, jenis kelamin, dan usia saat mendapat paparan.

Faktor lain yang mendukung terjadinya kanker adalah


 Herediter
 Defek imunologi

STEP 4 KERANGKA KONSEP

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 108


PENJELASAN TERHADAP SKENARIO :

Adanya carcinogen menyebabkan mutasi DNA. Mutasi ini menyebabkan perubahan protein
yang diekspresikan oleh DNA tersebut. Karena proteinnya berubah maka fungsinyapun
kemungkinan besar berubah (umumnya perubahan tersebut menyebabkan protein tidak
bisa berfungsi). Mutasi DNA juga dapat mengaktifkan DNA yang semula tidak aktif,
misalnya proto-onkogen. Apabila yang mengalami mutasi adalah gen supresor tumor,
onkogen, pengatur apoptosis, atau perbaikan DNA maka kemungkinan besar mutasi ini
menyebabkan munculnya kanker. Diet yang paling berbahaya bukan daging merah atau
putih, tapi daging hitam. Daging yang dibakar mengandung karsinogen paling poten yaitu
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH).

Saat api menyentuh lemak, ia akan meleleh dan menetes ke api, menguap dan menghasilkan gas
berbahaya yang akan menempel lagi ke daging. Walaupun semua senyawa memiliki suhu

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 109


tertentu untuk menguap, lemak hewan membutuhkan suhu yang sangat tinggi. Saat menguap,
mereka tidak hanya menjadi toksik tapi juga sangat mudah diserap oleh tubuh. PAH dapat
bekerja sebagai inisiator mauoun promoter sehingga pajanan PAH saja dapat menginduksi
seluruh tahapan karsinogenesis.

Step V : Learning Objective


 Menjelaskan jenis gen yang berperan dalam kanker
 Menjelaskan mutasi DNA, jenis, implikasinya
 Menjelaskan proses terjadinya kanker (karsinogenesis)
 Menjelaskan jenis karsinogen dan perannya dalam karsinogenesis

Sumber belajar :

1. Porth Carol, Gaspard Kathryn J. 2003. Essentials of Pathophysiology. Lippincott


Williams & Wilkins. Chapter 3 : Genetic control of cell function, Chapter 5 :
Alteration in cell growth and replication : Neoplasia
2. Strayer David S. Rubin Raphael. 2006. Rubin's Pathology : Clinicopathologic
Foundations of Medicine 5th edition, Lippincott Williams & Wilkins. Chapter 5 :
Neoplasia

II. KULIAH

1. Kuliah Mutasi Genetik (2 x 50 menit).


Pemateri :
Sasaran pembelajaran :
1. Menjelaskan fungsi materi genetik (termasuk fungsi protein yang dihasilkan
dalam ekspresi DNA)
2. Menjelaskan jenis mutasi genetik
3. Menjelaskan penyebab mutasi genetik
4. Menjelaskan implikasi klinik mutasi genetik
5. Menjelaskan dasar diagnosa mutasi genetik

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 110


Sumber belajar :
 …………………….

2. Kuliah Dasar-dasar neoplasia ( 2 x 50 menit).


Pemateri :……………….
Sasaran pembelajaran
1. Menjelaskan tentang karakteristik tumor jinak dan ganas
2. Menjelaskan tentang pertumbuhan tumor, invasi dan metastasis
3. Menjelaskan tentang prinsip staging dan grading tumor
4. Menjelaskan tentang prinsip diagnosa tumor

Sumber Belajar :

4. Kuliah Dasar-Dasar Kesehatan Masyarakat

Pemateri : Tim IKM

Sasaran Belajar :

 Batasan, konsep dasar dan peran ilmu kesehatan masyarakat dalam


memperbaiki kesehatan masyarakat,
 Pengertian sehat, derajat kesehatan dan pencegahan
 Faktor determinan derajat kesehatan
 Indikator derajat kesehatan
 Tingkat pelayanan kesehatan dan upayanya

5. Kuliah Dasar-dasar Personal Treatment dan Personal Drug ( 1 x 50 menit).

Pemateri : …………………………….
Sasaran pembelajaran :…………………..

6. Kuliah MKDU Pancasila (3 x 50 menit).

Pemateri :……………………….

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 111


Sasaran pembelajaran :……………..

III. PRAKTIKUM (3 x 50 menit):


Neoplasma

Sasaran Pembelajaran : ----------------------------.

Sumber belajar:
 …………………………………….

III. KETERAMPILAN MEDIK (3 x 50 menit):


Materi Belajar :
 Keterampilan Komunikasi :
 Keterampilan Pemeriksaan Fisik :
 Keterampilan Prosedural .

Sumber belajar :
 Modul Keterampilan Medik

EVALUASI
Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 112
Evaluasi dilakukan dalam bentuk Formatif dan Sumatif. Evaluasi formatif dilakukan melalui
observasi diskusi kelompok (kedisiplinan, penguasaan verbal dan motorik, serta kesiapan bahan diskusi),
laporan praktikum, dan laporan tertulis dari pleno. Evaluasi sumatif meliputi ujian blok meliputi ujian
modul dan ujian praktikum. Metode penilaian terdiri dari check list (formatif) dan MCQ atau short
answer (sumatif).
Evaluasi dilakukan secara holistik terhadap aspek kognitif, keterampilan (psikomotor) dan
afektif (attitude). Evaluasi pengetahuan merupakan evaluasi kognitif mencakup hanya sekedar “recall”,
pemahaman sampai kemampuan pemecahan masalah. Evaluasi keterampilan mencakup berbagai
keterampilan psikomotor yang sangat dibutuhkan untuk membentuk praktisi kesehatan yang kompeten.
Evaluasi keterampilan medik dilakukakan setiap akhir blok dalam bentuk responsi dan akhir 3 blok dalam
bentuk OSCE (Objective Structured Clinical Examination). Evaluasi perilaku meliputi kualitas personal
dan perilaku tentang kesehatan, perilaku terhadap pasien dan teman sejawatnya.

Berikut ini adalah penilaian yang diberikan kepada mahasiswa :


Cara Penilaian Bobot

A. Formatif : 40%
1. Observasi diskusi kelompok 15%
2. Laporan praktikum 10%
3. Laporan Pleno 15%

B. Sumatif : 60%
1. Ujian Modul 50%
2. Ujian Praktikum 10%

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 113


MINGGU 1 –RADANG & PENYEMBUHAN
WAKTU 08-09-2014 09-09-2014 10-09-2014 11-09-2014 12-09-2014
07.00

08.00 Kuliah Pengantar (dr. Skillslab A Kuliah DKK I Pleno


Endang) Dr. Endang
09.00 DKK I Cell Injury
(dr. Eko) Dr. Eko
10.00 Dr. Nurul
Skillslab B Praktikum Adaptasi Sel BM BM
11.00 Kuliah (1x)
dan Sel Radang
BM Dasar-Dasar Bioetika
12.00 Kuliah (dr. C. Darby, Sp.F)

Mekanisme Adaptasi Sel


13.00
(dr. Eko)
BM Kuliah MKDU
14.00 Kuliah Kewarganegaraan
BM
15.00 Inflamasi Kronik
(dr. Nurul)

16.00

MINGGU 2 –EMBRIOGENESIS
WAKTU 15-09-2014 16-09-2014 17-09-2014 18-09-2014 19-09-2014
07.00

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 114


08.00 Kuliah Pengantar (dr. Skillslab A Kuliah DKK I Pleno
Marihot) Adhesi & Differensiasi Dr. Marihot
09.00 DKK I Sel
(dr. Nurul) Dr. Hary Nugroho
10.00 Dr. Eva Rachmi
Praktikum Sel dan
Skillslab B BM BM
Mitosis
11.00 Kuliah
BM Bahan Teratogenik
12.00 Kuliah (Tim Farmakologi)

Embryologi umum I
13.00
(dr.Eva)
BM Kuliah MKDU
14.00 Kuliah (1x)
Foetal membran (dr. Hary) Kewarganegaraan
BM
15.00

16.00

MINGGU 3 –ORGANOGENESIS
WAKTU 22-09-2014 23-09-2014 24-09-2014 25-09-2014 26-09-2014
07.00

08.00 Skillslab A Kuliah (1x) DKK I Pleno

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 115


Kuliah Pengantar (dr. Organogenesis 3 Dr. Hary Nugroho
Hary) (dr. Hary)
Dr. Eva
09.00 DKK I
Semua Tutor
10.00
Skillslab B Movie Play BM BM
11.00 Kuliah
Embriogenesis
BM Cloning & Inseminasi
12.00 Kuliah & Buatan (dr. C. Darby,
Organogenesis Sp.F)
Organogenesis I
13.00
(dr.Hary)
BM Kuliah MKDU
14.00 Kuliah Kewarganegaraan
BM
15.00 Organogenesis 2
(dr. Eva)

16.00

MINGGU 4 –POLA PEWARISAN SIFAT


WAKTU 29-09-2014 30-09-2014 01-10-2014 02-10-2014 03-10-2014
07.00

08.00 Kuliah Pengantar (dr. Skillslab A Kuliah DKK I Pleno


Swandari) Dasar Personal
Treatment & Personal Dr. Swandari
09.00 DKK I

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 116


Drug (Tim Drg. Masyhudi
Farmakologi)
10.00 Dr. Abdillah
Skillslab B Praktikum BM BM
11.00 Kuliah (1x)
Gender Penggolongan Obat &
BM
12.00 Kuliah Obat SSO (Tim
Kode genetik, Replikasi
Farmakologi)
DNA
13.00 dr. Abdillah, M.Kes.

BM Kuliah MKDU
14.00 Kuliah
Kewarganegaraan
BM Teknologi Gen
drg. Masyhudi, M.Si
15.00

16.00

MINGGU 5 –NEOPLASIA
WAKTU 06-10-2014 07-10-2014 08-10-2014 09-10-2014 10-10-2014
07.00

08.00 Kuliah Pengantar (dr. Skillslab A Kuliah (1x) DKK I Pleno


Hadi) Dr. Hadii
Dasar-dasar
09.00 DKK I
Neoplasma (dr. Eko) Dr. Eva Rachmi
10.00 Dr. Eko

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 117


Skillslab B Praktikum BM BM
11.00 Neoplasma Kuliah
BM Dasar Pemilihan Obat &
12.00 Kuliah (1x) Penulisan Resep

13.00 IKM
(dr. Swandari)
BM Kuliah MKDU
14.00 Kuliah Kewarganegaraan
BM Mutasi Genetik
15.00 (dr. Eva)

16.00

MINGGU 6 : UJIAN
WAKTU SENIN SELASA RABU KAMIS JUMAT
07.00

08.00 MODUL1 RESPONSI MODUL 3 UJIAN MODUL 5


KETRAMPILAN PRAKTIKUM
09.00 MEDIK
MODUL 2 MODUL 4
10.00

11.00

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 118


12.00

13.00

14.00

15.00

16.00

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 119


STRUKTUR ORGANISASI

Penanggung Jawab Utama : Pembantu Dekan I


Koordinator Blok : dr. Hary Nugroho, M.Kes.
Penangguang Jawab Modul : Dr. dr. Endang Sawitri, M.Kes.
dr. Marihot P., SpOG., M.Kes.
Dr. dr. Swandari, M.Kes.
dr. Hadi I., SpPA., M.Kes.

Sekretariat:
- Endah
- Vivi

NO Nama Tutor No Telp Keterangan


1 Dr. dr. Endang Sawitri, M.Kes. Kelompok 1
2 dr. Marihot P., SpOG., M.Kes. Kelompok 2
3 Dr. dr. Swandari, M.Kes. Kelompok 3
4 dr. Hadi I., SpPA., M.Kes. Kelompok 4
5 dr. Rahmat B., MPPH. Kelompok 5
6 dr. Yuniati, M.Kes. Kelompok 6
7. Dr. Hary Nugroho, M.Kes. Kelompok 7
8 dr. Novida A., SpOG., M.Kes. Kelompok 8

PENUTUP

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 120


Setelah mengikuti berbagai proses pembelajaran selama 6 minggu pada di blok 7 ini,
mahasiswa diharapkan bisa mencapai kompetensi- kompetensi dasar yang sudah ditentukan. Selain itu
apa yang dipahami di blok Cell Growth ini bisa dijadikan landasan ilmiah untuk tingkat selanjutnya
terutama dalam hal penegakan diagnosis, pengelolaan penyakit dan manajemen kesehatan secara
umum.
Di dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang terkait Cell Growth, mahasiswa diharapkan
mampu mengkaitkan dengan apa yang sudah dikuasai pada blok- blok sebelumnya. Hal dikarenakan
ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara blok satu dengan blok lainnya. Demikian juga pada
saat memasuki blok 8, apa yang dikuasai di blok 7 dan sebelumnya tidak boleh terlupakan.
Buku ini disusun dalam rangka memberikan panduan bagi tutor, instruktur, pengampu mata
kuliah serta mahasiswa sehingga memiliki kesamaan pandangan terhadap apa yang harus dicapai oleh
mahasiswa dalam blok sistem pencernaan ini.
Akhirnya, harapan penuysun mudah-mudahan buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua demi
kelancaran proses belajar mengajar di Fakultas kedokteran Universitas Mulawarman. Penyusun
sangat terbuka untuk menerima masukan- masukan yang konstruktif demi perbaikan kualitas buku ini
di masa yang akan datang.

LEMBAR EVALUASI
DISKUSI KELOMPOK KECIL I
PROGRAM PBL 2014/2015

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 121


FAKULTAS KEDOKTERAN UNMUL

Modul/Skenario :………………………….
Blok :………………………….
Kelompok :………………………….
Nama Fasilitator :…………………… ........
NIM Nama Mahasiswa NILAI
No
I II III TOTAL

Keterangan :
I. Kedisiplinan (Kehadiran)
5 = tepat waktu
4 = terlambat <5 menit
3 = terlambat ≥5 menit
2 = tidak hadir dengan pemberitahuan
1 = tidak hadir tanpa pemberitahuan
II. Interaksi Kerja Kelompok (Penguasaan Verbal dan motorik)
5 = responsif, aktif, menghargai pendapat orang lain, berbicara sesuai konteks diskusi
4 = pasif, tidak memulai pembicaraan tetapi dapat menanggapi sesuai konteks diskusi
3 = responsif, aktif, kurang menghargai pendapat orang lain, berbicara kurang sesuai konteks diskusi
2 = pasif, memperhatikan orang lain berbicara tetapi tidak bisa menanggapi
1 = tidak memperhatikan dan berbicara di luar konteks diskusi
III. Kesiapan Materi Diskusi
5 = mempunyai prior knowledge sesuai konteks diskusi dan mampu menjelaskan
4 = mempunyai prior knowledge sesuai konteks diskusi tetapi kurang mampu menjelaskan
3 = mempunyai prior knowledge kurang sesuai konteks diskusi
2 = prior knowledge hanya terfokus pada skenario
1 = tidak mempunyai prior knowledge

Nilai : Total skor x 100% Samarinda,......................2014


15 Fasilitator,
Nilai >70 % = memuaskan
Nilai <70% = perlu perhatian

(....................................)

LEMBAR EVALUASI
DISKUSI KELOMPOK KECIL II
PROGRAM PBL 2014/2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNMUL

Modul/Skenario :………………………….
Blok :………………………….

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 122


Kelompok :………………………….
Nama Fasilitator :…………………… ........
NIM Nama Mahasiswa NILAI
No
I II III TOTAL

Keterangan :
I. Kedisiplinan (Kehadiran)
5 = tepat waktu
4 = terlambat <5 menit
3 = terlambat ≥5 menit
2 = tidak hadir dengan pemberitahuan
1 = tidak hadir tanpa pemberitahuan
II. Interaksi Kerja Kelompok (Penguasaan Verbal dan motorik)
5 = responsif, aktif, menghargai pendapat orang lain, berbicara sesuai konteks diskusi
4 = pasif, tidak memulai pembicaraan tetapi dapat menanggapi sesuai konteks diskusi
3 = responsif, aktif, kurang menghargai pendapat orang lain, berbicara kurang sesuai konteks diskusi
2 = pasif, memperhatikan orang lain berbicara tetapi tidak bisa menanggapi
1 = tidak memperhatikan dan berbicara di luar konteks diskusi
III. Kesiapan Materi Diskusi
5 = tugas tertulis step 6 sesuai LO dan mampu menjelaskannya
4 = tugas tertulis step 6 sesuai LO tetapi kurang mampu menjelaskan
3 = tugas tertulis step 6 kurang sesuai LO
2 = mengerjakan tugas tertulis step 6 ‘asal-asalan’
1 = tidak mengerjakan tugas tertulis

Nilai : Total skor x 100% Samarinda,......................2014


15 Fasilitator,
Nilai >70 % = memuaskan
Nilai <70% = perlu perhatian
(....................................)

LEMBAR EVALUASI FASILITATOR


KELOMPOK DISKUSI KECIL (KELOMPOK TUTORIAL)
PROGRAM PBL PENUH 2014/2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM UNMUL

Modul :…………………………. Hari :................................


Blok :…………………………. Tanggal :................................
Skenario :…………………………. Waktu :.................................
NamaMahasiswa :………………………..... Semester :................
Nama Fasilitator :…………………… ........

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 123


No PERAN FASILITATOR DALAM sering kadang2 tidak
pernah
DISKUSI KELOMPOK KECIL
1 Hadir sesuai jadwal
2 Memahami apa yang harus dipelajari peserta
sesuai dengan tahapan Seven Jumps
3 Memberi stimulasi kepada mahasiswa
sehingga diskusi berjalan dinamis
4 Bertanya tanpa mengarahkan langsung pada
materi diskusi
5 Mendorong critical thinking melihat materi
yang ada secara komprehensif
6 Mengarahkan mahasiswa kepada pilihan
sumber informasi dan materi pembelajaran
7 Memberi mini lecturing (kuliah kecil)
8 Memberi umpan balik terhadap materi
diskusi
9 Berperan aktif dalam proses diskusi
10 Memberi kesimpulan hasil diskusi

Keterangan : Penilaian untuk fasilitator dilakukan mahasiswa pada minggu ke-3 atau akhir
skenario ke-3 (akhir diskusi ke-6)

Blok 7: Cell Growth – Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 124