Anda di halaman 1dari 18

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Proses Kimia dengan judul materi Esterifikasi yang disusun oleh:
Nama dan NIM : 1.Hendra Sudrajat 21030116130117
2.Muhammad Rezky fadilah 21030116120011
3.Rizky Laksmita Dewi 20130116120071
4.Tutik irkhanah 21030116120049
Kelompok : 7 / Kamis
Telah disetujui oleh asisten pengampu materi Esterifikasi pada :
Hari :
Tanggal :

Semarang, Februari 2018


Asisten Pembimbing

Muhammad Iqbal
NIM. 21030115130107

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat dan rahmat-Nya Laporan Praktikum
Proses Kimia berjudul Esterifikasi dapat selesai dengan baik. Penyusunan Laporan Praktikum
Proses Kimia ini berdasarkan analis hasil percobaan yang dilakukan saat praktikum dan
pembahasan yang bersumber pada literatur-literatur yang ada. Penyusun sampaikan terima kasih
kepada:
1. Orang tua yang selalu memberikan dukungan.
2. Ibu Dr. Ir. Ratnawati, M.S. sebagai dosen pembimbing laporan esterifikasi
3. Laboran Laboratorium Proses Kimia
4. Asisten Laboratorium Proses Kimia.
5. Teman-teman angkatan 2016 yang membantu dalam penyusunan laporan ini
Laporan ini berisi tentang proses esterifikasi dengan variabel jenis katalis yaitu HCl dan
H2SO4. Berdasarkan data hasil percobaan dapat diketahui pengaruh waktu reaksi terhadap konversi
reaksi esterifikasi serta pengaruh jenis katalis terhadap konversi, konstanta laju dan konstanta
kesetimbangan.
Laporan resmi ini merupakan laporan terbaik yang saat ini dapat diajukan, namun penyusun
menyadari pasti ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Maka dari itu kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat penyusun harapkan.

Semarang, Februari 2018

Penyusun

iii
RINGKASAN

Esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester. Tujuan dari percobaan esterifikasi adalah
untuk mempelajari pengaruh jenis katalis terhadap konversi yang didapat, menghitung konstanta
kesetimbangan dan konstanta laju reaksi. Dalam industri, etil asetat baik digunakan sebagai pelarut
pada polyurethane coating system.
Esterifikasi merupakan reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol dan menghasilkan
ester dan air. Reaksi esterifikasi berjalan lambat sehingga dibutuhkan katalis untuk dapat
mempercepat reaksi. Variabel yang dapat mempercepat reaksi esterifikasi adalah perubahan
konsentrasi, katalis, kecepatan pengadukan, waktu serta suhu reaksi. Reaksi esterifikasi merupakan
reaksi endotermis dan merupakan reaksi reversibel.
Bahan yang digunakan dalam proses esterifikasi adalah asam asetat, etanol, HCl dan H2SO4,
NaOH, indikator PP dan aquadest. Langkah kerja dalam praktikum ini adalah merangkai alat,
kemudian mencampurkan asam asetat dengan katalis HCl, panaskan hingga suhu tertentu,
kemudian campurkan etanol yang telah dipanaskan dengan perbandingan asam asetat dengan
etanol sesuai variabel yang disertai pengadukan lalu dilakukan proses esterifikasi. Setelah
dicampurkan ambil 5 ml sampel mulai dari t = 0 menit sampai dengan waktu mencapai 40 menit,
tambahkan 3 tetes indikator PP lalu titrasi dengan NaOH hingga warna merah muda. Langkah
tersebut diulangi untuk variabel katalis H2SO4.

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... iii
INTISARI ...................................................................................................................................... iv
DAFTAR ISI ....................................................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................1
1.2 Tujuan Percobaan ...............................................................................................................1
1.3 Manfaat Percobaan .............................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................................................2
2.1 Kinetika Reaksi .................................................................................................................2
2.2 Tinjauan Thermodinamika .................................................................................................3
2.3 Mekanisme Reaksi ............................................................................................................5
2.4 Variabel yang Berpengaruh ...............................................................................................6
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ........................................................................................8
3.1 Bahan dan Alat yang Digunakan .......................................................................................8
3.2 Gambar Alat .......................................................................................................................8
3.3 Variabel Operasi .................................................................................................................9
3.4 Respon Uji Hasil ...............................................................................................................9
3.5 Cara Kerja .........................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................................11

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Hdrolisa .............................................................................................8


Gambar 3.2 Rangkaian Alat Titrasi ...............................................................................................9

vi
DAFTAR TABEL

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring sedang berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada
bidang perindustrian di Indonesia, beragam industri terus melakukan inovasi dan
perkembangan salah satunya adalah industri kimia. Perkembangan tersebut memacu
kebutuhan produksi industri kimia yang terus meningkat, baik itu kebutuhan baku maupun
bahan penunjang lainnya. Bahan baku maupun bahan penunjang di industri kimia
sangatlah beragam. Salah satu bahan yang digunakan adalah etil asetat yang merupakan
salah satu jenis pelarut yang memiliki rumus molekul CH3COOC2H5 (Haritsah, 2013).
Aplikasi industri yang sering mengunakan proses esterifikasi merupakan industri
penghasil ester yang produknya menghasilkan perasa atau aroma buatan , dan pelarut
warna. Di Indonesia, etil asetat diproduksi oleh PT Indo Acidatama Tbk dengan kapasitas
7.500 ton per tahun (PT Indo Acidatama, 2009) dan PT Showa Esterindo Indonesia yang
memproduksi etil asetat sebesar 60.000 ton per tahun (Dwi, 2009).
Esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dari asam karboksilat dan alkohol.
Produk reaksi berupa ester dan air. Persamaan umum reaksi ini dapat ditentukan sebagai
berikut: R-COOH + HO-R* ↔ R-COOR* + H2O
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi eksotermis, bersifat reversibel dan
umumnya berjalan sangat lambat sehingga memerlukan katalis agar diperoleh ester yang
maksimal sehingga perlu dipelajari faktor-faktor menurut berbagai tinjauan dan melakukan
berbagai percobaan guna mengetahui berbagai variabel proses yang berpengaruh terhadap
proses esterifikasi tersebut (Haritsah, 2013).

1.2 Tujuan Percobaan


1. Mengetahui pengaruh perbedaan perbandingan mol asam asetat dan etanol terhadap
konversi pada proses esterifikasi.
2. Mengetahui pengaruh perbedaan perbandingan mol asam asetat dan etanol terhadap
konstanta kesetimbangan (K) pada proses esterifikasi.
3. Mengetahui pengaruh perbedaan perbandingan mol asam asetat dan etanol terhadap
konstanta laju reaksi (k) pada proses esterifikasi.
4. Mengetahui pengaruh waktu reaksi terhadap konversi pada proses esterifikasi

1.3 Manfaat Percobaan


1. Dapat memahami pengaruh variabel terhadap konversi ester yang terbentuk.
2. Dapat mempelajari cara menghitung konstanta keseimbangan (K) dan konstanta laju
reaksi (k).
3. Dapat melakukan kajian numerik dari percobaan yang telah dilakukan.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kinetika Reaksi


Esterifikasi atau pembuatan ester merupakan reaksi antara asam karboksilat dan
alkohol dengan hasil reaksi ester dan air. Contohnya yaitu reaksi antara asam asetat dengan
etanol. Reaksi esterifikasi antara lain sebagai berikut:
CH3COOH + CH3OH ↔ CH3COOCH3 + H2O
A + B C + D
Persamaan kecepatan reasi kimia:

Keterangan:
rc = kecepatan reaksi pembentukan ester
[A] = konsentrasi asam asetat [CH3COOH]
[B] = konsentrasi etanol [C2H5OH]
[C] = konsentrasi etil asetat [CH3COOC2H5]
[D] = konsentrasi air [H2O]
k1 = konstanta kecepatan reaksi ke kanan (arah produk)
k2 = konstanta kecepatan reaksi ke kiri (arah reaktan)
t = waktu reaksi
Ditinjau dari kinetika reaksi, kecepatan reaksi pembentukan ester akan makin besar
dengan kenaikan suhu, adanya pengadukan dan ditambahakan katalis. Hal ini dapat
dijelaskan oleh persamaan Arrhenius yaitu

Dengan:
k = kontanta laju reaksi
A = Faktor frekuensi tumbukan
T = Suhu
EA = Energi Aktivasi
R = konstanta gas ideal
Berdasarkan persamaaan Arrhenius dapat dilihat bahwa konstanta laju reaksi
dipengaruhi oleh nilai A, EA, dan T, semakin besar faktor tumbukan (A) maka
konstanta laju reaksinya semakin besar. Nilai energi aktivasi (EA) dipengaruhi oleh
penggunaan katalis, adanya katalis akan menurunkan energi aktivasi sehingga nilai k
semakin besar. Semakin tinggi suhu (T) maka nilai k juga semakin besar. Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Kirbaskar dkk (2001) untuk reaksi esterifikasi asam asetat
2
dengan etanol menggunakan katalis asam dengan ion exchange resin diperoleh bahwa
untuk reaksi ke arah pembentukan produk (k1) memiliki nilai EA = 104129 kJ/kmol dan

A = 2,6.1014 (m3)2 kmol -2 s-1.

2.2 Tinjauan Thermodinamika


Berdasarkan tinjauan thermodinamika kita dapat mengetahui apakah reaksi tersebut
searah atau bolak-balik dengan meninjau melalui perubahan energi Gibbs (ΔG°). Reaksi
esterifikasi antara asam asetat dan etanol terjadi menurut reaksi berikut:
CH3COOH + CH3OH  CH3COOCH3 + H2O
ΔG°f reaksi = ΔG°f produk - ΔG°f reaktan
 Diketahui data ΔHof standar (Smith dkk, 2001) :
ΔHof298 CH3COOH = -484500 J/mol
ΔHof298 CH3OH = -238660 J/mol
ΔHof298 CH3COOCH3 = -445800 J/mol
ΔHof298 H2O = -285830 J/mol

ΔHo298 = (ΔHof298 CH3COOCH3+ ΔHof298 H2O) - (ΔHof298 CH3COOH + ΔHof298


CH3OH)
= (-445800-285830) – (-484500-238660)
= -8470 J/mol

Berdasarkan tinjauan thermodinamika juga dapat diketahui bahwa reaksi tersebut


endotermis atau eksotermis dengan meninjau perubahan enthalpy. Dari perhitungan
perubahan entalpy ΔH bernilai negatif yang menandakan bahwa reaksi esterifikasi asam
asetat dengan etanol bersifat eksotermis.

 Diketahui data ΔGo standar (Yaws, 1997):


ΔGof 298 CH3COOH = -389900 J/mol
ΔGof 298 CH3OH = -166270 J/mol
ΔGof 298 CH3COOCH3 = -324200 J/mol
ΔGof 298 H2O = -237129 J/mol

maka:
ΔGo 298 = (ΔGof 298 CH3COOCH3 + ΔGof 298 H2O)-(ΔGof 298 CH3COOH + ΔGof 298

CH3OH)
= (-324200-237129)-(-389900-166270)
= -5159 J/mol

3
 Dari persamaan van’t Hoff:
𝛥𝐺°298 = −𝑅𝑇 𝑙𝑛 𝐾
−ΔG°
ln 𝐾 = 𝑅𝑇
𝐽
−(−4649 )
ln 𝐾 = 𝑚𝑜𝑙
𝐽
(8,314 ) . 298 𝐾
𝑚𝑜𝑙. 𝐾
K = 6,5302
Misalkan suhu operasi sebesar 56oC.

 Menghitung harga K pada suhu 56oC (329 K) dapat dihitung :

𝐾 ∆H0 298 1 1
ln =- ( − )
𝐾2 𝑅 𝑇 𝑇′
𝐾329 (−8470) J/mol 1 1
ln
𝐾298
=- 𝐽 (329 − 298
)
8,314 /𝐾
𝑚𝑜𝑙

𝐾327
ln = - −0,3221
6,5302

K327 = 5,812

Dari perhitungan energy Gibbs di dapat nilai K pada asumsi suhu 56oC didapat nilai
sebesar 5,812, maka dapat disimpulkan reaksi esterifikasi asam asetat dengan etanol
merupakan reaksi reversible.

 Menghitung nilai konversi teoritis


Asumsi suhu 56 oC didapatkan K = 5,812
𝐶𝐵0
𝑀= = 3,974
𝐶𝐴0
Pada saat kesetimbangan
𝐶𝐶 . 𝐶𝐷 (𝐶𝐴0 . 𝑋𝐴 )(𝐶𝐴0 . 𝑋𝐴 )
𝐾= =
𝐶𝐴 . 𝐶𝐵 𝐶𝐴0 (1 − 𝑋𝐴 )(𝐶𝐵0 − (𝐶𝐴0 . 𝑋𝐴 ))
(𝑋𝐴𝑒 )2
𝐾=
(1 − 𝑋𝐴𝑒 )𝑥(3,974 − 𝑋𝐴𝑒 )
(𝑋𝐴𝑒 )2
5,812 =
(1 − 𝑋𝐴𝑒 )𝑥(3,974 − 𝑋𝐴𝑒 )
XAe = 0,948

Sehingga pada saat kesetimbangan dengan suhu operasi 56 oC secara teoritis


didapatkan nilai konversi sebesar 94,8%.

4
2.3 Mekanisme Reaksi
Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol
membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat. Ester
asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus -COOR dengan R dapat
berbentuk alkil ataupun aril (Pratiwi, 2011).
Katalis yang digunakan dalam esterifikasi dapat berupa katalis asam atau katalis
basa dan berlangsung secara reversible (Supardjan, 2004). Pada percobaan ini,
menggunakan asam karboksilat berupa asam asetat yang direaksikan dengan sebuah
alkohol berupa etanol menggunakan katalis asam. Untuk pembuatan etil asetat, reaksi
esterifikasi yang terjadi dalam percobaan ini dan mekanisme katalis asam pada hidrolisa
ester adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Reaksi Asam Asetat dengan Metanol

Mekanisme reaksi esterifikasi merupakan reaksi substitusi antara asil nukleofil


dengan katalisator asam (biasanya HCl atau H2SO4). Gugus karbonil dari asam
kaboksilat tidak cukup kuat sebagai elektrofil untuk diserang oleh alkohol. Katalisator
asam akan memprotonasi gugus karbonil dan mengaktivasinya ke arah penyerangan
nukleofil. Pelepasan proton akan menghasilkan hidrat dari ester, kemudian terjadi
transfer proton.

Gambar 2.2 Reaksi Pelepasan Proton

5
Mekanisme esterifikasi dengan katalis asam, meliputi :
1. Pada tahap pertama, gugus karbonil akan terprotonasi oleh asam. Transfer proton
dari katalis asam menuju ke atom oksigen karbonil, sehingga terjadi
peningkatan elektrofisilitas pada atom karbon karbonil.
2. Tahap kedua, melibatkan adisi nukleofil yakni gugus OH pada alkohol menyerang
karbon karbonil yang telah terprotonasi. Sehingga ikatan C-O yang baru (ikatan
ester) terbentuk.

3. Tahap ketiga adalah tahap kesetimbangan dimana terjadi penghilangan gugus H+


pada ikatan ester yang baru. Deprotonasi dilakukan untuk membentuk ikatan C-
O yang stabil.
4. Pada tahap ke empat, salah satu gugus hidroksil harus terprotonasi, karena kedua
gugus hidroksilnya identik.
5. Tahap ke lima, melibatkan pemutusan ikatan C-O dan lepasnya air. Agar peristiwa
ini dapat terjadi, gugus hidroksil harus diprotonasi agar kemampuannya sebagai
gugus bebas/lepas lebih baik.
6. Tahap terakhir, ester yang berproton melepaskan protonnya.

2.4 Variabel Yang Berpengaruh

Reaksi esterifikasi dipengaruhi oleh beberapa variabel. Variabel-variabel yang


dimaksud antara lain (Hakim dan Irawan, 2010):

1. Waktu reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin besar
sehingga akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan reaksi sudah
tercapai maka dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan menguntungkan karena
tidak memperbesar hasil.
2. Perbandingan zat pereaksi
Dikarenakan sifatnya yang reversibel, maka salah satu reaktan harus dibuat berlebih
agar optimal dalam pembentukan produk ester yang ingin dihasilkan. Pada penelitian ini,
salah satu reaktan yang harus dibuat berlebih adalah etanol
3. Pengadukan
Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi
dengan zat yang bereaksi semakin baik sehingga mempercepat reaksi dan reaksi terjadi
sempurna. Hal ini sesuai dengan persamaan Arrhenius :

k = A . e (-Ea/RT)
Keterangan:
k = konstanta laju reaksi

6
A = faktor frekuensi atau faktor pre eksponensial
Ea = energi aktivasi (kJ/mol)
R = tetapan gas universal (0,0821 atm/mol.K atau 8,314 J/mol.K) T =
temperatur atau suhu (K)
Semakin besar tumbukan, maka semakin besar pula harga konstanta kecepatan
reaksi, sehingga reaksi dapat berjalan lebih optimal.
4. Suhu
Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi yang
dihasilkan. Hal ini sesuai dengan persamaan Arrhenius, bila suhu naik maka harga k
semakin besar, sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi makin besar.
5. Katalisator
Sifat reaksi esterifikasi yang lambat membutuhkan katalisator agar berjalan lebih
cepat. Katalisator berfungsi untuk mengurangi energi aktivasi pada suatu reaksi,
sehingga pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar.

2.5 Aplikasi Esterifikasi Pada Industri


Esterifikasi merupakan salah satu proses pembentukan etil asetat , Etil asetat
merupakan cairan tidak berwarna. Dalam kehidupan sehari-hari etil asetat digunakan
sebagai perasa atau aroma buatan pada makanan.
2.5.1 Jenis Industri Esterifikasi
Jenis industri yang sering mengunakan proses esterifikasi merupakan industri
penghasil ester yang produknya menghasilkan perasa atau aroma buatan , dan pelarut
warna. Di Indonesia, etil asetat diproduksi oleh PT Indo Acidatama Tbk dengan
kapasitas 7.500 ton per tahun (PT Indo Acidatama, 2009) dan PT Showa Esterindo
Indonesia yang memproduksi etil asetat sebesar 60.000 ton per tahun (Dwi, 2009).
2.5.2 Produk Esterifikasi
Dalam industri ester produk yang di hasilkan seringkali memiliki bau yang
seperti bau buah-buahan sehingga ester sering digunakan sebagai perasa atau
pemberi aroma buatan. Selain dalam dunia pangan ester juga di pakai dalam dunia
fashion atau dunia seni sebagai bahan pewarna cat atau atau penghilang cat kuku.
Contoh produk ester adalah Etil Asetat sebagai zat penghilang cat,lem ,cat pada
pewarna mainan selain itu juga ada Etil butirat sebagai perasa buah pisang, nanas
dan stroberi.
2.5.3 Proses Esterifikasi Pada Industri
Proses esterifikasi pembuatan etil asetat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
secara batch dan kontinyu. Esterifikasi secara batch pada umumnya digunakan untuk
kapasitas produksi yang relatif kecil, sedangkan untuk kapasitas industri yang relatif
besar dipilih esterifikasi kontiyu.

7
1. Proses batch produksi etil asetat
Proses produksi etil asetat secara batch terjadi di dalam reaktor berbentuk
silinder dan dipanaskan menggunakan closed coil steam pipe. Umpan terdiri dari
asam asetat, etanol 95%, dan asam sulfat dengan konsentrasi tertentu. Temperatur
atas kolom fraksinasi diatur 70oC agar diperoleh komposisi 83% etil asetat, 9%
etanol dan 8% air. Uap yang terbentuk dikondensasikan, sebagian dikembalikan ke
atas plate column sebagai refluk dan sisanya ditampung di tangki penyimpanan.
Untuk membebaskan etil asetat dari air dan alkohol perlu dilakukan purifikasi (Kirk
and Ortmer, 1982).
2. Proses kontinyu produksi etil asetat
Proses produksi etil asetat secara kontiyu menggunakan prinsip azeotrop untuk
memperoleh produk (ester) yang maksimal. Asam asetat, etanol dan katalis asam
sulfat direaksikan pada reaktor yang dilengkapi pengaduk. Setelah kesetimbangan
reaksi tercapai, campuran dipompa menuju tangki penampungan sementara dan
campuran dialirkan menuju bubblecap plate column melewati preheater. Temperatur
atas kolom diatur 80oC dan uap yang terbentuk dikondensasikan. Recovery column
yang pertama dioperasikan dengan temperatur top 70oC untuk menghasilkan 83%
ester, 9% alkohol, dan 8% air. Campuran tersebut dimasukkan ke static mixer
dilanjutkan pemisahan di dekanter. Setelah itu dmasukkan ke distillation column.
Hasil atas dari kolom tersebut berupa 95%-100% etil asetat yang nantinya dialirkan
ke cooler kemudian dialirkan ke tangki penyimpanan (Kirk and Othmer, 1982).

8
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Skema Percobaan

Mencampurkan
Membuat
Merangkai alat asam asetat
perhitungan
dengan katalis
volume
HCl dan
memanaskannya
sampai suhu
56°C
Campurkan ketiga
reagen dengan
perbandingan mol
yang sama dengan Panaskan metanol
yang digunakan untuk di tempat berbeda
esterifikasi saat suhu sampai suhu 56°C
ruang (t0)

Ambil sampel 5 Amati suhu Campur ke tiga


ml mulai dari t0 campuran reagen yang
sampai t4 sampai suhu sudah
pengambilan 10 56°C dipanaskan
menit tersebut didalam
labu leher tiga

Ambil 5ml + 3
tetes PP dan di
titrasi NaOH 0,37
N hingga warna
merah muda
hampir hilang

3.2 Bahan Dan Alat Yang Digunakan


3.2.1 Bahan
1. Asam asetat 98% sebanyak 97,21 ml
2. Metanol 98% sebanyak 369,25 ml
3. Katalis HCl 25% 0,22 N sebanyak 6,488 ml
4. NaOH 0,37 N sebanyak 7,351 gram (500 ml)
5. Indikator PP sebanyak 30 tetes
3.2.2 Alat
1. Labu leher tiga 1 buah
2. Pendingin balik 1 buah
3. Kompor listrik 450 watt
4. Magnetic stirrer 1 buah

8
5. Termometer 100oC
6. Pengaduk 1 buah
7. Buret 50 ml
8. Pipet 5 ml
9. Satif dan klem 1 buah
10. Erlenmeyer 250 ml

3.3 Gambar Alat


Keterangan:
1. Magnetic stirer + heater
2. Waterbatch
3. Labu leher tiga
4. Termometer
5. Pendingin balik
6. Klem
7. Statif
Gambar 3.1. Rangkaian Alat Hidrolisa

Gambar 3.2. Rangkaian Alat Titrasi


Keterangan:
1. Statif
2. Klem
3. Buret
4. Erlenmeyer

3.4 Variabel Operasi


a. Variabel Tetap
Jenis alkohol = Metanol
Volume Total = 240 ml
Volume sampel diambil = 5 ml
Waktu pengambilan sampel = setiap 10 menit sampai 40 menit

9
Jenis Katalis = HCl 25% 0,22 N
Suhu = 56 0C
Titran = NaOH 0,37 N
b. Variabel Berubah

Perbandingan mol asam asetat : alkohol = variabel 1 (1:4) dan variabel 2 (1:8)

3.5 Respon Uji Hasil


Mengamati konsentrasi sisa asam asetat (CH3COOH) dengan titrasi menggunakan NaOH

3.6 Cara Kerja


1. Merangkai alat seperti pada gambar.
2. Mencampurkan asam asetat, methanol dan HCl sejumlah volume (membagi volume
masing-masing reagen dengan angka yang sama sehingga didapatkan perbandingan
mol yang sama).
3. Setelah ketiga reagen tercampur, kemudian diambil 5 ml dan dititrasi menggunakan
NaOH 0,37 N ditambah PP 3 tetes sampai warna merah muda hamper hilang.
4. Catat kebutuhan titran, ulangi langkah tersebut untuk t0 variabel 2.
5. Kemudian, mencampurkan asam asetat 61,71 ml dan katalis HCl 6,488 ml, panaskan
sampai suhu 56 oC.
6. Panaskan metanol 171,250 ml sampai suhu 56 oC.
7. Setelah suhu kedua reaktan sama campurkan kedua reaktan tersebut ke dalam labu
leher tiga.
8. Amati suhu campuran. Setelah tercapai suhu 56 oC kembali, sampel diambil 5 ml mulai
dari t1 dengan waktu pengambilan setiap 10 menit hingga waktu mencapai 40 menit.
9. Metode analisis
Mengambil 5 ml sampel lalu ditambahkan 3 tetes indikator PP, kemudian sampel
dititrasi dengan NaOH 0,37 N. Amati perubahan warna yang terjadi yaitu dari tidak
berwarna menjadi warna merah muda hampir hilang. Catat kebutuhan titran. 1.
10. Menghentikan pengambilan sampel setelah mencapai waktu 40 menit.
Ulangi langkah di atas untuk variabel kedua dengan volume asetat 35,3 ml, volume
metanol 198 ml dan volume HCl 6,488 ml.

9
DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Arif Rahman dan Irawan S.. 2010. Kajian Awal Sintesis Biodiesel dari Minyak Dedak
Padi Proses Esterifikasi. Skripsi. Semarang : Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Undip.
Haritsah, Iftironi., 2013. Regenerasi Katalis Pt/Zeolit dan H-Zeolit Serta Uji Aktivitasnya
dalam Reaksi Esterifikasi Asam Asetat dan Etanol. Yogyakarta : Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada.
Hikmah, Maharani Nurul dan Zuliyana. 2012. Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari Minyak
Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi. Semarang :
Universitas Diponegoro.
Kusmiyati. 2008. Reaksi Katalitis Esterifikasi Asam Oleat dan Metanol Menjadi Biodiesel
dengan Metode Distilasi Reaktif. Surakarta : Universitas Muhammadiyah
Nuryoto, dkk. 2011. Kinetika Reaksi Esterifikasi Gliserol dengan Asam Asetat Menggunakan
Katalisator Indion 225 Na. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Pratiwi, Dini Novalia. 2011. Optimalisasi reaksi Esterifikasi Asam Asetat dengan 1-
Heksena, Sebagai Salah Satu Tahapan Pada Proses Pembuatan Etanol. Skripsi.
Jakarta : Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah.
Smith, JM, dkk. 2001. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics, Sixth
Edition. Mc Graw Hill
Supardjan. 2004. Sintesis Diasetil Heksagamavunon-1 dengan Katalis Basa. J.
Pharmacon. Vol. 5, No. 2, h.48-55

10