Anda di halaman 1dari 3

II.

PEMBAHASAN
2.1 Komponen, dan Pembentukan Neraca Air
Neraca Air, Komponen dan Pembentukan merupakan suksesi tahapan‐tahapan
yang dilalui air dari atmosfir ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer (Seyhan,
1993). Perjalanan air di bumi membentuk siklus melalui beberapa proses,
misalnya evaporasi menguapkan air dari laut, permukaan bumi, dan badan air ke
atmosfer, uap air mengalami kondesasi dan kemudian jatuh menjadi presipitasi,
air kemudian terakumulasi di dalam tanah dan badan air, selanjutnya dengan
proses evaporasi air diuapkan kembali ke atmosfir. Secara global siklus air yang
terjadi membentuk sistem tertutup, dimana selama masa sekarang hampir tidak
ada penambahan jumlah volume air yang berarti di luar sistem biosfir yang ada.
Volume air di bumi diperkirakan mencapai 1,4 milyar km3, dan terdistribusi
sebagai air laut (97,5 %), air daratan berbentuk es (1,75 %), 0,73 % air di darat
(sungai, danau, air tanah, dan sebagainya), dan 0,001 % berada sebagai uap air di
udara.
Air mengalami perubahan bentuk mulai dari cair, uap, kemudian menjadi cair
(hujan) dan padat (salju). Berjalannya siklus hidrologi memerlukan energi panas
matahari yang cukup untuk mengevaporasikan uap air dari lautan atau
badanbadan air (seperti : sungai, danau, vegetasi, dan tanah lembab) ke atmosfir.
Di atmosfir uap air mengalami kondensasi berupa butiran hujan atau kristal es
berbentuk awan. Sampai ukuran tertentu butiran air tersebut turun ke bumi
menjadi presipitasi baik dalam bentuk cair (hujan) atau padat (salju). Namun di
daerah tropika basah bentuk presipitasi pada umumnya berupa hujan, sehingga
dalam pembahasan selanjutnya istilah hujan menggantikan istilah presipitasi.
Sebagian hujan yang jatuh sebelum mengenai tanah terlebih dulu mengenai
vegetasi, bangunan, atau penutup permukaan tanah lainnya. Hujan yang
diintersepsi oleh vegetasi kemudian dievaporasikan kembali ke atmosfir. Setiap
vegetasi memiliki kemampuan menyimpan air (intersepsi) yang berbeda.
Misalnya vegetasi hutan memiliki kapasitas intersepsi yang lebih besar
dibandingkan dengan rumput. Bagian hujan lainnya yang jatuh ke bumi ada juga
yang langsung masuk ke lautan atau badan‐badan air dan kembali diuapkan ke
atmosfir.
Air hujan yang lolos dari intersepsi selanjutnya mencapai permukaan tanah
melalui batang tumbuhan (stemflow) atau jatuh langsung (throughfall) dari bagian
atas (daun). Di permukaan tanah air mengisi simpanan depresi (depression
storage) dan setelah pori tanah terisi, aliran air kemudian mengikuti gaya gravitasi
air terus masuk ke dalam tanah (infilitrasi). Dalam tahap ini kemampuan tanah
menyerap air tergantung dari permeabilitas tanah dan vegetasi yang ada di
atasnya. Di bawah permukaan tanah air terakumulasi dan membentuk aliran
bawah permukaan, selanjutnya pada titik tertentu akan keluar sebagai aliran
bawah permukaan (subsurface runoff) dan masuk ke dalam sungai. Apabila air
terus menembus semakin dalam lapisan tanah, aliran air dapat mencapai air tanah
(groundwater recharge) yang merupakan lapisan bawah tanah yang kurang
permeabel. Setelah mencapai simpanan air tanah, air bergerak mengikuti
permukaan air tanah yang merupakan wilayah tekanan, dan selanjutnya aliran air
tanah keluar dan masuk ke dalam sungai. Laju aliran air tanah yang keluar
tergantung kepada struktur geologi wilayah, permeabilitas tanah, dan lapisan
bawah permukaan.
Apabila intensitas hujan melebihi kapasitas infiltrasi, maka air hujan yang
jatuh akan menjadi aliran permukaan (surface runoff) dan kemudian menuju
sungai atau badan air terdekat. Aliran permukaan ini juga merupakan salah satu
energi yang dapat menggerus partikel tanah di permukaan dan menyebabkan
erosi. Aliran permukaan semakin besar dengan semakin tingginya intensitas
hujan, lereng yang semakin curam, semakin berkurangnya kekasaran permukaan
tanah, dan semakin kecilnya kapasitas infiltrasi (Gambar 7).
Komposisi aliran air di dalam sungai terdiri dari aliran permukaan (surface
runoff), aliran bawah permukaan (sub surface runoff), dan aliran air tanah
(groundwater). Di dalam aliran air yang mengalir senantiasa membawa bahan dan
mineral yang dapat larut dan tidak larut. Bahan yang dibawa aliran air kemudian
diendapkan secara selektif.
Untuk menafsirkan secara kuantitatif siklus hidrologi dapat dicapai dengan
persamaan umum yang dikenal dengan persamaan neraca ir, yaitu bahwa dalam
selang waktu tertentu, masukan air total pada suatu ruang tertentu harus sama
dengan keluran total ditambah perubahan bersih dalam cadangan (Seyhan, 1993).
Neraca hidrologi dari suatu wilayah dapat ditulis sebagai berikut :
Perolehan (Input) = Keluaran (output) + simpanan
P = (R ‐ G ‐ E ‐ T) + ∆S
dimana : peubah P adalah presipitasi (hujan), R adalah aliran permukaan, G adalah
air tanah, E adalah evporasi, T adalah transpirasi, dan ∆S adalah perubahan
simpanan. Persamaan inilah yang dikenal sebagai persamaan dasar hidrologi.
Persamaan neraca air dapat digunakan untuk menentukan besarnya nilai proses
hidrologi yang tidak diketahui. Misalnya besarnya evapotranspirasi (ET) yang
terjadi di suatu DAS yang besar tidak diketahui, karena peralatan untuk
pengukurannya tidak ada. Namun data hujan (P), aliran permukaan (R) , air tanah
(G) dan simpanan air (S) untuk DAS tersebut terukur. Dengan demikian besarnya
nilai ET dapat ditentukan dengan mengurangi P dengan R, G, dan S (atau ET =
P ‐ R ‐ G ‐ S).

Dapus
http://www.academia.edu/9108932/MENGHITUNG_NERACA_AIR_LAHAN_B
ULANAN

Arsyad. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Institut Pertanian Bogor. Bogor

Nasir A.N, dan S. Effendy. 1999. Konsep Neraca Air Untuk Penentuan Pola
Tanam. Kapita Selekta Agroklimatologi Jurusan Geofisika dan Meteorologi
Fakultas Matematika dan IPA. Institut Pertanian Bogor.