Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Motivasi adalah perilaku yang ingin mencapai tujuan tertentu yang cenderung untuk
menetap. Motivasi juga merupaka

MAKALAH KAMPUS
 Beranda
 Wacana Keilmuan
 Makalah
 Hizib Dan Do'a
 Lirik Lagu
 Lembaga
 Makalah Bahasa Indonesia
Selasa, 26 Desember 2017

Makalah Teori Motivasi "PSIKOLOGI PENDIDIKAN"

BAB I
PENDAHULUAN
a.Latar Belakang
Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan. Tujuan dapat
diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan siswa setelah
melaksanakan pengalaman belajar. Tercapai tidaknya tujuan pengajaran salah satunya adalah
terlihat dari prestasi belajar yang diraih siswa. Dengan prestasi yang tinggi, para siswa
mempunyai indikasi berpengetahuan yang baik.
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa adalah motivasi. Dengan adanya
motivasi, siswa akan belajar lebih keras, ulet, tekun dan memiliki dan memiliki konsentrasi
penuh dalam proses belajar pembelajaran. Dorongan motivasi dalam belajar merupakan salah
satu hal yang perlu dibangkitkan dalam upaya pembelajaran di sekolah.
Penelitian Wasty Soemanto (2003) menyebutkan, pengenalan seseorang terhadap prestasi
belajarnya adalah penting, karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai maka siswa
akan lebih berusaha meningkatkan prestasi belajarnya. Dengan demikian peningkatan prestasi
belajar dapat lebih optimal karena siswa tersebut merasa termotivasi untuk meningkatkan
prestasi belajar yang telah diraih sebelumnya.
Untuk mengetahui apa itu motivasi maka dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai
motivasi, jenis, teori dan peranannya dalam belajar.[1]

b. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan motivasi ?
2. Apa saja jenis-jenis motivasi ?
3. Apa saja teori-teori motivasi ?
4. Bagaimana peranan motivasi dalam belajar dan pembelajarann?
c. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian motivasi
2. Untuk mengetahui jenis-jenis motivasi
3. Untuk mengetahui teori-teori motivasi.
4. Untuk mengetahui bagaimana peranan motivasi dalam belajar dan
pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN
a.Pengertian Motivasi
Istilah motivasi dalam kaidah bahasa Indonesia berasal dari kata motif yang berarti
kekuatan yang ada dalm diri individu , yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau
berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah
laku, berupa rangsangan, dorongan atau pembangkit tenaga untuk melakukan tingkah laku
tertentu.[2] Sedangkan dalam mengartikan motivasi para ahli mempunyai pendapat masing-
masing, diantaranya:
1.Hellriegel dan Slocum: “Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan
sesuatu untuk mencapai tujuan, kekuatan ini dirangsang oleh berbagai macam
kebutuhan.” 2.Petri(1981) :”
Motivasi adalah kekuatan yang bertindak pada organisme yang mendorong dan mengarahkan
perilakunya” 3.Morgan dkk.(1986):”
Motivasi adalah suatu kekuatan yang memggerakkan dan mendorong terjadinya perilaku yang
diarahkan pada tujuan tertentu.[3]
Dari serangkaian uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu
dorongan yang ada pada diri seorang individu yang menyebabkan individu tersebut melakukan
aktivitas atau kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
b.Jenis Motivasi
1.Berdasarkan arah datangnya motif :
 Motivasi Internal
Motivasi internal diartikan sebagai motivasi yang timbul dari dalam diri orang yang
bersangkutan tanpa rangsangan atau bantuan dari orang lain. Seseorang yang secara intrinsic
termotivasi akan melakukan pekerjaan karena mendapatkan pekerjaan itu menyenangkan dan
dapat memenuhi kebutuhannya, tidak tergantung pada penghargaan-penghargaan eksplisit atau
paksaan eksternal lainnya. Motif ini dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, pendidikan ,
atau penghargaan dan cita-cita.
 Motivasi Eksternal
Motivasi eksternal adalah motivasi yang timbul karena rang sangan atau bantuan dari orang lain.
Motivasi ini disebabkan oleh keinginan untuk menerima ganjaran atau menghindari hukuman.[4]

2.Berdasarkan pengaruhnya terhadap cara seseorang dalam bertingkah laku


Menurut Davis dan Newsstroom (1996), motivasi yang mempengaruhi seseorang dalam
bertingkah laku, termasuk belajar terbagi menjadi empat pola:
 Motivasi berprestasi, yaitu dorongan untuk mengatasi tantangan, untuk maju dan berkembang.
 Motivasi berafiliasi, yaitu dorongan untuk berhubungan dengan orng lain secara efektif.
 Motivasi berkompetisi, yaitu dorongan untuk mencaoai hasil kerja dengan kualitas tinggi.
 Motivasi berkuasa, yaitu dorongan untuk memengaruhi orang lain dan situasi.[5]
3.Berdasarkan sunber dan proses pekembangannya
Untuk keperluan studi psikologis telah diadakan penertiban dengan diadakan
penggolongannya, antara lain:
 Motivasi primer, adalah motivasi dasar yang bersifat alamiah dan tidak dipelajari. Motivasi ini
dibedakan menjadi dua, yakni:
-Dorongan fisiologis yang bersumber pada kebutuhan organis seperti lapar, haus,
pernafasan, seks, dan lain sebagainya.
-Dorongan umum atau motif darurat termasuk di dalamnya rasa takut, rasa kasih sayang, rasa
ingin tahu dan lain-lain.
 Motivasi sekunder, adalah motivasi yang menunjuk pada motif yang berkembang dalam diri
individu, karena pengalaman, dan dipelajari misalnya: takut terhadap apa yang dipelajari, motif
sosial, motif objektif dan lain-lain.[6]
c. Teori-Teori Motivasi
Dari sekian banyak teori motivasi yang telah dikemukakan oleh para ahli, pemakalah
akan mengambil beberapa teori yang banyak digunakan dan dianut pada zaman sekarang,
diantaranya:
1.Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Menurut Maslow bahwa pada saat seseorang telah mencapai dan memenuhi kebutuhan
tertentu, maka mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi. Dia mengemukakan lima
tigkat kebutuhan seoerti terlihat pada gambar di bawah ini.
1. Kebutuhan Fisologis
Kebutuhan yang harus dipuaskan untuk dapat tetap hidup, misalnya sandang, pangan, dan papan.
2. Kebutuhan akan Rasa Aman
Ketika seseorang telah tercapai kebutuhan fisologisnya maka perhatian akan diarahkan pada
keselamatan diri. Misalnya, pengambilan polis asuransi, mendaftarkan diri masuk pada
perserikatan kerja dan lain sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Setelah semua kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi, maka seseorang akan
memunculkan motif baru yakni berkenaan dengan hubungan sosial. Misalnya, dalam kaitannya
dengan pekerjaan seorang karyawan melakakukan pekerjaan tertentu agar memperoleh uang
untuk memenuhi kebutuhan hidup(pokok) , sementara di sisi yang lain, ia juga menilai pekerjaan
sebagai suatu dasar hubungan kemitraan sosial yang ditimbulkannya.
4. Kebutuhan akan Penghargaan
Percaya diri dan harga diri maupun kebutuhan akan pengakuan akan orang lain. Dalam kaitannya
denga pendidikan, hal itu berarti memiliki suatu capain belajar yang dapat diakui sebagai sesuatu
yang bermanfaat, memndapat pengakuan dan kehormatan dalam dunia pendidikan.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Tahap ini merupakan tahap puncak dimana seseorang ingin meraih secara penuh potensinya.

2. Teori Motivasi Kesehatan Hezberg


Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan wawancara dengan para
akuntan dan para ahli teknik Amerika Serikat, Hezberg mengembangkan teori motivasi dua
faktor. Teori tersebut menjelaskan adanya beberapa faktor yang jika tidak ada akan
menyebabkan ketidakpuasan dan yang terpisah dari faktor motivasi lain yang membangkitkan
upaya dan kinerja sangat istimewa. Hal-hal yang tidak memuaskan, ia gambarkan sebagai
motivator.
Hezberg berteori,” faktor-faktor kesehatan tidak mendorong minat para pegawai. Akan
tetapi,jiika faktor-faktor itu dianggap tidak dapat memuaskan dalam berbagai hal, seumpama
karena gaji tidak cukup tinggi atau kondisi kerja tidak menyenangkan, faktor-faktor itu menjadi
sumber ketidakpuasan potensial yang kuat.”. Motivator sebaliknya, adalah faktor-faktor yang
agaknya mendorong semangat guna mencapi kinerja yang lebih tinggi dan pekerjaan
denganmutu yang lebih baik.
3. Teori X dan Teori Y Douglas Mc. Gregor
Teori X dabn Teori Y beranggapan bahwa teori X memandang para pekerja sebagi
pemalas yang tidaak dapat diperbaiki, dan oleh karena itu, mereka menggunakan pendekatan
“wortel dan tongkat” untuk menanganinya. Sedangkan manajer teori Y memandang bekerja
harus seimbang dengan istirahat dan bermain, dan bahwa orang-orang pada dasarnya cenderung
untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan dengan baik.[7]

4. Teori Harapan Vroom


Teori harapan didasarka pada keyakinan bahwa orang dipengaruhi perasaan mereka
tentang gambaran hasil tindakan mereka. Contohnya, orang menginginkan kenaikan pangkatakan
menunjukkan kinerja yang baik jika mereka menganggap kinerja yang tinggi diakui dan dihargai
dengan kenaikan pangkat.
Vroom mengembangkan sebuah teori yang didasarkan pada apa yang ia gambarkan
sebagai kemampuan bersenyawa (valence), alat perantara(instrumentality), dan
harapan (expectancy). Kemampuan bersenyawa adalah pilihan lebih baik seseorang akan
tercapainya hasil tertentu.
5. Teori Motivasi Berprestasi Mc Celland
Mc Celland menekankan pentingnya kebutuhan berprestasi, karena orang yang berhasil
dalam bisnis dan industri adalah orang yang berhasil mengerjakan segala sesuatu. Ia menandai 3
motivasi utama, yaitu penggabungan, kekuatan/prestasi. Ia menandai sifat-sifat dasar orang
awam berikut dengan kebutuhan penacapaian yaitu:
 Selera akan keadaan yang menyebabkan seseorang apat bertanggungjawab secara pribadi
 Kecenderungan menentukan sasaran yang pantas dan memperhitungskan risikonya
 Keinginan untuk mendapat umpan balik yang jelas akan kinerja .[8]
6.Teori Keberadaan, Keterkaitan, dan Pertumbuhan Cleyton Alderfer E.R.G
Alderfer merumuskan lagi hierarki Maslow dalam 3 kelompok yang dinyatakan sebagai
keberadaaan, keterkaitan,dan pertumbuhan, yaitu:
 Kebutuhan akan keberadaan adalah semua kebutuhan yan berkaitan dengan keberadaan
manusia yang diperhatankan dan behubungan dengan hubungan fisiologis daridan rasa aman
pada hierarki Maslow.
 Kebutuhan keterkaitan yaitu hubungan kemitraan
 Kebutuhan pertumbuhan adalah kebutuhan yang berhubungan dengan perkembangan ppotensi
perorangan dan dengan kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri yang dikemukakan oleh
Maslow.
Menurut teori ini semua kebutuhan itu timbul pada waktu yang sama. Kalau satu tingkat
kebutuhan tertentu tidak dapat dipuaskan, seseorang kelihatannya kembali ke tingkat yang lain.

d.Peranan dalam Belajar dan Pembelajaran


Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku
individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan penting dari
motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain:
1.Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar
dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, daan hanya dapat dipecahkan
berkat bantuan hal-hal yang dilaluinya. Dapat dipahami bahwa sesuatu dapat menjadi penguat
belajar untuk seseorang, apabila ia sedang benar-benar mempunyai motivasi untuk belajar.
Dengan perkataan lain, motivasi dapat menentukan hal-hal apa di lingkungan anak yang dapat
memperkuat perilaku belajar. Untuk seorang guru perlu memahami suasana itu, agar di adapt
membantu siswanya dalam memilih faktor-faktor atau keadaan yang ada dalam lingkungan siswa
sebagai bahan penguat belajar.
2.Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan
belajar itu sendiri. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya
sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Sebagai contoh, anak akan
termotivasi belajar elektronikkarena tujuan belajar elektronik itu dapat melahirkan kemampuan
anak dalam bidang elektronik. Dalam suatu kesempatan misalnya, anak tersebut diminta untuk
memperbaiki radio yang rusak, dan berkat pengalaman dari belajar elektronik, maka anak
tersebut dapat memperbaikinya. Dari pengalaman itu anak semakin termotivasi untuk beajar
karena anak tersebut telah mengetahui makna dari belajar elektronik.
3.Motivasi menentukan ketekunan belajar
Seoarang yang termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha mempelajarinya dengan
baik dan tekun. Dalm hal ini, tampak bahwa motivasi dalam belajar menyebabkan seseorang
tekun dalam belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk
belajar, maka ia tidak tahan lama dalam belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang
lain bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan
belajar.[9]
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Dari serangkaian penjelaasan di atas maka dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan
motivasi adalah suatu dorongan yang ada pada diri seorang individu yang menyebabkan individu
tersebut melakukan aktivitas atau kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Motivasi
tersebut bias akibat rangsangan dari luar (lingkungan) individu atau berasal dari dalam diri
individu (alamiah).
Terdapat beberapa jenis motivasi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Berdasarkan
arah datangnya motif, diantaranya: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Selain itu jika
dipandang berdasarkan pengaruhnya terhadap cara seseorang dalam bertingkah laku, diantaranya
motivasi berprestasi, motivasi berafiliasi, motivasi berkompetisi, dan motivasi berkuasa.
Disamping itu, berdasarkan sumber dan proses perkembangannya motivasi terbagi menjadi
motivasi primer dan motivasi sekunder.
Semua teori motivasi mengisyaratkan bahwa rangsangan adalah hal terpenting. Tidak
kalah penting keinginan seseorang untuk menerima rangsangan, tersebut karena hal itu
merupakan wujud kerelaan dan kesadaran dari individu serta keinginan untuk menanggapi
rangsangan tersebut kemudian menginterpretasikan dalam sebuah aktivitas dalam rangka
mencapai tujuan.
Selain itu peranan motivasi dalam belajar dan pembelajaran dirasa sangat penting. Hal
tersebut dikarenakan peranan motivasi sangat besar dalam menentukan hal-hal yang menguatkan
intensitas belajar, memperjelas tujuan belajar serta meningkatkan ketekunan belajar.

DAFTAR PUSTAKA
B. Uno, Hamzah. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008.
Khadijah, Nyayu. Psikologi Pendiidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014.
Makmun, Abin Syamsuddin. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998.
Hamdu, Ghullam dan Nisa Agustina. “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi
Belajar IPA di Sekolah Dasar”. Jurnal Penelitian Pendidikan (Online), No. 01,
2011(http://jurnal.upi.edu/file/8-Ghullam_Hamdu.pdf, diakses 2 Desember 2017).

[1] Ghullam Hamdu dan Nisa Agustina, “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA
di Sekolah Dasar”, Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 12, 1 April 2011, 90-91.
[2] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), 3.
[3] Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014), 150.
[4] Ibid, 152.
[5] Ibid, 152.
[6] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998), 29.
[7] Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), 45.
[8] Ibid, 47.
[9] Ibid, 27-29.
Diposting oleh COAN CEO di 09.32

Reaksi:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Makalah Psikologi Pendidikan

Tidak ada komentar:


Posting Komentar
Semoga Manfaat

Link ke posting ini


Buat sebuah Link

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)


Pemilik

COAN CEO
Jepara, Jepara/ Jawa Tengah, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Translate

Diberdayakan oleh Terjemahan

Label Blog

 Hizib
 Lembaga
 Lirik Lagu
 Makalah Administrasi dan Manajemen Pendidikan
 Makalah Bahasa Indonesia
 Makalah Bank Syariah
 Makalah Bisnis
 Makalah Filsafat
 Makalah Fiqih
 Makalah Hukum Tata Negara
 Makalah Kajian Teks Arab
 Makalah Media Pembelajaran
 Makalah Metodologi Pendidikan Islam
 Makalah Metodologi Studi Islam
 Makalah Nahwu
 Makalah Pengantar Pendidikan
 Makalah Perbankan Syariah
 Makalah Praktik Ibadah
 Makalah Psikologi
 Makalah Psikologi Pendidikan
 Makalah Sejarah Kebudayaan
 Makalah Sejarah Peradaban Islam (SPI)
 Makalah Seputar Akhlak
 Makalah Statistik
 Makalah Studi Al-Qur'an
 Makalah Studi Hadits
 Makalah Supervisi Pendidikan
 Makalah Ushul Fiqh
 RPP

Postingan Populer

 Makalah Proses Lahirnya Dan Fase-fase Pemerintahan Bani Abbasiyah


Makalah Proses Lahirnya Dan Fase-fase Pemerintahan Bani Abbasiyah Mata kuliah Sejarah Kebudayaan
Islam BAB I PENDA...
 MAKALAH PROSES PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MASA BANI ABBASIYAH
PROSES PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MASA BANI ABBASIYAH Mata Kuliah Sejarah Kebudayaan
Islam (SKI) BAB I PENDAHULUAN ...
 Makalah Validitas dan Reabilitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Persoalan alat ukur yang digunakan evaluator ketika melakukan
kegiatan evaluasi sering di...
 Makalah Sholat Gerhana
MAKALAH PRAKTIK IBADAH "SHOLAT GERHANA" BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Tidak ada suatu
kejadian diantara sekian b...
 MAKALAH CAKUPAN PELAYANAN PRIMA DAN ATURAN TENTANG PELAYANAN PRIMA
MAKALAH CAKUPAN PELAYANAN PRIMA DAN ATURAN TENTANG PELAYANAN PRIMA MATA KULIAH
SERVICE EXCELENCE BAB I PENDAHUL...
 MAKALAH STUDI QUR'AN "MUNASABAH AL-QUR’AN"
MAKALAH STUDI QUR'AN "MUNASABAH AL-QUR’AN" KATA PENGANTAR Alhamdulillah. Segala puji hanya milik
Allah Tuhan s...
 MAKALAH AKHLAK MENURUT IBNU MISKAWAIH
Makalah Filsafat Islam "AKHLAK MENURUT IBNU MISKAWAIH" BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Etika
dan jiwa merupa...

Arsip Blog

 ► 2018 (15)
 ▼ 2017 (98)
o ▼ 12/24 - 12/31 (10)
 Makalah Validitas dan Reabilitas "STATISTIK"
 Hukum Dalam Perbankan Syariah Sebagai Bentuk Keunt...
 Makalah Metode Pendidikan Islam
 Makalah Pengelolaan Kelas "PSIKOLOGI PENDIDIKAN"
 Makalah Sistem Evaluasi "PSIKOLOGI PENDIDIKAN"
 Makalah Teori Motivasi "PSIKOLOGI PENDIDIKAN"
 MAKALAH PERENCANAAN INSTRUKSIONAL DAN TEKNOLOGI PE...
 MAKALAH PENDEKATAN KONTRUKTIVISME DAN PEMBELAJARAN...
 MAKALAH PENDEKATAN KOGNITIF KOMPLEKS "Psikilogi Pe...
 Makalah Pendekatan Pemrosesan Informasi "Psikologi...
o ► 12/17 - 12/24 (13)
o ► 11/05 - 11/12 (36)
o ► 10/29 - 11/05 (33)
o ► 10/22 - 10/29 (6)

Google+ Followers

Hal

https://makalahkampus15.blogspot.co.id/2017/11/lirik-bidadari-surga-uje-versi.html

Entri yang Diunggulkan

Makalah MASA KOLONIALISME TERHADAP DUNIA ISLAM


Makalah Sejarah Peradaban Islam (SPI) MASA KOLONIALISME TERHADAP DUNIA ISLAM PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Periode mode...

Pencarian

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gus Han. Tema Sederhana. Gambar tema oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.
n kekuatan yang mendorong dan mengarahkan keberhasilan prilaku yang tetap ke arah tujuan
tertentu. Motivasi bisa berasal dari dalam diri seseorang atau pun dari luar dirinya. Motivasi yang
berasal dari dalam diri sesorang disebut motivasi instrinsik, dan yang berasal dari luar adalah
motivasi ekstrinsik.
Motivasi adalahsebuah kemampuan kita untuk memotivasi diri kita tanpa memerlukan
bantuan orang lain. Memotivasi diri adalah proses menghilangkan faktor yang melemahkan
dorongan kita. Rasa tidak berdaya dihilangkan menjadi pribadi yang lebih percaya diri.
Sementara harapan dimunculkan kembali dengan membangun keyakinan bahwa apa yang
diinginkan bisa kita capai.
Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada
seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar.
Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya
diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar.
Dengan demikian jika sebuah motivasi (dalam hal ini ketidak berdayaan dan tanpa
harapan) dihilangkan, maka aliran energi dalam tubuh kita bisa mengalir kembali. Dan pada
makalah ini, saya akan mencoba membahas tentang motivasi dan macam-macam teori motivasi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu motivasi ?
2. Macam - macam teori motivasi ?

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata lain “MOVERE” yang berarti dorongan atau bahasa
Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang
mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan
dengan faktor-faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang
mempengaruhi motif disebut motivasi. Michel J. Jucius menyebutkan motivasi sebagai kegiatan
memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang
dikehendaki.Menurut Dadi Permadi, motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu,
baikyang positif maupun yang negatif.
Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri
seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi juga
bisa dalam bentuk usaha - usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang
tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau
mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Motivasi mempunyai peranan starategis dalam
aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi, tidak ada
motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-
prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam
aktivitas sehari-hari.
B. Konsep Motivasi
Konsep motivasi yang dijelaskan oleh suwanto adalah sebagai berikut
1. Model Tradisional
Untuk memotivasi pegawai agar gairah kerja meningkat perlu diterapkan sistem insentif dalam
bentuk uang atau barang kepada pegawai yang berprestasi.
2. Model Hubungan Manusia
Untuk memotivasi pegawai agar gairah kerjanya meningkat adalah dengan mengakui kebutuhan
sosial mereka dan membuat mereka merasa berguna dan penting.
3. Model Sumber Daya Manusia
Pegawai dimotivasi oleh banyak faktor, bukan hanya uang atau barang tetapi juga kebutuhan
akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti.
C. Jenis Motivasi
1. Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada
dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah
ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.
Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar),
maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang
terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri.
Sebagai contoh konkrit, seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul ingin mendapat
pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif,
tidak karena tujuan yang lain-lain. “intrinsik motivations are inherent in the learning situations
and meet pupil-needs and purposes”. Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan
sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan
suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti
tadi dicontohkan bahwa seorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala
sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang
dari luar. Sebagai contoh itu seseorang itu belajar,karena tahu besok paginya akan ujian dengan
harapan akan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya,atau temannya. Jadi
yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai
yang baik,atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang
dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannyn itu. Oleh
karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya
aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak
berkaitan dengan aktivitas belajar.
D. Teori-teori Motivasi
1. Teori Motivasi ABRAHAM MASLOW (Teori Kebutuhan)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki
kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang
memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan
Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang
lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada
suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat
berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting;
• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta
pengakuan)
• Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi;
kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri:
mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).
2. Teori Motivasi HERZBERG (Teori dua faktor)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha
mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor
higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik).
1) Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya
adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik),
2) Faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk
didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
3. Teori Motivasi DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut
teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
a. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
b. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk
mencapai tujuan.
c. Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
d. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
a. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
b. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada
sasaran.
c. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
d. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
4. Teori Motivasi VROOM (Teori Harapan )
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang
tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari
pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang
ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
• Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan
suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
• Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi
tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan. Motivasi rendah jika usahanya
menghasilkan kurang dari yang diharapkan.
5. Teori Motivasi ACHIEVEMENT Mc CLELLAND (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Teori yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang
menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
• Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya
Maslow)
• Need for Power (dorongan untuk mengatur).
6. Teori Motivasi CLAYTON ALDERFER (Teori “ERG)
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia
akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini
sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang
lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang
fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.
7. Teori Penetapan Tujuan (goal setting theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam
mekanisme motivasional yakni :
(a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian;
(b) tujuan-tujuan mengatur upaya;
(c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi;
(d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model
kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang
bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi
tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang
ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya,
dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan
bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang
menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang
mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.Contoh yang sangat sederhana ialah
seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik
tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang
dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong
bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan
keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya
semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di
kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran
dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan
kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat
pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap
memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara
tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.

BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif
telahdihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai. Sedangkan motif adalah segaladaya
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif tidak dapat dilihat begitusaja dari
perilaku seseorang karena motif tidak selalu seperti yang tampak, bahkankadang-kadang
berlawanan dari yang tampak. Dari tujuan-tujuan yang tidak selalu disadariini, kita dipaksa
menghadapi seluruh persoalan motivasi yang tidak disadari itu. Karena teori motivasi yang sehat
tidak membenarkan pengabaian terhadap kehidupan tidak sadar.
Dari banyaknya pandangan yang berbeda mengenai motivasi yang mungkin
dikarenakanoleh penggunaan metode observasi yang berbeda-beda, studi tentang berbagai
kelompokusia dan jenis kelamin yang berbeda, dan sebagainya, terdapat model tentang
motivasiyang digeneralisasi yang mempersatukan berbagai teori yang ada.Ada macam-macam
motivasi dalam satu perilaku.
Suatu perbuatan atau keinginan yangdisadari dan hanya mempunyai satu motivasi
bukanlah hal yang biasa, tetapi tidak biasa.Karena suatu keinginan yang disadari atau perilaku
yang bermotivasi dapat berfungsisebagai penyalur untuk tujuan-tujuan lainnya.Apabila dapat
terjadi keseimbangan, hal tersebut mencerminkan ”hasil pekerjaan”seseorang yang berhadapan
dengan potensinya untuk perilaku, yang dapat diidentifikasisebagai ”kemampuannya”. Jadi,
motivasi memegang peranan sebagai perantara untukmentransformasikan kemampuan menjadi
hasil pekerjaan.
B. Daftar Pustaka
Agus. TEORI-TEORI MOTIVASI. http://agus.blogchandra.com/teori-teori-motivasi/
Sudrajad, akhmad. 2008. TEORI-TEORI MOTIVASI
Ryanti, D.B.P & Prabowo, H. Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum 2. Jakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
Maslow, Abraham H. 1984. Motivasi dan Kepribadian. Jakarta : PT. Gramedia

15+ Macam Macam Gaya


Kepemimpinan Dalam Organisasi,
Lengkap!
SalamadianFebruari 24, 20181

Gaya Kepemimpinan Dalam Organisasi – Pengertian pemimpin adalah Individu atau


seseorang yang mempunyai kecakapa atau kelebihan dalam suatu bidang sehingga ia
dapat mempengaruhi orang- orang lain dalam suatu organisasi ataupun perusahaan untuk
melakukan aktivitas- aktivitas tertentu sesuai tujuan yang ingin dicapai.

Sedangkan kepemimpinan menurut George R Terry adalah aktivitas mempengaruhi orang-


orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan juga berarti
kemampuan untuk mempengaruhi.

Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan sendiri yang berbeda beda antara satu
dengan yang lainnya. Setiap gaya pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri
baik itu untuk organisasi perusahaan ataupun lembaga. Berikut adalah macam macam
gaya kepemimpinan.

Daftar Isi Artikel [buka]

Macam Macam Gaya Kepemimpinan

preefik.com

Dalam bab ini kita akan membahas gaya-gaya kepemimpinan yang biasa digunakan
pimpinan baik itu dalam kepemimpinan organisasi ataupun perusahaan.

1. Gaya Kepemimpinan Demokratis

Menurut Sudarwan Danim, Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang


dilandasi oleh anggapan bahwa hanya karena interaksi kelompok yang dinamis, tujuan
organisasi akan tercapai.
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya kepimpinan dimana anggota
organisasi/kelompok diberikan kebebasan dalam mengutarakan pendapat, ide ataupun
gagasan. Pemimpin menekankan kesederajatan dan sering melakukan interaksi, konsultasi
atau musyawarah dengan bawahan sebelum mengambil keputusan.

Gaya kepemimpinan demokratis adalah salah satu gaya kepemimpinan yang paling disukai
karena dapat mendorong kompetensi, kreativitas, kejujuran, kecerdasan dan keberanian
berpendapat bawahan- bawahannya.

2. Gaya Kepemimpinan Otokratis atau Otoriter

Jika gaya kepemimpinan demokratis berpusat pada bawahan atau anak buah, Maka gaya
kepemimpinan otokratis adalah sebaliknya.

Gaya kepemimpinan otokrasi adalah gaya yang memusatkan diri pada atasan. seluruh
keputusan diambil berdasarkan pertimbangan pemimpin itu sendiri. Sementara bawahan
dituntut untuk menjalankan keputusan tersebut baik suka ataupun tidak suka.

Peran bawahan dalam pengambilan keputusan terbatas atau bahkan tidak ada. Atasan
akan menentukan lewat komunikasi satu arah, apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana
caranya, kapan waktunya hingga seperti apa tugas dikerjakan.

Gaya otokratis ditandai dengan banyaknya perintah atau petunjuk yang diberikan atasan.
gaya kepemimpinan ini membutuhkan kepatuhan total bawahannya untuk menjalankan
prosedur- prosedur yang telah dibuat.

3. Gaya Kepemimpinan Instruktif

Gaya kepemimpinan instruktif adalah gaya yang menekankan instruksi atau pengarahan
langsung dari atasan pada bawahan (-bawahan baru). Biasanya sifat instruksi atau
pengarahan itu sendiri sangat spesifik. Seperti tugas apa yang harus dilakukan, bagaimana
hingga kapan harus dilakukan.

Seorang atasan yang menerapkan gaya kepemimpinan instruktif akan memberikan


pengawasan lebih kepada bawahan atau anak buah yang baru bekerja. Selain itu
kepemimpinan instruktif ini juga memiliki kadar direktif yang relatif tinggi.
Kadar supportifnya juga rendah sehingga dianggap tidak efektif untuk menggali potensi
sumber daya manusia dari bawahan. Bahkan gaya kepemimpinan yang satu ini bisa
membuat kualitas pegawai lebih rendah.

4. Gaya Kepemimpinan Delegatif

briantracy.com

Sesuai dengan namanya, gaya kepemimpinan delegatif adalah gaya kepemimpinan yang
dipenuhi dengan tindakan atasan yang lebih banyak menyerahkan keputusan kepada
bawahan. Biasanya atasan juga sangat jarang memberi arahan kepada anak buah.

Tujuan gaya kepemimpinan delegatif ini adalah untuk melatih anak buah dalam
menyelesaikan persoalannya sendiri dalam sebuah organisasi hingga perusahaan tanpa
harus melibatkan peran atasan lebih banyak.

Banyak atasan menggunakan gaya kepemimpinan yag satu ini tidak hanya dalam rangka
membuat operasional perusahaan berjalan dengan baik. Namun banyak atasan
mempertimbangkan untuk menggunakan gaya kepemimpinan delegatif ini dalam rangka
memaksimal potensi bawahan.

Dalam gaya kepemimpinan delegatif, bawahan lebih banyak dituntut untuk memiliki
kemampuan lebih baik saat bekerja, mengajukan ide-ide kreatif hingga motivasi tinggi.

5. Gaya Kepemimpinan Birokratis

Gaya kepemimpinan birokratis adalah gaya memimpin yang mengacu pada peraturan.
Tanda-tanda yang paling mudah dikenali dari seorang pemimpin yang menerapkan gaya
kepemimpinan birokratis adalah perilaku taat prosedur.
Ketaatan ini tidak hanya berlaku untuk dirinya sebagai atasan namun juga untuk bawahan
yang berada dalam kepemimpinannya. Selain taat prosedur, atasan dengan gaya
kepemimpinan birokratis ini juga lebih banyak mengambil keputusan sesuai prosedur, lebih
kaku dan tidak fleksibel.

Karakteristik yang dapat dikenali dapat gaya kepemimpinan birokratif adalah adanya
keputusan yang berpusat pada atasan. Biasanya semua keputusan yang dibuat dan
berkaitan dengan pekerjaan akan ditentukan oleh atasan.

Sementara bawahan menjadi pihak yang wajib menjalankannya. Atasan juga menjadi
penentu standar bawahan untuk melaksanakan tugas. Atasan juga akan memberikan
sanksi yang jelas jika bawahan tidak memiliki kinerja sesuai prosedur standar kerja yang
berlaku.

6. Model Kepemimpinan Partisipatif

Gaya kepemimpinan partisipatif sebetulnya adalah nama lain dari gaya kepemimpinan
demokratis. gaya partisipatif menuntut peran aktif atau partisipasi bawahan dalam
mengambil keputusan. Karena itu setiap kali keputusan diambil, atasan tidak akan
mengambil keputusan secara sepihak tanpa harus berdiskusi lebih dulu dengan bawahan.

Mengingat pentingnya peran bawahan atau anggota dalam kepemimpinan partisipatif,


perwujudan kepemimpinan ini membuat atasan harus lebih proaktif. Mendekati bawahan
dan memastikan langsung mengenai tanggapan karyawan terhadap keputusan yang
diambilnya.

7. Gaya Kepemimpinan Konsultatif

Dalam beberapa pembahasan, gaya kepemimpinan konsultatif ini menjadi bagian tidak
terpisahkan dari gaya kepemimpinan partisipatif. Pasalnya gaya kepemimpinan partisipatif
menghendaki adanya peran aktif dari bawahan untuk mendukung atasan.

Keterlibatan bawahan dalam hal ini anak buah sangat besar dalam proses pengambilan
keputusan hingga apapun yang ditentukan oleh atasan. Namun penerapan gaya
kepemimpinan konsultatif ini lebih kepada atasan yang meminta pendapat bawahan atas
keputusan yang akan diambil.
Jika dalam gaya kepemimpinan demokratis peran bawahan menjadi sangat penting karena
memiliki derajat yang sama besarnya dengan atasan dalam mengambil keputusan.
Sementara dalam gaya kepemimpinan konsultatif ini, peran bawahan juga tetap cukup
besar, namun sifatnya hanya menjadi konsultan bagi atasan.

Dengan kata lain, atasan akan selalu berkonsultasi atau berdiskusi dengan bawahan
namun hak mutlak pengambilan keputusan masih ada di tangannya.

8. Gaya Kepemimpinan Situasional

Gaya kepemimpinan situasional adalah gaya yang memimpin yang menggunakan berbagai
macam gaya kepemimpinan berbeda-beda (demokratis, otoriter, delegatif dll) yang
disesuaikan dengan tingkat kesiapan dari bawahan atau pegawai dan kondisi yang ada.

Seorang atasan yang menerapkan gaya kepemimpinan situasional ini cenderung


menyadari jika tidak ada acuan baku gaya kepemimpinan terbaik. Atasan yang sukses
cenderung menerapkan gaya kepemimpinan yang fleksibel.

Meski cenderung berubah-ubah sesuai dengan kondisi anggota atau anak buah, namun
biasanya atasan dengan gaya kepemimpinan situasional memiliki beberapa karakter yang
dapat dibaca. Setidaknya ada beberapa karakter atau gaya yang selalu dilakukan seorang
atasan yang mengadopsi kepemimpinan situasional.

Diantaranya telling directing atau lebih banyak memberitahu, menunjukkan dan memimpin
juga menetapkan. Selain itu atasan juga akan lebih banyak selling coaching atau menjual,
menjelaskan sekaligus memperjelas dan membujuk.

Participating supporting atau mengikutsertakan hingga memberi semangat dan bekerja


sama. Dan juga delegating atau memberikan delegasi, mengawasi sekaligus
menyelesaikan.

9. Gaya Kepemimpinan Paternalistik

10. Gaya Kepemimpinan Egaliter

11. Gaya Kepemimpinan Transformatif

12. Gaya Kepemimpinan Autocratic

13. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire


14. Gaya Kepemimpinan Kharismatik

15. Gaya Kepemimpinan Servant Leadership

Demikian artikel singkat mengenai penjelasan dari gaya kepemimpinan baik itu otoriter
demokratis definisi pengertian dari gaya kepemimpinan beserta dengan jenis model dan
macam macam gaya kepemimpinan yang ada dalam organisasi atau perusahaan.