Anda di halaman 1dari 59
Modul 03
Modul 03
HIDROLOGI DAN NERACA AIR
HIDROLOGI DAN NERACA AIR
DIKLAT TEKNIS PERENCANAAN IRIGASI
DIKLAT TEKNIS PERENCANAAN IRIGASI
TINGKAT DASAR
TINGKAT DASAR
NERACA AIR DIKLAT TEKNIS PERENCANAAN IRIGASI TINGKAT DASAR 2016 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR
2016
2016
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN KONSTRUKSI
AIR DIKLAT TEKNIS PERENCANAAN IRIGASI TINGKAT DASAR 2016 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya validasi dan penyempurnaan Modul Hidrologi dan Neraca Air sebagai Materi Substansi dalam Diklat Teknis Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Tingkat Dasar. Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan kompetensi dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang Sumber Daya Air (SDA).

Modul Hidrologi dan Neraca Air disusun dalam 10 (sepuluh) bab yang terbagi atas Pendahuluan, Materi Pokok, dan Penutup. Penyusunan modul yang sistematis diharapkan mampu mempermudah peserta pelatihan dalam memahami Hidrologi dan Neraca Air dalam perencanaan irigasi. Penekanan orientasi pembelajaran pada modul ini lebih menonjolkan partisipasi aktif dari para peserta.

Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Tim Penyusun dan Narasumber Validasi, sehingga modul ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyempurnaan maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga Modul ini dapat memberikan manfaat bagi peningkatan kompetensi ASN di bidang SDA.

November 2016

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

Bandung,

Dr. Ir. Suprapto, M.Eng.

Daya Air dan Konstruksi Bandung, Dr. Ir. Suprapto, M.Eng. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
Daya Air dan Konstruksi Bandung, Dr. Ir. Suprapto, M.Eng. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR

TABEL

v

DAFTAR GAMBAR

vi

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

vii

BAB I PENDAHULUAN

I-1

1.1. Latar Belakang

I-1

1.2. Deskripsi Singkat

I-1

1.3. Tujuan Pembelajaran

I-2

1.3.1. Kompetensi Dasar

I-2

1.3.2. Indikator Keberhasilan

I-2

1.4. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

I-2

1.5. Estimasi Waktu

I-3

BAB II BANJIR DAN DRAINASE

II-1

2.1. Pemahaman Tentang Banjir dan Drainase

II-1

2.2. Banjir

II-2

2.3. Drainase

II-3

2.4. Latihan

II-6

2.5. Rangkuman

II-6

BAB III BANJIR RENCANA

III-1

3.1. Pengertian

III-1

3.2. Methoda Melchior

III-3

3.3. Methoda Weduwen

III-4

3.4. Latihan

III-4

3.5. Rangkuman

III-5

BAB IV DRAINASE LAHAN PERTANIAN

IV-1

4.1. Drainase Lahan Pertanian

IV-1

4.2. Drainase Internal

IV-3

4.2.1. Drainase Permukaan

IV-3

4.2.2. Drainase Air Tanah

IV-3

Permukaan IV-3 4.2.2. Drainase Air Tanah IV-3 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Permukaan IV-3 4.2.2. Drainase Air Tanah IV-3 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 4.3. Drainase Eksternal IV-5 4.4. Analisa pengaruh drainasi pada pertanian

4.3. Drainase Eksternal

IV-5

4.4. Analisa pengaruh drainasi pada pertanian

IV-6

4.5. Drainase dan Hidrologi

IV-6

4.5.1. Neraca air pada lahan secara umum

IV-6

4.5.2. Neraca air pada tanaman

IV-7

4.6.

Drainase, Kondisi Fisik Tanah dan Pertumbuhan Tanaman

IV-8

4.6.1. Aerasi tanah

IV-8

4.6.2. Struktur tanah

IV-8

4.6.3. Temperatur tanah

IV-9

4.6.4. Daya dukung tanah

IV-9

4.6.5. Penurunan tanah

IV-9

4.7.

Drainase, Kondisi Kimia Tanah, dan Pertumbuhan Tanaman

IV-9

4.7.1. Supply nutrisi

IV-9

4.7.2. Salinitas dan alkalinitas tanah

IV-9

4.7.3. Aciditas tanah

IV-9

4.8.

Formulasi dan kriteria desain

IV-9

4.8.1. Tipe variabel

IV-9

4.8.2. Kedalaman, durasi dan analisa frekuensi

IV-10

4.8.3. Tipe dari kriteria sehubungan pada durasi dan

IV-10

4.9. Latihan

IV-11

4.10. Rangkuman

IV-11

BAB V DRAINASI PADA DAERAH IRIGASI

V-1

5.1. Umum

V-1

5.2. Debit Drainasi Sawah Untuk Padi

V-1

5.3. Debit Drainase Sawah Non Padi

V-2

5.4. Debit Pembuang

V-3

5.5. Latihan

V-4

5.6. Rangkuman

V-4

BAB VI PENGUMPULAN DATA

VI-1

6.1. Umum

VI-1

6.2. Jenis Data

VI-1

6.3. Data Curah Hujan

VI-2

6.4. Data Evapotranspirasi

VI-2

Curah Hujan VI-2 6.4. Data Evapotranspirasi VI-2 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Curah Hujan VI-2 6.4. Data Evapotranspirasi VI-2 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 6.5. Data Aliran Sungai VI-3 6.6. Data Perkolasi VI-3 6.7.

6.5. Data Aliran Sungai

VI-3

6.6. Data Perkolasi

VI-3

6.7. Latihan

VI-3

6.8. Rangkuman

VI-4

BAB VII KETERSEDIAAN AIR

VII-1

7.1. Perencanaan Irigasi

VII-1

7.2. Debit Andalan

VII-1

7.3. Latihan

VII-3

7.4. Rangkuman

VII-3

BAB VIII KEBUTUHAN AIR

VIII-1

8.1. Kebutuhan Air di Sawah untuk Tanaman Padi

VIII-1

8.2. Kebutuhan Air untuk Tanaman Non Padi/ Palawija

VIII-5

8.3. Sistem Rotasi

VIII-6

8.4. Latihan

VIII-7

8.5. Rangkuman

VIII-7

BAB IX NERACA AIR

IX-1

9.1. Umum

IX-1

9.2. Latihan

IX-3

9.3. Rangkuman

IX-3

BAB X PENUTUPAN

X-1

10.1. Simpulan

X-1

10.2. Tindak Lanjut

X-1

DAFTAR PUSTAKA

ix

GLOSARIUM

x

Lanjut X-1 DAFTAR PUSTAKA ix GLOSARIUM x Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Lanjut X-1 DAFTAR PUSTAKA ix GLOSARIUM x Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air DAFTAR TABEL Tabel 6. 1 – Ringkasan Parameter VI-2 Tabel

DAFTAR TABEL

Tabel 6. 1 Ringkasan Parameter

VI-2

Tabel 6. 2 - Parameter perencanaan evapotranspirasi

VI-3

Tabel 7. 1 Analisa Debit Andalan

VII-1

Tabel 8. 1 - Harga koefisien tanaman

VIII-4

Tabel 8. 2 Tabel Peningkatan

VIII-6

Tabel 9. 1 - Perhitungan neraca air: menurut KP 01

IX-2

Tabel 9. 1 - Perhitungan neraca air: menurut KP 01 IX-2 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber
Tabel 9. 1 - Perhitungan neraca air: menurut KP 01 IX-2 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air DAFTAR GAMBAR Gambar IV. 1 – Tipe Drainase IV-2 Gambar

DAFTAR GAMBAR

Gambar IV. 1 Tipe Drainase

IV-2

Gambar IV. 2 Hooghoudt

IV-5

Gambar IV. 3 Neraca Air pada Zona Perakaran

IV-7

Gambar IV. 4 Depht Duration Frequency Curve of Rainfall

IV-11

Gambar VIII. 1 Faktor Faktor Kebutuhan Air Sawah

VIII-1

1 – Faktor – Faktor Kebutuhan Air Sawah VIII-1 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
1 – Faktor – Faktor Kebutuhan Air Sawah VIII-1 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Deskripsi Modul Hidrologi dan Neraca Air ini

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Deskripsi

Modul Hidrologi dan Neraca Air ini terdiri dari 8 kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar pertama yaitu mengenai banjir dan drainase. Kegiatan belajar kedua mengenai banjir rencana, kegiatan belajar tiga mengenai drainase lahan pertanian. Selanjutnya kegiatan belajar ke empat mengenai drainase pada daerah irigasi, kegiatan belajar kelima membahas pengumpulan data. Kegiatan belajar ke enam mengenai ketersedian air, selanjutnya akan membahas kebutuhan air dan diakhiri dengan materi neraca air.

Peserta diklat mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan. Pemahaman setiap materi pada modul ini diperlukan untuk memahami mengenai hidrologi dan perhitungan neraca air. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan latihan atau evaluasi yang menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta diklat setelah mempelajari materi dalam modul ini.

Persyaratan

Dalam mempelajari modul pembelajaran dasar ini peserta diklat diharapkan dapat menyimak dengan seksama penjelasan dari pengajar, sehingga dapat memahami dengan baik materi Hidrologi dan Neraca Air. Untuk menambah wawasan, peserta diharapkan dapat membaca terlebih dahulu materi terkait hidrologi dan neraca air.

Metode

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara/Fasilitator, adanya kesempatan tanya jawab, curah pendapat, bahkan diskusi.

Alat Bantu/media

Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat Bantu/Media pembelajaran tertentu, yaitu: LCD/projector, Laptop, white board dengan spidol dan penghapusnya, bahan tayang dan film singkat, serta modul dan/atau bahan ajar.

tayang dan film singkat, serta modul dan/atau bahan ajar. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
tayang dan film singkat, serta modul dan/atau bahan ajar. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Kompetensi Dasar Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu

Kompetensi Dasar

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu memahami garis besar Hidrologi Irigasi dan neraca air yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab.

air yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
air yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air sebagai sumber hidup

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Air sebagai sumber hidup dan kehidupan manusia pelestarian sumber air memegang peranan penting dalam sistem pengelolaannya dan ini melibatkan masyarakat dan instansi terkait dengan pengelolaan Sumber Daya Air

Penggunaan air untuk berbagai keperluan antara lain menunjang pertanian, penyediaan air bersih, pembangkit tenaga listrik, transportasi dan sebagainya. Indonesia sebagai Negara agraris pernah mencapai produksi beras yang cukup untuk keburuhan dalam negeri, namun sekarang pada posisi pengimport beras dari luar negeri. Untuk mengembalikan kemampuan seperti semula perlu langkah intensifikasi dan ekstensifikasi. Dalam rangka pembangunan jaringan irigasi baru perlu didahului dengan tahap perencanaan dengan mempertimbangkan beberapa faktor antara lain :

a) Lahan irigasi /sawah dilihat dari lokasi dan tingkat kesuburan tanah

b) Ketersediaan air disumber air baik air permukaan maupun air bawah tanah

c) Penggunaan air

d) Neraca air

e) Kelembagaan pengelola jaringan irigasi uleh pemrrintah, masyarakat petani atau perusahaan

1.2. Deskripsi Singkat Modul Hidrologi dan Neraca Air ini terdiri dari 8 kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar pertama yaitu mengenai banjir dan drainase. Kegiatan belajar kedua mengenai banjir rencana, kegiatan belajar tiga mengenai drainase lahan pertanian. Selanjutnya kegiatan belajar ke empat mengenai drainase pada daerah irigasi, kegiatan belajar kelima membahas pengumpulan data. Kegiatan belajar ke enam mengenai ketersedian air, selanjutnya akan membahas kebutuhan air dan diakhiri dengan materi neraca air.

kebutuhan air dan diakhiri dengan materi neraca air. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
kebutuhan air dan diakhiri dengan materi neraca air. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

I-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 1.3. Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran dalam mata diklat ini adalah

1.3. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran dalam mata diklat ini adalah

1.3.1. Kompetensi Dasar

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu memahami garis besar Hidrologi Irigasi dan neraca air yang disajikan dengan cara ceramah dan tanya jawab.

1.3.2. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti pembelajaran, peserta mampu menjelaskan:

1)

Banjir dan Drainase

2)

Banjir Rencana

3)

Drainase Lahan Pertanian

4)

Drainase pada Daerah Irigasi

5)

Pengumpulan Data

6)

Ketersediaan Air

7)

Kebutuhan Air

8)

Neraca Air

1.4. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok

1) Banjir dan Drainase:

a) Pemahaman tentang banjir dan drainase

b) Banjir

c) Drainase

2) Banjir Rencana;

a) Pengertian

b) Methoda Melchior

c) Methoda Weduwen

3) Drainase Lahan Pertanian:

a) Drainase internal

b) Drainase eksternal

c) Analisa pengaruh drainase pada pertanian

d) Drainase dan hidrologi

e) Drainase, kondisi fisik tanah dan pertumbuhan tanaman

f) Drainase, kondisi kimia tanah, dan pertumbuhan tanaman

g) Formulasi dan kriteria desain

dan pertumbuhan tanaman g) Formulasi dan kriteria desain Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
dan pertumbuhan tanaman g) Formulasi dan kriteria desain Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

I-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 4) Drainase pada Daerah Irigasi a) Debit drainase sawah untuk

4) Drainase pada Daerah Irigasi

a) Debit drainase sawah untuk padi

b) Debit drainase sawah untuk non padi

c) Debit pembuang

5) Pengumpulan Data

a) Jenis Data

b) Data curah hujan

c) Data evapotranspirasi

d) Data aliran sungai

e) Data perkolasi

6) Ketersediaan Air

a) Perencanaan Irigasi

b) Debit andalan

7) Kebutuhan Air

a) Kebutuhan air di sawah untuk tanaman padi

b) Kebutuhan air untuk tanaman non padi

8) Neraca Air 1.5. Estimasi Waktu Alokasi waktu yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar

untuk mata diklat Hidrologi dan Neraca Air ini adalah 12 (duabelas) jam pelajaran (JP) atau sekitar 540 menit.

12 (duabelas) jam pelajaran (JP) atau sekitar 540 menit. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
12 (duabelas) jam pelajaran (JP) atau sekitar 540 menit. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

I-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB II BANJIR DAN DRAINASE Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta

BAB II BANJIR DAN DRAINASE

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan tentang banjir dan drainase.

2.1. Pemahaman Tentang Banjir dan Drainase

Banjir dan Drainasi adalah dua hal yang didalam terjadinya penyebabnya

adalah sama namun dalam implementasi atau praktiknya adalah dua hal

yang berbeda. Kesamaannya banjir dan drainasi adalah tentang kelebihan

air yang tentunya disebabkan oleh hujan, dimana kelebihan air sebagai

penyebab banjir berdampak bencana, kerugian secara ekonomi maupun

kesejahteraan /keselamatan jiwa yang harus dihindarkan/dikurangi efek

kerugiannya. Banjir ini tidak bisa dihilangkan selalu ada, sehingga

pemikiran-pemikiran awam/masyarakat bahwa dengan proyek-proyek

pengurangan banjir akan mencegah terjadinya banjir selama- lamanya

perlu diluruskan pemahamannya. Sedangkan pada drainasi adalah

memang merupakan sesuatu kebutuhan dalam mencapai keseimbangan

air secara lingkungan/fisik dimana dibutuhkan air pada drainasi yang

berfungsi sebagai media alir yang membuat lingkungan terjaga dengan

bersih seperti pada drainasi-drainasi permukiman, perkotaan atau kondisi

lahan yang tercuci dari racun-racun seperti pada tanahtanah bermasalah.

Sehingga drainasi bukan masalah kelebihan air atau sesuatu kejadian yang

perlu dihindarkan, malah harus diciptakan.

Banjir dan drainasi adalah peristiwa/kejadian yang disebabkan oleh hujan,

jatuhnya hujan di suatu daerah baik menurut waktu maupun menurut

pembagian hidrografisnya tidak tetap melainkan berubah-ubah. Setiap saat

banyaknya turun hujan tidak sama dan juga hujan maksimum untuk

berbagai tahun adalah berlainan. Hujan-hujan kecil akan lebih sering terjadi

dari hujan hujan yang lebih besar, dan hujan-hujan yang besarnya

tertentu mempunyai masa ulang rata-rata tertentu pula dalam jangka waktu

yang cukup panjang. Selanjutnya hujan-hujan dengan masa ulang rata-rata

yang pendek adalah lebih kecil daripada hujan dengan masa ulang rata-

adalah lebih kecil daripada hujan dengan masa ulang rata- Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
adalah lebih kecil daripada hujan dengan masa ulang rata- Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

II-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air rata yang panjang. Jadi hujan ini merupakan perkiraan dari kemungkinan-

rata yang panjang. Jadi hujan ini merupakan perkiraan dari kemungkinan- kemungkinan yang mungkin terjadi.

Dalam

demikian, kita dapatkan pula besarnya banjir dan drainasi yang sifat kejadiannya equivalen.

sifatnya

hal

banjir

dan

drainasi

yang

disebabkan

hujan

yang

Untuk memperkirakan besarnya banjir dan drainasi diselesaikan dengan analisa frekuensi yang merupakan bahagian dari ilmu statistik.

2.2.

Banjir

Banjir adalah kejadian/peristiwa. Menurut Robert Kodoatie & Roestam Syarief. (Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu)

a) Pertama - Kejadian banjir/genangan yang terjadi pada daerah yang biasanya tidak terjadi banjir.

b) Kedua - Peristiwa banjir terjadi karena limpasan air banjir dari sungai

karena debit banjir tidak mampu dialirkan oleh alur sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas pengaliran sungai yang ada. Peristiwa banjir sendiri tidak menjadi permasalahan apabila tidak mengganggu terhadap aktivitas atau kepentingan manusia dan permasalahan akan menjadi bencana setelah manusia melakukan kegiatan pada daerah dataran banjir.

Ada juga keuntungan yang diperoleh dari peristiwa banjir yaitu dengan terbawanya unsur-unsur hara oleh air banjir yang akan mengendap pada daerah yang digenanginya yang dapat dimanfaatkan oleh para petani.

Menurut Multilingual Technical Dictionary on Irrigation and Drainage, ICID Banjir adalah: “A relatively high flow or stage in a river, markedly higher than the usual; also the inundation of low land that may result therefrom. A body of water, rising, swelling and overflowing the land not usually thus covered”

Dengan adanya perubahan-perubahan pada daerah aliran sungai (DAS),debit pengaliran di dalam sungai yang disebabkan oleh hujan sifat alamnya yang tidak tetap akan berubah lagi.

oleh hujan sifat alamnya yang tidak tetap akan berubah lagi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya
oleh hujan sifat alamnya yang tidak tetap akan berubah lagi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

II-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Perubahan – perubahan pada DAS ini dapat diakibatkan oleh intervensi

Perubahan perubahan pada DAS ini dapat diakibatkan oleh intervensi manusia dan juga akibat alam sendiri. Sehingga masa ulang rata-rata debit yang sebelumnya akan berkurang lagi . Contoh dari masa ulang rata-rata debit 50 tahun akan menjadi lebih pendek dari 50 tahun misalnya menjadi 25 tahun.

Dalam perencanaan bangunan-bangunan pada DAS ataupun daerah irigasi pada DAS tersebut berapakah besarnya debit yang disalurkan untuk menampung air hujan agar dapat mengalir sampai kesungai. Kalau yang harus disalurkan adalah debit suatu saluran drainasi atau sungai,maka besarnya debit tidak tertentu dan berubah-ubah karena adanya banjir. Sebagai debit air yang harus kita salurkan kita ambil suatu debit banjir tertentu yang cukup besar. Debit banjir ini disebut banjir rencana.

2.3.

Drainase Secara umum drainasi didefinisikan adalah usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu.

Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang agar tidak terjadi genangan atau banjir. Caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. Sistem saluran tersebut selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar.

Pada prakteknya drainasi terbagi atas tiga tugas pokok, yaitu: drainase untuk daerah perkotaan/permukiman,drainasi lahan pertanian dan drainasi jalan raya. Dalam pembahasan lebih lanjut akan dibicarakan drainase untuk lahan pertanian. Kita tinjau lebih dahulu tugas pokok untuk drainasi perkotaan dan drainasi jalan raya.

a) Drainasi perkotaan/permukiman

Pada perencanaan dan pengembangan sistim drainasi ini perlu kombinasi antara perkembangan perkotaan, daerah rural dan daerah aliran sungai (DAS). Untuk pengembangan suatu wilayah baru di perkotaan, perencanaannya harus disesuaikan dengan sistim drainase alami yang sudah ada maupun yang telah dibuat.

drainase alami yang sudah ada maupun yang telah dibuat. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
drainase alami yang sudah ada maupun yang telah dibuat. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

II-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan,

Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan, air yang mengalir di permukaan diusahakan secepatnya dibuang agar tidak menimbulkan genangan-genangan yang dapat mengganggu aktifitas di perkotaan dan bahkan dapat menimbulkan kerugian sosial ekonomi terutama yang menyangkut aspek- aspek kesehatan lingkungan permukiman kota. Namun bagi pengembangn sumber daya air, perlu diperhatikan pula daerah resapan yang bisa difungsikan, sehingga air hujan tidak terbuang percuma ke laut karena merupakan sumber air yang dipakai pada musim kemarau.

Pada kebanyakan kasus perkiraan besar aliran yang dibutuhkan adalah besar aliran puncak,tetapi bila direncanakan adanya penampungan atau pemompaan air maka volume aliran harus pula diketahui. Bangunan drainasi direncanakan untuk dapat membuang aliran dari suatu hujan yang mempunyai jangka ulang tertentu,yang harus ditetapkan atas dasar jaminan kepastian.

Untuk pemilihan jangka waktu, pertimbangan dapat dilakukan pada besarnya kerugian yang akan timbul .Untuk kerugian yang kecil seperti pada daerah tempat tinggal dapat dipilih jangka waktu yang pendek pada daerah perdagangan mungkin dapat dipilih jangka waktu yang lebih panjang dst. Metode untuk menghitung debit puncak yang umum digunakan adalah rumus rasional,dan metode yang lebih memuaskan adalah dengan metode simulasi aliran diseluruh sistim dari daerah kota dengan data curah hujan yang didapat.

Outputnya adalah debit aliran pada semua titik penting dalam sistim yang bersangkutan. Dari output ini,puncak-puncak banjir tahunan dapat dipilih dan dilakukan analisa frekuensi untuk menetapkan debit rencana pada masing-masing titik. Kalibrasi dari model simulasi haruslah dibuat terhadap sungai dengan pos pengukuran terdekat,yang mempunyai ciri- ciri fisik serupa dengan daerah kota yang di selidiki. Pendekatan simulasi ini menghindari anggapan-anggapan kasar tentang koefisien

ini menghindari anggapan-anggapan kasar tentang koefisien Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
ini menghindari anggapan-anggapan kasar tentang koefisien Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

II-4

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air limpasan yang bsarnya tetap,keseragaman intensitas hujan,frekuensi yang sama antara

limpasan yang bsarnya tetap,keseragaman intensitas hujan,frekuensi yang sama antara curah hujan dan limpasan dsb.

b) Drainasi Jalan Raya.

Jalan raya berbentuk daerah jalur lahan yang panjang dan sempit dan menimbulkan dua jenis masalah drainasi. Pertama air yang terkumpul di atas atau lereng berdekatan dengan jalan, yang harus dibuang tanpa menimbulkan genangan atau kerusakan jalan serta daerah sekitarnya disebut drainasi memanjang. Kedua alur drainasi alamiah yang dilintasi jalan raya, sehingga air yang dialirkan oleh alur- alur ini haruslah dapat menyeberangi daerah milik jalan tanpa menghalangi aliran d dalam alur di hulu jalan dan tanpa merusak hak milik di luar jalan tersebut disebut drainasi silang.

Beberapa formulasi untuk menghitung debit rencana untuk drainasi memanjang salah satunya adalah metode Izzard

Q

: iL

q

: puncak aliran persatuan panjang lapisan aspal

 

i

: intensitas curah hujan untuk jangka waktu t c dan jangka

waktu ulang yang diinginkan

 

t c

: Waktu konsentrasi

 

0,00013 L 0,77 /S 0,385 jam (rumus empiris) 0,0195 (L/S 0,5 ) 0,77 menit (rumus Kirpich)

 

L

:

panjang

aliran

di

atas

permukaan

lahan

yang

diukur

 

tegaklurus terhadap garis tinggi

 

L

: w(r 2 +1) 1/2

 

R

Pada drainasi memanjang (parit-parit) yang panjang dengan lereng landai dapat digunakan dengan metode penelusuran Muskingum.

Untuk menghitung debit rencana bangunan-bangunan drainasi silang, gorong- gorong,jembatan untuk sungai-sungai besar analisis frekuensi dari debt-debit yang tercatat cukup memuaskan.

c) Drainasi Lahan

debt-debit yang tercatat cukup memuaskan. c) Drainasi Lahan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
debt-debit yang tercatat cukup memuaskan. c) Drainasi Lahan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

II-5

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Drainasi lahan membuang air permukaan yang berlebihhan dari suatu daerah

Drainasi lahan membuang air permukaan yang berlebihhan dari suatu

daerah atau menurunkan permukaan air tanah ke bawah zona

perakaran untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman dan mengurangi

penumpukan racun-racun/ garam garam tanah.

Drainasi lahan mempercepat aliran limpasan, sehingga meningkatkan

debit puncak di hilir daerah yang bersangkutan. Akibat peningkatan ini

haruslah dipertimbangkan dalam perancangan sistim drainasi.

Dalam perencanaan hidrologis, drainasi lahan adalah untuk membuang

sejumlah air dalam jangka waktu yang wajar.

Drainasi yang dibangun untuk membuang air kelebihan yang berasal

dari hujan umumnya direncanakan untuk membuang sejumlah tertentu

dalam 24 jam yang dikenal sebagai modulus drainasi atau koefisien

drainasi.

Jika drainasi bawah tanah direncanakan untuk membuang racun-

racun/membilas garam-garam tanah maka volume pembilas yang harus

dipakai harus dapat membuang volume ini dalam jangka waktu antara

saat-saat pemberian air/irigasi. Lahan yang sudah direncanakan

terlindung oleh pengendalian banjir/tanggul sering mengalami kelebihan

air akibat rembesan dari sungai yang menembus bawah tanggul. Debit

rencana untuk sistim drainasi dalam hal ini juga harus didasarkan pada

perkiraan laju rembesan dengan taraf air tinggi yang diharapkan terjadi

bersamaan dengan musim hujan, maka rembesan haruslah

ditambahkan pada modulus drainasi.

2.4. Latihan

1) Jelaskan perbedaan banjir dan drainase!

2.5. Rangkuman Banjir dan Drainasi adalah dua hal yang didalam terjadinya penyebabnya

adalah sama namun dalam implementasi atau praktiknya adalah dua hal

yang berbeda. Banjir adalah kejadian/peristiwa. Drainase adalah adalah

usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks

pemanfaatan tertentu. Tugas pokok pada drainase adalah drainase

perkotaan, drainase jalan raya dan drainase lahan.

drainase perkotaan, drainase jalan raya dan drainase lahan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
drainase perkotaan, drainase jalan raya dan drainase lahan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

II-6

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB III BANJIR RENCANA Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat

BAB III BANJIR RENCANA

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan banjir rencana

3.1.

Pengertian

ataupun saluran-saluran

masalahnya adalah berapakah besarnya besar debit yang harus disalurkan

melalui bangunannya.

Pada

perencanaan

bangunan-bangunan

air

Debit air yang harus kita salurkan kita ambil sebagai suatu debit banjir

tertentu yang cukup besar. Banjir ini disebut banjir rencana,yaitu banjir

yang kita pakai sebagai dasar untuk perhitungan ukuran bangunan air yang

kita pakai.

Penetapan besarnya banjir rencana ini adalah masalah pertimbangan

hidro- ekonomis yang didasarkan terutama pada :

a) Besarnya kerugian yang akan diderita kalau bangunan dirusak oleh

banjir dan sering tidaknya perusakan itu terjadi.

b) Umur ekonomis bangunan

c) Biaya pembangunan

Pemilihan banjir rencana untuk bangunan-bangunan air adalah suatu

masalah yang tergantung pada analisa statistik dari urutan kejadian banjir

baik berupa debit air di sungai maupun intensitas hujan dan bergantung

pada segi ekonomi dan dampak yang diakibatkan pemilihan banjir rencana

tersebut.

Dalam pemecahan yang dibahas disini pertimbangan ekonomi dan dampak

lainnya diabaikan sehingga hanya berdasarkan peristiwa terjadinya saja

berdasarkan teori kemungkinan. Kemungkinan terjadinya banjir rencana

sekali atau lebih ”selama umur bangunan” (life time).

Resiko kegagalan digambarkan dengan rumus :

R

=

1- (1-1/T)L

Resiko kegagalan digambarkan dengan rumus : R = 1- (1-1/T)L Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya
Resiko kegagalan digambarkan dengan rumus : R = 1- (1-1/T)L Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

III-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air R = Resiko kegagalan L = Umur bangunan T =

R

=

Resiko kegagalan

L

=

Umur bangunan

T

=

kala ulang (tahun)

Perkiraan mengenai besarnya banjir-banjir dengan masa ulang tertentu dilakukan dengan analisa frekwensi banjir.

a) Banjir rencana (design flood)

Besar debit yang diharapkan terjadi rata-rata sekali setiap T tahun (Periode ulang T tahun) dalam kurun waktu yang panjang

b) Periode Ulang (return period)

Recurence Interval (T)

Waktu rata-rata dalam tahunan diantara kejadian-kejadian banjir yang menyamai atau lebih besar dari Banjir T tahun tersebut

Banjir rencana adalah debit maksimum di sungai atau saluran alamiah dengan periode ulang (rata-rata)yang sudah ditentukan yang dapat dialirkan tanpa membahayakan proyek irigasi dan stabilitas bangunan- bangunanya. (KP-01 Standar perencanaan Irigasi)

Hubungan empiris antara curah hujan limpasan air hujan berdasarkan rumus rasional :

Qn= α β qn A

dimana : Qn

= debit banjir (puncak) dalam m3/dt dengan kemungkinan tidak terpenuhi n%.

α

=

koefisien limpasan air hujan (runoff)

 

β

=

koefisien pengurangan luas daerah hujan.

Qn

=

curah

hujan

dalam

m3/dt

km2

dengan

 

kemungkinan tidak

 

A

=

Terpenuhi n%.luas daerah aliran sungai (km2)

Untuk menetapkan curah hujan empiris-limpasan air hujan dengan metode Der Weduwen dan metode Melchior.

air hujan dengan metode Der Weduwen dan metode Melchior. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
air hujan dengan metode Der Weduwen dan metode Melchior. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

III-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Kedua metode ini menetapkan hubungan empiris untuk α dan β

Kedua metode ini menetapkan hubungan empiris untuk α dan β dan q. Waktu konsentrasi diambil sebagai fungsi debit puncak,panjang sungai dan kemiringan rata-rata sungai.

3.2. Methoda Melchior Metoda Melchior untuk perhitungan banjir diterbitkan pertama kali pada tahun 1914 sbb :

a) Koefisien limpasan air hujan

Koefisien limpasan air hujan α diambil dengan harga tetap. Pada mulanya dianjurkan harga-harga ini berkisar antara 0,41 sampai 0,62 yang ternyata harga-harga ini sering terlalu rendah

Harga-harga

Service-USBR)

koefisien

limpasan

air

hujan

(US

Soil

Conservation

Tanah Penutup

Kelompok Hidrologis Tanah

C

D

Hutan lebat

0,60

0,70

Hutan dengan ketebalan sedang

0,65

0,75

Tanaman lading

0,75

0,80

Kelompok C : Tanah tanah dengan laju infiltrasi rendah pada waktu dalam keadaan samasekali basah,dan terutama terdiri dari tanah-tanah yang lapisannya menghalangi gerak turun air atau tanah dengan tekstur agak halus sampai halus.

Kelompok D : Tanah tanah dalam kelompok memiliki laju infiltrasi sangat rendah pada waktu tanah basah samasekali,terutama terdiri dari tanah lempung dengan potensi mengembang tinggi,tanah dengan muka air tanah tinggi dan permanen,tanah dengan lapi lempung.

b) Curah hujan

Curah hujan q diambil sebagai intensitas rata-rata curah hujan sampai waktu terjadinya debit puncak. Ini adalah periode T (waktu konsentrasi) setelah mulainya turun hujan.

periode T (waktu konsentrasi) setelah mulainya turun hujan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
periode T (waktu konsentrasi) setelah mulainya turun hujan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

III-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air c) Waktu konsentrasi Tc = 0,186 L Q-0,2I-0,4 Tc =

c) Waktu konsentrasi

Tc = 0,186 L Q-0,2I-0,4

Tc = waktu konsentrasi,jam

L = panjang sungai,km

Q = debit puncak,m3/det

I = kemiringan rata-rata sungai.

d) Perhitungan banjir rencana.

3.3. Methoda Weduwen Metoda perhitungan banjir Weduwen (1937) untuk daerah seluas 100 km2

a) Hubungan dasar

Q n = α β q n A

b)

α 1 4,1/(βq +7)

β [120 + {(t+1)/(t+9)}A]/(120+A)

q n

=

=

(R n /240)/{67,65/(t+1,45)}

t =

Q n

0,25 L Q -0,125 I -0,25

= debit banjir(m3/det) dengan kemungkinan gagal n%

R

n

α

β

q

A

L

I

=

=

=

=

=

=

=

curah hujan harian maksimum (mm/hari) dengan kemungkinan

gagal n%

koefiseien limpasan air hujan

koefisien pengurangan daerah untuk curah hujan daerah aliran Sungai

curah hujan (m3/det.km2)

Luas`daerah aliran (km2) sampai 100 km2

panjang sungai (km)

gradien (melchior) sungai atau medan

3.4. Latihan 1) Apakah yang dimaksud dengan banjir rencana? 2) Apakah fungsi dari metode Melchior?

banjir rencana? 2) Apakah fungsi dari metode Melchior? Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
banjir rencana? 2) Apakah fungsi dari metode Melchior? Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

III-4

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 3.5. Rangkuman Pemilihan banjir rencana untuk bangunan-bangunan air adalah suatu

3.5.

Rangkuman Pemilihan banjir rencana untuk bangunan-bangunan air adalah suatu masalah yang tergantung pada analisa statistik dari urutan kejadian banjir baik berupa debit air di sungai maupun intensitas hujan dan bergantung pada segi ekonomi dan dampak yang diakibatkan pemilihan banjir rencana tersebut.

Banjir rencana adalah debit maksimum di sungai atau saluran alamiah dengan periode ulang (rata-rata)yang sudah ditentukan yang dapat dialirkan tanpa membahayakan proyek irigasi dan stabilitas bangunan- bangunanya.

proyek irigasi dan stabilitas bangunan- bangunanya. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
proyek irigasi dan stabilitas bangunan- bangunanya. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

III-5

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB IV DRAINASE LAHAN PERTANIAN Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta

BAB IV DRAINASE LAHAN PERTANIAN

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan drainase lahan pertanian

4.1. Drainase Lahan Pertanian

Untuk berperan sebagai media yang baik bagi pertumbuhan tanaman,tanah

harus dapat menyimpan dan menyediakan air dan unsur hara, serta bebas

dari konsentrasi bahan beracun yang berlebihan. Sistim tanah-air-tanaman

harus menjadi sistim yang sehat disebabkan kenyataan bahwa akar-akar

tanaman harus bernafas terus, dan kebanyakan tanaman tidak mampu

menyalurkan oksigen dari bagian tanaman yang berada diatas tanah ke

bagian perakaran dengan kecepatan yang mencukupi bagi pernafasan

akar. Oleh karena itu tanah harus mempunyai aerasi yang baik,dengan

pertukaran terus menerus oksigen dan karbon dioksida dan antara pori-pori

tanah yang berisi udara dengan atmosfir luar.

Tanah sangat basah akan melumpuhkan perakaran dan juga tanah yang

sangat kering akan menyebabkan akar kering.

Irigasi adalah penambahan kekurangan air tanah secara buatan yakni

dengan memberikan air secara sistematis pada tanah pertanian,sebaliknya

jika pemberian air ini berlebih akan merusakkan tanaman.

Drainasi berfungsi membuat lahan/tanah menjadi lahan pertanian yang

produktif sebagai tempat pertumbuhan tanaman dengan mengalirkan air

yang berlebih dari lahan yang diolah ,membuang bahan-bahan beracun

dari dalam tanah serta memperbaiki struktur tanah agar mempunyai aerasi

yang baik.

Pada pembicaraan disini drainase dibatasi untuk drainase lahan pertanian

dimana umumnya adalah drainase buatan (artificial drainage) karena tidak

cukupnya drainase alam untuk keperluan pertanian.

tidak cukupnya drainase alam untuk keperluan pertanian. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
tidak cukupnya drainase alam untuk keperluan pertanian. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Lahan-lahan yang datar dapat digenangi dari penggenangan sungai atau pasang-

Lahan-lahan yang datar dapat digenangi dari penggenangan sungai atau pasang- surut. Dengan berbagai pertimbangan maka drainase dapat didefinisikan sbb:

Agriculture Land drainage is the establishment and operation of a system by which the flow of water from the soil is enhanced to the benefit of agriculture”

Drainasi lahan pertanian dapat dibagi atas dua sistim yaiti sistim drainasi internal dan sistim drainasi eksternal.

Sistim drainasi internal adalah sistim drainasi untuk mengalirkan air berlebih di permukaan tanah atau melalui tanah area lahan yang digunakan melalui sistim drainasi permukaan dan sistim drainasi subpermukaan (drainasi air tanah)

Sistim drainasi eksternal terdiri dari saluran-saluran yang menerima aliran dari sistim internal dan mengalirkannya ke luar lahan. Juga eksternal drain menerima aliran aliran dari luar lahan agar tidak memasuki areal pertanian.

aliran dari luar lahan agar tidak memasuki areal pertanian. Gambar IV. 1 – Tipe Drainase Pusat

Gambar IV. 1 Tipe Drainase

memasuki areal pertanian. Gambar IV. 1 – Tipe Drainase Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
memasuki areal pertanian. Gambar IV. 1 – Tipe Drainase Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 4.2. Drainase Internal 4.2.1. Drainase Permukaan Pembuangan air bebas yang

4.2. Drainase Internal

4.2.1. Drainase Permukaan Pembuangan air bebas yang cenderung terakumulasi diatas permukaan

tanah adalah”drainasi permukaan”

Drainasi permukaan dapat dibagi atas dua tipe yaitu tipe intersepsi dan tipe

relief. Tipe relief dibagi lagi atas dua tipe yaitu tipe preventive dan

occasional. Tipe preventif untuk mencegah penggenangan dan tingginya

muka air. Tipe ini adalah tipe yang umum pada sistim drainasi. Tipe

occasional drainasi tidak praktis mencegah penggenangan ,tetapi hanya

memindahkan air dari lahan . Pada kolam sawah sebagai contoh drainasi

normalnya tidak dipertimbangkan,hanya jika lahan dibuat kering pada saat

panen akan diperlukan drainasi.

4.2.2. Drainase Air Tanah Bila hujan atau irigasi berhenti dan simpanan air permukaan berkurang

karena evaporasi atau infiltrasi ,maka proses infiltrasi berhenti karena tidak

ada lagi air yang masuk ke dalam tanah.

Tetapi gerakan air kebawah tidak segera berhenti dan hal ini dapat

bertahan dalam waktu yang panjang karena saat itu air akan diditribusikan

ke dalam profil tanah. Lapisan tanah yang dibasahi mendekati nilai jenuh

(saturated) selama infiltrasi tidak dapat mempertahankan kadar airnya

secara penuh,karena sebagian air ini bergerak ke lapisan lebih bawah

karena pengaruh gravitasi ataupun karena gradien hisapan.

Bila muka air tanah tinggi atau jika profil awalnya jenuh seluruhnya maka

gerakan pasca infiltrasi ini mengalirkan air yang lebih dari profil tanah hal

inilah kondisi ” drainasi air tanah”

Istilah ini digunakan dalam pengertian umum menyatakan aliran air yang

keluar dari tanah yang berperan sebagai pembuangan secara buatan dari

air yang berlebih dari dalam tanah,umumnya dengan membuat rendah

muka air tanah atau mencegah muka air tanah tersebut naik.

Kejenuhan tanah saja tidak selalu berbahaya bagi tanaman. Perakaran

kebanyakan tanaman dalam kenyataannya dapat hidup dalam air asalkan

tanaman dalam kenyataannya dapat hidup dalam air asalkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
tanaman dalam kenyataannya dapat hidup dalam air asalkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air air tersebut bebas dari bahan beracun dan mengandung cukup oksigen

air tersebut bebas dari bahan beracun dan mengandung cukup oksigen

untuk respirasi akar secara normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi drainasi:

a) Keterhantaran hidraulik

b) Konfigurasi muka air tanah

c) Kedalaman saluran

d) Jarak horizontal antar fasilitas drainasi

e) Sifat fasilitas drainasi

f) Lubang-lubang aliran masuk dalam saluran/pipa drainasi

g) Diameter saluran drainasi

h) Laju air yang ditambahkan ke dalam tanah

Persamaan rancangan drainasi. Persamaan dasar untuk aliran dalam tanah dalam keadaan jenuh adalah Darcy’s Law.

q= k.h/x

k =

h =

=

=

h

Z =

p w

=

=

=

h

h

p

p

daya hantar hidraulik

tinggi energi hidrolis.(hydraulic head)/ piezometric head

h p +

Z i

p w / tinggi tekanan matric tanah

elevasi tekanan air pori

berat jenis air = w g

Salah satu persamaan yang banyak diterapkan dari persamaan Darcy ini adalah

persamaan Hooghoudt (1937) yang dirancang untuk menduga tinggi muka air

tanah yang ada pada suatu hujan atua irigasi tertentu,bila keterhantaran hidraulik

tanah dan jarak serta kedalama dari saluran drainasi diketahui atau sebaliknya.

Persamaan ini ini didasarkan pada asumsi sbb

a) Tanah bersifat homogeny

b) Saluran drainasi adalah parallel

c) Gradien hidraulik pada tiap titik di bawah muka air tanah adalah sama

d) Suatu lapisan kedap terdapat pada kedalaman tertentu

e) Pemberian air dari atas oleh hujan atau irigasi adalah pada debit q yang tetap

atas oleh hujan atau irigasi adalah pada debit q yang tetap Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber
atas oleh hujan atau irigasi adalah pada debit q yang tetap Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-4

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Gambar IV. 2 – Hooghoudt 4.3. Drainase Eksternal Sistim drainasi
Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Gambar IV. 2 – Hooghoudt 4.3. Drainase Eksternal Sistim drainasi

Gambar IV. 2 Hooghoudt

03 Hidrologi dan Neraca Air Gambar IV. 2 – Hooghoudt 4.3. Drainase Eksternal Sistim drainasi eksternal

4.3. Drainase Eksternal Sistim drainasi eksternal terdiri dari saluran-saluran yang menerima aliran dari sistim internal dan mengalirkannya ke luar lahan. Juga eksternal drain

dan mengalirkannya ke luar lahan. Juga eksternal drain Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
dan mengalirkannya ke luar lahan. Juga eksternal drain Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-5

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air menerima aliran – aliran dari luar lahan agar tidak memasuki

menerima aliran aliran dari luar lahan agar tidak memasuki areal

pertanian.

Saluran-saluran yang lebih kecil disebut drainasi kolektor dimana saluran-

saluran yang lebih besar disebut saluran drainasi utama. Untuk drainasi air

tanah dengan gravitasi dibutuhkan saluran drainasi kolektor yang dalam

(normalnya dibawah muka ait tanah). Pada kolektor drain yang dangkal

melayani drainasi permukaan.

4.4. Analisa pengaruh drainasi pada pertanian

Tujuan ini dapat diperoleh dari pengaruh drainasi baik pengaruh langsung

ataupun tidak langsung. Pengaruh langsung dari sistim drainasi adalah:

a) Menurunkan rata-rata muka air diatas ataupun dalam tanah.

b) Mengalirkan air melalui sistim internal atapun eksternal

Pengaruh langsung ditentukan terutama oleh kondisi hidrologi dan

karakteristik hidrolik dari tanah dan sistim drainasi.

Pengaruh langsung menimbulkan sejumlah pengaruh tidak langsung yang

ditentukan oleh iklim,tanah,tanaman dan praktek pertanian. Hal ini dapat

dibedakan pada pengaruh positif(keuntungan) dan pengaruh

negatif(kerugian), seperti :

a) Pengaruh positif aliran : membuang racun-racun dari tanah , reuse dari

air drainasi.

b) Pengaruh negatif dari aliran : kerugian secara lingkungan (racun-racun

dan keasaman) air yang didrainasi,masuk ke selokan-selokan dan

saluran-saluran dan infrastruktur.

c) Pengaruh positif muka air : aerasi dari tanah,perbaikan struktur

tanah,panenan yang lebih baik,mengurangi puncak debit dengan

meningkatkan penyimpanan air dalam tanah.

d) Pengaruh negatif dari muka air: dekomposisi dari gambut, pengasaman

tanah cat clays,meningkatkan resiko kekeringan, kerusakan lingkungan

4.5. Drainase dan Hidrologi

4.5.1. Neraca air pada lahan secara umum Persamaan neraca air yang umum adalah: Air yang masuk = Air yang

keluar + ∆

air yang umum adalah: Air yang masuk = Air yang keluar + ∆ Pusat Pendidikan dan
air yang umum adalah: Air yang masuk = Air yang keluar + ∆ Pusat Pendidikan dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-6

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air ∆ adalah perobahan simpanan air. Untuk meningkatkan ∆ positif dimana

∆ adalah perobahan simpanan air. Untuk meningkatkan ∆ positif dimana

kondisi air yang keluar menurun. Jika ∆ = 0 adalah pada kondisi tetap.

Jika tanah dan permukaan adalah menjadi tempat penyimpanan air yang

dapat dibagi atas 4 sektor, maka rumus umum menjadi :

Permukaan : Irr + Hujan = Infiltrasi + Evaporasi+ aliran permukaan +∆s

Daerah perakaran : Irr + Kapiler = Evapotranspirasi+ perkolasi +∆i

Daerah fluktuasi watertable :

Perkolasi

+

aliran

keatas

vertikal

=

Kapilarity+drainasi

kebawah

vertikal+subsurfase drainase + ∆h

Daerah Air tanah dalam : aliran air tanah dating horizontal+aliran kebawah

vertical = Aliran air tanah keluar horizontal + aliran keatas.

4.5.2. Neraca air pada tanaman Kesetimbangan air dalam bentuk yang sederhana pada suatu periode,

W = W i W o

W = perobahan kandungan air dalam tanah

W i = jumlah air yang diberikan

W o = jumlah air yang diambil

jumlah air yang diberikan W o = jumlah air yang diambil Gambar IV. 3 – Neraca

Gambar IV. 3 Neraca Air pada Zona Perakaran

Bentuk kesetimbangan yang lebih lengkap pada zona perakaran adalah,

kesetimbangan yang lebih lengkap pada zona perakaran adalah, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
kesetimbangan yang lebih lengkap pada zona perakaran adalah, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-7

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air  S +  V = (P+I+U)  (R+D+E+T) 

S +V

=

(P+I+U) (R+D+E+T)

S

=

perobahan kandungan air tanah pada zona perakaran.

V

=

perobahan kandungan air yang terjadi pada tanaman.

P

=

hujan

I

=

irigasi

U

=

aliran kapiler

R

=

limpasan

E

=

evaporasi dari permukaan tanah

T

=

tanspirasi dari tanaman.

V dapat diabaikan ,karena kurang penting,sehingga persamaan (3.38) menjadi, dS/dt = (p + i + u) (r + d + e + t)

(3.38) menjadi, dS/dt = (p + i + u) (r + d + e + t)

Perobahan kandungan air tanah terhadap kedalaman dan pada periode tertentu adalah,

 

z

t2

S =

/t dz dt

0

t1

= kadar air tanah dalam persen volume.

4.6. Drainase, Kondisi Fisik Tanah dan Pertumbuhan Tanaman

4.6.1. Aerasi tanah

Akar memerlukan oksigen untuk respirasi dan aktivitas metabolisme yang lain,akar menyerap air dan mengambil nutrisi dari tanah,dan memproduksi carbondioksida yang mana harus diganti dengan oksigen dari udara. Proses ini adalah dikenal dengan aerasi yang pengambilannya dengan difusi dan aliran massa memerlukan ruang pori yang terbuka dalam tanah. Jika perakaran akan berkembang baik, air dan nutrisi dan udara harus dapat diambil terus-menerus.

4.6.2. Struktur tanah

Struktur tanah yang baik (agregat dan ukuran partikel tanah) dapat dengan kondisi yang baik untuk simultan aerasi dan penyimpanan dari kelembaban tanah. Pengaruh drainasi terhadap struktur tanah mempengaruhi muka air tanah.

terhadap struktur tanah mempengaruhi muka air tanah. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
terhadap struktur tanah mempengaruhi muka air tanah. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-8

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 4.6.3. Temperatur tanah Pengurangan dari kadar air dan peningkatan kadar

4.6.3. Temperatur tanah

Pengurangan dari kadar air dan peningkatan kadar udara karena drainasi akan menghasilkan penurunan dari panas tertentu tanah.

4.6.4. Daya dukung tanah

Dengan drainasi yang cukup kadar kelembaban dari lapisan permukaan tanah pada rata-rata tidak meningkat diatas kapasitas lapang. Hal ini penting sebab ada range yang sempit dari kadar kelembaban yang sesuai untuk pengolahan tanah,yang untuk kebanyakan tanah adalah dibawah kapasitas lapang.

4.6.5. Penurunan tanah

Penurunan tanah akan terjadi dibawah pengaruh dari drainasi utama pada tanah yang baru direklamasi yang pada aslinya adalah kebanykan air dan tanah gambut.

4.7. Drainase, Kondisi Kimia Tanah, dan Pertumbuhan Tanaman

4.7.1. Supply nutrisi

Berbagai proses aktivasi oleh bakteri,fungi atau micro dan macro organisme tergantung pada aerasi dan drainasi. Nitrogen fixation dan nitrification oleh mikro organisme yang dapat dikatakan dua dari proses aerobic utama dan penting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Drainasi yang baik juga meningkatkan dekomposisi mkrobiologi dari zat organik.

4.7.2. Salinitas dan alkalinitas tanah

4.7.3. Aciditas tanah

4.8. Formulasi dan kriteria desain

4.8.1. Tipe variabel

Pada perencanaan drainasi ada tiga jenis variabel ;

a) Engineering Variabel: Variabel-variabel tentang komponen teknis dan material dari sistim yang dijabarkan dalam tender dokumen.

material dari sistim yang dijabarkan dalam tender dokumen. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
material dari sistim yang dijabarkan dalam tender dokumen. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-9

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air b) Environmental Variabel: Variabel-variabel yang menguraikan kondisi natural atau

b) Environmental Variabel: Variabel-variabel yang menguraikan kondisi natural atau kondisi batas dari fungsi sistim drainasi. Penilaian pilihan adalah parameter lingkungan. c) Criteria Variabel: Variabel-variabel sehubungan pada penagruh dari sitim dan tujuan. Variabel ini dapat dioptimasi, maksudnya dapat dipilih. Nilai optimal ini disebut kriteria. Hal ini akan memberikan instruksi pada perencana dan setalah implementasi, sistim ini dievaluasi untuk mengkoreksi perencanaan,implementasi dan operasi.

4.8.2. Kedalaman, durasi dan analisa frekuensi

Sebagai hasil dari berbagai kondisi iklim, muka air adalah berfluktuasi. Dengan demikian drainasi tidak mungkin ditetapkan pada muka air uang konstan. Karena itu kita harus memilih nilai yang representative dari muka air dari distribusi frekuensi.

Satu karakteristik yang penting dari distribusi frekuensi adalah nilai rata- rata. Kedua adalah nilai ekstrem,ketiga adalah skewnes yang dapat diperoleh dari perbedaan antara nilai rata-rata dan nilai tengah atai nilai modal.

4.8.3. Tipe dari kriteria sehubungan pada durasi dan frekuensi.

Jika ditunjuk satu kriteria sebagai satu pertimbangan rata-rata dalam suatu periode yang panjang, diformulasikan perintah kriteria pertama.

Suatu contoh dari kriteria untuk drainasi subsurface pada lahan beririgasi adalah: kedalaman muka air tanah rata-rata selama periode pemberian air tidak boleh kurang dari 1 m.

Jika ditunjuk satu kriteria pada term dari frekuensi dari nilai ekstrem,diformulasikan perintah kriteria kedua. Contoh dari kriteria untuk sistim drainasi disposal adalah: hanya sekali dalam 100 tahun terjadi muka air dalam saluran drainasi yang overtopping.

saluran drainasi yang o v e r t o p p i n g . Pusat
saluran drainasi yang o v e r t o p p i n g . Pusat

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-10

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Gambar IV. 4 – Depht Duration Frequency Curve of Rainfall
Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Gambar IV. 4 – Depht Duration Frequency Curve of Rainfall

Gambar IV. 4 Depht Duration Frequency Curve of Rainfall

4.9. Latihan 1) Apakah yang dimaksud dengan irigasi? 2) Apakah yang dimaksud dengan sistem drainase internal dan external dan sebutkan contohnya? 3) Apakah pengaruh langsung yang ditimbulkan dari praktek pertanian dan jelaskan ?

4.10. Rangkuman Drainasi berfungsi membuat lahan/tanah menjadi lahan pertanian yang produktif sebagai tempat pertumbuhan tanaman dengan mengalirkan air yang berlebih dari lahan yang diolah, membuang bahan-bahan beracun dari dalam tanah serta memperbaiki struktur tanah agar mempunyai aerasi yang baik. Drainasi lahan pertanian dapat dibagi atas dua sistim yaitu sistim drainasi internal dan sistim drainasi eksternal.

Pembuangan air bebas yang cenderung terakumulasi diatas permukaan tanah adalah drainasi permukaan

Drainasi air tanah menyatakan aliran air yang keluar dari tanah yang berperan sebagai pembuangan secara buatan dari air yang berlebih dari

sebagai pembuangan secara buatan dari air yang berlebih dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
sebagai pembuangan secara buatan dari air yang berlebih dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-11

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air dalam tanah, umumnya dengan membuat rendah muka air tanah atau

dalam tanah, umumnya dengan membuat rendah muka air tanah atau mencegah muka air tanah tersebut naik.

Pengaruh langsung menimbulkan sejumlah pengaruh tidak langsung yang ditentukan oleh iklim,tanah,tanaman dan praktek pertanian. Hal ini dapat dibedakan pada pengaruh positif (keuntungan) dan pengaruh negatif

pada pengaruh positif (keuntungan) dan pengaruh negatif Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
pada pengaruh positif (keuntungan) dan pengaruh negatif Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IV-12

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB V DRAINASI PADA DAERAH IRIGASI Setelah mengikuti pembelajaran ini,

BAB V DRAINASI PADA DAERAH IRIGASI

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan drainase pada daerah irigasi

5.1. Umum

Daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan

irigasi. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air

irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan,

irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.

Pembuangan air irigasi, selanjutnya disebut drainasi, adalah pengaliran

kelebihan air yang sudah tidak dipergunakan lagi pada suatu daerah irigasi

tertentu (PP no 20 tahun 2006 tentang Irigasi)

Pada daerah-daerah yang diirigasi secara teknis, pengaliran air yang

berlebih direncanakan secara gravitasi. Untuk menghindarkan masuknya

air banjir masuk kedalam lahan ,daerah irigasi dilengkapi dengan

bangunan-bangunan pengendali banjir disepanjang sungai. Dalam hal ini

drainasi mempunyai dua fungsi :

a) Drainasi internal permukaan, untuk mengalirkan kelebihan air dari

sawah untuk mencegah terjadinya genangan dan kerusakan

tanaman,atau untuk mengatur banyaknya air tanah sesuai dengan yang

dibutuhkan tanaman.

Dalam hal ini, kelebihan air di lahan ditampung dalam sistim jaringan

drainasi (tersier,kuarter) kemudian mengalirkannya ke dalam jaringan

sekunder,primer dan seterusnya ke sungai.

b) Drainasi eksternal,untuk mengalirkan air dari luar daerah irigasi.

Dalam hal ini air berlebih dari luar dari daerah irigasi biasanya

memasuki daerah pertanian melalui saluran-saluran drainasi alamiah

yang akan merupakan bagian dari sistim jaringan drainasi utama dari

daerah irigasi dimaksud.

5.2. Debit Drainasi Sawah Untuk Padi

Kelebihan air di dalam petak tersier disebabkan oleh;

Padi Kelebihan air di dalam petak tersier disebabkan oleh; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
Padi Kelebihan air di dalam petak tersier disebabkan oleh; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

V-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air a) Hujan b) Melimpahnya air irigasi atau buangan yang berlebih

a) Hujan

b) Melimpahnya air irigasi atau buangan yang berlebih dari sistim jaringan

primer atau sekunder

c) Rembesan atau limpahan kelebihan air irigasi di dalam petak tersier.

Drainasi permukaan untuk petak dinyatakan sbb:

D(n) = R (n) T + n(I-ET-P) - S

n = jumlah hari berturut-turut

D(n) = limpasan pembuang permukaan selama n hari dalam mm

R (n) T = curah hujan dalam n hari berturut-turut dengan periode ulang T

tahun,mm

I = pemberian air irigasi,mm/hari

ET = evapotranspirasi,mm/hari

P = perkolasi,mm/hari

S = tanpungan tambahan ,mm

Untuk penghitungan modulus pembuangan ,komponennya diambil sbb:

a) Dataran rendah

b) Daerah terjal

Besarnya modulus pembuang adalah :

D

D

m

m

= D(3)/(3x8,64)

=

modulus pembuang,l/dt/ha

=

limpasan pembuang permukaan selama 3 hari,mm

D(3)

1 mm/hari = 1/8,64 l/dt.ha

Debit pembuang rencana dari sawah:

Q

d = 1,62 D m A 0,92

Q

d = debit pembuang rencana,l/det

A

= luas`daerah yang dibuang airnya,ha

5.3. Debit Drainase Sawah Non Padi

Daerah non sawah selain padi adalah:

a) Daerah-daerah aliran sungai yang berhutan

padi adalah: a) Daerah-daerah aliran sungai yang berhutan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
padi adalah: a) Daerah-daerah aliran sungai yang berhutan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

V-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air b) Daerah-daerah dengan tanaman lading c) Daerah-daerah permukiman Dalam merencanakan

b) Daerah-daerah dengan tanaman lading

c) Daerah-daerah permukiman

Dalam merencanakan saluran pembuang untuk daerah-daerah ini perlu

dipertimbangkan dalam dua hal;

a) Debit puncak maksimum dalam waktu pendek

b) Debit rencana yang dipakai untuk perencanaan saluran

Debit puncak ,luas area sampa 100 km2 dihitung dengan rumus Der

Weduwen. Debit rencana dihitung menurut USBR 1973

Q d

=

0,116 α R(1)5 A 0,92

α

=

koefisien limpasan air hujan

R(1)5

=

curah hujan sehari,dengan kemungkinan terpenuhi 20%

A

=

luas daerah yang dibuang airnya.,ha

5.4. Debit Pembuang Debit rencana akan dipakai untuk merencanakan kapasitas saluran pembuang dan tinggi muka air. Debit pembuang terdiri dari air buangan dari sawah dan dari tempat-tempat lain diluar sawah.

Jaringan pembuang akan direncanakan untuk mengalirkan debit pembuang rencana dari daerah sawah dan non sawah. Muka air yang dialirkan tidak boleh menghalangi pembuanagan air dari sawah sawah di daerah irigasi.

Debit puncak akan dipakai untuk menghitung muka air tertinggi di jaringan pembuang. Muka air tertinggi akan digunakan untuk merencanakan pengendalian banjir dan bangunan. Selama terjadi debit puncak, terhalangnya pembuangan air dari sawah dapat diterima. Tinggi muka air puncak sering melebihi tinggi muka tanah. Dalam hal ini sarana-sarana pengendali banjir akan dibuat di sepanjang saluran pembuang,dimana tidak boleh terjadi penggenangan.

Periode ulang untuk debit puncak dan debit rencana berbeda untuk debit puncak ,periode ulang dipilih sebagai berikut:

a) 5 tahun untuk saluran pembuang kecil di daerah irigasi atau

5 tahun untuk saluran pembuang kecil di daerah irigasi atau Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya
5 tahun untuk saluran pembuang kecil di daerah irigasi atau Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

V-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air b) 25 tahun atau lebih,bergantung pada apa yang akan dilindungi,untuk

b) 25 tahun atau lebih,bergantung pada apa yang akan dilindungi,untuk sungai periode ulangnya diambil sama dengan saluran pembuang yang besar

c) Periode ulang debit rencana diambil 5 tahun.

5.5. Latihan

1)

Sebutkan dua fungsi drainase dan sebutkan contohnya!

2)

Apa penyebab kelebihan air didalam petak tersier?

5.6. Rangkuman Daerah irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan

irigasi. Dalam hal ini drainasi mempunyai dua fungsi :

a) Drainasi internal

b) Drainasi eksternal

Debit pembuang terdiri dari air buangan dari sawah dan dari tempat-tempat

lain diluar sawah

buangan dari sawah dan dari tempat-tempat lain diluar sawah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
buangan dari sawah dan dari tempat-tempat lain diluar sawah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

V-4

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB VI PENGUMPULAN DATA Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat

BAB VI PENGUMPULAN DATA

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan pengumpulan data

6.1. Umum

Kegiatan

perencanaan pendahuluan/studi dan tahap perencanaan teknis data yang

dikumpulkan perencanaan tehnis lebih detail dibandingkan dengan pada

tahap studi. Data yang dikumpulkan adalah data yang berhubungan

dengan hidrologi, topografi dan geotelogi teknik. Karena masalah topografi

dan geologi teknik dibahas dalam modul lain maka dalam bab ini hanya

dibahas data yang berkaitan dengan hidrologi

yang menyangkut

tahap

tahap

perencanaan

dibagi

menjadi

dua

bagian

yaitu

Data

hidrologi seperti curah hujan dan debit sungai bervariasi setiap waktu oleh

karena itu dibutuhkan data series yang cukup banyak untuk memperoleh

hasil yang teliti. Namun kadang-kadang data terbatas bahkan tidak ada

sama sekali sehingga perlu pengamatan data didaerah terdekat yang

mempunyai data lengkap dengan cara membandingkannya. Selain

tersedianya data juga perlu dievaluasi tentang tingkat ketelitian data.

Dengan makin telitinya data akan diperoleh perhitungan yang mendekati

benar,

6.2. Jenis Data

Untuk keperluan perencanaan jaringan irigasi parameter hidrologi yang

penting adalah:

a) Data curah hujan

b) Data evapotranspirasi

c) Debit puncak dan debit harian

d) Angkutan sediment

Parameter tersebut diatas dikumpulkan, dianalisa dan dievaluasi bahkan

dievaluasi ulang kalau ada tambahan data baru. Perencana seharusnya

memeriksa tempattempat pengambilan data untuk memastikan kebenaran

cara pengambilan data. Sebagai dasar analisa data diperlukan pula peta-

data. Sebagai dasar analisa data diperlukan pula peta- Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
data. Sebagai dasar analisa data diperlukan pula peta- Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VI-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air peta, data debit disungai dan data meteorologi. Ringkasan parameter dapat

peta, data debit disungai dan data meteorologi. Ringkasan parameter dapat dilihat dalam table dibawah ini.

Tabel 6. 1 Ringkasan Parameter

Cek Data

Analisis & Evaluasi

Parameter perencanaan

Total

-distribusi bulan/musim

Curah hujan efektif”:curah hujan minimum tengah bulanan, dengan kemungkinan tak terpenuhi 20 %

Hargaharga

-distribusi tahunan

tinggi

Double

 

massplot

Curah hujan lebih : curah hujan 3 harian maksimum dengan kemungkinan tak terpenuhi 20 %

Diluar tempat

-isohyet

pengukuran

-tahunan

 

yang

Hujan lebat: curah hujan sehari maksimum dengan kemungkinan tak terpenuhi 20 %

dijadikan

-pengaruh

referensi

ketinggian,angina

-transposisi

 

-hujan lebat

6.3. Data Curah Hujan Data curah hujan dikumpulkan dati stasiun pencatatan hujan manual maupun otomatis. Analisa curah hujan dilakukan untuk menghitung curah hujan efektif dan curah hujan lebih.Curah hujan efektif diperlukan untuk perencanaan pemberian iar irigasi sedang curah hujan lebih untuk menghitung kapasitas pembuangan dan debit banir.

6.4. Data Evapotranspirasi

Evapotranspirasi adalah jumlah air yang menguap dari permukaan tanah maupun dari tanaman itu melalui daun. Untuk menghitung besarnya nilai evapotranspirasi dibutuhkan data iklim terdiri dari:

a) Temperature harian maksimim,minimum dan rata-rata

b) Kelembaban relative

c) Sinar matahari lamanya dalam sehari

Kelembaban relative c) Sinar matahari lamanya dalam sehari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Kelembaban relative c) Sinar matahari lamanya dalam sehari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VI-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air d) Kecepatan dan arah angina e) Evaporasi catatan harian Parameter

d) Kecepatan dan arah angina

e) Evaporasi catatan harian

Parameter

perencanaan evapotranspirasi disajikan pada tabel 2 dibawah

ini

Tabel 6. 2 - Parameter perencanaan evapotranspirasi

Metode

Data

Parameter perencanaan

Dengan pengukuran

Kelas Pan.A harga harga evapotranspirasi

Jumlah rata rata 10 harian atau 30 harian untuk setiap tengah bulanan

Perhitungan dengan rumus Penman atau yang sejenis

Temperatur,kelembaban

Harga

rata-rata

tengah

relative,siar

matahari,

bulanan

angin

6.5. Data Aliran Sungai Data aliran sungai diukur dengan alat pengukur debit atau dengan data ketinggian muka air sungai.yang diolah menjadi debit sungai.

6.6. Data Perkolasi Perkolasi adalah besarnya air yang meresap kedalam tanah yang dapat mengurangi air dipermukaan tanah.Besarnya angka perkolasi tergantung dari jenis tanah.Sebagai contoh tanah lempung berat mempunyai laju perkolasi sebesar 1 s/d 3 mm/hari untuk yang berjenis ringan angka rembesan makin besar.

6.7. Latihan

1)

Sebutkan parameter-parameter hidrologi untuk keperluan perencanaan jaringan irigasi !

2)

Apa yang dimaksud dengan evapotranspirasi?

3)

Apa yang dimaksud dengan perkolasi?

3) Apa yang dimaksud dengan perkolasi? Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
3) Apa yang dimaksud dengan perkolasi? Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VI-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 6.8. Rangkuman tahap perencanaan pendahuluan/studi Untuk keperluan perencanaan jaringan

6.8.

Rangkuman

tahap

perencanaan pendahuluan/studi

Untuk keperluan perencanaan jaringan irigasi parameter hidrologi yang penting adalah:

a) Data curah hujan

b) Data evapotranspirasi

Kegiatan

dan tahap perencanaan teknis data.

tahap

perencanaan

dibagi

menjadi

dua

bagian

yaitu

c) Debit puncak dan debit harian

d) Angkutan sediment

yaitu c) Debit puncak dan debit harian d) Angkutan sediment Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya
yaitu c) Debit puncak dan debit harian d) Angkutan sediment Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VI-4

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB VII KETERSEDIAAN AIR Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat

BAB VII KETERSEDIAAN AIR

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan mengenai ketersediaan air

7.1. Perencanaan Irigasi

Perencanaan irigasi memerlukan lahan, petani dan ketersediaan air untuk

pemberian air. Air dapat berasal dari air permukaan maupun air tanah

sesuai dengan siklus hidrologi yaitu air laut yang menguap keatas,berubah

menjadi awan, kemudian karena temperatur diatas berubah menjadi hujan

yang turun kebumi sebagian mengalir dipermukaan tanah dan sebagian

lagi masuk dalam bumi sebagai air bawah tanah kemudian mengalir kelaut.

7.2. Debit Andalan

Dalam pemanfaatan air untuk keperluan air perlu diperhitungkan berapa

ketersediaan air ditempat tersebut, debit tersebut dinamakan debit andalan

(dependable flow). Dengan pengertian bahwa debit andalan adalah debit

minimum sungai untuk kemungkinan terpenuhinya kebutuhan air untuk

irigasi. Kemungkinan terpenuhinya ditetapkan sebesar 80 % dan ditentukan

untuk periode tengah bulanan. Debit minimum sungai dianalisis atas dasar

data debit harian sungai. Agar analisanya cukup baik diperlukan data untuk

periode 20 tahun. Ada beberapa cara analisa debit andalan antara lain

dalam tabel dibawah ini.

Tabel 7. 1 Analisa Debit Andalan

 

CACATAN

 

PARAMETER

NO

DEBIT

 

METODE

PERENCANAAN

Data cukup 20 tahun atau lebih

Analisis

frekuensi

distribusi,

Debit rata2 tengah bulanan dengan kemungkinan gagal 20 %

frekuensi normal

1b

Data terbatas

Analisis frekuensi,hubungan debit dengan rangkaian curah hujan

Seperti

1

a

tetapi

kurang teliti

 
Seperti 1 a tetapi kurang teliti   Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Seperti 1 a tetapi kurang teliti   Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VII-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 2   a) Model simulasi perimbangan air dari Dr,Mock dengan

2

 

a) Model simulasi perimbangan air dari Dr,Mock dengan input data hujan,evapotranspirasi,tanah,ge ologi daerah aliran b) Perbandingan dengan daerah aliran sungai didekatnya

Seperti

1

b

tetapi

Data minimal atau tidak ada

kurang teliti

 

3

Data tidak ada

Metode kapasitas saluran dari potongan melintang dan kemiringan dasar sungai

Seperti

1

b

tetapi

ketelitian kurang

Debit andalan yang dihitung dengan cara ini tidak sepenuhnya dapat dipakai untuk irigasi karena aliran sungai yang dielakkan terlalu bervariasi sekitar harga rata-rata tengah bulanan .Sebagai harga praktis dapat diandalkan kehilangan 10%. Hasil analisis variasi dalam jangka waktu tengah bulanan dan pengaruhnya terhadap pengambilan yang direncanakan akan memberi angka lebih tepat.

Ada 3 metode analisis untuk debit andalan yaitu:

a) Analisis frekuensi Dilakukan untuk setengah bulanan dengan rata-rata bulanan yang dihitung tersebut Frekuensi distribusi normal bisa mulai dihitung untuk harga harga ploting diatas kerta logaritmis.Dibuat lengkung debit sungai untuk mencari besarnya debit sungai dari ketinggian muka air. Bandingkan curah hujan rata rata didaerah aliran sungai dengan debit rata rata sungai.Gunakan harga harga kehilangan rata ratatahunan untuk membuat perbandingan antara curah hujan dan debit tahunan. Jika data yang terbatas analisis frekuensi dapat dilakukan dengan menilai frekuensi relatif yang dihitung frekuensi relatif masing masing harga tengan bulanan dimusim kering. Debit musim kering dibandingkan dengan. curah hujan menjelang musim kering tersebut.

b) Neraca air Metode neraca Dr.Mock memberikan metode perhitungan sederhana untuk bermacam macam komponen :

metode perhitungan sederhana untuk bermacam macam komponen : Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
metode perhitungan sederhana untuk bermacam macam komponen : Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VII-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 1) Curah hujan rata rata bulanan dihitung dari data pengukuran

1) Curah hujan rata rata bulanan dihitung dari data pengukuran curah hujan dan evapotranspirasi 2) Perbedaan antara curah hujan dan evapotranspirasi merupakan limpasan (direct runoff) Debit2 ini dituliskan lewat persamaan persamaan dengan parameter daerah aliran sungai yang disederhanakan 3) Perlu pengetahuan luas tentang luas daerah aliran dan pengalaman yang cukup dengan model neraca air Van Mock ini. 4) Kalibrasi model didaerah aliran sungai yang diselidiki debitnya dan data data meteorogi akan menambah keandalan hasil model. 5) Apabila data sangat kurang usahakan jangan memakai mofel Dr.Mock ini karena hasilnya banyak kesalahan.

c) Pengamatan lapangan Hasil hasil pengamatan lapangan langsung diperoleh dari penduduk dijadikan indikasi mengenai debit minimum sebenarnya. Muka air yang rendah akan dikonversikan menjadi debit dengan menunjukkan kekurangtepatan yang ada akibat kekeliruan dalam mengambil angka kekasaran talud dan dasar. Rekonstruksi hidrograf tahunan menjadi sulit ,karena hanya muka air terendah saja yang diingat.Informasi semacam ini dapat dipakai untuk pemeriksaan susulan terhadap hasil hasil yang diperoleh dari pengamatan langsung

7.3. Latihan

1)

Apakah yang dimaksud dengan debit andalan?

2)

Sebutkan cara menganalisa debit andalan!

7.4. Rangkuman

Perencanaan irigasi memerlukan lahan, petani dan ketersediaan air untuk

pemberian

diperhitungkan berapa

analisis untuk debit andalan yaitu:

a) Analisis frekuensi

b) Neraca air

c) Pengamatan lapangan

ketersediaan air ditempat tersebut. Ada 3 metode

Dalam pemanfaatan air untuk keperluan air perlu

air.

metode Dalam pemanfaatan air untuk keperluan air perlu air. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
metode Dalam pemanfaatan air untuk keperluan air perlu air. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VII-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB VIII KEBUTUHAN AIR Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat

BAB VIII KEBUTUHAN AIR

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan mengenai kebutuhan air

8.1. Kebutuhan Air di Sawah untuk Tanaman Padi

Kebutuhan air disawah untuk padi ditentukan oleh faktor faktor berikut

a) Penyiapan lahan

b) Penggunaan konsumtif

c) Perkolasi dan rembesan

d) Pergantian lapisan air

e) Curah hujan efektif

NFR

NFR R eff E t = E v . C P ud P er

R eff

E t = E v . C

P ud P ud

P er P er

Gambar VIII. 1 Faktor Faktor Kebutuhan Air Sawah

Kebutuhan total air disawah ( GFR) mencakup faktor a) sampai d).

Kebutuhan bersih air disawah ( NGR ) juga memperhitungkan curah hujan

efektif. Satuan untuk kebutuhan air disawah dinyatakan dalam mm/hari

atau l/dt.ha dengan memperhitungkan tingkat efisiensi irigasi ditingkat

tersier dan jaringan utama.

a) Penyiapan Lahan

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan umumnya menentukan kebutuhan

air maksimum ,factor penting menetukan kebutuhan air untuk penyiapan

lahan adalah

1) Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan

penyiapan lahan yang dipengaruhi oleh tersedianya tenaga kerja

dan ternak atau peralatan traktor, Perlu memperpendek waktu

dan ternak atau peralatan traktor, Perlu memperpendek waktu Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
dan ternak atau peralatan traktor, Perlu memperpendek waktu Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air penyiapan lahan untuk mendapatkan waktu menanam yang cukupUntuk beberapa daerah

penyiapan lahan untuk mendapatkan waktu menanam yang

cukupUntuk beberapa daerah memerlukan waktu 1,5 bulan untuk mempersiapkan lahan seluruh jaringan, kalau dengan mesin dapat dihemat menjadi 1 bulan.Perlu diingat bahwa waktu transpalansi dapat dimulai setelah 3 -4 minggu setelah penyiapan lahan selesai. 2) Kebutuhan air untuk penyiapan lahan ditentukan berdasarkan

dipakai

tanah

kedalaman

serta

porositas

disawah.Rumus

yang

sebagai berikut:

( S a S b ) N.d

PWR = --------------------------- + P d + F l

10 4

PWR = kebutuhan air untuk penyiapan lahan ,mm

S a

S

b

= derajad kejenuhan tanah setelah penyiapan dimulai ,%

= derajad kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan. %

N = porositas tanah dalam % pada rata rata kedalaman tanah

d = asumsi kedalaman genangan tanah setelah penyiapan lahan,

P

d

F l

mm

= kedalaman genangan setelah penyiapan lahan,mm

= kehilangan air disawah selama 1 hari,mm

Untuk tanah bertekstur berat tanpa retak retak kebutuhan air untuk penyiapan lahan diambil 200 mm diatambah 50 mm lapisan air disawah setelah transplansi ,sedang untuk tanah yang lama bero/kering kebutuhan air 300 mm ditambah 50 mm untuk penggenangan setelah transplansi.

Untuk tanah ringan dengan laju perkolasi tinggi kebutuhan air untuk penyiapan lahan bisa lebih tinggi lagi.

kebutuhan air untuk penyiapan lahan bisa lebih tinggi lagi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
kebutuhan air untuk penyiapan lahan bisa lebih tinggi lagi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat pula dihitung dengan rumus

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan dapat pula dihitung dengan rumus van de Goor dan Ziljstra berdasarkan laju air konstan dalam l/dt selama periode penyiapan lahan:

IR = M.e k / (e k 1)

IR

= kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan mm/hari

M

= kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi

dan perkolasi

mm/hari

k

= MT/S

T = jangka waktu penyiapan lahan

S = kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50 mm, jadi 200 mm + 50 mm = 250 mm

b) Penggunaan Konsumtif

Penggunaan konsumtif dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Dimana

ET c = kc x ET0

ETC = evapotranspirasi tanaman mm/hari

ET0 = evapotranspirasi tanaman acuan mm/hari

Kc = koefisien tanaman

Evapotranspirasi tanaman memakai acuan tanaman rumput pendek ET0 adalah kondisi evaporasi berdasarkan keadaan meteorologi :

a) temperatur

b) sinar matahari

c) kelembaban

d) angin

Angka evaporasi yang diukur dilapangan dengan alat pan Kelas A disebut E pan dikonversikan kedalam angka angka ET0 memakai faktor Kp antara 0.65 s/d 0.85

ET0 = Kpx E pan

faktor Kp antara 0.65 s/d 0.85 ET 0 = K p x E p a n
faktor Kp antara 0.65 s/d 0.85 ET 0 = K p x E p a n

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Untuk perhitungan evaporasi dianjurkan menggunakan rumus Penman yang

Untuk perhitungan evaporasi dianjurkan menggunakan rumus Penman yang dimodifikasi,temperatur,kelembaban dan sinar matahari menjadi parameter rumus tersebut.Data diukur dari rata rata 10 hari. Menurut Penman untuk rumput pendek ET0 diambil sebesar 0,25. Sehingga untuk perhitungan Etc dapakai ET0 =0,25

Kalau data didaerah tersebut tidak ada maka dipergunakan data daerah sebelahnya. Penggunaan komsumtif dihitung secara tengah bulanan demikian pula harga evapotranspirasi acuan Setiap jangka waktu setengah bulan harga Etc ditetapkan dengan analisis frekuensi dengan asumsi distribusi normal.

c) Koefisien tanaman Harga koefisien tanaman untuk taman padi dapat dilihat pada tabel

Tabel 8. 1 - Harga koefisien tanaman

BULAN

NEDECO/PROSIDA

FAO

Varietas biasa

Varietas unggul

Varietas biasa

Varietas unggul

0,5

1.20

1.20

1.10

1.10

1

1.20

1.27

1.10

1.10

1,5

1.32

1.33

1.10

1.05

2

1.40

1.30

1.10

1.05

2,5

1,35

1.30

1.10

0.95

3

1,24

0

1.05

0

3,5

1,12

0,95

4

0

0

0 1.05 0 3,5 1,12 0,95 4 0 0 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air
0 1.05 0 3,5 1,12 0,95 4 0 0 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-4

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air d) Perkolasi Laju perkolasi sangat tergantung sifat tanah,tanah lempung 1-3

d)

Perkolasi

Laju perkolasi sangat tergantung sifat tanah,tanah lempung 1-3 mm/hari tanah lebih ringan angka lebih tinggi

e)

Penggantian lapisan air dilaksanakan dua kali masing masing 50 mm selama setengah bulan,sebulan dan dua bulan setelah transplantasi

f)

Curah hujan efektif Untuk irigasi padi curah hujan efektif dihitung bulanan diambil 70 % dari curah hujan minimum tengah bulanan dengan periode ulang 5 tahun

Re = 0.70 x ---- R ( setengah bulanan )

15

Re = curah hujan efektif

R = curah hujan minimum tengah bulananperiode ulang 5 tahun/mm

g)

Perhitungan kebutuhan air disawah untuk petak tersier

Perhitungan kebutuhan air disawah petak tersier dipengaruhi sistem rotasi karena kegiatan penyiapan lahan diselesaikan secara bertahap

dan harus selesai 1 bulan atau 1,5 bulan.

8.2. Kebutuhan Air untuk Tanaman Non Padi/ Palawija

a) Penyiapan lahan dipelukan dengan cara menjaga kelembaban tanah untuk persemaian yang baru tumbuh.Jumlah air yang dibutuhkan 50

mm

sampai 100 mm untuk tanaman palawija dan 100 mm sampai 120

mm

untuk tebu

b) Penggunaan konsumtif seperti halnya tanaman padi untuk non padi memakai rumus Penman yang dimodifikasi dengan asumsi

1) evapotranspirasi harian 5 mm 2) kecepatan angin 0 s/d 5 m/dt 3) kelembaban relatif minimum 70 % 4) frekuensi irigasi/curah hujan per 7 hari

c) Perkolasi pada tanaman palawija hanya terjadi pada pemberian air irigasi.dalam mempertimbangkan efisiensi irigasi,besarnya perkolasi

dipertimbangkan

efisiensi irigasi,besarnya perkolasi dipertimbangkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
efisiensi irigasi,besarnya perkolasi dipertimbangkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-5

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air d) Curah hujan efektif untuk tanaman palawija dihitung dengan metode

d) Curah hujan efektif untuk tanaman palawija dihitung dengan metode yang diperkenalkan oleh USDA dalam tabel terlampir

e) Efisiensi irigasi

Agar diperoleh angka angka irigasi yang realistis untuk tanaman palawija dan tebu diperlukan penelitian. Tetapi dengan kepemilikan tanah yang kecil tingkat efisiensinya tinggi sebagai pedoman dapat dilihat dalam tabel dibawah ini

Tabel 8. 2 Tabel Peningkatan

 

AWAL

Peningkatan yang dapat dicapai

Jaringan irigasi utama Petak tersier Keseluruhan

0,75

0,80

0,65

0,75

0,50

0,60

8.3. Sistem Rotasi Untuk memperkecil debit pengambilan dibuatlah rencana rotasi dari sistem pemberian air.Keuntungan dari sistem rotasi antara lain :

a) berkurangnya kebutuhan pengambilan puncak

b) kebutuhan pengambilan bertambah secara berangsur angsur seiring dengan makin tambahnya debit puncak, sehingga pengambilan puncak dapat tertunda

Selain untung rotasi juga memberi hal yang kurang menguntungkan:

a) timbulnya komplikasi sosial

b) eksploitasi jaringan irigasi lebih rumit

c) kehilangan air akibat eksploitasi lebih tinggi

d) jangka waktu irigasi untuk tanam pertama lebih lama ,akibatnya lebih

sedikit waktu tersedia untuk tanaman kedua

e) daur gangguan serangga menambah pemakaian insektisida

Rotasi teknis dengan cara membagi petak-petak tersier menjadi sejumlah golongan , petak tersier yang termasuk dalam golongan yang sama akan mengikuti pola penggarapan yang sama. Didalam petak tersier tidak dibuat rotasi karena termasuk dalam satu golongan.

tidak dibuat rotasi karena termasuk dalam satu golongan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
tidak dibuat rotasi karena termasuk dalam satu golongan. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-6

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air Kebutuhan pengambilan tanpa rotasi teknis dihitung dengan cara membagi kebutuhan

Kebutuhan pengambilan tanpa rotasi teknis dihitung dengan cara membagi kebutuhan bersih air disawah NFR dengan keseluruhan efisiensi irigasi. Contoh dapat dilihat dalam lampiran terlampir.

8.4. Latihan 1) Sebutkan faktor penting yang menentukan kebutuhan air untuk penyeiapan lahan! 2) Sebutkan kondisi evaporasi berdasarkan keadaan meteorologi!

8.5. Rangkuman Kebutuhan air dibedakan menjadi 3 bidang yaitu Meteorologi, Agronomi dan tanah Jaringan irigasi. Factor penting menetukan kebutuhan air untuk penyiapan lahan adalah lamanya waktu dan kebutuhan air. Agar diperoleh angkaangka irigasi yang realistis untuk tanaman palawija dan tebu diperlukan penelitian. Tetapi dengan kepemilikan tanah yang kecil tingkat efisiensinya tinggi.

kepemilikan tanah yang kecil tingkat efisiensinya tinggi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
kepemilikan tanah yang kecil tingkat efisiensinya tinggi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

VIII-7

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air BAB IX NERACA AIR Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat

BAB IX NERACA AIR

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat mampu menjelaskan mengenai neraca air

9.1.

Umum

Perhitungan

neraca

air

dilakukan

untuk

memeriksa

apakah

air

yang

tersedia cukup memadai kebutuhan air irigasi dilokasi yang bersangkutan.

Dibedakan adanya tiga unsur pokok :

a) Tersedianya air

b) Kebutuhan air

c) Neraca air

Perhitungan pendahuluan neraca air dibuat pada tahap studi proyek.Pada

taraf perencanaan pendahuluan ahli perencanaan irigasi akan meninjau

dasar dasar perhitungan ini.Kalau dipandang perlu akan diputuskan

mengenai pengumpukan data data tambahan, inspeksi dan uji lapangan.

Ahli irigasi harus yakin akan keandalan data tersebut

Perhitungan neraca air akan sampai pada kesimpulan mengenai:

a) Pola tanam akhir yang akan dipakai untuk jaringan irigasi yang sedang

direncanakan

b) Penggambaran akhir daerah proyek irigasi

Dalam perhitungan neraca air kebutuhan pengambilan yang dihasilkan nya

untukpola tanam yang dipakai akan dibandingkandengan debit andalan

untuk tiap setengah bulan dan luas daerah yang bias diairi.

Apabila debit sungai melimpah, maka luas daerah irigasi adalah tetap

karena luas maksimum daerah layanan irigasi dan proyek akan

direncanakan sesuai dengan pola tanam yang dipakai.Bila debit sungai

tidak melimpah dan kadang kadang terjadi kekurangan maka ada 3 pilihan

yang bisa dipertimbangkan:

a) Luas daerah irigasi dikurangi

bagian bagian tertentu dari daerah yang bisa diairi ( luas maksimum )

tidak diairi

dari daerah yang bisa diairi ( luas maksimum ) tidak diairi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber
dari daerah yang bisa diairi ( luas maksimum ) tidak diairi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IX-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air b) Melakukan modifikasi dalam pola tanam Dapat diadakan perubahan dalam

b) Melakukan modifikasi dalam pola tanam Dapat diadakan perubahan dalam pemilihan tanaman atau tanggal tanam untuk mengurangi kebutuhan air irigasi disawah ( lt/dt.ha )agar ada kemungkinan untuk mengairi areal yang lebih luas dengan debit yang tersedia

c) Rotasi teknis/golongan Untuk mengurangi kebutuhan puncak air irigasi rotasi teknis atau golongan mengakibatkan eksploitasi yang lebih kompleks dan dianjurkan hanya untuk proyek irigasi yang luasnya sekitar 10.000 ha atau lebih.

Kebutuhan air yang dihitung akan meliputi kebutuhan kebutuhan air untuk minum,budidaya ikan,keperluan rumah tangga, pertanian dan industry.

Tabel 9. 1 - Perhitungan neraca air: menurut KP 01

Bidang Parameter Referensi Neraca air Kesimpulan Hidro logi Debit andalan Pasal 4.2.5 Debit minimum per
Bidang
Parameter
Referensi
Neraca air
Kesimpulan
Hidro logi
Debit andalan
Pasal 4.2.5
Debit minimum per
setengah
bulan
periode
5
tahun
kering
pada
banunan utama
Meteorologi
Evapotranspirasi
Bab
4
dan
Kebutuhan bersih
irigasi dalam l/dt.ha
disawah
-Jatah
lampiran 2
debit/kebutuhan
Curah
hujab
efektif
-luas
daerah
iriga si
Pola tanam
Lampiran 2
-pola tanam
Tabah
Agronomi
Koefisien tanam
-pengaturan
rotasi
Perkolasi
Agronomi Koefisien tanam -pengaturan rotasi Perkolasi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Agronomi Koefisien tanam -pengaturan rotasi Perkolasi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IX-2

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air   Kebutuhan     penyiapan lahan Jaringan Efisiensi irigasi
 

Kebutuhan

   

penyiapan lahan

Jaringan

Efisiensi irigasi

Lampiran 2

irigasi

Rotasi

Daerah yang berpo

tensi untuk diairi

Topografi

Daerah layanan

9.2. Latihan 1) Bila debit air sungai tidak melimpah dan kadang-kadang terjadi kekurangan, ada beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan, sebutkan dan jelaskan!

9.3. Rangkuman Perhitungan neraca air dilakukan untuk memeriksa apakah air yang tersedia cukup memadai kebutuhan air irigasi dilokasi yang bersangkutan Perhitungan pendahuluan neraca air dibuat pada tahap studi proyek. Kalau dipandang perlu akan diputuskan mengenai pengumpukan data data tambahan, inspeksi dan uji lapangan.Ahli irigasi harus yakin akan keandalan data tersebut.

irigasi harus yakin akan keandalan data tersebut. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
irigasi harus yakin akan keandalan data tersebut. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

IX-3

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air 10.1. Simpulan BAB X PENUTUPAN Pembelajaran Mengenai mata diklat ini

10.1. Simpulan

BAB X PENUTUPAN

Pembelajaran Mengenai mata diklat ini dimaksudkan agar pembangunan dan pengelolaan Irigasi diselenggarakan dengan tertib, desain dan konstruksi layak teknis, aman dalam pengelolaannya, sehingga risiko terjadinya banjir dapat dicegah atau sekurang- kurangnya dikurangi. Hidrologi Irigasi bertujuan untuk kelestarian fungsi Irigasi, dan Drainase memberikan jaminan keamanan lingkungan dan melindungi masyarakat dari terjadinya bencana banjir.

10.2. Tindak Lanjut

Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, peserta diharapkan mengikuti kelas lanjutan untuk dapat memahami detail tentang pengaturan drainasi dan irigasi serta ketentuan pendukung terkait lainnya, sehingga memiliki

pemahaman yang komprehensif mengenai pengaturan drainasi dan irigasi.

yang komprehensif mengenai pengaturan drainasi dan irigasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
yang komprehensif mengenai pengaturan drainasi dan irigasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi

X-1

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air DAFTAR PUSTAKA Anonim. (1982). Introduction to Soil Physics Daniel Hillel

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (1982). Introduction to Soil Physics Daniel Hillel Orlando-Florida.

Anonim. (1983). Drainage for Agriculture RJ Oosterban ILRI-Wageningen.

Anonim. (1983). Groundwater Flow ti drains or Wells RJ.Osterban ILRI- Wageningen.

Asdak,

C.,

(2002).

Hidrologi

dan

Pengelolaan

Daerah

Aliran

Sungai.

Gadjah Mada University Press; Yogyakarta.

BAPPENAS. (2010). Identifikasi Masalah Pengelolaan Sumber Daya Air di Pulau Jawa. Bab 3.

Buckman,

dan

Bratharakarya. Aksara; Jakarta.

H.

O.,

N.

C.

Brady.,

(1982).

Ilmu

Tanah,

Penerbit

Departemen Perhubungan Direktorat Djendral Perhubungan Udara Lembaga Meteorologi dan Geofisika. (1969). Tjurah Hudjan Rata- rata di Djawa dan Madura: Periode 1931-1960. Jakarta

Islami, T., clan W. H. Utomo., (1995). Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman. Penerbit IKIP Semarang Press; Semarang

Nurjani,

E.,

dan

Asisten.

(2004).

Buku

Petunjuk

Pratikum

Fakultas Geografi. UGM; Yogyakarta

Hidrologi.

Pemerintah Republik Indonesia. (2004). Undang-undang Tentang Sumber Daya Air No. 7 Tahun 2004.Sekretariat Negara RI

Subarkah, Iman. (1970). Hidrologi untuk Bangunan Air. Jakarta.

Van Bemmelen, R.W., (1970). The Geology of Indonesia Volume IA. The Hague Netherland.

Wilson, A.M. (1976). Engineering Hydrologi. England.

Wilson, A.M. (1976). Engineering Hydrologi . England. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
Wilson, A.M. (1976). Engineering Hydrologi . England. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air

Modul 03 Hidrologi dan Neraca Air GLOSARIUM Lazim : Sudah biasa, sudah umum Rehabilitasi : Pemulihan,

GLOSARIUM

Lazim

: Sudah biasa, sudah umum

Rehabilitasi

: Pemulihan, perbaikan

Konsepsi

: Pengertian; pendapat (paham)

Inventarisasi

: Pencatatan atau pengumpulan data

Inspeksi

: Pemeriksaan

atau pengumpulan data Inspeksi : Pemeriksaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan
atau pengumpulan data Inspeksi : Pemeriksaan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan