Anda di halaman 1dari 28

KATAPENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat dan karunianya sehinnga kami dapat menyususn makalah ini yang akan
membahas mengenai “Perilaku Kekerasan”

Makalah ini dibuat dengan berbagai Observasi dan beberapa bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah
ini. Terima kasih terhadap segenap pihak yang telah memberikan dorongan, saran , petunjuk
bimbingan dan nasihat di dalam persiapan dan pelaksanaannya.

Kelompok kami menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan kami juga
tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kami dari kelompok 1 memohon kritik dan saran
yang dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata kami dari kelompok 1, sangat berharap semoga penyusunan makalah ini
dapat menambah wawasan dan manfaat pembaca pada umumnya, dan bagi mahasiswa
Akademi Keperawatan Rumah Sakit Marthen Indey.

Jayapura, April 2017

Kelompok 1

KEPERAWATAN JIWA
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG……………………………………………….…
B. TUJUAN PENULISAN……………………………………………….. .
C. RUMUSAN MASALAH…………………………………………….... .

BAB II : PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR PERILAKU KEKERASAN
1. DEFINISI ....................................................................................................
2. RENTANG RESPON MARAH................................... ..............................
3. TANDA DAN GEJALA......................................................................... ....
4. FAKTOR RISIKO................................................................................... ...
5. ETIOLOGI............................................................................................. .....
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN..................................................................................... .......
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN.................................................... ............
3. RENCANA TINDAKAN………………………………………….. .........

BAB III : PENUTUP


A. KESIMPULAN……………………………………………………. ..
B. SARAN……………………………………………………………....
DAFTAR PUSTAKA

KEPERAWATAN JIWA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk,
2008). Menurut Stuart dan Laraia (1998), perilaku kekerasan dapat dimanifestasikan secara fisik
(mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas tubuh), psikologis (emosional, marah, mudah
tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa dirinya sangat berkuasa, tidak bermoral). Perilaku
kekerasan merupakan suatu tanda dan gejala dari gangguan skizofrenia akut yang tidak lebih dari
satu persen (Purba dkk, 2008).
Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. WHO (2001) menyatakan,
paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan
ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pada masyarakat umum
terdapat 0,2 – 0,8 % penderita skizofrenia dan dari 120 juta penduduk di Negara Indonesia
terdapat kira-kira 2.400.000 orang anak yang mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004 dalam
Carolina, 2008). Data WHO tahun 2006 mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau
kira-kira 12-16 persen mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan,
jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang (WHO, 2006).

B. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui definisi perilaku kekerasan.
2. Untuk mengetahui rentang respon marah..
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala perilaku kekerasan.
4. Untuk mengetahui faktor risiko.
5. Untuk mengetahui penyebab dari perilaku kekerasan.
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien akibat perilaku kekerasan.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu perilaku kekerasan?
2. Apa saja yang mempengaruhi rentang respon marah?
3. Apa tanda dan gejala penderita perilaku kekerasan?
4. Apa saja faktor risikonya ?
5. Apa yang dapat menyebabkan perilaku kekerasan ?
6. Bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan pada pasien akibat perilaku kekerasan?

KEPERAWATAN JIWA
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR PERILAKU KEKERASAN
1. PENGERTIAN
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai
seseorang secara fisik ataupun psikologis. Berdasarkan definisi tersebut maka perilaku
kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu saat sedang berlangsung
perilaku kekerasan atau perilaku kekerasan terdahulu (riwayat perilaku kekerasan).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering
juga disebut gaduh gelisah atau amuk di mana seseorang marah berespon terhadap suatu
stresor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (Yosep, 2010).

2. RENTANG RESPON MARAH


Menurut Yosep (2010), perilaku kekerasan merupakan status rentang emosi dan
ungkapan kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik. Kemarahan tersebut
merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian pesan dari individu. Orang
yang mengalami kemarahan sebenarnya ingin menyampaikan pesan bahwa ia “tidak setuju”,
tersinggung, merasa tidak dianggap, merasa tidak dituruti atau diremehkan”. Rentang respon
kemarahan individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon sangat tidak
normal (maladaptif).

Gambar Rentang Respon Marah (Yosep, 2010)

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan


Klien mampu Klien gagal Klien merasa Klien Perasaan marah
mengungkapkan mencapai tujuan tidak dapat mengekspresikan dan bermusuhan
marah tanpa kepuasan/saat mengungkapkan secara fisik, tapi yang kuat dan
menyalahkan marah dan tidak perasaannya, tidak masih terkontrol, hilang kontrol,
orang lain dan dapat menemukan berdaya dan mendorong orang disertai amuk,
memberikan alternatifnya. menyerah. lain dengan merusak
kelegaan. ancaman. lingkungan.

KEPERAWATAN JIWA
3. TANDA DAN GEJALA
Menurut Yosep (2010) , perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala
perilaku kekerasan yaitu :
a) Muka merah dan tegang
b) Mata melotot/pandangan tajam
c) Tangan mengepal
d) Rahang mengatup
e) Jalan mondar-mandir

4. FAKTOR RISIKO
Menurut NANDA-1, (2012-2014), faktor resiko terbagi dua, yaitu :
a) Resiko perilaku kekerasan terhadap orang lain
Definisi : Beresiko melakukan perilaku, yaitu individu menunjukkan bahwa dirinya
dapat membahayakan orang lain secara fisik, emosiona, dan/atau seksual.
 Ketersediaan senjata
 Bahasa tubuh (missal, sikap tubuh kaku/rigid, mengepal jari dan rahang terkunci,
hiperaktivitas, denyut jantung cepat, nafas terengah-engah, cara berdiri mengancam)
 Kerusakan kognitif (misal, ketunadayaan belajar, gangguan defisit perhatia,
penurunan fungsi intelektual)
 Kejam pada hewan
 Menyalakan api
 Riwayat penganiayaan pada masa kanak-kanak
 Riwayat melakukan kekerasan tak langsung (missal, merobek pakaian, membanting
objek yang tergantung di dinding, berkemih di lantai, defekasi di lantai, mengetuk-
ngetuk kaki, teper tantrum, berlarian di koridor, berteriak, melempar objek,
memecahkan jendela, membanting pintu, agresif seksual)
 Riwayat penyalahgunaan zat
 Riwayat ancaman kekerasan (misal, ancaman verbal terhadap seseorang, ancaman
sosial, mengeluarkan sumpah serapah, membuat catatan/ surat ancaman, sikap tubuh
mengancam, ancaman seksual)
 Riwayat menyaksikan perilaku kekerasan dalam keluarga
 Riwayat perilaku kekerasan terhadap orang lain (misal, memukul seseorang,
menendang seseorang, meludahi seseorang, mencakar seseorang, melempar objek
pada seseorang, menggigit seseorang, percobaan pemerkosaan, pelecehan seksual,
mengencengi/membuang kotoran pada seseorang)

KEPERAWATAN JIWA
 Riwayat perilaku kekerasan antisosial (misal, mencuri, memaksa meminjam,
memaksa meminta hak istimewa, memaksa mengganggu pertemuan, menolak untuk
makan, menolak untuk minum obat, menolak istruksi)
 Impulsif
 Pelanggaran kendaraan bermotor (misal, sering melanggar lampu lintas,
menggunakan kendaraan bermotor untuk melepaskan kemarahan)
 Gangguan neurologis (misal, EEG positif, CT, MRI, temuan neurologis, trauma
kepala, gangguan kejang)
 Intoksikasi patologis
 Komplikasi perinatal
 Komplikasi prenatal
 Simtomatologi psikosis (misal, perintah halusinasi pendengaran, penglihatan, delusi
paranoid, proses pikir tidak logis, tidak teratur, atau tidak relevan)
 Perilaku bunuh diri

b) Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri


Definisi : Berisiko melakukan perilaku, yang individu menunjukkan bahwa dirinya dapat
membahayakan dirinya sendiri secara fisik, emosional, dan/atau seksual.
 Usia 15-19 tahun
 Usia 45 tahun atau lebih
 Isyarat perilaku(misal, catatan cinta yang sedih, menunjukkan pesan kemarahan pada
orang terdekat yang telah menolak dirinya mengambil, polis asuransi jiwa yang
besar)
 Konflik hubungan interpersonal
 Masalah emosional (misal, ketidakberdayaan, putus asa, peningkatan rasa cemas,
panik, marah, permusuhan)
 Masalah pekerjaan (misal, menganggur, kehilangan/kegagalan pekerjaan yang
sekarang)
 Menjalani tindakan seksual autoerotic
 Latar belakang keluarga (misal, riwayat bunuh diri, kaotik, atau penuh konflik)
 Riwayat upaya bunuh diri yang dilakukan berkali-kali
 Kurang sumber personal (misal, pencapaian yang buruk, wawasan/pengetahuan yang
buruk, afek yang tidak tersedia dan dikendalikan secara buruk)
 Kurang sumber sosial (misal, rapor yang buruk, isolasi sosial, keluarga yang tidak
responsif)
 Status pernikahan (misal, belum menikah, janda, cerai)

KEPERAWATAN JIWA
 Masalah kesehatan mental (misal, depresi berat, psikosis gangguan kepribadian berat,
alkoholisme, penyalahgunaan obat)
 Pekerjaan (administratif, administrator pemilik bisnis, pekerja professional, pekerja
semiterampil)
 Masalah kesehatan fisik (misal, hipokondriasis, penyakit terminal atau kronis)
 Orientasi seksual (biseksual [aktif], homoseksual [inaktif]
 Ide bunuh diri
 Rencana bunuh diri
 Petunjuk verbal (misal, bicara tentang kematian, “lebih baik tanpa saya”, mengajukan
pertanyaan dosis obat mematikan)

5. ETIOLOGI
a. Faktor Predisposisi
Menurut Yosep (2010), faktor predisposisi klien dengan perilaku kekerasan adalah :
1) Teori Biologis
a) Neurologic factor
Beragam komponen dari sistem syaraf seperti sinap, neurotransmitter,
dendrit, akson terminalis mempunyai peran memfasilitasi atau menghambat
rangsangan dan pesan-pesan yang akan mempengaruhi sifat agresif. Sistem
limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan
respon agresif.

b) Genetic factor
Adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi potensi
perilaku agresif. Menurut riset Kazuo Murakami (2007) dalam gen manusia
terdapat dormant (potensi) agresif yang sedang tidur akan bangun jika
terstimulasi oleh faktor eksternal. Menurut penelitian genetik tipe karyotipe
XYY, pada umumnya dimiliki oleh penghuni pelaku tindak kriminal serta orang-
orang yang tersangkut hokum akibat perilaku agresif.

c) Cycardian Rhytm
(Irama sikardian tubuh), memegang peranan pada individu. Menurut
penelitian pada jam-jam sibuk seperti menjelang masuk kerja dan menjelang
berakhirnya pekerjaan sekitar jam 9 dan 13. Pada jam tertentu orang lebih mudah
terstimulasi untuk bersikap agresif.

KEPERAWATAN JIWA
d) Biochemistry factor
(Faktor biokimia tubuh), seperti neurotransmitter di otak (epineprin,
norepineprin, dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam
penyampaian informasi melalui sistem persyarafan dalam tubuh, adanya
stimulasi dari luar tubuh yang dianggap mengacam atau membahayakan akan
dihantar melalui impuls neurotransmitter ke otak dan meresponnya melalui
serabut efferent. Peningkatan hormon androgen dan norepineprin serta
penurunan serotonin dan GABA pada cairan cerebrospinal vertebra dapat
menjadi faktor predisposisi terjadinya perilaku agresif.

e) Brain area disorder


Gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal, sindrom otak organik,
tumor otak, trauma otak, penyakit ensepalitis, epilepsi ditemukan sangat
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.

2) Teori Psikologis
a) Teori psikoanalisa
Agresifitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh kembang
seseorang (life span history). Teori ini menjelaskan bahwa adanya ketidakpuasan
fase oral antara 0-2 tahun di mana anak tidak mendapatkan kasih sayang dan
pemenuhan kebutuhan air susu yang cukup cenderung mengembangkan sikap
agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai kompensasi adanya
ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa
aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri
yang rendah. Perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan pengungkapan
secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya harga diri
pelaku tindak kekerasan.

b) Imitation, modeling and information processing theory


Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam lingkungan
yang mentolerir kekerasan. Adanya contoh, model dan perilaku yang ditiru dari
media atau lingkungan sekitar memungkinkan individu meniru perilaku tersebut.
Dalam suatu penelitian beberapa anak dikumpulkan untuk menonton tayangan
pemukulan pada boneka dengan reward positif pula (makin keras pukulannya
akan diberi coklat), anak lain menonton tayangan cara mengasihi dan mencium
boneka tersebut dengan reward positif pula (makin baik belaiannya mendapat

KEPERAWATAN JIWA
hadiah coklat). Setelah anak-anak keluar dan diberi boneka ternyata masing-
masing anak berperilaku sesuai dengan tontonan yang pernah dialaminya.

c) Learning theory
Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap lingkungan
terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ayah saat menerima kekecewaan
dan mengamati bagaimana respon ibu saat marah. Ia juga belajar bahwa
agresivitas lingkungan sekitar menjadi peduli, bertanya, menanggapi, dan
menganggap bahwa dirinya eksis dan patut untuk diperhitungkan.

b. Faktor Prespitasi
Menurut Yosep (2010), faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan
seringkali berkaitan dengan :
 Ekspresi diri, ingin menunjukkan ekstensi diri atau solidaritas seperti dalam sebuah
konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian massal dan sebagainya.
 Ekspresi dan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.
 Kesulitan dalam mengonsumsikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan
dialog untuk memecahkan masalah cederung melakukan kekerasan dalam
menyelesaikan konflik.
 Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alcoholisme
dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.
 Kematian anggota keluarga yang penting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap
perkembangan keluarga.

c. Penilaian Terhadap Stressor


Penilaian stressor melibatkan makna dan pemahaman dampak dari situasi stress bagi
individu. Itu cukup kognitif, afektif, fisiologis, perilaku, dan respon sosial. Penilaian
adalah evaluasi tentang pentingnya sebuah peristiwa dalam kaitannya dengan
kesejahteraan seseorang. Stressor mengasumsikan makna, intensitas, dan pentingnya
sebagai konsekuensi dari interpretasi yang unik dan makna yang diberikan kepada orang
yang berisiko (Stuart dan Laraia, 2001).
Respon perilaku adalah hasil dari respon emosional dan fisiologis, serta analisis
kognitif seseorang tentang situasi stress. Caplan (1981, dalam Stuart dan Laraia, 2001)
menggambarkan empat fase dari respon perilaku individu untuk menghadapi stress,
yaitu:

KEPERAWATAN JIWA
1) Perilaku yang mengubah lingkungan stress atau memungkinkan individu untuk
melarikan diri dari itu.
2) Perilaku yang memungkinkan individu untuk mengubah keadaan eksternal dan
setelah mereka.
3) Perilaku intrapsikis yang berfungsi untuk mempertahankan rangsangan emosional
yang tidak menyenangkan.
4) Perilaku intrapsikis yang membantu untuk berdamai dengan masalah dan gejala sisa
dengan penyesuaian internal.

d. Sumber Koping
Menurut Stuart dan Laraia (2001), sumber koping dapat berupa aset ekonomi,
kemampuan dan keterampilan, teknik defensif, dukungan sosial, dan motivasi. Hubungan
antara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sangat berperan penting pada saat
ini. Sumber koping lainnya termasuk kesehatan dan energi, dukungan spiritual,
keyakinan positif, keterampilan menyelesaikan masalah dan sosial, sumber daya sosial
dan material, dan kesejahteraan fisik.
Keyakinan spiritual dan melihat diri positif dapat berfungsi sebagai dasar
harapan dan dapat mempertahankan usaha seseorang mengatasi hal yang paling buruk.
Keterampilan pemecahan masalah termasuk kemampuan untuk mencari informasi,
mengidentifikasi masalah, menimang alternatif, dan melaksanakan rencana tindakan.
Keterampilan sosial memfasilitasi penyelesaian masalah yang melibatkan orang lain,
meningkatkan kemampuan untuk mendapatkan kerjasama dan dukungan dari orang lain,
dan memberikan kontrol sosial individu yang lebih besar. Akhirnya, aset materi berupa
barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang. Sumber koping sangat meningkatkan
pilihan seseorang mengatasi di hampir semua situasi stres. Pengetahuan dan kecerdasan
yang lain dalam menghadapai sumber daya yang memungkinkan orang untuk melihat
cara yang berbeda dalam menghadapi stress. Akhirnya, sumber koping juga termasuk
kekuatan ego untuk mengidentifikasi jaringan sosial, stabilitas budaya, orientasi
pencegahan kesehatan dan konstitusional.

e. Mekanisme Koping
Menurut Stuart dan Laraia (2001), mekanisme koping yang dipakai pada klien marah
untuk melindungi diri antara lain :
1) Sublimasi, yaitu menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara
normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada

KEPERAWATAN JIWA
obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya
adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
2) Proyeksi, yaitu menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya
yang tidak baik. Misalnya, seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia
mempunya perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa
temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
3) Represi, yaitu mencegah pikiran yang menyakitkan dan membahayakan masuk ke
alam sadar. Misalnya, seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang
tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak
kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh
Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
4) Reaksi formasi, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan
dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan. Misalnya, seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan
memperlakukan orang tersebut dnegan kasar.
5) Displacement, yaitu melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada
obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan
emosi itu. Misalnya, anak berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat
hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain
perang-perangan dengan temannya.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


Klien mengalami perilaku kekerasan sukar mengontrol diri dan emosi. Untuk itu, perawat
harus mempunyai kesadaran diri yang tinggi agar dapat menerima dan mengevaluasi perasaan
sendiri sehingga dapat memakai dirinya sendiri secara teraupetik dalam merawat klien.
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus jujur, empati, terbuka dan penuh
penghargaan, tidak larut dalam perilaku kekerasan klien dan tidak menghakimi.

1. PENGKAJIAN
Faktor penyebab perilaku kekerasan
Menurut Yosep (2009), pada dasarnya pengkajian pada klien perilaku kekerasan ditujukan
pada semua aspek, yaitu biopsikososial-kultural-spiritual.
a) Aspek biologis
Respon fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap
sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah pupil
melebar, pengeluaran urin meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti
meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal,

KEPERAWATAN JIWA
tubuh kaku dan reflek cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah
bertambah.

b) Aspek emosional
Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi,
dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuham dan sakit hati, meyalahkan
dan menuntut.

c) Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual,
peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya
diolah dalam proses intelektual sebagai suatu proses pengalaman. Perawat perlu
mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi
diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.

d) Aspek sosial
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantuangan. Emosi
marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan
kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit
hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses
tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak
mengikuti aturan.

e) Aspek spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan.
Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang
dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.

KEPERAWATAN JIWA
Format/data fokus pada klien dengan perilaku kekerasan (Keliat dan Akemat, 2009)

Berikan tanda (v) pada kolom yang sesuai dnegan data klien

Pelaku/Usia Korban/Usia Saksi/Usia

1. Aniaya fisik { } { } { } { } { } { }
2. Aniaya seksual { } { } { } { } { } { }
3. Penolakan { } { } { } { } { } { }
4. Kekerasan dalam keluarga { } { } { } { } { } { }
5. Tindakan kriminal { } { } { } { } { } { }
6. Aktivitas motorik
{ } Lesu { } Tegang { } Gelisah { } Agitasi
{ } Tik { } Grimasem { } Tremor { }
Kompulsif
7. Interaksi selama wawancara
{ } Bermusuhan { } Kontak mata kurang
{ } Tidak kooperatif { } Defensif
{ } Mudah tersinggung { }Curiga

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Risiko Perilaku Kekerasan
b) Harga Diri Rendah Kronik
c) Risiko Perilaku Kekerasan (diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan verbal)

Masalah Keperawatan

a) Risiko Perilaku Kekerasan (diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan verbal)
b) Perilaku Kekerasan
c) Harga Diri Rendah Kronis

KEPERAWATAN JIWA
Pohon Masalah

Risiko perilaku kekerasan (pada diri


sendiri, orang lain, lingkungan, dan verbal

Effect

Perilaku Kekerasan

Care Problem

Harga Diri Rendah Kronis

Causa

KEPERAWATAN JIWA
Rencana Keperawatan Perilaku Kekerasan

dalam bentuk Strategi Pelaksananan

No. Klien Keluarga


SP1P SP1K
1. Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. Mendiskusikan masalah yang di rasakan keluarga
dalam merawat klien.
2. Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku Menjelaskan pengertian perilaku kekerasan, tanda
kekerasan. dan gejala perilaku kekerasan,serta proses
3. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang terjadinya perilaku kekerasan.
dilakukan.
4. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
5. Menyebutkan cara mengontrol perilaku
kekerasan.
6. Membantu klien mempraktikan latihan cara
mengontrol perilaku kekerasan secara fisik 1:
latihan nafas dalam
7. Menganjurkan klien memasukan ke dalam
kegiatan harian.

SP2P SP2K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien. Melatih keluarga mempraktikan cara merawat
klien dengan perilaku kekerasan.
2. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan Melatih keluarga melakukan cara merawat
dengan cara fisik 2: pukul kasur dan bantal langsung kepada klien perilaku kekerasan.
3. Menganjurkan klien memasukan kedalam
kegiatan harian.
SP3P SP3K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas
dirumah termasuk minum obat
(dischargeplanning)
2. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan Menjelaskan follow up klien setelah pulang.
dengan cara sosial/verbal.
3. Menganjurkan klien memasukan ke dalam
kegiatan harian.
SP4P
1. Mengeveluasi jadwal kegiatan harian klien.
2. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan
dengan cara spritual.
3. Menganjurkan klien memasukan kedalam
kegiatan harian.

SP5P
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
2. Melatih klien mengontrol perilaku kekerasan
dengan minum obat.
3. Menganjurkan klien memasukan ke dalam
kagiatan harian.

KEPERAWATAN JIWA
1) Tindakan keperawatan untuk pasien

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi perasaan marah, tanda dan gejala yang
dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya serta mengontrol secara fisik I.

Fase Orientasi :
“Assalamu’alaikum Pak, perkenalkan nama saya Ana, panggil saya Ana, saya perawat yang dinas di
ruangan ini, hari ini saya dinas dari pagi pukul 07.00-14.00. Sayaa akan merawat bapak di rumah sakit
ini. Nama bapak siapa? Senang dipanggil apa?
“Bagaimana perasaan bapak saat ini? Masih ada perasaan kesal atau marah?
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah bapak”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 10 menit?”
“Di mana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang pak? Bagaimana kalau di ruang tamu?

Fase Kerja :
“Apa yang menyebabkan bapak marah? Apakah sebelumnya bapak pernah marah? Terus
penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang? O….iya, jadi ada dua penyebab bapak marah”
Pada saat penyebab marah itu ada, sepertu bapak pulang ke rumah dan istri belum menyediakan
makanan (misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang bapak rasakan?” (tunggu respon pasien)
Apakah merasakan kesal kemudian dada bapak berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup, dang
tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang bapak lakukan? O…..iya, jadi bapak memukul istri bapak dan memcahkan
piring, apakah dengan cara ini makanan terhidangkan? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara yang bapak
lakukan? Betul, istri bapak jadi sakit dan takut, piring-piring pecah. Menurut bapak adakah cara yang
lebih baik? Maukah bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan
kerugian?”
“Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, pak. Salah satunya dengan cara fisik. Jadi melalui
kegiatan fisik disalurkan rasa marah”
”Ada beberapa cara, bagaiman kalau kita belajar satu cara dulu?”
“Begini pak, kalau tanda marah-marah tadi sudah bapak rasakan maka bapak berdiri, lalu tarik nafas
dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan
kemarahan. Ayo coba lagi, tarik nafas dari hidung, bagus…, tahan dan tiup melalui mulut. Nah
lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”

KEPERAWATAN JIWA
“Nah, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu
muncul, bapak sudah terbiasa melakukannya”

Fase Terminasi:
Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang tentang kemarahan bapak?
“Iya jadi ada dua penyebab bapak marah…….(sebutkan) dan yang bapak rasakan…….(sebutkan) dan
yang bapak lakukan……...(sebutkan)
“Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab bapak marah yang lalu, apa yang bapak
lakukan kalau bapak marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan nafas dalamnya pak”
“Sekarang kita buat jadwal latihannya ya pak, berapa kali sehari bapak mau latihan nafas dalam? Jam
berapa saja pak?”
“Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk
mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini ya pak”
“Assalamu’alaikum”

SP 2 Pasien : Latihan mengonttol kekerasan secara fisik ke-2, dengan cara :

1) Evaluasi latihan nafas dalam


2) Latih cara fisik ke-2 : pukul kasur dan bantal
3) Susun jadwal latihan kegiatan harian cara kedua

Fase Orientasi:
“Assalamu’alaikum pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu, sekarang saya datang lagi”
“Bagaiman perasaan bapak saat ini? Adakah hal-hal yang menyebabkan bapak marah?”
“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara
yangkedua”
“Mau berapa lama? Bagaimana kalau 20 menit? Dimana kita bicara? Bagaimana kalau di ruang
tamu?”
“Setuju ?

Fase Kerja:
“Kalau ada yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan kesal, berdebar-debar, mata
melotot, selain nafas dalam bapak dapat melakukan pukul kasur dan bantal”
“Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kasur bapak? Jadi kalau kalau nanti
bapak ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur
dan bantal. Ya, bagus sekali bapak melakukannya”
“Kekesalan lampiaskan ke kasur dan bantal”

KEPERAWATAN JIWA
“Nah cara inipun dapat dilakukan secra rutin jika ada perasaan marah. Kemudian jangan lupa
merapikan tempat tidurnya”

Fase Terminasi:
“Bagaimana perasaan bapak setalah latihan cara menyalurkan marah tadi?”
“Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba bapak sebutkan lagi? Bagus!”
“Mari kita masukkan ke dalam jadwal kegiatan sehari-hari bapak. Pukul kasur dan bantal mau jam
berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik, jadi jam 05.00 pagi, dan jam 15.00 sore. Lalu
kalau ada keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya pak. Sekarang kita buat
jadwalnya ya pak, mau berapa kali seharii bapak latihan memukul kasur dan bantal serta tarik nafas
dalam ini?”
“Besok pagi kita akan bertemu lagi, kita akan latihan cara mengontrol marah dengan belajar bicara
yang baik. Mau jam berapa pak? Baik, jam 10 pagi ya. Sampai jumpa”

SP 3 Pasien: Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal

1) Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik


2) Latiahn mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik,
mengungkapkan perasaan dengan baik
3) Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal

Fase Orientasi:
“Assalamu’alaikum pak, sesuai dengan janji saya kemarin, sekarang kita ketemu lagi”
“Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik nafas dalam dan pukul kasur bantal? Apa yang
dirasakan setelah melakukan secara teratur?
“Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya”
Bagus, nah kalau tarik nafas dalamnya dilakukan sendiri tulis M, artinya Mandiri, kalau diingatkan
perawat baru dilakukan ditulis B, artinya dibantu atau diingatkan”
“Nah kalau tidak dilakukan tulis T, artinya belum bisa melakukan”
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?”
“Di mana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat yang sama?”
Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

Fase Kerja:
“Sekarang kita latiahn cara bicara yang baik untuk mencegah marah. Kalau marah sudah disalurkan
melalui tarik nafas dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka kita perlu bicara dengan

KEPERAWATAN JIWA
orang yang membuat kita marah, ada 3 caranya pak:
1) Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-
kata kasar. Kemarin bapak bilang penyebab marahnya karena minta uang sama istri tidak diberi.
Coba bapak minta uang dengan baik : “Bu, saya perlu uang untuk beli rokok”. Nanti bisa di coba
di sini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. Coba bapak praktekkan. Bagus pak.
2) Menolak dnegan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya, katakana :
“maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan”. Coba bapak praktekkan. Bagus
pak.
3) Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal bapak dapat
mengatakan : “Saya jadi ingin marah karena perkataanmu tadi itu”. Coba bapak praktekkan.
Bagus.

Fase Termnasi :
”Bagaiman perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara
yang baik?”
“Coba bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari”
“Bagus sekali, sekarang mari kita masukkan dalam jadwal. Berapa kali sehari bapak mau latihan
bicara yang baik? Bisa kita buat jadwalnya?”
“Coba masukkan dalam jadwal latihan sehari-hari misalnya meminta obat, uang dan lain-lain. Bagus
nanti dicoba ya pak!”
“Bagaimana kalau dua jam lagi kita ketemu lagi?”
“Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah bapak yaitu dengan cara ibadah,
bapak setuju? Mau di mana pak? D i sini lagi ? baik, sampai nanti ya”.

SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual

1) Diskusikan hasil latihan mengontro perilaku kekerasan secara fisik dan sosial/verbal
2) Latihan sholat/berdoa
3) Buat latihan sholat/berdoa
Fase Orientasi :
“Assalamu’alaikum pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu, sekarang saya datang lagi. Baik,
yang mana yang mau dicoba?”
“Bagaimana pak, latihan apa yang sudah dilakukan? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan
secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya?”
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah”
“Di mana enaknya kita bebincang-bincang? Bagaimana kalau ditempat tadi?”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

KEPERAWATAN JIWA
Fase Kerja:
Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa bapak lakukan! Bagus, mana yang mau dicoba?”
“Nah, kalau kala bapak sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik nafas dalam. Jika tidak
reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wudhu kemudian
sholat”
“Coba bapak sebutkan sholat 5 waktu? Bagus, mau coba yang mana? Coba sebutkan caranya”(untuk
muslim)
Fase Terminasi:
“Bagaimana perasaan bapak setalah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini?”
“Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”
”Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan bapak. Mau berapa kali bapak sholat.
Baik kita masukkan sholat….. dan…..” (sesuai kesepakatan pasien)
“Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat bapak lakukan bila bapak merasa”
“Setelah ini coba bapak lakukan sholat sesuai jadwal yang telah kita buat tadi”
“Besok kita ketemu ya pak, nanti kita bicarakan cara keempat cara mengontrol rasa marah, yaitu
dengan patuh minum obat. Mau jam berapa pak? Seperti sekarang saja, jam “O ya!”
“Nanti kita akan membicaakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah bapak,
setuju pak?”

SP 5 : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat

1) Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah dilatih
2) Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar
nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai
penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat
3) Susun jadwal minum obat secara teratur

Fase Orientasi :
“Assalamu’alaikum pak, sesuai dengan janji saya kemarin, hari ini kita ketemu lagi”
“Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik nafas dalam, pukul kasur bantal, bicara yang baik dan
sholat? Apa yang dirasakan setelah melakukan secara teratur? Coba kita lihat cek kegiatan”
“Bagaimana kalau sekaramg kita bicara dan latihan cara minum obat yang benar untuk mengontrol
rasa marah”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat kemarin?”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

KEPERAWATAN JIWA
Fase Kerja : (perawat membawa obat pasien)
“Bapak sudah dapat obat dari dokter?”
“Berapa macam obat yang bapak minum? Warnanya apa saja? Bagus! Jam berapa bapak minum?
Bagus!”
“Obatnya ada 3 macam pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang. Yang
putih ini namanya THP agar rileks dan tenang. Dan yang merah jambu ini namanya HLP agar pikiran
teratur dan rasa marah berkurang. Semuanya ini harus bapak minum 3 kali sehari, jam 7 pagi, jam 1
siang dan jam 7 malam”.
“Bila nanti setalah minum obat mulut bapak terasa kering, untuk membantu mengatasinya bapak bisa
mengisap-isap es batu”
“Bila mata terasa berkunang-kunang bapak sebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu”.
“Nanti di rumah sebelum minum obat ini bapak lihat dulu label di kotak obat, apakah benar nama
bapak tertulis disitu, berapa dosis yang harus diminum, dan jam berapa saja harus diminum. Baca
juga nama obatnya apakah sudah benar? Di sini minta obatnya sama perawat kemudian cek lagi
apakah benar obatnya”.
“Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya pak, karena dapat
terjadi kekambuhan”
“Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya ke dalam jadwal ya pak”.

Fase Terminasi:
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum obat yang benar”.
“Coba bapak sebutkan lagi jenis obat yang bapak minum! Bagaiman cara minum obat yang benar?”
“Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari? Sekarang kita tambahkan
jadwal kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa laksanakan semua dengan teratur ya”.
“Baik, besok kita ketemu lagi untuk melihat sejauh mana bapak melaksanakan kegiatan dan sejauh
mana dapat mencegah rasa marah”.
“Sampai jumpa”.

2) Tindakan keperawatan untuk keluarga


a) Tujuan
Keluarga dapat merawat pasien di rumah
b) Tindakan
1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien.
2. Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda, dan gejala,
perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut).
3. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang oerlu segera dilaporkan kepada
perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain.

KEPERAWATAN JIWA
4. Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan
a) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah dianjurkan
oleh perawat.
b) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakukan
kegiatan tersebut secara tepat.
c) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan
gejala-gejala perilaku kekerasan.
5. Buat perencanaan pulang bersama keluarga

c) Tindakan keperawatan pada keluarga dengan menggunakan strategi pelaksanaan (SP)


SP 1 keluarga : memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku
kekerasan di rumah, dengan cara:
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien.
2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda, dan gejala,
perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut).
3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada
perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain.

Fase Orientasi:
“Assalamu’alaikum bu, perkenalkan nama saya Ana, panggil saya Ana, saya perawat dari
ruangan Soku ini, saya yang akan merawat bapak (pasien). Nama ibu siapa? Senangnya
dipanggil apa?”
“Bisakah kita berbincang-bincang sekarang tentang masalah yang ibu hadapi?”
“Berapa lama kita bisa berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit, bu?”
“Di mana enaknya kita berbincang-bincang, bu? Bagaimana kalau di kantor perawat?”

Fase Kerja:
“Bu, apa masalah yang ibu hadapi dalam merawat bapak? Apa yang ibu lakukan?”
“Baik bu, saya akan coba jelaskan tentang marah bapak dan hal-hal yang perlu diperhatikan”.
“Bu, marah adalah suatu perasaan yang sangat wajar tapi bisa tidak disalurkan dengan benar
akan membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan”.

“Yang menyebabkan suami ibu marah dan ngamuk adalah kali dia merasakan direndahkan,
keinginannya tidak terpenuhi. Kalau bapak apa penyebabnya bu?”
“Kalau nanti wajah iu tampak tegang dan merah, lalu kelihatan gelisah, itu artinya suami ibu
sedang marah dan biasanya setelah itu ia akan melampiaskannya dengan membanting-banting
perabot rumah tangga atau memukul atau bicara kasar? Kalau ada perubahan terjadi? Lalu apa

KEPERAWATAN JIWA
yang biasa ia lakukan?”
“Bila hal itu terjadi sebaiknya ibu tetap tenang, bicara lembut tapi tegas,jangan lupa jaga jarak
atau jauhkan benda-benda tajam dari sekitar bapak seperti gelas, pisau. Jauhkan juga anak-
anak kecil dari bapak”.
“Bila bapak masih marah atau ngamuk segera bawa ke puskesmas atau RSJ setelah
sebelumnya diikat dulu (ajarkan caranya pada keluarga). Jangan lupa minta bantuan orang
lain saat mengikat bapak ya bu, lalu lakukan dengan tidak menyakiti bapak dan jelaskan
alasan mengikat agar bapak tidak menciderai diri sendiri, orang lain atau lingkungan”.
“Nah, ibu sudah dilihatkan apa yang sudah saya ajarkan kepada bapak bila tanda-tanda
kemarahan itu muncul. Ibu bisa bantu bapak dengan cara mengingatkan jadwal katihan cara
mengontrol marah yang sudah dibuat yaitu secara fisik, verbal, spiritual dan minum obat
teratur”.
“Kalau bapak bisa melakukan latihannya dengan baik jangan lupa dipuji ya bu”.

Fase Terminasi:
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat bapak?”
“Coba ibu sebutkan lagi cara merawat bapak.”
“Setelah ini coba ibu ingatkan jadwal latihan yang telah dibuat untuk bapak ya bu”

“Bagaimana kalau kita ketemu 2 hari lagi untuk latihan cara-cara yang telah kita bicarakan
tadi langsung kepada bapak?”
“Tempatnya di sini lagi saja ya bu”.

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga melakukan cara-cara mengontrol kemarahan


1) Evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah
2) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan
oleh perawat
3) Ajarkan keluarga untuk membiarkan pujian kepada pasien bila pasien dapat melakukan
kegiatan tersebut secara tepat
4) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan
gejala-gejala perilaku kekerasan

Fase Orientasi:
“Assalamu’alaikum bu, sesuai janji kita 2 hari yang lalu sekarang kita bertemu lagi untuk
latihan cara-cara mengontrol rasa marah bapak”.
“Bagaimana bu? Masih ingatkah diskusi kita yang lalu? Ada yang mau ibu tanyakan?”
“Berapa lama ibu mau kita latihan?”

KEPERAWATAN JIWA
“Bagaimana kalau kita kita latihan disini saja? Sebentar saya panggilkan bapak supaya bisa
berlatih bersama”.

Fase Kerja:
“Nah pak, coba ceritakan kepada ibu, latihan yang sudah bapak lakukan. Bagus sekali. Coba
perlihatkan kepada ibu jadwal harian bapak! Bagus!”
“Nanti di rumah ibu bisa membantu bapak latihan mengontrol kemarahan bapak”.
“Sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya pak”.
“Masih ingatkah pak, bu kalau tanda-tanda marah sudah bapak rasakan maka yang harus
dilakukan bapak adalah?..................”
“Ya betul, bapak berdiri, lalu tarik nafas dari hidung tahan sebentar lalu keluarkan/tiup
perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahn. Ayo coba lagi, tarik nafas dari
hidung, bagus, tahan dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali, coba ibu temani dan bantu
bapak menghitung latihan ini sampai 5 kali”.
“Bagus sekali, bapak dan ibu sudah bisa melakukannya dengan baik”.
“Cara kedua masih ingat pak, bu?”
“Ya benar, kalau yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan kesal, berdebar-
debar, mata melotot, selain nafas dalam bapak dapat melakukan pukul kasur dan bantal”.
“Sekarang coba kita latihan memukul kasur dan bantal. Kamar bapak di mana? Jadi kalau
nanti bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut
dengan memukul kasur dan bantal”.
”Nah, coba bapak lakukan sambil didampingi ibu, berikan bapak semangat ya bu. Ya bagus
sekali bapak melakukannya”.
“Cara yang ketiga adalah bicara yang baik bila marah, ada tiga caranya pak, coba praktekkan
langsung kepada ibu cara bicara ini :
1. Meminta dengan baik tanpa marah denggan nada suara yang rendah serta tidak
menggunakan kata-kata kasar, misalnya: ‘Bu, saya perlu uang untuk beli rokok! Coba
bapak praktekkan. Bagus pak.
2. Menolok dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya,
katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba bapak
praktekkan. Bagus pak.
3. Mengungkapkan rasa kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal bapak
dapat mengatakan: ‘Saya jadi ingin marah dengan perkataanmu itu’. Coba bapak
praktekkan. Bagus.
4. Selanjutnya kalau bapak sedang marah apa yang harus dilakukan? Baik sekali, bapak
coba langsung duduk dan tarik nafas dalam. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan

KEPERAWATAN JIWA
badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wudhu kemudian sholat. Bapak bisa
melakukan sholat secara teratur dengan didampingi ibu untuk meredakan kemarahan,
5. Cara terakhir adalah minum obat teratur ya pak, bu agar pikiran jadi tenang, tidurnya juga
tenang, tidak ada rasa marah?
Bapak coba jelaskan ada berapa macam obatnya! Bagus, jam berapa minum obat? Bagus, apa
guna obat? Bagus, apa boleh mengurangi atau menghentikan obat? Wah bagus sekali!
Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang bapak dapatkan, ibu tolong
selama di rumah ingatkan bapak untuk meminumnya secara teratur dan jangan dihentikan
tanpa sepengetahuan dokter.

Fase Terminasi:
“Baiklah bu, latihan kita sudah selesai. Bagaima perasaan ibu setelah kita latihan cara-cara
mengontrol marah langsung kepada bapak?”
“Bisa ibu sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah?”
“Selanjutnya tolong pantau dan motivasi bapak melaksanakan jadwal latihan yang telah
dibuat selama di rumah nanti. Jangan lupa beri pujian untuk bapak bila dapat melakukan
dengan benar ya bu!”
“Karena bapak sebentar lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi ibu bertemu saya
untuk membicarakan jadwal aktivitas bapak selama di rumah nanti”.
“Jam 10 seperti hari ini ya bu. Di ruang ini juga”.

SP 3 Keluarga : membuat perencanaan pulang bersama keluarga


Fase Orientasi:
“Assalamu’alaikum pak, bu, karena bapak sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita
kemarin, sekarang kita ketemu untuk membicarakan jadwal bapak selam di rumah”.
“Bagaimana pak, bu, selama ibu membesuk apakah sudah terus dilatih cara merawat bapak?
Apakah sudah dipuji keberhasilannya?”
“Nah sekarang bagaimana kalau bicarakan jadwal di rumah, di sini saja?”
“Berapa lama bapak dan ibu mau kita berbicara? Bagaimana kalau 30 menit?”

Fase Kerja:
“Pak, bu, jadwal telah dibuat selama bapak di rumah sakit tolong dilanjutkan di rumah, baik
jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya. Mari kita lihat jadwal bapak!”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh bapak
selama di rumah. Ibu dan bapak, ini nomor telepon Puskesmasnya (0652)554xxx.
Kalau misalnya bapak menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku yang

KEPERAWATAN JIWA
membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat Erlin di Puskesmas
Indera Puri, Puskesmas terdekat dari rumah. Jika tidak teratasi perawat Erlin akan
menunjuknya ke rumah sakit terdekat”.
“Selanjutnya perawat Erlin yang akan membantu memantau perkembangan bapak selama di
rumah”.

Fase Terminasi:
“Bagaimana bu, ada yang ingin ditanyakan? Coba ibu sebutkan apa saja yang perlu
diperhatikan (jadwal kegiatan, tanda atau gejala, follow up ke puskesmas). Baiklah, silahkan
selesaikan administrasinya!”
“Saya akan persiapkan pakaian dan obat bapak”.

KEPERAWATAN JIWA
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
PK (perilaku kekerasan) adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat memebahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain,
disertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tak terkontrol. Perilaku kekerasan juga bisa
dicegah dengan berbagai cara, seperti adanya simulasi persepsi.

B. Saran
Dari pemaparan diatas, penulis memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan jiwa
penting sekali memahami beberapa tanda dan gejala mengenai perilaku kekerasaan, agar
ke depan nya perilaku kekerasaan dapat dikurangi dengan diadakannya cara-cara untuk
meredam perilaku kekerasaan.

KEPERAWATAN JIWA
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan,deden dan Rusdi.konsep dan kerangka kerja asuhan keperawatan


jiwa.2013.Yogyakarta:Gosyen Publishing

Marilyne,Doengoes&townsend, mary, &frances,mary.2006. rencana asuhan keperawatan


psikiatri.Jakarta:EGC

Ma’rifatul, lilik.2011.keperawatan jiwa.yogyakarta:graha ilmu

Kusumawati, farida. 2010.Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta :salemba medika

KEPERAWATAN JIWA