Anda di halaman 1dari 20

GASTRORETENTIVE SWELLING

(Semester Ganjil 2018/2019)


Dosen: Rahmi Hutabarat, S.Si, M.Si. Apt.

Penyusun:

Peggy Elvira Septiani (16334003)


Putri Husna Mumtazah (16334005)
Desy Cristin Simanjuntak (16334006)
Oktarina (16334007)
Ni Nyoman Maitri Purwasih (16334016)
Tiara Novianti (16334017)
Villya Sukmaningsih (16334019)

FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAIN DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Pertama dan paling utama, Penulis ingin menyampaikan rasa syukur Kami yang
sebesar-besarnya kepada Allah S.W.T karena hanya atas rahmat dan hidayah-Nya lah Saya
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Rasa terima kasih tidak lupa Saya sampaikan kepada Dosen pengajar mata kuliah
Biofarmasi, Rahmi Hutabarat, S.Si, M.Si. Apt.Dengan bimbingan dan ajaran beliau-lah Penulis
dapat menyelesaikan makalah ini.

Secara umum makalah ini akan membahas mengenai perjalanan dan nasib sediaan obat
sustained release system swelling gastro retentive. Pada makalah ini penulis akan berusaha untuk
menjelaskan bagaimana fase-fase yang akan dilalui oleh sediaan obat dalam tubuh hingga
dengan reseptor dan memberikan efek khususnya pada sediaan GRDDS swelling sistem, mulai
dari fase farmasetika, fase farmakokinetika dan fase farmakodinamika. Penjelasan yang terdapat
di dalam makalah ini sebagian besar berdasarkan dari referensi yang berupa buku/textbook
literatur yang digunakan dalam pembelajaran serta dari beberapa jurnal ilmiah.

Untuk lebih memahami tentang sistem penghantaran obat yang dimodifikasi dengan
membuat obat tertahan di lambung dengan sistem mengembang (Swelling System), maka dalam
makalah ini akan di bahas lebih dalam tentang sistem penghantaran obat Swelling
Gastroretentive Drug Delivery System.

Demikianlah makalah ini Penulis susun sebagaimana mestinya, semoga dapat


bermanfaat bagi setiap pembaca. Respon dan saran pembaa sangat penulis nantikan demi
perbaikan dalam menulis dimasa yang akan datang. Amin…

Jakarta, Oktober 2018

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sediaan lepas lambat merupakan sediaan yang dirancang untuk melepaskan obat ke
dalam tubuh secara perlahan-lahan atau bertahap supaya pelepasannya lebih lama dan
memperpanjang aksi obat (Ansel,1989). Sehingga penggunaan obat yang sebelumnya 2 sampai 3
kali sehari dapat digunakan cukup satu kali sehari, atau bahkan berbulan-bulan (contohnya
implan KB) Sediaan lepas lambat mempunyai beberapa keuntungan dibanding dengan sediaan
konvensional antara lain efek terapi lama, efek obat lebih seragam, efek samping dapat dikurangi
dan mengurangi frekuensi pemberian obat dalam sehari.

Salah satu sediaan modifikasi lepas lambat adalah bentuk sediaan yang dapat
dipertahankan di dalam lambung disebut Gastro Retentive Drug Delivery System (GRDDS).
Keuntungan GRDDS diantaranya adalah mampu meningkatkan bioavailabilitas, mengurangi
obat yang terbuang dengan sia-sia, meningkatkan kelarutan obat-obatan yang kurang larut pada
lingkungan pH yang tinggi. GRDDS dapat memperbaiki pengontrolan penghantaran obat yang
memiliki jendela terapeutik sempit, dan absorbsinya terlalu cepat di lambung. GRDDS juga
memiliki kemampuan untuk menghantarkan obat-obatan secara lokal di dalam lambung (contoh:
antasid dan anti Helicobacter pylori) dan usus kecil bagian atas.

Beberapa metode/sistem yang dapat meningkatkan waktu tinggal obat di lambung


meliputi: sistem penghantaran bioadhesive yang melekat pada permukaan mukosa, sistem
penghantaran yang dapat meningkatkan ukuran obat dengan cara mengembang (Swelling
System) sehingga tertahan karena tidak dapat melewati sfingter pylorus dan sistem
penghantaran dengan mengontrol densitas obat (Floating System dan Sedimentation System)

Swelling drug delivery system merupakan sistem yang membuat obat tertahan di lambung
untuk waktu yang lama sehingga dapat meningkatkan bioavalabilitasnya. Selain itu, juga
meminimalkan iritasi mukosa lambung karena obat dilepaskan secara perlahan-lahan dan
terkontrol. Salah satu kunci agar sediaan dapat bertahan didalam lambung adalah sediaan
tersebut harus mampu menahan gerak peristaltik serta grinding dan churning mechanism
dalam lambung.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik sedian obat Swelling Gastroretentive Drug Delivery System?
2. Bagaimana mekanisme kerja dan nasib obat Swelling Gastroretentive Drug Delivery
System?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi pelepasan obat Swelling Gastroretentive Drug
Delivery System?
4. Bagaimana formulasi tablet gastroretentive swelling pada tablet metformin ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami karakteristik sediaan obat Swelling Gastroretentive Drug
Delivery System
2. Mengetahui dan memahami mekanisme kerja dan nasib obat Swelling Gastroretentive
Drug Delivery System
3. Mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi pelepasan obat Swelling
Gastroretentive Drug Delivery System
4. Mengetahui dan memahami formulasi tablet gastroretentive swelling pada tablet
metformin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Gastrointestinal

Saluran pencernaan merupakan saluran dengan panjang kira-kira delapan meter dalam
tubuh mulai dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus kecil (terdiri dari; duodenum, jejunum
dan ileum) dan usus besar (terdiri dari; cecum, appendix, kolon dan rektum). Fungsi saluran
pencernaan adalah untuk memperoleh nutrisi dan mengeliminasi sisa makanan memalui berbagai
proses fisiologis seperti; digestion, absorbsi, sekresi, mortalitas dan ekskresi.

Lambung merupakan organ pencernaan berbentuk seperti huruf J yang yang terletak pada
bagian kiri atas dari perut. Lambung dapat dibagi menjadi tiga daerah anatomi yaitu; cardia,
fundus dan body. Fungsi utama dari lambung adalah menyimpan dan mencampur makanan
dengan cairan sekresi lambung sebelum mengosongkannya ke dalam usus halus melalui pilorus
spingter. Pada saat kosong volume cairan lambung 50 ml, dan akan meningkat sebanyak satu
liter saat penuh dengan makanan.

Anatomi Lambung
Sumber:http://iahealth.net/wp-content/uploads/2008/11/stomach-picture-low-acid.jpg

Dinding dari lambung sampai usus besar memiliki struktur dasar jaringan yang sama,
lapisan yang berbeda dari lapisan luar ke dalam; lapisan otot longitudinal, lapisan otot circular
dan lapisan otot oblique. Lapisan otot yang ketiga (lapisan yang paling dalam) disebut oblique
muscle layer terletak dari proximal lambung, bercabang ke fundus dan body lambung. Perbedaan
lapisan otot halus ini betanggung jawab terhadap fungsi pergerakan saluran cerna seperti
pengosongan lambung dan transit usus.

Secara anatomis, lambung dibagi dalam 3 bagian; fundus, body dan antrum (pylorus).
Bagian proximal terdiri dari fundus dan body yang berperan sebagai reservoir untuk bahan-bahan
yang tidak dicerna sedangkan antrum merupakan tempat utama untuk gerakan pencampuran dan
sebagai pompa untuk pengosongan lambung. Selama puasa suatu rangkai yang interdigestive
dari proses elektris berlangsung, yang siklusnya baik melalui lambung dan usus setiap 2 hingga 3
jam. Ini disebut siklus mioelektrik interdigestive atau migrating myoelectric cycle (MMC), yang
selanjutnya dibagi kedalam 4 fase:

1. Fase I (fase dasar) berlangsung 40 - 60 menit dengan tidak ada atau sedikit kontraksi

2. Fase II (fase preburst) berlangsung 40 - 60 menit dengan reaksi intermitten potensial


dan kontraksi.

3. Fase III (Fase burst) berlangsung selama 4 - 6 menit. Termasuk kontraksi yang teratur
dan intens selama periode yang pendek. Hal ini tergantung pada gelombang, karena
semua bahan-bahan yang tidak tercerna akan disapu dari perut dan diturunkan ke usus
kecil. Hal ini juga disebut sebagai housekeeper wave.

4. Fase IV berlangsung selama 0 - 5 menit dan terjadi antara fase III dan I dari dua siklus
yang berurutan.

Setelah proses pencernaan makanan yang telah bercampur, pola kontraksi berubah dari
puasa hingga makan. Hal ini juga disebut dengan pola motilitas pencernaan dan terdiri dari
kontraksi berkelanjutan seperti pada fase II dari keadaan puasa (Sharma, 2014)
Perbedaan fitur lambung, pH lambung pada saat puasa dan dalam keadaan sehat adalah
1.1 ± 0.15, pH lambung pada saat makan dan dalam keadaan sehat adalah 3.6 ± 0.4. Volume
lambung saat istirahat adalah 25 – 50 ml. Hasil sekresi lambung berupa; HCl, pepsin, gastrin,
mucus dan beberapa enzim sebanyak 60 ml.
2.2 Perjalanan Swelling System Gastrointestinal

Swelling drug delivery system merupakan sistem yang membuat obat tertahan di lambung
untuk waktu yang lama sehingga dapat meningkatkan bioavalabilitasnya. Selain itu, juga
meminimalkan iritasi mukosa lambung karena obat dilepaskan secara perlahan-lahan dan
terkontrol. Salah satu kunci agar sediaan dapat bertahan didalam lambung adalah sediaan
tersebut harus mampu menahan gerak peristaltik serta grinding dan churning mechanisms dalam
lambung.

Swelling adalah suatu polimer kontak dengan air, maka terjadi penyerapan air yang
menyebabkan polimer dapat mengembang, sehingga obat yang terdispersi di dalam polimer akan
berdifusi keluar. Akibatnya, pelepasan obat bergantung pada dua proses kecepatan yang simultan
yaitu antara proses berdifusinya air ke dalam polimer dan peregangan rantai polimer, sehingga
dapat bertahan didalam lambung dalam waktu lebih lama.
Pada sistem swelling, obat yang telah ditelan akan dipertahankan berada di lambung
dengan cara meningkatkan ukuran sediaan lebih besar dari pylorus, sehingga obat dapat bertahan
lama di lambung. Pada sistem swelling, sediaan akan mengembang setelah berada dalam
lambung dalam waktu cepat dan sediaan tidak terbawa bersama gerakan lambung melewati
pylorus. Sediaan ini membutuhkan polimer yang akan mengembang dalam waktu tertentu ketika
kontak dengan cairan lambung, kemudian akan tererosi menjadi ukuran yang lebih kecil. Polimer
yang digunakan harus memiliki berat molekul yang tepat dan dapat mengembangkan sediaan
obat. Contoh polimer yang dapat digunakan seperti senyawa selulosa, poliakrilat, poliamida,
poliuretan. Cross linking (pautan silang) pada sistem swelling harus optimum sehingga tautan
silang ini dapat menjaga keseimbangan antara mengembang dan disolusi.

System Swelling di Lambung

2.3 Mekanisme Pelepasan Obat

Mekanisme dasar yang mempengaruhi pelepasan obat yaitu kandungan air dari hidrogel
bertambah dari inti ke permukaan sementara kandungan hidrogel berkurang. Pelepasan obat
secara umum dipengaruhi oleh ukuran obat dan polimer, kelarutan obat, jenis polimer, interaksi
obat-polimer dan transisi glass-rubber dari partikel hidrogel. Dua hal utama yang penting dalam
pelepasan obat dengan sistem swelling yaitu, penetrasi air ke dalam matriks hidrogel dan
pelepasan obat dari matriks hidrogel. pelepasan obat akan lebih dikendalikan oleh difusi (untuk
obat-obat yang larut dalam air) atau dikontrol oleh erosi (untuk obat yang tidak larut dalam air).
Pengembangan meningkat pelepasan obat yang larut air atau tidak larut air akan lebih
mengontrol difusi atau erosi-terkontrol seperti pada Gambar II.4

Gambar II.4. Suatu matrik yang mengembang yang mengandung partikel obat

Ketika suatu polimer kontak dengan air, maka terjadi penyerapan air yang menyebabkan
polimer dapat mengembang, sehingga obat yang terdispersi di dalam polimer akan berdifusi
keluar. Akibatnya, pelepasan obat bergantung pada dua proses kecepatan yang simultan yaitu
antara proses berdifusinya air ke dalam polimer dan peregangan rantai polimer.

Setelah dikonsumsi di dalam lambung, hidrokoloid dalam sediaan berkontak dengan


cairan lambung dan menjadi mengembang. Hidrokoloid yang mengembang akan menjadi gel
penghalang yang akan membatasi masuknya cairan lambung ke dalam sistem dan berkontak
dengan bahan aktif obat, sekaligus akan mengatur pelepasan bahan aktif obat ke dalam cairan
lambung.

Rancangan sistem pelepasannya berdasarkan kemampuan mengembang dari sediaan tiga


lapis. Sistem ini dapat digambarkan sebagai berikut. Sediaan dibuat menjadi 3 lapis. Lapis
pertama berisi garam bismut yang diformulasikan untuk pelepasan segera. Bahan aktif berada di
lapis kedua, dimasukkan sebagai komponen tablet inti yang pelepasannya dikendalikan oleh
matriks. Lapis ketiga berisi komponen pembentuk gas. Efek mengapung disebabkan oleh lapisan
pembentuk gas yang terdiri dari natrium bikarbonat : kalsium karbonat (1:2).
Saat berkontak dengan cairan lambung, karbonat pada komponen pembentuk gas bereaksi
dengan asam lambung membentuk karbondioksida. Karena diformulasikan untuk pelepasan
segera, lapis pertama akan segera terdiintegrasi dan garam bismut akan segera terlepas dari
sediaan tablet itu. Sedangkan lapis kedua, hidrokoloidnya akan mengembang. Adanya
karbondioksida yang terperangkap dalam hidrokoloid yang mengembang menyebabkan sistem
menjadi mengapung. Dan hidrokoloid yang mengembang itu akan menjadi gel penghalang
pelepasan bahan aktif ke dalam cairan lambung, sehingga pelepasannya dikatakan diperlambat.

2.4 Faktor dari Swelling Agent dalam pelepasan obat


1. Sifat mekanik dari gel
Untuk satu swellable matrix seperti yang ditunjukkan dalam gambar di bawah ini,
sifat mekanik dari lapisan gel akan berbeda tergantung pada laju air atau cairan dapat
diabsorpsi ke dalam struktur hidrogel. Semakin banyak air atau cairan yang diserap oleh
hidrogel maka hidrogel semakin mengembang dan kekuatan rantai molekul dari hidrogel
semakin pendek. Hal ini yang dapat menyebabkan hidrogel mengerosi dan akan pecah
menjadi partikel-partikel kecil, dan obat yang berada di dalam tablet akan dilepaskan secara
perlahan.

Sebaliknya, jika hidrogel menyerap air atau cairan yang sedikit, maka sifat hidrogel
kuat dan sulit mengerosi. Hal ini menyebabkan semakin panjang waktu pelepasan obat dari
struktur hidrogel.

2. Rasio swelling agent terhadap medium swelling


Cepat atau lambat pengembangan, hidrogel memerlukan air untuk mengembang.
Semakin banyak air yang diserap maka semakin cepat hidrogel mengembang dan semakin
cepat pelepasan obat dari hidrogel. Jumlah maksimum air yang dapat diabsorpsi oleh
swellable hydrogel disebut kesetimbangan kapasitas pengembangan (equilibrium swelling
capacity). Hal ini bergantung pada beberapa faktor termasuk hydrogel structure, cross-link
density, ionic content, and hydrophilic content.

2.5 Perjalanan obat Sistem Swelling

Perjalanan obat dalam bentuk sediaan Swelling Gastroretentive Drug Delivery System
baik itu kapsul maupun tablet yang diberikan secara oral dimulai dari Fase farmasetik, Fase
farmakokinetik dan Fase Farmakodinamik.

a. Fase Farmasetik
Fase ini meliputi mulai penggunaan sediaan obat melalui mulut hingga pelepasan zat
aktif ke dalam cairan tubuh. Setelah masuk kedalam lambung dan berkontak dengan cairan
lambung, sediaan akan mengembang menjadi 12-18 mm dari ukuran awalnya (diameter menjadi
lebih besar dibandingkan diameter sfingter pilorus) sehingga tidak dapat meneruskan perjalanan
kedalam usus dan tertahan didalam lambung dalam waktu yang lama. Pelepasan obat secara terus
menerus dan terkontrol dapat dicapai dengan pemilihan polimer yang sesuai dilihat dari berat
molekul serta swelling properties dari polimer tersebut.

Mekanisme mengembang swelling agent :

Setelah terpapar dengan air, tiga bagian dalam matriks hidrogel dapat dibedakan.
Pertama, bagian yang paling cepat mengembang dalam air, secara mekanik lemah lapisan
hidrogel ini akan bertindak sebagai barrier difusi untuk air yang tersisa. Kedua, bagian ini
dicirikan dengan mengembang sedang dan relatif kuat. Ketiga, bagian yang belum mendapatkan
air dan hampir dalam bentuk glassy untuk waktu yang lama.

Difusi air ke dalam matriks hidrogel akan membedakan matriks dalam 3 bagian: “glass”
(mostly hydrogel), “tough rubber” (significant proportion of water and hydrogel) and “soft
rubber” (mostly water) regions.

Kekuatan yang mengendalikan absorpsi atau proses swelling umumnya adalah


keseimbangan dari 3 kekuatan yaitu osmotik, elektrostatik dan disolusi-entropi polimer dalam
air. Tiga elemen yang mengontrol proses mengembang dari suatu swelling Agent berupa polymer
(hidrogel), yaitu :

1. Konten cross-link
Polimer yang memiliki jumlah ikatan silang banyak akan menghambat kemampuan
pembengkakan sistem tetapi dapat menjaga integritas fisik sediaan dalam waktu yang lama,
sedangkan polimer yang memiliki jumlah ikatan silang sedikit akan lebih mudah
mengembang namun polimer lebih cepat terpecah atau terdisolusi. Untuk mengatasi hal
tersebut maka dibutuhkan jumlah ikatan silang yang optimal untuk menjaga
keseimbangannya.

Gambar 1. Perbedaan entropy antara Non-cross-linked and Highly cross-linked

2. Konten ionik dari sistem dan sekitarnya


Hidrogel yang memiliki jumlah ion yang banyak maka memiliki kekuatan osmotik
dan elektrostatis yang tinggi. Hal ini dapat menyebabkan hidrogel mudah menyerap air dan
hidrogel akan mudah tererosi. Sehingga obat dapat dilepaskan dengan cepat. Maka dapat
disimpulkan bahwa jumlah ionik berbanding lurus dengan kecepatan pelepasan obat.
3. Konten hidrofilik
Bagian hidrofilik hidrogel akan mempengaruhi gaya antarmolekul yang bertanggung
jawab untuk difusi dan pengembangan (swelling). Dengan meningkatnya hidrofilisitas
hidrogel, interaksi antara air dan hidrogel akan meningkat juga, ini memudahkan difusi air
dan mengarah ke pembengkakan lebih besar.

b. Fase Farmakokinetik

Fase ini meliputi waktu selama obat diangkut ke organ yang ditentukan, setelah obat
dilepas dari bentuk sediaan. Kecepatan absorbsi obat ke sirkulasi sistemik tergantung dari
pelepasan obat dari bentuk sediaannya. Hal ini juga tergantung pada kecepatan difusi obat dan
kecepatan erosi dari hidrogel. Semakin cepat hidrogel mengerosi, semakin banyak obat yang
dilepaskan, dan semakin cepat proses absorbsi yang kemudian masuk ke sirkulasi sistemik.

Obat harus diabsorbsi ke dalam darah, yang akan segera didistribusikan melalui tiap-tiap
jaringan dalam tubuh. Dalam darah obat dapat mengikat protein darah dan mengalami
metabolisme, terutama dalam melintasi hepar (hati). Meskipun obat akan didistribusikan ke
seluruh tubuh, tetapi hanya sedikit yang tersedia untuk diikat pada reseptor yang dituju. Karna
hanya bagian obat yang hanya dalam keadaan bebas yang akan berikatan dengan reseptor.
Sebagian dari obat, terutama yang mengalami metabolisme oleh hati menjadi bentuk tidak aktif
yang kemudian akan dieksresikan melalui ginjal.

Berikut ini adalah profil obat di dalam darah :

Kurva Hubungan antara Kadar


Obat dalam Darah/Aktivitas
Obat terhadap Waktu dari
Sediaan A: Conventional; B:
Sustained release; C: Prolonged
Action (Sulaiman, 2007)

Kurva B
menunjukkan profil obat
dalam darah pada sediaan sustained release. Pelepasan obat pertama mencapai efek
terapi, dan pelepasan obat selanjutnya secara perlahan-lahan sehingga profil kadar obat
dalam darah berada pada efek terapi pada waktu yang cukup lama. Hal ini yang
menjadi alasan mengapa sustained release dirancang untuk pemakaian tunggal .

c. Fase Farmakodinamik
Bila obat telah berinteraksi dengan sisi reseptor biasanya protein membran akan
menimbulkan respon biologik. Tujuan pokok dari fase ini adalah optimasi dari efek biologik
(Anief, 1990).
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 METFORMIN EXTENDED RELEASE (Glumin-Xr)


Berbagai laporan penelitian yang telah dipublikasikan memperlihatkan besarnya manfaat
pemberian metformin dalam mengontrol diabetes. Penelitian penggunaan metformin jangka
panjang oleh UKPDS, yang dilakukan di Inggris menunjukkan penurunan kadar A1c yang cukup
bermakna, setara dengan antidiabetik oral golongan lain. Efek samping seperti mual, kembung
dan diare menjadi salah satu kendala yang sering dijumpai pada penggunaan metformin.
Metformin umumnya digunakan untuk pasien diabetes yang mempunyai berat badan
lebih atau obesitas. Keunggulan penggunaan metformin untuk pasien dengan berat badan normal
telah dilaporkan oleh Ong dkk, dari Sydney Australia. Penelitian observasional-retrospektif pada
1.072 pasien diabetes yang mendapat terapi tunggal metformin menunjukkan bahwa penggunaan
metformin untuk pasien diabetes dengan berat badan normal atau berat badan lebih, memberikan
hasil yang sama baiknya dibandingkan dengan pasien obesitas. Penggunaan metformin sebagai
terapi tunggal pada pasien nonobesitas ini ternyata dapat mengendalikan diabetes lebih lama
tanpa terjadi penurunan berat badan yang bermakna.
Mekanisme kerja metformin sebagai obat anti diabetik oral belum sepenuhnya diketahui.
Banyak tahapan reaksi biokimiawi yang terjadi pada proses metabolisme glukosa, baik pada sel
hati, otot, atau jaringan lemak. Setiap tahapan metabolisme ini dapat mempengaruhi terjadinya
hiperglikemia, sehingga setiap tahap ini dapat dilakukan intervensi untuk menurunkan proses
terjadinya hiperglikemia. Penyebab hiperglikemia pada diabetes antara lain karena peningkatan
gluconeogenesis dan glicogenolisis di dalam hati dan penurunan ambilan glukosa di jaringan otot
atau lemak. Metformin dapat menurunkan gluconeogenesis dan glicogenolisis di dalam hati.

3.2 PENGGUNAAN KLINIS METFORMIN


Dari penelitian besar UKPDS, metformin dapat menurunkan konsentrasi A1c sebesar
1%-1,5%, setara dengan antidiabetik oral golongan sulfonilurea. Selain dapat menurunkan
glukosa darah, terdapat beberapa efek lain seperti penurunan berat badan, perbaikan kadar
kolesterol, perbaikan kelainan hemostasis dalam darah, dan C-reactive protein, suatu pertanda
adanya inflamasi. Metformin dapat menurunkan risiko kematian sampai 36%, dan menurunkan
risiko kejadian infark miokardia sebesar 39% dibandingkan dengan terapi konvensional. Hanya
golongan metformin, antidiabetik oral satu-satunya yang mempunyai efek protektif langsung
pada jantung.
Gagal jantung merupakan salah satu kontraindikasi penggunaan metformin pada
penderita diabetes karena dikhawatirkan terjadinya komplikasi laktat asidosis. Walaupun
frekuensi kejadian ini sangat jarang dilaporkan. Namun penelitian yang dilakukan oleh Eurich
dkk. memperlihatkan keunggulan penggunaan metformin pada pasien diabetes tipe 2 yang
disertai gagal jantung, tanpa disertai adanya komplikasi asidosis laktat. Hasil penelitian Eurich
ini memperlihatkan penggunaan metformin dapat menurunkan angka mortalitas dan morbiditas
secara bermakna jika dibandingkan dengan antidiabetik golongan sulfonilurea pada pasien
diabetes tipe 2 yang disertai dengan gagal jantung. Beberapa keunggulan metformin:
1. Menurunkan resistensi insulin
2. Menurunkan kadar glukosa darah
3. Menekan glukoneogenesis
4. Memperbaiki fungsi diastolik jantung
5. Perbaikan profil lipid
6. Menurunkan stres oksidatif
7. Memperbaiki relaksasi pembuluh darah
8. Perbaikan status hemostasis darah yang cenderung ke kondisi pro-trombosis
9. Menurunkan proses inflamasi pada endotel pembuluh darah
10. Menurunkan pembentukan advance glycation end-products (AGE)

3.3 PENGGUNAAN METFORMIN EXTENDED RELEASE (XR)


Penggunaan cara konvensional yang mengharuskan pemberian metformin 2
sampai 3 kali dalam sehari sering menjadi kendala bagi pasien diabetes, yang seringkali juga
harus minum beberapa jenis obat lain. Untuk meningkatkan kepatuhan dan mengurangi efek
samping yang sering terjadi, telah di kembangkan pembuatan metformin extended-release (XR),
di mana metformin di buat dengan sistem Gel Shield Diffusion System, sehingga metformin
dapat diminum hanya satu kali saja dalam sehari. Dengan menggunakan teknik, ini metformin
yang terbungkus oleh matrix polimer akan dilepaskan secara perlahan-lahan saat bereaksi dengan
cairan di dalam lambung. Jika diminum sesudah makan malam, akan bekerja sesuai dengan
fisiologi normal memperlambat pengosongan lambung pada malam hari. Penggunaan
metformin-XR ini dapat mengurangi keluhan pada saluran pencernaan.
Penelitian retrospektif yang telah dilakukan oleh Blonde terhadap 471 pasien diabetes
tipe 2 selama 2 tahun, menunjukkan penggantian metformin konvensional dengan metformin
(XR) pada pasien yang sama dapat menurunkan kadar A1c yang tidak berbeda namun dengan
efek samping yang lebih rendah. Namun, jika digunakan pada pasien diabetes yang baru tidak
terdapat perbedaan efek samping antara metformin konvensional dengan metformin-XR.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Schwartz dkk. juga memperlihatkan hasil yang tidak jauh
berbeda. Penggunaan metformin-XR satu atau dua kali sehari dengan dosis 1.500 mg dalam
waktu 24 minggu, menghasilkan kontrol glikemik yang tidak berbeda bermakna dengan
metformin konvensional, di mana A1c turun dari 8,22±0,25 menjadi 7,62±0,12 dan 8,70±0,25
menjadi 7,65±0,12, namun dengan efek samping nausea yang lebih minimal. Efek maksimal
penurunan A1c didapat pada penggunaan metformin extended release sebesar 2.000 mg sehari.
Strategi Penggunaan Metformin :
1. Penggunaan metformin dimulai dengan dosis kecil (500 mg perhari) yang
diberikan satu atau dua kali sehari pada saat makan pagi atau malam.
2. Setelah 5-7 hari, jika tidak ada efek samping pada gastrointestinal, dosis dapat
ditingkatkan sampai 850 atau 1.000 mg sebelum makan pagi atau makan malam.
3. Jika timbul efek samping obat pada saluran pencernaan, dosis obat dapat
diturunkan pada dosis sebelumnya.
4. Dosis efektif maksimal biasanya 850 mg, 2 kali sehari, akan lebih baik lagi kalau
dinaikan dosisnya sampai 3.000 mg sehari.
5. Untuk mengurangi beban pembiayaan, gunakan obat generik pada saat pertama
kali.
6. Formulasi metformin dengan masa kerja panjang saat ini sudah banyak beredar di
pasaran.
Prevalensi penderita diabetes yang cenderung makin meningkat akan meningkatkan pula
risiko terjadinya komplikasi kronis. Penggunaan obat anti diabetik oral segera mungkin dapat
menghambat terjadinya komplikasi kronis. Metformin dapat diberikan pertama kali pada
penderita diabetes tipe 2 yang baru terdiagnosis, baik obesitas, berat badan lebih, berat badan
normal ataupun berat badan kurang. Metformin dapat menurunkan berbagai mekanisme
komplikasi kardiovaskular. Efek samping pada saluran gastrointestinal akibat metformin dan
multifarmasi merupakan salah satu kendala yang sering mengganggu kepatuhan pasien dalam
pengobatan. Penggunaan metformin-XR yang dapat diminum satu kali sehari sebanding dengan
metformin konvensional dalam mengendalikan diabetes, dengan efek samping yang lebih
minimal, dapat meningkatkan kepatuhan dan mengurangi efek samping yang sering ditimbulkan
oleh metformin.
BAB IV

KESIMPULAN

Pemberian oral secara luas digunakan dalam bidang farmasi untuk mengobati penyakit, namun
pengiriman obat tersebut telah banyak menarik kembali dan kelemahan utamanya yaitu non
spesifitas. Salah satu sediaan dengan pelepasan obat yang dimodifikasi adalah sediaan dengan
pelepasan diperlambat. Sediaan lepas lambat, salah satunya adalah sediaan yang dirancang untuk
tetap tinggal dI alam lambung. Bentuk sediaan yang dapat dipertahankan di dalam lambung
disebut Gastro Retentive Drug Delivery System (GRDDS).

Swelling tablet adalah tablet lepas lambat yang tidak rusak oleh asam lambung dan diharapkan
larut dalam usus. Sediaan ini juga disebut tablet enterik. Bahan penyalut enterik diperlukan
apabila zat aktif dapat rusak atau tidak aktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi
mukosa lambung. Tujuan pembuatan sediaan ini adalah untuk menunda pelepasan zat aktif
sampai tablet melewati lambung.

Metformin dapat menurunkan berbagai mekanisme komplikasi kardiovaskular. Efek


samping pada saluran gastrointestinal akibat metformin dan multifarmasi merupakan salah satu
kendala yang sering mengganggu kepatuhan pasien dalam pengobatan. Penggunaan metformin-
XR yang dapat diminum satu kali sehari sebanding dengan metformin konvensional dalam
mengendalikan diabetes, dengan efek samping yang lebih minimal, dapat meningkatkan
kepatuhan dan mengurangi efek samping yang sering ditimbulkan oleh metformin.
DAFTAR PUSTAKA

Indrawati, T. Sistem Penghantaran Obat Oral Yang Ditahan Dilambug(


gastroretentive).2012 : ISTN Jakarta

Shep, Santosh, dkk. Swelling System: A Novel Approach Towards Gastroretentive Drug
Delivery System. Indo-Global Journal of Pharmaceutical Sciences, 2011, Vol 1.,
Issue 3: Page No. 234-242.

Omidian, H., Park, K. Swelling agents and devices in oral drug delivery. J. DRUG DEL.
SCI. TECH., 18 (2) 83-93 2008.

International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Science Vol 1, Nov-Dec 2009

Karakterisasi Sediaan, Nurina Rezki Pratiwi, FMIPA UI.